You are on page 1of 3

Menurut laporan kajian kebijakan perencanaan tenaga kesehatan pada tahun 2005

menyatakan bahwa Dalam menyusun rencana kebutuhan tenaga, dari seluruh Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota di lokasi penelitian, lebih dari separuhnya (52,6%) tidak
menerapkan Pedoman Penyusunan Perencanaan Kebutuhan SDM Kesehatan seperti
tercantum dalam Surat Keputusan Menkes No.81 Tahun 2004 dan hanya 47,4% yang
melaksanakan pedoman. Alasan utama tidak digunakannya pedoman tersebut berturut-
turut adalah belum adanya sosialisasi, keterbatasan tenaga, menyerahkan ke Badan
Kepegawaian daerah, belum tahu dan belum membaca surat keputusan (SK). Dan
alasan utamanya dikarenakan sosialisasi yang menjadi kendala besar, meskipun pada
daerah yang telah menerapkan pedoman sekalipun.
Dalam pengadaan tenaga kesehatan menunjukan gambaran bahwa secara umum
ketersediaan tenaga kesehatan di puskesmas masih dianggap tidak atau kurang
mencukupi untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Masalah utama
yang dihadapi oleh kabupaten/kota dalam pengangkatan pegawai baru adalah
keterbatasan formasi yang terjadi di 63,6 % kabupaten tertinggal dan 46,2 % di daerah
tidak tertinggal pada daerah penelitian. Sedangkan masalah berikutnya adalah
keterbatasan dana (18,2 % kabupaten tertinggal dan 34,6% kabupaten tak tertinggal),
kemudian di susul berturut-turut oleh masalah regulasi, peminat yang terbatas, lulusan
yang terbatas dan lain-lain.

Menurut hasil penelitian Apriyanto, dkk (2013) yang berjudul Implementasi kebijakan
subsidi pelayanan kesehatan dasar terhadap kualitas pelayanan puskesmas di kota
singkawan menyatakan bahwa Kualitas pelayanan kesehatan di puskesmas secara
umum sudah dianggap cukup baik, baik di Puskesmas Singkawang Tengah, Timur dan
Utara. Namun demikian persepesi masyarakat tentang kualitas pelayanan kesehatan di
puskesmas memperlihatkan secara dimesi kualitas pelayanan sudah baik, namun
dimensi kehandalan dan ketanggapan memperlihatkan skor yang “kurang baik”.

Menurut hasil penelitian suharmiati, dkk (2004) yang berjudul review kebijakan tentang
pelayanan kesehatan puskesmas di daerah terpencil perbatasan menyatakan bahwa
Ketersediaan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan puskesmas dan jaringannya di
daerah perbatasan belum terpenuhi dengan baik, Pola pelayanan kesehatan puskesmas
di daerah perbatasan belum optimal, dan Petugas puskesmas di daerah perbatasan
khususnya dokter dan paramedis belum menerima reward yang sesuai dengan tugasnya.

Meurut hasil penelitian Syafari, dkk (2013) yang berjudul analisis kebijakan dalam
mengatasi kekurangan bidan desa di kabupaten natuna menyatakan bahwa Strategi dan
kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Natuna dalam upaya mengatasi kekurangan
bidan desa belum berjalan optimal. Alokasi anggaran kesehatan di Kabupaten Natuna
masih kurang dan belum sesuai dengan kesepakatan nasional yaitu sebesar 15 %.
Sampai saat ini belum ada kebijakan khusus dalam upaya mengatasi kekurangan bidan
desa di Kabupaten Natuna. Anggaran kesehatan sebagian besar dialokasikan untuk
program kegiatan pembangunan sarana dan prasarana fisik. Hanya sekitar 2-3% dari
anggaran kesehatan dialokasikan untuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia
kesehatan. Insentif tenaga bidan desa di Kabupaten Natuna masih jauh lebih rendah
dibandingkan dengan insentif bidan PTT yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan.
Peran pemerintah daerah dalam regulasi kurang optimal, terutama dalam regulasi
distribusi tenaga kesehatan. Selama ini regulasi distribusi tenaga kesehatan masih
menerima dan mengakomodasi penempatan bidan dengan alasan ikut suami bertugas.
Sebagai organisasi birokratik pemerintah daerah, peran dan hubungan stakeholder
dalam kebijakan mengatasi kekurangan bidan desa sudah cukup optimal, hanya karena
belum ada kebijakan khusus yang bersifat mengikat dan diimplementasikan dalam
bentuk PERDA atau SK Bupati yang menyebabkan upaya ini kebijakana mengatasi
kekurangan bidan desa belum berjalan optimal.

Menurut penelitian Herman, dkk. (2008) yang berjudul evalusi kebijakan penenmpatan
tenaga kesehatan di puskesmas sangat terpencil di kabupaten buton menyatakan bahwa
Sebagian tenaga kesehatan tidak retensi tinggal dan bekerja di Puskesmas sangat
terpencil. Kecilnya penghasilan yang diterima karena tidak adanya insentif merupakan
alasan penting untuk pindah, selain faktor geografis, pengembangan karir dan
penghargaan yang tidak jelas. Upaya pemerintah daerah dalam penyediaan sarana
penunjang berupa rumah dinasdan kendaraan dinastidak berpengaruh terhadap retensi
tenaga di Puskesmas sangat terpencil.