You are on page 1of 15

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Mortar
Menurut beberapa sumber pengertian mortar adalah sebagai berikut:

1. Mirriam Webster Dictionary.


Mortar adalah bahan bangunan lentur (seperti campuran semen, kapur atau
gipsum dengan pasir & air) yang dapat mengeras dan bahan tersebut biasa-
nya digunakan pada pekerjaan batu atau pekerjaan plesteran.
2. Kamus Inggris – Indonesia Hasan Shaddily & John M. Echol.
Mortar adalah adukan semen.
3. Secara umum mortar adalah bahan bangunan berupa adukan semen yang
biasa digunakan dalam pekerjaan tukang batu yaitu sebagai plesteran.

Adukan semen secara umum digunakan sebagai bahan untuk pekerjaan


membentuk unsur penutup bangunan seperti pada dinding & lantai yang bukan
merupakan elemen struktur bangunan. (http:// www.google.co.id)

Mortar digolongkan menurut penggunaannya, misalnya untuk sambungan,


tembok, tahan air, tahan api dan seterusnya. Mortar untuk sambungan digunakan
untuk menyambung bata, batu dan blok beton. Perbandingan semen dan pasir
adalah 1 : 2,75.
Mortar disebut juga plesteran. Kegunaan plester adalah melapisi pasangan
batu bata, batu kali maupun batu cetak ( batako ) agar permukaannya tidak mudah
rusak dan kelihatan rapi dan bersih. Pekerjaan memplester juga dilakukan pada
pasangan pondasi, pasangan tembok dinding rumah, lantai batu bata, lisplang
beton, dan sebagainya.
Menurut sifatnya plesteran dibedakan menjadi 3 macam yaitu:
1. Plesteran kasar.
Digunakan untuk melapisi permukaan baru bata atau pasangan batu belah
yang tidak terlihat dari luar, misalnya tembok yang diatas rangka plafon.
2. Plesteran setengah halus atau setengah kasar.

Universitas Sumatera Utara


Digunakan untuk permukaan lantai gudang, lantai lapangan olah raga,
lantai teras, lantai kamar mandi dan sebagainya.
3. Plesteran halus.
Digunakan sebagai pelapis tembok-tembok rumah, dalam hal ini langsung
berhubungan dengan keindahan dan kerapian pandangan.
( Daryanto, 1994 )

2.2 Material Pembentuk Mortar


2.2.1 Semen Portland ( Portland Cement )
Material semen adalah material yang memilik sifat adhesif ( adhesive ) dan
kohesif ( cohesive ) yang memungkinkan untuk mengikat fragmen-fragmen
mineral/agregat-agregat menjadi suatu masa yang padat mempunyai kekuatan.
Semen yang mengeras dengan adanya air yang dinamakan dengan semen hidraulis
( hidraulic cement ). Semen jenis ini terdiri dari silikat dan lime yang terbuat dari
batu kapur dan tanah liat yang digerinda, dicampur, dibakar dalam pembakaran
kapur ( klin ), kemudian dihancurkan menjadi tepung. Semen hidrolik biasa yang
dipakai untuk mortar dinamakan semen portland ( portland cement ).
(Edward Nawy G, l998)
Dalam buku Portland Cement Association (1975), diuraikan nama-nama
penemu semen yang pertama kali yaitu sebagai berikut:
• John Smeaton (1756), bahwa mortar/beton yang baik diperoleh jika
pozzolan semen dicampur dengan batu kapur (limestone) yang banyak
mengandung material tanah liat.
• Joseph Aspdin (1824), Pembuatan semen portland dengan jalan
memanaskan campuran butir-butir halus tanah liat dan batuan kapur keras
dalam tungku pembakaran, sampai CO2 hasil pembakaran tersebut keluar
dari campuran.
• Issac Johnson (1845), memperbaiki cara Joseph Aspdin dengan jalan
membakar campuran tanah liat dengan kapur sampai mengklinker
sehingga reaksi yang diperlukan untuk membentuk tingkatan material
semen terjadi.

Universitas Sumatera Utara


Semen portland adalah bahan konstruksi yang paling banyak digunakan
dalam pekerjaan beton. Menurut ASTM C-150,1985, semen portland
didefinisikan sebagai semen hidraulik yang dihasilkan dengan menggiling kliner
yang terdiri dari kalsium silikat hidrolik, yang umumnya mengandung satu atau
lebih bentuk kalsium sulfat sebagai bahan tambahan yang digiling bersama-sama
dengan bahan utamanya.
Semen portland yang digunakan di Indonesia harus memenuhi syarat
SII.0013-81 atau Standart Uji Bahan Bangunan Indonesia 1986, dan harus
memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam standart tersebut.
Fungsi utama semen adalah sebagai perekat.Bahan-bahan semen terdiri
dari batu kapur (gamping) yang mengandung senyawa: Calsium Oksida (CaO),
lempung atau tanah liat (clay) adalah bahan alam yang mengandung senyawa:
Silika Oksida (SiO2), Aluminium Oksida (Al2 O3), Besi Oksida (Fe2O3) dan
Magnesium Oksida (MgO). Untuk menghasilkan semen, bahan baku tersebut
dibakar sampai meleleh, sebagian untuk membentuk klinker. Klinker kemudian
dihancurkan dan ditambah dengan gips (gypsum). (Abdul Rais,2007)
Perbandingan bahan-bahan utama penyusun semen portland adalah kapur
(CaO) sekitar 60%-65%, silika (SiO 2 ) sekitar 20%-25%, dan oksida besi serta
alumina (Fe 2 O 3 dan Al2 O 3 ) sekitar 7%-12%.
Kekuatan semen merupakan hasil dari proses hidrasi. Proses kimiawi ini
berupa rekristalisasi dalam bentuk interlocking-crystals (ikatan kristal) sehingga
membentuk gel semen yang akan mempunyai kekuatan tekan yang tinggi apabila
mengeras. Jika semen portland dicampur dengan air, maka komponen kapur
dilepaskan dari senyawa. Banyaknya kapur dilepaskan ini sekitar 20% dari berat
semen. ( Tri Mulyono, 2003 )
Mutu semen yang baik yaitu bila dicampur dengan air semakin lama
semakin mengeras atau membatu. Hidrolisa membutuhkan waktu yang lama (± 1
hari) terhadap semen dan air.

% SiO2 + % Al2O3 + Fe2O3


Hidrolisa = _____________________________________ ...................... (2-1)
% CaO + % MgO

Universitas Sumatera Utara


Angka hidrolisa ini berkisar antara < 1/1,5 ( lemah ) hingga > 1/2 ( keras sekali ).
Dalam industri semen angka hidrolisa yang diharapkan 1/1,9 dan 1/2,15.
( SNI,1993 )

2.2.1.1 Jenis-Jenis Semen Portland


Berdasarkan komposisi kimianya, semen portland dapat dibedakan atas
beberapa jenis, seperti pada tabel 2.1.

Tabel 2.1 Jenis-jenis semen Portland berdasarkan komposisi kimianya (%)


Tipe C3S C2S C3A C4AF CaSO4 CAO MgO
Semen bebas bebas
Tipe I 42-67 8-31 5-14 6-12 2,4-34 0-1,5 0,7-3,8
Tipe II 37-55 19-39 4-8 6-16 2,1-3,4 0,1-1,8 1,5-4,4
TipeIII 34-70 0-28 7-17 6-10 2,2-4,6 0,1-4,2 1,0-4,8
TipeIV 21-44 57-34 3-7 6-18 2,6-3,5 0-0,9 1,0-4,1
TipeV 35-54 24-49 1-5 6-15 2,4-3,9 0,1-0,6 0,7-2,3
Sumber : Sesuai dengan ASTM C150

Sifat dan manfaat untuk tipe semen portland adalah sebagai berikut:
a. Semen Tipe I ( Semen penggunaan umum )
Sifat dari semen portland tipe I yaitu MgO dan SO3 hilang pada saat
pembakaran. Kehalusan dan kekuatannya secara berturut-turut juga ditentukan.
Secara umum mempunyai sifat-sifat umum dari semen. Digunakan secara luas
sebagai semen untuk teknik sipil dan konstruksi arsitektur misalnya pembangunan
jalan, bangunan beton bertulang, jembatan dan lain-lain.

b. Tipe II ( Semen pengeras pada panas sedang )


Semen Portland tipe II mempunyai C3S kurang dari 50% dan C3 A kurang
dari 8%. Kalor hidrasi 70 kal atau kurang (7 hari) dan 80 kal atau kurang (28 hari)
pada kondisi sedang. Peningkatan dari kekuatan jangka panjang diinginkan. Seca-
ra umum dipakai untuk mencegah serangan sulfat dan lingkungan sistem drainase
dengan kadar konsentrat tinggi didalam tanah.

Universitas Sumatera Utara


c. Tipe III ( Semen berkekuatan tinggi awal )
Semen portland tipe III mengandung C3S maksimum. Kekuatan awal (1 ha
ri dan 3 hari) diintensifkan, ditentukan untuk mempunyai kekuatan di atas 40 kg/
cm² selama penekanan 1 hari dan di atas 90 kg/cm² selama penekanan 3 hari.
Kegunaannya yaitu untuk menggantikan semen penggunaan umum untuk
pekerjaan yang mendesak. Cocok untuk pekerjaan dimusim dingin. Biasanya
dipakai untuk konstruksi bangunan, pekerjaan pembuatan jalan, dan produk
semen.

d. Tipe IV ( Semen jenis rendah )


Pada semen Portland tipe IV, kalor hidrasi lebih rendah l0 kal dari pada
semen pengeras pada panas sedang, ditentukan dibawah 60 kal (7hari) dan diba-
wah 70 kal yaitu 28 hari (ASTM).Memberikan kalor hidrasi minimum seperti
semen untuk pekerjaan bendungan. Kegunaannya yaitu digunakan pada struktur-
struktur dam dan bangunan masif. Dimana panas yang terjadi sewaktu hidrasi
merupakan faktor penentu bagi kebutuhan beton/mortar.

e. Tipe V ( Semen tahan sulfat )


Semen portland tipe V mempunyai C3S dibawah 50% dan C3A dibawah
50% (ASTM). Diusahakan agar kadar C3 A minimum untuk memperbesar ketaha-
nan terhadap sulfat. Biasanya dipakai untuk pekerjaan beton dalam tanah yang
mengandung banyak sulfat dan yang berhubungan dengan air tanah dan pelapisan
dari saluran air dalam terowongan. (Chu Kia Wang, 1993)

Kekuatan dari pasta semen-air yang telah mengeras nantinya akan


menentukan kekuatan beton karena dengan agregat yang kuat, perpatahan terjadi
diantara partikel pasir. Oleh karena itu, pada dasarnya jalanan masuk yang terbuat
dari adukan semen dan air akan sama kuatnya dengan adukan semen, air dan
agregat. Akan tetapi jika ditinjau dari segi biaya kurang menguntungkan. Oleh
karena itu adukan semen-air dicampur dengan bahan agregat yang lebih kuat dan
murah. ( Lawrence H.Van Vlack, l989 )

Universitas Sumatera Utara


2.2.1.2 Komposisi kimia semen portland
Semen portland yang mempunyai zat kapur kadar kapur yang berlebihan
menyebabkan disintegrasi atau perpecahan setelah proses pengikatan terjadi.
Kadar kapur yang banyak tetapi tidak berlebihan, cenderung memperlambat
proses pengikatan oleh semen tetapi mempertinggi kuat tekan awal dari beton/
mortar, bila kandungan kapurnya kurang menyebabkan peningkatan semen
menjadi lunak.
Komposisi kimia pada tabel 2.1 yang terdapat pada setiap jenis semen
Portland mempunyai empat senyawa utama yaitu:
1. Trikalsium Silikat (C3S); senyawa ini dapat mengeras dalam beberapa jam
dan disertai dengan pelepasan sejumlah energi panas. Kuantitas senyawa
yang terbentuk selama proses pengikatan berlangsung mempengaruhi
kekuatan beton dan umur awal pada 14 hari pertama.
2. Dikalsium Silikat (C2S); reaksi berlangsung sangat lambat dan disertai
sdengan pelepasan sejumlah energi panas secara lambat. Senyawa
berpengaruh terhadap perkembangan kekuatan beton dari umur 14 sampai
seterusnya. Semen Portland yang mempunyai kandungan C2S yang cukup
banyak ketahanan terhadap agresi kimia dan penyusutan kering relatif
rendah dan memberikan kontribusi terhadap awet beton.
3. Trikalsium Aluminat (C3A); senyawa C3 A mengalami proses hidrasi
dengan cepat dan disertai dengan pelepasan sejumlah energi panas.
Senyawa ini mempengaruhi proses pengikatan awal tetapi kontribusinya
terhadap kekuatan beton kecil. Dan kurang tahan terhadap agresi kimia
dan paling berpeluang mengalami disintegrasi (perpecahan) oleh sulfat
yang dikandung air tanah dan kecenderungan yang tinggi mengalami
keretakan akibat perubahan volume.
4. Tetrakalsium Aluminate (C4AF); sekalipun proporsinya C4 AF cukup besar
dari semen, kontribusi terhadap sifat-sifat beton tidak ada. Senyawa C4 AF
dapat merubah reaksi kimia C2F menjadi C4AF.
Reaksi kimia yang berlangsung pada saat gel dan kristal dari larutan semen dan air
akan menimbulkan adhesi dan gaya tarik fisik satu dengan agregat secara
perlahan-lahan saling mengikat beton/mortar.

Universitas Sumatera Utara


Tabel 2.2 Komposisi kimia pada semen
Nama Senyawa Rumus Kimia Singkatan Fraksi berat (%)
Nama
Tricalcium Silicate 3 CaO . SiO2 C3S 55
Dicalcium Silicate 2 CaO . SiO2 C2S 20
Tricalcium Aluminate 3 CaO . Al2O3 C3A 10
Tetracalcium Aluminate 4 CaO . Al2O3. Fe2O3 C4AF 8

Sebagai bahan pengikat material, semen memiliki peranan yang sangat


penting dalam perencanaan kekuatan mortar/beton. Untuk Penelitian ini
digunakan semen Portland Tipe I yang diproduksi oleh PT.Semen Padang,
Sumatera Barat. Semen ini dibuat dengan standar ASTM C-150 untuk semen
portland.
Tabel 2.3 Komposisi Kimia Semen Portland Tipe I produksi PT.Semen Padang
Senyawa Kadar (%)
SiO2 21,94
Al2O3 5,46
Fe2O3 3,43
CaO 65,07
MgO 0,78
SO3 1,70
Hilang pijar 1,32
CaO bebas 1,40
L.S.F 92,82
S.I.M 2,47
A.L.M 1,59
C3S 45,95
C2S 28,32
C3A 8,67
C4AF 10,44
Sumber: Biro jaminan kualitas dan pengembangan produk PT.Semen Padang

2.2.1.3 Hidrasi dari Semen


Semen Portland merupakan campuran silikat kalsium, aluminat kalsium
dan dapat berhidrasi bila diberi air.
• Ca3Al2O6 + 6H2O → Ca3Al2(OH)12
• Ca2SiO4 + xH2O → Ca2SiO4 . xH2O
• Ca3SiO5 + (x+1) H2O → Ca2SiO4 . xH2O + Ca(OH)2

Universitas Sumatera Utara


Pada reaksi, daya larut hidrasi berkurang dalam air dibanding dengan
semen semula. Dan semen mengeras karena reaksi hidrasi kimia, dan reaksi
hidrasi ini melepaskan panas. Kalor yang dilepaskan sebesar :

Q = ∆ T mc . (2.2)
Dimana:
Q = Jumlah kalor yang dibutuhkan (Joule)
∆ T = Kenaikan suhu (°K)
M = massa (kg)
C = kalor jenis (Joule/kg°K)
( Lawrence H.Van Vlack, l989 )

2.2.2 Agregat Halus


Agregat halus adalah pengisi yang berupa pasir, agregat yang terdiri dari
butir-butir yang tajam dan keras. Butir-butir agregat halus harus bersifat kekal,
artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca, seperti terik
matahari dan hujan. ( Istimawan Dipohusodo,l999)
Pasir umumnya terdapat disungai-sungai yang besar. Akan tetapi
sebaiknya pasir yang digunakan untuk bahan-bahan bangunan dipilih yang
memenuhi syarat. Syarat-syarat untuk pasir adalah sebagai berikut:
1. Butir-butir pasir harus berukuran antara (0,l5 mm dan 5 mm).
2. Harus keras, berbentuk tajam, dan tidak mudah hancur dengan pengaruh
perubahan cuaca atau iklim.
3. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% (persentase berat dalam
keadan kering).
4. Bila mengandung lumpur lebih dari 5% maka pasirnya harus dicuci.
5. Tidak boleh mengandung bahan organic, garam, minyak, dan sebagainya.

Pasir untuk pembuatan adukan harus memenuhi persyaratan diatas, selain


pasir alam ( dari sungai atau galian dalam tanah) terdapat pula pasir buatan yang
dihasilkan dari batu yang dihaluskan dengan mesin pemecah batu, dari terak dapur
tinggi yang dipecah-pecah dengan suatu proses.

Universitas Sumatera Utara


Agregat dinilai dari tingkat kekuatan hancur dan ketahanan terhadap
benturan yang dapat mempengaruhi ikatan pada pasta semen, porositas dan
penyerapan air dapat mempengaruhi daya tahan beton terhadap serangan alam
dari luar dan ketahanan terhadap penyusuitan selama proses penyaringan agregat.
Daryanto, 1994)

2.2.3 Air
Air yang dimaksud disini adalah air sebagai bahan pembantu dalam
konstruksi bangunan meliputi kegunaannya dalam pembuatan dan perawatan
mortar. Air diperlukan pada pembuatan mortar untuk memicu proses kimiawi
semen, membasahi agregat dan memberikan kemudahan dalam pengerjaan
mortar. Kekuatan dari pasta pengerasan semen ditentukan oleh perbandingan berat
antara semen dan faktor air. Persyaratan Mutu Air menurut PUBI 1982, adalah
sebagai berikut:
1. Air harus bersih
2. Tidak mengandung Lumpur,minyak dan benda terapung lainnya yang
dapat dilihat secara visual dan tidak mengandung benda-benda tersuspensi
lebih dari 2gr/l.
3. Tidak mengandung garam yang dapat larut dan dapat merusak
beton/mortar.( George Winter, l993)

Tabel 2.1 Batas dan izin untuk campuran beton


Batas yang diizinkan
PH 4,5 – 8,5
Bahan Padat 2000 ppm
Bahan terlarut 2000 ppm
Bahan organic 2000 ppm
Minyak 2% berat semen
Sulfat ( SO3 ) 10000 ppm
Chlor ( Cl ) 10000 ppm
Sumber : Bahan & Praktek Beton, 1999

Universitas Sumatera Utara


Air digunakan untuk membuat adukan menjadi bubur kental dan juga
sebagai bahan untuk menimbulkan reaksi pada bahan lain untuk dapat mengeras.
Oleh karena itu air sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan bahan, tanpa air
konstruksi bahan tidak akan terlaksana dengan sempurna.

2.2.4 Sampah
Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil
aktivitas manusia maupun alam yang belum memiliki nilai ekonomis. Bentuk
sampah bisa berada dalam setiap fasa materi yaitu padat, cair dan gas.
( Tim Penulis PS, 2002)

2.2.4.1 Komposisi Sampah dan Karakteristik Sampah


Komposisi dan karakteristik sampah merupakan hal yang terpenting dalam
memilih teknologi pengolahan sampah. Komposisi sampah rata – rata di Indonesia
mayoritas adalah organik dengan komposisi 73.98%, selanjutnya diikuti oleh
bahan anorganik 26.48%.

Tabel 2.2. Komposisi dan karakteristik sampah rata – rata


Kadar Air N. Kalor
No Komponen %
(%) ( kkal/kg )
1 Organik 73.98 47.08 674.57
2 Kertas 10.18 4.97 235.55
3 Kaca 1.75
4 Plastik 7.86 2.28 555.46
5 Logam 2.04
6 Kayu 0.98 0.32 38.28
7 Kain 1.57 0.63 42.64
8 Karet 0.55 0.02 7.46
9 Baterai 0.29
10 Lain – lain 0.86
Total 100 55.3 1553.96
Sumber : Studi Komposisi Dan Karakteristik BPPT, 1994

Dari penelitian yang pernah dilakukan, komposisi sampah bervariasi


antara 70 – 80 %, nilai kalor sampah bervariasi antara 1000 – 2000 kkal/kg dan
kadar air bervariasi antara 50 – 70 %. Dari data tersebut maka komponen organik

Universitas Sumatera Utara


masih merupakan komponen terbesar dan menyebabkan sampah kota mempunyai
kadar air yang cukup tinggi. Karakteristik sampah diatas, maka sehari saja sampah
dibiarkan menumpuk, maka akan terjadi kegiatan mikroorganisme anaerobik yang
menyebabkan sampah berbau tidak sedap. Disisi lain sampah yang tidak terkelola
dengan baik akan mengakibatkan berkembangnya vektor penyakit.
(http:// www.google.co.id/ )

2.2.4.2 Sampah Organik


Sampah organik sendiri merupakan hasil limbah buangan yang berlimpah
dari pasar dan rumah tangga berupa sayur-sayuran, buah-buahan, daun-daun-dlan,
dan lain-lainnya. Sampah Organik terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan
dan hewan yang berasal dari alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian,
perikanan, rumah tangga atau yang lain. Sampah ini dengan mudah diuraikan
dalam proses alami. Sampah rumah tangga sebagian besar merupakan bahan
organik. Termasuk sampah organik, misalnya sampah dari dapur, sisa tepung,
sayuran, kulit buah, dan daun. (Sidik, M. A et al 1985).
Sampah organik mampu terurai secara alami di alam dengan bantuan
mikroba. Selain itu, sampah jenis ini telah lama diolah secara sederhana oleh
masyarakat sebagai pakan ternak atau bahan pupuk. Selain sampah organik,
beberapa bahan anorganik dapat pula terurai secara alami walaupun dalam kurun
waktu cukup lama.Proses ini disebabkan oleh tingkat penguraian ( degradibilitas )
tiap bahan berbeda. ( Tim Penulis PS, 2002 )

2.2.4.3 Abu Pembakaran Sampah Organik


Abu hasil pembakaran sampah menjadi produk semen dinamakan dengan
ekosemen. Abu inilah yang kemudian dijadikan sebagai bahan dari pembuatan
ekosemen. Abu ini dan endapan air kotor mengandung senyawa2 dalam
pembentukan semen biasa. Yaitu, senyawa-senyawa oksida seperti CaO, SiO 2 ,
Al2 O 3 , dan Fe 2 O 3 . Oleh karena itu, abu pembakaran ( insinerasi ) ini bisa
berfungsi sebagai pengganti tanah liat yang digunakan pada pembuatan semen
biasa. Pemisahan plastik dari sampah organik secara seksama menjadi kunci
utama pada produksi ekosemen ini.

Universitas Sumatera Utara


Sedangkan kandungan CaO yang masih kurang pada abu pembakaran dapat
dicukupi dengan penambahan batu kapur. Penggantian sebagian batu kapur
(kandungan utamanya CaCO 2 ) dengan abu insenarasi (kandungan utama CaO)
dapat mengurangi emisi CO2 yang selama ini menjadi dilema dalam industri
semen. (http:// www.google.co.id/ )

Tabel 2.3 Komposisi Kimia Abu Sampah Organik


No Parameter Kadar(%) Metode Analisa
1 SiO2 68,74 Gravimetri
2 CaO 2,31 Titrimetri
3 MgO 5,34 Titrimetri
4 Fe2O3 3,76 Spektrofotometri
5 Al2O3 2,55 Gravimetri
6 K2O 0,88 Flame Fotometri
Sumber : Pusat Laboratorium Uji Mutu

2.3 Kuat Tekan (Compressor Machine)


Pengujian kuat tekan mortar dilakukan untuk mengetahui kuat tekan
hancur dari benda uji. Kuat tekan mortar mengacu pada standar pengujian ASTM
C 109. Benda uji yang dipakai adalah kubus dengan ukuran 5 cm x 5 cm x 5 cm.
Pengujian kuat tekan dilakukan saat mortar berumur 28 hari dengan menggunakan
alat Compressor Machine di Laboratorium Beton Teknik Sipil Universitas
Sumatera Utara.
Kuat tekan mortar pada dasarnya adalah sebuah fungsi dari volume
pori/rongga dari mortar itu sendiri.
Kuat tekan mortar dapat diperoleh dengan menggunakn rumus 2.2:

τ = F ( 2.2)
A
dimana;
τ = Kuat tekan (N/cm2)
F = Beban maksimum (N)
A = Luas Bidang Permukaan (cm2) (Lawrence H.Van Vlack, l989)

Universitas Sumatera Utara


2.4 Densitas
Kerapatan massa atau densitas adalah perbandingan antara massa benda uji
dengan volumenya. Dalam pengujian ini mortar yang sudah mengalami
pengeringan selama 27 hari ditimbang dengan maksud mendapatkan massa kering
dari mortar (mk ) setelah itu mortar direndam selama 24 jam untuk memperoleh
massa basah mortar (mb ), namun dalam hal ini mortar dilap terlebih dahulu agar
basah daripada mortar tidak berlebihan. Pengujian densitas mortar dilakukan pada
sampel berbentuk silinder dengan diameter 2,5 cm dan tinggi 5 cm.
Besarnya densitas dapat diperoleh dengan rumus 2.3:

ρ =
Mk
(2.3)
Vb
Dimana;

ρ = densitas (gr/cm³)

Mk = massa kering (gram)


Vb = Volume benda uji (cm³) ( Lawrence H.Van Vlack, l989 )
2.5 Porositas
Pengujian porositas dilakukan untuk mengetahui besarnya porositas yang
terdapat pada benda uji. Semakin banyak porositas yang terdapat pada benda uji
maka semakin rendah kekuatannya,begitu pula sebaliknya. Pengujian porositas
menggunakan benda uji berbentuk silinder dengan diameter 2,5 cm dan tinggi 5
cm... Pengujian porositas dilakukan setelah mortar mengalami masa pengeringan
selama 27 hari kemudian direndam selama 24 jam Pengujian porositas dilakukan
pada mortar uji densitas. Sehingga pengujian porositas dapat langsung bersamaan
dengan densitas.
Besarnya porositas dapat diperoleh dengan rumus 2.4:
mb − m k 1
Porositas = x x 100 % ( 2.4 )
Vb ρ air
Dimana :
mb = Berat benda uji dalam keadaan basah (gr)
mk = Berat benda uji dalam keadaan kering (gr)
Vb = Volume benda uji (cm3)
ρ air = Massa jenis air (1 gr/cm3) ( Lawrence H.Van Vlack, l989 )

Universitas Sumatera Utara


2.6 Perancangan Campuran
Perancangan campuran mortar merupakan proses penentuan komposisi
material-material untuk mendapatkan mortar yang memiliki kekuatan tekan
karakteristik yang direncanakan. Dalam perhitungan perancangan campuran
mortar, digunakan dua anggapan dasar yaitu:
1. Mudahnya mengerjakan adukan mortar tergantung dari jumlah air bebas,
bukan tergantung dari kadar semen dari faktor air semen (W/C ratio).
2. Kekuatan mortar tergantung dari faktor air semen (W/C ratio) bukan dari
banyaknya air dan kadar semen.
Dari kedua anggapan diatas, perhitungan rencana adukan mortar
dikembangkan dan dikembalikan pada 4 hal yaitu: kekuatan, workabilitas,
durabilitas dan ekonomi. (Murdock, 1981)

Pembuatan Benda Uji


Sebelum melakukan pencampuran mortar seluruh peralatan dan bahan
disiapkan, guna memudahkan dalam pengerjaan pengadonan dan pencetakan
benda uji. Bahan – bahan yang telah disiapkan seperti semen, pasir, dan abu
sampah organik ditimbang sesuai dengan proporsinya dalam perencanaan
kekuatan mortar.
Dalam penelitian ini digunakan benda uji kubus dengan ukuran
5cmx5cmx5cm untuk pengujian kuat tekan dan benda uji silinder dengan ukuran
diameter 2,5cm dan tinggi 5cm.
Pencampuran dilakukan pada sebuah wadah, dengan lama pengadukannya
yaitu sekitar 2menit + 1 menit setelah dihentikan sesaat. Benda uji yang telah
dimasukkan kedalam cetakan dan dirojok dengan batang perojok besi untuk
menjamin kepadatan susunan campuran.Cetakan sampel dibuka pada saat sampel
berumur 24 jam (1hari) cetakan dibuka dan diberi nomor kode pada benda uji
sesuai yang diinginkan kemudian diletakan pada ruangan perawatan.

Universitas Sumatera Utara


Perawatan (Curing) Mortar
Perawatan mortar dilakukan untuk menjaga agar suhu mortar tetap,
sehingga proses hidrasi yang berjalan baik sampai tercapainya kekuatan rencana.
Ada beberapa metode perawatan yang biasa digunakan untuk menjaga suhu
mortar/ beton yaitu:
1. Disiram air secara terus menerus.
2. Direndam dalam bak berisi air.
3. Mortar/beton ditutup dengan kain basah, plastik film, atau kertas tahan air
untuk perawatan.
4. Menggunakan curing-compound untuk menjaga kelembaban mortar/beton
basah.
5. Steam curing, biasanya untuk konstruksi beton dsri pabrik seperti: balok
precast dan beton prategang.
Menurut SK SNI 03-2493-1993, curing dapat dilakukan dengan merendam
mortar/beton dalam air dengan suhu 23 ± ˚2C, dimulai setelah benda uji dilepas
dari cetakan sampai 1 hari sebelum pengujian sehingga air dalam mortar/beton
tidak menguap terlalu berlebihan sehingga mortar/beton menjadi normal sesuai
dengan yang diharapkan. (Abdul Rais, 2007)

Universitas Sumatera Utara