You are on page 1of 32

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Pernyataan Masalah


Konversi minyak nabati (termasuk minyak sawit) menjadi metil ester asam
lemak merupakan salah satu dari dua gerbang/jembatan penghubung industri
minyak nabati dengan industri oleokimia. Jembatan penghubung lainnya adalah
hidrolisa minyak nabati menjadi asam lemak dan gliserol. Oleh karena itu,
kebutuhan terhadap metil ester asam lemak diperkirakan akan makin meningkat.
Metil ester asam lemak merupakan bahan baku aneka turunan asam lemak
(alkohol lemak, ester sulfonat, alkanolamida lemak, dan lain-lain).
Metil ester asam lemak dapat diproduksi dengan proses transesterifikasi
katalitik trigliserida (komponen utama minyak nabati) atau dengan reaksi
esterifikasi asam lemak. Proses transesterifikasi ini menggunakan basa sebagai
katalis. Metanolisis trigliserida merupakan reaksi eksotermis dan dapat dilakukan
menggunakan katalis homogen (seperti NaOH, KOH, Na-metoksida) maupun
katalis heterogen (seperti kalium karbonat).
Jika bahan baku minyak/lemak tidak mengandung air dan asam lemak
bebasnya lebih kecil dari 0,5% berat, proses metanolisis dapat diselenggarakan
pada tekanan atmosferik, temperatur 25 – 100 °C dan kelebihan molar alkohol 50
– 100% (Bradshaw dan Meuly, 1942). Kondisi proses ini akan kian berat dengan
makin besarnya kadar asam lemak bebas dalam minyak/lemak. ika dibiarkan
tenang, campuran hasil reaksi akan membentuk dua lapisan. Lapisan bawah
terdapat gliserol dan pada lapisan atas terdapat metil ester asam lemak, metanol
sisa reaksi, katalis dan sedikit gliserol.

1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menentukan pengaruh variasi
katalis KOH terhadap kadar ALB dan yield.
2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Oleokimia
Oleokimia pada dasarnya merupakan cabang ilmu kimia yang mempelajari
trigliserida yang berasal dari minyak dan lemak menjadi asam lemak dan gliserin
serta turunan asam lemak baik dalam bentuk ester, amida, sulfat, sulfonat,
alkohol, alkoksi, maupun sabun. Oleokimia merupakan turunan gliserol dengan
asam lemak yang berubah dalam bentuk turunannya yang digunakan baik sebagai
surfaktan, deterjen, polimer, aditif, bahan bakar dan sebagainya. Bahan dasar
oleokimia seperti gliserol, asam lemak, alkil asam lemak, amina asam lemak dan
alkohol asam lemak dapat diperoleh dengan mengubah lipida baik yang berasal
dari hewan maupun tumbuhan menjadi gliserol dan turunan asam lemak (Richtler
dan Knault, 1984).
Sumber minyak dan lemak alami dapat berasal dari bahan nabati maupun
hewani. Sumber minyak nabati diantaranya adalah minyak kelapa sawit, minyak
kacang kedelai, minyak biji bunga matahari, minyak biji wijen, minyak jarak dan
sebagainya. Sedangkan minyak dan lemak yang berasal dari hewan yaitu seperti
minyak sapi, minyak domba, minyak babi, minyak ikan dan lain-lain. Minyak dan
lemak tersebut sangat luas penggunaannya, baik sebagai bahan baku lemak dan
minyak yang dapat dikonsumsi maupun sebagai bahan oleokimia (Richtler dan
Knault, 1984).
Produk-produk oleokimia adalah berasal dari penggunaan asam lemak dan
gliserol. Penggunaan terbesar daripada asam lemak adalah dengan mengubahnya
menjadi alkohol asam lemak, amida, garam asam lemak dan juga plastik termasuk
nilon (hampir mencapai 40% dari total penggunaannya). Penggunaan terbesar
berikutnya sebesar 30% untuk dijadikan sabun, deterjen, dan kosmetik. Asam
lemak juga digunakan sebagai bahan dasar pembuatan resin dan cat sekitar 15%,
sisanya digunakan sebagai pembantu dalam industri pembuatan ban, tekstil, kulit
kertas, pelumas, lilin. Penggunaan terbesar dari gliserol adalah industri farmasi
dan kosmetika serta makanan (Richtler dan Knault, 1984).
3

Diagram alir dari oleokimia dapat dilihat pada Gambar 2.1. berikut:

Gambar 2.1 Diagram Alur Oleokimia (Brahmana, 1994)

2.2 Biodiesel
Biodiesel adalah alternatif bahan bakar solar yang terbuat dari sumber
daya alam yang dapat diperbarui seperti dari minyak tumbuhan dan minyak
hewan. Karena biodiesel merupakan minyak non-fosil maka sudah tentu hasil
pembakarannya bebas dari sulfur dan senyawa aromatik. Biodiesel mempunyai
sifat yang mirip dengan petrodiesel ataupun minyak diesel sintesis, yaitu memiliki
energi pembakaran dan angka setana (cetane number) yang lebih tinggi (>60)
sehingga selain pebakarannya lebih efisien juga sekaligus melumasi piston mesin.
Biodisel dapat digunakan sebagai bahan bakar mesin yang pembakarannya
menggunakan sistem kompresi tinggi (mesin diesel) dengan sedikit modifikasi,
atau bahkan sama sekali tanpa modifikasi. Biodiesel bersifat biodegradable dan
tidak mengandung senyawa beracun (toxic) dan beremisi rendah serta ramah
lingkungan. (Fangrui, 1999).
Biodiesel merupakan salah satu jenis biofuel (bahan bakar cair dari
pengolahan tumbuhan) di samping Bio-etanol. Biodiesel adalah senyawa
metil ester yang diproduksi melalui proses alkoholisis (transesterifikasi)
antara trigliserida dengan metanol atau etanol dengan bantuan katalis basa
4

menjadi metil ester dan gliserol. Transesterifikasi adalah proses yang


mereaksikan trigliserida dalam minyak nabati atau lemak hewani dengan alkohol
rantai pendek seperti methanol atau etanol (pada saat ini sebagian besar produksi
biodiesel menggunakan metanol) menghasilkan metil ester asam lemak (Fatty
Acids Methyl Esters / FAME) atau biodiesel dan gliserol (gliserin) sebagai produk
samping. Katalis yang digunakan pada proses transeterifikasi adalah basa/alkali,
biasanya digunakan natrium hidroksida (NaOH) atau kalium hidroksida (KOH).
Esterifikasi adalah proses yang mereaksikan asam lemak bebas (FFA) dengan
alkohol rantai pendek (metanol atau etanol) menghasilkan metil ester asam lemak
(FAME) dan air. Katalis yang digunakan untuk reaksi esterifikasi adalah asam,
biasanya asam sulfat (H2SO4) atau asam fosfat (H2PO4). Berdasarkan kandungan
FFA dalam minyak nabati maka proses pembuatan biodiesel secara komersial
dibedakan menjadi 2 yaitu :
1. Transesterifikasi dengan katalis basa (sebagian besar menggunakan kalium
hidroksida) untuk bahan baku refined oil atau minyak nabati dengan
kandungan FFA rendah.
2. Esterifikasi dengan katalis asam ( umumnya menggunakan asam sulfat)
untuk minyak nabati dengan kandungan FFA tinggi dilanjutkan dengan
transesterifikasi dengan katalis basa.
Proses pembuatan biodiesel dari minyak dengan kandungan FFA rendah
secara keseluruhan terdiri dari reaksi transesterifikasi, pemisahan gliserol dari
metil ester, pemurnian metil ester (netralisasi, pemisahan metanol, pencucian dan
pengeringan/dehidrasi), pengambilan gliserol sebagai produk samping (asidulasi
dan pemisahan metanol) dan pemurnian metanol tak bereaksi secara
destilasi/rectification. Proses esterifikasi dengan katalis asam diperlukan jika
minyak nabati mengandung FFA di atas 5%. Jika minyak berkadar FFA tinggi
(>5%) langsung ditransesterifikasi dengan katalis basa maka FFA akan bereaksi
dengan katalis membentuk sabun. Terbentuknya sabun dalam jumlah yang cukup
besar dapat menghambat pemisahan gliserol dari metil ester dan berakibat
terbentuknya emulsi selama proses pencucian. Jadi esterifikasi digunakan sebagai
proses pendahuluan untuk mengkonversikan FFA menjadi metil ester sehingga
mengurangi kadar FFA dalam minyak nabati dan selanjutnya ditransesterifikasi
5

dengan katalis basa untuk mengkonversikan trigliserida menjadi metil ester.


Biodiesel mempunyai rantai karbon antara 12 sampai 20 serta mengandung
oksigen. Biodiesel dapat dibuat dari minyak nabati, minyak hewani atau dari
minyak goreng bekas/daur ulang, namun yang paling umum digunakan sebagai
bahan baku pembuatan biodiesel adalah minyak nabati. Minyak nabati dan
biodiesel tergolong ke dalam kelas besar senyawa-senyawa organik yang sama,
yaitu kelas ester asam-asam lemak. Akan tetapi, minyak nabati adalah triester
asam-asam lemak dengan gliserol, atau trigliserida, sedangkan biodiesel adalah
monoester asam-asam lemak dengan metanol. Banyak jenis sumber bahan baku
nabati atau tumbuhan di Indonesia yang bisa diolah menjadi biodiesel yang dapat
dilihat dari Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Tumbuhan Indonesia Penghasil Minyak dan Lemak
Isi
Sumber
Nama Lokal Nama Latin % Berat P / NP
Minyak
Kering
Jatropha
Jarak Pagar Inti biji 40-60 NP
curcas

Riccinus
Jarak Kaliki Biji 45-50 NP
communis

Arachis
Kacang Suuk Biji 35-55 P
hypogea

Ceiba
Kapok / Randu Biji 24-40 NP
pantandra

Hevea
Karet Biji 40-50 P
brasiliensis

Psophocarpus
Kecipir Biji 15-20 P
tetrag
Cocos
Kelapa Inti biji 60-70 P
nucifera
Moringa
Kelor Biji 30-49 P
oleifera

Aleurites
Kemiri Inti biji 57-69 NP
moluccana
6

Sleichera
Kusambi Sabut 55-70 NP
trijuga

Azadiruchta
Nimba Inti biji 40-50 NP
Indica

Adenanthera
Saga Utan Inti biji 14-28 P
pavonina
Elais Sabut dan 45-70 + 46-
Sawit P
suincencis biji 54
Callophyllum
Nyamplung Inti biji 40-73 P
lanceatum

Bombax NP
Randu Alas Biji 18-26
malabaricum

Annona
Sirsak Inti biji 20-30 NP
muricata
Annona
Srikaya Biji 15-20 NP
squosa
(Sumber : Soerawidjaja, 2005)
Penggunaan biodiesel sangat menguntungkan karena tidak memerlukan
modifikasi dalam mesin atau sistem injeksi dan dapat digunakan dalam mesin
diesel secara langsung. Biodiesel mempunyai banyak keunggulan dibandingkan
dengan bahan bakar diesel dari minyak bumi. Bahan bakar yang terbentuk cair ini
bersifat menyerupai solar, sehingga sangat produktif untuk dikembangkan.
Apalagi biodiesel mempunyai kelebihan lain dibanding dengan solar, yaitu
sebagai berikut (Hambali, 2007):
a. Bahan bakar ramah lingkungan karena menghasilkan emisi yang lebih
baik (free sulphur, smoke number rendah) sesuai dengan isu-isu global,
b. Cetane number lebih tinggi (>57) sehingga efisiensi pembakaran lebih
baik dibandingkan dengan minyak solar,
c. Memiliki sifat pelumas terhadap piston mesin dan dapat terurai,
d. Merupakan renewable energy karena terbuat dari bahan alam yang dapat
diperbaharui,
e. Meningkatkan indenpendensi suplai bahan bakar karena dapat diproduksi
secara lokal.
7

2.3 Metode Transesterifikasi


Metode transesterifikasi merupakan metode yang umum digunakan untuk
memproduksi biodiesel yang dapat menghasilkan hingga 95% rendemen minyak
biodiesel dari bahan baku minyak tumbuhan. Reaksi Transesterifikasi dapat
dilihat pada Gambar 2.2 berikut.

O
H2C O C R1 H2C OH
O
CH O C R2 + 3ROH CH OH + 3RCOOR’
O
H2C O C R3 H2C OH
Trigliserida Alkohol Gliserol Alkil ester
R’=R1=R2=R3
Gambar 2.2 Reaksi Transesterifikasi (Abdullah, 2010)
Metode ini terdiri dari 4 tahapan, yaitu:
1. Pencampuran katalis alkalin (NaOH dan KOH) dengan alkohol metanol
atau etanol pada konsentrasi katalis antara 0,5 – 1% dan 10 – 20% metanol
terhadap massa minyak.
2. Pencampuran katalis dan alkohol dengan minyak pada temperatur 55 °C
dengan kecepatan pengadukan konstan selama 30 – 45 menit.
3. Setelah reaksi berhenti campuran didiamkan hingga terjadi pemisahan
antara metil ester dan gliserol. Metil ester yang dihasilkan disebut crude
biodiesel, karena mengandung zat pengotor seperti sisa metanol dan katalis
alkalin, gliserol serta sabun.
4. Metil ester yang dihasilkan tahap ketiga dicuci dengan air hangat untuk
memisahkan zat pengotor dan dilanjutkan dengan menguapkan air yang
terkandung dalam biodiesel
Molekul metil ester adalah rantai karbon lurus yang sama dengan bahan
bakar diesel dari minyak bumi atau sedikit terikat yang memiliki molekul oksigen
pada ujung rantai karbon. Pada aplikasi minyak tanah, tata nama asam lemak
rantai terbuka dan asam lemak rantai tertutup berubah ke nama IUPAC nya yaitu
8

alkane dimana rantai karbon tertutup dengan hubungan hidrokarbon yang


dinyatakan dengan (CnH2n+2), rantai asam lemak tertutup tunggal menjadi alkene
(ofelin) dengan hubungan hidrokarbon yang dinyatakan dengan (CnH2n), asam
yang mengandung banyak rantai lemak terbuka menjadi alkyne dengan hubungan
hidrokarbon (CnH2n-2).
Proses konversi trigliserida menjadi alkil esternya melalui reaksi
transesterifikasi dengan katalis basa, asam lemak bebas harus dipisahkan atau
dikonversi menjadi alkil ester terlebih dahulu karena asam lemak bebas akan
mengkonsumsi katalis. Kandungan asam lemak bebas dalam biodiesel akan
mengakibatkan terbentuknya suasana asam yang dapat mengakibatkan korosi
pada peralatan injeksi bahan bakar, membuat filter tersumbat dan terjadi
sedimentasi pada injektor. Pemisahan atau konversi asam lemak bebas ini
dinamakan tahap esterifikasi. Reaksi transesterifikasi sebenarnya berlangsung
dalam 3 tahap yang dapat dilihat pada Gambar 2.3 :

Gambar 2.3 Tahapan Reaksi Transesterifikasi (Utami, 2007)


Produk yang diinginkan dari reaksi transesterifikasi adalah ester metil
asam-asam lemak. Terdapat beberapa cara agar kesetimbangan lebih ke arah
produk, yaitu (Hikmah, 2010) :
a. Menambahkan metanol berlebih ke dalam reaksi
b. Memisahkan gliserol
c. Menurunkan temperatur reaksi (transesterifikasi merupakan reaksi
eksoterm).
9

2.3.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Transesterifikasi


Pada intinya, tahapan reaksi transesterifikasi pembuatan biodiesel selalu
menginginkan agar didapatkan produk biodiesel dengan jumlah yang maksimum.
Menurut (Freedman, 1984) Beberapa kondisi reaksi yang mempengaruhi konversi
serta perolehan biodiesel melalui transesterifikasi adalah sebagai berikut :
a. Pengaruh Air dan Asam Lemak Bebas
Minyak nabati yang akan ditransesterifikasi harus memiliki angka asam
yang lebih kecil dari 1. Banyak peneliti yang menyarankan agar kandungan asam
lemak bebas lebih kecil dari 0.5% (<0.5%). Selain itu, semua bahan yang akan
digunakan harus bebas dari air. Karena air akan bereaksi dengan katalis, sehingga
jumlah katalis menjadi berkurang. Katalis harus terhindar dari kontak dengan
udara agar tidak mengalami reaksi dengan uap air dan karbon dioksida.
b. Pengaruh Perbandingan Molar Alkohol dengan Bahan Mentah
Secara stoikiometri, jumlah alkohol yang dibutuhkan untuk reaksi adalah 3
mol untuk setiap 1 mol trigliserida untuk memperoleh 3 mol alkil ester dan 1 mol
gliserol. Perbandingan alkohol dengan minyak nabati 4,8:1 dapat menghasilkan
konversi 98% (Bradshaw and Meuly, 1944). Secara umum ditunjukkan bahwa
semakin banyak jumlah alkohol yang digunakan, maka konversi yang diperoleh
juga akan semakin bertambah. Pada rasio molar 6:1, setelah 1 jam konversi yang
dihasilkan adalah 98-99%, sedangkan pada 3:1 adalah 74-89%. Nilai
perbandingan yang terbaik adalah 6:1 karena dapat memberikan konversi yang
maksimum.
c. Pengaruh Jenis Alkohol
Pada rasio 6:1, metanol akan memberikan perolehan ester yang tertinggi
dibandingkan dengaan menggunakan etanol atau butanol.
d. Pengaruh Jenis Katalis
Alkali katalis (katalis basa) akan mempercepat reaksi transesterifikasi bila
dibandingkan dengan katalis asam. Katalis basa yang paling populer untuk reaksi
transesterifikasi adalah natrium hidroksida (NaOH), kalium hidroksida (KOH),
natrium metoksida (NaOCH3), dan kalium metoksida (KOCH3). Katalis sejati
bagi reaksi sebenarnya adalah ion metilat (metoksida). Reaksi transesterifikasi
akan menghasilkan konversi yang maksimum dengan jumlah katalis 0,5-1,5%-b
10

minyak nabati. Jumlah katalis yang efektif untuk reaksi adalah 0,5%-b minyak
nabati untuk natrium metoksida dan 1%-b minyak nabati untuk natrium
hidroksida.
e. Pengaruh Temperatur
Reaksi transesterifikasi dapat dilakukan pada temperatur 30 – 65 ºC (titik
didih metanol sekitar 65 ºC). Semakin tinggi temperatur, konversi yang diperoleh
akan semakin tinggi untuk waktu yang lebih singkat. Temperatur yang rendah
akan menghasilkan konversi yang lebih tinggi namun dengan waktu reaksi yang
lebih lama.

2.4 Metode Esterifikasi


Salah satu cara untuk memproduksi biodiesel adalah dengan esterifikasi
asam lemak yang terkandung dalam minyak nabati. Komponen terbesar pada
minyak nabati adalah trigliserida yang merupakan ikatan asam lemak jenuh dan
tak jenuh. Tiap jenis minyak nabati mengandung komposisi asam lemak yang
berbeda-beda. Sebagai contoh minyak sawit mengandung asam lemak jenuh dan
tak jenuh dalam jumlah yang sama. Kandungan asam lemak terdiri dari asam oleat
42%, asam linoleat 9%, asam palmitat 43%, asam stearat 4%, dan asam miristat
2% (Puspita, 2008).
Reaksi esterifikasi adalah reaksi endotermis. Proses ini berlangsung
dengan katalis asam antara lain H2SO4, H3PO4, dan asam sulfonat. Untuk
mengarahkan reaksi ke arah produk alkil ester, salah satu reaktan, biasanya
alkohol diberikan dalam jumlah yang berlebihan dan air diambil selama reaksi.
Umumnya pengambilan air dilakukan secara kimia, fisika dan pervorasi.
Esterifikasi pada dasarnya adalah reaksi yang bersifat reversibel dari asam
lemak dengan alkil alkohol membentuk ester dan air yang dapat dilihat pada
Gambar 2.4 berikut:
H
RCOOH + CH3OH RCOOCH3 + H2O
Asam lemak Metanol Metil ester Air
Gambar 2.4 Reaksi Esterifikasi Asam Lemak (Kartika, 2012)
11

Adapun mekanisme reaksi esterifikasi dengan katalis asam dapat dilihat


pada Gambar 2.5:

Gambar 2.5 Mekanisme Reaksi Esterifikasi (Prasetyo, 2012)


Reaksi esterifikasi merupakan reaksi bolak balik yang berjalan lambat,
sehingga untuk waktu reaksi yang relatif pendek reaksi ke kiri (arah reaktan)
dapat diabaikan terhadap reaksi ke kanan (arah produk ).

2.5 Minyak Goreng


Minyak dan lemak tidak berbeda dalam bentuk umum trigliseridanya,
tetapi hanya berbeda dalam bentuk (wujud). Perbedaan ini didasarkan pada
perbedaan titik lelehnya. Pada suhu kamar lemak berwujud padat, sedangkan
minyak berwujud cair. Titik leleh minyak dan lemak tergantung pada strukturnya,
biasanya meningkat dengan bertambahnya jumlah karbon. Banyaknya ikatan
ganda dua karbon juga berpengaruh. Trigliserida yang kaya akan asam lemak tak
jenuh, seperti asam oleat dan linoleat, biasanya berwujud minyak sedangkan
trigliserida yang kaya akan lemak jenuh seperti asam stearat dan palmitat,
biasanya adalah lemak. Semua jenis lemak tersusun dari asam asam lemak yang
terikat oleh gliserol. Sifat dari lemak tergantung dari jenis asam lemak yang
terikat dengan senyawa gliserol. Asam-asam lemak yang berbeda disusun oleh
jumlah atom karbon maupun hidrogen yang berbeda pula. Atom karbon, yang
juga terikat oleh dua atom karbon lainnya, membentuk rantai yang zigzag. Asam
lemak dengan rantai molekul yang lebih panjang lebih rentan terhadap gaya tarik
menarik intermolekul, (dalam hal ini yaitu gaya Van der waals) sehingga titik
leburnya juga akan naik .
Trigliserida alami ialah triester dari asam lemak berantai panjang dan
gliserol merupakan penyusun utama lemak hewan dan nabati. Trigliserida
termasuk lipid sederhana dan juga merupakan bentuk cadangan lemak dalam
tubuh manusia. Berikut ini adalah persamaan umum pembentukan trigliserida :
12

Keragaman jenis trigliserida bersumber dari kedudukan dan jati diri asam lemak.
Trigliserida sederhana adalah triester yang terbuat dari gliserol dan tiga molekul
asam lemak yang sama. Contohnya, dari gliserol dan tiga molekul asam stearat
akan diperoleh trigliserida sederhana yang disebut gliseril tristearat atau tristearin.
Trigliserida sederhana jarang ditemukan. Kebanyakan trigliserida alami adalah
trigliserida campuran, yaitu triester dengan komponen asam lemak yang berbeda.
Lemak hewan dan minyak nabati merupakan campuran beberapa trigliserida.
Asam-asam lemak yang menyusun lemak juga dapat dibedakan berdasarkan
jumlah atom hidrogen yang terikat kepada atom karbon (Hariskal, 2009).
Kandungan minyak goreng dibalik warnanya yang bening kekuningan,
minyak goreng merupakan campuran dari berbagai senyawa. Komposisi
terbanyak dari minyak goreng yang mencapai hampir 100% adalah lemak.
Sebagian besar lemak dalam makanan (termasuk minyak goreng) berbentuk
trigliserida. Jika terurai, trigliserida akan berubah menjadi satu molekul gliserol
dan tiga molekul asam lemak bebas. Semakin banyak trigliserida yang terurai
semakin banyak asam lemak bebas yang dihasilkan, pada proses oksidasi lebih
lanjut, asam lemak bebas ini akan menyebabkan lemak atau minyak menjadi bau
tengik. Biasanya untuk menghilangkan atau memperlambat oksidasi yang
menyababkan bau tengik ini, minyak goreng ditambah dengan vitamin A, C, D
atau E (Ketaren,1986).
Selama penggorengan, minyak goreng akan mengalami pemanasan pada
suhu tinggi 1700–1800 °C dalam waktu yang cukup lama. Hal ini akan
menyebabkan terjadinya proses oksidasi, hidrolisis dan polimerisasi yang
menghasilkan senyawa – senyawa hasil degradasi minyak seperti keton, aldehid
dan polimer yang merugikan kesehatan manusia. Proses – proses tersebut
menyebabkan minyak mengalami kerusakan. Kerusakan utama adalah timbulnya
bau dan rasa tengik, sedangkan kerusakan lain meliputi peningkatan kadar asam
lemak bebas (FFA), bilangan iodin (IV), timbulnya kekentalan minyak,
terbentuknya busa, hanya kotoran dari bumbu yang digunakan dan bahan yang
digoreng (Ketaren, 1986).
13

Standar mutu minyak goreng dapat dilihat pada Tabel 2.2 berikut:
Tabel 2.2 Standar Mutu Minyak Goreng
No Kriteria Uji Persyaratan
1. Bau Normal
2. Rasa Normal
3. Warna Muda Jernih
4. Cita Rasa Hambar
5. Kadar Air Max 0,3%
6. Asam Lemak Bebas Max 0,3%
7. Titik Asap Max 200
8. Bilangan Iodin 45-51
(Sumber : SNI 3741 – 1995)

2.5.1 Sifat-sifat Minyak Goreng


Sifat-sifat minyak goreng dibagi ke sifat fisik dan sifat kimia (Ketaren,
1986), yakni :
1. Sifat Fisik
a. Warna
Terdiri dari 2 golongan, golongan pertama yaitu zat warna alamiah, yaitu
secara alamiah terdapat dalam bahan yang mengandung minyak dan ikut
terekstrak bersama minyak pada proses ekstrasi. Zat warna tersebut antara
lain α dan β karoten (berwarna kuning), xantofil (berwarna kuning
kecoklatan), klorofil (berwarna kehijauan) dan antosyanin (berwarna
kemerahan). Golongan kedua yaitu zat warna dari hasil degradasi zat
warna alamiah, yaitu warna gelap disebabkan oleh proses oksidasi
terhadap tokoferol (vitamin E), warna cokelat disebabkan oleh bahan
untuk membuat minyak yang telah busuk atau rusak, warna kuning
umumnya terjadi pada minyak tidak jenuh.
b. Odor dan flavor, terdapat secara alami dalam minyak dan juga terjadi
karena pembentukan asam-asam yang berantai sangat pendek.
c. Kelarutan, minyak tidak larut dalam air kecuali minyak jarak (castor oil),
dan minyak sedikit larut dalam alkohol, etil eter, karbon disulfide dan
pelarut-pelarut halogen.
d. Titik cair dan polymorphism, minyak tidak mencair dengan tepat pada
suatu nilai temperature tertentu. Polymorphism adalah keadaan dimana
terdapat lebih dari satu bentuk Kristal.
14

e. Titik didih (boiling point), titik didih akan semakin meningkat dengan
bertambah panjangnya rantai karbon asam lemak tersebut.
f. Titik lunak (softening point), dimaksudkan untuk identifikasi minyak
tersebut.
g. Sliping point, digunakan untuk pengenalan minyak serta pengaruh
kehadiran komponen-komponenya.
h. Shot melting point, yaitu temperature pada saat terjadi tetesan pertama dari
minyak atau lemak.
i. Bobot jenis, biasanya ditentukan pada temperature 25 °C dan juga perlu
dilakukan pengukuran pada temperature 40 °C
j. Titik asap, titik nyala dan titik api, dapat dilakukan apabila minyak
dipanaskan. Merupakan criteria mutu yang penting dalam hubungannya
dengan minyak yang akan digunakan untuk menggoreng.
k. Titik kekeruhan (turbidity point), ditetapkan dengan cara mendinginkan
campuran minyak dengan pelarut lemak.
2. Sifat Kimia
a. Hidrolisa, dalam reaksi hidrolisa, minyak akan diubah menjadi asam
lemak bebas dan gliserol. Reaksi hidrolisa yang dapat menyebabkan
kerusakan minyak atau lemak terjadi karena terdapatnya sejumlah air
dalam minyak tersebut.
b. Oksidasi, proses oksidasi berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah
oksigen dengan minyak. Terjadinya reaksi oksidasi akan mengakibatkan
bau tengik pada minyak dan lemak.
c. Hidrogenasi, proses hidrogenasi bertujuan untuk menumbuhkan ikatan
rangkap dari rantai karbon asam lemak pada minyak.
d. Esterifikasi, proses esterifikasi bertujuan untuk mengubah asam-asam
lemak dari trigliserida dalam bentuk ester. Dengan menggunakan prinsip
reaksi ini hidrokarbon rantai pendek dalam asam lemak yang
menyebabkan bau tidak enak, dapat ditukar dengan rantai panjang yan
bersifat tidak menguap.
15

2.6 Metanol
Metanol juga dikenal sebagai metil alkohol, wood alcohol atau spiritus,
adalah senyawa kimia dengan rumus kimia CH3OH. Metanol merupakan bentuk
alkohol paling sederhana. Pada keadaan atmosfer, metanol berbentuk cairan yang
ringan, mudah menguap, tidak berwarna, mudah terbakar, dan beracun dengan
bau yang khas (berbau lebih ringan daripada etanol).
Berikut sifat-sifat fisik dan kimia metanol pada Tabel 2.3 :
Tabel 2.3 Sifat-sifat Fisika dan Kimia Metanol
Karakteristik Jumlah
Massa molar 34.04 g/mol
Wujud Cairan tidak berwarna
Specific gravity 0.7918
Titik leleh -97 oC/142.9 oF (176 K)
Titik didih 64.7 oC/148.4 oF (337.8 K)
Kelarutan dalam air Sangat larut
Keasaman ~15.5
(Sumber : Pery, 1984)
Metanol digunakan sebagai bahan pendingin anti beku, pelarut, bahan
bakar dan sebagai bahan aditif bagi etanol industri. Metanol diproduksi secara
alami oleh metabolisme anaerobik oleh bakteri. Hasil proses tersebut adalah uap
metanol (dalam jumlah kecil) di udara. Setelah beberapa hari, uap metanol
tersebut akan teroksidasi oleh oksigen dengan bantuan sinar matahari menjadi
karbon dioksida dan air (Nurul, 2010).
Api dari metanol biasanya tidak berwarna. Oleh karena itu, kita harus
berhati-hati bila berada dekat metanol yang terbakar untuk mencegah cedera
akibat api yang tak terlihat. Karena sifatnya yang beracun, metanol sering
digunakan sebagai bahan additif bagi pembuatan alkohol untuk penggunaan
industri. Penambahan racun ini akan menghindarkan industri dari pajak yang
dapat dikenakan karena etanol merupakan bahan utama untuk minuman keras
(minuman beralkohol).

2.7 Kalium Hidroksida (KOH)


Kalium hidroksida merupakan senyawa anorganik dengan rumus kimia
KOH. Kalium hidroksida adalah basa kuat yang terbuat dari logam alkali kalium
yang bernomor atom 19 pada tabel periodik. Bentuk kristal, butir, serpih, padat,
16

batang yang berwarna putih sampai kuning, tidak berbau, mudah larut dalam air
dingin, air panas, dan tidak larut dalam dietil eter. Kalium hidroksida ialah salah
satu bahan kimia perindustrian utama yang digunakan sebagai bes dalam berbagai
proses kimia. Kalium hidroksida (KOH) disebut juga sebagai Potasy Kaustik
(Linggih, 1988).
Salah satu kegunaan KOH yang amat penting adalah untuk baterai alkali
yang menggunakan larutan KOH sebagai elektrolit. Oleh karena itu, kalium
hidroksida digunakan dalam pembuatan lampu senter dan barang-barang yang
menggunakan baterai. Kalium hidroksida digunakan sebagai fotografi dan
litografi, membuat sabun cair, mengabsorpsi karbon dioksida, menghilangkan cat
pernis, pewarna kain, dan tinta cetak. Dalam bidang pertanian, kalium hidroksida
digunakan untuk menetralkan pH tanah yang asam, juga dapat digunakan sebagai
fungisida dan herbisida. Kalium hidroksida dapat ditemukan dalam bentuk murni
dengan mereaksikan natrium hidroksida dengan kalium murni. Sifat – sifat kalium
hidroksida ditunjukkan pada Tabel 2.4 :
Tabel 2.4 Sifat-sifat Fisika dan Kimia Kalium Hidroksida
Krakteristik Jumlah
Berat Molekul 56,1047
Wujud Padat
Warna Putih atau kuning
PH 13,5 (0,1 M larutan)
Titik didih 2408oF
Titik lebur 680oF
Specific Gravity 2,04
(Sumber : MSDS, 1999)
17

BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1 Bahan – Bahan yang Digunakan


1. Minyak Goreng
2. Metanol
3. KOH Padat
4. KOH Cair 0,08415 N
5. Etanol 96%
6. Indikator PP
7. Vaselin
8. Akuades

1.2 Alat – Alat yang Digunakan


1. Reaktor Berpengaduk
2. Kondensor
3. Hot Plate
4. Statif dan Klep
5. Corong
6. Buret
7. Erlenmeyer
8. Gelas Kimia
9. Timbangan
10. Pipet tetes
11. Corong Pisah
12. Gelas Ukur

3.3 Prosedur Praktikum


3.3.1 Menentukan Kadar ALB Bahan Baku
1. Minyak ditimbang sebanyak 3 gram. Kemudian dilarutkan dengan
Etanol 96%.
2. Minyak yang dilarutkan dengan Etanol 96% kemudian dipanaskan
dengan menggunakan hot plate sampai mendidih.
18

3. Campuran diteteskan dengan indikator PP dan dititrasi dengan KOH


0,0845 M sampai terjadi perubahan warna merah muda.
4. Kadar ALB dihitung dengan menggunakan persamaan
𝑀𝑟 𝑚𝑖𝑛𝑦𝑎𝑘 x 𝑁𝐾𝑂𝐻 x 𝑉 𝐾𝑂𝐻
% 𝐴𝐿𝐵 = x 100%
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 x 1000

3.3.2 Proses Transesterifikasi


1. Reaktor tangki berpengaduk dirangkai.
2. 100 gram minyak dimasukkan kedalam reaktor tangki berpengaduk.
3. Pengaduk dihidupkan bersamaan dengan kondesor dan pemanasnnya.
4. Sebanyak 3 gram KOH ditimbang dan dilarutkan dengan 25 ml Metanol.
5. Setelah suhu mencapai 65°C, campuran Metanol dengan Katalis
dimasukkan kedalam reaktor tangki berpengaduk dan secara bersamaan
stopwatch dihidupkan.
6. Suhu proses dijaga konstan pada suhu 65°C selama 60 menit.
7. Setelah proses selesai, hasil yang diperoleh dimasukkan kedalam corong
pemisah.
8. Hasil didiamkan sampai terbentuknya Gliserol dan Metil Ester.
9. Gliserol yang berada dilapisan bawah dipisahkan dari metil ester dan
dimasukkan kedalam erlenmeyer.
10. Gliserol yang diperoleh ditimbang.
11. Metil ester dikeluarkan dari corong pemisah dan ditimbang.
12. Metil ester tersebut dimasuukan kembali kedalam corong pemisah dan
dicuci dengan akuades untuk menghilangkan impuritis.
13. Metil ester yang telah dipisahkan dengan pengotornya ditimbang dan
hitung yield produk dengan menggunakan persamaan
𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘
% 𝑦𝑖𝑒𝑙𝑑 = x 100%
𝑟𝑒𝑎𝑘𝑡𝑎𝑛
14. Kadar ALB pada Metil ester tersebut dihitung.
15. Lakukan percobaan yang sama dengan katalis KOH 4% dan 5%.
19

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Pada percobaan ini dengan menggunakan variasi konsentarsi KOH, serta
untuk bahan-bahan yang digunakan dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut:
Tabel 4.1 Data Bahan-bahan yang Digunakan pada Percobaan
Variasi Katalis
3% 4% 5%
Rasio 1:6 1:6 1:6
Berat minyak (gram) 100,17 100,13 100,22
Berat metanol (gram) 23,319 23,319 23,319
Volume metanol (ml) 29,5 29,5 29,5
Berat KOH (gram) 3,07 4,19 5,10
Waktu reaksi (menit) 60 60 60
Suhu reaksi (°C) 65 65 65

Pada tabel 4.2 berikut dapat dilihat hasil percobaan yang diperoleh melalui
reaksi tranesetrifikasi dengan variasi katalis dan juga diperoleh kadar ALB dan
yield dari hasil perhitungan dari biodiesel yang didapat.
Tabel 4.2 Data hasil percobaan reaksi transesterifikasi dengan variasi
katalis
Katalis (%) FAME FAME Gliserol ALB (%) Yield (%)
Sebelum Setelah
Dicuci (gr) Dicuci (gr)
3 41,56 27,71 75,15 0,32 22,44
4 12,06 7,2 102,56 0,35 5,83
5 - - 117,11 - -

Pada tabel 4.3 merupakan hasil dari perhitungan reaktan sisa yaitu
trigliserida dan metanol
Tabel 4.3 Data hasil perhitungan reaktan sisa
Katalis (%) Trigliserida (gr) Metanol (gr)
Awal Setelah Awal Setelah
Reaksi Reaksi
3 100,17 20,629 23,319 13,85
4 100,13 13,689 23,319 4,86
5 100,22 6,429 23,319 -
20

4.2 Pembahasan
Pada Tabel 4.2 dapat dilihat bahwa kadar ALB untuk katalis 3% wt dan
4% wt secara berturut-turut adalah 0,32% dan 0,35%, dimana nilai ini lebih
rendah jika dibandingkan dengan kadar ALB pada minyak goreng (bahan baku)
yaitu 0,36%. Karena pada katalis 5% wt tidak diperoleh FAME (fatty acid methyl
ester) maka dalam hal ini tidak bisa dilakukan penentuan kadar ALB.
Dalam percobaan yang telah dilakukan variabel yang digunakan variasi
jumlah KOH yang dalam % wt. Kehadiran KOH sebagai katalis membantu reaksi
untuk mempercepat menuju titik kesetimbangan dan akibatnya meningkatkan
konversi minyak. Peran katalis sangat penting karena alkohol hampir tidak larut
dalam minyak dan lemak. Katalis meningkatkan kelarutan dari metanol dan
dengan demikian meningkatkan laju reaksi. Oleh karena itu, peningkatan
konsentrasi KOH akan meningkatkan hasil FAME (Tomasevic et al, 2003).
Namun pada percobaan ini FAME yang dihasilkan semakin berkurang
seiring meningkatnya konsentrasi KOH. Hasil yang menurun dengan
meningkatnya konsentrasi katalis disebabkan oleh dampak pembentukan sabun.
Adanya sabun bisa melarutkan produk dalam air, menyulitkan pemisahan
biodiesel dengan gliserol, dan meningkatkan viskositas biodiesel (Abdullah et al,
2017). Menurut (Agarwal et al, 2011) bahwa pembentukan sabun menghalangi
fasa metil ester selama tahap pencucian. Partikel sabun membentuk emulsi dengan
air. Pembentukan sabun yang diproduksi dengan menetralkan asam lemak bebas
dalam minyak dan saponifikasi trigliserida. Pembentukan sabun adalah reaksi
samping yang tidak diinginkan karena sebagian dari sabun mengkonsumsi katalis,
menurunkan hasil biodiesel, dan mempersulit langkah pemisahan dan pemurnian
(Gemma et al, 2004).
21

Hubungan katalis dan yield dapat dilihat pada Gambar 4.1 berikut:
25

20

15
Yield %

10 y = -10.9x + 52.747
R² = 0.928
5

0
0 1 2 3 4 5 6
-5
Katalis %wt

Gambar 4.1 Grafik Hubungan antara Katalis dan Yield


Dari Grafik tersebut diperoleh R2 sebesar 0,928 yang menyatakan bahwa
konsentrasi katalis memiliki hubungan yang linear terhadap yield FAME yang
dihasilkan.
Dari Gambar 4.1 diatas dapat dilihat bahwa semakin besar konsentrasi
katalis maka semakin kecil yield yang dihasilkan. Yield terbesar dihasilkan pada
katalis dengan konsentrasi KOH 3% wt. Sedangkan pada yield dengan konsentrasi
KOH 5% wt adalah 0%. Sedikitnya hasil biodiesel yang dihasilkan menyebabkan
jumlah trigliserida pada produk semakin banyak. Hal ini disebabkan karena
tingginya jumlah katalis yang digunakan. Banyaknya jumlah katalis yang
digunakan ini menyebabkan reaksi transesterifikasi tidak berjalan pada kondisi
optimum. Kenaikan drastis diamati saat konsentarsi KOH 1 – 3% wt. Hasil
FAME mencapai nilai optimal ketika konsentrasi KOH mencapai tingkat tertentu
dan tetap relatif konstan dengan penigkatan konsentarsi KOH lebih lanjut (Rashid
et al, 2013).
22

BAB V
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
1. Biodiesel bisa dihasilkan melalui proses transesterifikasi dengan bantuan
katalis basa homogen yaitu KOH.
2. Semakin besar konsentrasi katalis yang digunakan maka semakin kecil
yield yang dihasilkan.

5.2 Saran
Dalam melakukan proses transesterifikasi pembuatan biodiesel alat dan
bahan yang digunakan harus terhindar dari kontaminasi air, karena air
menyebabkan terjadinya reaksi saponifikasi pembentukan sabun. Jika minyak
yang digunakan memiliki kada ALB >0,5% maka sebaiknya lakukan proses
esterifikasi terlebih dahulu agar saat proses transesterifikasi kadar ALB pada
produk kecil.
23

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Jaka D. J., Rodiansono. 2010. Optimasi Jumlah Katalis KOH dan
NaOH pada Pembuatan Biodiesel dari Minyak Kelapa Sawit Menggunakan
Kopelarut. Vol.4, No. 1
Abdullah, Rut N. R. S., Dahlena A., Iryanti F. N. Conversion of palm oil sludge to
biodiesel using alum and KOH as catalysts. Jurnal Sustainable Environment
Research. Volume 27. 291-295.
Agarwal, M., Garima, C. S. P. Chaurasia. Kailash, S. Study of catalytic behavior
of KOH as homogeneous and heterogeneous catalyst for biodiesel
production. Journal of the Taiwan Institute of Chemical Engineers 43
(2011). 89-94.
Bradshaw, George B., Meuly, Wlater C. 1944. Preparation of Detergent. US
Patent Office : 2,360,844.
Brahmana, H.R. Ginting, A. Ginting, M. Tarigan M. (1994). Sintesa Alkil Eter
dan Ester Selulosa Turunan Asam Lemak Kelapa Sawit (CPO) dan Inti
Sawit (CPKO) dengan Natrium Selulosa. Laporan Penelitian Hibah
Bersaing 1/3 Perguruan Tinggi 1993-1994.
BSN. 1995. Minyak Goreng. SNI 01-3741-1995. Badan Standarisasi
Destianna, M. 2007. Intensifikasi Proses Produksi Biodiesel. Jakarta
Fangrui, Ma., Milford A., Hanna. 1999. Biodiesel Production. Jurnal Bioresource
Technology. 70. 1–5.
Freedman, B., Prede E.H and Mounts, T.L. 1984. Variable Affecting The Yiled of
Fatty Ester from Transesterified Vegetable Oils. JAOCS,61(10): 1640-1642.
Gemma, V., Mercedes M., José A. Integrated biodiesel production: a comparison
of different homogeneous catalysts systems, Bioresource Technology 92
(2004) 297-305.
Hambali, E. 2006. Jarak Pagar Tanaman Penghasil Biodiesel. Jakarta: Penebar
Swadaya.
Hikmah, M.N., and Zuliyana. 2010. Pembuatan Metil Ester (Biodiesel) dari
Minyak Dedak dan Metanol dengan Proses Esterifikasi dan
Transesterifikasi. Skripsi, Universitas Diponegoro.
24

Kartika, D., and Senny W. Konsentrasi Katalis dan Suhu Optimum pada Reaksi
Esterifikasi menggunakan Katalis Zeolit Alam Aktif (ZAH) dalam
Pembuatan Biodiesel dari Minyak Jelantah. Jurnal Natur Indonesia 14
(2012). 219-226.
Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Penerbit
Universitas Indonesia: Jakarta.
Linggih, S. R. and P. Wibowo.1988. Ringkasan Kimia. Ganeca. Exact Bandung.
ITB Bandung
Perry, R.H., and Green, D.W. 1984. Perry’s Chemical Engineering Handbook.
6th ed. McGraw-Hill Book Company. Inc. New York.
Prasetyo, A. E., Anggra W., Widayat. Potensi Gliserol Dalam Pembuatan
Turunan Gliserol Melalui Proses Esterifikasi. Jurnal Ilmu Lingkungan.
Volume 10 (2012), Issue 1: 26-25
Puspita, A. 2008. Kinetika Reaksi dalam Proses Pembuata Biodiesel dari CPO
dengan Proses Esterifikasi, USU : Medan
Rasyid, W. N. W., Toshimitsu U. Katsuki K. Noridah B. O. Bawadi A. Synthesis
of Biodiesel from Palm Oil in Capillary Millichannel Reactor: Effect of
Temperature, Methanol to Oil Molar Ratio, and KOH Concentration on
FAME Yield. Procedia Chemistry Elsevier 9 (2013). 165-171.
Richtler, H.J. and Knault, J. 1984. Challenges To A Mature Industry, Marketing
Economics of Oleochemicals in Western Europe. J.am.oil.chem.soc.vol.61
Soerawidjaja, T. H., Prakoso T., Reksowardojo, Iman K. 2005. Prospek, Status
dan Tantangan Penegakan Industri Biodiesel di Indonesia. Yogyakarta.
Universitas Gajah Mada.
Tomasevic AV, Silver-Marinkovic SS. Methanolysis of used frying oil. Fuel
Process Technol 2003; 81(1): 1-6.
Utami, T. S., Rita A., Doddy N. Kinetika Reaksi Transesterifikasi CPO terhadap
Produk Metil Palmitat dalam Reaktor Tumpak. Institut Teknologi Sepuluh
November (2007). ISSN 1410-5667
25

LAMPIRAN I
DOKUMENTASI

Gambar.1 Rangkaian Alat Gambar.2 Pemanasan Minyak


praktikum Oleokimia + Etanol

Gambar.3 Campuran Gambar.4 Penimbangan


Minyak dan etanol yang telah minyak 100 gr
di titrasi
26

Gambar.5 Pencampuran
Gambar.4 Gambar.6 Pemisahan produk
Minyak dan metanol kedalam dengan gliserol
reaktor pengaduk

Gambar.7 Pemisahan metil Gambar.8 Metil Ester


ester dengan pengotor
menggunakan akuades
27

LAMPIRAN II
PERHITUNGAN

A. Menentukan Volume Metanol


Massa minyak : 100 gr
Rasio : 1:6
𝑀𝑎𝑠𝑠𝑎 100
 Mol Minyak (n) = = = 0,1214548 𝑚𝑜𝑙
𝑀𝑟 823,3514

 Mol Metanol (n) = 𝑀𝑜𝑙 𝑀𝑖𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑋 6


= 0,1214548 𝑋 6
= 0,7287288 mol
 Berat Metanol (gr) = 𝑀𝑟 𝑥 𝑀𝑜𝑙 𝑚𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙
= 32 𝑋 0,7287288 mol
= 23,31932 mol
𝑀𝑟 𝑀𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙 𝑋 𝑚𝑜𝑙 𝑚𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙
 Volume Etanol = 𝜌𝑚𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙

B. Kadar ALB
1. Kadar ALB Minyak Goreng
Berat minyak : 3 gr
Volume etanol : 25 ml
Normalitas KOH : 0,08415 N
Volume KOH : 0,5 ml
𝑀𝑟 𝑚𝑖𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑋 𝑁 𝐾𝑂𝐻 𝑥 𝑉 𝐾𝑂𝐻
%𝐴𝐿𝐵 = 𝑥 100 %
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑋 1000

288,45 𝑋 0,08415 𝑥 0,5


%𝐴𝐿𝐵 = 𝑋 100 %
3 𝑋 1000

%𝐴𝐿𝐵 = 0,36 %
28

2. Kadar ALB Pada FAME Katalis 3%


Berat minyak : 3,07 gr
Volume etanol : 25 m
Normalitas KOH : 0,08415 N
Volume KOH : 0,4 ml

𝑀𝑟 𝑚𝑖𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑋 𝑁 𝐾𝑂𝐻 𝑥 𝑉 𝐾𝑂𝐻


%𝐴𝐿𝐵 = 𝑥 100 %
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑋 1000

288,45 𝑋 0,08415 𝑥 0,4


%𝐴𝐿𝐵 = 𝑥 100 %
3,07 𝑋 1000
%𝐴𝐿𝐵 = 0,32 %

3. Kadar ALB Pada FAME Katalis 4%


Berat minyak : 3,07 gr
Volume etanol : 25 ml
Normalitas KOH : 0,08415 N
Volume KOH : 0,6 ml

𝑀𝑟 𝑚𝑖𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑋 𝑁 𝐾𝑂𝐻 𝑥 𝑉 𝐾𝑂𝐻


%𝐴𝐿𝐵 = 𝑥 100 %
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑋 1000

288,45 𝑋 0,08415 𝑥 0,6


%𝐴𝐿𝐵 = 𝑥 100 %
3,07 𝑋 1000

%𝐴𝐿𝐵 = 0,35 %

4. Kadar ALB pada FAME katalis 5 %


Karena tidak diperoleh metil ester, jadi tidak dilakukan perhitungan
penentuan kadar ALB pada FAME katalis 5 %
29

C. Perhitungan Yield
1. Katalis 3%
Produk = Metil Ester = 27,71 gr
Reaktan = Minyak Goreng, metanol = 123,489 gr
𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘
Yield = 𝑅𝑒𝑎𝑘𝑡𝑎𝑛 𝑋 100 %
27,71
= 123,489 𝑋 100 %

= 22,44 %
2. Katalis 4%
Produk = Metil Ester = 7,2 gr
Reaktan = Minyak Goreng, Metanol = 123,449 gr
𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘
Yield = 𝑅𝑒𝑎𝑘𝑡𝑎𝑛 𝑋 100 %
7,2
= 123,449 𝑋 100 %

= 5,83 %
3. Katalis 5%
Karena tidak diperoleh produk maka tidak dilakukan penentuan yield.

D. Neraca Massa

Metanol Reaktor
Reaktor Trigliserida
KOH FAME
KOH
Gliserol
Trigliserida Metanol

1. Katalis 3 %
Mol Komponen :
100,17
- Trigliserida : 823,3514 = 0,1216 mol

- Metanol : 0,729 mol


3,07
- KOH : 56
= 0,0548 mol
30

41,56
- FAME sebelum dicuci : 288,95 = 0,1438 mol
27,71
- FAME setelah dicuci : 288,95 = 0,0958 mol
75,15
- Gliserol : = 0,816 mol
92

Massa Komponen :
- Trigliserida : 100,17 gram
- Metanol : 23,319 gram
- KOH : 3,07 gram
- FAME sebelum dicuci : 41,56 gram
- FAME setelah dicuci : 27,71 gram
- Gliserol : 75,15 gram
Produk :
- Trigliserida : 123,489 – 27,71 – 75,15 = 20,629 gram
- Gliserol : 75,15 gram
- FAME setelah dicuci : 27,71 gram
- Metanol + KOH : 41,56 – 27,71 = 13,85 gram
- Metanol : 13,85 gram
- KOH :-

2. Katalis 4 %
Mol komponen :
100,13
- Trigliserida : 823,3514 = 0,1216 mol

- Metanol : 0,729 mol


4,19
- KOH : 56
= 0,074 mol
12,06
- FAME sebelum dicuci : = 0,0417 mol
288,95
7,2
- FAME setelah dicuci : 288,95 = 0,0249 mol
102,56
- Gliserol : = 1,1147 mol
92
31

Massa Komponen :
- Trigliserida : 100,13 gram
- Metanol : 23,319 gram
- KOH : 4,19 gram
- FAME sebelum dicuci : 12,06 gram
- FAME setelah dicuci : 7,2 gram
- Gliserol : 102,56 gram
Produk :
- Trigliserida : 123,449 – 7,2 – 102,56 = 13,689 gram
- Metanol : 4,86 gram
- KOH :-
- Metanol + KOH : 12,06 – 7,2 = 4,86 gram
- FAME setelah dicuci : 7,2 gram
- Gliserol : 102,56 gram

3. Katalis 5 %
Mol komponen :
100,22
- Trigliserida : 823,3514 = 0,1217 mol

- Metanol : 0,729 mol


5,10
- KOH : = 0,091 mol
56

- FAME sebelum dicuci :−


- FAME setelah dicuci :−
- Gliserol : 117,11 𝑔𝑟𝑎𝑚
Massa Komponen :
- Trigliserida : 100,22 gram
- Metanol : 23,319 gram
- KOH : 5,10 gram
- FAME sebelum dicuci :-
- FAME setelah dicuci :-
- Gliserol : 117,11 gram
32

Produk :
- Trigliserida : 123,539 – 0 – 117,11 = 6,429
- Metanol :-
- KOH :-
- Metanol + KOH :-
- FAME setelah dicuci :-
- Gliserol : 117,11 gram