1

A.

Latar Belakang Permasalahan Laporan tahunan pada dasarnya merupakan sumber informasi bagi

penggunanya sebagai salah satu dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi (salah satunya) di pasar modal dan juga sebagai sarana pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Laporan tahunan juga merupakan media utama penyampaian informasi oleh manajemen kepada pihak-pihak di luar perusahaan. Selain itu, hal penting lainnya adalah laporan tahunan mengkomunikasikan kondisi keuangan (melalui laporan keuangan) dan informasi lainnya kepada stakeholders atau bahkan para calon stakeholders lainnya (Noviani, 2006). Dewasa ini, kondisi perkonomian mulai sering tidak mudah untuk diprediksi. Ini dikarenakan perekonomian dunia sedang dalam kondisi recovery dari krisis global dunia, sehingga sebaiknya perusahaan melaporkan kondisi keuangannya dalam laporan keuangannya dengan lebih lengkap lagi. Ini diperlukan karena tiap informasi sangatlah berharga untuk pengambilan keputusan bagi stakeholder perusahaan. Dimana pada akhirnya mereka dapat mengambil keputusan yang baik berdasarkan informasi yang disediakan oleh perusahaan terkait. Sebuah laporan, haruslah bersifat fair disclosure atau haruslah diungkapkan secara wajar menurut Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (Ikatan Akuntan Indonesia, 2009:9). Ini harus dipenuhi karena pengguna laporan keuangan pastilah menginginkan sebuah laporan yang transparan, apa adanya dan mencakup semua hal yang terjadi di dalam perusahaan

2

tersebut. Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan akan dapat dipahami dan tidak menimbulkan salah interpretasi, hanya apabila laporan keuangan dilengkapi dengan pengungkapan secara memadai. Ini juga sesuai dengan Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan, bahwa tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi (IAI, 2009:3). Oleh karena itu, elemen-elemen pengungkapan harus mencakup neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal, laporan arus kas, catatan atas laporan keuangan dan laporan audit (Subiyantoro, 1996; dalam Dewi, 2009). Pengungkapan dalam laporan keuangan yang dikeluarkan perusahaan dapat mempermudah pemakai laporan keuangan untuk dapat mengambil sebuah keputusan. Keputusan investasi misalnya, haruslah diambil berdasarkan dari informasi yang diungkapkan dengan baik. Keputusan investasi sangat tergantung dari keluasan dan mutu pengungkapan yang disajikan dalam laporan keuangan. Keluasan dan mutu dari tiap perusahaan yang ada sangatlah berbeda-beda. Ini dikarenakan tiap perusahaan itu unik dan memiliki karakteristiknya masingmasing (Dewi, 2009). Mengenai lengkap tidaknya pengungkapan suatu laporan keuangan pastilah tiap perusahaan memiliki tingkatannya sendiri. Ini dapat terjadi karena masing-masing perusahaan unik dan pasti memiliki karakteristiknya sendiri. Inilah yang menjadikan tingkat kelengkapan pengungkapan menjadi sangat subjektif. Untuk menghindari hal tersebut, sudah ada standar mengenai

3

kelengkapan pengungkapan dalam laporan keuangan yang disusun oleh Badan Pengawas Pasar Modal. Daftar Item Pengungkapan Laporan Keuangan Berdasarkan Surat Edaran Ketua Bapepam No.SE-02/PM/2002 tanggal 27 Desember 2002, dirilis agar perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia mengungkapkan laporan keuangannya sesuai dengan kelengkapan tersebut. Semua regulasi diarahkan untuk mencegah adanya penyalahgunaan dan kecurangan (fraud) oleh para pelaku pasar modal terutama dalam masalah pengungkapan. Hal yang mendasari kenapa sebuah laporan keuangan harus diungkapkan secara lengkap dan transparan dapat dijelaskan dengan teori keagenan. Hubungan keagenan mewajibkan agen memberikan laporan periodik pada principal tentang usaha yang dijalankan dan principal akan menilai kinerja agennya melalui laporan keuangan yang disampaikan kepadanya. Oleh karena itu, dalam hubungan keagenan tersebut, laporan keuangan merupakan sarana transparansi dan akuntabilitas manajemen kepada pemiliknya (Jensen dan Meckling 1976; dalam Benardi, Sutrisno dan Asih, 2008). Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kelengakapan pengungkapan laporan keuangan perusahaan. Diantaranya adalah tingkat likuiditas, tingkat leverage, ukuran perusahaan (Noviana, 2006; Hertanti, 2005; dan Sofiana; 2010), tingkat profitabilitas (Hertanti, 2005; dan Sofiana; 2010), porsi saham publik (Hertanti, 2005) dan status modal perusahaan (Sofiana, 2010) Dalam penelitian ini yang akah dibahas adalah tingkat likuiditas, tingkat leverage, tingkat profitabilitas, ukuran perusahaan dan status modal perusahaan. Faktor

4

porsi saham publik tidak dipilih karena siapapun pemegang saham dari suatu perusahaan pastilah menginginkan pengungkapan yang baik, entah saham itu dikuasai founder ataupun publik dengan proporsi kepemilikan berapapun. Tingkat likuiditas adalah tingkatan yang menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek (Smith, 2005:81). Tingkat likuiditas dianggap sebagai indikator penting kesehatan secara umum, karena untuk melihat kesehatan sebuah perusahaan, yang pertama kali dilihat adalah tingkat likuiditasnya dahulu. Ini dikarenakan tingkat likuiditas

mengukur kecukupan sumber kas perusahaan untuk memenuhi kewajiban yang berkaitan dengan kas dalam jangka pendek (White dkk., 2002; dalam Ulupui, 2006). Jadi bila likuiditas semakin baik/tinggi maka perusaahan cenderung lebih lengkap dalam mengungkapkan laporan keuangannya, karena perusahaan ingin para stakeholder paham bahwa perusahaan berada pada kondisi sehat. Kelengkapan pengungkapan juga dapat dipengaruhi oleh tingkat leverage dari sebuah perusahaan. Tingkat leverage sendiri menggambarkan tingkat kemampuan bertahan hidup perusahaan dilihat dari sisi jangka panjang. Konsep leverage keuangan juga mengacu pada jumlah pendanaan utang dalam struktur modal perusahaan (Hertanti, 2005). Tujuan stakeholder pada akhirnya adalah kestabilan sebuah perusahaan dalam jangka panjang. Semakin besar tingkat leverage maka perusahaan akan semakin komprehensif dalam mengungkapkan laporan keuangannya, itu dikarenakan timbul biaya pengawasan yang lebih tinggi pula. Hal ini diakibatkan dari tingkat leverage yang tinggi mempunyai arti resiko

5

jangka panjang dari perusahaan cukup tinggi, sehingga akan timbul biaya pengawasan yang lebih besar (Jensen and Meckling, 1976 pada Hertanti, 2005). Tingkat profitablitas diartikan sebagai kemampuan perusahaan

menghasilkan laba secara efisien (Almilia dan Retrinasari, 2007). Semakin tinggi tingkat profitabilitas maka artinya perusahaan semakin baik dan efisien dalam menghasilkan laba. Dalam dunia usaha, kita tidak perlu naïve dengan berpendapat laba bukanlah yang utama. Tetapi, pastilah tiap stakeholder menginginkan perusahaan yang ikut “dimiliki” nya berkinerja baik dan memperoleh laba. Tingkat melaba yang besar berkorelasi dengan perusahaan akan senang untuk “show-off” kebaikannya secara lengkap di laporan keuangan. Jika perusahaan memiliki kemampuan menghasilkan laba yang rendah, maka perusahaan cenderung menutup-nutupi ketidakefisienan tersebut (Hertanti, 2005). Ukuran perusahaan disini diartikan secara harafiah, yaitu seberapa besar perusahaan tersebut. Ukuran perusahaan dipandang penting karena semakin besar ukuran suatu perusahaan, maka “daya jual” sebuah perusahaan akan lebih baik. Para stakeholder akan menganggap perusahaan besar akan lebih tahan dari badai finansial. Bila ukuran perusahaan tersebut besar, maka kecenderungan untuk mengungkapkan laporan lebih lengkap dapat timbul karena dorongan dari stakeholders perusahaan terkait (Gunawan, 2003 pada Noviabi, 2006), dimana mereka mengharapkan pos-pos yang ada selengkap mungkin ditampilkan. Faktor yang terakhir adalah status modal perusahaan diartikan sebagai apakah sebuah perusahaan dimiliki oleh pemilik modal dalam negeri atau pemilik modal asing (Fitriyani 2001, pada Sofiana, 2010). Apabila perusahaan tersebut

6

dimiliki oleh asing atau paling tidak merupakan anak perusahaan dari perusahaan asing, maka kemampuan untuk mempersiapkan laporan yang lengkap

pengungkapannya akan semakin besar, bila dibandingkan dengan perusahaan lingkup lokal. Perusahaan asing akan mengungkapkan poin-poin dalam laporan keuangan dengan lebih menyeluruh, ini dikarenakan stakeholder dari perusahaan tersebut tidak hanya berasal dari Indonesia saja atau berkepentingan lebih (Sofiana, 2010). Akan tetapi hal ini tidak menutup kemungkinan bagi perusahaan dengan status modal PMDN (Pemilik Modal Dalam Negeri) untuk

mengungkapkan segalanya dengan lebih jelas dan lengkap. Penelitian ini menggunakan objek perusahaan manufaktur karena (1) terdiri dari banyak perusahaan (yang terbanyak listing di BEI), dimana dikelompokkan lagi menjadi sub-sub sektor yang lebih spesifik; (2) perlakuan akuntansi dalam perusahaan sektor manufaktur tidak memerlukan perlakuan khusus, seperti perusahaan sektor asuransi, bank, dan lainnya. Dari sini kita bisa lebih mudah membandingkannya dengan perusahaan pada umumnya bila ada pospos tertentu yang tidak diungkapkan. Tahun 2007-2009 dipilih agar hasil dari penelitian saat ini lebih relevan terhadap kondisi saat ini bila dibandingkan dengan jika menggunakan data dari tahun-tahun sebelumnya. Rentang 3 tahun dari 2007-2009 dipilih karena bila kita menggunakan rentang tahun yang terlalu lebar, dikhawatirkan kualitas informasi akan berkurang bila membandingkan data yang memiliki rentang waktu yang cukup lebar. Jadi, hasil dari penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan yang lebih relevan.

7

B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan masalah penelitian ini adalah: “Apakah tingkat likuiditas, tingkat leverage, tingkat profitabilitas, ukuran perusahaan dan status modal perusahaan berpengaruh terhadap kelengkapan pengungkapan laporan keuangan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2007-2009?”

C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian adalah membuktikan secara empiris pengaruh tingkat likuiditas, tingkat leverage, tingkat profitabilitas, ukuran perusahaan dan status modal perusahaan terhadap kelengkapan pengungkapan laporan keuangan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 20072009.

D. Manfaat Penelitian Manfaat dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Manfaat Praktis

a. Bagi Perusahaan Agar dalam penerbitan laporan keuangan perusahaan dilengkapi dengan pengungkapan informasi yang sesuai dan transparan agar tidak menghasilkan bias pada saat dipergunakan untuk pengambilan keputusan.

8

b. Bagi Kreditor dan Investor Diharapkan hasil dalam penelitian ini dapat dijadikan masukan kepada pihak kreditor dan investor untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengungkapan laporan keuangan. 2. Manfaat Akademis

Penelitian ini dapat menjadi bahan referensi bagi peneliti berikutnya untuk mengadakan penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan topik penelitian ini.

E. Tinjauan Pustaka 1. Penelitian Terdahulu Penelitian dengan topik sejenis telah dilakukan oleh Noviani (2006), dengan judul “Analisis Pengungkapan Informasi Laporan Tahunan pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar pada Bursa Efek Jakarta”, yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh likuiditas, solvabilitas, dan ukuran perusahaan terhadap tingkat pengungkapan informasi dalam laporan tahunan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ. Kesimpulannya adalah variabel yang berpengaruh terhadap kelengkapan pengungkapan adalah ukuran perusahaan saja sedangkan yang lainnya tidak. Persamaan antara penelitian Noviani (2006) dengan penelitian saat ini adalah: 1. Menggunakan kelengkapan pengungkapan

informasi sebagai variabel terikat

9

2.

Sumber pengungkapan laporan keuangan yang

digunakan adalah Surat Edaran Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Nomor: SE-02/PM/2002 Tanggal : 27 Desember 2002. 3. Objek penelitian menggunakan perusahaan yang

listing di BEI dari sektor manufaktur. Perbedaan antara penelitian Noviani (2006) dengan penelitian saat ini adalah: 1. Periode penelitian yang digunakan oleh Noviani (2006) adalah

tahun 2002-2004, sedangkan pada penelitian ini periode yang digunakan adalah tahun 2007-2009. 2. Variabel bebas yang digunakan pada penelitian yang dilakukan

oleh Noviani (2006), adalah tingkat likuiditas, solvency dan ukuran perusahaan. Pada penelitian saat ini, variabel bebas yang digunakan adalah tingkat likuiditas, leverage, profitabilitas, ukuran perusahaan dan status modal perusahaan. Penelitian terdahulu kedua yang digunakan sebagai acuan adalah penelitian Sofiana (2010), dengan judul “Analisis Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Kelengkapan Pengungkapan dalam Laporan Tahunan Perusahan Manufaktur yang terdaftar di BEI” yang bertujuan menganalisis pengaruh karakteristik perusahaan terhadap kelengkapan pengungkapan dalam laporan tahunan perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI. Kesimpulan penelitian adalah likuiditas dan status perusahaan tidak berpengaruh terhadap indeks kelengkapan pengungkapan dalam laporan keuangan. Leverage

10

berpengaruh negatif dan signifikan terhadap indeks kelengkapan pengungkapan dalam laporan keuangan, sedangkan profitabilitas dan ukuran perusahaan berpengaruh secara signifikan indeks kelengkapan pengungkapan. Persamaan antara penelitian Sofiana (2010) dengan penelitian saat ini adalah: 1. Variabel bebas yang digunakan terdiri dari tingkat

likuiditas, tingkat leverage, profitabilitas, ukuran perusahaan, dan status perusahaan. 2. Menggunakan kelengkapan pengungkapan

informasi sebagai variabel terikat. 3. Sumber pengungkapan laporan keuangan yang

digunakan adalah Surat Edaran Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Nomor: SE-02/PM/2002 Tanggal : 27 Desember 2002. 4. Objek penelitian menggunakan perusahaan yang

listing di BEI dari sektor manufaktur. Perbedaan antara penelitian Sofiana (2010) dengan penelitian saat ini adalah periode penelitian yang digunakan adalah tahun 2006-2008, sedangkan pada penelitian saat ini periode yang digunakan adalah tahun 2007-2009. Penelitian ketiga yang digunakan sebagai acuan dilakukan oleh Hertanti (2005), dengan judul “Pengaruh Faktor-Faktor Fundamental terhadap

Kelengkapan Pengungkapan Laporan Keuangan Perusahaan Manufkatur yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta” yang bertujuan mengetahui ada atau tidaknya pengaruh rasio likuiditas, rasio leverage, rasio

11

profitabilitas, terhadap

porsi

saham

publik

dan

ukuran laporan

perusahaan keuangan

kelengkapan

pengungkapan

perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Serta, berapa besarnya pengaruh rasio likuiditas, rasio leverage, rasio profitabilitas, porsi saham publik dan ukuran perusahaan terhadap kelengkapan pengungkapan laporan keuangan

perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Kesimpulan penelitian Hertanti (2005) hanya rasio leverage, porsi saham publik, dan ukuran perusahaan yang berpengaruh positif terhadap kelengkapan pengungkapan laporan keuangan, sedangkan rasio likuiditas mempunyai pengaruh negatif. Untuk rasio profitabilitas, tidak mempengaruhi kelengkapan

pengungkapan laporan keuangan. Persamaan antara penelitian yang dilakukan oleh Hertanti (2005) dengan penelitian saat ini adalah sumber pengungkapan laporan keuangan yang digunakan adalah Surat Edaran Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Nomor: SE02/PM/2002 Tanggal : 27 Desember 2002. Lalu, objek penelitian menggunakan perusahaan yang listing di BEI dari sektor manufaktur. Perbedaan antara penelitian Noviani (2006) dengan penelitian saat ini adalah variabel bebas nya. Variabel bebas yang digunakan pada penelitian yang dilakukan oleh Hertanti (2005), adalah rasio likuiditas, leverage, profitabilitas, porsi saham publik dan ukuran perusahaan, sedangkan pada penelitian saat ini variabel bebas yang digunakan adalah tingkat likuiditas, tingkat leverage, tingkat profitabilitas, ukuran perusahaanan status modal perusahaan. Perbedaan lainnya

12

adalah periode penelitian yang digunakan oleh Hertanti (2005) adalah tahun 20022003, sedangkan pada penelitian saat ini periode yang digunakan adalah tahun 2007-2009.

2. Landasan Teori a. (1) Laporan Keuangan Definisi Laporan Keuangan Laporan keuangan suatu perusahaan awalnya hanyalah sebagai alat untuk melihat pekerjaan pada bagian pembukuan, tetapi selanjutnya laporan keuangan tidak hanya sebagai alat untuk melihat saja tetapi sebagai dasar untuk menentukan dan menilai posisi-posisi keuangan perusahaan tersebut dimana dari hasil analisa tersebut pihak-pihak yang berkepentingan dapat mengambil suatu keputusan. Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses akuntansi yang telah dijalankan oleh perusahaan. Laporan keuangan merupakan sarana pengkomunikasian informasi keuangan utama terhadap pihak-pihak diluar korporasi. Laporan ini menampilkan sejarah perusahaan yang dikuantifikasi dalam nilai moneter (Kieso, Weygandt and Warfield, 2010:5). Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan (dapat disajikan dengan laporan arus dana atau arus kas), catatan dan laporan lain, serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan (IAI, 2009:1). Oleh karena itu, laporan

13

keuangan adalah seperti ‘alat public relation’ dalam hal keuangan atau kinerja perusahaan perusahaan. Penyusunan laporan keuangan dilakukan secara periodik. Periode yang biasanya digunakan adalah tahunan yang mulai 1 Januari dan berakhir tanggal 31 Desember. Periode seperti ini disebut periode tahun kalender. Selain tahun kalender, periode akuntansi bisa juga dimulai dari tanggal selain tanggal 1 Januari (Baridwan, 1992; dalam Pamungkas, 2007). terhadap pihak yang mempunyai kepentingan terhadap

(2)

Tujuan Laporan Keuangan Laporan keuangan, karena merupakan produk atau perusahaan maka

haruslah memiliki tujuan. Mengingat sasaran dari laporan keuangan adalah stakeholders dari perusahaan, maka tujuan dari laporan keuangan adalah menginformasikan kinerja keuangan perusahaan dengan baik dan benar. Ini harus dipenuhi agar para pemakai laporan keuangan dapat mengerti dari substansi ekonomik laporan tersebut. Menurut Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan, tujuan dari laporan keuangan adalah memberikan informasi tentang posisi, keuangan, kinerja dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian kalangan pengguna laporan keuangan dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban

(stewardship) manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yang

14

dipercayakan kepada mereka (IAI, 2009:3). Lalu, menurut Epstein and Jermakowicz (2007), tujuan dari laporan keuangan adalah: “Which previously had been revised in 2003 and which received further amendments in 2005 and 2007, refers to financial statements as a structure representation of the financial position and financial performance of an entity and elaborates that the objective of financial statements is to provide information about entity financial position, its financial performance and its cash flow, which is then utilized by a wide spectrum of end users in making economic decision. In addition, financial statements also show result of management stewardship of the resources entrusted to it. All this information is communicated through a complete set of financial statements” Jadi secara garis besar menurut International Financial Reporting Standards dan PSAK tujuan dari laporan keuangan yang dilaporkan oleh perusahaan adalah memberikan informasi keuangan perusahaan agar para penggunanya dapat menggunakan laporan tersebut untuk mengambil keputusan ekonomis dan berguna untuk mereka.

(3)

Karkteristik Kualitatif Laporan Keuangan Karakteristik kualitatif merupakan ciri khas yang membuat informasi

dalam laporan keuangan dapat berguna bagi pemakai. Terdapat 4 (empat) karakteristik kualitatif pokok laporan keuangan antara lain (IAI, 2009:5): Dapat Dipahami Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh pengguna. Untuk maksud ini, pengguna diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai

15

tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi, serta kemauan ntuk mempelajari informasi dengan ketekunan yang wajar. Relevan Informasi memiliki kualitas relevan kalau dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa depan, menegaskan atau mengkoreksi hasil evaluasi mereka di masa lalu. Handal Informasi memiliki kualitas andal jika bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus atau jujur (faithfull representation) dari yang seharusnya disajikan dan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan. Dapat Dibandingkan Pengguna harus dapat membandingkan laporan keuangan perusahaan antar periode untuk mengidentifikasikan kecenderungan (tren) posisi dan kinerja keuangan. Pengguna juga harus dapat membandingkan laporan antar perusahaan untuk mengevaluasi kinerja keuangan perusahaan bila dibandingkan dengan perusahaan sejenis atau dengan rata-rata industri. Menurut Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan, dalam praktiknya, keseimbangan atau trade-off diantara berbagai karakteristik kualitatif sering diperlukan. Pada umumnya tujuannya adalah untuk mencapai suatu keseimbangan yang tepat diantara berbagai karakteristik untuk memenuhi

16

tujuan laporan keuangan. Kepentingan relatif dari berbagai karakteristik dalam berbagai kasus yang berbeda merupakan masalah pertimbangan profesional. (IAI, 2009)

(4) Kita

Prinsip Laporan Keuangan sebagai akademisi dalam bidang akuntansi, secara umum

menggunakan prinsip-prinsip akuntansi untuk mencatat transaksi-transaksi yang ada di perusahaan. Prinsip-prinsip yang ada, menurut Kieso, dkk. (2010:38), yaitu prinsip historical cost, revenue recognition, matching, dan full disclosure. Prinsip historical cost mengaharuskan semua pos yang ada didalam laporan keuangan dicatat sesuai dengan harga perolehannya. Prinsip revenue recognition menetukan kapan sebuuah transaksi disebut sebagai kegiatan penjualan. Bisa jadi saat barang keluar gudang, barang diterima pelanggan, atau pada saat uang kas dari transaksi tersebut diterima oleh perusahaan. Prinsip matching adalah dimana pada saat ada biaya yang keluar, harus ada pemasukan dari biaya yang dikeluarkan tersebut. Sedangkan untuk prinsip full disclosure, prinsip ini mengharuskan laporan keuangan perusahaan diungkapkan selengkap mungkin agar pengguna laporan keuangan dapat mengambil keputusan yang bernilai ekonomis dari laporan tersebut. Dalam penelitian (pengungkapan). Ini ini, akan difokuskan laporan pada prinsip disclosure kepada

dikarenakan

keuangan

ditujukan

penggunanya (stakeholders perusahaan) agar mereka mendapatkan informasi

17

yang cukup untuk mengambil keputusan. Informasi yang cukup akan dapat terwujud bila laporan keungan diungkapkan secara wajar dan sesuai standarnya. Jadi tingkat pengungkapan laporan keuangan yang dilakukan oleh perusahaan akan mempengaruhi kualitas dari informasi yang akan diterima oleh para penggunanya.

b. (1)

Pengungkapan Definisi Pengungkapan Secara harafiah, menurut Chariri dan Ghozali, (2000:235, dalam Hertanti

2005) pengungkapan berarti memberikan informasi, baik secara sukarela atau akan sesuai dengan peraturan hukum atau peraturan di tempat kerja. Kata disclosure memiliki arti tidak menutup-nutupi atau menyembunyikan hal yang ada sebenarnya (Noviani, 2006). Apabila dikaitkan dengan informasi, disclosure berarti memberikan informasi yang bermanfaat kepada pihak yang memerlukan (Irawan, 2006). Jadi informasi tersebut harus benar-benar bermanfaat, karena apabila tidak bermanfaat, tujuan dari pengungkapan tersebut tidak akan tercapai. Bila ini ditarik ke topik kita saat ini, laporan keuangan, disclosure dapat diartikan arti bahwa laporan keuangan harus bisa memberikan informasi dan penjelasan yang cukup dan sesuai tentang kinerja suatu perusahaan. Sedangkan menurut Evans (2003, dalam Soewardjono, 2008:578) pengungkapan adalah “… means supplying information in the financial statements, including the statements themselves, the notes to the statements and the supplementary disclosures associated with the statements. It does not extend to public or private statements made by management or information provided outside the financial statements”

18

Dengan demikian, informasi tersebut harus lengkap, jelas dan dapat menggambarkan secara tepat kejadian-kejadian ekonomi yang berpengaruh terhadap hasil kinerja suatu perusahaan tersebut. Ini harus dipenuhi karena tujuan dari laporan keuangan yang telah dijabarkan diatas menyebutkan bahwa laporan keuangan haruslah memberikan informasi keuangan perusahaan agar para penggunanya dapat menggunakan laporan tersebut untuk mengambil keputusan ekonomis dan berguna untuk mereka. Ini juga sesuai dengan Statement of Financial Accounting Concepts no. 1 (yang dikeluarkan oleh Financial Accounting Standard Board), menyatakan bahwa laporan keuangan harus menyajikan informasi yang berguna untuk investor dan calon investor, kreditor dan pemakai lain dalam pengambilan keputusan investasi, kredit dan keputusan sejenis lain yang rasional (Irawan, 2006). Informasi tersebut harus dapat dipahami oleh mereka yang mempunyai wawasan bisnis dan ekonomi (Verdiyana, 2006). Dalam akuntansi, pengungkapan mengacu pada perusahaan menyebarkan informasi tentang kinerja masa lalu keuangan, ramalan masa depan, ataupun operasi saat ini dimana hal-hal yang diungkapkan telah diatur oleh regulator. Kelengkapan pengungkapan laporan keuangan sangat bergantung pada standar. Pengungkapan laporan keuangan yang memadai bisa ditempuh melalui penerapan regulasi informasi yang baik. Regulasi informasi keuangan di Indonesia dilaksanakan oleh pemerintah melalui UU pasar modal, BAPEPAM sebagai salah satu unit di Lingkungan Departemen Keuangan Republik Indonesia, Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) melalui Standar Akuntansi Keuangan.

19

(2)

Tujuan Pengungkapan Tujuan dari pengungkapan laporan keuangan secara umum adalah untuk

memperjelas inforamsi yang ada agar informasi tersebut dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. Secara terperinci, Soewardjono (2008:580) membaginya menjadi tiga, yaitu: Melindungi

Tidak semua pemakai itu sophisticated, sehingga pemakai yang naif perlu dilindungi dari mengungkapan informasi yang mereka tidak mungkin memperolehnya atau tidak mungkin mengolah informasi untuk menangkap substansi ekonomik yang melandasi pos statement keuangan tersebut. Dengan ini tingkat pengungkapan relatif harus lebih tinggi.

-

Informatif

Dasar gagasan bahwa pemakai yang dituju sudah jelas berada pada tingkat kecanggihan tertentu, maka pengungkapan lebih ditujukan sebagai sarana untuk menyediakan informasi yang dapat membantu kefektifan pengambilan keputusan pemakai tersebut Kebutuhan Khusus

Apa yang diungkapkan kepada publik dibatasi dengan apa yang dipandang bermanfaat bagi pemakai yang dituju. Sementara untuk tujuan pengawasan, informasi tertentu harus di sampaikan kepada badan pengawas berdasarkan peraturan melalui form-form yang menutut pengungkapan secara rinci.

20

(3)

Tingkat Pengungkapan Tingkat pengungkapan memang haruslah ditentukan karena terlalu banyak

informasi sama tidak menguntungkannya dengan terlalu sedikit informasi. Maka diperukan kriteria atau pertimbangan untuk menentukan batas atas (cost>benefit) atau batas bawah (materialitas). Dalam pengungkapan, batas atas (tingkat penuh) memberikan masalah dan kontroversi yang lebih besar dari pada tingkat bawah. Artinya, menentukan seberapa luas pengungkapan harus diungkapkan lebih problematik daripada menentukan informasi mana yang tidak perlu diungkapkan. Maka dari itu tingkat pengungkapan dibagi menjadi 3 bagian yaitu (Soewardjono; 2008:581): Memadai

Tingkat ini merupakan tingkat minimum yang harus dipenuhi oleh perusahaan agar laporan keuangan tidak menyesatkan para penggunanya (secara harafiah) untuk pengambilan keputusan. Wajar

Ini adalah masuk ke tingkatan yang harus dicapai agar semua pihak mendapat perlakuan atau pelayanan informasional yang sama dan tidak ada preferensi dalam pengungkapan informasi. Penuh

Tingkat penuh menuntut penyajian secara penuh semua informasi yang berkaitan dengan pengambilan keputusan yang dituju. Berbagai hal menjadi pertimbangan penyusun standar atau badan pengawas untuk menentukan

21

seberapa banyak informasi harus diungkapkan. Pengungkapan yang lebih luas biasanya terkendala oleh keengganan perusahaan untuk menyediakan informasi. Dalam hal seperti ini, keterlebihan informasi (information overload) harus menjadi pertimbangan. Keterlebihan informasi adalah penyediaan informasi yang melebihi kemampuan pemakai untuk mencernanya secara efektif. Bahkan menurut regulator, pengungkapan wajib harus dipertimbangkan atas dasar apakah informasi yang sama sebenarnya dapat diperoleh pemakai dari sumber selain yang disediakan melalui pelaporan keuangan atau laporan tahunan. Sumber lain ini dalam hal tertentu justru lebih efektif daripada informasi yang disediakan perusahaan. Soewardjono (2008: 582). Yang paling umum digunakan dalam pengungkapan suatu perusahaan adalah pengungkapan yang cukup (adequate disclosure), karena pengungkapan ini mencakup pengungkapan minimal yang harus dilakukan agar laporan keuangan tidak menyesatkan. Sedangkan pengungkapan wajar dan lengkap merupakan konsep yang lebih bersifat positif. Pengungkapan secara wajar menunujukkan tujuan etis agar dapat memberikan perlakuan yang sama dan bersifat umum bagi semua pemakai laporan keuangan

c.

Indeks Kelengkapan Pengungkapan Laporan Keuangan Struktur pengaturan di Indonesia kurang lebih sama dengan yang

diterapkan di Amerika yaitu struktur pengaturan ganda (IAI dan BAPEPAM). Dalam hal ini, BAPEPAM lebih berkepentingan dengan tingkat

22

pengungkapan dan apa yang harus diungkapkan terutama untuk kepentingan pendaftaran publik dan penawaran perdana. Ketentuan tentang pengungkapan yang diwajibkan oleh BAPEPAM dituangkan dalam bentuk keputusan BAPEPAM sedangkan pengungkapan yang diwajibkan oleh IAI dituangkan dalam berbagai pasal dan tersebar di berbagai pernyataan standar. Standar akuntansi (PSAK) dan ketentuan BAPEPAM mengeluarkan daftar untuk mengevaluasi tingkat pengungkapan di Indonesia. Daftar ini dapat memberi gambaran tentang butir-butir apa saja yang harus diungkapkan dalam penyampaian informasi keuangan kepada publik. Daftar butir pengungkapan tersebut digunakan untuk menentukan tingkat ketaatan pengungkapan yang diukur dengan indeks pengungkapan (disclosure index) yaitu pengungkapan yang nyatanya dilaksanakan dibanding dengan

pengungkapan yang seharusnya (daftar butir pengungkapan). Dalam penelitian ini yang digunakan adalah Surat Edaran Ketua Bapepam No.SE-02/PM/2002 Tanggal 27 Desember 2002. Pengungkapan yang diatur adalah pos-pos dari Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan.

d. Keuangan

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kelengkapan Laporan

Terdapat 5 (lima) faktor pendukung yang digunakan dalam penelitian saat ini, yaitu: (1) Tingkat Likuiditas

23

Tingkat likuiditas menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek (Smith, 2005:81). Tingkat likuiditas juga mnegindikasikan berapa kali aset lancar akan mampu membiayai kewajiban lancarnya (Tyran, 1992:77). Likuiditas juga dapat mempunyai arti perusahaan mempunyai cukup dana di tangan untuk membayar tagihan pada saat jatuh tempo dan berjaga-jaga terhadap kebutuhan kas yang tidak terduga. Likuiditas menunjukkan kondisi keuangan perusahaan. Perusahaan yang mempunyai cukup kemampuan untuk membayar utang jangka pendek disebut sebagai perusahaan yang likuid. Suatu perusahaan dikatakan likuid atau mempunyai posisi keuangan yang kuat apabila mampu: (Pamungkas, 2007) - Memenuhi kewajiban-kewajibannya (lancar) tepat pada waktunya. - Memelihara modal kerja yang cukup untuk operasi yang normal. - Membayar bunga dan deviden yang dibutuhkan. - Memelihara tingkat kredit yang menguntungkan. Tingkat likuiditas dapat dipandang dari dua sisi. Kesehatan suatu perusahaan yang dicerminkan dengan tingginya rasio likuiditas (diukur dengan current ratio) diharapkan berhubungan dengan luasnya tingkat pengungkapan. Hal ini didasarkan dari adanya pengharapan bahwa secara finansial perusahaan yang kuat akan lebih mengungkapkan informasi dari pada perusahaan yang lemah. Tetapi sebaliknya, jika likuiditas dipandang sebagai ukuran kinerja, perusahaan yang mempunyai rasio likuiditas rendah perlu memberikan informasi yang lebih rinci untuk menjelaskan lemahnya kinerja dibanding perusahaan yang mempunyai rasio likuiditas yang tinggi

24

(Simanjuntak dan Widiastuti, 2004; pada Benardi dkk., 2008). Meskipun rasio ini tidak bicara masalah solvabilitas dan biasanya tidak terlalu penting; tapi bila rasio ini jelek dalam jangka panjang tentu akan mempengaruhi kinerja perusahaan (Haraf dan Hakim, 2005). Tidak ada standar baku yang menyebutkan berapa sebaiknya nilai dari tingkat likuiditas ini, tapi selama ini diyakini sebuah perusahaan berada dalam taraf yang aman bila Rasio Lancarnya berada di kisaran 2:1, ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Tyran (1992:78) Tingkat likuiditas perusahaan dapat diukur dengan metode

penghitungan rasio. Menurut Subhamayam and Wild (2008), rasio likuiditas dibagi menjadi 4 jenis, yaitu: Rasio Lancar (Current Ratio) Rasio ini mengukur seberapa jauh aktiva lancar perusahaan bisa dipakai untuk memenuhi kewajiban lancarnya. Rasio ini dinyatakan sebagai berikut: Aset Lancar Rasio Lancar = Hutang Lancar Aset lancar terdiri dari: kas atau setara kas, investasi jangka pendek, wesel tagih, piutang usaha, piutang lain-lain, persediaan, pajak dibayar dimuka, biaya dibayar dimuka dan aktiva lancar lain-lain Hutang lancar/Kewajiban lancar terdiri dari: pinjaman jangka pendek, wesel bayar, hutang usaha, hutang pajak, beban masih harus dibayar, bagian kewajiban jangka panjang yang jatuh tempo dalam waktu satu tahun dan kewajiban

25

lancar lain-lain. Rasio ini menunjukkan sejauh mana kewajiban lancar dapat dipenuhi dengan aktiva lancar sehingga rasio ini yang paling lazim digunakan.

-

Rasio Cepat (Acid Test Ratio) Rasio ini berfungsi untuk menjembatani kekurangan yang disajikan oleh current ratio. Rasio ini benar-benar mengukur kemampuan perusahaan untuk.memenuhi kewajiban jangka pendek melalui aktiva lancar yang benar-benar likuid. Persediaan merupakan rekening yang paling lama untuk berubah menjadi kas (yaitu harus melewati banyak piutang dulu), dan tingkat kepastian nilainya rendah, maka rekening persediaan mungkin dikeluarkan dari perhitungan. Dengan demikian maka rasionya dinyatakan sebagai berikut: Aset Lancar – Persediaan Rasio Cepat = Hutang Lancar

-

Collection Period Rasio ini mengukur berapa hari sebuah piutang dagang dapat tertagih. Semakin cepat piutang tertagih maka perusahaan berada dalam kondisi yang lebih likuid karena piutangnya dapat cepat dikonversikan sebagai kas. Dengan demikian maka rasionya dinyatakan sebagai berikut:

26

Collection Period = -

Rata - rata saldo Piutang Penjualan/ 360 hari

Days to Sell Inventory Rasio ini mengukur berapa lama perusahaan mampu mengkonversi persediaannya menjadi kas dengan cara menjualnya. Semakin cepat sebuah persediaan terjual, maka perusahaan tersebut semain likuid. Dengan demikian maka rasionya dinyatakan sebagai berikut: Days to Sell Inventory

=

R a ta ra tas a ld P e rs e d ia a n o H a rgP o k o P e n ju a la n /0h a r i a k 36

Dalam penelitian saat ini, rasio lancar dipilih sebagai proksi dari tingkat likuiditas perusahaan. Alasan utama dari rasio lancar dipilih karena kemampuan dari rasio lancar untuk dapat mengukur dengan baik kesehatan dari sebuah perusahaan dalam jangka pendek (Tyran, 1992: 78). Selain itu rasio lancar merupakan pengukuran yang paling dapat diterima umum karena memasukkan semua kompoen aset lancar, tidak seperti rasio cepat yang tidak mengikut sertakan persediaan. Padahal, belum tentu sebuah persediaan sulit untuk diubah menjadi kas.

(2) Tingkat Leverage Konsep tingkat leverage keuangan, mengacu pada jumlah pendanaan utang dalam struktur modal perusahaan (Tyran, 1992:96). Perusahaan menggunakan modal ekuitas sebagai dasar pinjaman dengan tujuan meraih kelebihan pengembalian. Tingkat leverage mengukur kemampuan perusahaan untuk bertahan hidup selama jangka waktu yang panjang, lain dengan

27

likuiditas yang hanya mengukur dari sisi jangka pendeknya saja. Kreditur jangka panjang dan pemegang saham berkepentingan dalam leverage perusahaan, teristimewa kesanggupannya membayar bunga atau pokok pinjaman jatuh tempo (Simamora, 2000; dalam Pamungkas, 2007). Leverage berkaitan dengan bagaimana perusahaan didanai, lebih banyak menggunakan utang atau modal yang berasal dari pemegang saham. Perusahaan dengan tingkat leverage tinggi menanggung biaya pengawasan yang tinggi. Jika menyediakan informasi secara lebih komprehensif akan membutuhkan biaya lebih tinggi, maka perusahaan dengan leverage yang lebih tinggi akan menyediakan informasi secara lebih komprehensif (Jensen and Meckling, 1976; pada Sofiana, 2010). Struktur keuangan perusahaan memiliki kaitan yang erat dengan informasi keuangan yang akan disampaikan kepada para penyedia dana. Tambahan informasi diperlukan untuk menghilangkan keraguan pemegang saham terhadap dipenuhinya hak-hak mereka sebagai kreditur. Tinggi rendahnya tingkat leverage dapat diukur dengan penghitungan rasio. Menurut Subhamayam and Wild (2008), rasio leverage ini dapat dibagi menjadi 2 (dua) yaitu: Debt to Asset Rasio ini mengukur besarnya total aktiva yang dibiayai oleh kreditur perusahaan. Semakin tinggi rasio tersebut semakin banyak uang kreditur yang digunakan perusahaan untuk menghasilkan laba. Rasio debt to asset dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

28

Total Debt Debt to Asset = Total Asset Debt to Equity Rasio hutang terhadap ekuitas dihitung dengan jalan membagi total hutang perusahaan (termasuk kewajiban lancar) dengan ekuitas pemegang saham. Rasio ini diukur dengan perhitungan: Total Debt Debt to Equity = Shareholder’s Equity Rasio hutang terhadap ekuitas berbeda-beda tergantung dari karakteristik bisnis dan keberagaman arus kas. Perusahaan dengan arus kas yang stabil biasanya memiliki rasio hutang terhadap ekuitas yang lebih tinggi daripada perusahaan dengan arus kas yang kurang stabil. Semakin rendah rasio ini, semakin tinggi tingkat pendanaan perusahaan yang disediakan oleh pemegang saham dan semakin besar batas pengaman pemberi pinjaman jika terjadi penyusutan nilai aktiva atau kerugian. Pada penelitian saat ini, tingkat leverage diproksikan dengan debt to equity ratio. DER dipilih karena kemampuannya untuk memprediksi kerentanan pendanaan sebuah perusahaan dalam jangka panjang. Dan dimana tingkat kerentanan tersebut akan berimplikasi langsung pada biaya pengawasan yang lebih tinggi (Jensen dan Meckling, 1976). Jadi karena pertimbangan kerentanan jangka panjang itulah pengungkapan yang lebih menyeluruh dari laporan perusahaan harus dipertimbangkan.

29

(3) Tingkat Profitabilitas Profitabilitas adalah, kemampuan perusahaan menghasilkan laba (Smith, 2005). Semakin tinggi tingkat profitabilitas, berarti semakin tinggi kemampuan perusahaan memperoleh laba. Tidak dipungkiri walau banyak pihak yang menyebutkan bahwa laba bukan segalanya, tetapi faktor ini yang menggerakkan investor-investor untuk masuk ke perusahaan. Sehubungan dengan kelengkapan laporan keuangan, perusahaan dengan laba yang besar akan terpacu untuk “mempertontokan” laporan keuangannya dengan cukup lengkap. Ini terjadi didasari karena, perusahaan ingin unjuk kebolehan mengenai kinerjanya bagaiamana ia menghasilkan laba dalam satu tahun terakhir (Singvi dan Desai, 1971; pada Benardi dkk., 2008). Tetapi dilain sisi, tingkat profitabilitas dan kelengkapan pengungkapan dapat saja menunjukkan arah negatif. Ini terjadi karena kecenderungan perusahaan yang memiliki profit tinggi tidak ingin membayar pajak yang besar, jadi laba yang ada tidak disampaikan seluruhnya oleh perusahaan (Almilia dan Retrinasari, 2007). Akibatnya pos-pos yang lain (yang berkaitan dengan kegiatan penghasil laba) akan ikut tereduksi pengungkapannya. Untuk menghitung tingkat profitabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan metode rasio. Terdapat 3 jenis pengukuran profitabilitas menurut Tyran (1992:87) yaitu: Gross Profit Margin Rasio ini dapat diukur dengan cara:

30

Sales – Cost of Sales Gross Profit Margin= Sales Operating Profit Margin Rasio ini dapat diukur dengan cara: Income from Operations Operating Profit Margin= Sales Net Profit Margin Rasio ini dapat diukur dengan cara: Net Income Net Profit Margin= Sales Net profit margin dipilih sebagai proksi dari tingkat profitabilitas perusahaan. Rasio ini dipilih karena mempertimbangkan laba yang aktual adalah laba yang benar-benar telah terpotong bunga dan pajak. Bisa saja sebuah perusahaan laba operasinya positif tetapi setelah ada pembayaran kegiatan non operasi dan atau pembayaran bunga akhirnya merugi. Padahal pemabayaran hal-hal tersebut merupakan bagian yang tidak dapat lepas dari perusahaan.

(4) Ukuran Perusahaan Semakin besar ukuran perusahaan, maka semakin besar informasi disclosure yang diungkapkan. Pernyatan tersebut mendasarkan teori keagenan dmana perusahaan besar memiliki biaya keagenan yang lebih besar dari perusahaan kecil (Jensen dan Meckling, 1976). Perusahaan besar akan

31

mengungkapkan informasi yang lebih banyak sebagai upaya mengurangi biaya keagenan tersebut. Perusahaan yang berukuran lebih besar, cenderung memiliki public demand akan informasi yang lebih tinggi dibanding dengan perusahaan yang berukuran kecil. Sedangkan perhatian para analis ekonomi terhadap perusahaan besar terletak pada peranan dan kontribusi perusahaan terhadap roda perekonomian suatu negara (Irawan, 2006). Besar (ukuran) dari sebuah perusahaan dapat diproksikan dengan 3 jenis pengukuran, yaitu jumalh total aset, kapitalisasi pasar dan penjualan. Dimana ketiga hal ini dapat dihubungkan dengan gambaran seperti ini, semakin besar aset perusahaan maka semakin banyak modal yang ditanam; semakin besar penjualan semakin banyak perputaran uang; dan semakin besar kapitalisasi pasar semakin dikenal pula perusahaan tersebut dalam masyarakat (Sudarmadji dan Sularto, 2007). Arah hubungan ternyata bisa negatif, jika dikaitkan dengan teori bahwa perusahan besar tidak akan lepas dari tekanan politik, tekanan untuk melaksanakan tanggung jawab sosial. Dampaknya, perusahaan mereduksi laporan keuangan (menjadi kurang terperinci) karena ada kecenderungan untuk menghindari pajak. Total aset dipilih sebagai proksi dari variabel ukuran perusahaan. Ini dikarenakan total aset lebih stabil dan representatif dalam menunjukkan ukuran perusahan dibanding kapitaliasi pasar dan penjualan yang sangat dipengaruhi oleh demand and supply (Sudarmadji dan Sularto, 2007).

32

(5) Status Modal Perusahaan Mengenai hubungan status perusahaan dengan kelengkapan

pengungkapan dapat dijabarkan seperti ini. Apabila perusahaan tersebut dimiliki oleh asing atau paling tidak merupakan anak dari perusahan asing, maka kemampuan untuk mempersiapkan laporan yang lengkap

pengungkapannya akan semakin besar, bila dibandingkan dengan perusahaan lingkup lokal. Dan lagi bila menyajikan laporan keuangan yang tidak baik pengungkapannya maka akan menurunkan citra dan kredibilitas perusahaan (Sofiana, 2010).

3. Pengembangan Hipotesis a. Pengaruh Tingkat Likuiditas terhadap

Kelengkapan Pengungkapan Laporan Keuangan Tingkat likuiditas menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya kepada dengan aset lancar sebagai jaminannya (Smith, 2005:81). Tingkat likuiditas dapat dipandang dari dua sisi. Disatu sisi, tingkat likuiditas yang tinggi akan menunjukkan kuatnya kondisi keuangan perusahaan. Perusahaan semacam ini cenderung untuk melakukan pengungkapan informasi yang lebih luas kepada pihak luar karena ingin menunjukkan bahwa perusahaan itu kredibel (Belkoui, 1978; dalam Pamungkas, 2007) Tingkat likuiditas dapat juga dipandang sebagai ukuran kinerja manajemen dalam mengelola keuangan (Wallace, 1994; dalam Fitriani, 2001). Dari sisi ini,

33

perusahaan dengan likuiditas rendah cenderung mengungkapkan lebih banyak informasi kepada pihak eksternal sebagai upaya untuk menjelaskan lemahnya kinerja manajemen. Kondisi perusahaan yang sehat, yang antara lain ditunjukkan dengan tingkat likuiditas yang tinggi, berhubungan dengan pengungkapan yang lebih luas. Hal tersebut didasarkan pada ekspektasi bahwa perusahaan yang secara keuangan kuat, akan cenderung untuk mengungkapkan lebih banyak informasi. Ini disebabkan karena perusahaan ingin menunjukkan kepada pihak ekstern bahwa dirinya tersebut kredibel (Almilia dan Retrinasari, 2007). Perusahaan dengan likuiditas yang tinggi akan cenderung untuk melakukan pengungkapan yang lebih karena ingin menunjukkan kinerja perusahaannya yang kredibel. Tingkat likuiditas mempunyai hubungan positif dengan luas pengungkapan (Cooke, 1989; dalam Fitriani, 2001). Kondisi perusahaan sehat dapat ditunjukkan dari tingkat likuiditas yang berhubungan dengan tingkat pengungkapan yang lebih. Hal ini didasarkan pada harapan bahwa kekuatan financial perusahaan akan cenderung memberikan pengungkapan yang lebih untuk memberikan informasi yang luas daripada perusahaan dengan kondisi financial lemah (Kahl, 1989; dalam Pamungkas, 2007). Dari penjelasan diatas maka dapat ditarik sebuah hipotesis: H1: Tingkat likuiditas berpengaruh terhadap tingkat kelengkapan laporan keuangan perusahaan.

b.

Pengaruh Tingkat Leverage terhadap Kelengkapan Pengungkapan

Laporan Keuangan

34

Tingkat leverage menunjukkan kemampuan perusahaan untuk bertahan hidup selama jangka waktu yang lama. Posisi kreditor jangka panjang berbeda dibanding kreditor jangka pendek. Kreditur jangka panjang sangat menaruh perhatian, baik pada kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek, yaitu kemampuan membayar bunga. maupun jangka panjang, yaitu kemampuan membayar pokok pinjaman. Mereka lebih menaruh perhatian pada solvabilitas perusahaan (Noviani, 2006). Suatu perusahaan yang tingkat leveragenya tinggi, cenderung untuk memenuhi kebutuhan informasi untuk krediturnya. Perusahaan yang mempunyai proporsi hutang lebih banyak dalam struktur permodalannya akan membiayai biaya keagenan yang besar (Wallace, 1994; dalam Sofiana, 2010). Oleh karena itu perusahaan yang mempunyai komposisi hutang yang tinggi wajib memenuhi kebutuhan informasi yang cukup memadai bagi kreditur. Jadi semakin tinggi atau semakin rendah tingkat leverage perusahaan maka, kelengkapan pengungkapan juga akan mengikuti pergerakan/terpengaruh tersebut. Hal ini diperkuat dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Sofiana (2010), Pamungkas (2007), dan Hertanti (2005). Dari penjelasan diatas maka dapat ditarik sebuah hipotesis: H2: Tingkat leverage berpengaruh terhadap tingkat kelengkapan laporan keuangan perusahaan.

c.

Pengaruh

Tingkat

Profitabilitas

terhadap

Kelengkapan

Pengungkapan Laporan Keuangan

35

Profitablitas merupakan suatu ukuran kinerja yang dilakukan manajemen untuk mengelola kekayaan perusahaan yang ditunjukkan dengan laba yang dihasilkan (Sudarmadji dan Sularto, 2007). Semakin tingginya tingkat profitabilitas perusahaan, menunjukkan semakin tingginya kemampuan

perusahaan dalam memperoleh laba dan semakin baik kinerja perusahaannya. Dengan laba yang tinggi perusahaan memiliki cukup dana untuk mengumpulkan, mengelompokkan dan mengolah informasi menjadi lebih bermanfaat serta dapat menyajikan pengungkapan yang lebih komprehensif. Oleh karena itu perusahaan dengan profitabilitas yang tinggi akan lebih berani mengungkapkan laporan. Dengan demikian semakin tinggi profitabilitas perusahaan maka akan semakin tinggi kelengkapan pengungkapan laporan keuangan (Sofiana, 2010; Fitrani 2001, serta Laraswita dan Indrayani, 2009). Dari penjelasan diatas maka dapat ditarik sebuah hipotesis: H3: Tingkat profitabilitas berpengaruh terhadap tingkat kelengkapan laporan keuangan perusahaan.

d.

Pengaruh

Ukuran

Perusahaan

terhadap

Kelengkapan

Pengungkapan Laporan Keuangan Ukuran perusahaan dapat mempengaruhi kelengkapan pengungkapan laporan keuangannya (Almilia dan Retrinasari, 2007; Irawan, 2006; dan Benardi dkk., 2008). Perusahaan yang berukuran besar cenderung lebih banyak mengungkapkan butir-butir laporan keuangannya karena mereka memiliki lebih banyak informasi yang dapat diungkapkan. Perusahaan yang berukuran besar juga

36

diduga mempunyai karyawan ahli berkualitas yang lebih memahami tentang pengungkapan laporan keuangan (Hertanti, 2005). Dari beberapa uraian di atas dapat dikatakan bahwa perusahaan dengan ukuran besar akan lebih banyak melakukan pengungkapan laporan keuangan. perusahaan kecil diduga mungkin tidak memiliki sumber daya untuk mengumpulkan dan menampilkan informasi yang luas pada laporan tahunan mereka sebab banyak aktivitas banyak pula biaya yang dikeluarkan. Dalam hal lain pula, manajemen perusahaan kecil mungkin percaya bahwa pengungkapan yang terperinci akan membahayakan posisi kompetitifnya (Subiyantoro, 1996:11; dalam Hertanti, 2005). Dari penjelasan diatas maka dapat ditarik sebuah hipotesis: H4: Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap tingkat kelengkapan laporan keuangan perusahaan.

e.

Pengaruh

Status Modal Perusahaan

terhadap

Kelengkapan

Pengungkapan Laporan Keuangan Perusahaan dengan penanam modal asing relatif mendapatkan pelatihan yang lebih baik, misalnya dalam bidang akuntansi, dari perusahaan induknya di luar negeri. Lalu perusahaan yang berstatus asing mungkin mempunyai sistem informasi manajemen yang lebih efisien untuk memenuhi kebutuhan pengendalian internal dan kebutuhan informasi perusahaan induknya (Sofiani, 2010). Terdapat kemungkinan juga, permintaan informasi yang lebih besar kepada perusahaan berstatus asing dari pelanggan, pemasok, analisis dan

37

masyarakat pada umumnya. Perusahaan dengan status modal asing akan memberikan pengungkapan yang lebih luas dibanding perusahaan domestik. Perusahaan dengan status yang berbeda akan memiliki stakeholders yang berbeda, sehingga tingkat kelengkapan pengungkapan yang harus dilakukan berbeda pula (Sofiani, 2010; dalam Fitriani 2001). Dari penjelasan diatas maka dapat ditarik sebuah hipotesis: H5: Status modal perusahaan berpengaruh terhadap tingkat kelengkapan laporan keuangan perusahaan.

4.

Model Analisis Tingkat Likuiditas

Tingkat Leverage

Tingkat Profitabilias

Kelengkapan Pengungkapan Laporan Keuangan

Ukuran Perusahaan

Status Modal Perusahaan Gambar 1 Model Analisis F. Desain Penelitian

38

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan hipotesis yang bertujuan untuk menguji pengaruh variabel independen (tingkat likuiditas, tingkat leverage, tingkat profitabilitas, ukuran perusahaan dan status modal perusahaan) terhadap variabel bebas (kelengkapan pengungkapan laporan keuangan).

G. Identifikasi, Definisi, dan PengukuranVariabel Dalam penelitian ini digunakan 2 macam variabel yaitu: 1. Variabel terikat atau variabel dependen, yaitu tingkat kelengkapan

pengungkapan laporan keuangan, yang dilambangkan dengan Y. 2. Variabel bebas atau variabel independen, yang dilambangkan

dengan X, meliputi: a) b) c) d) e) Tingkat Likuiditas (X1) Tingkat Leverage (X2) Tingkat Profitabilitas (X3) Ukuran Perusahaan (X4) Status Modal (X5)

Masing-masing variabel penelitian dapat didefinisikan dan diukur sebagai berikut: a) Kelengkapan Pengungkapan Laporan Keuangan Kelengkapan pengungkapan laporan keuangan adalah derajad dimana laporan keuangan perusahaan dapat dibilang lengkap atau tidak. Disclosure checklist dipakai sebagai pengontrol apakah laporan perusahaan telah memenuhi item-item yang telah tersedia. Dalam penelitian kali ini digunakan

39

peraturan dari BAPEPAM. Peraturannya adalah Daftar Item Pengungkapan Laporan Keuangan Berdasarkan Surat Edaran Ketua Bapepam No.SE02/PM/2002 Tanggal 27 Desember 2002. Menurut Nugraheni (2002:80, dalam Pamungkas, 2007), derajad kelengkapan laporan keuangan diukur dengan menggunakan angka indeks. Angka indeks dihitung dengan cara n Angka Indeks = k Keterangan: n = jumlah item yang diungkapkan perusahaan k = jumlah item yang seharusnya diungkapkan Perusahaan diberi skor 1 apabila mengungkapkan item tertentu dalam disclosure checklist dan diberi skor 0 apabila tidak mengungkapkan item tertentu yang terdapat di dalam disclosure checklist. Kemudian perhitungan persentase rata-rata skor dilakukan dengan cara menjumlahkan semua skor yang diperoleh pada suatu item pengungkapan dibagi dengan jumlah item yang telah ditentukan oleh lembaga yang berwenang. b) Tingkat Likuiditas (X1) Tingkat likuiditas menunjukkan semampu apakah sebuah perusahaan mampu menanggung kewajiban jangka pendeknya dengan dijamin oeh aset lancarnya. Tingkat likuiditas juga mengindikasikan berapa kali aset lancar akan mampu membiayai kewajiban lancarnya (Tyran, 1992:77). Tingkat likuiditas diwakili dengan menggunakan rasio lancar (current ratio) yang diukur dengan membagi aset lancar dengan kewajiban lancar.

40

Aset Lancar Rasio Lancar = Kewajiban Lancar c) Tingkat Leverage (X2) Tingkat leverage menunjukkan bagaimana perusahaan didanai, lebih banyak menggunakan utang atau modal yang berasal dari pemegang saham (Subramanyam dan Wild, 2008:38). Tingkat leverage diproksikan dengan Debt To Equity Ratio (DER) yang diukur dengan rumus: Total Kewajiban DER = Ekuitas Pemegang Saham d) Tingkat Profitabilitas (X3) Tingkat profitabilitas mempunyai definisi tingkat kemampuan perusahaan menghasilkan laba selama periode tertentu (Smith, 2005:112). Tingkat profitabilitas diproksikan dengan Net Profit Margin, yang diukur dengan rumus: Laba Bersih Net Profit Margin = Penjualan e) Ukuran perusahaan (X4) Ukuran perusahaan secara harafiah merupakan besaran sebuah perusahaan. Ukuran perusahaan dilihat dari total aset perusahaan yang diukur sebagai berikut: Ukuran Perusahaan = Ln Total Aset Total aset dipilih sebagai proksi dari variabel ukuran perusahaan. Ini dikarenakan total aset lebih stabil dan representatif dalam menunjukkan

41

ukuran perusahan dibanding kapitaliasi pasar dan penjualan yang sangat dipengaruhi oleh demand and supply (Sudarmadji dan Sularto, 2007). f) Status Modal Perusahaan (X5) Status modal didefinisikan sebagai apakah dalam struktur modalnya perusahaan menggunakan sumber pendanaan asing atau tidak. Status modal perusahaan dilihat dari skala nominal 0 dan 1. Nol apa bila perusahaan tidak menggunakan modal asing. Satu apabila perusahaan menggunakan modal asing.

H. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data kuantitatif berupa neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir tanggal 31 Desember 2007-2009. Serta data kualitatif berupa catatan atas laporan keuangan untuk tahun 2007-2009. Data ini diperoleh dari Bursa Efek Indonesia (idx.co.id). Data ini dikategorikan sebagai data sekunder.

I. Metode Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan metode dokumentasi yaitu mengumpulkan data berupa laporan keuangan untuk tahun yang berakhir tanggal 31 Desember 2007 hingga 31 Desember 2009.

J. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel

42

Populasi penelitian adalah perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia. Pemilihan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling, dengan kriteria sebagai berikut: a. Perusahaan yang

listing berturut-turut pada periode 2007 sampai dengan 2009. b. Laporan keuangan

emiten untuk periode yang tersedia secara lengkap di BEI. c. laba postif selama tahun 2007 sampai dengan 2009 Pertimbangan perusahaan harus memiliki laba positif didasari dari apabila perusahaan dengan laba negatif (rugi) dimasukkan dalam penelitian maka angka tersebut menjadi tidak berarti/bermakna (Subekti, 2000; dalam Wahyudi dan Pawestri, 2006). Selain itu mengenai masalah voltalitas dari laba itu sendiri. Apabila pergerakan tingkat laba suatu perusahaan sangat besar maka angka laba tersebut dapat menjadi tidak berguna. Jadi yang digunakan adalah perusahaan yang memiliki laba positif selama 3 tahun berturut-turut (2007-2009). Walaupun pasti ada gejolak dalam tingkat laba, tapi paling tidak masih stabil berada dalam kisaran memiliki laba. Dari kriteria pengambilan sampel tersebut dapat dilihat pada tabel 1 Tabel 1 Pengambilan Sampel No. Populasi: Kriteria Jumlah Perusahaan 151 Perusahaan memiliki

43

Perusahaan manufaktur yang listing di BEI Tidak memenuhi kriteria: 1. Perusahaan yang tidak listing berturut-turut pada periode 1 2. Januari 2007 sampai dengan 31 Desember 2009 Laporan keuangan auditan emiten untuk periode yang berakhir 31 Desember 2007, 31 Desember 2008, dan 31 3 Desember 2009 tidak tersedia secara lengkap Emiten memiliki laba negatif diantara tahun 2007 hingga 2009 Jumlah observasi Jumlah sampel (x 3) K. Teknik Analisis Data 1. Model Persamaan

(15) (33)

(46) 57 171

Untuk mengetahui adanya pengaruh antara tingkat likuiditas, tingkat leverage, tingkat profitabilitas, ukuran perusahaan, dan status modal terhadap kelengkapan pengungkapan laporan keuangan perusahaan manufaktur. Dalam analisis ini digunakan model persamaan sebagai berikut:

Y Keterangan: Y X1 X2 X3 X4 X5

= a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + e

= Tingkat kelengkapan pengungkapan laporan keuangan = Tingkat likiuditas = Tingkat leverage = Tingkat profitabilitas = Ukuran perusahaan = Status modal

44

a b1, b2, b3, b4, b5 e

= Konstanta = Koefisien variabel bebas = Error

2.

Uji Normalitas Normalitas data merupakan asumsi terpenting dalam statistika parametrik,

sehingga pengujian terhadap normalitas data harus dilakukan agar asumsi dalam statistika parametrik terpenuhi.Untuk mendeteksi normalitas data perlu dilakukan uji normalitas baik untuk menggunakan kurva persebaran data berupa kurva normal dan normal plot atau menggunakan uji Kolmogorow-Sminornov. Proses uji normalitas data (titik-titik) pada Normal P-Plot of Regresion Standardized Residual dari variabel independen dimana : Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas. Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan tidak mengikuti garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

3.

Uji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik bertujuan untuk mengetahui apakah hasil estimasi

regresi yang dilakukan betul-betul terbebas dari bias, maka dilakukan rangkaian uji-uji sebagai berikut: a) Uji Heteroskedastisitas

45

Uji heteroskedastisitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah varians residual absolut sama atau tidak sama untuk semua pengamatan. Hal ini dimaksudkan bahwa varian gangguan tidak berbeda dari satu observasi ke observasi lainnya, atau dapat dikatakan satu observasi mempunyai reliabilitas yang sama. Adanya gejala heteroskedastisitas mengakibatkan hasil regresi tidak efisien baik dalam sampel besar maupun sampel kecil karena varian atau standar error of estimate tidak minimum, namun hasil regresi tetap konsisten dan tidak bias. Untuk mengetahui ada tidaknya gejala ini dilakukan uji korelasi Rank Spearman. Cara memprediksi ada tidaknya heteroskedastisitas pada suatu model dapat dilihat dari pola gambar Scatterplot model tersebut. Analisis pada gambar Scatterplot yang menyatakan model regresi linier berganda tidak terdapat heteroskedastisitas jika: Titik-titik data menyebar di atas dan di bawah atau di sekitar angka 0. Titik-titik data tidak hanya mengumpul di atas atau di bawah saja. Penyebaran titik-titik data tidak boleh membentuk pola bergelombang melebar kemudian menyempit dan melebar kembali. Penyebaran titik-titik data sebaiknya tidak berpola.

b) Uji Autokorelasi Pengujian autokorelasi dimaksudkan untuk mengetahui apakah terjadi korelasi di antara data pengamatan atau tidak. Non-autokorelasi berarti gangguan di satu observasi tidak berkorelasi dengan gangguan observasi lainnya, artinya bahwa nilai variabel terikatnya hanya diterangkan oleh variabel bebas dan bukan

46

diiterangkan oleh variabel gangguan. Gejala autokorelasi menyebabkan hasil regresi tidak efisien karena varian atau standar error of estimate tidak minimum dan menjadikan tes signifikan tidak akurat, namun hasil regresi tetap tidak bias. Gejala ini dapat dideteksi dengan uji statistik Durbin-Watson. Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi sebagai berikut: kurang dari 1,08 berarti ada autokorelasi 1,08 sampai dengan 1,66 berarti tanpa kesimpulan 1,66 sampai dengan 2.34 berarti tidak ada autokorelasi 2.34 sampai dengan 2.92 berarti tanpa kesimpulan lebih dari 2,92 berarti ada autokorelasi

c) Uji Multikolinieritas Uji multikolinieritas dimaksudkan untuk membuktikan atau menguji ada tidaknya hubungan yang linier antara variabel bebas satu dengan variabel bebas lainnya. Variabel gangguan tidak berkorelasi dengan variabel bebas, artinya non-multikolinieritas. Asumsi ini merupakan implikasi bahwa nilai variabel bebas tidak berubah dari satu sampel ke sampel lainnya karena memang variabel bebas ini akan dilihat pengaruhnya terhadap variabel terikat. Gejala multikolinieritas dapat diketahui dengan melihat hasil nilai R2 yang tinggi, tetapi sedikit atau tidak ada koefisien regresi yang signifikan pada uji t (individu) atau hal ini juga bisa dilihat dari batas tolerance value di bawah 0,1 atau nilai VIF di atas 10, maka terjadi multikolinieritas.

4.

Uji Hipotesis

47

Untuk melakukan pengujian hipotesis, dapat dilakukan dengan cara uji F dan uji t (parsial). Uji F digunakan untuk menguji kelayakan model persamaan penelitian, apakah variabel dependen dapat dijelaskan dengan baik oleh variabel independen. Sedangkan uji t digunakan untuk mengetahui apakah variabelvariabel independen mempengaruhi variabel dependennya. Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut: a) Perumusan Hipotesis H0 : β i = 0 Variabel bebas tidak mempunyai pengaruh terhadap variabel terikat H1 : β i ≠ 0 Variabel bebas mempunyai pengaruh terhadap variabel terikat Dimana i adalah 1, 2, 3,4 dan 5 b) Menentukan Level of Significant atau α = 0,05 c) Mengambil Keputusan dengan Kriteria: (1) Uji F (Kelayakan Model) Ho: β1, β2 , β3, β4, β5 = 0, artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan variabel independen (tingkat likuiditas, tingkat leverage, tingkat profitabilitas, ukuran perusahaan, dan status modal) untuk dapat menjelaskan variabel dependen (kelengkapan pengungkapan laporan keuangan). Ha: β1, β2, β3, β4, β5 ≠ 0, artinya terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama dari seluruh variabel independen terhadap variabel dependen.

48

Jika tsig > α maka H0 gagal ditolak. Variabel independen (tingkat likuiditas, tingkat leverage, tingkat profitabilitas, ukuran perusahaan, dan status modal) tidak dapat menjelaskan variabel dependen (kelengkapan pengungkapan laporan keuangan) Jika tsig ≤ α maka H1 diterima dan H0 ditolak. Seluruh variabel independen (tingkat likuiditas, tingkat leverage, tingkat profitabilitas, ukuran perusahaan, dan status modal) dapat menjelaskan variabel dependen (kelengkapan pengungkapan laporan keuangan) (2) Uji t (Parsial) Ho: β1, β2, β3, β4, β5 = 0, artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama dari tiap variabel inependen secara satu persatu (individu) (tingkat likuiditas, tingkat leverage, tingkat

profitabilitas, ukuran perusahaan, dan status modal) mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen (kelengkapan pengungkapan laporan

keuangan). Ha : β1, β2 , β3, β4, β5 ≠ 0, artinya terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama dari seluruh variabel independen terhadap variabel dependen. Jika tsig > α maka H0 gagal ditolak. Satu persatu (individu) variabel independen (tingkat likuiditas, tingkat leverage, tingkat

profitabilitas, ukuran perusahaan, dan status modal) tidak mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen (kelengkapan pengungkapan laporan keuangan)

49

Jika tsig ≤ α maka H1 diterima dan H0 ditolak. Satu persatu (individu) variabel independen (tingkat likuiditas, tingkat leverage, tingkat profitabilitas, ukuran perusahaan, dan status modal) mempunyai pengaruh terhadap keuangan) variabel dependen (kelengkapan pengungkapan laporan

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.