You are on page 1of 13

BPH (Benigen Prostat Hiperplasia)

Disusun Untuk Memenuhi Tugas mata Kuliah TIK


Dosen Pengampu : Rismawan Adi Yunanto, S.Kep, Ns.

Oleh :
NURHAYATI
NIM. 16037140957

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN


UNIVERSITAS BONDOWOSO
2016

1
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT, karena dengan
rahmat serta hidayah-Nya semata, sehingga tugas mata kuliah ini dapat terselesaikan
dengan baik. Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Patofisiologi yang
merupakan salah satu mata kuliah yang diberikan dalam Program Studi Ilmu
Keperawatan Universitas Jember.
Mata kuliah TIK merupakan mata kuliah yang mempelajari tentang bagaimana
melakukan aplikasi teknologi informatika dalam dunia keperawatan. Penulis yakin
tanpa adanya bantuan dari semua pihak, makalah ini akan mengalami banyak
hambatan. Oleh karena itu tidak berlebihan penulis menyampaikan teri
ma kasih kepada :
1. Yuana Dwi Agustin, SKM, M. Kes, sebagaiKetua Program StudiDIII Keprawatan
Universitas Bondowoso
2. Ns. Rismawan Adi Yunanto,S. Kep., sebagaidosenpengampupenulisanmakalahini.
3. Semuapihakyangtelahmembantupengerjaanmakalahini.
Semoga segala sumbangsih yang diberikan kepada penulis mendapatkan
imbalan dari Allah SWT, dan penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari semua pihak untuk perbaikan langkah penulis selanjutnya.

Bondowoso,24 Oktober 2016

NURHAYATI

2
DAFTAR ISI

JUDUL.................................................................................................. i
KATA PENGANTAR....................................................................... ii
DAFTAR ISI...................................................................................... iii
BAB 1 PENDAHULUAN.................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................ 1
1.2 Tujuan .......................................................................................... 2
1.3 Manfaat........................................................................................ 3
BAB 2 KONSEP PENYAKIT........................................................... 4
2.1 Definisi......................................................................................... 4
2.2 Etiologi ........................................................................................ 4
2.3 Epidemiologi .............................................................................. 4
2.4 Patogenesis/Patofisiologi ............................................................. 5
2.5 Manisfestasi Klinis (Tanda & Gejala)........................................ 5
2.6 Komplikasi ................................................................................. 6
2.7 Pencegahan Primer, Sakunder, Tersier ........................................ 6
2.8 Penatalaksanaan .......................................................................... 7
2.9 Prognosis ................ ................................................................... 10
BAB 3 PENUTUP............................................................................. 11
3.1 Kesimpulan ................................................................................ 11
3.2 Saran .......................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA....................................................................... 12
LAMPIRAN...................................................................................... 13

3
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Benigna prostatic hyperplasia (BPH) merupakan pembesaran non kanker


(noncancerous) dari kelenjar prostat (prostate gland) yang dapat membatasi urin
(kencing) dari kandung kemih (bladder). Prostat hyperplasia merupakan pembesaran
glandula dan aringan seluler kelenjar prostat yang berhubungan dengan perubahan
endokrin berkenaan dengan proses penuaan. Kelenjar prostat mengitari leher kandung
kemih dan uretra, sehingga hipertropi prostat sering menghalangi pengosongan
kandung kemih (Doenges, 2002).
Kejadian BPH pada pria usia 55 tahun angka kejadiannya sekitar 50%, pada
usia80 tahun angka kejadiannya 60%. Tidak lancarnya dalam pengeluaran urin,
kencing terasa panas, kencing menetes dan lama – lama bisa menyebabkan tidak bisa
kencing (anuria). Hal ini dipengaruhi karena kebiasaan para pria mengangkat beban
berat dalam rentang waktu lama, faktor penuaan dan faktor hormonal. Dalam
menangani Benigna Prostat Hyperplasia adalah melakukan insisi (operasi) BPH.
Untuk menjaga dan mempertahankan kondisi pasien post operasi BPH agar dalam
keadaan baik dan stabil adalah dengan memenuhi kebutuhan nutrisi terhadap tubuh.
Benigna Prostat hyperplasia biasanya di derita oleh Pria dengan usia lanjut 55 tahun
ke atas (Harnawatiaj.wordpress.com/2008/02/07 askep hipertrofi-prostat).
Proses seseorang dari usia dewasa menjadi usia tua merupakan suatu proses
yang harus dijalani dan disyukuri. Proses ini biasanya menimbulkan suatu beban
karena menurunnya fungsi organ tubuh orang tersebut sehingga menurunkan kualitas
hidup seseorang, akan tetapi banyak juga seseorang yang menginjak usia senja juga
mengalami kebahagiaan (Fitrah & wahyunita, 2010).
Kebutuhan nutrisi bagi tubuh merupakan suatu kebutuhan dasar manusia yang
sangat penting. Dilihat dari kegunaannya nutrisi m segala aktivitas dalam sistem
tubuh. Sumber nutrisi dalam tubuh berasal dari dalam tubuh sendiri seperti glikogen
yang terdapat dalam otot dan hati ataupun protein dan lemak dalam jaringan dan
sumber lain yang berasal dari luar tubuh seperti yang sehari – hari dimakan oleh
manusia (Hidayat, 2006).
Kebutuhan nutrisi ini diperlukan sepanjang kehidupan manusia, namun jumlah nutrisi
yang diperlukan tiap orang berbeda sesuai dengan karakteristiknya, seperti jenis
kelamin, usia, aktivitas dan lain-lain (Asmadi, 2008).
Pemenuhan kebutuhan nutrisi bukan hanya sekedar untuk menghilangkan rasa
lapar, melainkan mempunyai banyak fungsi. Adapun fungsi umum dari nutrisi di
antaranya adalah sebagai sumber energi, memelihara jaringan tubuh, mengganti sel
tubuh yang rusak, mempertahankan vitalitas tubuh, dan lain-lain. Oleh karena itu,
dalam memenuhi kebutuhan nutrisi perlu diperhatikan zat gizinya (Asmadi, 2008).
Nutrisi merupakan zat-zat gizi atau zat-zat lain yang berhubungan dengan
kesehatan dan penyakit, termasuk keseluruhan proses dalam tubuh manusia untuk
menerima makanan atau bahan-bahan dari lingkungan hidupnya dan menggunakan
bahan-bahan tersebut untuk aktivitas penting dalam tubuh serta mengeluarkan sisanya
(Tarwoto & Wartonah, 2010).
Nutrien merupakan zat kimia organik maupun anorganik yang ditemukan dalam
makanan dan diperlukan agar tubuh dapat berfungsi dengan sebaik-baiknya. Nutrien

4
tersebut diabsorbsi di saluran pencernaan kemudian didistribusikan ke sel-sel tubuh,
nutrien digunakan untuk proses fungsional sel tersebut, sumber energi, dan sintesis
protein. Untuk itu, intake nutrisi kedalam tubuh harus adekuat, artinya nutrisi yang
kita makan harus mengandung nutrien esensial tertentu yang seimbang. Nutrien
esensial tersebut meliputi karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, dan air.
Makanan yang masuk ke dalam tubuh sampai di keluarkan dalam tubuh dalam bentuk
sampah metabolisme terjadi melalui proses pencernaan.
Gangguan pada proses pencernaan dapat menyebabkan individu mengalami
gangguan nutrisi (Asmadi, 2008).merupakan sumber energi untuk 3 Kebutuhan energi
pada lansia mengalami penurunan kebutuhan kalori pada saat tingkat metabolis
menurun dengan bertambahnya umur. Kebutuhan rata-rata yang diperbolehkan untuk
laki-laki adalah 2300 kkal/hari dan untuk wanita 1900 kkal/hari. Pada umumnya,
ketika kebutuhan energi dipenuhi lengkap oleh asupan kalori pada makanan, maka
berat badan tidak berubah, Jika pemasukan kalori melebihi kebutuhan energi, maka
berat seseorang akan menambah, ketika pemasukan kalori gagal untuk memenuhi
kebutuhan energi, maka seseorang akan kehilangan berat badan (Potter & Perry,
2006).
Hasil penelitian status gizi lansia post operasi Benigna Prostat Hyperplasia
berisiko untuk masalah nutrisi yang berhubungan dengan proses penyakitnya dan
penggunaan medikasi obat-obatan dapat mempengaruhi absorpsi dan metabolisme
yang menyebabkan menurunkan nafsu makan. Untuk itu kebutuhan dasar nutrisi
harus diperhatikan. Melihat permasalahan diatas, penulis tertarik untuk memberikan
asuhan keperawatan secara komprehensif kepada pasien post operasi Benigna prostat
hyperplasia dengan gangguan kebutuhan dasar nutrisi di Kelurahan Harjosari II Kec.
Medan Amplas.

1.2 Tujuan
1. Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan asuhan keperawatan kepada pasien post
operasi Benigna Prostat Hiperplasia dengan gangguan ketidakseimbangan nutrisi dari
kebutuhan tubuh.
2. Tujuan Khusus
1) Melakukan pengkajian pada klien dengan gangguan kebutuhan dasar nutrisi.
2) Penulis mampu merumuskan diagnosa kepearawatan pada klien dengan gangguan
kebutuhan dasar nutrisi.
3) Penulis mampu melakukan penyusunan rencana asuhan pada klien dengan
gangguan kebutuhan dasar nutrisi.
4) Melakukan implementasi pada klien dengan gangguan kebutuhan dasar nutrisi.
5) Mengidentifikasi evaluasi pada klien dengan gangguan kebutuhan dasar nutrisi.
1.3 Manfaat Penulisan
1. Institusi Pendidikan
Diharapkan dapat memberikan manfaat yang positif sebagai pengembangan ilmu
pengetahuan bagi pembaca dalam pengembangan teori kebutuhan dasar nutrisi.
2. Bagi Praktik Keperawatan

5
Berguna bagi pelayanan keperawatan khususnya dalam memberikan asuhan
keperawatan mulai dari pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi, dan
evaluasi keperawatan pada pasien dengan gangguan kebutuhan dasar nutrisi, sehingga
dapat memberikan pelayanan kesehatan secara holistik dan diharapkan dapat
diaplikasikan ditatanan kesehatan.
3. Bagi Penulis
Penulisan karya tulis ilmiah ini bermanfaat menambah ilmu. Penulis melakukan
pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi yang benar dan dapat
menyelesaikan setiap permasalahan keperawatan dan menegakkan diagnosa
keperawatan sesuai dengan NANDA dan mengaplikasikannya. Dan dengan penulisan
karya tulis ini Penulis dapat lebih mengetahui bagaimana memberikan intervensi dan
melakukan implementasi keperawatan yang benar sesuai dengan NIC dan NOC.

6
BAB 2 KONSEP PENYAKIT

2.1 Definisi

BPH (Benign Prostate Hyperplasia) BPH (Benign Prostate Hyperplasia)


adalah pertumbuhan dari nodula-nodula fibroadenomatosa majemuk dalam prostat.
Lebih dari 50% pria di atas usia 50 tahun mengalami pertumbuhan nodular ini.
Jaringan hiperplastik terutama terdiri dari kelenjar dengan stroma fibrosa yang
jumlahnya berbeda-beda, sebab dari BPH tidak diketahui. Pembesaran jaringan
prostat periuretral menyebabkan obstruksi leher kandung kemih dan uretra pars
prostastika, yang mengakibatkan berkurangnya aliran kemih dari kandungan kemih.
Tanda dan gejala yang sering terjadi adalah gabungan dari hal-hal berikut
dalam derajat yang berbeda-beda: sering kemih, nokturia, urgensi (kebelet), urgensi
dengan inkontinesia, tersendat-sendat mengeluarkan tenaga untuk mengalirkan kemih,
rasa tidak lampias, inkontinensia overflow, dan kemih yang menetes setelah
berkemih. Kandungan kemih yang terenggang dapat teraba pada pemeriksaan
abdomen, dan tekanan suprapubik pada kandungan kemih yang penuh akan
menimbulkan rasa ingin berkemih. Prostat diraba sewaktu pemeriksaan rektal untuk
menilai besarnya kelenjar.
Obstruksi pada leher kandung kemih mengakibatkan berkurangnya atau tidak adanya
aliran kemih, dan ini memerlukan reseksi bedah pada prostat. Prostatektomi dapat
dilakukan dalam berbagai cara, yang paling sering adalah metode reseksi transuretral.

2.2 Etiologi
Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti etiologi/penyebab
terjadinya BPH, namun beberapa hipotesisi menyebutkan bahwa BPH erat kaitanya
dengan peningkatan kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses menua. Terdapat
perubahan mikroskopik pada prostat telah terjadi pada pria usia 30-40 tahun. Bila
perubahan mikroskopik ini berkembang, akan terjadi perubahan patologik
anatomi yang ada pada pria usia 50 tahun, dan angka kejadiannya sekitar 50%, untuk
usia 80 tahun angka kejadianya sekitar 80%, dan usia 90 tahunsekiatr 100%
(Purnomo, 2011)Etiologi yang belum jelas maka melahirkan beberapa hipotesa yang
diduga menjadi penyebab timbulnya Benigna Prosat, teori penyebab BPH menurut
Purnomo (2011) meliputi, Teori Dehidrotestosteron (DHT), teori hormon
(ketidakseimbangan antara estrogen dan testosteron), faktor interaksi stroma dan
epitel-epitel, teori berkurangnya kematian sel (apoptosis), teori sel stem.

2.3 Epidemiologi
BPH adalah tumor jinak prostat yang serig dialami pada pria. Pada BPH
terjadi proliferasi elemen epitel dan stroma yang menyebabkan prostat membesar
(kumar, 2007) frekuensi kejadian BPH meningkat secara progresif seiring usia mulai
dari umur 41-50 tahun (20%), 51-60 (50%), hingga mencapai 90% pada usia 80 tahun
ke atas (presti, 2004)
2.4 Patofisiologi
Hiperplasi prostat adalah pertumbuhan nodul-nodul fibroadenomatosa
majemuk dalam prostat, pertumbuhan tersebut dimulai dari bagian periuretral sebagai
proliferasi yang terbatas dan tumbuh dengan menekan kelenjar normal yang tersisa.
Jaringan hiperplastik terutama terdiri dari kelenjar dengan stroma fibrosa dan otot

7
polos yang jumlahnya berbeda-beda. Proses pembesaran prostad terjadi secara
perlahan-lahan sehingga perubahan pada saluran kemih juga terjadi secara perlahan-
lahan. Pada tahap awal setelah terjadi pembesaran prostad, resistensi pada leher buli-
buli dan daerah prostad meningkat, serta otot destrusor menebal dan merenggang
sehingga timbul sakulasi atau divertikel. Fase penebalan destrusor disebut fase
kompensasi, keadaan berlanjut, maka destrusor menjadi lelah dan akhirnya
mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi/terjadi
dekompensasi sehingga terjadi retensi urin. Pasien tidak bisa
mengosongkan vesika urinaria dengan sempurna, maka akan terjadi statis urin.Urin
yang statis akan menjadi alkalin dan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri
( Baradero, dkk 2007).Obstruksi urin yang berkembang secara perlahan-lahan
dapatmengakibatkan aliran urin tidak deras dan sesudah berkemih masih adaurin yang
menetes, kencing terputus-putus (intermiten), dengan adanyaobstruksi maka pasien
mengalami kesulitan untuk memulai berkemih(hesitansi).
Gejala iritasi juga menyertai obstruksi urin. Vesika urinarianya mengalami
iritasi dari urin yang tertahan tertahan didalamnya sehingga pasien merasa bahwa
vesika urinarianya tidak menjadi kosong setelah berkemih yang mengakibatkan
interval disetiap berkemih lebih pendek (nokturia dan frekuensi), dengan adanya
gejala iritasi pasien mengalami perasaan ingin berkemih yang mendesak/ urgensi dan
nyeri saat berkemih /disuria ( Purnomo, 2011).Tekanan vesika yang lebih tinggi
daripada tekanan sfingter danobstruksi, akan terjadi inkontinensia paradoks. Retensi
kronikmenyebabkan refluk vesiko ureter, hidroureter, hidronefrosis dan gagal ginjal.
Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi. Pada waktu miksi penderita
harus mengejan sehingga lama kelamaan menyebabkan hernia atau hemoroid. Karena
selalu terdapat sisa urin, dapat menyebabkan terbentuknya batu endapan didalam
kandung kemih. Batu ini dapat menambah keluhan iritasi dan menimbulkan
hematuria. Batu tersebut dapat juga menyebabkan sistitis dan bila terjadi refluk akan
mengakibatkan pielonefritis (Sjamsuhidajat dan De jong, 2005).

2.5 Manifestasi Klinis


Obstruksi prostat dapat menimbulkan keluhan pada saluran kemih maupun
keluhan diluar saluran kemih. Menurut Purnomo (2011) dan tanda dan gejala dari
BPH yaitu : keluhan pada saluran kemih bagian bawah, gejala pada saluran kemih
bagian atas, dan gejala di luar saluran kemih.

1. Keluhan pada saluran kemih bagian bawah


a. Gejala obstruksi meliputi : Retensi urin (urin tertahan dikandung kemih sehingga
urin tidak bisa keluar), hesitansi(sulit memulai miksi), pancaran miksi lemah,
Intermiten(kencing terputus-putus), dan miksi tidak puas (menetes setelah miksi)
b. Gejala iritasi meliputi : Frekuensi, nokturia, urgensi (perasaan ingin miksi yang
sangat mendesak) dan disuria (nyeri pada saat miksi).
2. Gejala pada saluran kemih bagian atas
Keluhan akibat hiperplasi prostat pada sluran kemih bagian atas berupa adanya gejala
obstruksi, seperti nyeri pinggang, benjolan dipinggang (merupakan tanda dari
hidronefrosis), atau demam yang merupakan tanda infeksi atau urosepsis.
3. Gejala diluar saluran kemih
Pasien datang diawali dengan keluhan penyakit hernia inguinalis atau hemoroid.
Timbulnya penyakit ini dikarenakan sering mengejan pada saan miksi sehingga
mengakibatkan tekanan intraabdominal. Adapun gejala dan tanda lain yang tampak

8
pada pasien BPH, pada pemeriksaan prostat didapati membesar, kemerahan, dan tidak
nyeri tekan, keletihan, anoreksia, mual dan muntah, rasa tidak nyaman pada
epigastrik, dan gagal ginjal dapatterjadi dengan retensi kronis dan volume residual
yang besar.

2.6 Komplikasi
Menurut Sjamsuhidajat dan De Jong (2005) komplikasi BPH adalah :
1. Retensi urin akut, terjadi apabila buli-buli menjadi dekompensasi
2. Infeksi saluran kemih
3. Involusi kontraksi kandung kemih
4. Refluk kandung kemih
5. Hidroureter dan hidronefrosis dapat terjadi karena produksi urin terus berlanjut
maka pada suatu saat buli-buli tidak mampu lagi menampung urin yang akan
mengakibatkan tekanan intravesika meningkat.
6. Gagal ginjal bisa dipercepat jika terjadi infeksi
7. Hematuri, terjadi karena selalu terdapat sisa urin, sehingga dapat terbentuk batu
endapan dalam buli-buli, batu ini akan menambah keluhan iritasi. Batu tersebut dapat
pula menibulkan sistitis, dan bila terjadi refluks dapat mengakibatkan pielonefritis.
8. Hernia atau hemoroid lama-kelamaan dapat terjadi dikarenakan pada waktu miksi
pasien harus mengedan.

2.7 Pencegahan
Kini, sudah beredar suplemen makanan yang dapat membantu mengatasi
pembesaran kelenjar prostat. Salah satunya adalah suplemen yang kandungan
utamanya saw palmetto. Berdasarkan hasil penelitian, saw palmetto menghasilkan
sejenis minyak, yang bersama-sama dengan hormon androgen dapat menghambat
kerja enzim 5-alpha reduktase, yang berperan dalam proses pengubahan hormon
testosteron menjadi dehidrotestosteron (penyebab BPH)5. Hasilnya, kelenjar prostat
tidak bertambah besar.
Zat-zat gizi yang juga amat penting untuk menjaga kesehatan prostat di antaranya
adalah :
1. Vitamin A, E, dan C, antioksidan yang berperan penting dalam mencegah
pertumbuhan sel kanker, karena menurut penelitian, 5-10% kasus BPH dapat
berkembang menjadi kanker prostat.
Vitamin B1, B2, dan B6, yang dibutuhkan dalam proses metabolisme karbohidrat,
lemak, dan protein, sehingga kerja ginjal dan organ tubuh lain tidak terlalu berat.
Copper (gluconate) dan Parsley Leaf, yang dapat membantu melancarkan pengeluaran
air seni dan mendukung fungsi ginjal. L-Glysine, senyawa asam amino yang
membantu sistem penghantaran rangsangan ke susunan syaraf pusat. Zinc, mineral
ini bermanfaat untuk meningkatkan produksi dan kualitas sperma.
Berikut ini beberapa tips untuk mengurangi risiko masalah prostat, antara lain:
Mengurangi makanan kaya lemak hewan, Meningkatkan makanan kaya lycopene
(dalam tomat), selenium (dalam makanan laut), vitamin E, isoflavonoid (dalam
produk kedelai), Makan sedikitnya 5 porsi buah dan sayuran sehari, Berolahraga
secara rutin, Pertahankan berat badan ideal.

2.8 Penatalaksanaan

9
1. Observasi
Biasanya dilakukan pada pasien dengan keluhan ringan. Pasien dianjurkan
untuk mengurangi minum setelah makan malam yang ditujukan agar tidak terjadi
nokturia, menghindari obat-obat dekongestan (parasimpatolitik), mengurangi minum
kopi dan tidak diperbolehkan minum alkohol agar tidak terlalu sering miksi. Pasien
dianjurkan untuk menghindari mengangkat barang yang berat agar
perdarahan dapat dicegah. Ajurkan pasien agar sering mengosongkan kandung kemih
(jangan menahan kencing terlalu lama) untuk menghindari distensi kandung kemih
dan hipertrofi kandung kemih.
Secara periodik pasien dianjurkan untuk melakukan control keluhan,
pemeriksaan laboratorium, sisa kencing dan pemeriksaan colok dubur(Purnomo,
2011). Pemeriksaan derajat obstruksi prostat menurut Purnomo (2011)
dapat diperkirakan dengan mengukur residual urin dan pancaran urin:
a. Residual urin, yaitu jumlah sisa urin setelah miksi. Sisa urin dapat diukur dengan
cara melakukan kateterisasi setelah miksi atau ditentukan dengan pemeriksaan USG
setelah miksi18
b. Pancaran urin (flow rate), dapat dihitung dengan cara menghitung jumlah urin
dibagi dengan lamanya miksi berlangsung (ml/detik) atau dengan alat urofometri yang
menyajikan gambaran grafik pancaran urin.
2. Terapi medikamentosa
Menurut Baradero dkk (2007) tujuan dari obat-obat yang diberikan pada
penderita BPH adalah :
a. Mengurangi pembesaran prostat dan membuat otot-ototberelaksasi untuk
mengurangi tekanan pada uretra
b. Mengurangi resistensi leher buli-buli dengan obat-obatan golongan alfa blocker
(penghambat alfa adrenergenik)
c. Mengurangi volum prostat dengan menentuan kadar hormone testosterone/
dehidrotestosteron (DHT).
Adapun obat-obatan yang sering digunakan pada pasien BPH, menurut Purnomo
(2011) diantaranya : penghambat adrenergenik alfa,penghambat enzin 5 alfa
reduktase, fitofarmaka.
1) Penghambat adrenergenik alfa
Obat-obat yang sering dipakai adalah prazosin,
doxazosin,terazosin,afluzosin atau yang lebih selektif alfa 1a(Tamsulosin). Dosis
dimulai 1mg/hari sedangkan dosis tamsulosinadalah 0,2-0,4 mg/hari. Penggunaan
antagonis alfa 1 adrenergenik karena secara selektif dapat mengurangi obstruksi pada
buli-buli tanpa merusak kontraktilitas detrusor. Obat ini menghambat reseptor-
reseptor yang banyak ditemukan pada otot polos di trigonum, leher vesika, prostat,
dan kapsul prostat sehingga terjadi relakasi didaerah prostat. Obat-obat golongan ini
dapat memperbaiki keluhan miksi dan laju pancaran urin. Hal ini akan menurunkan
tekanan pada uretra pars prostatika sehingga gangguan aliran air seni dan gejala-
gejala berkurang. Biasanya pasien mulai merasakan berkurangnya keluhan dalam 1-2
minggu setelah ia mulai memakai obat,sumbatan di hidung dan lemah. Ada obat-obat
yang menyebabkan ekasaserbasi retensi urin maka perlu dihindari seperti
antikolinergenik, transquilizer, dekongestan, obatobatini mempunyai efek pada otot
kandung kemih dan sfingter uretra.
2) Pengahambat enzim 5 alfa reduktase
Obat yang dipakai adalah finasteride (proscar) dengan dosis 1X5 mg/hari.
Obat golongan ini dapat menghambat pembentukan DHT sehingga prostat yang

10
membesar akan mengecil. Namun obat ini bekerja lebih lambat dari golongan alfa
bloker dan manfaatnya hanya jelas pada prostat yang besar. Efektifitasnya masih
diperdebatkan karena obat ini baru menunjukkan perbaikan sedikit/ 28 % dari keluhan
pasien setelah 6-12 bulan pengobatan bila dilakukan terus menerus, hal ini dapat
memperbaiki keluhan miksidan pancaran miksi. Efek samping dari obat ini
diantaranya adalah libido, impoten dan gangguan ejakulasi.
3) Fitofarmaka/fitoterapi
Penggunaan fitoterapi yang ada di Indonesia antara lain eviprostat.
Substansinya misalnya pygeum africanum, saw palmetto, serenoarepeus dll. Afeknya
diharapkan terjadi setelah pemberian selama
1-2 bulan dapat memperkecil volum prostat.
a. Pembedahan terbuka, beberapa teknik operasi prostatektomi terbuka
yang biasa digunakan adalah :
1) Prostatektomi suprapubik
Adalah salah satu metode mengangkat kelenjar melalui insisi abdomen. Insisi
dibuat dikedalam kandung kemih, dan kelenjar prostat diangat dari atas. Teknik
demikian dapat digunakan untuk kelenjar dengan segala ukuran, dan komplikasi yang
mungkin terjadi ialah pasien akan kehilangan darah yang cukup banyakdibanding
dengan metode lain, kerugian lain yang dapat terjadi adalah insisi abdomen akan
disertai bahaya dari semua prosedur bedah abdomen mayor.
2) Prostatektomi perineal
Adalah suatu tindakan dengan mengangkat kelenjar melalui suatu insisi dalam
perineum. Teknik ini lebih praktis dan sangat berguan untuk biopsy
3. Prognosis yang lebih buruk ketika obstruksi komplikasi disertai dengan infeksi.
4. Umumnya prognosis lebih bagus dengan pengobatan untuk retensi urine.

terbuka. Pada periode pasca operasi luka bedah mudah terkontaminasi karena
insisi dilakukan dekat dnegan rectum. Komplikasi yang mungkin terjadi dari
tindakanini adalah inkontinensia, impotensi dan cedera rectal.
3) Prostatektomi retropubik
Adalah tindakan lain yang dapat dilakukan, dengan cara insisi abdomen
rendah mendekati kelenjar prostat, yaitu antara arkus pubis dan kandung kemih tanpa
memasuki kandung kemih. Teknik ini sangat tepat untuk kelenjar prostat yang terletak
tinggi dalam pubis. Meskipun jumlah darah yang hilang lebih dapat dikontrol dan
letak pembedahan lebih mudah dilihat, akan tetapi infeksi dapat terjadi diruang
retropubik.
b. Pembedahan endourologi, pembedahan endourologi transurethral dapat dilakukan
dengan memakai tenaga elektrik diantaranya:
1) Transurethral Prostatic Resection (TURP)
Merupakan tindakan operasi yang paling banyak dilakukan, reseksi kelenjar
prostat dilakukan dengan transuretra menggunakan cairan irigan (pembilas) agar
daerah yang akan dioperasi tidak tertutup darah. Indikasi TURP ialah gejala-gejala
sedang sampai berat, volume prostat kurang dari 90 gr.Tindakan ini dilaksanakan
apabila pembesaran prostat terjadi dalam lobusmedial yang langsung mengelilingi
uretra. Setelah TURP yang memakai kateter threeway. Irigasi kandung kemih secara
terus menerus dilaksanakan untuk mencegah pembekuan darah. Manfaat pembedahan
TURP antara lain tidak meninggalkan atau bekas sayatan serta waktu operasi dan
waktu tinggal dirumah sakit lebih singkat.Komplikasi TURP adalah rasa tidak enak

11
pada22 kandung kemih, spasme kandung kemih yang terus menerus, adanya
perdarahan, infeksi, fertilitas (Baradero dkk, 2007).
2) Transurethral Incision of the Prostate (TUIP)
Adalah prosedur lain dalam menangani BPH. Tindakan ini dilakukan apabila
volume prostat tidak terlalu besar atau prostat fibrotic. Indikasi dari penggunan TUIP
adalah keluhan sedang atau berat, dengan volume prostat normal/kecil (30 gram atau
kurang). Teknik yang dilakukan adalah dengan memasukan instrument kedalam
uretra. Satu atau dua buah insisi dibuat pada prostat dan kapsul prostat untuk
mengurangi tekanan prostat pada uretra dan mengurangi konstriksi uretral.
Komplikasi dari TUIP adalah pasien bisa mengalami ejakulasi retrograde (0-37%)
(Smeltzer dan Bare, 2002).
3) Terapi invasive minimal
Menurut Purnomo (2011) terapai invasive minimal dilakukan pada pasien
dengan resiko tinggi terhadap tindakan pembedahan. Terapi invasive minimal
diantaranya Transurethral MicrovaweThermotherapy (TUMT), Transuretral Ballon
Dilatation(TUBD), Transuretral Needle Ablation/Ablasi jarum Transuretra (TUNA),
Pemasangan stent uretra atau prostatcatt.
Transurethral Microvawe Thermotherapy (TUMT), jenis pengobatan ini hanya
dapat dilakukan di beberapa rumah sakit besar. Dilakukan dengan cara pemanasan
prostat menggunakan gelombang mikro yang disalurkan ke kelenjar prostat melalui
transducer yang diletakkan di uretra pars prostatika, yang diharapkan jaringan prostat
menjadi lembek.Alat yang dipakai antara lain prostat.Pemasangan stent uretra
atau prostatcatth yang dipasang pada uretra prostatika untuk mengatasi obstruksi
karena pembesaran prostat, selain itu supaya uretra prostatika selalu terbuka, sehingga
urin leluasa melewati lumen uretra prostatika. Pemasangan alat ini ditujukan bagi
pasien yang tidak mungkin menjalani operasi karena resiko pembedahan yang cukup
tinggi.
2.9 Prognosis
Menurut Birowo dan Rahardjo (www.google.com) prognosis BPH adalah:
1. Tergantung dari lokasi, lama dan kerapatan retensi.
2. Keparahan obstruksi yang lamanya 7 hari dapat menyebabkan kerusakan ginjal.
Jika keparahan obstruksi diperiksa dalam dua minggu, maka akan diketahui sejauh
mana tingkat keparahannya. Jika obstruksi keparahannya lebih dari tiga minggu maka
akan lebih dari 50% fungsi ginjal hilang.

12
BAB 3 PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Benign Prostatic Hyperplasia ( BPH ) merupakan pertumbuhan berlebihan dari
sel-sel prostat yang tidak ganas dan biasa menyerang pria diatas 50 tahun. Penyebab
BPH tidak diketahui, tetapi mungkin akibat adanya perubahan kadar hormon yang
terjadi karena proses penuaan. Gejala dan tanda-tanda dari BPH yaitu sering buang air
kecil, tergesa-gesa untuk buang air kecil, buang air kecil malam hari lebih dari satu
kali, sulit menahan buang air kecil, pancaran melemah, akhir buang air kecil belum
terasa kosong, menunggu lama pada permulaan buang air kecil, harus mengedan saat
buang air kecil, buang air kecil terputus-putus, dan waktu buang air kecil memanjang
yang akhirnya menjadi retensi urin dan terjadi inkontinen karena
overflow. Penatalaksanaan BPH berupa watchful waiting, medikamentosa, terapi
bedah konvensional, terapi minimal invasif, dan farmakoterapi. Prognosis BPH tidak
dapat diprediksi, tetapi dapat dikatakan buruk jika tidak segera ditangani karena dapat
berkembang menjadi kanker prostate yang bersifat mematikan. Upaya pencegahan
BPH adalah dengan menjalankan pola hidup sehat. Di antaranya mengonsumsi buah-
buahan yang kaya akan antioksidan seperti tomat, alpokat, kacang-kacangan, dan
mengkonsumsi makanan kesehatan untuk memenuhi kebutuhan akan zat-zat gizi
esensial, vitamin dan mineral.

3.2 SARAN
agar terhindar dari penyakit BPH sebaiknya pria yang sudah lanjut usia harus
bisa menjaga diri supaya bisa menhindar dan mecegah adanya penyakit BPH. Jika ada
tanda-tanda seperti : sering buang air kecil, tergesa-gesa untuk buang air kecil, buang
air kecil malam hari lebih dari satu kali, sulit menahan buang air kecil, pancaran
melemah, akhir buang air kecil belum terasa kosong, menunggu lama pada permulaan
buang air kecil, harus mengedan saat buang air kecil, buang air kecil terputus-putus,
dan waktu buang air kecil memanjang yang akhirnya menjadi retensi urin dan terjadi
inkontinen karena overflow segeralah periksakan kedokter untuk peninjauan lebih
lanjut agar penyakitnya tidak semakin parah.

DAFTAR PUSTAKA

1. Arthur C. Guyton, dkk. 2006. “Buku Ajar Fisiologi Kedokteran”. Edisi 9. Jakarta :
EGC,
2. Sylvia A. Price, dkk. 2006. “Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit”.
Edisi 6. Volume 2. Jakarta : EGC (diinternet Pdf, selasa 15:30)
3. SUMBER: http://209.85.175.132/search?q=cache:u1_X8rtjltcJ:fkuii.org/tiki-
download_wiki_attachment.php%3FattId%3D1172%26page%3DArina
%2520Fatharani%2520A+jurnal+kedokteran+BPH&hl=id&ct=clnk&cd=5&gl=id
4.Evelyn J. Phiel,dkk.2006 “Sistem Reproduksi Pria”. (Perpustakaan.)

13