You are on page 1of 17

BAB I

PENDAHULUAN

Uveitis anterior merupakan peradangan iris dan bagian depan badan siliar

(pars plicata) biasanya bersifat unilateral dengan onset akut, kadang-kadang

menyertai peradangan bagian belakang bola mata, kornea dan sklera. Uveitis

anterior terjadi 8-12 kasus dari setiap 100.000 orang di USA pertahun. Insiden

tertinggi berkisar usia 20-50 tahun dengan insiden puncak ditemukan pada dekade

ketiga. Di Amerika Serikat, uveitis merupakan penyebab kebutaan nomor tiga

setelah Retinopati Diabetik dan Degenerasi Macular. Di Indonesia belum ada data

akurat mengenai prevalensi kasus uveitis.1,2

Penyebab uveitis anterior diantaranya yaitu: idiopatik (idiopatik

iridosiklitis), penyakit yang berhubungan dengan vaskulitis/arthritis (HLA-B27

iridosiklitis, juvenile rheumatoid arthitis, ankylosing spondilitis, reiter syndrome,

inflammatory bowel disease), penyakit infeksi (Herpes simpleks keratouveitis,

Herpes zoster keratouveitis), penyakit neoplasma (leukemia/lymphoma) dan

penyebab lain (Fuchs heterochromic iridocyclitis, traumatic iridocyclitis,

glaucomatocyclitis crisis).1,3

Karena uveitis anterior dapat menyebabkan gangguan penglihatan,

pemeriksaan mata segera harus dilakukan. Diagnosis banding dari uveitis anterior

dapat disingkirkan melalui pemeriksaan mata dan penilaian fisik dengan seksama.

Apabila identifikasi dilakukan selayaknya, uveitis anterior dapat diobati dan pasien

mendapat perawatan yang menghasilkan kemajuan kondisi kesehatan pasien.

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Uveitis anterior adalah radang akut pada jaringan iris, badan silier atau

keduanya.4

B. Etiologi

Penyebab uveitis anterior diantaranya yaitu: idiopatik (idiopatik

iridosiklitis), penyakit yang berhubungan dengan vaskulitis/arthritis (HLA-B27

iridosiklitis, juvenile rheumatoid arthitis, ankylosing spondilitis, reiter syndrome,

inflammatory bowel disease), penyakit infeksi (Herpes simpleks keratouveitis,

Herpes zoster keratouveitis), penyakit neoplasma (leukemia/lymphoma) dan

penyebab lain (Fuchs heterochromic iridocyclitis, traumatic iridocyclitis,

glaucomatocyclitis crisis).5

C. Epidemiologi

Insiden uveitis di Indonesia belum ada data yang akurat. Namun, data di

Amerika Serikat, uveitis merupakan 10% dari penyebab kebutaan, dengan angka

kejadian 15 kasus baru setiap 100.000 orang setiap tahunnya. Didapatkan bahwa

banyak kasus terjadi secara akut dan unilateral. Yang paling banyak adalah uveitis

yang mengenai segmen anterior mata.3,5

D. Patofisiologi

Radang akut pada jaringan ini diawali dengan dilatasi pembuluh darah kecil

yang kemudian diikuti eksudasi, sehingga jaringan iris edema, pucat, dan reflex

2
menjadi lambat sampai terhenti sama sekali. Eksudasi fibrin dan sel radang masuk

ke bilik mata depan, maka akuos humor menjadi keruh dinamakan flare dan sel

positif. Bila sel radang menggumpal dan mengendap dibagian bawah bilik mata

depan dinamakan hipopion, dan bila mengendap di endotel kornea dinamakan

keratik presipitat.3,6

E. Diagnosis7

1. Anamnesis

Pasien biasanya mengeluhakn gejala klinis berupa:

 Mata terasa ngeres seperti ada pasir

 Mata merah disertai air mata.

 Nyeri, baik pada saat ditekan maupun digerakkan

 Fotofobia, penderita menutup mata bila terkena sinar

 Blefarospasme

 Penglihatan kabur

2. Pemeriksaan Fisik

 Kelopak mata edema disertai ptosis ringan

 Konjungtiva merah, kadang-kadang disertai kemosis

 Hiperemi perikorneal, yaitu dilatasi pembuluh darah siliar sekitar limbus

 Bilik mata keruh (flare), disertai adanya hipopion atau keratik presipitat

 Iris edema dan warna menjadi pucat

 Sinekia posterior, yaitu pelekatan iris dengan lensa

3
 Pupil menyempit, bentuk tidak teratur, reflek lambat sampai negative

Gambar 1. Tanda-Tanda Uveitis Anterior

3. Pemeriksaan Penunjang

Penderita uveitis anterior akut yang memberikan respons baik dengan

pengobatan non spesifik, umumnya tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium.

Pada penderita yang tidak memberikan respon pengobatan non spesifik akan

dilakukan skin test untuk pemeriksaan tuberculosis dan toxoplasmosis.

Pada kasus yang rekurens (berulang). berat, bilateral atau granulomatous,

dilakukan tes untuk sifilis, foto rontgen untuk mencari kemungkinan tbc atau

sarkoidosis dan PPD untuk mencari kemungkinan mumps dan candida. Pada kasus

dengan arthritis penderita muda, dilakukan tes ANA. Pada kasus arthritis, psoriasis,

urethritis, radang yang konsisten dan gangguan pencernaan, dilakukan pemeriksaan

HLA-B27 untuk mencari penyebab autoimun. Pada dugaan kasus toksoplasmosis,

dilakukan pemeriksaan IgG dan IgM.

Konsultasi untuk mencari kemungkinan adanya penyakit sistemik:

4
 Penyakit dalam : diabetes mellitus, rheumatic, dll

 Penyakit paru : tuberculosis

 THT : sinusitis, dll

 Gigi : abses atau karies gigi

 Kulit : MH atau sifilis

F. Diagnosis Banding

Konjuntivitis Glaukoma
Gejala Uveitis Anterior Keratitis
Akut Akut
Nyeri Moderate Moderate Negatif Sangat
Fotofobia +++ +++ Negatif +
Sekret Negatif +/- Positif Negatif
N/Turun Turun
Visus Menurun Normal
perlahan-lahan mendadak
Hiperemi Perikornea Siliar Konjungtiva Perikornea
Bilik mata
Flare + N N Dangkal
Depan
Kornea Presipitat Keruh/Infiltrat Jernih Keruh
Pupil Miosis Normal Normal Midriasis
Refleks
Lambat Normal Normal Negatif
Pupil
TIO Normal Normal Normal Tinggi

G. Tatalaksana

Tujuan dari pengobatan ialah untuk pengembalian atau memperbaiki fungsi

penglihatan mata. Obat yang diberikan:

5
1. Midriatikum atau siklopegik

a. Jangka waktu efek terapinya pendek (short-acting):

 Tropicamide 0,5% dan 1% durasi 6 jam

 Cyclopentolate 0,5% dan 1% durasi 24 jam

 Phenylephrine 2,5% dan 10% durasi 3 jam

b. Jangka waktu efek terapinya panjang (long-acting):

 Homatropin 2% durasi lebih dari 2 hari

 Atropine 1% merupakan cyclopegic dan midriatikum paling kuat,

dengan durasi lebih dari 2 minggu

2. Anti inflamasi

 Dewasa

- Preparat kortikosteroid

Oral : prednisone 2 tablet sehari 3 kali

Subkonjungtiva : hidrokortison 0,3cc

- Preparat non kortikosteroid

 Anak

- Prednison 0,5 mg/kgBB, sehari 3 kali

3. Antibiotik (diberikan bila ada indikasi yang jelas)

 Dewasa

- Lokal berupa tetes mata, kadang-kadang dikombinasi dengan preparat

steroid. Subkonjungtiva, kadang-kadang dikombinasi dengan steroid

- Peroral : chloramphenicol 25mg/kgBB, sehari 3-4 kali

6
BAB III

LAPORAN KASUS

A. Identitas Pasien

Nama : Rustam Djakaria

Umur : 47 tahun

Jenis Kelamin : laki-laki

Suku : Banjar

Pekerjaan : Pegawai Swasta

Alamat : Banjarmasin

B. Anamnesis

Keluhan Utama : Mata kiri merah dan nyeri

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien mengeluh merah dan nyeri pada mata kiri sejak 2 hari SMRS, muncul

setelah mata pasien terkena sabun kemudian pasien mengucek-ngucek matanya.

Mata merah dan nyeri muncul terus menerus. Nyeri pada mata kiri terasa baik pada

saat ditekan atau digerakkan. Keluhan juga disertai dengan pengeluaran air mata

terus menerus pada mata kiri. Penglihatan juga dirasa kurang jelas pada mata kiri

sejak 2 hari SMRS, namun pasien masih mampu melihat tetapi agak kabur. Silau

terhadap sinar matahari pada mata kiri juga dikeluhkan. Keluhan pengeluaran secret

pada mata kiri disangkal. Pasien sudah memakai obat tetes mata (INSTO), namun

7
keluhan tidak berkurang. Keluhan tersebut di atas mengganggu aktivitas pasien.

Tidak ada keluhan demam. Lain-lain dalam batas normal.

Riwayat Kebiasaan : Merokok sejak usia sekitar 18 tahun, sehari dapat

menghabiskan 10 batang rokok. Alkohol (-).

Riwayat Penyakit Dahulu : Sakit serupa (-), HT (-), DM (-), alergi terhadap

makanan atau obat tertentu (-)

Riwayat Penyakit Keluarga : HT (-), DM (-), alergi terhadap makanan atau obat

tertentu (-)

C. Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum : Tampak Sakit Sedang

Kesadaran : compos mentis

GCS : E4V5M6

Status Generalis

- Tekanan Darah :120/80 mmhg

- Nadi : 86x/menit

- Respiratory Rate : 21x/menit

- Temperature : 36,5o

8
Status Lokalis

OD OS

5/5 Visus 5/12

Sentral Kedudukan Sentral

Ke segala arah, nyeri saat Ke segala arah, nyeri saat
Pergerakan
digerakkan (-) digerakkan (+)

Bentuk normal, Odem (+),

Bentuk normal, Odem (-) Palpebra sup hiperemi (+), nyeri tekan

(+)

Bentuk normal, Odem (-) Palpebra inf Bentuk normal, Odem (-)

Perdarahan (-), injeksi Perdarahan (-), injeksi

konjungtiva (-), injeksi konjungtiva (+), injeksi
Konjungtiva
siliar (-), secret (-), jaringan siliar (+), secret (-),

fibrovaskuler (-) jaringan fibrovaskuler (-)

Jernih Kornea Jernih

Putih Sklera Hiperemis (+)

Kedalaman (N), hifema (- Kedalaman (N), hifema (-
COA
), hipopion (-), flare (-) ), hipopion (+), flare (-)

Reguler (normal) Iris Reguler (normal)

Sentral, regular, 3 mm, Sentral, regular, 4 mm,
Pupil
reflek cahaya (+) reflek cahaya (+) lambat

Jernih Lensa Jernih

Normal Palpasi Normal

9
D. DIAGNOSIS BANDING

- OS Uveitis anterior

- OS Konjuntivitis

- OS Keratitis

- OS Glaukoma akut

E. DIAGNOSA KERJA

- OS Uveitis anterior

F. PENATALAKSANAAN

- Inj. dexamethasone 0,5cc sc

- Cendo tropin ed 2x1 tetes OS

- Cendo xytrol ed 4x1 tetes OS

- PO. Metilprednisolon 3 x 8 mg/hari selama 5 hari

- PO. Antasida tab 3x1 tab selama 5 hari

10
BAB IV

PEMBAHASAN

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, maka pasien ini didiagnosis

dengan OS Uveitis Anterior. Pada anamnesis didapatkan pasien laki-laki berumur

47 tahun dengan keluhan utama mata kiri merah dan nyeri sejak 2 hari SMRS

keluhan lain berupa penglihatan kabur, sering berair dan silau terhadap sinar

matahari pada mata kiri.

Uveitis anterior peradangan akut yang mengenai iris (iritis) dan jaringan

badan siliar (iridosiklitis) biasanya bersifat unilateral dengan onset akut. Penyebab

uveitis anterior dibagi menjadi endogen dan eksogen. Endogen disebabkan oleh

mikroorganisme atau agen lain dari dalam tubuh, berhubungan dengan penyakit

sistemik, penyakit infeksi (Herpes simpleks keratouveitis, Herpes zoster

keratouveitis), penyakit neoplasma (leukemia/lymphoma), idiopatik (idiopatik

iridosiklitis), penyakit yang berhubungan dengan vaskulitis/arthritis (HLA-B27

iridosiklitis, juvenile rheumatoid arthitis, ankylosing spondilitis, reiter syndrome,

inflammatory bowel disease). Eksogen disebabkan oleh trauma atau agen lain dari

luar tubuh.6-8 Pada pasien ini ditemukan penyebabnya adalah karena eksogen yaitu

trauma pada mata kiri yang terkena sabun kemudian mata dikucek-kucek oleh

pasien 2 hari yang lalu, sesuai dengan teori yang biasanya unilateral dengan onset

akut.

Dari anamnesis biasa ditemukan gejala klinis berupa mata terasa ngeres

seperti ada pasir, mata merah dan disertai air mata, nyeri baik pada saat ditekan

11
ataupun digerakkan, fotofobia yaitu biasanya penderita menutup mata bila terkena

sinar, blefarospasme, dan penglihatan kabur. Sesuai dengan teori, pada pasien

ditemukan gejala mata kiri merah dan nyeri. Mata merah, sebagai akibat adanya

hiperemi kornea (injeksi silier) oleh karena adanya inflamasi didaerah iris dan atau

badan silier. Nyeri, sebagai akibat inflamasi akut pada daerah iris pada iritis akut

atau dari glaucoma sekunder; disamping itu, nyeri yang berkaitan dengan spasme

silier pada iritis biasanya referred pain akibat dari inervasi saraf trigeminus. Pasien

juga mengeluhkan penglihatan kabur, penglihatan menurun, sebagai akibat adanya

kekeruhan pada aksis visual akibat penumpukan sel-sel inflamasi, fibrin, dan

protein di bilik mata depan (BMD) serta adanya keratic precipitates (KPs) di

endotel kornea; pada kasus berat pupil dapat tertutup oleh fibrin yang disebut

oklusio pupil sehingga terjadi penurunan tajam penglihatan yang berat. Keluhan

lain dari pasien adalah sering berair dan silau terhadap sinar matahari pada mata

kiri. Fotofobia atau takut melihat cahaya disebabkan karena adanya cahaya akan

merangsang spasme dari iris dan badan silier yang sedang dalam keadaan inflamasi;

hal ini menyebabka bertambah nyeri, sehingga penderita berusaha

menghindarinya. Epifora atau mengeluarkan air mata berlebihan, sebagai inflamasi

yang mengenai perifer kornea, iris, dan badan silier.7,9

Pada pemeriksaan fisik biasa didapatkan kelopak mata edema disertai

dengan ptosis ringan; konjuntiva merah kadang-kadang disertai kemosis; hiperemi

perikorneal atau injeksi silier yaitu dilatasi pembuluh darah siliar sekitar limbus;

bilik mata depan keruh (flare), disertai adanya hipopion atau keratik presipitat; iris

edema dan warna menjadi pucat; sinekia posterior yaitu pelekatan iris dengan lensa;

12
dan pupil menyempit, tidak teratur, refleks lambat sampai negatif. Pada pasien dari

pemeriksaan fisik didapatkan hiperemi perikornea atau dan injeksi siliar, akibat

adanya reaksi inflamasi di iris dan badan silier yang menyebabkan terjadinya

vasodilatasi pembuluh darah yang mensuplai struktur tersebut. Dari epemriksaan

visus didapatkan visus mata kiri menurun VOD :5/5, VOS : 5/12 S, penurunan

tajam penglihatan ini sebagai akibat adanya kekeruhan di media refraksi baik itu

dikornea, BMD, dan di pupil. Didapatkan juga pupil miosis dan reflex cahaya pada

mata kiri lambat, sebagai akibat spasme iris dan badan silier oleh karena reaksi

inflamasi pada iris dan badan silier. Terakhir pada pasien juga didapatkan hipopion

(+) pada mata kiri, hal ini disebabkan karena radang iris dan badan siliar

menyebabkan rusaknya Blood Aqueous Barrier sehingga terjadi peningkatan

protein, fibrin, dan sel-sel radang dalam humor akuos kemudian sel-sel radang yang

sangat banyak ini mengendap dibawah BMD.7,9

Pada pasien ini tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium darah rutin

untuk mencari kemungkinan penyebab terjadinya uveitis, karena pasien diketahuai

tidak mempunyai riwayat penyakit lain. Pemeriksaan laboratorium yang dapat

dinilai adalah Angiotensin converting enzyme (ACE), Antinuclear antibody (ANA)

testing, Complete blood count (CBC), Enzyme-linked immunosorbent assay

(ELISA), Erythrocyte sedimentation rate (ESR), Human leukocyte antigen - B27

(HLA-B27) typing. Jika sudah ditemukan penyebabnya, pasien dapat kita konsul ke

bagian lain untuk diterapi penyebabnya.10

Pengobatan yang diberikan pada pasien ini adalah Cendo tropin tetes mata

mengandung atropine sulfat yang merupakan kelompok midriatik siklopegik.

13
Semua sikloplegik merupakan agen antagonis kolinergik yang bekerja dengan

menghambat neurotransmiter pada reseptor sfingter iris dan korpus silier. Pada

pengobatan uveitis anterior sikloplegik bekerja dengan 3 cara yaitu: mengurangi

nyeri karena imobilisasi iris, mencegah adesi iris ke kapsula lensa anterior (sinekia

posterior), yang dapat meningkatkan tekanan intraokular dan menyebabkan

glaukoma sekunder, menyetabilkan blood-aqueous barrier dan mencegah

terjadinya flare.8,10

Cendo Xitrol 4 x 1 tts/hari adalah obat tetes mata yang mengandung

kombinasi kortikosteroid dan antibiotic. Kortikosteroid topikal adalah terapi awal

dan secepatnya diberikan. Tujuan penggunaan kortikosteroid untuk pengobatan

uveitis anterior adalah mengurangi peradangan, yaitu mengurangi produksi

eksudat, menstabilkan membran sel, menghambat penglepasan lysozym oleh

granulosit, dan menekan sirkulasi limposit.9

Efek terapeutik kortikosteroid topikal pada mata dipengaruhi oleh sifat

kornea sebagai sawar terhadap penetrasi obat topikal ke dalam mata, sehingga daya

tembus obat topikal akan tergantung pada konsentrasi dan frekuensi pemberian,

jenis kortikosteroid, jenis pelarut yang dipakai, bentuk larutan.8,9

Konsentrasi dan frekuensi pemberian, makin tinggi konsentrasi obat dan

makin sering frekuensi pemakaiannya, maka makin tinggi pula efek

antiinflamasinya. Peradangan pada kornea bagian dalam dan uveitis diberikan

preparat dexametason, betametason dan prednisolon karena penetrasi intra okular

baik, sedangkan preparat medryson, fluorometolon dan hidrokortison hanya dipakai

pada peradangan pada palpebra, konjungtiva dan kornea superfisial.8,9

14
Kortikosteroid tetes mata dapat berbentuk solutio dan suspensi.

Keuntungan bentuk suspensi adalah penetrasi intra okular lebih baik daripada

bentuk solutio karena bersifat biphasic, tapi kerugiannya bentuk suspensi ini

memerlukan pengocokan terlebih dahulu sebelum dipakai. Pemakaian steroid tetes

mata akan mengakibatkan komplikasi seperti: Glaukoma, katarak, penebalan

kornea, aktivasi infeksi, midriasis pupil, pseudoptosis dan lain-lain.9

Prednisone oral (Metilprednisolon) dipergunakan pada uveitis anterior

yang dengan penggunaan steroid topical hanya berespon sedikit. Penghambat

prostaglandin, NSAIDs (biasanya aspirin dan ibuprofen) dapat mengurangi

peradangan yang terjadi. Sebagai catatan, NSAIDs dipergunakan untuk mengurang

peradangan yang dihubungkan dengan cystoids macular edema yang menyertai

uveitis anterior.9

Pengobatan kortikosteroid bertujuan mengurangi cacat akibat peradangan

dan perpanjangan periode remisi. Banyak dipakai preparat prednison dengan dosis

awal antara 1 2 mg/kg BB/hari, yang selanjutnya diturunkan perlahan selang

sehari(alternatingsingle dose). Dosis prednison diturunkan sebesar 20% dosis awal

selama 2 minggu pengobatan, sedangkan preparat prednison dan dexametaxon

dosis diturunkan tiap 1 mg dari dosis awal selama 2 minggu.10

Indikasi pemberian kortikosteroid sistemik adalah Uveitis posterior,

Uveitis bilateral, Edema macula, Uveitis anterior kronik (JRA, Reiter). Pemakaian

kortikosteroid dalam jangka waktu yang lama akan terjadi efek samping yang tidak

diingini seperti Sindrom Cushing, hipertensi, Diabetes mellitus, osteoporosis, tukak

lambung, infeksi, hambatan pertumbuhan anak, hirsutisme, dan lain-lain.

15
Sementara pemberian Ranitidin 2 x 1 tablet pada pasien ini adalah untuk mencegah

efek samping prednisone yaitu tukak lambung.10

Diagnosis banding pada kasus ini adalah konjungtivitis, dimana pada

konjungtivitis penglihatan tidak kabur, respon pupil normal, ada sekret mata dan

umumnya tidak ada sakit, fotofobia, atau injeksi siliaris. Keratitis atau

keratokunjungtivitis: penglihatan dapat kabur dan ada rasa sakit dan fotofobia.

Beberapa penyebab keratitis seperti herpes simpleks dan herpes zooster dapat

menyertai uveitis anterior sebenarnya. Glaukoma akut: pupil melebar, tidak ada

sinekia posterior, dan korneanya beruap. Kebanyakan kasus uveitis anterior

berespon baik jika dapat didiagnosis secara awal dan diberi pengobatan. uveitis

anterior mungkin berulang, terutama jika ada penyebab sistemiknya. Karena baik

para klinisi dan pasien harus lebih waspada terhadap tanda dan mengobati dengan

segera. Prognosis visual pada iritis kebanyak akan pulih dengan baik, tanpa adanya

katarak, glaucoma atau posterior uveitis.7,9

16
BAB V

PENUTUP

Telah dilaporkan sebuah kasus, penderita laki-laki usia 47 tahun yang

datang ke poliklinik mata RSUD Ulin Banjarmasin pada tanggal 25 November 2017

dengan keluhan mata kiri merah dan nyeri pada pasien sejak 2 hari SMRS. muncul

setelah terkena sabun kemudian pasien mengucek-ngucek matanya. Keluhan juga

disertai dengan penglihatan kabur, sering berair dan silau terhadap sinar matahari

pada mata kiri. Lalu pasien memakai obat tetes mata (INSTO), namun tidak

berkurang. Pada pemeriksaan fisik didapatkan injeksi konjungtiva dan injeksi siliar,

konjungtiva hiperemis, reflex cahaya pada mata kiri lambat, VOD :5/5, VOS : 5/12

S. Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien didiagnosis OS Uveitis

anterior. Terapi yang diberikan pada pasien adalah Inj. dexamethasone 0,5cc sc,

Cendo tropin ed 2x1 tetes OS, Cendo xytrol ed 4x1 tetes OS, PO. Metilprednisolon

3 x 8 mg/hari selama 5 hari dan PO. Antasida tab 3x1 tab selama 5 hari. Prognosis

pada pasien ini baik, jika pasien berobat teratur. Kebanyakan kasus uveitis anterior

berespon baik jika dapat didiagnosis secara awal dan diberi pengobatan. Prognosis

visual pada uveitis anterior akan pulih dengan baik, tanpa adanya katarak, glaucoma

atau posterior uveitis.

17