You are on page 1of 15

DEFISIT PERAWATAN DIRI

A. Definisi Defisit Perawatan Diri


Defisit perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan
aktivitas keperawatan diri (mandi, berhias, makan, toileting). (Nurjanah, 2004)
Kurangnya perawatan diri pada pasien gangguan jiwa terjadi akibat adanya
perubahan proses pikir, sehingga kemampuan untuk melakukan aktifitas
perawatan diri menurun. Defisit perawatan diri tampak dari ketidakmampuan
merawat kebersihan diri, makan secara mandiri, berhias diri secara mandiri, dan
eliminasi/toileting (BAK/BAB) secara mandiri. (Keliat,2011)
Defisit Perawatan Diri adalah gangguan kemampan melakukan aktifitas
yang terdiri dari mandi, berpakaian, makan, toileting, pengabaian diri,atau
kebersihan diri secara mandiri. Keadaan individu mengalami suatu kerusakan
fungsi motorik atau fungsi kognitif, yang menyebabkan penurunan kemampuan
untuk melakukan masin-masing dari kelima aktifitas perawatan diri. (Nanda,
2012)
B. Klasifikasi
1) Kurang perawatan diri : Mandi/kebersihan
Kurang perawatan diri (mandi) adalah gangguan kemampuan untuk
melakukan aktivitas mandi/kebersihan diri.
2) Kurang perawatan diri: Mengenakan pakaian/berhias
Kurang perawatan diri (mengenakan pakaian) adalah gangguan
kemampuan memakai pakaian dan aktivitas berdandan sendiri.
3) Kurang perawatan diri: Makan
Kurang perawatan diri (makan) adalah gangguan kemampuan untuk
menunjukkan aktivitas makan.
4) Kurang perawatan diri: Toileting
Kurang perawatan diri (toileting) adalah gangguan kemampuan untuk
melakukan atau menyelesaikan aktivitas toileting sendiri.

1
C. Etiologi
Menurut Maslim (2001), penyebab kurang perawatan diri adalah sebagai
berikut:
1) Kelelahan fisik
2) Penurunan kesadaran

Menurut (Depkes. 2000), penyebab kurang perawatan diri adalah:


1) Faktor predisposisi
a. Perkembangan : Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien
sehingga perkembangan inisiatif terganggu.
b. Biologis : penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu
melakukan perawatan diri.
c. Kemampuan realitas umum : Klien dengan gangguan jiwa dengan
kemampuan realitas yang kurang menyebabkan ketidakpedulian
dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri.
d. Sosial : kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri
lingkungannya, situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan
dalam perawatan diri.
2) Faktor presipitasi
Adalah kurang penurunan motivasi, kerusakan kogniti atau
perseptual, cemas, lelah/lemah yang dialami individu sehingga
menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan diri. Menurut
Depkes (2009) faktor yang mempengaruhi personal hygiene adalah:
a. Body Image: Gambaran individu terhadap dirinya sangat
mempengaruhi kebersihan diri misalnya dengan adanya perubahan
fisik sehingga individu tidak peduli dengan kebersihan dirinya.
b. Status Sosial Ekonomi: Personal hygiene memerlukan alat dan bahan
seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, shampo, alat mandi yang semuanya
memerlukan uang untuk menyediakannya.
c. Pengetahuan: Pengetahuan persoanal hygiene sangat penting karena
pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya, pada
pasien penderita diabetes melitus ia harus menjaga kebersihan kakinya.

2
d. Budaya: Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh
dimandikan.
e. Kebiasaan Seseorang: Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk
tertentu dalam perawatan diri seperti penggunaan sabun, shampo dan
lain-lain.
f. Kondisi fisik atau psikis: Pada keadaan tertentu/sakit kemampuan
untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya.

Dampak yang sering timbul pada masalah personal hygiene:


a. Dampak fisik: Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang
karena tidak terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik,
gangguan fisik yang sering terjadi adalah: Gangguan integritas kulit,
gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga dan
gangguan fisik pada kuku.
b. Dampak psikososial: Masalah sosial yang berhubungan dengan
personal hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan
mencintai dan dicintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan
gangguan interaksi sosial.
D. Rentang Respon
Adaptif Maladaptif

Pola perawatan diri Kadang perawatan Tidak melakukan


seimbang diri kadang tidak perawatan saat stres

E. Pohon Masalah
Isolasi sosial: Menarik diri

3
Defisit perawatan diri : Mandi, Berdandan

Harga diri rendah


F. Manifestasi Klinis
Adapun tanda dan gejala defisit perawatn diri menurut (Fitria, 2009)
adalah sebagai berikut :
1) Mandi/Hygine
Klien mengalami ketidakmampuan dalam membersihkan badan,
memperoleh atau mendapatkan sumber air mengatur suhu atau
aliran air mandi, mendapatkan perlengkapan mandi, mengeringkan
tubuh, serta masuk dan keluar kamar mandi. Ditandai dengan
rambut kotor, gigi kotor, kulit berdaki dan bau, kuku panjang dan
kotor.
2) Berpakaian/berdandan
Klien mempunyai kelemahan dalam meletakkan atau mengambil
potongan pakaian, menanggalkan pakaian, serta memperoleh atau
menukar palaian. Klien juga memiliki ketidakmampuan untuk
menggunakan pakaian dalam, memilih pakaian, menggunakan alat
tambahan, menggunakan kancing tarik, melepaskan pakaian,
mempertahanakan penampilan pada tingkat yang memuaskan.
Ditandai dengan rambut acak-acakan, pakaian kotor dan tidak rapi,
pakaian tidak sesuai, pada pasien laki-laki tidak bercukur, pada
wanita tidak berdandan.
3) Makan
Klien mempunyai ketidakmampuan dalam menelan makanan,
mempersiapkan makanan, mengunyah makanan, mengambil
makanan dari wadah lalu memasukkannya ke mulut, mencerna
makanan menurut cara yang di terima masyarakat, mengambil
cangkir atau gelas, serta mencerna cukup makanan yang aman.
4) Toileting (BAK/BAB)
Klien memiliki keterbatasan atau ketidakmampuan dalam
mendapatkan jamban atau kamar kecil, dudu atau bangkit dari

4
jamban, memanipulasi pakaian untuk toileting, membersihkan diri
setelah BAK/BAB dengan tepat, dan menyiram kamar kecil.

Menurut depkes (2000) tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan
diri adalah :
1) Fisik
a. Badan bau,pakaian kotor.
b. Rambut dan kulit kotor.
c. Kuku panjang dan kotor.
d. Gigi kotor disertai mulut kotor.
e. Penampilan tidak rapi
2) Psikologis
a. Malas, tidak ada inisiatif.
b. Menarik diri, isolasi diri.
c. Merasa tak berdaya,rendah diri dan merasa hina.
3) Sosial
a. Interaksi kurang.
b. Kegiatan kurang.
c. Tidak mampu berpilaku sesuai norma.
d. Cara makan tidak teratur BAK dan BAB di sembarang
tempat, gosok gigi dan mandi tidak mampu mandiri.
G. Mekanisme Koping Defisit Perawatan Diri
1) Regresi
Kemunduran akibat stres terhadap perilaku dan merupakan ciri
khas dari suatu taraf perkembangan yg lebih dini.
2) Penyangkalan (Denial)
Menyatakan ketidaksetujan terhadap realitas dengan mengingikari
realitas tersebut. Mekanisme pertahanan ini adalah paling
sederhana dan pranitif
3) Isolasi diri, menarik diri

5
Sikap mengelompokan orang/keadaan hanya sebagai semuanya
baik atau semuanya buruk, kegagalan untuk memandukan nilai-
nilai positif dan negatif didalam diri sendiri.
4) Intelektualisasi
Pengguna logika dan alasan yang berlebihan untuk menghindari
pengalaman yg menggangguperasaanya.
H. Penatalaksanaan
Perawatan dini hari. Merupakan perawatan yang dilakukan pada
waktu bangun tidur untuk melakukan tindakan seperti perapian dalam
pengambilan bahan pemeriksaan (urine/feses), memberikan
pertolongan, mempersiapkan pasien dalam melakukan makan pagi
dengan melakukan tindakan perawatan diri, seperti mencuci muka,
tangan, dan menjaga kebersihan mulut.
Perawatan pagi hari. Perawatan yang dilakukan setelah makan pagi
dengan melakukan perawatan diri seperti melakukan pertolongan dalam
pemenuhan kebutuhan eliminasi, mandi atau mencuci rambut,
melakukan pijatan punggung, membersihkan mulut, kuku dan rambut,
serta merapikan tempat tidur.
Perawatan siang hari. Perawatan yang dilakukan setelah melakukan
berbagai tindakan pengobatan atau pemeriksaan dan setelah makan
siang. Berbagai tindakan perawatan diri yang dapat dilakukan antara
lain mencuci muka dan tangan, membersihkan mulut, merapikan tempat
tidur dan melakukan pemeliharaan kebersihan lingkungan kesehatan
klien.
Perawatan menjelang tidur. Perawatan diri yang dilakukan pada saat
menjelang tidur agar klien beristirahat dengan tenang. Berbagai
kegiatan yang dapat dilakukan antara lain pemenuhan kebutuhan
eliminasi, mencuci tangan dan muka, membersihkan mulut sebelum
tidur.
I. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1) Pengkajian

6
Pengelompokan data pada pengkajian kesehatan jiwa berupa
faktor presipitasi, penilaian stressor, sumber koping yang dimiliki
pasien. Setiap melakukan pengajian ,tulis tempat klien dirawat dan
tanggal dirawat isi pengkajian meliputi :
a. Identitas Pasien
Identitas pasien meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama,
pendidikan, pekerjaan, alamat, status perkawinan, diagnosa
medis,
Identitas penanggung jawab
Identitas penanggung jawab meliputi nama, umur, pendidikan,
pekerjaan, alamat dan hubungan dengan klien.
b. Keluhan Utama
Klien tidak mempunyai motivasi untuk melakukan aktifitas
kebersihan diri atau perawatan diri.
c. Alasan Masuk
Defisit dalam merawat diri, dari perawatan diri yang biasa
dilakukan dan sekarang jarang dilakukan dengan di awali
masalah seperti senang menyendiri, tidak mau banyak
berbicara dengan orang lain, jarang mandi atau membersihkan
tubuhnya.
d. Faktor yang Mempengaruhi
(1) Faktor Predisposisi
(a) Perkembangan : keluarga terlalu melindungi dan
memanjakan klien sehingga perkembangan inisiatif
terganggu.
(b) Biologis : penyakit kronis yang menyebabkan klien
untuk tidak mampu melakukan perawatan diri.
(c) Kemampuan psikologi menurun : klien dengan
gangguan jiwa dengan kemampuan reaitas yang kurang
menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan
termasuk perawatan diri.

7
(d) Sosial: kurang dukungan dan latihan kemampuan
perawatan diri lingkungannya. Situasi lingkungan
mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan
diri.
(2) Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi defisit perawatan diri adalah penurunan
motivasi, kerusakan kognisi atau perceptual, cemas, lelah
atau lemah yang dialami individu sehingga menyebabkan
individu kurang mempu melakukan perawatan diri. Cara
menilai klien menilai msalah merupakan awal dari
terbentuknya sumber koping, jika sumber koping tidak
adekuat, bahkan jika ada namun mekanisme koping
maladaptif maka akan menimbulkan permasalahan.
(3) Aspek fisik / biologi
Pemeriksaan fisik
(a) Keadaan umum pasien
- Tanda-tanda vital (TD, RR, nadi, suhu)
- Tingkat kesadaran : composmentis
- Keadaan umum : lelah, lemah
(b) Rambut
Keadaan kesuburan rambut, keadaan rambut yang
mudah rontok, keadaan rambut yang kusam, keadaan
tekstur.
(c) Kepala
Adanya botak atau alopesia, ketombe, berkutu.
(d) Mata
Periksa kebersihan mata, mata gatal atau mata merah,
mata simetris, konjungtiva pucat, sclera putih
(e) Hidung
Lihat kebersihan hidung, membran mukosa,
(f) Mulut

8
Lihat keadaan mukosa mulut, kelembapannya,
kebersihannya.
(g) Gigi
Lihat adakah karang gigi, adakah karies, kelengkapan
gigi.
(h) Telinga
Lihat adakah kotoran, adakah lesi, adakah infeksi.
(i) Kulit
Lihat kebesihan, adakah lesi, warna kulit, teksturnya,
pertumbuhan bulu.
(j) Genetalia
Lihat kebersihan, keadaan kulit, keadaan lubang uretra,
keadaan skrotum, testis pada pria, cairan yang keluar.

(4) Konsep diri


(a) Citra tubuh
Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang
berubah atau tidak menerima perubahan tubuh yang
telah terjadi atau yang akan terjadi.
(b) Identitas diri
Ketidakpastian memandang diri, sukar menetapkan
keinginan dan tidak mampu mengambil keputusan.
(c) Peran
Berubah atau berhenti fungsi peran yang disebabkan
penyakit, proses menua dan kehilangan.
(d) Idealvdiri
Mengungkapkanvkeputusasaanvkarenavpenyakitnya
mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi
(e) Hargavdiri
Perasaan malu terhadap diri sendiri, rasa bersalah
terhadap diri sendiri, gangguan hubungan sosial,
merendahkan martabat, mencederai diri, dan kurang
percaya diri.

9
(f) StatusvMental
Kontak mata pasien kurang atau tidak dapat
mepertahankan kontak mata, kurang dapat memulai
pembicaraan, pasien suka menyendiri dan kurang
mampu berhubungan denga orang lain, Adanya
perasaan keputusasaan dan kurang berharga dalam
hidup.
(g) MekanismevKoping
Mekanisme koping maladaptif, pasien tidak mau untuk
merawat kebersihan tubuhnya.
2) Diagnosa
Diagnosa Keperawatan adalah identifikasi atau penilaian
pola respons baik aktual maupun potensial.Masalah keperawatan
yang sering muncul yang dapat disimpulkan dari pengkajian adalah
sebagai berikut :
a. Defisit perawatan diri (mandi, makan, berpakaian, BAB/BAK)
berhubungan dengan penurunan kemampuan dan motivsi
perawatan diri
b. Resiko perubahan sensori persepsi: halusinasi berhubungan
dengan stress psikologis
c. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan perubahan
status mental perubahan penampilan fisik.
d. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum
e. Harga diri rendah kronis berhubungan dengan gangguan
psikologis
3) Intervensi Keperawatan
NO. NOC NIC RASIONAL
DX

1 Setelah dilakukan asuhan Pada defisit perawatan diri Untuk membantu


keperawatan selama 2x24 mandi : dan memberi
jam, diharapkan pasien edukasi pasien

10
dengan defisit perawatan 1. Memperagakan cara terhadap perawatan
diri dapat teratasi dengan menyikat gigi yang diri
kriteria hasil : benar
2. Mendemonstrasikan
1. Klien mampu
cara mandi yang
melakukan
benar
kebersihan diri
3. Ajarkan penggunaan
secara mandiri
alat bantu mandi
2. Pasien mampu
seperti, sabun mandi,
makan secara
sikat gigi, dan
mandiri dengan
handuk
tanpa alat bantu
Pada defisit perawatan diri
3. Pasien mampu
makan :
berpakaian atau
berdandan secara 1. Menjelaskan cara
mandiri mempersiapkan
4. Pasien mampu makan
melakukan aktifitas 2. Mengajarkan pasien
eliminasi secara cara makan yang
mandiri dengan baik
atau tanpa alat 3. Mengajarkan pasien
bantu merapikan alat
makan setelah makan

Pada defisit perawatan diri


berpakaian atau berdandan :

1. Membantu pasien
untuk memilih
pakaian yang mudah
untuk dipakai dan
dilepas

11
2. Sediakan pakaian
pasien di tempat
yang mudah
dijangkau
3. Ajarkan dan beri
fasilitas pasien untuk
menyisir rambut
4. Bantu pasien untuk
menaikkan,
mengancingkan, dan
merisleting pakaian
Pada defisit perawatan diri
toileting :

1. Bantu pasien ke
toilet pada selang
waktu tertentu
2. Ajarkan cara
membersihkan diri
setelah eliminasi
3. Ajarkan pasien untuk
membersihkan toilet
setelah eliminasi
4. Berikan privasi
selama eliminasi
2 Setelah dilakukan asuhan 1. Peningkatan Untuk membantu
keperawatan selama 2x24 komunikasi dan penerimaan
jam diharapkan pasien a. Bersikap ramah metode alternatif
dengan resiko perubahan terhadap klien
sensori persepsi:halusinasi
dapat teratasi dengan b. Memperkenlkan
kriteria hasil : diri secara sopan

12
1. Pasien dapat c. Ajak pasien
membina hubungan mengobrol
saling percaya pada tentang apa yang
orang disekitarnya disukainya
3 Setelah dilakukan asuhan 1. Membina hubungan Memfasilitasi
keperawatan selama 2x24 saling percaya peningkatan koping
jam, diharapakan pasien dengan pasien individu
dengan isolasi sosial dapat 2. Membina hubungan
teratasi dengan kriteria terapeutik dengan
hasil : pasien
3. Bantu pasien
1. Pasien dapat
beradaptasi dengan
membina hubungan
orang lain
saling percaya
2. Pasien dapat
mengungkapan
penyebab menarik
diri
3. Pasien mampu
melakukan
hubungan sosial
dengan orang lain
4 Setelah dilakukan asuhan 1. Memberi anjuran Untuk mengetahui
keperawatan selama 2x24 tentang dan bantuan respons fisiologis
jam, diharapkan pasien dalam aktifitas fisik, terhadap
dengan intoleransi aktifitas kognitif, sosial, dan pergerakan yang
dapat teratasi dengan spiritual yang memakan energy
kriteria hasil : spesifik dalam ativitas
2. Membantu individu sehari – hari
1. Respon fisiologis
untuk melakukan
untuk
AKS
menyelesaikan
aktifitas

13
2. Dorongsn dan 3. Bantu
energi individu klien/keluarga
untuk untuk
mempertahankan mengidentifikasi
aktifitas sehari0hari kekurangan dalam
beraktivitas
4. Kolaborasi dengan
tenaga rehabilitas
medic dalam
merenca-nakan
program terapi yang
tepat
5 Setelah dilakukan asuhan 1. Membantu pasien Memfasilitasi
keperawatan selama 2x24 untuk meningkatkan perkembangan
jam, diharapkan pasien penilaian penampilan positif
dengan harga diri rendah penghargaan pada situasi tertentu
kronis dapat teratasi terhadap diri sendiri
dengan kriteria hasil : 2. Beri pujian yang
realistis atau nyata
1. Mengungkapkan
dan hindarkan
penerimaan diri
penilaian yang
secara verbal
negatif setiap kali
2. Menerima kritik
bertemu dengan
dari orang lain
pasien
3. Mempertahankan
3. Perlihatkan respon
hygiene
yang kondusif dan
jadilah pendengar
yang aktif

14
DAFTAR PUSTAKA

Yosep. 2010. “Keperawatan jiwa.(Edisi Revisi)”. Bandung: Refika Aditama


Nurjanah, Intasari S.Kep. 2004. “Pedoman Penanganan Pada Gangguan Jiwa”.
Yogyakarta: Momedia
Wartonah, Tarwoto. 2010. “Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan.
Edisi 4”. Jakarta : Salemba Medika

Keliat, B. A, dkk.2011. “Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa”. Jakarta :


Kedokteran EGC

Keliat, Budi Anna dan Akemat, 2009. “Model Praktek Keperawatan Professional
Jiwa”. Jakarta: EGC

15