You are on page 1of 6

Title : [SongFic] Confession of A Friend

Author : Minhyuk’s Anae
Length : Oneshoot
Genre : Romance, Friendship, SongFic
Rating : PG-15
Casts :
- Kang Min Hyuk
- Park Jiyeon
- Kim Jong In (Kai EXO-K)
- Other Cast
Disclaimer : Inspired by 2AM’s song Confession of A Friend.
Note : Sorry for Typos and Unperfect Story. I’ve posted this fanfic in my account wordpress
minhyukanaefanfic.wordpress.com . Don’t forget Read, Comment, and Like :D Happy Reading!
Semoga kalian suka.
----------------------------------------------------------************-----------------------------------------
It’s been quite a while
Since my heart started changing
Since I’ve been suffering alone
From sometime, every time you cried
I hated the man that made you cry
Aku menatap yeoja depanku yang sedang menatap layar handphonenya serius.
Mengacuhkanku yang ada di depannya. Sesekali ia meminum orange jus yang ia pesan dan
kembali berkutat pada handphonenya.
Hatiku kembali berdebar menatapnya. Ini bukan pertama kalinya aku rasakan ini disaat
aku sedang ada di dekatnya. Baiklah, aku bercerita sedikit. Aku mengenalnya sudah 10 tahun,
tepatnya ketika umurku 10 tahun. Aku selalu merasa nyaman dengannya, nyaman dengan
celotehan ringannya, yang selalu membuat moodku selalu membaik sampai aku menyadari ada
perasaan yang seharusnya tidak ku rasakan. Apakah selalu seperti ini? Persahabatan antara
yeoja-namja akan memunculkan suatu perasaan lebih? Lalu aku kini yang merasakan sendiri.
Aku jatuh hati pada Jiyeon tepat 5 tahun lalu. Ketika kami masuk di awal SMA. Dia belum tahu
tentang perasaanku. Tentu saja karena sampai detik ini aku belum punya keberanian. Aku takut
dengan penolakan dan aku juga takut dengan hancurnya persahabatan aku dan Jiyeon.
Terlebih seminggu ini Jiyeon sedang dekat dengan seorang namja. Dia bilang dia
menyukainya. Aku tahu jelas namja itu, sejujurnya aku khawatir dengan Jiyeon karena seperti
yang ku dengar Jong In—namja itu bukanlah namja baik-baik. Tapi aku juga tidak punya hak
untuk melarang Jiyeon.
Aku merasa bosan lama-lama dengan kondisi ini. Tadi dia mengajakku untuk makan
siang bersama tapi sekarang dia justru sibuk dengan handphonenya.
“ Jiyeonnie, sampai kapan kau akan mengacuhkanku seperti ini?” Tanyaku. Dia menoleh.
“ Mianhae, Hyukkie. Aku hanya sedang…” dia menunjukkan sesuatu dari handphonenya
yang menunjukkan beberapa tweets Jong In.
“ Aku sedang kesal karena semalaman Jong In tak membalas mentionku dan ketika aku
men-stalknya ternyata dia membalas mention Krystal.” Jawabnya kesal.
“ Lalu, aku disini hanya disuruh melihatmu bermain handphone?”
“ Ani…bukan begitu. Awalnya aku ingin bercerita padamu tentang perkembanganku
dengan Jong, Hyukkie. Kau tahu kan hanya kau tempatku curhat. Tapi setelah aku membaca
tweets ini aku jadi agak melupakanmu. Awalnya aku ingin bercerita bahwa aku semakin dekat
dengan Jong In. tiap malam dia mengirimiku pesan dan dia suka memujiku. Aku senang! Apakah
dia menyukaiku juga? Tapi hatiku kesal ketika semalaman dia tak membalas pesan maupun
mention yang aku kirim. Aku kira dia sibuk dan ternyata dia malah sedang bersama Krystal.”
Ujarnya panjang lebar.
Aku diam, bingung harus jawab apa. Ya, beginilah keseharianku. Mendengarkan orang
yang kucintai menceritakan perkembangannya dengan namja lain. Resiko seorang sahabat. Siapa
suruh aku mencintainya kan?
“ Hyukkie….aku mau menangis….” Jiyeon memegang tanganku.
“ Yak! Kenapa harus nangis? Gara-gara Jong In-Krystal? Astaga Jiyeon, jadilah yeoja
yang kuat. Lagipula kalian kan baru masa pendekatan, kau tidak boleh melarangnya dekat
dengan yeoja lain. Lalu, hmm pokoknya kau harus jadi yeoja kuat!”
“ Aku mau menangis karena Jong In nge-php-in aku…” Kini matanya tambah berkaca-
kaca.
“ Gak ada php di dunia ini kalau kitanya gak ke-geeran duluan, Jiyeonnie. Seharusnya
kau lebih bisa menjaga kestabilan perasaanmu. Jangan terlalu berlebihan menanggapi apa yang
Jong In berikan kepadamu karena apa yang dia berikan belum tentu artinya dia menyukaimu.”
Ujarku.
“ Sudah jangan menangis.”
“ Ne, Hyukkie. Aku harus jadi yeoja kuat. By the way, gomawo sudah mendengarkan
ceritaku hari ini. Kau tahu, kau seperti buku harianku hehehehe.” Jawabnya dengan tawa ringan.
Aku hanya tersenyum palsu. Jiyeon belum tahu apa yang kurasakan setiap ia
menceritakan kisah cintanya. Sakit dan penuh sesak. Tapi lagi-lagi aku berpikiran inilah
resikoku, suruh siapa aku menyukainya?
***
Dua hari berikutnya adalah hari yang menurutku bukan hari baik untukku. Ya, mereka
berpacaran. Jiyeon dan Jong In. aku hanya bisa diam dan mencoba ikut senang.
Sejujurnya hatiku takut Jong In menyakiti Jiyeon tapi aku juga tidak boleh berpikiran
negative. Aku berkata pada diriku sendiri, jika Jiyeon bahagia aku juga ikut bahagia. Kata-kata
lama. Aku ikut bahagia meski dalam hatiku selalu terbesit luka yang mendalam.
Setelah hari itu, hari dimana mereka memutuskan untuk bersama. Jiyeon jadi jarang
bertemu denganku. Lebih suka berangkat dan pulang bersama Jong In. tapi, mungkin begitulah
percintaan lagipula Jong In lebih berhak dengan Jiyeon. Sedangkan aku? Aku hanyalah sahabat
yang tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu dan memendam perasaanku.
***
Intercom apartementku berbunyi.
“ Hyukkie, apa kau ada di dalam? Ini aku. Jiyeon.” Suaranya terdengar jelas di telingaku.
Aku segera membukakannya pintu. Tiba-tiba ia langsung memelukku.
“ Hei, gwaenchanhayo?” Tanyaku yang baru menyadari mukanya sembab.
“ Aku ingin bercerita padamu….”
“ Berceritalah. Siapa yang membuatmu menangis?”
“ Jong In. dia berseleweng di belakangku.”
Saat itu juga aku tak akan pernah mengampuni siapapun yang membuat Jiyeonku
menangis.
***
You held my hand and said I was the only one
That having a friend like me was the best thing
Everytime you told me that we would never change
It crushed my slowly growing love for you
Aku terhenyak mendengar kata-katanya. Jong In menyakitinya, melarangnya dekat
dengan namja lain tapi ternyata dia berselingkuh dengan yeoja lain.
Jiyeon menyandarkan kepalanya di bahuku sambil memandang sudut kota Seoul yang
tampak jelas dari balkon apartementku. Air matanya masih mengalir.
“ Aku tidak akan pernah mengampuni siapapun yang menyakitimu, Jiyeon.” Desisku.
“ Tapi aku mohon jangan menyakiti Jong In, Hyukkie. Aku mohon. Meski aku tahu kau
membencinya.” Ucapnya di sela tangisannya. Membuatku mengurungkan niatku untuk pergi
menemui Jong In dan melayangkan pukulanku pada wajahnya itu.
“ Aku mohon.” Pintanya lagi.
“ Jika itu yang kau mau, aku tidak akan menyakiti Jong In.” Jawabku.
Aku mengusap air matanya,
“ Jangan menangis. Sahabatku tidak boleh menangis.” Ujarku dan dia menatapku.
“ Hyukkie, mianhae selama 3 bulan ini aku jarang dekat denganmu. Kau tahu alasannya
kan? Apa kau masih mau bersahabat denganku?”
“ Kalau aku tidak mau bersahabat denganmu lagi, bagaimana?”
“ Tidak mau tahu kau harus mau!” Aku terkekeh kecil mendengar jawabannya.
“ Terima kasih kau selalu mendengarkanku, Hyukkie. Kau selalu jadi sahabat terbaikku.
Kau adalah sahabat paling baik di dunia.”
“ Kau juga sahabatku yang paling baik, Jiyeonnie.”
“ Hyukkie, ku harap persahabatan kita akan abadi. Sampai nanti kita menemukan jodoh
kita masing-masing ku harap persahabatan kita tetap abadi. Sampai kau punya istri dan aku
punya suami. Sampai kita punya anak. Aku harap kita masih tetap bersahabat.” Ujarnya.
Aku terhenyak mendengarkan kata-katanya. Punya istri? Jodoh? Pikiranku selama ini
hanya kepadanya.
Jiyeon, aku harap kita bisa jadi lebih dari seorang sahabat
“ Ngomong-ngomong siapa yeoja yang kau sukai, Hyukkie? Kau bahkan belum pernah
bercerita padaku.”
“ Belum ada.”
“ Bohong. Kalau belum ada kenapa kau menulis lirik galau seperti ini?” Tanyanya sambil
mengangkat partitur note dan lirik lagu yang kubuat. Bodoh! Aku masih menyimpannya di meja
balkon dan dia menemukannya.
“ Tidak. Aku sedang tidak menyukai siapapun.”
“ Bohong. Ayolah Hyukkie, cerita.”
“ Shirreo!!!!”
***
Rather, I have thoughts that maybe it would be better
If I protected you myself
Now, I get the feeling of wanting to hold you
And tell you I love you
Baby, now come to me
And be my lady
I’ve been watching you for too long
Standing there, hiding my regretful heart
Because I had to act as a friend, as a firend
I had to bottle up my feelings
That had been builing up inside of me
But now, I confess
I love you

“ Apa kau percaya tentang kisah teman jadi cinta?” Tanyaku kepada Jiyeon yang sedang
sibuk menikmati pemandangan ilalang di bukit rumput ini. Dulu aku dan Jiyeon sering kesini
dan sekarang aku mengajaknya lagi ke tempat ini.
“ Memangnya kenapa?”
“ Aku hanya mau tanya…kau percaya tidak?”
“ Percaya percaya saja. di dunia ini gak ada yang gak mungkin kan?” Tanyanya yang kini
duduk di hadapanku.
“ Lalu menurutmu sahabat jadi cinta itu salah tidak?” Tanyaku lagi.
“ Enggaklah! Gak ada yang salah dalam cinta, Hyukkie.” Jawabnya.
“ Kau kenapa sih?” Tanya Jiyeon.
Aku memalingkan wajahku sejenak. Apakah aku yakin harus mengungkapkannya
sekarang?
“ Jiyeon…aku…”
“ Kenapa?”
“ Aku mencintaimu.” Ucapku lalu menutupi mukaku.
Jiyeon menarik tanganku agar tak menutupi mukaku,
“ Benarkah?”
Aku mengangguk kecil, Jiyeon sekarang diam.
“ Jangan marah.” Ujarku.
“ Aku tak pernah memaksamu membalas cintaku. Lagipula…aku hanya ingin
mengungkapkannya padamu. Setidaknya kau harus tau dan pernyataan ini sudah tak bisa aku
pendam lebih lama lagi.”
“ Jangan marah padaku. jangan bilang kau akan memutuskan persahabatan kita.”
Jiyeon melirikku lalu tertawa,
“ Siapa yang marah? Siapa juga yang nolak? Aku juga.” Ujarnya dengan kalimat
menggantung menurutku.
“ Maksudmu?”
“ Aku juga mencintaimu, Hyukkie. Sesungguhnya sudah lama, sebelum aku mencintai
Jong In.”
“ Jadi?” Astaga! Aku bahkan tak percaya!
Jiyeon menggangguk.
“ Ne, aku juga mencintaimu.” Balasnya sambil tersenyum. Menimbulkan senyum yang
tak kalah merekahnya dariku.
***