You are on page 1of 15

TUGAS FARMASI KLINIS

DRPs MENURUT CIPOLLE DAN MEDICATION ERROR

NAMA : EKA SEPTIANI

NIM 201551159

Drug Related Problems (DRPs) merupakan suatu kejadian yang tidak diharapkandari
pengalaman pasien akibat terapi obat sehingga secara aktual maupun potensial dapat mengganggu
keberhasilan penyembuhan yang diharapkan (Cipolle et al.,1998). DRPs dibagi menjadi dua yaitu DRPs
aktual dan DRPs potensial, tetapi padakenyataannya problem yang muncul tidak selalu terjadi dengan
segera. DRPs aktual adalahsuatu masalah yang sedang terjadi berkaitan dengan terapi yang sedang
diberikan padapasien. DRPs potensial adalah suatu masalah yang diperkirakan akan terjadi
berkaitandengan terapi yang sedang diberikan pada pasien (Cipolleet al., 1998).

Praktek pelayanan farmasi klinik mengharuskan setiap farmasis meningkatkanpengetahuan


dan keterampilannya dalam proses pelayanan kesehatan, memahami penyakitdan terapinya dengan
memperhatikan kondisi pasien secara individual, mampumengidentifikasi dan menatalaksana
problem kesehatan yang terkait dengan penggunaanobat DRP,dan mampu bekerja sama langsung
dalam perawatan penderita (Depkes, 2007).

DRPs dapat diatasi atau dicegah ketika penyebab dari masalah tersebut dipahamidengan jelas.
Dengan demikian perlu untuk mengidentifikasi dan mengkatagorikan DRPs dan penyebabnya.

Jenis-Jenis DRPs dan Penyebab yang mungkin terjadi

1. Terapi obat tambahan


Kemungkinan Kasus DRPs
 Pasien dengan kondisi terbaru membutuhkan terapi obat yang terbaru
 Pasien yang kronik membutuhkan lanjutan terapi obat
 Pasien dengan kondisi kesehatan yang membutuhkan kombinasi farmakoterapi untuk
mencapai efek sinergis atau potensiasi
 Pasien dengan resiko pengembangan kondisi kesehatan terbaru dapat dicegah
dengan penggunaan terapi propilaktik drug atau premedication
2. Terapi obat yang tidak perlu
Kemungkinan Kasus DRPs
 Pasien yang mendapatkan obat yang tidak tepat indikasi
 Pasien yang keracunan karena obat atau hasil pengobatan
 Pengobatan pada pasien pengkonsumsi obat, alcohol, dan rokok
 Pasien dalam kondisi pengobatan yang lebih baik diobati dengan non drug terapi
 Pasien dengan multiple drug untuk kondisi dimana hanya single drug terapi dapat
digunakan
 Pasien dengan terapi obat dengan penyembuhan dapat menghindari reaksi yang
merugikan dengan pengobatan lainnya
 Pasien yang menerima duplikasi obat
3. Obat salah
Kemungkinan Kasus DRPs
1. Pasien dimana obatnya tidak efektif
2. Pasien alergi
3. Pasien penerima obat yang paling tidak efektif untuk indikasi pengobatan
4. Pasien dengan factor resiko pada kontra indikasi penggunaan obat
5. Pasien menerima obat efektif tetapi least costly
6. Pasien menerima obat efektif tetapi tidak aman
7. Pasien yang terkena infeksi resisten terhadap obat yang digunakan
4. dosis terlalu rendah
 Pasien menjadi sulit disembuhkan dengan terapi obat yang digunakan
 Pasien menerima kombinasi produk yang tidak perlu dimana single drug dapat
memberikan pengobatan yang tepat
 Dosis yang digunakan terlalu rendah untuk menimbulkan respon
 Konsentrasi obat dalam serum pasien dibawah range teraupetik yang diharapkan
 Obat profilaksis antibiotic diberikan terlalu cepat
 Dosis dan fleksibility tidak cukup untuk pasien
 Pemberian obat terlalu cepat
 Pasien alergi
5. reaksi obat yang merugikan
Kemungkinan Kasus DRPs
 Pasien dengan factor resiko yang berbahaya bila obat digunakan
 Ketersediaan dari obat dapat menyebabkan interaksi dengan obat lain atau dengan makanan
pasien
 Efek dari obat dapat diubah oleh substansi makanan pasien
 Efek dari obat diubah enzim inhibitor atau inductor dari obat lain
 Efek dari obat diubah dengan pemindahan obat dari binding cite oleh obat lain
 Hasil laboratorium dapat berubah karena gangguan obat lain
6. dosis terlalu tinggi
Kemungkinan Kasus DRPs
 Dosis terlalu tinggi untuk pasien
 Konsentrasi obat dalam serum pasien diatas terpeutik range obat yang diharapkan
 Dosis obat meningkat terlalu cepat
 Obat, dosis, rute, perubahan formulasi yang tidak tepat
 Dosis dan interval fleksibility tidak tepat

7. kepatuhan

Kemungkinan Kasus DRPs

 Pasien tidak menerima aturan pemakaian obat yang tepat (penulisan obat, pemberian,
pemakaian)
 Pasien tidak menuruti rekomendasi yang diberikan untuk pengobatan
 Pasien tidak mengambil obat yang diresepkan karena harganya yang sangat mahal
 Pasien tidak mengambil beberapa obat yang diresepkan karena kurang mengerti
 Pasien tidak mengambil beberapa obat yang dieresepkan secara konsisten karena merasa
sudah sehat

Studi Kasus DRP (Drug Related Problem)


Dalam ranah farmasi klinik-komunitas, apoteker pada hakikatnya memiliki tugas primer
yaitu mengidentifikasi dan menangani DRPs ini agar tercapai pengobatan yang rasional dan
optimal. Secara ringkas langkah-langkah untuk mengidentifikasi dan menangani DRPs adalah
sebagai berikut :
1. Menentukan klasifikasi permasalahan terapi obat yang terjadi
2. Menentukan penyebab terjadinya DRPs
3. Menentukan tindakan intervensi yang paling tepat terhadap DRPs
4. Melakukan assesmen (penilaian) terhadap intervensi yang telah dilakukan untuk evaluasi

CONTOH ANALISA KASUS DRP


Kasus 1
Seorang pria 42 tahun dengan diabetes melitus tipe 2 dan hipertensi dirujuk ke klinik untuk
assassment (penilaian) mixed hyperlipidemia yang ditemukan dalam pemeriksaan rutinnya.
Hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan di klinik menunjukan hasil yang biasa. Pasien tidak
memiliki xanthomatous. Riwayat keluarga ada yang menderita diabetes melitus tipe 2.
Pengobatan saat ini ramipril, glyburide, dan hydroclorthiazide. Hasil analisis sampel darah
(puasa) kolesterol total 356,34 mg/dL, total trigliserida 5927,4 mg/dL, HDL-c 23,4 mg/dL,
TSH 0,94 mIU/L. Urea, kreatininm elektrolit, bilirubin, AST, ALT normal. HbA1c 9,5%.
Kemudian dokter meresepkan fenofibrate, metformin, dan rosuvastatin termasuk ramipril,
glyburide, dan hydroclorothiazide. Empat minggu kemudian lipid profil pasien mengalami
peningkatan. Hasil laboratorium menunjukkan kadar kolesterol total 213,45 mg/dL, trigliserida
825,5 mg/dL, HDL-c 37,05 mg/dL. Dengan terus dilakukan follow up, 3 bulan kemudian
kolesterol total 145,9 mg/dL, trigliserida 330,4 mg/dL, HDL-c 27,84 mg/dL.

Penyelesaian
A. Subjek
Pria berusia 55 tahun
1. Past Medical History
 Diabetes melitus tipe 2
 Hipertensi
2. Medication History (Dosis tidak dicantumkan di dalam jurnal)
 Ramipril
 Glyburide
 Hydrochlorothiazide
3. Physical Examination
 Results of our physical examination were unremarkable
B. Objek
Data Laboratorium (Puasa)
Saat pertama Nilai uji Nilai normal
Kolestrol Total 536.34 mg/dL 146.94 - 201.08 mg/dL
Trigliserida 5927.4 mg/dL 31.15 - 151.3 mg/dL
HDL-c 23.4 mg/dL 35.1 - 93.6 mg/dL
TSH 0.94 mIU/L 0.49 - 4.67 mIU/L
HbA1c 9.5% < 6,5%
Urea, kreatininm elektrolit,
bilirubin, AST, ALT normal
4 minggu kemudian
Kolestrol Total 213.45 mg/dL 146.94 - 201.08 mg/dL
Trigliserida 825.5 mg/dL 31.15 - 151.3 mg/dL
HDL-c 37.05 mg/dL 35.1 - 93.6 mg/dL
3 minggu kemudian
Kolestrol Total 145.9 mg/dL, 146.94 - 201.08 mg/dL
Trigliserida 330.4 mg/dL 31.15 - 151.3 mg/dL
HDL-c 27.84 mg/dL 35.1 - 93.6 mg/dL
C. Assassment
Pasien mempunyai riwayat penyakit diabetes melitus tipe 2 dan hipertensi. Glyburide
(dosis tidak dicantumkan) digunakan untuk terapi diabetes pasien. Ramipril dan
hydroclorothiazide (dosis tidak dicantumkan) digunakan untuk terapi hipertensi pasien.
Berdasarkan data diatas, kolesterol total dan trigliserida pasien sangat tinggi sementara kadar
HDL-c dibawah normal. Menurut NCEP (National Cholestrol Education Program) kolesterol
total normal < 200 mg/dL, trigliserida normal < 150 mg/dL, dan HDL-c 35-93 mg/dL. Hal ini
mengindikasikan bahwa pasien menderita hiperlipidemia (mixed hyperlipidemia). Diabetes
melitus tipe 2 yang diderita pasien merupakan salah satu penyebab terjadinya hiperlipidemia
sekunder karena kondisi tersebut dapat menyebabkan meningkatnya level VLDL dan
menurunkan HDL (Rader & Hobbs, 2012). Menurut Koda-Kimble et al (2005), pemakaian
obat hipertensi golongan tiazid juga menyebabkan peningkatan kolestrol 5-7% dan
peningkatan trigliserida 30-50%. Sementara menurut Martin et al. 2009, pasien dengan kadar
trigliserida > 2001,77 mg/dL semuanya hampir memiliki hiperlipidemia sekunder dan primer.
Dokter meresepkan fenofibrate (dosis tidak dicantumkan) untuk mengatasi hiperlipidemia.
Saat pemeriksaan HbA1c pasien sebesar 9,5% maka dokter memberi metformin (dosis tidak
dicantumkan) tambahan obat untuk diabetes pasien. Rusovastatin (dosis tidak dicantumkan)
untuk terapi mixed hyperlipidemia.
D. Plan
Tujuan terapi yang ingin dicapai dalam pengobatan adalah penurunan kadar kolesterol
total dan trigliserida, meningkatkan kadar HDL-c, menormalkan kadar gula darah dan tekanan
darah tinggi serta mengurangi resiko pertama atu berulang dari infark miokardiak, angina,
gagal jantung, stroke iskemia, dan kejadian lain pada penyakit arterial (karotid stenosis atau
aortik abdominal)

1. Terapi hiperlipidemia
 Fenofibrate
Dosis inisial yang biasa digunakan dalam terapi mixed hyperlipidemia yaitu sebesar 300 mg
per hari dan dapat ditingkatkan menjadi 400 mg perhari. Dosis pemeliharan 200 mg per hari.
Obat diminum setelah makan.
 Rusovastatin
Dosis inisial yang biasa digunakan yaitu 20 mg per hari. Range dosis 5 – 40 mg per hari dan
tidak lebih dari 40 mg perhari. Obat sebelum atau setelah makan.
2. Terapi hipertensi
 Ramipril
Dosis pemeliharaan yaitu 2,5-5 mg per hari diminum pagi sebelum atau setelah makan.
 Hidrochlortiazide
Dosis yang biasanya digunakan yaitu 12,5 mg per hari diminum pagi sebelum atau setelah
makan.
3. Terapi Diabetes melitus tipe 2
 Glyburide
Dosis pemeliharaan yaitu 1,25 – 20 mg per hari diminum segera sebelum makan.
 Metformin
Dosis pemeliharan yaitu 500 mg 1 – 2 kali perhari diminum setelah makan.
Drug Related Problem dalam Kasus 1
Pasien dengan mixed hyperlipidemia , diabetes metitus tipe 2 dan hipertensi dalam kasus ini
menerima 6 macam obat dalam pengobatannya. Walaupun dokter tetap melakukan follow up
terhadap pasien tersebut, analisis DRP tetap harus dilakukan untuk mencegah pasien
mengalami kegagalan terapi dan kejadian DRP yang dapat merugikan pasien. Adapun analisis
DRP antara lain: indikasi tanpa obat, obat tanpa indikasi, ketidaktepatan pemilihan obat,
kelebihan dosis obat, interaksi obat, efek samping obat, dan kegagalan pasien menerima terapi.
1. Indikasi tanpa obat
Pasien menderita mixed hyperlipidemia, diabetes melitus tipe 2, dan hipertensi. Dari data
hasil laboratorium dan pemeriksaan fisik tidak ditemukan adanya indikasi penyakit lain.
2. Obat tanpa indikasi
Enam jenis obat yang digunakan (glyburide, ramipril, hydrochlortiazide, fenofibrate,
rusovostatin, dan metformin) diindikasikan untuk mengobati mixed hyperlipidemia, diabetes
melitus tipe 2, dan hipertensi. Tidak ditemukan obat tanpa indikasi dalam kasus ini.
3. Ketidaktepatan pemilihan obat
Ketidaktepatan pemilihan obat pada pasien artinya ada pemberian obat yang tidak efektif,
seperti produk obat tidak efektif berdasarkan kondisi medisnya atau obat bukan paling efektif
untuk mengatasi penyakit. Rusovostatin efektif menurunkan kadar kolesterol total dan LDL
dan merupakan terapi utama untuk mayoritas pasien hiperlipidemik. Namun dalam kasus
tertentu dapat ditambahkan agen hipolipidemik lain untuk mencapai tujuan terapi yang lebih
agresif. Oleh sebab itu, Fenofibrate ditambahkan karena memiliki kemampuan menurunkan
kadar VLDL. Mekanisme kunci obat golongan fibrat adalah dengan meningkatkan lipolisis,
meningkatkan asupan lemak hati dan menurunkan produksi trigliserida hati, meningkankan
asupan LDL oleh reseptor LDL, dan menstrimulasi transpor balik sehingga meningkatkan
HDL. Fibrat utamanya digunakan pada pasien yang hanya mengalami peningkatan trigliserida
dan juga digunakan dalam terapi mixed hyperlipidemia, terutama jika HDL rendah. Kombinasi
golongan statin dan fibrat meningkatkan resiko miopati bermakna, pertimbangan pemilihan
obat baru seperti ezetimid mungkin akan lebih tepat.
Glyburide golongan sulfonil urea dapat menurunkan HbA1C sebesar ~ 1,5% dengan
menstimulasi sekresi insulin. Metformin memiliki efek utama metformin adalah menurunkan
“hepatic glucose output” dan menurunkan kadar glukosa puasa. Monoterapi dengan
metformin dapat menurunkan HbA1C sebesar ~ 1,5%. Algoritma pengelolaan diabetes melitu
tipe 2 menurut ADA/EASD yang pertama yaitu dengan intervensi pola hidup dan metformin.
Bila belum maksimal maka obat kedua dapat ditambahkan agar HbA1C pasien < 7%,
konsensus menganjurkan penambahan sulfonilurea atau insulin. Pemilihan kombinasi
glyburide dan metformin sebagai antidiabetes melitus tipe 2 dinilai cukup tepat.
Terapi hipertensi dalam kasus ini menggunakan ramipril dan hydrochlortiazide. Ramipril
adalah antihipertensi golongan ACEi yang merupakan vasodilator yang menghambat
angiotensin II (vasokonstriktor kuat). Penghambatan pembentukan angiotensin II akan
menurunkan tekanan darah. Jika sistem angiotensin-renin-aldonsteron teraktivasi (misalnya
pada keadaaan penurunan sodium, atau terapi diuretik) efek antihipertensi ACEi akan lebih
besar. Oleh karena itu dalam kasus itu menggunakan kombinasi ramipril dengan
hydrochlorothiazide. Pasien diabetes memerlukan kombinasi antihipertensi untuk mencapai
target tekanan darah optimal. ACEi merupakan terapi pilihan karena dapat mencegah progresi
mikroalbuminoria ke nefropati. Selain itu, penggunaan beta-blocker tidak lagi
direkomendasikan oleh NICE karena kurang efektif untuk mengurangi resiko diabetes
terutama untuk pasien yang mendapatkan diuretik tiazid.
4. Dosis obat kurang dan berlebih
Dalam kasus ini hanya terdapat data jenis kelamin dan usia pasien, tidak dicantumkan
berapa dosis yang digunakan dan juga tidak tersedia data berat badan pasien. Penilaian apakah
dosis yang diberikan oleh dokter kurang atau berlebih sangat sulit dilakukan, kerena
perhitungan dosis tidak dapat dilakukan. Namun, apabila dokter memberikan dosis obat-obat
tersebut dalam jumlah dan range dosis lazimnya maka dapat dikatakan tidak terjadi
kekurangan dan kelebihan dosis obat. Mengingat kondisi organ pasien dalam keadaan baik
(dilihat dari data laboratorium dan pernyataan dokter mengenai pemeriksaan fisik) maka tidak
perlu dilakukan penyesuaian dosis.
5. Interaksi obat
Obat A Obat B Tingkat Interaksi
Fenofibrate Rosuvastatin Serius Meningkatkan efek karena sinergisme
farmakodinamik. Fenofibrate dapat
meningkatkan risiko rhabdomyolysis
ketika di kombinasi dengan statin untuk
menurun trigliserida dan meningkatkan
HDL. Jika tetap digunakan maka lakukan
monitoring dengan ketat. Gunakan
alternatif obat lain (ezetimibe).
Fenofibrate meningkatkan efek dari
glyburide dengan berkompetisi
Glyburide Signifikan membentuk ikatan protein plasma.
Signifikan interaksi dapat terjadi, lakukan
monitoring.
Rosuvastatin Glyburide Signifikan Glyburide meningkatkan toksisitas
rosuvastatin. Merupakan inhibitor
OATP1B1, dapat meningkatkan risiko
myopathy. Lakukan monitoring.
Hydrochloro- Metformin Minor / Hydrochlorothiazide akan meningkatkan
thiazide tidak efek metformin melalui mekanisme
signifikan kompetisi klirens tubular ginjal.

Ramipril Glyburide Signifikan Ramipril meningkatkan efek glyburide


interaksi melalui aksi sinergisme farmakodinamik.
mungkin Monitoring dengan ketat.
terjadi

6. Efek samping
Obat Efek samping Keterangan
Fenofibrate Nyeri otot, myopathi, myositis, diare, Pasien diingatkan
flatulance, pankreatitis, ulser peptik, tentang efek samping
kolelitiasis, depresi CNS, disarithmia, yang mungkin
pulmonari emboli, gangguan ginjal, terjadi. Efek yang
anemia, leukopenia. mungkin terjadi
Keluhan abdominal ringan, ruam kulit, berbeda antar invidu,
gatal, nyeri kepala, nyeri otot, kejang tergantung dengan
otot, lelah, dan gangguan tidur. respon tubuh.
Rosuvastatin
Kenaikan konsentrasi transminase.
Efek samping yang jarang terjadi:
rhabdomiolisis dan miopati.
Anafilaksis, aneroksia, kebingungan,
gangguan hematopoetik, pusing,
gangguan lambung, kelelahan, sakit
Hydrochlorothiazide kepala, hiperkalemia, hiperkolestro,
hiperurisemi, hipotensi, metabolik
asidosis, nausea, pankreatitis, vertigo,
dan vomitting.
Batuk, hipotensi, pusing, angina
pektoris, sakit kepala, vomitting,
Metformin
vertigo, abnormalitas fungsi ginjal, dan
diare.
Gangguan saluran cerna, sakit kepala,
gejala hematologik, trombositopenia,
Glyburide agranulositosis, anemia aplastik
(jarang). Gangguan fungsi hati dan
ginjal pada pasien lanjut usia
Neutropenia, agranulosis, proteinuria,
Ramipril
glomerulusnefrosis, gagal ginjal akut.

7. Kegagalan terapi
Tidak ditemukan kegagalan terapi dalam kasus ini, sejauh follow up yang dilakukan oleh
dokter pasien terus mengalami perkembangan peningkatan profil lipid. Kegagalan terapi dalam
suatu pengobatan dapat disebabkan oleh faktor psikososial, ketidakmampuan ekonomi,
kurangnya pemahaman pasien tentang terapi yang dia lakukan, dosis yang tidak sesuai, dan
pasien menggunakan obat lain tanpa sepengetahuan dokter. Kegagalan terapi juga dapat
disebabkan oleh petugas kesehatan yang tidak memberitahu cara penggunaan obat dengan
benar.
Kasus 2
Resep
25 maret 2017
R/ Metformin 500 XLV
S 3 dd 1
R/ Glibenklamide 5 XV
S 1 dd 1
R/ Captopril 50 XLV
S 3 dd 1
R/ furosemid X
S ½-0-0
R/ BC XLV
S 3 dd 1
R/ Amlodipin 5 XV
S 1 dd 1
R/ Na-diklofenak 50 XXX
S 0-0-1
R/ Simvastatin 10 XV
S 0-0-1
Pro : Tn. SS (66 tahun)
1. Analisa
1) Anamnesa/ diagnose
Pasien dinyatakan mengalami diabetes mellitus, hipertensi, hiperkolesterolemia, ostheoartritis,
dan sindrom dispepsia.
2) Analisa resep
Dalam kasus ini pasien menerima 8 item obat, sebagai berikut :
a. Metformin, antidiabetes golongan biguanid
b. Glibenklamide, antidiabetes golongan sulfonylurea
c. Captopril, antihipertensi golongan inhibitor enzim pengkonversi angiotensin (ACEI
d. Furosemid, antihipertensi golongan loop diuretic
e. BC/ vitamin B kompleks, suplemen kekurangan vitamin B
f. Amlodipin, antihipertensi golongan pemblok kanal kalsium (CCB)
g. Na-diklofenak, antiinflamasi nonsteroid
h. Simvastatin, antihiperlipidemia golongan statin
Kombinsai metformin dan glibenklamid pada kasus pasien diagnose lain berupa
hipertensi diperbolehkan. Seperti halnya pada kasus resep nomor 2. Dosis kombinasi kedua
obat tersebut juga masih dalam batas aman. Dimana dosis maksimum keduanya adalah 20
mg/hari untuk glibenkalmid, dan 2000 mg/hari untuk metformin. (Dipiro; 1369, 1384, 1385).
Penanganan hipertensi dalam kasus ini digunakan kombinasi 3 antihipertensi, yaitu
captopril (ACE inhibitor), furosemid (loop diuretik), dan amlodipin (Pemblok kanal
kalsium).Kombinasi tersebut diperbolehkan.Dosis furosemid merupakan dosis terendah yaitu
20 mg, dengan waktu pemberian yang tepat yaitu pada pagi hari.Sedangkan dosis captopril
merupakan dosis maksimum yaitu 150 mg/hari, dalam dosis terbagi 3. Sedangkan amlodipin
yang diberikan adalah dosis menengah, yaitu 5 mg/hari, lazimnya 2,5-10 mg/hari. Perlu
diperhatikan pasien telah cukup lanjut usianya (66 tahun), captopril diberikan pada dosis
maksimum dikombinasi dengan furosemid, dan amlodipin, akan berpotensi menimbulkan efek
hipotensi. Dengan pemberian furosemid, pasien akan mengalami diuresis, yang berarti volume
darah menurun dan menurun pula tekanan darahnya, sedangkan pemberian ACE inhibitor
dapat menyebabkan penurunan tekanan darah melalui berbagai mekanisme yang terlibat dalam
pengaturan sistem rennin-angiotensin-aldosteron (RAAS), sehingga resiko hipotensinya
semakin meningkat, terlebih pada pasien yang telah lanjut usia, ditambah dengan kombinasi
dengan amlodipin. Tekanan darah harus senantiasa dipantau. (Dipiro: 233-234)
Meski ada kemungkinan lain, bahwa maksud penggunaan furosemid dalam dosis rendah
adalah untuk mengatasi resiko efek samping amlodipin, berupa udema perifer. Amlodipin
dapat menyebabkan terjadinya udema perifer, dengan pemberian furosemid, maka aktivitas
urinary meningkat, sehingga tidak terjadi udema perifer.
Natrium diklofenak digunakan untuk mengobati gejala nyeri akibat
osteoarthritis.Diklofenak merupakan antiinflamasi nonsteroid (AINS) nonselektif.Dosis yang
diberikan adalah dosis tunggal pada malam hari sebesar 50 mg.
Sebagaimana AINS nonselektif lainnya, diklofenak dapat menginduksi terjadinya ulkus
peptikum, sedangkan dalam diagnosanya dokter telah menyatakan bahwa pasien mengalami
sindrom dispepsia. Meskipun efek buruk yang disebabkan diklofenak pada saluran cerna tidak
sekuat aspirin, namun pemilihan obat lain yang lebih aman, perlu dipertimbangkan, mengingat
pasien telah dinyatakan mengalami sindrom dispepsia. (Dipiro; 1131)
Dalam kasus ini, pasien telah didiagnose sindrome dispepsia, dan mendapat terapi AINS
yang dapat memperparah sindrom tersebut, namun pasien tidak mendapat obat untuk indikasi
ini.Tak ada obat yang diberikan untuk mengobati sindrom dispepsianya.
Simvastatin dosis tunggal pada malam hari 10 mg, untuk terapi
hiperlipidemia.Penggunaan simvastatin pada penderita diabetes diperbolehkan. Pemberian
vitamin B kompleks, yang mengandung asam nikotinat, akan membentu menghambat
pembentukan kolesterol dan trigliserida, sehingga akan membantu menekan kadar lipid dalam
darah. (BNF 57; 539)
Interaksi yang mungkin terjadi
a. Amlodipin (pemblok kanal kalsium) dan captopril (ACE inhibitor) yang digunakan
bersama-sama, cenderung berinteraksi menyebabkan efek hipotensif, ACE inhibitor juga akan
bekerja pada sistem kanal kalsium, meski tidak secara langsung, begitu pun dengan furosemid.
b. Captopril berinteraksi dengan makanan, dan menyebabkan absorpsi captopril menurun.
(DIF)
2. Saran
Dari uraian diatas dapat disarankan :
1) Kombinasi captopril, furosemid, dan amlodipin, perlu dipantau efeknya, ada baiknya dosis
captopril dikurangi
2) Konsumsi captopril 1 jam sebelum makan, untuk menghindari interaksinya dengan
makanan
3) Pasien perlu diberi obat untuk mengatasi sindrome dispepsianya, terlebih dalam resep
tersebut terdapat obat-obat yang menimbulkan efek-efek yang tidak menyenangkan pada
saluran cerna, berupa iritasi lambung (natrium-diklofenak), mual, muntah, diare (metformin
dan glibenklamid). Ranitidine dan antiemetic seperti domperidon atau metoklopramid
mungkin perlu diberikan.
4) Pasien juga harus diingatkan untuk senantiasa melakukan terapi non farmakologis, berupa
diet makanan rendah karbohidrat, lemak, dan garam.
5) Pasien juga harus menghindari konsumsi rokok dan atau alcohol
6) Olah raga ringan secara teratur sangat dianjurkan

Kejadian medication error merupakan salah satu ukuran


p e n c a p a i a n keselamatan pasien. Medication error adalah kejadian yang merugikan pasien
akibat k e s a l a h a n p e m a k a i a n o b a t s e l a m a p e r a w a t a n , ya n g s e b e n a r n ya
dapat dicegah.Menurut Lisby et al (2005) Medication error dapat terjadi
pada tahap prescribing (peresepan), transcribing, dispending (penyiapan), drug
administration (pemberian obat), dan discharge summaries, kesalahan pada salah satu tahap
dapat terjadi secara berantai dan menimbulkan kesalahan pada tahap selanjutnya. Kejadian
Medication error j u g a t e k a i t p r a k t i s i , p r o d u k o b a t , p r o s e d u r , l i n g k u n g a n
a t a u s i s t e m ya n g melibatkan prescribing, dispensing,dan administration
Contoh kasus
Kesalahan penyiapan & pemberian obat pada pasien rawat jalan poli penyakit dalam dengan
diagnosa diabetes mellitus. Dr SpPD meresepkan glimepiride 2 mg, asisten apoteker
menyiapkan & memberikan obat ke pasien glimepiride 4 mg. Kesalahan terjadi akibat petugas
farmasi kurang teliti dan sebelum penyerahan obat kepada pasien tidak dilakukan double cek
oleh apoteker.
DAFTAR PUSTAKA

BNF. 2009. British National Formulary, Edisi 57, British Medical Association Royal
Pharmacetical of Great Britain, England.
Dipiro.JT., 2009, Pharmacoterapy Handbook 7th edition, Mc Graw Hill, New York.
Cipolle, R., Strand, L.M., Morley, P.C., 1998, Pharmaceutical Care, McGraw-Hill, New York.
Cipolle, R., Strand, L.M., Morley, P.C., 1992, Pharmaceutical Care An Introduction Current
Concept, McGraw-Hill, New York.
Hepler, CD, Strand, LM 1990, ‘Opportunities and Responsibilities in Pharmaceutical Care’,
American Journal of Hospital Pharmacy, 47, pp.533-543.
PCNE. 2006. Classification for Drug Related Problems V5.01. Europe: Pharmaceutical Care
Network Europe Foundation.
Rovers, J.P., Currie, J.D., Hagel, H.P., McDonough, R.P., Sobotka, J.L. Eds., 2003, A Practical
Guide to Pharmaceutical Care,2nd Ed., American Pharmaceutical Association,
Washington, D.C.
Strand, MD, Morley, PC, Cipolle, RJ, Ramsey, R, Lamsam, GD 1990, ‘Drug-Related
Problems: Their Structure and function’, DICP the Annals of Pharmacotherapy, vol. 24,
pp. 1094-1096.