You are on page 1of 12

PENYAKIT HIDUNG

EPISTAKSIS

Definisi Perdarahan hidung
Klasifikasi a. Epistaksis anterior
Darah keluar melalui lubang hidung pada posisi duduk. Sumber
paerdarahan berasal dari pleksus Kiesselbach.
b. Epistaksis posterior
Darah akan mengalir ke kerongkongan
Tatalaksana  Epistaksis Anterior
 Pada perdarahan ringan dapat dilakukan kompresi hidung
manual dengan cara menekan hidung dengan menggunakan
jari jempol dan jari telunjuk selama ± 5 menit.
 Pemasangan tampon anterior menggunakan kapas atau kasa
yang dioleskan dengan Vaseline agar tidak melekat dan
menghindari berulangnya perdarahan ketika tampon dicabut.
 Kaustik pada daerah perdarahan dengan menggunakan nitras
argenti 20-30% atau asam triklorasetat 1%.
 Epistaksis Posterior
 Tampon Bellocq
 Kateter folley dengan balon

Perbedaan Epistaksis Anterior Epistaksis Posterior
epistaksis anterior Insidens Sering Jarang jika dibandingkan
dan posterior anterior
Lokasi Berasal dari little’s area atau Berasal dari bagian
bagian anterior dari dinding posterosuperior dari
lateral rongga hidung
Usia Kebanyakan pada anak atau Usia > 40 tahun
dewasa muda
Penyebab Kebanyakan karena trauma Spontan, biasanya karena
hipertensi arteriosklerosis
Perdarahan Biasanya ringan dapat Perdarahan berat, dapat
dikontrol dengan penekanan dikontrol dengan tampon
local atau tampon anterior posterior

POLIP HIDUNG
Definisi Kelainan mukosa hidung berupa masa lunak yang bertangkai, berbentuk
bulat atau lonjong, berwarna putih keabu-abuan, dengan permukaan licin dan
agak bening karena mengandung banyak cairan.
Gejala klinis  Hidung tersumbat
 Gangguan penciuman (hiposmia atau anosmia)
 Rinore encer
 Post nasal drips
 Sakit kepala
 Snoring
 Rinolali oklusi (suara sengau)
Tatalaksana  Kortikosteroid : metilprednisolone dengan dosis total 570mg yg
dibagi dalam beberapa dosis yaitu 60mg/hari selama 4 hari kemudian
dilakukan tapering off 5mg perhari. Pemberian kortikosteroid tidak
boleh lebih dari 4 kali dalam setahun.
 Antibiotic dapat diberikan untuk mencegah terjadinya infeksi atau
jika tampak tanda-tanda infeksi.
 Pengobatan alergi jika penyebab timbulnya polip adalah alergi
 Tindakan operatif

DEVIASI SEPTUM

Definisi Pergeseran dari septum nasi yang dapat menyebabkan obstruksi nasi
Klasifikasi  Simple deviasi : bentuk deviasi yang hanya ke satu sisi.
 Krista : bila memanjang dari depan ke belakang
 Spina : bila sangat runcing dan pipih
 Sinekia : bila deviasi melekat pada konka
 Sigmoid deviasi : bila bentuk deviasi berganda pada kedua sisi

Gejala klinis Obstruksi nasal unilateral atau bilateral, cephalgia, sumbatan ostium sinus
paranasalis
epistaksis

Tata laksana Tidak ada tanda dan gejala : tidak dilakukan tindakan operatif
Operatif : reseksi submucosa (SMR), reposisi septum

RHINOLITH
Definisi Suatu benda asing yang besar yang ditemukan dalam rongga hidung.
Gejala klinis  Hidung tersumbat
 Epistaksis
 Blood stained rhinorea
Tatalaksana  Operatif : surgical removal dari rhinolith

RINITIS ALERGI
Definisi Suatu penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien
atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan allergen yang sama.
Klasifikasi  Berdasarkan klinis :
 RA musiman
 RA sepanjang waktu
 Berdasarkan WHO :
 Durasi :
Intermitten : gejala < 4 hari/minggu atau < 4 minggu/tahun
Persisten : gejala > 4 hari/minggu dan > 4minggu/tahun
 Derajat beratnya penyakit
Ringan : tidur normal, aktivitas sehari-hari dan saat santai
normal, bekerja dan sekolah normal, tidak ada keluhan yang
mengganggu.
Sedang – berat : tidur terganggu, aktivitas sehari-hari dan saat
santai terganggu, masalah saat bekerja dan sekolah, ada
keluhan yang mengganggu.
Gejala klinis Bersin berseri, rinore yang banyak dan encer, hidung tersumbat, hidung
dan mata gatal, lakrimasi.
Gejala spesifik meliputi :
 Allergic salute : menggosok hidung dengan punggung tangan.
 Allergic crease : timbulnya garis melintang di dorsum nasi
sepertiga bagian bawahakibat penggosokan hidung yang
berlangsung lama
 Allergic Shiner : terdapatnya bayangan gelap didaerah bawah
mata akibat statis vena yang terjadi akibat obstruksi hidung
Pemeriksaan Rinoskopi anterior – Nasoendoskopi
Mukosa konka edema, berwarna pucat dan disertai secret encer yang
banyak. Bila gejala persisten mukosa inferior akan tampak hipertrofi.
Penatalaksanaan  Menghindari kontak dengan allergen penyebab dan eliminasi
 Medikamentosa
 Antihistamin
 Dekongestan
 Kortikosteroid
 Antikolinergik
 Operatif : konkotomi jika konka inferior hipertrofi berat dan tidak
berhasil dikecilkan dengan cara kauterisasi AgNO3 25% atau
triklorasetat
RINITIS VASOMOTOR
Definisi Suatu gangguan fisiologik lapisan mukosa hidung yang disebabkan oleh
bertambahnya aktivitas parasimpatis
Faktor  Obat yang menghambat saraf simpatis (ergotamine, metil dopa)
predisposisi  Factor fisik (iritasi asap rokok, udara yang dingin, kelembaban
yang tinggi, bau yg merangsang).
 Factor endokrin (keadaan hamil, hipotiroid, pubertas).
 Factor psikis (cemas, stress, tegang, emosi)
Gejala klinis  Obstruksi nasi bergantian kiri dan kanan
 Rinore (mukus dan serous)
 Post nasal drip
 Bersin (jarang) dan tidak gatal pada mata
 Gejala memburuk pada pagi hari karena perubahan suhu yang
ekstrim
Pemeriksaan Rinoskopi anterior
 Edema konka, konka berwarna merah gelap atau merah tua tetapi
dapat pula pucat
 Permukaan konka bias licin ataupun berbenjol
 Secret serous atau mukus
Tatalaksana  Menghindari faktor predisposisi
 Medikamentosa : dekongestan, antihistamin, kortikosteroid nasal
spray (betamethasone diproprionate)
 Operatif (konkotomi)

RINITIS MEDIKAMENTOSA
Definisi Gangguan respon normal vasomotor sebagai akibat pemakaian
vasokonstriktor topikal (obat tetes hidung / semprot hidung) dalam waktu
lama dan berlebihan
Gejala klinis Hidung tersumbat terus menerus dan berlebihan
Pemeriksaan Edema konka dengan secret hidung yang berlebihan.
Tata laksana  Hentikan pemberian obat tetes atau obat semprot hidung
 Pemberian kortikosteroid oral dosis tinggi jangka pendek dan di
tapering off sebanyak 5mg perhari.
 Dekongestan oral (mengandung pseudonefrin)

RINITIS SIMPLEKS
Definisi Penyakit hidung yang disebabkan oleh virus (rhinovirus merupakan
virus tersering) dan paling sering ditemukan pada manusia. Disebut juga
sebagai salesma, common cold, flu.
Gejala klinis  Pada stadium prodromal yang berlangsung beberapa jam
didapatkan rasa panas, kering dan gatal didalam hidung.
 Kemudian akan timbul bersin berulang, hidung tersumbat, ingus
encer, yang biasanya disertai dengan demam dan nyeri kepala.
 Bila terjadi infeksi sekunder bakteri ingus akan menjadi
mukopurulen.
Pemeriksaan fisik Mukosa hidung tampak merah dan membengkak.
Tata laksana  Istirahat
 Pemberian obat-obatan simptomatis
 Pemberian antibiotik jika terjadi infeksi sekunder

RINITIS HIPERTROFI
Definisi Penyakit infeksi hidung yang ditandai dengan adanya perubahan
mukosa hidung pada konka inferior yang mengalami hipertrofi karena
proses inflamasi kronis.
Gejala kronis Sumbatan hidung, mulut kering, nyeri kepala dan gangguan tidur.
Sekret biasanya banyak dan mukopurulen.
Pemeriksaan fisik  Ditemukan konka hipertrofi terutama konka inferior.
Permukaannya berbenjol-benjol karena mukosanya yang juga
hipertrofi.
 Sekret mukopurulen dapat ditemukan diantara konka inferior
dan septum dan juga dasar rongga hidung.
Tata laksana Kaustik konka dengan nitras argenti atau trikloroasetat atau dengan
kauter listrik.

RINITIS ATROFI
Definisi Infeksi hidung kronik yang ditandai dengan adanya atrofi progresif
pada mukosa dan tulang konka.
Gejala klinis Napas berbau, ingus kental yang berwarna hijau, krusta hijau,
gangguan penghidu, hidung terasa tersumbat, sakit kepala.
Pemeriksaan fisik Rongga hidung sangat lapang, konka inferior menjadi atrofi atau
hipotrofi, adanya secret purulrn dan krusta yang berwarna hijau.
Tata laksana  Pengobatan konservatif
 Antibiotic spectrum luas atau sesuai dengan uji
resistensi kuman dengan dosis yang adekuat.
 Cuci hidung
 Tindakan operatif bila dengan terapi konservatif tidak
memberikan perbaikan.

RINITIS DIFTERI
Definisi Penyakit yang disebabkan oleh Crynebacterium diphteriae dapat terjadi
primer pada hidung atau sekunder dari tenggorok.
Gejala klinis Demam, toksemia, limfadenitis dan mungkin paralisis otot pernapasan.
Pada hidung ada ingus bercampur darah. Jika perjalanan penyakit menjadi
kronik gejala yang ditimbulkan bias menjadi lebih ringan
Pemeriksaan fisik Mungkin ditemukan pseudomembran putih yang mudah berdarah, krusta
coklat di nares anterior dan rongga hidung
Tata laksana Anti difteri serum, penisilin lokal dan intramuscular, pasien harus
diisolasi sampai hasil pemeriksaan kuman negative.

RINITIS JAMUR

Definisi Penyakit inflamsi hidung yang disebabkan oleh jamur.
Klasifikasi  Tipe invasif ditandai dengan ditemukannya hifa jamur pada
lamina propria
 Tipe non-invasif dapat menyerupai rinolit dengan inflamasi
mukosa yang lebih berat
Gejala klinis Dapat terjadi bersama dengan sinusitis
Pemeriksaan fisik Secret mukopurulen, mungkin terlihat ulkus atau perforasi pada septum
disertai dengan jaringan nekrotik berwarna kehitaman (black eschar)
Tata laksana  Tipe non-invasif : mengangkat seluruh gumpalan jamur,
pemberian obat jamur sistemik maupun topical tidak diperlukan.
 Tipe invasif : pemberian antijamur oral dan topical, cuci hidung
dan pembersihan hidung secara rutin dilakukan untuk mengangkat
krusta. Terkadang diperlukan debridement seluruh jaringan
nekrotik dan tidak sehat.

RINITIS TUBERKULOSA

Definisi Merupakan kejadian infeksi tuberkulosa ekstra pulmoner
Gejala klinis Secret mukopurulen dan krusta sehingga menimbulkan keluhan hidung
tersumbat.
Pemeriksaan fisik Berbentuk noduler atau ulkus terutama mengenai tulang rawan septum
dan dapat mengakibatkan perforasi
Tata laksana Antituberkulosis dan obat cuci hidung
RINITIS SIFILIS
Definisi Penyakit infeksi hidung yang disebabkan kuman Treponema pallidum.
Gejala klinis Gejala serupa rhinitis akut
Pemeriksaan  Pada rhinitis sifilis primer dan sekunder terlihat adanya bitnik atau
bercak pada mukosa.
 Pada rhinitis sifilis tersier dapat ditemukan gumma atau ulkus
yang terutama mengenai septum nasi dan dapat mengakibatkan
perforasi septum.
Tata laksana Antibiotic golongan penisilin dan obat cuci hidung.

MYIASIS HIDUNG
Definisi Penyakit yang disebabkan oleh adanya infestasi larva lalat dalam hidung.
Gejala klinis Hidung dan muka manjadi bengkak dan merah, dapat meluas ked ahi dan
bibir. Terjadi obstruksi hidung sehingga bernapas melalui mulut dan suara
sengau. Dapat menjadi epistaksis dan mungkin ada ulat yang keluar dari
hidung. Secret purulent dan berbau busuk.
Pemeriksaan fisik Terlihat banyak jaringan nekrotik pada rongga hidung, adanya ulserasi
membrane mukosa dan perforasi septum
Tata laksana Antibiotic spectrum luas yang sesuai kultur. Pemakaian klorofrom dan
minyak terterpentin dengan perbandingan 1:4, diteteskan kedalam rongga
hidung dilanjutkan pengangkatan ulat secara manual.
PENYAKIT SINUS

SINUSITIS
Definisi Peradangan dari mukosa sinus paranasalis
Klasifikasi  Sinusitis akut : gejala berlangsung beberapa hari sampai 4 minggu.
 Sinusitis subakut : gejala berlangsung 4 minggu sampai 3 bulan.
 Sinusitis kronik : gejala berlangsung > 3 bulan
Gejala klinis  Sinusitis akut : Demam, sakit kepala, lesu, ingus kental yang
berbau dan dirasakan mengalir ke daerah nasofaring, hidung
tersumbat, rasa nyeri pada sinus yang terinfeksi, kadang
didapatkan nyeri alih.
 Sinusitis subakut : gejala klinis sama dengan sinusitis akut hanya
tanada-tanda radang akut sudah reda seperti demam, sakit kepala,
dan nyeri tekan.
 sinusitis kronik : sakit kepala terutama pagi hari dan berkurang
setelah siang hari, secret dihidung, post nasal drips, batuk kronik.
Gejala spesifik sinusitis
Maksila  Nyeri pada daerah rahang atas, kadang menyebar
ke gigi dan gusi. Nyri dapat dipicu oleh batuk
atau mengunyah. Nyeri juga dapat menjalar ke
region supraorbital ipsilateral dan dapat
menstimulasi terjadinya infeksi sinus frontalis.
 Nyeri tekan region maksilaris
 Bengkak dan hiperemi pada pipi
Frontalis  Sakit kepala region frontal. Terlokalisasi pada
daerah sinus.
 Nyeri tekan pada dahi.
 Bengkak pada kelopak mata atas.
Etmoid  Nyeri pada pamgkal hidung. Diperberat dengan
pergerakan bola mata.
 Bengkak pada kelopak mata.
 Sinusitis etmoid biasanya disertai infeksi pada
sinus lainnya.
Sphenoid  Sakit kepala terutama pada vertex, oksipital,
belakang bola mata.
 Post nasal discharge

Tatalaksana  Sinusitis akut :
 Antibiotik 10-14 hari
 Dekongestan lokal berupa obat tetes hidung
 Analgesic untuk menghilangkan nyeri
 Sinusitis subakut :
 Pungsi dan irigasi sinus untuk sinus maksilaris
 Tindakan pencucian Proetz
 Sinusitis kronik :
 Antibiotic kurang lebih 2 minggu
 Tindakan pembedahan