You are on page 1of 14

Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, Vol.14 No.

STUDI PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL


TERKAIT INTERAKSI DESA-KOTA
(Studi Kasus: Kawasan Sentra Airguci, Kabupaten Banjar)
ASEP HARIAYANTO, ST., MT.
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik,
Universitas Islam Bandung
Jl. Tamansari No. 1 Bandung, 40116
Email: histayugandhini@gmail.com.

ABSTRACT

Study of Local Economic Development (LED) in Banjar district is determined from


the determination Spatial Plans (RTRW) Banjar district regarding domestic Airguci
handicraft industry which is in East Martapura Sub-district, precisely in the Mekar
Village and the Melayu Ulu Village. This study starts from the initial assumption
that there is no balance in the construction planning for urban and rural areas. The
purpose of this study are: first, to develop the local economy Airguci craft based on
the potential problems, opportunities and threats in order to improve the economy
of rural communities, both improving the relationship of mutual support
(interaction) between villages and cities in an effort to reduce the inequality
between regions. The research method uses a combination of approaches, methods
of qualitative and quantitative methods. Source of data derived from primary and
secondary survey. Data collection techniques performed through questionnaires,
interviews, observation and documentation. Data were analyzed using analysis of
Diamond Porter, SWOT analysis, and analysis of the gravity of the rural-urban
interactions. The results showed that the implementation of LED in the Airguci
centers undeveloped and still is as a sideline activity. People especially women are
actively involved in this business activity. But unfortunately, see the existing
condition in the Airguci centers are not supported by good infrastructure such as
roads and institutions that have not been running for the establishment of a business
group that Airguci craft business activities can continue to survive. So many women
who have been married, moved to the outside of the village. There are still many
who choose to work in the city. Factors to be driving at the same obstacle in the
implementation of the LED Airguci centers include: human resources, capital,
marketing and institutional. The economic impact of the implementation of the LED
in the Airguci centers, namely the local communities to help increase revenue and
reduction in unemployment has not yet arrived when the harvest season.

Keywords: Development, Local Economy, Interaction.

Page | 1
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, Vol.14 No.1

Pendahuluan (rural urban linkage) di mana ciri utama


Dalam konteks memajukan yang menandai adanya keterkaitan kota dan
kesejahteraan umum, pemerintah telah desa adalah adanya aliran barang,
melakukan berbagai upaya melalui penduduk, informasi serta permodalan
program pembangunan nasional. (keuangan). Hal ini menjadi sangat penting
Pembangunan nasional yang dimaksud karena berdasarkan Undang-undang No. 6
adalah pembangunan bagi seluruh rakyat Tahun 2014 Pasal 81 ayat 3 tersebut setiap
Indonesia, baik yang tinggal di wilayah desa akan memiliki rencana pembangunan
perkotaan maupun wilayah perdesaan. desa sendiri yang akan berbeda dengan desa
Dalam beberapa aspek upaya pembangunan lainnya. Artinya, apabila diketahui
dimaksud sudah mengalami beberapa keterkaitan tersebut akan memberikan
kemajuan yang telah meningkatkan kontribusi pada desa dan kota dalam
kesejahteraan umum, namun tidak dapat mempersiapkan rencana pembangunan.
dipungkiri bahwa upaya pembangunan Keterkaitan tersebut muncul karena
yang dilakukan lebih banyak terfokus pada adanya perbedaan fungsi kota dan desa
wilayah perkotaan sehingga pemerataan yang dalam kondisi ideal keterkaitan
yang diinginkan belum sepenuhnya dapat tersebut dapat berjalan sinergis sehingga
dinikmati oleh masyarakat desa. Setiap mendukung perkembangan masing-masing
desa memiliki potensi desa yang tidak wilayah. Dalam perkembangan-nya,
sama, oleh karena itu generalisasi model terutama di negara berkembang seperti
treatment untuk mengatasi semua persoalan Indonesia, hal tersebut belum berjalan
yang muncul menjadi tidak efektif. optimal karena terdapat fenomena
Undang-undang No. 6 Tahun 2014 backwash effect yaitu terserap-nya potensi
tentang Desa pasal 78 sampai dengan pasal desa ke daerah yang sudah berkembang
81 sudah menegaskan bahwa rencana (kota) sehingga wilayah desa akan semakin
pembangunan desa harus didasarkan sulit untuk mengembang-kan wilayahnya
kepada potensi yang dimiliki masing- sendiri. Kendala lain yang dihadapi adalah
masing desa. Oleh karena itu, peluang pembangunan kota yang belum
untuk melaksanakan amanat dari peraturan dilaksanakan secara terpadu dengan
perundang-undangan lainnya untuk mempertimbangkan wilayah lain yang
mengurangi bahkan menghilangkan memiliki keterkaitan erat dalam konteks
kesenjangan tersebut dalam rangka pengembangan wilayah dan peningkatan
menciptakan kesejahteraan masyarakat ekonomi lokal. Desa maupun kota akan
perdesaan. Ditegaskan dalam Undang- memiki peran yang saling mendukung,
undang 17 Tahun 2007 tentang Rencana yaitu desa dengan segala sumberdaya yang
Pembangunan Jangka 3 Panjang Nasional dimilikinya akan berperan sebagai
di dalam visi misinya, yang penggerak ekonomi lokal serta kota dengan
mengamanatkan bahwa pembangunan segala sarana dan prasarana yang
nasional dilaksanakan secara merata dan dimilikinya berperan dalam memfasilitasi
berkeadilan yang ditandai dengan : tingkat pengembangan wilayah terjadi akibat
pembangunan yang makin merata ke pertumbuhan ekonomi lokal dan
seluruh wilayah (perkotaan dan perdesaan) pengembangan wilayah. Pengkajian dan
untuk meningkatkan kualitas hidup dan fasilitasi kerja sama antar kota dan
kesejahteraan masyarakat, termasuk keterkaitan kota desa untuk mendukung
berkurangnya kesenjangan antarwilayah pengembangan desa, serta pengembangan
dalam kerangka Negara Kesatuan Republik ekonomi lokal.
Indonesia. Dalam perwujudan pemerataan Industri kerajinan sebagai salah
pembangunan tersebut diperlukan adanya satu ekonomi lokal merupakan kegiatan
tinjauan terhadap keterkaitan kota dan desa yang cocok bagi masyarakat Indonesia

Page | 2
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, Vol.14 No.1

karena sifatnya yang dapat dilakukan pengrajin yang tersebar di Kecamatan


sebagai pekerjaan sampingan maupun Martapura Kota, Kecamatan Martapura
sebagai pekerjaan pokok. Jika industri 4 Barat, dan Kecamatan Martapura Timur.
kerajinan mencapai kemajuan maka Sebanyak 125 kelompok pengrajin Airguci
pemerataan pembangunan juga akan tersebut hanya dua kelompok pengrajin
tercapai. Dengan demikian, sub sektor yang memiliki izin sebagai usaha pokok,
industri kecil dan kerajinan rakyat sedangkan sisanya tidak memiliki izin
diharapkan mempunyai peran strategis karena usahanya berskala kecil dan sebagai
yaitu sebagai penggerak peningkatan laju kegiatan sampingan. Pada tahun 2014,
pertumbuhan ekonomi dan penyerapan pengrajin di Desa Melayu Tengah menjadi
tenaga kerja. lebih sedikit, banyak pengrajin yang
Kalimantan Selatan memiliki meninggalkan usahanya karena dianggap
kekayaan alam, tradisi dalam mengung- keuntungan sangat kecil dengan proses
kapkan rasa keindahan. Salah satu produk yang membutuhkan waktu lama.
khas Kalimantan Selatan adalah kaya seni Menurut Rencana Tata Ruang
dalam bentuk sulaman Airguci pada kain- Wilayah Kabupaten Banjar penetapan
kain. Pengrajin Airguci di Provinsi industri kecil kerajinan Airguci berada di
Kalimantan Selatan terbanyak berada di Desa Mekar dan Desa Melayu Ulu. Jadi,
Kabupaten Banjar. Kabupaten Banjar keberadaan potensi industri kerajinan
merupakan pusat pembuatan Airguci yang Airguci mendorong pentingnya hubungan
tersebar beberapa desa atau kelurahan yang sinergi antara Kota Martapura sebagai
seperti Desa Melayu Ilir, Desa Melayu pusat pemasaran dan desa tersebut sebagai
Tengah, Desa Mekar, Desa Teluk Selong, penghasil produk kerajinan, sehingga
Desa Keliling Benteng Tengah dan mampu mengemba-ngkan industri
Kelurahan Keraton. Kerajinan Airguci kerajinan Airguci secara optimal. Oleh
merupakan industri rumah tangga yang karena itu perlu dilakukan Studi
pembuatannya memperkerjakan anggota Pengembangan Ekonomi Lokal Terkait
keluarga. Skalanya kecil dengan peng- Interaksi Desa-Kota (Studi Kasus Kawasan
hasilan sebagai tambahan bagi pemenuh-an Sentra Airguci, Kabupaten Banjar).
kebutuhan pokok sehari-hari.
Sejak tahun 1960-an perkemban- Kerangka Berpikir
gan kelompok pengrajin Airguci di Kabu-
paten Banjar mencapai 125 kelompok

Page | 3
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, Vol.14 No.1

Gambar 1 Kerangka Berpikir


Sumber: Hasil Analisis,2015.

Page | 4
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, Vol.14 No.1

dan metode yang akan digunakan, maka


Metodelogi pada penelitian ini perlu adanya penjabaran
Perumusan Variabel Penelitian variabel agar dapat di jelaskan dengan lebih
rinci penggunaan metode dan output yang
Variabel penelitian sebagai faktor- akan di keluarkan setelah melakukan
faktor yang berperan dalam peristiwa atau analisis. Penjabaran variabel dapat dilihat
gejala yang akan diteliti. Berdasarkan teori Tabel 1.

Tabel 1. Penjabaran Variabel

Metoda Metoda
Pendekatan Variabel Output Kegunaan
Analisis Survey
Kondisi faktor
sumberdaya
Kondisi
permintaan
domestik
Persaingan,
Untuk melihat kondisi
struktur, dan
kerajinan Airguci di desa
strategi Berlian Wawancara, Kondisi kerajinan
Kualitatif pengembangan, apakah
Industri porter observasi air guci
memiliki peluang untuk
terkait dan
pengembangan
pendukung
Peran
kesempatan
peran
pemerintah
kelembagaan
Kondisi faktor
sumberdaya
Kondisi
permintaan
domestik
Persaingan,
struktur, dan Membantu dalam
Strategi
strategi menyusun rencana aksi
Kuantitatif SWOTT wawancara pengembangan
Industri untuk pengembangan
ekonomi lokal
terkait dan ekonomi lokal
pendukung
Peran
kesempatan
peran
pemerintah
kelembagaan
Jarak Mengetahui pola interaksi
Kondisi jalan desa pengembangan
airguci dengan kota
Pola interaksi
Kuantitatif Wawancara, sekitarnya. Serta
desa-kota terkait
dan gravitasi studi kekuatan tarik menarik
Pola aliran pengembangan
kualitatif literatur antar wilayah yang
barang ekonomi lokal
berdampak positif
bagiketerkaitan desa dan
kota

bagi setiap unsur atau anggota populasi


Sampel Penelitian untuk dipilih menjadi sampel.
Penentuan sampel responden yang Metode yang digunakan dalam
di gunakan dalam penelitian ini adalah pengambilan sampel ini adalah purposive
melalui non probability sampling, yaitu sampling, dimana peneliti menggunakan
teknik pengambilan sampel yang tidak pertimbangan sendiri secara sengaja dalam
memberi peluang atau kesempatan sama memilih anggota populasi yang dianggap
sesuai dalam memberikan informasi yang

Page | 5
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, Vol.14 No.1

diperlukan atau unit sampel yang sesuai sumber daya ekonomi lokal di level
dengan kriteria tertentu yang diinginkan regional.
peneliti. Sedang-kan teknik pengambilan Analisis Gravitasi Interaksi Desa Kota
sampelnya meng-gunakan sampling Carrothers almarhum telah mengada-kan
insidental adalah teknik penentuan sampel analogfi antara formula interaksi dengan
berdasarkan kebetulan yaitu siapa saja yang hukum gravitasi yang dijabarkan dalam
secara kebetulan/ insidental bertemu bentuk sebagai berikut :
dengan peneliti dapat digunakan sebagai
sampel, bila dipandang orang yang
kebetulan ditemui itu cocok dengan sumber
data (Sugiyono, 2012:96).

Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan dalam
penelitian ini terdiri dari analisis kualitatif
dan analisis kuantitatif.
Faktor interaksi desa-kota
dikemukakan oleh Edward Ulman yang
Analisis Berlian Porter Alat yang
terdiri dari faktor - faktor, yaitu :
digunakan untuk mengetahui dayasaing
Pertama, Adanya wilayah – wilayah
kegiatan usaha kerajinan Airguci adalah
yang saling melengkapi (regional
Teori Berlian Porter. Analisis dilakukan
complementarity) artinya, terdapat
pada tiap komponen yang terdapat pada
kebutuhan timbal balik antar wilayah
Teori Berlian Porter (Porter’s Diamond
sebagai akibat adanya perbedaan potensi
Theory). Komponen tersebut meliputi : a)
yang dimiliki oleh tiap wilayah.
Faktor Condition (FC), yaitu keadaan
Kedua, Adanya kesempatan untuk ber-
faktor–faktor produksi dalam suatu industri
intervensi (intervening opportu-nity)
seperti tenaga kerja dan infrastuktur; b)
artinya, kedua wilayah memiliki
Demand Condition (DC), yaitu keadaan
kesempatan melakukan hubungan timbal
permintaan atas barang dan jasa; c) Related
balik serta tidak ada pihak ketiga yang
and Supporting Industries (RSI), yaitu
membatasi kesempatan itu. Adanya campur
keadaan para penyalur dan industri lainnya
yang saling mendukung dan berhubungan; tangan/ intervensi pihak ketiga (wilayah
ketiga) dapat menjadi penghambat atau
d) Firm, Strategy, Structure, and Rivalry
melemahkan interaksi antara dua wilayah.
(FSSR), yaitu strategi yang dianut
Ketiga, Adanya kemudahan transfer/
perusahaan pada umumnya, stuktur industri
pemindahan dalam ruang (spacial transfer
dan keadaan kompetisi dalam suatu industri
ability) artinya kemudahan transfer atau
domestic
pemindahan dalam ruang baik manusia,
Analisis SWOT dapat digunakan untuk
informasi ataupun barang sangat
mengenali kekuatan (strenght) dan
bergantung dengan faktor jarak, biaya
kelemahan (weaknesses) yang disebabkan
(transportasi) dan kelancaran prasarana
oleh faktor internal (dari wilayah itu
transportasi. Jadi semakin mudah
sendiri) sedangkan peluang (opportunity)
transferbilitas, maka akan semakin besar
dan ancaman (threath) merupakan faktor-
arus komoditas.
faktor eksternal (dari luar wilayah).
Analisis SWOT ini sangat membantu Hasil Pembahasan
dalam menyusun rencana aksi untuk
pengembangan ekonomi lokal. Analisis Luas wilayah Kabupaten Banjar
SWOT dapat dilakukan pada tahapan awal 4.668,50 km2 , merupakan wilayah terluas
untuk memberikan gambaran makro ketiga di Provinsi Kalimantan Selatan,
kekuatan dan kelemahan pengembangan terdiri dari 20 kecamatan, 277 desa dan 13

Page | 6
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, Vol.14 No.1

kelurahan. Kawasan wilayah studi berada Sebelah Utara : Desa Melayu Ilir dan Desa
di Kecamatan Martapura Timur Kabupaten Melayu Tengah
Banjar. Kawasan wilayah studi berada di Sebelah Selatan : Desa Antasan Senor Ilir
Kecamatan Martapura Timur Kabupaten Sebelah Timur : Desa Antasan Senor Ilir
Banjar. Secara administrasi geografis Sebelah Barat : Desa Pekauman Ulu dan
kawasan sentra Airguci berbatasan dengan Desa Pekauman Dalam.
:

Gambar 2 Peta Administrasi


Sumber: Hasil Analisis,2015

Analisis Berlian Porter.

Gambar 3 Model Kelembagaan Kegiatan Usaha Kerajinan Airguci


Sumber: Hasil Analisis,2015

Page | 7
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, Vol.14 No.1

Hasil Analisis Berlian Porter

Gambar 4 Bagan Keterkaitan Antar Komponen Berlian Porter


Sumber: Hasil Analisis,2015

Analisis SWOT
Tabel 2 Penilaian Faktor Internal
IFAS
Uraian Nilai Bobot Skor
Kelemahan Ketersediaan bahan baku masih memerlukan proses -4 9,52 0,38
pengiriman barang dari industri penghasil bahan baku di
pulau jawa
Masyarakat belum berminat untuk menggeluti usaha -5 11,90 0,60
kerajinan airguci
Kurang memiliki kemampuan untuk memasarkan -4 9,52 0,36
Penggunaan teknologi masih belum dipakai dalam -1 2,38 0,02
kegiatan menyulam
Industri pendukung berada di pulau jawa -3 7,14 0,21
Belum memiliki merek dagang -2 3,57 -0,07
Pendekatan pemerintah melalui kelompok usaha belum -5 9,62 -0,48
berhasil
Harga jual produk masih belum meiliki standar harga -4 11,76 0,47
Jumlah -28 50 -2,00
Kekuatan Keunikan budaya dan warisan budaya sebagai salah satu 3 5,36 0,16
sumber inspirasi pengembangan produk
Masih banyak yang bekerja karena mencintai pekerjaan 5 8,93 0,45
yang dilakukan dan dianggap turun temurun
Keahlian yang dimiliki para pengrajin terus berkembang 4 7,14 0,29
Memasarkan lewat internet memberikan peluang baik 3 5,36 0,16
Jalur distribusi fisik seperti pasar modern dan tradisional, 4 7,14 0,29
galeri, toko sudah tersedia
Infrastruktur jaringan telekomunikasi dan media semakin 5 8,93 0,45
luas sebagai salah satu media promosi
Memiliki segmen pasar tersendiri 4 7,14 0,29
Jumlah 28 50 2,07
Total IFAS 7 100 0,07

Page | 8
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, Vol.14 No.1

Table 3 Penilaian Faktor Eksternal


EFAS
Uraian Nilai Bobot Skor
Peluang Terdapat banyak kemudahan untuk mendapatkan modal, 3 7,5 0,23
baik dari swasta maupun pinjaman pemerintah
Apresiasi pasar luar negri lebih baik dalam hal originalitas 5 12,5 0,63
seni, budaya, dan desain
Potensi pengembangan produk lokal yang dikemas secara 4 10 0,40
kreatif untuk pasar luar negri
Dukungan pemerintah dalam pengadaan usaha kerajinan 4 10 0,40
airguci, melalui berbagai program pembinaan, kebijakan
dan pembiayaan serta penetapan sebagai produk unggulan
Ajang sebagai promosi produk kerajinan taraf nasional dan 4 10 0,40
internasional (INACRAFT, kalsel ecpo, kabupaten banjar
expo, dll)
Jumlah 20 50 2,05
Terdapat persaingan dengan jenis produk lain seperti -2 5,88 0,12
makanan, kain sasirangan, dan batu aji
Semakin lunturnya adat banjar seperti perkawinan yang -4 11,76 0,45
Ancaman
biasa menggunakan salah satu hasil Kerajinan airguci
Hasil produksi industri kerajinan airguci yang monoton -3 8,82 0,26
Rendahnya rasa cinta produk lokal -4 11,76 0,47
Jumlah 13 50 1,73
Total EFAS 7 100 0,32

Dari nilai-nilai tersebut di atas Rangkuti, 2006: 43). Hal ini dapat di capai
kemudian dihitung resultante nilai sebagai dengan cara meningkatkan produktivitas,
berikut : menciptakan produk baru, menambah
kualitas produk atau jasa, meningkatkan
S (Kekuatan) – W (Kelemahan) = 2,07 – akses pasar. Pertumbuhan ini terbagi
2,00 = 0,07 menjadi dua strategi yaitu:
a. Rapid Growth Strategy (strategi
O (Peluang) – S (Ancaman) = 2,05 – 1,73 = pertumbuhan cepat), adalah strategi
0,32 peningkatan kualitas yang menjadi
faktor kekuatan untuk memaksimalkan
Hasil dari penjumlahan dari tabel faktor pemanfaatan semua peluang.
internal dan faktor eksternal ini b. Stable Growth Strategy (strategi
menunjukkan hasil dengan nilai (+,+) yakni pertumbuhan stabil), adalah strategi
(0,32 dan 0,07), dengan demikian terdapat mempertahankan pertumbuhan yang
di kuadran 1 (penguatan strategi di S-O). ada (kenaikan yang stabil, jangan
Kuadran I : Growth (Pertumbuhan) sampai turun).
Strategi pertumbuhan untuk Hasil dari perhitungan SWOT yang
mencapai pertumbuhan, baik dalam berada di kuadran 1 tersebut dapat
pemasaran, produksi, keuntungan ekonomi digambarkan sebagai berikut:
atau kombinasi ketiganya (Freddy

Page | 9
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, Vol.14 No.1

Gambar 5 Grafik Kuadran SWOT


Sumber: Hasil Analisis,2015

c. Hasil Analisis Interaksi Desa Kota

Table 5 Pola Keterkaitan Perkotaan- Pedesaan di Kabupaten Banjar.


Komponen –
Aspek Faktor Kabupaten Banjar
komponen
- Aliran barang dari
desa – kota produk
kerajinan airguci,
pola aliran barang:
linier dan sporadis.
Pada pola linier,
produk-produk di
pedesaan dikirim ke
pasar batuah (pasar
martapura). Pada
- Aliran barang, pola sporadis,
jasa dan orang produk kerajinan air
dari desa ke guci ditampung
kota digedung pameran
Relasi - Aliran barang, dekranasda yang
komplementaritas jasa dan orang kemudian akan
dari kota ke dipamerkan pada
Keterkaitan desa –
desa saat dekranasda
kota
- Ketersediaan mengikuti pameran
infrastruktur di expo daerah lain
- Aliran barang/jasa
Kota-Desa: aliran
barang terdiri dari
kebutuhan sandang
dan teknologi.
Aliran jasa terdiri
dari
pemodal/pedagang
dari kawasan
perkotaan
- Produk dan
pemasaran di
Alternatif pilihan akibat
Kesempatan antara kawasan
kondisi tersebut
sentra/permukiman
karena sudah

Page | 10
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, Vol.14 No.1

Komponen –
Aspek Faktor Kabupaten Banjar
komponen
dikenal sehingga
sudah merasa
cukup pada skala
produksi saat ini
dan relatif sulit
untuk didorong
untuk pencapaian
nilai tambah yang
lebih tinggi/ekspor
langsung
- Kedekatan jarak
dan kondisi jalan
yang baik ke
berbagai wilayah
lain di Kalimantan
Selatan (terutama
Kabupaten Banjar,
Kota Banjarmasin,
dan Kota
Banjarbaru)
membuat sejumlah
produksi tidak
memikirkan
pengelolaan nilai
tambah yang lebih
besar dan cukup
- Sudah tersedia
moda dan
pengiriman barang
yang relatif
terpercaya (POS,
- Dukungan
JNE, TIKI, dll)
moda
- Pada pola
transportasi
pemasaran
antar &
memakai pola
interkawasan
“jemput bola”
Transferabilitas ruang - Pola migrasi
- Sudah tersedia
desa – kota:
angkutan publik
permanen/non
perdesaan
permanen
- Pola migrasi Kota –
(sirkular &
Desa bersifat
komuting)
Komuting,
sementara migrasi
desa Kota pada
umumnya
permanen

Ketiga, Analisis gravitasi interaksi desa-


Keterkaitan Antar Analisis kota terkait pengembangan ekonomi lokal
Keterkaitan antar analisis dapat dilihat bertujuan untuk mengetahui pola interaksi
pada alur tahapan analisis berikut : desa pengembangan Airguci dengan kota
Pertama, Analisis Berlian Porter berguna sekitarnya menggunakan pola kekuatan
untuk melihat kondisi kerajinan Airguci di tarik menarik (gravitasi). Outputnya adalah
desa pengembangan, output dari analisis bentuk interaksi yang terjadi antara desa
berlian porter adalah mengetahui kondisi pengembangan Airguci dengan kota di
kerajinan Airguci. sekitarnya. Analisis ini menggunakan
Kedua, Analisis SWOT berguna untuk variabel dari kondisi desa pengembangan
membantu menemukan strategi yang di dan pola aliran barang dari kerajinan
identifikasi melalui variabel analisis Berlian Airguci. Hasil analisis ini diharapkan dapat
Porter agar dapat disusun sebagai rencana diketahui sampai mana kota dapat
aksi untuk pengembangan usaha mempengaruhi pengembangan kegiatan
Kerajinan Airguci, outputnya ialah strategi usaha kerajinan Airguci. Sehingga dapat
pengembangan usaha kerajinan Airguci. pula dilihat, strategi pengembangan

Page | 11
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, Vol.14 No.1

Airguci tersebut akan berdampak positif diperlukan SWOT untuk menganalisis


terhadap perkembangan hubungan bagaimana strategi yang sebaiknya
interaksi desa dengan kota sekitarnya. dilakukan pada kondisi tersebut, setelah
Sehingga dapat disimpulkan bahwa analisis SWOT maka kita juga dapat
tahapan anallisis ini merupakan tahapan melihat hubungan antara interaksi desa
mulai dari melihat bagaimana kondisi hulu dengan kota di wilayah tersebut sebagai
yaitu keadaan ketersediaan dan kondisi suatu hasil produk hilir dari peningkatan
kegiatan tersebut sebagai suatu input, perkembangan kegiatan produksi
kemudian setelah melihat permasalahan kerajinan Airguci.
dan potensi dari kondisi eksisiting maka

Gambar 6 Peta Pola Aliran Barang


Sumber: Hasil Analisis,2015.

Gambar 7 Peta Kawasan Sentra Airguci dan Pusat Kawasan


Sumber: Hasil Analisis,2015.

Page | 12
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, Vol.14 No.1

bentuk struktur interaksi center-periphery


Kesimpulan dan Rekomendasi dan periphery. Bagi wilayah yang kuat
terhadap wilayah maju akan menjadi
Potensi, Permasalahan dan Kebutuhan
semiperiphery, sedangkan yang miskin
Setelah melakukan penelitian dan akan semakin tertinggal dan menjdai
analisis terdapat beberapa potensi dan periphery wilayah maju. Untuk mengatasi
masalah yang dapat di identifikasi untuk itu, maka harus mendudukkan peran
menunjukkan kebutuhan para pelaku manusia sebagai subyek dan obyek
kegiatan usaha kerajinan Airguci, agar pembangunan lokal, memformulasikan
lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel di kebutuhan dasar manusia dalam
bawah ini. pembangunan lokal, memfokuskan
wirausaha, pemerintah daerah sebagai
Rekomendasai aktor pembangunan pada tingkat lokal,
Kecepatan dan percepatan pemberdayaan ekonomi lokal, keterlibatan
pembangunan wilayah maju lebih tinggi komunitas masyarakat dalam
dibandingkan dengan wilayah miskin atau pembangunan.
terbelakang. Bagi wilayah yang memiliki Fase pengembangan ekonomi
kemampuan dan kapasitas lokal yang kuat lokal sebagian hanya merupakan satu fase
dalam mengatasi bentuk interaksi dengan dan fase hulu hilir, pengembangan
wilayah lain akan mampu mengatasi ekonomi satu fase dimana di kawasan 86
terjadinya ekploitasi wilayah maju. tersebut hanya melakukan produksi
Interaksi dapat berdampak positif atau sedangkan bahan baku maupun
negatif terhadap pembangunan suatu pemasaran ke luar dari kawasan tersebut
wilayah dan lokalitasnya diwujudkan dalam maupun tersebar ke luar wilayah.

Tabel 7 Faktor Pengembangan Ekonomi Lokal


Aspek Faktor Komponen-komponen
- Hasil produk kerajinan
yang dihasilkan
Inti Daya saing kawasan - Rantai nilai dalam bentuk
keterkaitan hulu-hilir dari
produk kerajinan
- Ketersediaan fasilitas
dalam pengembangan
- Ketersediaan SDM dalam
pengembangan kerajinan
Pendukung Dukungan daya saing kawasan airguci
- Ketersediaan
kelembagaan dalam
pengembangan
komoditas unggulan

berupa keping Airguci, infrastruktur


Saran lainnya, dan lain-lain.
Hasil analisis data dan pembahasan Kedua, Analisis yang digunakan untuk
yang telah dilakukan, saran yang dapat teori Berlian Porter’s masih umum berupa
disampaikan pada penelitian selanjutnya, analisis deskriptif dan hanya digunakan
yaitu penelitian yang dilakukan mengenai untuk melihat kondisi kegiatan.
pengembangan kerajinan Airguci ini belum Metode analisis yang digunakan masih
mencapai hasil yang maksimal, disebabkan terbatas, yakni analisis daya saing (Berlian
beberapa hal yakni diantaranya: Porter), analisis SWOT, dan analisis
Pertama, Data yang tidak tersedia, gravitasi interaksi desa-kota. Keterbatasan
seperti jumlah konsumsi kerang perbulan penggunaan metode analisis tersebut data
atau pertahun di Kecamatan Martapura yang dibutuhkan sangat terbatas.
Timur, jumlah ketersediaan bahan baku
Dengan berbagai permasalahan
tersebut maka saran yang bisa diberikan

Page | 13
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, Vol.14 No.1

bagi penelitian selanjutnya yakni Approach. Rome: FAO Land and Water
melengkapi berbagai data yang belum Bulletin.
tersedia, guna untuk memperkaya Hair, J. F., R. E. Anderson, R. L. Tatham,
informasi yang didapat dari analisis yang & W. C. Black. 1995. Multivariate
dilakukan nantinya. Untuk keberagaman Data Analysis. Edisi Keempat. New
analisis yang dilakukan bisa mencari Jersey:Prentice Hall.
berbagai analisis lainnya yang lebih akurat Handayani, Wenny. 2008. Usaha
untuk menjawab berbagai permasalahan Kerajinan Airguci “Berkat Sabar”
yang diangkat didalam penelitian sehingga Pemberdayaan Pengrajin Airguci Desa
diharapkan dapat melakukan analisis AHP Keliling Benteng Tengah Kalimantan
untuk prioritas startegi, serta analisis Selatan Tahun 1996-2005. Skripsi.
penguatan pengembangan kelembagaan Banjarbaru: Program S1 FKIP
pemasaran dan bahan baku pada sentra UNLAM.
industri usaha kerajinan Airguci. Dengan IHS, 2006 Concept of Local Economic
demikian, akan dihasilkan formula lebih Development, Course Material of LED,
rinci didukung dengan masukan strategi- Rotterdam.
strategi yang tepat. Makmur. 2010. Pengembangan Ekonomi
Lokal.https://panritacikal.wordpress.co
Daftar Pustaka m/2010/10/30/konsep-
Azis, Abdul. 2005. Upaya Pengembangan pengembanganekonomi-lokal-
Industri Kecil Tas dan Koper dalam pel/comment-page-1/#comment-326.
Konteks Pembangunan Ekonomi Lokal Diunduh tanggal 1 Januari.
di Kecamatan Tanggulangin Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi
Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
Tesis. Bandung: Program Studi Rosda Karya.
Perencanaan Wilayah dan Kota
Fakultas Teknik Institut Teknologi
Bandung.
Bintarto, R. 1983. Interaksi Desa-Kota
dengan Permasalahannya. Jakarta:
Ghalia Indonesia.
Blakely. 1990. Planning Local Economic
Development: Theory and Practice,
New Delhi: Sage Publications.
Carrothers, G. P. 1956. “A Historical
Review of the Gravity and
PotentialConcepts of Human
Interaction” dalam Journal of the
American Institute of Planners.
DJ, Kurniawan dan Novar Anang Pandria.
2008. Pengaruh PergerakanPenduduk
Terhadap Keterkaitan Desa-Kota di
Kecamatan Karangawen dan
Kecamatan Grobogan. Tugas Akhir.
Semarang: Program S1 Jurusan
Perencanaan Wilayah dan Kota
Fakultas Teknik Universitas
Diponegoro.
FAO. 1995. Planning for Sustainable Use
of Land Resources: Towards a New

Page | 14