You are on page 1of 2

Dikisahkan...

perjalanan Sri Rama mencari Sinta yang diculik oleh Raja


Raksasa bernama Rahwana telah sampailah di Kerajaan Gua Kiskenda.
Sugriwa Raja Wanara dari Kerajaan Gua Kiskenda menyatakan
kesediaannya untuk membantu Sri Rama. Sri Rama mengutus senopati
andalannya yaitu Anoman Si Kera Putih, untuk melaksanakan misi
membantu pencarian keberadaan Sinta.

Dengan gagah berani Anoman pergi menjelajah menembusi hutan dan


menapaki gunung-gunung mencari jejak serta petunjuk dimanakah Sinta
berada. Ketika sampai di tepian Samudera, Anoman bertemu dengan
Garuda Sempati seekor raksasa yang berwujud burung tanpa bersayap,
kakak dari Garuda Jatayu yang telah tewas ketika berusaha menolong
Sinta saat diculik Rahwana. Garuda Sempati memberikan petunjuk
bahwa Sinta tengah ditawan di Kerajaan Alengka. Anoman pun
langsung bergegas menyeberangi samudera menuju ke Alengka.

Di sebuah taman di Kerajaan Alengka, tampaklah sesosok perempuan


nan cantik jelita. Pancaran indah dari paras ayunya telah membuat
semua bunga-bunga yang tumbuh di taman Argasoka, tertunduk malu
kehilangan pamornya. Perempuan itu adalah Sinta, yang kini sedang
larut termenung dalam kesedihannya, terpisah dari sang kekasih hati
dan menjadi tawanan dari seorang raja raksasa. Dayang-dayang
keputren berusaha menghibur kebekuan hatinya dengan menyuguhkan
tari-tarian dan tetembangan, namun seolah senyum begitu mahal untuk
dapat tertoreh di bibir indahnya.

Dari balik pohon-pohon besar yang tumbuh di taman Argasoka, tiba-tiba


muncullah seekor kera putih yang berloncatan lincah menuju ke arah
Sinta. Sinta dan para dayangnya ketakutan. Ketika Anoman menunjukan
sebuah cincin yang sengaja dititipkan oleh Rama, maka Sinta pun
paham bahwa kera putih tersebut adalah utusan dari Sri Rama.
Pertemuan antara Anoman dan Sinta ternyata diketahui oleh Rahwana.
Rahwana pun terbakar angkara murka, amarahnya meledak-ledak tak
terkendali, tak ingin begitu saja melepaskan Sinta dari cengkeramannya.
Rahwana segera memerintahkan Indrajit untuk menangkap dan
membunuh Anoman.

Pertempuran pun tak terelakkan antara sepasukan raksasa yang


dipimpin Indrajit melawan Anoman. Berbagai senjata diarahkan ke tubuh
Anoman, namun ia begitu lincah berkelit berloncatan kesana-kemari.
Indrajit melepas senjata pamungkasnya yaitu panah Nagapasa. Ketika
Panah Nagapasa terlepas dari busurnya, maka menjelmalah anak
panah itu menjadi ribuan ular yang membelit tubuh anoman. Anoman
bersiasat untuk pura-pura tak mampu melepaskan diri dari belitan panah
sakti tersebut.

Anoman dibawa ke tengah Alun-alun Kerajaan Alengka untuk dihukum


mati dengan cara dibakar hidup-hidup. Para Raksasa bersorak liar dan
menari-nari kegirangan sambil menumpukkan kayu-kayu kering di
sekitar tubuh Anoman. Upacara kematian segera dilaksanakan, namun
Anoman tetap tenang menghadapi semua itu. Sorak-sorak buto-buto
tersebut makin membahana ketika api sudah mulai dinyalakan. Tubuh
Anoman seolah menghilang ditelan kepulan asap dan kobaran api.
Kegirangan bala tentara Indrajit menjadi kepanikan dan huru hara ketika
Anoman melesat dari kobaran api yang ternyata tak mampu membakar
dirinya. Anoman mengamuk mengerahkan seluruh tenaga, ber-
tiwikrama menerjang semua pasukan Indrajit serta membumihanguskan
Kerajaan Alengka.
Kemegahan Alengka musnah ditangan Anoman. Alengka terbakar hebat
dan semuanya bangunannya porak-poranda. Bala tentara raksasa
Alengka kocar-kacir diserang oleh sepasukan kera-kera sakti dari
Kiskenda.

Setelah berhasil meluluh-lantakkan Alengka, Anoman kembali


menghadap Sri Rama untuk menyampaikan kabar gembira tentang
keselamatan Sinta. Bersama Anoman, Sri Rama segera menuju ke
Alengka hendak menjemput Sinta. Rahwana tentunya tak tinggal diam
begitu saja. Maka terjadilah pertempuran hebat antara Rama dan
Rahwana yang berakhir dengan kematian Rahwana.