Theodor Adorno

Columba Peoples
Karya-karya Theodor Wiesengrund Adorno meninggalkan warisan berupa analisis yang luas (tentang topik sangat beragam, dari anti-Semitisme, psikoanalisis, hingga musik jazz), dan kosakata sekaligus konsep yang tak kalah luas dan canggihnya (misalnya; instrumental reason atau penalaran instrumental; negative dialectic atau dialektika negatif; dan damaged life atau kehidupan yang rusak), hingga berbagai refleksi mengharukan sekaligus provokatif, misalnya: “Hidup telah menjadi ideologi bagi ketidak-hadirannya sendiri” (Adorno 2005a: 190); dan “Pencerahan adalah totalitarian” (Adorno dan Horkheimer 1997: 6). Bab ini secara ringkas menggambarkan tema-tema utama pemikiran Adorno dan keterkaitan potensialnya dengan Hubungan Internasional. Untuk melakukannya, bagian ini menguraikan bagaimana ide-ide kunci Adorno berevolusi dan hubungannya dengan teori kritis, sejauh mana Hubungan Internasional tergambarkan dalam tulisan-tulisan Adorno, dan –sebaliknya– sejauh mana Adorno telah mempengaruhi dan mungkin masih mempengaruhi studi Hubungan Internasional.

Adorno dan Teori Kritis
Dalam banyak hal, dapat dikatakan bahwa perkembangan intelektual Adorno tidak dapat dipisahkan dengan kisah hidupnya. 'Kehidupan yang rusak' (mengutip sub-judul dari karyanya Minima Moralia pada 1951) Adorno memang ditandai dengan peperangan, perobahan sosial penuh bencana, dan pengasingan/pengungsian. Dampaknya dapat dilacak bahkan dalam beberapa karya filsafatnya yang paling abstrak. Meski demikian, itu juga diwarnai oleh perdebatan dan keterkaitan intelektual yang ketat dengan berbagai pemikir kunci lainnya yang sekarang secara konvensional diasosiasikan dengan tradisi Teori Kritis (lihat Jay 1996a). Adorno terlahir dengan nama Theodor Wiesengrund di Frankfurt am Main pada 1903. Adorno adalah nama gadis istrinya, yang ia adopsi pada 1930-an untuk perlindungan diri karena ia punya darah Yahudi (Jarvis 1998: 3). Pada 1920-an, Theodor Adorno telah memantapkan diri sebagai pemikir yang berbakat dan berharga. Di bawah pengaruh mentor sosiolog dan kritikus budaya Jerman yakni Siegfried Kracauer, Adorno muda sudah fasih atas filsafat Barat, yakni Hegel, Marx dan, khususnya, Kant, serta fasih atas karya teoris kontemporer semacam Georg Lukács, Ernst Bloch dan Max Weber (Wiggershaus 1986: 66-69). Maka, Adorno pun terbenam dalam tradisi pemikiran idealis Jerman dan sekaligus dalam perdebatan kontemporer atas teori Marxis, yang kala itu dicontohkan dalam karya pemikir sekelas Lukács dan Bloch. Kedalaman intelektual ini mewarnai semua karya Adorno, yang kaya dalam acuan untuk filsafat klasik maupun filsafat modern, dan tulisan-tulisannya sering menunjukkan pengetahuan mendalam atas keduanya. Namun, pada 1920-an, Adorno tidak secara langsung berkaitan dengan filsafat itu. Malahan, perhatiannya yang pertama (dan selamanya) adalah pada kritik musik dan musikologi (Wiggershaus 1986: 70; Adorno 2007). Baru, pada 1930-an, ia mulai kontak dengan sekelompok pemikir yang kini secara kolektif dikenal sebagai 'Mazhab Frankfurt'. Sejak itu, Adorno lebih dikenal atas keterlibatannya dengan filsafat dan perdebatan dalam teori sosial. Istilah 'Mazhab Frankfurt', bersama karakteristik dan keanggotaan yang menetapkannya, adalah sumber dari begitu banyak perselisihan (Jay 1996b: 39). Karena sering digunakan selang-seling dengan istilah Teori Kritis, istilah itu selalu diambil untuk mengacu pada cap Marxis Barat atau pemikiran Marxis

tujuan IFS adalah mengembangkan bentuk analisis lebih canggih yang. di mana Adorno menjadi bagian penting. Karena perobahan radikal problematis ternyata lebih kompleks daripada yang digambarkan dalam Marxisme ortodoks. alasan intelektual Adorno untuk terasosiasi dengan lembaga itu. dan. psikoanalisis. Walau perdebatan terus berlanjut tentang keutuhan atau kehancuran Mazhab Frankfurt (Held 2004: 14. seperti diilustrasikan oleh fakta bahwa Adorno dan rekan-rekannya tertanam dalam latar belakang intelektual yang berbeda (Adorno dalam ilmu musik. Lainnya adalah landasan bersama dari konstituen para pemikir yang berbeda (walaupun untuk berbagai kembangan) dalam tradisi idealis Jerman. Kant. kelompok yang terbentuk di IFS itu terkait dengan penghitungan atas apa yang mereka anggap sebagai bentuk gagal dari sosialisme yang termanifestasi dalam Rusia era Stalinis dan dengan penjelasan atas kondisi itu (misalnya. Benjamin dalam kritik sastra. tidak hanya kecewa pada masyarakat kapitalis tetapi juga pada ortodoksi Marxis kala itu. dan sebagainya). Otto Kircheimer dan Eric Fromm (Held 2004: 14-15). bagaimanapun. Hal-hal itu lah yang mendasari karakter interdisipliner IFS yang memang sangat disengaja. Kekuatan intelektual penggerak di belakang institut itu dalam era awal bergabungnya Adorno. secara umum bagian awal atau generasi pertama dari pemikiran Mazhab Frankfurt. pemikiran Marxis. dan ini pada gilirannya memerlukan palet teoris yang lebih bervariasi. Franz Neumann. sebagian. Horkheimer dalam sosiologi. setidaknya. Tugas dari Teori Kritis. Pemikir lain yang agak jauh terafiliasi dengan IFS antara lain Walter Benjamin. Horkheimer menggambarkan tugas ini melalui kritik terhadap apa yang ia sebut sebagai Teori Tradisional. budaya massal. Dalam menjaga tema yang diuraikan di atas. Schopenhauer dan Nietzsche) dan teoris kontemporer (Weber. Pada awalnya. Leo Lowenthal dan Freidrich Pollock. bagaimanapun juga. Hal itu layak kita singgung sebentar untuk mendapatkan pengertian lebih mendalam atas evolusi pemikiran Adorno. Memang salah satu perhatian yang mengikat atas Mazhab Frankfurt era awal untuk bisa menjadi fluida keseluruhan adalah perasaan bersama tentang kekecewaan. Horkheimer. bangkitnya fasisme dan otoriterisme) yang tampak –bertentangan dengan ramalan Marxis ortodoks– telah menghambat terjadinya sosialisme di Jerman dan di negara industri Eropa Barat secara lebih luas. Menteorikan perobahan sosial memang membutuhkan pemahaman yang lebih dalam terhadap masyarakat. mendirikan program penelitian yang Adorno ikut berkontribusi di dalamnya. ilmu sosial dengan ilmu alam. Salah satunya adalah alam penyatuan antar-disiplin yang disadari sendiri. membawa mereka ke dalam ranah –seni. dan manusia dengan alam. Horkheimer menetapkan program untuk lembaga yang bertujuan melakukan reinterpretasi radikal atas hubungan antara filsafat dengan praktik. kemudian mendorongnya ke arah yang berbeda. Para pemikir kunci yang biasa terdaftar dalam Mazhab Frankfurt ini meliputi Adorno serta kolaborator intelektualnya. Pada gilirannya. Jay 1996b: 39). dalam pandangan Horkheimer. atau IFS) yang pertama kali didirikan di Frankfurt pada 1923. keluarga– yang pada umumnya tidak dikenal dalam era Marxisme ortodoks (Held 2004: 13-14). Perhatian intelektual dan filosofis yang berbeda dari para pemikir ini. Fromm dalam psikoanalisis. Lukács dan Freud). adalah sebagian besar untuk mengungkap dan mendorong potensi-potensi laten dalam masyarakat yang dapat mengarah lebih jauh ke tujuan itu (Horkheimer 1972). Adorno membantu membentuk dan.Akhir yang memancar dari Institut für Sozialforschung (Institut Riset Sosial. sambil tetap menegakkan komitmen Marxis terhadap perobahan sosial radikal dan kategori analitik Marx (Antonio 1981: 330-31). Marcuse dalam filsafat. bukanlah figur Adorno sendiri tapi figur Max Horkheimer. suatu bentuk teori yang ia asosiasikan khususnya dengan positivisme ilmiah . ditandai oleh sejumlah keprihatinan yang berulang-ulang. Max Horkheimer serta Herbert Marcuse. yang menjabat sebagai direktur IFS pada 1930. tentu saja. dan khususnya. juga terbuka bagi aliran filsafat lainnya (termasuk Hegel. yang ia harapkan akan bergabung menjadi program riset sosial yang melandasi kemungkinan transformasi masyarakat secara radikal (Wiggershaus 1994: 36-40).

mereka juga diasingkan karena latar belakang Yahudi (termasuk Adorno yang seperti ayahnya adalah Yahudi hasil asimilasi). “Masa depan kemanusiaan. itu bisa membantu mengubah alat-alat produksi dan pengembangan teknologi menuju tujuan emansipatoris dan bukan tujuan eksploitatif. Namun Adorno. Akan tetapi. tampaknya ini jelas sangat jauh. pada 1933. dengan cara mengevaluasi secara kritis atas istilah itu sendiri. Teori Kritis. Immanent critique ini lebih baik daripada tanpa kritik. Aslinya didukung Horkheimer. Adorno berpendapat bahwa keindahan. Adorno pada awalnya menemukan perlindungan di Merton College. dan melibatkan diri dalam kritik terhadap pengertian Kantian tentang estetika (Adorno 1984). pada gilirannya konsep itu berpaling ke Hegel dan Marx dalam hal ini (Antonio 1981). metode immanent critique ini –sesuai dengan definisi aslinya– lebih imanen dan bukannya transenden: kritik yang berasal dari dalam istilah atau konsep itu sendiri. hubungan antara ilmu pengetahuan. Horkheimer berpendapat. bukan juga sekadar kebenaran 'objektif'': “Karya seni. Di satu sisi. Dari sana ia terus memberikan kontribusi pada jurnal IFS di pengasingan (yang sekarang didirikan kembali di Columbia University. dan menyoroti kontradiksi yang terkandung di dalamnya. namun . Sementara banyak anggota IFS mencari perlindungan di Amerika Serikat. adalah bentuk 'aktivitas transformatif' (Horkheimer 1972: 232). Untuk sebagian besar anggota. sudah menggabungkan dan mengasah kosakata konseptual secara integral baik terhadap fikirannya sendiri maupun terhadap Teori Kritis secara lebih umum. menurut Adorno. Oxford.dan bentuk-bentuk ilmu sosial yang mencoba meniru objektivitas ilmu alam. Dalam menentang idealisme Kantian. pemikiran kritis. bukan hanya objek yang diam tak berdaya. Bukannya tertarik pada ukuran eksternal atau titik Archimedes. dari visi Horkheimer tentang Teori Kritis. Horkheimer pada awalnya percaya bahwa pekerjaan ISF di arah ini dapat berkontribusi untuk mengembangkan tingkat kesadaran sosial kritis dalam massa (Held 2004: 38). Konsep immanent critique yang dilontarkan Adorno ini mengacu pada metode mengkritik sebuah konsep. Dengan demikian. tidak hanya secara geografis tetapi juga secara teoritis. sebaliknya. khususnya. Para anggotanya dipaksa kabur ke pengasingan karena kecenderungan pandangan sosialis mereka. menurut Horkheimer. yang hanya dihargai atau dikenali oleh subjeknya. terutama dalam bentuk esai atas kritik musik (Jarvis 1998: 12).” begitu dideklarasikan Horkheimer pada 1937 dalam esai tentang Teori Tradisional dan Teori Kritis. interpretasi dan penerapan Adorno terhadap immanent critique dalam kritik musik relatif kurang mengikuti Hegel daripada interpretasi Horkheimer yang sangat mengikuti Hegel. Adorno juga tidak serta-merta mengikuti Kant. Namun. teori atau situasi. Berkembangnya Naziisme di Jerman pada akhir 1930-an tidak hanya meretakkan optimisme Horkheimer tentang difusi 'sikap kritis' di kalangan kaum proletariat yang tidak dapat diperbaiki lagi. Adorno menjaga hitung-hitungan materialis tentang pengalaman estetika di mana karya seni menjaga 'truth content' alias 'konten alias isi yang benar' (istilah kunci dalam pemikiran Adorno). pengalaman tentang kebenaran isi dari suatu objek. Intepretasi Adorno ternyata lebih 'berhutang banyak pada pengertian Kant tentang antinomies' –ide bahwa penggunaan akal pada akhirnya dapat mengarah untuk mengungkap kontradiksi. Dengan menantang 'pemikiran ilmiah borjuis' itu. tapi itu juga mengoyak landasan IFS. dalam refleksinya tentang seni dan musik. kegiatan ilmiah itu sendiri adalah bagian dari tatanan sosial dan sistem kapitalisme seperti yang terwujud dalam. Meski pada dasarnya setia pada pemahaman ini.”(Horkheimer 1972: 242). teknologi dan produksi. “bergantung pada keberadaan sikap kritis hari ini. New York). (Brunkhorst 1999: 36). menantang landasan Teori Tradisional dan sekaligus landasan tatanan sosial yang secara inheren memang saling terikat. Bagi Horkheimer. pretensi objektivitas semacam itu adalah selalu didasarkan pada asumsi ilusi atas lepasnya teoris dari jagad sosial (atau apa yang Horkheimer istilahkan sebagai 'swasembada imajiner' dari ilmu pengetahuan) (Horkheimer 1972: 242). Di antara yang pertama adalah konsep immanent critique alias kritik yang secara natural sudah selalu ada. yang beranggapan bahwa keindahan adalah dialami secara subjektif. bukan hanya dialami oleh subjek individual.

memiliki makna . dalam pandangan Adorno. tidak pernah sepenuhnya sependapat dengan keyakinan Horkheimer tentang potensi revolusioner kelas pekerja. Optimisme Horkheimer sebelumnya mengenai prospek perobahan sosial radikal telah lenyap dengan cepat akibat menjulangnya Hitler dan peristiwa Perang Dunia II. tentang berbagai perspektif filsafat. Adorno justru berkonsentrasi pada 'cara filsafat untuk mengekspresikan struktur masyarakat' (Held 2004: 201). Dengan demikian. sebagaimana diisyaratkan judul aslinya. “Akan sulit untuk mengatakan ide-ide mana yang berasal dari dalam fikiran Adorno dan yang dari fikiran saya sendiri. Beda dengan penggunaan secara umum. yakni upaya untuk diketahui” (Jarvis 1998: 96). Hal yang sama juga dapat dikatakan. Meskipun hal ini menyebabkan Adorno lebih berkonsentrasi pada teknis analisis rinci dan padat atas filosofi tertentu. bahwa 'massa yang sama juga bersorak menyambut sang fasis penakluk meski pada hari sebelumnya masih bersorak menyambut oposisi' (dikutip dalam Brunkhorst 1999: 40).mereka membuat diri mereka sendiri sebagai momen subjektif karena mereka sendiri adalah kognitif. Berkat penggabungan atas kekecewaan bersama. Adorno. metakritiknya terhadap filsafat secara luas tetap sesuai dengan upaya lebih luas di dalam Teori Kritis untuk mengembangkan 'kesadaran sosial kritis' (Adorno. karya fragmentaris yang menarik diri dari struktur naratif langsung mendukung gaya esai (seperti cenderung menjadi khas dari sebagian besar tulisan Adorno khususnya (Jarvis 1998: 137)). ada ketegangan dialektis antara subjek dan objek yang Adorno yakini akan melekat pada karya seni itu sendiri (Held 2004: 202). Pada 1939 ia berkata pada teman dekatnya Walter Benjamin tentang kemenangan Franco di Spanyol. Dialectic of Enlightenment (Adorno dan Horkheimer 1997). baik secara geografis maupun intelektual. Objek kunci analisis Adorno dan Horkheimer adalah 'enlightenment' alias 'pencerahan'. 1973: 323) sejajar dengan upaya Horkheimer (Held 2004: 201). Horkheimer mengenang kembali waktu itu. positivisme. menantang radikal asumsi-asumsi Teori Kritis sebelumnya (Wyn Jones 1999: 29). Adorno dan Horkheimer bergerak mendekat satu sama lain. Isinya adalah argumen kuat yang menyebut bahwa keseluruhan sejarah filsafat Barat membalikkan asumsi-asumsi kemajuan manusia selama berabad-abad dan. Dialectic of Enlightenment (yang pertama kali muncul dengan judul Philosophical Fragments pada 1944 dan dalam judul yang lebih umum dikenal pada 1947) menempatkan perkembangan ini dalam narasi trans-historis yang berjalan dari era Yunani kuno hingga abad kedua puluh. Ini adalah. Kolaborasi mereka –yang awalnya terjadi di New York dan kemudian di California– akhirnya memuncak dalam salah satu karya seminal filsafat abad keduapuluh. Tentang Pencerahan sebagai Totaliterisme: Dialectic of Enlightenment Pada akhir 1930-an. konsep 'enlightenment'. Meski lahir dari konteks langsung atas bangkitnya fasisme dan penolakan terhadap potensi revolusioner proletariat sebagai motor perobahan sosial. yang juga akan ditandai oleh antagonisme internal dan karena itu harus juga tunduk pada analisis kritis. Jadi. kritik bersama mereka atas positifisme (di mana Adorno mengikuti prinsip-prinsip dasar Horkheimer) dan kritik berbasis materialistik mereka terhadap filosofis idealisme (Brunkhorst 1999: 36) –belum lagi persahabatan pribadi mereka yang akrab– Adorno dan Horkheimer mencapai titik kondusif untuk upaya-upaya intelektual bersama dalam periode di pengasingan Amerika Serikat. bagi Adorno dan Horkheimer. seperti yang dicontohkan melalui nada lebih pesimis dalam karya 1947 berjudul Eclipse of Reason (Horkheimer 2004). misalnya. terutama dalam hal kaitan antara konteks material dan filosofi abstraknya. dan tingkat truth content yang dapat dikemukakan melalui refleksi kritis. saat Horkheimer mengusahakan pengembangan perspektif kritis melalui pengujian fungsi-fungsi sosial dari sistem berfikir. Itu terjadi ketika Adorno diundang untuk bergabung dalam IFS di New York pada 1937. dalam prosesnya. pantas dikatakan demikian. filosofi kami adalah satu” (Horkheimer 2004: vi).

Adorno 2001). Adorno dan Horkheimer juga terlibat dalam upaya kritik budaya untuk menunjukkan bahwa. dan pencerahan kembali ke asalnya yakni ke Mitologi' (Adorno dan Horkheimer 1997: xvi). Akibatnya. Teknologi pada gilirannya mendorong kecenderungan untuk lebih memperlakukan manusia sebagai sarana (dan dengan demikian menjadi suatu komoditi) daripada sebagai tujuan. telah memiliki 'isi kognitif'.. lebih digunakan untuk mengontrol dan mengeksploitasi –bukannya membebaskan– manusia. serta teknologi dan teknik yang dikembangkan dari situ. Namun. 'Mitos adalah sudah menjadi pencerahan' dalam arti bahwa mitos sudah berusaha diklasifikasikan dan dikategorikan. Secara konvensional. Kedua fenomena tersebut. Di jantung penghitungan Adorno dan Horkheimer adalah konsepsi tentang perjuangan manusia dengan alam. Maka. dominasi internal kondisi manusia itu sendiri. dalam menghitung ulang pemikiran politik Barat. Demikian juga. Manusia telah terus-menerus terlibat dalam upaya melindungi diri dari kekuatan elemental alam dan telah. “. Adorno dan Horkheimer justru berusaha mengajukan 'dua tesis' yang tampaknya sama sekali keluar dari penafsiran konvensional: bahwa 'mitos adalah sudah menjadi pencerahan. Ini adalah inti dari instrumental reason. misalnya.. pencapaian pengetahuan telah diprioritaskan sebagai dasar untuk pertahanan diri. “Runtuhnya manusia dan kemanusiaan. yang telah menjadi bentuk dominan dari rasionalitas. menggabungkan elemen-elemen modern (tingginya teknologi modern dan industrialisasi) dengan elemen-elemen kuno dan mitologi (seperti panggilan menuju mitologi bangsa Arya di masa lalu). 'pencerahan kembali ke asalnya yakni ke mitologi'. seperti yang terwujud dalam sistem produksi kapitalis (Adorno dan Horkheimer 1997: xv). adalah sangat pas dengan dengan lintasan umum enlightenment. karena itu enlightenment adalah juga proses dominasi: dominasi eksternal alam oleh manusia. di mana manusia berjuang melawan kekuatan-kekuatan elemental mistis. Langkah menuju masyarakat yang tersanitasi dan terkelola dalam skala besar jelas-jelas menolak dan menekan hal-hal irasional. yang menghargai hak-hak istimewa pada kemajuan teknologi dan rasionalitas sekuler (fitur yang diidentifikasi Max Weber di bawah rubrik 'kekecewaan').tidak akan dapat . seperti yang diilustrasikan tentang kamp-kamp kematian Nazi Jerman dengan bentuk industrialisasi pembunuhan massal (Adorno 2003a). telah –melalui difusi massa film dan radio– menjadi 'Industri Budaya' lengkap dengan “kultus selebriti (bintang-bintang film) yang memiliki mekanisme sosial builtin untuk menurunkan derajad setiap orang yang menghambat dalam cara apa pun” (Adorno dan Horkheimer 1997: 236). Jauh dari sekadar cerita tentang kemajuan manusia.. seperti yang Adorno dan Horkheimer ilustrasikan dalam analisis mereka tentang Odyssey (1997: 43-80). dengan sekadar mengganti yang irasional dengan apa yang Adorno dan Horkheimer pandang sebagai pelarian kekanakkanakan. Modernitas. dan dominasi beberapa manusia terhadap manusia lain.. Hollywood menggabungkan teknologi dan teknik-teknik film modern dengan romantisisme. Pengetahuan tentang dunia alam dan dunia sosial. yaitu. bagi Adorno dan Horkheimer. enlightenment lebih merujuk pada periode sejarah abad kedelapanbelas dan pada kemajuan dalam pengetahuan dan pemikiran rasional yang menghalau takhayul kuno. sering menggabungkan ingatan terhadap cita-cita mitos dan transendental. namun tetap dengan efek menciptakan audiens massal yang patuh dan pasif (Adorno dan Horkheimer 1997: 120-67. di mana akal sehat pada akhirnya digunakan untuk mendominasi (apa yang Adorno dan Horkheimer istilahkan dengan 'instrumental reason').. yang menyebabkan letusan kekerasan lebih besar. Ideologi Nazi.” begitu diprediksi Adorno dan Horkheimer. yang pernah bisa memungkinkan adanya unsur kebebasan dan kreativitas individu. dan ini adalah karakter modernitas meski ada pretensinya yang bertentangan. proses 'enlightenment' sebenarnya sudah bisa dilacak bahkan dari tulisan-tulisan era Yunani kuno dan hingga Yahudi kuno.sangat spesifik yang hanya sebagian terkait pada para pemikir seperti Descartes dan Kant. Adorno dan Horkheimer berpendapat lebih umum bahwa instrumen modernitas yang konon bebas-nilai (seperti ilmu pengetahuan dan teknologi modern) sebenarnya secara rutin sudah terikat dengan sistem ideologis. Budaya. mendasarkan eksistensi mereka pada percobaan dominasi terhadap alam. dalam prosesnya.

dan lambang lain yang sering diasumsikan sebagai kemajuan yang sebenarnya justru mengarah ke barbarisme– adalah salah satu hal yang tetap konstan dalam karyakarya Adorno (Adorno 2003a: 19). Seperti dengan keterlibatannya pada isu-isu politik yang lebih umum. itu belum cukup banyak untuk jumlah teorisasi internasional agar ia segera dikenali sebagai ilmuwan mainstream Hubungan Internasional. “Kritik terhadap enlightenment.. Dialectic of Enlightenment tetap setia pada unsur-unsur yang sebelumnya mendukung Teori Kritis. “Tidak ada sejarah . kolaborasi antara Adorno dengan Horkheimer sangat kontras dengan optimisme awal Horkheimer tentang prospek bagi perobahan masyarakat secara emansipatoris.. sekembalinya ke Jerman pada 1950-an (di mana ia menjadi direktur bagi IFS yang didirikan kembali di Frankfurt pada 1957) sering dianggap telah menjauhkan diri dari gerakan-gerakan untuk perobahan sosial dan perobahan politik pada masa itu. Dalam beberapa hal. oleh Horkheimer” (Wiggershaus 1986: 621). dengan memori tentang ketertarikan massa terhadap fasisme di Jerman terasa masih segar. analisis mengenai isu-isu internasional utama pada zamannya relatif sangat sederhana. kekuatan yang harus kita lawan adalah mereka-mereka yang berada di jalur sejarah dunia” (Adorno 2003a: 20).. dan banyak lagi– sehingga tulisan-tulisannya dibumbui oleh referensi dari peristiwa-peristiwa semacam itu. Rengger 2001: 95) sebagaimana termuat dalam Teori Kritis sebelumnya. tulisan-tulisan Adorno hanya mencurahkan sedikit waktu atau ruang untuk pembahasan peristiwa-peristiwa itu secara eksplisit. seperti dicatat Wiggershaus. Namun. 2001). Saat berbicara tentang genocide dan penggunaan bom atom. Adorno dan Horkheimer sama-sama masih menjaga jarak dari proyek politik besar. Adorno menuliskan “. Sebaliknya. Namun.. sudah bergerak dalam arah yang sama (Horkheimer 2004). isu internasional sering memainkan fungsi ilustratif penting dalam tulisan-tulisannya. masih ada unsur immanent critique: Penalaran. Ini bukan sekadar produk pengaruh Adorno terhadap Horkheimer yang. atau bahwa Adorno menganggap mereka memang seperti itu..tidak benar-benar sesuai dengan konsep Teori Kritis yang mampu mencerminkannya pada fungsi sosial yang telah dikembangkan Habermas dan. produksi massal. Dalam hal penghitungan kemajuan manusia yang tampaknya pesimis ini. munculnya abad nuklir.. dalam hal lain. seperti ditunjukkan sebelumnya. menjauhkan diri dari gerakan mahasiswa Jerman meski pengikut setianya. Ini bukan untuk mengatakan bahwa isu-isu internasional tidak penting. Post-Dialectic of Enlightenment. Adorno membela sikap ini dalam hal ini melindungi otonomi intelektualnya. Meski Adorno mampu memberi pengkajian rinci di kolom astrologi untuk Los Angeles Times (Adorno. Revolusi Rusia.” yang diberikan itu “. mereka memainkan peran ini ketika mereka benar-benar terjadi. Adorno. digunakan untuk mengkritik enlightenment itu sendiri dan menggambarkan bahwa 'kemerdekaan sosial tidak bisa dipisahkan dari fikiran yang tercerahkan' tapi enlightenment itu secara bersamaan juga berisi 'benih' bagi pembalikan diri sendiri (Adorno dan Horkheimer: 1997: xiii). mereka cenderung melakukannya dalam konteks refleksi begitu besar misalnya untuk membuat hal-hal konvensional dalam hubungan internasional sebagai sekadar catatan kaki. yakni Jürgen Habermas. Tema ini –bahwa rasionalisasi. Tapi. sebelumnya. sikap ini “... Wall Street Crash. Jelas.dipisahkan dari perkembangan sosial .dimaksudkan untuk membuka jalan bagi gagasan positif tentang pencerahan yang akan melepaskannya dari jeratan dominasi buta” (Adorno dan Horkheimer 1997: xvi).. Adorno dan Hubungan Internasional Masa hidup Adorno dicemari oleh pergolakan internasional besar –dua perang dunia. Yang pasti. sangat erat terlibat. Pembelokan ini telah dicatat sebagai bagian sangat signifikan dalam teori Hubungan Internasional dan studi keamanan kontemporer yang berusaha menghidupkan kembali dan menggabungkan konsep-konsep emansipasi dan immanent critique (Wyn Jones 1999: 39-52. yang dipandang sebagai alat pencerahan. keterlibatan Adorno dengan politik internasional dibatasi oleh keinginannya untuk otonomi.. perkembangan untuk menjadi regresi” (1997: xiv-xv).

Adorno akan terlihat seperti elitis pesimistis yang tergolong dalam zaman mandarin modernisme salah kaprah –yakni pemikir dengan sedikit penerangan untuk menawarkan situasi historis yang tampaknya sangat berbeda. dan Hubungan Internasional.universal. bisa dibilang sering disalahpahami) bahwa “Tidak mungkin untuk menulis puisi setelah terjadinya peristiwa Auschwitz” sering diterjemahkan secara alternatif sebagai “Menulis puisi setelah Auschwitz adalah barbar” (Hofman 2005)... Sebagian besar kaum post-positivis menoleh ke teori Hubungan Internasional yang telah digarap Mahzab Frankfurt baik secara langsung (Linklater 1996) atau sebagai komponen dari teori kritis yang dipahami secara lebih luas (Smith 1996). seperti teori sosialnya atau kritik musiknya. dan pengasingan yang dialaminya sendiri– memainkan peran besar dalam membentuk refleksi Adorno. misalnya. Di sini mungkin bisa disebut sebagai homologi tertentu atas keterlibatan Adorno sendiri dalam sengketa positivis di Jerman pada 1950-an dan 60-an (Adorno 1976). Arah teori kritis Hubungan Internasional.. Contoh klasik di sini adalah peringatan Adorno yang sering dikutip (namun. maka akan masuk akal jika ada pembukaan logis untuk referensi Adorno dalam Hubungan Internasional kritis. keterlibatan dengan Idealisme Hegel– kita akan menemukan bahwa aspek yang bahkan tampaknya tidak tersambung dari karya Adorno. “. telah –karena berbagai alasan– cenderung menyempit ke sekitar Adorno daripada ke karyanya secara langsung. Mereka semua bagian dari apa yang ia sendiri sebut sebagai 'dimensi historis' dari 'damaged life' (Adorno 2005: 33). pemahaman penuh atas karya Adorno membutuhkan pembahasan berkelanjutan dengan teks-teks primernya dan kesadaran akan konteks di mana teks itu ditulis. seperti. ada beberapa keterkaitan eksplisit yang dibuat di sini. Karena itu. Selain itu.” begitu dinyatakan Adorno dalam Negative Dialectics. seperti dikatakan Simon Jarvis: Jika dibaca dengan terburu-buru.. tapi tampaknya tanpa keperluan untuk menyertakan teori formal tentang konflik negara. terjadi dalam konteks diskusi tentang filsafat Hegel dan hubungan antara kontinuitas dan diskontinuitas (Adorno 1973: 300-358). dan pembaca didorong ke arah rekomendasi untuk membaca daftar bacaan lebih lanjut di bawah ini. Jika kita memotong bagian-bagian yang tampak sulit atau usang –misalnya. Beyond Realism and Marxism: Critical Theory and International . Adorno memberikan suatu ketentuan dari keniscayaan dan kehancuran konflik yang semakin meningkat yang setiap tokoh realis pesimistis akan banggakan. “Apakah orang bisa hidup setelah Auschwitz?” (Adorno 2003b: 435). Holocaust. tiba-tiba membuat tidak masuk akal (Jarvis 1998: 1.. Kurang pemilihan kutipan kunci dalam karya Adorno –meskipun ada kebutuhan untuk bab-bab pendahuluan yang ditawarkan di sini– memberi risiko kerusakan serius terhadap tulisan-tulisan Adorno yang sudah disusun dengan hati-hati di mana gaya dan posisi teks sudah bisa menjadi bagian integral dari argumennya.yang mengarah dari kekejaman menuju kemanusiaan. Dengan mencamkan pengertian ini. Kutipan yang dikutip sebelumnya. 1950) bisa diberantas seluruhnya.. yaitu pertanyaan apakah benar atau tidak kecenderungan yang memberi kebangkitan pada peristiwa Auschwitz. Sebuah catatan harus diutarakan dengan hati-hati di sini. identitas dan non-identitas). perang. Di sini. Komentar Adorno di sini harus diletakkan dalam konteks yang lebih luas atas refleksinya tentang bagaimana bahasa bisa mewakili besarnya penderitaan manusia (yang di kemudian hari ternyata cocok dengan refleksi-refleksinya tentang bahasa. tetapi ada satu yang mengarah dari katapel ke bom megaton” (Adorno 1973: 320). pengalaman Adorno tentang persitiwa-peristiwa sepanjang hidupnya –terutama tentang fasisme. Namun. Mereka juga berkaitan dengan pertimbangannya lebih lanjut tentang pertanyaan.. 3). nasionalisme atavistis –karakter yang muncul kembali setelah tidak tampak dalam beberapa generasi– (Adorno 2003c) dan otoritarianisme (Adorno et al. saat sering membuat referensi pada kontribusi Adorno terhadap Kritis Teori. perang. Jika tidak.

maka itu berasal dari luar sifat alami iringan musik yang SS suka lakukan untuk meredam jeritan para korbannya (Adorno. yang optimis diwakili teori Habermas yang diinspirsi Kant dan yang pesimis diwakili terutama oleh sikap Adorno terhadap prospek kesadaran sosial yang kritis. Namun. tetapi juga berpendapat bahwa itu adalah aspek negatif dari dialektika –bukannya aspek positif dari dalektika itu– yang harus lebih ditekankan. termasuk konsep dari dirinya. hal itu harus melibatkan tidak hanya desakan 'utopis' dari Teori Kritis (Hoffman 1987). Untuk mensketsa kontur Teori Kritis dalam Hubungan Internasional. antara seperangkat properti yang tersirat dalam konsep dan aktualisasi dari konsep itu sendiri” (Held 2004: 215). yaitu.Relations karya Andrew Linklater and Security. Yang negatif menekankan persatuan. yang positif menekankan 'non-identik'. Jika teori kritis Hubungan Internasional adalah benar-benar untuk memajukan proyek emansipasi. Dengan kata lain. Adorno mengajukan kritik yang panjang dan berkelanjutan atas identitas pemikiran. Adorno sekali lagi menarik gagasan dialektika dari Hegel. referensi ke SS dan para korbannya adalah indikasi bagi konteks tulisan Adorno). Rengger berpendapat. Meski semua ini tampak sangat abstrak.” menurut Adorno (1973: 18). 1973: 365). yakni. yang mengasumsikan bahwa konsep dan objek adalah identik.dialektika negatif menilai hubungan antara konsep dan objek. kesadaran akan aktualitas ragawi atas penderitaan manusia harus terus mendorong perhatian kita ke ketidak-cukupan bentukbentuk tertentu representasi untuk menyampaikan penderitaan itu. implikasi yang nyata adalah bahwa jika berfikir adalah benar –jika berfikir itu benar hari ini. Dalam Negative Dialectics (Adorno 1973). Jadi.. seperti diakui Adorno. Dalam upaya melepaskan diri dari bentuk pemikiran ini. tetapi juga 'sisi gelapnya' seperti ditekankan dalam karya Adorno (Rengger 2001: 96). beberapa konsep dari tulisan-tulisan Adorno berikutnya telah dipungut oleh penulis Hubungan Internasional. dalam upaya mengatasi 'masalah ketertiban dunia' seperti dibahas dalam teori kritis Hubungan Internasional.. Jika fikiran tidak diukur dengan ekstrimitas yang berada di luar jangkauan konsep. bahasa. menurut Rengger. memiliki 'dua mode atau wajah'. Rengger menggambarkan bahwa salah satu konsep paling terkenal Adorno adalah dialektika negatif. “. Strategy and Critical Theory karya Richard Wyn Jones sama-sama merujuk pada Adorno secara simpatik tapi negatif untuk studi Hubungan Internasional dan studi keamanan. “Kebutuhan untuk meminjamkan suara pada penderitaan adalah syarat bagi semua kebenaran. Adorno berpendapat bahwa konsep. Seperti dikatakan Adorno sendiri: “Jika dialektika negatif menyerukan pemikiran refleksi-diri. dan kerangka berfikir. dalam semua kasus– maka itu juga berarti berfikir melawan dirinya sendiri. Adorno mendasarkan usahanya untuk berlaku adil terhadap kenyataan penderitaan manusia (dan. kecenderungan –terutama yang tampak jelas dalam idealisme Kant– untuk mengidentifikasi objek tertentu dalam konsep universal melalui proses kategorisasi. harus 'difikirkan melawan' dasar bahwa mereka tidak pernah benar-benar bisa menangkap apa yang mereka rancang untuk digambarkan dan justru sering membuang elemen-elemen dari wilayah non-identitas. Teori Kritis. Sarannya adalah bahwa kita menggunakan . Linklater lebih merekomendasikan upaya-upaya Habermas untuk 'membangun dasar bagi bentuk alternatif teori sosial' yang berbeda dari yang ditawarkan Adorno (Linklater 1990: 25). Nicholas Rengger misalnya. sekali lagi. konsep-konsep memang tersedia bagi kita untuk mencoba dan menciptakan pemaknaan. mengutip konsep Adorno tentang negative dialectics (Rengger 2001). Wyn Jones lebih mencermati penekanan Horkheimer pra-Dialectic of Enlightenment pada emansipasi dan berpendapat bahwa “karya Adorno berikutnya tidak dapat memberikan bantuan apa pun bagi tugas meminjamkan dukungan intelektual pada perjuangan praktis untuk emansipasi” (Wyn Jones 1999: 52). Di tempat-tempat lain. 'ekstrimitas yang berada di luar jangkauan konsep'.

mengungkapkan sisi tertentu dari objek yang tidak bisa diakses untuk pemikiran identitas (Held 2004: 215) dan. Sebagaimana sudah dicatat di atas. Atas landasan ini. ideidenya mungkin menawarkan jembatan antara teori kritis Hubungan Internasional yang digambarkan di Mahzab Frankfurt dan berbagai pendekatan post-strukturalis. feminis dan kritis lain yang juga mengisi subjek itu.tidak dapat menyediakan cetak biru bagi seperti apa kehidupan yang baik itu. tetapi hanya mengkaji seperti apa kehidupan kita yang 'rusak' itu” (Jarvis 1998: 9). Tapi ini juga menciptakan tunjangan yang penuh harapan terhadap 'pemikiran utopis' (di mana Adorno menariknya dari Ernst Bloch). Kecenderungan untuk menafsirkan teori kritis Hubungan Internasional sebagai 'proyek emansipatoris'. 1973: 18-19. Adorno.. berpendapat bahwa karakter kritis teori Hubungan Internasional ala Habermasian (misalnya. . mengabaikan sejauh mana emansipasi itu mungkin memerlukan program rekomendasi untuk rekonstruksi ketertiban dunia yang bisa sangat mengandalkan instrumental reason. Saat konsep tidak pernah dapat sepenuhnya menangkap apa yang ada. menurut ia. perlu dicatat bahwa Adorno pada akhirnya menjaga sikap kritis canggih terhadap klaim-klaim kebenaran dan bentuk-bentuk representasi. Jadi Linklater dapat dilihat menempatkan dasar bagi 'sociology of global morals' (sosiologi moral global) dan pengertian tentang 'embodied cosmopolitanism' (kosmopolitanisme yang diwujudkan) dalam perhatian Adorno terhadap sifat keragawian dan penderitaan manusia (Linklater 2007b. keterlibatan lebih besar antara teori Hubungan Internasional dan karyakarya Adorno adalah harus terus didorong untuk dikaji. meniru strategi yang dikembangkan Adorno. Adorno mengamati bahwa manusia punya lebih sedikit kesulitan dalam mengidentifikasi 'bentuk-bentuk kehidupan yang buruk' yang harus dilawan. sehingga Adorno mempertahankan sifat berobah-obah dari hubungan sosial meski ia sendiri mengungukapkan abstraksi dari gerakan-gerakan untuk perobahan sosial. konsep juga tidak bisa menangkap apa yang mungkin belum terjadi. Linklater 1996) perlu dikaitkan dengan sisi 'negatif' dari Teori Kritis ini. Linklater mencatat bahwa “kritik atas etika wacana mengundang diskusi lebih lanjut bagi latar belakang klaim tentang kerentanan manusia dan kapasitas penderitaan”. Adorno memiliki pemahaman tentang rangsangan utopis yang berlawanan atas proyek program semacam itu. Adorno 2005). pendekatan seperti ini sangat sesuai dengan 'negatifitas utopia' Adorno yang “. daripada bersepakat tentang bagaimana sejatinya 'kehidupan yang baik' (Adorno. Rengger. menolak godaan sekadar mereduksi objek menjadi pengalaman subjektif (yang merujuk kembali ke konsep kebenaran-konten Adorno). dan Rengger merekomendasikan peran lebih besar untuk 'Adornoesque critique' dalam teori kritis Hubungan Internasional sebagai kontra bagi kecenderungan ini (Rengger 2001: 103). Gerakan yang terjadi baru-baru ini menunjukkan bahwa potensialitas bagi penggabungan dan penerapan ide-ide dan konsep-konsep Adorno ke dalam studi Hubungan Internasional adalah baru tahap awal untuk dijelajahi. serta berdasarkan apa yang sering dikatakan Adorno tentang pendalaman ke sifat kehidupan modern.. dikutip dalam Linklater 2007a: 23). pada saat yang sama.'konstelasi' (istilah yang diambil dari Walter Benjamin) konsep adalah karena “kecacatan yang ditentukan dalam setiap konsep membuat kita perlu mengutip konsep lain” (Adorno 1973: 53). Lebih lanjut. Linklater juga berpendapat bahwa penekanan Adorno pada kerentanan manusia memberikan titik awal yang berguna bagi penyelidikan terhadap penderitaan dan kewajiban kosmopolitan (Linklater 2007a: 23). Upaya ke arah ini telah mengikuti kebangkitan kritik terhadap pendekatan 'etika wacana' yang diasosiasikan dengan teori kritis Hubungan Internasional yang diilhami Habermasian –yang hingga belakangan ini cenderung mendominasi kerja teori Mazhab Frankfurt dalam Hubungan Internasional. Dengan cara ini kita bisa berharap menyampaikan beberapa pemaknaan bagi pengalaman khas. Mengingat hal ini. Sebagaimana diungkapkan Jarvis.

Brian O'Connor (ed. . Minima Moralia: Reflections on a Damaged Life (Adorno 2005) adalah karya aphoristic yang memberikan wawasan tentang berbagai topik dan mengandung teori sastra dalam gaya filsafat. dengan reproduksi beberapa esai yang biasanya sulit diperoleh dalam bahasa Inggris. refleksi Adorno terhadap karya seni dan estetika. Adorno: A Philosophical Reader (Stanford. Pembaca didorong ke arah penggunaan langsung teks primer.Bacaan Lebih Lanjut Batu pijakan bagi penjajagan ide-ide Adorno adalah Dialectic of Enlightenment (Adorno dan Horkheimer 1997) yang. dimaksudkan sebagai magnum opus.) (2003) Can One Live After Auschwitz? Theodor W. Beberapa bacaan juga tersedia yang berfungsi sebagai perkenalan pada Adorno serta mencetak ulang beberapa kutipan dari tulisan-tulisannya. maka baca saja Adorno: A Critical Introduction (Jarvis 1998) yang sangat baik dan dirancang untuk digunakan bersamaan dengan membaca tulisan-tulisan Adorno sendiri. Tetapi jika hanya mendapatkan panduan sekunder. seperti diuraikan di atas. Aesthetic Theory (Adorno 1984). Negative Dialectics (Adorno 1973) adalah risalah epistemologi Adorno yang padat dan bermanfaat. yang memperluas beberapa poin yang dibuat di sini. koleksi yang diterbitkan pasca-kematian Adorno. CA: Stanford University Press) sangat baik dalam hal ini. menetapkan beberapa tema yang muncul kembali dalam karya solonya kemudian.) (2000) The Adorno Reader (Oxford: Blackwell) dan Rolf Tiedemann (ed.