You are on page 1of 5

Teori Evolusi: Charles Darwin vs Harun Yahya

Charles Darwin vs Harun Yahya. (Foto: Wikimedia Commons)


Kedua tokoh ini lahir dan hidup di dua masa yang berbeda. Charles Darwin lahir tahun
1809 dan meninggal 1882, sedangkan Harun Yahya lahir tahun 1956. Meski hidup pada abad
berbeda, keduanya memiliki minat dan fokus dalam membahas hal serupa, yakni asal-usul
makhluk hidup di bumi. Darwin terkenal dengan teori evolusinya setelah ia menerbitkan buku
berjudul The Origin of Species pada 1859. Hampir 150 tahun kemudian, tepatnya pada 2007,
Harun Yahya menerbitkan buku berjudul The Atlas of Creation.
Dengan terbitnya buku itu, nama Harun Yahya kemudian dikenal banyak orang karena ia
dengan berani mengajukan pemikiran yang berseberangan dengan Charles Darwin. Melalui tulisan
dan DVD-DVD-nya, Yahya menjabarkan teori penciptaan atau kreasionisme berdasarkan
pemaknaannya terhadap ajaran Islam. Atas upaya inilah, namanya kemudian selalu dikaitkan atau
identik dengan teori penciptaan atau kreasionisme Islam yang mengkritik habis-habisan teori
evolusi Darwin. Harun Yahya bahkan dijuluki sebagai pioner kreasionisme Islam. Tak sedikit
orang yang kemudian membandingkan pemikiran dari kedua tokoh yang saling berseberangan ini.
Apa saja inti pemikiran dari masing-masing teori keduanya mengenai makhluk hidup dan
kehidupan di bumi?
Teori Charles Darwin
1. Spesies tidak diciptakan dalam bentuknya yang sekarang ini, tetapi berevolusi dari spesies nenek
moyangnya.
2. Jika seluruh individu spesies berhasil bereproduksi, populasi spesies tersebut akan meningkat
secara tidak terkendali.
3. Spesies pada dasarnya memiliki fertilitas yang sangat tinggi, dan jumlah keturunan yang
dilahirkan lebih banyak dari jumlah keturunan yang bisa mencapai usia dewasa.
4. Populasi cenderung tetap dari tahun ke tahun.
5. Sumber makanan yang ada terbatas.
6. Terjadi perjuangan secara implisit di antara spesies untuk bertahan hidup.
7. Tiada dua individu organisme suatu spesis yang persis mirip satu sama lainnya.
8. Beberapa variasi dalam spesies secara langsung memengaruhi kemampuan individu untuk
bertahan dalam kondisi alam tertentu.
9. Kebanyakan variasi dalam suatu populasi dapat diwariskan kepada keturunan selanjutnya.
10. Individu yang kurang sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya memiliki kemungkinan
bertahan hidup yang lebih kecil dan kemungkinan akan lebih banyak melakukan reproduksi.
11. Individu yang selamat kemungkinan besar akan menurunkan ciri-ciri yang dimilikinya kepada
generasi berikutnya.
12. Proses ini menghasilkan populasi yang perlahan-lahan bisa beradaptasi dengan lingkungan,
dan pada akhirnya, setelah berlangsung secara terus-menerus akan terbentuk keragaman yang baru,
dan akhirnya spesies baru.

Fosil Tiktaalik. (Foto: Wikimedia Commons)


Teori Harun Yahya
1. Jenis-jenis makhluk hidup tak bisa berubah. Tidak mungkin terjadi perubahan dari satu bentuk
makhluk hidup ke bentuk lainnya, misalnya dari ikan menjadi amfibi dan reptil, reptil ke burung,
atau mamalia darat ke paus.
2. Tiap jenis makhluk hidup tidak berkerabat satu sama lain dan tidak diturunkan dari leluhur yang
sama. Masing-masing merupakan hasil dari suatu tindakan penciptaan tersendiri.
3. Seleksi alam adalah kaidah yang berlaku di alam, tapi tidak pernah menghasilkan spesies baru.
4. Tidak ada mutasi yang memberikan keuntungan berupa peningkatan kelestarian makhluk hidup.
Selain itu, mutasi tak menambah kandungan informasi dalam materi genetis makhluk hidup.
5. Catatan fosil tak menunjukkan adanya bentuk transisional, tapi menunjukkan penciptaan tiap
kelompok makhluk hidup secara terpisah.
6. Abiogenesis (kemunculan makhluk hidup dari materi tak hidup) tak mungkin terjadi.
7. Kerumitan dan kesempurnaan yang ditemukan pada tubuh dan DNA makhluk hidup tak timbul
karena kebetulan, tapi merupakan bukti ada yang merancang kerumitan tersebut.
8. Materi dan persepsi kita adalah ilusi, sedangkan yang nyata adalah Allah, Yang Meliputi
segalanya.
Ilustrasi evolusi. (Foto: Wikimedia Commons)
Perbedaan utama antara teori Charles Darwin dan teori Harun Yahya terletak pada tesisnya
mengenai asal-usul suatu spesies. Darwin menyebut spesies saat ini berasal dari spesies
sebelumnya. Adapun Yahya menyebut tiap spesies berbeda dan memang dengan sengaja
diciptakan masing-masing oleh Tuhan. Jika didalami secara saksama dan disimpulkan secara
singkat, Yahya tidak sudi dengan anggapan bahwa manusia berasal dari kera. Begitulah kira-kira
pendapat Yahya sebagai salah seorang yang kontra terhadap teori Darwin.
Yahya hanyalah salah seorang yang menentang teori Darwin, dan bukan pula yang
pertama.Sejak awal kemunculannya tahun 1859, teori evolusi Darwin sebenarnya telah
menimbulkan polemik di berbagai kalangan ilmuwan, akademisi, maupun agamawan.
Ketidaksepakatan terhadap konsep evolusi Darwin muncul pertama kali melalui pernyataan Uskup
Samuel Wilberforce dalam pertemuan British Association for the Advancement of Science di
Oxford University Museum pada 1860. Kalangan yang kontra menganggap teori evolusi
merupakan ajaran atau paham sesat, karena tidak sesuai dan menyimpang dari ajaran-ajaran agama
samawi. Teori itu dianggap berseberangan ketika dikorelasikan dengan isi teks-teks kitab suci
agama samawi, yakni Yahudi, Kristen, dan Islam.
Pada tahun 1871 Darwin menambah minyak pada api perdebatan yang masih berkobar
dengan menerbitkan buku berjudul The Descent of Man, and Selection in Relation to Sex. Buku
itu berisi penjelasan yang mendukung teori evolusi dan pemikiran bahwa manusia merupakan
keturunan makhluk mirip kera. Secara tersurat, sebetulnya Darwin tidak pernah menyatakan
ataupun mengungkapkan bahwa manusia berasal dari kera. Namun, ia mengklasifikasikan kera ke
dalam ordo yang sama dengan manusia, yakni Primates. Pengklasifikasian ini telah memicu
kesimpulan bahwa manusia merupakan keturunan kera. Ketidaksepakatan bersama terhadap teori
Darwin itulah yang kemudian melahirkan gagasan kreasionisme atau teori penciptaan yang
menjadi antitesis terhadapnya. Salah satu orang gencar membantah teori Darwin pada masa ini
adalah Harun Yahya.
SUMBER :
https://kumparan.com/@kumparansains/teori-evolusi-charles-darwin-vs-harun-yahya-
1152927430

Adnan Oktar aka Harun Yahya, Tokoh Kontroversial Anti-Darwin


Natalia Santi, CNN Indonesia | Kamis, 12/07/2018 08:00 WIB
Bagikan :

Adnan Oktar alias Harun Yahya alias Adnan Hoca yang ditangkap Kepolisian Istanbul pada
Rabu (11/7). ( REUTERS/Osman Orsal)

Jakarta, CNN Indonesia -- Apara Turki akhirnya menahan Adnan Oktar alias Harun Yahya,
Rabu (11/7). Tokoh yang juga dikenal sebagai Adnan Hoca itu dituduh menjalankan sindikat
yang terlibat dalam kejahatan termasuk kejahatan seksual dan pelecehan.

Terlahir pada 2 Februari 1956, Oktar aka Harun Yahya adalah tokoh kontroversial. Mengaku
sebagai kreasionis Islam dan menulis ratusan buku, Oktar merupakan penentang teori
Darwinisme, yang disebutnya sebagai sumber terorisme.

Dalam wawancara dengan media Inggris, Guardian pada 2008, Oktar menyatakan lebih dari 100
juta fosil telah digali, dan menurutnya tak ada yang mengalami evolusi.

"Semuanya menunjukkan bahwa tumbuhan, hewan, manusia dan serangga tidak pernah
mengalami evolusi atau apapun dan mereka semua diciptakan dengan cara yang sama oleh
Tuhan. Kita bisa melihat fakta ini dalam fosil-fosil yang kita temukan. Tak ada fosil yang
membuktikan sebaliknya," kata Oktar seperti dilansir Guardian.

Keyakinan Oktar itu juga ditulis dalam bukunya berjudul, 'Atlas of Creation.' Tiap halaman
menunjukkan argumennya mengapa teori Darwin itu salah. Dia menjelaskan tak ada mahluk
yang berevolusi dan bahkan berani memberi hadiah 10 triliun lira jika ada yang membuktikan
kepadanya.

Pandanga Oktar alias Harun Yahya itu telah diperdebatkan sejumlah ilmuwan. Namun keyakinan
Oktar menuai banyak pengikut di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

SUMBER :
https://www.cnnindonesia.com/internasional/20180712075029-134-313461/adnan-oktar-aka-
harun-yahya-tokoh-kontroversial-anti-darwin