You are on page 1of 4

kondisi lupus wanita dalam keadaan tenang (remisi) (Georgiou, et al, 2000;Nelson

Piercy, 2006). Wanita penderita LES harus mendapat konseling dari spesialis
obstetrik yang berpengalaman dengan LES mengenai problematika obstetrik yang
mungkin timbul (preeklamsia, IUGR, kelahiran prematur, keguguran) ditambah
risiko flare dan lupus neonatus. Perburukan fungsi ginjal merupakan hal yang
ditakutkan oleh penderita gangguan ginjal.

Faktor-faktor yang berhubungan dengan hasil akhir yang tidak diinginkan pada
kehamilan:

 Meningkatnya aktifitas penyakit


 Hipertensi
 Kerusakan ginjal
 Antibodi antifosfolifid anti-Ro atau anti-La
 Keterlibatan sistem syaraf pusat

Ini merupakan waktu bagi wanita dan keluarganya untuk membuat keputusan.
Informasi yang jelas berdasarkan pemeriksaan pasien secara individual yang
diberikan secara supportif dengan pasien diberi kesempatan untuk bertanya dan
mengklarifikasi sangat penting.

Pemeriksaan kesehatan umum untuk anemia, trombosit topenia, dan fungsi


ginjal ditambah pemeriksaan antibodi antifosfolipid, antikoagulan lupus, dan
antikardiolipin harus dilakukan (Nelson-Piercy, 2006). Peninjauan ulang obat
yang digunakan juga perlu dilakukan. Glukokortikoid merupakan obat yang
paling umum digunakan untuk wanita penderita LES dan dapat diberikan sebagai
terapi rumatan maupun hanya digunakan untuk penanganan flare, jika penyakit
stabil, dosis glukokortikoid dapat dikurangi untuk melihat apakah glukortikoid
dapat dihentikan dengan aman. Jika tidak, dosis rumatan glukokortikoid harus
diteruskan selama kehamilan walaupun ada potensi efek samping bagi janin,
terutama IUGR.

ASUHAN KEHAMILAN
Asuhan multidisiplin dalam sebuah klinik gabungan yang melibatkan
dokter spesialis jaringan ikat merupakan model yang dianjurkan. Seringkali
diperlukan kunjungan yang lebih sering, tergantung pada kondisi ibu: kunjungan
dipersering jika terjadi ledakan, hipertensi, proteinuria, IUGR klinis, atau jika
timbul APS. Saat pendaftaran pemeriksaan, bidan harus membuat catatan detail
mengenai manifestasi LES. Flare cenderung memiliki pola yang sama (Mackillop,
et al, 2007) dan pola ini dapat membantu untuk membedakan antara flare dan
perubahan akibat kehamilan. Meluangkan waktu untuk memahami bagaimana
wanita terpengaruh oleh LES akan mendasari asuhan wanita secara individual.
Seorang bidan supportif yang mau mendengarkan, mengatasi kekhawatiran wanita
dengan serius dan dapat merujuk secara tepat adalah vital.

Pemantauan hipertensi dan proteunuria merupakan hal yang sangat


penting. Walaupun risiko wanita penderita LES mengalami preklamsia tidak
menentu, risiko ini dapat lebih tinggi dan penderita nefritis lupus terutama yang
paling berisiko (Porter & Branch, 2006), bersama dengan wanita yang memiliki
riwayat hipertensi kronik, APS sekunder, dan penggunan steroid secara kronis
(Porter & Branch, 2006). Tantangan ketika mengasuh wanita hamil penderita LES
adalah mebedakan flare dengan penyakit kulit kehamilan seperti preeklamsia.
Untuk memeriksa kondisi ini, tersedia berbagai penanda (marker) serologis untuk
memeriksa LES, tetapi banyak yang tidak memberikan hasil yang tidak akurat
(Porter & Branch, 2006). Peningkatan titer anti-dsDNA mungkin merupakan
penanda yang paling spesifik karena timbul sebelum flare muncul pada lebih dari
80% kasus (Ho, et al;2001). Peningkatan titer ini terbukti berkaitan dengan
diperlukannya pelahiran prematur (Tomer, et al; 1996). Tes ini terutama berguna
jika wanita menderita hipertensi proteinuria, dan disfungsi multiorgan-gejala yang
sering ditemui pada flare LES maupun preeklamsia (Porter dan Branch 2006).

Bidan dapat menganjurkan pasien untuk melakukan urinalisis sendiri di


rumah guna mendeteksi adanya protein selain mendapat pemantauan teratur yang
dilakukan oleh tim multidisiplin. Pengetahuan mengenai gejala preeklamsia,
seperti sakit kepala, gangguang penglihatan dan nyeri epigastrium, dan
pengetahuan mengenai persalinan prematur akan membantu wanita mengakses
profesional kesehatan secara tepat waktu. Informasi tentang siapa yang harus
dihubungi dan bagaimana menghubunginya juga harus diberikan.

Pemantauan janin, termasuk pemindaian pertumbuhan janin, pengukuran


volum cairan amnion secara teratur, dan pemeriksaan Doppler untuk memeriksa
kesejakteraan janin, biasa dilakukan (Porter &Branch, 2006).

Flare yang timbul selama kehamilan dapat ringan atau berat. Flare
biasanya diatasi dengan mulai memberikan atau meningkatkan dosis
glukokortikoid oral, meskipun eksaserbasi yang berat akan ditangani secara lebih
agresif dengan regomen IV.

Tidak ada bukti yang baik untuk mulai melakukan terapi prifilaktif selama
kehamilan (Porter & Branch, 2006), tetapi jika status penyakit wanita sedang aktif
dan terdapat peningkatan kadar anti-dsDNA, penggunaan glukokortikoid terbukti
dapat memperbaiki hasil akhir (Georgiou, et al;2000).

Skrining berulang untuk mendeteksi adanya diabetes gestasional pada para


pengguna glukokortikoid direkomenasikan (dianjurkan pada kehamilan 22-24
minggu, 28-30 minggu, dan 32-34 minggu) (Porter & Branch, 2006). Kebutuhan
terhadap tromboprofolaksis harus dinilai. Bidan dapat memberi informasi tentang
pemcegahan trombosis, seperti latihan gerak dan elevasi tungkai, menghindari
imobilitas, dan menghindari dehidrasi. Lihat bab penyakit tromboemboli pada bab
4 untuk pembahasan lebih lanjut.

ASUHAN PERSALINAN

Bergantung pada kondisi wanita, asuhan persalinan mungkin dilakukan


seperti biasa. Jika ada kekhawatiran mengenai kondisi atau pertumbuhan janin,
direkomendasikan untuk melakukan pemantauan janin elektronik secara kontinu.
Stoking TED dapat dipakai, terutama jika wanita relatif mengalami imobilitas.

Pasien yang mendapat terapi steroid dapat mengalami insufisiensi adrenal


dan melakukan dosis glukokortikoid per IM/IV yang diresepkan untuk persalinan
dan/ atau pada seksio sesarea (Porter & Branch, 2006).
Flare dapat terjadi pada persalinan, dan pemberian steroid secara akut
(kemungkinan per IV) akan diperlukan

ASUHAN PASCANATAL

Wanita penderita lupus sering merasa kelelahan dan keletihan yang berat.
Bidan harus mendiskusikan strategi bersama dengan wanita untuk menghadapi
kebutuhan di periode pascanatal. Ibu akan memerlukan bantuan untuk merawat
bayi baru lahirnya dan anak-anaknya yang lain. Selain itu, karena terdapat
peningkatan risiko flare pada periode pascanatal, sebaiknya wanita penderita LES,
sebagaimana penderita penyakit kronis lain yang melamahkan, sudah
merencanakan siapa yang akan merawat bayinya seandainya ia jatuh sakit.

Jika wanita menjalani terapi rumatan selama kehanilan, dosisnya mungkin


perlu disesuaikan. Jika wanita mendapat terapi steroid, efeknya pada sistem imun
diwaktu pemulihan yang rentan ini (Boyle, 2006) harus diingat. Banyak obat yang
umunya dikonsumsi oleh penderita LES aman bagi proses menyusui tetapi obat
apa pun yang akan diberikan sebaiknya dicek ulang berdasarkan informasi terkini
sebelum obat itu diberikan ke pasien LES. Kontrasepsi yang mengandung
estrogen mungkin tidak tepat digunakan pada wanita penderita LES dan bidan
harus memastikan pasien ini memiliki akses ke para ahli untuk mendapat
penjelasan.

SINDROM ANTIFOSFOLIPID (APS)

Sindrom antifosfolipid (yang juga dikenal dengan sindrom Hughes) merupakan


penyakit auto imun yang terutama terjadi pada wanita. Yang perlu diperhatikan
oleh bidan dan wanita penderita APS adalah bahwa APS dikaitkan dengan risiko
tinggi terjadinya trombosis pada