You are on page 1of 10

Analisis Kandungan Saponin (143-152) El-Hayah Vol. 5, No.

4 Maret 2016

ANALISIS KANDUNGAN SAPONIN PADA DAUN DAN TANGKAI DAUN Carica


pubescens Lenne & K. Koch

Eko Budi Minarno

Jurusan Biologi Fakultas Saintek


Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Jl. Gajayana No.50, Malang, Indonesia
Email; budi_minarno@yahoo.com

ABSTRACT

Carica pubescens Lenne & K. Koch is a tropical species that adapt to the plateau
environment and low temperatures. In East Java, the plant is found in Cangar and Bromo
region. Morphological, chemical content, and analysis of protein banding pattern on C.
pubescens has been done, but more on the analysis of active compounds for pharmaceutical
raw materials and its accumulation in the body of the plant has not been widely studied.
Saponins on C. pubescens potential as a raw material of natural medicine in the treatment
of Diabetes Mellitus (DM). This study aims to determine the content of saponin in leaf and
petiole of C. pubescens in terms of absorbance values. Saponins were analyzed by
qualitative form the foam test, color test, Thin Layer Chromatography (TLC) analytical and
preparative. Quantitative test in the form of UV-Vis spectrophotometry results preparative
TLC. This research was done at the Laboratory of Department of Biology and Chemistry
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. The results showed that the leaf and petiole of C.
pubescens positive for the saponins with the formation of stable foam for 60 seconds at 1.5
cm - 1.7 cm. The third positive samples containing saponins triterpene the ring test
produces a brownish color. Isolation saponin by TLC shows the best ratio of eluent
chloroform: methanol: water (14: 6: 1) compounds can be separated perfectly. Saponin
absorbance values obtained three samples as follows: petiole samples from the region
Cangar amounted to 0.852, leaf samples from the region Cangar amounted to 0.686, and
leaf samples from Bromo region amounted to 0,629. The highest saponins found in organs
petiole. Thus the petiole of C. pubescens has the potential to be used as a source of
triterpene saponins which can be developed into a commercial herbal medicines.
Keywords: Carica pubescens Lenne & K. Koch, Saponin Accumulation,
Spectrophotometer, TLC

PENDAHULUAN curah hujan tinggi. Berikut morfologi C.


Carica pubescens Lenne & K. Koch pubescens ditunjukkan pada Gambar 1.
merupakan salah satu tanaman khas dataran
tinggi. Di Indonesia, tanaman ini biasa dikenal
dengan sebutan “karika”, dapat dijumpai di
kawasan Bromo dan Cangar Jawa Timur, serta
Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo-Banjarnegara
Jawa Tengah. Carica pubescens merupakan
anggota familia Caricaceae, sehingga memiliki
kelompok Genus yang sama dengan Carica
papaya dan memiliki kemiripan yang tinggi
secara morfologi. Keberadaan rambut
(pubescens) pada bagian abaksial dan tangkai
daun menjadi penciri utama selain morfologi
bunga, buah dan percabangan pada batang jika
dibandingkan dengan morfologi Carica papaya.
Selain itu, berkebalikan dengan Carica papaya,
Carica pubescens tumbuh subur pada tempat (sumber: foto dokumentasi pribadi)
dengan ketinggian 1.400-2400 meter di atas Gambar 1. Morfologi Carica pubescens
permukaan laut (dpl), temperatur rendah, dan

143
Eko Budi Minarno

Allah SWT telah menciptakan tumbuh-


tumbuhan yang baik sehingga dapat diambil
manfaatnya oleh manusia sebagaimana tertulis
dalam Al-Qur’an sebagai berikut:





 









 

















 




 













 



 




 
 





(sumber: http://isdha93.blogspot.com/2012/11/saponin.html)
Artinya: “7. dan Apakah mereka tidak
Gambar 2. Contoh struktur saponin
memperhatikan bumi, berapakah
banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu
Saponin termasuk senyawa fitokimia yang
pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang
dapat menghambat peningkatan kadar glukosa
baik? 8. Sesungguhnya pada yang
darah dengan cara menghambat penyerapan
demikian itu benar-benar terdapat suatu
glukosa di usus halus dan menghambat
tanda kekuasaan Allah. dan kebanyakan
pengosongan lambung. Dengan melambatnya
mereka tidak beriman. 9. dan
pengosongan lambung, maka absorpsi makanan
Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar
akan semakin lama dan kadar glukosa darah
Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha
akan mengalami perbaikan (Bruneton, 1999;
Penyayang.” (QS. Asy-Syu’araa: 7-9)
Matsuda, et al., 1999; Mahendra dan Fauzi,
2005). Dengan demikian, saponin pada C.
Studi mengenai tanaman obat dan
pubescens berpotensi sebagai herba bahan obat
potensinya untuk kesehatan dewasa ini banyak
Diabetes Melitus.
dikembangkan. Karakter morfologi, kapasitas
Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit
antioksidan dan analisis pola pita protein
kelainan metabolik yang dikarakteristikkan
terhadap C. pubescens telah dilakukan (Laily,
dengan hiperglikemia kronis serta kelainan
2011), akan tetapi lebih lanjut mengenai
metabolisme karbohidrat, lemak dan protein
pemanfaatan senyawa aktif untuk bahan baku
diakibatkan oleh kelainan sekresi insulin, kerja
obat dan konservasinya belum banyak diteliti.
insulin maupun keduanya (WHO, 2006).
Buah tanaman ini telah diteliti kandungannya
Hiperglikemia kronis pada diabetes melitus akan
sebagai sumber flavanoid (Minarno, 2014)
disertai dengan kerusakan, gangguan fungsi
sedangkan bijinya telah diteliti sebagai sumber
beberapa organ tubuh khususnya mata, ginjal,
saponin (Supono, 2014). Flavanoid erat
saraf, jantung dan pembuluh darah. Walaupun
kaitannya dengan aktivitas antioksidan
pada diabetes melitus ditemukan gangguan
sedangkan saponin merupakan senyawa dalam
metabolisme semua sumber makanan tubuh kita,
bentuk glikosida, keduanya tersebar luas pada
kelainan metabolisme yang paling utama ialah
tumbuhan.
kelainan metabolisme karbohidarat. Oleh karena
Saponin membentuk busa yang mantap
itu diagnosis DM selalu berdasarkan tingginya
jika dikocok (Harbrone, 1987), merupakan
kadar glukosa dalam plasma darah (Adam,
golongan senyawa alam yang rumit, yang
2006).
mempunyai massa dan molekul besar, dengan
Informasi mengenai organ tempat
kegunaan luas (Burger, et.al., 1998). Struktur
akumulasi saponin pada tanaman C. pubescens
saponin menyebabkan saponin bersifat seperti
diperlukan dalam rangka pemanfaatan tanaman
sabun atau detergen sehingga saponin disebut
tersebut sebagai sumber saponin. Diperlukan
sebagai surfaktan alami (nama saponin diambil
pengetahuan tentang kandungan saponin pada
dari sifat utama ini yaitu “sapo” dalam bahasa
daun maupun tangkai daun sebagai herba
Latin yang berarti sabun) (Calabria, 2008;
berpotensi obat pada kasus DM. Besarnya nilai
Hawley and Hawley, 2004). Contoh struktur
absorbansi saponin pada spektrofotometri UV-
saponin seperti ditunjukkan pada Gambar 2.
Vis dapat digunakan sebagai rujukan untuk
mengetahui perbandingan kandungan saponin
pada organ tanaman. Dengan demikian
penelitian ini perlu untuk dilakukan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
kandungan saponin pada daun dan tangkai daun

144
Analisis Kandungan Saponin (143-152) El-Hayah Vol. 5, No.4 Maret 2016

C. pubescens. Hasil penelitian ini diharapkan b. Ekstraksi sampel


dapat memberikan informasi tentang potensi 1) Maserasi dengan metanol p.a
senyawa saponin yang terkandung dalam perbandingan 1:5 berat sampel
berbagai organ tubuh tumbuhan C. pubescens 2) Disaring simplisia hingga didapatkan
yang tumbuh di Indonesia sebagai bahan baku maserat pertama
obat DM. Pengetahuan tersebut dapat membantu 3) Remaserasi dengan metanol p.a
masyarakat dan peneliti untuk memperoleh obat perbandingan 1:4 berat sampel
DM sekaligus mengkonservasi tanaman 4) Disaring simplisia hingga didapatkan
tersebut. maserat kedua
5) Maserat diuapkan dengan rotary vacuum
METODE PENELITIAN evaporator
Penelitian ini merupakan penelitian 6) Ekstrak diinkubasi pada suhu 27 °C
observasional dimana objeknya adalah C. hingga menjadi sediaan kental
pubescens yang tidak diberi perlakuan apapun c. Uji Pendahuluan
tetapi dilakukan pemeriksaan kandungan Uji kadar saponin secara kualitatif terdiri dari
saponin secara kualitatif dan kuantitatif sehingga uji busa dan uji warna.
data penelitian disajikan secara deskriptif. 1) Uji busa
Penelitian dilakukan pada bulan Agustus a) Ditimbang 0,3 gram ekstrak kemudian
sampai dengan November 2015. Kegiatan dimasukkan ke dalam tabung reaksi
pengambilan sampel Carica pubescens b) Ditambahkan 10 ml aquades kemudian
dilakukan di kawasan Cangar Batu dan Bromo, dikocok kuat
Jawa Timur. Analisis secara kualitatif maupun c) Ditambahkan HCL 2N, diamati
kuantitatif dilakukan di Laboratorium Fisiologi terbentuknya busa stabil selama
Tumbuhan Jurusan Biologi dan Laboratorium kurang lebih 1 menit
Kimia Organik Jurusan Kimia Fakultas Saintek 2) Uji warna
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. a) Ditimbang ekstrak 0,3 gram
Alat-alat yang diperlukan untuk dimasukkan ke dalam tabung reaksi
pengambilan sampel di lapangan serta analisis di b) Ditambahkan 10 ml kloroform
laboratorium adalah: kamera dan kantong plastik c) Dipanaskan di dalam inkubator selama
oven, toples ekstraksi, pengaduk, pisau, saringan 5 menit sambil dikocok/diaduk
60 mesh, rotary vacuum evaporator, hair dryer, d) Ditambahkan pereaksi LB hingga
spektrofotometer UV-VIS, tabung reaksi, gelas terbentuk cincin coklat pada
beker, gelas ukur, pipet mikro, neraca analitik, permukaan tabung
pipa kapiler, plat KLT, chamber KLT dan lampu d. Isolasi Saponin dengan KLT Analitik
UV. 1) Aktivasi plat KLT dengan dioven selama
Bahan-bahan yang diperlukan antara lain: 1 jam suhu 100 oC
C. pubescens (daun dari kawasan Cangar dan 2) Dibuat eluen dengan komposisi
daun serta tangkai daun dari kawasan Bromo), Kloroform:Methanol:Air perbandingan
kertas saring, methanol p.a., aquades, asam (13:7:2) dan (14:6:1)
klorida 2N, kloroform, alkohol 95 %, asam 3) Eluen dimasukkan dalam chamber
asetat pekat anhidrat dan asam sulfat pekat. sebanyak 10 ml
a. Preparasi Sampel 4) Penjenuhan eluen dalam chamber selama
1) Sampel C. pubescens diambil dari kurang lebih 1 jam
kawasan Cangar dan Bromo Jawa Timur 5) Ekstrak diencerkan 1000 ppm
2) Sampel dibersihkan dari kotoran dan 6) Dipotong plat KLT ukuran 2x10 cm,
dikering anginkan diberi pembatas 1 cm untuk batas atas dan
3) Ditimbang berat basah sampel bawah plat
4) Dioven hingga kering kurang lebih selama 7) Ekstrak ditotolkan pada plat
5-6 hari suhu 40 oC. menggunakan pipa kapiler
5) Ditimbang berat kering sampel 8) Penotolan dilakukan sebanyak 5-8 kali,
6) Dihaluskan dan diayak menggunakan tiap sekali penotolan ditunggu hingga plat
ayakan 60 mesh hingga menjadi simplisia kering/ digunakan hair drayer
serbuk 9) Plat dimasukkan dalam chamber dan
ditunggu hingga plat terslusi sampai tanda
batas atas

145
Eko Budi Minarno

10) Pembacaan hasil elusi dengan sinar UV tersebut akan membantu penurunan kadar
366 nm glukosa darah. Regenerasi sel β pankreas itu
e. Isolasi Saponin dengan KLT Preparatif terjadi karena adanya sel quiescent pada
1) Aktivasi plat KLT dengan dioven selama pankreas yang memiliki kemampuan
1 jam suhu 100 ºC beregenerasi.
2) Dibuat eluen dengan komposisi Beberapa contoh saponin pada tanaman
Kloroform:Methanol:Air perbandingan antara lain diosgenin dan botogenin dari genus
(14:6:1) Dioscorea. Hekogenin, manogenin dan gitogenin
3) Eluen dimasukkan dalam chamber dari spesies Agave. Sarsapogenin dan
sebanyak 10 ml smilagenin dari genus Smilax. Sarmentogenin
4) Penjenuhan eluen dalam chamber selama dari genus Strophantus. Sitosterol dari minyak
kurang lebih 1 jam tanaman. Famili Liliaceae, Amaryllidaceae dan
5) Ekstrak diencerkan 1000 ppm Dioscoreaceae mengandung sapogenin.
6) Dipotong plat KLT ukuran 5x10 cm, Demikian juga pada Apocynaceae (Sirait, 2007).
diberi pembatas 1 cm untuk batas atas dan Maka pada penelitian ini diselidiki kandungan
bawah plat saponin pada Genus Caricaceae, yakni C.
7) Ekstrak ditotolkan pada plat pubescens pada dua organ tanaman dan dua
menggunakan pipa kapiler tempat tumbuh yang berbeda di Indonesia.
8) Penotolan dilakukan sebanyak 5-8 kali,
tiap sekali penotolan ditunggu hingga plat a. Penyiapan Ekstrak Carica pubescens
kering/ digunakan hair drayer Lenne & K. Koch
9) Plat dimasukkan dalam chamber dan Pengambilan sampel buah dari dua
ditunggu hingga plat terelusi sampai tanda tempat, yakni di Jawa Timur meliputi kawasan
batas atas Cangar dan Bromo. Diperoleh sampel dari
10) Pembacaan hasil elusi dengan sinar UV kawasan Cangar dengan berat basah daun
366 nm sebesar 1117 gram dan tangkai daun dengan
f. Pengukuran Senyawa Saponin dengan berat basah sebesar 1291 gram, sedangkan
Spektrofotometri UV-Vis sampel dari kawasan Bromo yaitu daun dengan
Dari hasil KLT, warna yang sesuai berat basah sebesar 1000 gram. Studi literatur
dikerok. Hasil kerokan dimasukkan dalam telah dilakukan untuk mendapatkan metode
tube kemudian ditambahkan methanol 1 ml, ekstraksi, uji kualitatif dan kuantitatif sampel
selanjutnya disentrifuge untuk memisahkan daun maupun tangkai daun C. pubescens.
plat dengan supernatan. Supernatan yang Proses pengeringan sampel buah Carica
didapat kemudian diukur absorbansi pubescens Lenne & K. Koch dilakukan dengan
menggunakan spektro dengan panjang menggunakan oven dengan suhu 40 oC selama ±
gelombang 209 nm dengan memasukkan 5-6 hari supaya zat yang diinginkan terlindung
isolat/supernatan ke dalam kuvet sebanyak dari kemungkinan terjadinya kerusakan. Sampel
700 mikroliter. yang telah dikeringkan selanjutnya dihaluskan
Analisis data kandungan saponin dengan saringan 60 Mesh dan ditimbang untuk
dilakukan secara kualitatif dengan mengetahui berat kering dalam bentuk serbuk.
membandingkan busa dan warna sedangkan Sampel dari kawasan Cangar mempunyai berat
secara kuantitatif dilakukan dengan menentukan kering daun sebesar 220 gram dan tangkai daun
nilai absorbansi saponin terbaik dari ketiga dengan berat kering sebesar 50 gram, sedangkan
sampel C. pubescens hasil pengukuran dengan sampel dari kawasan Bromo yaitu daun
spektrofotometri UV-Vis. mempunyai berat kering sebesar 450 gram.
Ekstrak diperoleh dengan mengekstraksi
HASIL DAN PEMBAHASAN senyawa aktif dari simplisia menggunakan
Firdous, et al. (2009) membuktikan bahwa pelarut methanol pro analys. Metode yang
saponin berfungsi sebagai antidiabetes. Setelah diterapkan pada ekstraksi daun dan tangkai daun
dilakukan pemeriksaan histopatologi, diketahui Carica pubescens Lenne & K. Koch adalah
bahwa saponin mampu meregenerasi pankreas metode maserasi. Maserasi buah dilakukan
yang menyebabkan adanya peningkatan jumlah dengan proses pengekstrakan simplisia pada
sel β pankreas dan pulau-pulau Langerhans temperatur ruangan (26 ºC sampai dengan 28
sehingga sekresi insulin akan mengalami ºC), sehingga zat-zat yang terkandung di dalam
peningkatan. Peningkatan sekresi insulin simplisia relatif aman. Maserasi dilakukan

146
Analisis Kandungan Saponin (143-152) El-Hayah Vol. 5, No.4 Maret 2016

dengan menggunakan perbandingan berat


sampel:pelarut = 1:5 selama 24 jam. Selanjutnya
remaserasi dilakukan dengan menggunakan
perbandingan berat sampel:pelarut = 1:4 selama
24 jam. Selanjutnya ekstrak dipekatkan dengan
rotary vacuum evaporator dan diinkubasi pada
suhu 27 °C hingga menjadi sediaan kental. Dari
proses ekstraksi, diperoleh sediaan kental dari
kawasan Cangar sebesar 11 gram ekstrak daun
dan 7,5 gram ekstrak tangkai daun, sedangkan
dari kawasan Bromo diperoleh 16 gram ekstrak Gambar 3. Hasil uji busa pada sampel ekstrak
daun. daun dari kawasan Cangar

b. Uji Pendahuluan Kandungan Saponin Pada ekstrak tangkai daun yang diperoleh
Ekstrak Carica pubescens Lenne & K. dari kawasan Cangar, setelah ditambahkan 10
Koch ml aquades dan dikocok kuat kemudian
Uji pendahuluan untuk mengetahui kadar dilakukan penambahan asam klorida 2 N,
saponin secara kualitatif dilakukan dengan terbentuk busa yang tidak hilang dengan
metode yang dideskripsikan oleh Suharto dkk ketinggian 1,7 cm selama kurang lebih 60 detik.
(2012). Uji ini dilakukan untuk memastikan Hasil uji busa pada sampel ekstrak tangkai daun
secara kualitatif adanya senyawa saponin yang dari kawasan Cangar seperti terlihat pada
terkandung dalam daun dan tangkai daun C. Gambar 4.
pubescens sampel dari kawasan Cangar dan
daun sampel dari kawasan Bromo.

1. Uji Busa
Saponin bila dikocok akan membuih.
Kemampuan menurunkan tegangan permukaan
ini disebabkan molekul saponin terdiri dari
hidrofor dan hidrofil. Bagian hidrofob adalah
aglikonnya, bagian hidrofil adalah glikonnya.
Rasanya pahit atau getir. Sebagian besar saponin
bereaksi netral (larut dalam air), beberapa ada Gambar 4. Hasil uji busa pada sampel ekstrak
yang bereaksi asam (sukar larut dalam air), tangkai daun dari kawasan Cangar
sebagian kecil ada yang bereaksi basa. Aglikon
saponin disebut sapogenin. Sapogenin sukar Pada ekstrak daun yang diperoleh dari
larut dalam air. Saponin dapat berupa senyawa kawasan Bromo, setelah ditambahkan 10 ml
yang mempunyai satu rantai gula atau dua rantai aquades dan dikocok kuat kemudian dilakukan
gula yang sebagian besar bercabang (Sirait, penambahan asam klorida 2 N, terbentuk busa
2007). yang tidak hilang dengan ketinggian 1,5 cm
Ekstrak kental C. pubescens sebanyak 0,3 selama kurang lebih 60 detik. Hasil uji busa
gram dimasukkan dalam tabung reaksi. Dalam pada sampel ekstrak tangkai daun dari kawasan
uji busa digunakan aquades sebagai pelarut dan Cangar seperti terlihat pada Gambar 5.
asam klorida 2 N sebagai pereaksinya.
Pada ekstrak daun yang diperoleh dari
kawasan Cangar, setelah ditambahkan 10 ml
aquades dan dikocok kuat kemudian dilakukan
penambahan asam klorida 2 N, terbentuk busa
yang tidak hilang dengan ketinggian 1,5 cm
selama kurang lebih 60 detik. Hasil uji busa
pada sampel ekstrak daun dari kawasan Cangar
seperti terlihat pada Gambar 3.

Gambar 5. Hasil uji busa pada sampel ekstrak


daun dari kawasan Bromo

147
Eko Budi Minarno

Busa yang terbentuk dikarenakan


senyawa saponin memiliki sifat fisika yaitu
mudah larut dalam air dan akan menimbulkan
busa ketika dikocok. Menurut Robinson (1995)
senyawa yang memiliki gugus polar dan
nonpolar bersifat aktif permukaan sehingga saat
dikocok dengan air, saponin dapat membentuk
misel. Pada struktur misel, gugus polar
menghadap ke luar sedangkan gugus
nonpolarnya menghadap ke dalam. Keadaan
inilah yang tampak seperti busa. Gambar 6. Hasil uji warna pada sampel ekstrak
daun dari kawasan Cangar
2. Uji Warna
Uji warna yang dilakukan terhadap ketiga Berikutnya, hasil uji warna pada sampel
sampel menunjukkan hasil yang positif. Pada uji ekstrak tangkai daun C. pubescens dari kawasan
warna ini dapat pula diketahui golongan saponin Cangar juga memperlihatkan hasil positif
yang terdapat pada ekstrak. Menurut Steinegger saponin. Warna cincin kecoklatan merupakan
and Hansel (1992) dalam Sirait (2007), saponin indikasi keberadaan saponin triterpen,
dibagi menjadi 2 golongan: sebagaimana terlihat pada Gambar 7.
a. Saponin sterol, bila terhidrolisis akan
membentuk senyawa sterol
b. Saponin triterpen, bila terhidrolisis akan
membentuk senyawa triterpen
Tschsche, Wollf, dan Gerlach dalam Sirait
(2007) menyatakan bahwa saponin dibagi
menjadi 3 golongan:
a. Saponin spirostanol
Disebut juga saponin netral. Contoh
sarsasapogenin
b. Saponin triterpena Gambar 7. Hasil uji warna pada sampel ekstrak
Disebut juga saponin asam. Contoh: asam tangkai daun dari kawasan Cangar
oleanolat
c. Saponin sterol Demikian juga, hasil uji warna pada
Disebut juga saponin basa, dibagi menjadi sampel daun C. pubescens dari kawasan Bromo
dua tipe, yaitu: dengan warna akhir ekstrak menyerupai sampel
1) Tipe demisin atau solanin, contoh: daun C. pubescens dari kawasan Cangar juga
solanidin, solatubin. memperlihatkan hasil positif saponin. Warna
2) Tipe tomatin, contoh tomatidin. cincin kecoklatan merupakan indikasi
Saponin yang terdapat pada tumbuhan keberadaan saponin triterpen, sebagaimana
merupakan prekursor kortison maupun steroid. terlihat pada Gambar 8.
Hasil uji warna pada sampel ekstrak daun
C. pubescens dari kawasan Cangar
memperlihatkan hasil positif saponin. Warna
cincin kecoklatan merupakan indikasi
keberadaan saponin triterpen, sebagaimana
terlihat pada Gambar 6.

Gambar 8. Hasil uji warna pada sampel ekstrak


daun dari kawasan Bromo

148
Analisis Kandungan Saponin (143-152) El-Hayah Vol. 5, No.4 Maret 2016

Ketiga ekstrak dengan penambahan


kloroform dan pereaksi LB menunjukkan warna
yang berbeda pada ekstrak tangkai daun dari
kawasan Cangar, yakni berwarna kehijauan
sedangkan dua ekstrak lain lebih pekat
kecoklatan. Namun demikian hasil akhir pada
uji warna ketiga sampel menghasilkan warna
yang sama, yaitu cincin kecoklatan pada
permukaan tabung. Dengan demikian diketahui
tiga sampel tersebut menunjukkan adanya
saponin triterpen. Berdasarkan penelitian a b
sebelumnya tentang senyawa saponin yang Gambar 10. Senyawa terpisah sempurna dengan
menyatakan bahwa sampel setelah ditambahkan eluen kloroform:metanol:air (14:6:1).
pereaksi LB akan menghasilkan cincin warna a. tanpa penyinaran lampu UV; b. dengan
coklat-ungu yang menunjukkan adanya saponin penyinaran lampu UV 366 nm
triterpen dan hijau-biru untuk saponin steroid.
d. Isolasi Saponin dengan Kromatografi
c. Isolasi Saponin dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Preparatif
Lapis Tipis (KLT) Analitik
Pemisahan senyawa saponin dari ekstrak Hasil dari KLT analitik menunjukkan
C. pubescens dalam penelitian ini menggunakan bahwa eluen terbaik yang dapat memisahkan
metode KLT (Kromatografi Lapis Tipis). KLT senyawa pada ektrak C.pubescens adalah
merupakan metode yang sering digunakan untuk kloroform:metanol:air (14:6:1). Oleh karena itu
memisahkan komponen-komponen senyawa eluen ini digunakan untuk KLT preparatif.
dalam suatu ekstrak. Perbandingan eluen yang Terdapat beberapa spot warna yang
baik diketahui berdasarkan uji coba di menunjukkan bahwa ekstrak mengandung
laboratorium. Hasil elusi dengan eluen beberapa senyawa. Hasil KLT sampel daun dari
kloroform:metanol:air (13:7:2) senyawa tidak kawasan Cangar dapat dilihat pada Gambar 11.
terpisah dengan sempurna, terjadi tailing. Hasil
tersebut dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 11. Hasil KLT sampel daun dari


kawasan Cangar
Gambar 9. Senyawa tidak terpisah sempurna
dengan eluen kloroform:metanol:air (13:7:2) Pada ketiga sampel dilakukan
penyemprotan pada plat dengan pereaksi LB
Berikutnya diuji cobakan elusi dengan yang dilanjutkan dengan pemanasan
eluen kloroform:metanol:air (14:6:1) senyawa menggunakan hair drayer diperoleh bercak
terpisah dengan sempurna. Dari hasil tersebut warna hijau kebiruan. Wagner dkk. (1984)
kemudian dilakukan penyinaran dengan lampu menyatakan suatu simplisia dikatakan
UV 366 nm. mengandung saponin apabila dilakukan
penyemprotan dengan LB memberikan noda
berwarna biru, biru violet, kadang merah atau
kuning coklat pada sinar tampak. Nilai Rf yang
diperoleh 0,275-0,375 (Suharto dkk., 2012).
Hasil KLT sampel tangkai daun dari kawasan
Cangar dapat dilihat pada Gambar 12.

149
Eko Budi Minarno

e. Pengukuran Senyawa Saponin dengan


Spektrofotometri UV-Vis
Dari hasil Kromatografi Lapis Tipis
preparatif kemudian warna yang sesuai dikerok
sebagai isolat untuk diperiksa besarnya nilai
absorbansi pada panjang gelombang 209 nm
dengan spektrofotometer UV-Vis. Diketahui
bahwa nilai absorbansi saponin pada tangkai
daun dari kawasan Cangar sebesar 0,852; daun
dari kawasan Cangar sebesar 0,686 dan daun
Gambar 12. Hasil KLT sampel tangkai daun dari dari kawasan Bromo sebesar 0,629. Dengan
kawasan Cangar demikian tangkai daun dari kawasan Cangar
memiliki nilai absorbansi saponin tertinggi.
Selanjutnya, hasil KLT sampel daun dari Sirait (2007) menyatakan bahwa fitokimia
kawasan Bromo dapat dilihat pada Gambar 13. menguraikan aspek kimia suatu tanaman. Kajian
fitokimia meliputi:
1) Uraian tentang isolasi dan konstitusi senyawa
kimia dalam tanaman
2) Perbandingan struktur senyawa kimia
tanaman, berdasarkan definisi ini dilakukan
penggolongan senyawa kimia yang
ditemukan di alam
3) Perbandingan komposisi senyawa kimia dari
bermacam-macam jenis tanaman atau
penelitian untuk pengembangan senyawa
a b kimia dalam tanaman (fitokimia
Gambar 13. Hasil KLT sampel daun dari perbandingan)
kawasan Bromo; a. tanpa penyinaran lampu UV; Fitokimia C. pubescens dan Caricaceae
b. dengan penyinaran lampu UV 366 nm secara umum belum banyak dikaji, oleh
karenanya perlu digali informasi berkelanjutan.
Pada sampel ini juga dilakukan Ditinjau dari proses pembuatan simplisia serbuk,
pemeriksaan dengan penyinaran menggunakan nilai perbandingan berat basah dibanding berat
lampu UV 366 nm, tampak warna coklat kering serbuk adalah sebagai berikut: sampel
kemerahan, coklat dan hijau untuk memperjelas daun dari kawasan Cangar sebesar 5,08; sampel
pengamatan senyawa. tangkai daun dari kawasan Cangar sebesar 25,82
dan sampel daun dari kawasan Bromo 2,22. Hal
Berikut ini merupakan perbandingan hasil ini menunjukkan kandungan air paling rendah
KLT ketiga sampel dengan perlakuan yang terdapat pada sampel tangkai daun.
sama. Rendahnya kandungan air dimungkinkan
mempengaruhi metabolit sekunder yang
terkandung dalam suatu organ tanaman. Sejalan
dengan pendapat Sirait (2007), bahwa fisik
tanaman sebagian besar terdiri atas air,
kandungan air mencapai lebih dari 90 % pada
daun, bunga, buah (buah yang berair banyak)
a b c dan bagian tanaman yang berada di bawah
Gambar 14. Perbandingan hasil KLT ketiga tanah. Pada jaringan yang miskin organ
sampel. penyimpanan, kandungan airnya menurun
a. sampel daun dari kawasan Cangar; b. sampel hingga sekitar 50 % yaitu pada kulit dan kayu.
tangkai daun dari kawasan Cangar; c. sampel Jaringan yang mengandung air paling sedikit
daun dari kawasan Bromo adalah biji, umumnya mengandung ± 10 %.
Senyawa kimia tanaman yang jumlahnya paling
banyak adalah senyawa kimia bermolekul kecil
dengan penyebaran terbatas, yaitu metabolit

150
Analisis Kandungan Saponin (143-152) El-Hayah Vol. 5, No.4 Maret 2016

sekunder, termasuk dalam hal ini adalah Demikian juga bagi para dokter, jika sudah
kandungan saponin. meyakini bahwa setiap penyakit pasti ada
Dengan diketahui adanya saponin pada obatnya, ia pasti terus mencari obat dari suatu
organ tanaman C.pubescens maka tanaman ini penyakit dan terus melakukan penelitian (Al-
berpotensi dijadikan sebagai sumber bahan baku Jauziyah, 2013). Dengan demikian tidak
obat dalam pengobatan Diabetes Mellitus. terkecuali pada penelitian menggunakan C.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan pubescens sebagai sumber saponin dapat
bahwa 65 % dari penduduk negara-negara maju membuka wawasan baru pengobatan penyakit
telah menggunakan pengobatan tradisional Diabetes Mellitus.
(Depkes RI, 2008). WHO merekomendasikan
penggunaan obat tradisional, termasuk herbal, KESIMPULAN
dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, Diperoleh kesimpulan bahwa tangkai
pencegahan dan pengobatan penyakit, terutama daun memiliki nilai absorbansi saponin tertinggi.
untuk penyakit kronis, penyakit degeneratif, Tangkai daun C. pubescens memiliki potensi
serta kanker. WHO juga mendukung upaya- untuk dimanfaatkan sebagai sumber saponin
upaya peningkatan keamanan dan khasiat obat triterpen yang dapat dikembangkan menjadi obat
tradisional (WHO, 2006). Penggunaan obat komersial alami.
tradisional, secara umum dinilai relatif lebih .
aman daripada penggunaan obat modern, dengan UCAPAN TERIMA KASIH
catatan memenuhi kaidah dan aturan dalam Ucapan terima kasih kami sampaikan
penggunaannya. Sebab, obat tradisional kepada LPPM UIN Maulana Malik Ibrahim
memiliki efek samping yang relatif lebih sedikit Malang yang telah mendukung dan mendanai
dari pada obat modern dalam penggunaan yang penelitian ini.
tepat dan rasional (Purwanto, 2014).
Allah SWT adalah Dzat yang DAFTAR PUSTAKA
menciptakan segala penyakit, namun Dia juga Adam, John. M. F. 2006. Klasifikasi dan
yang menunjukkan metode penyembuhannnya. Kriteria Diagnosis Diabetes Mellitus yang
Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Baru. Cermin Dunia Kedokteran. 127: 37-
SAW: “Allah tidak menurunkan penyakit 40.
kecuali Dia menurunkan obat baginya” (HR.
Al-Jauziyah, Syekh Ibnu Qayyim. 2013. Rahasia
Bukhari). Rasulullah SAW menegaskan bahwa
Pengobatan Nabi SAW. Mitrapress.
setiap penyakit ada obatnya dan bisa
disembuhkan atas izin Allah SWT, kecuali Bruneton, J. 1999. Flavonoid. Dalam:
penuaan dan kematian. Sedangkan ragam obat Pharmacognosy: Phytochemistry medical
sudah disediakan (diciptakan) oleh Sang Maha plants, edisi 2. France: Lavoisier
Penyembuh (Allah SWT). Begitu pula dengan Publishing. p. 310-327.
teori dan praktik pengobatannya, secara garis
besar maupun detail telah dicontohkan Burger, I., Burger, B, V. Albrecht, C. F. Spicies,
Rasulullah SAW. “Setiap penyakit itu memiliki H. S. C. and Sandor. P. 1998. Triterpenoid
obat, ketika obat itu mengenai penyakit maka ia saponin From Bacium gradivlona Var.
sembuh atas izin Allah (HR. Muslim)”. Obovatum Phytochemistry. 49: 2087-
Ibnu Qayyim al-Jauziyah mengatakan, 2089.
bahwa ungkapan Nabi “setiap penyakit ada
obatnya” memberikan semangat dan kekuatan Calabria, L. M. 2008. The Isolation and
jiwa orang yang sakit dan para dokter (tabib) Characterization of Triterpene Saponins
yang mengobatinya, mereka terdorong untuk from Silphium and the Chemosystematic
mencari obat dan menelitinya. Sedangkan bagi and Biological Significance of Saponins in
si pasien ketika merasa yakin bahwa pasti ada The Asteraceae. ProQuest.
obat yang bisa menyembuhkan penyakitnya,
maka ia memiliki semangat untuk sembuh. Rasa Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial
keputusasaan menjadi hilang karena harapan RI. 2008. Profil Kesehatan Indonesia
terbuka. Jika jiwanya sudah kuat, maka 2007. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
semangatpun meningkat, maka stamina yang
mendukung tubuhnya juga meningkat sehingga Firdous, M., Koneri, R., Sarvaraidu, C. H. dan
mampu mengatasi bahkan mengusir penyakit. Shubhapriya, K. H. 2009. NIDDM

151
Eko Budi Minarno

Antidiabetic Activity of Saponins of Steinegger E. and Hansel R. 1992.


Momordica Cymbalaria In Streptozotocin- Pharmakognosie. 5. Aufl. New York:
Nicotinamide NIDDM Mice. Journal of Springer Verlag Heidelberg.
Clinical and Diagnosis Research 3: 1460-
1465. Suharto, M. A. P., Edy, H. J., Dumanauw, J. M.
2012. Isolasi dan Identifikasi Senyawa
Harbrone. J. B. 1987. Metode Fitokimia: Saponin dari Ekstrak Methanol Batang
Penuntun Cara Modern Menganalisis Pisang Ambon (Musa paradisiaca var.
Tumbuhan. Terbitan Kedua. ITB: sapientum L.). Parmachon Journal. I (2):
Bandung. 82-92.

Hawley, Ts. and Hawley, R. G. 2004. Flow Supono. 2014. Potensi Ekstrak Biji Karika
Cytometry Protocols. New York: Humana (Carica pubescens) Sebagai Larvasida
Press, Inc. Nyamuk Aedes aegypty. El-Vivo. Vol 2,
No 1.
Laily, A. N. 2011. Karakterisasi Carica
pubescens Lenne & K. Koch Berdasarkan Wagner, G. J. 1984. Characterization of a
Karakter Morfologi, Kapasitas cadmium-binding complex of cabbage
Antioksidan, dan Pola Pita Protein di leaves. Plant Physiol. 76: 797-805.
Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah.
Tesis. Surakarta: Pascasarjana UNS. World Health Organisation. 2006. Diabetes
Mellitus: Report of a WHO Study Group.
Mahendra, B. dan Fauzi Rahmat Kusuma. 2005. World Health Organisation. Geneva-
Kumis kucing pembudidayaan dan Switzerland. S5-36.
Pemanfaatan untuk penghancur batu
ginjal. Depok: Penebar Swadaya. 15: Hal
6-10.

Matsuda H., Li Y., Yamahara J., Yoshikawa M.


1999. Inhibition of Gastric Emptying by
Triterpene Saponin, Momordin Ic, in
Mice: Roles of Blood Glucose, Capsaicin-
Sensitive Sensory Nerves and Central
Nervous System. http://jpnet.
aspetjournals.org/cgi/content/full/
289/2/729. Diakses pada tanggal 25
Desember 2006.

Minarno, E. B. 2014. Skrining Fitokimia dan


Kandungan Total Flavanoid pada Buah
Carica pubescens Lenne & K. Koch di
Kawasan Bromo, Cangar dan Dataran
Tinggi Dieng.

Purwanto, Budhi; editor, Hanifah Fitriani. 2014.


Buku Ajar Ilmu Keperawatan Berbasis
Herbal. Yogyakarta: D-Medika.

Robinson, T. 1995. Kandungan Organik


Tumbuhan Tinggi. Edisi ke-4 Terjemahan
Kosasih Padmawinata. Bandung: ITB
Press.

Sirait, M. 2007. Penuntun Fitokimia dalam


Farmasi. Bandung: Penerbit ITB.

152