You are on page 1of 2

Nama : 1.

Tri Yadi Novianto

2. Very Dwi Irawan

Kelas : 8 A

PERLAWANAN NYI AGENG SERANG

Nyi Ageng Serang bernama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi. Beliau lahir
di Serang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah pada tahun 1762. Beliau adalah seorang
Pahlawan Nasional Indonesia. Beliau adalah putri bungsu dari Bupati Serang, Panembahan
Natapraja.

Nyi Ageng Serang mewarisi jiwa dan sifat ayahandanya yang sangat benci kepada penjajahan
Belanda (VOC) dan memiliki patriotisme yang tinggi. Hal itu rupanya dapat diketahui oleh
penjajah Belanda. Karenanya pada suatu ketika mereka mengadakan penyerbuan secara
mendada terhadap kubu pertahanan Pangeran Natapraja bersama putra-putrinya itu, dengan
kekuatan tentara yang besar. Karena usianya sudah lanjut, pemimpin pertahanan Serang di
serahkan kepada nyi Ageng Serang bersama putranya laki-laki. Walaupun diserang dengan
mendadak dan dengan jumlah dan kekuatan tentara besar, pasukan Serang tetap berjuang
dengan gigih dan melakukan perlawanan mati-matian. Dalam suatu pertempuran yang sangat
sengit putra Penembahan Natapraja, saudara laki-laki nyi Ageng Serang, gugur. Pimpinan
dipegang langsung sendiri oleh Nyi Ageng Serang dan berjuang terus dengan gagah berani.

Namun demikian, karena jumlah dan kekuatan musuh memang jauh lebih besar, sedangkan
rekan seperjuangannya yaitu Pangeran Mangkubumi tidak membantu lagi karena
mengadakan perdamaian dengan Belanda berdasarkan perjanjian Giyanti. (13 Februari 1755),
maka akhirnya pasukan Serang terdesak, dan banyak yang gugur sehingga tidak mungkin
melanjutkan perlawan lagi. Walaupun Nyi Ageng Serang tidak mau menyerahkan diri,
akhirnya tertangkap juga dan menjadi tawanan Belanda. Panembahan Natapraja sudah makin
lanjut usia dan menderita batin yang mendalam dengan terjadinya peristiwa-peristiwa
tersebut. Akhirnya beliau jatuh sakit dan wafat.
Selama Nyi Ageng Serang dalam tahanan Belanda, terjadi perubahan-perubahan pending di
Yogyakarta. Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengkubuwono I telah diganti
Sultan Hamengkubuwono II. Bertepatan dengan Upacara Penobatan Sultan
Hamengkubuwono II itu, Nyi Ageng Serang dibebaskan dari tahanan Belanda dan bahkan
diantarkan ke Yogyakarta untuk diserahkan kepada Sri Sultan. Entah apa latar belakang yang
sesungguhnya sehingga hal itu terjadi. Yang dapat diketahui dengan jelas ialah bahwa
kedatangan Nyi Ageng Serang di Yogyakarta disambut secara besar-besaran dengan tata cara
penghormatan yang tinggi sesuai adat keraton. Upacara itu dilakukan mengingat jasa dan
patriotisme almarhum Panembahan Natapraja dan Nyi Ageng Serang serta keharuman nama
Pahlawan Nasional Wanita itu sendiri.