You are on page 1of 22

ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN COPD

Disusun untuk memenuhi mata kuliah Keperawatan Gerontik

Dosen Pengampu: Ns. Alfeus Manuntung, S.Kep., M.Kep

Kelompok III:
Candika (PO.62.20.1.15.)
Eristamiani (PO.62.20.1.15.)
Hariyantoe Maliana (PO.62.20.1.15.)
Indra Wahyudi (PO.62.20.1.15.)
Lila Hidayati (PO.62.20.1.15.130)
Yelia Yuliana (PO.62.20.1.15.)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALANGKA RAYA
JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI DIV KEPERAWATAN REGULER II
2017
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...................................................................................................................1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ....................................................................................................2
B. Rumusan Masalah ...............................................................................................2
C. Tujuan .................................................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi PPOM ....................................................................................................4
B. Etiologi PPOM ....................................................................................................9
C. Patofisiologi PPOM ............................................................................................9
D. Manifestasi Klinis PPOM ...................................................................................10
E. Penatalaksanaan PPOM pada Lansia ..................................................................11
F. Asuhan Keperawatan pada Lansia dengan PPOM..............................................12
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .........................................................................................................20
B. Saran ...................................................................................................................20
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................................21

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) atau Penyakit Paru Obstruktif
Menahun (PPOM) adalah klasifikasi luas dari gangguan yang mencakup bronkitis
kronis, bronkiektasis, emfisema dan asma. (Bruner & Suddarth, 2002).

Penyakit paru-paru obstruksi menahun (PPOM) merupakan suatu istilah yang


sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru-paru yang berlangsung lama dan
ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara. Ketiga penyakit yang
membentuk satu kesatuan yang dikenal dengan sebutan PPOM adalah: Bronkhitis,
Emifisema paru-paru dan Asma bronkial. Perjalanan PPOM yang khas adalah panjang
dimulai pada usia 20-30 tahun dengan “batuk merokok” atau batuk pagi disertai
pembentukan sedikit sputum mukoid.
Akhirnya serangan brokhitis akut makin sering timbul, terutama pada musim
dingin dan kemampuan kerja penderita berkurang, sehingga pada waktu mencapai
usia 50-60an penderita mungkin harus mengurangi aktifitas. Penderita dengan tipe
emfisematosa yang mencolok, perjalanan penyakit tampaknya tidak dalam jangka
panjang, yaitu tanpa riwayat batuk produktif dan dalam beberapa tahun timbul
dispnea yang membuat penderita menjadi sangat lemah. Bila timbul hiperkapnea,
hipoksemia dan kor pulmonale, maka prognosis adalah buruk dan kematian biasanya
terjadi beberapa tahun sesudah timbulnya penyakit. (Price & Wilson, 1994: 695)

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan COPD?
2. Apa penyebab COPD?
3. Bagaimana patofisiologi COPD?
4. Bagaimana tanda dan gejala COPD?
5. Bagaimana penatalaksanaan COPD pada lansia?
6. Bagaimana asuhan keperawatan pada lansia dengan COPD?

2
C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami konsep dasar dan asuhan keperawatan yang
diberikan kepada lansia dengan masalah pernafasan (PPOM).
2. Tujuan Khusus
a) Mahasiswa memahami tentang definisi PPOM.
b) Mahasiswa memahami penyebab PPOM.
c) Mahasiswa memahami patofisiologi PPOM
d) Mahasiswa memahami tanda dan gejala dari PPOM.
e) Mahasiswa memahami penatalaksanaan PPOM pada lansia.
f) Mahasiswa memahami asuhan keperawatan pada lansia dengan PPOM.

3
BAB II
PEMBAHASAN

1. Definisi PPOM
PPOM adalah kelainan paru yang ditandai dengan gangguan fungsi paru berupa
memanjangnya periode ekspirasi yang disebabkan oleh adanya penyempitan saluran
nafas dan tidak banyak mengalami perubahan dalam masa observasi.
Dalam PPOM, aliran udara ekspirasi mengalami obstruksi yang kronis dan pasien
mengalami kesulitan dalam bernafas. PPOM sesungguhnya merupakan kategori penyakit
paru-paru yang utama dan penyakit ini terdiri dari beberapa penyakit yang berbeda. Ada
dua contoh penyakit PPOM yang biasa terjadi yaitu penyakit emfisema dan bronchitis
kronis, asma, dan bronkiektasis, dimana penyakit-penyakit tersebut menyebabkan
terjadinya perubahan pola pernafasan.
Emfisema
Emfisema terjadi pembesaran ruang udara bronkhioli distal sampai terminalis. Hal
ini menyebabkan kerusakan pada dinding alveolar, sehingga mengakibatkan timbulnya
malfungsi pada pertukaran gas. Pasien dengan emfisema harus bertahan hidup dengan
keadaan penyakit yang irreversible dan mereka akan mengalami perbaikan setelah
mengikuti program rehabilitasi. Ciri khas dari penyakit ini adalah pasien akan mengalami
periode stabil dan kemudian berangsur-angsur memburuk, yang seringkali terjadi sebagai
akibat dari infeksi pernafasan. Perlu mengawasi dan mengkaji tanda-tanda dan gejala
penurunan pada pesien, termasuk tanda-tanda meningkatnya produksi sputum,
kekentalan sputum dengan warna berubah kuning menjadi hijau, meningkatnya
kecemasan dan menurunnya toleransi daya kekuatan tubuh terhadap aktivitas yang biasa
dilakukan, serta meningkatnya ronchi dan suara bising pada auskultasi paru-paru.
Pada emfisema beberapa faktor penyebab obstruksi jalan napas yaitu: inflamasi dan
pembengkakan bronki; produksi lendir yang berlebihan; kehilangan rekoil elastik jalan
napas; dan kolaps bronkiolus serta redistribusi udara ke alveoli yang berfungsi. Karena
dinding alveoli mengalami kerusakan, area permukaan alveolar yang kontak langsung
dengan kapiler paru secara kontinu berkurang, menyebabkan peningkatan ruang rugi
(area paru dimana tidak ada pertukaran gas yang dapat terjadi) dan mengakibatkan
kerusakan difusi oksigen. Kerusakan difusi oksigen mengakibatkan hipoksemia. Pada
tahap akhir penyakit, eliminasi karbondioksida mengalami kerusakan, mengakibatkan

4
peningkatan tekanan karbondioksida dalam darah arteri (hiperkapnia) dan menyebabkan
asidosis respiratorius.
Karena dinding alveolar terus mengalami kerusakan, jaring-jaring kapiler pulmonal
berkurang. Aliran darah pulmonal meningkat dan ventrikel kanan dipaksa untuk
mempertahankan tekanan darah yang tinggi dalam arteri pulmonal. Dengan demikian,
gagal jantung sebelah kanan (kor pulmonal) adalah salah satu komplikasai emfisema.
Terdapatnya kongesti, edema tungkai, distensi vena leher atau nyeri pada region hepar
menandakan terjadinya gagal jantung. Sekresi meningkat dan tertahan menyebabkan
individu tidak mampu untuk membangkitkan batuk yang kuat untuk mengeluarkan
sekresi. Infeksi akut dan kronis dengan demikian menetap dalam paru yang mengalami
emfisema memperberat masalah.
Individu dengan emfisema mengalami obstruksi kronik ke aliran masuk dan aliran
keluar udara dari paru. Paru-paru dalam keadaan heperekspansi kronik. Untuk
mengalirkan udara kedalam dan keluar paru-paru, dibutuhkan tekanan negatif selama
inspirasi dan tekanan positif dalam tingkat yang adekuat harus dicapai dan dipertahankan
selama ekspirasi. Posisi selebihnya adalah salah satu inflasi. Daripada menjalani aksi
pasif involunter, ekspirasi menjadi aktif dan membutuhkan upaya otot-otot. Sesak napas
pasien terus meningkat, dada menjadi kaku, dan iga-iga terfiksaksi pada persendiannya.
Dada seperti tong (barrel chest) pada banyak pasien ini terjadi akibat kehilangan
elastisitas paru karena adanya kecenderungan yang berkelanjutan pada dinding dada
untuk mengembang.

Bronchitis Kronis
Bronchitis kronis bisa dikenali dengan adanya pengeluaran sekret yang berlebihan
dari trakeo-bronchial dan terakumulasi setiap hari selama paling tidak 3 bulan pertahun
selama dua tahun berturut-turut.Pasien memiliki keluhan batuk kronis dengan produksi
dahak yang makin meningkat.Penyebab batuk lainnya seperti kanker paru-paru atau
kanker laringeal sebaiknya disingkirkan terlebih dahulu. Pada penyakit bronchitis kronis,
sekresi yang berlebihan terakumulasi dan jika diludahkan akan nampak seperti dahak
yang kental dan putih. Dalam jangka waktu yang lama akan terjadi pembesaran kelenjar
mukosa bronchial sehingga menyebabkan obstruksi jalan nafas.
Asap mengiritasi jalan nafas mengakibatkan hipersekresi lendir dan inflamasi.
Karena iritasi yang konstan ini, kelenjar-kelenjar yang mensekresi lendir dan sel-sel
goblet meningkat jumlahnya, fungsi silia menurun dan lebih banyak lendir yang

5
dihasilkan. Sebagai akibat bronkiolus dapat menjadi menyempit dan tersumbat. Alveoli
yang berdekatan dengan bronkiolus dapat menjadi rusak dan membentuk fibrosis,
mengakibatkan perubahan fungsi makrofag alveolar yang berperan penting dalam
menghancurkan partikel asing termasuk bakteri. Pasien kemudian menjadi lebih rentan
terhadap infeksi pernapasan. Penyempitan bronkial lebih lanjut terjadi sebagai akibat
perubahan fibrotik yang terjadi dalam jalan napas. Pada waktunya mungkin terjadi
perubahan paru yang ireversibel, kemungkinan mengakibatkan emfisema dan
bronkiektasis.

Asma
Menurut Croccket (1997) Asma bronkiale didefinisikan sebagai salah satu penyakit
dari sistem pernapasan yang meliputi peradangan dari jalan napas dan gejala-gejala
bronkhospasma yang bersifat reversibel.
Asma bronchiale menurut Americans Thoracic Society dikutip dari Barata Wijaya
(1990) adalah suatu penyakit dengan ciri mendekatnya respons Trakhea dan Bronkhus
terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan napas yang
luas dan derajatnya berubah-ubah, baik secara spontan maupun sebagai hasil pengobatan.
Rangsangan atau pencetus yang sering menimbulkan asthma perlu diketahui dan
sedapat mungkin dihindarkan. Faktor-faktor tersebut adalah:
a) Alergen utama: debu rumah, spora jamur dan tepung sari rerumputan
b) Iritan seperti asap, bau-bauan, pollutan
c) Infeksi saluran nafas terutama yang disebabkan oleh virus
d) Perubahan cuaca yang ekstrim.
e) Kegiatan jasmani yang berlebihan.
f) Lingkungan kerja
g) Obat-obatan.
h) Emosi
i) Lain-lain: seperti reflux gastro esofagus.

Gejala asthma terdiri dari triad: dispnea, batuk dan mengi, gejala yang disebutkan
terakhir sering dianggap sebagai gejala yang harus ada (“sine qua non”).
Objektif
• Sesak nafas yang berat dengan ekspirasi memanjang disertai wheezing.
• Dapat disertai batuk dengan sputum kental, sulit dikeluarkan.

6
• Bernafas dengan menggunakan otot-otot nafas tambahan
• Cyanosis, tachicardia, gelisah, pulsus paradoksus.
• Fase ekspirasi memanjang disertai wheezing (di apex dan hilus)

Subjektif

• Klien merasa sukar bernafas, sesak, anoreksia.

Psikososial

• Cemas, takut dan mudah tersinggung


• Kurangnya pengetahuan klien terhadap situasi penyakitnya

Bronkiektasis
Bronkiektasis adalah dilatasi bronki dan bronkiolus kronis yang mungkin
disebabkan oleh berbagai kondisi, termasuk infeksi paru dan obstruksi bronkus; aspirasi
benda asing, muntahan, atau benda-benda dari saluran pernapasan atas; dan tekanan

7
akibat tumor, pembuluh darah yang berdilatasi, dan pembesaran nodus limfe. (Bruner &
Suddarth).
Bronkiektasis merupakan kelainan morfologis yang terdiri dari pelebaran bronkus
yang abnormal dan menetap disebabkan kerusakan komponen elastis dan muscular
dinding bronkus.
Bronkiektasis berarti suatu dilatasi yang tak dapat pulih lagi dari bronchial yang
disebabkan oleh episode pnemonitis berulang dan memanjang, aspirasi benda asing, atau
massa (misalnya Neoplasma) yang menghambat lumen bronchial dengan obstruksi
(Hudak & Gallo,1997).
Bronkiektasis adalah dilatasi permanent abnormal dari salah satu atau lebih cabang-
cabang bronkus yang besar (Barbara E, 1998)
a. Etiologi
1) Infeksi
2) Kelainan herideter atau kelainan konginetal
3) Factor mekanis yang mempermudah timbulnya infeksi
4) Sering penderita mempunyai riwayat pneumoni sebagai komplikasi campak,batuk
rejan, atau penyakit menular lainnya semasa kanak-kanak.
b. Patofisiologi Bronkiektasis
Infeksi merusak dinding bronkial, menyebabkan kehilangan struktur pendukungnya
dan menghasilkan sputum yang kental yang akhirnya dapat menyumbat bronki.
Dinding bronkial menjadi teregang secara permanen akibat batuk hebat. Infeksi
meluas ke jaringan peribronkial sehingga dalam kasus bronkiektasis sakular, setiap
tuba yang berdilatasi sebenarnya adalah abses paru, yang eksudatnya mengalir bebas
melalui bronkus. Bronkiektasis biasanya setempat, menyerang lobus atau segmen
paru. Lobus yang paling bawah lebih sering terkena.
Retensi sekresi dan obstruksi yang diakibatkannya pada akhirnya menyebabkan
alveoli di sebelah distal obstruksi mengalami kolaps (ateletaksis). Jaringan parut atau
fibrosis akibat reaksi inflamasi menggantikan jaringan paru yang berfungsi. Pada
waktunya pasien mengalami insufisiensi pernapasan dengan penurunan kapasitas
vital, penurunan ventilasi dan peningkatan rasio volume residual terhadap kapasitas
paru total. Terjadi kerusakan campuran gas yang diinspirasi (ketidakseimbangan
ventilasi-perfusi) dan hipoksemia.

8
2. Etiologi PPOM
PPOM disebabkan oleh faktor lingkungan dan gaya hidup, yang sebagian besar bias
dicegah. Merokok diperkirakan menjadi penyebab timbulnya 80-90% kasus
PPOM.Feaktor resiko lainnya termasuk keadaan social-ekonomi dan status pekerjaaan
yang rendah, kondisi lingkungsn yang buruk karena dekat lokasi pertambangan, perokok
pasif, atau terkena polusi udara dan konsumsi alcohol yang berlebihan. Laki-laki dengan
usia antara 30 hingga 40 tahun paling banyak menderita PPOM.

3. Patofisiologi PPOM
Patofisiologi PPOM adalah sangat komplek dan komprehensif sehingga
mempengaruhi semua sisitem tubuh yang artinya sama juga dengan mempengaruhi gaya
hidup manusia. Dalam prosesnya, penyakit ini bias menimbulkan kerusakan pada
alveolar sehingga bisa mengubah fisiologi pernafasan, kemudian mempengaruhi
oksigenasi tubuh secara keseluruhan. Abnormal pertukaran udara pada paru-paru
terutama berhubungan dengan tiga mekanisme berikut ini:
a. Ketidakseimbangan ventilasi-perfusi
Hal ini menjadi penyebab utama hipoksemia atau menurunnya oksigenasi
dalam darah.Keseimbangan normal antara ventilasi alveolar dan perfusi aliran darah
kapiler pulmo menjadi terganggu.Peningkatan keduanya terjadi ketika penyakit yang
semakin berat sehingga menyebabkan kerusakan pada alveoli dan dan kehilangan
bed kapiler. Dalam kondisi seperti ini, perfusi menurun dan ventilasi sama. Ventilasi
dan perfusi yang menurun bias dilihat pada pasien PPOM, dimana saluran
pernafasan nya terhalang oleh mukus kental atau bronchospasma. Di sini penurunan
ventilasi akan terjadi, akan tetapi perfusi akan sama, atau berkurang sedikit. Banyak
di diantara pasien PPOM yang baik empisema maupun bronchitis kronis sehingga
ini menerangkan sebabnya mengapa mereka memiliki bagian-bagian,dimana terjadi
diantara keduanya yang meningkat dan ada yang menurun.
b. Mengalirnya darah kapiler pulmo
Darah yang tidak mengandung oksigen dipompa dari ventrikel kanan ke paru-
paru, beberapa diantaranya melewati bed kapiler pulmo tanpa mengambil
oksigen.Hal ini juga disebabkan oleh meningkatnya sekret pulmo yang menghambat
alveoli.

9
c. Difusi gas yang terhalang
Pertukaran gas yang terhalang biasanya terjadi sebagai akibat dari sati atau da
seba yaitu berkurangnya permukaan alveoli bagi pertukaran udara sebagai akibat
dari penyakit empisema atau meningkatnya sekresi, sehingga menyebabkan difusi
menjadi semakin sulit.

4. Manifestasi Klinis PPOM


Perkembangan gejala-gejala yang merupakan ciri-ciri dari PPOM adalah malfungsi
kronis pada sistem pernafasan yang manifestasi awalnya adalah ditandai dengan batuk-
batuk dan produksi dahak yang menjadi di saat pagi hari. Nafas pendek sedang yang
berkembang menjadi nafas pendek akut. Batuk dan produksi dahak (pada batuk yang
dialami perokok) memburuk menjadi batuk persisten yang disertai dengan produksi
dahak yang semakin banyak. Biasanya, pasien akan sering mengalami infeksi pernafasan
dan kehilangan berat badan yang cukup drastis, sehingga pada akhirnya pasien tersebut
tidak akan mampu secara maksimal melaksanakan tugas-tugas rumah tangga atau yang
menyangkut tanggung jawab pekerjaannya.
Pasien mudah sekali merasa lelah dan secara fisik banyak yang tidak mampu
melakukan kegiatan sehari-hari. Selain itu, pasien PPOM banyak yang mengalami
penurunan berat badan yang cukup drastis sebagai akibat dari hilangnya nafsu makan
karena produksi dahak yang makin melimpah, penurunan daya kekuatan tubuh,
kehilangan selera makan, penurunan kemampuan pencernaan sekunder karena tidak
cukup oksigenasi sel dalam sistem gastrointestinal. Pasien PPOM lebih membutuhkan
banyak kalori karena lebih banyak mengeluarkan tenaga dalam melakukan pernafasan.
Tanda dan gejala yang khas pada pasien PPOM:
a) Batuk yang sangat produktif, puruken, dan mudah memburuk oleh iritan-iritan
inhalan, udara dingin, atau infeksi.
b) Sesak nafas dan dispnea.
c) Terperangkapnya udara akibat hilangnya elastisitas paru menyebabkan dada
mengembang.
d) Hipoksia dan Hiperkapnea.
e) Takipnea.
f) Dispnea yang menetap (Corwin, 2000: 437)

10
5. Penatalaksanaan PPOM pada lansia
Penatalaksanaan untuk penderita PPOM usia lanjut, sebagai berikut:
a. Meniadakan faktor etiologik atau presipitasi
b. Membersihkan sekresi bronkus dengan pertolongan berbagai cara.
c. Memberantas infeksi dengan antimikrobia. Apabila tidak ada infeksi anti mikrobia
tidak perlu diberikan.
d. Mengatasi bronkospasme dengan obat-obat bronkodilator (Aminophillin dan
Adrenalin).
e. Pengobatan simtomatik (lihat tanda dan gejala yang muncul)
- Batuk produktif beri obat mukolitik/ekspektoran
- Sesak nafas beri posisi yang nyaman (fowler), beri O2
- Dehidrasi beri minum yang cukup bila perlu pasang infus
f. Penanganan terhadap komplikasi-komplikasi yang timbul.
g. Pengobatan oksigen, bagi yang memerlukan, O2 harus diberikan dengan aliran
lambat: 1-2 liter/menit.
h. Mengatur posisi dan pola bernafas untuk mengurangi jumlah udara yang
terperangkap.
9. Memberi pengajaran mengenai tehnik-tehnik relaksasi dan cara-cara untuk
menyimpan energi.
i. Tindakan “Rehabilitasi”:
- Fisioterapi, terutama ditujukan untuk membantu pengeluaran sekret bronkus.
- Latihan pernafasan, untuk melatih penderita agar bisa melakukan pernafasan
yang paling efektif baginya.
- Latihan, dengan beban olah raga tertentu, dengan tujuan untuk memulihkan
kesegaran jasmaninya.
- Vocational Suidance: Usaha yang dilakukan terhadap penderita agar sedapat-
dapat kembali mampu mengerjakan pekerjaan semula.
- Pengelolaan Psikososial: terutama ditujukan untuk penyesuaian diri penderita
dengan penyakit yang dideritanya (Dharmajo dan Martono, 1999: 385).

11
6. Asuhan Keperawatan pada Lansia dengan PPOM

Pengkajian

Pengkajian mencakup pengumpulan informasi tentang gejala-gejala terakhir juga


manifestasi penyakit sebelumnya. Berikut ini adalah daftar pertanyaan yang bisa
digunakan sebagai pedoman untuk mendapatkan riwayat kesehatan yang jelas dari proses
penyakit:

1) Sudah berapa lama pasien mengalami kesulitan pernapasan?


2) Apakah aktivitas meningkatkan dispnea? Jenis aktivitas apa?
3) Berapa jauh batasan pasien terhadap toleransi aktivitas?
4) Kapan selama siang hari pasien mengeluh paling letih dan sesak napas?
5) Apakah kebiasaan makan dan tidur terpengaruh?
6) Apa yang pasien ketahui tentang penyakit dan kondisinya?

Data tambahan dikumpulkan melalui observasi dan pemeriksaan; pertanyaan yang patut
dipertimbangkan untuk mendapatkan data lebih lanjut termasuk:

7) Berapa frekuensi nadi dan pernapasan pasien?


8) Apakah pernapasan sama dan tanpa upaya?
9) Apakah pasien mengkonstriksi otot-otot abdomen selama inspirasi?
10) Apakah pasien menggunakan otot-otot aksesori pernapasan selama pernapasan?
11) Apakah tampak sianosis?
12) Apakah vena leher pasien tampak membesar?
13) Apakah pasien mengalami edema perifer?
14) Apakah pasien batuk?
15) Apa warna, jumlah dan konsistensi sputum pasien?
16) Bagaimana status sensorium pasien?
17) Apakah terdapat peningkatan stupor? Kegelisahan?

Diagnosa Keperawatan PPOM

a) Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan bronkokonstriksi,


peningkatan pembentukan mukus, batuk tidak efektif, infeksi bronkopulmonal.
b) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidaksamaan ventilasi-perfusi

12
c) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia,
produksi sputum, efek samping obat, kelemahan, dispnea
d) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya imunitas, malnutrisi
e) Kurang pengetahuan tentang kondisi/tindakan berhubungan dengan kurang
informasi.

Intervensi Keperawatan PPOM

a) Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan bronkokonstriksi,


peningkatan pembentukan mukus, batuk tidak efektif, infeksi bronkopulmonal.
Intervensi/Perencanaan
Diagnosa Keperawatan: Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan
tertahannya sekresi.
Tujuan: Mengefektifkan jalan nafas
Hasil yang diharapkan:
- Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih/jelas
- Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan nafas
Misal: Batuk efektif dan mengeluarkan sekret.

Intervensi:

1) Auskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas, misal: mengi, krekels, ronki.
Rasional: Beberapa derajat bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan
tidak dimanifestasikan adanya bunyi nafas adventisius, misal: krekels basah
(bronkhitis),bunyi nafas redup dengan ekspirasi mengi (emfisema).
2) Kaji/pantau frekuensi pernafasan, catat rasio inspirasi mengi (emfisema)
Rasional: takipnea ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada
penerimaan/selama stress/adanya proses infeksi akut. Pernafasan dapat
melambat dan ferkuensi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi.
3) Kaji pasien untuk posisi yang nyaman misal: peninggian kepala tempat tidur,
duduk dan sandaran tempat tidur.
Rasional: Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan
dengan menggunakan gravitasi, namun pasien dengan slifres berat akan mencari
posisi yang paling mudah untuk bernafas.
4) Pertahankan polusi lingkungan minimum debu, asap dll

13
Rasional: Pencitus tipe reaksi alergi pernafasan yang dapat mentrigen episode
akut.
5) Bantu latihan nafas abdomen/bibir
Rasional: Memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol
dispnea dan menurunkan jebakan udara.
6) Ajarkan teknik nafas dalam batu efektif
Rasional: Batuk dapat menetap tetapi efektif khususnya bila pada lansia,sakit
akut, atau kelemahan. Batuk paling efektif pada posisi duduk tinggi/kepala
dibawah setelah perkusi dada.
Kolaborasi
7) Berikan obat sesuai indikasi
- Brokodilator mis, B-agonis, Epinefrin (adrenalin, vaponefrim) albuterol
(Proventil, Ventolin) terbulatin (Brethine, Brethaire), isoetarin
(Brokosol, Bronkometer).
Rasional: Merilekskan otot halus dan menurunkan kongesti lokal,
menurunkan spasme jalan nafas mengi, dan produksi mukosa, obat-obat
mungkin per oral, injeksi/inhalasi.
- Xantin, mis aminofilin, oxtrifilin (Choledyl), teofilin (Bonkoddyl, Theo-
Dur)
Rasional: Menurunkan edema mukosa dan spasme otot polos dengan
meningkatkan langsung siklus AMP. Dapat juga menurunkan kelemahan
otot/kegagalan pernafasan dengan meningkatkan kontraktilitis
diafragma.
8) Berikan humidifikasi tambahan mis nubuter nubuliser, humidiper aerosol
ruangan dan membantu menurunkan/mencegah pembentukan mukosa tebal
pada bronkus.
Rasional: Menurunkan kekentalan sekret mempermudah pengeluaran dan
membantu

Intervensi:

Mandiri

1) Auskultasi bunyi nafas


2) Kaji frekuensi pernapasan

14
3) Kaji adanya dispnea, gelisah, ansietas, distres pernapasan dan penggunaan otot
bantu pernapasan
4) Berikan posisi yang nyaman pada pasien: peninggian kepala tempat tidur, duduk
pada sandaran tempat tidur.
5) Hindarkan dari polusi lingkungan misal: asap, debu, bulu bantal
6) Dorong latihan napas abdomen
7) Observasi karakteristik batuk misalnya: menetap, batuk pendek, basah
8) Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hari sesuai toleransi jantung
9) Berikan air hangat

Kolaborasi:

10) Berikan obat sesuai indikasi: bronkodilator, Xantin, Kromolin, Steroid oral/IV
dan inhalasi, antimikrobial, analgesik
11) Berikan humidifikasi tambahan: misal nebuliser ultranik
12) Fisioterapi dada
13) Awasi GDA, foto dada, nadi oksimetri

b) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidaksamaan ventilasi-perfusi


Mandiri:
1) Kaji frekuensi, kedalaman pernapasan. Catat penggunaan alat bantu pernapasan.
2) Tinggikan kepala tempat tidur, bantu pasien memilih posisi yang mudah untuk
bernapas
3) Kaji kulit dan warna membran mukosa
4) Dorong mengeluarkan sputum,penghisapan bila diindikasikan
5) Auskulatasi bunyi nafas
6) Palpasi fremitus
7) Awasi tingkat kesadaran
8) Batasi aktivitas pasien
9) Awasi TV dan irama jantung

Kolaborasi:

10) Awasi GDA dan nadi oksimetri


11) Berikan oksigen sesuai indikasi
12) Berikan penekan SSP (antiansietas, sedatif atau narkotik)
13) Bantu intubasi, berikan ventilasi mekanik

15
c) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia,
produksi sputum, efek samping obat, kelemahan, dispnea
Intervensi:
Mandiri:
1) Kaji kebiasaan diet, masukan makanan saat ini. Evalusi berat badan
2) Auskultasi bunyi usus
3) Berikan perawatan oral sering
4) Berikan porsi makan kecil tapi sering
5) Hindari makanan penghasil gas dan minuman berkarbonat
6) Hindari makanan yang sangat panas dan sangat dingin
7) Timbang BB

Kolaborasi:

8) Konsul ahli gizi untuk memberikan makanan yang mudah dicerna


9) Kaji pemeriksaan laboratorium seperti albumin serum
10) Berikan vitamin/mineral/elektrolit sesuai indikasi
11) Berikan oksigen tambahan selama makan sesuai indikasi

d) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan dispnea,


kelemahan efek samping obat, produksi sputum, anoreksia, mual/muntah.
Tujuan: Memenuhi kebutuhan nutrisi klien secara adekuat
Kriteria hasil yang diharapkan:
- Menunjukkan peningkatan berat badan menuju tujuan yang tepat.
- Menunjukkan perilaku perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan/atau
mempertahankan berat yang tepat.

Intervensi

1) Kaji kebiasaan diet, masukan makanan saat ini, catat derajat kesulitan makan,
evaluasi BB dan ukuran tubuh.
Rasional: Pasien distress pernafasan akut sering anoreksia karena dispnea,
produksi sputum dan obat. Selain itu banyak pasien PPOM mempunyai
kebiasaan makan buruk, meskipun kegagalan pernafasan membuat status
hipermetalik dengan meningkatkan kebutuhan kalori.
2) Kaji pentingnya latihan nafas, batuk efektif, perubahan posisi sering, dan
masukan cairan adekuat.

16
Rasional: Aktifitas ini meningkatkan mobilisasi dan pengeluaran sekret untuk
menurunkan resiko terjadi infeksi paru.
3) Tunjukkan dan bantu pasien tentang pembuangan tisu dan sputum
Rasional: Cegah penyebaran patogen melalui cairan.
4) Dorong keseimbangan antara aktifitas dan istirahat
Rasional: Menurunkan konsumsi/kebutuhan keseimbangan oksigen dan
memperbaiki pertahanan pasien terhadap infeksi, meningkatkan penyembuhan.
Kolaborasi
5) Dapatkan spesimen dengan batuk/penghisapan untuk pewarnaan kuman gram
kultur/sensitivitas.
Rasional: Dilakukan untuk mengidentifikasikan organisme penyebab dan
kerentanan terhadap berbagai anti mikrobia.
6) Berikan anti mikrobia sesuai indikasi
Rasional: Dapat diberikan untuk organisme khusus yang teridentifikasi dengan
kultur dan sensitivitas, atau diberikan secara profilaktik karena resiko tinggi.

e) Kurang pengetahuan tentang kondisi/tindakan berhubungan dengan kurang


informasi.
1) Jelaskan proses penyakit
2) Jelaskan pentingnya latihan nafas, batuk efektif
3) Diskusikan efek samping dan reaksi obat
4) Tunjukkan teknik penggunaan dosis inhaler
5) Tekankan pentingnya perawatan gigi /mulut
6) Diskusikan pentingya menghindari orang yang sedang infeksi
7) Diskusikan faktor lingkungan yang meningkakan kondisi seperti udara terlalu
kering, asap, polusi udara. Cari cara untuk modifikasi lingkungan
8) Jelaskan efek, bahaya merokok
9) Berikan informasi tentang pembatasan aktivitas, aktivitas pilihan dengan
periode istirahat
10) Diskusikan untuk mengikuti perawatan dan pengobatan
11) Diskusikan cara perawatan

17
f) Defisit pengetahuan tentang PPOM berhubungan dengan kurang informasi, salah
mengerti tentang informasi, kurang mengingat/keterbatasan kognitif.
Tujuan: Klien mampu untuk mengetahui tentang pengertian/informasi PPOM.
Kriteria hasil yang diharapkan:
- Menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan tindakan
- Mengidentifikasi hubungan tanda/gejala yang ada dari proses penyakit dan
menghubungkan dengan faktor penyebab.
Intervensi:
1) Jelaskan/kuatkan penjelasan proses penyakit individu
Rasional: Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan partisipasi
pada rencana pengobatan.
2) Instruksikan/kuatkan rasional untuk latihan nafas, batuk efektif dan latihan
kondisi umum.
Rasional: Nafas bibir + nafas abdominal/diafragmatik menguatkan otot
pernafasan, membantu meminimalkan kolaps jalan nafas kecil dan memberikan
individu arti untuk mengontrol dispnea. Latihan kondisi umum meningkatkan
toleransi aktivitas, kekuatan otot dan rasa sehat.
3) Diskusikan obat pernafasan, efek samping + reaksi yang tak diinginkan
Rasional: Pasien ini sering mendapat obat pernafasan banyak sekaligus yang
mempunyai efek samping hampir sama + potensial interaksi obat, penting bagi
pasien memahami perbedaan antara efek samping mengganggu dan efek
samping merugikan.
4) Tekankan pentingnya perawatan oral/kebersihan gigi
Rasional: Menurunkan pertumbuhan bakteri pada mulut, dimana dapat
menimbulkan infeksi saluran nafas atas.
5) Diskusikan faktor individu yang meningkatkan kondisi mis: udara terlalu
kering, angin, lingkungan dengan suhu ekstrem, serbuk, asap tembakau, sprei
aerosol, polusi udara.
Rasional: Faktor lingkungan ini dapat menimbulkan iritasi bronkial
menimbulkan peningkatan produksi sekret dan hambatan jalan nafas.
6) Diskusikan pentingnya mengikuti perawatan medik, foto dada periodik dan
kultur sputum.

18
Rasional: Pengawasan proses penyakit untuk membuat program terapi untuk
memenuhi perubahan kebutuhan dan dapat membantu mencegah komplikasi
( Doenges, 2000: 152).
Evaluasi
Fokus utama pada klien Lansia dengan COPD adalah untuk mengembalikan
kemampuan dalam ADLS, mengontrol gejala, dan tercapainya hasil yang diharapkan. Klien
Lansia mungkin membutuhkan perawatan tambahan di rumah, evaluasi juga termasuk
memonitor kemampuan beradaptasi dan menggunakan tehnik energi conserving, untuk
mengurangi sesak nafas, dan kecemasan yang diajarkan dalam rehabilitasi paru. Klien Lansia
membutuhkan waktu yang lama untuk mempelajari teknik rehabilitasi yang diajarkan.
Bagaimanapun, saat pertama kali mengajar, mereka harus mempunyai pemahaman yang baik
dan mampu untuk beradaptasi dengan gaya hidup mereka.

19
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
PPOM adalah kelainan paru yang ditandai dengan gangguan fungsi paru
berupa memanjangnya periode ekspirasi yang disebabkan oleh adanya penyempitan
saluran nafas dan tidak banyak mengalami perubahan dalam masa observasi beberapa
waktu. PPOM terdiri dari kumpulan tiga penyakit utama yaitu Bronkitis kronik,
Emfisema paru dan Asma.
Faktor resiko dari PPOM adalah merokok yang berlangsung lama, polusi
udara, infeksi paru berulang, umur, jenis kelamin, ras, defisiensi alfa-1 antitripsin,
serta defisiensi anti oksidan. Penatalaksanaan pada penderita PPOM meniadakan
faktor etiologi dan presipitasi, membersihkan sekresi sputum, memberantas infeksi,
mengatasi bronkospasme, pengobatan simtomatik, penanganan terhadap komplikasi
yang timbul, pengobatan oksigen, serta tindakan ”Rehabilitasi”.

B. SARAN
Pada pasien lansia dengan COPD/PPOM/PPOK pastikan kepatenan jalan
napas dan berikan posisi senyaman mungkin agar pasien dapat memudahkan pasien
bernapas. Pengobatan haruslah teratur dan sesuai dengan resep agar gejala dapat
berkurang.

20
DAFTAR PUSTAKA

Dianec Buughman. 1997. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.


Selamet, Suyono. 2001. Ilmu Penyakit dalam Jilid II Edisi ketiga. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI.

21