You are on page 1of 22

1.2.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat ditarik suatu masalah yang
berkaitan dengan:
1. Bagaimana patofisiologi penyakit peneumonia
2. Apa penyebab terjadinya penyakit peneumonia pada anak

1.3. Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan makalah ini yakni, untuk menyelesaikan tugas
kelompok dan menjawab rumusan masalah di atas.

1.4. Manfaat Penulisan Makalah


1. Diharapkan makalah ini dapat menambah pengetahuan dan keterampilan
kelompok dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan
pneumonia.
2. Menambah pengetahuan dan wawasan bagi pembaca.
3. Sebagai sumber referensi bagi pembaca mengenai Pneumonia.

Setelah di atas BAB II, sambungannya di bawah.

Page | 1
2. Berdasarkan Bakteri Penyebab
a. Pneumonia Bakteri/Tipikal
Dapat terjadi pada semua usia. Pneumonia bakterial sering diistilahkan
dengan pneumonia akibat kuman. Pneumonia jenis itu bisa menyerang siapa
saja, dari bayi hingga mereka yang telah lanjut usia. Para peminum alkohol,
pasien yang terkebelakang mental, pasien pascaoperasi, orang yang menderita
penyakit pernapasan lain atau infeksi virus adalah yang mempunyai sistem
kekebalan tubuh rendah dan menjadi sangat rentan terhadap penyakit itu.
Pada saat pertahanan tubuh menurun, misalnya karena penyakit, usia
lanjut, dan malnutrisi, bakteri pneumonia akan dengan cepat berkembang biak
dan merusak paru-paru. Jika terjadi infeksi, sebagian jaringan dari lobus paru-
paru, atau pun seluruh lobus, bahkan sebagian besar dari lima lobus paru-paru
(tiga di paru-paru kanan, dan dua di paru-paru kiri) menjadi terisi cairan. Dari
jaringan paru-paru, infeksi dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh melalui
peredaran darah. Bakteri Pneumokokus adalah kuman yang paling umum
sebagai penyebab pneumonia bakteri tersebut. Gejalanya Biasanya pneumonia
bakteri itu didahului dengan infeksi saluran napas yang ringan satu minggu
sebelumnya. Misalnya, karena infeksi virus (flu). Infeksi virus pada saluran
pernapasan dapat mengakibatkan pneumonia disebabkan mukus (cairan/lendir)
yang mengandung pneumokokus dapat terisap masuk ke dalam paru-paru
(Soeparman, dkk, 1998, Hal 697).
Beberapa bakteri mempunyai tendensi menyerang seseorang yang peka,
misalnya klebsiella pada penderita alkoholik, staphyllococcus pada penderita
pasca infeksi influenza. Pneumonia Atipikal. Disebabkan mycoplasma,
legionella, dan chalamydia (Soeparman, dkk, 1998, Hal 697).

b. Pneumonia Akibat Virus


Penyebab utama pneumonia virus adalah virus influenza (bedakan
dengan bakteri hemofilus influenza yang bukan penyebab penyakit influenza,
tetapi bisa menyebabkan pneumonia juga). Gejalanya Gejala awal dari
pneumonia akibat virus sama seperti gejala influenza, yaitu demam, batuk

Page | 2
kering, sakit kepala, nyeri otot, dan kelemahan. Dalam 12 hingga 36 jam
penderita menjadi sesak, batuk lebih parah, dan berlendir sedikit. Terdapat
panas tinggi disertai membirunya bibir. Tipe pneumonia itu bisa ditumpangi
dengan infeksi pneumonia karena bakteri. Hal itu yang disebut dengan
superinfeksi bakterial. Salah satu tanda terjadi superinfeksi bakterial adalah
keluarnya lendir yang kental dan berwarna hijau atau merah tua (S. A. Price,
2005, Hal 804-814).
3. Berdasarkan Pedileksi Infeksi
a. Pneumonia lobaris, pneumonia yang terjadi pada satu lobus (percabangan besar
dari pohon bronkus) baik kanan maupun kiri.
b. Pneumonia bronkopneumonia
Pneumonia yang ditandai bercak-bercak infeksi pada berbagai tempat di
paru. Bisa kanan maupun kiri yang disebabkan virus atau bakteri dan sering
terjadi pada bayi atau orang tua. Pada penderita pneumonia, kantong udara
paru-paru penuh dengan nanah dan cairan yang lain. Dengan demikian, fungsi
paru-paru, yaitu menyerap udara bersih (oksigen) dan mengeluarkan udara
kotor menjadi terganggu. Akibatnya, tubuh menderita kekurangan oksigen
dengan segala konsekuensinya, misalnya menjadi lebih mudah terinfeksi oleh
baktetieri lain (super infeksi) dan sebagainya. Jika demikian keadaannya, tentu
tambah sukar penyembuhannya. Penyebab penyakit pada kondisi demikian
sudah beraneka macam dan bisa terjadi infeksi yang seluruh tubuh. (S. A.
Price, 2005, Hal 804-814).

2.2. Etiologi
Penyebab Pneumonia adalah streptococus pneumonia dan haemophillus
influenzae. Pada bayi dan anak kecil ditemukan staphylococcus aureus sebagai
penyebab pneumonia yang berat, dan sangat profesif dengan mortalitas tinggi.
(Arif mansjoer, dkk, Hal 466).
1. Bakteri: stapilokokus, streplokokus, aeruginosa, eneterobacter
2. Virus: virus influenza, adenovirus
3. Micoplasma pneumonia.

Page | 3
2.3. Patofisiologi
Sebagian besar pneumonia didapat melalui aspirasi partikel infektif. Ada
beberapa mekanisme yang pada keadaan normal melindungi paru dari infeksi.
Partikel infeksius difiltrasi di hidung, atau terperangkap dan dibersihkan oleh
mukus dan epitel bersilia di saluran napas. Bila suatu partikel dapat mencapai
paru-paru, partikel tersebut akan berhadapan dengan makrofag alveoler, dan juga
dengan mekanisme imun sistemik, dan humoral. Bayi pada bulan-bulan pertama
kehidupan juga memiliki antibodi maternal yang didapat secara pasif yang dapat
melindunginya dari pneumokokus dan organisme-organisme infeksius lainnya.
Perubahan pada mekanisme protektif ini dapat menyebabkan anak mudah
mengalami pneumonia misalnya pada kelainan anatomis kongenital, defisiensi
imun didapat atau kongenital, atau kelainan neurologis yang memudahkan anak
mengalami aspirasi dan perubahan kualitas sekresi mukus atau epitel saluran
napas. Pada anak tanpa faktor-faktor predisposisi tersebut, partikel infeksius dapat
mencapai paru melalui perubahan pada pertahanan anatomis dan fisiologis yang
normal. Ini paling sering terjadi akibat virus pada saluran napas bagian atas.
Virus tersebut dapat menyebar ke saluran napas bagian bawah dan
menyebabkan pneumonia virus. Kemungkinan lain, kerusakan yang disebabkan
virus terhadap mekanisme pertahan yang normal dapat menyebabkan bakteri
patogen menginfeksi saluran napas bagian bawah.
Bakteri ini dapat merupakan organisme yang pada keadaan normal
berkolonisasi di saluran napas atas atau bakteri yang ditransmisikan dari satu
orang ke orang lain melalui penyebaran droplet di udara. Kadang-kadang
pneumonia bakterialis dan virus ( contoh: varisella, campak, rubella, CMV, virus
Epstein-Barr, virus herpes simpleks ) dapat terjadi melalui penyebaran hematogen
baik dari sumber terlokalisir atau bakteremia/viremia generalisata. Setelah
mencapai parenkim paru, bakteri menyebabkan respons inflamasi akut yang
meliputi eksudasi cairan, deposit fibrin, dan infiltrasi leukosit polimorfonuklear di
alveoli yang diikuti infitrasi makrofag. Cairan eksudatif di alveoli menyebabkan
konsolidasi lobaris yang khas pada foto toraks. Virus, mikoplasma, dan klamidia
menyebabkan inflamasi dengan dominasi infiltrat mononuklear pada struktur

Page | 4
submukosa dan interstisial. Hal ini menyebabkan lepasnya sel-sel epitel ke dalam
saluran napas, seperti yang terjadi pada bronkiolitis (S. A. Price, 2005, Hal 804-
814).

2.4. Manifestasi Klinik


Secara umum dapat dibagi menjadi:
a. Manifestasi non spesifik infeksi dan toksisitas berupa demam (39,5 ºC sampai
40,5 ºC). , sakit kepala, iritabel, gelisah, malaise, nafsu makan kurang
keluhan gastrointestinal.
b. Gejala umum saluran pernapasan bawah berupa batuk, takipnuea (25 – 45
kali/menit), ekspektorasi sputum, nafas cuping hidung, sesak napas, air
hinger, merintih, sianosis. Anak yang lebih besar dengan pneumonia akan
lebih suka berbaring pada sisi yang sakit dengan lutut tertekuk karena nyeri
dada.
c. Tanda pneumonia berupa retraksi (penarikan dinding dada bawah kedalam
saat bernapas bersama dengan peningkatan frekuensi napas), perkusi pekak,
fremitus melemah, suara napas melemah, dan ronki.
d. Tanda efusi pleura atau empiema, berupa gerak ekskusi dada tertinggal di
daerah efusi, perkusi pekak, fremitus melemah, suara napas melemah, suara
napas tubuler tepat di atas batas cairan, friction rup, nyeri dada karena iritasi
pleura (nyeri bekurang bila efusi bertambah dan berubah menjadi nyeri
tumpul), kaku duduk / meningimus (iritasi menigen tanpa inflamasi) bila
terdaat iritasi pleura lobus atas, nyeri abdomen (kadang terjadi bila iritasi
mengenai diafragma pada pneumonia lobus kanan bawah).
e. Pada neonatus dan bayi kecil tanda pneumonia tidak selalu jelas. Efusi pleura
pada bayi akan menimbulkan pekak perkusi.
f. Tanda infeksi ekstrapulmonal.
( Arif mansjoer, dkk, 2001, Hal 466).

Page | 5
2.5. Pemeriksaan Penunjang
Sinar X: mengidentifikasikan distribusi struktural (misal: lobar, bronchial);
dapat juga menyatakan abses) luas /infiltrasi, empiema (stapilococcos), infiltrasi
menyebar atau terlokalisasi (bakterial), atau penyebaran/perluasan infiltrasi nodul
(lebih sering virus). Pada pneumonia mikoplasma, sinar x dada mungkin bersih.
GDA/nadi oksimetris : tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas
paru yang terlibat dan penyakit paru yang ada.
Pemeriksaan gram/kultur, sputum dan darah: untuk dapat diambil biosi
jarum, aspirasi transtrakea, bronkoskofi fiberobtik atau biosi pembukaan paru
untuk mengatasi organisme penyebeb. Lebih dari satu organise ada : bekteri yang
umum meliputi diplococcos pneumonia, stapilococcos, aures A.-hemolik
strepcoccos, hemophlus influenza : CMV. Catatan : keluar sekutum tak dapat di
identifikasikan semua organisme yang ada. Kultur darah dapat menunjukan
bakteremia semtara.
JDL : leokositosis biasanya ada, meskipun sel darah putih rendah terjadi
pada infeksi virus, kondisi tekanan imun seperti AIDS, memungkinkan
berkembangnya pneumonia bakterial.
Pemeriksaan serologi: mis, titer virus atau legionella,aglutinin dingin.
membantu dalam membedakan diagnosis organisme khusus.
Pemeriksaan fungsi paru: volume mungkin menurun (kongesti dan kolaps
alveolar); tekanan jalan nafas mungkin meningkat dan komplain. Mungkin terjadi
perembesan (hipoksemia).
Elektrolit : Natrium dan Klorida mungkin rendah.
Bilirubin : Mungkin meningkat.
Aspirasi perkutan / biopsi jaringan paru terbuka : dapat menyatakan jaringan
intra nuklear tipikal dan keterlibatan sitoplasmik (CMP ; kareteristik sel
rekayasa(rubela))
(Marlyn E. Dongoes, 1999, ASKEP, Hal 164-174).

2.6. Penatalaksanaan
1. Oksigen 1-2 L / menit

Page | 6
2. IVFD (Intra Venous Fluid Drug)/ (pemberian obat melalui intra vena)
dekstrose 10 % : NaCl 0,9 % = 3 : 1, + KCL 10 mEq / 500 ml cairan. Jumlah
cairan sesuai dengan berat badan, kenaikan suhu, dan status hidrasi.
3. Jika sesak tidak terlalu hebat, dapat dimulai dengan makanan entral bertahap
melalui selang nasogastrik dengan feding drip.
4. Jika sekresi lendir berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan salin normal
dan beta agonis untuk memperbaiki transpormukosilier.
5. Koreksi gangguan keseimbangan asam - basa dan elektrolit.
6. Antibiotik sesuai hasil biakan atau berikan :
Untuk kasus pneumonia komuniti base:
- Ampicilin 100 mg / kg BB / hari dalam 4 hari pemberian
- Kloramfenicol 75 mg / kg BB / hari dalam 4 hari pemberian
Untuk kasus pneumonia hospital base :
- Sevotaksim 100 mg / kg BB / hari dalam 2 kali pemberian
- Amikasim 10 - 15 mg / kg BB / hari dalam 2 kali pemberian.
( Arif mansjoer, dkk, 2001, Hal 468).

2.7. Komplikasi pneumonia


Abses kulit, abses jaringan lunak, otitis media, sinus sitis, meningitis
pururental, perikarditis dan epiglotis kaang ditemukan pada infeksi H. Influenzae
tipe B. (Arif mansjoer, 2001, Hal 467).

2.8. Pencegahan dan Faktor Risiko


Dengan mempunyai pengetahuan tentang faktor-faktor dan setuasi yang
umumnya menjadi redispredisposisi individu terhadap pnumonia akan membantu
untuk mengidentifikasi psien-pasien yang beresiko terhadap pneumonia. Tindakan
preventif memberikan perawatan antisipatif dan preventif adalah tindakan
perawatan yang penting(Suzanne C. Smeltzer,dkk , Hal 573).
 Setiap kondisi yang menghasilkan lendir atau obstruksi bronkial dan
mengganggu draniase normal paru menahun (PPOM) meningkat kerentanan

Page | 7
pasien terhadap pneumonia. Tindakan preventif :tingkankan batuk dan
pengaluaran sekresi.
 Pasien imunosupresif dan mereka dengan jumlah neutrofi rendah (neutropeni)
adalah mereka yang berisik. Tindakan preventif : lakukan tindak kewaspadaan
khusus terhadap infeksi.
 IndIvidu yang merokok berisik, kerena asap rokok mengganggu baik aktifitas
mukosiliari dan makrofag. Tindaka preventif : ajurkan individu untuk berhenti
merokok.
 Setiap pasien yang diperbolehakan berbaring secara pasif di tempat tidur dalam
waktu yang lama yang secara relatif imobil dan bernafas dangkal berisiko
terhadap bronkopneumonia. Tinadakan preventif : sering mengubah posisi.
 Setiap individu yang mengalami depresi reflek batuk (karna medikasi, keadaan
yang melemahkan atau otot-otot pernafasan lemah), telah mengaspirasi benda
asing ke dalam paru-paru selama periode tidak sadar (cedera kepala,anestesia),
atau mempunyai mekanisme menelan abnormal adalah mereka yang hampir
pasti mengalami bronkopneumonia. Tindakan preventif : penghisan
trakeobronkial, sering mengubah posisi, bijakan dalam memberikan obat-obat
yang meningkatkan resiko aspirasi dan terafi fisik dada.
 Setiap pasien yang dirawat dengan regimen NPO (dipuasakan) atau mereka
yang mendapat antibiotik mengalami peningkatan kolonisasi organisme faring
dan berisiko. Tindakan preventif : tingakan higiene oral yang teratur.
 Individu yang sering mengalami intoksikasi terutama rentan terhadap
pneumonia, karna alkohol menekan reflek-reflek tubuh, mobolisasi sel darah
putih dan gerakan siliaris trakeaobronkial. Tindakan preventif : bikan dorong
kepada individu untuk mengurangi masukan alkohol.
 Setiap individu yang menerima sedatif atau opioid dapat mengalami
pernafasan, ynga mencetuskan pengumpulan sekresi bronkial dan selanjutnya
mengalami pneumonia. Tindakan preventif : observasi fekuensi pernapasan
dan ke dalam pernafasan sebelum memberikan. Jika tampak depresi
pernapasan, tunds pemberian obat dan laporkan masalah ini.

Page | 8
 Pasien yang tidak sadar atau mempunyai reflek batuk dan menelan buruk adlah
mereka yang berisiko terhadap pneumonoia akibat penumpukan seksesi atau
aspirasi. Tindakan preventif : sering melakukan .
 Individu lansia terutama mereka yang rentan pneumonia karna refleksi batuk.
Pneumonia paskaoperatif seharusnyadapat diperkirakan terjadi pada lansia.
Tndakan prepentif : sering mobolisasi, dan batuk efekif dan latihan pernapasan
 Setiap orang meneriama pengobatan terapi pernasapan dapat mengalami
pneumonia jika peralatan tersebit tidak dibersikan dengan tepat. Tindakan
preventif : pastiakn bahwa peralatan pernapasan telah di bersikan dengan tepat.
(Suzanne C. Smeltzer,dkk , Hal 573).

2.9. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Identitas Klien
Lakukan pengkajian pada identitas pasien dan isi identitasnya, yang
meliputi: nama, jenis kelamin, suku bangsa, tanggal lahir, alamat, agama,
tanggal pengkajian.
2. Keluhan Utama
Sering menjadi alasaan klein untuk meminta pertolongan kesehatan
adalah Sesak napas, batuk berdahak, demam, sakit kepala, ny dan kelemahan
3. Riwayat Kesehatan Sekarang (RKS)
Penderita pneumonia menampakkan gejala nyeri, sesak napas, batuk
dengan dahak yang kental dan sulit dikeluarkan, badan lemah, ujung jari terasa
dingin.
4. Riwayat Kesehatan Terdahulu (RKD)
Penyakit yang pernah dialami oleh pasien sebelum masuk rumah sakit,
kemungkinan pasien pernah menderita penyakit sebelumnya seperti : asthma,
alergi terhadap makanan, debu, TB dan riwayat merokok.
5. Riwayat Kesehatan Keluarga (RKK)
Riwayat adanya penyakit pneumonia pada anggota keluarga yang lain
seperti : TB, Asthma, ISPA dan lain-lain.

Page | 9
6. Data Dasar Pengkajian Pasien
a. Aktivitas/istirahat
Gejala : kelemahan, kelelahan, insomnia
Tanda : letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas.
b. Sirkulasi
Gejala : riwayat adanya /GJK kronis
Tanda : takikardia, penampilan kemerahan, atau pucat
c. Makanan/cairan
Gejala : kehilangan nafsu makan, mual, muntah, riwayat diabetes mellitus
Tanda : sistensi abdomen, kulit kering dengan turgor buruk, penampilan
kakeksia
(malnutrisi), hiperaktif bunyi usus.
d. Neurosensori
Gejala : sakit kepala daerah frontal (influenza)
Tanda : perubahan mental (bingung, somnolen)
e. Nyeri/kenyamanan
Gejala : sakit kepala, nyeri dada (meningkat oleh batuk), imralgia, artralgia,
nyeri dada substernal (influenza).
Tanda : melindungi area yang sakit (tidur pada sisi yang sakit untuk
membatasi gerakan).
f. Pernafasan
Gejala : adanya riwayat ISK kronis, takipnea (sesak nafas), dispnea, takipnue,
dispnenia progresif, pernapasan dangkal, penggunaan otot aksesori, pelebaran
nasal.
Tanda :
o Sputum: merah muda, berkarat atau purulen.
o Perkusi: pekak datar area yang konsolidasi.
o Premikus: taksil dan vocal bertahap meningkat dengan konsolidasi
o Gesekan friksi pleural.
o Bunyi nafas menurun tidak ada lagi area yang terlibat, atau napas bronkial.
o Warna: pucat/sianosis bibir dan kuku.

Page | 10
g. Keamanan
Gejala : riwayat gangguan sistem imun, misal SLE,AIDS, penggunaan
steroid, kemoterapi, institusionalitasi, ketidak mampuan umum, demam.
Tanda : berkeringat, menggigil berulang, gemetar, kemerahan mungkin ada
pada kasus rubeola, atau varisela.
h. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : riwayat mengalami pembedahan, penggunaan alkohol kronis
Pertimbangan DRG menunjukkan rerata lama - lama dirawat 6 – 8 hari
Rencana pemulangan: bantuan dengan perawatan diri, tugas pemeliharaan
rumah. Oksigen mungkin diperlukan, bila ada kondisi pencetus.
i. Proritas Keperawatan
1. Mempertahankan/memperbaiki fungsi pernafasan
2. Mencegah komplikasi
3. Mendukung proses penyembuhan
4.Memberikan informasi tentang proses penyakit/prognosis dan pengobatan.

2.10. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul


1. Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea
bronchial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan kapasitas pembawa
oksigen darah.
3. Nyeri (akut) berhubungan dengan inflamasi parenkim paru, batuk menetap.
4. Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses
infeksi.

Setelah di atas BAB III, sambungannya di bawah.

Page | 11
No Data Etiologi Masalah
1. DS: Inflamasi trakeo Bersihan Jalan nafas
- Klien mengatakan batuk berdahak dan bronkial dan tidak efektif
sesak napas farenkim paru,
- Klien mengatakan batuk dengan dahak pembentukkan
yang kental dan sulit untuk dikeluarkan edema dan
- Klien mengatakan dahaknya terasa peningkatan
lengket di tengorokkan produksi sputum.
- Klien Mengatakan Kesulitan bernapas
DO:
- Klien tampak kesulitan bernapas
- TTV:
o TD: 130/90 mmHg
o N : 12X/i
o RR : 32x /i
- Pernafasan Cuping Hidung
- Takipnea (+)
- Dispnea (+)
- Pernafasan dangkal
- Penggunaan otot bantu pernafasan (+)
- Perfusi paru redup
- Premetus menurun pada kedua paru
- Bunyi nafas bronkial, kreleks (+),
stridor (+)
- Hasil Rontgen : menunjukkan infiltrasi
lobaris
- Pemeriksaan seputum : ditemukan
kuman stapilococcus aureus dan
diplococcus pneumonia
2. DS: Inflamasi parenkim Nyeri

Page | 12
- Klien mengatakan nyeri dada paru, reaksi seluler
- Klien mengatakan sakit kepala terhadap sirkulasi
- Klien mengatakan sendi nyeri toksin dan batuk
DO: menetap.
- Klien tampak gelisah
- Klien tampak meringis kesakitan akibat
nyeri
- Klien tampak memegang di daerah dada
dan melindungi daerah yang sakit
- TTV:
o TD : 130/90 mmhgs
o N : 120x/i
o RR : 32x /i
- Akral dingin
- Kuku pucat dan sedikit sianosis
- Mukosa bibir kering dan pucat
- Kapilary reffill kembali dalam 5 detik
- Takipnea (+)

3. DS: Anoreksia, akibat Perubahan nutrisi kurang


- Klien mengatakan batuk berdahak toksin bakteri, bau dari kebutuhan tubuh
- Klien mengatakan dahaknya terasa dan rasa sputum
lengket ditenggorokkan
- Klien mengatakan tidak nafsu makan dan
hanya mampu menghabiskan ½ porsi
setiap kali makan (pagi,siang dan malam)
- Klien mengatakan mual
- Klien mengatakan berat badan turun 4 Kg
dari 65 Kg menjadi 64 Kg
- Klien mengatakan lemah

Page | 13
DO:
- Klien tampak mengeluarkan sputum saat
batuk
- Klien tampak lemah
- Klien tampak hanya mampu
mengabiskan makanan ½ porsi setiap kali
makan
- Kulit klien tampak kering
- Turgor kulit buruk
- Mukosa bibir klien kering
- Hb : 10 gr / dl
- Protein total : 5,86 gr / dl
- Albumin 3,00 gr / dl
- BB : 61 kg
- TTV:
o TD : 130/90 mmhgs
o N : 120 x/i
o RR : 32x /i
- Akral dingin
- Kuku pucat dan sedikit sianosis
- Mukosa bibir kering dan pucat
- Kapilary reffill kembali dalam 5 detik
- Takipnea (+)

Asuhan Keperwatan (Nurse Care Planing / NCP)


No Diagnosa Tujuan Kriteria Intervensi Rasional
Keperawatan Hasil
1. Bersihan jalan Setelah - Batuk efektif Mandiri : Takipnue pernafasan
nafas tak dilakukan - Nafas Kaji dangkal dan gerakan

Page | 14
efektif intervensi normal frekuensi/kedalaman dada tak simetris
berhubungan keperawatan - Bunyi
pernapasan dan sering terjadi karena
dengan selama 3 x 24 nafas bersih gerakan dada. ketidak nyamanan.
inflamasi jam, diharapkan
- Sianosis Simetris yang sering
trachea jalan nafas TTV : DBN : terjadi karena
bronchial, kembali efektif o TD : 120- ketidaknyamanan
peningkatan 130/80-90 2. Auskultasi area gerakan dinding dada
produksi mmhg paru, catat area dan/ atau cairan paru.
sputum o N : 60-100 x/i penurunan/tak ada
2. Penurunan aliran
o RR : 16-24 x/i aliran udara dan udara terjadi pada area
bunyi napas konsolidasi dengan
adventisius, mis, cairan. Bunyi napas
krekels, mengi bronkial (normal pada
stridor. bronkus) dapat juga
terjadi pada area
konsilidasi. Krekel,
ronki, dan mengi
terdengar pada
3. Bantu pasien inspirasi dan/atau
latih napas sering ekpirasi pada respon
Tunjukan/bantu terhadap pengumpulan
pasien mempelajari cairan, sekret kental,
melakukan batuk, dan spesme jalan
mis., menekan dada napas/obstruksi.
dan batuk efektif
3. Merangsang batuk
sementara posisi atau pembersihan
duduk tinggi. nafas secara mekanik
4. Penghisapan pada pasien yang tidak
sesuai indikasi. mampu melakukan
karena batuk tak
5. Berikan cairan efektif atau penurunan

Page | 15
paling sedikit 2500 tingkat kesadaran.
ml/hari (Kecuali
kontra indikasi).
4. Cairan (khususnya
Tawarkan air yang hangat)
hangat, daripada air memobilisasi dan
dingin. mengeluarkan sekret
Kolaborasi : 5. Cairan (khususnya
6. Berikan obat yang hangat)
sesuai indikasi: memobilisasi dan
mukolitik, mengeluarkan sekret.
ekspektoran,
bronkodolator,
analgesik.
6. Alat untuk
menurunkan spasme
bronkus dengan
mobilisasi sekret,
7. Berikan cairan analgetik diberikan
tambahan misalnya untuk memperbaiki
: Intravena,oksigen batuk dengan
humidifikasi, dan menurunkan
ruang humidifikasi. ketidaknyamanan
8. Awasi sinar X tetapi harus digunakan
dada, GDA, nadi secara hati-hati,
oksimetri. karena dapat
menurunkan upaya
9. Bantu batuk/menekan
bronkostropi / pernafasan.
toresentesis bila
7. Cairan diperlukan
diindikasikan. untuk mengganti
kehilangan dan

Page | 16
memobilisasi sekret.

8. Mengevaluasikan
kemajuan dan efek
proses penyakit dan
memudahkan
pemilihan terapi yang
diperlukan.
9. Kadang-kadang
diperlukan untuk
membuang
perlengketan mukosa.
Mengeluarkan sekresi
purulen, mencegah
atelektasis.

2. Nyeri Nyeri o Dispenea dan Mandiri :


berhubungan berhubungan takipnea 1. Tentukan
1. Nyeri dada biasanya
dengan dengan tidak ada karakteristik nyeri, ada dalam beberapa
inflamasi inflamasi o Kesulitan misalnya : tajam, derajat pada
parenkim paru, parenkim paru, bernafas konstan, selidiki peneumonia,juga
reaksi seluler reaksi seluler tidak ada perubahan karakter dapat timbul
terhadap terhadap o Akral hangat / lokasi nyeri dan komplikasi pneumonia
sirkulasi toksin sirkulasi toksin sianosis ditusuk. seperti perikarditis
dan batuk dan batuk o Kapilari refile dan indokarditis.
menetap. menetap. kembali 2. Pantau tanda
dalam 2-3 vital. 2. perubahan frekuensi
detik jantung atau TD
o Gelisah tidak menunjukkan bahwa

Page | 17
ada pasien mengalami
o Penurunan
3. Berikan tindakan nyeri, khususnya bila
kesadaran nyaman misalnya, alasan lain untuk
tidak ada pijatan punggung, perubahan tanda vital
o Pucat dan perubahan posisi, telah terlihat.
sianosis tidak musik tenang,
3. tindakan non
ada relaksasi atau analgesik diberikan
o TTV : DBN : latihan napas. dengan sentuhan
- TD : 120-
4. Tawarkan lembut dapat
130/80-90 pembersihan mulut menghilangkan
mmhg dengan sering. ketidak nyamanan dan
- N : 60- memperbesar efek
100 x/i terapi analgesik.
- RR : 16-
5. Anjurkan dan
4. Pernapasan mulut
24 x/i bantu pasien dalam dan terapi oksigen
o Hb : 14-18 teknik menekan dapat mengiritasi dan
gr/dl dada selama mengeringkan
o AGD : DBN : episode batuk. membran mukosa,
- Ph : 7,35- potensial ketidak
7,45 Kolaborasi : nyamanan umum.
- PCO2 6.: Berikan analgesik
35-45 mmhg dan atitusip sesuai
5. Alat untuk
- HCO3 : indikasi. menontorl ketidak
22-28 mEq/L nymanan dada
sementara
meningkatkan
keefektifan upaya
batuk.

6. Obat ini digunakan

Page | 18
untuk menekan batuk
non produktif atau
proksismal atau
menurunkan mukosa
berlebihan,
meningkatkan
kenyamanan atau
istirahat umun.

3. Perubahan Setelah - Mual dan Mandiri :


nutrisi kurang dilakuakn muntah tidak
1. Identifikasi faktor
1. Pilihan intervensi
dari kebutuhan intervensi ada yang menimbulkan terganggung pada
tubuh keperawatan - BB stabil mual atau muntah penyebab masalah.u
berhubungan selama 3 x 24 / tidak turun misalnya: sputum kebersihanmulut
dengan jan, diharapkan atau tidak banyak, setelah muntah,
anoreksia, kebutuhan naik. pengobatan setelah tindakan
akibat toksin nutrisi dapat
- Mukosa aerosol, dispenea aerosol dan drainase
bakteri dan terpenuhi. bibir lembab. berat, nyeri. postur sebelem maka.
rasa sputum . - Turgor
2. Berikan wadah
kulit elastis. tertutup untuk
2. Menghilangkan
- sputum dan buang tanda bahaya, rasa
Peningkatan sesering mungkin. bau, dari lingkungan
nafsu makan. Berikan atau bantu. pasien dan dapat
- Nilai Lab
3. Jadwalkan menurunkan mual.
: DBN : pengobatan 3. Menurunkan efek
* Hb : 14-18 pernapasan mual yang
gr/dl sedikitnya 1 jam berhubungan dengan
* Albumin : sebelum makan. pengobatan ini.
3,5-5,5 gr/dl4. Auskultasi bunyi
4. Bunyi usus mungkin
*Protein total : usus. Observasi menurun / tak ada bila
6,0-8,0 gr/dl atau palpasi proses infeksi

Page | 19
distensi abdomen. memanjang. Distensi
abdomen terjadi
sebagai akibat
menelan udara atau
5. Berikan makan menunjukkan
dengan pori kecil pengaruh toksin,
dan sring termasuk bakteri pada saluran
dengan makan GI.
kering ( roti
5. Tindakan ini dapat
panggang ) dan meningkatka
makanan yang masukkan meskipun
menarik untuk nafsu makan mungkin
pasien. lambat untuk kembali.
6. Evaluasi status
nutrisi umum,
ukuran berat badan
6. Adanya kondisi
dasar. kronis ( PPOM atau
alkoholisme ) atau
keterbatasan keuangan
dapat menimbulkan
malnutrisi, rendahnya
tahanan terhadap
innfeksi lambatnya
respon terhadap terapi.

Page | 20
 CONTOH SOAL KASUS
1. Manakah yang termaksud penyebab pneumonia, jika dilihat dari bakteri
penyebabnya...
a. Para influenza
b. Adenovirus
c. Pneumocytis
d. Streptokokus Pneumonia
e. Semua Benar

2. Manakah yang termaksud manifestasi non spesifik infeksi dan toksisitas...


a. Batuk
b. Nyeri dada
c. Sesak nafas
d. takipnuea (25 – 45 kali/menit)
e. demam (39,5 ºC sampai 40,5 ºC).

Setelah di atas BAB IV,

Page | 21
DAFTAR PUSTAKA

Arief Mansjoer. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1. EGC : Jakarta.


Bare Brenda G, Smeltzer Suzan C. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8, Vol. 1,
EGC, Jakarta.
Doenges, Marilynn, E. dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. EGC,
Jakarta
Jeremy, dkk. 2005. At a Glance Sistem Respirasi, Edisi 2. Erlangga : Jakarta
Price Anderson Sylvia, Milson McCarty Covraine. 2005. Patofisiologi Jilid 2,
Edisi 4. EGC : Jakarta.
Soeparman, dkk. 1998. Ilmu Penyakit Dalam jilid II. FKUI : Jakarta

Page | 22