You are on page 1of 19

I.

Anatomi Ankle Joint

A. Ankle Joint
Sendi pergelangan kaki dibentuk oleh tiga tulang: fibula, tibia dan talus. Bentuk
dua yang pertama sebuah kubah yang cocok di bagian atas ketiga.
Memungkinkan terutama mengubah gerakan maju dan mundur, yang fleksi dan
ekstensi gerakan kaki.
Dalam arah lateral, batas maleolus lateral dan medial maleolus, yang merupakan
dua pelengkap tulang yang terus fibula dan tibia di kedua sisi, mencegah gerakan
penuh pergeseran lateral yang tetapi memungkinkan awal.
Talus bersandar pada kalkaneus untuk membentuk agak datar bersama, tanpa
banyak gerakan. Sendi subtalar merupakan sumber konflik dan mendukung
transmisi daya dari berat badan dan gerakan halus stabilitas kaki. Ketika tulang
rawan memburuk ini degenerasi, sendi rematik dan nyeri terjadi, yang kadang-
kadang memerlukan pembedahan untuk menekan atau meringankannya.
Menariknya, mengingat pentingnya mereka dalam generasi cedera olahraga,
lampiran atau ekor dalam talus. Pada kaki menyentak kembali sebagai kekuatan
yang dihasilkan ketika mencolok dengan bola, ini miring lega tulang, datang
untuk memukul bagian belakang tibia dan rusak.

Fraktur kadang-kadang lumayan tapi yang lain memerlukan operasi, menghapus
fragmen, untuk memungkinkan atlet dapat terus mengalahkan bola tanpa rasa
sakit. Tidak menjadi bingung dengan varian anatomi, os trigonum dari talus,
yang menawarkan gambar radiografi dari antrian talus longgar, sering dibedakan
dari fraktur. Talus mengartikulasikan arah yang mengarah ke jari-jari, dengan
navicular dan berbentuk kubus, yang terletak di kaki bagian dalam dan luar,
masing-masing. Antara os skafoid dan garis yang dibentuk oleh metatarsal, ada
tiga wedges. Metatarsal adalah basis hampir datar dan kepala bulat untuk
mengartikulasikan dengan falang pertama jari-jari.

B. Ankle ligamen
Sendi memerlukan ikatan yang menjaga kohesi tulang yang membentuk,
mencegah perpindahannya, dislokasi dan memungkinkan gerakan tangan lainnya
spesifik Anda. Deskripsi dari semua ligamen pergelangan kaki dan kaki akan
bidang yang sangat khusus karena jumlah dan kompleksitas. Kami menyebutkan
yang paling penting: Kapsul sendi di sekitar sendi, menciptakan ruang tertutup,
dan membantu menstabilkan ligamen dalam misinya.
Ligamen lateral yang eksternal Mulai dari ujung maleolus lateral, ligamentum
agunan lateral dibagi menjadi tiga angsuran (talar posterior peroneal, fibula
kalkanealis dan fibula talar atas), penahan di lereng dan kalkaneus bertanggung
jawab untuk memegang pergelangan kaki lateral.
Jika mereka melanggar (biasanya yang paling terkena dampak pada prinsipnya
fibula talar atas), cepat menghasilkan pembengkakan besar yang harus
membalikkan sesegera mungkin dengan menerapkan dingin (misalnya, melalui
gurita dengan neoprene). Cryotherapy (aplikasi dingin untuk tujuan terapeutik)
adalah ukuran paling sederhana dan paling efektif terhadap peradangan, sehingga
dengan pergelangan kaki (keseleo) memutar tidak pernah harus kehilangan
aplikasi dingin. Ligamentum yang menderita terkilir agunan lateral yang
kemudian berpihak pada gerakan memutar pergelangan re-investasi kaki.
C. Deltoid ligamen
Sebaliknya, ligamentum ini dari ujung medial dan malleolar memegang bagian
dalam pergelangan kaki Sindesmal ligamen, syndesmosis atau ligamen
tibiofibular Ikat bagian distal tibia dan fibula untuk menahan mereka bersama-
sama dalam peran yang telah melompat permukaan artikular atas kubah talus.
Kerusakan menimbulkan banyak masalah. Dibutuhkan waktu lama untuk
menyembuhkan dan dapat meninggalkan gejala sisa permanen rasa sakit dan
ketidakstabilan yang memerlukan intervensi bedah. Ligamentum
menghubungkan dua tulang di jarak anteroposterior dari serikat mereka, tidak
hanya di bagian depan pergelangan kaki. Jadi, ketika istirahat, Anda dapat
meninggalkan tergantung pinggiran ke dalam sendi dan nyeri di bagian belakang
pergelangan kaki. Di bagian belakang pergelangan kaki juga ada jaringan
ligamen yang menghubungkan tibia dan fibula (tibiofibular posterior), tibia dan
talus. Perlu dicatat ligamentum transversal yang terluka oleh yang sama
syndesmosis mekanisme, yang dapat dianggap ekstensi kemudian.

D. Ankle Otot
Otot-otot ekstrinsik kaki bertanggung jawab untuk gerakan pergelangan kaki dan
kaki. Meskipun mereka berada di kaki, pergelangan kaki olahraga menarik traksi
tulang mereka sisipan dan kaki. Mereka mendapatkan gerakan dorsofleksi,
inversi fleksi plantar, dan eversi kaki.
 Otot-otot intrinsik jari-jari kaki berada di kaki yang sama, mendapatkan
gerakan jari: fleksi, ekstensi, penculikan dan adduksi.
 Plantar fleksor. Apakah yang menarik kaki kembali. Oleh karena itu terletak
di bagian belakang kaki di betis. Mereka adalah soleus dan gastrocnemius
pada tendon Achilles, yang umum untuk keduanya.
 Fleksor punggung adalah mereka yang mengangkat ke atas kaki dan terletak
di bagian depan kaki. Mereka adalah tibialis anterior, Tertius peroneus dan
ekstensor digitorum.
 Investor di kaki. Tibialis anterior dimasukkan ke metatarsal pertama dan baji
pertama.
 Evertors kaki. Para longus peroneus dan peroneus brevis dimasukkan ke
dalam baji pertama dan dasar metatarsal pertama sedangkan peroneal anterior
dimasukkan ke dalam basis keempat dan kelima.
 The plantar fascia merupakan struktur anatomi yang harus diperhitungkan
karena, ketika dinyalakan, menimbulkan ke plantar fasciitis ditakuti, sangat
menyedihkan, dan melumpuhkan. Ini adalah struktur yang membentuk
lengkungan lantai plantar dan dimasukkan ke bagian bawah kalkaneus.
Selasa, 19 Januari 2010
ASKEP ORIF (Open Reduction and Internal Fixation)
PENATALAKSANAAN TERAPI PASCA ORIF

A. Deskripsi Kasus
1. Anatomi Fungsional
a. Sistem Tulang
Tulang adalah struktur dinamis yang secara terus-menerus diperbarui (Victor P, 2003).
Kapasitas tanggungan beban suatu tulang dapat mencapai 10 sampai 20 kali lipat berat
badan. Hal ini dimungkinkan oleh sifat elastis tulang yang memungkinkan tulang
sedikit melengkung pada saat diberikan beban (Garrison, 1996).
Tungkai bawah manusia terdiri dari dua tulang, yaitu tulang tibia (tulang kering) dan
tulang fibula (tulang betis). Tibia adalah tulang berbentuk pipa dengan sebuah batang
dan mempunyai dua ujung. Tulang tibia terletak di sebelah medial fibula, dan memiliki
tiga bagian yang terdiri epipisis proksimalis, diapisis dan epipisis distalis. Sedangkan
tulang fibula atau tulang betis adalah tulang sebelah lateral tibia. Tulang ini berbentuk
pipa dengan sebuah batang dan dua ujung (Evelyn, 1997).
b. Sistem Sendi
Persendian adalah suatu hubungan antara dua buah tulang atau lebih yang dihubungkan
melalui pembungkus jaringan ikat pada bagian luar dan pada bagian dalam terdapat
rongga sendi dengan permukaan tulang yang dilapisi oleh tulang rawan (Fitriani
Lumongga, 2004).
Pada kasus pasca operasi fraktur cruris dextra 1/3 distal dengan ORIF biasanya akan
menimbulkan gangguan terutama pada sendi pergelangan kaki kanan. Ini dapat terjadi
karena letak fraktur yang berdekatan dengan sendi pergelangan kaki kanan sehingga
berdampak pada gerakan sendi tersebut.
Sendi pergelangan kaki terdiri dari tiga persendian, yaitu sendi tibiofibularis distalis,
talocruralis dan subtalaris (Norkin, 1995). Gerakan yang dapat dilakukan sendi
pergelangan kanan adalah plantar fleksi, dorsi fleksi, eversi dan inversi.
Luas gerak sendi pergelangan kaki untuk gerakan dorsi fleksi-plantar fleksi S 30˚ - 0˚ -
50˚, sedang luas gerak sendi untuk gerakan eversi-inversi R 40˚ - 0˚ - 20˚ yang diukur
dari posisi anatomis (Kisner, 1996).
c. Sistem Otot
Otot merupakan sistem penggerak tubuh yang bekerja secara aktif. Pada sendi
pergelangan kaki otot penggerak utama gerakan dorsi fleksi adalah otot tibialis anterior.
Sedangkan gerakan plantar fleksi digerakkan oleh otot gastroknemius dan otot soleus.
Pada gerakan inversi, otot penggerak yang bekerja adalah otot tibialis posterior. Dan
pada gerakan eversi, otot penggerak yang bekerja adalah otot peroneus longus dan otot
peroneus brevis. Dengan adanya otot-otot tersebut memungkinkan terjadinya kontraksi
sehingga terjadi gerakan pada sendi atau tulang.
2. Definisi
a. Terapi latihan
Terapi latihan adalah suatu usaha penyembuhan dalam fisioterapi yang dalam
pelaksanaannya menggunakan gerakan tubuh, baik secara aktif maupun pasif (Priatna,
1985).
Dengan memberikan aktivitas fisik berupa terapi latihan maka dapat digunakan untuk
mengatasi gangguan fungsi tubuh dan gerak, mencegah timbulnya komplikasi,
mengurangi nyeri pada daerah sekitar incisi dan oedema serta dapat digunakan untuk
melatih aktivitas fungsional.
Jenis terapi latihan yang digunakan dalam kasus ini antara lain : (1) static contraction,
(2) latihan pasif, (3) latihan aktif, (4) latihan jalan berupa transfer dan ambulasi.
b. Fraktur cruris dextra 1/3 distal
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya
disebabkan oleh ruda paksa (Sjamsuhidajat, 2004). Sedangkan cruris dextra adalah
tungkai bawah kanan yang terdiri dari dua tulang panjang yaitu tulang tibia dan fibula.
Lalu 1/3 distal adalah letak suatu patahan terjadi pada bagian 1/3 bawah dari tungkai.
Jadi pengertian dari fraktur cruris dextra 1/3 distal adalah patah tulang yang terjadi
pada tulang tibia dan fibula yang terletak pada 1/3 bagian bawah sebelah kanan.
c. ORIF
ORIF adalah suatu bentuk pembedahan dengan pemasangan internal fiksasi pada tulang
yang mengalami fraktur. Fungsi ORIF untuk mempertahankan posisi fragmen tulang
agar tetap menyatu dan tidak mengalami pergeseran. Internal fiksasi ini berupa Intra
Medullary Nail biasanya digunakan untuk fraktur tulang panjang dengan tipe fraktur
tranvers.
3. Etiologi
Pada fraktur cruris dextra 1/3 distal disebabkan karena adanya trauma pada tungkai
bawah kanan akibat benturan dengan benda yang keras, baik secara langsung maupun
tidak langsung.
Dalam kasus fraktur cruris dextra 1/3 distal, tindakan yang biasa dilakukan untuk
reposisi antar fragmen adalah dengan reduksi terbuka atau operasi. Ini dilakukan karena
pada kasus ini memerlukan pemasangan internal fiksasi untuk mencegah pergeseran
antar fragmen pada waktu proses penyambungan tulang (Apley, 1995).
Pada operasi ini dilakukan incisi untuk pemasangan internal fiksasi yang dapat berupa
Intra Medullary Nail sehingga akan terjadi kerusakan pada kulit, jaringan lunak dan
luka pada otot yang menyebabkan terjadinya oedema, nyeri, keterbatasan lingkup gerak
sendi serta gangguan fungsional pada tungkai bawah.
4. Patologi
Setelah fraktur dapat terjadi kerusakan pada sumsum tulang, endosteum dan jaringan
otot. Pada fraktur cruris dextra 1/3 distal upaya penanganan dilakukan tindakan operasi
dengan menggunakan internal fiksasi. Pada kasus ini, hal pertama yang dapat dilakukan
adalah dengan incisi. Dengan incisi maka akan terjadi kerusakan pada jaringan lunak
dan saraf sensoris. Apabila pembuluh darah terpotong dan rusak maka cairan dalam sel
akan menuju jaringan dan menyebabkan oedema. Oedema ini akan menekan saraf
sensoris sehingga akan menimbulkan nyeri pada sekitar luka incisi. Bila terasa nyeri
biasanya pasien cenderung untuk malas bergerak. Hal ini akan menimbulkan
perlengketan jaringan otot sehingga terjadi fibrotik dan menyebabkan penurunan
lingkup gerak sendi (LGS) yang dekat dengan perpatahan dan potensial terjadi
penurunan nilai kekuatan otot.
Waktu penyembuhan pada fraktur sangat bervariasi antara individu satu dengan
individu lainnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan fraktur antara lain :
usia pasien, jenis fraktur, banyaknya displacement, lokasi fraktur, pasokan darah pada
fraktur dan kondisi medis yang menyertai (Garrison, 1996). Dan yang paling penting
adalah stabilitas fragmen pada tulang yang mengalami perpatahan. Apabila stabilitas
antar fragmen baik maka penyembuhan akan sesuai dengan target waktu yang
dibutuhkan atau diperlukan.
Secara fisiologis, tulang mempunyai kemampuan untuk menyambung kembali setelah
terjadi perpatahan pada tulang. Pada fraktur, proses penyambungan tulang dibagi dalam
5 tahap yaitu :
a. Hematoma
Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma di sekitar dan di dalam fraktur (Apley,
1995). Hal ini mengakibatkan gangguan aliran darah pada tulang yang berdekatan
dengan fraktur dan mematikannya (Maurice King, 2001).
b. Proliferasi
Dalam 8 jam setelah fraktur terdapat reaksi radang akut disertai proliferasi sel di bawah
periosteum dan di dalam saluran medulla yang tertembus. Hematoma yang membeku
perlahan-lahan diabsorbsi dan kapiler baru yang halus berkembang ke dalam daerah itu
(Apley, 1995).
c. Pembentukan callus
Selama beberapa minggu berikutnya, periosteum dan endosteum menghasilkan callus
yang penuh dengan sel kumparan yang aktif. Dengan pergerakan yang lembut dapat
merangsang pembentukan callus pada fraktur tersebut (Maurice King, 2001).
d. Konsolidasi
Selam¬a stadium ini tulang mengalami penyembuhan terus-menerus. Fragmen yang
patah tetap dipertahankan oleh callus sedangkan tulang mati pada ujung dari masing-
masing fragmen dihilangkan secara perlahan, dan ujungnya mendapat lebih banyak
callus yang akhirnya menjadi tulang padat (Maurice King, 2001). Ini adalah proses
yang lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang cukup kuat untuk
membawa beban yang normal (Apley, 1995).
e. Remodelling
Tulang yang baru terbentuk, dibentuk kembali sehingga mirip dengan struktur normal
(Appley, 1995). Semakin sering pasien menggunakan anggota geraknya, semakin kuat
tulang baru tersebut (Maurice King, 2001).
Perubahan patologi setelah dilakukan operasi adalah :
1) Oedema
Oedema dapat terjadi karena adanya kerusakan pada pembuluh darah akibat dari incisi,
sehingga cairan yang melewati membran tidak lancar dan tidak dapat tersaring lalu
terjadi akumulasi cairan sehingga timbul bengkak.
2) Nyeri
Nyeri dapat terjadi karena adanya rangsangan nociceptor akibat incisi dan adanya
oedema pada sekitar fraktur.
3) Keterbatasan LGS
Permasalahan ini timbul karena adanya rasa nyeri, oedema, kelemahan pada otot
sehingga pasien tidak ingin bergerak dan beraktivitas. Keadaan ini dapat menyebabkan
perlengketan jaringan dan keterbatasan lingkup gerak sendi (Apley, 1995).
4) Potensial terjadi penurunan kekuatan otot
Pada kasus ini potensial terjadi penurunan kekuatan otot karena adanya nyeri dan
oedema sehingga pasien enggak menggerakkan dengan kuat. Tetapi jika dibiarkan
terlalu lama maka penurunan kekuatan otot ini akan benar-benar terjadi.
5) Tanda dan gejala klinis
Pada penderita pasca operasi fraktur cruris dextra 1/3 distal akan ditemui berbagai
tanda dan gejala yaitu pasien mengalami oedema pada daerah yang mengalami fraktur,
timbul nyeri akibat incisi, keterbatasan lingkup gerak sendi, dan gangguan aktivitas
fungsional terutama gangguan berjalan.
6) Komplikasi
Pada kasus ini jarang sekali terjadi komplikasi karena incisi relatif kecil dan fiksasi
cenderung aman. Komplikasi akn terjadi bila ada penyakit penyerta dan gangguan pada
proses penyambungan tulang.
7) Prognosis
Prognosis pada pasca operasi fraktur cruris dextra 1/3 distal dikatakan baik apabila
pasien secepat mungkin melakukan terapi latihan untuk membantu mengembalikan
aktivitas fungsionalnya. Prognosis pada status fungsional yaitu baik selama pasien
mendapatkan penanganan berupa terapi latihan dengan baik.
B. Deskripsi Problematika Fisioterapi
Problematika yang sering terjadi pada pasca operasi fraktur cruris dextra 1/3 distal,
antara lain : (1) impairment berupa nyeri gerak akibat luka incisi operasi, oedema pada
tungkai kanan terjadi karena suatu reaksi radang terhadap cidera jaringan, menurunnya
lingkup gerak sendi karena adanya rasa nyeri dan oedema sehingga pasien malas untuk
bergerak (2) functional limitation berupa penurunan kemampuan transfer dan ambulasi,
(3) participation restriction berupa ketidakmampuan pasien melaksanakan kegiatan
bersosialisasi dalam masyarakat

C. Teknologi Intervensi Fisioterapi
Tujuan utama penatalaksanaan rehabilitasi pada perawatan pasca fraktur adalah
mengembalikan pasien tersebut dalam tingkat aktivitas normalnya (Garrison, 1996).
Modalitas fisioterapi yang digunakan untuk penanganan pasca operasi fraktur cruris
dextra 1/3 distal dengan terapi latihan. Terapi latihan adalah suatu usaha penyembuhan
dalam fisioterapi yang dalam pelaksanaannya menggunakan gerakan tubuh, baik secara
aktif maupun pasif (Priatna, 1985).
Terapi latihan yang dapat dilakukan :
1. Static contraction
Static contraction merupakan kontraksi otot secara isometrik untuk mempertahankan
kestabilan tanpa disertai gerakan (Priatna, 1985). Dengan gerakan ini maka akan
merangsang otot-otot untuk melakukan pumping action sehingga aliran darah balik
vena akan lebih cepat. Apabila sistem peredaran darah baik maka oedema dan nyeri
dapat berkurang.
2. Latihan pasif
Merupakan gerakan yang ditimbulkan oleh adanya kekuatan dari luar sedangkan otot
penderita rileks (Priatna, 1985). Disini gerakan pasif dilakukan dengan bantuan terapis.
3. Latihan aktif
Latihan aktif merupakan gerakan murni yang dilakukan oleh otot-otot anggota tubuh
pasien itu sendiri. Tujuan latihan aktifmeningkatkan kekuatan otot (Kisner, 1996).
Gerak aktif tersebut akan meningkatkan tonus otot sehingga pengiriman oksigen dan
nutrisi makanan akan diedarkan oleh darah. Dengan adanya oksigen dan nutrisi dalam
darah, maka kebutuhan regenerasi pada tempat yang mengalami perpatahan akan
terpenuhi dengan baik dan dapat mencegah adanya fibrotik.
4. Latihan jalan
Salah satu kemampuan fungsional yang sangat penting adalah berjalan. Latihan jalan
dilakukan apabila pasien telah mampu untuk berdiri dan keseimbangan sudah baik.
Latihan ini dilakukan secara bertahap dan bila perlu dapat menggunakan walker. Selain
itu dapat menggunakan kruk tergantung dari kemampuan pasien. Pada waktu pertama
kali latihan biasanya menggunakan teknik non weight bearing ( NWB ) atau tanpa
menumpu berat badan. Bila keseimbangan sudah bagus dapat ditingkatkan secara
bertahap menggunakan partial weight bearing ( PWB ) dan full weight bearing ( FWB
). Tujuan latihan ini agar pasien dapat melakukan ambulasi secara mandiri walaupun
masih dengan alat bantu.
ASKEP POST ORIF FEMUR & TIBIA
A. PENGERTIAN
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang yang ditandai oleh rasa nyeri,
pembengkakan, deformitas, gangguan fungsi, pemendekan, dan krepitasi.
Fraktur adalah teputusnya jaringan tulang/tulang rawan yang umumnya disebabkan
oleh ruda paksa.

B. JENIS FRAKTUR
1. Berdasarkan sifat fraktur
a. Fraktur tertutup
Apabila fagmen tulang yang patah tidak tampak dari luar
b. Fraktur terbuka
Apabila fragmen tulang yang patah tampak dari luar
2. Berdasarkan komplit / tidak komplit fraktur
a. Fraktur komplit
Patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran bergeser
dari posisi normal)
b. Fraktur inkomplit
Patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang
Misal : - Hair line fraktur
fraktur dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi yang lain membengkok - Green
stick
3. Berdasarkan bentuk garis patah & hubungan dengan mekanisme tauma
a. Fraktur transversal
Arah melintang dan merupakan akibat trauma angulasi / langsung
b. Fraktur oblik
Arah garis patah membentuk sudut terhadap sumbu tulang dan merupakan akibat dari
trauma langsung
c. Fraktur spiral
Arah garis patah spiral dan akibat dari trauma rotasi
d. Fraktur kompresi
Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang)
4. Istilah lain
a. Fraktur komunitif
Fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen
b. Fraktur depresi
Fraktur dengan bentuk fragmen terdorong ke dalam (sering terjadi pada tulang
tengkorak dan tulang wajah)
c. Fraktur patologik
Fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit (kista tulang, tumor, metastasis
tulang)
d. Fraktur avulse
Tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendon pada perlekatannya
C. ETIOLOGI
1. Menurut Oswari E (1993)
a. Kekerasan langsung
Terkena pada bagian langsung trauma
b. Kekerasan tidak langsung
Terkena bukan pada bagian yang terkena trauma
c. KEKERASAN akibat tarikan otot
2. Menurut Barbara C Long (1996)
a. Benturan & cedera (jatuh, kecelakaan)
b. Fraktur patofisiologi (oleh karena patogen, kelainan)
c. Patah karena letih

D. MANIFESTASI KLINIK
• Nyeri
• Deformitas (kelainan bentuk)
• Krepitasi (suara berderik)
• Bengkak
• Peningkatan temperatur local
• Pergerakan abnormal
• Echymosis (perdarahan subkutan yang lebar-lebar)
• Kehilangan fungsi
D. PRINSIP PENATALAKSANAAN DENGAN KONSERVATIF & OPERATIF
1. Cara Konservatif
Dilakukan pada anak-anak dan remaja dimana masih memungkinkan terjadinya
pertumbuhan tulang panjang. Selain itu, dilakukan karena adanya infeksi atau
diperkirakan dapat terjadi infeksi. Tindakan yang dilakukan adalah dengan gips dan
traksi.
a. Gips
Gips yang ideal adalah yang membungkus tubuh sesuai dengan bentuk tubuh. Indikasi
dilakukan pemasangan gips adalah :
1. Immobilisasi dan penyangga fraktur
2. Istirahatkan dan stabilisasi
3. Koreksi deformitas
4. Mengurangi aktifitas
5. Membuat cetakan tubuh orthotic
Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan gips adalah :
Gips yang pas tidak akan menimbulkan perlukaan
Gips patah tidak bisa digunakan
Gips yang terlalu kecil atau terlalu longgar sangat membahayakan klien
Jangan merusak / menekan gips
Jangan pernah memasukkan benda asing ke dalam gips / menggaruk
Jangan meletakkan gips lebih rendah dari tubuh terlalu lama
b. Traksi (mengangkat / menarik)
Secara umum traksi dilakukan dengan menempatkan beban dengan tali pada
ekstermitas pasien. Tempat tarikan disesuaikan sedemikian rupa sehingga arah tarikan
segaris dengan sumbu panjang tulang yang patah. Metode pemasangan traksi antara
lain :
• Traksi manual
Tujuannya adalah perbaikan dislokasi, mengurangi fraktur, dan pada keadaan
emergency
• Traksi mekanik, ada 2 macam :
Traksi kulit (skin traction)
Dipasang pada dasar sistem skeletal untuk sturktur yang lain misal otot. Digunakan
dalam waktu 4 minggu dan beban < 5 kg.
Traksi skeletal
Merupakan traksi definitif pada orang dewasa yang merupakan balanced traction.
Dilakukan untuk menyempurnakan luka operasi dengan kawat metal / penjepit melalui
tulang / jaringan metal.
Kegunaan pemasangan traksi, antara lain :
• Mengurangi nyeri akibat spasme otot
• Memperbaiki & mencegah deformitas
• Immobilisasi
• Difraksi penyakit (dengan penekanan untuk nyeri tulang sendi)
• Mengencangkan pada perlekatannya
Prinsip pemasangan traksi :
• Tali utama dipasang di pin rangka sehingga menimbulkan gaya tarik
• Berat ekstremitas dengan alat penyokong harus seimbang dengan pemberat agar
reduksi dapat dipertahankan
• Pada tulang-tulang yang menonjol sebaiknya diberi lapisan khusus
• Traksi dapat bergerak bebas dengan katrol
• Pemberat harus cukup tinggi di atas permukaan lantai
• Traksi yang dipasang harus baik dan terasa nyaman
2. Cara operatif / pembedahan
Pada saat ini metode penatalaksanaan yang paling banyak keunggulannya mungkin
adalah pembedahan. Metode perawatan ini disebut fiksasi interna dan reduksi terbuka.
Pada umumnya insisi dilakukan pada tempat yang mengalami cedera dan diteruskan
sepanjang bidang anatomik menuju tempat yang mengalami fraktur. Hematoma fraktur
dan fragmen-fragmen tulang yang telah mati diirigasi dari luka. Fraktur kemudian
direposisi dengan tangan agar menghasilkan posisi yang normal kembali. Sesudah
direduksi, fragmen-fragmen tulang ini dipertahankan dengan alat-alat ortopedik berupa
pen, sekrup, pelat, dan paku.
Keuntungan perawatan fraktur dengan pembedahan antara lain :
• Ketelitian reposisi fragmen tulang yang patah
Kesempatan untuk memeriksa pembuluh darah dan saraf yang berada didekatnya
• Dapat mencapai stabilitas fiksasi yang cukup memadai
• Tidak perlu memasang gips dan alat-alat stabilisasi yang lain
• Perawatan di RS dapat ditekan seminimal mungkin, terutama pada kasus-kasus yang
tanpa komplikasi dan dengan kemampuan mempertahankan fungsi sendi dan fungsi
otot hampir normal selama penatalaksanaan dijalankan

F. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Defisit volume cairan b.d. perdarahan
2. Nyeri akut b/d trauma jaringan syaraf
3. Ansietas b/d adanya ancaman terhadap konsep diri/citra diri
4. Nutrisi kurang dari kebutuhan b.d. mual, muntah
5. Resti infeksi b.d. imflamasi bakteri ke daerah luka

G. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Nyeri akut b/d trauma jaringan syaraf
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 X 24 jam klien mampu mengontrol
nyeri, dengan kriteria hasil :
• Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol
• Mengikuti program pengobatan yang diberikan
• Menunjukan penggunaan tehnik relaksasi
Intervansi :
a. Kaji tipe atau lukasi nyeri. Perhatikan intensitas pada skala 0-10. Perhatikan respon
terhadap obat.
Rasional : Menguatkan indikasi ketidaknyamanan, terjadinya komplikasi dan evaluasi
keevektivan intervensi.
b. Motivasi penggunaan tehnik menejemen stres, contoh napas dalam dan visualisasi.
Rasional : Meningkatkan relaksasi, memvokuskan kembali perhatian, dan dapat
meningkatkan kemampuan koping, menghilangkan nyeri.
c. Kolaborasi pemberian obat analgesic
Rasional : mungkin dibutuhkan untuk penghilangan nyeri/ketidaknyamanan.
2. Nutisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual, muntah
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x 24 jam nutrisi pasien terpenuhi
dengan KH:
• Makanan masuk
• BB pasien naik
• Mual, muntah hilang
Intervensi:
a. Berikan makan dalam porsi sedikit tapi sering
Rasional: memberikan asupan nutrisi yang cukup bagi pasien
b. Sajikan menu yang menarik
Rasional: Menghindari kebosanan pasien, untuh menambah ketertarikan dalam
mencoba makan yang disajikan
c. Pantau pemasukan makanan
Rasional: Mengawasi kebutuhan asupan nutrisi pada pasien
d. Kolaborasi pemberian suplemen penambah nafsu makan
Rasional: kerjasama dalam pengawasan kebutuhan nutrisi pasien selama dirawat di
rumah sakit
3. Ansietas b/d adanya ancaman terhadap konsep diri/citra diri
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 X 24 jam, klien memiliki rentang
respon adaptif, dengan kriteria hasil :
o Tampak relaks dan melaporkan ansietas menurun sampai dapat ditangani.
o Mengakui dan mendiskusikan rasa takut.
o Menunjukkan rentang perasaan yang tepat.
Intervensi :
a. Dorong ekspresi ketakutan/marah
Rasional : Mendefinisikan masalah dan pengaruh pilihan intervensi.
b. Akui kenyataan atau normalitas perasaan, termasuk marah
Rasional : Memberikan dukungan emosi yang dapat membantu klien melalui penilaian
awal juga selama pemulihan
c. Berikan informasi akurat tentang perkembangan kesehatan.
Rasional : Memberikan informasi yang jujur tentang apa yang diharapkan membantu
klien/orang terdekat menerima situasi lebih evektif.
d. Dorong penggunaan menejemen stres, contoh : napas dalam, bimbingan imajinasi,
visualisasi.
Rasional : membantu memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan relaksasi, dan
meningkatkan penigkatan kemampuan koping.

KESIMPULAN :
Orif adalah suatu bentuk pembedahan dengan pemasangan internal fiksasi pada tulang
yang mengalami fraktur. Fungsi ORIF untuk mempertahankan posisi fragmen tulang
agar tetap menyatu dan tidak mengalami pergeseran. Internal fiksasi ini berupa Intra
Medullary Nail biasanya digunakan untuk fraktur tulang panjang dengan tipe fraktur
tranvers.