BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Inovasi sebagai suatu proses digambarkan sebagai proses yang siklus dan berlangsung terus menerus, meliputi fase kesadaran, penghargaan, adopsi, difusi dan implementasi (Damanpour dkk dalam Brazeal, D.V. dan Herbert, T.T. 1997). De Jong & Den Hartog (2003) merinci lebih mendalam proses inovasi dalam 4 tahap sebagai berikut: a. Melihat kesempatan bagi seseorang untuk mengidentifikasi kesempatan-kesempatan. Kesempatan dapat berawal dari ketidakkongruenan dan diskontinuitas yang terjadi karena adanya ketidaksesuaian dengan pola yang diharapkan misalnya timbulnya masalah pada pola kerja yang sudah berlangsung, adanya kebutuhan konsumen yang belum terpenuhi, atau adanya indikasi trends yang sedang berubah. b. Mengeluarkan ide. Dalam fase ini, seseorang mengeluarkan konsep baru dengan tujuan menambah peningkatan. Hal ini meliputi mengeluarkan ide sesuatu yang baru atau memperbaharui pelayanan, pertemuan dengan klien dan teknologi pendukung. Kunci dalam mengeluarkan ide adalah mengombinasikan dan mereorganisasikan informasi dan konsep yang telah ada sebelumnya untuk memecahkan masalah dan atau meningkatkan kinerja. Proses inovasi biasanya diawali dengan adanya kesenjangan kinerja yaitu ketidaksesuaian antara kinerja aktual dengan kinerja potensial. c. Implementasi. Dalam fase ini, ide ditransformasi terhadap hasil yang konkret. Pada tahapan ini sering juga disebut tahapan konvergen. Untuk mengembangkan ide dan mengimplementasikan ide, karyawan harus memiliki perilaku yang mengacu pada hasil. Perilaku Inovasi Konvergen meliputi usaha menjadi juara dan bekerja keras. Seorang yang berperilaku juara mengeluarkan seluruh usahanya pada ide kreatif. Usaha menjadi juara meliputi membujuk dan mempengaruhi karyawan dan juga menekan dan bernegosiasi. Untuk mengimplementasikan inovasi sering dibutuhkan koalisi, mendapatkan kekuatan dengan menjual ide kepada rekan yang berpotensi. d. Aplikasi. Dalam fase ini meliputi perilaku karyawan yang ditujukan untuk membangun, menguji, dan memasarkan pelayanan baru. Hal ini berkaitan dengan membuat inovasi dalam bentuk proses kerja yang baru ataupun dalam proses rutin yang biasa dilakukan.
1

Visi ini harus meliputi ukuran. Melibatkan sekumpulan orang untuk mengumpulkan dan mengevaluasi ide-ide. mengatur tim kerja dan struktur yang dibutuhkan. f. b. Keterlibatan individu dan tim dalam menghasilkan ide untuk memperbaiki produk. Envisioning yaitu proses ini meliputi penyamaan pandangan mengenai masa depan untuk membentuk tujuan berinovasi. Supporting yaitu tahapan ini merupakan upaya seorang pemimpin tidak hanya di dalam memberikan perintah dan instruksi kepada bawahan. dan bagaimana visi tersebut sesuai dengan visi organisasi. mengalokasikan tanggung jawab dari berbagai tindakan yang diterima. meyakinkan bahwa konsekuensi yang terjadi dapat dipahami kemudian. 2. Installing yaitu pada tahapan ini merupakan tahapan implementasi.menurut Adair (1996) mengatakan ada 3 fase dalam proses inovasi sebagai berikut: a. pemimpin hendaknya bersikap emphatik. mengalokasikan orang-orang yang tepat. Hussey (2003) berupaya membentuknya dalam tahapan dan dibuat dengan akronim EASIER yaitu: 1. c. 3. ruang lingkup inovasi. 4. Activating yaitu penyampaian visi ke publik agar tercapai sebuah komitmen terhadap visi sehingga strategi akan relevan dengan visi begitupula dengan implementasi visi. 2 . Generating ideas. d. Oleh karena itu. Dalam hal ini diperlukan kepekaan pemimpin dalam memahami bawahannya. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah kompleksitas strategi yang diperlukan dalam berinovasi dan konsekuensi yang diterima. Mengembangkan ide-ide yang tekah terkumpul dan selanjutnya mengimplementasikan ide tersebut. b. memprioritaskan tindakan yang diterima. Developing and implementing these ideas. e. mengidentifikasi apakah tindakan yang dilakukan membawa perubahan. inovasi apa yang dilakukan untuk organisasi. proses dan layanan yang ada dan menciptkaan sesuatu yang baru. c. Harvesting ideas. namun juga keterampilan di dalam menginspirasi bawahannya untuk bertindak inovatif. memberikan anggaran yang sesuai. Berikut ini beberapa hal yang dapat membantu seseorang di dalam memberikan masukan dalam implementasi sebuah inovasi sebagai berikut: a.

Implementasi. 5. Peluang muncul ketika ada persoalan yang muncul atau dipersepsikan sebagai suatu kesenjangan antara yang seharusnya dan realitanya. Tidak Semua ide dapat dipakai. oleh karenanya David Mc Clelland menyarankan pengambilan resiko sebaiknya dalam taraf sedang. perilaku inovatif dimulai dari ketrampilan melihat peluang. Dalam tahap ini kreativitas sangat diperlukan. Mengkaji ide. Selain itu. Gaya berfikir divergen atau mengerucut mulai diterapkan. Melihat peluang. Ide yang realistic yang diterima. Kajian dilakukan terus menerus sampai ditemukan alternative yang paling mempunyai probabilitas sukses yang paling besar. 3. Ketika dihadapkan suatu masalah atau dipersepsikan sebagai masalah maka gaya berfikir konvergen yang digunakan yaitu mengeluarkan ide yang sebanyak-banyaknya terhadap masalah yang ada. dan menentukan kebijakan yang dibutuhkan untuk memperlancar implementasi inovasi. Dalam tahap ini. Hal tidak hanya meliputi reward dalam bentuk finansial tapi dapat juga berbentuk kepercayaan. Apabila tidak sesuai dengan rencana maka rencana alternative apa yang dapat diambil. Mengeluarkan ide. Hal ini berakaitan dengan probabilitas untuk sukses yang disebabkan oleh kemampuan pengontrolan perilaku untuk mencapai tujuan atau berinovasi. 4. Hal ini dilakukan untuk meyakinkan bahwa tindakan yang dilakukan sudah tepat waktu dan sesuai rencana. Salah satu dasar pertimbangan adalah seberapa besar ide tersebut mendatangkan kerugian dan keuntungan. 2. Ensuring yaitu kegiatan yang meliputi monitoring dan evaluasi. Recognizing yaitu tahapan ini meliputi segala macam bentuk penghargaan terhadap bentuk inovasi. Resiko berkaitan dengan probabilitas kesuksesan dan kegagalan. Oleh karenanya. maka akan dibuat langkah penyesuaian. Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa ada beberapa tahap dalam proses inovasi adalah sebagai berikut: 1. 3 .g. serta bentuk promosi. keberanian mengambil resiko sangat diperlukan. sementara ide yang kurang realistic dibuang. ucapan terima kasih yang tulus. 6. maka dilakukan kajian terhadap ide yang muncul. tahapan ini juga dipergunakan untuk memantau apakah hasil sesuai dengan yang diharapkan sehingga apabila tidak.

Beberapa Model Inovasi Pendidikan 3. Pengertian Proses Inovasi Pendidikan 2. Tujuan 1. Implikasinya dalam penyelenggaraan Pendidikan 4 .B. Permasalahan Berdasarkan latar belakang sebagaimana diuraikan di atas. Adapun tujuan dari pembahasan makalah ini adalah agar kita dapat memahami dan menjelaskan ³bagian-bagian yang berhubungan tentang proses inovasi´ 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi Proses Inovasi Pendidikan C. maka proses inovasi. Dalam makalah ini penyusun membatasi pada rumusan sebagai berikut: 1.

maka tahu adanya inovasi menjadi masalah yang pokok. Sebelum inovasi dapat diterima. kegiatan. Paling tidak ada dua hal dari dimensi sikap yang dapat ditunjukan anggota organisasi terhap adanya inovasi Yaitu : 5 . mulai sadar tahu adanya inovasi sampai menerapkan (implementasi) individu pendidikan. Langkah pengetahuan dan kesadaran Jika inovasi dipandang sebagai suatu ide. b. Tahap Permulaan (Intiation Stage) : a.tetapi bisa juga terjadi sebaliknya karena sadar akan adanya inovasi. maka terjadi sejenjang penampilan. Berapa lama waktu yang dipergunakan selama prose situ berlangsung akan berbeda antara orang aatau organisasi satu dengan yang lain tergantung pada kepekaan orang atau organisasi terhadap inovasi. Kata proses mengandung arti bahwa aktifitas itu dilakukan dengan memakan waktu dan setiap saat tertentu terjadi perubahan. maka hasilnya diketemukan. atau material yang diamati baru oleh unit adopsi (penerima inovasi). Tahapan proses inovasi seperti berikut : 1. Pengertian Proses Inovasi Pendidikan Proses inovasi pendidikan adalah serangkaian aktifitas yang dilakukan oleh individu atau organisasi. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa sikap terhadap inovasi memegang peranan yang penting untuk menimbulkan motifasi untuk inging berubah atau mau menerima inovasi. Langkah Pembentukan sikap terhadap inovasi Dalam tahap ini anggota organisasi membentuk sikap terhadap inovasi. Demikian pula selama proses inovasi itu berlangsung akan selalu terjadi perubahan yang berkesinambungan sampai prose situ dinyatakan berakhir. maka pimpinan organisasi merasa bahwa dalam dalam organisasinya ada sesuatu yang ketingalan. calon penerima harus sudah menyadaribahwa ada inovasi. Mungkin dapat tahu dan sadar inovasi baru merasakan butuh atau sebaliknya. dan dengan demikian ada kesempatan untuk mengunakan inovasi dalam organisasi. tergantung situasinya. Beberapa Model Inovasi Pendidikan Dalam mempelajari proses inovasi para ahli mencoba mengidentifikasi kegiatan apa saja yang dilakaukan individu selama prose situ berlangsung serta perubahan apa yang terjadi dalam proses inovasi. kemudian merubah hasil yang diharapkan. Jika kita lihat kaitannya dengan organisasi maka ada kesenjangan penampilan (performens gaps) mendorong untuk mencari cara-cara baru atau inovasi. Seperti Rogers dan Shoemakers mengemukakan seperti mana dulu ayam atau telur.BAB II PEMBAHASAN A. B.

Langkah awal (permulaan) implementasi Pada langkah ini organisasi mencoba menerapkan sebagian inovasi. Misalnya setelah Dekan memutuskan bahwa semua dosen harus membuat persiapan mengajar dengan model Satuan Acara Perkuliahan. Langkah pengambilan keputusan Pada langkah ini segalah informasi tentang potensi inovasi dievaluasi. b. 2. Jika terjadi perubahan dalam sistem sosial. c. Ada dua langkah yang dilakukan yaitu: a. Faktor-faktor yang mempengaruhi Proses Inovasi Pendidikan Lembaga pendidikan formal seperti sekolah adalah suatu sub sistem sosial. maka tinggal melanjutkan dan menjaga kelangsungannya. serta memperoleh pengalaman dalam menerapkannya. maka lembaga pendidikan formal tersebut juga akan mengalami perubahan maka hasilnya akan berpengaruh terhadap sistem sosial. Tahap implementasi (implementation stage) Pada langkah ini kegiatan yang dilakukan oleh para anggota organisasi ialah menggunakan inovasi atau menerapkan inovasi. C. Memiliki persepsi tentang potensi inovasi yang ditandai dengan adanya pengamatan yang menunjukan : Bahwa ada kemampuan bagi organisasi untuk mengunakan inovasi Organisasi telah pernah mengalami keberhasilan pada masa lalu dengan mengunakan inovasi Adanya komitmen atau kemampuan untuk bekerja dengan menggunakan inovasi serta siap untuk menghadapi kemungkinan timbulnya masalah dalam penerapan inovasi. maka pada awal penerapannya setiap dosen diwajibkan membuat untuk satu mata kuliah dulu. Sehingga keputusan yang diambil benar-benar mantap dan tidak terjadi salah pilih yang dapat mengakibatkan kerugian bagi organisasi. Sikap terbuka terhadap inovasi.1. Langkah kelanjutan pembinaan penerapan inovasi Jika pada penerapan awal telah berhasil. 2. Oleh karena 6 . para anggota telah mengetahui dan memahami inovasi. sebelum nanti akan berlaku untuk semua mata kuliah. Pada saat akan mengambil keputusan peranan komunikasi sangat penting untuk memperoleh informasi yang sebanyak-banyaknya tentang inovasi. Jika unit pengambil keputusan dalam organisasi menganggap bahwa inovasi itu memang dapat diterima dan ia senang untuk menerimanya maka inovasi akan diterima dan diterapkan dalam organisasi. Demikian pula sebaliknya jika unit pengambil keputusan tidak menyukai inovasi dan menganggap inovasi tidak bermanfaat maka ia kan menolaknya. yang ditandai dengan adanya Kemauan anggota organisasi untuk mempertimbangkan inovasi Mempertanyakan inovasi (skeptic) Merasa bahwa inovasi akan dapat meningkatkan kemampuan organisasi dalam menjalangkan fungsinya.

Sebagai alasan mengapa orang memandang tugas guru dalam mengajar mengandung banyak kelemahan tersebut. Dengan demikian maka keberhasilan pelaksanaan tugas tersebut. (2) faktor internal dan eksternal. antara lain dikemukakan bahwa : a. Faktor Kegiatan Belajar Mengajar Yang menjadi kunci keberhasilan dalam pengelolaan kegiatan belajar mengajar ialah kemampuan guru sebagai tenaga profesional. dan kurang perhatian. Dengan demikian maka keberhasilan pribadi guru dan siswa. Dengan kemapuan guru yang sama belum tentu menghasilkan prestasi belajar yang sama jika menghadapi keles yang berbeda. juga sangat ditentukan oleh pribadi guru dan siswa. Misalnya suatu sekolah telah dapat sukses menyiapkan tenaga yang terdidik sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Motivasi yang mendorong perlunya diadakan inovasi pendidikan jika dilacak biasanya bersumber pada dua hal yaitu : (a) kemauan sekolah (lembaga pendidikan) untuk mengadakan respon terhadap tantangan kebutuhan masyarakat. Keberhasilan tugas guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar sangat ditentukan oleh hubungan interpersonal antara guru dengan siswa. yaitu : (1) kegiatan belajar mengajar. dan (3) sistem pendidikan (pengelolaan dan pengawasan). diserahi tugas dan wewenang untuk mengelola kegiatan belajar mengajar agar dapat mencapai tujuan tertentu. Guru sebagai tenaga yang telah dipandang memiliki keahlian tertentu dalam bidang pendidikan.itu suatu lembaga pendidikan mempunyai beban yang ganda yaitu melestarikan nilai-nilai budaya tradisional dan juga mempersiapkan generasi muda agar dapat menyiapkan diri menghadapi tantangan kemajuan jaman. maka dengan tenaga terdidik berarti tingkat kehidupannya meningkat. sehingga perlu adanya penyesuaian dengan lapangan pekerjaan. 7 . yaitu terjadinya perubahan tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dan tujuan institusional yang telah dirumuskan. Antara lembaga pendidikan dan sistem sosial terjadi hubungan yang erat dan saling mempengaruhi. dan (b) adanya usaha untuk menggunakan sekolah (lembaga pendidikan) untuk memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat. dan cara bekerjanya juga lebih baik. Dengan demikian akan selalu terjadi perubahan yang bersifat dinamis. 1. yang disebabkan adanya hubungan interaktif antara lembaga pendidikan dan masyarakat. Tetapi dalam pelaksanaan tugas pengelolaan kegiatan belajar mengajar terdapat berbagai faktor yang menyebabkan orang memandang bahwa pengelolaan kegiatan belajar mengajar adalah kegiatan yang kurang profesional. kurang efektif. demikian pula sebaliknya belum tentu dapat menghasilkan prestasi belajar yang sama\. Tenaga terdidik akan merasa tidak puas jika bekerja yang tidak menggunakan kemampuan inteleknya. meskipun para guru tersebut semuanya telah memenuhi persyaratan sebagai guru yang professional. Agar kita dapat lebih memahami tentang perlunya perubahan pendidikan atau kebutuhan adanya inovasi pendidikan dapat kita gali dari tiga hal yang sangat besar pengaruhnya terhadap kegiatan di sekolah.

Apa yang dilakukan guru di kelas tidak diketahui oleh rekan guru yang lain. Guru juga menghadapi tantang dalam usaha untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya. guru menghadapai sejumlah siswa yang berbeda satu dengan yang lainnya baik mengenai kondisi fisik. ditambahkan lagi harus melakukan kegiatan untuk menambah penghasilan karena gaji pas-pasan. Kegiatan guru di kelas merupakan kegiatan yang terisolasi dari keiatan kelompok.b. mental. Ada kemauan guru untuk meningkatkan kemampuan profesionalismenya. c. Dengan demikian maka sukar untuk mendapatkan kritik untuk pengembangan profesinya. jumlah muridnya dalam satu kelas 50 orang. Usaha untuk membuat kritik tersebut sudah dilakukan misalnya dengan digunakanya APKG (Alat Penilai Kompotensi Guru). d. Berkaitan dengan kenyataan diatas tersebut. Padahal apa yang dilakukan mungkin masih banyak kekurangannya. tetapi tugas yang harus dilaksanakan tetap masih merasa berat. Guru tidak munkin dapat melayani siswa dengan memperhatikan perbedaan individu satu dengan yang lain. sifat. Apa yang dilakukan guru di kelas seolah-olah sudah merupakan hak mutlak tangungjawabnya. masih ditambah tugas administratif. Dan memang untuk membuat kritik keefektifan proses belajar mengajar sukar ditentukan karena sangat banyak variable yang ikut menentukan keberhasilan kegiatan belajar siswa. Guru dalam melaksanakan tugas mengelola kegiatan belajar mengajar mengalami kesulitan untuk mennetukan pilihan mana yang diutamakan karena adanya berbagai 8 . Berdasarkan data adanya perbedaan individu siswa. f. maka sangat minimal bantuan teman sejawat untuk memberikan bantuan saran atau kritik guna meningkatkan kemampuan profesionalismenya. jadi program pertumbuhan jabatan atau peningkatan profesi guru mengalami hambatan. dan masih banyak lagi factor yang lain. tentunya lebih tepat jika pengelolah kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan cara yang fleksibel. Jika guru tidak dapat mengatasi masalah ini dapat menimbulkan anggapan diragukannya profesionalismenya. dan latar belakan sosial ekonominya. orang lain tidak boleh ikut campur tangan. serta tanpa bantuan dari lembaga dan tanpa adanya insentif yang menunjang kegiatannya. Belum ada kritik yang baku tentang bagaimana pengelolaan kegiatan belajar mengajar yang efektif. minat. Kegiatan belajar mengajar di kelas merupakan kegiatan yang terisolasi. Ia mengangap bahw yang dilakukan sudah merupakan cara yang terbaik. mungkin dengan cara belajar sendiri atau mengikuti kuliah di perguruan tinggi. e. h. dalam jam-jam pelajaran yang sudah diatur dalam jadwan dan waktu yang sangat terbatas. g. intelektual. pada waktu guru mengajar dia tidak mendapatkan balikan dari teman sejawatnya. tetapi kenyatanya justru guru dituntut untuk mencapai perubahan tingkah laku yang sama sesuai dengan ketentuan yang telah dirumuskan. Tanpa adanya keseimbangan antara kemampuan dan kewenangannya mengatur beban tugas yang harus dilakukan. Jadi anak yang berbeda harus diarahkan menjadi sama. Dalam melaksanakan tugas mengelola kegiatan belajar mengajar.

atau bahkan dari sudut pandang yang lain dapat juga dikatakan bahwa dengan adanya kelemahan-kelemahan itu maka sukar penerapan inovasi pendidikan secara efektif. (Zaltman. memasuki anggota profesi dan penilai terhadap penampilan profesinya. tetapi dari sudut lain dia dituntut harus menyelesaikan sajian materi kurikulum yang harus diselesaikan sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan. Demikian pula dari satu segi guru dituntut menengkankan perubahan tingkahlaku afektif. baik ia sebagai penunjang secara moral membantu dan mendorong kegiatan siswa untuk melakukan kegiatan siswa untuk melakukan kegiatan belajar sesuai dengan yang diharapkan sekolah. Perencanaan inovasi pendidikan harus memperhatikan mana kelompok yang mempengaruhi dan mana kelompok yang dipengaruhi oleh sekolah (sistem Pendidikan). tetapi dalam evaluasi hasil belajar yang dipakai untuk menentukan kelulusan siswa hanya mengutamakan aspek kognitif. Florio. (b). karena menjadi bahan ujian Negara/nasional. yang menmungkinkan timbulnya peluang munculnya pendapat bahwa professional guru diragukan bahkan ada yang mengatakan bahwa jabatan guru itu ³semi-profesional´. Siswa sangat besar pengaruhnya terhadap proses inovasi karena tujuan pendidikan untuk mencapai perubahan tingkah laku siswa. maupun sebagai penunjang pengadaan dana. ketentuan untuk berbuat professional. diawasi oleh kelompok profesi. Factor internal yang mempengaruhi pelaksanaan sistem pendidikan dan dengan sendirinya juga inovasi pendidikan adalah siswa. 2. Faktor Internal dan Eksternal Satu keunikan dari sistem pendidikan adalah baik pelaksanaan maupun klien (yang dilayani) adalah kelompok manusia. Orang tua murid ikut mempunyai peranan dalam menunjang kelancaran proses inovasi pendidikan. (c). Dari satu segi meminta agar guru mengutamakan ketrampilan proses belajar. ditentukan bersama antara sesame anggota profesi. Factor eksternal yang mempunyai pengaruh dalam proses inovasi pendidikan adalah orang tua. Jadi siswa sebagai pusat perhatian dan bahan pertimbangan dalam melaksanakan berbagai macam kebijakan pendidikan. 9 . 1977) Dengan berdasarkan kelemahan-kelemahan dalam pelaksanaan pengelolaan kegiatan belajar mengajar tersubut maka dapat merupakan sumber motifasi perlunya ada inovasi pendidikan untuk mengatasi kelemahan tersebut. karena jika professional yang penuh tentu akan member peluang pada anggotanya untuk : a) menguasai kemampuan professional yang ditunjukan dalam penampilan.tuntutan. Siloski. Apa yang harus dipilih guru? Melayani semua tuntutan??? Dari data tersebut bagaimana unitkya kegiatan belajar mengajar.

10 . Sistem Pendidikan (Pengelolaan dan Pengawasan) Dalama penyelengaran pendidikan disekolah diatur dengan aturan yang dibuat oleh pemerintah. administrator pendidikan. seperti guru.Para ahli pendidikan (prosfesi pendidikan) merupakan factor internal dan juga factor eksternal. Ada juga para ahli dari luar organisasi sekolah tetapi ikut terlibat dalam kegiatan sekolah seperti : pengawas. Penangung jawab sistim pendidikan di Indonesia addalah Departemen pendidikan Nasional yang mengatur seluruh sistem berdasarkan ketentuan-ketentuan yang diberlakukan. terlibat secara langsung dalam proses pendidikan di sekolah. konsultan dan mungkin juga pengusaha yang membantu pengadaan fasilitas sekolah. inspektur. 3. penilik. konselor.

Inisiasi yaitu kegiatan yang mencakup keputusan dalam organisasi untuk mengadopsi inovasi d. menentukan prioritas untuk tiap komponen atau elemen. dan menilai desain alternatif menggunakan kriteria yang telah dipaparkan dalam tahap pertama fase yang menciptakan penemuan dalam proses inovasi adalah adopsi dan implementasi c.BAB III KESIMPULAN Proses inovasi terdiri atas: a. jadi fase ini meliputi mengeluarkan ide dan pemecahan masalah implementasi yaitu kegiatan ini meliputi penerapan desain inovasi yang telah dibuat sebelumnya dalam fase pengembangan 11 . mengeluarkan ide yaitu meliputi pembentukan rancangan teknis dan desain. resolusi masalah yaitu meliputi mengambil keputusan dan memecah ide ke dalam komponen yang lebih kecil. b. pengembangan yaitu kegiatan yang meliputi desain dan pengembangan produk dan perencanaan proses inovasi dalam fase inovasi. membagi alternatif masalah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful