You are on page 1of 10

JURNAL

PENGARUH ARUS LAS DAN MEDIA PENDINGIN TERHADAP UJI


TARIK PADA PENYAMBUNGAN BAJA ST 37 DENGAN BAJA ST 50
MENGGUNAKAN LAS SMAW DENGAN ELEKTRODA E6012

THE EFFECT OF WELDING CURRENT AND THE COOLING MEDIUM


TO A TENSILE TEST ON STEEL JOINTS WITH STEEL ST 37 ST 50
USING THE SMAW WELDING ELECTRODE E6012

Oleh :
BAGUS DWI CAHYONO
NPM: 12.1.03.01.0049

Dibimbing oleh:
1. Fatkur Rhohman, M.Pd
2. M. Muslimin Ilham, M.T

TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI
2017
Artikel Skripsi
Universitas Nusantara PGRI Kediri

Bagus Dwi Cahyono| NPM: 12.1.03.01.0049 simki.unpkediri.ac.id


FT – Teknik Mesin || 1||
Artikel Skripsi
Universitas Nusantara PGRI Kediri

PENGARUH ARUS LAS DAN MEDIA PENDINGIN TERHADAP UJI


TARIK PADA PENYAMBUNGAN BAJA ST 37 DENGAN BAJA ST 50
MENGGUNAKAN LAS SMAW DENGAN ELEKTRODA E6012

BAGUS DWI CAHYONO


NPM. 12.1.03.01.0049
FAKULTAS TEKNIK – TEKNIK MESIN
Email: baguss.skak29@gmail.com
Fatkur Rhohman, M.Pd1 dan M. Muslimin Ilham, M.T2
UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI

ABSTRAK

Bagus Dwi Cahyono: Pengaruh Arus Las dan Media Pendingin Terhadap Uji Tarik Pada Penyambungan
Baja ST 37 Dengan Baja ST 50 Menggunakan Las SMAW Dengan Elektroda E6012, Skripsi, FT. Mesin,
UN PGRI Kediri 2017.

Dalam bidang konstruksi yang semakin maju dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan
teknologi yang modern tidak dapat dipisahkan dari suatu pengelasan, pengelasan pada saat ini banyak
sekali digunakan untuk proses penyambungan logam yang sejenis atau penyambungan logam tak sejenis ,
karena sambungan las relatif lebih cepat dan kuat.
Dengan dilakukan penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi juru las dalam memilih
arus las dan media pendingin untuk mendapatkan hasil pengelasan yang baik.
Dari hasil pengujian dapat diketahui bahwa arus las berpengaruh terhadap kekuatan tarik
sambungan las dengan nilai F nya sebesar 122,99 > dari nilai tabel distribusi F untuk F (0,5;1;8) yaitu 5,32
dan media pendingin tidak berpengaruh pengaruh terhadap kekuatan tarik dengan nilai F nya sebesar 2,34
< dari nilai tabel distribusi F untuk F (0,5;1;8) yaitu 5,32. Rata-rata sambungan variasi arus 60 A media
pendingin air coolant, oli bekas dan udara yaitu 24,85 kgf/mm2. Variasi arus 80 A media pendingin air
coolant, oli bekas dan udara yaitu 24.25 kgf/mm2. Variasi arus 100 A media pendingin air coolant, oli
bekas dan udara yaitu 29,3 kgf/mm2. Variasi arus pengelasan berpengaruh terhadap hasil pengujian tarik
sambungan las. semakin besar arus pengelasan maka akan semakin besar juga nilai kekuatan tarik.

Kata kunci: Las SMAW, Elektroda E6012, Arus las, Media Pendingin, Uji tarik.

Bagus Dwi Cahyono| NPM: 12.1.03.01.0049 simki.unpkediri.ac.id


FT – Teknik Mesin || 2||
Artikel Skripsi
Universitas Nusantara PGRI Kediri
I. LATAR BELAKANG dasar sehingga hasilnya merupakan rigi-

Dalam bidang konstruksi yang rigi las yang kecil dan tidak rata serta

semakin maju dan berkembangnya ilmu penembusan kurang dalam. Sebaliknya

pengetahuan dan teknologi yang modern bila arus terlalu tinggi maka elektroda akan

seperti saat ini tidak dapat dipisahkan dari mencair terlalu cepat dan akan

suatu pengelasan karena mempunyai menghasilkan permukaan las yang lebih

peranan penting dalam rekayasa dan lebar dan penembusan yang dalam

reparasi logam, pengelasan pada saat ini sehingga menghasilkan kekuatan tarik

banyak sekali digunakan untuk proses yang rendah dan menambah kerapuhan

penyambungan logam yang sejenis atau dari hasil pengelasan (Arifin, 1997).

penyambungan logam tak sejenis , karena Pengelasan atau penyambungan


sambungan las relatif lebih cepat dan kuat. menggunakan logam tidak sejenis, sangat
Pembangunan konstruksi dengan logam dibutuhkan untuk menyatukan syarat
pada masa sekarang ini banyak melibatkan teknik tertentu dan penghematan biaya
unsur pengelasan khususnya bidang material, telah banyak digunakan dalam
rancang bangun karena sambungan las bidang manufaktur, terutama bengkel
merupakan salah satu sambungan yang otomotif. Sambungan antara baja yang
secara teknis memerlukan ketrampilan berbeda proses penyambungan kedua
yang tinggi bagi pengelasnya agar material tersebut akan mengalami
diperoleh sambungan dengan kualitas baik. kesulitan, dikarenakan perbedaan sifat
Lingkup penggunaan teknik pengelasan fisik, mekanik, termal dan metalurgi.
dalam konstruksi sangat luas meliputi Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
perkapalan, jembatan, rangka baja, bejana pengaruh pengelasan logam berbeda
tekan, pipa pesat, pipa saluran, kendaraan dengan variasi arus dan media pendingin
rel, dan lain sebagainya (Wiryosumarto, pada sambungan las dan untuk mencari
2000). nilai atau hasil yang baik supaya

Penyetelan kuat arus pengelasan mendapatkan penyambungan yang bagus

akan mempengaruhi hasil las. Bila arus dan kuat.

yang digunakan terlalu rendah akan Kekuatan hasil lasan dipengaruhi

menyebabkan sukarnya penyalaan busur oleh besar arus, kecepatan pengelasan,

listrik. Busur listrik yang terjadi menjadi besarnya penembusan dan polaritas listrik.

tidak stabil. Panas yang terjadi tidak cukup Penentuan besarnya arus dalam

untuk melelehkan elektroda dan bahan penyambungan logam ditentukan diameter

Bagus Dwi Cahyono| NPM: 12.1.03.01.0049 simki.unpkediri.ac.id


FT – Teknik Mesin || 3||
Artikel Skripsi
Universitas Nusantara PGRI Kediri
elektroda, pengelasan ini menggunakan III. HASIL DAN KESIMPULAN
elektroda E6012 dengan diameter 2,6 mm Dari hasil pengujian tarik yang
penentuan besar arus dalam pengelasan ini telah dilakukan maka perhitungan uji tarik
mengambil arus 60 Amper, 80 Amper dan dari setiap spesimen yang sudah dilakukan
100 Amper, dengan menggunakan kampuh pengelasan terhadap penyambungan baja
V dan didinginkan dengan media air ST 37 dengan baja ST 50 menggunakan
coolant, oli bekas dan udara. Tujuan dari variasi arus 60 A, 80 A, 100 A dan media
pendinginan adalah untuk mendapatkan pendingin air coolant, oli bekas dan udara
struktur martensite, semakin banyak unsur adalah sebagai berikut :
karbon, maka struktur martensite yang Tabel 3.1 Data hasil pengujian tarik
terbentuk juga akan semakin banyak. PARAMETER
Karena martensite terbentuk dari fase No PENGELASAN Kekuatan

Austenite yang didinginkan secara cepat, Arus Media Tarik


pengelasan pendingin
sehingga kekerasannya meningkat. Air
1 60 ampere 25,12
coolant
II. METODE
2 60 ampere Oli bekas 24,20
Metodologi penelitian adalah suatu
cara yang digunakan dalam penelitian, 3 60 ampere Udara 25,23

sehingga pelaksanan dan hasil penelitian Air


4 80 ampere 24,20
bisa untuk dipertanggung jawabkan secara coolant

ilmiah. 5 80 ampere Oli bekas 24,25


Dalam penelitian ini digunakan 6 80 ampere Udara 24,31
metode penelitian eksperimental nyata
Air
(experimental research) dan secara 7 100 ampere 30,06
coolant
langsung pada objek yang dituju serta
8 100 ampere Oli bekas 28,70
bertujuan untuk mengetahui pengaruh
variasi arus dan media pendingin terhadap 9 100 ampere Udara 29,14

kekuatan tarik sambungan baja ST 37


Untuk mengetahui apakah variabel
dengan ST 50. Disamping itu dilakukan
variasi arus pengelasan dan media
pengkajian dasar teori yang ada dari
pendingin mempunyai pengaruh terhadap
sumber literature berupa buku dan jurnal.
kekuatan tarik pada sambungan baja ST 37
Desain experimen menggunakan faktorial
dengan ST 50 setelah dilakukan Analisis
L9, analisais data menggunakan Analisis
variansi (ANAVA). Analisis Variansi
variansi (ANAVA).

Bagus Dwi Cahyono| NPM: 12.1.03.01.0049 simki.unpkediri.ac.id


FT – Teknik Mesin || 4||
Artikel Skripsi
Universitas Nusantara PGRI Kediri
mensyaratkan bahwa residual harus tertentu. Dengan demikian asumsi residual
memenuhi tiga asumsi, yaitu bersifat identik terpenuhi.
identik, independen dan berdistribusi
normal.

A. Uji Kenormalan
Uji kenormalan residual dilakukan
dengan menggunakan uji Kolmogorov-
Smirnov. Hipotesis yang digunakan
adalah:
H0 : Residual berdistribusi normal Gambar 3.2 Plot residual kekuatan tarik

H1 : Residual tidak berdistribusi normal versus fitted values.

H0 : Ditolak jika p-value lebih kecil dari


C. Uji Independen
pada α = 0,05.
Pengujian independen pada
Gambar 3.1 menunjukan bahwa dengan uji
penelitian ini dilakukan dengan
Kolmogorov-Smirnov diperoleh p-value
menggunakan auto correlation function
0.008 yang berarti lebih besar dari α =
(ACF). Berdasarkn plot ACF yang
0,05. Oleh karena itu dapat disimpulkan
ditunjukkan pada Gambar 3.3, tidak ada
bahwa H0 gagal ditolak atau residual
nilai ACF pada tiap lag yang keluar dari
berdistribusi normal.
batas interval. Hal ini membuktikan bahwa
tidak ada korelasi antar residual artinya
residual bersifat independen.

Gambar 3.1 Uji normalitas

B. Uji Identik
Gambar 3.2 menunjukan bahwa Gambar 3.3 Plot ACF pada respon
residual tersebar secara acak disekitar kekuatan tarik
harga nol dan tidak membentuk pola

Bagus Dwi Cahyono| NPM: 12.1.03.01.0049 simki.unpkediri.ac.id


FT – Teknik Mesin || 5||
Artikel Skripsi
Universitas Nusantara PGRI Kediri
D. Analisa variansi (ANAVA) H0 : 1 = 2
Setelah uji identik, independen dan H1 : 1  2
distribusi normal terpenuhi dilakukan Kesimpulan: F hitung= 2,34 < F (0,05;1,8)

analisis variansi untuk mengetahui variabel = 5,32, maka H0 diterima, artinya tidak
proses mana yang memiliki pengaruh ada pengaruh variable proses media
secara signifikan terhadap kekuatan tarik. pendingin terhadap kekuatan tarik.
Analisis variansi (ANAVA) untuk Berdasarkan uji hipotesis distribusi
kekuatan tarik ditunjukkan pada Tabel 3.2 F, maka variabel proses yang mempunyai
berikut ini. pengaruh secara signifikan terhadap
Table 3.2 Analisis variasi (ANAVA) kekuatan tarik adalah arus pengelasan,
sedangkan media pendingin tidak
mempunyai pengaruh signifikan terhadap
kekuatan tarik. Kesimpulan pengaruh
untuk masing-masing variabel proses
terhadap kekuatan tarik ditunjukan pada
tabel 3.3 sebagai berikut :
Tabel 3.3 Kesimpulan pengaruh variabel
Nilai Fhitung yang lebih besar dari Ftabel proses terhadap kekuatan tarik
menunjukkan bahwa variable proses Variabel Kesimpulan
tersebut mempunyai pengaruh signifikan
Arus pengelasan Berpengaruh
terhadap kekuatan tarik. Hipotesis nol dan
Media pendingin Tidak berpengaruh
hipotesis alternatif yang digunakan pada
uji hipotesis dengan menggunakan
distribusi F adalah sebagai berikut: P-value menunjukkan variabel
1. Untuk variable proses (arus pengelasan) proses mana yang mempunyai pengaruh
H0 : 1 = 2 yang signifikan terhadap kekuatan tarik. P-
H1 : 1  2 value yang lebih kecil dari level of
Kesimpulan: F hitung= 122,99 > F significant (α) mengindikasikan bahwa

(0,05;1,8) = 5,32, maka H0 ditolak, artinya variabel proses tersebut memiliki pengaruh
ada pengaruh variable proses arus yang signifikan terhadap respon. Dalam
pengelasan terhadap kekuatan tarik. penelitian ini α yang dipakai bernilai 5%.
2. Untuk variable proses (media Penarikan kesimpulan menggunakan p-
pendingin) value untuk kekuatan tarik yang

Bagus Dwi Cahyono| NPM: 12.1.03.01.0049 simki.unpkediri.ac.id


FT – Teknik Mesin || 6||
Artikel Skripsi
Universitas Nusantara PGRI Kediri
ditunjukkan pada Tabel 3.2 adalah sebagai Amper, tetapi lebih rendah dibanding
sebagai berikut: variasi arus 100 Amper. Pada variasi
1. Untuk variabel proses arus pengelasan arus ini, arus yang terjadi cukup stabil
P-value = 0,000 < α = 0,05, maka dibanding arus 80 Amper. Arus yang
secara statistik variabel arus pengelasan stabil ini menyebabkan nyala busur dan
memiliki pengaruh yang signifikan pengelasan yang baik.
terhadap kekuatan tarik. 2. Pengujian yang kedua adalah pengujian
2. Untuk variabel proses media pendingin tarik untuk arus pengelasan 80 Amper.
P-value = 0,213 > α = 0,05, maka Mempunyai kekuatan tarik lebih rendah
secara statistik variabel media dari pada arus 60 Amper dan 100
pendingin tidak berpengaruh signifikan Amper, arus yang terjadi menyebabkan
terhadap kekuatan tarik. sukarnya penyalaan busur listrik dan
busur listrik yang terjadi tidak stabil
serta pengelasan yang terjadi kurang
maksimal.
3. Pengujian yang ketiga adalah pengujian
tarik untuk variasi arus pengelasan 100
Amper. Nilai kekuatan tarik pada arus
ini memiliki nilai yang paling tinggi
dibanding arus yang lain. Pada
pengelasan ini busur yang terjadi lebih
Gambar 3.4 Main effects plot besar, sehingga percikan busur terlihat
lebih besar dan peleburan elektroda
Karakteristik semakin tinggi nilai
lebih cepat.
kekuatan tarik maka semakin baik (higher
4. Media pendingin air coolant memiliki
is better) digunakan untuk respon kekuatan
nilai kekuatan tarik yang paling tinggi
tarik. Hal ini berarti bahwa nilai kekuatan
dibanding media pendingin yang lain.
tarik yang maximum adalah yang paling
Pada pendinginan air coolant pada
diinginkan.
umumnya air coolant memiliki
1. Pengujian yang pertama adalah
kandungan etilen glikol karena
pengujian tarik untuk variasi arus
fungsinya digunakan sebagai pendingin.
pengelasan 60 Amper. Nilai kekuatan
5. Media pendingin oli bekas memiliki
tarik pada arus ini memiliki nilai yang
nilai kekuatan tarik yang paling rendah
lebih besar dibanding variasi arus 80
dikarenakan kekentalan yang tinggi

Bagus Dwi Cahyono| NPM: 12.1.03.01.0049 simki.unpkediri.ac.id


FT – Teknik Mesin || 7||
Artikel Skripsi
Universitas Nusantara PGRI Kediri
dibandingkan dengan media pendingin IV. DAFTAR PUSTAKA
lainnya dan massa jenis yang rendah Alip, M. 1998. Teori dan Praktik Las.
Departemen Pendidikan dan
sehingga laju pendinginan lambat.
Kebudayaan.
6. Media pendingin udara memiliki nilai
Arifin, S, 1997. Las Listrik dan Otogen.
kekuatan tarik lebih besar dari pada oli
Jakarta: Ghalia Indonesia.
bekas dikarenakan pada saat
Duniawan, Agus. 2012. Pengaruh PWHT
pendinginan karbida karbida chrom
terhadap sifat mekanik sambungan
tidak melarut maka cenderung pada las tak sejenis austenitic stainless
steel dan baja karbon. Prosiding
kekerasannya.
Seminar Nasional Aplikasi Sains &
Teknologi (SNAST) Periode III
KESIMPULAN ISSN: 1979-911X Yogyakarta, 3
Berdasarkan hasil eksperimen dan November 2012.

analisis yang telah dilakukan, maka ESAB Welding Handbook, 1998. Filler
penelitian yang berjudul pengaruh arus las material For manual and
Automotic welding, Flfth edition
dan media pendingin terhadap uji tarik Goterborg, sweden.
pada penyambungan baja ST 37 dengan
Fransiska, Yayan ade. 2016. Pengaruh
baja ST 50 menggunakan las smaw dengan Variasi Arus Pengelasan dan
elektroda E6012 dapat diambil kesimpulan Media Pendingin Terhadap
Kekuatan Tarik Baja ST 41
sebagai berikut : Menggunakan Elektroda Rb.26.
1. Arus pengelasan berpengaruh terhadap Skripsi, FT. Mesin, UN PGRI
Kediri.
kekuatan tarik dengan nilai F nya
sebesar 122,99 > dari nilai tabel Iriawan, Nur & Astuti. 2006. Mengolah
data statistic dengan mudah
distribusi F untuk F (0,5;1;8) yaitu 5,32. menggunakan Minitab 14. – Ed. 1
Artinya ada variable arus pengelasan .-Yogyakarta: ANDI.

yang berpengaruh terhadap kekuatan Montgomery, Douglas C., 2009. Design


tarik. and Analisis of Experimen 7th
edition. New york: John
2. Media pendingin tidak berpengaruh Wiley&sons, Inc.
terhadap kekuatan tarik dengan nilai F
Nurhidayat, Achmad. 2012. Pengaruh
nya sebesar 2,34 < dari nilai tabel waktu dan arus listrik pengelasan
distribusi F untuk F yaitu 5,32. RSW terhadap sifat fisik dan
(0,5;1;8)
mekanik pada sambungan logam
Artinya tidak ada variable media tak sejenis antara baja tahan karat
pendingin yang berpengaruh terhadap SS316 dan baja karbon ST 37.
Jurusan Teknik Mesin Fakultas
kekuatan tarik. Teknik UNS.

Bagus Dwi Cahyono| NPM: 12.1.03.01.0049 simki.unpkediri.ac.id


FT – Teknik Mesin || 8||
Artikel Skripsi
Universitas Nusantara PGRI Kediri
Park, SH. 1996. Robust Design and
Analysis for Quatlity Engineering
First edition, london: Chapmal
&Hall.

Santoso, Joko. 2006. Pengaruh arus


pengelasan terhadap kekuatan tarik
dan ketangguhan las smaw dengan
elektroda E7018,
http://lib.unnes.ac.id/755/1/1902.pd
f.

Saputra, Hendi. 2014. Analisis pengaruh


media pendingin terhadap kekuatan
tarik baja st 37. Jurnal Ilmiah
Teknik Mesin Unlam Vol. 03 No.2
pp 91-98.

Surdia, Tata & Saito, Shinroku. 1999.


Pengetahuan bahan teknik. Cet.4-
Jakarta: Pradnya Paramita.

Simon Parekke. 2014. Pengaruh


pengelasan logam berbeda (AISI
1045) dengan (AISI 316L) terhadap
sifat mekanis dan struktur mikro. J.
Sains & Teknologi, Desember
2014, Vol.3 No.2 : 191 – 198.

Syarif, Faidillah. 2014. Pengaruh


pendingin cairan radiator coolant
(RC) AHM terhadap kekuatan tarik
hasil pengelasan SMAW pada plat
baja ST 37. Skripsi Universitas
Muhammadiyah Jember.

Wiryosumarto, Harsono & Okumura,


Toshie. 2000. Teknologi
pengelasan logam. Cet. 8.- Jakarta:
Pradnya Paramita.

Bagus Dwi Cahyono| NPM: 12.1.03.01.0049 simki.unpkediri.ac.id


FT – Teknik Mesin || 9||