You are on page 1of 8

KONVERGENSI IFRS : IMPLIKASINYA PADA INFORMASI AKUNTANSI

SEBAGAI DASAR PENGAMBILAN KEPUTUSAN DI PASAR MODAL

ARTIKEL

Ditulis Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Teori Akuntansi

Dosen Pengampu : Puji Harto, PhD,Ak,CA

Disusun Oleh :

Suhita Whini Setyahuni 12030117420059

Angkatan XXXVIII Kelas A

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS

UNIVERSITAS DIPONEGORO

2018
STATEMENT OF AUTHORSHIP

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa tugas terlampir adalah murni hasil
pekerjaan saya sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang saya gunakan tanpa menyebutkan
sumbernya.
Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk makalah/tugas pada
mata kuliah lain kecuali saya menyatakan dengan jelas bahwa saya menggunakannya.
Saya memahami bahwa tugas yang saya kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau
dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.”

Mata Kuliah : Teori Akuntansi


Judul Artikel : Konvergensi IFRS : Implikasinya Pada Informasi Akuntansi

Sebagai Dasar Pengambilan Keputusan Di Pasar Mod

Tanggal : 18 Juli 2018


Dosen Pengampu : Puji Harto, PhD,Ak,CA

Yang menyatakan,

Suhita Whini Setyahuni


Pendahuluan

Pasar modal merupakan sebuah tempat dimana terjadi arus modal baik dari dalam
maupun luar negeri. Pasar modal merupakan pilihan sumber pendanaan bagi perusahaan untuk
mendapatkan tambahan modal selain dari sector perbankan. Pasar modal juga memfasilitasi
para penyandang dana, yang dikenal dengan sebutan investor,untuk menginvestasikan dananya
pada perusahaan yang sesuai dengan karakteristik dan pilihan investor itu sendiri. Dengan
demikian, pemanfaatan dana dari pemilik modal akan lebih optimal melalui perantara pasar
modal.

Setiap pilihan investasi pasti mengandung resiko. Berinvestasi melalui pasar modal
juga memiliki resiko, disamping tingkat return yang menjanjikan bagi investor. Berbagai
kejadian fraud yang dilakukan oleh perusahaan dengan memanipulasi angka-angka akuntansi
dan menyebabkan kerugian bagi investor dan kreditur telah mewarnai dunia pasar modal.
Kasus yang paing terkenal sepanjang sejarah adalah kasus Enron pada 2001 silam, perusahaan
raksasa tambang asal US yang memanipulasi laporan keuangannya dengan menyeret auditor
eksternal sekelas Arthur Anderson untuk membantu menjalankan niat jahatnya. Dampak kasus
Enron sangat mengguncang pasar saham dunia. Kasus Enron juga berdampak pada kredibilitas
Kantor Akuntan Publik dan juga profesionalitas akuntan.

Berkaca dari kasus Enron, pasar modal kemudian menerapkan peraturan-peraturan dan
semakin meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas perdagangan sekuritas di pasar modal.
Perusahaan yang mendaftarkan diri di bursa wajib menyampaikan informasi melalui annual
report yang telah di audit oleh auditor independen. Keterlambatan penyampaian laporan akan
diberikan sanksi. Badan regulator pasar modal menciptakan seperangkat peraturan dalam
rangka melindungi kepentingan investor dan kreditur serta menjaga agar aktivitas pasar modal
tetap berjalan normal.

Selain resiko dan return, ada hal hal lain yang menjadi pertimbangan investor
melakukan investasi di pasar modal.investor akan mempertimbangkan banyak aspek
perusahaan melalui informasi yang diperolehnya, kemudian mengambil keputusan yang tepat
menggunakan informasi tertentu. Deegan (2007) menyatakan bahwa tingkat kecepatan pelaku
pasar modal dalam menyerap informasi dinyatakan dalam Hipotesis Efisiensi Pasar atau
(EMH). Bentuk efisiensi pasar dibedakan menjadi tiga. Pertama efisiensi bentuk lemah, dimana
pasar hanya menyerap informasi historis yang tersedia di pasar modal, dimana laporan
keuangan perusahaan pada dasarnya memang merupakan data masa lalu. Kedua, efisiensi
bentuk semi kuat. Efisiensi bentuk semi kuat diartikan bahwa pasar menyerap semua informasi
yang tersedia di pasar. Sedangkan bentuk efisiensi yang ketiga adalah efisiensi bentuk kuat,
dimana pasar tidak hanya menyerap informasi yang tersedia atau sudah dipublikasikan, namun
juga menyerap informasi yang bersifat privat atau belum di publikasikan. Dalam kondisi ini,
pasar berada dalam kondisi yang sangat ideal dan akses informasi tanpa batas. Semakin efisien
pasar, maka akan mengecilkan peluang investor untuk mendapatkan kesempatan memperoleh
tingkat return diatas abnormal (abnormal return).

Dari teori Eficiency Market Hypotheses (EMH) tersebut, kemudian banyak peneliti
yang ingin menguji konten nformasi yang disajikan dalam laporan keuangan, apakah memang
benar-benar dapat memberikan pengaruh terhadap keputusan investor yang tercermin dalam
harga saham. Satu hal yang perlu dipertimbangkan, perkembangan arus informasi semakin
cepat dari waktu ke waktu. Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat telah
mendukung persebaran arus informasi menjadi sedemikian lebih cepat dibandingkan pada
waktu yang lalu. Deegan (2007) menyatakan bahwa para investor telah mengantisipasi adanya
informasi pengumuman laba yang dilakukan oleh perusahaan, dalam artian telah memprediksi
seberapa tingkat laba dan telah menghitung perkiraan tingkat return yang diperoleh dan telah
tercermin dalam harga saham pada saat itu. Hal ini disebabkan karena informasi yang diberikan
perusahaan hanya bersifat tahunan, sedangkan transaksi investor di bursa bersifat harian.
Investor dengan sendirinya aktif mencari tahu mengenai informasi kinerja perusahaan dan
menggunakan prediksi untuk menghitung tingkat return yang kemungkinan dia akan peroleh.
Dengan demikian pada saat perusahaan menyampaikan informasi, pasar tidak menunjukkan
reaksi yang berlebihan. Dari fenomena tersebut kemudian timbul pertanyaan, lalu apakah
informasi akuntansi telah kehilangan relevansinya di dalam pengambilan keputusan investasi
yang dilakukan oleh investor? Jika konten informasi yang dimaksud hanya laba, maka investor
tentu tidak bisa mengambil keputusan secara lebih tepat, mengingat laba adalah produk akrual.

Dalam laporan keuangan banyak informasi yang disajikan selain laba, seperti asset dan
liabilitas. Namun kembali pada pertanyaan, apakah masih relevan digunakan? Mengingat
pengukuran yang dilakukan dalam informasi tersebut menggunakan prinsip historical cost dan
sudah bersifat masa lalu. Para akuntan terus berfikir agar informasi akuntansi tetap dapat
relevan digunakan untuk berbagai tujuan pengambilan keputusan penggunanya. Pada
perkembangan selanjutnya, IFRS hadir dengan mengusung konsep baru yaitu prinsip yang
dikenal dengan current value. Dengan telah bergesernya pradigma historical cost menuju
current value, IFRS berusaha meningkatkan tingkat relevansi informasi akuntansi, agar tetap
relevan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan oleh pengguna informasi. Selanjutnya
problem yang muncul adalah apakah ada perbedaan relevansi informasi akuntansi pada periode
sebelum dan sesudah penerapan IFRS? Pada pembahasan selanjutnya akan dipaparkan
berbagai riset yang meneliti mengenai hal tersebut.

Konvergensi IFRS dan Pengaruhnya Terhadap Pasar Modal

Baskerville (2010) dalam Utami, et al. (2012) mengungkapkan bahwa konvergensi


dapat berarti harmonisasi atau standardisasi, namun harmonisasi dalam konteks akuntansi
dipandang sebagai suatu proses meningkatkan kesesuaian praktik akuntansi dengan
menetapkan batas tingkat keberagaman. Jika dikaitkan dengan IFRS maka konvergensi dapat
diartikan sebagai proses menyesuaikan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) terhadap IFRS.
Lembaga profesi akuntansi IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) menetapkan bahwa
Indonesia melakukan adopsi penuh IFRS pada 1 Januari 2012. Penerapan ini bertujuan agar
daya informasi laporan keuangan dapat terus meningkat sehingga laporan keuangan dapat
semakin mudah dipahami dan dapat dengan mudah digunakan baik bagi penyusun, auditor,
maupun pembaca atau pengguna lain.
Para peneliti telah banyak yang melakukan penelitian untuk menguji dampak informasi
akuntansi setelah penerapan IFRS terhadap pasar modal khusunya dalam membentuk harga
saham. Penelitian yang dilakukan oleh Suprihatin (2013) meneliti tentang Dampak
Konvergensi IFRS terhadap Nilai Relevan Informasi Akuntansi dalam kurun waktu lima tahun
mulai tahun 2006 sampai dengan tahun 2011. Dengan menggunakan sampel perusahaan yang
terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) sebanyak 107 per tahun, sehingga total 642 sampel,
penelitian ini menguji relevansi nilai buku ekuitas dan nilai laba pada periode sebelum dan
sesudah konvergensi IFRS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada periode awal IFRS,
terbukti tidak meningkatkan relevansi nilai buku ekuitas terhadap harga saham dibandingkan
dengan sebelum penerapan IFRS. Namun, pada periode awal tersebut terjadi peningkatan
relevansi nilai laba terhadap harga saham dibandingkan dengan periode sebelum penarapan
IFRS. Hal ini disebabkan karena pada masa awal penerapan IFRS, masih banyak keterbatasan
PSAK yang berbasis IFRS, sehingga investor belum dapat melihat peningkatan kualitas nilai
buku ekuitas, tetapi sudah mulai dapat menilai adanya peningkatan kualitas nilai laba yang
disajikan dalam laporan keuangan. Hasil selanjutnya pada periode tahap lanjut penerapan
IFRS, terjadi peningkatan relevansi baik nilai buku ekuitas maupun nilai laba terhadap harga
saham. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak PSAK yang berbasis IFRS telah
dipersepsikan oleh investor sebagai adanya peningkatan kualitas informasi akuntansi dalam
laporan keuangan, terutama untuk nilai buku ekuitas dan nilai laba.
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Gilang pada tahun 2016, yang meneliti tentang
return saham dan abnormal return pada periode sebelum dan seduah penerapan IFRS.
Penelitian ini dilakukan selama dua tahun periode 2011 sampai dengan 2012 pada perusahaan
yang listing di BEI, yang hasilnya menunjukkan bahwa adanya perbedaan return saham pada
periode setelah diterapkannya IFRS. Pada periode setelah IFRS, return saham cenderung
meningkat. Hal ini disebabkan penerapan IFRS dianggap sebagai good news bagi investor
sehingga dapat meningkatkan return saham. Penemuan ini sejalan dengan penelitian Ball and
Brown (1968) yang menyatakan bahwa tipe informasi dapat berupa bad news dan good news
yang keduanya berpengaruh dalam membentuk return saham. Hasil selanjutnya dari penelitian
ini adalah abnormal return tidak mengalami perbedaan pada periode setelah penerapan IFRS.
Hal ini disebabkan karena pada saat setelah penarapan IFRS, semua investor mendapatkan
tingkat informasi yang sama, sehingga tidak ada satu investor yang menerima informasi lebih
baik daripada investor yang lainnya. Kondisi tersebut menyebabkan investor sulit mendapatkan
abnormal return saham pada masa setelah diterapkannya IFRS.
Penelitian berikutnya dilakukan oleh Del Pillar (2016) yang meneliti tentang apakah
ada peningkat relevansi nilai informasi akuntansi dan peningkatan earning timeliness pada
periode setelah penerapan IFRS. Dengan menggunakan sampel 923 perusahaan di Amerika
Latin yang meliputi Argentina, Brazil, Chili, dan Meksiko selama periode 14 tahun dari 2000
sampai dengan 2014, didapatkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa penerapan IFRS
telah meningkatkan relevansi nilai informasi akuntansi. Del Pillar lebih jauh mengungkapkan
bahwa penerapan IFRS telah membawa dampak tidak hanya pada kualitas standar akuntansi
dan informasi akuntansi sebagai outputnya, tetapi juga pada nilai relevansi informasi dan
konservatisme pasar. Hasil penelitian selanjutnya adalah penerapan IFRS hanya berdampak
pada earning timeliness pada perusahaan-perusahaan besar di Brazil, Meksiko, dan Chili.
Sedangkan di Argentina, penerapan IFRS dianggap sebagai bad news yang menimbulkan
implikasi reaksi penurunan earning timeliness.
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Elbakry (2017) yang meneliti tentang dampak
penerapan IFRS terhadap relevansi nilai informasi akuntansi pada perusahaan di Jerman dan
UK. Penelitian ini menggunakan total sampel 5357 perusahaan, yang terdiri dari 1979
perusahaan UK dan 3378 perusahaan Jerman dalam kurun waktu 6 tahun mulai tahun 2001
sampai dengan 2007. Penelitian ini menggunakan tiga model. Model pertama dengan model
dasar Ohlson, didapat hasil penurunan relevansi nilai buku ekuitas pada perusahaan UK dan
Jerman, tetapi diimbangi dengan peningkatan relevansi nilai laba pada perusahaan di kedua
negara setelah adopsi IFRS. Model kedua dengan model modifikasi Ohlson, didapatkan hasil
bahwa ada perbedaan nilai relevansi incremental baik nilai laba dan nilai buku ekuitas yang
llebih tinggi di UK daripada Jerman setelah penerapan IFRS. Model ketiga adalah model
pengembangan dari model Ohlson, yang kemudian mendapatkan hasil adanya peningkatan
signifikan pada kekuatan prediksi nilai buku ekuitas di perusahaan UK daripada dampak nyata
dari relevansi nilai laba perusahaan Jerman. Lebih lanjut Elbakry mengungkapkan bahwa
penerapan IFRS memberikan manfaat penurunan asimetri informasi dan earning
mismanagement pada perusahaan yang listing di bursa UK dan Jerman.
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Tsalavoutas (2012) yang menguji relevansi nilai
buku ekuitas dan laba bersih pada periode sebelum dan sesudah penerapan IFRS di Yunani.
Penelitian ini dilakukan pada periode empat tahun sebelum penerapan IFRS dan empat tahun
sesudah penerapan IFRS, dari tahun 2001 sampai 2008 dengan menggunakan sampel 945
perusahaan untuk periode sebelum penerapan IFRS dan 916 perusahaan untuk periode sesudah
penerapan IFRS. Hasil penelitian ini cukup mengejutkan peneliti, dimana tidak ada perubahan
signifikan dari relevansi nilai buku ekuitas dan laba bersih. Tsalavoutas menjelaskan hal ini
terjadi karena para pelaku pasar melihat adanya informasi tambahan yang tersedia setelah
adanya penerapan IFRS dan menganggapnya sebagai relevansi nilai incremental. Dimana
menurut Biddle (1995) dalam membandingkan dua sumber informasi, salah satu informasi
tersebut dapat memiliki relevansi yang lebih besar, lebih kecil, ataupun sama dibandingkan
dengan sumber yang lainnya. Relevansi nilai incremental diartikan bahwa salah satu sumber
informasi dapat memberikan informasi yang lebih atau melampaui dari yang diberikan sumber
informasi lainnya.

Kesimpulan
Dari beberapa penelitian empiris yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa penerapan
IFRS membawa dampak pada peningkatan relevansi nilai informasi akuntansi yang dapat
digunakan investor untuk menghasilkan keputusan yang lebih baik. Para pelaku pasar modal
meyakini bahwa penerapan IFRS mampu meningkatkan kualitas standar akuntansi dalam
menghasilkan informasi akuntansi yang memiliki kualitas yang lebih baik. Penerapan IFRS
juga memberikan dampak positif bagi penurunan asimetri informasi dan juga kesalahan
manajemen dalam pengukuran laba. IFRS dianggap memberikan pengukuran laba yang lebih
baik dibandingkan dengan GAAP.
DAFTAR PUSTAKA

Ball and Brown. 1968. An Empirical Evaluation of Accounting Income Numbers

Biddle. 1995. The Predictive Ability and Value Relevance of Accounting Measures

Deegan. 2007. Financial Accounting Theory. Mc Graw Hill Australia

Del Pilar Rodr´iguez Garc´ia, Martha, Alejandro, Klender Aimer Cortez, S´aenz, Alma
Berenice M´endez, S´anchez, H´ector Horacio Garza, Does an IFRS adoption increase value
relevance and earnings timeliness in Latin America?, Emerging Markets Review (2016)

Edwantiar,Gilang. 2016. Reaksi Pasar Sebelum Dan Sesudah Penerapan Konvergensi PSAK
Pada Perusahaan Di Bursa Efek Indonesia. Artikel Ilmiah Mahasiswa Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Jember.

Elbakry et al. 2017. Comparative evidence on the value relevance of IFRS-based


accounting information in Germany and the UK. Journal of International Accounting,
Auditing and Taxation 28 (2017) 10-30

Suprihatin, Siti. Dampak Konvergensi International Financial Reporting Standards Terhadap


Nilai Relevan Informasi Akuntansi. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Desember
2013, Vol. 10, No. 2, hal 171- 183

Tsalavoutas et al. The transition to IFRS and the value relevance of financial statements in
Greece. The British Accounting Review 44 (2012) 262–277

http://warsidi-akuntan.tripod.com/tesis/metode_penelitian.htm diakses pada 13 Juli 2018.

https://elraihany.wordpress.com/2013/04/24/konvergensi-ifrs-di-indonesia-perkembangan-
dan-dampaknya-terhadap-bisnis-dan-auditor/ diakses pada 13 Juli 2018.