You are on page 1of 14

JURNAL PSIKOLOGI

VOLUME 41, NO. 1, JUNI 2014: 101 – 114

Validasi Klinik Strenghts and Difficulties Questionnaire


(SDQ) sebagai Instrumen Skrining
Gangguan Tingkah Laku
Mistety Oktaviana1, Supra Wimbarti2
Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada

Abstract. Conduct Disorder is one of the most common problems often found in children
taken to Puskesmas. Based on SIKM (Mental Health Information System) from 2011 to May
2013, 46.3% of those taken to Puskesmas in Sleman and Yogyakarta were identified with
behavioral and emotional disorder. Therefore, screening instrument is needed for early
identifying conduct disorder in them. Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) has been
developed to meet the need. The SDQ is a 25-item questionnare about the positive and
negative atributes of children and adolescents (4-16 years old). This study aimed to adapt the
English version of SDQ-Teacher Reports (TR) into Indonesian version and to examine
psychometrical properties and clinical validation of the Indonesian version for screening
conduct disorder. The subjects were 161 Elementary students from Sleman and Yogyakarta,
boys and girls of 7-13 years old of age. The reliability coeficient using Alpha Cronbach was
α=0,773, and the construct validity using Principal Axis Factoring (PAF) showed that SDQ-TR
had six structural factors. Clinical validation using Receiver Operating Curve (ROC) revealed
that the value of sensitivity were 0.67 with spesificity 0.68 (for the optimum cut-off point ≥5),
and using Likelihood Ratio (LR) showed LR (+) was 2.09 and LR (-) was 0.49.
Keywords: children, clinical validation, conduct disorder, SDQ-TR

Abstrak. Gangguan tingkah laku adalah salah satu gangguan yang sering dijumpai pada
pasien anak di Puskesmas. Diketahui berdasarkan data SIKM, pasien anak yang mengunjungi
Puskesmas wilayah Sleman dan Yogyakarta dengan gangguan emosi dan perilaku sejumlah
46,37% dari 1902 pasien, semenjak 2011 hingga Maret 2013. Guna memfasilitiasi adanya
kebutuhan instrumen skrining untuk deteksi dini gangguan tingkah laku, dikembangkan
SDQ yang merupakan kuisioner singkat mengenai atribut positif dan negatif anak dan remaja
(usia 4-16 tahun) yang terdiri 25 aitem. Penelitian ini bertujuan untuk mengadaptasi SDQ-TR
versi Inggris menjadi versi Indonesia, melakukan uji properti psikometri, dan uji kualitas
skrining terhadap gangguan tingkah laku. Sampel terdiri dari 161 siswa Sekolah Dasar di
wilayah Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta, laki-laki dan perempuan, berusia 7-13
tahun. Uji reliabilitas dengan teknik Alpha Cronbach menghasilkan α=0,773. Uji validitas
konstruk menggunakan PAF menunjukkan SDQ-TR memiliki enam struktur faktor. Uji
kualitas skrining menggunakan ROC menghasilkan cut-off≥5, nilai sensitivitas 0,67 dengan
spesifisitas 0,68, sedangkan menggunakan LR menghasilkan LR(+)=2,09 dan LR(-)=0,49.
Kata kunci: anak, validasi klinik, gangguan tingkah laku, SDQ-TR

Puskesmas1 di wilayah Kabupaten kan fasilitas pelayanan psikologi, dan


Sleman sejak tahun 2004 telah menyedia- diikuti oleh Puskesmas di wilayah Kota
Yogyakarta pada tahun 2010. Pelayanan
1 Korespondensi mengenai isi artikel ini dapat dila- psikologi dilakukan untuk mengurangi
kukan melalui: mistety.oktaviana@gmail.com treatment gap atau kesenjangan antara tem-
2 Atau melalui: supra8@gmail.com

101 JURNAL PSIKOLOGI


OKTAVIANA & WIMBARTI

pat pelayanan kesehatan mental lingkup Gangguan tingkah laku adalah gang-
primer (Puskesmas) dengan sekunder guan yang ditandai dengan pola tingkah
(Rumah Sakit). Pelayanan psikologi di laku dissosial, agresif atau menentang,
Puskesmas diberikan untuk individu, yang berulang dan menetap. Perilaku ini,
kelompok, maupun komunitas. Secara dalam bentuk ekstremnya, berupa pelang-
umum kunjungan pasien dewasa lebih garan berat dari norma sosial yang terda-
banyak dibanding pasien anak, remaja, pat pada anak seusia itu, dan karena itu
maupun lansia. Pasien anak yang menda- pelanggarannya bersifat menetap dan
tangi poli psikologi meskipun jumlahnya lebih parah daripada kenakalan anak atau
tidak dominan, tetap perlu mendapat sikap memberontak remaja pada lazim-
perhatian. nya. Penilaian tentang adanya gangguan
Berdasarkan data Sistem Informasi tingkah laku perlu mempertimbangkan
Kesehatan Mental (SIKM), yaitu sebuah tingkat perkembangan anak. Contoh peri-
sistem informasi hasil kerjasama antara laku yang menjadi dasar diagnosisnya
Center for Public Mental Health (CPMH) mencakup hal berikut: perkelahian atau
Fakultas Psikologi UGM dengan Dinas pelecehan yang berlebihan, kekejaman
Kesehatan Kabupaten Sleman dan Kota terhadap hewan atau manusia, perusakan
Yogyakarta, pada tahun 2011-2013 dike- yang hebat atas barang milik orang lain,
tahui bahwa jumlah pasien anak (usia 1-19 membakar, mencuri, melakukan kebo-
tahun) yang berkunjung ke Puskesmas hongan berulang, membolos dari sekolah
mencapai 1902 orang. Pasien yang meng- dan lari dari rumah, temper tantrum yang
alami gangguan tingkah laku dan emosi berlebihan dan sering, perilaku provokatif
(golongan F90 – F98 berdasarkan PPDGJ yang menantang, dan sikap menentang
III) cukup mendominasi yaitu mencapai yang hebat serta menetap. Masing-masing
46,37% atau sebanyak 882 pasien. Pada go- dari kategori tersebut apabila ditemukan,
longan gangguan perilaku dan emosi yang cukup untuk menjadi alasan bagi diag-
menempati urutan tertinggi, diagnosis nosis gangguan tingkah laku. Namun,
gangguan tingkah laku (F91) berada pada perbuatan dissosial yang tunggal bukan
jumlah terbanyak kedua setelah gangguan merupakan alasan yang kuat. Diagnosis
hiperkinetik (F90). ini tidak dianjurkan kecuali bila perilaku
dissosial berlanjut selama enam bulan atau
Prevalensi gangguan tingkah laku di
lebih (Departemen Kesehatan RI, 1993).
Amerika mengalami peningkatan pada
beberapa dekade terakhir dan lebih ba- Penggolongan kelompok gangguan
nyak muncul di perkotaan daripada pede- tingkah laku dalam PPDGJ III terbagi
saan. Pada laki-laki di bawah 18 tahun menjadi enam, yaitu: (1) gangguan tingkah
terdapat sekitar 6% - 16%, sedangkan pada laku yang terbatas lingkungan keluarga.
perempuan terdapat 2% - 9% (American (2) Gangguan tingkah laku tidak berke-
Psychiatric Association, 1994). Gangguan lompok, yang ditandai dengan tidak
tingkah laku lebih banyak terjadi pada adanya keterpaduan yang efektif dengan
laki-laki dibanding perempuan (Kazdin kelompok sebaya yang merupakan perbe-
dalam Conner & Lochman, 2010). Preva- daan penting dengan gangguan tingkah
lensi gangguan tingkah laku di Indonesia laku berkelompok. (3) Gangguan tingkah
khususnya di Provinsi Daerah Istimewa laku berkelompok, terdapatnya ikatan
Yogyakarta (DIY) hingga kini belum persahabatan yang kuat dengan anak
diketahui. seusianya dimana seringkali terdiri atas

102 JURNAL PSIKOLOGI


VALIDASI KLINIK, SDQ, GANGGUAN TINGKAH LAKU

anak-anak yang juga terlibat dalam per- Kendala yang dihadapi saat melakukan
buatan kriminal atau dissosial. (4) Gang- asesmen
guan sikap menentang/ membangkang, Metode yang digunakan oleh Psikolog
pada gangguan ini tidak ada tindakan dalam melakukan proses asesmen yaitu
dissosial dan agresif yang lebih berat yang observasi, wawancara atau significant
melanggar hukum ataupun melanggar hak others, dan tes psikologi. Wawancara pada
asasi orang lain, (5) Gangguan tingkah orang tua terkadang mengalami hambatan
laku lainnya, dan (6) gangguan tingkah karena beberapa orang tua kurang koope-
laku YTT (Departemen Kesehatan RI, ratif dan terlalu sibuk, sedangkan wawan-
1993). cara pada anak cenderung membutuhkan
Pola asuh yang negatif, kurang res- waktu yang cukup lama. Observasi pada
ponsif, adanya penolakan, dan kurang anak pun kerap mengalami kesulitan
adanya ikatan emosi mampu memprediksi karena terbatasnya fasilitas. Kurang terse-
gangguan tingkah laku pada balita (Lorber dianya media bermain bagi anak membuat
& Egeland, 2011). Anak dengan gangguan anak tidak betah berlama-lama dalam pro-
tingkah laku memiliki sejarah keluarga ses asesmen. Alat tes psikologi yang digu-
dengan gangguan halusinasi atau kekeras- nakan beragam, tetapi pengadministrasian
an fisik. Selain itu, anak dengan gangguan alat tes cukup rumit dan membutuhkan
tingkah laku juga memiliki riwayat keluar- waktu yang lama (Rahardian, Komunikasi
ga dengan masalah belajar dan konsumsi Personal, Maret 2013). Berdasarkan alasan
alkohol (Ezpeleta, Granero, & Domenech, tersebut, dibutuhkan alat skrining yang
2005). Selain pengaruh pola asuh dan sensitif, spesifik, dan sederhana untuk
riwayat keluarga, gangguan tingkah laku mempermudah proses asesmen.
lebih banyak muncul pada subjek yang Strengths and Difficulties Questionnaire
memiliki riwayat malnutrisi pada masa (SDQ) adalah sebuah instrumen skrining
kanak-kanak (Galler, Bryce, Waber, Hock, perilaku singkat untuk anak dan remaja
Harrison, Eaglesfield, & Fitzma, 2012). (3-17 tahun) yang memberikan gambaran
Temperamen juga menjadi aspek yang singkat dari perilaku yang berfokus pada
memprediksi gangguan tingkah laku kekuatan dan juga kesulitan mereka
(Rothbart dalam Lorber & Egeland, 2011). (Black, Pulford, Christie, & Wheeler, 2010).
Gangguan tingkah laku sering dikait- Kuesioner singkat sangat berguna ketika
kan dengan inteligensi di bawah rata-rata. digunakan dalam survei berskala besar
Gangguan tingkah laku juga diketahui dimana aitem sebaiknya terbatas untuk
berhubungan dengan gangguan kecemas- memastikan adanya respon yang dicari
an, gangguan mood, Attention Deficiency (Ullebo, Posserud, Heiervang, Gillberg, &
and Hiperactivity Disorder (ADHD), Opposi- Obel, 2011). Hal ini merupakan kelebihan
tional Defiant Disorder (ODD), Pervasif SDQ karena jumlah aitemnya yang sedikit
Developmental Disorder (PDD), gangguan dan relatif sederhana.
penyesuaian, dan gangguan terkait subs- Dahlan (2009) menyatakan instrumen
tansi (American Psychiatric Association, skrining sebaiknya memiliki keunggulan
2004; van Lier, van der Ende, Koot, relatif yang lebih dibanding metode
Verhulst, 2007; Harada, Hayashida, Hikita, asesmen lainnya, yaitu: lebih tidak invasif,
Imai, Sasayama, Masutani, Tomita, Saitoh, tingkat risiko yang lebih rendah, tidak
Washizuka, & Amano, 2009). memerlukan keahlian khusus, lebih mu-
rah, waktu untuk memperoleh hasil lebih

JURNAL PSIKOLOGI 103


OKTAVIANA & WIMBARTI

cepat, lebih mudah diakses, lebih seder- diketahui bahwa SDQ telah diterjemahkan
hana, tidak terlalu rumit, dan dapat men- ke dalam lebih dari 40 bahasa dan bebas
deteksi gangguan lebih dini, tidak hanya digunakan untuk kepentingan non-
mendeteksi gangguan pada tahap lanjut. komersial (http://www.sdqinfo.org/).
SDQ memiliki beberapa poin keunggulan SDQ telah dilakukan uji instrumen
relatif tersebut, yaitu: dapat dilakukan penelitian pada berbagai versi. Goodman
tanpa memiliki keahlian khusus atau mengawali penelitian pada 1997 dan
profesi tertentu, waktu yang digunakan menunjukkan hasil SDQ-teacher reports
untuk mengadminstrasikan dan mela- (TR) dan parent reports (PR) berguna sama
kukan skoring cukup singkat, mudah baiknya dengan skala Rutter. Tahun 2008,
diakses, tidak harus dilakukan di pelayan- Goodman menunjukkan SDQ-self reports
an kesehatan, lebih sederhana dalam (SR) berkorelasi dengan baik dengan SDQ-
administrasi ataupun skoring, digunakan PR dan SDQ-TR. Tingkat agreement antara
untuk melakukan deteksi dini sehingga predikasi SDQ dan diagnosis klinis secara
permasalahan pada anak dapat diketahui signifikan tinggi (Goodman, Renfrew, &
sedini mungkin dan memperoleh inter- Mullick, 2000). Kemampuan prediksi
vensi secepat mungkin. struktur lima faktor SDQ (masalah emosi,
SDQ terdiri dari 25 aitem yang dialo- masalah tingkah laku, inatensi-hiperak-
kasikan pada lima subskala. Keempat tivitas, masalah teman sebaya, dan
subskala termasuk ke dalam kelompok kemampuan prososial) dapat dikonfirmasi
subskala kesulitan, yaitu subskala emotio- (Goodman, 2001). Uji reliabilitas terbukti
nal symptom, subskala conduct problem, memuaskan, dengan konsistensi internal
subskala hyperactivity-inattention, dan subs- (0,73), korelasi cross informant (0,34), dan
kala peer problem. Sedangkan subskala stabilitas test retest setelah 4-6 bulan (0,62).
yang kelima termasuk dalam kelompok Tahun 2003, Goodman, Ford, Simmons,
subskala kekuatan, yaitu subskala proso- Gatward, dan Meltzer menunjukkan bah-
cial. Masing-masing subskala SDQ terdiri wa SDQ memiliki sensitivitas 63,3%,
dari lima aitem. Masing-masing aitem spesifisitas 94,6%, nilai prediksi positif
diskor dalam kriteria tiga poin yaitu 52,7%, dan nilai prediksi negatif 96,4%.
0=tidak benar, 1=agak benar, 2=sangat Sensitivitas SDQ akan signifikan lebih
benar. Skor dari masing-masing subskala tinggi bila menggunakan multiinforman
dapat dihitung dengan menjumlahkan ketiga form SDQ dibandingkan informan
skor dari masing-masing aitem yang tunggal. Sensitivitas berbeda pada tiap
relevan pada subskala tersebut. Skor ter- diagnosis. Sensitivitas ≥0,70 untuk meng-
tinggi dari masing-masing subskala adalah identifikasi individu dengan gangguan
10 dan skor terendah adalah 0 (Goodman perilaku, hiperaktif, depresi dan beberapa
dalam Muris, Meesters, & van den Berg, gangguan kecemasan, dan ≤0,50 untuk
2003). mengidentifikasi individu dengan fobia
Studi di Belanda menyatakan kuesio- spesifik, kecemasan akan perpisahan,
ner sebaiknya diberikan sesuai dengan gangguan makan dan gangguan panik. Uji
bahasa ibu atau jika memungkinkan efisiensi SDQ kembali dilakukan oleh
bahasa lain yang familiar untuk digu- Goodman, Ford, Corbin, dan Meltzer pada
nakan subjek (Richter, Sagatun, tahun 2004 dan menunjukkan hasil sensi-
Heyerdahl, Oppedal, & Roysamb, 2011). tivitas 84,8%, spesifisitas 80,1%, nilai duga
Pada Youth In Mind, situs resmi SDQ, positif 74,2% dan nilai duga negatif 88,7%.

104 JURNAL PSIKOLOGI


VALIDASI KLINIK, SDQ, GANGGUAN TINGKAH LAKU

Penelitian mengenai SDQ telah merupakan total dari empat skor subskala
banyak dilakukan di berbagai negara, baik kesulitan, yaitu subskala masalah emosi,
untuk pengujian properti psikometri mau- masalah perilaku, masalah dengan teman
pun validasi terhadap gangguan tertentu. sebaya, dan hiperaktivitas-inatensi
SDQ Belanda dapat mendeteksi dini masa- (Goodman, 1994). Penelitian ini selanjut-
lah kesehatan mental pada anak dengan nya menggunakan skor subskala masalah
Intellectual Disorder (ID). Skor tingkat kesu- perilaku untuk melihat bagaimana efisien-
litan menunjukkan anak dengan ID memi- sinya dalam menskrining gangguan ting-
liki skor lebih tinggi dibandingkan tanpa kah laku.
ID (Emerson, 2005). SDQ Inggris mampu SDQ versi Inggris pernah diadaptasi
mendeteksi anak dengan HIV dengan menjadi versi Indonesia. Namun, proses
menghasilkan skor kesulitan yang lebih adaptasi tersebut tidak disertai uji properti
tinggi daripada populasi umum (anak psikometri dan uji kualitas skrining. Oleh
tanpa HIV) (Melvin, Krechevsky, Divac, karenanya penelitian ini melakukan adap-
Tacconelli, Miah, Waugh, Hekster, Byard, tasi ulang SDQ-TR versi Inggris, uji pro-
& Giannakopoulou, 2007). perti psikometri, dan uji kualitas skrining
SDQ Norwegia mendapatkan titik SDQ-TR versi Indonesia terhadap ganggu-
potong ≥ 18 untuk total kesulitan SDQ. an tingkah laku. Dahlan (2009) mengung-
Nilai konsistensi internal dengan alpha kapkan salah satu syarat melakukan pene-
cronbach untuk total kesulitan adalah 0,74. litian instrumen skrining maupun diag-
Koefisien alpha untuk masing-masing nostik yaitu harus terdapat baku emas
subskala adalah 0,70 untuk masalah emosi, (gold standard). Penelitian ini mengguna-
0,50 untuk masalah perilaku, 0,66 untuk kan hasil diagnosis psikolog berdasar
hiperaktivitas-inatensi, 0,53 untuk masalah PPDGJ III sebagai standar baku emas.
teman sebaya, dan 0,70 untuk perilaku Adapun pertanyaan yang hendak dijawab
prososial. Hasil uji Principal Component dari penelitian ini adalah bagaimana
Analysis (PCA) dan diagram screen plot reliabilitas dan validitas konstruk SDQ-TR
menunjukkan adanya tujuh faktor yang Indonesia?, bagaimana sensitivitas, spesifi-
menjelaskan varian sebesar 52,9% (Svedin sitas, dan Area Under Curve (AUC) SDQ-
& Priebe, 2008). TR Indonesia terhadap gangguan tingkah
Reliabilitas SDQ-PR dan TR Australia laku pada sampel komunitas?, serta
pada semua subskala terbilang sedang bagaimana rasio kemungkinan positif, dan
(0,57) – tinggi (0,88) (Hawes & Dadds, rasio kemungkinan negatif SDQ-TR Indo-
2004). Sensitivitas dari probable diagnosis nesia terhadap gangguan tingkah laku
menunjukkan skor hiperaktif=44%, gang- pada sampel komunitas?
guan tingkah laku=93%, dan gangguan Hasil penelitian ini secara teoritis da-
emosi=36%. Sensitivitas untuk diagnosis pat memperkaya khasanah ilmu psikologi
yang tergolong mengalami gangguan atau khususnya dalam pengembangan instru-
borderline menunjukkan skor hiperaktif= men skrining. Secara praktis, hasil peneli-
93%, gangguan tingkah laku=100%, dan tian ini dapat meningkatkan sensitivitas
gangguan emosi=81% (Mathai, Anderson, para guru dalam melakukan deteksi dini
& Bourne, 2004). gangguan tingkah laku pada siswanya,
Skoring SDQ yang digunakan dapat sehingga para siswa dengan gangguan
berdasarkan skor pada masing-masing tingkah laku dapat lebih cepat memper-
subskala ataupun skor total kesulitan yang oleh penanganan yang tepat.

JURNAL PSIKOLOGI 105


OKTAVIANA & WIMBARTI

Metode pengembangan instrumen penelitian.


Adaptasi instrumen SDQ-TR telah dilaku-
Partisipan kan back translation, diawali dengan me-
nerjemahkan SDQ-TR versi Inggris menja-
Subjek untuk sampel komunitas da-
di bahasa Indonesia oleh dua orang ahli
lam penelitian ini berjumlah 161 anak
bahasa. Multiple translator dilakukan untuk
dengan kriteria berusia 7-13 tahun, berje-
mencegah adanya keganjilan bahasa atau
nis kelamin laki-laki dan perempuan, pada
kecenderungan menggunakan bahasa
komunitas sekolah dasar yang berada
yang disukai oleh single translator
dalam wilayah Kabupaten Sleman dan
(Hambleton, Merenda, & Spielberger,
Kota Yogyakarta. Metode sampling yang
2005). Tiga orang psikolog senior kemu-
digunakan adalah Multi Stage Cluster
dian melakukan expert judgement terhadap
Random Sampling, dengan memilih secara
SDQ-TR yang telah diterjemahkan, dengan
acak kecamatan, sekolah dasar, dan siswa
tujuan melakukan penilaian mengenai
yang dijadikan sampel dalam penelitian
ketepatan terjemahan terhadap konsep
ini.
psikologi. Proses selanjutnya adalah mela-
kukan cognitive debriefing kepada 17 orang
Pelaksanaan Penelitian
guru di SD yang terdapat di wilayah
Tahap pertama adalah melakukan Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta,
persiapan penelitian. Peneliti mempersiap- dengan tujuan untuk mengetahui inter-
kan sarana dan prasarana yang dibutuh- pretasi responden terhadap aitem-aitem
kan untuk penelitian. Pertama adalah peri- yang terdapat dalam instrumen
jinan untuk melakukan penelitian di (Plougman, Austin, Stefanelli, & Godwin,
Puskesmas dan Sekolah Dasar (SD). Kedua 2010). Setelah memperoleh hasil uji coba
adalah mempersiapkan sejumlah instru- dan dilakukan penyesuaian, SDQ-TR di
men yang digunakan dalam penelitian ini terjemahkan kembali ke dalam bahasa
meliputi SDQ-TR versi Inggris yang kemu- Inggris untuk mengkonfimasi kesesuaian
dian diadaptasi menjadi versi Indonesia, konsep dengan versi aslinya.
Pedoman penegakan diagnosis gangguan Persiapan selanjutnya adalah pelatih-
tingkah laku berdasarkan kriteria PPDGJ an kepada para psikolog pengambil data.
III, Modul pelatihan diagnosis gangguan Pelatih adalah seorang psikolog klinis
tingkah laku berdasar PPDGJ III untuk senior bidang psikologi anak. Pelaksanaan
para psikolog yang telah dilakukan pro- pelatihan dijelaskan dalam Tabel 1.
fessional judgement oleh psikolog klinis
Persiapan terakhir adalah pengujian
senior, dan video untuk pengujian kualitas
kualitas diagnosis psikolog pengambil da-
diagnosis psikolog.
ta dengan metode inter-rater reliability.
Tahap selanjutnya adalah melakukan Hasil rating psikolog dibandningkan de-

Tabel 1
Rincian Pelaksanaan Pelatihan Bagi Psikolog Calon Pengambil Data
Judul Kegiatan Waktu Tempat Pelatih
Pelatihan Penegakan Senin–Selasa, 16-17 Ruang Merak, Dr. Indria L.
Diagnosis Gangguan Emosi September 2013. Bag. Ilmu Gamayanti, M.Si.,
dan Perilaku Pada Anak Pukul 08.30-16.00 Kesehatan Anak, Psi.
berdasarkan PPDGJ III WIB RSUP Dr. Sardjito

106 JURNAL PSIKOLOGI


VALIDASI KLINIK, SDQ, GANGGUAN TINGKAH LAKU

ngan hasil rating dari psikolog anak senior analisis uji properti psikometri yang
sebagai gold standard. Fleiss (1975) meng- terdiri dari uji reliabilitas menggunakan
kategorikan tingkat reliabilitas antar rater Alpha Cronbach dan uji validitas konstrak
menjadi empat kategori yaitu: (a) k=<0,4 menggunakan Pricipal Axis Factoring, dan
(buruk), (b) k=0,40–0,60 (cukup), (c) analisis uji kualitas skrining menggunakan
k=0,60–0,75 (memuaskan), dan (d) k=>0,75 Receiver Operating Curve (ROC) dan Likely-
(istimewa). Penelitian ini mensyaratkan hood Ratio (LR). Analisis uji asumsi dilaku-
untuk menggunakan psikolog dengan kan menggunakan Kolmogorov Smirnov
nilai reliabilitas antar rater minimal k=0,75. Test.
Tabel 2 adalah hasil uji kualitas diagnostik
psikolog.
Hasil
Tabel 2
Setelah proses pengumpulan data
Hasil Uji Inter-Rater Reliability Psikolog Calon
Pengambil Data selesai, peneliti melakukan seleksi dan
skoring semua hasil yang terkumpul yaitu
No Nama Psikolog Nilai k
SDQ-TR dan diagnosis psikolog. SDQ-TR
1 AY 0,78
terkumpul sebanyak 181 subjek dan diag-
2 TR 0,78
3 RH 0,89 nosis psikolog hanya 161 subjek. Data 20
4 KW 0,89 subjek tidak dapat dilakukan uji kualitas
5 RHJ 0,89 skrining karena tidak ada diagnosis psiko-
6 DNP 0,78 log sehingga hanya dapat dilakukan uji
7 AR 0,89 properti psikometri.
8 EE 0,89
Data demografi menunjukkan rerata
9 AU 0,78
usia subjek adalah 9,74 tahun, berjenis
10 NR 0,78
11 TP 0,78 kelamin perempuan sebanyak 40 subjek
12 BDA 0,89 (24,8%) dan laki-laki sebanyak 121 subjek
(75,2%). Berdasarkan tingkat pendidikan,
kelas dengan jumlah subjek terbanyak
Berdasarkan penjabaran tersebut dike-
adalah kelas III sebanyak 41 subjek
tahui bahwa semua psikolog memiliki
(25,5%). Data demografi juga menunjuk-
tingkat reliabilitas antar-rater istimewa.
kan bahwa 33 dari 161 subjek terdiagnosis
Proses pengambilan data diawali dengan
gangguan tingkah laku (20,5%), dimana
mengajukan inform consent kepada para
sebanyak 29 subjek (87,9%) adalah laki-
psikolog, guru, dan orang tua subjek. Pro-
laki. Berdasarkan tingkat pendidikan,
ses pengumpulan data dilakukan secara
anak dengan gangguan tingkah laku
tersamar (blinding) dengan tujuan untuk
paling banyak muncul pada anak kelas 3
menghindari bias pengukuran (Dahlan,
yaitu sebesar 39,4%. Sedangkan berdasar-
2002). Baik instrumen SDQ maupun hasil
kan usia, anak dengan gangguan tingkah
diagnosis psikolog dikumpulkan secara
laku paling banyak muncul pada anak
terpisah dan hanya boleh dibuka oleh
dengan usia 9 tahun dan 10 tahun.
peneliti.
Sedangkan hasil analisis data SDQ-TR
menunjukkan bahwa nilai rerata skor
Analisis Data
subskala perilaku adalah 3,68, dengan skor
Analisis data yang dilakukan dalam maksimum 10 dan skor minimum 0.
penelitian ini secara garis besar terdiri dari

JURNAL PSIKOLOGI 107


OKTAVIANA & WIMBARTI

Pada uji normalitas dengan metode dan LR. Analisis ROC menghasilkan nilai
Kolmogorov Smirnov, nilai signifikansi <0,05 Area Under the Curve (AUC) 73,4% (64,5% -
mengindikasikan adanya penyimpangan 82,3%), yang berarti apabila SDQ-TR
dari distribusi normal (Field, 2009). Hasil digunakan untuk menskrining gangguan
menunjukkan p=0,012 (p<0,05), yang berar- tingkah laku pada 100 anak, maka kesim-
ti penyebaran data pada SDQ-TR tidak pulan yang tepat akan diperoleh pada 73
terdistribusi normal. anak. Titik potong skor SDQ-TR dalam
Uji properti psikometri menganalisis melakukan skrining gangguan tingkah
dua hal, yaitu reliabilitas dan validitas laku adalah 4,5 dengan sensitivitas 0,67
konstrak. Hasil analisis reliabilitas dengan dan spesifisitas 0,68. SDQ-TR akan mampu
Alpha Cronbach menunjukkan bahwa melakukan skrining dengan hasil nilai
subskala masalah perilaku SDQ-TR memi- positif pada subjek yang menderita gang-
liki tingkat reliabilitas yang memuaskan guan tingkah laku sebesar 67% dan mam-
(rxx’=0,773). Hasil analisis validitas kons- pu melakukan skrining dengan hasil nega-
truk menggunakan Principal Axis Factoring tif pada subjek yang tidak menderita gang-
(PAF) memiliki nilai Kaiser-Meyer-Olkin guan tingkah laku sebesar 68%.
(KMO) sebesar 0,776 yang berarti semua Warner (2004) menyatakan bahwa
aitem SDQ-TR layak untuk dilakukan ana- idealnya sebuah tes memiliki satu skor
lisis faktor. Tahap rotasi faktor dilakukan titik potong. Titik potong optimum ber-
dengan metode varimax, dengan tujuan wujud angka bulat untuk dalam penga-
untuk memaksimalkan jumlah varians plikasian di lapangan untuk kepentingan
dalam faktor (Field, 2009). Factor loading praktis. Oleh karenanya titik potong untuk
dari setiap aitem dengan nilai yang paling SDQ-TR dibulatkan menjadi ≥5. Berda-
besar berkelompok pada salah satu faktor. sarkan analisis Likelihood Ratio, didapatkan
Pada SDQ-TR, pengelompokkan ini mem- nilai rasio kemungkinan positif (LR +) 2,09,
bentuk enam faktor. Pada faktor 1 tampak dan rasio kemungkinan negatif (LR –) 0,49.
bahwa butir aitem yang mengelompok Hal ini berarti; Subjek dengan gangguan
adalah aitem 3, 6, 8, 13, 16, 19, dan 24 yang tingkah laku memiliki kemungkinan 2,09
sesuai dengan konstruk masalah emosi. kali lebih tinggi terdeteksi positif SDQ-TR
Faktor 2 berisi butir aitem 1, 4, 7, 9, 17, dan dibanding subjek tanpa gangguan tingkah
20 yang sesuai dengan konstruk perilaku laku, dan Subjek dengan gangguan ting-
prososial. Faktor 3 berisi butir aitem 5, 12, kah laku memiliki kemungkinan 0,49 kali
18 dan 22 yang sesuai dengan konstruk lebih rendah terdekteksi negatif oleh SDQ-
masalah perilaku. Faktor 4 berisi butir TR dibanding subjek tanpa gangguan
aitem 11, 14, dan 23 yang sesuai dengan tingkah laku.
konstruk masalah dengan teman sebaya.
Faktor 5 berisi aitem-aitem 2, dan 10 yang
Diskusi
sesuai dengan konstruk hiperaktivitas.
Sedangkan faktor 6 berisi butir aitem 15, Hasil penelitian ini menunjukkan sub-
21, dan 25 yang sesuai dengan konstruk jek laki-laki lebih banyak yang menderita
inatensi. Total keseluruhan varian yang gangguan tingkah laku daripada subjek
dijelaskan oleh keenam faktor tersebut perempuan. Hal ini sejalan dengan apa
adalah sebesar 62,45%. yang diungkapkan Kazdin dalam Conner
Uji kualitas skrining SDQ-TR dilaku- dan Lochman (2010) bahwa gangguan
kan menggunakan dua metode yaitu ROC tingkah laku lebih banyak terjadi pada

108 JURNAL PSIKOLOGI


VALIDASI KLINIK, SDQ, GANGGUAN TINGKAH LAKU

laki-laki dibanding perempuan. Prevalensi (2001) melakukan pegujian terhadap pro-


gangguan tingkah laku pada laki-laki di perti psikometri SDQ dan hasilnya me-
bawah 18 tahun terdapat sekitar 6% - 16%, nunjukkan bahwa struktur prediksi lima
sedangkan pada perempuan terdapat 2% - faktor (emotional, conduct, hyperactivity-
9% (American Psychiatric Association, 1994). inattention, peer problem and prosocial) dapat
Hasil analisis reliabilitas dengan me- dikonfirmasi. Faktor yang berbeda dalam
tode alpha cronbach menunjukkan bahwa SDQ-TR pada penelitian ini dibandingkan
subskala masalah perilaku SDQ-TR memi- penelitian sebelumnya adalah terpisahnya
liki tingkat reliabilitas yang memuaskan. faktor hiperaktivitas-inatensi sehingga
Nilai koefisien reliabilitas adalah rxx’= membentuk dua faktor yang berbeda yaitu
0,773. Wells dan Wollack (dalam Azwar, faktor hiperaktivitas dan faktor inatensi.
2012) mengatakan bahwa tes yang diguna- Analisis faktor pertama kali dilakukan
kan di kelas oleh para guru hendaknya oleh Goodman (2001) dan menunjukkan
paling tidak memiliki koefisien reliabilitas subskala masalah perilaku pada SDQ
≥0,70, dengan demikian reliabilitas SDQ- Inggris terdiri dari aitem 5, 7, 12, 18, dan
Teacher Reports ini dianggap memuaskan. 22. Penelitian pada beberapa negara mam-
Uji reliabilitas yang dilakukan perta- pu membuktikan aitem yang mengelom-
ma kali pada instrumen SDQ terbukti me- pok pada subskala masalah perilaku ter-
muaskan, baik dengan konsistensi internal konfirmasi sebagaimana model asli yaitu
(Alpha Cronbach=0,73), korelasi cross SDQ Inggris, sedangkan pada beberapa
informant (0,34), maupun stabilitas test negara lain memberikan hasil yang sedikit
retest setelah 4-6 bulan (0,62) (Goodman, berbeda. Berdasarkan hasil analisis faktor
2001). Nilai koefisien reliabilitas SDQ-TR penelitian ini, subskala masalah perilaku
Belanda rata-rata α=0,80 untuk semua SDQ-TR hanya terdiri dari aitem 5, 12, 18,
subskala (Muris, Meesters, & van den dan 22. Aitem 7 memisahkan diri dan
Berg, 2003; Widenfelt, Goedhart, Treffers, berkelompok dengan subskala perilaku
& Goodman, 2003). SDQ-TR Jerman prososial. Tidak terkonfirmasinya aitem 7
memiliki reliabilitas yang memuaskan α = sesuai model asli dikarenakan adanya
0,75–0,83. SDQ-TR Cina memiliki konsis- perbedaan budaya antara Indonesia de-
tensi internal α=0,55–0,84 (Lai, Luk, Leung, ngan Inggris. Bagaimana masyarakat
Wong, Lau, & Ho, 2010). SDQ-TR Spanyol Indonesia menginterpretasi perilaku
memiliki nilai konsistensi internal α=0,64– obedience yang disebutkan dalam aitem 7
0,83 (Rodriguez-Hernandez dkk., 2012). berbeda dengan masyarakat Inggris. Di
Pemaparan berbagai penelitian dari ber- Indonesia, obedience atau kepatuhan lebih
bagai populasi dan budaya, dengan hasil cenderung berkaitan dengan perilaku pro-
yang relatif sama, menguatkan bahwa sosial daripada masalah perilaku. Menge-
SDQ-TR memang memiliki reliabilitas lompoknya aitem 7 ke dalam subskala
yang memuaskan. perilaku prososial ditemui dalam hasil
penelitian di Jepang dan Swedia. Aitem 7
Hasil analisis faktor dengan menggu-
pada SDQ-PR Swedia dan SDQ Jepang
nakan Principal Axis Factoring (PAF)
mengelompok pada subskala perilaku pro-
menemukan enam faktor yang memben-
sosial (Malmberg, Rydell, Smedje, 2003;
tuk konstruk SDQ-TR, yaitu faktor masa-
Matsuishi, dkk., 2008). Hal ini menunjuk-
lah emosi, perilaku prososial, masalah
kan bahwa pada kedua negara tersebut,
perilaku, masalah dengan teman sebaya,
persepsi masyarakat terhadap aitem 7
hiperaktivitas, dan inatensi. Goodman

JURNAL PSIKOLOGI 109


OKTAVIANA & WIMBARTI

tidak berbeda dengan persepsi masyarakat valid dalam menskrining gangguan ting-
Indonesia. kah laku di Indonesia. Hal ini menjadikan
Terkait dengan fungsi SDQ-TR seba- SDQ-TR secara klinis memiliki kualitas
gai instrumen skrining, isu lain yang perlu skrining yang baik atau memuaskan.
dikaji adalah mengenai validitas klinik Analisis uji normalitas dilakukan un-
instrumen tersebut. Hasil analisis ROC tuk mengetahui sebaran data dari peneli-
dan LR terhadap subskala masalah perila- tian ini. Hasil analisis menunjukkan nilai
ku SDQ-TR menunjukkan nilai AUC p=0,012 (p<0,05) yang berarti sebaran data
sebesar 73,4%, nilai batas pisah optimum ≥ pada SDQ-TR tidak terdistribusi secara
5, sensitivitas sebesar 0,67, dan spesifisitas normal. Hal ini mengindikasikan sampel
sebesar 0,68. Disamping itu, dihasilkan yang digunakan dalam penelitian tidak
juga nilai LR + sebesar 2,09 dan nilai LR – dapat mewakili populasi umum. Azwar
sebesar 0,49. Berdasarkan hasil analisis (2013) mengatakan distribusi data yang
tersebut, dapat disimpulkan bahwa SDQ- tidak normal tidak selalu menghasilkan
TR memiliki kualitas skrining yang me- analisis yang tidak valid. Uji normalitas
muaskan dalam melakukan skrining yang tidak terpenuhi tidak lantas membe-
gangguan tingkah laku. Berdasar peneli- rikan hasil analisis yang tidak memuas-
tian dari berbagai negara, cut-off total skor kan. Hasil analisis uji properti psikometri
kesulitan yang didapat cukup beragam. dan uji kualitas skrining SDQ-TR dalam
Terjadinya perbedaan cut-off pada hampir penelitian ini terbukti memuaskan. SDQ-
setiap negara dalam mendeteksi suatu TR dalam penelitian ini sensitif dan spesi-
gangguan kemungkinan disebabkan oleh fik digunakan untuk menskrining gang-
adanya pengaruh budaya dan perbedaan guan tingkah laku. Azwar (2013) juga
gold standard yang digunakan saat melaku- menyatakan bahwa selama hasil analisis
kan validasi (Becker, Steinhausen, tidak meragukan, uji asumsi tidak harus
Baldursson, Dalsgaard, Lorenzo, Ralston, dilakukan. Dengan demikian dapat disim-
Döpfner, Rothenberger, & ADORE Study pulkan meski uji normalitas tidak terpe-
Group, 2006). nuhi, hasil penelitian tetap dapat diterima
Seorang peneliti dapat menggunakan dan dapat diaplikasikan pada populasi
dua jenis metode interpretasi dalam pene- umum.
litian diagnostika, yaitu interpretasi klinis Penelitian ini merupakan bagian dari
dan interpretasi statistik (Dahlan, 2009). sebuah penelitian besar yang meneliti
Interpretasi klinis dapat sejalan dengan mengenai validasi klinik SDQ-TR sebagai
interpretasi statistik, tetapi dapat juga instrumen skrining kelompok gangguan
tidak sejalan. Dahlan lebih merekomenda- perilaku dan emosi. Kelompok gangguan
sikan interpretasi secara klinis dibanding- perilaku dan emosi yang diteliti dalam
kan interpretasi secara statistik. Interpre- penelitian tersebut adalah gangguan hi-
tasi klinis tidak terlepas dari keberadaan perkinetik, gangguan tingkah laku, dan
instrumen lain yang mengukur hal serupa gangguan kecemasan pada anak. Namun,
dan bagaimana kualitas skrining dari ins- terdapat perbedaan jumlah subjek yang
trumen lain tersebut. Secara statistik, kua- dilibatkan dalam penelitian ini dengan
litas skrining SDQ-TR terhadap gangguan penelitian besar. Penelitian ini mengguna-
tingkah laku dengan AUC 73,4% terbilang kan jumlah subjek sebanyak 161 anak,
sedang. Secara klinis, sejauh pengetahuan sedangkan penelitian besar menggunakan
peneliti, belum ada instrumen lain yang 272 subjek. Perbedaan jumlah subjek yang

110 JURNAL PSIKOLOGI


VALIDASI KLINIK, SDQ, GANGGUAN TINGKAH LAKU

dilibatkan dalam kedua penelitian dise- pengambilan sampel. Subjek pada masing-
babkan karena perbedaan persiapan pene- masing kelas dipilih oleh guru. Meskipun
litian. Oleh karenanya unpublished report guru telah diberi instruksi untuk memilih
mengenai validasi klinik SDQ-TR sebagai secara acak, tetapi ada kecenderungan gu-
instrumen skrining gangguan tingkah laku ru memilih subjek sesuai dengan kriteria
juga dengan 272 subjek akan dijelaskan yang diinginkan. Kerlinger (1992) menga-
berikut ini. takan andai sampel sudah dikenal atau
Uji normalitas subskala masalah peri- diketahui, mungkin secara tidak sengaja
laku SDQ-TR menghasilkan nilai p=0,001 atau tidak disadari akan cenderung memi-
(p<0,05). Hal ini berarti sebaran data lih sampel yang sesuai dengan kebutuhan
subskala masalah perilaku pada 272 subjek (memiliki kriteria dari variabel yang
tidak terdistribusi secara normal. Uji relia- hendak diteliti).
bilitas memberikan hasil yang memuaskan Asumsi adanya bias dalam pemilihan
(rxx’=0,764). Analisis faktor menunjukkan subjek ini semakin kuat dengan pernya-
SDQ-TR dengan 272 subjek memiliki enam taan dari beberapa psikolog pengambil
faktor yaitu faktor masalah perilaku, fak- data. Semua subjek yang dilakukan ases-
tor hiperaktivitas, faktor inatensi, faktor men tampak memiliki permasalahan
masalah emosi, faktor masalah dengan psikologi, khususnya dilihat dari keluhan
teman sebaya, dan faktor prososial. Total orang tua dan guru (Ekawati, Komunikasi
varian yang dijelaskan dari enam faktor Personal, Oktober 2013). Psikolog lain
tersebut adalah 56,421%. Hasil uji kualitas mengatakan berdasar hasil wawancara
skrining juga terbilang memuaskan. Nilai dengan guru, guru sudah melabel seba-
AUC sebesar 0,725 dengan sensitivitas 0,75 gian besar subjek sebagai anak hiperaktif
dan spesifisitas 0,60. LR (+)=1,875 dan LR (Nugraheni, Komunikasi Personal,
(-)=0,416. Hasil tersebut menunjukkan November 2013). Suatu sampel yang dita-
tidak nampak perbedaan yang signifikan rik secara acak tidaklah mengandung bias,
dengan penelitian ini, baik properti psiko- dalam arti bahwa tidak satupun anggota
metri maupun kualitas skrining sama- dalam populasi mempunyai peluang yang
sama memberikan hasil yang memuaskan. lebih besar dari anggota lain untuk terpilih
Namun, walaupun dengan jumlah subjek menjadi sampel (Kerlinger, 1992). Metode
lebih besar, uji normalitas subskala random dalam melakukan seleksi pemilih-
masalah perilaku SDQ-TR pada penelitian an sampel tidak memperbolehkan bekerja-
besar tetap saja tidak terpenuhi. Hal ini nya bias dan campur tangan dari faktor-
kemudian memunculkan pertanyaan di- faktor sistematis lainnya. Prosedur ini
mana letak kesalahan hingga data yang bersifat objektif, bebas dari kecondongan
digunakan untuk penelitian besar tidak serta bias yang dimiliki (Kerlinger, 1992).
mampu menggambarkan populasi umum.
Teknik pengambilan sampel menjadi Keterbatasan penelitian
bahasan akan keterbatasan dalam peneli- Penelitian ini memiliki keterbatasan
tian ini. Jika menggunakan teknik peng- terkait metode yang digunakan, yaitu
ambilan sampel secara acak, kemungkinan teknik cluster random sampling kurang
besar sampel yang terpilih akan mampu objektif. Pemilihan subjek secara acak oleh
mewakili kondisi pada populasi umum guru pada masing-masing kelas memiliki
(Kerlinger, 1992). Kemungkinan yang ter- kecenderungan terjadi bias. Hal ini menye-
jadi adalah adanya kesalahan pada proses babkan uji normalitas tidak terpenuhi,

JURNAL PSIKOLOGI 111


OKTAVIANA & WIMBARTI

karena teknik random sampling yang tidak ington, DC: American Psychiatric As-
benar-benar objektif sehingga tidak benar- sociation.
benar merepresentasikan populasi umum. Antony, M. M., & Barlow, D. H. (2002).
Handbook of Aseessment and Treatment
Kesimpulan Planning for Psychological Disorders.
United States of America: The Guil-
Berdasarkan hasil penelitian, dapat ford Press.
disimpulkan bahwa properti psikometri
Azwar, S. (2008). Penyusunan Skala Psiko-
SDQ-TR tergolong memuaskan. Struktur
logi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
konstruk pada SDQ-TR sedikit berbeda
dengan versi Inggris, dimana faktor hiper- Azwar, S. (2012). Reliabilitas dan Validitas.
aktivitas-inatensi pada penelitian ini terpi- Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
sah menjadi faktor hiperaktivitas dan Azwar, S. (2013). Asumsi-asumsi dalam
faktor inatensi. SDQ-TR memiliki kualitas Inferensi Statistika. diunduh dari
skrining yang cukup memuaskan. SDQ-TR http://www.psikologi.ugm.ac.id.
sensitif dan spesifik jika digunakan seba- Becker, A., Steinhausen, H., Baldursson,
gai instrumen skrining gangguan tingkah G., Dalsgaard, S., Lorenzo, M. J.,
laku. Titik potong SDQ-TR yang diguna- Ralston, S. J., Döpfner, M., Rothenber-
kan dalam menskrining gangguan tingkah ger, A., & ADORE Study Group.
laku oleh guru dengan menggunakan (2006). Psychopathological screening
subskala masalah perilaku adalah ≥5. of children with ADHD: Strengths and
Difficulties Questionnaire in a pan-
Saran European study. European Child and
Berdasarkan hasil dan diskusi peneli- Adolescent Psychiatry, 15, 56-62. doi:
tian ini, maka disarankan untuk penelitian 10.1007/s00787-006-1008-7.
selanjutnya agar lebih berhati-hati dalam Black, S., Pulford, J., Christie, G., &
melakukan pengambilan sampel. Pilihlah Wheeler, A. (2010). Differences in
teknik sampling sesuai dengan kebutuhan, New Zealand School Student’s re-
dan lakukan sesuai metode yang disaran- ported Strenght and Difficulties. New
kan. Jika hendak menggunakan random Zealand Journal of Psychology, 39(9).
sampling, sebaiknya lakukan dengan objek- Conner, B., & Lochman, J. (2010).
tif tanpa membedakan kemungkinan Comorbid Conduct Disorder and Sub-
peluang antara satu individu dengan indi- stance Use Disorders. Clinical Psychol-
vidu lainnya. Saran lain adalah pilihlah ogy: Science and Practice, 337 – 349.
informan yang benar-benar memahami
kondisi perilaku dan emosi subjek khusus- Dahlan, M. (2009). Penelitian Diagnostik.
Jakarta: Penerbit Salemba Medika.
nya selama enam bulan terakhir, sehingga
dapat memberikan informasi seakurat Departemen Kesehatan R.I. Direktorat
mungkin. Jendral Pelayanan Medik. (1993). Pe-
doman Penggolongan dan Diagnosis
Gangguan Jiwa di Indonesia. Jakarta:
Kepustakaan
Departemen Kesehatan R.I. Direktorat
American Psychiatric Association. (1994). Jendral Pelayanan Medik.
Diagnostic and Statistical Manual of Emerson, E. (2005). Use of the Strengths
Mental Disorders, 4th Edition. Wash- and Difficulties Questionnaire to As-

112 JURNAL PSIKOLOGI


VALIDASI KLINIK, SDQ, GANGGUAN TINGKAH LAKU

sess the Mental Health Needs of Chil- Goodman, R., Ford, T., Simmons, H.,
dren and Adolescents with Intellectual Gatward, R., & Meltzer, H. (2003).
Disabilities. Journal of Intellectual & Using the Strength and Difficulties
Developmental Disability, 30(1), 14–23. Questionnaire (SDQ) to screen for
doi: 10.1080/13668250500033169. child psychiatric disorders in a com-
Ezpeleta, L., Granero, R., & Doménech, J. munity samples. British Journal of Psy-
M. (2005). Differential Contextual chiatry, 177, 534-539. doi: 10.
Factors of Comorbid Conduct and 1080/0954026021000046128.
Depressive Disorders in Spanish Chil- Goodman, R., Ford, T., Corbin, T., &
dren. European Child Adolescent Psy- Meltzer, H. (2004). Using the Strengths
chiatry, 14, 282–291. doi: and Difficulties Questionnaire (SDQ)
10.1007/s00787-005-0476-5. multi-informant algorithm to screen
Field, A. (2009). Discovering Statistic Using looked-after children for psychiatric
SPSS, 3rd Edition. Dubai: SAGE Publi- disorders. European Child and Adoles-
cations. cent Psychiatry,13, 25-31. doi:
10.1007/s00787-004-2005-3.
Fleiss, J.L. (1975). Measuring Agreement
between Two Judges on the presence Hambleton, R., Merenda, P., Spielberger,
or Absence of a Trait. Biometrics, 31(3), C. (2005). Adapting Educational and
651-659. Psychological Tests for Cross-Cultural
Assessment. New Jersey: Mahwah.
Galler, J. R., Bryce, C. P., Waber, D. P.,
Hock, R. S., Harrison, R., Eaglesfield, Harada, Y., Hayashida, A., Hikita, S., Imai,
G. D., & Fitzmaurice, G. (2012). Infant J., Sasayama, D., Masutani, S., Tomita,
Malnutrition Predicts Conduct Prob- T., Saitoh, K., Washizuka, S., &
lems in Adolescents. Nutritional Neu- Amano, N. (2009). Impact of Behav-
roscience, 15(4), 186 – 192. ioral/Developmental Disorders Co-
morbid with Conduct Disorder. Psy-
Goodman, R., & Scott, S. (1999). Compar-
chiatry and Clinical Neurosciences, 63,
ing the Strength and Diffculties Ques-
762–768. doi: 10.1111/j.1440-
tionnaire (SDQ) and Child Behavior
1819.2009.02029.x.
Checklist (CBCL): Is small beautiful ?.
Journal of Abnormal child Psychology, 27, Hawes, D. J., & Dadds, M. R. (2004). Aus-
17-24. tralian Data and Psychometric Prop-
erties of the Strengths and Difficulties
Goodman, R., Renfrew, D., & Mullick, M.
Questionnaire. Australian and New
(2000). Predicting type of psychiatric
Zealand Journal of Psychiatry, 38, 644-
disorder from Strength and Difficul-
651.
ties Questionnaire (SDQ) scores in
child mental health clinics in London Lai, K. Y. C., Luk, E. S. L., Leung, P. W. L.,
and Dhaka. European Child and Adoles- Wong, A. S. Y., Law, L., & Ho, K.
cent Psychiatry, 9, 124-134. (2010). Validation of the Chinese Ver-
sion of the Strengths and Difficulties
Goodman, R. (2001). Psychometric prop-
Questionnaire in Hong Kong. Social
erties of the Strength and Difficulties
Psychiatry Epidemiology, 45, 1179–1186.
Questionnaire (SDQ). Journal of Ameri-
doi: 10.1007/s00127-009-0152-z.
can Academy of Child and Adolescent
Psychiaty, 40, 1337-1345. Lorber, M., & Egeland, B. (2011). Parenting
and Infant Difficulty: Testing a Mutual

JURNAL PSIKOLOGI 113


OKTAVIANA & WIMBARTI

Exacerbation Hypothesis to Predict nic Urban Adolescent Sample. Journal


Early Onset Conduct Problems. Child of Child Psychology and Psychiatry,
Development, 82 (6), 2006–2020. doi: 52(9), 1002–1011. doi: 10.1111/j.1469-
10.1111/j.1467-8624.2011.01652.x. 7610.2011.02372.x.
Malmberg, M., Rydell, A. M., & Smedje, H. Svedin, C. G., & Priebe. G. (2008). The
(2003). Validity of the Swedish Ver- Strenghts and Difficulties Question-
sionof the Strenghts and Difficulties naire as a Screening Instrument in a
Questionnaire (SDQ). Nordern Journal Community Sample of High School
Psychiatry, (57), 357 – 363. doi: Seniors in Sweden. Nord Journal of Psy-
10.1080/08039480310002697. chiatry, 62, 225-232. doi:
Mathai, J., Anderson, P., & Bourne, A. 10.1007/s00787-011-0198-9.
(2004). Comparing Psychiatric Diag- Ullebo, A. K., Posserud, M. B., Heiervang,
noses Generated by the Strengths and E., Gillberg, C., & Obel, C. (2011).
Difficulties Questionnaire with Diag- Screening for the Attention Deficit
noses Made by Clinicians. Australian Hyperactivity Disorder phenotype
and New Zealand Journal of Psychiatry, using the Strength and Difficulties
38, 639-643. Questionnaire (SDQ). European Child
Melvin, D., Krechevsky, D., Divac, A., and Adolescent Psychiaty, 20, 451-458.
Tacconelli, E., Miah, J., Waugh, S., Van Lier, P. A. C., van der Ende, J., Koot,
Hekster, B., Byard, K., & H. M., & Verhulst, F. C. (2007). Which
Giannakopoulou, C. (2007). Parental Better Predicts Conduct Problems?
Reports of Emotional and Behavioural The Relationship of Trajectories of
Difficulties on the SDQ for School-Age Conduct Problems with ODD and
Children with Vertically Acquired ADHD Symptoms from Childhood
HIV Infection Living in London. Psy- into Adolescence. Journal of Child Psy-
chology, Health & Medicine, 12(1), 40 – chology and Psychiatry, 48(6), 601–608.
47. doi: 10.1080/13548500600731708. doi:10.1111/j.1469-7610.2006.01724.x.
Muris, P., Meesters, C., & van den Berg, F. Warner, J. (2004). Clinician’s Guide to
(2003). The Strengths and Difficulties Evaluating Diagnostic and Screening
Questionnaire (SDQ): further evidence Tests in Psychiatry. Journal of Con-
for its realibility and validity in a tinuing Professional Development, 10,
community sample of Dutch children 446-445.
and adolescents. European Child and Widenfelt, B. M., Goedhart, A. W.,
Adolescent Psychiatry, 12, 1-8. doi: Treffers, P. D. A., & Goodman, R.
10.1007/s00787-003-0298-2. (2003). Dutch version of the Strengths
Richter, J., Sagatun, A., Heyerdahl, E., and Difficulties Questionnaire (SDQ).
Oppedal, B., & Roysamb, E. (2011). European Child and Adolescent Psychia-
The Strengths and Difficulties Ques- try, 12, 281-289. doi: 10.1007/s00787-
tionnaire (SDQ) – Self-Report. An 003-0341-3.
analysis of Its Structure in a Multieth-

114 JURNAL PSIKOLOGI