You are on page 1of 11

Hematologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari darah, orang

pembentuk darah dan jaringan limforetikuler serta kelainan-kelainan yang timbul


darinya. Hematologi yang mempelajari baik keadaan fisiologik maupun patologik
organ-organ tersebut diatas sehingga hematologi meliputi bidang ilmu kedokteran
dasar maupun kedokteran kelinik.

Dibidang ilmu penyakit dalam, hematologi merupakan divisi tersendiri yang


bergabung dengan subdisiplin onkologi medik. Hematologi dalam hal ini
membahas hematologi dasar, hematologi kelinik, dan imunohematologi.
Perkembangan bidang hematologi demikian cepat terutama akibat perkembangan
imunologi, biologi molikuler, dan genetika. Oleh karena itu, timbul pengkhususan
mengenai anemia, keganasan hematologi, penyakit pendarahan (hemorrhagic
diatbesis) dan tranfusi darah, yang banyak menyangkut imonohematologi. 1-7

Fungsi Hemoglobin

Hemoglobin merupakan komponen utama eritrosit yang berfungsi membawa


oksigen dankarbondioksida. Warna merah pada darah disebabkanoleha kandungan
hemoglobin (Hb) yang merupakansusunan protein yang komplek yang terdiri dari
protein, globulin dan satu senyawa yang bukan protein yang disebut heme. Heme
tesusun dari suatusenyawa lingkar yang bernama porfirin yang bahagian pusatnya
ditempati oleh logam besi (Fe). Jadi hemeadalah senyawa-senyawa porfirin-besi,
sedangkanhemoglobin adalah senyawa komplek antara globin dengan heme.

Anemia merupakan kelainan hematologi yang paling sering dijumpai baik


dikelinik maupun dilapangan. Untuk mendapatkan pengertian tentang anemia
maka kita perlu menetapkan definisi anemia.

Anemia ialah keadaan dimana massa eritrosit dan/atau massa hemoglobin yang
beredar tidak dapat memenuhi fungsinya untuk menyediakan oksigen bagi jaringan
tubuh.

Secara laboratorik dijabarkan sebagai sebagai penurun dibawah normal kadar


hemoglobin, hitung eritrosit dan hematocrit (packed red cell)
Kriteria anemia

Untuk menjabarkan definisi anemia diatas maka perlu ditetapkan batas hemoglobin
atau hematokrik yang kita anggap sudah terjadi anemia. Batas ini disebut sebagai
cut off point ( titik pemilah), yang sangatv di pengaruhi oleh: umur, jenis kelamin,
ketinggian tempat tinggal dari permukaan laut, dan lain-lain.

Cut off point yang umumnya di pakai ialah kriteria WHO tahun 1967. Dinyatakan
anemia bila

Laki-laki dewasa : hemoglobin < 13 g/dl

Perempuan dewasa yang tidak hamil: hemoglobin <12 g/dl

Perempuan hamil hemoglobin <11 g/dl

Anak umur 6-14 tahun hemoglobin < 12 g/dl

Anak umur 6 bulan -6tahun hemoglobin <11 g/dl

A. Kriteria Klinik

Alasan praktis kriteria anemia di klinik ( di rumah sekitar atau praktik klinik) untuk
Indonesia pada umumnya adalah :

1. Hemoglobin < 10 g/dl


2. Hematocrit < 30%
3. Eritrosit <2,8 juta/mm3
Hal ini dipertimbangkan untuk mengurangi beban klinis melakukan untuk
wkor up anemia jika kita memakai kriteria WHO.
B. Derajat anemia
Derajat anemia antara lain di tentukan oleh kadar hemoglobin. Derajat
anemia perlu di sepakati sebagai dasar pengelolaan kasus anemia
Klasifikasi drajat anemia yang umumnya dipakai adalh sebagai berikut
1. Ringan sekali Hb 10 g/dl-cut off point
2. Ringan Hb 8g/dl-Hb, 9,9 g/dl
3. Sedang Hb 6 g/dl – Hb 7,5 g/dl
4. Berat Hb < 6 g/dl

c. prevalensi Anmia
meskipun anemia di anggap kalianan yang snagat sering di jumapi di Indonesia
angka privalensi yang resmi belum pernah di terbitkan. Angka-angka yang ada
merupakan hasil dari penelitian-penelitian terpisah yang dilakukan dinperbagai
tempat di tempat di Indonesia. Angka prevalensi anemia di Indonesia menurut
Husaini dkk dapat dilihat pada table 2-1 dibawah ini.

Kelompok populasi Angka prevalensi


1. Anak prasekolah (balita) 30-40%
2. Anak usia sekolah 25-35%
3. Dewasa tidak hamil 30-40%
4. Hamil 50-70%
5. Laki-laki dewasa 20-30%
6. Pekerja berpenghasilan
30-40%
rendah
Angka prevalensi anemia di dunia sangat bervariasi tergantung pada geografi.
Salah satu factor determinan utama adalah taraf social ekonomi masyarakat. Data
anemia yang dikumpulkan oleh WHO di seluruh dunia samapi dengan tahun 1986
dapat dilihat pada table 2-2.

d. klasifikasi anemia

anemia dapat diklasifikaikan dengan berbagai cara, tergantung dari sudut mana kita
melihat dan tujuakita melakukan klisifikasi yang paling sering dipakai.

1. Klasifikasi morfologik: yang berdasarkan morfologi eirit rosit pada


pemeriksaan apusan darah tepi atau dengan melihat indeks eritrosit. Dengan
pemakainaan alat hematologi automatic
Prevalensi individu yang anemia (%)
Anak Anak Laki
0-4 tahun 5-12 tahun

Patofisologi
Defisiensi besi, vit B12, As folat

Pendarahan saluran pencernaan, Deperesi sumsum tulang Overaktif RES, produksi SDM
uterus, hidung, luka eritropoetin turun abnormal
Produksi SDM menurun Penghancuran SDM
Kehilangan SDM (slel darah
merah)

Penambahan sekunder tidak Resiko Infeksi


adekuat

Penurunan jumlah elektorit Penurunan kadar Hb Efek Gi

Gangguan penyerapan
Kompensasi jantung Kompensasi paru nutrisi dan defisiensi folat

Glositit berat (lidah


Beban kerja dan curah meradang) diare kehilangan
Peningkatan frekwensi nafas
jantung meningkat nafsu makan

Takikardi, angina (nyeri dada) Dyspnea (kesulitan bernafas) Intake nutrisi turun
iskemia miokardium beban (anoreksia)
kerja jantung meningkat
Penurunan transport 02
Ketidak seimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh
Ketidak efektipan perfusi
Hipoksia
jaringan perifer nyeri akut

Ketidak efektipan pola nafas


Lemah lesu, paresthesia,
Peningkatan kontraktilitas mati rasa, ataksia, gangguan
koordinasi bingung

palpitasi

Defisit perawatan diri


Penebalan dingding vertikel
Intoieransi aktivitas

kardiomegali

SS
Anemia adalah penurunan kadar hemoglobin (Hb), Hematokrit atau hitung
eritrosit (red cell count) berakibat pada penurunan kapasitas pengangkutan oksigen
oleh darah. Tetapi harus diingat pada keadaan ter tentu diman ketiga parameter
tersebut tidak sejalan dengan massa eritrosit, seperti pada dhidrasi, pendarahan
akut dan kehamilan. Oleh karena itu dalam diagnosis anemia tidak cukup hanya
sampai kepada label anemia tatpi harus dapat di tetapkan penyakit dasar yang
menyebabkan anemia tersebut (Sudoyo dkk, 2009)

Kriteria anemia menurut WHO (dikutip dari hoffbrand AV,et al 2001)

kelompok Kriteria Anemia (Hb)


Laki-laki dewasa <13 g/dl
Wankita dewasa tidak <12 g/dl
hamil
Wanita hamil <11 g/dl
Etiologi

Anemia bukanlah kesatuan penyakit tersendiri (disease entit), tetapi merupakan


gejala berbagai macam penyakit dasar (underlying di sease), pada dasarnya
anemia disebabkan oleh karena: 1). Gangguan pembentukan eritrosit oleh sumsum
tulang; 2). Kehilangan darah keluar tubuh (pendarahan) ; 3). Proses penghancuran
eritrosit oleh tubuh sebelum waktunya (hemolysis). (Smelzer, 2002)
Penentuan kadar hemoglobin

Metoda menentukan kadar HB Menurut WHO, nilai batas


hemoglobin (Hb) yang dikatakan anemia gizi besi untuk wanita remaja adalah < 12 gr/dl
dengan nilai besi serum < 50 mg/mldan nilai feritin < 12 mg/ml. Nilai ferritin merupakan
refleksi dari cadangan besi tubuh sehingga dapat memberikan gambaran status besi
seseorang. Untuk menentukan kadar Hb darah, salah satu cara yang digunakan adalah
metoda Cyanmethemoglobin. Cara ini cukup teliti dan dianjurkan olehInternational
Committee for Standardization in Hemathology (ICSH). Menurut cara ini darah
dicampurkan dengan larutan drapkin untuk memecah hemoglobin menjadi
cyanmethemoglobin, daya serapnya kemudian diukur pada 540 nm dalam kalorimeter
fotoelekrit atau spektrofotometer. Cara penentuan Hb yang banyak dipakai di Indonesia
ialah Sahli. Cara iniuntuk dilapangan cukup sederhana tapiketelitiannya perlu
dibandingkan dengan
cara standar yang dianjurkan WHO.
Ada tiga uji laboratorium yang
dipadukan dengan pemeriksaan kadar Hb
agar hasil lebih tepat untuk menentukan
anemia gizi besi. Untuk menentukan anemia
gizi besi yaitu :
a. Serum Ferritin (SF)
Ferritin diukur untuk mengetahui
status besi di dalam hati. Bila kadar
SF < 12 mg/dl maka orang tersebut
menderita anemia gizi besi.
b. Transferin Saturation (ST)
Kadar besi dan Total Iron Binding
Capacity (TIBC) dalam serum
merupakan salah satu menentukan
status besi. Pada saat kekurangan zat
besi, kadar besi menurun dan TIBC
meningkat, rasionya yang disebut
dengan TS. TS < dari 16 % maka orang
tersebut defisiensi zat besi.

Menghitung jumlah leukosit

Pra-analitik

Tujuan

Menentukan kondisi fisiologis/patologis dimana perubahan jumlah leukosit


menandakan suatu keadaan abnormal

Perinsip

Darah di encerkan di dalam pipet leukosit kemudian dimasukkan kedalam kamar


hitung. Jumlah leukosit dihitung dalam volume tertentu dengan menggunakan
factor konversi.

Alat dan bahan

1. Alat pemeriksaan
a. Pipet Thoma leukosit
b. Kamar hitung Neubauer Improved
c. Deck glass
d. Mikroskop
2. Reagen
Larutan truk
a. Gentian violet 10 mg (untuk mewarnai inti leukosit)
b. Asam asestat glasial 1 ml (mencegah lisisnya sel)
c. Aquadest 100 ml
3. Bahan : Darah kapiler atau darah vena + Antikoagulan

Analitik

Prosedur

1. Mengisi pipet leukosit


a. Isap darah dengan pipet leukosit sampai tepat tanda 0,5.
b. Kelebihan dafrah di ujunng pipet dihapus dengan tusu.
c. Masukan pipet ke dalam larutan truk sambal menahan darah pada garis
tanda tadi. Isap larutan truk sampai tanda 11.
d. Kocok pipet selama 15-30 detik
2.
3. Mengisi kamar hitung
a. Letakan kamar hitung yang bersih dengan kaca penutup yang terpasang
mendatar
b. Kocok pipet yang telah terisi selam 3 menit
c. Buang cairan yang ada dalam pipet leukosit 3-4 tetes. Sentuhkan ujung
pipet pada permukaan kamr hitung dengan penyunggung piggir kaca
penutup, dengan sudut 30 derajat
d. Biarkan selama 2-3 menit agar leukosit mengendap.
4. Menghitung jumlah leukosit
a. Gunakan lensa objektif 10x
b. Hitung semua leukosit dalam bidang besar yang ada pada sudut-sudut.
c. Sel yang menyunggung garis kiri dan garis batas atas boleh dihitung, sel
yang menyinggung garis batas sebelah kanan dan garis bawah tidak
boleeh dihitung.

Penghitungan

N= x. 1/t .p

Keterangan :

X : jumlah sel yang dihitung


t : tingi kamar hitung (0,1 mm)

p : pengenceran (20x atau 10x)

A : luas KM yang digunakan (4mm2)

Post-analitik

Pelaporan

Hasil pemeriksaan dinyatakan dalam sel/ml darah

Nilai normal

4000-10.000 sel /ml darah

Catatan :

1. Ciri-ciri leukosit
a. Bentuk bulat
b. Inti berwarna biru keunguuan
c. Sitoplasma transafaran
2. Kesalahan yang dapat terjadi
a. Jumlah darah yang di pipet tidak tepat
b. Pengenceran dalam pipet salah
c. Tidak mengocok piprt segera mungkin setelah mengisap larutan truk
d. Tidak mengkocok pipet sebentar sebelum mengisi kamar menghitung
e. Tidak membuang beberapa tetes sebelum mengisi kamar hitung.

cara menghitung eritrosit

pra-analitik

tujuan

menentukan kondisi fisiologi/patologis dimana perubahan jumlah eritrosit


menandakan suatu keadaan abnormal.

Perinsip
Darah diencerkan dalam pipet eritrosit, kemudian dimasukan kedalam kamar
hitung. Jumlah eritrosit di hitung dalam volume tertentu dalam menggunakan
factor konversi, jumlah erit roosit per ml darah dapat di perhitungkan.

Alat dan bahan

1. Alat pemeriksaan
a. Pipet thoma Eritrosit
b. Kamar hitung Neubaur Improved
c. Deck glass
d. Mikroskop
2.

Pemeriksaan hemoglobin

Pemeriksaan hemoglobin merupakan pemeriksaan untuk mengetahiu keadaan


darah, baik sel darah maupun kompponen darah yang terlarut dalam plasma, yang
digunakan untuk mendiagnosis suatu keadaan dan kelainan dalam tubuh.
Pemeriksaan laboratorium hematologi dapat mendeteksi kelainan jumlah sel,
kelainan fungsi darah, kelaianan darah karena adanya kelainan oragan, kalianan
pembekuan darah (hemostasis) dan meningkatkan jumlah leukosit akibat adanya
infeksi.

DISKRIPSI

Hemoglobin (Hb) merupakan protrin yang mengikat besi (Fe 2+) sebagai
komponen utama dalam eritrosit dengan

Klasifikasi Anemia
Secara morfologis, anemia dapat
diklasifikasikan menurut ukuran sel dan hemoglobin
yang dikandungnya.
1. Makrositik
Pada anemia makrositik ukuran sel darah merah
bertambah besar dan jumlah hemoglobin tiap sel
juga bertambah. Ada dua jenis anemia
makrositik yaitu :
1. Anemia Megaloblastik adalah
kekurangan vitamin B12, asam folat dan
gangguan sintesis DNA.

2. Anemia Non Megaloblastik adalah


eritropolesis yang dipercepat dan
peningkatan luas permukaan membran.
2. Mikrositik
Mengecilnya ukuran sel darah merah yang
disebabkan oleh defisiensi besi, gangguan sintesis
globin, porfirin dan heme serta gangguan
metabolisme besi lainnya.
3. Normositik
Pada anemia normositik ukuran sel darah
merah tidak berubah, ini disebabkan kehilangan
darah yang parah, meningkatnya volume plasma
secara berlebihan, penyakit-penyakit hemolitik,
gangguan endokrin, ginjal, dan hati.

Etiomologi Anemia Defisiensi Besi


Penyebab Anemia Defisiensi Besi adalah :
1. Asupan zat besi
Rendahnya asupan zat besi sering terjadi
pada orang-orang yang mengkonsumsi bahan
makananan yang kurang beragam dengan menu
makanan yang terdiri dari nasi, kacang-kacangan
dan sedikit daging, unggas, ikan yang merupakan
sumber zat besi. Gangguan defisiensi besi sering
terjadi karena susunan makanan yang salah baik
jumlah maupun kualitasnya yang disebabkan oleh
kurangnya penyediaan pangan, distribusi makanan
yang kurang baik, kebiasaan makan yang salah,
kemiskinan dan ketidaktahuan.
2. Penyerapan zat besi
Diet yang kaya zat besi tidaklah menjamin
ketersediaan zat besi dalam tubuh karena
banyaknya zat besi yang diserap sangat tergantung
dari jenis zat besi dan bahan makanan yang dapat
menghambat dan meningkatkan penyerapan besi.
3. Kebutuhan meningkat
Kebutuhan akan zat besi akan meningkat
pada masa pertumbuhan seperti pada bayi, anakanak,
remaja, kehamilan dan menyusui. Kebutuhan
zat besi juga meningkat pada kasus-kasus
pendarahan kronis yang disebabkan oleh parasit.
4. Kehilangan zat besi
Kehilangan zat besi melalui saluran
pencernaan, kulit dan urin disebut kehilangan zat
besi basal. Pada wanita selain kehilangan zat besi
basal juga kehilangan zat besi melalui menstruasi.
Di samping itu kehilangan zat besi disebabkan
pendarahan oleh infeksi cacing di dalam usus.