You are on page 1of 8

Makalah Teknik Laboratorium

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS

SRI WULANDARY H311 16 503

HASWINA FEBRIANTI H311 16 505

MARISA ERNI W H311 16 507

INDRIANI H311 16 509

MIFTAHUL RAHMA H311 16 521

DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas

kehendak-Nya lah kami selaku tim penulis bisa menyelesaikan makalah ini tepat

pada waktunya. Adapun maksud dan tujuan penulis membuat makalah ini , adalah

untuk memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah kimia fisika material, dan juga

untuk menambah wawasan mengenai karakteristik dari bahan keramik. Dalam

pembuatan dan penyusunan makalah ini tentu saja penulis mengakui bahwa

makalah ini masih jauh dari kesempurnaan , baik dari segi isi , teori , dan sistematika

penulisannya . Maka dari itu karena belum luasnya wawasan kami, kami sangat

terbantu bila pembaca memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun dan

dapat menyempurnakan makalah ini dari segi manapun. Akhir kata penulis

berharap semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua baik untuk hari ini

dan untuk masa yang akan datang . Amin .

Makassar, 8 November 2018

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ada banyak teknik pemisahan tetapi kromatografi merupakan teknik paling

banyak digunakan. Kromatografi sangat diperlukan dalam kefarmasian dalam

memisahkan suatu campuran senyawa. Kromatografi merupakan metode

pemisahan yang sederhana. Dalam kromatografi, komponen-komponen

terdistribusi dalam dua fase. Salah satu fase adalah fase diam.

Kromatografi mencakup berbagai proses yang berdasarkan pada perbedaan

distribusi dari penyusunan cuplikan antara dua fasa. Satu fasa tetap tinggal pada

system dan dinamakan fasa diam. Fasa lainnya dinamakan fasa gerak menyebabkan

perbedaan migrasi dari penyusun cuplikan.

Metode pemisahan yang sangat penting dalam kimia organik adalah

ekstraksi, kristalisasi (penyaringan), distilasi, dan kromatografi. Teknik ekstraksi

dan kristalisasi bergantung atas sifat kelarutan senyawa-senyawa organik.

Pemisahan dengan distilasi mengandalkan pada perbedaan titik didih antara

komponen-komponen suatu campuran. Perbedaan kemampuan zat-zat kimia untuk

tertarik ke permukaan (adsorpsi) adalah dasar pemisahan kromatografi. Tiap-tiap

metode tersebut terbangun atas dasar perbedaan sifat fisik yang dapat membedakan

antara komponen-komponen suatu campuran. Kita dapat memisahkan senyawa-

senyawa yang berbeda sifat kelarutan, titik didih, atau keterserapannya dengan

menggunakan teknik pemisahan yang berdasarkan perbedaan sifat fisik.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud Kromatografi Lapis Tipis (KLT)?


2. Apa kelebihan dan kekurangan Kromatografi Lapis Tipis (KLT)?

3. Bagaimana prinsip kerja Kromatografi Lapis Tipis (KLT)?

4. Apa fase diam dan fase gerak yang sering digunakan pada Kromatografi Lapis

mdmTipis (KLT)?

5. Bagaimana prosedur kerja pemisahan sampel dengan Kromatografi Lapis

vffggTipis (KLT)?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui yang dimaksud Kromatografi Lapis Tipis (KLT).

2. Mengetahui kelebihan dan kekurangan Kromatografi Lapis Tipis (KLT).

3. Mengetahui prinsip kerja Kromatografi Lapis Tipis (KLT).

4. dMengetahui fase diam dan fase gerak yang sering digunakan pada

dfdfdfdKromatografi Lapis Tipis (KLT).

5. hMengetahui prosedur kerja pemisahan sampel dengan Kromatografi Lapis

vffggnTipis (KLT).

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Kromatografi Lapis Tipis

Istilah kromatografi diturunkan dari fakta bahwa teknik ini mula-mula

digunakan untuk memisahkan pigmen-pigmen (Greek, chroma = warna, graphein

=89 menggambar), tetapi dengan berbagai modifikasi maka teknik ini digunakan

dalam pemisahan zat-zat kimia, dan tidak lagi selalu dihubungkan dengan

senyawasenyawa berwarna. Ketepatan dalam memilih prosedur semuanya

tergantung pada perbedaan distribusi berbagai komponen-komponen campuran di

antara dua fasa, yakni fasa bergerak dan fasa diam. Fasa bergerak dapat berupa

cairan atau gas, dan fasa diam dapat berupa padatan atau cairan. Melalui kombinasi

komponen-komponen tersebut maka diperoleh beberapa macam teknik

kromatografi seperti pada Tabel 1.

Fasa diam Fasa bergerak Teknik (pemisahan zat-zat)

Padat Cairan Kromatografi serapan


(meliputi molekul-molekul
alifatik dan aromatik)
Kromatografi fasa terbalik
(molekul organik polar)
Kormatografi penyerapan
gel (makromolekul)
Kromatografi pernukaran
ion (molekul molekul
bermuatan, asam-asam
amino)
Cair Cair Kromtografi partisi
(molekul-molekul organik
yang labil terhadap panas
dan asam)
Cair Gas Kromatografi fasa uap atau
gas-cair (molekul-molekul
organik volatil)

Kromatografi lapis tipis adalah suatu teknik pemisahan

komponen-komponen campuran senyawa-senyawa yang melibatkan partisi suatu

senyawa di antara padatan penyerap (adsorbent, fasa diam) yang dilapiskan pada

pelat kaca atau plastik kaku dengan suatu pelarut (fasa gerak) yang mengalir

melewati padatan penyerap. Pengaliran pelarut dikenal sebagai proses

pengembangan oleh pelarut (elusi). Karena kesederhaan dan kecepatan analisisnya,

KLT mempunyai peranan penting dalam pemisahan senyawa-senyawa yang

volatilitasnya relatif rendah, baik senyawa organik maupun senyawa anorganik. Di

dalam analisis dengan KLT, sutu contoh dalam jumlah yang sangat kecil

ditempatkan (sebagai titik noda) di atas permukaan pelat tipis fasa diam, kemudian

pelat diletakkan dengan tegak di dalam bejana pengembang yang berisi sedikit

pelarut pengembang.

2.2 Kelebihan dan Kekurangan Kromatografi Lapis Tipis

Beberapa kelebihan KLT yaitu:

1. KLT lebih banyak digunakan untuk tujuan analisis.

2. Identifikasi pemisahan komponen dapat dilakukan dengan pereaksi warna,

fluoresensi, atau dengan radiasi menggunakan sinar ultraviolet.

3. Perlakuan dapat dengan elusi secara mekanik (ascending), menurun

(descending), atau dengan cara elusi 2 dimensi.

4. Ketepatan penentuan kadar akan lebih baik karena komponen yang akan

ditentukan merupakan bercak yang tidak bergerak.


5. Hanya membutuhkan sedikit pelarut.

6. Biaya yang dibutuhkan terjangkau.

7. Jumlah perlengkapan sedikit.

8. Preparasi sample yang mudah

9. Berfungsi untuk memisahkan senyawa hidrofobik (lipid dan hidrokarbon) yang

dengan metode kertas tidak bisa (Gandjar dan Rohman, 2007).

Adapun kekurangan KLT yaitu:

1. Butuh ketekunan dan kesabaran yang ekstra untuk mendapatkan bercak/noda

yang diharapkan.

2. Butuh sistem trial and error untuk menentukan sistem eluen yang cocok.

3. Memerlukan waktu yang cukup lama jika dilakukan secara tidak tekun.

2.3 Prinsip Kerja Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

Pada proses pemisahan dengan kromatografi lapis tipis, terjadi hubungan

kesetimbangan antara fase diam dan fase gerak, dimana ada interaksi antara

permukaan fase diam dengan gugus fungsi senyawa organik yang akan

diidentifikasi yang telah berinteraksi dengan fasa geraknya. Kesetimbangan ini

dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu : kepolaran fase diam, kepolaran fase gerak, serta

kepolaran dan ukuran molekul.

Prinsip kerjanya memisahkan sampel berdasarkan perbedaan kepolaran

antara sampel dengan pelarut yang digunakan. Teknik ini biasanya menggunakan

fase diam dari bentuk plat silika dan fase geraknya disesuaikan dengan jenis sampel

yang ingin dipisahkan. Larutan atau campuran larutan yang digunakan dinamakan

eluen. Semakin dekat kepolaran antara sampel dengan eluen maka sampel akan
semakin terbawa oleh fase gerak tersebut. Hal ini berdasarkan prinsip “like

dissolved like”.