You are on page 1of 29

BAB 1

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS
Nama : Ny. S
No. RM : 239042
Tempat tanggal lahir : 18 Mei 1988
Umur : 30 tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Tanggal MRS : 18 Desember 2018
Alamat : Jalan Kampung Tangnga

B. ANAMNESIS
Keluhan Utama :
Ingin menggunakan alat kontrasepsi implan.
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke poliklinik kandungan RS Haji Makassar utnuk melakukan
pemasangan kontrasepsi implan. Pasien baru saja melakukan persalinan
normal 1 hari sebelumnya yang ditolong oleh bidan. Saat ini pasien tidak
memiliki keluhan apapun pasca persalinan. Pasien mengaku tertarik untuk
menggunakan kontrasepsi implan setelah mendengar penjelasan dari dokter,
pasien merasa sudah cukup dengan 2 anak dan belum merencanakan untuk
hamil lagi. Riwayat penggunaan alat kontrasepsi sebelumnya (-). Riwayat
persalianan normal anak pertama pada tahun 2015. Riwayat penyakit
hipertensi (-) DM (-) dan penyakit lainnya (-).

1
Riwayat Penyakit Dahulu :
• Riwayat infeksi kandungan dan genitalia disangkal.
 Riwayat hipertensi (-), asma (-), DM (-).

Riwayat Penyakit Keluarga :


 DM disangkal.
 Asma disangkal.

Riwayat Alergi :
 Obat-obatan disangkal
 Makanan disangkal

Riwayat Psikososial :
 Merokok disangkal
 Alkohol disangkal

Riwayat Perkawinan :
 Perkawinan pertama pada usia 25 tahun, masih kawin.
 Lama kawin ±5 tahun

Riwayat Haid :
 Menarche usia 15 tahun
 Frekuensi haid : lamanya 7 hari, siklus 28 hari teratur dan tidak sakit.

Riwayat KB :
 Tidak pernah menggunakan KB sebelumnya.

2
Riwayat Persalinan:

N Tempat Jenis Anak


Penolong Thn Aterm Penyulit
o bersalin persalinan JK BBL Keadaan
2700
1. RS Bidan 2015 Aterm PPN - Lk Hidup
gr

C. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda Vital
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 75 x/menit
Respirasi : 24 x/menit
Suhu : 36,7oC
Antropometri
Berat badan : 59 kg
Tinggi badan : 150 cm
IMT : 26,22 kg/m2 (Obes 1)

Status generalis
- Kepala : Normocephal, deformitas (-)
- Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor
, reflex cahaya (+/+)
- Hidung : Septum deviasi (-), sekret (-/-)
- Mulut : Mukosa oral basah, lidah kotor (-), tremor (-), faring
hiperemis (-)
- Leher : Pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-)
 Pemeriksaan Thorax
 Paru
Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris
Palpasi : Vokal Fremitus kanan dan kiri simetris

3
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : Vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)
 Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis tidakteraba
Perkusi : Batas atas : ICS III linea parasternalis sinistra
Batas kanan : ICS IV linea sternalis dextra
Batas kiri : ICS V linea midclavicularis sinistra
Auskultasi : Bunyi Jantung I dan II murni reguler, murmur (-),
gallop (-)
 Pemeriksaan Abdomen
 Cembung (+) , Striae gravidarum (+),nyeri tekan abdomen (-),
tympani (+), bising usus (+) dalam batas normal
- Ekstremitas
 Edema (-/-), turgor kulit baik, akral hangat, sianosis (-), CRT < 2
detik

D. PEMERIKSAAN OBSTETRI
Pemeriksaan Luar
 Uterus : TFU 2 jari bawah pusat
 Kontraksi : baik
 MT/NT : -/-
 Lochea : rubra

Pemeriksaan Dalam
Vaginal Toucher
 V/V : Tidak ada kelainan/tidak ada kelainan
 Portio : lunak, nyeri goyang (-)
 OUE/OUI: terbuka/tertutup
 Uterus : antefleksi

4
 Adnexa : massa (-)
 Cavum douglasi : tidak menonjol
 Pelepasan : darah (+) jaringan (-)

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Tidak dilakukan.
F. RESUME
Ny. S pasien P2A0, post partum hari pertama datang ke poliklinik
kandungan untuk melakukan pemasangan kontrasepsi implan. Keluhan pasca
persalinan (-). Pasien merasa sudah cukup dengan 2 anak dan belum
merencanakan untuk hamil lagi. Pasien belum pernah menggunakan kontrasepsi
sebelumnya. Riwayat persalianan normal anak pertama pada tahun 2015.
Pada pemeriksaan fisis pasien, keadaan umum baik, pasien obesitas dengan
IMT 26,22 kg/m2. Pada pemeriksaan obstetri pemeriksaan luar didapatkan tinggi
fundus uteri (TFU) 2 jari di bawah pusat, lochea rubra. Pada pemeriksaan dalam
vagina didapatkan, OUE terbuka, OUI tertutup, uterus anteflexi, disertai
pelepasan darah.

G. DIAGNOSIS
Post partum hari I + akseptor kb implan

H. PENATALAKSANAAN
 Pemasangan kontrasepsi implan, dengan langkah-langkah:
1) Informed consent mengenai prosedur pemasangan implan
2) Pastikan pasien telah mencuci lengannya sebersih mungkin
menggunakan sabun dan air.
3) Posisikan lengan pasien dengan benar.
4) Tentukan tempat pemasangan pada bagian dalam lengan atas, dengan
mengukur 8 cm diatas lipatan siku.
5) Beri tanda pada tempat pemasangan dengan pola kipas untuk memasang
dua kapsul implan.

5
6) Buka peralatan steril dari kemasannya letakkan pada wadah steril.
7) Cuci tangan dengan air dan sabun, keringkan dengan kain bersih.
8) Pakai sarung tangan steril.
9) Usap tempat pemasangan dengan larutan antiseptik, gerakan kearah luar
sentrifugal seluas 8-13 cm dan biarkan kering.
10) Pasang kain penutup (doek) steril atau DTT di sekeliling lengan pasien.
11) Suntikkan anestesi lokal 0,3-0,5 intradermal pada tempat insisi yang
telah ditentukan, sampai kulit sedikit menggelembung dan teruskan
penusukan jerum ke lapisan subdermal kurang lebih 4 cm dan suntikan
masing-masing 1 cc diantara pola pemasangan nomor 1 dan 2.
12) Uji efek anestesinya sebelum melakukan insisi pada kulit.
13) Buat insisi dangkal selebar 2 mm dengan scalpel.
14) Masukkan trokar dan pendorongnya melalui tempat insisi dengan sudut
,yang tidak terlalu dalam sambil mengungkit kulit, sampai batas tanda 1
(pada pangkal trokar) tepat berada pada luka insisi.
15) Masukkan kapsul sambil menarik trokar dan pendorongnya sampai
batas tanda 2 (pada ujung trokar) terlihat pada luka insisi.
16) Setelah kapsul terpasang, arahkan kembali trokar 15 derajat mengikuti
tanda yang telah dibuat untuk memasang kapsul lainnya.
17) Raba kapsul untuk memastikan kedua kapsul implan telah terpasang.
18) Tekan pada tempat insisi dengan kasa untuk menghentikan perdarahan.
19) Dekatkan ujung-ujung insisi dan tutup dengan band-aid dan beri
pembalut tekan untuk mencegah perdarahan dan mengurangi memar.
20) Beri petunjuk pada pasien cara merawat luka.
21) Letakkan semua peralatan dalam larutan klorin untuk dekontaminasi.
22) Buang peralatan yang sudah tidak dipakai lagi ke tempatnya (kasa,
kapas, sarung tangan,/alat suntik sekali pakai)
23) Cuci tangan dengan sabun dan air, kemudian keringkan dengan kain
bersih.
24) Lakukan observasi selama 5 menit sebelum memperbolehkan pasien
pulang.

6
Gambar 1. Pemasangan implan Ny. S

 Asam mefenamat 500 mg 3x1


 SF 1x1

J. PROGNOSIS
Qua ad vitam : bonam
Qua ad sanationam : bonam
Qua ad functionam : bonam

7
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Kontrasepsi
Kontrasepsi diartikan sebagai suatu metode atau sistem yang mana
memungkinkan terjadinya hubungan seksual namun mencegah adanya konsepsi.
Kontrasepsi merupakan usaha-usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan.
Usaha-usaha itu dapat bersifat sementara dan permanen. Kontrasepsi ini dikatakan
bersifat sementara ketika efektivitasanya dalam mencegah kehamilan bertahan
selama pasangan tetap menggunakan metode tersebut dan fertilitasnya akan segera
kembali atau dalam beberapa bulan setelah penghentiannya. Sedangkan
kontasepsi permanen berupa tindakan operatif yakni tubektomi pada wanita dan
vasektomi pada pria.1

B. Epidemiologi
Seorang perempuan menjadi subur dan dapat melahirkan segera setelah
haid yang pertama (menarke), dan kesuburan seorang perempuan akan terus
berlangsung sampai mati haid (menopause). Kehamilan dan kelahiran yang
terbaik, artinya risiko paling rendah untuk ibu dan anak, adalah antara 20-35 tahun
sedangkan persalinan pertama dan kedua paling rendah risikonya bila jarak antara
dua kelahiran adalah 2-4 tahun.2
Jika pasangan seksual yang dianggap subur tidak menggunakan
kontrasepsi, sekitar 90% wanita akn hamil dalm 1 tahun. Saat ini belum ada
metode yang kuat dan efektif untuk mengatur fertilitas . belum ada metode
kontrasepsi yang mutlak aman dan tidak ada yang tidak memiliki efek samping,
namun tidak adanya kontrasepsi bahkan lebih membahayakan. Dari data WHO,
didapatkan bahwa diseluruh dunia terjadi lebih dari 100x10(6) senggama setiap
harinya dan terjadi 1 juta kelahiran baru per hari dimana 50% di antaranya tidak
direncanakan dan 25% tidak diharapkan. Dari 150.000 kasus abortus provokatus
yang terjadi per hari, 500.000 di antaranya abortus ilegal dan lebih dari 500
perempuan meninggal akibat komplikasi abortus tiap harinya.2,3

8
Gambar 2. Perencanaan keluarga2

C. Jenis-jenis Kontrasepsi

Gambar 3. Teknik kontrasepsi berdasarkan area kerjanya1

9
Kontrasepsi Non Hormonal
1) Kontrasepsi Tanpa Menggunakan Alat/Obat2
- Senggama Terputus (Koitus Interruptus)
Senggama terputus adalah penarikan penis dari vagina sebelum terjadi
ejakulasi. Hal ini didasarkan pada kenyataan , bahwa akan terjadi ejakulasi
disadari sebelumnya oleh bagian terbesar pria, dan setelah itu masih ada waktu
kira-kira 1 detik sebelum ejakulasi terjadi. Waktu yang singkat ini dapat
digunakan untuk penarikan penis keluar dari vagina. Keuntungan cara ini, tidak
membutuhkan biaya, alat-alat maupun persiapan, akan tetapi kekurangannya
bahwa untuk mensukseskan cara ini dibutuhkan pengendalian diri yang besar
dari pihak pria. Efektivitas cara ini dianggap kurang, kegagalan cara ini
disebabkan oleh:
Adanya pengeluaran cairan mani sebelum ejakulasi (preejaculatory
fluid) yang dapat mengandung sperma, apalagi pada koitus berulang
a. Terlambatnya pengeluaran penis dari vagina, dan
b. Pengeluaran semen dekat pada vulva (petting) dapat menyebabkan
kehamilan, oleh karena adanya hubungan antara vulva dan kanalis
servikalis uteri melalui benang lendir serviks uteri yang pada masa
ovulasi.

- Pembilasan Pascasanggama (Postcoital Douche)


Pembilasan vagina dengan air biasa atau tanpa larutan obat (cuka atau
obat lain) segera setelah koitus merupakan cara yang sudah lama dilakukan
untuk tujuan kontra sepsi. Maksudnya adalah untuk mengeluarkan sperma
secara mekanik dari vagina. Penambahan cuka ialah untuk memperole efek
spermisid serta menjaga asiditas vagina. Efektivitas cara ini kemungkinan
mengurangi kemungkinan terjadinya konsepsi hanya dalam batas-batas
tertentu, karena sebelum pembilasan dapat dilakukan, spermatozoa dalam
jumlah besar sudah memasuki serviks uteri.

- Perpanjangan Masa Menyusui Anak (Prolonged Lactation)

10
Sepanjang sejarah perempuan mengetahui bahwa kemungkinan untuk
menjadi hamil menjadi lebih kecil apabila mereka terus menyusui anaknya
setelah melahirkan. Maka memperpanjang masa laktasi sering dilakukan
untuk mencegah kehamilan. Efektivitas menyusui anak dapat mencegah
ovulasi dan memperpanjang amenorea postpartum.

- Pantang Berkala (RhythmMethod)


Masa subur disebut juga fase ovulasi mulai 48 jam sebelum ovulasi
dan berakhir 24 jam setelah ovulasi. Cara ini dipermudah dengan
menggunakan tabel dan efektifitasnya akan lebih tinggi jika dibarengi
pemeriksaan suhu basal badan. Menjelang ovulasi suhu basal akan menurun,
kurang dari 24 jam sesudah ovulasi suhu badan naik lagi sampai tingkat lebih
tinggi daripada tingkat sebelum ovulasi, dan tetap tinggi sampai akan
terjadinya haid.

2) Kontrasespsi Sederhana untuk Laki-laki2


- Kondom
Prinsip kerja kondom ialah sebagai perisai dari penis sewaktu
melakukan koitus, dan mencegah tumpahnya sperma dalam vagina. Bentuk
kondom adalah silindris dengan pinggir yang tebal pada ujung yang terbuka,
sedang ujung yang buntu berfungsi sebagai penampung sperma. Kondom
dilapisi dengan pelicin yang mempunyai sifat spermatisid. Selain untuk tujuan
kontrasepsi juga dapat memberi perlindungan terhadap penyakit kelamin.
Kekurangannya ialah ada kalanya pasangan yang mempergunakannya
merasakan selaput karet tersebut sebagai penghalang dalam kenikmatan
sewaktu melakukan koitus. Sebab-sebab kegagalan memakai kondom ialah
bocor atau koyaknya alat itu atau tumpahnya sperma yang disebabkan oleh
tidak dikeluarkannya penis segera setelah terjadi ejakulasi. Efek sampingan
kondom tidak ada, kecuali jika ada alergi terhadap bahan untuk membuat
karet. Efektivitas kondom ini tergantung dari mutu kondom dan dari ketelitian
dalam penggunaannya.

11
3) Kontrasepsi Sederhana (Simple Method) untuk Perempuan2
- Pessarium
Diafragma Vaginal
Diafragma vaginal terdiri atas kantong karet yang dimasukkan ke
dalam vagina sebelum koitus untuk menjaga jangan sampai sperma masuk ke
dalam uterus. Kekurangan khasiat diafragma vaginal ialah : 1) diperlukan
motivasi yang cukup kuat; 2) umumnya hanya cocok untuk wanita yang
terpelajar dan tidak untuk dipergunakan secara massal; 3) pemakaian yang
tidak teratur dapat menimbulkan kegagalan; 4) tingkat kegagalan lebih tinggi
daripada pil atau AKDR. Keuntungan cara ini ialah : 1) hampir tidak ada efek
sampingan; 2) dengan motivasi yang baik dan pemakaian yang betul, hasilnya
cukup memuaskan; 3) dapat dipakai sebagai pengganti pil atau AKDR pada
wanita-wanita yang tidak boleh mempergunakan pil atau AKDR oleh karena
suatu sebab.

4) Kontrasepsi dengan Obat-obat Spermatisida


Obat spermatisida yang dipakai untuk kontrasepsi terdiri atas 2
komponen, yaitu zat kimiawi yang mampu mematikan spermatosoon, dan
vehikulum yang nonaktif dan yang dipergunakan untuk membuat tablet atau
cream/jelly. Makin erat hubungan antara zat kimia dan sperma, makin tinggi
efektivitas obat. Oleh sebab itu, obat yang paling baik ialah yang dapat
membuat busa setelah dimasukkan ke dalam vagina, sehingga kelak busanya
dapat mengelilingi serviks uteri dan menutup ostium uteri eksternum. Cara
kontrasepsi dengan obat spermatisida umumnya digunakan bersama-sama
dengan cara lain (diafragma vaginal), atau apabila ada kontraindikasi terhadap
cara lain. Efek sampingan jarang terjadi dan umumnya berupa reaksi alergi.

12
Kontrasepsi Hormonal
Di bawah pengaruh hipotalamus, hipofisis mengeluarkan follicle
Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH). Hormone-hormon
ini dapat merangsang ovarium untuk membuat estrogen dan progesterone, yang
dapat menumbuhkan endometrium pada waktu daur haid, dalam keseimbangan
tertentu menyebabkan ovulasi dan akhirnya penurunan kadarnya mengakibatkan
disintegrasi endometrium dan haid.2

1) Pil Kontrasepsi 2
 Pil Kontrasepsi Kombinasi
Pil kontrasepsi kombinasi yang sekarang digunakan tidak berisi
esterogen dan progesteron alamiah, melainkan steroid sintetik. Ada dua jenis
progesteron sintetik yang dipakai, yaitu yang berasal dari 19 nor-testosteron,
dan yang berasal dari 17 alfa-asektosi-progesteron. Derivat dari 19 nor-
testosteron yang sekarang banyak dipergunakan untuk pil kontrasepsi adalah
noretinodrel, norethindron asetat, etinodiol, diasetat, dan norgestrel. Esterogen
yang banyak dipakai untuk pil kontrasepsi ialah etinil estradiol dan mestranol.
Zat ini masing-masing mempunyai ethynil group pada atom C 17. Ethynil group
yang berada pada atom C 17 ini, khasiatnya meninggi jika dimakan per os oleh
karena zat-zat tersebut tidak mudah atau tidak seberapa cepat diubah sewaktu
melalui sistem portal, berbeda dari steroid alamiah. Steroid sintetik mempunyai
potensi yang lebih tinggi per unit dibandingkan dengan steroid alamiah kalau
ditelan per os.
Mekanisme Kerja
Pil-pil kontrasepsi terdiri atas komponen estrogen dan komponen
progestagen, atau oleh satu dari komponen hormon ini. Komponen dalam pil
menekan sekresi FSH menghalangi maturasi folikel dalam ovarium, karena
pengaruh dari estrogen dari ovarium terhadap hipofisis tidak ada, maka tidak
ada pengeluaran LH. Pertengahan siklus haid kadar FSH rendah dan tidak
terjadi peningkatan kadar LH, sehingga menyebabkan ovulasi terganggu.
Komponen progesteron menyebabkan lendir serviks menjadi lebih kental,

13
kapasitas spermatozoon terganggu, dan efek antiesterogenik terhadap
endometrium. Adapun estrogen dalam dosis tinggi dapat pula mempercepat
perjalanan ovum yang akan menyulitkan terjadinya implantasi dalam
endometrium dari ovum yang sudah dibuahi. Komponen progestagen dalam pil
kombinasi seperti disebut di atas memperkuat kerja estrogen untuk mencegah
ovulasi.

Kontraindikasi
- Kontraindikasi mutlak: termasuk adanya tumor-tumor yang dipengaruhi
estrogen, penyakit hati yang aktif, baik akut maupun menahun; pernah
mengalami trombo-flebitis, trombo-emboli kelainan serebro-vaskuler;
diabetes mellitus, dan kehamilan.
- Kontraindikasi relatif: depresi, migrain, mioma uteri, hipertensi,
oligomenorea, dan amenorea. Pemberian pil kombinasi kepada perempuan
yang mempunyai kelainan tersebut di atas harus diawasi secara teratur dan
terus-menerus, sekurang-kurangnya tiga bulan sekali.

 Pil Sekuensial
Pil diminum pertama mengandung hanya estrogen untuk 14-16 hari,
disusul dengan pil yang mengandung estrogen dan progesteron untuk 5-7 hari.

 Mini-pill
Mini pill bekerja dengan efek utamanya adalah mempengaruhi
kekentalan lender serviks, dan juga terhadap endometrium, sehingga nidasi
blastokista tidak terjadi. Dalam pemakaian mini pill terkadang ovulasi masih
terjadi.

 Postcoital Contraception
Merupakan kontrasepsi yang berisikan estrogen dietilstribsterol
berbentuk pil. Kontrasepsi ini dapat menghalangi implantasi blastokista dalam
endometrium.

14
 Amenorea Pascapil
Pil yang dapat yang menghambat gonadotropin releasing hormone dari
hipotalamus.

2) Kontrasepsi Suntikan (Depo Provera)2


 Suntikan setiap tiga bulan (Depo provera)
Depo Provera ialah 6-alfa-medroksiprogesteron yang digunakan untuk
tujuan kontrasepsi parenteral, mempunyai efek progestagen yang kuat dan
sangat efektif. Kontrasepsi Depo disuntikkan dalam dosis 150 mg/cc) sekali 3
bulan. Suntikan harus di intramuskulus dalam. Mekanisme kerja :
a. Obat ini menghalangi terjadinya ovulasi dengan jalan menekan
pembentukan gonadotropin releasing hormone dari hipotalamus.
b. Lendir serviks bertambah kental, sehingga menghambat penetrasi sperma
melalui serviks uteri.
c. Implantasi ovum dalam endometrium dihalangi.
d. Mempengaruhi transpor ovum dituba.

3) Suntikan setiap bulan (Monthly injectable)2


Suntikan bulanan mengandung dua macam hormon progestin dan
estrogen seperti hormon alami pada tubuh perempuan, juga disebut sebagai
kontrasepsi suntikan kombinasi (combined injectable conraseptive). Preparat
yang dipakai adalah Medroxy Progesteron Asetat (MPA)/estradiol capronate
atau Norethisterone Enanthane (NET-ET) estradiol valerate.

15
Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) atau Intra Uterine Device (IUD)2
a. Mekanisme Kerja AKDR
Beberapa penelitian efek AKDR dalam cavum uteri ialah menimbulkan
reaksi peradangan endometrium yang disertai dengan sebukan leukosit yang
dapat mengahancurkan sperma, perubahan sifat-sifat dan isi cairan uterus yang
menyebabkan blastokista tidak dapat hidup dalam uterus, serta kontraksi uterus
yang dapat menghalangi nidasi diduga disebabkan oleh meningkatnya kadar
prostaglandin dalam uterus pada wanita tersebut.

b. Jenis-jenis AKDR

AKDR dapat dibagi dalam bentuk yang terbuka linear dan bentuk
tertutup sebagai cincin. Yang termasuk dalam golongan bentuk terbuka dan linear
antara lain adalah lippes loop yang paling banyak digunakan dalam program
keluarga berencana di Indonesia), saf-T coil, multi load 250, Cu-7, Cu-T, Cu T
380A, spring coil, marguiles spiral, dll. Sedang yang termasuk dalam golongan
bentuk tertutup dengan bentuk dasar cincin antara lain adalah Ota ring, antigon F,
Ragab ring, cincin grafenberg, cincin hall stone, birnberg bow, dll.

Keuntungan-keuntungan AKDR

1) Umumnya hanya memerlukan 1 kali pemasangan dan dengan demikian 1


kali motivasi.
2) Tidak menimbulkan efek sistemik.
3) Alat itu ekonomis dan cocok untuk penggunaan secara masal.
4) Efektivitas cukup tinggi.
5) Reversibel

Efek samping AKDR

1) Perdarahan: menoragia, spooting, metroragia.


2) Rasa nyeri dan kejang di perut
3) Rasa nyeri dan kejang diperut dapat terjadi segera setelah pemasangan
AKDR, biasanya rasa nyeri ini berangsur-angsur hilang dengan sendirinya.

16
4) Gangguan pada suami.
5) Kadang-kadang suami dapat merasakan adanya benang AKDR sewaktu
coitus akibat benang yang terlalu pendek atau terlalu panjang.

Komplikasi IUD

- Infeksi, dapat terjadi akibat perlatan yang digunakan dalam pemasangan IUD
yang tidak steril maupun infeksi subakut atau menahun pada traktus genitalis
sebelum pemasangan IUD.
- Perforasi, umumnya terjadi sewaktu pemasangan IUD walaupun bisa terjadi
pula kemudian. Ujung IUD saja yang menembus dinding uterus pada
permulaannya, tetapi lama kelamaan dengan adanya kontraksi uterus, IUD
terdorong lebih jauh menembus dinding uterus, sehingga akhirnya sampai ke
rongga perut.
- Kehamilan, yang timbul dengan IUD in situ, tidak akan mengakibatkan
kecacatan pada bayi oleh karena IUD terletak antara selaput ketuban dan
dinding rahim.

Waktu Pemasangan IUD

a. Sewaktu haid sedang berlangsung, dilakukan pada hari-hari pertama atau


pada hari-hari terakhir haid.
b. Sewaktu postpartum
- Secara dini (immediate insertion) yaitu IUD dipasang pada perempuan
yang melahirkan sebelum dipulangkan dari rumah sakit.
- Secara langsung (direct inserction) yaitu IUD dipasang dalam masa tiga
bulan setelah partus atau abortus.
- Secara tidak langsung (Indirect insertion) yaitu IUD dipasang sesudah
masa tiga bulan setelah partus atau abortus; atau pemasangan IUD
dilakukan pada saat yang tidak ada hubungan sama sekali dengan partus
atau abortus.
c. Sewaktu postabortum. IUD dipasang sebaiknya segera setelah abortus oleh
karena dari segi fisiologi dan psikologi waktu itu adalah paling ideal, namun

17
pada keadaan ditemukannya septic abortion, maka tidak dibenarkan
memasang IUD.
d. Sewaktu melakukan sectio sesarea

Cara pemasangan IUD

Kandung kencing dikosongkan terlebih dahulu, lalu akseptor dibaringkan


di atas meja ginekologik dalam posisi litotomi, kemudian dilakukan pemeriksaan
bimanual untuk mengetahui letak, bentuk, dan besar uterus. Spekulum
dimasukkan ke dalam vagina dan serviks uteri dibersihkan dengan larutan
antiseptik (merkurokrom atau tingtura jodii). Bibir cunan serviks dijepit dengan
porsio uteri, dan dimasukkan sonde uterus ke dalam uterus untuk menentukan
arah poros dan panjangnya kanalis servikalis serta kevum uteri. IUD dimasukkan
ke dalam uterus melalui osteum uteri eksternum sambil mengadakan tarikan
ringan pada cunan serviks. Insertor IUD dimasukkan ke dalam uterus sesuai
dengan arah poros kavum uteri sampai tercapai ujung atas kavum uteri yang telah
ditentukan lebih dahulu

Cara Mengeluarkan IUD

Mengelurakan IUD biasanya dilakukan dengan jalan menarik benang IUD


yang keluar dari Ostium Uteri Eksternum (OUE) dengan dua cara yaitu : dengan
pinset, atau dengan cunan jika benang IUD tampak di luar OUE. Benang yang
tidak tampak di luar OUE, keberadaan IUD dapat diperiksa melalui ultrasonografi
atau foto rontgen. IUD yang masih in situ dalam kavum uteri, IUD dapat
dikeluarkan dengan pengait IUD, kalau ternyata IUD sudah mengalami
translokasi masuk ke dalam rongga perut (cavum peritonii) pengangkatan IUD
dapat dilakukan dengan laparoskopi atau minilaparotomi.

18
Implan
a. Pengertian
Kontrasepsi merupakan upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan.2
Implan merupakan suatu metode kontrasepsi tersusun atas hormon progestin
berefektivitas tinggi dihasilkan dari satu atau lebih batang kapsul yang
ditempatkan secara subdermal. Progestin berdifusi dari dalam implan ke jaringan
sekitarnya melalui sistem sirkulasi namun dengan kadar yang lebih rendah
dibandingkan metode injeksi maupun oral.4 Metode kontrasepsi ini menjadi
pilihan yang tepat bagi wanita dengan kontraindikasi pemberian kombinasi
hormonal dan sebagai pilihan bagi wanita yang menginginkan pencegahan
kehamilan jangka panjang namun bersifat reversibel dengan cepat.5

b. Sejarah Implan6
Pada 1964 Folkman dan Long menerbitkan temuan mereka tentang
tabung silastik yang mengandung obat dimana dapat dilepaskan secara perlahan
dalam waktu yang lama. Dua tahun kemudian, Dziuk dan Cook menemukan
kapsul silastik in vitro dengan konsentrasi konstan. Segal dan Croxatto
menggabungkan prinsip-prinsip ini dengan memasukkan beberapa hormon steroid
ke dalam tabung. Ternyata kapsul silastik mengandung hormon steroid yang
dimasukkan di bawah kulit dapat melepaskan hormon selama lebih dari satu
tahun. Hasil penelitian ini menjadi konsep dasar pengembangan kontrasepsi
jangka panjang yang diletakkan di bawah kulit (implan).
Uji klinis implan subdermal pertama dimulai pada tahun 1968 di Santiago,
Chili. Tabung implan ini mengandung dimethylsiloxane (silastik atau silikon),
yang diisi chlormadinon asetat, suatu gestagen sintetik atau progestin. Tetapi uji
klinis telah gagal dan tidak lagi berlanjut karena ternyata chlormadinon asetat
bersifat toksik pada percobaan hewan.
Selanjutnya, dari 1970 hingga 1978 dilakukan seri uji klinis dari implan
batang tunggal hingga enam batang berisi megestrol asetat dilakukan di Chili,
India dan India Brazil. Penekanan studi adalah tentang seberapa lama implan
bekerja dan berapa banyak implan seharusnya disisipkan. Namun, uji klinis ini

19
tidak berlanjut karena kegagalan kontrasepsi ini pada kehamilan ektopik di
beberapa kasus. Kehamilan diduga karena kadar megestrol asetat tidak cukup kuat
untuk menghambat ovulasi. Asetat Megestrol juga terkait dengan insidensi
adneksa yang lebih tinggi dan kelainan jantung janin dalam penggunaan dosis
tinggi. Pada 1974 implan mengandung noretindron, norges-trienon, dan
levonorgestrel digunakan. Eksperimen menggunakan implan yang berisi empat
hingga enam implan noretindron juga tidak berdampak pada pembesaran hati.
Klinis enam implan uji coba menggunakan levonogestrel dan norgestrienon
ternyata bisa mencegah kehamilan lebih baik dengan tingkat retensi yang lebih
tinggi dalam penggunaannya, karena setelah implan dimasukkan saat siklus
menstruasi maka anovulasi akan terjadi selama beberapa bulan. Hasil laporan 5
tahun pertama penelitian di tahun-tahun awal 1980 menunjukkan bahwa implan
LNG diterima dengan baik dan dengan efek samping minimal.
Di akhir tahun 1980 - 1982 dilakukan uji klinis fase 3 lebih lanjut di
delapan negara yakni Kolombia, Ekuador, Mesir, India, Indonesia, Swedia,
Thailand, dan Amerika Serikat. Turku, Finlandia ditunjuk untuk membuat dan
memasarkan implan LNG, Norplant®. Norplant® terdiri dari enam kapsul.
Masing-masing 36 mg kapsul LNG sebagai bahan, dengan kapsul diameter 2,4
mm dan panjang 3,4 cm. Finlandia adalah yang pertama negara untuk menerima
dan menggunakan Norplant® sebagai metode kontrasepsi.
Pada 1984 - 1985 Norplant® mulai digunakan di Bangladesh, Cina, Nepal,
Filipina, Singapura, Sri Lanka, Ghana, Kenya, Nigeria, Haiti, dan Zambia. Pada
tahun 1985, Swedia menjadi negara kedua yang menerima dan menggunakan
Norplant®. Selanjutnya, pada tahun 1986 Indonesia, Thailand, Ekuador dan
Republik Dominika juga menggunakan Norplant® untuk Keluarga Berencana.
Beberapa tahun kemudian (pertengahan 1990) batang implan dengan
elastomer baru yang lebih lembut dikenal dengan nama Jadelle® (di Amerika)
atau Jadena® (di Indonesia) juga nulai tersedia. Uji klinis kemudian
membandingkan kapsul implan dan implan 6 - 2 batang, dilanjutkan. Hasilnya,
Jadelle® telah diakui oleh FDA pada tahun 1996, dan mulai dipasarkan pada

20
tahun 2001. Teknologi implan telah diubah sejak ini metode kontrasepsi pertama
kali diperkenalkan pada tahun 1983.
Tabung implan yang digunakan saat ini terbuat dari silikon elastomer,
membuatnya lebih lembut dan lebih fleksibel, karena menyebabkan kandungan
silikon lebih rendah. Kemajuan teknologi ini menyebabkan peningkatan
efektivitas sebagai implan kontrasepsi dan mempengaruhi jangka panjang lebih
rendah terhadaptingkat kehamilan. Ini tergantung pada jenis progestin traseptif
dan jenis polimer yang digunakan. Sejak 2002 Norplant® tidak digunakan lagi di
Amerika Serikat. Wyeth telah menghentikan distribusi Norplant® untuk masalah
penuntutan terkait dengan teknis kesulitan dalam ekstraksi karena kurangnya
terlatih tenaga kesehatan, meskipun di negara lain masih dalam tahap percobaan.
Disamping Norplant®, dimunculkan generasi kedua implan, yakni
Jadelle®, yang terdiri dari dua batang. Jadelle® juga dikembangkan oleh Dewan
Populasi dan diproduksi oleh Leiras Oy, dan sekarang oleh Schering AG, dengan
tujuan mengurangi jumlah implan ditempatkan. Sistem ini terbuat dari elastomer
dengan meningkatkan kemampuan pelepasan obat. Karena itu, dua batang
Jadelle® implan memiliki kemampuan yang sama efektivitasnya LNG dengan
enam kapsul, Norplant®. Jadelle® telah disetujui untuk digunakan selama lima
tahun di Amerika Serikat dan Indonesia, Eropa; di Indonesia digunakan selama
tiga tahun, dengan tingkat kehamilan kumulatif selama lima tahun terakhir tahun
adalah 1%. Baik Norplant® dan Jadelle® telah teruji mekanisme kerjanya yang
sama-sama untuk mencegah ovulasi dan kental lendir serviks.
Pada tahun 2000 sebuah Organon (Oss, The Netherland) mengembangkan
teknologi baru yang merupakan satu-satunya implan mengandung satu batang,
berisi progestin itu yakni Etonogestrel (ENG), diberi dengan nama Implanon®.
Implan ini masuk ke pasar internasional pada tahun 1998 dan diterima oleh FDA
pada tahun 2004. Implanon® efektif selama tiga tahun, dengan mekanisme utama
tindakan adalah penghambatan ovulasi. Sampai 2006, planon® terdaftar di lebih
dari 40 Asia dan Europa negara serta di Amerika Serikat dan telah digunakan oleh
lebih dari 2,5 juta wanita. Implanon® adalah satu-satunya implan yang masih

21
digunakan di USA. Jenis implan lain, seperti Nestorone implan® (Elkometrine®),
Uniplant®, dan Capronor®

c. Jenis-jenis Kontrasepsi5,6
1) Norplant®
Norplant® merupakan kontrasepsi implan generasi pertama yang
terdiri atas 6 kapsul. Masing-masing kapsul diisi dengan 36 mg levonogestrol
(LNG), berdiameter 2,4 mm dan panjang 3,4 cm. Kontrasepsi ini memiliki
lama kerja hingga 5 tahun.

Norplant I dan Norplant II

2) Jadena®/ Jadelle®/ Norplant II


Jadelle® merupakan generasi kedua setelah Norplant®. Kontrasepsi
ini terdiri atas 2 batang yang sama kemampuannya dengan 6 batang
Norplant®, serta dengan mekanisme kerja yang sama pula berupa mencegah
terjadinya ovulasi dan mngentalkan mukus serviks. Setiap batang
mengandung 70 mg LNG dimana sekitar 30 mcg hormon dilepaskan setiap
harinya dan bertahan selama 3-5 tahun. Di Amerika, Jadelle® memiliki lama
kerja hingga 5 tahun, sedangkan di Indonesia dikenal dengan nama Jadena®
yang digunakan selama 3 tahun.
3) Implanon®
Implanon® hanya tersusun atas satu batang yang mengandung
progestin dengan jenis yang berbeda yakni Etonogestrel (ENG). Implanon®
efektif digunakan selama 3 tahun, dengan mekanisme kerja utamanya dalam

22
menginhibisi proses ovulasi. Implan ini memiliki panjang 40 mm, berdiameter
2 mm, dan mengandung 67 mg desogestrel yang melepaskan hormon sekitar
30 mcg setiap harinya.

d. Mekanisme Kerja4
 Menekan ovulasi. Progestin yang dilepaskan implan setiap harinya melalui
mekanisme sentral menekan luteinizing hormone (LH) sehingga mencegah
terjadinya ovulasi.
 Pelepasan progesti secara terus-menerus memberi efek berkepanjangan
pada mukus serviks yang mana kemudian menjadi lebih kental dan
berkurang jumlahnya, membentuk barrier terhadap penetrasi sperma.
 Progestin menyebabkan atrofi endometrium sehingga mencegah terjadinya
implantasi.

e. Kelebihan Kontrasepsi Implan1


- Bersifat jangka panjang dan efektif.
- Coital-independent tanpa ada gangguan obat oral maupun frekuensi
injeksi.
- Insidensi kehamilan beragam antara 0,2-1,3 per 100 wanita per tahun.
Angka kegagalan tinggi pada wanita dengan obesitas dimana berat badan
melebihi 70 kg.
- Efek samping sistemik minimal, efek ke hati terhindari.
- Fertilitas dapat segera kembali.
- Aman digunakan oleh ibu menyusui dan pada wanita berusia lebih 40
tahun ke atas.

f. Kekurangan Kontrasepsi Implan1


- Menyebabkan perdarahan, siklus ireguler, dan terjadinya amenore seperti
halnya kontrasepsi progestogenik lainnya.
- Kehamilan ektopik dilaporkan pada 1,3% kasus.
- Dapat timbul infeksi lokal.

23
- Angka kegagalan (kehamilan) telah disebutkan diatas.
- Harga relatif mahal.
- Infertilitas didapatkan pada beberapa kasus.

g. Pemasangan Implan4
Konseling dan Skrining
Implan dapat dipasang kapapun sepanjang siklus menstruasi selama
kemungkinan kehamilan disingkirkan. Efektivitas terbaik dari kontrasepsi ini
jika dipasang dalam kurung waktu 7 hari pertama siklus menstruasi. Ketika
pemasangan melewati 7 hari, maka metode cadangannya dapat dilakukan
dalam waktu 3 hari selama mukus serviks menjadi viscid. Implan dapat
dipasang kapan saja pada pasien postpartum. Bagian dalam lengan atas
tangan yang tidak dominan merupakan area pemasangan terbaik. Hal ini
dikarenakan karena area tersebut disamping memudahkan petugas untuk
menjangkaunya, juga meminimalisir paparan terhadap pasien sehingga dapat
terlindungi dengan baik walaupun dengan aktivitas normal serta tidak terlihat.
Pergeseran implan dari area ini jarang terjadi. Informed consent sebelum
pemasangan dan pelepasan perlu dilakukan sebab derajat kecemasan dan
ketakutan setiap wanita berbeda-beda. Perlu diberikan penjelasan mengenai
prosedur pemasangan terutama mengenai insisi yang akan sangat kecil dan
dapat sembuh dengan cepat dan tidak mempengaruhi aktivitas sehari-hari
maupun menggu posisi implan serta diberikan dibawah pengaruh lokal
anestesi sehingga tidak akan terasa nyeri. Penjelasan lain mengenai waktu
pemasangan yang akan sangat cepat dan singkat, serta mengenai efek
setelahnya yang dapat timbul. Pasien dengan riwayat alergi terhadap produk-
produk yang akan digunakan selama pemasangan juga perlu diskrining.

Posisi dan tehnik pemasangan


Pasien dibaringkan dalam posisi supine, merotasikan lengan kearah
luar untuk memperlihatkan lengan atas. Area pemasangan dilakukan pada 6-8

24
cm proksimal ke arah medial dari epikondilus humeri membuat alur antara
biseps dan triceps. Memberi tanda pada kulit dapat membantu proses
pemasangan.

Area insersi implan7

- Injeksikan anestesi lokal dibawah kulit sepanjang area yang akan


dilakukan pemasangan.
- Konfirmasi adanya implan dengan mengecek ujung jarum.
- Masukkan jarum hingga menembus kulit pada sudut 20º dan jaga agar
jarum tetap berada pada bagian superfisial kulit dangan cara mengungkit-
ungkit kulit menggunakan ujung jarum.
- Setelah seluruh jarum telah masuk, patahkan segel dengan cara menekan
bagian obturatornya dan putar pada sudut 90º. Tahan obturatornya
menggunakan satu tangan dan tangan lainnya menarik jarum keluar.
- Konfirmasi pemasangan implan dengan melakukan palpasi pada area
pemasangan. Jaga agar area tersebut tetap bersih dan beri band-aid
selama 24-48 jam.

h. Pelepasan Implan4

25
Penelitian menunjukan umumnya waktu yang diperlukan untuk
pemasangan sekitar ±1,1 menit namun untuk pencabutan lebih panjang yakni
bisa sampai ±10 menit. Pemasangan yang baik menjadi kunci mudahnya
dilakukan pencabutan.

Posisi dan tehnik pelepasan


Pasien dalam posisi yang sama dengan saat pemasangan, palpasi dan
tentukan area implan secara jelas. Dengan menggunakan sarung tangan steril
dilakukan pemilihan area insisi secara hati-hati pada bagian distal dari kapsul.
Ini merupakan langkah terpenting untuk pelepasan yang mudah.
- Injeksi anestesi lokal pada area yang akan diinsisi, lakukan insisi kecil
dengan ukuran 2-3 mm menggunakan scalpel.
- Tarik implan keluar ke arah insisi dan bersihkan jaringan sekitar yang
menyelimuti implan menggunakan ujung scalpel, berhati-hati untuk tidak
memotong implan.
- Setelah implan bebas dari jaringan, implan dapat ditarik melalui celah
insisi dan jepit menggunakan clamp atau jari untuk menariknya keluar.
- Area insisi kemudian ditutup dan dirapatkan menggunakan perekat.

26
i. Risiko dan Efek Samping1

Konsentrasi rendah progestin terhadap sistemik yang berasal dari kontrasepsi


implan menyebabkan beberapa efek samping yang umumnya muncul dan
berkurang seiring durasi pemakaiannya.

 Perdarahan Ireguler
Efek samping yang paling mengganggu dari kontrasepsi implan
adalah perdarahan ireguler, yang mana menjadi alasan tersering tidak
dilanjutkannya penggunaan implan terutama pada tahun pertama
pemakaian. Hal ini dikarenakan implan hanya menghambat ovulasi namun
tidak dengan perkembangan folikuler, dimana kadar estrogen endogen
cenderung normal. Namun progestin pada dasarnya tidak berdiri sendiri
dalam perannya meluruhkan endometrium. Sebagai konsekuensinya,
pelepasan endometrium pada interval waktu yang tidak terduga dan
gangguan haid menjadi sangat beragam. Dengan penggunaan implan ENG,
banyak wanita mengalami perdarahan ireguler yang memanjang, namun
jarang sampai berat, dimana perdarahan terutama terjadi pada tahun
pertama yang kemudian berlanjut seriring pemakaiannya. Studi mengenai
norplant mennunjukan bahwa gangguan pola haid akan muncul di tahun
awal pemakaian, dimana ini terjadi pada hampir 80% pengguna dan
kemudian menurun hingga 40%. Meskipun demikian, amenore juga dapat
muncul pada 20% wanita dan lalu turun hingga 13% pada tahun ketiga
pemakaian.
 Nyeri Kepala
Beberapa penelitian menunjukan bahwa nyeri kepala merupakanefek
samping nonomenstrual yang paling sering dikeluhkan yang dilaporkan
pada 25% wanita. Hampir 25% wanita tidak melanjutkan penggunaan
implan dikarenakan alasan nyeri kepala ini. Keluhan ini hampir sama
dengan keluhan yang dirasakan pada pengguna kontrasepsi oral.
 Perubahan Berat Badan

27
Terdapat 13% wanita mengeluhkan kenaikan berat badan selama
menggunakan implan ENG (keluhan kedua tersering). Meskipun
peningkatan nafsu makan dapat dikaitkan dengan aktivitas androgenik dari
progestin namun konsentrasi kontrasepsi implan sangat rendah dan bukti
mengenai peningkatan berat badan ini masih bervariasi. Beberapa
penelitian lain menunjukan tidak ada peningkatan BMI pada evaluasi
selama 5 tahun penggunaan implan.
 Efek terhadap Payudara
Rasa nyeri pada payudara dilaporkan pada 12,8% pengguna implan dan
menurun seiring meningkatnya durasi pemakaiannya. Galaktorea lebih
sering ditemukan pada wanita yang melakukan pemasangan implan yang
diikuti dengan pemberhentian laktasi.
 Acne
Acne merupakan efek samping pada kulit yang paling banyak dikeluhkan
yakni sekitar 13% pada pengguna implant.

28
DAFTAR PUSTAKA

1. Howkins & Bourne. 2015. Shaw's textbook of Gynecology 16th ed. India:
Elsevier.
2. Anwar, M. 2011. Ilmu Kandungan Edisi Ketiga. Jakarta: PT Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.
3. Cunningham F, G. et al. 2014. Williams Obstetrics 24th edition. New York:
McGraw-Hill.
4. Shoupe, Donna. 2011. Gynecology in Practice: Contraception. California:
Wiley-Blackwell.
5. Kronenberg H. M., et al. 2011. Williams Textbook of Endocrinology. 12th
ed. Philadelphia: Elsevier Saunders.
6. Gunardi, et al. 2011. Monoplant the Indonesian Implant: The Overview of
Implant and Its Development. Indonest J Obstet Gynecol:35(1)
7. Shoupe, Donna. 2016. The Handbook of Contraception: A Guide for Practical
Management. Switzerland: Springer International Publishing.

29