You are on page 1of 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Salah satu perubahan perilaku dan gaya hidup yang dilakukan oleh masyarakat
adalah terkait kebiasaan dalam mengkonsumsi makanan cepat saji, berlemak, dan
berkolesterol. Makanan yang berlemak dan berkolesterol dapat menimbulkan
berbagai macam penyakit, seperti penyakit jantung koroner dan kolelitiasis.
Kolelitiasis atau dikenal sebagai penyakit batu empedu merupakan penyakit yang di
dalamnya terdapat batu empedu yang dapat ditemukan di dalam kandung empedu atau
di dalam saluran empedu atau pada kedua-duanya. Mowat (1987) dalam Gustawan
(2007) mengatakan kolelitiasis adalah material atau kristal tidak berbentuk yang
terbentuk dalam kandung empedu. Komposisi dari batu empedu merupakan campuran
dari kolesterol, pigmen empedu, kalsium dan matriks inorganik (Gustawan, 2007).
Kandung empedu merupakan sebuah kantung yang terletak di bawah hati yang
mengonsentrasikan dan menyimpan empedu sampai dilepaskan ke dalam usus. Fungsi
dari empedu sendiri sebagai ekskretorik seperti ekskresi bilirubin dan sebagai
pembantu proses pencernaan melalui emulsifikasi lemak oleh garam-garam empedu
(Smeltzer dan Bare, 2002). Selain membantu proses pencernaan dan penyerapan
lemak, empedu juga berperan dalam membantu metabolisme dan pembuangan limbah
dari tubuh, seperti pembuangan hemoglobin yang berasal dari penghancuran sel darah
merah dan kelebihan kolesterol. Garam empedu membantu proses penyerapan dengan
cara meningkatkan kelarutan kolesterol, lemak, dan vitamin yang larut dalam lemak.
Faktor perilaku ini banyak terlihat dari gaya hidup masyarakat yang sering
mengkonsumsi makanan berlemak dan berkolesterol. Kolesterol yang merupakan
unsur normal pembentuk empedu bersifat tidak larut dalam air. Kelarutannya
bergantung pada asam-asam empedu dan lesitin (fosfolipid) dalam empedu. Pada
pasien yang cenderung menderita batu empedu akan terjadi penurunan sintesis asam
empedu dan peningkatan sintesis kolesterol dalam hati; keadaan ini mengakibatkan
supersaturasi getah empedu oleh kolesterol yang kemudian keluar dari getah empedu,
mengendap dan membentuk batu. Getah empedu yang jenuh oleh kolesterol
merupakan predisposisi untuk timbulnya batu empedu dan berperan sebagai iritan
yang menyebabkan peradangan dalam kandung empedu (Smeltzer dan Bare, 2002).

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Batu Empedu?


2. Apa Etiologi Batu Empedu ?
3. Bagaimana Klasifikasi Batu Empedu ?
4. Bagaimana Pathway Batu Empedu ?
5. Memahami Manifestasi Klinis Batu Empedu !
6. Apa Tanda dan Gejala Batu Empedu?
7. Bagaimana Asuhan Keperawatan tentang Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi
Berhubungan dengan penyakit Batu Empedu ?

1
C. Tujuan
Tujuan Umum

Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien degan gangguan pemenuhan


Nutrisi.

D. Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini yaitu :
1. Belajar memahami masalah asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan
pemenuhan Nutrisi
2. Menambah wawasan dan ilmu bagi mahasiswa/i
3. Menerapkan ilmu pengetahuan yang dipelajari untuk dipertimbangkan dilapangan.
4. Menjadikan Mahasiswa/i berkompetensi dan professional dalam bidang ilmu
Keperawatan

2
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Definisi

Batu empedu adalah gumpalan material atau kristal padat yang terbentuk dalam
kandung empedu. Kandung empedu berfungsi untuk membantu tubuh dalam
mencerna lemak dengan cara menyimpan dan melepaskan empedu ke usus kecil.
Kandung empedu terletak dibawah hati dan berbentuk seperti buah pir. Empedu juga
dapat membantu menghilangkan kolestrol dalam tubuh.

Batu empedu biasanya terbentuk akibat tersumbatnya kandung empedu atau saluran
empedu. Batu empedu bisa tersusun dari campuran senyawa tertentu ataupun
kolestrol.

Ukuran batu empedu berbeda pada setiap orang. Beberapa orang mungkin memiliki
batu empedu yang hanya berukuran seperti sebutir pasir, sementara beberapa lainnya
bisa sebesar bola golf. Tak hanya itu saja, jumlah batu yang terbentuk pun dapat
bermacam – macam, ada yang hanya memiliki satu buah batu dan ada juga yang
banyak. Batu empedu adalah kondisi yang dapat menyebabkan nyeri dan efek
berbahaya bagi tubuh.

B. Etiologi

Munculnya batu empedu diduga akibat adanya ketidakseimbangan antara kolestrol


dan senyawa kimia dalam cairan empedu,. Serpihan kristal yang terbentuk akan
berkembang menjadi batu dan biasanya dalam waktu bertahun – tahun.

Penimbunan senyawa kimia yang umumnya terdapat dalam kantong empedu saat batu
tersebut terbentuk adalah kolestrol dan bilirubin (limbah dari penghancuran sel darah
merah). Hampir 80% batu empedu berbahan dasar kolestrol dan sekitar 20% berbahan
dasar bilirubin. Bilirubin adalah suatu pigmen yang ditemukan dalam cairan empedu.

Ukuran batu empedu yang terbentuk juga bermacam – macam. Ada yang kecil sekecil
butir pasir dan ada yang sebesar bola pingpong. Begitu juga dengan jumlahnya. Ada
orang yang hanya memiliki 1 buah batu dan ada yang lebih

Kemungkinan munculnya batu empedu berbeda – beda pada tiap orang. Secara
spesifik, wanita beresiko dua kali lebih tinggi dibandingkan pria. Terutama wanita
yang pernah hamil, mengkonsumsi pil KB atau menjalani terapi hormon berdosisis
tinggi. Selain itu, angka kejadian batu empedu akan meningkat pada mereka yang
menderita penyakit anemia bulan sabit ( sickle cell anemia ). Pada penderita anemia
sel bulan sabit, sel darah merah akan dipecah terus menerus oleh tubuh dan akhirnya
diubah menjadi bilirubin. Penumpukan kadar bilirubin inilah yang dapat
menyebabkan terjadinya batu empedu. Sebuah data penelitian di inggris menunjukkan

3
bahwa lebih dari separuh penderita anemia bulan sabit akan memiliki komplikasi
berupa terbentuknya batu empedu.

Berikut ini adalah faktor – faktor lain yang meningkatkan resiko untuk mengidap batu
empedu:

1. Berusia diatas 40 tahun


2. Sedang hamil
3. Memiliki anggota keluarga dengan penyakit yang sama
4. Sering mengkonsumsi makanan berlemak atau berkolestrol tinggi
5. Kekurangan serat dalam pola makan
6. Penderita diabetes
7. Kelebihan berat badan atau mengalami obesitas
8. Penderita sirosis
9. Penderita gangguan pencernaan, misalnya penyakit Crohn dan sindrom iritasi usus
10. Orang yang menggunakan ceftriaxone, yaitu antibiotik yang dapat digunakan
untuk mengobati pneumonia, meningitis dan gonore
11. Orang yang mengalami penurunan berat badan secara drastis

C. Klasifikasi

Adapun klasifikasi dari batu empedu :


1. Batu kolestrol
Berbentuk oval, multifokal atau mulberry dan mengandung lebih dari 70%
kolestrol. Lebih dari 90% batu empedu adalah kolestrol ( batu yang mengandung
>50% kolestrol ). Untuk terbentuknya batu kolestrol diperlukan 3 faktor utama:
a. Hipomotilitas kandung empedu
b. Supersaturasi kolestrol
c. Nukleasi / pembentukan nidus cepat

2. Batu pigmen
Batu pigmen merupakan 10% dari total jenis batu empedu yang mengandung
<20% kolestrol, jenisnya antara lain:
a. Batu pigmen kalsium bilirubinat (pigmen coklat)
Berwarna coklat atau coklat tua, lunak, mudah dihancurkan dan mengandung
kalsium-bilirubinat sebagai komponen utama. Batu pigmen coklat terbentuk
akibat adanya faktor statis dan infeksi saluran empedu. Statis dapat disebabkan
oleh adanya disfungsi sfingter Oddi, striktur, operasi biller dan infeksi parasit.
Bila terjadi infeksi saluran empedu, khususnya E. Coli, kadar enzim B-
glukorodinase yang berasal dari bakteri akan dihidrolasi menjadi bilirubin
bebas dan asam glukoronat. Kalsium mengikat bilirubin menjadi kalium
bilirubinat yang tidak larut. Dari penelitian yang dilakukan didapatkan adanya
hubungan erat antara infeksi bakteri dan terbentuknya batu pigmen coklat.
Umumnya batu pigmen coklat ini terbentuk disaluran empedu dalam empedu
yang terinfeksi

4
b. Batu pigmen hitam
Berwarna hitam atau hitam kecoklatan, tidak berbentuk , seperti bubuk dan
kaya akan sisa zat hitam yang tak terekstraksi. Batu pigmen hitam adalah tipe
batu yang banyak ditemukan pada pasien dengan hemolisis kronik atau sirosis
hati. Batu pigmen hitam ini terutama terdiri dari derivat polymerized bilirubin.
Patogenesis terbentuknya batu ini belum jelas. Umumnya batu pigmen hitam
terbentuk dalam kandung empedu yang steril.

c. Batu campuran
Batu campuran antara kolestrol dan pigmen dimana mengandung 20-50%
kolestrol

D. Pathway

5
E. Manifestasi Klinis

Penderita batu saluran empedu sering mempunyai gejala-gejala kronis dan akut.

Gejala Akut

 Tanda :
o Epigastrium kanan terasa nyeri dan spasme
o Usaha inspirasi dalam waktu diraba pada kwadran kanan atas
o Kandung empedu membesar dan nyeri
o Ikterus ringan
 Gejala :
o Rasa nyeri (kolik empedu) yang menetap
o Mual dan muntah
o Febris (38,5°°C)

Gejala Kronis

 Tanda :
o Biasanya tak tampak gambaran pada abdomen
o Kadang terdapat nyeri di kwadran kanan atas
 Gejala :
o Rasa nyeri (kolik empedu), Tempat : abdomen bagian atas (mid
epigastrium), Sifat : terpusat di epigastrium menyebar ke arah
skapula kanan
o Nausea dan muntah
o Intoleransi dengan makanan berlemak
o Flatulensi
o Eruktasi (bersendawa)

F. Tanda dan Gejala

Sebagian besar kasus batu empedu tidak menunjukkan gejala yang khas. Namun,
gejala tampak saat ukuran batu empedu cukup besar, sehingga menyumbat saluran
kandung empedu ataupun saluran pencernaan lainnya. Secara umum gejala batu
empedu dapat berupa :
1. Nyeri mendadak dan terus menerus pada perut kanan atas
2. Nyeri mendadak dan terus menerus pada perut tengah, dibawah tulang dada
3. Nyeri punggung diantara tulang bahu
4. Nyeri di bahu kanan
5. Demam
6. BAB dempul, berwarna putih / pucat
7. Mual dan muntah

6
Gejala nyeri akibat penyakit satu ini dapat berlangsung selama beberapa menit hingga
berjam – jam. Biasanya kemunculan gejala jika mengkonsumsi makanan tertentu
dengan kadar lemak yang tinggi.

G. Penyebab

Batu empedu adalah kondisi yang belum diketahui penyebabnya, namum dokter
menyatakan ada beberapa faktor yang berpengaruh, diantaranya:

1. Kantong empedu berisi kolestrol yang berlebihan


Biasanya, kantong empedu berisi kandungan yang cukup untuk memecah
kolestrol yang dikeluarkan dari hati. Namun jika hati mengeluarkan kolestrol lebih
banyak dari yang dapat dipecah kantong empedu, kolestrol tersebut akan
mengkristal dan menjadi batu dikantung empedu.

2. Cairan empedu mengandung bilirubin yang berlebihan


Bilirubin merupakan kandungan hasil pemecahan sel darah merah. Beberapa
penyakit menyebabkan hati memproduksi lebih banyak bilirubin. Penyakit ini
misalnya sirosis dan infeksi billier. Bilirubin yang berlebihan dapat menyebabkan
batu empedu.

3. Kantong empedu tidak dapat kosong secara sempurna


Hal ini membuat cairan empedu menjadi lebih pekat dan mengeras, sehingga
membentuk batu empedu.

7
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Identifikasi
Nama : Mastiur Sihombing
Umur : 60 thn
Jenis kelamin : Perempuan
Status : menikah
Agama : Kristen
Suku : batak
Bangsa : Indonesia
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Pegawai Swasta
Alamat : sawah dalam RT 07/04 Panunggangan Utara Pinang
Penanggung jawab : Yeni sihombing

B. Riwayat sakit dan kesehatan


1. Keluhan utama
Lemas, Mual
2. Riwayat penyakit sekarang
Lemas, mual, nafsu makan menurun
3. Riwayat penyakit dahulu
Operasi didiagnosa dengan batu empedu
4. Riwayat kesehatan keluarga
-
5. Riwayat alergi
-
C. Pola fungsi kesehatan
1) Persepsi terhadap kesehatan
Keluarga pasien dan pasien dan pasien mengatakan bahwa sangat cemas
dengan keadaan sekarang, tetapi mereka percaya bahwa penyakit yang didrita
akan sembuh
2) Pola aktivitas dan latihan

8
a) Kemampuan merawat diri
Sebelum masuk rumah sakit Masuk rumah
sakit
Aktifitas
0 1 2 3 4 0 1 2 3 4

Mandi  
Berpakaian  
Eliminasi/terlentan  
g mobilitas di
tempat tidur
Berpindah  
Berjalan  
naik tangga  

Berbelanja 
Memasak 
Pemeliharaan 
rumah

Skor:
0: mandiri
1: alat bantu
2: dibantu orang lain
3: dibantu orang lain dan alat
4: tergantung/tidak mampu
Alat bantu : ( ) tidak ( ) kruk ( ) tongkat
( ) pispot di samping tempat tidur
( ) kursi roda
b) Kebersihan diri
Di rumah :
1. Mandi = 2x / hari
2. Gosok gigi = 3x/ hari
3. Keramas = 2x/ minggu
4. Potong kuku = 1x/ minggu
Di rumah sakit :
1. Mandi = 1x/ hari
2. Gosok gigi =1x/ hari
3. Keramas = 2x/ minggu
4. Potong kuku = 1x/ minggu

c) Aktualisasi sehari-hari

9
Pasien mengatakan setiap pagi olahraga atau jalan santai
d) Relaksasi
Pasien mengatakan pergi berekreasi terkadang di hari libur bersama
keluarganya
e) Olahraga ( ) tidak ( ) ya ( ) lainnya ( ѵ ) = kadang – kadang
D. Pola istirhat dan tidur
Di rumah:
Waktu tidur = siang : 13:00 – 14: 00
Malam : 22:00 – 05:00
Di rumah sakit :
Waktu tidur = siang : 14: 00 -15:00
Malam : 21:00- 05:00
Masalah di rumah sakit : ( ) tidak ada ( ) terbangun diri ( ѵ ) mimpi buruk (
) insomnia ( ) lainnya
E. Pola nutrisi metabolik
 Pola makan
Di rumah :
Frekuensi : 3x/ hari
Jenis : nasi, lauk pauk, sayur
Porsi : sedang
Pantangan : -
Di rumah sakit :
Frekuensi : 3x/ hari
Jenis : nasi, lauk pauk, sayur
Porsi : sedang
Diit khusus : -
Nafsu makan di rumah sakit : ( ) normal ( ) bertambah ( ) berkurang
(ѵ ) mual ( ) muntah
Kesulitan menelan :( ѵ ) tidak ( ) ya
Gigi palsu : ( ѵ ) tidak ( ) ya
 Pola minum
Di rumah :
Frekuensi : 1000 ml / hari
Jenis : air mineral
Di rumah sakit :
Frekuensi : 1000 ml/hari
Jenis : air mineral
Pantangan:

10
Minuman disukai :
 Pola eliminasi
- BAB di rumah :
Frekuensi : 1x/ hari
Konsistensi / warna : kuning / lunak
- BAB di rumah sakit :
Frekuensi : 3-5 x/ hari
Konsistensi / warna : normal
Masalah di rumah sakit : ( ) konstipasi ( ) diare ( ) inkoniten
- BAK di rumah :
Frekuensi : 3-5x/ hari
Konsitensi : -
Warna :-
- BAK di rumah sakit :
Frekuensi : 3-5x/ hari
Konsitensi : -
Warna : -
F. Pola kognitif perspektual :
o Berbicara : (ѵ ) normal ( ) gagap ( ) bicara tidak jelas
o Bahasa sehari-hari : ( ѵ ) Indonesia ( ) jawa ( ) sunda ( )
lainnya
o Kemampuan membaca : ( ѵ ) bisa ( ) tidak
o Tingkat ansietas : (ѵ ) ringan ( ) sedang ( ) berat ( ) panik
o Kemampuan interaksi : ( ѵ ) sesuai ( ) tidak
o Nyeri : ( ) tidak (ѵ ) ya
G. Pola konsep diri :
Pasien mengatakan bila sedang sakit sering periksa ke rumah sakit
 Pola keping :
Selama sakit pasien merasa lemas terhadap penyakit yang di derita,
bila tidak ada masalah yang tidak dapat di selesaikan sendiri pasien
akan meminta bantuan ke orang lain.
 Kemampuan adaptasi :
Pasien mengatakan merasa tidak betah di rumah sakit
 Pola seksual/ reprodukdi
Pemeriksaan payudara setiap bulan : ( ) ya (ѵ ) tidak
Pola hubungan dan peran :
 Pekerjaan : -
 Kuaslitas kerja :
 Hubungan dengan ornag lain : baik
 Sistem pendukung : keluarga
 Masalah keluarga mengenai perawatan di rumah sakit : -
H. Pola nilai kepercayaan :
 Agama : Kristen
 Pelaksaan tindakan : pasien mengatakan setiap hari minggu berliburan
bersama keluarga

11
 Pantangan agama :
 Meminta kunjungan rohaniawan : -
I. Pengkajian persistem :
1. Tanda –tanda vital
- Suhu : 36,8
- Nadi : 78
- Pernafasan : 20
- Tekanan darah : 100/ 70 mmhg
- Tinggi badan : 150 cm
- Berat badan : 48 (smrs) , 45 ( mrs)
2. Sistem pernafasan
Pernafasan : normal ( tidak pakai bantuan pernafasan )
3. Sistem kardio vaskuler :normal
J. Pemeriksaan penunjang :
Pemeriksaan laboratorium:
TEST RESUIT REFERENCE UNRTS

Hemotologi - - -
Hemoglobin 9,9 11,7 – 15,5 9/ dl
Ekosit 6, 52 3,60- 11 Xw3/ul
Hemotokrit 29 35-47 %
Trombosit 280 140- 440 X10 3/ul
Kimia - - -

Fungsi hati - -
Biurubin total 1, 17 0,10-1,00 Mg/dl
Biurubin drrek 0,51 0,00 – 0,70 Mg/dl
Ureum 37 0,50 Mg/ dl
Creatinm 1,3 0,0- 1,1 Mg/ dl

Terapi obat :
 Asering 600cc/8 jam
 Cetotolak
 Ranitidine satu ampul
K. Analisis data
Nama klien : mastiur sihambing
Ruang : paviliun seruni 5/1
Umur : 60 tahun
No RM : 201139

12
13