You are on page 1of 15

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Toilet Training


Toilet training pada anak merupakan suatu usaha untuk melatih anak
agar mampu mengontrol dalam melakukan buang air kecil dan buang air
besar. Menurut Supartini(2004), toilet training merupakan aspek penting
dalam perkembangan anak usia todler yang harus mendapat perhatian orang
tua dalam berkemih dan defekasi. Dan toilet training juga dapat menjadi awal
terbentuknya kemandirian anak secara nyata sebab anak sudah bisa untuk
melakukan hal-hal yang kecil seperti buang air kecil dan buang air besar.
Toilet training adalah latihan mengontrol buang air, usia yang tepat
untuk berlatih sekitar 18-24 bulan sangat tergantung pada perkembangan
beberapa otot tertentu, minat dan kesadaran anak yang bersumber dari anak
tersebut.
Pada tahapan usia 1 sampai 3 tahun atau usia toddler, kemampuan
sfingter uretra untuk mangontrol rasa ingin berkemih dan sfingter ani untuk
mengontrol rasa ingin defekasi mulai berkembang (Supartini,2002).
Sedangkan menurut Gupte(2004) sekitar 90 persen bayi mulai
mengembangkan kontrol kandung kemihnya dan perutnya pada umur 1 tahun
hingga 2,5 tahun. Dan toilet training ini dapat berlangsung pada fase
kehidupan anak yaitu umur 18 bulan sampai 24 bulan.
Dalam melakukan latihan buang air kecil dan besar pada anak
membutuhkan persiapan baik secara fisik,psikologis maupun secara
intelektual, melalui persiapan tersebut diharapkan anak mampu mengontrol
buang air besar atau kecil sendiri. Pada toilet training selain melatih anak
dalam mengontrol buang air besar dan kecil juga dapat bermanfaat dalam
pendidikan seks sebab saat anak melakukan kegiatan tersebut disitu anak akan
mempelajari anatomi tubuhnya sendiri serta fungsinya. Dalam proses toilet
training diharapkan terjadi pengaturan impu;s atau rangsangan dan instink
anak dalam melakukan buang air besar atau buang air kecil dan perlu
diketahui bahwa buang air besar merupakan suatu alat pemuasan untuk
melepaskan ketegangan dengan latihan ini anak diharapkan dapat melakukan
usaha penundaan pemuasan.
Toilet training secara umum dapat dilaksanakan pada setiap anak yang
sudah mulai memasuki fase kemandirian pada anak. Suksesnnya toilet
training tergantung pada kesiapan yang ada pada diri anak dan keluarga,
seperti kesiapan fisik, dimana kemampuan anak secara fisik sudah kuat dan
mampu. Hal ini dapat ditunjukkan anak mampu duduk atau berdiri sehingga
memudahkan anak untuk dilatih buang air besar dan kecil, demikian juga
kesiapan psikologis dimana anaka membutuhkan suasana yang nyaman agar
mampu mengontrol dan konsentrasi dalam merangsang untuk buang air besar
dan kecil. Persiapan intelektual pada anak ujga dapat membantu dalam proses
buang air besar dan kecil. Hal ini dapat ditunjukkan apabila anak memahami
buang aor besar atau kecil sangat memudahkan proses dalam pengontrolan,
anak dapat mengetahui kapan saatnya harus buang air kecil dan kapan saatnya
buang air besar, kesiapan tersebut akan menjadikan anak selalu mempunyai
kemandirian dalam mengontrol khususnya buang air kecil dan buang air
besar(toilet training). Pelaksanaan toilet training dapat dimulai sejak dini
untuk melatih respons terhadap kemampuan untuk buang air kecil dan buang
air besar.
B. Etiologi
Toilet training penting dilakukan untuk melatih kemandirian anak,
dikarenakan pada usia dini pengeluaran air seni secara tidak sadar dan
mengakibatkan ketidakmampuan mengendalikan kandung kemih
Ada dua jenis memgompol, yaitu :
1. Mengompol primer
Hal ini termasuk mengompol yang lazim pada bayi yang perlu toilet
training karena otak belum mampu menangkap sinyal yang dikirim oleh
kandung kemih, atau belum mampu mengendalikan kandung kemih
2. Mengompol sekunder
Hal ini merupakan keadaan mengompol kembali setelah anak tidak
megompol selama 6 bulan.Keadaan ini bisa disebabkan oleh infeksi
saluran kemih, gangguan metabolism, gangguan saraf tulang belakang,
tekanan berlebihan pada kandung kemih dan stress.
C. Kapan anak siap untuk dilakukan toilet training
Kesiapan anak untuk dilakukan toilet training dilihat secara kesiapan
psikologis dan fisiologi (Brazelton et al, 1999; klassen et al, 2006; Walker dan
Roberts, 2001).
1. Kesiapan Psikologis
a. Anak sudah memiliki keinginan untuk mandiri dan menguasai diri
sendiri.
b. Anak merasa nyaman dengan figure orang tua dan memiliki
keinginan untuk menyenangkan mereka.
c. Memiliki keinginan untuk meniru atau menjadi seperti sosok yang
ia anggap penting
2. Kesiapan Fisiologis
a. Anak mampu mengontrol gerak reflek otot spinter, biasanya baru
bias didapat saat usia 9 bulan.
b. Anak harus sudah bias berjalan
c. Anak sudah bias memahami beberapa perintah secara verbal

D. Kesiapan toilet training (jelaskan)


1) Kesiapan fisik
a. Usia telah mencapai 18-24 bulan.
b. Dapat jongkok kurang dari 2 jam
c. Mempunyai kemampuan motorik kasar seperti duduk dan berjalan
d. Mempunyai kemampuan motorik halus seperti membuka celana dan
pakaian
2) Kesiapan mental
a. Mengenal rasa ingin berkemih dan defekasi
b. Komunikasi secara verbal dan nonverbal jika merasa ingin berkemih
c. Keterampilan kognitif untuk mengikuti perintah dan meniru perilaku
orang lain
3) Kesiapan psikologis
a. Dapat jongkok dan berdiri ditoilet selama 5-10 menit tanpa berdiri dulu
b. Mempunyai rasa ingin tahu dan rasa penasaran terhadap kebiasaan orang
dewasa dalam buang air keci, dan buang air besar
c. Merasa tidak betah dengan kondisi basah dan adanya benda padat
dicelana dan ingin segera diganti segera
4) Kesiapan orangtua
a. Mengenal tingkat kesiapan anak dalam berkemih dan defekasi
b. Ada keinginan untuk meluangkan waktu untuk latihan berkemih dan
defekasi pada anak
c. Tidak mengalami konflik tertentu atau stres keluarga yang berarti
(Perceraian)

E. Tanda – tanda anak siap toilet training


1) Kesiapan fisik
a. Usia telah mencapai 18-24 bulan.
b. Dapat jongkok kurang dari 2 jam
c. Mempunyai kemampuan motorik kasar seperti duduk dan berjalan
d. Mempunyai kemampuan motorik halus seperti membuka celana dan
pakaian
2) Kesiapan mental
a. Mengenal rasa ingin berkemih dan defekasi
b. Komunikasi secara verbal dan nonverbal jika merasa ingin berkemih
c. Keterampilan kognitif untuk mengikuti perintah dan meniru perilaku
orang lain
3) Kesiapan psikologis
a. Dapat jongkok dan berdiri ditoilet selama 5-10 menit tanpa berdiri dulu
b. Mempunyai rasa ingin tahu dan rasa penasaran terhadap kebiasaan orang
dewasa dalam buang air keci, dan buang air besar
c. Merasa tidak betah dengan kondisi basah dan adanya benda padat
dicelana dan ingin segera diganti segera
4) Kesiapan orangtua
a. Mengenal tingkat kesiapan anak dalam berkemih dan defekasi
b. Ada keinginan untuk meluangkan waktu untuk latihan berkemih dan
defekasi pada anak
c. Tidak mengalami konflik tertentu atau stres keluarga yang berarti
(Perceraian)

F. Cara melakukan Toilet Training


1) Kesiapan fisik
a. Usia telah mencapai 18-24 bulan.
b. Dapat jongkok kurang dari 2 jam
c. Mempunyai kemampuan motorik kasar seperti duduk dan berjalan
d. Mempunyai kemampuan motorik halus seperti membuka celana dan
pakaian.

2) Kesiapan mental
a. Mengenal rasa ingin berkemih dan defekasi
b. Komunikasi secara verbal dan nonverbal jika merasa ingin berkemih
c. Keterampilan kognitif untuk mengikuti perintah dan meniru perilaku
orang lain
3) Kesiapan psikologis
a. Dapat jongkok dan berdiri ditoilet selama 5-10 menit tanpa berdiri dulu
b. Mempunyai rasa ingin tahu dan rasa penasaran terhadap kebiasaan orang
dewasa dalam buang air keci, dan buang air besar
c. Merasa tidak betah dengan kondisi basah dan adanya benda padat
dicelana dan ingin segera diganti segera
4) Kesiapan orangtua
a. Mengenal tingkat kesiapan anak dalam berkemih dan defekasi
b. Ada keinginan untuk meluangkan waktu untuk latihan berkemih dan
defekasi pada anak
c. Tidak mengalami konflik tertentu atau stres keluarga yang berarti
(Perceraian)

G. Hal – hal yang harus diperhatikan dalam toilet training


1. Hindari pemakain popok sekali pakai.
2. Ajari anak mengucapkan kata-kata yang berhubungan dengan buang air
kecil dan buang air besar dengan benar.
3. Motivasi anak untuk melakukan rutinitas ke kamar mandi seperti cuci
tangan dan kaki sebelum tidur dan cuci muka disaat bangun tidur.
4. Jangan memarahi anak saat anak dalam melakukan toilet training.

H. Dampak toilet training


Dampak yang paling umum dalam kegagalan toilet training seperti adanya
perlakuan atau aturan yang ketat bagi orang tua kepada anaknya yang dapat
mengganggu kepribadian anak atau cenderung bersifat retentif dimana anak
cenderung bersikap keras kepala bahkan kikir.Hal ini dapat dilakukan oleh
orang tua apabila sering memarahi anak pada saat buang air besar atau kecil,
atau melarang anak saat bepergian. Bila orang tua santai dalam memberikan
aturan dalam toilet training maka anak akan dapat mengalami kepribadian
ekspresif dimana anak lebih tega, cenderung ceroboh, suka membuat gara-
gara, emosional dan seenaknya dalam melakukan kegiatan sehari-hari (4,5).

I. Pengkajian secara umum

Pengkajian kebutuhan terhadap toilet training merupakan sesuatu yang


harus diperhatikan sebelum anak melakukan buang air kecil dan buang air
besar, mengingat anak yang melakukan buang air besar atau buang air kecil
akanmengalami proses keberhasilan dan kegagalan, selama buang air kecil
dan buang air besar. Proses tersebut akan dialami oleh setiap anak, untuk
mencegah terjadinya kegagalan maka dilakukan sesuatu pengkajian sebelum
melakukan toilet training yang meliputi pengkajian fisik, pengkajian
psikologis, dan pengkajian intelektual (1,4,5).
1) Pengkajian Fisik
Pengkajian fisik yang harus diperhatikan pada anak yang akan
melakukan buang air kecil dan buang air besar dapat meliputi kemampuan
motorik kasar seperti berjalan, duduk, meloncat dan kemampuan motor ik
halus seperti mampu melepas celana sendiri. Kemampuan motorik ini harus
mandapat perhatian karena kemampuan untuk buang air besar ini lancar dan
tidaknya dapat dilihat dari kesiapan fisik sehingga ketika anak berkeinginan
untuk buang air kecil dan buang air besar sudah mampu dan siap untu
melakukannya.Selain itu, yang harus dikaji adalah pola buang air besar yang
sudah teratur, sudah tidak mengompol setelah tidur.
2) Pengkajian Psikologis
Pengkajian psikologis yang dapat dilakukan adalah gambaran
psikologis pada anak ketika akan melakukan buang air kecil dan buang air
besar seperti anak tidak rewel ketika akan buang air besar, anak tidak
menangis sewaktu buang air besar atau buang air kecil, ekspresi wajah
menunjukan kegembiraan dan ingin melakukan secara sendiri, anak sabar dan
sudah mau ke toilet selama 5 sampai 10 menit tanpa rewel atau
meninggalkannya, adanya keinginantahuan kebiasaan toilet training pada
orang dewasa atau saudaranya, adanya ekspresi untuk menyenangkan pada
orangtuanya.
3) Pengkajian Intelektual
Pengkajian intelektual pada latihan buang air kecil dan buang air besar
antara lain kemampuan anak untuk mengertibuang air kecil dan buang air
besar, kemampuan mengkomunikasikan buang nair kecil dan buang air besar,
anak menyadari timbulnya buang air kecil dan buang air besar, mempunyai
kemampuan kognitif untuk meniru prilaku yang tepat seperti buang air kecil
dan buang air besar pada tempatnya serta etika dalam buang air kecil dan
buang air besar. Dalam melakukan pengkajian kebutuhan buang air kecil dan
buang air besar, terdapat beberapa hal-hal yang perlu diperhatikan selama
toilet training, diantaranya (4):
1. Hindari pemakain popok sekali pakai dimana anak akan merasa aman
2. Ajari anak mengucapkan kata-kata yang khas yang berhubungan dengan
buang air besar
3. Mendorong anak melakukan rutinitas ke kamar mandi seperti cuci muka
saat bangun tidur, cuci muka, cuci kaki, dan lain-lain.
4. Jangan marah bila anak gagal dalam melakukan toilet training

J. Diagnosa yang muncul

diagnosa keperawatan beserta NOC-NIC yang mungkin muncul,


antara lain (6,7,8):

Diagnosa NOC NIC


1. Kesiapanuntukpeni Dalam waktu 1 minggu 1. Pengajaran : Toilet
ngkatanpengetahua klien siap untuk Training
n (adanya atau meningkatkan  Intruksikan kepada
pemerolehan pengetahuan dengan orang tua tentang
informasi kognitif menggunakan : bagaimana
yang berhubungan 1. Pengetahuan : menentukan kesiapan
dengan tofik tertentu aktivitas yang di fisik anak untuk toilet
yang memadai untuk anjurkan ( skala 1- training
memenuhi tujuan 5)  Instuksikan orang tua

terkait kesehatan dan  Aktivitas dan latihan tentang bagaimana


yang ditetapkan menentukan kesiapan
dapat ditingkatkan)
 Tujuan aktivitas
Batasan karakteristik : psikososial anak
 Strategi peningkatan
Mengekspresikan untuk toilet training
aktivitas secara
 Instuksikan orang tua
ketertarikan bertahap
tentang bagaimana
dalam belajar  Menunjukkan
Mendeskripsikan menentukan kesiapan
ketepatan dalam
pengalaman yang keluarga anak untuk
latihan
berkaitan dengan  Keuntungan toilet training
 Menyediakan
topik aktivitas dan latihan
informasi untuk
mempromosikan
toilet training
 Menyediakan
informasi tentang
bagaimana
melepaskan pakaian
anak
 Menyediakan
informasi tentang
strategi komunikasi,
harapan, dan
peningkatan pemberi
perawatan lainnya.
 Dukung orang tua
selama proses ini
 Dorong orang tua
untuk kreatif dan
fleksibel dalam
perkembangan dan
implemntasi strategi
training
 Menyediakan
informasi tambahan,
seperti yang diminta
atau dibutuhkan
2. Kesiapan Dalam waktu 1 minggu 1. Pelatihan bowel
Meningkatkan klien dapat siap  RencanaProgramusus
dengan pasiendan
Eliminasi Urinarius meningkatkan eliminasi
tepat
(suatu pola fungsi urinarius dengan
 Ajarkan pasien/
urinarius yang cukup menggunakan :
keluargaprinsip-
untuk memenuhi 1. Perawatan
prinsippelatihanusus
kebutuhan eliminasi diri :toileting  Pastikanasupancairan
 Meresponkandung
dan dapat yang cukup
kemihpenuh  Pastikanlatihan yang
ditingkatkan)
dalamwaktu yang cukup
Batasan karakteristik :
tepat  Pastikanprivasi
 Jumlah hakuaran
 Meresponkeinginan  MengevaluasiStatusu
dalam batas normal susteratur
untukmelakukan
 Mengekspresikan  ModifikasiProgramus
buang air besar
keinginan untuk us, yang diperlukan
dalamwaktu yang 2. Pelatihan
meningkatkan
tepat Urinkandung kemih
eliminasi urinarius
 Mendapatkanmasuk  Membantupasien
 Mempromosikan diri
dan keluardari
untuk kamar mandi untukmengidentifikas
 Melepas pakaian
mengosongkan i pola inkontinensia
 Mengosongkankand  Tinjauanberkemihhari
kandung kemih
ung kemih
 Asupan cairan andengan pasien
 Mengosongkanusus  Menetapkan
adekuat untuk  Membersihkan diri
intervaljadwaltoileta
kebutuhan cairan setelahbuang air
wal,
kecil
 Membersihkan diri berdasarkanpolaberke
setelahbuang air mih
 Menetapkanawal dan
besar
 Mendapatnaik akhirwaktu
daritoilet atautoilet untuktoiletjadwaljika
tidak untuk24jam
 Menyediakanprivasi
untuktoileting
 Gunakankekuatanunt
uk
membantupasiensuge
stionuntuk
membatalkan
 Ajarkanpasien
untuksadarmenahan
kencingsampai waktu
yangdijadwalkantoile
ting

3. Kesiapan Dalam waktu 1 minggu 1. Bantuan perawatan


meningkatkan klien siap dalam diri : Toileting
 Lepaskan
perawatan diri meningkatkan
pakaianpenting untuk
(pola feforma perawatan diri dengan
memungkinkan
aktivitas individu menggunakan :
yang membantu 1. Perawatan eliminasi
 Pertimbangkan usia
memenuhi tujuan diri :toileting
terkait kesehatan dan  Meresponkandung anak ketika
kemih yang penuh mempromosikankegi
dapat ditingkatkan)
dalamwaktu yang atanperawatan diri
Batasan karakteristik :
 Membantupasien
tepat
 Mengungkapkan
 Meresponkeinginan untuktoilet
keinginan untuk
untukmelakukan /toilet/pispot/frakturp
meningkatkan
buang air besar an/urinoirpada selang
kemandirian dalam
dalamwaktu yang waktu tertentu
meningkatkan  Pertimbangkanrespon
tepat
kesehatan  Dapat masuk dan s pasien
 Mengungkapkan
keluardari kamar terhadapkurangnya
keinginan untuk
mandi privasi
meningkatkan  Melepaspakaian  Menyediakanprivasis
pengetahuan  Mengosongkankand elama proses
tentang strategi ung kemih eliminasi
 mengosongkanusus
perawatan diri  Gantipakaian anak
 Membersihkan diri
 Mengungkapkan setelaheliminasi
setelahbuang air 
keinginan untuk Menyiram
kecil
meningkatkan toilet/membersihkana
 Membersihkan diri
tanggung jawab lat eliminasi (toilet,
setelahbuang air
perawatan diri pispot)
besar
 Mengungkapkan  Instruksikan
 Mendapatnaik
keinginan untuk jadwalbuang air
daritoilet atautoilet  Memantaupasien
meningkatkan
dengn integritas kulit
perawatan diri

/
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Merupakan suatu usaha untuk melatih anak untuk mengontrol dalam
melakukan buang air kecil dan buang air besar. Dalam melakukan latihan
buang air kecil dan besar pada anak membutuhkan persiapan secara fisik,
psikologis, maupun secara intelektual, melalui persiapan tersebut diaharapkan
anak mampu mengontrol buang air kecil sendiri. Pada toilet training selain
eltih anak mengontrol buang air besar dan kecil juga dapat bermanfaat dakam
pendidikan seks sebab saat anak melakukan kegiatan tersebut disitu anak akan
mempelajari anatomi tubuhnya sendiri serta fungsinya.
Teknik yang digunakan bis amelalui lisan dan modeling terhadap pada hal hal
yang perlu diperhatikan selama toilet training, diantaranya : hindari popok
sekali pakai dimana anak anak akan merasa aman, ajari anak mengucapkan
kata kata yang khas yang berhubungan dengan air besar, mendorong anak
untuk melakukan rutinitas ke kamar mandi seperti cuci muka saat bangun
tidu, cuci muka, cuci kaki, dan lain lain. Jangna marh bila anak gagal, dalam
melakukan toilet training.

3.2 Saran
Bagi para mahasiswa agar lebih aktif dalam diskusi maupun bertanya
dengan orang yang lebih tahu sehingga para mahasiswa dapat memperoleh
pengetahuan yang lebih dalam. Bagi para dosen agar dapat menjelaskan pada
mahasiswa lebih detail lagi pada bagian yang masih kurang pada pembahasan
yang dilakukan pada saat diskusi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Soetjiningsih. 1998. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC


2. Hidayat, AA. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta : Salemba
Medika.
3. Supartini Y. 2003. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : EGC.
4. Rudolph AM, Hoffman JIE, Rudolph CD. 2006. Buku Ajar Pediatri
RUDOLPH volume 1. Jakarta: EGC
5. Wong, D.L. 1999. Nursing Care Infants and Childrens. St.Louis Mosby.
6. NANDA International. 2009. Nursing Diagnosis: Definition and
Classification 2009-2011. USA: Willey Blackwell Publication.
7. Moorhead, Sue, et all. 2008. Nursing Outcomes Classification (NOC) Fourth
Edition. USA: Mosbie Elsevier.
8. Bulecheck, Gloria M, et all. 2008. Nursing intervention Classification (NIC)
Fifth Edition. USA: Mosbie Elsevier.