You are on page 1of 15

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Katalis
Katalis adalah suatu zat yang mempercepat laju reaksi reaksi kimia pada
suhu tertentu, tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu sendiri
(Wikipedia, 2015). Katalis dapat mempercepat reaksi kekanan atau kekiri
sehingga keadaan setimbang lebih cepat tercapai, katalis ini disebut dengan katalis
positif. Penambahan katalis juga dapat menghambat reaksi, katalis tersebut
disebut katalis negatif atau anti katalis atau inhibitor.
Penambahan katalis akan mempengaruhi laju reaksi. Pada teori tumbukan
dan distribusi energi molecular Maxwell–Boltzman pada gas, tumbukan-
tumbukan menghasilkan reaksi jika partikel-partikel bertumbukan dengan energi
yang cukup untuk memulai suatu reaksi. Menurut Atkins (1997), katalis
ditambahkan pada suatu sistem reaksi dengan tujuan menurunkan energi aktivasi,
sehingga reaktan mudah menjadi kompleks teraktifkan yang merupakan
intermediet reaktif yang akan bereaksi membentuk produk.
Untuk mengetahui baik atau tidaknya suatu katalis, dapat diketahui dari
beberapa parameter diantaranya:
a. Aktivasi, yaitu kemampuan katalis untuk mengkonversi reaktan menjadi
produk
b. Selektivitas, yaitu kemampuan katalis mempercepat satu reaksi diantara
beberapa reaksi yang terjadi sehingga produk yang diinginkan dapat
diperoleh dengan produk samping seminimal mungkin
c. Kestabilan, yaitu lamanya katalis memiliki aktivitas dan selektivitas
seperti pada keadaan awal
d. Rendemen katalis, yaitu jumlah produk yang terbentuk untuk setiap satuan
reaktan yang terkonsumsi
e. Dapat diregenerasi, yaitu proses mengembalikan aktivitas dan selektivitas
seperti semula

Pembuatan dan Karakterisasi


Butiran Katalis Heterogen Kitosan Sulfonat
II-1
Katalis dapat dibedakan ke dalam dua golongan utama yaitu katalis
homogen dan katalis heterogen.

2.1.1 Katalis Homogen


Katalis konvensional yang sering digunakan dalam reaksi esterifikasi
adalah katalis homogen asam seperti H2SO4. Katalis homogen sulit untuk
dipisahkan setelah katalis tersebut digunakan, sehingga penggunaan katalis
homogen kurang efisien.

Gambar II.1 Mekanisme Reaksi Esterifikasi suatu Asam Karboksilat dengan


alkohol menggunakan Katalis Asam
Sumber: https://matainginbicara.wordpress.com/2009/06/29/ringkasan-katalis-dan-
katalisis/
Penjelasan dari reaksi tersebut adalah protonasi asam karboksilat untuk
menghasilkan ion oksinium (1), yang mana mengalami reaksi pertukaran dengan
suatu alkohol menghasilkan intermediet (2), dan selanjutnya akan melepaskan
proton untuk membentuk ester.

Penggunaan katalis homogen asam seperti asam sulfat dan asam sulfonat
umumnya memerlukan waktu reaksi yang lebih lama karena dilakukan pada suhu
rendah.katalis ini juga cenderung sulit untuk dipisahkan.

2.1.2 Katalis Heterogen


Katalis heterogen adalah katalis yang memiliki fase berbeda dengan
pereaksi dalam reaksi yang dikatalisnya. Penggunaan katalis heterogen dapat
menyelesaikan permasalahan lingkungan, korosi, toksisitas, serta mudah
dipisahkan dari campuran produk. Pada katalisis heterogen, katalis menyediakan
suatu permukaan dimana pereaksi-pereaksi (atau substrat) akan terjerap sementara
didalam katalis. Ikatan dalam substrat-substrat menjadi lemah sedemikian hingga

Pembuatan dan Karakterisasi


Butiran Katalis Heterogen Kitosan Sulfonat
II-2
terbentuknya produk baru. Ikatan antara produk dan katalis lebih lemah, sehingga
akhirnya produk terlepas dari katalis.
Katalis asam berfase padat telah menjadi katalis heterogen yang umum
digunakan pada industri petrokimia terutama untuk reaksi-reaksi organik
berdasarkan reaksi Friedel-Crafts.

Tabel II.1 Beberapa Contoh Katalis Heterogen dalam Dunia Industri

Reaksi Katalis

C4H10  Butena dan C4H6 (butadiena) Cr2O3 - Al2O3


CH4 atau hidrokarbon lain + H2O  CO + Ni support
H2 Pd dalam Al2O3 atau padatan

C2H2 + 2H2  C2H6 pendukung Ni-Sulfida.


Logam (seperti Pd) pada zeolit

Hidrocraking Promotor ZnO dengan Cr2O3 atau

CO + 2H2  CH3OH promoter Cu1 – ZnO dengan Cr2O3


atau Al2O3.

Pemilihan katalis untuk proses dapat didasarkan pada beberapa hal berikut:

a. Berumur panjang

b. Harganya murah

c. Mudah diregenerasi

d. Dapat diproduksi dalam jumlah besar

e. Memiliki tahanan fisik yang besar

Pembuatan dan Karakterisasi


Butiran Katalis Heterogen Kitosan Sulfonat
II-3
Tabel II.2 Perbandingan Sifat Katalis Homogen dan Heterogen

Sifat Homogen Heterogen


Struktur/stoikiometri Mudah ditentukan Sulit ditentukan
Kemungkinan modifikasi Tinggi Rendah
Daya tahan suhu Rendah Tinggi
Teknik pemisahan Rumit (Destilasi, Mudah (penyaringan)
ekstraksi, dekomposisi
kimia
Potensi kehilangan katalis Tinggi Rendah
Sumber: https://matainginbicara.wordpress.com

Kitosan merupakan biopolimer yang saat ini banyak diteliti untuk berbagai
bidang, salahsatunya digunakan sebagai katalis heterogen. Hal tersebut
dikarenakan keberadaan gugus fungsional –OH dan –NH2 pada kitosan
memungkinkan dilakukannya berbagai macam modifikasi kimia, sehingga kitosan
digolongkan sebagai highly functional biopolymer (Soonpatra, 2006) yang dapat
digunakan untuk aplikasi berbagai keperluan.

2.2 Kitosan
Kitosan merupakan suatu rantai linear dari D-Glukosamin dan N-Asetil D-
glukosamin yang terhubung melalui ikatan (1-4) β-glikosidik dan memiliki rumus
molekul (C6H11NO4)n. Kitosan diperoleh dari proses deasetilasi kitin dengan
menggunakan larutan NaOH pekat yang berfungsi untuk mengubah gugus asetil
dari kitin menjadi gugus amina pada kitosan. Metode pembuatan kitosan terdiri
dari tiga langkah utama, yaitu deproteinasi, demineralisasi, dan deasetilasi. Tahap
dekolorisasi dapat ditambahkan agar kitosan yang dihasilkan mempunyai warna
yang lebih putih.

Pembuatan dan Karakterisasi


Butiran Katalis Heterogen Kitosan Sulfonat
II-4
Gambar II.2 Struktur Kimia Kitosan
Sumber: Caetano, C.S, dkk. 2013

Kitosan merupakan biopolimer yang bersifat non toksik, biodegradable,


dan biokompatibel. Kitosan juga dapat dimodifikasi secara kimia dalam berbagai
bidang seperti pertanian, kesehatan, bioteknologi, dan industri.

2.2.1 Sifat Kitosan


Kitosan adalah padatan amorf putih dan merupakan molekul biopolimer
yang mempunyai berat molekul yang tinggi serta memiliki viskositas yang baik
dalam suasana asam. Kitosan larut dalam asam organik seperti asam format, asam
asetat, dan asam glutamat. Kelarutan kitosan menurun seiring bertambahnya berat
molekul.
Kitosan memiliki sifat mudah terdegredasi, biocompatible, tidak beracun,
serta memiliki aktivitas anti bakteri. Selain itu kitosan juga memiliki gugus amino
dan hidroksil yang menyebabkan kitosan mudah dimodifikasi secara kimia dalam
beberapa reaksi pembentukan seperti pembentukan N-Asil, O-Asilasi, dan eter
kitosan.

2.2.2 Modifikasi Kimia terhadap Kitosan


Kitosan dapat dimodifikasi menjadi berbagai bentuk seperti serpihan,
hidrogel, membran, dan butiran. Perbedaan bentuk kitosan akan mempengaruhi
pada luas permukaannya. Semakin kecil ukuran kitosan, maka luas permukaan
kitosan akan semakin besar.

Pembuatan dan Karakterisasi


Butiran Katalis Heterogen Kitosan Sulfonat
II-5
a. Kitosan berbentuk serpihan
Afinitas kitosan berbentuk serpihan telah diuji coba terhadap ion pb2+, Ni2+,
dan Cr2+ dan presentasi pengikatan adalah 84-98, 40-92, 17-46% berturut-
turut.
b. Hidrogel kitosan
Pelarutan kitosan dalam asam asetat merupakan cara sederhana untuk
membentuk hidrogel kitosan. Hidrogel kitosan yang dibentuk oleh
penambahan bahan senyawa pengikat silang disebut hidrogel kitosan
kovalen atau ionik. Pengikat silang yang digunakan merupakan molekul
berbobot molekul rendah daripada molekul kedua rantai polimer yang akan
ditautkan (Gotoh. T, 2003).
c. Kitosan berbentuk membran
Membran dapat disiapkan dengan menggunakan beberapa metode antara
lain pelelehan, pengepresan, track-etching, dan pembalikan fase. Asnel
(2008) membuat membran gel kitosan-alginat dengan pengikat silang
glutaraldehid.
d. Kitosan dalam bentuk butiran
Kitosan dapat dibuat menjadi bentuk butiran dengan pelarutan 3 gram
kitosan dalan 100 ml larutan asam asetat 1% yang diteteskan dalam larutan
NaOH 4% maka diperoleh kitosan dalam bentuk butiran. Kitosan berbentuk
butiran tersebut dicuci dengan aqudest. Shentu, et al telah membuat kitosan
dalam bentuk butiran yang digunakan untuk proses adsorpsi enzim katalase
(Sugita dkk, 2009).

2.2.3 Sulfonasi Kitosan


Keberadaan gugus fungsional –OH dan –NH2 pada kitosan memungkinkan
dilakukannya berbagai macam modifikasi kimia, sehingga kitosan digolongkan
sebagai highly functional biopolymer (Soonpatra, 2006) yang dapat digunakan
untuk aplikasi berbagai keperluan, salah satunya digunakan sebagai katalis asam
melalui reaksi sulfonasi.

Pembuatan dan Karakterisasi


Butiran Katalis Heterogen Kitosan Sulfonat
II-6
Reaksi sulfonasi kitosan dilakukan dengan menggunakan asam
sulfosuksinat sebagai pereaksi. Reaksi yang terjadi adalah reaksi substitusi
elektrofilik, dimana SO2+ yang elektro positif akan diserang oleh pasangan
elektron bebas pada atom oksigen dan nitrogen. Sulfonasi pada kitosan bisa terjadi
pada dua gugus fungsi, yaitu gugus hidroksi bebas dan gugus amina. Namun
kemungkinan yang paling besar adalah sulfonasi pada gugus hidroksi bebas
karena pada suasana asam gugus amina akan terprotonasi. Atom oksigen lebih
elektronegatif bila dibandingkan dengan dengan atom nitrogen pada gugus amina,
sehingga ketika terdapat proton bebas, pasangan elektron dari atom oksigen gugus
hidroksi akan menyerang proton bebas tersebut (Bagus Rahmat & I Gusti Made
Sanjaya, 2009). Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

Gambar II.3 Reaksi Sulfonasi Kitosan dengan Menggunakan Asam


Sulfosuksinat
Sumber: Caetano, C.S, dkk. 2013.

2.3 Karakterisasi Katalis


Untuk mengetahui karakteristik dari katalis heterogen asam, biasanya
dilakukan berbagai macam karakterisasi seperti penentuan kapasitas penukar ion
(Ion Exchange Capacity/IEC), derajat pengembangan (Degree of Swelling/DS),
luas permukaan (Surface Area/SA), dan identifikasi gugus fungsi.

Pembuatan dan Karakterisasi


Butiran Katalis Heterogen Kitosan Sulfonat
II-7
2.3.1 Kapasitas Penukar Ion (Ion Exchange Capacity/IEC)
Dalam suatu katalis terutama katalis asam, keberadaan ion H+
mempengaruhi sifat katalitik dari katalis tersebut. Untuk mengetahui ion H+ yang
ada dalam katalis heterogen dilakukan dengan analisis kapasitas penukar ion.
Kapasitas penukar ion menyatakan nilai kapasitas penukar ion dari polimer
bermuatan atau menyatakan jumlah ion H+ yang terdapat dalam 1 gram sampel
polimer dan dapat ditentukan dengan metode titrasi asam-basa (Zubir, 2007).
Nilai kapasitas penukar ion polimer ditentukan dengan menggunakan metode
titrasi yaitu sejumlah tertentu polimer yang telah ditimbang massanya direndam
dalam larutan asam, basa atau garam tergantung pada sifat gugus fungsinya,
kemudian dititrasi dengan larutan basa atau asam.
Nilai kapasitas penukar ion dinyatakan dalam satuan miliekuivalen per
gram polimer atau sampel (Wan, 2006 dalam Antuni Wiyarsi, dkk,. tt). Berikut ini
rumus untuk penentuan nilai kapasitas penukar ion:

(𝑛0 −𝑛)
IEC (meq/g) = 𝑚

n0 = mol larutan asam tanpa sampel

n = mol larutan asam setelah perendaman sampel

m = massa sampel

2.3.2 Derajat Pengembangan (Degree of Swelling/DS)


Derajat pengembangan menunjukkan seberapa besar rantai polimer dapat
mengembang saat berinteraksi dengan pelarut pada rentang waktu tertentu.
Derajat pengembangan ini berhubungan dengan pelarutan. Pada prinsipnya,
pelarutan terdiri dari dua tahap yaitu swelling (derajat penggembungan) rantai
polimer, dan pelarutan. Pada saat katalis/polimer berinteraksi dengan pelarut pada
rentang waktu tertentu, pelarut akan berdifusi ke dalam katalis dan menyebabkan
pengembangan sehingga memungkinkan mengalami kelarutan dengan jumlah
terbatas dalam pelarut tersebut. Keberadaan gugus hidrofil dalam suatu material

Pembuatan dan Karakterisasi


Butiran Katalis Heterogen Kitosan Sulfonat
II-8
mengakibatkan material tersebut mudah berinteraksi dengan air (Caetano, C.S,
dkk, 2013). Ciri-ciri dari derajat pengembangan adalah terjadinya peningkatan
massa dan volume dari katalis/polimer.
Pengukuran nilai derajat pengembangan polimer cukup penting karena
berkaitan dengan aplikasi polimer. Penentuan derajat pengembangan biasanya
dilakukan dengan cara merendam polimer dalam suatu pelarut selama jangka
waktu tertentu, kemudian menimbang massa polimer sebelum dan sesudah
direndam. Pelarut yang umum digunakan untuk perendaman adalah air dengan
waktu 24 jam. Rumus penentuan derajat pengembangan menurut C.S Caetano
adalah sebagai berikut:
𝑤− 𝑤0
% Derajat Pengembangan = x 100%
𝑤0

Keterangan:

w0 = massa polimer sebelum direndam

w = massa polimer setelah direndam

2.3.3 Luas Permukaan (Surface Area)


Luas permukaan merupakan luasan yang ditempati satu molekul
adsorbat/zat terlarut. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa luas permukaan
merupakan jumlah pori disetiap satuan luas dari sampel dan luas permukaan
spesifiknya merupakan luas permukaan per gram. Luas permukaan dipengaruhi
oleh ukuran partikel/pori, bentuk pori, dan susunan pori dalam partikel
(Sofyanah.tt dalam Martin dkk, 1993).
Untuk mengukur luas permukaan suatu katalis, dilakukan pengujian
dengan menggunakan surface area analyzer (SAA). Dalam pengukurannya
biasanya menggunakan gas nitrogen sebagai adsorbat. Pengukuran luas
permukaan menggunakan teknik adsorpsi fisik dengan prinsip gaya Van der
Walls. Adsorpsi fisik terjadi karena adanya gaya molekuler antara molekul gas
dan padatan katalis yang bersifat reversible. Isoterm kesetimbangan dapat
digambarkan dimana volume yang teradsorpsi diplotkan terhadap P/Po (P=

Pembuatan dan Karakterisasi


Butiran Katalis Heterogen Kitosan Sulfonat
II-9
tekanan; Po= tekanan jenuh pada temperature pengukuran). Model teoritis untuk
menyatakan isotherm keseimbangan dalam adsorpsi adalah model Branauer,
Emmet, Teller yang dikenal sebagai persamaan BET (Lynch,2003).
Dari hasil analisis surface area didapatkan beberapa parameter yaitu
surface area, volume pori, dan diameter pori. Luas permukaan katalis merupakan
salah satu parameter yang penting dalam proses katalitik. Semakin besar luas
permukaan katalis diharapkan semakin besar pula kontak antara substrat dengan
bagian aktif dari katalis. Diameter pori katalis berhubungan dengan ukuran
molekul dari substrat yang dapat masuk kedalam katalis, sedangkan volume pori
berkaitan dengan banyaknya jumlah substrat yang dapat masuk kedalam pori
untuk mengalami proses katalisis.

A. Surface Area Analyzer (SAA)

Surface Area Analyzer (SAA) merupakan salah satu alat dalam


karakterisasi material yang memerlukan sampel dalam jumlah yang kecil biasanya
berkisar 0.1 sampai 0.01 gram. Alat ini khususnya berfungsi untuk menentukan
luas permukaan material, distribusi pori dari material, dan isotherm adsorpsi suatu
gas pada suatu bahan (Gregg, 1982).

Secara garis besar alat Surface Area bekerja berdasarkan metode BET
(Brunauer Emmett- Teller) yaitu adsorpsi dan desorpsi isothermis gas nitrogen
(N2) oleh sampel padatan pada kondisi temperatur nitrogen cair sebagai lapisan
tunggal (monolayer).

B. Prinsip Kerja Surface Area Analyzer (SAA)


Alat ini prinsip kerjanya menggunakan mekanisme adsorpsi gas pada
permukaan suatu bahan padat yang akan dikarakterisasi pada suhu konstan
biasanya suhu didih dari gas tersebut. Gas yang umumnya digunakan adalah
nitrogen, argon dan helium. Alat tersebut pada dasarnya hanya mengukur jumlah
gas yang dapat diserap oleh suatu permukaan padatan pada tekanan dan suhu
tertentu. Secara sederhana, jika kita mengetahui berapa volume gas spesifik yang

Pembuatan dan Karakterisasi


Butiran Katalis Heterogen Kitosan Sulfonat
II-10
dapat diserap oleh suatu permukaan padatan pada suhu dan tekanan tertentu dan
kita mengetahui secara teoritis luas permukaan dari satu molekul gas yang
diserap, maka luas permukaan total padatan tersebut dapat dihitung.

2.4 Identifikasi Gugus Fungsi


Identifikasi gugus fungsi digunakan untuk mengetahui keberadaan suatu
gugus fungsi dalam katalis. Identifikasi gugus fungsi pada katalis ini dilakukan
dengan menggunakan spektrofotometer FTIR.

2.4.1 Spektrofotometer FTIR


Spektroskopi FTIR adalah salah satu teknik pengukuran spektrum infra
merah. Inti-inti atom yang terikat secara kovalen akan mengalami getaran
(vibrasi) atau osilasi. Bila molekul menyerap radiasi infra merah, maka energi
yang diserap tersebut menyebabkan kenaikan amplitudo getaran atom-atom yang
terikat. Energi yang diserap sampel pada berbagai frekuensi sinar infra merah
direkam, kemudian diteruskan ke interferometer. Sinar pengukuran sampel diubah
menjadi interferogram.

Pada dasarnya Spektrofotometer Fourier Transform Infra Red (FTIR)


hampir sama dengan Spektrofotometer Infra Reddispersi (IR), yang
membedakannya adalah pengembangan pada sistem optiknya sebelum berkas
sinar infra merah melewati sampel. Dasar pemikiran dari spektrofotometer FTIR
adalah dari persamaan gelombang yang dirumuskan oleh Baptiste Joseph Fourier
(1768-1830) seorang ahli matematika Perancis. Dari deret fourier tersebut
intensitas gelombang dapat digambarkan sebagai daerah waktu atau frekuensi.
Perubahan gambaran intensitas gelombang radiasi elektromagnetik dari daerah
waktu ke daerah frekuensi atau sebaliknya disebut transfomasi fourier.

a. Prinsip kerja
Mekanisme yang terjadi pada spektrofotometer FTIR yaitu sinar yang
datang dari sumber sinar akan diteruskan dan kemudian akan dipecah oleh

Pembuatan dan Karakterisasi


Butiran Katalis Heterogen Kitosan Sulfonat
II-11
pemecah sinar (monokromator) menjadi dua bagian sinar yang saling tegak lurus.
Sinar ini kemudian dipantulkan oleh dua cermin yaitu cermin diam dan cermin
bergerak. Sinar hasil pantulan kedua cermin akan dipantulkan kembali menuju
pemecah sinar untuk saling berinteraksi. Dari pemecah sinar akan diarahklan
menuju cuplikan dan sebagian menuju sumber. Gerakan cermin yang maju
mundur akan menyebabkan sinar yang sampai pada detektor akan berfluktuasi.
Fluktuasi sinar yang sampai pada detektor ini akan menghasilkan sinyal pada
detektor yang disebut interferogram. Interferogram ini akan diubah menjadi
spektra IR dengan bantuan komputer berdasarkan operasi matematika.

b. Komponen Spektrofotometer FTIR


Komponen spektrofotometer Fourier Transform infra Red (FTIR) terdiri
dari lima bagian pokok yaitu sumber radiasi, wadah sampel, Interferometer,
detektor, dan rekoder.

Gambar II.4 Spektrofotometer FTIR


Sumber: digilib.itb.ac.id/files
 Sumber Radiasi
Radiasi infra merah dihasilkan dari pemanasan suatu sumber radiasi
dengan listrik sampai suhu antara 1500 dan 2000k. Sumber radiasi yang biasa
digunakan berupa Nemst Glower, Globar, dan kawat nichrom.
 Wadah sampel
Wadah sampel pada spektrofotometer FTIR adalah suatu sel kaca atau
kuarsa untuk menaruh cairan ke dalam berkas cahaya spektrofotometer. Sel itu
harus dapat meneruskan energi cahaya dalam daerah spektrum yang

Pembuatan dan Karakterisasi


Butiran Katalis Heterogen Kitosan Sulfonat
II-12
diinginkan. Sel-sel tersebut lebih baik bila permukaan optisnya datar. Sel-sel
harus diisi sedemikian rupa sehingga berkas cahaya menembus larutan, dengan
meniscus terletak seluruhnya diatas berkas. Umumnya sel-sel ditahan pada
posisinya dengan desain kinematik dari pemegangnya atau dengan jepitan
berpegas yang memastikan bahwa posisi tabung dalam ruang sel dari
instrument itu reprodusibel.

 Interferometer
Merupakan bagian utama dari FTIR yan berfungsi untuk membentuk
interferogram yang akan diteruskan menuju detektor. Pada sistem optik Fourier
Transform Infra Red digunakan radiasi LASER (Light Amplification by
Stimulated Emmission of Radiation) yang berfungsi sebagai radiasi yang
diinterferensikan dengan radiasi infra merah agar sinyal radiasi infra
merah yang diterima oleh detektor secara utuh dan lebih baik.
 Detektor
Detektor dapat memberikan respons terhadap radiasi pada berbagai
panjang gelombang.
Macam-macam detector yang sering digunakan adalah sebagai berikut:
a) Termokopel, digunakan pada pabrik operasi kontinyu
b) Bolometer
c) Fitikonduktif meter
d) Golay detektor
 Recorder
Signal yang dihasilkan dari detektor kemudian direkam sebagai spektrum
infra merah yang berbentuk puncak-puncak absorpsi. Spektrum infra merah
ini menunjukkan hubungan antara absorpsi dan frekuensi/bilangan
gelombang. Sebagai absis dan frekuensi dan sebagai ordinat adalah
transmitan/absorbans.

Pembuatan dan Karakterisasi


Butiran Katalis Heterogen Kitosan Sulfonat
II-13
Tabel II.3 Pita Serapan Radiasi Infra Merah

Gugus Senyawa Frekuensi Lingkungan Nama


(cm-1) Spektral cm-1 Lingkungan
(µ)
OH Alkohol 3580-3650 3333-3704
Asam 2500-2700 2,7-3,0 µ
NH Amina primer -3500 2857-3333 Lingkungan
dan sekunder 3310-3500 (3,0-3,5 µ) vibrasi ulur
Amida 3140-3320 hidrogen
CH Alkuna 3300
Alkena 3010-3095
Aromatik -3030
Alkana 2853-2962
Aldehida 2700-2900 2500-2857
(4,0-4,5 µ)
SH Sulfur 2500-2700
C≡C Alkuna 2190-2260
C≡N Alkilnitril 2240-2260 2222-2500 Lingkungan
(4,0-4,5 µ) ikatan ganda
tiga
Iosianat 2240-2275
Arilnitril 2220-2240
-N=C=N Dimida 2130-2155 2000-2222
(5,5-6,0 µ)
-N3 Azida 2120-2160
>CO Aldehid 1720-1740 (818-2000)
(5,5-6,0 µ)
Keton 1675-1725
Asam 1700-1725
karboksilat 2000-2300
Ester 1755-1850 1667-1818 Lingkungan
Asilhalida (6,0-6,5 µ) ikatan ganda
dua
CN Amida 1670-1700
Oksim 1640-1690
CO Β-diketon 1540-1640
C=O Ester 1650
C=C Alkena 1620-1680
N-H(b) Amina 1575-1650
-N=N- Azo 1575-1630 1538-1667 Daerah sidik
(6,5-7,5 µ) jari
-C-NO2 Nitro 1550-1570 1538-1667
-C-NO2 Nitro 1300-1570
aromatik
C-O-C Eter 1230-1270 1053-1333

Pembuatan dan Karakterisasi


Butiran Katalis Heterogen Kitosan Sulfonat
II-14
(7,5 -9,5 µ)
-(CH2)n Senyawa lain -722 666-900
(11-15,0 µ)

Silverstein, Bassler, and Morril. 1986

Pembuatan dan Karakterisasi


Butiran Katalis Heterogen Kitosan Sulfonat
II-15