You are on page 1of 5

1

BAB V
PEMBAHASAN

A. Pengaruh Macam Konsentrasi Wantex Terhadap Frekuensi Nondisjunction


Pada Persilangan Drosophila melanogaster e♂×N♀ Beserta Resiproknya .
Menurut Houas, dkk (2001) pengolahan zat warna dalam industri tekstil
sebagai salah satu bahan baku utama sekitar 10–15% dari zat warna yang sudah
digunakan tidak dapat dipakai kembali dan harus dibuang. Selain mencemari
lingkungan, zat warna tersebut juga dapat membahayakan keanekaragaman hayati dan
mengganggu kesehatan, misalnya iritasi kulit, iritasi mata, dan kanker. Bahkan, zat
warna juga dapat menyebabkan terjadinya mutasi (Jing dkk., 2013).
Komposisi wantex terdapat senyawa Alkilating (CH3-CH3 ) dan bentuk
struktur kimia yang poli aromatik hidrokarbon (PAH) dimana bentuk senyawa
tersebut bersifat sangat radikal, menjadi bentuk metabolit yang reaktif setelah
mengalami aktivasi dengan enzim sitokrom P-450. Bentuk radikal ini akan
berikatan dengan protein, lemak dan DNA. Pemberian pewarna azo dapat
menunjukkan beberapa efek toksik, terutama menyebabkan kerusakan DNA.
Hal ini ditunjukkan dengan efek mutagenik dan beracun dari berbagai pewarna
pada konsentrasi yang berbeda pada D. melanogaster. Kromofor zat warna
reaktif biasanya merupakan sistem azo dan antrakuinon dengan berat molekul
relatif kecil. Gugus-gugus penghubung dapat mempengaruhi daya serap dan
ketahanan zat wama terhadap asam atau basa. Gugus-gugus reaktif merupakan
bagianbagian dari zat warna yang mudah lepas. Dengan lepasnya gugus reaktif
ini, zat warna menjadi mudah bereaksi. Pada umumnya agar reaksi dapat
berjalan dengan baik maka diperlukan penambahan alkali atau asam sehingga
mencapai pH tertentu. (Levi,1987 ; Zakaria et al., 1996).
Zat warna azo mempunyai sistem kromofor dari gugus azo (-N=N-)
yang berikatan dengan gugus aromatik dan juga bersifat sangat radikal dan
mutagen. Sehingga gugus azo akan menjadi sangat reaktiv apabila berikatan
dengan unsur organik seperti gen. Senyawa Radikal yang mengandung (-N=N-
) akan menyerangan atom H (H-). sehingga secara garis besar gugus azo yang
merupakan radikal bebas akan berikatan dengan atom H yang ada di DNA yang
secara langsung akan merubah komposisi dari DNA tersebut sehingga DNA
mengalami kerusakan. Senyawa radikal dan Mutagen ini bila menyerang DNA
akan menyebabkan fungsi dari DNA tersebut terganggu, Seperti di ketahui
sususan gen terdiri atas pasangan basa nitrogen yang memiliki ikatan gugus
2

kimia yang terdiri atas N - 0 – H, seperti yang di jelaskan bahwa gugus azo
sangatlah bersifat radikal dimana akan dengan mudah berikatan dengan unsur
H. Dalam masing masing basa memiliki gugus H, bila gugus H dari basa
tersebut berikatan dengan gugus (-N=N-) dari gugus azo maka hal tersebut akan
merubah susan kimia dari basa tersebut sehingga otomatis susunan kimia dari
basa tersebut berubah. Karena gugus H dari basa tersebut telah berikatan dengan
gugus N dari azo maka basa tersebut tidak dapat di kenali lagi oleh pasangan
basanya seningga tidak terbentuk ikatan antar basa yang menyebabkan
terjadinya kegagalan saat terjadi proses pindah silang karena pasangan basa
tidak dapat saling mengenali dan berikatan satu sama lain dengan basa pasangan
yang lain. Ada kemungkinan mutasi yang disebabkan oleh keberadaan indigo carmine
ini berkaitan dengan pembentukan benang spindle ketika proses pembelahan sel
terutama pada saat fase mitosis. Jika benang spindle tidak dapat bekerja sebagaimana
mestinya maka dapat menyebabkan peristiwa nondisjunction.
B. Tidak Ada Pengaruh Konsentrasi Wantex Terhadap Frekuensi Nondisjunction
Pada Persilangan Drosophila melanogaster e♂×N♀ Beserta Resiproknya.

C. Pengaruh Jenis Kelamin Terhadap Frekuensi Nondisjunction Pada Persilangan


Drosophila melanogaster e♂×N♀ Beserta Resiproknya.

Jenis kelamin berpengaruh terhadap frekuensi nondisjunction pada Drosophila


melanogaster disebabkan autosom betina memiliki frekuensi nondisjunction lebih
tinggi dibandingkan dengan jantan. Secara umum tampaknya betina mencapai
ambang ketidakstabilan genom lebih cepat dibanding organisme jantan (Wojda et al.,
2007).

Pada betina memiliki waktu profase yang lebih lama dibandingkan dengan
jantan, semakin lama waktu profase, maka semakin besar kesempatan untuk
berpasangan dan semakin besar kemungkinan terjadinya nondisjunction (Snustad et
al, 2012). Pada pembentukan sel telur, proses meisis akan berhenti pada tahap profase
II. Proses pembentukan telur yang matang akan dilanjutkan ketika ada peristiwa
fertilisasi oleh sel sperma. Sebelum terjadinya proses fertilisasi, maka pembentukan
gamet betina masih berada pada tahap profase II, sehingga dari kejadian penelitian
tersebut frekuensi nondisjunction pada betina lebih besar daripada organisme jantan.

Kemudian dikatakan juga bahwa Drosophila melanogaster memiliki


gen pengkode pembelahan sel yaitu gen mei-s332. Jika terdapat gen mutan mei-
s332, yaitu gen semi-dominan pada kromosom II Drosophila melanogaster,
3

maka pada anafase I sentromer sesaudara akan bergerak ke kutub yang sama
(terjadi nondisjunction), dalam keadaan normal dua sentromer sesaudara saling
menutup kemudian adanya gen Polo yang berfungsi untuk memisahkan
kromatid bersaudara yang sebelumnya bersifat kohesif tersebut. Selain itu Gen
haync2 berperan dalam pembentukan structural benang-benang spindle
(mikrotubul) sehingga satu sentromer akan berorientasi ke salah satu kutub,
sedang sentromer lain berorientasi ke salah satu kutub yang berlawanan.
Dengan adanya mutasi maka struktur benang-benang spindle akan rusak yang
akan menyebabkan lemahnya benang spindle dalam menarik kromatid dari
bidang ekuator kearah kutub yang berlawanan sehingga kromatid-sisters tidak
bisa memisah dan mengalami NDJ. Faktor dari dalam lainnya yang berpengaruh
terhadap gagal berpisah adalah adanya gen mutan yang menyebabkan sentromer
tidak berada pada keadaan normal atau abnormal (Herkowitz, 1977 dalam
Abidin, 1997).

D. Tidak Ada Pengaruh Jenis Kelamin Terhadap Frekuensi Nondisjunction Pada


Persilangan Drosophila melanogaster e♂×N♀ Beserta Resiproknya.

Jenis kelamin mungkin tidak berpengaruh terhadap frekuensi non disjunction


karena adanya kemampuan membelah dari sel-sel secara normal pada semua strain
D.melanogaster. Pada pembelahan meiosis normal tahap anafase I, dimulai ketika
kromosom bergerak ke kutub yang berlawanan. Tiap kromosom dari pasangan
kromosom homolog bergerak ke arah kutub yang berlawanan. Masing – masing kutub
menerima setengah jumlah kromosom yang ada (Jai, 2011).

E. Ada Pengaruh Interaksi Pemberian Macam Konsentrasi Wantex dan Jenis


Kelamin Terhadap Frekuensi Nondisjunction Pada Persilangan Drosophila
melanogaster e♂×N♀ Beserta Resiproknya.
Akibat pemberian macam konsentrasi pemberian wantex yang berlebih dikaitkan
dengan biosisntesisnya yang dapat mengakibatkan kerusakan gen ini,
Drosophila melanogaster memiliki gen pengkode pembelahan sel yaitu
gen mei-s332. Jika terdapat gen mutan mei-s332, yaitu gen semi-dominan
pada kromosom II Drosophila melanogaster, maka pada anafase I
sentromer sesaudara akan bergerak ke kutub yang sama (terjadi
nondisjunction), dalam keadaan normal dua sentromer sesaudara saling
menutup kemudian adanya gen Polo yang berfungsi untuk memisahkan
kromatid bersaudara yang sebelumnya bersifat kohesif tersebut. Selain itu
4

Gen haync2 berperan dalam pembentukan structural benang-benang


spindle (mikrotubul) sehingga satu sentromer akan berorientasi ke salah
satu kutub, sedang sentromer lain berorientasi ke salah satu kutub yang
berlawanan. Dengan adanya mutasi maka struktur benang-benang spindle
akan rusak yang akan menyebabkan lemahnya benang spindle dalam
menarik kromatid dari bidang ekuator kearah kutub yang berlawanan
sehingga kromatid-sisters tidak bisa memisah dan mengalami
nondisjunction sehingga protein kohesi kromatid yang berperan dalam
pembelahan sel tidak dapat terbentuk dan akibatnya terjadi peristiwa
nondisjunction.

Jika dikaitkan dengan jenis kelamin, maka strain normal betina akan
memiliki frekuensi nondisjunction yang lebih tinggi seiring dengan peningkatan
konsentrasi. Hal ini karena kestabilan genom pada betina lebih kecil
dibandingkan dengan genom jantan. Secara umum tampaknya betina mencapai
ambang ketidakstabilan genom lebih cepat dibanding organisme jantan (Wojda
et al., 2007). Ketidakstabilan genom pada lalat betina yang diberi konsentrasi
pewarna wantex mengakibatkan peristiwa nondisjunction yang lebih besar
dibandingkan dengan lalat jantan yang juga diberi perlakuan konsentrasi
pewarna wantex.

Menurut Chen, (2002) interaksi antara perbedaan konsentrasi


pewarna wantex dan macam strain berpengaruh terhadap frekuensi
autosomal nondisjunction dapat terjadi karena jika semakin tinggi
konsentrasi pewarna dan sehingga autosomal nondisjunction terjadi pada
strain ebony, menyebabkan semakin tinggi pula frekuensi autosomal
nondisjunction. Hal tersebut disebabkan karena semakin tinggi
konsentrasi pewarna berpotensi lebih besar untuk menyebabkan
perubahan struktur DNA sehingga proses replikasi DNA terganggu.

F. Tidak Ada Pengaruh Interaksi Pemberian Macam Konsentrasi Wantex dan Jenis
Kelamin Terhadap Frekuensi Nondisjunction Pada Persilangan Drosophila
melanogaster e♂×N♀ Beserta Resiproknya.
BAB VI
KESIMPULAN
6.1 Kesimpulan
6.2 Saran
5

Dalam melakukan penelitian diperlukan kesabaran, ketelatenan, dan ketelitian


untuk mendapatkan hasil yang terbaik, begitu pula dalam mencari berbagai rujukan
yang menunjang penelitian ini sehingga terdapat kesesuaian antara penelitian dan
rujukan dan apabila terjadi penyimpangan teori, maka kesalahan yang terjadi dapat
dilacak dengan mudah.

Chen, S. & Macredie. R. (2002) “Cognitive Styles and Hypermedia Navigation:


Development of a Learning Model.” Journal of American Society for Information
Science and Technology, 53, 678–689.

Herkowitz, I. J. 1965. Principles of Genetics. Edisi 2. New York: MacMillan Publishing. Co,
Inc.
Safni dkk. 2008. Degradasi Indigo Carmine Secara Sonolisis dan Fotolisis dengan
Penambahan TiO2-Anatase. Padang : Universitas Andalas