You are on page 1of 7

PROSES KEPERAWATAN KLIEN DENGAN NEOKARDITIS

Meokarditis adalah peradangan pada otot jantung atau meokard. Pada umumnya
meokarditis di sebabkan penyakit-penyakit infeksi, tetapi dapat juga sebagai akibat reaksi alergi
terhadap obat-obatan serta efek toksik bahan-bahan kimia radiasi dan infeksi. Pada meokarditis
karena difteri kerusakan meokardium di sebabkan toksin yang di keluarkan basil mikrobakter.
Toksin akan menghambat sintesis protein dan secara mikroskopis akan di dapatkan miosip
ddengan imfil trasi lemak serat otot mengatrlami nekrosis mealin. pseudomonas serata beberapa
jenis jamur seperti aspergilus dan candida sebagian kecil mikroorganisme menyerang langsung
sel –sel miokardium yang menyebabkan reaksterui radang. Hal ini dapat terjadi pada
toksoplasmonis gondii. Pada trikinosis sel-sel radang yang ditemukan terutama eosinofil.

Patofisologi

Kerusakan mokardium oleh kuman-kuman infeksius ini dapat melalui tiga mekanisme dasar,
meliputi:

1. Invansi langsung ke miokard


2. Proses imunologis tehadap miokard
3. Mengeluarkan toksin yang merusak miokard

Proses miokardiitis viral ada dua tahap, tahap pertama (akut) berlangsung kira-kira seminggu
(pada tikus) diman terjadi invasi virus miokard, repitasi virus dan lisis sel. Setelah itu, terbentuk
Neutralizing Antybody dan virus akan di bersihkan atau dikurangi jumlahnya dengan bantuan
makrofag dan neuteral killer cell (sel NK).

Tahap kedua miokardium akan diinfiltrasi oleh sel- sel radang dan sistem imun akan
diaktifkan, antara lain dengan terbentuknya antibodi terhadap miokard, akibat perubahan
permukaan sel yang terpajaan oleh virus. Tetapi ini berlangsung selama beberapa minggu sampai
beberapa bulan dan diikuti dengan kerusakan miokardium dari yang minimal sampai yang berat.

Entrovirus sebagai penyebab moikarditis viral juga merusakkan sel-sel endotel.


Terbentuknya antibodi endotel diduga sebagai penyebab spasme mikrovaskular. Walaupun
etiologi kalainan mikrovakular belum pasti, tetapi sangat mungkin berasal dari respons imun atau
kerusakan endotel akibat infeksi virus.

Jadi, pada dasarnya terjadi spasme sirkulasi mikro yang menyebabkan proses berulang serta
obstruksi dan reperfusi yang mengakibatkan larutnya martiks miokardium dan habisnya otot
jantung secara fokal menyebabkan rontoknya serabut otot, dilatasi otot, dilatasi jantung, dan
hipertrofi miosit yang tersisa. Akhirnya proses ini mengakibatkan habisnya kompensasi mekanis
dan biokimiawi yang berakhir dengan payah jantung.
Pengkajian

Manifestasi klinis miokarditis sangat bervariasi, dari yang tanpa keluhan sampai bentuk berat
berupa payah jantung kongestif yang fatal. Pada miokarditis viral, variasi keadaan ini diduga
berhubungan dengan kerentanan secara genetic yang berbeda pada tiap klien. Sebagian besar
keluhan klien tidak khas, mungkin didapatkan rasa lemah, berdebar - debar, sesak napas, dan
rasa tidak enak didada. Nyeri dada biasanya ada bila disertai pericarditis. Kadang – kadang
didapatkan rasa nyeri yang menyerupai angina pekrotis. Gejala yang paling sering ditemukan
adalah takikardia yang tidak sesuai dengan kenaikan suhu. Kadang – kadang didapatkan
hipotensi dengan nadi yang kecil atau dengan pulsus alternans.

Jantung biasanya membesar, terutama bila sudah terjadi jantung kongnestif atau dalam
keadaan kardiomiopati kongestif/dilatasi. Tekanan vena jugularis meningkat dan pada auskultrasi
didapatkan bunyi jantung pertama yang melemah, kadang – kadang ditemukan aritmia dan irama
derap ventricular atau atrial, serta sistolik di apeks.

Manifestasi klinis miokarditis jarang didapat pada saat puncak penyakit infeksinya, karena
akan tertutup oleh manifestasi sistemik penyakit infeksi tersebut dan baru jelas pada fase
pemulihan. Sebaliknya, pada infeksi virus sebagian besar perjalanannya insidious hingga sering
terlewatkan. Bentuk ini umumnya sembuh dengan sendirinya, tetapi sebagian berlanjut menjadi
bentuk kardiomiopati dan ada juga yang jadi penyebab aritmia, gangguan konduksi atau payah
jantung yang secara structural dianggap normal.

Pemeriksaan Diagnosis

Pemeriksaan diagnostik terdiri atas pemeriksaan nilai laboratorium, elektrokardiografi, foto


dada, dan ekokardiografi.

Laboratorium

Dijumpai leukositosis dengan polimorfonuklear atau limfosit yang dominan, bergantung pada
penyebabnya. Pada infeksi parasit ditemukan eosinophilia. Laju endap darah biasanya meningkat
enzim jantung dan kreatin kinase atau laktat dehidragenase (LDH) dapat juga meningkat
bergaantung pada luasnya nekrosis miokard. Pemeriksaan berkelanjutan dapat juga menentukan
progresivitas atau penyembuhan miokarditis.

Elektrokariografi

Kelainan yang didapat bersifat sementara dan lebih sering ditemukan dibandingkan kelainan
klinis jantungnya. Temuan yang paling sering adalah sinus takikardia, perubahan segmen ST
dan / atau gelombang T, serta low voltage. kadang – kadang ditemukan aritmia atrial atau
ventricular, AV blok, infra ventricular conduction defect, dan QT memanjang. Pada penyakit
chaga sering didapatkan right bundle branch block yang lengkap. AV block total sifatnya
sementara dan hilang tanpa bekas, tetapi kadang –kadang dapat sebagai penyebab kematian
mendadak pada miokarditis.

Foto Dada

Ukuran jantung sering membesar walaupun dapat juga normal. Kadang – kadang disertai
kongesti paru.

Ekokardiografi

Sering didapatkan hipokinesis kedua ventrikel walaupun kadang – kadang bersifat ragional,
terutama di apeks. Dapat juga ditemukan penebalan dinding ventrikel, thrombus ventrikel kiri,
pengisian diastolis yang abnormal, atau efusi pericardial.

Diagnosis Keperawatan

1. Nyeri dada yang berhubungan dengan ketidakseimbangan kebutuhan dan suplai


oksigen ke miokardium
2. Aktual/risiko tinggi pola napas tidak efektif yang berhubungan dengan
pengembangan paru tidak optimal.
3. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan
penurunan intake, mual, dan anoreksia.
4. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
oksigen miokardium dengan kebutuhan .
5. Cemas yang berhubungan dengan rasa takut akan kematian, penurunan status
kesehatan, situasi krisis, ancaman, atau perubahan kesehatan.
Rencana Intervensi
Nyeri yang berhubungan ketidakseimbangan suplai darah dan oksigen dengan kebutuhan miokardium
sekunder dari penurunan suplai darah ke miokardium, peningkatan produksi asam laktat.
Tujuan dalam waktu 1 – 24 jam terdapat penurunan respons nyeri dada.
Kriteria secara subjektif klien menyatakan penurunan rasa nyeri dada, secara objektif didapatkan TTV
dalam batas normal, wajah rileks, tidak terjadi penurunan pertusi perifer, urine ˃ 600 ml/hari.
INTERVENSI RASIONAL

Catat karakteristik nyeri, lokasi, intesitas, lama, dan Variasi penampilan dan perilaku klien karena nyeri
penyebarannya. terjadi sebagai temuan pengkajian.
Lakukan manajemen nyeri keperawatan. Istirahat akan menurunkan kebutuhan O2 jaringan
 Istirahatkan klien. perifer sehingga akan menurunkan kebutuhan
miokardium serta akan meningkatkan suplai darah
dan oksigen ke miokardium yang membutuhkan O2
untuk menurunkan iskemia.
 Berikan oksigen tambahan dengan nasal Meningkatkan jumlah oksigen yang ada untuk
kanul atau masker sesuai dengan indikasi. pemakaian miokardium sekaligus mengurangi
ketidaknyamanan karena iskemia.
 Manajemen lingkungan : lingkungan Lingkungan tenang akan menurunkan stimulus
tenang dan batasi pengunjung nyeri eksternal dan pembatasan pengunjung akan
membantu meningkatkan kondisi O2 ruangan yang
akan berkurang apabila banyak pengunjung yang
berada di ruangan hanya sedikit.
 Ajarkan teknik relaksasi pernapasan dalam. Meningkatkan asupan O2 sehingga akan
menurunkan nyeri sekunder dari iskemia jaringan
otak.
 Ajarkan teknik distraksi saat nyeri. Distraksi ( pengalihan perhatian) dapat
menurunkan stimulus intral dengan mekanisme
peningkatan produksi endorlin dan enketalin yang
dapat memblok reseptor nyeri untuk tidak
dikirimkan ke korteks serebri sehingga menurunkan
persepsi nyeri.
 Lakukan manajemen sentuhan. Menajemen sentuhan pada saat nyeri berupa
sentuhan dukungan psikologis dapat membantu
menurunkan nyeri. Masase ringan dapat
meningkatkan aliran darah, membantu suplai
darah dari oksigen ke area nyeri, serta menurunkan
sensasi nyeri.
Kolaborasi pemberian terapi farmakologis Nitrat berguna untuk kontrol nyeri dengan efek
 Antianginal ( nitrogliserin) vasodilatasi koronel
 Analgesik. Menurunkan nyeri hebat, memberikan sensasi, dan
mengurangi kerja miokard.

Aktual / resiko tinggi pola nafas tidak efektif yang berhubungan dengan pengembangan paru tidak optimal

Tujuan : dalam waktu 3 x 24 jam tidak terjadi perubahan pola nafas.


Kriteria : klien tidak sesak nafas, RR dalam batas normal 16 – 20 x/ menit, respon batuk berkurang
INTERVENSI RASIONAL

Auskultrasi bunyi napas (kraklles) Indikasi adanya paru, sekunder akibat dekompensasi
jantung

Kaji adanya edema. Curiga gagal kongestif atau kelebihan volume cairan .

Ukur intake dan output. Penurunan curah jantung, mengakibatkan gangguan


perfusi ginjal, pretense natrium atau air, dan
penurunan pengeluaran urine.

Timbang berat badan. Perubahan tiba - tiba dari berat badan menunjukan
gangguan keseimbangan cairan.

Pertahankan pemasukan total cairan 2000 ml/24 Memenuhi kebutuhan cairan tubuh orang dewasa,
jam dalam toleransi kardiovaskuler. tetapi memerlukan pembatasan dengan adannya
dekompesasi jantung

Kolaborasi :  Natrium meningkatkan retensi cairan dan


 Berikan diet tanpa garam meningkatkan volume plasma yang
 Berikan diuretik, contoh : furosemide, berdampak terhadap peningkatan beban
spirolakon, dan hdronolakton. kerja jantung dan akan meningkatkan
 Pantau data laboratorium elektrolit kebutuhan miokardium meningkat
kalium.  Diuretic bertujuan untuk menurunkan
volume plasma dan retensi cairan di jaringan
sehingga menurunkan resiko terjadinya
edema paru
 Hypokalemia dapat membatasi keefektifan
trapi.

Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan penurunan perfusi perifer sekunder dari
ketidakseimbangan antara suplai oksigen miokardium dengan kebutuhan.
Tujuan: dalam waktu 3x24 jam aktivitas klien mengalami peningkatan.
Kriteria: klien tidak mengeluh pusing, alat dan sarana untuk memenuhi aktivitas tersedia dan mudah
klien jangkau, TTV dalam batas normal, CRT < 3 detik, urine lebih 600 ml/ hari.
INTERVENSI RASIONAL
Catat frekuensi jantung, irama, serta perubahan Respon klien terhadap aktivitas dapat
tekanan darah selama dan sesudah aktivitas. mengindikasikan penurunan oksigen miokard.
Tingkatkan istirahat, batasi aktivitas, dan berikan Menurunkan kerja miokard atau konsumsi
aktivitas senggang yang tidak berat. oksigen.
Anjurkan menghindari peningkatan tekanan Dengan mengejan dapat mengakibatkan
abdomen, misalnya, mengejan saat defekasi. bradikardi, menurunkan curah jantung dan
takikardia, serta peningkatan TD.
Jelaskan pola peningkatan terhadap dari tingkat Akitivitas yang maju memberikan control jantung,
aktivitas. Contoh bangun dari kursi, bila keadaan meningkatkan regangan, dan mencegah aktivitas
nyeri, ambulasi, dan istirahat selama 1 jam setelah berlebihan.
makan.
Rujuk ke program rehabilitasi jantung. Meningkatkan jumlah oksigen yang ada untuk
pemakaian miokardium sekaligus mengurangi
ketidaknyamanan karena iskemia.

Cemas yang berhubungan dengan rasa takut akan kematian, ancaman, atau perubahan kesehatan.
Tujuan: dalam waktu 1x24 jam kecemasan klien berkurang.
Kriteria: klien menyatakan kecemasan berkurang, mengenal perasaannya, dapat mengidentifikasi
penyebab atau factor yang memengaruhinya, kooperatif terhadap tindakan, wajah rileks.
INTERVENSI RASIONAL
Bantu klien mengekpresikan perasaan marah, Cemas berkelanjutan memberikan dampak
kehilangan, dan takut. serangan jantung selanjutnya.
Kaji tanda verbal dan non verbal kecemasan, Reaksi verbal atau non verbal dapat menunjukan
damping klien, dan lakukan tindakan bila rasa agitasi, marah, dan gelisah.
menunjukan perilaku merusak.
Hindari konfrontasi. Konfrontasi dapat meningkatkan rasa marah,
menurunkan kerjasama, dan mungkin dapat
memperlambat penyembuhan.
Mulai melakukan tindakan untuk mengurangi Mengurangi rangsangan eksternal yang tidak
kecemasan. Beri lingkungan yang tenang dan perlu.
suasana penuh istirahat.
Tingkatkan control sensasi klien. Kontrol sensasi klien (dalam menurunkan
ketakutan) dengan cara memberikan informasi
tentang keadaan klien, menekankan pada
penghargaan terhadap sumber-sumber koping (
pertahanan diri) yang positif, membantu latihan
relaksasi dan teknik teknik pengalihan, serta
memberikan respon baik yang positif.
Orientasikan klien terhadap prosedur rutin dan Orientasi dapat menurunkan kecemasan.
aktivitas yang diharapakan.
Beri kesempatan kepada klien untuk Dapat menghilangkan ketegangan terhadap
mengungkapkan ansietasnya. kekhawatiran yang tidak di ekspresikan.
Berikan privasi untuk klien dan orang terdekat. Memberi waktu untuk mengekspresikan,
menghilangkan cemas, dan perilaku adaptasi.
Adanya keluarga dan teman-teman yang dipilih
klien melayani aktivitas serta pengalihan (
misalnya, membaca.) akan menurunkan perasaan
terisolasi.
Kolaborasi: Berikan anti cemas sesuai indikasi, Meningkatkan relaksasi dan menurunkan
contohnya diazepam. kecemasan.