You are on page 1of 11

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kami
panjatkan puji syukur atas kehadiran-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan
inayah-Nya kepada kami, sehimgga kami dapat menyelesaikan makalah tentang pentingnya
penguasaan ilmu.
Makalah ini disusun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak
sehingga memperlancar pembuatan makalah ini. Dan harapan kami semoga makalah ini
dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembara.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin masih
banyak kekuranagan dalam makalah ini. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan saran
yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Duri, Februari 2019

Penyusun,

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................................................1
DAFTAR ISI.........................................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................................3
A. Latar Belakang...............................................................................................................3
B. Tujuan ...........................................................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN......................................................................................................4
A. Ilmu Dalam Islam...........................................................................................................4
B. Hukum Menuntut Ilmu..................................................................................................5
C. Dalil Menuntut Ilmu......................................................................................................5
D. Keutamaan Menuntut Ilmu............................................................................................6
E. Menuntut Ilmu Sebagai Ibadah......................................................................................7
F. Adab Menuntut Ilmu.....................................................................................................7
G. Tujuan Menuntut Ilmu...................................................................................................8
BAB III PENUTUP..............................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................11

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Ilmu adalah suatu yang sangat menonjol dalam agama islam, hal ini dapat dilihat
dalam Al-Qur’an maupun sunnah. Hal ini menunjukkan bahwa manusia diwajibkan unruk
mengembangkan ilmu pengetahuan baik agama maupun sosial. Dijelaskan juga bahwa
antara orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu memiliki kedudukan yang sangat
berbeda jauh.
Selain itu dengan pendidikan yang baik, tentu akhlak manusiapun juga akan semakin
baik. Tapi pada kenyataannya dalam hidup ini banyak orang yang menggunakan akal dan
kepintarannya untuk kemaksiatan. Hal ini terjadi karena ketidakseimbangan antara ilmu
dunia dan akhirat. Disinilah alasan mengapa ilmu agama sangat penting diajarkan kepada
anak sebelum anak tersebut menerima ilmu dunia dan islam memandang ilmu sebagai suatu
yang pokok dalam ajaran islam dan menjadi suatu yang wajib dimiliki oleh setiap muslim.

B. TUJUAN
Untuk memenuhi tugas Pendidikan Agama Islam

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Ilmu dalam islam


Islam adalah agama yang mengutamakan sebuah ilmu. Dalam islam diwajibkan untuk
semua individu muslim untuk menuntut ilmu. Selain belajar ilmu-ilmu yang bermaktub Al-
Qur’an dan sunnah seorang muslim juga dianjurkan untuk memplajari ilmu yang bersifat
kejadian alam maupun yang lainnya, dan akan menghasilkan ilmu ilmu lain seperti ilmu
astronomi, ilmu bumi, ilmu sosial. Selain itu dalam Al-Qur’an Allah berfirman bahwa
derajat orang yang berilmu sangat tinggi melebihi ‘abid (Ahli Ibadah).
Keutamaan disini dimaksudkan bahwa orang yang beribadah dengan ilmu dan orang
yang beribadah tanpa tahu ilmunya akan berbeda nilainya dari segi pahala yang diperoleh.
Allah beriman dalam surat Al-Maidah ayat 11: yang artinya Allah akan meninggikan orang-
orang yang beriman siantaramu dan orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
Setelah itu pada ayat ke 4-5 pada surat Al-Alaq:
disamping lidah untuk membaca, Tuhan pun mentakdirkan bahwa dengan pena ilmu
dapat dicatat, dapat pula diartikan dengan sarana dan usaha.
Dari ayat diatas kita dapat menjelaskan dua cara yang ditempuh Allah SWT dalam
mengajarkan manusia, pertama melalui pena (tulisan) yang harus dibaca oleh setiap
manusia dan yang kedua melalui pengajaran secara langsung tanpa alat. Cara ini dikenal
dengan Ilmu ladunni.
Allah melengkapi menusia dengan pendengaran, penglihatan, akal dan hati. Jadi ilmu
dapat diperoleh melalui pendengaran dan penglihatan, kemudian diproses dalam pikiran,
sedangkan hati untuk menimbang apakah ilmu itu dapat mendekatkan diri pada Allah atau
bahkan menjauhkan.
Segala sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah dan petunjuk-petunjuk pada arah
tersebut adalah terpuji. Ilmu hanya berguna jika dijadikan alat untuk mendekatkan diri
kepada Allah, jika tidak maka ilmu akan menjadi penghalang besar.
Jadi tujuan sebenarnya adalah bahwa ilmu itu untuk mendekatkan diri kepada Allah,
contohnya melalui ilmu tentang bumi, bagaimana langit diciptakan membuat kita semakin
menambah keimanan kita kepada Allah.
Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa fungsi penciptaan manusia di alam ini adalah
sebagai kholifah. Untuk melaksanakan fungsi ini Allah SWT membekali manusia dengan

4
seperangkat potensi dalam diri, maksudnya berkemampuan menciptakan sesuatu yang
berguna bagi dirinya, masyarakat dan lingkungannya.
Fungsi asasi hidup manusia adalah kholifah(wakil) Allah diatas alam ini untuk
menerjemahkan, menjabarkan sifat-sifat Allah yang maha tahu itu dalam batas kemanusiaan.

B. Hukum menuntut ilmu


Apabila kita memperhatikan isi Al-Qur’an dan sunnah, maka terdapatlah beberapa
suruhan yang mewajibkan bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan untuk
menuntut ilmu agar mereka tergolong menjadi umat yang cerdas dan jauh dari kabut
kejahilan maupun kebodohan.
Menuntut ilmu artinya berusaha menghasilkan segala ilmu, baik dengan jalan
menanya, melihat atau mendengar. Perintah kewajiban menuntut ilmu terdapat dalam hadist
Nabi Muhammad SAW yang artinya :
“ Menuntut ilmu adalah fardhu bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun
perempuan”. (HR. Ibn Abdulbari)
Dari hadist ini kita memperoleh perngertian bahwa islam mewajibkan pemeluknya
agar menjadi orang berilmu, berpengetahuan, mengetahui segala kemaslahatan dan jalan
kemanfaatan; menyelami hakikat alam, dapat meninjau dan menganalisa segala pengalaman
yang didapati oleh umat yang lalu, baik yang berhubungan dengan ‘aqaid dan ibadah, baik
yang berhubungan soal-soal keduniaan dan segala kebutuhan hidup.
Ilmu yang diamalkan sesuai dengan perintah-perintah syara’. Hukum perintah
menuntut ilmu itu adakalanya wajib ‘ain dan adakalanya wajib kifayah. Sedangkan ilmu
yang wajib kifayah hukum mempelajarinya ialah ilmu-ilmu yang hanya menjadi pelengkap,
misalnya ilmu tafsir, ilmu hadist dan sebagainya. Ilmu yang wajib ‘ain dipelajari oleh
mukallaf yaitu yang perlu diketahui untuk meluruskan aqidah yang wajib dipercaya oleh
seluruh muslimin dan yang perlu diketahui untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang
difardhukan atasnya seperti sholat, puasa, zakat, dan haji.

C. Dalil tentang menuntut ilmu


Dalam Al-Qur’an banyak sekali dalil tentang keutamaan menuntut ilmu ini
menunjukan bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi umat manusia sejak lahir
sampai mati. “ Allah akan mengangkat orang-orang yang mempunyai ilmu diantara kamu
beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadallah:11)
Dari ayat diatas jelaslah bahwasannya orang yang memiliki ilmu derajatnya lebih
tinggi dibandingkan dengan orang-orang yang tidak berilmu. Kita sebagai kaum muslimin
juga tahu bahwasannya manusia diangkat sebagai kholifah dimuka bumi ini dikarenakan
pengetahuannya bukan karena bentuk ataupun asal kejadiannya. Sementara itu dalam surat

5
lain Allah berfirman “ Katakanlah : “ Samakah orang-orang yang berilmu dan orang-orang
yang tidak berilmu” (QS. Az-Zumar : 9) jelas menyuruh manusia untuk berfikir apakah kira-
kira manusia yang berilmu dengan manusia yang tidak berilmu itu sama.
Dengan demikian jelaslah bahwa islam sangat memuliakan orang-orang yang berilmu
bahkan menganggap orang yang berilmu itu sebagai penerus Rosul, apa yang
disampaikannya akan menjadi penerangan jalan yang lurus, amalan orang yang berilmu
sama dengan amalan jihad.
Hukum menuntut ilmu menjadi wajib, ketika mempelajarinya termasuk persiapan
yang Allah perintahkan dalam firmannya: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka
kekuatan apasaja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang
(yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang-
orang lain selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya, apa
saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibatasi dengan cukup padamu dan
kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)” (QS. Al-Anfaal : 60)

D. Keutamaan menuntut ilmu


Ilmu merupakan sandi terpenting dari hikmah. Sebab itu, Allah memerintahkan
manusia agar mencari ilmu atau berilmu sebelum berkata atau beramal. Firman Allah: “
Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Illah selain Allah, dan mohonlah ampunan
bagi dosamu serta bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah
mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.” (QS. Muhammad :19)
Ilmu sebelum berkata dan beramal. Sufyan bin Uyainah berkata: manusia paling
bodoh adalah yang membiarkan kebodohannya, manusia paling pandai adalah yang
mengandalkan ilmunya, sedangkan manusia paling utama adalah yang takut kepada Allah.
Ibnu Taimiyah membagi ilmu yang bermanfaat menjadi tiga bagian, yaitu:
1. Ilmu tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan lain-lain, seperti yang
disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Ikhlas.
2. Ilmu tentang persoalan-persoalan masalalu yang dikabarkan Allah; persoalan-
persoalan masa kini, dan persoalan-persoalan masa mendatang, seperti yang dikabarkan
dalam Al-Qur’an yaitu ayat tentang kisah-kisah, janji-janji, ancaman, surga, neraka, dan
sebagainya.
3. Ilmu tentang perintah Allah yang berhubungan dengan hati dan anggota badan,
seperti iman kepada Allah melalui pengenalan hati serta amaliah anggota badan. Pemahaman
ini bersumber pada pengetahuan dasar-dasar iman dan kaidah-kaidah islam.

6
Ilmu merupakan tanda kebaikan Allah kepada seseorang “Barang siapa yang Allah
menghendaki kebaikan padanya, maka Allah akan membuat dia paham dalam agama.” (HR
Bukhori dan Muslim)
Menuntut ilmu merupakan jalan menuju surga, “Barang siapa yang menempuh suatu
jalan dalam rangka menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju
surga.” (HR Muslim)
Malaikat akan membentangkan sayap terhadap penuntut ilmu, “Sesungguhnya para
malaikat benar-benar membentangkan sayapnya karena ridho atas apa yang dicarinya.” (HR
Ahmad dan Ibnu Majjah)

E. Menuntut ilmu sebagai ibadah.


Dilihat dari segi ibadah, sungguh menuntut ilmu itu sangat tinggi nilai dan pahalanya,
Nabi muhammad SAW bersabda yang artinya:
“ Sungguh sekiranya engkau melangkahkan kakinya di waktu pagi (maupun petang),
kemudian mempelajari satu ayat dari kitab Allah (Al-Qur’an), maka pahalanya lebih baik
daripada ibadah satu tahun.”
Mengapa menuntut ilmu itu sangat tinggi nilainya dilihat dari segi ibadah? Karena
amal ibadah yang tidak dilandasi dengan ilmu yang berhubungan dengan itu akan sia-sialah
amalahnnya.
Syaikh Ibnu Ruslan dalam hal ini menjelaskan dalam hadist yang artinya : “ Siapa saja
yang beramal (melaksanaka amal ibadah) tanpa ilmu, maka segala amalnya akan ditolak,
yakni tidak diterima.”

F. Adab-adab dalam Menuntut Ilmu


Setelah seorang mengetahui dan memahami akan keutamaan menuntut ilmu, maka
hendaknya ia memiliki perhatian yang besar terhadap permasalahan adab-adab dalam
menuntut ilmu, diantaranya adalah;
1. Ikhlas
Seorang penuntut ilmu sebaiknya punya perhatian besar terhadap keihlasan niat dan tujuan
dalam menuntut ilmu, yaitu hanya untuk Allah SWT. Karena menuntut ilmu adalah ibadah,
yang namanya ibadah tiadk akan diterima kecuali jika ditunjukkan hanya untuk Allah SWT.
2. Bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.
Sesungguhnya seorang hamba butuh kepada kesungguhan dan semangat untuk memperoleh
ilmu. Dia harus memaksakan dirinya untuk jauh dari sifat lemah dan malas. Karena malas
akan menyebabkan terhalanginya seseorang untuk mendapatkan kebaikan yang banyak.
3. Minta pertolongan kepada Allah SWT.
Ini adalah perkara penting yang harus diperhatikan oleh seseorang dalam menuntut ilmu,
bahkan perkara ini adalah dasar yang harus ada dalam diri.

7
4. Mengamalkan ilmu
Seseorang dalam menuntut ilmu harus punya perhatian serius terhadap perkara
mengamalkan ilmu. Karena tujuan dari menuntut ilmu adalah untuk diamalkan. Oleh sebab
itu, seseorang harus benar-benar berusaha mengamalkan ilmunya. Adapun jika yang
dilakukan hanya mengumpulkan ilmu namun berpaling dari beramal, maka ilmunya akan
mencelakakannya.
5. Berhias dengan akhlaq mulia
Seorang berilmu sebaiknya menghiasi diriknya dengan akhlaq mulia seperti lemah lembut,
tenang, santun dan sabar.
6. Mendakwahkan ilmu
Jika seseorang penuntut ilmu mendapatkan taufiq untuk misa mengambil manfaat dari
ilmumya, hendaknya ia juga bersemangat untuk menyampaikan ilmu dan mengajarkannya
kepada orang lain.

G. Tujuan Menuntut Ilmu


‫محردثممناَ أمطبو بمبكنر ببطن أمنبىِ مشبيبمةم محردثممناَ طسمربيطج ببطن الننبعمماَنن محردثممناَ فطلمبيحْح معبن أمنبىِ ططموالمةم معببند ر‬
‫ان ببنن معببند الرربحممببنن ببببنن‬
‫ ممبببن تممعلرببمم‬-‫صلىِ ا عليببه وسببلم‬- ‫ان‬ ‫ى معبن مسنعيند ببنن يممساَرر معبن أمنبىِ هطمربيمرةم مقاَمل مقاَمل مرطسوطل ر‬ ‫ممبعممرر المبن م‬
‫صاَنر ى‬
‫ف ابلمجنرببنة يمبببومم‬
‫ضاَ نممن الببندبنمياَ لمبببم يمنجبببد معبببر م‬
‫ب بننه معمر ض‬
‫صي م‬ ‫نعبلضماَ نمرماَ يطببتممغىِ بننه موبجهط ر‬
‫ان معرز مومجرل لم يمتممعلرطمهط إنلر لنيط ن‬
‫ابلقنمياَممنة‬
Dari Abu Hurairoh, dia berkata, telah bersabda nabi SAW: “Barangsiapa menuntut ilmu
yang seharusnya diharapkan dengannya ‘wajah’ Allah ‘azza wa jalla, tetapi ia tidak
menuntutnya hanya untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia maka ia tidak akan
mencium bau surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud : 3666)

Menuntut ilmu hukumnya wajib, waktunya hingga mati datang menjelang, setiap ilmu
yang dipelajari maka seharusnya ‘mengarahkannya’ untuk menuju keridhoanNya, semakin
memacu setiap yang belajar untuk ‘pandai’ membedakan yang HAK dan yang BATHIL,
sehingga ilmu yang didapat bukan hanya menghilangkan kebodohan, tetapi juga semakin
menjadikannya sebagai ‘Ibadurrachman’.
“Ilmu itu tidak dapat ditandingi oleh amalan apapun bagi orang yang niatnya benar
dalam menuntut ilmu”, demikian Imam ahmad bin Hanbal berpesan kepada semua muridnya,
kebenaran dalam niat tentu harus diukur dalam perubahan amal kebaikan dihadapan Allah,
niat adalah soal hati dan Allah yang paling berhak menilainya, tetapi sebagai ejawantah dari
niat adalah sikap dan perbuatan sehari-hari, itulah mengapa Nabi Sholallahu Alaihi Wasalam
mengingatkan kepada kita semua bahwa Allah melihat hanya kepada hati dan perbuatan.

8
Ilmu apapun yang sekarang sedang ‘digeluti’, seyogyanya akan membentuk karakter
Robbani, mereka akan menjadikan hadits ini sebagai pengingat setiap saat, bahwa tujuan
menuntut ilmu adalah untuk menggapai kebahagiaan di akhirat, bila tujuan akhirat
diutamakan maka kebahagiaan dunia PASTI akan ia dapatkan secara otomatis, tetapi bila
sebaliknya maka aroma syurga tak akan pernah tercium olehnya apalagi merasakan
nikmatnya.
‫ام نمبن نعمباَندنه ابلطعلممماَء إنرن ر‬
‫ام معنزيحْز مغطفوحْر‬ ‫ف أمبلموانطهط مكمذلن م‬
‫ك إننرمماَ يمبخمشىِ ر‬ ْ‫ب موابلمبنمعاَنم طمبختملن ح‬ ‫مونممن الرناَ ن‬
‫س موالردموا ى‬
“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-
binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang
takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha
perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. Fathir : 28)
Ayat ini jelas menunjukan bahwa bila memiliki ilmu maka akan semakin ‘takut’
berbuat salah kepada Allah, karena ketakutan akan sangat tergantung dengan kadar
pengetahuannya terhadap yang ditakuti, dan mereka yang memiliki ilmu maka akan
mengenal Allah dan menimbulkan rasa takut bersalah dan juga pengharapan terhadapNya,
ayat ini juga menjadi dalil bahwa orang yang berilmu lebih tinggi derajatnya dari ahli ibadah.
Pepatah arab : “LAW ‘ALIMA LA’AMILA” (seandainya dia mengetahui maka niscaya
dia berbuat), ilmu akan menghantarkan seseorang dekat dengan Allah, bukan justeru
menjauhkan, apalagi ‘memanfaatkan’ ilmu hanya untuk kesenangan dunia yang sementara
dan berharap pengakuan dari manusia. Pengakuan yang tertinggi adalah dariNya, manakala
semakin dekat kepadaNya dan tak ‘tergerus’ oleh nafsu dunia.

9
BAB III
PENUTUP

Islam mewajibkan kita menuntut ilmu-ilmu dunia yang memberi manfaat dan berguna untuk
menuntut kita dalam hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan kita didunia agar tiap
muslim jangan picik dan agar setiap muslim dapat mengikuti perkembangan ilmu
pengetahuan yang dapat membawa kemajuan bagi penghuni dunia ini dalam batas-batas
yang diridhai Allah.
Apabila kita memperhatikan isi Al-Qur’an dan sunnah, maka terdapat beberapa suruhan
yang mewajibkan bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan untuk menuntut
ilmu, agar mereka tergolong menjadi umat yang cerdas, jauh dari kabut kejahilan dan
kebodohan. Dan dari segi ibadah menuntut ilmu sangat tinggi nilai dan pahalanya.

10
DAFTAR PUSTAKA

Abdussalam.2013.Keutamaan Menuntut Ilmu (Online). 19 Oktober 2015.


Alam3394.blogspot.com/2013/07/keutamaan-menuntut-ilmu.html?m=1
Bisri, Hasan.2013.Makalah Konsep Menuntut Ilmu (Online). 19 Oktober
2015.www.iotodidak.com/2013/10/makalah-konsep-menuntut-ilmu-dalam islam.html?m=1
Insan.2014.Keutamaan Menuntut Ilmu Dan Adab-Adab Menuntut Ilmu (Online).19 Oktober
2015.www.insantv.com/berita-154-keutamaan-menuntut-ilmu-dan-adabadab-penuntut-
ilmu.html?m=

11