You are on page 1of 12

LABORATORIUM PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI

LAPORAN PRAKTIKUM PENGOLAHAN LIMBAH CAIR


SECARA ANAEROBIK
disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Praktikum Pengolahan Limbah
Industri Semester V Prodi D3-Teknik Kimia

Dosen Pembimbing : Dian Ratna Suminar, ST.,MT.

Oleh
Fatona Waluya (161411037)
Husna Immah (161411038)
Indra Maulana Arifin (161411039)
Indri Nurbaitie Maharani (161411040)
Kelompok 2 (Kelas 3B, D3-Teknik Kimia)

Tanggal Praktikum : 02 Oktober 2018


Tanggal Penyerahan Laporan : 12 Oktober 2018

POGRAM STUDI D3 – TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2018
I. TUJUAN
Setelah melakukan percobaan, mahasiswa diharapkan mampu :
1. Menentukan konsentrasi awal kandungan bahan organik (COD) dalam
umpan dan konsentrasi kandungan bahan organik (COD) dalam efluen
setelah percobaan berlangsung selama satu minggu.
2. Menentukan kandungan Mixed Liquor Volatile Suspended Solid
(MLVSS) yang mewakili kandungan mikroorganisme dalam reaktor.
3. Mempersiapkan nutrisi dalam umpan bagi mikroorgaisme pendegradasi
air limbah.
4. Menghitung efisiensi pengolahan dengan cara menentukan persen (%)
kandungan bahan organik yang didekomposisi selama satu minggu oleh
mikroorganisme dalam reaktor terhadap kandungan bahan organik
mula-mula.
5. Menghitung total gas yang dihasilkan setelah proses berjalan selama
satu minggu untuk mengetahui efisiensi pembentukan gas.
II. DASAR TEORI

III. METODOLOGI PERCOBAAN


3.1. Skema Peralatan Pengolahan Limbah Secara Anaerobik
Gambar 1. Skema Susunan Alat Pengolahan Anaerobik Dua Tahap
3.2. Alat Pendukung yang Digunakan
Tabel 1. Daftar Alat Pendukung
No. Nama Alat Spesifikasi Jumlah
1. Labu Erlenmeyer 250 mL 2 buah
2. Labu Erlenmeyer 100 mL 4 buah
3. Gelas Kimia 50 mL 4 buah
4. Gelas Kimia 1L 1 buah
5. Labu Takar 25 mL 1 buah
6. Pipet Ukur 1 mL 1 buah
7. Pipet Ukur 5 mL 1 buah
8. Pipet Ukur 25 mL 1 buah
9. Pipet Tetes - 1 buah
10. Corong Buchner - 1 buah
11. Kertas Saring - 2 buah
12. Kertas Timbang - 6 buah
13. Corong Gelas - 2 buah
14. Cawan Pijar - 2 buah
15. Desikator - 1 buah
16. Neraca Analitis - 1 buah
17. Oven - 1 buah
18. Furnace - 1 buah
19. Hach COD Digester - 1 buah
20. Tabung Hach - 4 buah
21. Buret 25 mL 1 buah
22. Klem - 1 buah
23. Statip - 1 buah

3.3. Bahan yang Digunakan


Tabel 2. Daftar Bahan yang Digunakan
No. Nama Bahan Jumlah
1. Glukosa 2,0 g/L
2. NH4HCO3 0,15 g/L
3. KH2PO4 0,15 g/L
4. NaHCO3 0,5 g/L
5. K2HPO4 0,5 g/L
6. Trace Metal Solution A 1 mL
7. MgSO4.7H2O 5,0 g/L
8. Trace Metal Solution B 1 mL
9. FeCl3 5,0 g/L
10. CaCl2 5,0 g/L
11. KCl 5,0 g/L
12. COCl2 1,0 g/L
13. NiCl2 1,0 g/L
14. FAS Secukupnya
15. Indikator Ferroin Secukupnya
16. Aquadest Secukupnya

3.4. Prosedur Kerja


3.4.1. Tahapan Percobaan

START

Melakukan aklimatisasi mikroba Menentukan konsentrasi COD


efluen

Menentukan konsentrasi COD


awal umpan Mencatat total gas terbentuk

Menentukan MLVSS FINISH

Melakukan percobaan pengolahan


limbah secara anaerobik selama 1
minggu
3.4.2. Penentuan Kandungan Bahan Organik (COD)

START

Melakukan pengenceran sampel Membiarkan tabung Hatch hingga


(25 kali) dingin

Memasukkan 2,5 mL sampel Memindahkan larutan kedalam


kedalam tabung Hatch erelenmeyer

Menambahkan 3,5 mL larutan Menitrasi dengan larutan FAS


H2SO4 pekat 0,1 N dengan indicator ferroin
(2-3 tetes) hingga terjadi
perubahan warna dari hijau
menjadi coklat
Menambahkan 1,5 mL larutan
K2Cr2O7
Melakukan pekerjaan dengan
aquades atau blanko
Memasukan tabung Hatch
kedalam alat Hatch COD
Digester
FINISH

Memanaskan tabung Hatch


T =150°C , t = 2 jam

Mengeluarkan tabung Hatch


3.4.3. Penentuan Mixed Liquor Volatile Suspended Solid
(MLVSS)

START

Memanaskan cawan pijar di Memasukkan cawan pijar ke


furnace T = 600°C , t = 1 jam dalam oven T = 105°C , t = 1 jam

Memanaskan kertas saring di oven Menimbang cawan pijar hingga


T = 105°C , t = 1 jam didapat berat konstan (c gram)

Mendinginkan cawan oijar dan Memasukkan cawan pijar ke


kertas saring di dalam desikator dalam furnace T = 600°C , t = 1
jam

Menimbang hingga berat konstan


cawan pijar (a gram) dan kertas Menimbang cawan pijar hingga
saring (b gram) didapat berat konstan (d gram)

Menyaring 40 mL sampel FINISH


menggunakan kertas saring yang
telah konstan beratnya

Memasukkan kertas saring +


endapan ke dalam cawan pijar
3.4.4. Pembuatan Nutrisi

IV. KESELAMATAN KERJA

V. DATA PENGAMATAN
5.1. Penentuan Kandungan Bahan Organik (COD)
 Konsentrasi FAS : 0,098 N
 Pengenceran Sampel : 25 kali
 Berat Ekivalen Oksigen (O2) : 8 gram/ekivalen
 Volume Sampel : 2,5 mL
Tabel 3. Data Pengamatan Kandungan Bahan Organik (COD)
Volume Titrasi Blanko Volume Titrasi Sampel
(mL) (mL)
Awal Akhir Awal Akhir
Volume 3,3 3,3 2,3 2,0
FAS (mL) 3,5 3,1 2,25 1,8
Rata-rata 3,4 3,2 2,275 1,9

5.2. Penentuan Mixed Liquor Volatile Suspended Solid (MLVSS)


Tabel 4. Data Pengamatan MLVSS
Berat Konstan
(gram)
Awal Akhir
Cawan pijar (a gram) 40,2277 41,0995
Kertas saring (b gram) 0,9062 0,8992
Cawan pijar + Kertas saring +
41,1399 41,9861
Endapan setelah di oven (c gram)
Cawan pijar + Kertas saring +
40,2735 41,1056
Endapan setelah di furnace (d gram)

VI. PENGOLAHAN DATA


6.1. Penentuan Kandungan Bahan Organik (COD)
Rumus :
(a−b)x c x 1000 x d x p
COD (mg O2 / L) = mL sampel
Ket :
a = mL FAS untuk blanko
b = mL FAS untuk sampel
c = Normlitas FAS
d = Berat ekivalen Oksigen (8)
p = Pengenceran
(a−b)x c x 1000 x d x p
COD awal (mg O2 / L) = mL sampel

(3,4 − 2,275)x 0,098 x 1000 x 8 x 25


= 2,5

= 8820 mg O2/L

(a−b)x c x 1000 x d x p
COD akhir (mg O2 / L) = mL sampel

(3,2 − 1,9)x 0,098 x 1000 x 8 x 25


= 2,5

= 10192 mg O2/L

𝐶𝑂𝐷 𝑎𝑤𝑎𝑙 − 𝐶𝑂𝐷 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟


Efisiensi Pengolahan = 𝑥 100%
𝐶𝑂𝐷 𝑎𝑤𝑎𝑙

8820 − 10192
= 𝑥 100%
8820

= -15,6 %

6.2. Penentuan Mixed Liquor Volatile Suspended Solid (MLVSS)

𝑐−𝑎
TSS (mg/L) = 𝑥 106
𝑚𝐿 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

𝑐−𝑑
VSS (mg/L) = 𝑥 106
𝑚𝐿 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

FSS (mg/L) = TSS – VSS

 MLVSS awal
𝑐−𝑎
TSS (mg/L) = 𝑥 106
𝑚𝐿 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

41,1399 − 40,2277
= 𝑥 106
40 𝑚𝐿

= 22805 mg/L
𝑐−𝑑
VSS (mg/L) = 𝑥 106
𝑚𝐿 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

41,1399 − 40,2735
= 𝑥 106
40 𝑚𝐿

= 21660

FSS (mg/L) = TSS – VSS


= 22805 – 21660
= 1145 mg/L
 MLVSS akhir
𝑐−𝑎
TSS (mg/L) = 𝑚𝐿 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑥 106

41,9861 − 41,0995
= 𝑥 106
40 𝑚𝐿

= 22165 mg/L

𝑐−𝑑
VSS (mg/L) = 𝑥 106
𝑚𝐿 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

41,9861 − 41,1056
= 𝑥 106
40 𝑚𝐿

= 22012,5 mg/L

FSS (mg/L) = TSS – VSS


= 22165 – 22012,5
=152 mg/L

Tabel
Hasil Percobaan
No. Data Percobaan Satuan
Awal Akhir
1. MLVSS mg/L 21660 22012
2. COD mgO2/L 8820 10192
3. Efisiensi Pengolahan % -15,6
4. Total Gas terbentuk mL 0
VII. PEMBAHASAN
Fatona Waluya (161411037)
Proses pengolahan limbah dapat dilakukan dengan degradasi oleh mikroba
anaerobik. Proses ini banyak dilakukan pada pengolahan limbah minyak
bumi, dengan mendegradasi limbah minyak menjadi metana, salah satu
penelitian di Vallaloid, Spanyol mendapati aktifitas metanogenik sebesar
0.46 g CH4/(COD.VSS) (Monsalvo, 2016). Keberhasilan proses
metanogenik sangat ditentukan oleh faktor nutrisi serta kapasitas limbah
yang dapat diolah oleh mikroba (Rada, 2017). Terlalu sedikit nutrisi
mengakibatkan mikroba yang terbentuk sedikit sehingga tidak mampu
mendegradasi, terlalu banyak nutrisi mengakibatkan mikroba bereproduksi
tanpa mendegradasi limbah. (Cheremisinoff, 2002)

Parameter penting untuk mengetahui jumlah limbah yang terdegradasi


adalah efisiensi pengolahan yang ditunjukan oleh perubahan nilai COD dari
limbah. Dari hasil praktikum didapat efisiensi sebesar -15.6 %, hal ini terjadi
akibat ketidak seimbangan nutrisi dengan jumlah limbah terolah. Nutrisi
yang diberikan sangat tinggi (setiap kelompok memberikan jumlah nutrisi
pada digester yang sama) sehingga terjadi ledakan populasi mikroba,
akibatnya mikroba tidak mendegradasi limbah namun bereproduksi.

Nilai COD yang lebih tinggi terjadi akibat mikroba yang sangat banyak
mengalami fase kematian massal dan menambah beban pengolahan. Hal ini
terbukti dari nilai VSS awal 21.660 mg/L meningkat menjadi 22.012 mg/L.
Sekitar 400 mg/L mikroba tumbuh dan mati bersama mikroba lainnya.

Karena degradasi tidak berjalan maka tidak terbentuk gas metana sedikitpun,
ini memperkuat bukti bahwa mikroba hanya bereproduksi tanpa
mendegradasi limbah. Untuk mengatasi hal ini adalah menentukan jumlah
nutrisi yang tepat, jika dalam seminggu terdapat 4 kelompok yang
melakukan praktikum maka dosis optimum dapat diambil 25 % tiap
kelompok.
PUSTAKA

Cheremisinoff, N. P. (2002). Handbook of Water and Wastewater


Treatment Technologies. New York: Butterworth Heinemann.
Flynn, D. (2009). The Nalco Water Handbook. New York: McGraw-Hill.
Green, D. W., & Perry, R. H. (2008). Perry's Chemical Engineers'
Handbook (8 ed.). New York: McGraw Hill.
Monsalvo, V. M. (Penyunt.). (2016). Ecological Technologies For
Industrial Waste Water Management. Canada: Apple Academic Press.
Rada, E. C. (Penyunt.). (2017). Thermochemical Waste Treatment. Canada:
Apple Academic Press.

Husna Immah (161411038)


Indra Maulana Arifin (161411039)
Berdasarkan data yang diperoleh pada praktikum pengolahan limbah
secara anaerob dengan bahan baku air limbah molase bahwa air limbah
memiliki parameter COD awal sebesar 8820 mg/L, kemudian setelah
mikroba pendegradasi senyawa organik dalam air limbah diberi nutrisi dan
percobaan berlangsung selama seminggu, air limbah memiliki COD yang
meningkat yaitu 10192 mg/L. Nilai COD menunjukan kandungan senyawa
organik dalam air limbah, sehingga kenaikan nilai COD dapat pula
menunjukkan adanya kenaikan senyawa organik dalam air limbah.
Kandungan mikroba pendegradasi senyawa organik pada air limbah
dapat dilihiat dari nilai MLVSS nya. Nilai MLVSS awal air limbah adalah
sebesar 21660 mg/L dan MLVSS akhir sebesar 22012 mg/L. Kenaikan nilai
MLVSS menunjukan naiknya jumlah mikroba yang terdapat pada air
limbah. Kenaikan jumlah mikroba seharusnya meningkatkan performa dari
proses degradasi senyawa organik sehingga nilai COD harusnya semakin
berkurang. Naiknya nilai COD selama percobaan diprediksi disebabkan
oleh penambahan senyawa organik yang tidak seimbang dengan
pertumbuhan mikroba dalam air limbah. Senyawa organik dalam hal ini
adalah glukosa yang ditambahkan sebagai nutrisi mikroba.
Efisiensi pengolahan air limbah secara anaerob pada percobaan kali ini
adalah -15,6%. Nilai efisiensi negatif disebabkan oleh kenaikan nilai COD
pada akhir percobaan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
Indri Nurbaitie Maharani (161411040)
Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan pengolahan limbah cair
secara anaerobik dengan menggunakan air limbah molase yang berasal dari
pabrik gula. Percobaan dilakukan dengan menggunakan metode satu tahap
artinya
VIII. KESIMPULAN
IX. DAFTAR PUSTAKA
X. LAMPIRAN