You are on page 1of 26

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Pernyataan Masalah


Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif yang terbuat dari reaksi
transesterifikasi minyak atau lemak dan methanol dengan bantuan katalis basa dan
dimanfaatkan sebagai pengganti solar/diesel. Pada proses transesterifikasi kadar
ALB juga harus diketahui. Untuk mengetahui kadar ALB, dilakukan metode
titrasi dengan larutan standar KOH. Larutan standar yang digunakan merupakan
larutan standar sekunder yang akan dibakukan oleh larutan standar primer. Pada
proses pembuatan biodiesel, selain rasio mol variasi suhu maupun %berat katalis,
waktu juga mempengaruhi produk yang akan dihasilkan.

1.2 Tujuan Percobaan


1. Mengetahui pengaruh waktu pada proses pembuatan metal ester asam
lemak.
2. Menghitung yield, densitas dan % ALB pada proses pembuatan metal ester
asam lemak.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2

2.1 Oleokimia
Oleokimia pada dasarnya merupakan cabang ilmu kimia yang mempelajari
trigliserida yang berasal dari minyak dan lemak menjadi asam lemak dan gliserin
serta turunan asam lemak baik dalam bentuk ester, amida, sulfat, sulfonat, alkohol,
alkoksi, maupun sabun. Oleokimia merupakan turunan gliserol dengan asam
lemak yang berubah dalam bentuk turunannya yang digunakan baik sebagai
surfaktan, deterjen, polimer, aditif, bahan bakar dan sebagainya. Bahan dasar
oleokimia seperti gliserol, asam lemak, alkil asam lemak, amina asam lemak dan
alkohol asam lemak dapat diperoleh dengan mengubah lipida baik yang berasal
dari hewan maupun tumbuhan menjadi gliserol dan turunan asam lemak.
Sumber minyak dan lemak alami dapat berasal dari bahan nabati maupun
hewani. Sumber minyak nabati diantaranya adalah minyak kelapa sawit, minyak
kacang kedelai, minyak biji bunga matahari, minyak biji wijen, minyak jarak dan
sebagainya. Sedangkan minyak dan lemak yang berasal dari hewan yaitu seperti
minyak sapi, minyak domba, minyak babi, minyak ikan dan lain-lain. Minyak dan
lemak tersebut sangat luas penggunaannya, baik sebagai bahan baku lemak dan
minyak yang dapat dikonsumsi maupun sebagai bahan oleokimia (Richtler dan
Knault, 1984).
Produk-produk oleokimia adalah berasal dari penggunaan asam lemak dan
gliserol. Penggunaan terbesar daripada asam lemak adalah dengan mengubahnya
menjadi alkohol asam lemak, amida, garam asam lemak dan juga plastik termasuk
nilon (hampir mencapai 40% dari total penggunaannya). Penggunaan terbesar
berikutnya sebesar 30% untuk dijadikan sabun, deterjen, dan kosmetik. Asam
lemak juga digunakan sebagai bahan dasar pembuatan resin dan cat sekitar 15%,
sisanya digunakan sebagai pembantu dalam industri pembuatan ban, tekstil, kulit
kertas, pelumas, lilin. Penggunaan terbesar dari gliserol adalah industri farmasi
dan kosmetika serta makanan (Richtler dan Knault, 1984).
Diagram alir dari oleokimia dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut:

Tabel 2.1 Diagram Alur Oleokimia


3

( Sumber : Brahmana, 1994)

2.2 Biodiesel
Biodiesel secara umum adalah bahan bakar mesin diesel yang terbuat dari
bahan terbarukan atau secara khusus merupakan bahan bakar mesin diesel yang
terdiri atas ester alkil dari asam-asam lemak. Biodiesel dapat dibuat dari minyak
nabati, minyak hewani atau dari minyak goreng bekas/daur ulang. Biodiesel
merupakan salah satu bahan bakar mesin diesel yang ramah lingkungan dan dapat
diperbarui (renewable). Biodiesel tersusun dari berbagai macam ester asam lemak
yang dapat diproduksi dari minyak tumbuhan maupun lemak hewan. Minyak
tumbuhan yang sering digunakan antara lain minyak sawit (palm oil), minyak
kelapa, minyak jarak pagar dan minyak biji kapok randu, sedangkan lemak
hewani, lemak ayam, lemak sapi, dan juga lemak yang berasal dari ikan
(Wibisono, 2007).
Biodiesel merupakan salah satu jenis biofuel (bahan bakar cair dari
pengolahan tumbuhan) di samping Bio-etanol. Biodiesel adalah senyawa
metil ester yang diproduksi melalui proses alkoholisis (transesterifikasi)
antara trigliserida dengan metanol atau etanol dengan bantuan katalis basa
menjadi metil ester dan gliserol. Biodiesel mempunyai rantai karbon antara
12 sampai 20 serta mengandung oksigen. Biodiesel dapat dibuat dari minyak
nabati, minyak hewani atau dari minyak goreng bekas/daur ulang, namun yang
paling umum digunakan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel adalah minyak
4

nabati. Minyak nabati dan biodiesel tergolong ke dalam kelas besar senyawa-
senyawa organik yang sama, yaitu kelas ester asam-asam lemak. Akan tetapi,
minyak nabati adalah triester asam-asam lemak dengan gliserol, atau trigliserida,
sedangkan biodiesel adalah monoester asam-asam lemak dengan metanol. Banyak
jenis sumber bahan baku nabati atau tumbuhan di Indonesia yang bisa diolah
menjadi biodiesel yang dapat dilihat dari Tabel 2.2.

Tabel 2.2 Tumbuhan Indonesia Penghasil Minyak Lemak


Isi
Sumber
Nama Lokal Nama Latin % Berat P / NP
Minyak
Kering
Jatropha
Jarak Pagar Inti biji 40-60 NP
curcas
Riccinus
Jarak Kaliki Biji 45-50 NP
communis
Arachis
Kacang Suuk Biji 35-55 P
hypogea
Ceiba
Kapok / Randu Biji 24-40 NP
pantandra
Hevea
Karet Biji 40-50 P
brasiliensis
Psophocarpu
Kecipir Biji 15-20 P
s tetrag
Cocos
Kelapa Inti biji 60-70 P
nucifera
Moringa
Kelor Biji 30-49 P
oleifera
Aleurites
Kemiri Inti biji 57-69 NP
moluccana
Sleichera
Kusambi Sabut 55-70 NP
trijuga
Azadiruchta
Nimba Inti biji 40-50 NP
Indica
Adenanthera
Saga Utan Inti biji 14-28 P
pavonina
5

Elais Sabut dan 45-70 + 46-


Sawit P
suincencis biji 54
Callophyllum
Nyamplung Inti biji 40-73 P
lanceatum

Bombax NP
Randu Alas Biji 18-26
malabaricum

Annona
Sirsak Inti biji 20-30 NP
muricata
Annona
Srikaya Biji 15-20 NP
squosa
(Sumber : Soerawidjaja, 2005)

Penggunaan biodiesel sangat menguntungkan karena tidak memerlukan


modifikasi dalam mesin atau sistem injeksi dan dapat digunakan dalam mesin
diesel secara langsung. Biodiesel mempunyai banyak keunggulan dibandingkan
dengan bahan bakar diesel dari minyak bumi. Bahan bakar yang terbentuk cair ini
bersifat menyerupai solar, sehingga sangat produktif untuk dikembangkan.
Apalagi biodiesel mempunyai kelebihan lain dibanding dengan solar, yaitu
sebagai berikut (Hambali, 2007):
a. Bahan bakar ramah lingkungan karena menghasilkan emisi yang lebih
baik (free sulphur, smoke number rendah) sesuai dengan isu-isu global,
b. Cetane number lebih tinggi (>57) sehingga efisiensi pembakaran lebih
baik dibandingkan dengan minyak solar,
c. Memiliki sifat pelumas terhadap piston mesin dan dapat terurai,
d. Merupakan renewable energy karena terbuat dari bahan alam yang dapat
diperbaharui,
e. Meningkatkan indenpendensi suplai bahan bakar karena dapat diproduksi
secara lokal.

2.3 Bahan Pembuatan Biodisel


2.3.1 Minyak Goreng
6

Minyak dan lemak tidak berbeda dalam bentuk umum trigliseridanya, tetapi
hanya berbeda dalam bentuk (wujud). Perbedaan ini didasarkan pada perbedaan
titik lelehnya. Pada suhu kamar lemak berwujud padat, sedangkan minyak
berwujud cair. Titik leleh minyak dan lemak tergantung pada strukturnya,
biasanya meningkat dengan bertambahnya jumlah karbon. Banyaknya ikatan
ganda dua karbon juga berpengaruh. Trigliserida yang kaya akan asam lemak tak
jenuh, seperti asam oleat dan linoleat, biasanya berwujud minyak sedangkan
trigliserida yang kaya akan lemak jenuh seperti asam stearat dan palmitat,
biasanya adalah lemak. Semua jenis lemak tersusun dari asam asam lemak yang
terikat oleh gliserol. Sifat dari lemak tergantung dari jenis asam lemak yang
terikat dengan senyawa gliserol. Asam-asam lemak yang berbeda disusun oleh
jumlah atom karbon maupun hidrogen yang berbeda pula. Atom karbon, yang
juga terikat oleh dua atom karbon lainnya, membentuk rantai yang zigzag. Asam
lemak dengan rantai molekul yang lebih panjang lebih rentan terhadap gaya tarik
menarik intermolekul, (dalam hal ini yaitu gaya Van der waals) sehingga titik
leburnya juga akan naik .
Trigliserida alami ialah triester dari asam lemak berantai panjang dan
gliserol merupakan penyusun utama lemak hewan dan nabati. Trigliserida
termasuk lipid sederhana dan juga merupakan bentuk cadangan lemak dalam
tubuh manusia. Berikut ini adalah persamaan umum pembentukan trigliserida :
Keragaman jenis trigliserida bersumber dari kedudukan dan jati diri asam lemak.
Trigliserida sederhana adalah triester yang terbuat dari gliserol dan tiga molekul
asam lemak yang sama. Contohnya, dari gliserol dan tiga molekul asam stearat
akan diperoleh trigliserida sederhana yang disebut gliseril tristearat atau tristearin.
Trigliserida sederhana jarang ditemukan. Kebanyakan trigliserida alami adalah
trigliserida campuran, yaitu triester dengan komponen asam lemak yang berbeda.
Lemak hewan dan minyak nabati merupakan campuran beberapa trigliserida.
Asam-asam lemak yang menyusun lemak juga dapat dibedakan berdasarkan
jumlah atom hidrogen yang terikat kepada atom karbon (Ketaren, 1886).
Kandungan minyak goreng dibalik warnanya yang bening kekuningan,
minyak goreng merupakan campuran dari berbagai senyawa. Komposisi
terbanyak dari minyak goreng yang mencapai hampir 100% adalah lemak.
7

Sebagian besar lemak dalam makanan (termasuk minyak goreng) berbentuk


trigliserida. Jika terurai, trigliserida akan berubah menjadi satu molekul gliserol
dan tiga molekul asam lemak bebas. Semakin banyak trigliserida yang terurai
semakin banyak asam lemak bebas yang dihasilkan, pada proses oksidasi lebih
lanjut, asam lemak bebas ini akan menyebabkan lemak atau minyak menjadi bau
tengik. Biasanya untuk menghilangkan atau memperlambat oksidasi yang
menyababkan bau tengik ini, minyak goreng ditambah dengan vitamin A, C, D
atau E (Ketaren,1986).
Selama penggorengan, minyak goreng akan mengalami pemanasan pada
suhu tinggi 1700–1800oC dalam waktu yang cukup lama. Hal ini akan
menyebabkan terjadinya proses oksidasi, hidrolisis dan polimerisasi yang
menghasilkan senyawa – senyawa hasil degradasi minyak seperti keton, aldehid
dan polimer yang merugikan kesehatan manusia. Proses – proses tersebut
menyebabkan minyak mengalami kerusakan. Kerusakan utama adalah timbulnya
bau dan rasa tengik, sedangkan kerusakan lain meliputi peningkatan kadar asam
lemak bebas (FFA), bilangan iodin (IV), timbulnya kekentalan minyak,
terbentuknya busa, hanya kotoran dari bumbu yang digunakan dan bahan yang
digoreng (Ketaren, 1986). Standar mutu minyak goreng dapat dilihat pada Tabel
2.3 berikut:
Tabel 2.3 Standar Mutu Minyak Goreng
No Kriteria Uji Persyaratan
1. Bau Normal
2. Rasa Normal
3. Warna Muda Jernih
4. Cita Rasa Hambar
5. Kadar Air Max 0,3%
6. Asam Lemak Bebas Max 0,3%
7. Titik Asap Max 200
8. Bilangan Iodin 45-51
(Sumber : SNI 3741 – 1995)

1. Jenis-jenis Minyak Goreng


Minyak goreng dapat diklasifikasikan kedalam beberapa golongan (Ketaren,
1986) yaitu :
A. Berdasarkan sifat fisiknya, dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Minyak tidak mengering (non drying oil)
8

a) Tipe minyak zaitun, yaitu minyak zaitun, aitu minyak zaitun, minyak
buah persik, inti peach dan minyak kacang.
b) Tipe minyak rape, yaitu minyak biji rape, dan minyak biji mustard
c) Tipe minyak hewani, yaitu minyak babi, minyak ikan paus, salmon,
sarden, menhaden jap, herring, shark, dog fish, ikan lumba-lumba, dan
minyak purpoise.
2. Minyak nabati setengah mengering (semi drying oil), misalnya minyak
biji kapas, minyak biji bunga matahari, kapok, gandum, croton, jagung,
dan urgen.
3. Minyak nabati mengering (drying oil), misalnya minyak kacang kedelai,
biji karet, safflower, argemone, hemp, walnut, biji poppy, biji karet,
perilla, tung linseed dan candle nut.
B. Berdasarkan sumbernya dari tanaman, diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Biji-bijian palawija, yaitu minyak jagung, biji kapas, kacang, rape seed,
wijen, kedelai, dan bunga matahari.
2. Kulit buah tanaman tahunan, yaitu minyak zaitun dan kelapa sawit.
3. Biji-bijian dari tanaman tahunan, yaitu kelapa, cokelat, inti sawit,
cohume.
C. Berdasarkan ada atau tidaknya ikatan ganda dalam struktur molekulnya,
yakni:
1. Minyak dengan asam lemak jenuh (saturated fatty acids).
Asam lemak jenuh antara lain terdapat pada air susu ibu (asam laurat)
dan minyak kelapa. Sifatnya stabil dan tidak mudah bereaksi/berubah
menjadi asam lemak jenis lain.
2.Minyak dengan asam lemak tak jenuh tunggal (mono-unsaturated fatty
acids/MUFA) maupun majemuk (poly-unsaturated fatty acids).
Asam lemak tak jenuh memiliki ikatan atom karbon rangkap yang mudah
terurai dan bereaksi dengan senyawa lain, sampai mendapatkan komposisi yang
stabil berupa asam lemak jenuh. Semakin banyak jumlah ikatan rangkap itu (poly-
unsaturated), semakin mudah bereaksi/berubah minyak tersebut.
3. Minyak dengan asam lemak trans (trans fatty acid).
Asam lemak trans banyak terdapat pada lemak hewan, margarin,
mentega, minyak terhidrogenasi, dan terbentuk dari proses penggorengan. Lemak
trans meningkatkan kadar kolesterol jahat, menurunkan kadar kolesterol baik, dan
menyebabkan bayi-bayi lahir premature.
2. Sifat-sifat Minyak Goreng
9

Sifat-sifat minyak goreng dibagi ke sifat fisik dan sifat kimia (Ketaren,
1986), yakni :
A. Sifat Fisik
1. Warna
Terdiri dari 2 golongan, golongan pertama yaitu zat warna alamiah, yaitu
secara alamiah terdapat dalam bahan yang mengandung minyak dan ikut
terekstrak bersama minyak pada proses ekstrasi. Zat warna tersebut antara lain α
dan β karoten (berwarna kuning), xantofil (berwarna kuning kecoklatan), klorofil
(berwarna kehijauan) dan antosyanin (berwarna kemerahan). Golongan kedua
yaitu zat warna dari hasil degradasi zat warna alamiah, yaitu warna gelap
disebabkan oleh proses oksidasi terhadap tokoferol (vitamin E), warna cokelat
disebabkan oleh bahan untuk membuat minyak yang telah busuk atau rusak,
warna kuning umumnya terjadi pada minyak tidak jenuh.
2. Odor dan flavor, terdapat secara alami dalam minyak dan juga
terjadi
karena pembentukan asam-asam yang berantai sangat pendek.
3. Kelarutan, minyak tidak larut dalam air kecuali minyak jarak
(castor oil),
dan minyak sedikit larut dalam alcohol,etil eter, karbon disulfide dan pelarut-
pelarut halogen.
4. Titik cair dan polymorphism, minyak tidak mencair dengan tepat pada
suatu nilai temperature tertentu. Polymorphism adalah keadaan dimana
terdapat lebih dari satu bentuk Kristal.
5. Titik didih (boiling point), titik didih akan semakin meningkat dengan
bertambah panjangnya rantai karbon asam lemak tersebut.
6. Titik lunak (softening point), dimaksudkan untuk identifikasi minyak
tersebut.
7. Sliping point, digunakan untuk pengenalan minyak serta pengaruh
kehadiran komponen-komponenya.
8. Shot melting point, yaitu temperature pada saat terjadi tetesan pertama
dari minyak atau lemak.
9. Bobot jenis, biasanya ditentukan pada temperature 250C dan juga perlu
dilakukan pengukuran pada temperature 400C
10

10. Titik asap, titik nyala dan titik api, dapat dilakukan apabila minyak
dipanaskan. Merupakan criteria mutu yang penting dalam hubungannya
dengan minyak yang akan digunakan untuk menggoreng.
11. Titik kekeruhan (turbidity point), ditetapkan dengan cara mendinginkan
campuran minyak dengan pelarut lemak.
B. Sifat Kimia
1. Hidrolisa, dalam reaksi hidrolisa, minyak akan diubah menjadi asam
lemak bebas dan gliserol. Reaksi hidrolisa yang dapat menyebabkan
kerusakan minyak atau lemak terjadi karena terdapatnya sejumlah air
dalam minyak tersebut.
2. Oksidasi, proses oksidasi berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah
oksigen dengan minyak. Terjadinya reaksi oksidasi akan mengakibatkan
bau tengik pada minyak dan lemak.
3. Hidrogenasi, proses hidrogenasi bertujuan untuk menumbuhkan ikatan
rangkap dari rantai karbon asam lemak pada minyak.
4. Esterifikasi, proses esterifikasi bertujuan untuk mengubah asam-asam
lemak dari trigliserida dalam bentuk ester. Dengan menggunakan prinsip
reaksi ini hidrokarbon rantai pendek dalam asam lemak yang
menyebabkan bau tidak enak, dapat ditukar dengan rantai panjang yan
bersifat tidak menguap.
2.3.2 Metanol
Metanol juga dikenal sebagai metil alkohol, wood alcohol atau spiritus,
adalah senyawa kimia dengan rumus kimia CH 3OH. Metanol merupakan bentuk
alkohol paling sederhana. Pada keadaan atmosfer, metanol berbentuk cairan yang
ringan, mudah menguap, tidak berwarna, mudah terbakar, dan beracun dengan bau
yang khas (berbau lebih ringan daripada etanol). Berikut sifat-sifat fisik dan kimia
metanol pada Tabel 1.4 :
Tabel 2.4 Sifat-sifat Fisika dan Kimia Metanol
Massa molar 34.04 g/mol
Wujud Cairan tidak berwarna
Specific gravity 0.7918
Titik leleh -97oC. -142.9oF (176 K)
Titik didih 64.7oC. 148.4oF (337.8 K)
Kelarutan dalam air Sangat larut
Keasaman ~15.5
(Sumber : MSDS, 2013)
11

Metanol digunakan sebagai bahan pendingin anti beku, pelarut, bahan


bakar dan sebagai bahan aditif bagi etanol industri. Metanol diproduksi secara
alami oleh metabolisme anaerobik oleh bakteri. Hasil proses tersebut adalah uap
metanol (dalam jumlah kecil) di udara. Setelah beberapa hari, uap metanol
tersebut akan teroksidasi oleh oksigen dengan bantuan sinar matahari menjadi
karbon dioksida dan air.
Api dari metanol biasanya tidak berwarna. Oleh karena itu, kita harus
berhati-hati bila berada dekat metanol yang terbakar untuk mencegah cedera
akibat api yang tak terlihat. Karena sifatnya yang beracun, metanol sering
digunakan sebagai bahan additif bagi pembuatan alkohol untuk penggunaan
industri. Penambahan racun ini akan menghindarkan industri dari pajak yang
dapat dikenakan karena etanol merupakan bahan utama untuk minuman keras
(minuman beralkohol) (Hikmah, 2010).

2.3.3 Kalium Hidroksida (KOH)


Kalium hidroksida merupakan senyawa anorganik dengan rumus kimia
KOH. Kalium hidroksida adalah basa kuat yang terbuat dari logam alkali kalium
yang bernomor atom 19 pada tabel periodik. Bentuk kristal, butir, serpih, padat,
batang yang berwarna putih sampai kuning, tidak berbau, mudah larut dalam air
dingin, air panas, dan tidak larut dalam dietil eter. Kalium hidroksida ialah salah
satu bahan kimia perindustrian utama yang digunakan sebagai bes dalam berbagai
proses kimia. Kalium hidroksida (KOH) disebut juga sebagai Potasy Kaustik
(Linggih, 1988).
Salah satu kegunaan KOH yang amat penting adalah untuk baterai alkali
yang menggunakan larutan KOH sebagai elektrolit. Oleh karena itu, kalium
hidroksida digunakan dalam pembuatan lampu senter dan barang-barang yang
menggunakan baterai. Kalium hidroksida digunakan sebagai fotografi dan
litografi, membuat sabun cair, mengabsorpsi karbon dioksida, menghilangkan cat
pernis, pewarna kain, dan tinta cetak. Dalam bidang pertanian, kalium hidroksida
digunakan untuk menetralkan pH tanah yang asam, juga dapat digunakan sebagai
fungisida dan herbisida. Kalium hidroksida dapat ditemukan dalam bentuk murni
dengan mereaksikan natrium hidroksida dengan kalium murni. Sifat – sifat kalium
hidroksida ditunjukkan pada Tabel 2.5 :
12

Tabel 2.5 Sifat-sifat Fisika dan Kimia Kalium Hidroksida


Berat Molekul 56,1047
Wujud Padat
Warna Putih atau kuning
PH 13,5 (0,1 M larutan)
Titik didih 2408oF
Titik lebur 680oF
Specific Gravity 2,04
(Sumber : MSDS, 2013)

2.4 Pembuatan Biodiesel dengan Metode Transesterifikasi


Transesterifikasi (biasa disebut dengan alkoholisis) adalah tahap konversi
dari trigliserida (minyak nabati) menjadi alkil ester, melalui reaksi dengan
alkohol, dan menghasilkan produk samping yaitu gliserol. Di antara alkohol-
alkohol monohidrik yang menjadi kandidat sumber atau pemasok gugus alkil,
metanol adalah yang paling umum digunakan, karena harganya murah dan
reaktifitasnya paling tinggi (sehingga reaksi disebut metanolisis). Jadi, biodiesel
praktis identik dengan ester metil asamasam lemak (Fatty Acids Metil Ester,
FAME) (Mittlebatch, 2004). Reaksi transesterifikasi trigliserida menjadi metil
ester adalah:

H2C – O – C – R1 R1 – C – OCH3 H2CO – OH


Katalis
HC – O – C – R2 + 3CH3OH R2 – C – OCH3 + HC – OH

H2C – O – C – R1 R3 – C – OCH3 H2CO – OH


Trigliserida Metanol Ester Metil Asam-Asam Gliserol
Lemak (Biodiesel)
Gambar 2.1 Reaksi Transesterifikasi Trigliserida Menjadi Metil Ester
(Mittlebatch, 2004)

Transesterifikasi juga menggunakan katalis dalam reaksinya. Tanpa adanya


katalis, konversi yang dihasilkan maksimum namun reaksi berjalan dengan lambat
(Mittlebatch, 2004). Katalis yang biasa digunakan pada reaksi transesterifikasi
adalah katalis basa, karena katalis ini dapat mempercepat reaksi. Penggunaan
katalis asam atau basa masih memiliki beberapa kelemahan. Penggunaan katalis
13

asam diketahui membutuhkan waktu reaksi yang cukup lama dan pemisahan
katalis dan produk sangat sulit sehingga di butuhkan perlakuan khusus untuk
memisahkannya. Di samping itu, reaksi harus dilangsungkan tanpa air karena
adanya air akan meningkatkan pembentukan asam karboksilat sehingga
mengurangi rendemen reaksi. Dibanding dengan asam, katalis basa menghasilkan
reaksi dengan laju yang lebih tinggi. Namun demikian, penggunaan katalis ini
dapat menghasilkan air dari reaksi antara hidroksida dan alkohol. Pembentukan air
ini akan mengakibatkan terjadinya reaksi hidrolisis ester yang sudah terbentuk,
menghasilkan sabun yang tidak hanya mengurangi rendemen reaksi akan tetapi
juga menyulitkan pemisahan gliserol akibat pembentukan emulsi (Freedman,
1984). Penggunaan katalis heterogen dalam reaksi transesterifikasi minyak nabati
mununjukkan konversi yang cukup besar. Disamping persen konversi yang cukup
besar, katalis heterogen memiliki beberapa kelebihan diantaranya ketahanan
terhadap reaksi bersuhu tinggi, kemudahan pemisahan katalis dari campuran
reaksi, serta dapat digunakan berulang-ulang. Reaksi transesterifikasi sebenarnya
berlangsung dalam 3 tahap yaitu sebagai berikut:

katalis
1. Trigliserida (TG) + CH3OH Digliserida (DG) + R1COOCH3

2. Digliserida (DG) + CH3OH katalis Monogliserida (MG) + R2COOCH3

3. Monogliserida (MG) + CH3OH Gliserol (GL) + R3COOCH3


katalis
Gambar 2.2 Tiga Tahap Reaksi Transesterifikasi (Freedman, 1984).

Produk yang diinginkan dari reaksi transesterifikasi adalah ester metil


asamasam lemak. Menurut Freedman (1984), terdapat beberapa cara agar
kesetimbangan lebih ke arah produk, yaitu:
1. Menambahkan metanol berlebih ke dalam reaksi
2. Memisahkan gliserol
3. Menurunkan temperatur reaksi (transesterifikasi merupakan reaksi
eksoterm)
Tahapan reaksi transesterifikasi pembuatan biodiesel selalu menginginkan agar
didapatkan produk biodiesel dengan jumlah yang maksimum. Beberapa kondisi
reaksi yang mempengaruhi konversi serta perolehan biodiesel melalui
transesterifikasi adalah sebagai berikut (Freedman, 1984):
14

1. Pengaruh air dan asam lemak bebas


Minyak nabati yang akan ditransesterifikasi harus memiliki angka asam
yang lebih kecil dari 1. Banyak peneliti yang menyarankan agar kandungan asam
lemak bebas lebih kecil dari 0,5% (<0,5%). Selain itu, semua bahan yang akan
digunakan harus bebas dari air. Karena air akan bereaksi dengan katalis, sehingga
jumlah katalis menjadi berkurang. Katalis harus terhindar dari kontak dengan
udara agar tidak mengalami reaksi dengan uap air dan karbon dioksida.

2. Pengaruh perbandingan molar alkohol dengan bahan mentah


Secara stoikiometri, jumlah alkohol yang dibutuhkan untuk reaksi adalah 3
mol untuk setiap 1 mol trigliserida untuk memperoleh 3 mol alkil ester dan 1 mol
gliserol. Perbandingan alkohol dengan minyak nabati 4,8:1 dapat menghasilkan
konversi 98%. Secara umum ditunjukkan bahwa semakin banyak jumlah alkohol
yang digunakan, maka konversi yang diperoleh juga akan semakin bertambah.
Pada rasio molar 6:1, setelah 1 jam konversi yang dihasilkan adalah 98-99%,
sedangkan pada 3:1 adalah 74-89%. Nilai perbandingan yang terbaik adalah 6:1
karena dapat memberikan konversi yang maksimum.
3. Pengaruh jenis alkohol
Pada rasio 6:1, metanol akan memberikan perolehan ester yang tertinggi
dibandingkan dengaan menggunakan etanol atau butanol. Peran alkohol adalah
penyumbang gugus metil dalam reaksi esterifikasi. Dalam penelitian ini alkohol
digantikan dengan dimetil sulfat, diharapkan dengan digantikannya alkohol
dengan dimetil sulfat, maka reaksi akan berjalan lebih cepat dan didapatkan hasil
yang baik, karena dimetil sulfat lebih kaya akan gugus metil daripada alkohol
yang biasa digunakan.
4. Pengaruh jenis katalis
Alkali katalis (katalis basa) akan mempercepat reaksi transesterifikasi bila
dibandingkan dengan katalis asam. Katalis basa yang paling populer untuk reaksi
transesterifikasi adalah natrium hidroksida (NaOH), kalium hidroksida (KOH),
natrium metoksida (NaOCH3), dan kalium metoksida (KOCH3). Katalis sejati bagi
reaksi sebenarnya adalah ion metilat (metoksida). Reaksi transesterifikasi akan
menghasilkan konversi yang maksimum dengan jumlah katalis 0,5-1,5%-berat
minyak nabati. Jumlah katalis yang efektif untuk reaksi adalah 0,5%-berat minyak
15

nabati untuk natrium metoksida dan 1%-berat minyak nabati untuk natrium
hidroksida.
5. Metanolisis Crude dan Refined Minyak Nabati
Perolehan metil ester akan lebih tinggi jika menggunakan minyak nabati
refined. Namun apabila produk metil ester akan digunakan sebagai bahan bakar
mesin diesel, cukup digunakan bahan baku berupa minyak yang telah dihilangkan
getahnya dan disaring.
6. Pengaruh temperatur
Reaksi transesterifikasi dapat dilakukan pada temperatur 30-65°C (titik didih
metanol sekitar 65°C). Semakin tinggi temperatur, konversi yang diperoleh akan
semakin tinggi untuk waktu yang lebih efisien.
2.5 Karakteristik Biodiesel
Menurut Soerawidjaja (2006), karakteristik biodiesel adalah sebagai berikut:
1) Viskositas
Viskositas adalah tahanan yang dimiliki fluida yang dialirkan dalam pipa
kapiler terhadap gaya gravitasi, dinyatakan dalam waktu yang diperlukan untuk
mengalir pada jarak tertentu. Jika viskositas semakin tinggi, maka tahanan untuk
mengalir akan semakin tinggi. Karakteristik ini sangat penting karena
mempengaruhi kinerja injektor pada mesin diesel. Pada umumnya ,bahan bakar
harus mempunyai viskositas yang relatif rendah dapat mengalir dan teratomisasi.
Hal ini dikarenakan putaran mesin yang cepat membutuhkan injeksi bahan bakar
yang cepat pula. Cara pengukuran besarnya viskositas adalah bergantung pada alat
viskosimeter yang digunakan, dan hasilnya (besar viskositas) yang didapat harus
dibubuhkan nama viskosimeter yang digunakan serta temperatur minyak pada saat
pengukuran.
2) Flash Point
Titik nyala adalah sesuatu angka yang menyatakan suhu terendah dari bahan
bakar minyak dimana akan timbul pernyalaan api sesaat, apabila pada permukaan
minyak tersebut didekatkan pada nyala api. Titik nyala ini diperlukan sehubungan
dengan adanya pertimbangan pertimbangan mengenai keamanan (safety) dari
penimbunan minyak dan pengangkutan bahan baker minyak terhadap bahaya
kebakaran. Titik nyala ini tidak mempunyai pengaruh yang besar dalam
persyaratan pemakaian bahan bakar minyak untuk mesin diesel atau ketel uap.
3) Berat Jenis
16

Berat jenis (BJ) adalah perbandingan berat dari volume sampel minyak

dengan berat air yang volumenya sama pada suhu tertentu (250 ). Penggunaan

spesifik gravity adalah untuk mengukur berat/massa minyak bila volumenya telah
diketahui. Bahan bakar minyak pada umumnya mempunyai spesifik gravity antara
0,74-0,94. Dengan kata lain bahan bakar minyak lebih ringan daripada air.

4) Cetane Number
Cetane number menunjukkan kemampuan bahan bakar untuk menyala
sendiri. Skala cetane number biasanya menggunakan referensi berupa campuran
antara normal setana (C16H34) dengan alpha methyl naphthalene (C10H7CH3) atau
dengan heptamethyl-nonane (C16H34). Normal setana memiliki cetane number
100, alpha methyl naphtalene memiliki cetane number 0, dan heptamethylnonane
memiliki cetane number 15. Cetane number suatu bahan bakar didefinisikan
sebagai persentase volume dari normal setana dengan campurannya tersebut.

Cetane number yang tinggi menunjukkan bahwa bahan bakar dapat


menyala pada temperatur yang relatif rendah, dan sebaliknya cetane number
rendah menunjukkan bahan bakar baru dapat menyala pada temperatur yang
relatif tinggi. Penggunaan bahan bakar mesin diesel yang mempunyai cetane
number yang tinggi dapat mencegah terjadinya knocking karena begitu bahan
bakar diinjeksikan ke dalam silinder pembakaran maka bahan bakar akan
langsung terbakar dan tidak terakumulasi. Beberapa penelitian menunjukkan
bahwa cetane number (CN) biodiesel lebih tinggi dari pada minyak diesel (solar).
Cetane number rata-rata minyak diesel 45, sedangkan biodiesel 62 untuk yang
berbasis kelapa sawit, 51 untuk jarak pagar dan 62,7 untuk yang berbasis kelapa
sayur.
17

BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1. Bahan-bahan yang digunakan


Berikut bahan yang digunakan:
1. Minyak Goreng
2. Metanol 96%
3. Etanol 96%
4. KOH padat dan KOH cair 0.0823 N
5. Aquades

6. Phenolptalein

3.2. Alat-alat yang digunakan


Berikut alat yang digunakan:
1. Set ketel reaksi
2. Erlenmeyer 250 ml
3. Gelas kimia 250 ml
4. Corong pisah 250 dan 1000 ml
5. Gelas ukur 5 dan 10 ml
6. Buret 50 ml
7. Cawan petri
8. Pipet tetes

9. Thermometer

3.3. Prosedur Percobaan


Pada percobaan ini, untuk membuat biodisel terlebih dahulu dilakukan
pengujian kadar ALB pada sampel. Sampel yang digunakan pada praktikum kali
ini adalah minyak goreng sawit, kemudian minyak goreng sawit tersebut
dilakukan pengujian kadar ALB. Pengujian kadar ALB pada minyak goreng
18

dilakukan untuk mengetahui apakah kadar ALB pada minyak goreng <0.5%,
sehingga dapat dilakukan proses transesterifikasi dan pemilihan katalis yang tepat.

3.3.1. Analisa Kadar ALB


a. Minyak yang akan dihitung kadar ALB-nya ditimbang sebanyak 3 gram.
b. Kemudian minyak dilarutkan dengan 50 ml etanol 96%.
c. Setelah itu hot plate dihidupkan dan panaskan campuran minyak dan
etanol hingga mendidih.

d. Dalam waktu bersamaan diisi buret dengan KOH 0,0823 N.

e. Setelah campuran mendidih dan homogen, 2 tetes phenolptalein


ditambahkan kedalam campuran.

f. Titrasi dilakukan dalam keadaan panas dengan larutan standar KOH


0,0823 N hingga warna larutan merah muda.

g. Volume KOH yang terpakai dicatat.

h. Kemudian hitung % ALB dengan menggunakan rumus :

3.3.2. Pembuatan Biodisel dari Minyak Goreng dengan Metode


Transesterifikasi
a. Rangkaian alat pembuatan biodiesel disusun.
b. Minyak ditimbang 100 gram, lalu dimasukkan kedalam reaktor
berpengaduk.
c. Pengaduk dihidupkan bersamaan dengan kondensor dan pemanasnya.
d. Dalam proses tersebut, suhu diukur dengan termometer hingga mencapai

60
e. Dalam waktu bersamaan, katalis 1 gram ditimbang dan 29,44 ml metanol
disiapkan.
f. Katalis dilarutkan dengan 29,44 ml metanol, lalu dipanaskan hingga
campuran homogen.
g. Setelah suhu minyak mencapai 60 , campuran metanol dan katalis

dimasukkan kedalam reaktor berpengaduk.


19

h. Bersamaan dengan dimasukkannya campuran tersebut kedalam reaktor


berpengaduk, waktu reaksi dihitung dengan stopwatch.
i. Selama proses, suhu dijaga konstan 60 . Hal ini dilakukan agar biodiesel

yang dihasilkan berkualitas baik.


j. Setelah waktu yang ditentukan, pengaduk dan pemanas dimatikan.
k. Hasil yang diperoleh dimasukkan kedalam corong pisah untuk
memisahkan biodiesel dan gliserol.
l. Setelah didiamkan beberapa waktu, biodiesel dan gliserol dipisahkan.
m. Biodiesel dan gliserol yang diperoleh ditimbang untuk mengetahui berat
produk yang dihasilkan.
n. Biodiesel dimasukkan kembali kedalam corong pisah untuk kemudian
dicuci dengan aquadest.
o. Kemudian didiamkan beberapa waktu, dan pisahkan aquadest dan
biodiesel.
p. Biodiesel yang dihasilkan ditimbang untuk mengetahui berat biodiesel
tampa pengotor.
q. Dihitung % ALB biodiesel, penentuan % ALB ini sama dengan penentuan
% ALB minyak.
r. Percobaan yang sama dilakukan kembali untuk variasi waktu reaksi yaitu
30 menit, 45 menit, dan 1 jam.
3.4. Rangkaian Alat

Gambar 3.1 Set Reaktor Batch Berpengaduk

BAB IV
20

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan data hasil
percobaan yang dilakukan dengan menggunakan variasi waktu dan temperatur
tetap yaitu 60 °C yang dapat dilihat pada tabel 4.1 dibawah ini.
Tabel 4.1 Data hasil percoban reaksi transesterifikasi dengan variasi waktu

No Data waktu reaksi waktu reaksi waktu reaksi


variabel percobaan (30 menit) (45 menit) (60 menit)
1 Berat minyak 100 gram 100,3 gram 100,3 gram
2 Berat katalis (KOH) 1,02 gram 1,03 gram 1,02 gram
3 Volume Etanol 29,44 mL 29,44 mL 29,44 mL
4 Rasio minyak dan metanol 1:6 1:6 1:6
5 Berat Gliserol 14,69 gram 11,18 gram 14,19 gram
6 FAME setelah pencucian 81,3 gram 86,07 gram 90,31 gram

Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, didapatkan hasil berupa


data kadar ALB, Yield dan densitas yang dihasilkan pada percobaan yang dapat
dilihat pada tabel 4.2 dibawah ini.
Tabel 4.2 Data hasil perhitungan ALB, yield dan Densitas Produk

No Waktu Reaksi ALB Yield Densitas


(menit)
(%) (%) (g/mol)

1 30 0,48 66,64 0,881

2 45 0,40 69,6 0,858

3 60 0,32 73,2 0,86

4.2 Pembahasan
4.2.1 Pengaruh Waktu Reaksi Terhadap ALB
21

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat dilihat pada table 4.2
kadar ALB yang dihasilkan dengan menggunakan variasi waktu dan temperatur
tetap untuk waktu 30 menit, sebesar 0,48%, untuk waktu 45 menit 0,40 % dan
pada waktu 60 menit yaitu 0,32%. Data-data tersebut dapat digambarkan dalam
bentuk grafik dan dapat dilihat pada gambar 4.1

Gambar 4.1 Grafik Pengaruh Waktu Reaksi Terhadap Kadar ALB Produk

Dari gambar grafik 4.1 dapat dilihat bahwa kadar ALB dari metil ester
mengalami penurunan seiring dengan lamanya waktu reaksi. Dimana pada waktu
30 menit ALB yang dihasilkan yaitu 0,43% dan pada waktu 45 dan 60 menit
kadar ALB nya menjadi 0,361%. Semakin lama waktu reaksi maka kadar ALB
nya akan berkurang. Lamanya waktu reaksi memberikan kesempatan kepada
molekul- molekul senyawa untuk bereaksi semakin besar. Sehingga menyebabkan
ALB nya berkurang (Aziz, 2007).

4.2.2 Pengaruh Waktu Reaksi Terhadap Yield Produk


Pada table 4.2 dapat dilihat bahwa nilai yield dari produk pada waktu 30
menit, 45 menit, dan 60 menit sebesar 66,4%, 69,6%, dan 73,2% secara berturut.
Data-data tersebut dapat digambarkan dalam bentuk grafik dan dapat dilihat pada
gambar 4.2
22

Gambar 4.2 Grafik Pengaruh Waktu Reaksi Terhadap Yield Produk

Dari gambar grafik 4.2 dapat dilihat bahwa nilai yield dari produk
mengalami peningkatan seiring dengan lamanya waktu reaksi. Hal ini dikarenakan
semakin lama waktu reaksi maka semakin lama pula proses transesterifikasi
berlangsung secara simultan, sehingga menyebabkan molekul-molekul antar
reaktan untuk semakin lama bertumbukan, namun apabila sudah mencapai waktu
kesetimbangan, maka penambahan waktu reaksi yang lebih lama akan
menyebabkan berkurangnya jumlah biodiesel yang dihasilkan, hal ini disebabkan
terjadinya reaksi bolak-balik pada saat proses transesterifikasi berlangsung (Leung
dkk, 2010).

4.2.3 Pengaruh Waktu Reaksi Terhadap Densitas Produk


Pada table 4.1 dapat dilihat nilai densitas dari produk pada waktu 30
menit, 45 menit, dan 60 menit sebesar 0,881 g/mol, 0,858 g/mol, dan 0,86 secara
berturut. Data-data tersebut dapat digambarkan dalam bentuk grafik dan dapat
dilihat pada gambar 4.3
23

Gambar 4.3 Grafik Pengaruh Waktu Reaksi Terhadap Densitas Produk

Dari gambar 4.3 dapat dilihat bahwa nilai densitas dari produk yang didapat,
dimana nilai densitas nya mengalami penurunan pada waktu 45 menit dan
mengalami kenaikan pada waktu 60 menit. Dimana rentang nilai densitas yang
didapat yaitu (0.85-0.88) artinya biodiesel yang dihasilkan memiliki kualitas yang
baik sesuai dengan standar SNI yaitu (0,85-0.89). dengan demikian biodiesel yang
diperoleh memenuhi standar densitas biodiesel.

BAB V
24

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
1. Kadar ALB metil ester asam lemak mengalami penurunan seiring
meningkatnya waktu reaksi
2. Yield metil ester asam lemak metil ester yang dihasilkan meningkat seiring
lama waktu reaksi berlangsung.
3. Densitas metil ester lemak yang dihasilkan memenuhi SNI untuk densitas
biodiesel

4.2 Saran
Dalam melakukan proses transesterifikasi usahakan suhu nya dijaga agar
hasil yang diperoleh lebih efektif dan pastikan air kondensor tetap mengalir.

DAFTAR PUSTAKA
25

Aziz, I. 2007. Kinetika Reaksi Transesterifikasi Minyak Goreng Bekas. Valensi,


Vol 1, No.1, hal 19-23
Brahmana, H.R. Ginting, A. Ginting, M. Tarigan, M. (1994). Sintesa Alkil Eter
dan Ester Selulosa Turunan Asam Lemak Kelapa Sawit (CPO) dan Inti
Sawit (CPKO) dengan Natrium Selulosa. Laporan Penelitian Hibah
Bersaing 1/3 Perguruan Tinggi 1993-1994.
BSN. 1995. Minyak Goreng. SNI 01-3741-1995. Badan Standarisasi
Freedman, B., Prede E.H and Mounts, T.L. 1984. Variable Affecting The Yiled of
Fatty Ester from Transesterified Vegetable Oils. JAOCS,61(10): 1640-1642.
Hambali, Erliza. 2006. Jarak Pagar Tanaman Penghasil Biodiesel. Jakarta:
Penebar Swadaya.
Hikmah, M.N., dan Zuliyana. 2010. Pembuatan Metil Ester (Biodiesel) dari
Minyak Dedak dan Metanol dengan Proses Esterifikasi dan
Transesterifikasi. Skripsi, Universitas Diponegoro.
Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Penerbit
Universitas Indonesia: Jakarta.
Linggih, S.R dan P.Wibowo.1988. Ringkasan Kimia. Ganeca. Exact Bandung.
ITB Bandung
Leung, dkk. 2010. A Review On Biodiesel Production Using Catalyzed
Transesterification. Applied Energy, 87:1083-1095.
Material Safety Data Sheet. 2013. Methanol MSDS
Material Safety Data Sheet. 2013. Potassium hydroxide MSDS
Mittelbach, M dan Remschmidt, C. 2004. Biodiesel The Comprehensive
Handbook. Austria: Martin Mittelbach Publiosher.
Richtler, H.J. and Knault, J. 1984. Challenges To A Mature Industry, Marketing
Economics of Oleochemicals in Western Europe. J.am.oil.chem.soc.vol.61
Soerawidjaja, Tatang H., Prakoso, Tirto., Reksowardojo, Iman K. 2005. Prospek,
Status dan Tantangan Penegakan Industri Biodiesel di Indonesia.
Yogyakarta. Universitas Gajah Mada.
Wahyuni, S., Ramli, & Mahrizal. 2015. Pengaruh suhu proses dan lama
pengendapan terhadap kualitas biodiesel dari minyak jelantah. Pillar of
Physics, 6, 33-40.
26

Wibisono, Ardian, 2007, Produksi Bio33-diesel dari Lemak Babi. Jakarta: Conoco
Phillips.