You are on page 1of 77

I.

ANALISIS HUKUM KESEHATAN

A. PENGERTIAN HUKUM KESEHATAN


Istilah hukum kesehatan ( medical law ) dalam negara yang menganut
sistim hukum eropa kontinental ( anglo saxon ) seperti, belanda , perancis
berbeda dengan health law bagi negara yang menganut sistim hukum common
law system ( amerika serikat, inggris ) yang dikarenakan bahwa helath law
merupakan istilah ruang lingkupanya lebih luas dibanding dengan medical law
karena sebagian orang yang menyatakan bahwa medical law adalah bagian dari
health law.
Menurut prof. H.J.J. Leneen mengatakan bahwa hukum kesehatan adalah
semua peraturan – peraturan hukum yang berhubungan langsung dengan
pemberian pelayanan kesehatan dan penerapanya kepada hukum perdata, hukum
pidana, dan hukum administarsi negara.
Dalam undang-undang Republik Indonesia nomor 36 Tahun 2009 Tentang
Kesehatan yang di maksud dengan Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan
dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu, terintregasi dan
berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit.

B. RUANG LINGKUP HUKUM KESEHATAN


Dewasa ini kemajuan iptek dibidang kesehatan telah sangat berkembang
pesat dengan di dukung oleh sarana kesehatan semakin canggih, perkembangan
ini turut mempengaruhi jasa profesionalisme di bidang kesehatan yang dari waktu
ke waktu semakin berkembang pula.
Dalam banyak hal yang berhubungan denngan masalah kesehatan , sering di
temui kasus – kasus yang merugikan pasien, oleh sebab itu tidak mengherankan
apabilaprofesi kesehatan ramai di perbincangkan baik di kalangan masyarakat
ataupun di kalangan intelektual. Sehingga sering timbul gugatan dari pasien yang
merasa dirugikan akibat adanya kesehatan atau kelalaian yang di lakukan oleh
tenaga kesehatan di dalam melaksanakan pemberian pelayanan kesehatan, maka
keadaan – keadaan seperti inilah yang menunjukkan suatu gejala, bahwa dunia
kesehatan (pelayan kesehatan ) mulai di landa krisis etik – etik medis, bahkan
juga krisis keterampilan medis yang pada dasarnya semuanya tidak dapat tidak
dapat di selesaikan dengan kode etik etika profesi para tenaga kesehatan semata,
melainkan harus diselesaikan dengan cara yang lebih luas, yaitu melalui jalur
hukum.
Munculnya kasus – kasus pelayanan kesehatan yang terjadi di tengah –
tengah lapisan masyarakat dalam hal masalah kesehata dan bnyaknya kritikan –
kritikan yang muncul terhadap pelayanan kesehatan itu merupakan indikasi bahwa
kesadaran hukum oleh masyarakat dalah hal masalah kesehatan semakin
meningkat pula.
1
Hal ini juga yang menyebabkan masyaraaakat tidak mau lagi menerima
begitu saja cara pelayanan yang kurang efisien yang akan dilakukan para tenaga
medis kesehatan kepada masyaraakat, akan tetapi engin menjalani bagaimana
pemberian pelayanan kesehatan kepada masyarakat itu harus dilakukan, serta
bagaimana masyarakat harus bertindak sesuai denagn hak dan kepentinganya
apabila mereka menderita kerugian akibat dari kelalaian pelayanan kesehatan
yang pada dasarnya adalah kesalahan atau kelalaian pelayan kesehatan
merupakan suatu hal yang penting untuk di bicarakan dalam hal ini yang di
sebabkan akibat dari kelalaian atau kesalahan yang dilakukan oleh tenaga
kesehatan tersebut yang mempunyai
dampak yang sangat merugikan, selain merusak atau mengurangi kepercayaan
masyarakat terhadap profesi pelayanan kesehatan, juga menimbulkan kerugian
terhadap pasien atau masyarakat.
Maka untuk itu di dalam memahami ada tidak adanya kesalahan ataupun
kelalaian yang dilakuakan tenaga medis , maka hal itu harus dihadapkan dengan
kewajiban profesi disamping harus pula memperhatikan aspek hukum yang
mendasari terjadinya hubungan hukum antara dokter dengan pasien, yang di
karenakan bahwa setiap kegiatan dalam upaya untuk memelihara dan
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dilaksanakan
berdasarkan prinsipnondiskriminatif, partisipatif, dan berkelanjutan dalam rangka
pembentukan sumber daya manusia Indonesia, serta peningkatan ketahanan dan
daya saing bangsa bagi pembangunan nasional mengingat bahwa kesehatan
merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus
diwujudkan sesuai dengan cita-citabangsa Indonesia sebagaimana dimaksud
dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945.

C. HUBUNGAN HUKUM ANTARA DOKTER DENGAN PASIEN


Hubungan hukum antara dokter dengan pasien pada dasarnya adalah
merupakanperjanjian perbintenis yang di karena berupaya untuk mewujudkan apa
yang di perjanjikan kedua pihak antara dokter dengan pasien, yang sebagaimana
diatur dalam pasal 1320 kitab undang hukum perdata tentang sahnya suatu
perjanjian. Ketika hubungan antara dokter dan pasien termasuk dalam ruang
lingkup perjanjian, maka apaun ketentuan – ketentuan yang di atur pada KUHP
berlaku terhadap perjanjian teraupeutik, yang karena pada dasarnya kedatangan
seorang pasien kepada dokter dianggap sudah adanya perjanjian (mutual consent )
Dalam tahapan perkembangan hubungan hukum antara dokter dengan
pasien di dalam memberikan pelayanan kesesahatan ini dikenal menjadi 3 ( tiga )
tahapan perkembangan hubungan hukum yaitu sebagai berikut :

2
1. Hubungan aktif – pasif.
Pada tahapan hubungan ini, pasien tidak memberikan kontribusi apapun,
dimana pasien hanya menyerahkan sepenuhnya akan tindakan dokter yang
akan di lakukan dalam hal pemberian jasa kesehatan.
2. Hubungan kerja sama terpimpin.
Pada tahapan hubungan ini, sudah tampak adanya partisipasi dari pasien
dalam proses pelayanan kesehatan sekalipun peranan dokter masih bersifat
dominan di dalam menetukan tidakan – tindakan yang akan di lakukan,
pada thapan ini pula kedudukan dokter sebagai orang yang di percaya oleh
pasien masih bersifat signifikan.
3. Hubungan partisipasi bersama.
Pada tahapan hubungan ini, pasien menyadari bahwa dirinya, sederajat
dengan dokter dan dengan demikian apabila terbentuk suatu hubungan
hukum maka hubungan tersebut dibangun atas dasar perjanjian yang di
sepakati bersama antara pasien dengan dokter.
Menurut Lumenta hubungan antara dokter dengan pasien ada 3 ( tiga ) hubungan
yanitu :
1. Hubungan patnerlistik.
2. Hubungan individualistik.
3. Hubungan kolegial.
Menurut Dasen sebagai mana di kutip oleh Soejhono Soekanto ada terdapat
beberapa alasan mengapa seorang pasien mendatangi dokter, yaitu :
1. Pasien pergi kedokter semata – mata karena ada merasa sesuatu yang
membahyakan kesehatanya.
2. Pasien pergi kedoter di karenakan mengetahui bahwa dirinya sakit dan
dokter dianggap mampu intuk menyembuhkan.
3. Pasien pergi keokter guna mendapatkan pemeriksaan yang intensif dan
mengobati penyakit yang di temukan.

Di dalam hubungan hukum antara dokter dengan pasien menurut undang-


undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran
pada pasal 52 dan pasal 53 dalam hal hak dan kewajiban pasien ditemui hubungan
hukum pasien dengan dokter yaitu :
1. Pasal 52 mengatakan bahwa Pasien, dalam menerima pelayanan pada
praktik kedokteran, mempunyai hak sebagai berikut :
a. mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (3);
b. meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain
c. mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis
d. menolak tindakan medis; dan
e. mendapatkan isi rekam medis.

3
2. Dan di Pasal 53 mengatakan bahwa Pasien, dalam menerima pelayanan pada
praktik kedokteran, mempunyai kewajiban sebagai berikut :
a. memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah
kesehatannya
b. mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi
c. mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan; dan
d. memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.

D. ASAS – ASAS HUKUM YANG BERKAITAN DENGAN DOKTER


DENGAN PASIEN
Di dalam hubungan hukum antara dokter dengan pasien terdapat beberapa
asas – asas yang di atur di dalam Undang - Undang Republik Indonesia Nomor
29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran, pasal 2 sebagai mana di sebutkan
bahwa Praktik kedokteran dilaksanakan berasaskan Pancasila dan didasarkan pada
nilai ilmiah, manfaat, keadilan, kemanusiaan, keseimbangan, serta perlindungan
dan keselamatan pasien.
Di dalam penjelasan pasal 2 Undang - Undang Republik Indonesia Nomor
29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran, dapat diartikan asas – asas tersebut
di dalam pegertianya di uraikan yang mana di dalam ketentuan ini yang dimaksud
adalah :
1. Nilai ilmiah adalah bahwa praktik kedokteran harus didasarkan pada ilmu
pengetahuan dan teknologi yang diperoleh baik dalam pendidikan
termasuk pendidikan berkelanjutan maupun pengalaman serta etika profesi
2. Manfaat adalah bahwa penyelenggaraan praktik kedokteran harus
memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemanusiaan dalam
rangka mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
3. Keadilan adalah bahwa penyelenggaraan praktik kedokteran harus mampu
memberikan pelayanan yang adil dan merata kepada setiap orang dengan
biaya yang terjangkau oleh masyarakat serta pelayanan yang bermutu
4. Kemanusiaan adalah bahwa dalam penyelenggaraan praktik kedokteran
memberikan perlakuan yang sama dengan tidak membedakan suku,
bangsa, agama, status sosial, dan ras
5. Keseimbangan adalah bahwa dalam penyelenggaraan praktik kedokteran
tetap menjaga keserasian serta keselarasan antara kepentingan individu dan
masyarakat
6. Perlindungan dan keselamatan pasien adalah bahwa penyelenggaraan
praktik kedokteran tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan semata,
tetapi harus mampu memberikan peningkatan derajat kesehatan dengan
tetap memperhatikan perlindungan dan keselamatan pasien.

4
Maka selain dari pada itu, ada pula yang menyebutkan beberapa asas yang harus
di pedomani oleh dokter untuk menjadikan dasar dalam pemberian pelayanan
kesehatan yaitu :
1. Asas legalitas.
2. Asas keseimbangan.
3. Asas tepat waktu.
4. Asas kejujuran.
5. Asas keterbukaan.
6. Asas kehati – hatian.

Demikian pula di dala informed konsent ( persetujuan medes ) menganut ada 2 (


dua ) unsur antara lain yaitu :
1. Informasi yang di berikan oleh dokter kepada pasien mengenai tindakan
apa yang di lakukan.
2. Persetujuan yang di berikan oleh pasien kepada dokter.

Seperti yang di maksud di dalam Undang - Undang Republik Indonesia Nomor


29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran di dalam pasal 45 yang menyatakan
bahwa :
1. Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh
dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan.
2. Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien
mendapat penjelasan secara lengkap.
3. Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya
mencakup :
a. diagnosis dan tata cara tindakan medis
b. tujuan tindakan medis yang dilakukan
c. alternatif tindakan lain dan risikonya
d. risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dan
e. prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.

Perjanjian teraupeutik sebagaimana di dalam Surat Keputusan Menteri


Kesehatan Nomor 80 tahun 1969 yang di sempurnakan dengan Surat Keputusan
Menteri Kesehatan Nomor 483/Men.Kes/X/1982, yang mengatakan tentang
Transaksi Teraupeutik adalah perjanjian antara dokter dan pasien yang berupa
hubungan hukum yang melahirkan hak dan kewajiban bagi kedua belah pihak.
Berbeda dengan perjanjian yang pada umumnya, karena ke khususan itu terletak
pada objek yang di perjanjikan, akan tetapi disini adalah yang menjadi objek yang
di perjanjikan adalah upaya untuk melakukan penyembuhan pasien.
Dengan demikian maka perjanjian teraupeutik adalah suatu perjanjian untuk
menetukan atau upaya mencari terapi yang paling tepat bagi pasien yang di
lakukan oleh dokter. Hubungan hukum antara dokter dengan pasien merupaka
5
perjanjian perbintens, karena berupaya untuk mewujudkan apa yang di
perjanjiakan.
Dalam hal terpenuhinya suatu perjanjian transaksi teraupeutik, maka dalam
hal ini pasien bisa saja melakuakan tuntutan hukum kepada tenaga kesehatan
dalam masalah pertanggung jawaban hubungan hukum antara dokter dan pasien,
apabila dokter melakukan penyimpangan, malaui tuntutan, antara lain: dalam
aspek hukum perdata, Wanprestasi pasal 1339 KUHPerdata.
Di katakan wanprestasi pabila :
1. Tidak melakukan apa yang disepakati
2. Melakukan apa yang di sepakati tetapi terlambat
3. Melakukan apa yang di sepakati tetapi tidak sebagaimana yang di
perjanjiakan.
4. Melakukaan surat perbuatan yang menurut hakikatnya perjanjian itu
tidak di perbolehkan.
Onrecht mangitedaad ( perbuatan melawan hukum ) pasal 1365 KUHPerdata.
KUHPerdata pasal 1365 yang mengatakan yang perbuatan melanggar
hukum, yang membawa kerugian kepada seorang lain, mewajibkan orang yang
karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.
Unsur perbuatan melawan hukum ( Onrecht mangitedaad ) yaitu :
Menimbulkan kerugian kepada orang lain, yang di sebabkan antara lain :
1. Adanya kesalahan.
2. Adanya kerugian yang di timbulkan.\
3. Adanya hubungan hukum antara kalusual dengan perbuatan yang di
lakukan dalam aspeh hukum pidana
Hubungan hukum antara dokter dengan pasien dalam aspek hukum pidana
dapat dilihat apabila pada saat memberikan pelayanan kesehatan ditemukan
adanya kesalahan dan kerugian yang di timbulkan. Sebagai mana di sebut dalam
pasal 359 dan 361 KUHP yang mengakibatkan orang mati atau luka yang karena
salahnya. Untuk melihat adanya kesalahan dokter dalam memberikan pelayanan
kesehatan adalah dapat dilihat melaui satandart operasional prosedural dan
medical record.

C. HAK DAN KEWAJIBAN DOKTER DALAM MEMBERIKAN


PELAYANAN KESEHATAN
Dari sudut pandang sosiologis seorang dokter yang melakukan hubungan
atau transaksi teraupeutik, masing – masing mempunyai kedudukan dan peranan.
Kedudukan yang dimaksud disini adalah kedudukan yang berupa wadah, hak dan
kewajiban. Sedangkan peranan merupakan pelaksanaan hak – hak dan kewajiban
tersebut. Secara sederhana dapat di katakan bahwa hak itu merupakan wewenang
untuk berbuat atau tidak berbuat. Sedangkan kewajiban adalah tugas atau beban
yang harus di laksanakan.

6
Dahulu kedudukan doter di anggap lebih tinggi dari pasien dan oleh karena
itu perananaya lebih penting pula. Dalam perkembangan kehidupan masyarakat
hubungan dokter dengan pasien secara khusus mengalami perubahan bentuk, hal
itu di sebabkan oleh beberapa faktor, antara lainya ialah sebagai berikut ini :
1. Kepercayaan tidak lagi tertuju kepada dokter pribadi, akan tetapi kepada
kemampuan iptek kesehatan.
2. Masyarakat menganggap bahwa tugas dokter itu bukan hanya melakukan
penyembuhan, akan tetapi juga di lakukan pada perawatan.
3. Adanya kecenderungan untuk menyatakan bahwa kesehatan bukan lagi
merupakan keadaan tanpa penyakit, akan tetapi lelbih berarti oada
kesejahteraan fisik, mental, dan sosial.
4. Semakin banyaknya perturan yang memberikan perlindungan hukum
kepada pasien, sehinggga lebih mengetahui dan memahami hak – haknya
dalam hubunganya dengan dokter.
5. Tingkat kecerdasan masyarakat menegenai kesehatan semakin meningkat.

Menurut Leneen sebagaimana yang di kutip olehsoejono soekanto yang


menyatakan bahwa manusia itu mempunyai 2 ( dua ) macam hak asasi yaitu, hak
asasi sosial, dan hak asasi individual. Diamana batas antara keduanya agak kabur,
sehingga di perlukan suatu landasan pemikiran yang berbeda, hal itu dikarenakan
hak asasi individual mempunyai aspek sosial, hal ini berarti kedua kategori hak
asasi tersebut dalam kenyataanya mengungkapkan dimensi individual dan dan
sosial dari keberadaan atau existensi sesuatu hak atas pelayanan kesehatan
merupakan salah satu hak asasi sosial manusia, dengan demikian untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik, pemerintah telah menetapkan
Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan,
sebagai pengganti undang – undang nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan,
khususnya di pasal 48 yang menyatakan bahwa :
1. Penyelenggaraan upaya kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47
dilaksanakan melalui kegiatan :
a. Pelayanan
b. pelayanan kesehatan
c. pelayanan kesehatan tradisional
d. peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit
e. penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan
f. kesehatan reproduksi
g. keluarga berencana
h. kesehatan sekolah
i. kesehatan olahraga
j. pelayanan kesehatan pada bencana
k. pelayanan darah
l. kesehatan gigi dan mulut
7
m. penanggulangan gangguan penglihatan dan gangguan pendengaran
n. kesehatan matra
o. pengamanan dan penggunaan sediaan farmasi danalat kesehatan
p. pengamanan makanan dan minuman
q. pengamanan zat adiktif; dan/atau
r. bedah mayat.
2. Penyelenggaraan upaya kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
didukung oleh sumber daya kesehatan.

Menurut Leneen kewajiban dokter dalam melaksanakan pelayanan


kesehatan dibagi menjadi 3 ( tiga ) kelompok yaitu :
1. Kewajiban yang timbul dari sifat peralatan medis dimana dokter harus
bertindak, harus sesuai dengan standart profesi medis.
2. Kewajiban untuk menghormati hak – hak pasien yang bersumber dari hak
asasi di bidang kesehatan.
3. Kewajiban yang berhubungan dengan fungsi sosial pemeliharaan kesehatan.

Kewajiban dokter terhadap pasien di dalam melaksanakan pelayanan


kesehatan di atur lebih kongkrit di dalam pasal 51 Undang – Undang Nomor 29
Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran yang berbunyi bahwa Dokter atau dokter
gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai kewajiban :
1. memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar
prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien
2. merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau
kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu
pemeriksaan atau pengobatan
3. merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga
setelah pasien itu meninggal dunia
4. melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia
yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya; dan
5. menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran
atau kedokteran gigi.
Selain itu, kewajiban dokter di dalam memberikan pelayanan kesehatan
dapat juga dilihat di dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 34 Tahun
1983 Tentang Kode Etik Kedokteran Indonesia, yang menytakan bahwa dokter
memiliki serangkaian kewajiban yaitu :
1. kewajiban umum.
2. Kewajiban terhadap penderita.
3. Kewajiban terhadap rekan sejawat.
4. Kewajiban terhadap diri sendiri.

8
Selain dari pada kewajiban dokter di dalam memberikan pelayanan
kesehatan, dokter juga memiliki hak, sebagaimana yang di atur di dalam pasal 50
Undang – Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran, yang
menyatakan bahwa Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik
kedokteran mempunyai hak :
1. memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai
dengan standar profesi dan standar prosedur operasional
2. memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur
operasional
3. memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya;
dan
4. menerima imbalan jasa.

D. HAK & KEWAJIBAN PASIEN DALAM TRANSAKSI TERAUPEUTIK


Secara normatif hak dan kewajiban pasien di atur di dalam Undang -
Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran
pada pasal 52 dan pasal 53 dalam hal hak dan kewajiban pasien ditemui hubungan
hukum pasien dengan dokter yaitu :
1. Pasal 52 mengatakan bahwa Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik
kedokteran, mempunyai hak sebagai berikut :
a. mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (3).
b. meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain
c. mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis
d. menolak tindakan medis; dan
e. mendapatkan isi rekam medis.
2. Dan di Pasal 53 mengatakan bahwa Pasien, dalam menerima pelayanan pada
praktik kedokteran, mempunyai kewajiban sebagai berikut :
a. memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah
kesehatannya
b. mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi
c. mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan; dan
d. memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.

Berkaitan dengan hak pasien untuk mendapatkan penjelasan secara


lengkap tentang tindakan medis sebagaimana yang di maksud di dalam Undang -
Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran
di dalam pasal 45 yang menyatakan bahwa :
1. Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh
dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan.
2. Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien
mendapat penjelasan secara lengkap.
9
3. Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya
mencakup :
a. diagnosis dan tata cara tindakan medis
b. tujuan tindakan medis yang dilakukan
c. alternatif tindakan lain dan risikonya
d. risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dan
e. prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.

Selain dari pihak pasien yang di atur di dalam perundang – undangan maka
hak pasien juga di cantumkan di dalam peraturan Kode Etik Profesi Kedokteran
Indonesia yaitu :
1. hak untuk hidup, hak atas tubuhnya, dan hak untuk mati secara wajar.
2. Hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standart profesi
kedokteran.
3. Hak memperoleh penjelasan secara lengkap tenetang diagnosa dan terapi
medis yang di lakukan oleh dokter di dalam mengobatinya.
4. Hak untuk menolak prosedur diagnosis dan terapi yang akan di rencanakan,
bahkan untuk menarik diri dari kontrak teraupeutik.
5. Hak atas kerahasiaan atau rekam medic yang bersifat pribadi.

10
II. ANALISIS UNDANG-UNDANG KESEHATAN & TENAGA KESEHATAN

A. PENDAHULUAN
Masyarakat yang sehat, dengan kapasitas fisik dan daya pikir yang kuat, akan
menjadi kontribusi kontribusi positif terhadap komunitasnya, dengan menjadi
individu yang produktif. Kesehatan memiliki daya ungkit yang dapat mendukung
aspek-aspek pembangunan lainnya, sehingga indikator-indikator kesehatan
seringkali digunakan sebagai ukuran kemajuan pembangunan. Upaya penurunan
kemiskinan pun dipengaruhi oleh kebijakan kesehatan yang diberlakukan, seperti
universal health coverage, atau perlindungan kesehatan menyeluruh. Agar dapat
mencapai perlindungan kesehatan yang ideal tersebut, diperlukan sebuah sistem
pelayanan kesehatan yang efisien dan efektif. Sistem ini mencakup akses terhadap
pusat layanan kesehatan, obat-obatan esensial, tenaga kesehatan yang kompeten,
serta tata kelola yang baik.
Dengan diterapkannya sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan
peluncuran Kartu Indonesia Sehat (KIS) pada tahun 2014, Indonesia telah
menunjukkan komitmennya terhadap perbaikan kualitas kesehatan rakyatnya. Hal
ini perlu diikuti dengan penguatan sistem layanan kesehatan primer, dimana
penguatan layanan primer menjadi vital dalam perannya sebagai garda terdepan
menjaga kesehatan masyarakat, dalam, melakukan upaya prevensi atau
pencegahan penyakit secara luas termasuk melalui edukasi kesehatan, konseling
serta skrining/penapisan. Kuatnya sistem pelayanan kesehatan primer akan
memperluas jangkauan layanan kesehatan hingga ke akar rumput dan
meminimalisir ketidakadilan akses terhadap kesehatan antar kelompok
masyarakat.
Dalam realita, Indonesia yang mempunyai geografi berupa daratan, lautan,
pegunungan serta banyaknya pulau-pulau yang tersebar menyebabkan akses
pelayanan kesehatan untuk daerah tertentu sangat sulit dijangkau. Situasi di
daerah tertinggal, perbatasan dan kepulauan (DTPK) dan Daerah Bermasalah
Kesehatan (DBK) sangat berbeda dengan daerah lainnya. Ketersediaan tenaga
kesehatan dan sarana-prasarana merupakan masalah utama yang terjadi di
lapangan. Namun demikian, aktifitas pelayanan wajib dilaksanakan dan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat tidak dapat ditunda. Oleh sebab itu diperlukan
kebijakan khusus mengenai model penempatan tenaga kesehatan di fasilitas
pelayanan kesehatan disesuaikan dengan karakteristik daerah dan tidak
menyamaratakan kebijakan tersebut untuk seluruh wilayah Indonesia.

B. BAB 1 KETENTUAN UMUM


1. Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
a. Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang
kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui
11
pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan
kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
b. Asisten Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam
bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui
pendidikan bidang kesehatan di bawah jenjang Diploma Tiga.
c. Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah suatu alat dan/atau tempat yang
digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik
promotif, preventif, kuratif, maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh
Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat.
d. Upaya Kesehatan adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang
dilakukan secara terpadu, terintregasi dan berkesinambungan untuk
memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk
pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit, dan
pemulihan kesehatan oleh Pemerintah dan/atau masyarakat.
e. Kompetensi adalah kemampuan yang dimiliki seseorang Tenaga Kesehatan
berdasarkan ilmu pengetahuan, keterampiian, dan sikap profesional untuk
dapat menjalankan praktik.
f. Uji Kompetensi adalah proses pengukuran pengetahuan, keterampilan, dan
perilaku peserta didik pada perguruan tinggi yang menyelenggarakan
pendidikan tinggi bidang Kesehatan.
g. Sertilikat Kompetensi adalah surat tanda pengakuan terhadap Kompetensi
Tenaga Kesehatan untuk dapat menjalankan praktik di seluruh Indonesia
setelah lulus uji Kompetensi.
h. Sertifikat Profesi adalah surat tanda pengakuan untuk melakukan praktik
profesi yang diperoleh lulusan pendidikan profesi.
i. Registrasi adalah pencatatan resmi terhadap Tenaga Kesehatan yang telah
memiliki Sertihkat Kompetensi atau Sertifikat Profesi dan telah mempunyai
kualifikasi tertentu lain serta mempunyai pengakuan secara hukum untuk
menjalankan praktik.
j. Surat Tanda Registrasi yang selanjutnya disingkat STR adalah bukti tertulis
yang diberikan oleh konsil masing-masing Tenaga Kesehatan kepada Tenaga
Kesehatan yang telah diregistrasi.
k. Surat Izin Praktik yang selanjutnya disingkat SIP adalah bukti tertulis yang
diberikan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota kepada Tenaga Kesehatan
sebagai pemberian kewenangan untuk menjalankan praktik.
l. Standar Profesi adalah batasan kemampuan minimai berupa pengetahuan,
keterampilan, dan perilaku profesional yang harus dikuasai dan dimiliki oleh
seorang individu untuk dapat melakukan kegiatan profesionalnya pada
masyarakat secara mandiri yang dibuat oleh organisasi profesi bidang
kesehatan.
m. Standar Pelayanan Profesi adalah pedoman yang diikuti oleh Tenaga
Kesehatan dalam melakukan pelayanan kesehatan.
12
n. Standar Prosedur Operasional adalah suatu perangkat instruksi / langkah-
langkah yang dibakukan untuk menyelesaikan proses kerja rutin tertentu
dengan memberikan langkah yang benar dan terbaik berdasarkan konsensus
bersama untuk melaksanakan berbagai kegiatan dan fungsi pelayanan yang
dibuat oleh Fasilitas Pelayanan Kesehatan berdasarkan Standar Profesi.
o. Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia adalah lembaga yang melaksanakan tugas
secara independen yang terdiri atas konsil masing-masing tenaga kesehatan.
p. Organisasi Profesi adalah wadah untuk berhimpun tenaga kesehatan yang
seprofesi.
q. Kolegium masing-masing Tenaga Kesehatan adalah badan yang dibentuk oleh
Organisasi Profesi untuk setiap cabang disiplin ilmu kesehatan yang bertugas
mengampu dan meningkatkan mutu pendidikan cabang disiplin ilmu tersebut.
r. Penerima Pelayanan Kesehatan adalah setiap orang yang melakukan konsultasi
tentang kesehatan untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang
diperlukan,baik secara langsung maupun tidak langsung kepada tenaga
kesehatan.
s. Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut pemerintah adalah Presiden
Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintah negara Republik
Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara
Repubiik Indonesia Tahun 1945.
t. Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati, dan Wali Kota serta perangkat
daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan.
u. Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang kesehatan.

2. Pasal 2
Undang-Undang ini berasaskan:
a. Perikemanusiaan;
b. manfaat;
c. pemerataan;
d. etika dan profesionalitas;
e. penghormatan terhadap hak dan kewajiban;
f. keadilan;
g. pengabdian;
h. norma agama; dan
i. pelindungan.

3. Pasal 3
Undang-Undang ini bertujuan untuk:
a. memenuhi kebutuhan masyarakat akan tenaga kesehatan;
b. mendayagunakan tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat;

13
c. memberikan pelindungan kepada masyarakat dalam menerima
penyelenggaraan upaya kesehatan;
d. mempertahankan dan meningkatkan mutu penyelenggaraan upaya kesehatan
yang diberikan oleh Tenaga Kesehatan; dan
e. memberikan kepastian hukum kepada masyarakat dan Tenaga Kesehatan.

C. BAB II TANGGUNG JAWAB DAN WEWENANG PEMERINTAH


DAN PEMERINTAH DAERAH
1. Pasal 4
Pemerintah dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab terhadap:
a. pengaturan, pembinaan, pengawasan, dan peningkatan mutu Tenaga
Kesehatan;
b. perencanaan, pengadaan, dan pendayagunaan Tenaga Kesehatan sesuai
dengan kebutuhan; dan
c. pelindungan kepada Tenaga Kesehatan dalam menjalankan praktik.

2. Pasal 5
Dalam melaksanakan tanggung jawabnya, Pemerintah berwenang untuk:
a. menetapkan kebijakan Tenaga Kesehatan skala nasional selaras dengan
kebijakan pembangunan nasional;
b. merencanakan kebutuhan Tenaga Kesehatan;
c. melakukan pengadaan Tenaga Kesehatan;
d. mendayagunakanTenagaKesehatan;
e. membina, mengawasi, dan meningkatkan mutu Tenaga Kesehatan meialui
pelaksanaan kegiatan sertifikasi Kompetensi dan pelaksanaan Registrasi
Tenaga Kesehatan;
f. melaksanakan kerja sama, baik dalam negeri maupun luar negeri di bidang
Tenaga Kesehatan; dan
g. menetapkan kebijakan yang berkaitan dengan TenagaKesehatan yang akan
melakukan pekerjaan atau praktik di luar negeri dan Tenaga Kesehatan warga
negara asing yang akan melakukan pekerjaan atau praktik di Indonesia.
C. Pasal 6
Dalam melaksanakan tanggung jawabnya, pemerintah
daerah provinsi berwenang untuk:
a. menetapkan kebijakan Tenaga Kesehatan selaras dengan kebijakan
pembangunan nasional;
b. melaksanakan kebijakan Tenaga Kesehatan;
c. merencanakan kebutuhan Tenaga Kesehatan;
d. melakukan pengadaan Tenaga Kesehatan;
e. melakukan pendayagunaan melalui pemerataan,
f. pemanfaatan dan pengembangan;
g. membina, mengawasi, dan meningkatkan mutu Tenaga
14
h. Kesehatan melalui pembinaan dan pengawasan
i. pelaksanaan praktik Tenaga Kesehatan; dan
j. melaksanakan kerja sama dalam negeri di bidang
k. Tenaga Kesehatan.
D. Pasal 7
Dalam melaksanakan tanggung jawabnya, pemerintah daerah kabupaten/kota
berwenang untuk:
a. menetapkan kebijakan Tenaga Kesehatan selaras dengan kebijakan nasional
dan provinsi;
b. melaksanakan kebij akan Tenaga Kesehatan;
c. merencanakan kebutuhan Tenaga Kesehatan;
d. melakukan pengadaan Tenaga Kesehatan;
e. melakukan pendayagunaan melalui pemerataan, pemanfaatan, dan
pengembangan;
f. membina, mengawasi, dan meningkatkan mutu Tenaga Kesehatan melalui
pelaksanaan kegiatan perizinan Tenaga Kesehatan; dan
g. melaksanakan kerja sama dalam negeri di bidangTenaga Kesehatan.
2.3 Bab III Kualifikasi dan Pengelompokan Tenaga Kesehatan
A. Pasal 8
Tenaga di bidang kesehatan terdiri atas:
a. Tenaga Kesehatan; dan
b. Asisten Tenaga Kesehatan.
B. Pasal 9
1. Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf a harus
memiliki kualifikasi minimum Diploma Tiga, kecuali tenaga medis.
2. Ketentuan lebih lanjut mengenai kualifikasi minimum Tenaga Kesehatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.
C. Pasal 10
1. Asisten Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf b harus
memiliki kualifikasi minimum pendidikan menengah di bidang kesehatan.
2. Asisten Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat
bekerja di bawah supervisi Tenaga Kesehatan.
3. Ketentuan lebih lanjut mengenai Asisten Tenaga Kesehatan diatur dengan
Peraturan Menteri.
E. Pasal 11
1. Tenaga Kesehatan dikelompokkan ke dalam:
a. tenaga medis;
b. tenaga psikologi klinis;
c. tenaga keperawatan;
d. tenaga kebidanan;
e. tenaga kefarmasian;
f. tenaga kesehatan masyarakat;
15
g. tenaga kesehatan lingkungan;
h. tenaga gizi;
i. tenaga keterapian fisik;
j. tenaga keteknisian medis;
k. tenaga teknik biomedika;
l. tenaga kesehatan tradisional; dan
m. tenaga kesehatan lain.
1.Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga medis
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas dokter, dokter gigi,
dokter spesialis, dan dokter gigi spesialis.
2.Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga psikologi
klinis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah psikologi klinis.
3.Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga keperawatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdiri atas berbagai jenis perawat.
4.Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga kebidanan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d adalah bidan.
5.Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga kefarmasian
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e terdiri atas apoteker dan tenaga
teknis kefarmasian.
6.Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga kesehatan
masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f terdiri atas
epidemiolog kesehatan, tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku,
pembimbing kesehatan kerja, tenaga administrasi dan kebijakan kesehatan,
tenaga biostatistik dan kependudukan, serta tenaga kesehatan reproduksi dan
keluarga.
7.Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga kesehatan
lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) huruf g terdiri atas tenaga
sanitasi lingkungan, entomolog kesehatan, dan mikrobiolog kesehatan.
8.Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga gizi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf h terdiri atas nutrisionis dan
dietisien.
9.Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga keterapian
fisik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf i terdiri atas fisioterapis,
okupasi terapis, terapis wicara, dan akupunktur.
10. Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga
keteknisian medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf j terdiri atas
perekam medis dan informasi kesehatan, teknik kardiovaskuler, teknisi
pelayanan darah, refraksionis optisien/ optometris, teknisi gigi, penata anestesi,
terapis gigi dan mulut, dan audiologis.
11. Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga teknik
biomedika sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf k terdiri atas radiografer,

16
elektromedis, ahli teknoiogi laboratorium medik, fisikawan medik,
radioterapis, dan ortotik prostetik.
12. Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk daiam kelompok Tenaga
Kesehatan tradisional sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) huruf 1 terdiri atas
tenaga kesehatan tradisional ramuan dan tenaga kesehatan tradisional
keterampilan.
13. Tenaga Kesehatan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf m
ditetapkan oleh Menteri.

F. Pasal 12
Dalam memenuhi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang
kesehatan serta kebutuhan pelayanan kesehatan, Menteri dapat menetapkan jenis
Tenaga Kesehatan lain dalam setiap kelompok sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 1 1
2.4 Bab IV Perencanaan, Pengadaan, dan Pendayagunaan
A. Pasal 13
Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memenuhi kebutuhan Tenaga
Kesehatan, baik dalam jumlah, jenis, maupun dalam kompetensi secara merata
untuk menjamin keberlangsungan pembangunan kesehatan.
B. Pasal 14
1. Menteri menetapkan perencanaan Tenaga memenuhi dan mmenyusun
perencanaan Tenaga Kesehatan secara nasional.
2. Perencanaan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun
secara berjenjang berdasarkan ketersediaan Tenaga Kesehatan dan kebutuhan
penyelenggaraan pembangunan dan Upaya Kesehatan.
3. Ketersediaan dan kebutuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan
melalui pemetaan Tenaga Kesehatan.
C. Pasal 15
Menteri dalam menyusun perencanaan Tenaga Kesehatan harus memperhatikan
faktor:
a. jenis, kualifikasi, jumlah, pengadaan, dan distribusi Tenaga Kesehatan;
b. penyelenggaraan Upaya Kesehatan;
c. ketersediaan Fasilitas Pelayanan Kesehatan;
d. kemampuanpembiayaan;
e. kondisi geografis dan sosial budaya; dan
f. kebutuhanmasyarakat.
D. Pasal 16
Ketentuan lebih lanjut mengenai perencanaan Tenaga Kesehatan diatur dengan
Peraturan Pemerintah.
E. Pasal 17

17
1. Pengadaan Tenaga Kesehatan dilaksanakan sesuai dengan perencanaan dan
pendayagunaan Tenaga Kesehatan.
2. Pengadaan Tenaga Kesehatan dilakukan melalui pendidikan tinggi bidang
kesehatan.
3. Pendidikan tinggi bidang kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (21
diarahkan untuk menghasilkan Tenaga Kesehatan yang bermutu sesuai dengan
Standar Profesi dan Standar Pelayanan profesi.
4. Pendidikan tinggi bidang kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
diselenggarakan dengan memperhatikan:
a. keseimbangan antara kebutuhan penyelenggaraan Upaya Kesehatan dan
dinamika kesempatan kerja, baik di dalam negeri maupun di luar negeri;
b. keseimbangan antara kemampuan produksi Tenaga Kesehatan dan sumber daya
yang tersedia; dan
c. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
5. Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaksanakan
oleh Pemerintah dan/atau masyarakat sesuai dengan ketentuan peraturan
Perundang-undangan.
6. Ketentuan lebih lanjut mengenai pengadaan Tenaga Kesehatan diatur dengan
Peraturan pemerintah.
F. Pasal 18
1. Pendidikan tinggi bidang kesehatan diselenggarakan berdasarkan izin sesuai
dengan ketentuan peraturan Perundang-undangan.
2. Izin sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) diberikan setelah mendapatkan
rekomendasi dari Menteri.
3. Pembinaan teknis pendidikan tinggi bidang kesehatan dilakukan oleh Menteri.
4. Pembinaan akademik pendidikan tinggi bidang kesehatan dilakukan oleh
menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan.
5. Dalam penyusunan kurikulum pendidikan Tenaga Kesehatan, penyelenggara
pendidikan tinggi bidang kesehatan harus mengacu pada Standar Nasional
Pendidikan Tinggi yang ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang pendidikan dan berkoordinasi dengan Menteri.
6. Penyelenggaraan pendidikan tinggi bidang kesehatan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
G. Pasal 19
1. Dalam rangka penjaminan mutu lulusan, penyelenggara pendidikan tinggi
bidang kesehatan hanya dapat menerima mahasiswa sesuai dengan kuota nasional.
2. Ketentuan mengenai kuota nasional penerimaan mahasiswa diatur dengan
Peraturan Menteri yang menyelenggarakan urusan bidang pendidikan setelah
berkoordinasi dengan Menteri.
H. Pasal 20

18
1. Penyelenggaraan pendidikan tinggi bidang kesehatan harus memenuhi Standar
Nasional Pendidikan Tenaga Kesehatan.
2. Standar Nasionai Pendidikan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) mengacu pada Standar Nasional Pendidikan Tinggi.
3. Standar Nasional Pendidikan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) disusun secara bersama oleh kementerian yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang kesehatan, kementerian yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang pendidikan, asosiasi institusi pendidikan, dan Organisasi
Profesi.
4. Standar Nasional Pendidikan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang pendidikan.
I. Pasal 2 1
1. Mahasiswa bidang kesehatan pada akhir masa pendidikan vokasi dan profesi
harus mengikuti Uji Kompetensi secara nasional.
2. Uji Kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh
Perguruan Tinggi bekerja sama dengan Organisasi Profesi, Iembaga pelatihan,
atau lembaga sertifikasi yang terakreditasi.
3. Uji Kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditujukan untuk mencapai
standar kompetensi lulusan yang memenuhi standar kompetensi kerja.
4. Standar kompetensi kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disusun oleh
Organisasi Profesi dan konsil masing-masing Tenaga Kesehatan dan ditetapkan
oleh Menteri.
5. Mahasiswa pendidikan vokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang lulus
Uji Kompetensi memperoleh Sertifikat Kompetensi yang diterbitkan oleh
Perguruan Tinggi.
6. Mahasiswa pendidikan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang lulus
Uji Kompetensi memperoleh Sertifikat Profesi yang diterbitkan oleh Perguruan
Tinggi.
7. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan Uji Kompetensi diatur
dengan Peraturan Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
pendidikan.
J. Pasal22
1. Pendayagunaan Tenaga Kesehatan dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah
Daerah, dan/atau masyarakat sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing
berdasarkan ketentuan Peraturan Perundang- Undangan.
2. Pendayagunaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas pendayagunaan
Tenaga Kesehatan di dalam negeri dan luar negeri.
3. Pendayagunaan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan dengan memperhatikan aspek pemerataan, pemanfaatan, dan
pengembangan.
K. Pasal 23
19
1. Dalam rangka pemerataan pelayanan kesehatan dan pemenuhan kebutuhan
pelayanan kesehatan kepada masyarakat, Pemerintah dan Pemerintah Daerah
wajib melakukan penempatan Tenaga Kesehatan setelah melalui proses seleksi.
Penempatan Tenaga Kesehatan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan cara:
a. pengangkatan sebagai pegawai negeri sipil;
b. pengangkatan sebagai pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja; atau
c. penugasan khusus.
2. Selain penempatan Tenaga Kesehatan dengan cara sebagaimana dimaksud pada
ayat (2), Pemerintah dapat menempatkan Tenaga Kesehatan melalui pengangkatan
sebagai anggota TNI/POLRI.
3. Pengangkatan sebagai pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan
perjanjian kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan huruf b serta
penempatan melalui pengangkatan sebagai anggota TNI/POLRI dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-Undangan.
4. Penempatan Tenaga Kesehatan melalui penugasan khusus sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) huruf c dilakukan dengan penempatan dokter
pascainternsip, residen senior, pascapendidikan spesialis dengan ikatan dinas, dan
tenaga kesehatan lainnya.
5. Ketentuan lebih lanjut mengenai penempatan dengan penugasan khusus
sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri.
L. Pasal 24
1. Penempatan Tenaga Kesehatan dilakukan dengan tetap memperhatikan
pemanfaatan dan pengembangan Tenaga Kesehatan.
2. Penempatan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
melalui seleksi.
M. Pasal 25
1. Pemerintah dalam me meratakan penyebaran Tenaga Kesehatan sesuai dengan
kebutuhan masyarakat dapat mewajibkan Tenaga Kesehatan lulusan dari
perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh Pemerintah untuk mengikuti seleksi
penempatan.
2. Selain Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), seleksi
penempatan dapat diikuti oleh Tenaga Kesehatan lulusan perguruan tinggi yang
diselenggarakan oleh masyarakat.
3. Ketentuan lebih lanjut mengenai penempatan Tenaga Kesehatan diatur dengan
Peraturan Pemerintah.
N. Pasal 26
1. Tenaga Kesehatan yang telah ditempatkan di Fasiiitas Pelayanan Kesehatan
wajib melaksanakan tugas sesuai dengan Kompetensi dan kewenangannya.
2. Pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dan/atau kepala daerah yang membawahi Fasilitas Pelayanan Kesehatan harus
mempertimbangkan pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, papan, dan lokasi,
20
serta keamanan dan keselamatan kerja Tenaga Kesehatan sesuai dengan ketentuan
Peraturan Perundang-Undangan.
O. Pasal 27
1. Tenaga Kesehatan yang diangkat oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dapat
dipindahtugaskan antarprovinsi, antarkabupaten, atau antarkota karena alasan
kebutuhan fasilitas pelayanan kesehatan dan/atau promosi.
2. Tenaga Kesehatan yang bertugas di daerah tertinggal perbatasan dan kepulauan
serta daerah bermasalah kesehatan memperoleh hak kenaikan pangkat istimewa
dan pelindungan dalam pelaksanaan tugas.
3. Dalam hal terjadi kekosongan Tenaga Kesehatan, Pemerintah atau Pemerintah
Daerah wajib menyediakan Tenaga Kesehatan pengganti untuk menjamin
keberlanjutan pelayanan kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan yan g
bersan gkutan.
4. Ketentuan lebih lanjut mengenai pemindahtugasan Tenaga Kesehatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan Tenaga Kesehatan yang bertugas di
daerah tertinggal perbatasan dan kepulauan serta daerah bermasalah ke sehatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (21 diatur dengan Peraturan Pemerintah.
P. Pasal 28
1. Dalam keadaan tertentu Pemerintah dapat memberlakukan ketentuan wajib kerja
kepada Tenaga Kesehatan yang memenuhi kualifikasi akademik dan Kompetensi
untuk melaksanakan tugas sebagai Tenaga Kesehatan di daerah khusus di wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2. Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah memberikan tunjangan khusus kepada
Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
3. Tenaga Kesehatan yang diangkat oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah di
daerah khusus berhak mendapatkan fasilitas tempat tinggal atau rumah dinas yang
disediakan oleh Pemerintah Daerah.
4. Ketentuan lebih lanjut mengenai penugasan sebagai Tenaga Kesehatan dalam
keadaan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan tunjangan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Q. Pasal 29
1. Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah dapat menetapkan pola ikatan dinas
bagi calon Tenaga Kesehatan untuk memenuhi kepentingan pembangunan
kesehatan.
2. Ketentuan lebih lanjut mengenai pola ikatan dinas bagi calon Tenaga Kesehatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
R. Pasal 30
1. Pengembangan Tenaga Kesehatan diarahkan untuk meningkatkan mutu dan
karier Tenaga Kesehatan.
2. Pengembangan Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan serta kesinambungan dalam
menjalankan praktik.
21
3. Dalam rangka pengembangan Tenaga Kesehatan, kepala daerah dan pimpinan
Fasilitas Pelayanan Kesehatan bertanggung j awab atas pemberian kesempatan
yang sama kepada Tenaga Kesehatan dengan mempertimbangkan penilaian
kinerja.
S. Pasal 3 1
1. Pelatihan Tenaga Kesehatan dapat diselenggarakan oleh Pemerintah, Pemerintah
Daerah, dan/ atau masyarakat.
2. Pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi program
pelatihan dan tenaga pelatih yang sesuai dengan Standar Profesi dan standar
kompetensi serta diselenggarakan oleh institusi penyelenggara pelatihan yang
terakreditasi sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundan g-undangan.
3. Ketentuan Iebih lanjut mengenai penyelenggara pelatihan Tenaga Kesehatan,
program dan tenaga pelatih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
diatur dengan Peraturan Pemerintah.
T. Pasal 32
1. Pendayagunaan Tenaga Kesehatan Warga Negara Indonesia ke luar negeri dapat
dilakukan dengan mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan Tenaga
Kesehatan di Indonesia dan peluang kerja bagi Tenaga Kesehatan Warga Negara
Indonesia di luar negeri.
2. Pendayagunaan Tenaga Kesehatan Warga Negara Indonesia ke luar negeri
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
Peraturan Perundang-undangan.
U. Pasal 33
Ketentuan lebih lanjut mengenai dengan pendayagunaan Tenaga Kesehatan diatur
dengan Peraturan Pemerintah
2.5 Bab V Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia
A. Pasal 34
1. Untuk meningkatkan mutu Praktik Tenaga Kesehatan serta untuk memberikan
pelindungan dan kepastian hukum kepada Tenaga Kesehatan dan masyarakat,
dibentuk Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia.
2. Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri
atas konsil masingmasing Tenaga Kesehatan.
3. Konsil masing-masing Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
termasuk Konsil Kedokteran dan Konsil Kedokteran Gigi sebagaimana diatur
dalam Undang-Undang tentang Praktik Kedokteran.
4. Konsil masing-masing Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dalam melaksanakan tugasnya bersifat independen.
5. Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
bertanggung jawab kepada Presiden melalui Menteri.
B. Pasal 35
Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia berkedudukan di ibu kota negara Republik
Indonesia.
22
C. Pasal 36
1. Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia mempunyai fungsi sebagai koordinator
konsil masing-masing Tenaga Kesehatan.
2. Dalam menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) , Konsil
Tenaga Kesehatan Indonesia memiliki tugas:
a. memfasilitasi dukungan pelaksanaan tugas konsil masing-masing Tenaga
Kesehatan.
b. meiakukan evaluasi tugas konsil masing-masing Tenaga Kesehatan; dan
c. membina dan mengawasi konsil masing-masing Tenaga Kesehatan.
3. Dalam menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (i), Konsil Tenaga
Kesehatan Indonesia memiliki wewenang menetapkan perencanaan kegiatan
untuk konsil masing-masing Tenaga Kesehatan.
D. Pasal 37
Konsil masing-masing tenaga kesehatan mempunyai fungsi pengaturan, penetapan
dan pembinaan tenaga kesehatan dalam menjalankan praktik Tenaga Kesehatan
untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
Dalam menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) , konsil masing-
masing Te naga Kese hatan memiliki tugas:
a. melakukan Registrasi Tenaga Kesehatan;
b. melakukan pembinaan Tenaga Kesehatan dalam menjalankan praktik Tenaga
Kesehatan;
c. men)rusun Standar Nasional Pendidikan TenagaKesehatan;
d. menyrrsun standar praktik dan standar kompetensiTenaga Kesehatan; dan
e. menegakkan disiplin praktik Tenaga Kesehatan-
E. Pasal 38
Dalam menjalankan tugasnya, konsil masing-masing Tenaga Kesehatan
mempunyai wewenang:
a. menyetujui atau menolak permohonan Registrasi Tenaga Kesehatan;
b. menerbitkan atau mencabut STR;
c. menyelidiki dan menangani masalah yang berkaitan dengan pelanggaran
disiplin profesi Tenaga Kesehatan;
d. menetapkan dan memberikan sanksi disiplin profesi Tenaga Kesehatan; dan
e. memberikan pertimbangan pendirian atau penutupan institusi pendidikan
Tenaga Kesehatan.
F. Pasal 39
Dalam melaksanakan fungsi, tugas, dan wewenang, Konsil Tenaga Kesehatan
Indonesia dibantu sekretariat yang dipimpin oleh seorang sekretaris.
G. Pasal 40
1. Keanggotaan Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia merupakan pimpinan konsil
masing-masing Tenaga Kesehatan.
2. Keanggotaan konsil masing-masing Tenaga Kesehatan terdiri atas unsur:
a. kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan;
23
b. kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
pendidikan;
c. Organisasi Profesi;
d. Kolegium masing-masing Tenaga Kesehatan;
e. asosiasi institusi pendidikan Tenaga Kesehatan;
f. asosiasi fasilitas pelayanan kesehatan; dan
g. tokoh masyarakat.
H. Pasal 41
Pendanaan untuk pelaksanaan kegiatan Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia
dibebankan kepada anggaran pendapatan dan belanja negara dan sumber lain yang
tidak mengikat sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
I. Pasal 42
Ketentuan mengenai pelaksanaan tugas, fungsi, dan wewenang Konsil Tenaga
Kesehatan Indonesia diatur dengan Peraturan Menteri.
J. Pasal 43
Ketentuan Iebih lanjut mengenai susunan organisasi, pengangkatan,
pemberhentian, serta keanggotaan Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia dan
sekretariat Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia diatur dengan Peraturan Presiden.
2.6 Bab VI Registrasi dan Perizinan Tenaga Kesehatan
A. Pasal 44
1. Setiap Tenaga Kesehatan yang menjalankan praktik wajib memiliki STR.
2. STR sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) diberikan oleh konsil masing-masing
Tenaga Kesehatan setelah memenuhi persyaratan.
3. Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi:
a. memiliki ijazah pendidikan di bidang kesehatan;
b. memiliki Sertifikat Kompetensi atau Sertifikat Profesi;
c. memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental;
d. memiliki surat pernyataan telah mengucapkansumpah/janji profesi; dan
e. membuat pernyataan mematuhi dan melaksanakanketentuan etika profesi.
4. STR berlaku selama 5 (lima) tahun dan dapat diregistrasi ulang setelah
memenuhi persyaratan.
5. Persyaratan untuk Registrasi ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
meliputi:
a. memiliki STR lama;
b. memiliki Sertifikat Kompetensi atau SertifikatProfesi;
c. memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental;
d. membuat pernyataan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi.
e. telah mengabdikan diri sebagai tenaga profesi atau vokasi di bidangnya; dan
f. memenuhi kecukupan dalam kegiatan pelayanan,pendidikan, pelatihan, dan/atau
kegiatan ilmiah lainnya.
B. Pasal 45

24
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara Registrasi dan Registrasi Ulang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 diatur dengan Peraturan Konsil masing-
masing Tenaga Kesehatan.
C. Pasal 46
1. Setiap Tenaga Kesehatan yang menjalankan praktik di bidang pelayanan
kesehatan wajib memiliki izin.
2. Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam bentuk SIP.
3. SIP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan oleh pemerintah daerah
kabupaten/kota atas rekomendasi pejabat kesehatan yang berwenang di
kabupaten/ kota tempat Tenaga Kesehatan menjalankan praktiknya.
4. Untuk mendapatkan SIP sebagairnana dirnaksud pada ayat (2\, Tenaga
Kesehatan harus memiliki;
a. STR yang masih berlaku;
b. Rekomendasi dari Organisasi Profesi; dan
c. tempat praktik.
5. SIP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) masing berlaku hanya untuk 1 (satu)
tempat
6. SIP masih berlaku sepanjang:
a. STR masih berlaku; dan
b. tempat praktik masih sesuai dengan yangtercantum dalam SIP.
7. Ketentuan lebih lanjut sesuai dengan yang mengenai perizinan sebagaimana
dimaksud pada ayat ( 1) diatur dengan Peraturan Menteri.

D. Pasal 47
Tenaga Kesehatan yang menjalankan praktik mandiri harus memasang papan
nama praktik.
E. Pasal 48
1. Untuk terselenggaranya praktik tenaga kesehatan yang bermutu dan
pelindungan kepada masyarakat, perlu dilakukan pembinaan praktik terhadap
tenaga kesehatan.
2. Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Menteri
bersama-sama dengan Pemerintah Daerah, konsil masing-masing Tenaga
Kesehatan, dan Organisasi Profesi sesuai dengan kewenangannya.
F. Pasal 49
1. Untuk menegakkan disiplin Tenaga Kesehatan dalam penyelenggaraan praktik,
konsil masing-masing Tenaga Kesehatan menerima pengaduan, memeriksa, dan
memutuskan kasus pelanggaran disiplin Tenaga Kesehatan.
2. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), konsil
masing-masing Tenaga Kesehatan dapat memberikan sanksi disiplin berupa:
a. pemberian peringatan tertulis;
b. rekomendasi pencabutan STR atau SIP; dan/atau

25
c. kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan diinstitusi pendidikan
kesehatan.
3. Tenaga Kesehatan dapat mengajukan keberatan atas putusan sanksi disiplin
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Menteri.
4. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan sanksi disiplin
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan
Menteri.
2.7 Bab VII Organisasi Profesi
A. Pasal 50
1. Tenaga Kesehatan harus me mbentuk Organisasi Profesi sebagai wadah untuk
meningkatkan dan/atau mengembangkan pengetahuan dan keterampilan,
martabat, dan etika profesi Tenaga Kesehatan.
2. Setiap jenis Tenaga Kesehatan hanya dapat membentuk 1 (satu) Organisasi
Profesi.
3. Pembentukan Organisasi Profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
B. Pasal 5 1
1. Untuk mengembangkan cabang disiplin ilmu dan standar pendidikan Tenaga
Kesehatan, setiap Organisasi Profesi dapat membentuk Kolegium masing-masing
Tenaga Kesehatan.
2. Kolegium masing-masing Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) merupakan badan otonom di dalam Organisasi Profesi.
3. Kolegium masing-masing Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) bertanggung jawab kepada Organisasi Profesi.
2.8 Bab VIII Tenaga Kesehatan Warga Negara Indonesia Lulusan Luar
Negeri dan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing
A. Pasal 52 Tenaga Kesehatan Warga Negara Indonesia Lulusan Luar Negeri
1. Tenaga Kesehatan Warga Negara Indonesia lulusan luar negeri yang akan
melakukan praktik di Indonesia harus mengikuti proses evaluasi kompetensi.
2. Proses evaluasi kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
melalui:
a. penilaian kelengkapan administratif; dan
b. penilaian kemampuan untuk melakukan praktik.
3. Kelengkapan administratif sebagaimana dimaksudpada ayat (2) huruf a paling
sedikit terdiri atas:
a. penilaian keabsahan ij azah oleh menteri yangmenyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidangpendidikan;
b. surat keterangan sehat flsik dan mental; dan
c. surat pernyataan untuk mematuhi danmelaksanakan ketentuan etika profesi.
4. Penilaian kemampuan untuk melakukan praktik sebagaimana dimaksud pada
.ayat (2) huruf b dilakukan melalui uji kompetensi sesuai dengan ketentuan
Peraturan Perundang-undangan.
26
5. Tenaga Kesehatan Warga Negara Indonesia lulusan
6. luar negeri yang telah lulus Uji Kompetensi dan yang akan melakukan praktik di
Indonesia memperolehSTR.
7. Tenaga Kesehatan Warga Negara Indonesia lulusan luar negeri yang akan
melakukan praktik sebagaimana dimaksud pada ayat (5) wajib memiliki SIP
sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini.
8. STR sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diberikan oleh konsil masing-masing
Tenaga Kesehatan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
9. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara proses evaluasi kompetensi bagi
Tenaga Kesehatan Warga Negara lndonesia lulusan luar negeri sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.
B. Pasal 53Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing
1. Fasilitas Pelayanan Kesehatan dapat mendayagunakan Tenaga Kesehatan warga
negara asing sesuai dengan persyaratan.
2. Pendayagunaan Tenaga Kesehatan warga negara asing sebagaimana dimaksud
pada ayat ( 1) dilakukan dengan mempertimbangkan:
a. alih teknologi dan ilmu pengetahuan; dan
b. ketersediaan Tenaga Kesehatan setempat.
C. Pasal 54
1. Tenaga Kesehatan warga negara asing yang akan menjalankan praktik di
Indonesia harus mengikuti evaluasi kompetensi.
2. Evaluasi kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat(1) dilakukan melalui:
a. penilaian kelengkapan administratif; dan
b. penilaian kemampuan untuk melakukan praktik.
3. Kelengkapan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a paling
sedikit terdiri atas:
a. penilaian keabsahan ijazah oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang
pendidikan;
b. surat keterangan sehat fisik dan mental; dan
c. surat pernyataan untuk mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi.
4. Penilaian kemampuan untuk melakukan praktik sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) huruf b dinyatakan dengan surat keterangan yang menyatakan telah
mengikuti program evaluasi kompetensi dan Sertihkat Kompetensi.
5. Selain ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Tenaga Kesehatan warga
negara asing harus memenuhi persyaratan lain sesuai dengan ketentuanPeraturan
Perundang-undangan.
D. Pasal 55
1. Tenaga Kesehatan warga negara asing yang telah mengikuti proses evaluasi
kompetensi dan yang akan melakukan praktik di Indonesia harus memiliki STR
Sementara dan SIP.

27
2. STR sementara bagi Tenaga Kesehatan warga negara asing sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) berlaku selama 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang
hanya untuk 1 (satu) tahun berikutnya.
3. Tenaga Kesehatan warga negara asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
melakukan Praktik di Indonesia berdasarkan atas permintaan pengguna Tenaga
Kesehatan warga negara asing.
4. SIP bagi Tenaga Kesehatan warga negara asing berlaku selama 1 (satu) tahun
dan dapat diperpanjang hanya untuk 1 (satu) tahun berikutnya.
E. Pasal 56
Ketentuan lebih lanjut mengenai pendayagunaan dan praktik Tenaga Kesehatan
warga negara asing diatur dengan Peraturan Pemerintah.
2.9 Bab IX Hak dan Kewajiban Tenaga Kesehatan
A. Pasal 57
Tenaga Kesehatan dalam menjalankan praktik berhak:
a. memperoleh pelindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan
Standar Profesi, Standar Pelayanan Profesi, dan Standar Prosedur Operasional;
b. memperoleh informasi yang lengkap dan benar dari Penerima Pelayanan
Kesehatan atau keluarganya;
c. menerima imbalan jasa;
d. memperoleh pelindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja, perlakuan yang
sesuai dengan harkat dan martabat manusia, moral, kesusilaan, serta nilainilai
agama;
e. mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan profesinya;
f. menolak keinginan Penerima Pelayanan Kesehatan atau pihak lain yang
bertentangan dengan Standar Profesi, kode etik, standar pelayanan, Standar
Prosedur Operasional, atau ketentuan Peraturan Perundang-undangan; dan
g. memperoleh hak lain sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
B. Pasal 58
1. Tenaga Kesehatan dalam menjalankan praktik wajib:
a. memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan Standar Profesi, Standar
Pelayanan Profesi, Standar Prosedur Operasional, dan etika profesi serta
kebutuhan kesehatan Penerima Pelayanan Kesehatan;
b. memperoleh persetujuan dari Penerima Pelayanan Kesehatan atau keluarganya
atas tindakan yang akan diberikan;
c. menjaga kerahasiaan kesehatan Penerima Pelayanan Kesehatan;
d. membuat dan menyimpan catatan dan/atau dokumen tentang pemeriksaan,
asuhan, dan tindakan yang dilakukan; dan
e. merujuk Penerima Pelayanan Kesehatan ke Tenaga Kesehatan lain yang
mempunyai Kompetensi dan kewenangan yang sesuai.
2. Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan hurul d hanya
berlaku bagi Tenaga Kesehatan yang melakukan pelayanan kesehatan
perseorangan.
28
C. Pasal 59
1. Tenaga Kesehatan yang menjalankan praktik pada Fasilitas Pelayanan
Kesehatan wajib memberikan pertolongan pertama kepada Penerima Pelayanan
Kesehatan dalam keadaan gawat darurat dan/atau pada bencana untuk
penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan.
2. Tenaga Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat( 1) dilarang menolak Pene
rima Pelayanan Kesehatan dan/atau dilarang meminta uang muka terlebih dahulu.
2.10 Bab X Penyelenggaraan Koprofesian
A. Pasal 60
Tenaga Kesehatan bertanggung jawab untuk:
a. mengabdikan diri sesuai dengan bidang keilmuan yang dimiliki;
b. meningkatkan Kompetensi;
c. bersikap dan berperilaku sesuai dengan etika profesi;
d. mendahulukan kepentingan masyarakat daripada kepentingan pribadi atau
kelompok; dan
e. melakukan kendali mutu pelayanan dan kendali biaya dalam menyelenggarakan
upaya kesehatan.

B. Pasal 61
Dalam menjalankan praktik, Tenaga Kesehatan yang memberikan pelayanan
langsung kepada Penerima Pelayanan Kesehatan harus melaksanakan upaya
terbaik untuk kepentingan Penerima Pelayanan Kesehatan dengan tidak
menjanjikan hasil.
C. Pasal 62
1. Tenaga Kesehatan dalam menjalankan praktik harus dilakukan sesuai dengan
kewenangan yang didasarkan pada Kompetensi yang dimilikinya.
2. Jenis Tenaga Kesehatan tertentu yang memiliki lebih dari satu jenjang
pendidikan memiliki kewenangan profesi sesuai dengan Iingkup dan tingkat
Kompetensi.
3. Ketentuan lebih lanjut mengenai kewenangan profesi sebagaimana dimaksud
pada ayat ( 1) diatur dengan Peraturan Menteri.
D. Pasal 63
1. Dalam keadaan tertentu Tenaga Kesehatan dapatmemberikan pelayanan di luar
kewenangannya.
2. Ketentuan lebih lanjut mengenai menjalankan keprofesian di luar kewenangan
sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) diatur dengan peraturan Menteri.
E. Pasal 64
Setiap orang yang bukan Tenaga Kesehatan dilarang melakukan praktik seolah-
olah sebagai Tenaga Kesehatan yang telah memiliki izin.
F. pasal 65

29
1. Dalam melakukan pelayanan kesehatan, Tenaga Kesehatan dapat menerima
pelimpahan tindakan medis dari tenaga medis.
2. Dalam melakukan pekerjaan kefarmasian, tenaga teknis kefarmasian dapat
menerima pelimpahan pekerjaan kefarmasian dari tenaga apoteker.
3. Pelimpahan tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
dilakukan dengan ketentuan:
a. tindakan yang dilimpahkan termasuk dalam kemampuan dan keterampilan yang
telah dimilikioleh penerima pelimpahan;
b. pelaksanaan tindakan yang dilimpahkan tetap di bawah pengawasan pemberi
pelimpahan;
c. pemberi pelimpahan tetap bertanggung jawab atastindakan yang dilimpahkan
sepanjang pelaksanaan tindakan sesuai dengan pelimpahan yang diberikan; dan
d. tindakan yang dilimpahkan tidak termasuk pengambilan keputusan sebagai
dasar pelaksanaan tindakan.
4. Ketentuan lebih Ianjut mengenai pelimpahan tindakan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri.
G. Pasal 66 Standar Profesi, Standar Pelayanan Profesi, danStandar Prosedur
Operasional
1. Setiap Tenaga Kesehatan dalam menjalankan praktik berkewajiban untuk
mematuh.i Standar Profesi, Standar Pelayanan Profesi, dan Standar Prosedur
Operasional.
2. Standar Profesi dan Standar Pelayanan Profesi sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) untuk masingmasing jenis Tenaga Kesehatan ditetapkan oleh organisasi
profesi bidang kesehatan dan disahkan oleh Menteri.
3. Standar Pelayanan Profesi yang berlaku universal ditetapkan dengan Peraturan
Menteri.
4. Standar Prosedur Operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan
oleh Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
5. Ketentuan lebih lanjut mengenai penerapan Standar Profesi, Standar Pelayanan
Profesi, dan Standar Prosedur Operasicnal diatur dengan Peraturan Menteri.
H. Pasal 67
1. Tenaga Kesehatan dalam menjalankan praktik dapat melakukan penelitian dan
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan.
2. Penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan
untuk menghasilkan informasi kesehatan, teknologi, produk teknologi, dan
teknologi informasi kesehatan untuk mendukung pembangunan kesehatan.
3. Penelitian dan pengembangan kesehatan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
Peraturan Perundang-undangan.
I. Pasal 68 Persetujuan Tindakan Tenaga Kesehatan
1. Setiap tindakan pelayanan kesehatan perseorangan yang dilakukan oleh Tenaga
Kesehatan harus mendapat persetujuan.

30
2. Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah mendapat
penjelasan secara cukup dan patut.
3. Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya
mencakup:
a. tata cara tindakan pelayanan;
b. tujuan tindakan pelayanan yang dilakukan;
c. alternatif tindakan lain;
d. risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dan
e. prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.
4. Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan, baik secara
tertulis maupun lisan.
5. Setiap tindakan Tenaga Kesehatan yang mengandung risiko tinggi harus
diberikan dengan persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak
memberikan persetujuan.
6. Ketentuan mengenai tata cara persetujuan tindakan Tenaga Kesehatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dengan
Peraturan Menteri.
J. Pasal 69
1. Pelayanan kesehatan masyarakat harus ditujukan untuk kepentingan masyarakat
dan tidak melanggar hak asasi manusia.
2. Pelayanan kesehatan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (l) yang
merupakan program Pemerintah tidak memerlukan persetujuan tindakan.
3. Pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tetap harus
diinformasikan kepada masyarakat Penerima Pelayanan Kesehatan tersebut.
K. Pasal 70 Rekam Medis
1. Setiap Tenaga Kesehatan yang melaksanakan pelayanan kesehatan perseorangan
wajib membuat rekam medis Penerima Pelayanan Kesehatan.
2. Rekam medis Penerima Peiayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) harus segera dilengkapi setelah Penerima Pelayanan Kesehatan selesai
menerima pelayanan kesehatan.
3. Setiap rekam medis Penerima Pelayanan Kesehatan harus dibubuhi nama,
waktu, dan tanda tangan atau paraf Tenaga Kesehatan yang memberikan
pelayanan atau tindakan.
4. Rekam medis Penerima Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) harr.s disimpan dan dijaga kerahasiaannya oleh Tenaga Kesehatan dan
pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
L. Pasal 7 I
1. Rekam medis Penerima Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 70 merupakan milik Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
2. Dalam ha1 dibutuhkan, Penerima Pelayanan Kesehatan dapat meminta resume
rekam medis kepada Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
M. Pasal 72
31
Ketentuan lebih lanjut mengenai rekam medis diatur dengan Peraturan Menteri.
N. Pasal 73 Rahasia Kesehatan Penerima Pelayanan Kesehatan
1. Setiap Tenaga Kesehatan pelayanan kesehatan wajib menyimpan rahasia
kesehatan Penerima Pelayanan Kesehatan.
2. Rahasia kesehatan Penerima Pelayanan Kesehatan dapat dibuka hanya untuk
kepentingan kesehatan Penerima Pelayanan Kesehatan, pemenuhan permintaan
aparatur penegak hukum bagi kepentingan penegakan hukum, permintaan
Penerima Pelayanan Kesehatan sendiri, atau pemenuhan ketentuan Peraturan
Perundang-undangan.
3. Ketentuan lebih lanjut tentang rahasia kesehatan Penerima Pelayanan Kesehatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. dalam
melaksanakan
O. Pasal 74 Pelindungan bagi Tenaga Kesehatan danPenerima Pelayananan
Kesehatan
Pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan dilarang mengizinkan Tenaga Kesehatan
yang tidak memiliki STR dan izin untuk menjalankan praktik di Fasilitas
pelayanan Kesehatan.
P. Pasal 75
Tenaga Kesehatan dalam menjalankan praktik berhak mendapatkan pelindungan
hukum sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
Q. Pasal 76
Pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan dalam meningkatkan dan menjaga mutu
pemberian pelayanan kesehatan dapat membentuk komite atau panitia atau tim
untuk kelompok Tenaga Kesehatan di lingkungan Fasilitas Pelayanan Kesehatan.

2.11 Bab XI Penyelesaian Perselisihan


A. Pasal 77
Setiap Penerima Pelayanan Kesehatan yang dirugikan akibat kesalahan atau
kelalaian Tenaga Kesehatan dapat meminta ganti rugi sesuai dengan ketentuan
peraturan Perundang-undangan.
B. Pasal 78
Dalam hal Tenaga Kesehatan diduga melakukan kelalaian dalam menjalankan
profesinya yang menyebabkan kerugian kepada penerima pelayanan kesehatan,
perselisihan yang timbul akibat kelalaian tersebut harus diselesaikan terlebih
dahulu melalui penyelesaian sengketa di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan
Peraturan Perundang-undangan.
C. Pasal 79
Penyelesaian perselisihan antara Tenaga Kesehatan dan Fasilitas Pelayanan
Kesehatan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
2.12 Bab XII Pembinaan dan Pengawasan
A. Pasal 80

32
Pemerintah dan Pemerintah Daerah melakukan pembinaan dan pengawasan
kepada Tenaga Kesehatan dengan melibatkan konsil masing-masing Tenaga
Kesehatan dan Organisasi Profesi sesuai dengan kewenangannya.
B. Pasal 81
1. Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 diarahkan
untuk:
a. meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang diberikan oleh Tenaga
Kesehatan;
b. melindungi Penerirna Pelayanan Kesehatan dan masyarakat atas tindakan yang
dilakukan Tenaga Kesehatan; dan
c. memberikan kepastian hukum bagi masyarakat dan Tenaga Kesehatan.
2. Ketentuan lebih lanjut mengenai pembinaan dan pengawasan sebagaimana
dimaksud pada ayat ( 1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
2.13 Bab XIII Sanksi Administratif
A. Pasal 82
1. Setiap Tenaga Kesehatan yang tidak melaksanakan ketentuan Pasal 47, Pasal 52
ayat (1), Pasal 54 ayat (1), Pasal 58 ayat (I), Pasal 59 ayat (1), Pasal 62 ayat (1),
Pasal 66 ayat (1), Pasal 68 ayat (1), Pasal 70 ayat (1), Pasal 70 ayat (2), Pasal 70
ayat (3) dan Pasal 73 ayat (1) dikenai sanksi administratif.
2. Setiap Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang tidak melaksanakan ketentuan Pasal
26 ayat l2), Pasal 53 ayat (1), Pasal 70 ayat (4), dan Pasal 74 dikenai sanksi
administratif.
3. Pemerintah, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/kota
sesuai dengan kewenangannya memberikan sanksi administratif kepada Tenaga
Kesehatan dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dan ayat (2).
4. Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat berupa:
a. teguran lisan;
b. peringatan tertulis;
c. denda adminstratif; dan/atau
d. pencabutan izin.
5. Tata cara pengenaan sanksi administratif terhadap Tenaga Kesehatan dan
Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4)
diatur dengan Peraturan Pemerintah.
2.14 Bab XIV Ketentuan Pidana
A. Pasal 83
Setiap orang yang bukan Tenaga Kesehatan melakukan praktik seolah-olah
sebagai Tenaga Kesehatan yang telah memiliki izin sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 64 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun.
B. Pasal 84

33
1. Setiap Tenaga Kesehatan yang melakukan kelalaian berat yang mengakibatkan
Penerima Pelayanan Kesehatan luka berat dipidana dengan pidana penjara paling
lama 3 (tiga) tahun.
2. Jika kelalaian berat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan
kematian, setiap Tenaga Kesehatan dipidana dengan pidana penjara paling lama 5
(lima) tahun.
C. Pasal 85
1. Setiap Tenaga Kesehatan yarlg dengan sengaja menjalankan praktik tanpa
memiliki STR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (I) dipidana dengan
pidana denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
2. Setiap Tenaga Kesehatan warga negara asing yang dengan sengaja memberikan
pelayanan kesehatan tanpa memiliki STR Sementara sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 55 ayat (1) dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp
100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
D. Pasal 86
1. Setiap Tenaga Kesehatan yang menjalankan praktik tanpa memiliki izin
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 ayat (1) dipidana dengan pidana denda
paling banyak Rp100.000,000,00 (seratus juta rupiah).
2. Setiap Tenaga Kesehatan warga negara asing yang dengan sengaja memberikan
pelayanan kesehatan tanpa memiliki SIP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55
ayat (1) dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus
juta rupiah).
2.15 Bab XV Ketentuan Peralihan
A. Pasal 87
1. Bukti Registrasi dan perizinan Tenaga Kesehatan yang telah dimiliki oleh
Tenaga Kesehatan, pada saat berlakunya Undang-Undang ini, dinyatakan masih
tetap berlaku sampai habis masa berlakunya.
2. Tenaga Kesehatan yang belum memiliki bukti Registrasl dan perizinan wajib
menyesuaikan dengan ketentuan Undang-Undang ini paling lama 2 (dua) tahun
sejak Undang-Undang ini diundangkan.
B. Pasal 88
1. Tenaga Kesehatan lulusan pendidikan di bawah Diploma Tiga yang telah
melakukan praktik sebelum ditetapkan Undang-Undang ini, tetap diberikan
kewenangan untuk menjalankan praktik sebagai Tenaga Kesehatan untuk jangka
waktu 6 (enam) tahun setelah Undang-Undang ini diundangkan.
2. Kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diperoleh dengan
mengajukan permohonan mendapatkan STR Tenaga Kesehatan.
C. Pasal 89
Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia dan Komite Farmasi Nasional sebagaimana
diatur dalam peraturan perundangundangan tetap melaksanakan fungsi, tugas, dan
wewenangnya sampai terbentuknya Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia.

34
D. Pasal 90
1. Konsil Kedokteran dan Konsil Kedokteran Gigi menjadi bagian dari Konsil
Tenaga Kesehatan Indonesia setelah Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia
terbentuk sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini.
2. Konsil Kedokteran Indonesia sebagaimana diatur dalam Undang-Undang
Nomor 29 Tahun 2OO4 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2OO4 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 443 1) tetap melaksanakan fungsi, tugas, dan wewenangnya
sampai dengan terbentuknya Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia.
3. Sekretariat Konsil Kedokteran Indonesia sebagaimana diatur dalam Undang-
Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2OO4 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4431) tetap melaksanakan fungsi dan tugasnya sampai
dengan terbentuknya sekretariat Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia.
2.16 Bab XVI Ketentuan Penutup
A. Pasal 9 I
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, semua peraturan perundang-
undangan yang mengatur mengenai Tenaga Kesehatan dinyatakan masih tetap
berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang
ini.
B. Pasal 92
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, Peraturan Pemerintah Nomor 32
Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1996 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3637) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
C. Pasal 93
Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 harus
dibentuk paling lama 2 (dua) tahun terhitung sejak Undang-Undang ini
diundangkan.
D. Pasal 94
1. Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku: Pasal 4 ayat (2\, Pasal 17, Pasal 20
ayat (4), dan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2OO4 Nomor 116,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431) dicabut dan
dinyatakan tidak berlaku; dan
2. Sekretariat Konsil Kedokteran Indonesia sebagaimana diatur dalam Undang-
Undang Nomor 29 Tahun 2OO4 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2OO4 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4431) menjadi sekretariat Konsil Tenaga Kesehatan
Indonesia setelah terbentuknya Konsil Tenaga Kesehatan lndonesia.
E. Pasal 95
35
Peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang ini harus ditetapkan paling lama 2
(dua) tahun terhitung sejak Undang-Undang ini diundangkan.
F. Pasal 96
Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
2.17Penjelasan Atas UURI No 36 tahun 2014 Tentang Tenaga Kesehatan
Undang Undang tentang Tenaga Kesehatan ini didasarkan pada pemikiran
bahwa Pembukaan UUD 1945 mencantumkan citacita bangsa Indonesia yang
sekaligus merupakan tujuan nasional bangsa Indonesia, yaitu melindungi segenap
bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa Salah satu wujud
memajukan kesejahteraan umum adalah Pembangunan Kesehatan yang ditujukan
untuk meningkatkan kesadaran' kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap
orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya'
sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif.
Kesehatan merupakan hak asasi manusia, artinya, setiap orang mempunyai
hak yang sama dalam memperoleh akses pelayanan kesehatan. Kualitas pelayanan
kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau juga merupakan hak seluruh
masyarakat Indonesia. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi,
dalam rangka melakukan upaya kesehatan tersebut perlu didukung dengan sumber
daya kesehatan, khususnya Tenaga Kesehatan yang memadai, baik dari segi
kualitas, kuantitas, maupun penyebarannya.
Upaya pemenuhan kebutuhan Tenaga Kesehatan sampai saat ini belum
memadai, baik dari segi jenis, kualifikasi, jumlah, maupun pendayagunaannya.
Tantangan pengembangan Tenaga Kesehatan yang dihadapi dewasa ini dan di
masa depan adalah:
1. pengembangan dan pemberdayaan Tenaga Kesehatan belum dapat memenuhi
kebutuhan Tenaga Kesehatan untuk pembangunan kesehatan;
2. regulasi untuk mendukung upaya pembangunan Tenaga Kesehatan masih
terbatas;
3. perencanaan kebijakan dan program Tenaga Kesehatan masih lemah;
4. kekurangserasian antara kebutuhan dan pengadaan berbagai jenis Tenaga
Kesehatan;
5. kualitas hasil pendidikan dan pelatihan Tenaga Kesehatan pada umumnya
masih belum memadai;
6. pendayagunaan Tenaga Kesehatan, pemerataan dan pemanfaatan Tenaga
Kesehatan berkualitas masih kurang;
7. pengembangan dan pelaksanaan pola pengembangan karir, sistem
penghargaan, dan sanksi belum dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan;
8. pengembangan profesi yang berkelanjutan masih terbatas;
9. pembinaan dan pengawasan mutu Tenaga Kesehatan belum dapat dilaksanakan
sebagaimana yang diharapkan;

36
10. sumber daya pendukung pengembangan dan pemberdayaan Tenaga Kesehatan
masih terbatas;
11. sistem informasi Tenaga Kesehatan belum sepenuhnya dapat menyediakan data
dan informasi yang akurat, terpercaya, dan tepat waktu; dan
12. dukungan sumber daya pe mbiayaan dan sumber daya lain belum cukup.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, diperlukan adanya penguatan regulasi
untuk mendukung pengembangan dan pemberdayaan Tenaga Kesehatan melalui
percepatan pelaksanaannya, pen.ingkatan kerja sama lintas sector, dan
peningkatan pengelolaannya secara berjenjang di pusat dan daerah.
Perencanaan kebutuhan Tenaga Kesehatan secara nasional disesuaikan
dengan kebutuhan berdasarkan masalah kesehatan, kebutuhan pengembangan
program pembangunan kesehatan, serta ketersediaan Tenaga Kesehatan tersebut.
Pengadaan Tenaga Kesehatan sesuai dengan perencanaan kebutuhan
diselenggarakan melalui pendidikan dan pelatihan, baik oleh Pemerintah,
Pemerintah Daerah, maupun masyarakat, termasuk swasta.
Pendayagunaan Tenaga Kesehatan meliputi penyebaran Tenaga Kesehatan
yang merata dan berkeadilan, pemanfaatan Tenaga Kesehatan, dan pengembangan
Tenaga Kesehatan, termasuk peningkatan karier.
Pembinaan dan pengawasan mutu Tenaga Kesehatan terutama ditujukan
untuk meningkatkan kualitas Tenaga Kesehatan sesuai dengan Kompetensi yang
diharapkan dalam mendukung penyelenggaraan pelayanan kesehatan bagi seluruh
penduduk Indonesia. Pembinaan dan pengawasan mutu Tenaga Kesehatan
dilakukan melalui peningkatan komitmen dan koordinasi semua pemangku
kepentingan dalam pengembangan Tenaga Kesehatan serta legislasi yang antara
lain meliputi sertifikasi melalui Uji Kompetensi, Registrasi, perizinan, dan hak-
hak Tenaga Kesehatan.
Penguatan sumber daya dalam mendukung pengembangandan pemberdayaan
Tenaga Kesehatan dilakukan melaluipeningkatan kapasitas Tenaga Kesehatan,
penguatan sistem informasi Tenaga Kesehatan, serta peningkatan pembiayaan dan
fasilitas pendukung lainnya.
Dalam rangka memberikan pelindungan hukum dankepastian hukum kepada
Tenaga Kesehatan, baik yang melakukan pelayanan langsung kepada masyarakat
maupun yang tidak langsung, dan kepada masyarakat penerima pelayanan itu
sendiri, diperlukan adanya landasan hukum yang kuat yang sejalan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatanserta sosial
ekonomi dan budaya.

37
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang
kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan
di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk
melakukan upaya kesehatan.
Tenaga kesehatan memiliki peranan penting untuk meningkatkan kualitas
pelayanan kesehatan yang maksimal kepada masyarakat agar masyarakat mampu
untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat sehingga
akan terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya sebagai investasi bagi
pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomi
serta sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum sebagaimana dimaksud dalam
Pembukaan Undang-Undangg Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
Penyelenggaraan upaya kesehatan harus dilakukan oleh tenaga kesehatan
yang bertanggung jawab, yang memiliki etik dan moral yang tinggi, keahlian, dan
kewenangan yang secara terus menerus harus ditingkatkan mutunya melalui
pendidikan dan pelatihan berkelanjutan, sertihkasi, registrasi, perizinan, serta
pembinaan, pengawasan, dan pemantauan agar penyelenggaraan upaya kesehatan
memenuhi rasa keadilan dan perikemanusiaan serta sesuai dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan.
3.2 Saran
Bidan sebagai seorang tenaga kesehatan harus mampu menjalankan tugas dan
kewajibannya dengan baik sesuai dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014.
Selain itu, bidan harus bisa mengembangkan kemampuan dan keahliannya sesuai
perkembangan zaman dengan mengikuti seminar dan pelatihan.

38
ANALISIS MENGENAI INFORM CONSENT

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Pekerjaan dokter mempunyai ciri khusus, antara lain merupakan


hubungan yang sangat pribadi karena didasarkan pada kepercayaan. Pasien
senantiasa harus percaya kepada kemampuan dokter yang menanganinya.
Namun keadaan demikian lama-kelamaan mengalami perubahan, sehubungan
dengan perkembangan yang terjadi dalam berbagai bidang kehidupan. Dengan
semakin meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap
tanggung jawab
atas kesehatannya sendiri, maka kepercayaan yang semula tertuju pada
kemampuan dokter secara pribadi, sekarang bergeser pada kemampuan
ilmunya. Timbul kesadaran masyarakat untuk menuntut suatu hubungan yang
seimbang dan tidak lagi sepenuhnya pasrah kepada dokter. Husein Kerbala
mengatakan bahwa selain kepercayaan tidak lagi pada dokter secara pribadi,
akan tetapi kepada kemampuan ilmu kedokteran, perubahan pola hubungan
dokter-pasien
terjadi karena:
a. ada kecenderungan untuk menyatakan bahwa kesehatan itu bukan lagi
keadaan
tanpa penyakit, akan tetapi berarti kesejahteraan fisik, mental dan sosial.
b. semakin banyaknya peraturan yang memberikan perlindungan hukum
kepada
pasien.
Dengan demikian terlihat hubungan dokter-pasien tidak hanya bersifat
medis semata, tetapi juga bersifat sosial, yuridis dan ekonomis . Di Indonesia,
kasus Dokter Setyaningrum pada tahun 1980-an untuk pertama kalinya
menggugah kesadaran masyarakat akan hubungan yang seimbang antara
dokter dengan pasien. Sejak kasus itu mencuat, terjadi perubahan pola
hubungan pasien-dokter dari paternalistik menjadi partnership.3 Pasien
menjadi sadar akan hak-haknya, antara lain hak atas informasi dan hak
memberikan persetujuan yang umum disebut dengan informed consent.
Banyak kasus bermunculan setelah kasus dr. Setyaningrum, dimana pasien
atau keluarga pasien menggugat dan menuntut tenaga medis dalam berbagai
kasus
malpraktek. Kasus-kasus seperti “Keluarga Bayi Jared-Jayden dan RS Omni”
serta “Keluarga Bayi Ismi dan RS Borromeus” baru-baru ini merupakan
39
contoh nyata fenomena ini. Dari sini terlihat, pemahaman Informed Consent
yang memadai amat dibutuhkan sebagai upaya preventif tindakan malpraktek.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Pustaka Informed Consent


2.1.1. Informed Consent Sebagai Hak Pasien

Perikatan medis yang lahir dari perjanjian medis merupakan


hubungan hukum yang bersifat timbal balik. Sebagai hubungan hukum
yang bersifat timbale balik, perjanjian medis selalu mempunyai dua segi
yang isinya hak di satu pihak dan kewajiban di pihak lainnya. Dengan lain
perkataan bahwa hak pihak pertama merupakan kewajiban pihak kedua dan
sebaliknya kewajiban pihak pertama itu merupakan hak bagi pihak kedua.
Demikian juga dengan hubungan hukum antara dokter dengan pasiennya
pun terdapat hak dan kewajiban.
Pada literatur hukum kesehatan terdapat beberapa hak pasien antara lain :
40
a) Hak atas informasi
b) Hak memberikan persetujuan
c) Hak memilih dokter
d) Hak memilih sarana kesehatan (Rumah Sakit)
e) Hak atas rahasia kedokteran
f) Hak menolak pengobatan/perawatan
g) Hak menolak suatu tindakan medis tertentu
h) Hak untuk menghentikan pengobatan/perawatan (di Rumah Sakit
tersedia formulir
keluar paksa)
i) Hak atas second opinion (pendapat kedua)
j) Hak melihat rekam medis/hak “inzage” rekam medis
Butir a dan b dinamakan “informed consent”.
Berkaitan dengan informed consent sebagai hak pasien di satu sisi,
di sisi lain lain pasien juga mempunyai kewajiban memberikan penjelasan
lengkap, sebanyak mungkin tentang penyakitnya. Kewajiban pasien ini
dapat dikaitkan dengan hak dokter atas “itikad baik” pasien.
Informed Consent diatur dalam Undang-Undang No. 36 Tahun 2009
tentang Kesehatan, salah satunya Pasal 8 yang menyebutkan Setiap orang
berhak memperoleh informasi tentang data kesehatan dirinya termasuk
tindakan dan pengobatan yang telah maupun yang akan diterimanya dari
tenaga kesehatan.
Pasal 22 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996
tentang Tenaga Kesehatan menyebutkan kewajiban dari tenaga kesehatan
antara lain adalah memberikan informasi yang berkaitan dengan kondisi
dan tindakan yang akan dilakukan serta meminta persetujuan terhadap
tindakan yang akan dilakukan. Selain itu dalam pasal 22 ayat (1) ini juga
disebutkan tenaga kesehatan diwajibkan untuk menghormati hak-hak
pasien, yang dalam penjelasan pasal Peraturan Pemerintah ini dikatakan
hak-hak pasien itu meliputi hak atas informasi dan hak untuk
memberikan/menolak persetujuan. Informed Consent juga diatur dalam
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290/MENKES/PER/III/2008 tentang
Persetujuan Tindakan Kedokteran. Berikut beberapa pasal yang mengatur
mengenai informed consent :
Pasal 2

Ayat (1): Semua tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien
harus
mendapat persetujuan.
Ayat (3): Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan
setelah

41
pasien mendapat penjelasan yang diperlukan tentang perlunya
tindakan
kedokteran dilakukan.

Pasal 7
(1) Penjelasan tentang tindakan kedokteran harus diberikan langsung
kepada pasien
dan/atau keluarga terdekat, baik diminta maupun tidak diminta.
(2) Dalam hal pasien adalah anak-anak atau orang yang tidak sadar,
penjelasan
diberikan kepada keluarganya atau yang mengantar.
(3) Penjelasan tentang tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada
ayat :
(1) sekurangkurangnya mencakup:
a. Diagnosis dan tata cara tindakan kedokteran;
b. Tujuan tindakan kedokteran yang dilakukan;
c. Altematif tindakan lain, dan risikonya;
d. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dan
e. Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.
f. Perkiraan pembiayaan

Pasal 8

(1) Penjelasan tentang diagnosis dan keadaan kesehatan pasien dapat


meliputi :
a. Temuan klinis dari hasil pemeriksaan medis hingga saat tersebut;
b. Diagnosis penyakit, atau dalam hal belum dapat ditegakkan, maka
sekurangkurangnya diagnosis kerja dan diagnosis banding;
c. Indikasi atau keadaan klinis pasien yang membutuhkan dilakukannya
tindakan
kedokteran;
d. Prognosis apabila dilakukan tindakan dan apabila tidak dilakukan
tindakan.

(2) Penjelasan tentang tindakan kedokteran yang dilakukan meliputi :


a. Tujuan tindakan kedokteran yang dapat berupa tujuan preventif,
diagnostik, terapeutik, ataupun rehabilitatif.
b. Tata cara pelaksanaan tindakan apa yang akan dialami pasien
selama dan sesudah
42
tindakan, serta efek samping atau ketidaknyamanan yang mungkin
terjadi.
c. Alternatif tindakan lain berikut kelebihan dan kekurangannya
dibandingkan dengan
tindakan yang direncanakan.
d. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi pada masing-masing
alternative
tindakan.
e.Perluasan tindakan yang mungkin dilakukan untuk mengatasi
keadaan darurat
akibat risiko dan komplikasi tersebut atau keadaan tak terduga
lainnya.

(3) Penjelasan tentang risiko dan komplikasi tindakan kedokteran adalah


semua risiko
dan komplikasi yang dapat terjadi mengikuti tindakan kedokteran yang
dilakukan, kecuali:
a. risiko dan komplikasi yang sudah menjadi pengetahuan umum
b. risiko dan komplikasi yang sangat jarang terjadi atau yang
dampaknya
sangat ringan
c. risiko dan komplikasi yang tidak dapat dibayangkan sebelumnya
(unforeseeable)

(4) Penjelasan tentang prognosis meliputi:


a. Prognosis tentang hidup-matinya (ad vitam);
b. Prognosis tentang fungsinya (ad functionam);
c. Prognosis tentang kesembuhan (ad sanationam)

2.1.2. Pengertian Informed Consent

Pada dasarnya, hubungan dokter dengan pasien yang dikenal


dengan kontrak terapeutik itu bertumpu pada dua macam hak manusia,
yaitu:
43
a. Hak untuk menentukan nasib sendiri (the right to self
determination/TROS)
b. Hak atas informasi (the right to information).
Dengan kedua hak dasar itu dokter dan pasien bersama-sama menemukan
terapi (cara penyembuhan) yang paling tepat akan diterapkan pada diri
pasien. Dari sini pangkal informed consent lahir.
Berikut beberapa pendapat yang pernah disampaikan mengenai definisi
informed consent:
a. Secara harfiah, informed consent terdiri dari dua kata yaitu informed
dan consent.
Informed berarti telah mendapat penjelasan atau keterangan atau
informasi. Sedangkan consent itu berarti suatu persetujuan atau
mengizinkan. Dengan demikian informed consent itu berartisuatu
persetujuan yang diberikan setelah mendapat informasi (informed).
b. D. Veronica Komalawati merumuskan pengertian informed consent
sebagai:
“...suatu kesepakatan atau persetujuan pasien atas upaya medis yang
akan dilakukan
dokter terhadap dirinya setelah pasien mendapat informasi dari
dokter mengenai
upaya medis yang dapat dilakukan menolong dirinya disertai informasi
mengenai
segala risiko yang mungkin terjadi.”
c. Di dalam Patient Bill of Rights atau American Hospital Assosiation,
informed consent
dirumuskan sebagai:
“The patient has the right to receive from his physician information
necessary to give.
Informed Consent prior to the start of any procedure and/or
treatment.”
d. Menurut Black’s Law Dictionary maka dikatakan bahwa informed
consent adalah:
A person's agreement to allow something to happen, made with full
knowledge of
the risks involved and the alternatives. For the legal professioni,
informed consent is
defined in Model Rule of Professional Conduct l.O(e). 2. A patient's
knowing choice
about a medical treatment or procedure, made after a physician or other
healthcare

44
provider discloses whatever information a reasonably prudent provider in
the medical community would give to a patient regarding the risks involved
in the proposed treatment or procedure. -Also termed knowing consent.

2.1.3. Kode Etik Kedokteran dan Informed Consent


Dari segi etik, penerapan informed consent dianggap sebagai upaya
dokter untuk membuktikan kesungguhannya dalam mematuhi primum non
nocere (yang paling diutamakan adalah untuk tidak mencelakakan pasien),
serta prinsip mengutamakan kepentingan pasien. Dokter yang memegang
prinsip primum non nocere akan selalu menerima apa pun yang diputuskan
oleh pasiennya. Sehingga dapat dikatakan bahwa aspek etik dari informed
consent
sangatlah luas dan besar dan menjadi landasan moral bagi kalangan tenaga
kesehatan, khususnya para dokter.
Dalam profesi kedokteran, dikenal adanya suatu kode etik yang
disusun berdasarkan asas etik. Dasar etik tersebut berlaku sejak zaman
Hippocrates dan merupakan asas yang tidak pernah berubah, yang secara
universal dipakai diseluruh dunia. Jika dijabarkan terdapat enam asas dalam
profesi kedokteran yakni:
1. Asas menghormati otonomi pasien
Pasien mempunyai kebebasan untuk mengetahui apa yang akan
dilakukan oleh dokter serta memutuskan apa yang terbaik bagi dirinya
sendiri sehingga kepadanya perlu diberikan informasi yang cukup.
Pasien berhak untuk dihormati pendapat dan keputusannya, dan tidak
boleh dipaksa. Untuk itu maka perlu adanya informed consent.
2. Asas kejujuran
Dokter hendaknya mengatakan hal yang sebenarnya secara jujur
akan apa yang terjadi , apa yang akan dilakukan, serta akibat/risiko
yang dapat terjadi.

3. Asas tidak merugikan


Dokter berpedoman pada primum non nocere, tidak melakukan
tindakan yang tidak perlu, dan mengutamakan tindakan yang tidak
merugikan pasien, serta mengupayakan risiko fisik, risiko psikologis,
maupun risiko sosial akibat tindakan tersebut seminimal mungkin.
4. Asas manfaat
Semua tindakan dokter yang dilakukan terhadap pasien harus
bermanfaat bagi pasien guna mengurangi penderitaan atau
memperpanjang hidupnya. Untuk itu dokter wajib membuat rencana
45
perawatan/tindakan yang berlandaskan pada pengetahuan yang sahih
dan dapat berlaku secara umum.

5. Asas kerahasiaan
Dokter harus menghormati kerahasiaan pasien, meskipun pasien
tersebut sudah meninggal dunia.

6. Asas keadilan
Dokter harus berlaku adil, tidak memandang kedudukan atau
kepangkatan, tidak memandang kekayaan, dan tidak berat sebelah
dalam merawat pasien.

Dari asas tersebut kemudian disusun peraturan kode etik kedokteran


Indonesia yang menjadi landasan bagi setiap dokter untuk mengambil
keputusan etik dalam melakukan tugas profesinya sebagai seorang dokter.
Kode etik kedokteran yang berlaku sekarang dinyatakan mulai berlaku
pertama kali dengan Keputusan Menteri Kesehatan No. 434/Men.
Kes/Sk/X/1983 tentang Berlakunya Kode Etik Kedokteran Indonesia
(Kodeki) bagi para dokter di seluruh Indonesia, baik yang menjadi anggota
IDI maupun yang tidak menjadi anggota IDI. Kodeki
berisi tentang kewajiban umum, kewajiban dokter terhadap penderita,
kewajiban
dokter terhadap teman sejawat, dan kewajiban dokter terhadap diri sendiri.

2.1.4. Aspek Perdata Informed Consent

Telah dijelaskan di muka bahwa informed consent merupakan


hubungan hukum yang lahir dari perjanjian medis. Perjanjian medis yang
termasuk perikatan medis merupakan perikatan pada umumnya yang
berlaku ketentuan-ketentuan umum hukum perikatan sebagaimana diatur
dalam Buku III Kitab Undang- Undang Hukum Perdata. Dengan demikian,
syarat sahnya perjanjian medis juga kontrak terapeutik antara dokter
dengan pasien haruslah memenuhi ketentuan dalam KUHPerdata Buku III
Bab II Bagian Kedua Tentang Syarat-Syarat yang Diperlukan Untuk
Sahnya Suatu Perjanjian. Syarat sahnya suatu perjanjian dalam
pasal 1320 Buku III Bab II Bagian Kedua KUHPerdata disebutkan ada
empat,
yaitu:
1) Sepakat mereka yang mengikat dirinya;
2) Kecakapan untuk membuat suatu perikatan;
3) Suatu hal tertentu;
4) Suatu sebab yang halal.
46
Dua syarat pertama, dinamakan syarat-syarat subjektif, karena
mengenai orang-orangnya atau subjeknya yang mengadakan perjanjian,
sehingga dapat dimintakan pembatalannya pada pengadilan manakala
syarat subjektif ini tidak terpenuhi. Sedangkan dua syarat yang terakhir
dinamakan syarat-syarat objektif karena mengenai perjanjiannya sendiri
atau objek dari perbuatan hukum yang dilakukan itu. Syarat objektif ini
apabila tidak terpenuhi maka perjanjiannya batal demi hukum.

1) Sepakat mereka yang mengikat dirinya


Pasal 1321 KUHPerdata menyebutkan bahwa kesepakatan harus
diberikan tanpa adanya kekhilafan, atau diperolehnya tidak dengan dengan
paksaan atau penipuan. Subekti menjelaskan dengan sepakat atau juga
dinamakan perizinan, dimaksudkan bahwa kedua subjek yang mengadakan
perjanjian itu harus bersepakat, setuju, seiya-sekata mengenai hal-hal pokok
dari perjanjian yang diadakan itu. Apa yang dikehendaki pihak satu, juga
dikehendaki pihak yang lain. Mereka menghendaki sesuatu yang sama
secara timbal-balik.22 Paksaan terjadi, jika seseorang memberikan
persetujuannya karena takut suatu ancaman. Misalnya rahasianya akan
dibuka jika ia tidak menyetujui suatu perjanjian. Yang diancam harus
mengenai suatu perbuatan yang dilarang undang-undang. Jikalau yang
diancam itu suatu perbuatan yang diizinkan oleh undangundang, misalnnya
ancaman akan menggugat yang bersangkutan di depan hakim dengan
penyitaan barang, itu tidak dapat dikatakan suatu paksaan.
Kekhilafan dapat terjadi, baik menyangkut subjek maupun
objeknya. Misalnya, seseorang yang ingin mengobati penyakitnya datang
ke seorang dokter. Sebenarnya ia ingin berobat kepada seorang dokter
spesialis, tetapi karena ketidaktahuannya ia datang ke dokter umum.
Sebaliknya dokter umum itu mengira bahwa calon pasien itu tahu bahwa
dirinya memang hanya seorang dokter umum dan sungguh ingin berobat
kepadanya.25 Kekhilafan mengenai objeknya, terjadi jika hal yang
dijadikan objek perjanjian itu sesungguhnya bukan yang dimaksudkan oleh
pihak-pihak. Penipuan terjadi, apabila satu pihak dengan sengaja
memberikan keterangan-keterangan yang tidak benar, disertai dengan
kelicikan-kelicikan, sehingga pihak lain terbujuk karenanya untuk
memberikan perizinan.
Adapun dalam menyatakan persesuaian kehendak itu, dapat
dilakukan dengan berbagai cara, baik secara tegas (expressed contract)
mapun diam-diam (implied contract). Dalam bentuk Expressed Contract
sifat atau luas jangkauan pemberian pelayanan pengobatan sudah
ditawarkan oleh sang dokter yang dilakukan secara nyata dan jelas, baik
secara tertulis maupun secara lisan. Dalam bentuk Implied Contract adanya
47
kontrak disimpulkan dari tindakan-tindakan para pihak. Timbulnya bukan
karena adanya persetujuan, tetapi dianggap ada oleh hukum berdasarkan
akal sehat dan keadilan. Maka jika seorang pasien datang ke suatu klinik
medis dan sang dokter mengambil riwayat penyakitnya, memeriksa
keadaan fisik pasien dan memberikan pengobatan yang diperlukan, maka
dianggap tersirat sudah ada hubungan kontrak antara pasien dan dokter.
Menurut Veronica Komalawati, jika dihubungkan dengan perjanjian
medis (Veronica menyebutnya dengan transaksi terapeutik) sebagai
hubungan interpersonal, maka yang disebut informed consent untuk
dilakukan tindakan medis merupakan konstruksi dari persesuaian kehendak
yang harus dinyatakan baik oleh dokter maupun pasien setelah masing-
masing menyatakan kehendaknya sehingga masing-masing telah
mendapatkan informasi secara bertimbal balik. Oleh karena itu, informed
consent diartikan sebagai persetujuan setelah
informasi. Bentuk informed consent tidak harus tertulis, tetapi bisa secara
lisan. Ketentuan mengenai ini tercantum dalam Pasal 2 ayat (2) Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 290/MENKES/PER/III/2008 tentang
Persetujuan Tindakan Kedokteran yang bunyinya: “Persetujuan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)dapat diberikan secara tertulis
maupun lisan.” Namun untuk tindakan kedokteran yang mengandung
risiko tinggi harus memperoleh persetujuan tertulis yang ditandatangani
oleh yang berhak memberikan persetujuan (Pasal 3 ayat 1 ) Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 290/MENKES/PER/III/2008). Berikut Pasal 3
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290/MENKES/PER/III/2008 tentang
Persetujuan Tindakan Kedokteran.

Pasal 3
(1) Setiap tindakan kedokteran yang mengandung risiko tinggi harus
memperoleh
persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak
memberikan persetujuan.
(2) Tindakan kedokteran yang tidak termasuk dalam ketentuan
sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat diberikan dengan persetujuan lisan.
(3) Persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat dalam
bentuk
pernyataan yang tertuang dalam formulir khusus yang dibuat untuk
itu.
(4) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan
dalam bentuk
ucapan setuju atau bentuk gerakan menganggukkan kepala yang
dapat diartikan sebagai ucapan setuju.
48
(5) Dalam hal persetujuan lisan yang diberikan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2)
dianggap meragukan, maka dapat dimintakan persetujuan tertulis.

2) Kecakapan untuk membuat suatu perikatan


Pada dasarnya orang yang membuat perjanjian harus cakap menurut
hukum. Cakap menurut hukum maksudnya orang tersebut mempunyai
kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum. Setiap orang adalah cakap
untuk membuat perikatan-perikatan, jika ia oleh undang-undang tidak
dinyatakan tidak cakap (Pasal 1329 KUHPerdata). Tak cakap membuat
suatu perjanjian adalah (Pasal 1330 KUHPerdata):
a. Orang-orang yang belum dewasa;
b. Mereka yang ditaruh di bawah pengampuan;
c. Orang-orang perempuan, dalam hal-hal yang ditetapkan undang-
undang,
dan pada umumnya semua orang kepada siapa undang-undang telah
melarang membuat perjanjian tertentu. Dengan berlakunya Undang-
Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, maka istri telah dianggap
cakap untuk melakukan perbuatan hukum. Selain kecakapan berlandaskan
faktor usia, kecakapan juga ditentukan berdasarkan faktor kesehatan
mental.30 Kecakapan juga ditentukan oleh undang-undang. Misalnya,
seorang tenaga kesehatan yang melakukan tindakan medis haruslah tenaga
kesehatan yang telah memperoleh Surat Izin Praktek dan tindakan medis
tersebut adalah sebatas tindakan (wewenang) yang memang ditulis dalam
Surat Izin Praktek Tenaga Kesehatan itu dan peraturan perundang-
undangan yang berlaku. Seringkali ditemui kasus dimana seorang tenaga
kesehatan melampaui wewenangnya, misalnya kasus seorang dokter gigi
yang membuka klinik kecantikan untuk operasi plastik padahal ia hanya
mempunyai Surat Izin Praktek (SIP) sebagai dokter gigi yanbg tentu saja
wewenangnya sebatas tindakan medis oleh dokter gigi yang tercantum
dalam SIP itu. Lebih lanjut mengenai SIP akan dibahas dalam sub-bab
“Aspek Administratif Informed Consent”.

3) Suatu hal tertentu

49
Sebagai syarat ketiga disebutkan bahwa suatu perjanjian harus
mengenai suatu hal tertentu, artinya apa yang diperjanjikan hak-hak dan
kewajiban kedua belah pihak jika timbul suatu perselisihan.32 Barang yang
dimaksud paling sedikit ditentukan jenisnya (Pasal 1333 ayat (1)
KUHPerdata). Tidaklah menjadi halangan bahwa jumlah barang tidak
tentu, asal saja jumlah itu terkemudian dapat ditentukan atau dihitung
(Pasal 1333 ayat (2) KUHPerdata). Menurut Veronica Komalawati,
dihubungkan dengan objek dalam perjanjian medis, maka urusan yang
dimaksudkan adalah sesuatu yang perluditangani, yaitu berupa upaya
penyembuhan. Upaya penyembuhan tersebut harus dapat dijelaskan karena
dalam pelaksanaannya diperlukan kerja sama yang didasarkan sikap saling
percaya antara dokter dan pasien. Oleh karena upaya
penyembuhan yang akan dilakukan itu harus dapat ditentukan, maka
diperlukan adanya standar pelayanan medic.
Dengan demikian, dapat terlihat bahwa ketentuan mengenai objek
perjanjian ini erat kaitannya dengan masalah:
(1) pelaksanaan upaya medik sesuaidengan standar pelayanan medik yang
meliputi standar pelayanan penyakit danstandar pelayanan penunjang; serta
(2) masalah infomasi yang diberikan harustidak melebihi dari yang dibutuhkan
oleh pasien. Jadi jika dokter tidak dapatmenentukan dan menjelaskan, atau
memberikan informasi mengenai upaya medicyang akan dilakukannya,
maka berarti syarat ini tidak terpenuhi.

4) Suatu sebab yang halal


Syarat terakhir adalah sebab yang halal. Sebab yang halal
maksudnya adalah isi dari suatu perjanjian tidak boleh bertentangan dengan
undang-undang, ketertiban umum dan kesusilaan. Pengertian tidak boleh
bertentangan dengan undang-undang di sini adalah undang-undang yang
bersifat melindungi kepentingan umum, sehingga jika dilanggar akan
membahayakan kepentingan umum.35 Misalnya, menurut Undang-Undang
Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan menentukan bahwa tindakan
pengguguran kandungan merupakan
perjanjian dengan sebab terlarang, kecuali berdasarkan indikasi kedaruratan
medis dan kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma

50
psikologis bagi korban perkosaan dengan syarat-syarat yang telah
ditentukan undang-undang ini (Pasal 75 dan Pasal 76).
Lalu bagaimana bila perjanjian terapeutik dilakukan oleh tenaga
kesehatan dalam rangka melakukan pekerjaan di bawah Rumah Sakit ,
Dalam kaitan dengan tanggung jawab Rumah Sakit, maka pada prinsipnya
Rumah Sakit bertanggung jawab secara perdata terhadap semua kegiatan
yang dilakukan oleh tenaga kesehatannya sesuai dengan bunyi pasal 1367
(3) KUHP Perdata. Selain itu, Rumah Sakit bertanggung jawab atas
wanprestasi dan melawan hukum (1243, 1370, 1371, dan 1365
KUHPerdata) bila tindakan itu dilakukan pegawainya.

2.1.5. Aspek Pidana Informed Consent

Telah dibahas bahwa sebelum tindakan medik dilakukan diperlukan


persetujuan pasien. Mengapa seorang pasien harus memberikan persetujuan
itu; misalnya suatu operasi? Dilihat dari aspek pidananya, hal ini dikaitkan
dengan Pasal 351 KUHP dimana diatur hal penganiayaan. Jika seseorang
menusukkan pisau ke dalam badan seseorang lain.yang menimbulkan luka,
perbuatan ini merupakan penganiayaan. Jika seseorang membius orang
lain, ini pun termasuk
penganiayaan. Jika seseorang yang membius tersebut kebetulan seorang
dokter, maka tindakan itu tetap penganiayaan. Tindakan-tindakan itu bukan
suatu penganiayaan menurut Hukum Pidana manakala:
a. orang yang dilukai tersebut memberikan persetujuan;
b. tindakan medik itu berdasarkan suatu indikasi medik, dan ditujukan pada
suatu tujuan yang
konkrit; serta
c. tindakan medik itu dilakukan sesuai ilmu kedokteran.

a. Orang yang dilukai tersebut memberikan persetujuan


Telah dikemukakan di muka bahwa keharusan memberikan
persetujuan disyaratkan adanya pemberian informasi terlebih dahulu. Telah
dijelaskan pula bahwa hanya dalam keadaan-keadaan tertentu, persetujuan
seperti itu tidak disyaratkan, misalnya pasien tidak mampu mengucapkan
keinginannya atau dalam keadaan darurat. Dalam hal yang terakhir itu,
bukan menjadi masalah teori mana yang akan dipergunakan yakni
berkenaan dengan permasalahan apakah tindakan medis itu merupakan
suatu penganiayaan atau tidak, khususnya tentang
bagaimana caranya tindakan tersebut jangan sampai termasuk dalam
pengertiannya. Jika adanya persetujuan itu pada umumnya tidak dapat
membenarkan adanya suatu penyimpangan terhadap standar profesional
51
medis, maka hanya dalam satu hal adanya suatu persetujuan itu dapat
membuat suatu tindakan medis yang tidak diindikasikan menjadi suatu
tindakan yang dapat
dibenarkan, yakni jika tindakan tersebut sifanya tidak terlarang secara etis.

b. tindakan medik itu berdasarkan suatu indikasi medik, dan


ditujukan pada
Suatu tujuan yang konkrit Itu berarti bahwa perawatan medis sesuai
dengan standar professional secara medis yang berlaku, harus ditujukan
pada tujuan ilmu kedokteran. Tindakan itu juga harus dibenarkan secara
etis. Selanjutnya cara yang dipakai itu harus sesuai dengan tujuan yang
ingin dicapai, instrumen-instrumen yang dipakai itu memang diperlukan,
dan terdapat keseimbangan antara cara yang dipakai dengan tujuan yang
ingin dicapai. Kegunaan secara intrumental itu dianggap tidak ada
misalnya: jika suatu tindakna medis yang sifatnya beray itu telah diterapkan
pada suatu perasaan sakit yang ringan; jika dilakukan suatu tindakan
medis yang sifatnya tidak perlu; jika kepada pasien telah tidak diberikan
“pencegah rasa sakit” dalam jumlah yang memadai dan lain-lain. Suatu
penanganan yang tidak dapat dipertangungjawabkan secara intrumental
atau menurut tujuan itu harus diberikan kualifikasi sebagai suatu
penganiayaan. Sebagai suatu kekecualian dapat terjadi bahwa bagi seorang
pasien itu terdapat perbedaan antara tujuan dengan pelayanan, misalnya
pada percobaan-percobaan pada manusia, tetapi jika orang menginginkan
agar tindakan tersebut tidak dapat disebut sebagai suatu tindakan yan
sifatnya melawan hukum secara material, maka tindakan itu harus
memenuhi syarat-syarat yang ditentukan bagi suatu percobaan.

c. tindakan medik itu dilakukan sesuai ilmu kedokteran.


Masalahnya di sini adalah berkenaan dengan ketelitian melakukan
tindakan medis, baik pada waktu melakukan pemeriksaan untuk membuat
diagnosa maupun pada waktu melakukan terapi, dan berkenaan dengan
ketelitian memberikan sarana pencegah rasa sakit dan memberikan
pelayanan. Syarat-syarat yang disebutkan dalam huruf b dan huruf c di atas
juga dapat disebut dengan “bertindak lege artis” (bertindak menurut standar
professional medis). Dengan demikian, menurut Leenen, maka suatu
pembedahan yang dilakukan dengan hati-hati dan didasarkan pada indikasi
yang baik itu, jika karena suatu hal ternyata gagal, tidaklah bersifat
melawan hukum.
Jika dokter memenuhi ketiga syarat itu, maka ia tidak dapat dikenakan
pasal 351 KUHP tentang penganiayaan. Ketiga syarat itu harus semua
dipenuhi. Satu sama lain saling berhubungan. Upaya ini menurut Leenen
meniadakan “dematerieele wederechtelykheid”, yaitu menghilangkan sifat
52
yang bertentangan dengan hukum. Fred Ameln menyebutnya dengan
“Buitenwettelyke schulduitsluitingsgrond” atau dasar peniadaan culpa di
luar undang-undang. Selain itu
juga dikenal prinsip AVAS yang berarti “afwezighyd van alle schuld”, tidak
terdapat suatu kelalaian sama sekali.

2.1.6. Aspek Administratif Informed Consent

Dalam hukum administratif, masalah kualifikasi yuridis berkenaan


antara lain dengan kewenangan yuridis untuk melakukan tindakan medis.
Kewenangan yuridis untuk melakukan tindakan medis salah satu wujudnya
adalah Surat Izin Praktek yang diberikan aparatur negara yang berwenang
kepada tenaga kesehatan. Dalam Surat Izin Praktek dituliskan Ruang
Lingkup kewenangan tenaga kesehatan.
Dasar hukum Surat Izin Praktek adalah :

 Pasal 23 ayat (1), (2), dan (3) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009
tentang Kesehatan (selanjutnya disebut UU Kesehatan) sebagai
berikut:
ayat (1) Tenaga kesehatan berwenang untuk menyelenggarakan pelayanan
kesehatan.
ayat (2) Kewenangan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan
sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan bidang keahlian
yang dimiliki.
ayat (3) Dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan
wajib
memiliki izin dari pemerintah.
Penjelasan Pasal 23 ayat (1) menyatakan “kewenangan yang
dimaksud dalam ayat
ini adalah kewenangan yang diberikan berdasarkan pendidikannya setelah
melalui proses registrasi dan pemberian izin dari pemerintah sesuai dengan
peraturan perundang-undangan”.
Selain dalam UU Kesehatan, mengenai surat izin praktek juga diatur dalam
Pasal 4 dan Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang
Tenaga Kesehatan.

 Pasal 4
(1) Tenaga kesehatan hanya dapat melakukan upaya kesehatan setelah tenaga
kesehatan
53
yang bersangkutan memiliki ijin dari Menteri.
(2) Dikecualikan dari pemilikan ijin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bagi
tenaga
kesehatan masyarakat.) Ketentuan lebih lanjut mengenai perijinan
sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) diatur oleh Menteri.

 Pasal 5
(1) Selain ijin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1), tenaga medis
dan tenaga
kefarmasian lulusan dari lembaga pendidikan di luar negeri hanya
dapat melakukan
upaya
kesehatan setelah yang bersangkutan melakukan adaptasi.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai adaptasi sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1)
diatur oleh Menteri.

Surat Izin Praktek diatur lebih lanjut di dalam Peraturan Menteri


Kesehatan, sebagai berikut:

(1) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 512/MENKES/PER/IV/2007


tentang Izin Praktik
dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran
(2) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02./MENKES/149/I/2010
tentang Izin dan
Penyelenggaraan Praktik Bidan
(3) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02./MENKES/148/I/2010
tentang Izin dan
Penyelenggaraan Praktik Perawat

2.1.7. Alasan-Alasan yang Mengecualikan Informed Consent

Pasal 4 ayat (1) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor


290/MENKES/PER/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran
menyebutkan dalam keadaan gawat darurat, untuk menyelamatkan jiwa
pasien dan/atau mencegah kecacatan tidak diperlukan persetujuan tindakan
kedokteran. Hal ini berarti ada keadaan dimana informed consent tak harus
dipenuhi. Di samping ketentuan dalam Permenkes itu, juga terdapat doktrin
mengenai keadaankeadaan yang dapat menjadi alasan dikesampingkannya

54
informed consent. Alasan-alasan yang dapat mengecualikan informed
consent adalah sebagai berikut.

a. Pasien yang akan menjalani pengobatan dengan “placebo” (sugestif


therapeuticum)
Kadangkala ada orang yang datang kepada dokter mengungkapkan
keluhan-keluhan penyakitnya (pusing, sakit kepala, dan lain-lain). Tetapi
hasil pemeriksaan dan diagnosa dokter menyatakan orang ini secara medis
tidak mengidap suatu penyakit apa pun. Mengapa demikian? Mereka ini
hanya “merasa” saja sakit. Perasaan ini terus dipupuk dan diikuti sehingga
perasaan
sakitnya makin parah. Terhadap pasien yang demikian dokter akan
mengobatinya dengan cara
placebo, yakni diberi suatu obat yang sebenarnya bukan obat (hanya
kembang gula, vitamin) tetapi diberi aturan minum seperti obat pada
umumnya. Jadi terapi yang digunakan juga harus berbentuk sugesti
“sugestif-therapeuticum”. Karena timbulnya penyakit yang dirasakan itu
dari sugesti. Kepada pasien yang demikian, dokter tidak mungkin
menyampaikan diagnosa dan terapi yang dilakukan. Penyampaian
informasi itu justru akan merusak rencana terapi dan proses
penyembuhan.

b. Pasien yang akan merasa dirugikan bila mendengar informasi


tersebut
Bila keadaan pasien sudah sangat parah dan labil, misalnya
berpenyakit lemah jantung yang sudah akut, maka dokter dapat
menyampingkan hak pasien tersebut atas informasi. Bila hasil diagnosa
menunjukkan pasien mengalami komplikasi dengan penyakit lever, dan
lain-lain maka informasi tentang ini dapat disampaikan kepada keluarga
pasien yang berwenang.

c. Pasien yang sakit jiwa


Dapat dipahami jika pasien ini dapat dikesampingkan hak
informasinya karena ia tidak akan mampu memahami informasi dokter,
terutama pasien yang sakitnya telah parah sehingga sama sekali tidak dapat
berkomunikasi lagi.

d. Pasien yang belum dewasa

55
Tentang kelompok pasien belum dewasa, Prof Leenen
membedakannya ke dalam dua kelompok, yakni: (1) Grup A: yang masih
anak (dejongereminderjarige); dan (2) Grup B: yang sudah mendekati
kedewasaan (deOudere minderjarige). Sukar untuk menarik suatu batas
umur antara Grup A dan Grup B dan di sini dapat dipakai “The Major-
Minor Rule” yaitu orang yang belum dewasa dapat dikategorikan grup B
jika mereka oleh dokter dinilai cukup matang untuk menerima infomasi
tentang penyakitnya. Secara hukum perdata, seseorang dinyatakan dewasa
pada umur 21 tahun (Pasal 330 KUHPerdata). Walaupun demikian, banyak
contoh bahwa orang yang belum dewasa sudah dianggap mampu bertindak
menurut hukum tanpa izin orang tua. Hal ini disebut terobosan umur
dewasa di dalam hukum. Misalnya untuk hukum perdata membuat testamen
18 tahun. Misalnya untuk hukum pidana:
- Pada umur 16 tahun seseorang diberlakukan hukum pidana untuk orang
dewasa
(Pasal 45 KUHPidana).
- Mengajukan pengaduan pada delik aduan (klachtdelichten) 16 tahun.
Sampai saat ini belum ada
peraturan perundang-undangan mengenai kesehatan yang mengatur batas
dewasa dalam
melakukan perjanjian terapeutik.

e. Pasien Tidak Sadar


Pada literatur Leenen, dikemukakan adanya suatu “fiksi yuridis”.
Fiksi yuridis menyatakan bahwa seseorang dalam keadaan tidak sadar akan
menyetujui apa yang pada umumnya disetujui oleh pasien yang berada
dalam keadaan sadar pada situasi dan kondisi sakit yang sama. Fred Ameln
menyebutnya dengan “presumed consent”. Prof. W. Van der Mijn
mengatakan bahwa hal paien yang dalam kondisi tidak sadar dapat
dikaitkan pula dengan pasal 1354 KUHPerdata yag mengatur
“Zaakwaarneming” atau perwakilan sukarela, yaitu suatu sikap tindak yang
pada dasarnya pengambil-alih tanggung jawab dengan bertindak menolong
pasien dan bila pasien telah sadardokter bisa bertanya apakah perawatan
diteruskan atau ingin tukar dokter atau ingin memperoleh secondopinion.
Selain itu, jikalau dokter harus melakukan tindakan medis untuk
menyelamatkan jiwa (life saving) seorang pasien yang tidak sadar, maka ia
tidak memerlukan informed consent dari siapa pun. Ini juga disebut oleh
Fred Ameln
sebagai “presumed consent”. Oleh karena itu, persetujuan untuk pasien
yang tidak sadar, tergantung dokter:
(1) Bisa menunggu sampai keluarganya datang atau sampai siuman, tanpa
membahayakan
56
jiwa pasien.
(2) Segera melakukan tindakan medik atas dasar:
a. Live-saving
b. Fiksi hukum (Leenen)
c. Zaakwaarneming (van der Mijn)

2.2.Tanggung Jawab Perawat dan Rumah Sakit


2.2.1. Tanggung Jawab Perawat

Peranan perawat juga sangat besar dalam pelaksanaan informed


consent. Meskipun hal tersebut bukan merupakan kewenangan perawat,
melainkan kewenangan dokter yang dapat didelegasikan kepada perawat.
Untuk penelaahan mengenai tanggung jawab perawat maka dapat
dibedakan perawat atas:
1. Perawat yang bekerja untuk mendapatkan gaji dari dokter
2. Perawat yang bekerja untuk digaji oleh rumah sakit dan diperbantukan
kepada dokter
Untuk perawat yang bekerja dan digaji oleh seorang dokter, maka
pada umumnya dokterlah yang bertanggung jawab terhadap tindakan
perawat yang dilakukan atas perintah dokter, hal ini sesuai dengan
ketentuan Pasal 1367 KUHPerdata. Akan tetapi apabila perawat melakukan
sesuatu tindakan medic yang tidak sesuai dengan ijazah yang ia miliki,
perawat itu sendiri yang harus bertanggung jawab. Apabila seorang perawat
di dalam praktik diperintahkan
untuk meminta tanda tangan dari seorang pasien pada formulir persetujuan,
maka perawat tersebut secara etik moral harus bertanya terlebih dahulu
kepada pasien, apakah ia telah mendapat keterangan atau informasi dari
dokter akan penyakit dan tindakan medik yang akan dilakukan dokter
terhadap dirinya, serta apakah ia telah memahami keterangan tersebut.
Selanjutnya untuk perawat yang bekerja dan diberi gaji oleh rumah
sakit dan diperbantukan kepada dokter maka rumah sakit secara perdata
bertanggung jawab atas tindakan-tindakan yang dilakukan oleh perawat.
Terhadap tanggung jawab rumah sakit ini, dapat digunakan konstruksi
pasal 1367 KUHPerdata, karena perawat dalam menjalankan tugas
keperawatannya di rumah sakit itu atas dasar perintah dari pihak rumah
sakit. Namun dalam hal-hal tertentu maka
perawat pun tetap harus bertanggung-jawab atas yang ia lakukan sendiri.

2.2.2. Tanggung Jawab Rumah Sakit


Secara umum dalam kaitannya dengan tanggung jawab rumah sakit
maka pada dasarnya rumah sakit bertanggung jawab secara perdata
terhadap semua tindakan medis maupun non medis di rumah sakit itu. Hal
57
ini juga berdasarkan pasal1367 KUHPerdata. Apabila tanggung jawab
rumah sakit dikaitkan dengan hal pelaksanaan informed consent, maka
tanggung jawab tersebut meliputi tigal hal, yaitu:

1. Tanggung jawab yang berkaitan dengan personalia


Rumah sakit secara umum bertanggung jawab atas tindakantindakan
yang dilakukan oleh personalia rumah sakit, yang dilakukan dalam
melaksanakan tugasnya masing-masing. Khusus mengenai tindakan dokter
maka dokter dalam hubungannya dengan rimah sakit dapat
dibedakan atas:
a. Dokter-in atau dokter purnawaktu (full time)
Dokter mendapat gaji dari rumah sakit yang bersangkutan dan ia
merupakan karyawan dari rumah sakit itu, sehingga pasien hanya
mempunyai perikatan perawatan dengan rumah sakit, sehingga
rumah
sakit ikut bertanggung jawab atas tindakan dokternya.
b. Dokter-out atau dokter tamu
Dalam kaitannya dengan pelaksanaan informed consent bagi suatu
tindakan medik yang dokter tersebut ambil maka hanya dokter
itulah
yang bertanggung jawab.

2. Tanggung jawab yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas


Rumah sakit dalam pelaksanaan informed consent bertanggung
jawab untuk untuk menyediakan formulir yang dibutuhkan. Pada dasarnya
formulir-formulir tersebut secara formil, berkasnya adalah milik rumah
sakit sedangkan isinya merupakan hak pasien. Akhirnya rumah sakit wajib
memeriksa setiap persyaratan administratif termasuk formulir persetujuan
tindakan medis atau formulir operasi sebelum tindakan medis atau operasi
itu dilakukan. Hal ini berkaitan dengan tanggung jawab yang dipikul rumah
sakit terhadap kelengkapan administratif.

3. Tanggung jawab yang berkaitan dengan duty of care


Duty of care diartikan dengan kewajiban memberi perawatan. Hal
ini sebenarnya terletak dalam bidang medik dan perawatan, sehingga
penilaiannya juga harus ditafsirkan oleh kedua bidang tersebut. Mengenai
hal yang sangat berkaitan dengan duty of care untuk saat ini adalah unit
emergensi atau unit gawat darurat. Apabila emergensi dikaitkan dengan hal
informed consent, maka dalam keadaan emergensi kewajiban untuk
memberikan informasi dan kewajiban untuk memberikan persetujuan
pasien atau keluarganya lebih dahulu sebelum tindakan medik dilakukan
tidak berlaku bila:
58
1) Keadaan mengharuskan segera dilakukan operasi
Dalam pasal 45 ayat (2) UU Rumah Sakit menyebutkan bahwa Rumah
Sakit
tidak dapat dituntut dalam melaksanakan tugas dalam
rangka
penyelamatan jiwa manusia.
2) Consent express tidak mungkin diperoleh dalam waktu singkat dari:
i. Pasien sendiri karena berada dalam keadaan tidak sadar, atau dari
keluarga
terdekat yang berwenang untuk bertindak atas namanya
ii. Jika tidak segera dilakukan pembedahan akan sangat membahayakan
kesehatan atau jiwa pasien.

Oleh sebab itu dalam kadaan emergensi digunakan “presumed


consent” artinya dokter seolah-olah telah mendapat persetujuan daripasien
secara diam-diam. Namun dalam pasal 45 ayat (1) UU Rumah
Sakitmenyebutkan bahwa Rumah Sakit tidak bertanggung jawab secara
hokumapabila pasien menolak pengobatan, setelah adanya penjelasan
medis yang komprehensif.

BAB III
PENUTUP

59
3.1. Kesimpulan

1. Dari segi etik, penerapan informed consent dianggap sebagai upaya dokter
untuk membuktikan kesungguhannya dalam mematuhi primum non nocere
(yang paling diutamakan adalah untuk tidak mencelakakan pasien), serta
prinsip mengutamakan kepentingan pasien. Sehingga dapat dikatakan
bahwa aspek etik dari informed consent sangatlah luas dan besar dan
menjadi landasan moral bagi kalangan tenaga kesehatan, khususnya para
dokter. Dalam profesi kedokteran, dikenal adanya suatu kode etik yang
disusun berdasarkan asas etik. Kode etik kedokteran yang berlaku
sekarang dinyatakan mulai berlaku pertama kali dengan Keputusan
Menteri Kesehatan No. 434/Men. Kes/Sk/X/1983 tentang Berlakunya
Kode Etik Kedokteran Indonesia (Kodeki) bagi para dokter di seluruh
Indonesia. Dari segi hukum, seorang dokter juga terikat aturan-aturan
hukum, yang meliputi hukum perdata yang mengatur kaedah-kedah
hukum dalam hubungan antar individu dalam masyarakat, hukum pidana
yang berisi aturan hukum yang bersifat publik dan mengatur masalah
tindak pidana yang timbul dalam masyarakat serta menyelesaikan tindak
pidana tersebut, serta hokum administrasi. Dengan demikian di dalam
menjalankan tugasnya, seorang dokter di samping harus mematuhi etika
kedokteran juga harus mematuhi hukum yang berlaku.
2. Pasal 4 ayat (1) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
290/MENKES/PER/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran
menyebutkan dalam keadaan gawat darurat, untuk menyelamatkan jiwa
pasien dan/atau mencegah kecacatan tidak diperlukan persetujuan tindakan
kedokteran. Selain itu, terdapat doktrin mengenai alasan-alasan yang dapat
mengecualikan informed consent, yaitu sebagai berikut. (1) Pasien yang
akan menjalani pengobatan dengan “placebo” (sugestif therapeuticum); (2)
Pasien yang akan merasa dirugikan bila mendengar informasi tersebut; (3)
Pasien yang sakit jiwa; (4) Pasien yang belum dewasa; dan (5) Pasien
Tidak Sadar.

3. Peranan perawat juga sangat besar dalam pelaksanaan informed consent.


Meskipun hal tersebut bukan merupakan kewenangan perawat, melainkan
kewenangan dokter yang dapat didelegasikan kepada perawat. Untuk
perawat yang bekerja dan digaji oleh seorang dokter, maka pada umumnya
dokterlah yang bertanggung jawab terhadap tindakan perawat yang
dilakukan atas perintah dokter, hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 1367
KUHPerdata. untuk perawat yang bekerja dan diberi gaji oleh rumah sakit
dan diperbantukan kepada dokter maka rumah sakit secara perdata
bertanggung jawab atas tindakan-tindakan yang dilakukan oleh perawat.
60
Terhadap tanggung jawab rumah sakit ini, dapat digunakan konstruksi
pasal 1367 KUHPerdata. Akan tetapi apabila perawat melakukan sesuatu
tindakan medic yang tidak sesuai dengan ijazah yang ia miliki, perawat itu
sendiri yang harus bertanggung jawab. Mengenai tanggung jawab Rumah
Sakit, apabila tanggung jawab rumah sakit dikaitkan dengan hal
pelaksanaan informedconsent dan personalia, maka pada dasarnya rumah
sakit bertanggung jawab secara perdata terhadap semua tindakan medis
maupun non medis di rumah sakit itu. Hal ini juga berdasarkan pasal 1367
KUHPerdata.
4. Dengan adanya informed consent ini, diharapkan dapat diminimalisasi
sengketa kedokteran yang terjadi atau yang dewasa ini sering disebut
sebagai malpraktik, walaupun pada kenyataannya sengketa kedokteran
hingga saat ini masih seringkali terjadi dan masih banyak ditemui pasien
yang tidak mengetahui hak-hak mereka sebagai pasien. Kemudian perlu
juga digarisbawahi terkait minimalisasi sengketa kedokteran dengan
adanya informed consent bukan berarti bahwa informed consent
merupakan sarana yang dapat membebaskan dokter dari tanggung jawab
hukum jika terjadi malpraktik. Malpraktik adalah masalah lain yang erat
kaitannya dengan pelaksanaan pelayanan medis yang tidak sesuai dengan
standar. Meskipun sudah mengantongi informed consent, tetapi jika
pelaksanaannya tidak sesuai standar, maka dokter tetap harus bertanggung
jawab atas kerugian yang terjadi.

ANALISIS MENGENAI REKAM MEDIS BAGI PRODI NEUROLOGI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sejak permulaan sejarah umuat manusia sudah dikenal adanya hubungan
kepercayaan antara dua insan, yaitu sang pengobatdan sang penderita,

61
yang pada jaman modern ini disebut dengan transaksi terapeutik antara
dokter dan pasien.
Pemeriksaan, pengobatan dan perawatan akan melahirkan
hubungan antara pasien/ penderita atau keluarganya dengan dokter sebagai
pribadi maupun sebagai orang dalam bentuk badan hukum (rumah sakit,
yayasan, atau lembaga lain yang bergerak di bidang pelayanan
kesehatan).Pemeriksaan, pengobatan dan perawatan (termasuk informed
consent) inilah yang akan dicatat di dalam rekaman medis, yang dalam
keputusan disebut “Medical Record.”
Pembuatan catatan medis (yang sekarang disebut Rekam Medis)
di rumah sakit atau boleh dokter pada kartu pasien di tempat praktek
sebenarnya sudah merupakan kebiasaan sejak jaman dahulu, namun belum
menjadi kewajiban, sehingga pelaksanaannya dianggap tidak begitu serius
(baca pula J. Guwandi, 1991 : 73). Seiring dengan perkembangan
masyarakat yang sangat dinamis; termasuk masyarakat Indonesia, maka
rekam medis menjadi sangat penting dan dibutuhkan. Oleh karena itu,
khusus di Negara Kesatuan Republik Indonesia, pemerintah mellaui
Departemen Kesehatan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan
Nomor 749a/Menkes/ Per/XII/1989 tentang Rekam Medis/ Medical
Records. Dengan diterbitkannya Permenkes ini pengadaan rekam medis
menjadi suatu keharusan atau telah menjadi hukum yang harus ditaati bagi
setiap sarana pelayanan kesehatan.

Rekam medis merupakan bagian penting dari seluruh pelayanan kepada


pasien mulai saat kunjungan pertaman hingga kunjungan-kunjungan
berikutnya. Sebagai informasi tertulis tentang perawatan kesehatan pasien,
rekam medis digunakan dalam pengelolaan dan perencanaan fasilitas dan
pelayanaan kesehatan, juga digunakan untuk penelitian medis dan untuk
kegiatan statistik pelayanan kesehatan.
Para dokter, perawat dan profesi kesehatan lainnya mencatat pada berkas
rekamedis sehingga informasinya dapat digunakan secara berulang-ulang
mana kala pasien datang kembali ketempat pelayanan kesehatan yang
bersangkutan. Rekam medis harus ada tersedia saat dibutuhkan yatitu saat
pasien datang berkunjung kembali, dan perihal ketersediaan ini menjadi
tanggung jawab petugas rekam medis. Apabila berkas rekam medis tidak
ditemukan tercecer, hilang, tidak tertelusuri maka pasien yang bersangkutan
akan merugi, dalam arti informasi tentang riwayat yang lalu yang sangat
penting untuk perawatatan kesehatan nya tidak tersedia, maka informasi
untuk mengambil tindakan yang diperlukan akan berkurang nilai
kelengkapannya. Oleh karena itu, jika rekam medis tidak ada saat diperlukan
untuk merawat pasien, maka sistem rekam medis tidak dapat berjalan lancar.

62
Hal ini tetntu berpengaruh terhadap keseluruhan kerja pelayanan rekam
medis.
Unit rekam medis, disuatu sarana pelayanan kesehatan merupakan unit
yang sibuk dan sangat memerlukan kinerja tinggi dari ara petugasnya.
Meskipun petugas rekam medis tidak secara langsung terlibat dalam klinis
pasien, tapi informasi yang tercatat pada rekam medis merupakan bagian
penting dalam pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, sebenarnya petugas unit
rekam medis mempunyai peranan penting dalam proses pelayanan di Rumah
Sakit. Namun kadang pentingnya pekerjaan ini tidak dipahami oleh petugas
medis, staf administrasi Rumah Sakit dan kayawan lainnya, sehinga para
petugas unit rejkam medis sering merasa minder. Hal ini lebih diperparah lagi
dengan masalah dana yang terbatas, sehingga kurang adanya paya dalam
peningkatan kemampuan sumber daya yang pada akhirnya sulit mencapai
pelayanan rekam medis yang efektif dan efisien.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Rekam Medis

Definisi Rekam Medis dalam berbagai kepustakaan dituliskan dalam


berbagai pengertian, seperti dibawab ini:
Dalam bukunya yang berjudul “Legal Aspect of Medical Record”
Hayt and Hayt mendefinisikan rekam medis sebagai berikut :
“A Medical record is the compilation of the partinent facta of the patient’s
life history, his illness, and treatment. In a larger sense the medical record
is compilation of scientifis data derived from many and available for
various uses, personal and impersonal, to serve the patiens was treated, the
science of medce, and society as awhole.” (Hayt and Hayt, 1964: 1).
Dengan demikian menurut Hayt and Hayt, suatu rekam medis itu
ialah himpunan fakta-fakta yang berhubungan dengan sejarah /riwayat
kehidupan pasien, sakitnya, perawat/pengobatannya. Dalam pengertian
yang luas (lebih luas) rekam medik ialah suatu himpunan data ilmiah dari
banyak sumber, dikoordinasikan pada satu dokumen dan yang disediakan
untuk bermacam-macam kegunaan, personel dan impersoanl, untuk
melayani pasien dirawat, diobati , ilmu kedokteran, dan masyarakat secara
keseluruhan.
Lebih lanjut Hayt and Hayt mengemukakan (Hayt and Hay,
1964:1):

63
“Medical Record are an important tool in the practice of medicine. They
serve as a bassic for planning patient care; they provide a means
contributing to the patient’s care; they furnish documentary evidence of
the course of the patient’s illness and treadment and they serve as a bassic
for review, study, and evaluation of the medical care renderen to the
patient.”
Dengan pernyataan tersebut di atas jelaslah bahwa rekam medis
merupakan sarana penting dalam praktek kedokteran.
Sedangkan menurut Gemala R. Hatta dalam makalahnya yang
berjudul “Peranan Rekaman Medik/Kesehatan (medical record) dalam
Hukum Kedokteran,” rekam medis dirumuskan sebagai kumpulan segala
kegiatan yang dilakukan oleh para pelayan kesehatan yang ditulis,
digambarkan, atas aktivitas terhadap pasien (Gemala R. Hatta, 1986:2).
Selanjutnya, dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
749s/Menkes/Per XII/1989 tentang Rekam Medis/Medical Records, yang
dimaksud rekam medis ialah berkas yang berisikan catatan, dokumen
tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayaran
lain kepada pasien pada sarana pelayanan kesehatan (Pasal 1 huruf a).
Menurut Edna K Huffman: Rekam Medis adalab berkas yang
menyatakan siapa, apa, mengapa, dimana, kapan dan bagaimana pelayanan
yang diperoleb seorang pasien selama dirawat atau menjalani pengobatan.
Menurut Gemala Hatta : Rekam Medis merupakan kumpulan fakta
tentang kehidupan seseorang dan riwayat penyakitnya, termasuk keadaan
sakit, pengobatan saat ini dan saat lampau yang ditulis oleb para praktisi
kesehatan dalam upaya mereka memberikan pelayanan kesehatan kepada
pasien.
Rekam medis adalah siapa, apa, dimana dan bagaimana perawatan
pasien selama dirumah sakit, untuk melengkapi rekam medis harus
memiliki data yang cukup tertulis dalam rangkian kegiatan guna
menghasilkan suatu diagnosis, jaminan, pengobatan dan hasil akhir.
Rekam medis adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen tentang
identitas pasien, pemeriksaan, pengbatan, tindakan dan pelayanan lain
kepada pasien disarana pelayanan kesehatan (SK.MenPan No.135 tahun
2002).
Rekam medis adalah fakta yang berkaitan dengan keadaan pasien,
rawat penyakit dan pengobatan masa lalu serta saat ini tertulis oleh profesi
kesehatan yang memberikan pelayanan kepada pasien tersebut (Health
Information Management, Edna K Huffman, 1999).
Rekam medis elektronik/rekam kesehatan elektronik adalah suatu
kegiatan mengkomputerisasikan tentang isi rekam kesehatan (rekam
medis) mulai dari (mengumpulkan, mengelolah, menganalisa dan

64
mempresentasikan data) yang berhubungan dengan kegiatan pelayanan
kesehatan.
Apabila rekam medis merupakan kumpulan segala kegiatan yang
dilakukan oleh para pelayan kesehatan yang tertulis, maka akan
mencerminkan setiap langkah yang diambil dalam rangka hubungan
pasien dengan dokter yang disebut hubungan transaksi terapeutik. Dalam
transaksi ini pasien dilindungi oleh dokumen internasional yang terdiri
dari “ the right to information” and “ the right to self determination.”
Suatu rekam medis yang baik akan membantu perawatan secara
profesional pasien, di samping memberikan refleksi mengenai
kualitas/mutu/derajat perawatan/pelayanan kesehatan. Pembuatan rekaman
tertulis itu merupakan salah satu jalan yang reliabel yang menyakinkan
bahwa setiap orang memperhatikan secara lengkap dan akurat mengenai
informasi pelayanan kesehatan. Dalam praktek kedokteran modern akan
menyangkut tindakan terhadap pasien sebagai satu keseluruhan, yang
menuntut kseseluruhan, yang menuntut keseluruhan ketrampilan dan
tehnologi yang dikuasai para dokter, perawat, teknsi. Manajemen yang
sempurna atas perawatan pasien menuntut adanya rekaman yang akurat
dan tepat oleh setiap anggota dan tim klinis.
Jadi Rekam Medis adalah keterangan baik yang tertulis maupun yang
terekam tentang identitas, anamnesa penentuan fisik laboratorium,
diagnosa segala pelayanan dan tindakan medik yang diberikan kepada
pasien dan pengobatan baik rawat inap, rawat jalan maupun yang
mendapatkan pelayanan gawat darurat.

2.2 Isi Rekam Medis

Isi Rekam Medis merupakan catatan keadaan tubuh dan kesehatan,


termasuk data tentang identitas dan data medis seorang pasien.

65
Di Indonesia, isi rekam medis bisa dibagi menjadi dua, yaitu isi rekam
medik untuk pasien rawat dan untuk pasien rawat inap (Pasal 15 dan 16
Permenkes No 749a/Menkes/Per/XII/1989).
Isi rekam medis untuk pasien rawat jalan dapat dibuat selengkap-
lengkapnya dan sekurang-kurangnya memuat : identitas, amnese,
diagnosis, dan tindakan/pengobatan. Sedangkan isi rekam medis untuk
pasien rawat nginap sekurang-kurangnya memuat:
1. identitas pasien
2. anamnese;
3. riwayat penyakit
4. hasil pemeriksaan laboratorik;
5. diagnosis
6. persetujuan tindakan medik
7. tindakan/pengobatan
8. catatan perawat
9. catatan observasi klinis dan hasil pengobatan; dan
10. resume akhir dan evaluasi pengobatan.

2.3 Penyelenggaraan Rekam Medis


Penyelenggaraan Rekam Medis pada suatu sarana pelayanan kesehatan
merupakan salah satu indikator mutu pelayanan pada institusi tersebut.
Berdasarkan data pada Rekam Medis tersebut akan dapat dinilai apakah
pelayanan yang diberikan sudah cukup baik mutunya atau tidak, serta apakah
sudah sesuai standar atau tidak. Untuk itulah, maka pemerintah, dalam hal ini
Departemen Kesehatan merasa perlu mengatur tata cara penyelenggaraan
Rekam Medis dalam suatu peraturan menteri keehatan agar jelas rambu-
rambunya, yaitu berupa Permenkes No.749a1Menkes/Per/XII/1989.
Tata cara penyelenggaraan rekam medis di Indonesia ialah sebagai berikut
(lihat Pasal 2-9, 19, dan 20 Permenkes No 749a/Menkes/Per/XII/1989):
1. Setiap sarana pelayanan kesehatan yang melakukan pelayanan rawat jalan
maupun rawat nginap wajib membuat rekam medis.
2. Rekam medis itu dibuat oleh dokter dan atau tenaga kesehatan lain yang
memberi pelayanan kepada pasien.
3. Rekam medis harus dibuat segera dan dilengkapi seluruhnya setelah
pasien menerima pelayanan.
4. Setiap pencatatan ke dalam rekam medis harus dibubuhi nama dan tanda
tangan petugas yang memberikan pelayanan atau tindakan.
5. Pembetulan kesalahan catatan dalam rekam medis dilakukan pada tulisan
yang salah dan diberi paraf oleh petugas yang bersangkutan.
6. Penghapusan tulisan dalam rekam medis dengan cara apapun tidak
diperbolehkan.

66
7. Lama penyimpanan rekam medis sekurang-kurangnya untukjangka waktu
5 (lima) tahun terhtung dari tanggal terakhir pasien berobat. Sedangkan
lama penyimpanan rekam medis yang berkaitan dengan hal-hal yang
bersifat khusus dapat ditempatkan tersendiri.
8. Setelah batas waktu sebagaimana dimaksud pada nomor tujuh dilampaui,
rekam medis dapat dimusnahkan. Tata cara permusnahannya ditetapkan
oleh Direktur Jenderal.
9. Rekam medis harus disimpan oleh petugas yang ditunjuk oleh pimpinan
sarana pelayanan kesehatan.
10. Pengawasan terhadap penyelenggaraan rekam medis dilakukan oleh
Direktur Jenderal.
11. Pelanggaran terhadap ketentuan dalam peraturan ini dapat dikenakan
sanksi administratif mulai dari teguran lisan sampai pencabutan izin.

Pada saat seorang pasien berobat ke dokter, sebenarya telah terjadi suatu
hubungan kontrak terapeutik antara pasien dan dokter. Hubungan tersebut
didasarkan atas kepercayaan pasien bahwa dokter tersebut mampu
mengobatinya, dan akan merahasiakan semua rahasia pasien yang
diketahuinya pada saat hubungan tersebut terjadi.
Dalam hubungan tersebut secara otomatis akan banyak data pribadi pasien
tersebut yang akan diketahui oleh dokter serta tenaga kesehatan yang
memeriksa pasien tersebut. Sebagian dari rahasia tadi dibuat dalam bentuk
tulisan yang kita kenal sebagai Rekam Medis. Dengan demikian, kewajiban
tenaga kesehatan untuk menjaga rahasia kedokteran, mencakup juga
kewajiban untuk menjaga kerahasiaan isi Rekam Medis.
Berkas rekam medis adalah milik sarana pelayanan kesehatan, namun isi
rekam medis adalah milik pasien. Oleh karena itu, isi rekam medis wajib
dijaga kerahasiaannya. Pemaparan isi rekam medis hanya boleh dilakukan
oleh dokter yang merawat pasien dengan izin tertulis pasien. Pemamparan isi
rekam medis oleh pimpinan sarana kesehatan tanpa izin pasien dibolehkan
apabila berdasarkan peraturan perundang-undangan.
Apabila rekam medis tersebut rusak, hilang, dipalsukan, digunakan oleh
orang /badan yang tidak berhak, maka yang bertanggung jawab adalah
pimpinan sarana pelayanan kesehatan (baca Pasal 10-13 Permenkes No
749a/Menkes/Per/XII/1989). Apabila rekam medis rusak karena
pemeliharaannya tidak baik atau tidak diisi sebagaimana mestinya sehingga
isi rekam medis menjadi kabur atau tidak jelas, maka menurut yurisprudensi
di dalam hukum kedokteran bisa diberlakukan “pembalikan pembuktian”
terhadap dokter/rumah sakitnya. Pembebanan atas kewajiban pembuktin
(“onu”, burden of proff”) bisa dibebankan kepada dokter /rumah sakit (baca
J. Guwandi, 1991 : 76-77).

67
Hal terpenting dalam penyelenggaraan rekam medis ialah bahwa
pengisisan rekam medis harus dilakukan secara lengkap dan langsung, tepat
waktu, dan tidak ditunda—tunda. Bila pengisiannya ditunda-tunda maka
kemungkinan besar dokter lupa pada pasien dan penyakitnya, lebih-lebih bila
pasiennya sangat banyak. Mutu pelayanan rumah sakit antara lain akan
tercermin pada berkas rekan medisnya. Selanjutnya, muncullah ucapan yang
mengatakan : “ Medical record are witnesses whose memories never die”.

2.4. Fungsi / Manfaat Rekam Medis


Dari penjelasan di muka maka secara singkat dapat dikatakan
bahwa rekam medis merupakan catatan singkat tentang sejarah penyakit dan
cara / teknik /terapi upaya penyembuhan yang dilakukan oleh pelayan
kesehatan (dokter dan paramedik) yang sudah disetujui oleh pasien
berdasarkan “Informed Consent”. Agar “Informed Consent” ini dapat
dijadikan bukti menurut hukum harus dicatat dan direkam dalam rekam
medis.”
Dalam transaksi terapeutik apabila hak dan kewajiban tidak
dipenuhi oleh salah satu pihak (dokter atau pasien) maka tentunya pihak lain
yang merasa dirugikan akan menggugat atau menuntut. Dalam hal ini maka
rekam medik mempunyai peranan yang besar sekali yaitu dapat
dipergunakan untuk menguatkan gugatan(pasien) atau menolak gugatan
perdata (bagi dokter dan atau rumah sakit) atau tuntutan pidana yang
didasarkan kesalahan, baik yang disengaja maupun yang karena kelalaian.
Ini berarti bahwa rekam medis mempunyai kekuatan hukum sebagai salah
satu unsur masukan dalam proses pengambilan keputusan oleh hakim.
Fungsi rekam medik secara lengkap adalah sebagai “adminitrative
value, legal value, finacial value, research value, educational value dan
documentary value.”
Karena fungsi rekam medik itulah, maka di negara-negara besar
atau di negara-negara maju telah ditentukan satu standar baku bai pembuatan
rekam medis yang mencerminkan kualitas/mutu/derajat pelayanan kesehatan
yang diberikan oleh sang pengobat pada sang penderita. Fungsi rekam medis
di Indonesia bisa dilihat dalam Pasal 14 Permenkes Nomor
749a/Menkes/Per/XII/1989, yaitu dapat dipakai untuk :
1. dasar pemeliharaan kesehatan dan pengobatan pasie;
2. bahan pembuktian dalam perkara hukum;
3. bahan untuk keperluan penelitian dan pendidikan;
4. dasar pembayaran biaya pelayanan kesehatan; dan
5. bahan untuk menyiapkan statistik kesehatan.

68
Rekam medis yang diisi oleh para pihak dalam transaksi terapeutik
menampilkan mutu kualitas pelayanan kesehatan kepada pasien. Oleh
karena itu, menurut kepustakaan, dapat dikaji bahwa untuk memenuhi
persyaratan bagi satu rekam medis/haruslah ditandatangani oleh semua
pelayan medik yang terlibat sebagai para pihak dalam trnsasi terapeutik.
Ada tiga alasan yang menyebabkan para pelayan kesehatan (dokter
dan para medis) harus wajib menandatangani rekam Medis yang berisi
sejarah perkembangan kesehatan pasien dan ringkasannya, yaitu (periksa
Hayt dan Hayt, 1964:42-44).
1. Pasien harus dilindungi
2. Tanda tangan dokter yang merawat itu relevan jika kasus tersebut sampai di
pengadilan;
3. Untuk mencegah kegagalan bagi rumah sakit dalam memperoleh akreditasi.
Dengan tiga alasan tersebut di atas, maka rekam medis dapat
berfungsi sebagai dokumen hukum yaitu sebagai alat bukti dokumen
undang-undang yang bernilai sebagai keterangan/saksi ahli/”expert wittness”
(Periksapasal 164RIB untuk perkara perdata, dan pasal 184 KUHP untuk
perkara pidana). Dengan demikian pembubuhan tanda tangan itu sebagai
bukti bahwa keputusan yang diambil oleh pasien itu tanggung jawabnya,
sedangkan apa yang dilakukan oleh pelayan kesehatan (dokter dan
paramedik) yang memberikan informasi yang lengkap dan akurat
bertanggungjawab atas kelengkapan dan kenaran informasinya.
Di samping itu, agar rekam medik yang mengandung informed consent
itu dapat berfungsi sebagai alat bukti di dalam proses peradilan, maka isi
rekam medik modern (“Contents of a Modern Medical Record”) harus
meliputi hal-hal sebagai berikut :
1. Identification Data (Identifikasi data);
2. Provisional Diagnosis (Diagnosis awal);
3. Chief Complaint (Keluhan utama);
4. Present Illness (Penyakit yang diderita saat ini/saat masuk);
5. History and Physical examination (Sejarah pemeriksaan fisik);
6. Consultations (Konsultan/para konsultan jika lebih dari satu);
7. Clinical Laboratory Reports (Laporan laboratorium klinik);
8. X-ray Reports (Laporan kamar X-ray);
9. Tissue Report (Laporan Kamar bebat);
10. Treatment-Medical and Surgical (tindakan medik operatif);
11. Progress Notes (Catatan Kemajuan);
12. Final Diagnosis (diagnosis akhir);
13. Summary (Ringkasan); dan
14. Autopsy Findings(Penemuan-penemuan otopsi)
69
(Periksa.Hayt and Hayt, 1964:5).
Sedangkan observasi lain yang bisa membantu kegunaan Rekam Medik/K
antara lain, ialah (periksa Hayt and Hayt, 1964 : 19):
1. Correct spelling of name of patient and attending physician (menuliskan
secara tepat ejaan nama pasien dan dokternya);
2. method of admission orarrival, i.e., by wheelchair, ambulance, or
ambulatory (caranya pasien datang pada bagian masuk, misalnya dengan
ambulance, dengan kursi roda;
3. complete discription of condition of patient on adminission and on
discharge, nothing particulary any mark, bruise, burn, rash or irritation
(diskripsi yang jelas mengenai keadaan pasie pada saat pertama kali masuk,
misalnya apakah ada bekas luka bakar atau iritasi).
4. Admission temperature, pulse and respiration (temperatur pada saat masuk,
pulsa dan respirasi);
5. routine and special procedures (prosedur rutin atau khusus);
6. medication, dosage, and manner of administration (pengobatan, dosis dan
cara-cara administratif);
7. objective signs and subdition (tanda-tanda obyektif dan gejala-gejala
(simtom) subyektif);
8. changes in apperance and mental condition (perubahan lahiriah serta
kondisi mental);
9. Compalints (Keluhan); dan
10. Signature of nurse who renders the service (tanda tangan paramedis yang
bertugas).

Dengan demikian, menurut kriteria rekam medis modern, agar rekam


medik dapat berfungsi sebagai alat bukti menurut undang-undang di dalam
proses peradilan tidaklah mudah dengantanpa memenuhi persyaratan utama
maupun tambahan di atas, walau pun mengandung/berisi persetujuan antara
Pasien atau keluarganya dengan dokter atau rumah sakit.
Dalam kepustakaan dikatakan bahwa rekam medis memiliki 5 manfaat,
yang untuk mudahnya disingkat sebagai ALFRED, yaitu:
1. Adminstratlve value: Rekam medis merupakan rekaman data adminitratif
pelayanan kesehatan.
2. Legal value: Rekam medis dapat.dijadikan bahan pembuktian di pengadilan
3. Financial value: Rekam medis dapat dijadikan dasar untuk perincian biaya
pelayanan kesehatan yang harus dibayar oleh pasien
4. Research value: Data Rekam Medis dapat dijadikan bahan untuk
penelitian dalam lapangan kedokteran, keperawatan dan kesehatan.
5. Education value: Data-data dalam Rekam Medis dapat bahan pengajaran
dan pendidikan mahasiswa kedokteran, keperawatan serta tenaga
kesehatan lainnya.
70
2.5. Penyimpanan Rekam Medis
Dalam audit medis, umumnya sumber data yang digunakan adalah rekam
medis pasien, baik yang rawat jalan maupun yang rawat inap. Rekam medis
adalah sumber data yang paling baik di rumah sakit, meskipun banyak memiliki
kelemahan. Beberapa kelemahan rekam medis adalah sering tidak adanya
beberapa data yang bersifat sosial-ekonomi pasien, seringnya pengisian rekam
medis yang tak lengkap, tidak tercantumnya persepsi pasien, tidak berisi
penatalaksanaan “pelengkap” seperti penjelasan dokter dan perawat, seringkali
tidak memuat kunjungan kontrol pasca perawatan inap, dll.
Dampak dari audit medis yang diharapkan tentu saja adalah peningkatan
mutu dan efektifitas pelayanan medis di sarana kesehatan tersebut. Namun di
samping itu, kita juga perlu memperhatikan dampak lain, seperti dampaknya
terhadap perilaku para profesional, tanggung-jawab manajemen terhadap nilai dari
audit medis tersebut, seberapa jauh mempengaruhi beban kerja, rasa akuntabilitas,
prospek karier dan moral, dan jenis pelatihan yang diperlukan.
Diantara semua manfaat Rekam Medis, yang terpenting adalah aspek legal
Rekam Medis. Pada kasus malpraktek medis, keperawatan maupun farmasi,
Rekam Medis merupakan salah satu bukti tertulis yang penting. Berdasarkan
informasi dalam Rekam Medis, petugas hukum serta Majelis Hakim dapat
menentukan benar tidaknya telah terjadi tindakan malpraktek, bagaimana
terjadinya malpraktek tersebut serta menentukan siapa sebenarnya yang bersalah
dalam perkara tersebut.

2.6 Tujuan dan kegunaan Rekam Medis


Tujuan Rekam Medis adalah untuk menunjang tercapainya tertib
administrasi dalam rangka upaya peningkatkan pelayanan kesehatan,tanpa
didukung suatu sistem pengelolaan
rekam medis yang baik dan benar,maka tertib administrasi tidak akan berhasil
kegunaan rekammedis antara lain:
1. Aspek administrasi
Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai administrasi, karena isinya
menyangkut
tindakan berdasarkan wewenang dan tanggung jawab sebagai tenaga medis dan
perawat
dalam mencapai pelayanan kesehatan.
2. Aspek Medis
Catatan tersebut dipergunakan sebagai dasar untuk merencanakan
pengobatan/perawatan
yang harus diberikan kepada pasien
Contoh :
_ Identitas pasien _ name, age, sex, address, marriage status, etc.
71
_ Anamnesis _ “fever” _ how long, every time, continuously, periodic???
_ Physical diagnosis _ head, neck, chest, etc.
_Laboratory examination, another supporting examination. Etc
1. Aspek Hukum
Menyangkut masalah adanya jaminan kepastian hukum atas dasar keadilan,
dalam rangka usaha menegakkan hukum serta penyediaan bahan tanda bukti
untuk menegakkan
keadilan.

4. Aspek Keuangan
Isi Rekam Medis dapat dijadikan sebagai bahan untuk menetapkan biaya
pembayaran
pelayanan. Tanpa adanya bukti catatan tindakan /pelayanan, maka pembayaran
tidak
dapat dipertanggung jawabkan.
5. Aspek Penelitian
Berkas Rekam medis mempunyai nilai penelitian, karena isinya menyangkut
data/informasi yang dapat digunakan sebagai aspek penelitian.
6. Aspek Pendidikan
Berkas Rekam Medis mempunyai nilai pendidikan, karena isinya menyangkut
data/informasi tentang kronologis dari pelayanan medik yang diberikan pada
pasien
7.Aspek Dokumentasi
Isi Rekam medis menjadi sumber ingatan yang harus didokumentasikan dan
dipakai sebagai bahan pertanggungjawaban dan laporan sarana kesehatan.
Berdasarkan aspek-aspek tersebut, maka rekam medis mempunyai kegunaan yang
sangat
luas yaitu :
1). Sebagai alat komunikasi antara dokter dengan tenaga kesehatan lainnya
yang ikut
ambil bagian dalam memberikan pelayanan kesehatan
2). Sebagai dasar untuk merencanakan pengobatan/perawatan yang harus
diberikan
kepada seorang pasien
3). Sebagai bukti tertulis atas segala tindakan pelayanan , perkembangan
penyakit dan
pengobatan selama pasien berkunjung/dirawat di Rumah sakit
4). Sebagai bahan yang berguna untuk analisa , penelitian dan evaluasi
terhadap program
pelayanan serta kualitas pelayanan
Contoh : Bagi seorang manajer :
72
-Berapa banyak pasien yang datang ke sarana kesehatan kita? baru dan lama ?
-Distribusi penyakit pasien yang dating ke sarana kesehatan kita
- Cakupan program yang nantinya di bandingkan dengan target program
5). Melindungi kepentingan hukum bagi pasien, sarana kesehatan maupun
tenaga
kesehatan yang terlibat
6). Menyediakan data dan informasi yang diperlukan untuk keperluan
pengembangan
program , pendidikan dan penelitian
7). Sebagai dasar di dalam perhitungan biaya pembayaran pelayanan
kesehatan
8). Menjadi sumber ingatan yang harus didokumentasikan serta bahan
pertanggung jawaban dan laporan

BAB III
PENUTUP
1.1 Kesimpulan
Rekam medis merupakan bagian penting dari seluruh pelayanan kepada
pasien mulai saat kunjungan pertaman hingga kunjungan-kunjungan
berikutnya. Sebagai informasi tertulis tentang perawatan kesehatan pasien,
rekam medis digunakan dalam pengelolaan dan perencanaan fasilitas dan
pelayanaan kesehatan, juga digunakan untuk penelitian medis dan untuk
kegiatan statistik pelayanan kesehatan.
Rekam Medik/Kesehatan (Medical Record) pada hakekatnya merupakan
dokumen hukum yang isinya dapat dibahas dan dipertimbangkan dalam suatu
proses persidangan peradilan (perdata maupun pidana)yaitu sebagai salah satu
bukti yang berupa keterangan/ saksi ahli (“Expet wittness”), Dengan

73
demikian, rekam medis merupakan input yang relecvan bagi hakim falam
mengambil keputusannya.

74
DAFTAR PUSTAKA

Fred Ameln. 1991. Kapita Selekta Hukum Kedokteran. Jakarta : Grafikatama


Jaya.
Gemala R. Hatta. 1986, “ Peranan Rekam Medik/Kesehatan (medical Record)
dalam HukumKedokteran”. Makalah. Disampaikan dalam Konggres PERHUKI
I,tanggal 8 -9 Agustus 1986 di Jakarta: PERHUKI.

Hayt, Emanuel and Hayt, Jonathan. 1964. Legal Aspect of Medical Record.
Illinois: Physician’s Record Company.

Hermien Hadiati Koeswadji. 1984. Hukum da Masalah Medik. Surabaya:


Airlangga University Press.1984.” Aspek Medikolegal dari Pelayanan Kesehatan
dan Rekam Medik”. Makalah. Suarbaya: Fakultas Hukum UNAIR.

J. Guwandi.1991. Dokter dan Pasien, Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas


Indonesia.

Ninik Mariyanti. 1988. Malapraktek Kedokteran dari Segi Hukum Pidana dan
Perdata, Jakarta : Bina Aksara.

Prasetyo Hadi Purwandoko. 1996.” Hubungan Dokter-Pasien dalam Upaya


Penembuhan /Perawatan menurut Hukum Kedokteran”. Yustisia Nomor 36 Tahun
X, Juni-Agustus 1996. Surakarta : Fakultas Hukum UNS.

Prasetyo Hadi Purwandoko dan Suranto. 1991.” Hukum dan Kesehatan tentang
Hukum Kedokteran”. BPK . Surakarta : UNS.

Oemar Seno Adji. 1991. Profesi Dokter, Etika Profesional dan Hukum
Pertanggungjawaban Pidana Dokter. Jakrta : Erlangga.

Soerjono Soekanto. 1989. Aspek Hukum Kesehatan (Suatu Kumpulan Catatan).


Jakarta : IN Hill Co.

Ameln, Fred. Kapita Selekta Hukum Kedokteran. cet. ke-1. Jakarta: Grafikatama
Jaya, 1991.
75
Cahyono, Akhmad Budi dan Surini Ahlan Sjarif. Mengenal Hukum Perdata. ed.
ke-1. cet. ke-1. Jakarta: CV Gitama Jaya, 2008.
Garner, Bryan A. Ed. Black's Law Dictionary 9th ed. St. Paul Min: West Group,
2009.
Guwandi, J., “Dokter, Pasien, dan Hukum”. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, 2007.
Hariyanti, Widi. “Analisis Teori Antrian Sebagai Penentu Optimalisasi Pelayanan
Konsumen Pada Intalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Klipang Di
Semarang”, Bisnis dan Kewirausahaan. Vol. 2 (2009): 248.
Kerbala, Husein. Segi-Segi Etis dan Yuridis Informed Consent. cetakan ke-1.
Jakarta: PT Penebar Swadaya, 1993.
Komalawati: Veronica. Peranan Informed Consent dalam Transaksi Terapeutik
(Persetujuan dalam Hubungan Dokter dan Pasien). Cetakan ke-2.
Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2002.
Leenen, H.J.J. Pelayanan Kesehatan dan Hukum. Eds. A.F. Lamintang. Bandung:
Binacipta, 1991.
Mariyanti, Ninik. Malpraktek Kedokteran Dari Segi Hukum Pidana dan Perdata.
Jakarta: Bina Aksara, 1998.
Sardjono, Agus. Buku Ajar (Buku A) Hukum Dagang. Depok: Fakultas Hukum
Universitas Indonesia, 2004.
Soekanto, Soerjono. Aspek Hukum Kesehatan Suatu Kumpulan Catatan. Jakarta:
Penerbit IND-HILL-CO, 1989.
Subekti. Hukum Perjanjian. cet. ke-12. Jakarta: Penerbit Intermasa, 2002.
- - -. Pokok-Pokok Hukum Perdata. cet. ke-31. Jakarta: PT Intermasa, 2003.
Wibowo, Antonius P.S. Kumpulan Karangan Ilmiah Populer di Media Cetak.
Jakarta: Fakultas Hukum Universitas Katolik Indonesia Atmajaya,1998.

Yunanto, Ari dan Helmi. Hukum Pidana Malpraktik Medik. Yogyakarta: Andi
Offset, 2010.
Tempo Online, “Vonis Bebas Untuk Profesi Dokter”, Style Sheet.
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1984/08/25/HK/mbm.198408
25.HK41200. id.html (7 April 2012)
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek
Kedokteran
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 512/MENKES/PER/IV/2007 tentang Izin
Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02./MENKES/149/I/2010 tentang
Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02./MENKES/148/I/2010 tentang
76
Izin dan Penyelenggaraan Praktik Perawat
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290/MENKES/PER/III/2008 tentang
Persetujuan Tindakan Kedokteran
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 512/MENKES/PER/IV/2007 tentang Izin
Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 585/MENKES/PER/IX/1989 tentang
Persetujuan Tindakan Medik

77