You are on page 1of 16

3.1.

1 Persiapan Domain Model

Persiapan model merupakan tahap awal untuk membangun model yang akan dimasukkan data
berupa parameter-parameter dari Delft3D untuk melakukan pemodelan, persiapan model ini terdiri dari
pembuatan grid dan pemasukan data kedalaman.
Untuk mendapatkan bentuk dasar dari pesisir pantai dan muara maka perlu ditentukan solid
boundary atau land boundary dari bidang pemodelan. Land boundary diartikan sebagai batas daratan suatu
kawasan atau pulau. Dalam pemodelan ini, proses digitasi land boundary memakai modul QuantumGIS.
Sumber online Google Earth dengan Citra tahun 2015 digunakan sebagai referensi land boundary dan
berfungsi untuk mendapatkan garis pantai yang terbaru selanjutnya modul QuantumGIS berfungsi untuk
mendigitasi daerah yang akan dimodelkan. Peta ini nantinya akan didapatkan koordinat dalam geografis
WGS_1984 dalam bentuk X dan Y selanjutnya di ekspor ke notepad dan disimpan dalam ekstensi *.ldb.
Setelah mendapatkan koordinat melalui bantuan software GIS, selanjutnya Delft3D-RGFGRID berfungsi
untuk membuka file yang telah disimpan dalam ekstensi .*ldb tersebut sehingga land boundary akan
terbentuk. Gambar 3.4 memperlihatkan hasil digitasi land boundary yang dibentuk dengan modul Delft3D-
RGFGRID.

Gambar 3.4 Citra satelit lokasi pekerjaan.


Sumber: Google Earth diakses Agustus 2016
Gambar 3.5 Skenario Desain Kolam Pelabuhan Meulaboh

Pada pemodelan Delft3D ini, menggunakan grid dalam bentuk coordinate cartessian berbentuk
persegi. Pembutan grid ini dengan menggunakan program Delft3D-RGFGRID, tujuan program ini adalah
untuk membuat grid, memodifikasi, dan menvisualisasikan ortogonal untuk Delft3D-FLOW dan Delft3D-
WAVE (Anonim, 2007c). Pada kajian ini mengklasifikasikan grid kedalam tiga model ukuran berdasarkan
faktor yang ditinjau, yakni jarak grid (Δx dan Δy) satu sama lain sebesar 10 x 10 m. Grid pemodelan
melingkupi garis pantai sepanjang pantai dimana gelombang akan merambat. seperti pada Gambar 3.6.
Gambar 3.6 Grid yang digunakan dalam Pemodelan

Wilayah pemodelan untuk kajian ini difokuskan pada area sekitar muara Kuala Bubon dengan peta
lokasi sebagaimana telah disampaikan di atas. Ukuran total dari wilayah yang dimodelkan sekitar 2 km
sejajar pantai dan 3 km tegak lurus pantai. Setelah pembuatan grid selesai dilakukan, selanjutnya pada
setiap grid tersebut diberikan nilai kedalaman dengan menggunakan modul Delft3D-QUICKIN. Untuk input
data kedalaman di laut diasumsikan dengan tanda positif sedangkan input data elevasi di darat diasumsikan
dengan tanda negatif. Proses tersebut disimpan dalam atribut *.dep yang menjadi masukan untuk pemodelan
arus dan gelombang. Data masukan berupa hasil pengukuran topografi dan batimetri yang sudah dilakukan,
untuk selanjutnya hasil dari visualisasi batimetri dari Skenario Desain dapat dilihat pada Gambar 3.7 dan 3.8
berikut ini
Gambar 3.7 Nilai kedalaman yang digunakan dalam Pemodelan sebelum interpolasi

Gambar 3.8 Nilai kedalaman yang digunakan dalam Skenario setelah interpolasi
3.1.2 Faktor Morfologi

Pemodelan numerik pada kajian ini dilaksanakan selama 30 hari pemodelan. Namun, untuk
memperkirakan hasil pemodelan dalam satu tahunan maka pemodelan numerik ini menggunakan angka
faktor morfologi (Morfologi Factor/Morfac) yang berbeda-beda menurut persentase arah angin yang
diperoleh dari Wind-Rose seperti pada Gambar 4.3.
Terhadap perubahan morfologi baik di muara maupun di daerah sepanjang pantai Perairan Kuala
Bubon, pergerakan sedimen dipengaruhi gelombang dan arus. Selain itu, jenis sebaran sedimen dasar yang
ada di daerah model juga sedikit banyak mempengaruhi distribusi dan pola pergerakan sedimen yang terjadi,
oleh karena itu, konsultan juga memasukkan variabel nilai D50 dari sedimen dasar yang telah diambil di
lokasi pekerjaan.

3.1.3 Titik Observasi

Untuk melihat perubahan lebih detail, maupun untuk keperluan validasi model, maka ditetapkan
sejumlah titik menjadi titik pengamatan atau titik observasi. Dengan penetapan titik observasi ini, maka dapat
dilihat perkembangan yang terjadi dari waktu ke waktu menurut proses pemodelannya, baik untuk arus,
gelombang, pasang surut maupun sedimentasi. Adapun lokasi dari titik observasi pada domain model dapat
dilihat pada Gambar 3.14 berikut ini. Terdapat beberapa titik observasi dimana semuanya berada di Perairan
Kuala Bubon.
Gambar 3.14 Lokasi titik observasi pemodelan numerik untuk Skenario I

4.1.1 Pengolahan Data Pasang Surut

Data pasang surut selama 30x24 Jam diolah dengan metode least square, menghasilkan besaran
amplitude (A) dan beda fase (g) untuk 9 komponen pasut seperti M2, S2, N2, K1, O1, M4, MS4, K2, dan P1
serta S0 muka air laut. Nilai untuk komponen pasang surut tersebut dibuatkan kedalam Tabel 4.1. Simbol-
simbol komponen sebagai konstanta pasang surut ini mewakili sekelompok komponen penting yang dapat
menggambarkan bagaiman keadaan suatu perairan berkaitan dengan air tinggi tertinggi, rendah terendah
dan sebagainya yang berkaitan dengan naik turunnya muka air laut suatu perairan. Lima konstituen pertama
adalah yang menjadi komponen utama yang menentukan jenis pasang ataupun surut pada suatu daerah titik
pengamatan. Jika amplitudo untuk M2 , S2 , dan N2 lebih besar dibandingkan dengan amplitudo untuk K1
dan O1 sehingga tipe pasang surut di wilayah ini akan menjadi tipe semidiurnal.
Selanjutnya fluktuasi pasang surut tersebut juga disajikan dalam grafik seperti pada Gambar 4.1.
Dari data ini dapat dilihat bahwa dalam satu hari terjadi satu kali air pasang dan satu kali air surut, tetapi
kadang-kadang untuk sementara waktu terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dengan tinggi dan periode
yang sangat berbeda.
Tabel 4.1 Komponen pasang surut untuk perairan di Meulaboh
Calculate
ω A B go H=Amplitude
No Constituents Symbol Description Period (hour)
(rad/hour) phase (m)

0. Average water level Z0 - - 1.0074


Main lunar
1. M2 12.4206 0.50587 -0.0615 0.0859 125.5830° 0.1056
constituent
Main solar
2. S2 12.0000 0.52360 0.0125 -0.0012 354.4674° 0.0125
constituent
Lunar constituent,
3. due to Earth-Moon N2 semi diurnal 12.6582 0.49637 -0.0225 0.0100 155.9772° 0.0246
distance

Soli-lunar constituent,
4. due to the change of K2 11.9673 0.52503 0.0486 0.0118 13.6665° 0.0501
declination

5. Soli-lunar constituent K1 23.9346 0.26251 -0.2565 0.0942 159.8431° 0.2732

Main lunar
6. O1 diurnal 25.8194 0.24335 0.0294 -0.0164 330.8240° 0.0337
constituent
Main solar
7. P1 24.0658 0.26108 0.2265 0.0125 3.1680° 0.2268
constituent
Main lunar
8. M4 6.2103 1.01174 0.0045 0.0009 10.9982° 0.0046
constituent quarterly
9. Soli-lunar constituent MS4 6.1033 1.02947 -0.0022 -0.0030 233.4730° 0.0038

Gambar 4.1 Grafik pengamatan pasang surut di Perairan Kuala Bubon

Tabel 4.2 Nilai elevasi penting diikatkan terhadap MSL


Keterangan Elevasi (m)
Highest High Water Level (HHWL) 0.7
Mean High Water Level (MHWL) 0.4
Mean Sea Level (MSL) 0.0
Mean Low Water Level (MLWL) -0.4
Lowest Low Water Level (LLWL) -0.7
Tabel 4.3 Nilai elevasi penting diikatkan terhadap LLWL
Keterangan Elevasi (m)
Highest Water Spring (HHWL) 1.4
Mean High Water Level (MHWL) 1.1
Mean Sea Level (MSL) 0.7
Mean Low Water Level (MLWL) 0.3
Lowest Low Water Level (LLWL) 0.0

4.2 Pemodelan Arus

Berdasarkan hasil pemodelan maka diperoleh sebaran vektor kecepatan arus di sekitar Perairan
Kuala Bubon pada satu siklus pasang surut. Vektor kecepatan arus pada saat pasang dan surut dapat dilihat
pada Gambar 4.4 sampai Gambar 4.9. vektor ini memperlihatkan bahwa kecepatan dan arah arus di area
Perairan Kuala Bubon yang disebabkan oleh arus pasang dan surut, maupun arus karena adanya kombinasi
gelombang Barat Daya, Tenggara dan Selatan.

Gambar 4.4 Vektor arus pada saat kondisi pasang musim Barat Daya
Gambar 4.5 Vektor arus pada saat kondisi surut musim Barat Daya

Gambar 4.6 Vektor arus pada saat kondisi pasang musim Tenggara
Gambar 4.7 Vektor arus pada saat kondisi surut musim Tenggara

Gambar 4.8 Vektor arus pada saat kondisi pasang musim Selatan
Gambar 4.9 Vektor arus pada saat kondisi surut musim Selatan

Hasil pemodelan arus menunjukkan kecepatan yang bervariasi dari 0 sampai 0,5 m/s. Untuk di
daerah kolam pelabuhan, Kecepatan arus pada kondisi pasang tertinggi adalah sebesar 0,2 sampai 0,5 m/s.
Dari hasil analisis arus permukaan khususnya daerah dekat pantai menunjukkan pola arus permukaan relatif
sama dengan pola arah angin dominan yang bertiup di daerah tersebut yaitu bearah Barat Daya, Selatan
dan Tenggara. Hal ini menunjukkan bahwa selain akibat fluktuasi muka air (pasang surut), pengaruh
gelombang cukup berperan dalam pembentukan pola arus di daerah ini. Dari ketiga arah angin dapat dilihat
kondisi arus cukup tenang di dalam kolam pelabuhan.

4.3 Pemodelan Gelombang

Distribusi tinggi gelombang dapat dilihat pada Gambar 4.10 sampai dengan Gambar 4.15. Pada saat
musim Barat Daya bertiup, maka tinggi gelombang (pasang) dapat mencapai 4 m, dan tinggi gelombang
(surut) dapat mencapai 3 m. Gelombang pada saat musim Selatan akan mencapai ketinggian 1,5 m saat
kondisi pasang dan surut.
Gambar 4.10 Kondisi gelombang saat kondisi pasang pada musim barat daya

Gambar 4.11 Kondisi gelombang saat kondisi surut pada musim barat daya
Gambar 4.12 Kondisi gelombang saat kondisi pasang pada musim tenggara

Gambar 4.13 Kondisi gelombang saat kondisi surut pada musim tenggara
Gambar 4.14 Kondisi gelombang saat kondisi pasang pada musim selatan

Gambar 4.15 Kondisi gelombang saat kondisi surut pada musim selatan

Berdasarkan hasil pemodelan gelombang terhadap beberapa skenario tata letak pelabuhan,
gelombang datang dari arah Tenggara masih mendominasi masuk ke dalam kolam pelabuhan pada skenario
desain, hal ini dikarenakan mulut kolam pelabuhan yang menghadap ke arah tersebut. Tinggi gelombang di
alur masuk pelabuhan untuk skenario desain adalah 0,03 – 0,05 m, sedangkan tinggi gelombang kritis yang
diizinkan untuk bongkar muat adalah ≤ 0,3 m (kapal kecil/ kapal nelayan). Letak dari kedua skenario ini
dibuat menghadap ke arah Tenggara karena untuk menghindari sedimentasi yang dominan bergerak ke
Timur.

4.4 Prediksi Perubahan Garis Pantai

Perubahan garis pantai yang terjadi secara alamiah (gelombang, badai, dan kenaikan paras muka
laut) dan non-alamiah (aktifitas manusia: penambangan pasir, reklamasi pantai dan lain-lain) akan
berpengaruh negatif baik ditinjau dari aspek strategis atau lingkungan. Aspek strategis salah satunya adalah
perubahan luasan wilayah di suatu kawasan pantai, sedangkan aspek lingkungan adalah
hilangnya/bertambahnya habitat, sedimentasi dan lain-lain. Perubahan garis pantai pada umumnya karena
terdapat proses abrasi, akresi dan kenaikan tinggi muka laut global. Abrasi pantai adalah mundurnya garis
pantai ke arah darat dan akresi adalah majunya garis pantai ke arah laut, sedangkan kenaikan paras laut
akan menyebabkan perubahan garis pantai ke arah darat yang disebabkan oleh meningkatnya volume air
laut global atau sea level rise.
Dengan didukung data pengukuran dan hasil transformasi gelombang yang terdiri dari tinggi,
kedalaman dan sudut datang gelombang pecah serta presentase kejadian gelombang dari arah Barat daya,
Tenggara, dan Selatan, maka dapat dihitung transpor sedimen dengan pemodelan. Pemodelan dapat
melakukan prediksi nilai longshore dan onshore sediment transport yang pada akhirnya akan digunakan
didalam melakukan prediksi garis pantai.
Gambar 4.16 Perubahan Elevasi Dasar Sekitar Perairan Lokasi Pekerjaan

Dari hasil simulasi sedimentasi di Kolam Pelabuhan Meulaboh, terjadi sedimentasi di sisi kiri
pelabuhan. Sedimen tertahan akibat adanya konstruksi breakwater. Dominan sedimen bersumber dari arah
gelombang Barat menuju Timur. Di dpan dan di dalam kolam Pelabuhan Meulaboh tidak terdapat
sedimentasi maupun erosi. Oleh karena itu Konsultan dapat menyimpulkan bahwa bentuk desain dari
Breakwater Kolam Pelabuhan Meulaboh tersebut layak untuk digunakan.