You are on page 1of 3

TUGAS KEPERAWATAN TRANSKULTURAL

PENGKAJIAN PEKA BUDAYA DENGAN MODEL LEININGER


DALAM PENYELESAIAN MASALAH KESEHATAN

Ade Iwan Mutiudin | 220120180009


Program Studi Magister Keperawatan Peminatan Keperawatan Medikal Bedah
Universitas Padjadjaran Bandung

Dosen : Suharyati Samba, SKp., M.Kes

PERILAKU MAKAN BERDASARKAN PRAKTIK BUDAYA


SUNDA PANTANGAN MAKAN PADA IBU HAMIL
(Nanas, durian, pisang dempet, daging kambing, dan makan menggunakan piring besar)

Masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai suku dengan latar belakang budaya
berbeda yang salah satunya adalah budaya sunda sebagai faktor pengaruh terhadap
tingkah laku kehidupan masyarakat, termasuk perilaku kesehatan terutama kesehatan ibu
dan anak. Banyak praktik budaya yang berpengaruh secara negatif terhadap perilaku
kesehatan masyarakat, sehingga berisiko lebih besar untuk mengalami infeksi pada saat
persalinan (Rina, 2013).
Tingkat pengetahuan masyarakat yang rendah sangat mempengaruhi kesehatan
ibu. Di Nigeria, masyarakat yang berpengetahuan rendah akan pasrah pada sayatan gishiri
yang merupakan tindakan pembedahan pada vagina yang dilakukan oleh dukun beranak
pada kasus persalinan macet. Persepsi masyarakat terhadap kematian ibu sebagian besar
diwarnai oleh penyebab seperti: agama, kepercayaan dan faktor supranatural. Persepsi
tersebut menyebabkan perhatian terhadap kesehatan ibu menjadi lebih rendah.
Masyarakat akan bersikap pasrah jika dihadapkan pada ibu yang mengalami gawat pada
saat hamil saat melahirkan. Berdasarkan pada aspek budaya pola penyesuaian pada
kehamilan (Marta, 2014).
Ibu yang kehamilannya memasuki 8-9 bulan sengaja harus mengurangi makannya
agar bayi yang dikandungnya kecil dan mudah dilahirkan. Di daerah cianjur, ibu hamil
pantang makan dengan menggunakan piring yang besar karena khawatir bayinya akan
besar sehingga akan mempersulit persalinan. Selain itu, larangan untuk memakan buah-
buahan seperti nanas, durian, pisang dempet, daging kambing dan lain-lain bagi wanita
hamil juga masih dianut oleh beberapa kalangan masyarakat terutama masyarakat di
daerah pedesaan.

1. Pengkajian
a. Tecnological Factors
Dalam aspek kesehatan masyarakat memiliki kebiasaan mengatasi masalah
kesehatan dengan memanfaatkan fasilitas kesehatan terdekat dengan sebaik-
baiknya ataupun berkunjung ke praktik kebidanan sekitar dalam memeriksakan
kehamilanya.
b. Religious and Philosophical Factors
Hampir semua orang Sunda beragama Islam. Hanya sebagian kecil yang tidak
beragama Islam. Pada dasarnya seluruh kehidupan orang Sunda ditujukan untuk
memelihara keseimbangan alam semesta. salah satu budaya sunda sebagai
faktor pengaruh terhadap tingkah laku kehidupan masyarakat, termasuk perilaku
kesehatan terutama kesehatan ibu dan anak. Banyak praktik budaya yang
berpengaruh secara negatif terhadap perilaku kesehatan masyarakat sebagai
filosofi kepercayaan yang di anutnya, sehingga berisiko lebih besar untuk
mengalami infeksi pada saat persalinan. Pada beberapa budaya, pantang makan
pada ibu hamil dapat berpengaruh terhadap asupan gizi
c. Kinship and Social Factors
Sistem keluarga dalam suku Sunda bersifat parental, garis keturunan ditarik dari
pihak ayah dan ibu bersama. Dalam keluarga Sunda ayah yang bertindak
sebagai kepala keluarga dan mempunyai peran utama dalam setiap pengambilan
keputusan, begitupun dalam memutuskan untuk mencari pengobatan kesehatan.
d. Cultural Value and Life Ways
Kebudayaan Sunda memiliki ciri khas tertentu yang membedakannya dari
kebudayaan–kebudayaan lain. Secara umum masyarakat Jawa Barat atau Tatar
Sunda, dikenal sebagai masyarakat yang lembut, religius, dan sangat spiritual.
budaya sunda sebagai faktor pengaruh terhadap tingkah laku kehidupan
masyarakat, termasuk perilaku kesehatan terutama kesehatan ibu dan anak.
Banyak praktik budaya yang berpengaruh secara negatif terhadap perilaku
kesehatan masyarakat, sehingga berisiko lebih besar untuk mengalami infeksi
pada saat persalinan. Menurut kepercayaan masyarakat tatar sunda cianjur Ibu
yang kehamilannya memasuki 8-9 bulan sengaja harus mengurangi makannya
agar bayi yang dikandungnya kecil dan mudah dilahirkan. Ibu hamil pantang
makan dengan menggunakan piring yang besar Karena khawatir bayinya akan
besar sehingga akan mempersulit persalinan. Selain itu, larangan untuk
memakan buah-buahan seperti nanas, durian, pisang dempet, daging kambing
dan lain-lain bagi wanita hamil juga masih dianut oleh beberapa kalangan
masyarakat terutama masyarakat di daerah pedesaan
e. Political and Legal Factor
Masyarakat tatar sunda kini sudah bisa memanfaatkan fasilitas kesehatan pada
kondisi keluarga yang mengalami sakit. Cara pembayaran yang dilakukan saat
ada anggota keluarga yang sakit adalah dari biaya pribadi dan memanfaatkan
program kesehatan pemerintah daerah.
f. Ecomonical Factors
Suku Sunda umumnya hidup bercocok tanam. Kebanyakan tidak suka merantau
atau hidup berpisah dengan orang-orang sekerabatnya. Kebutuhan orang Sunda
terutama adalah hal meningkatkan taraf hidup. Sumber biaya yang dipakai
dalam pengobatan anggota keluarga yang sakit adalah hasil dari bercocok tanam
atau pekerjaan lainya. Selain biaya pribadi pemerintah sekitar pun sudah
memberikan jaminan kesehatan bagi masyarakat yang kurang
mampu/memerlukan pengobatan.
g. Educational Factors
Masalah pendidikan di dalam masyarakat suku Sunda sudah bisa dibilang
berkembang baik namun Tingkat pendidikan sebagain besar masyarakat tatar
sunda adalah SD. Masyarakat tatar sunda terbiasa belajar tentang pengalaman
sakitnya dari warisan leluhur secara turun temurun.

2. Implikasi Keperawatan
Implikasi keperawatan yang harus dilakukan pada masyarakat tatar sunda cianjur
yaitu dalam melakukan asuhan keperawatan perawat harus melibatkan kepala
keluarga, karena dalam keluarga Sunda ayah yang bertindak sebagai kepala keluarga
dan mempunyai peran utama dalam setiap pengambilan keputusan besar.

3. Staretegi Intervensi dan Implementasi pada masyarakat tatar sunda cianjur


a. Cultural care preservation / Maintenance
Tradisi kebudayaan dalam aspek kesehatan yang bisa di pertahankan pada
masyarakat tatar sunda cianjur yaitu selalu memanfaatkan fasillitas kesehatan
sebaik-baiknya.
b. Cultural care accommodation / Negotiation
Tradisi kebudayaan yang bisa di lakukan negosiasi pada masyarakat tatar sunda
cianjur terutama bagi wanita hamil adalah perawat bisa mengedukasi masyarakat
sekitar mengenai . Pengetahuan ibu dapat mempengaruhi gizi ibu hamil,
diantaranya adalah berat badan, budaya pantang makan, status ekonomi,
pengetahuan zat gizi dalam makanan, umur, suhu lingkungan, serta status
kesehatan.
c. Cultural care repartening / Reconstruction
Tradisi kebudayaan yang perlu di lakukan reconstruction pada masyarakat tatar
sunda cianjur pada wanita hamil adalah pantangan makan.
Ibu yang kehamilannya memasuki 8-9 bulan sengaja harus mengurangi
makannya agar bayi yang dikandungnya kecil dan mudah dilahirkan. Di daerah
cianjur, ibu hamil pantang makan dengan menggunakan piring yang besar
Karena khawatir bayinya akan besar sehingga akan mempersulit persalinan.
Selain itu, larangan untuk memakan buah-buahan seperti nanas, durian, pisang
dempet, daging kambing dan lain-lain bagi wanita hamil juga masih dianut oleh
beberapa kalangan masyarakat terutama masyarakat di daerah pedesaan. Peran
perawat harus bisa memberikan edukasi tentang pentingnya makanan yang
cukup dan bergizi di dalam tubuh untuk proses metabolisme dan meningkatkan
derajat kesehatan wanita hamil.