You are on page 1of 29

BAB I

PENDAHULUAN

Nyeri leher dan nyeri pinggang bawah adalah keluhan yang sangat sering
yang membuat penderita datang berobat. Pada sebuah survei dijumpai bahwa
masalah pinggang dan leher menempati proporsi yang besar dalam pengeluaran
biaya kesehatan. Sejak tahun 1997-2005 total estimasi pengeluaran pada masalah
spinal meningkat secara substansial sebanyak 65% daripada biaya kesehatan
secara keseluruhan. Namun peningkatan biaya kesehatan ini tidak disertai bukti
perbaikan pada status kesehatan. Penyebab yang mendasari keluhan low back pain
ataupun neck pain bermacam-macam, salah satu di antaranya adalah Hernia
Nukleus Pulposus (HNP).
HNP mempunyai karakteristik berupa protrusi dari annulus fibrosus
beserta nucleus pulposus yang ada di dalamnya ke dalam canalis vertebralis.
Hernia Nukleus Pulposus dapat terjadi di semua discus intervertebralis, namun
yang paling sering terjadi di segmen lombosakral pada discus intervertebralis L4-
5 dan L5-S1 sekitar 10% sisanya terjadi di discus intervertebralis segmen L3-4.
Hal ini terjadi karena vertebrae lumbal menopang beban tubuh paling besar. Usia
antara 30 – 50 tahun paling rentan menderita HNP oleh karena elastisitas dan
kandungan air di nukleus menurun seiring peningkatan usia.
Lokasi yang terkena itu sangat bergantung pada level vertebra di mana
HNP terjadi. Misalkan, jika HNP terjadi di servikal, akan terjadi keluhan nyeri di
leher, bahu, dan lengan. Thorakal HNP mengakibatkan nyeri menjalar ke dada.
Sementara Lumbar HNP menimbulkan gejala nyeri yang menyebar ke pantat,
paha, dan tungkai.
Nyeri leher (neck pain) sering terjadi, sekitar 4,6% pada dewasa, paling
sering timbul akibat penyakit di vertebrae servikal dan soft tissue di leher. Neck
pain yang timbul akibat vertebrae servikalnya secara tipikal dipicu oleh
pergerakan, dan dapat diikuti oleh nyeri tekan fokal dan keterbatasan pergerakan.
Nyeri yang timbul dari plexus brakhialis, bahu, atau nervus perifer dapat
dibingungkan dengan penyakit dari vertebra servikal, namun riwayat dan

1
pemeriksaan biasanya mengidentifikasikan sumber yang lebih distal dari nyeri.
Trauma vertebra servikal, penyakit diskus, atau spondylosis dapat asimtomatik
atau nyeri dan menimbulkan suatu myelopathy, radiculopathy, atau keduanya.
Radiks saraf yang paling sering terserang adalah C7 dan C6.
Penyebab umum nyeri di leher, bahu dan lengan adalah ruptur atau
herniasi pada servikal diskus. Herniasi diskus servikal terjadi akibat robekan di
lapisan luar dari diskus (anulus) yang memungkinkan nucleus pulposus keluar.
Nyeri leher (memburuk dengan pergerakan), kekakuan, dan terbatasnya range of
motion adalah manifestasi yang lazim. Dengan kompresi radiks saraf, nyeri bisa
menjalar ke bahu atau lengan. Sebuah studi menunjukkan penurunan range of
motion cervical pada pasien dengan HNP servikalis dibandingkan dengan orang
normal.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Fisiologi
Servikal I-VII
Vertebra servikal I juga disebut atlas, pada dasarnya berbeda
dengan lainnya karena tidak mempunyai corpus vertebra oleh karena pada
atlas dilukiskan adanya arcus anterior terdapat permukaan sendi, fovea,
vertebralis, berjalan melalui arcus posterior untuk lewatan arcus posterior
untuk lewatnya arteri vertebralis.
Vertebra servikal II juga disebut aksis, berbeda dengan vertebra
servikal ke-3 sampai ke-6 karena adanya dens atau processus odontoid.
Pada permukaan cranial corpus aksis memiliki tonjolan seperti gigi, dens
yang ujungnya bulat, aspek dentis.
Vertebra servikal III-V processus spinosus bercabang dua.
Foramen transversarium membagi processus transversus menjadi
tuberculum anterior dan posterior. Lateral foramen transversarium
terdapat sulcus nervi spinalis, didahului oleh nervi spinalis.
Vertebra servikal VI perbedaan dengan vertebra servikal I sampai
dengan servikal V adalah tuberculum caroticum, karena dekat dengan
arteri carotico.
Vertebra servikal VII merupakan processus spinosus yang besar, yang
biasanya dapat diraba sebagai processus spinosus columna vertebralis
yang tertinggi, oleh karena itu dinamakan vertebra prominens (Syaifuddin,
2003).

3
Gambar 2.1.1 Vertebra Servikal I-VII
(Sumber: Syaifuddin, 2003)

 Ligamentum
Ligamentum adalah pita jaringan fibrosa yang kuat dan berfungsi
untuk mengikat serta menyatukan tulang atau bagian lain atau untuk
menyangga suatu organ (Snell, 2006).

a. Ligamentum Longitudinal Anterior

Ligamentum longitudinal anterior merupakan suatu serabut yang
membentuk pita lebar dan tebal serta kuat, yang melekat pada bagian
corpus vertebra, dimulai dari sebelah anterior corpus vertebrae cervicalis
II (yang meluas ke kepala pada os occipitale pars basilaris dan tuberculum
anterior atlantis) dan memanjang ke bawah sampai bagian atas depan
fascies pelvina os sacrum. Ligamen longitudinal anterior ini lebih tebal
pada bagian depan corpus karena mengisi kecekungan corpus. Ligamen
longitudinal anterior ini berfungsi untuk membatasi gerakan extensi
columna vertebralis. Dimana daerah lumbal akibat berat tubuh akan
mengalami penambahan lengkungan pada vertebra columna didaerah
lumbal.

4
Gambar a. Ligamentum Longitudinal Anterior
(Sumber: Syaifuddin, 2003)

b. Ligamentum Longitudinal Posterior

Ligamentum longitudinal posterior berada pada permukaan
posterior corpus vertebrae sehingga dia berada di sebelah depan canalis
vertebralis. Ligamentum ini melekat pada corpus vertebra servikal II dan
memanjang kebawah os sacrum. Ligamentum ini diatas discus
intervertebralis diantara kedua vertebra yang berbatasan akan melebar,
sedangkan dibelakang corpus vertebra akan menyempit sehingga akan
membentuk rigi. Ligamentum ini berfungsi seperti ligamentum-
ligamentum lain pada bagian posterior vertebra colum, yaitu membatasi
gerakan ke arah fleksi dan membantu memfiksasi dan memegang dalam
posisi yang betul dari suatu posisis reduksi ke arah hyperextensi, terutama
pada daerah thorakal.

5
Gambar b. Ligamentum Longitudinal Posterior
(Sumber: Syaifuddin, 2003)

c. Ligamentum Intertransversarium

Ligamentum intertransversarium melekat antara processus
transversus dua vertebra yang berdekatan. Ligamentum ini berfungsi
mengunci persendian sehingga membentuk membuat stabilnya
persendiaan.

Gambar c. Ligamentum Intertransversarium
(Sumber: Syaifuddin, 2003)

6
d. Ligamentum Flavum

Ligamentum flavum merupakan suatu jaringan elastis dan
berwarna kuning, berbentuk pita yang melekat mulai dari permukaan
anterior tepi bawah suatu lamina, kemudian memanjang ke bawah melekat
pada bagian atas permukaan posterior lamina yang berikutnya.
Ligamentum flavum ini di daerah servikal tipis akan tetapi di daerah
thorakal ligamentum ini agak tebal. Ligamentum ini akan menutup
foramen intervertebral untuk lewatnya arteri, vena serta nervus
intervertebral. Adapun fungsi ligamentum ini adalah untuk memperkuat
hubungan antara vertebra yang berbatasan.

Gambar d. Ligamentum Flavum
(Sumber: Syaifuddin, 2003)

e. Ligamentum Interspinale

Ligamentum interspinale merupakan suatu membran yang tipis
melekat pada tepi bawah processus suatu vertebra menuju ke tepi atas
processus vertebra yang berikutnya. Ligamentum ini berhubunganm
dengan ligamentum supra spinosus dan ligamentum ini didaerah lumbal
semakin sempit.

7
Gambar e. Ligamentum Interspinale
(Sumber: Syaifuddin, 2003)

 Otot pada Leher
Otot yang terdapat pada leher terdiri dari otot
sternocleidomastoideus origonya terletak pada processus mastoideus dan
linea nuchae superior, insersio pada incisura jugularis sterni dan
articulation sternoclavicularis, fungsi rotasi, lateral fleksi, kontraksi
billateral mengangkat kepala dan membantu pernapasan bila kepala di
fiksasi inervasi nervus accessorius dan plexus servikal (C1 dan C2)
(Daniel, S. Wibowo, 2005).

Gambar 2.1.3 Otot Sternocleidomastoideus
(Sumber: Daniel, 2005)

8
Otot scaleni terbagi atas 3 serabut, yang pertama otot scalenus
anterior, origo pada tuberculum anterius processus transversus vertebra
cervicalis III sampai VI, insersio pada tuberculum scaleni anterior,
inervasi plexus brachialis (C5-C7) dan berfungsi menarik costa I, menekuk
leher ke latero anterior dan menekuk leher ke anterior. Yang kedua otot
scalenus medius origo terletak pada tuberculum posterior processus
transversus vertebra cervicalis II sampai dengan VII, insersio pada costa I
di belakang sulcus a.subclavicula dan kedalam membran intercostalis
externa dari spatium intercostalis I, inervasi plexus cervicalis dan
brachialis (C4-C8) dan berfungsi mengangkat costa I dan menekuk leher
ke lateral costa I. Yang terakhir otot scalenus posterior origo terletak pada
processus transversus vertebra cervicalis V sampai VII, insersio pada
permukaan lateral costa II, inervasi plexus brachialis ( C7-C8) dan
berfungsi fleksi leher, membantu rotasi leher dan kepala serta mengangkat
costa I (Daniel, S. Wibowo, 2005).

Gambar 2.1.3 Otot Scaleni
(Sumber: Daniel, 2005)

Otot trapezius dibagi menjadi 3 serabut yaitu yang pertama pars
descendens origo berasal dari linea nuchae superior, protuberantia
occipitalis externa dan ligamentum nuchea, insersio pada sepertiga lateral

9
clavicula, berfungsi untuk melakukan gerakan adduksi dan retraksi dan
menginervasi nervus accessorius dan rami trapezius (C2C4). Otot pars
tranversa origo berasal dari servikal, insersio pada sepertiga lateral
clavicula, berfungsi untuk melakukan gerakan adduksi dsn retraksi. dan
menginervasi nervus accessorius dan rami trapezius (C2-C4). Yang ketiga
pars ascendens origo berasal dari vertebra thoracalis III sampai XII, dari
processus spinosus dan ligamentum supraspinasum, insersio pada
trigonum spinale dan bagian spina scapulae yang berdekatan, berfungsi
untuk menarik ke bawah (depresi) dan menginervasi nervus accessorius
dan rami trapezius (C2-C4) (Daniel, S. Wibowo, 2005).

Gambar 2.1.3 Otot Trapezius
(Sumber: Daniel, 2005)

Levator scapula origo terletak pada tuberculum posterior
processus transversus vertebra cervicalis I sampai IV, insersio pada
angulus superior scapula, berfungsi mengangkat scapula sambil memutar
angulus inferior ke medial dan menginervasi nervus dorsalis scapulae

10
(C4-C8). Otot ini difungsikan untuk mengangkat pinggir medial scapula.
Bila bekerja sama dengan serabut tengah otot trapezius dan rhomboideus,
otot ini menarik scapula ke medial dan atas, yakni pada gerakan menjepit
bagu ke belakang (Daniel, S. Wibowo, 2005).

Gambar 2.1.3 Otot Levator Scapula
(Sumber: Daniel, 2005)

Longus colli kira-kira membentuk segitiga karena terdiri atas tiga
kelompok serabut. Fungsinya : untuk membengkokkan servikal ke depan
dan ke samping. Inervasinya plexus cervicalis dan brachialis (C2C8). Otot
longus colli terdiri dari 3 serabut, yang pertama serabut oblique superior
origonya berasal dari tuberculum anterius processus transversus vertebra
cervicalis II sampai V dan insersio pada tuberculum anterior atlas. Yang
kedua serabut oblique inferior, origo berjalan dari corpus vertebra
thoracalis I sampai III dan insersio pada tuberculum anterius vertebra
cervicalis VI. Dan yang terakhir serabut medial, origo terbentang dari
corpus vertebra thoracalis bagian atas dan vertebra cervicalis bagian
bawah insersio pada corpus vertebra cervicalis bagian atas (Daniel, S.
Wibowo, 2005).

11
Gambar 2.1.3 Otot Longus Colli
(Sumber: Daniel, 2005)

Longus capitis origo terletak pada tuberculum anterius processus
transversus vertebra cervicalis III sampai VI, insersio pada bagian basal
os occipital berfungsi membentuk gerakan flexi, Lateral flexi dan
menginervasi plexus cervicalis (C1-C4) (Daniel, S. Wibowo, 2005).

Gambar 2.1.3 Otot Longus Capitis
(Sumber: Daniel, 2005)

12
B. Patologi
1. Defenisi
Hernia Nucleus Pulposus Cervicalis (HNP Cervicalis) atau
Cervical Disc Herniation adalah perpindahan nukleus, tulang rawan,
fragmentasi tulang apofyseal, atau jaringan anular terfragmentasi di
luar ruang disk intervertebralis. Rupturnya atau penonjolan (bulge)
annulus fibrosus pada diskus intervertebralis cervikalis menyebabkan
isi diskus atau nukleus pulposus keluar (herniasi) dan menekan radix
saraf pada foramina intervertebralis atau medula spinalis pada kanalis
vertebralis sehingga menyebabkan nyeri radikuler sepanjang daerah
yang dipersarafi oleh saraf yang terjepit tersebut. Radikalulopati
serviks dapat terjadi akibat cedera akar saraf dengan adanya herniasi
diskus atau stenosis, stenosis foraminal yang paling umum, yang
menyebabkan kelainan sensorik, motorik, atau refleks pada distribusi
akar saraf yang terkena.

2. Etiologi
Manuver gerakan yang tidak wajar atau berlebihan, posisi dan
gerakan leher yang salah dapat menyebabkan mikrotrauma berulang
dan sebagai konsekuensinya bisa mendorong terjadinya herniasi diskus
intervertebralis pada kondisi diskus intervertebralis yang telah
mengalami degenerasi sebelumnya. HNP terjadi sebagai akibat
penekanan cervikal yang berulang atau, meskipun jarang, dari satu
kejadian traumatik. Peningkatan resiko bisa bertambah karena
penekanan getaran, pengangkatan beban yang berat, posisi duduk yang
lama, trauma whiplash, dan gerakan akselerasi atau deselerasi yang
sering.
Seiring bertambahnya usia, maka bagian tengah diskus
intervertebralis yaitu nukleus pulposus mulai kehilangan kadar air di
dalamnya, hal ini menjadikan diskus intervertebralis tidak lagi efektif
sebagai bantalan atau peredam getaran. Bila kondisi diskus mulai

13
memburuk, lapisan luar yakni annulus fibrosus dapat mengalami
robekan.
Hal ini dapat mendorong pemindahan bagian tengah diskus
(dinamakan diskus mengalami pecah atau herniasi) melewati suatu
celah robek pada lapisan luar, ke ruang yang ditempati oleh nervus
spinalis dan medulla spinalis. Selanjutnya diskus yang mengalami
herniasi dapat menekan nervus spinalis dan menyebabkan nyeri, rasa
kebas, kesemutan atau kesemutan pada bahu atau lengan.

3. Tanda dan Gejala
HNP cervikalis paling sering terjadi pada segmen vertebra C5-
C6, C6-C7,dan C4-C5. Hal ini terjadi karena pada vertebra tersebut
(C5-C6 dan C6-C7) merupakan daerah yang paling banyak menerima
beban diantara vertebra cervikal yang lain dan yang paling banyak
mengalami pergerakan. Apabila terjadi herniasi pada C5-C6 maka
radix yang tertekan adalah radix C6, sedangkan apabila terjadi
herniasi pada C6-C7, efek yang terjadi adalah gangguan
pada radix C7, dan seterusnya.
Pada umumnya herniasi terjadi pada salah satu sisi (unilateral).
Gejala-gejala yang dapat timbul pada HNP cervikalis diantaranya
adalah nyeri yang dapat bersifat tajam maupun tumpul pada leher
atau daerah bahu, yang dapat memberat dengan suatu
gerakan atau perpindahan posisi leher. Terjadi cervical
radiculopathy, yaitu nyeri yang menjalar dari lengan hingga jari-
jari tangan. Rasa tebal, kesemutan, hingga kelemahan dari bahu hingga
jari-jari tangan. Namun dapat juga herniasi terjadi dan menekan
medula spinalis sehingga terjadi gangguan bilateral, gangguan dapat
berupa nyeri dan kelemahan pada kedua tangan dan kaki (tetraplegi).
Beberapa gejala yang dapat muncul pada HNP cervikalis
adalah sesuai dengan radix yang terkena, yaitu:

14
- C4-C5 (gangguan pada radix C5), terjadi kelemahan pada
muskulus deltoideus dan nyeri pada bahu, deficit sisi lateral
tubuh.
- C5-C6 (gangguan pada radix C6), terjadi kelemahan pada
muskulus biseps (fleksi lengan bawah ), nyeri yang disertai rasa
tebal dan kesemutan pada ibu jari tangan, lengan atas, bagian
radial lengan bawah.
- C6-C7 (gangguan pada radix C7), terjadi kelemahan pada
muskulus triceps dan ekstensor jari-jari tangan, nyeri menjalar
yang disertai rasa tebal dan kesemutan dari muskulus triseps
hingga jari telunjuk, tengah, ujung jari.

Gambar 2.7 Dermatom

4. Proses Patologi Gangguan Gerak dan Fungsi
Derajat keparahan HNP :
1) Degenerasi Disc: Perubahan kimiawi yang terkait dengan
penuaan menyebabkan cakram intervertebralis melemah,
namun tanpa herniasi. Ini adalah bagian dari proses penuaan
yang dibahas di atas, dan ini bisa menyebabkan disk
mengering, sehingga kurang mampu menyerap kejutan dari
gerakan Anda. Hal ini juga bisa menjadi lebih tipis pada tahap
ini.

15
2) Prolaps: Bentuk atau posisi disk berubah dengan sedikit
pelampiasan ke dalam kanal tulang belakang atau saraf tulang
belakang. Tahap ini juga disebut disc melotot atau disc yang
menonjol.
3) Ekstrusi: Bunyi seperti nukleus pulposus (bagian dalam cakram
intervertebralis) menerobos dinding seperti ban (annulus
fibrosus) namun tetap berada di dalam cakram.
4) Sequestration or Sequestered Disc: Inti pulposus menerobos
anulus fibrosus dan bisa bergerak keluar dari cakram
interverterbral dan masuk ke dalam kanal tulang belakang.

Gambar 2.8
Herniasi dari nukleus pulposus dapat terjadi akibat perubahan
pada penyusun komponen-komponen diskus intervertebralis, atau
trauma. Diskus intervertebralis terdiri dari nukleus pulposus yang
tersusun dari komonel gel dan annulus fibrosus dengan kolagen
sebagai penyusunnya. Pada proses degeneratif komponen gel nukleus
pulposus dan kolagen dari annulus fibrosus lambat laun akan
berkurang sehingga diskus intervertebralis yang seharusnya elastis dan
befungsi sebagai bantalan atau shock absorber menjadi kaku.
Nukleus pulposus yang tidak lagi berupa gel tidak dapat
menyebarkan beban ke segala arah, namun hanya arah tertentu saja,
sehingga nukleus pulposus akan menonjol ke arah tertentu saja, dan

16
pada kondisi yang berat dapat sampai menembus anulus fibrosus dan
menimbulkan penekanan pada radix maupun medula spinalis. Pada
kasus trauma, beban atau gerakan yang tiba-tiba akan menimbulkan
efek kejut bagi diskus intervertebralis, sehingga beban tidak dapat
diterima secara imbang dan tidak dapat disebarkan ke segala arah,
atau trauma tersebut secara langsung merusak annulus fibrosus
sehingga dapat menyebabkan keluarnya nukleus pulposus.

Gambar 2.8 Penampakan pada Vertebra

Manifestasi HNP dibagi menjadi subkategori menurut jenis
(yaitu, tonjolan, ekstrusi, penyerapan). Tonjolan disc, bukan herniasi
sejati. Ini digambarkan sebagai ekstensi melingkar simetris atau
asimetris secara simultan dari margin disk di luar batas ujung ujung
vertebra yang berdekatan. Tonjolan cakram menggambarkan herniasi
bahan nukleus melalui cacat pada annulus, menghasilkan
perpanjangan fokal dari margin disk; Selanjutnya dapat didefinisikan
jika jarak terbesar, di bidang apapun, di antara tepi material disk di
luar ruang disk kurang dari jarak antara tepi dasar, pada bidang yang
sama.
Ekstrusi berlaku untuk herniasi bahan nuklir bila, dalam
setidaknya satu bidang, jarak antara satu sisi antara sisi disk di luar

17
ruang disk lebih besar daripada jarak antara tepi dasar, atau bila tidak
ada kontinuitas antara bahan disk di luar ruang disk dan di dalam
ruang disk. Ekstrusi dapat ditentukan lebih lanjut sebagai penyerapan,
jika bahan disk yang dipindahkan benar-benar menghilangkan
kontinuitas dengan disk induknya. Istilah migrasi dapat digunakan
untuk menandakan pemindahan material disk dari tempat ekstrusi,
terlepas dari apakah sequestrated atau tidak. Contoh herniasi disk
terlihat pada gambar di bawah ini.
Herniasi biasanya terjadi akibat tegangan annulus
posterolateral. Ada 2 jenis herniasi utama yang dijelaskan dalam
literatur: focal dan broad-based. Herniasi fokal melibatkan kurang dari
25% lingkar cakram, sedangkan herniasi berbasis luas melibatkan
antara 25-50% lingkar cakram. Herniasi jarang terjadi akibat satu
kejadian traumatis. HNP traumatis traumatis akut berfungsi sebagai
etiologi utama sindrom tali pusat. C6-C7 disc herniates lebih sering
daripada cakram pada tingkat lain.
Herniasi disk akut menyebabkan nyeri radikular melalui
radikulitis kimia di mana proteoglikan dan fosfolipase dilepaskan dari
nukleus pulposus yang menengahi peradangan kimia dan / atau
kompresi akar saraf langsung. Interleukin 6 dan oksida nitrat juga
dilepaskan dari cakram dan berperan dalam kaskade inflamasi. Denda
et al juga baru-baru ini menunjukkan bahwa kompresi kronis kanal
tulang belakang dapat menyebabkan tingkat oksida nitrat (NO) yang
lebih tinggi dari normal pada cairan serebrospinal (CSF). Tingkat NO
yang berlebihan telah terbukti bersifat sitotoksik dan dapat
menyebabkan apoptosis neuron. Meskipun tingkat tinggi NO belum
berkorelasi dengan tingkat keparahan rasa sakit atau penyakit, data ini
mungkin berperan dalam target intervensi di masa depan.
Radiculitis kimiawi adalah elemen kunci dalam rasa sakit
yang disebabkan oleh HNP karena kompresi akar saraf saja tidak
selalu menyakitkan kecuali ganglion akar dorsal juga terlibat. Herniasi

18
dapat menyebabkan turunan saraf dengan gejala neurologis yang
dihasilkan. HNP serviks mungkin diserap selama fase akut. Memang,
penelitian yang mendokumentasikan resorpsi herniasi sering dan
regresi herniasi yang berkorelasi dengan resolusi gejala mendukung
pengobatan konservatif terhadap nyeri radikuler serviks.
Sindrom HNP yang jarang diinduksi oleh trauma ringan (C2-
C3) bermanifestasi sebagai nyeri leher dan bahu nonspesifik, hipestesi
perioral, lebih banyak radikulopati daripada mielopati, dan motorik
ekstremitas atas dan disfungsi sensorik daripada simtomatologi
tungkai bawah. Berkurangnya mobilitas tulang belakang tulang
belakang dan / atau bawah servikal dari spondylosis, dengan kelebihan
beban dan hipermobilitas pada segmen yang lebih tinggi, dapat
menyebabkan lesi disk serviks yang tinggi pada pasien yang lebih
tua. Sebuah cakram retro-odontoid dapat dihasilkan dari HNP C2-C3
yang bermigrasi ke atas. Beberapa laporan kasus menggambarkan
HNP servikal yang menyebabkan sindrom Brown-Séquard, serta
gejala nonrasifik atipikal pada pasien dengan ketidakpekaan bawaan
terhadap rasa sakit. Meskipun spondylosis dapat mempengaruhi gerak
pada tingkat yang berdekatan, herniasi diskus yang tertutup di tulang
belakang serviks tampaknya tidak mengubah gerak tingkat yang
berdekatan, terlepas dari tingkat degenerasi disk atau ukuran herniasi
diskus.

19
Gambar 2.9
A : Anatomi disk normal yang menunjukkan nukleus pulposus (NP)
dan annular margin (AM).
B : Penonjolan cakram, dengan NP menembus asimetris melalui serat
melingkar namun terbatas di dalam AM.
C : Ekstrusi cakram dengan NP yang melampaui AM.
D: Disc sequestration, dengan fragmen nuklir yang terpisah dari disc
yang diekstrusi.

C. Pendekatan Fisioterapi
1. SWD
SWD adalah medan elektromagnetik frekuensi tinggi berosilasi
untuk memanaskan area. Pada permukaan tubuh memanas hingga
kedalaman jaringan tetapi menurun secara bertahap mulai 2 sampai 3 cm.
sebuah studi oleh Garret dan rekan menyimpulkan bahwa SWD lebih
efektif daripada 1 MHz ultrasound dalam memanaskan massa otot besar
dan mengakibatkan otot menahan panas lebih lama. (Singh,2011).

2. Manual Traksi
Manual traksi adalah suatu tehnik terapi berupa tarikan atau
peregangan pada daerah cervical.

20
3. Mobilisasi Soft Tissue
Mobilisasi soft tissue merupakan salah satu metode manual terapi
yang efektif untuk kasus-kasus vertebra khususnya mechanical neck pain.
Muscle Energy Technique merupakan salah satu metode mobilisasi soft
tissue yang biasa dikenal sebagai metode osteopathic soft tissue yang
menghubungkan arah an control yang tepat dari pasien, kontraksi
ismoterik yang didesain untuk memperbaiki fungsi musculoskeletal dan
menurunkan nyeri.

4. Strengthening
Latihan penguatan dilakukan untuk membantu pasien
meningkatkan fungsi dari otot.

21
BAB III

PROSES FISIOTERAPI

A. Identitas Umum Pasien
Nama : Ny. X
Umur : 60 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pekerjaan : PNS
Alamat : Jln.Karantina no.14 Makassar
B. Anamnesis Khusus
Keluhan yang dirasakan : nyeri bahu kiri menjalar ke lengan
hingga jari-jari
Lokasi nyeri : bahu kiri
Gambaran nyeri : nyeri tajam
Frekuensi nyeri : terus menerus
Kapan keluhan mulai dirasakan : sejak 1 bulan yang lalu
Penyebab keluhan : mengangkat beban yang berlebihan.
Diagnosa dokter :HNP+lumbar and other
intervertebral disc disorder
Konsumsi obat-obatan : Ya
Riwayat penyakit penyerta : Hipertensi dan LBP
Aktivitas yang tidak dapat dilakukan : pasien kesulitan mengangkat beban
yang berat dengan menggunakan tangan kiri, kesulitan untuk
menundukkan kepala dan menoleh, serta kesulitan dalam melakukan
pekerjaan rumah tangga.
Riwayat penyakit sekarang : sejak 1 bulan yang lalu pasien
mengalami nyeri bahu kiri menjalar ke lengan hingga jari-jari. Nyeri biasa
muncul pada malam hari, pasien juga mengeluh nyeri pinggang yang
menjalar hingga ke tungkai saat membungkuk sambil menundukan kepala.
C. Pemeriksaan Fisik
1. Vital Sign

22
Tekanan darah : 130/100 mmHg
Pernapasan : 24 x / menit
Denyut Nadi : 68 x/menit
Suhu : 36°C
2. Inspeksi
Statis
1) Flat neck
2) Postur sedikit khyposis
Dinamis
1) Nyeri saat menundukkan kepala
3. Palpasi
1) Spasme otot upper trapezius, levator scapula dan semispinalis
capitis.
D. Pemeriksaan Fungsi Dasar
1) Tes Gerak Aktif

Gerakan Nyeri
Fleksi cervical Nyeri menjalar dan terbatas
Ekstensi cervical Nyeri akhir gerak
Lateral fleksi cervical kanan Nyeri dan terbatas
Lateral fleksi cervical kiri Nyeri dan terbatas
Rotasi cervical kanan Nyeri dan terbatas
Rotasi cervical kiri Nyeri dan terbatas
2) Tes Gerak Pasif

Gerakan Nyeri Endfeel
Fleksi cervical + Empty endfeel
Ekstensi cervical + Elastic endfeel
Lateral fleksi cervical + Springy
kanan endfeel
Lateral fleksi cervical kiri + Springy endfeel

23
Rotasi cervical kanan + Elastic endfeel
Rotasi cervical kiri + Elastic endfeel

3) Tes Isometric Melawan Tahanan

Gerakan Nyeri Kekuatan
Tahanan
Fleksi cervical + Lemah
Ekstensi cervical + Sedang
Lateral fleksi cervical + Sedang
kanan
Lateral fleksi cervical kiri + Sedang
Rotasi cervical kanan + Sedang
Rotasi cervical kiri + Sedang

E. Pemeriksaan Spesifik dan Pengukuran Fisioterapi
1. Pemeriksaan Spesifik
1) Tes JPM : PACVP dan PAUVP ( nyeri tekan
C3-C4 dan C5-C6 )
2) Tes neurologis
a. Foramen compression test : Nyeri menjalar pada lengan kiri
b. Shoulder abduction test : Nyeri berkurang
c. ULTT 1 : Nyeri menjalar
d. Lhermitte’s Sign : Nyeri menjalar sepanjang trunk
e. Reflex fisiologis dan patologis
a. Reflex bicep : normal
b. Reflex tricep : normal
c. Hoffman : negatif
2. Pengukuran Fisioterapi
1) VAS (Visual Analog Scale ) :5
2) Manual Muscle Testing :
a. nilai otot 3 untuk fleksor cervical

24
b. nilai otot 4 untuk ekstensor cervical
F. Pemeriksaan Penunjang
1) MRI C-Spine

Kesan :
1. Bulging disc ke posterior CV C3-C4 dan C5-C6 yang menekal thecal
sac
2. Spondylosis cervical
3. MR Myelografi : tidak tampak stenosis canalis spinalis level cervical

G. Diagnosis dan Problematik Fisioterapi
1. Diagnosis
“ Spesifik Neck Pain With Unilateral Radicular Upper Extremity Pain
and Referred Pain Sinistra Et Cause HNP Cervical ”
2. Problematik Fisioterapi
a. Impairment
a. Nyeri tajam dan kesemutan pada lengan sisi kiri
b. Nyeri menjalar sampai ke trunk saat fleksi cervical
c. Spasme otot upper trapezius, levator scapulda dan
semispinalis capitis
d. Keterbatasan gerak rotasi dan lateral fleksi cervical
2) Activity Limitation
a. Kesulitan untuk mengangkat beban berat dengan tangan
kiri
b. Kesulitan untuk menundukkan kepala dan menoleh
3) Participation Restriction
a. Kesulitan dalam melakukan pekerjaan rumah tangga

H. Rencana Intervensi Fisioterapi
1. SWD
2. Manual Traksi Extensi Cervical (Cyriax)
3. Mobilisasi Saraf (Metode David Buttler)

25
4. Mobilisasi Saraf Modifikasi Thoracic Slump Test
5. Mobilisasi Soft Tissue Upper Trapezius, Levator Scapula Dan
Semispinalis (Kaltenborn)
6. Strengthening
I. Program Intervensi Fisioterapi
1. SWD
Tujuan : meningkatkan metabolisme,meningkatkan
suplai darah,mengurangi rasa nyeri dan rileksasi otot.
Tehnik Pelaksanaan : pasien dalam posisi supine lying, letakan
handuk di punggung bawah pasien lalu letakan ped electrode
kemudian beri beban di atas ped elektroda agar tidak terjatuh.
Atur waktu selama 15 menit dan naikan intensitas sesuai dengan
toleransi pasien. Kontrol pasien setiap 5 menit sekali tanyakan
terlalu panas atau tidak. Jika alarm sudah berbunyi matikan
alat,rapikan alat seperti keadaan semula.
2. Manual Traksi Ekstensi Cervical (Cyriax)

Tujuan : membantu merelaksasi otot-otot daerah
leher dan pundak (cervical), membantu mengurangi penekanan
atau kompresi atau iritasi akar syaraf serta membantu penguluran
atau peregangan otot-otot vertebrae regio cervical.
Tehnik Pelaksanaan : pasien dalam posisi supine lying traksi
secara gentel dilakukan pada segmen cervical dengan pemberian
fiksasi pada area mandibula dan occiput, kombinasikan dengan

26
gerakan ekstensi cervical secara berulang dengan repetisi sebanyak
10x.
3. Mobilisasi Soft Tissue

Tujuan : untuk meningkatkan kebebasan gerak dan
mengurangi nyeri akibat adanya pembatasan dari suatu jaringan,
proprioception dan interoception, meningkatkan fungsi jangkauan
gerak sendi dan otot, memulihkan keseimbangan dan postur tubuh
yang benar.
Tehnik Pelaksanaan : pasien dalam posisi supine lying, tangan
kiri fisioterapis berada di shoulder sebagai fiksasi, tangan kanan di
cervical. Kemudian fisioterapis melakukan traksi kearah cranial.
Lakukan secara berulang dengan repetisi 10x.

4. Strengthening
Tujuan : meningkatkan kekuatan, ketahanan dan
menjaga sifat fisiologis otot.
Tehnik Pelaksanaan : pasien dalam posisi prone lying, minta
pasien menangkat tangan sembari Fisioterapi memberikan
tahanan. Lakukan secara berulang dengan repetisi sebanyak 10x.

J. Evaluasi Fisioterapi
1. Nyeri berkurang
2. Nilai otot meningkat
3. LGS meningkat

27
BAB IV

KESIMPULAN

A. Kesimpulan
Hernia Nucleus Pulposus Cervicalis (HNP Cervicalis) atau Cervical
Disc Herniation adalah perpindahan nukleus, tulang rawan, fragmentasi tulang
apofyseal, atau jaringan anular terfragmentasi di luar ruang disk
intervertebralis. Rupturnya atau penonjolan (bulge) annulus fibrosus pada
diskus intervertebralis cervikalis menyebabkan isi diskus atau nukleus
pulposus keluar (herniasi) dan menekan radix saraf pada foramina
intervertebralis atau medula spinalis pada kanalis vertebralis sehingga
menyebabkan nyeri radikuler sepanjang daerah yang dipersarafi oleh saraf
yang terjepit tersebut.
HNP cervikalis paling sering terjadi pada segmen vertebra C5-C6, C6-
C7,dan C4-C5. Hal ini terjadi karena pada vertebra tersebut (C5-C6 dan C6-
C7) merupakan daerah yang paling banyak menerima beban diantara vertebra
cervikal yang lain dan yang paling banyak mengalami pergerakan. Apabila
terjadi herniasi pada C5-C6 maka radix yang tertekan adalah radix C6,
sedangkan apabila terjadi herniasi pada C6-C7, efek yang terjadi adalah
gangguan pada radix C7, dan seterusnya.
B. Saran
Mahasiswa diharapkan dapat memahami anatomi, fisiologi, patologi
tentang HNP cervical. Selain itu mahasiswa dapat melakukan tehnik
assessment dan pemeriksaan yang sesuai untuk menegakkan diagnosis yang
tepat. Kemampuan keterampilan dan skill dalam melakukan proses intervensi
fisioterapi perlu dicapai dalam pembelajaran melalui pembimbing lahan dan
berbagai referensi yang diperoleh agar yang dilakukan dapat memberikan
manfaat bagi pasien.

28
DAFTAR PUSTAKA

Agung, Muhammad. 2015. Berbagai Macam Jenis Penyakit Mulai dari
Penyebab, Pencegahan dan Pengobatan.
http://jenis2-penyakit.blogspot.co.id/2015/02/pengertian-penyakit-hnp-
gejala-penyebab.html . Diakses 21 Maret 2017.
Jee, Satriani. 2016. Referat HNP Cervical.
https://id.scribd.com/doc/316586922/Referat-HNP-Cervical-doc . Diakses
4 April 2018.
Paramita. 2017. Laporan Kasus HNP Cervikal.
https://www.scribd.com/document/351535998/Laporan-Kasus-Hnp-
Servikal . Diakses 21 Maret 2018.
Ricardo, Reyner. 2017. Laporan Kasus HNP cervikal.
https://www.spineuniverse.com/conditions/herniated-disc/cervical-
herniated-disc-or-ruptured-disc . Diakses 21 Maret 2018.
Tanaka Y, Kokubun S, Sato T, et al. Cervikal roots as origin of pain in the neck
or scapular regions. Spine. Aug 1 2006;31(17) : E568-73.
Santoso, Joko. 2012. Traksi Cervical dan Lumbal. Klinik Fisioterapi Satria.
http://klinikfisioterapisatria.blogspot.co.id/2012/01/traksi-cervical-dan-
lumbal.html.
Sudaryanto, Sutjana, Irfan Muhammad. 2013. Pemberian Teknik Mulligan dan
Soft Tissue Mobilization Lebih Baik Daripada Soft Tissue Mobilization Dalam
Meningkatkan Lingkup Gerak Sendi Ekstensi, Rotasi, Lateral Fleksi Cervical
Pada Mechanical Neck Pain. Diakses 4 April 2018.
http://erepo.unud.ac.id/9000/3/2a7e9ae0e31f1d32704ffc8eb1f203d7.pdf Diakses 4
April 2018.
http://eprints.ums.ac.id/35913/1/NASKAH%20PUBLIKASI.pdf. Diakses 4 April
2018.
http://seripayku.blogspot.co.id/2008/05/fisioterapi.html?m=1 Diakses 4 April
2018.

29