You are on page 1of 14

Gangguan neurodevelopmental merupakan permasalahan yang banyak

dialami anak usia sekolah dasar pada saat ini. Contoh gangguan

neurodevelopmental yang terjadi pada anak antara lain Attention Deficit-

Hyperactivity Disorder (ADHD), autism, kesulitan belajar, disabilitas intelektual

(lebih sering dikenal dengan retardasi mental), gangguan perilaku, cerebral palsy

dan gangguan pada penglihatan dan pendengaran. Berdasarkan survei terhadap

orangtua yang dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 2006 sampai 2008,

kurang lebih 15% anak berusia 3 sampai 17 tahun mengalami gangguan

neurodevelopmental (Boyle dkk., 2011). Prevalensi yang cukup besar diantara

gangguan tersebut adalah ADHD dan kesulitan belajar. Menurut National

Collaborating Centre for Mental Health (2009) masalah ADHD mencapai puncak

pada usia anak sekolah sekitar 7-12 tahun, misalnya dengan munculnya kesulitan

belajar dan kesulitan untuk fokus terhadap pelajaran yang diberikan.

Di Indonesia sendiri, penelitian tentang prevalensi ADHD sudah pernah

dilakukan, namun belum ditemukan prevalensi ADHD untuk Indonesia secara

umum (Kartinah, 2010). Penelitian mengenai prevalensi baru dilakukan sebatas

pada kota atau provinsi tertentu. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Saputro

(2004) ditemukan bahwa prevalensi ADHD pada anak usia sekolah di Kota

Jakarta sebesar 26,2%. Di Sumatera, yakni di kecamatan Padang Timur ditemukan

prevalensi sebesar 8% (Novriana, Yanis & Masri, 2014). Penelitian di provinsi

lain, yang dilakukan di Kota Yogyakarta menemukan bahwa prevalensi ADHD

pada siswa sekolah dasar di Kota Yogyakarta adalah 5,47% (Hayati, 2014), di

Kecamatan Cangkringan, Sleman 7,48% (Christina, 2012), dan di Banguntapan,

2
Bantul 3,5% (Dewi, 2011), dengan proporsi jenis kelamin laki-laki dibandingkan

dengan perempuan adalah 4:1. Penelitian yang dilakukan oleh Wimbarti, Dewi

dan Khoirot (2016) menemukan prevalensi ADHD di Kota Yogyakarta dan

Kabupaten Sleman adalah sebesar 8,09%.

ADHD merupakan gangguan kesehatan mental yang saat ini banyak

dialami oleh anak usia sekolah. Barkley (2006) mengemukakan, ADHD

merupakan salah satu kasus yang paling sering dirujuk ke psikolog sekolah.

ADHD tidak hanya sekedar satu atau bahkan dua gejala seperti yang tergambar

pada namanya (Chandler, 2010). Barkley (2006) mendefinisikan ADHD sebagai

label diagnostik untuk anak yang menampilkan permasalahan yang signifikan

pada atensi, dan biasanya disertai dengan impulsivitas atau aktivitas yang

berlebihan. American Psychiatric Association (APA, 2013) juga memberikan

definisi serupa mengenai ADHD sebagai gangguan perkembangan neuro yang

ditandai dengan terganggunya tingkat inatensi, disorganisasi dan/atau hiperaktif-

impulsif.

Inatensi dan disorganisasi muncul dalam bentuk ketidakmampuan untuk

tetap bertahan dalam satu tugas, kurang mampu mendengarkan, dan kerap

kehilangan barang, yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan. Hiperaktif-

impulsif muncul dalam bentuk aktivitas berlebihan, tampak gelisah, tidak dapat

duduk diam, mengganggu aktivitas orang lain dan kesulitan untuk menunggu

giliran, dimana gejala ini terlihat berlebihan untuk tahap perkembangan di usia

anak tersebut. Di Indonesia, gangguan ini lebih dikenal dengan Gangguan

Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH).

3
Tidak ada faktor tunggal dalam menyebabkan ADHD. Faktor yang dinilai

berperan besar sebagai penyebab ADHD adalah faktor genetik sebesar 2%-9%

(Kerig & Wenar, 2006; Brock, Jimerson & Hansen, 2009; Santrock, 2011;

Papalia, 2015). Selain faktor genetik, beberapa penelitian lain menunjukkan

bahwa kemampuan yang kurang di fungsi eksekutif menjadi penyebab utama

munculnya gangguan perilaku ADHD (Barkley, 1997, 2006; Castellanos dkk.,

2006; Wilcutt dkk., 2005). Fungsi eksekutif merupakan proses kognitif yang

penting untuk mencapai perilaku kompleks yang mengarah pada tujuan, termasuk

pengetahuan metakognitif mengenai strategi dan tugas, atensi, sistem memori,

proses regulasi diri seperti melakukan perencanaan dan monitoring (Johnson &

Reid, 2011). Jika melihat lebih dalam lagi, yakni ke bagian otak, yaitu prefrontal

cortex adalah bagian yang mengalami gangguan dan menyebabkan menurunnya

fungsi eksekutif (Assef, Capovilla & Capovilla, 2007; Thompson-schill, Ramscar

& Chrysikou, 2009).

Penelitian-penelitian neuropsikologis semakin membuktikan bahwa

ADHD berhubungan dengan ketidaknormalan dari prefrontal cortex dan atau

proyeksi-proyeksinya pada struktur subkortikal. Lobus frontalis adalah salah satu

daerah otak yang paling sering diteliti dalam ADHD (Fuster, 1989). Penelitian

yang menggunakan alat untuk melihat pencitraan struktur otak menemukan bahwa

ukuran lobus frontalis kanan pada individu dengan ADHD lebih kecil dari ukuran

normal (Castellanos dkk., 1996). Jaringan yang fungsinya terganggu (lesi) pada

orbito frontal mengakibatkan disinhibisi sosial maupun impulsivitas, dan lesi pada

dorso-lateral mempengaruhi kemampuan organisasional, perencanaan, memori

4
kerja, maupun perhatian. Bagian cingulate cortex memainkan peran penting dalam

aspek motivasi perhatian dan dalam merespon seleksi maupun inhibisi. Bagian-

bagian inilah, menurut penelitian tersebut, yang dapat menimbulkan munculnya

gejala ADHD.

Permasalahan akademik, perilaku dan emosi seringkali menjadi

permasalahan yang menyertai anak ADHD. Kegagalan dalam memproses

stimulus menyebabkan anak ADHD memiliki keterbatasan dalam menyesuaikan

perilaku mereka (Delfos, 2004). Permasalahan perilaku berdampak terhadap relasi

sosial anak ADHD. Anak ADHD sering bermasalah dalam hubungan sosial

dengan teman sebaya karena mereka lebih agresif, cenderung mendominasi,

terlalu banyak berbicara dan memiliki kelemahan dalam berkomunikasi sosial.

Seirngkali anak ADHD dilabel sebagai anak yang bandel atau sulit diatur dan

tampak sebagai anak yang menunjukkan perilaku agresif. Hal ini didukung oleh

beberapa penelitian yang menemukan bahwa anak ADHD menunjukkan perilaku

yang agresif (Becker dkk., 2012; Connor dkk., 2010; Kitchens, Rosen & Braaten,

1999).

Perilaku agresif merupakan perilaku yang bertujuan untuk menyakiti orang

lain yang dapat dilakukan dengan berbagai cara (Baron & Branscombe, 2012;

Dodge, Coie & Lynam, 2006; Essa, 2014; Hudley, 2008). Beberapa ahli memiliki

perbedaan dalam mengelompokkan perilaku agresi. Ada yang membaginya

menjadi overt (tampak) dan covert aggression (tidak tampak), ada yang

membaginya menjadi agresi verbal dan non verbal, ada juga yang

mengelompokan menjadi reaktif dan proaktif, serta ada juga yang membaginya

5
menjadi agresi fisik, verbal dan relasional (Shechtman, 2009). Penelitian ini lebih

mengacu kepada bentuk agresi fisik, verbal dan relasional.

Connor, Steeber & McBurnett (2010) dalam penelitiannya menemukan

bahwa permasalahan perilaku yang biasa diasosiasikan dengan ADHD adalah

perilaku menentang yang ditunjukkan dengan ketidakpatuhan terhadap orang

dewasa, mengganggu jalannya suatu aktivitas, argumentatif, mudah emosi,

melakukan kekerasan verbal, serta agresif fisik. Penelitian mengenai perilaku

agresif anak ADHD juga dilakukan oleh Kitchens dkk. (1999). Penelitiannya

menemukan bahwa anak ADHD lebih mudah marah, depresi dan agresif bila

dibandingkan dengan anak non ADHD. Sama seperti yang ditemukan oleh

Connor dkk. (2010) bahwa dari semua pengukuran perilaku agresif, didapati

bahwa anak ADHD lebih agresif dibandingkan kelompok kontrol dalam penelitian

tersebut. Penelitian longitudinal yang dilakukan oleh Harty dkk. (2009)

mendukung penemuan penelitian sebelumnya pada individu yang terdiagnosa

ADHD pada masa kanak-kanak, akan melakukan agresi fisik bila ADHD

komorbid dengan Conduct Disorder, sedangkan agresi verbal lebih banyak

terlihat pada individu yang terdiagnosa ADHD dengan komorbid Oppositional

Defiant Disorder.

Bila ditinjau berdasarkan jenis kelamin, laki-laki cenderung lebih agresif

daripada perempuan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

Khumas, Hastjarjo & Wimbarti (1997) yang menemukan bahwa anak laki-laki

lebih cenderung mengembangkan fantasi agresi dibandingkan anak perempuan.

Fantasi agresi dapat berkembangan menjadi perilaku agresif pada anak. Pada anak

6
ADHD, hal serupa juga ditemukan. Banaschewski (2015) dan Zuccheti dkk.

(2015) menyebutkan bahwa anak ADHD dengan predominan hiperaktif-impulsif,

yang didominasi oleh anak berjenis kelamin laki-laki, lebih cenderung

menunjukkan perilaku yang agresif, sedangkan anak ADHD predominan inatensi

cenderung dialami oleh siswa berjenis kelamin perempuan dan hal tersebut lebih

berdampak kepada performa akademik yang buruk. Secara biologis, adanya

hormon testosteron pada anak laki-laki menyebabkan mereka lebih menunjukkan

perilaku agresif dibandingkan anak perempuan. Selain itu, didapati juga bahwa

anak ADHD lebih senang menggunakan kekuatan fisik untuk menghadapi sesuatu

dibandingkan berpikir dan mencari pemecahan masalah (Chandler, 2010).

Loney & Milich (1982) menyebutkan bahwa perilaku agresif merupakan

wujud dari defisit fungsi sosial pada anak ADHD. Bagwell dkk. (2001)

memprediksikan kombinasi agresivitas dan ADHD pada masa kanak-kanak akan

membuat anak mengalami kesulitan sosial dalam jangka panjang. Anak yang

memiliki perilaku agresif biasanya ditolak secara sosial, bahkan tidak jarang

diberi hukuman. Hal tersebut justru membuat anak-anak tersebut menjadi

bertambah marah, lebih memberontak dan lebih agresif (Shechtman, 2009). Anak

ADHD seringkali dengan cepat dijauhi atau ditolak atau diabaikan oleh teman-

teman seusia mereka karena menunjukkan sejumlah perilaku agresif dan perilaku

tidak patuh (Davidson, Neale & Kring, 2006; White & Kistner, 2011). Hal ini

juga ditemukan oleh Hoza dkk. (2000) bahwa anak ADHD sangat lemah dalam

kemampuan sosial serta menunjukkan rasa frustrasi dan putus asa dalam

membangun interaksi dengan anak lain. Anak ADHD memiliki risiko yang tinggi

7
untuk mengalami gangguan dalam perkembangan yang mempengaruhi banyak

domain dari kehidupan, seperti fungsi interpersonal, keluarga dan sekolah

(Colomer dkk., 2013).

Perilaku agresif yang ditunjukkan berpengaruh kepada bagaimana anak

ADHD berelasi sosial dengan teman sebayanya (Ekornas dkk., 2011). Dalam

domain sosial, berdasarkan beberapa penelitian, memang ditemukan bahwa anak

ADHD jarang memiliki teman dekat dan lebih sering ditolak di kelasnya (Bagwell

dkk., 2001; Hodgens, Cole & Boldizar, 2000; Hoza dkk., 2005). Penelitian

longitudinal yang dilakukan oleh Mrug dkk. (2012) bahkan menemukan bahwa

penolakan dari teman sebaya terhadap anak yang mengalami ADHD saat duduk di

sekolah dasar akan berdampak negatif 4 sampai 5 tahun kemudian, misalnya saja

saat memasuki masa remaja mereka akan lebih sering terlibat dalam kenakalan

remaja, menjadi perokok berat dan akan mengalami masalah kecemasan.

Masalah dengan teman sebaya memang tidak ditemui pada semua anak

ADHD namun kecenderungan impulsif, kesulitan menguasai diri sendiri, serta

rasa toleransi frustrasi yang rendah kerap dialami sehingga tidak mengherankan

mereka memiliki permasalahan dalam kehidupan sosial, kesulitan bermain dengan

aturan dan aktivitas yang lainnya yang tidak hanya terbatas di sekolah namun juga

di lingkungan sosialnya (Baihaqi & Sugiarmin, 2008). Peneliti dan clinician

memiliki hipotesis bahwa perilaku negatif berhubungan dengan gejala awal

ADHD kemungkinan besar berdampak pada hubungan teman sebaya yang kurang

baik pada anak ADHD (Linnea dkk., 2012). Pada anak laki-laki, gejala

hiperaktivitas menyebabkan konflik dengan teman sebaya sedangkan pada

8
perempuan lebih disebabkan oleh gejala inatensi (Zuccheti dkk., 2015).

Ketidakstabilan emosi, agresi dan perilaku sebagai hal yang memediasi gejala

ADHD dengan konflik teman sebaya.

Salah satu penyebab anak ADHD memiliki masalah dalam berperilaku

sehingga berdampak kepada relasi sosialnya adalah karena adanya positive

illusory bias (Mikami, Calhoun & Abikoff, 2010; Rizzo, Steinhausen &

Dreschler, 2010; Wiener dkk., 2012). Akumulasi berbagai pengalaman negatif

pada aspek-aspek sosial, perilaku serta akademis pada anak ADHD berdampak

kepada persepsi diri dan harga diri mereka yang muncul dalam bentuk coping

yang maladaptif dan tingkat ketidaksetujuan yang tinggi terhadap kritik yang

diberikan orang lain (Rizzo, 2011). Kaiser dkk. (2008) dan Hoza dkk. (2010)

menemukan bahwa estimasi diri berlebih pada anak ADHD erat kaitannya dengan

masalah perilaku dan meningkatnya perilaku agresif. Anak ADHD seringkali

menilai terlalu tinggi performa mereka pada suatu tugas atau situasi dimana

mereka sebenarnya paling bermasalah (Hoza dkk., 2004).

Positive illusory bias (PIB) adalah kesenjangan antara penilaian tentang

diri mengenai kompetensi diri dengan kompetensi secara aktual, dimana anak

ADHD punya kecenderungan yang menganggap penilaian tentang dirinya lebih

tinggi dari kemampuan sesungguhnya (Hoza dkk., 2002). Owens dkk. (2007)

dalam penelitiannya mendefinisikan PIB sebagai fenomena dimana seseorang

memiliki persepsi diri yang terlalu positif bila dibandingkan dengan indikator

eksternal dari kompetensi yang sesungguhnya, yang dalam kasus ini terjadi pada

anak ADHD. Secara sederhana PIB didefiniskan sebagai estimasi berlebih

9
terhadap diri sendiri dimana penilaian terhadap diri lebih tinggi dari kompetensi

yang ditunjukkan secara nyata. Fenomena PIB sendiri sebenarnya dapat

ditemukan dalam populasi umum, namun dampak negatif dari adanya PIB ini

memang lebih banyak ditemukan pada anak yang mengalami ADHD (Mooney,

2015).

PIB berangkat dari teori konsep diri milik Harter (1999). Konsep diri

merupakan konstruk multidimensional yang berkaitan dengan kompetensi yang

dipersepsikan sepanjang masa kanak-kanak sampai dewasa . Istilah konsep diri

merupakan payung dari istilah “diri” yang lain. Konsep diri secara umum

dipandang sebagai kesadaran karakteristik pribadi seseorang, atribut, dan

keterbatasan-keterbatasan, serta kualitas disukai atau tidak disukai orang lain.

Dalam perkembangan konsep diri, terdapat berbagai tahap yang terdiri dari dari

self-knowledge, self-awareness, dan self-evaluation. Ketiga hal ini dikaitkan

dengan persepsi diri. Pada masa kanak-kanak awal, seseorang diajarkan untuk

mulai mengenal diri (self-knowledge) dan pada tahapan perkembangan berikutnya

akan meningkat kepada self-awareness dan self-evaluation. Semakin tinggi usia,

seseorang semakin bisa menyadari kelemahan dan kelebihan diri serta melakukan

evaluasi terhadap umpan balik yang diterimanya (Harter, 1999). Temuan

penelitian yang dilakukan oleh Adler dkk. (2008) menemukan bahwa persepsi diri

pada orang dewasa lebih akurat dibandingkan ketika masih anak-anak. Jadi

seharusnya PIB saat masa dewasa menurun.

Beberapa penelitian menunjukkan bukti bahwa PIB memang ditemukan

pada anak dengan ADHD (Evangelista dkk., 2008; Owens dkk., 2007; Fefer,

10
2013; Siu, Yan & Ho, 2016). Penelitian yang dilakukan Evangelista dkk. (2008)

menemukan bahwa anak ADHD menganggap diri mereka jauh lebih baik dari

anak lain dalam segala bidang, bila dibandingkan dengan anak non ADHD. Fefer

(2013) melakukan penelitian terhadap remaja ADHD dan mendapati hal serupa,

dimana terjadi kesenjangan skor antara persepsi diri dan penilaian guru pada

bidang akademik dan sosial yang menunjukkan bahwa anak ADHD memang

memiliki PIB. Penelitian lain juga menemukan bahwa anak ADHD seringkali

mengalami kegagalan dalam menilai kompetensi diri mereka sendiri, dalam hal ini

menilai terlalu tinggi, pada bidang akademik, sosial dan perilaku (DuPaul, 2010;

Mrug dkk., 2001; Pelham dkk., 2005).

Memang belum banyak penjelasan mengenai penyebab kemunculan PIB

pada anak ADHD, namun penjelasan yang paling memungkinkan adalah karena

adanya defisit executive function (Hoza dkk., 2001; Owens & Hoza, 2003; Owens

dkk., 2007). Defisit executive function (EF) sendiri sebenarnya menjadi ciri yang

khas pada anak ADHD. Penelitian yang dilakukan oleh McQuade dkk. (2011)

menemukan bahwa cognitive deficit, dalam hal ini EF, berperan dalam

menimbulkan PIB pada anak ADHD. Fungsi kognitif yang diteliti menjadi

mediator PIB dengan ADHD adalah executive processes, working memory, broad

attention dan cognitive fluency. Ada EF yang memiliki fungsi untuk

merencanakan dan meregulasi perilaku agar sesuai dengan tujuan, yang pada anak

ADHD didapati mengalami defisit. Barkley (2006) menyatakan bahwa defisit

pada inhibisi dan fungsi eksekutif pada anak ADHD mungkin berpengaruh pada

anak ADHD yang berdampak pada kemampuannya untuk menilai secara akurat

11
kompetensi dan performa diri sendiri, dengan menggunakan informasi

berdasarkan umpan balik dari orang-orang di sekitarnya.

Hasil penelitian mengenai hubungan EF dan PIB pun masih bervariasi

sampai saat ini. Penelitian Chad dan Martinussen (2015) menemukan bahwa

kemampuan EF, khususnya working memory berhubungan dengan kemampuan

individu dalam performa dalam melakukan sebuah tugas dan juga evaluasi

terhadap tugas tersebut. Anak yang memiliki defisit pada working memory akan

memiliki kecenderungan untuk terindikasi PIB, yang ditunjukkan dengan

kurangnya usaha untuk melakukan perbaikan terhadap tugas yang dikerjakan.

Money (2015) menemukan bahwa PIB masing-masing domain memiliki

hubungan yang signifikan terhadap defisit EF. PIB akademik berkaitan dengan

conceptual flexibility, PIB sosial berkaitan dengan monitoring, dan PIB perilaku

berkaitan dengan working memory.

Penelitian lain yang mendukung hal ini adalah penelitian yang dilakukan

oleh Samango-Sprouse (2007) yang dalam literatur neuropsikologisnya

menyebutkan bahwa defisit pada fungsi eksekutif diasosiasikan dengan

ketidakakuratan dalam melakukan persepsi diri. Menurut Barkley (1997) tidak

hanya satu dari fungsi eksekutif yang dapat berkontribusi terhadap munculnya

PIB. Biasanya gangguan yang terjadi selama proses eksekutif itulah yang dapat

berdampak pada kurangnya kemampuan individu untuk secara akurat

mempersepsi kompetensi mereka berdasarkan umpan balik yang diberikan

lingkungannya.

12
Selain hal tersebut, ditemukan penyebab lain dari adanya PIB pada anak

ADHD lebih disebabkan oleh self protection yang digunakan sebagai cara coping

anak ADHD (Diener & Milich, 1997). PIB dianggap sebagai cara coping anak

ADHD. Mereka mengatasi berbagai kekurangan mereka dengan membentuk

persepsi diri yang jauh lebih tinggi dari penilaian orang lain atau kompetensi

sesungguhnya yang mereka miliki. Hal ini dilakukan karena anak ADHD menolak

kelemahan-kelemahan dirinya dengan membangun persepsi yang positif.

Anak ADHD yang memiliki PIB akan menaksir terlalu tinggi kompetensi

mereka, padahal kenyataan di lapangan belum tentu demikian, sehingga hal ini

dapat berdampak pada munculnya perilaku agresif (Jiang & Johnston, 2014).

Anak-anak yang menunjukkan perilaku agresif cenderung memiliki bias dalam

pemikirannya dimana mereka meyakini apa yang mereka pikirkan dibandingkan

dengan apa yang sebenarnya terjadi dalam situasi sosialnya (Hudley, 2008). PIB

sendiri erat kaitannya dengan bagaimana seseorang menerima umpan balik dari

orang-orang disekitarnya. Adanya PIB menghalangi seseorang untuk menerima

umpan balik mengenai dirinya atau resisten terhadap saran, kurang memiliki

motivasi untuk berubah, serta tidak menyadari kelemahan yang dimiliki.

Baumeister dkk. (1996) mengemukakan bahwa persepsi diri yang terlalu

tinggi dapat mengarah kepada perilaku agresif. Mereka meyakini bahwa respon

agresif dilakukan guna menghindari pandangan untuk melakukan sesuatu yang

lebih adaptif. Hasil penelitian Sallee (2013) mendukung pernyataan bahwa

penilaian diri yang terlalu tinggi dapat menyebabkan munculnya perilaku agresi

dari waktu ke waktu. Penelitian yang dilakukan Sallee juga menemukan bahwa

13
penilaian berlebih pada relasi diri dengan teman sebaya memiliki dampak negatif,

meningkatkan agresivitas dan bersifat maladaptif.

Owens dkk. (2007) menyebutkan bahwa penelitian mengenai PIB sudah

mulai dikembangkan sejak 15 tahun terakhir. Walaupun sudah dikembangkan

semenjak 15 tahun terakhir, jumlahnya tidak terlalu banyak. PIB mulai diteliti

tahun 1983 oleh Taylor, tahun 1985 oleh Harter dan dilanjutkan oleh Hoza, dkk.

tahun 1993 (Golden, 2009). Penelitian PIB selama ini banyak dilakukan di Barat

namun belum ada penelitian serupa yang dilakukan di Indonesia, begitu pula

penelitian mengenai PIB pada anak ADHD. Mikami dkk. (2010) mengemukakan

bahwa kehadiran PIB pada anak ADHD dapat berdampak kepada kurangnya

keefektifan intervensi. Oleh karena itu dirasa perlu untuk melakukan penelitian

mengenai PIB pada anak ADHD, khususnya di Indonesia.

Variabel bebas
Variabel tergantung
Status gangguan
(ADHD dan non
ADHD)
Perilaku agresif

Jenis positive
illusory bias(PIB)

Gambar 1. Hubungan antar variabel

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan positive

illusory bias pada anak ADHD dan non ADHD serta melihat perbedaan perilaku

agresif berdasarkan status gangguan yang dialami anak dan jenis positive illusory

bias. Manfaat penelitian ini secara teoretik diharapkan dapat menambah

14
kontribusi pada keilmuan psikologi pendidikan dan perkembangan. Manfaat untuk

praktisi di bidang psikologi adalah memahami indikasi PIB pada anak ADHD

sehingga menjadi bahan pertimbangan saat melakukan intervensi saat pada anak

ADHD. Berdasarkan latar belakang masalah dan tinjauan pustaka, terdapat dua

hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini, yaitu:

Ha1 : terdapat perbedaan frekuensi anak ADHD dan non ADHD yang

mengalami positive illusory bias

Ha2 : perilaku agresif antara anak ADHD lebih tinggi dari anak non

ADHD sesuai dengan jenis positive illusory bias yang dimiliki.

METODE

Identifikasi Variabel Penelitian

Hipotesis pertama yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat

perbedaan frekuensi anak ADHD dan non ADHD yang mengalami positive

illusory bias. Variabel bebas untuk hipotesis ini adalah status gangguan dan

variabel tergantungnya adalah positive illusory bias. Hipotesis kedua yang

diajukan dalam penelitian ini adalah perilaku agresif anak ADHD lebih tinggi dari

anak non ADHD sesuai dengan jenis positive illusory bias yang dimiliki. Variabel

bebas untuk hipotesis ini adalah status gangguan dan jenis positive ilusory bias,

sedangkan variabel tergantungnya adalah perilaku agresif.

Definisi Operasional Variabel Penelitian

Status gangguan adalah kondisi perkembangan yang dialami anak. Dalam

penelitian ini status gangguan dibagi menjadi dua yaitu anak dengan gangguan

perkembangan yaitu ADHD dan anak tanpa gangguan perkembangan yang


15