You are on page 1of 7

DISOLUSI TABLET

I. Tanggal praktikum

Selasa, 5 Desember 2017

II. Tujuan praktikum

1. Untuk mengetahui dan menentukan kecepatan disolusi dari tablet dengan

menggunakan alat disolusi.

2. Untuk menentukan kadar paracetamol menggunakan spektrometri

III. Dasar teori

A. Disolusi

Disolusi adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari bentuk sediaan

padat ke dalam media pelarut. Pelarut suatu zat aktif sangat penting artinya bagi

ketersediaan suatu obat sangat tergantung dari kemampuan zat tersebut melarut ke

dalam media pelarut sebelum diserap ke dalam tubuh. Sediaan obat yang harus diuji

disolusinya adalah bentuk padat atau semi padat, seperti kapsul, tablet atau salep

(Ansel, 1985).

Agar suatu obat diabsorbsi, mula-mula obat tersebut harus larutan dalam

cairan pada tempat absorbsi. Sebagai contoh, suatu obat yang diberikan secara oral

dalam bentuk tablet atau kapsul tidak dapat diabsorbsi sampai partikel-partikel obat

larut dalam cairan pada suatu tempat dalam saluran lambung-usus. Dalam hal

dimana kelarutan suatu obat tergantung dari apakah medium asam atau medium
basa, obat tersebut akan dilarutkan berturut-turut dalam lambung dan dalam usus

halus. Proses melarutnya suatu obat disebut disolusi (Ansel, 1985).

Bila suatu tablet atau sediaan obat lainnya dimasukkan dalam saluran cerna,

obat tersebut mulai masuk ke dalam larutan dari bentuk padatnya. Kalau tablet

tersebut tidak dilapisi polimer, matriks padat juga mengalami disintegrasi menjadi

granul-granul, dan granul-granul ini mengalami pemecahan menjadi partikel-partikel

halus. Disintegrasi, deagregasi dan disolusi bisa berlangsung secara serentak dengan

melepasnya suatu obat dari bentuk dimana obat tersebut diberikan (Martin, 1993).

Kecepatan disolusi adalah suatu ukuran yang menyatakan banyaknya suatu

zat terlarut dalam pelarut tertentu setiap satuan waktu. Persamaan kecepatan

menurut Noyes dan Whitney sebagai berikut (Ansel, 1993):

dM.dt-1 : Kecepatan disolusi

D : Koefisien difusi

Cs : Kelarutan zat padat

C : Konsentrasi zat dalam larutan pada waktu

H : Tebal lapisan difusi

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan disolusi yaitu (Martin, 1993):

1. Suhu

Meningginya suhu umumnya memperbesar kelarutan (Cs) suatu zat yang bersifat

endotermik serta memperbesar harga koefisien difusi zat. Menurut

Einstein,koefisien difusi dapat dinyatakan melalui persamaan berikut (Martin,

1993):

D : koefisien difusi

r : jari-jari molekul

k : konstanta Boltzman
ή : viskositas pelarut

T : suhu

2. Viskositas

Turunnya viskositas pelarut akan memperbesar kecepatan disolusi suatu zat

sesuai dengan persamaan Einstein. Meningginya suhu juga menurunkan

viskositas dan memperbesar kecepatan disolusi.

3. pH pelarut

pH pelarut sangat berpengaruh terhadap kelarutan zat-zat yang bersifat

asam atau basa lemah.

Untuk asam lemah:

Jika (H+) kecil atau pH besar maka kelarutan zat akan meningkat. Dengan

demikian, kecepatan disolusi zat juga meningkat.

Untuk basa lemah:

Jika (H+) besar atau pH kecil maka kelarutan zat akan meningkat. Dengan

demikian, kecepatan disolusi juga meningkat.

4. Pengadukan

Kecepatan pengadukan akan mempengaruhi tebal lapisan difusi (h). jika

pengadukan berlangsung cepat, maka tebal lapisan difusi akan cepat berkurang.

5. Ukuran Partikel

Jika partikel zat berukuran kecil maka luas permukaan efektif menjadi besar

sehingga kecepatan disolusi meningkat.

6. Polimorfisme

Kelarutan suatu zat dipengaruhi pula oleh adanya polimorfisme. Struktur

internal zat yang berlainan dapat memberikan tingkat kelarutan yang berbeda
juga. Kristal meta stabil umumnya lebih mudah larut daripada bentuk stabilnya,

sehingga kecepatan disolusinya besar.

7. Sifat Permukaan Zat

Pada umumnya zat-zat yang digunakan sebagai bahan obat bersifat

hidrofob. Dengan adanya surfaktan di dalam pelarut, tegangan permukaan antar

partikel zat dengan pelarut akan menurun sehingga zat mudah terbasahi dan

kecepatan disolusinya bertambah.

Ada 2 metode penentuan kecepatan disolusi yaitu (Martin, 1993):

1. Metode Suspensi

Serbuk zat padat ditambahkan ke dalam pelarut tanpa pengontrolan

terhadap luas permukaan partikelnya. Sampel diambil pada waktu-waktu

tertentu dan jumlah zat yang larut ditentukan dengan cara yang sesuai.

2. Metode Permukaan Konstan

Zat ditempatkan dalam suatu wadah yang diketahui luasnya sehingga

variable perbedaan luas permukaan efektif dapat diabaikan. Umumnya zat

diubah menjadi tablet terlebih dahulu, kemudian ditentukan seperti pada

metode suspensi.

Prinsip kerja alat disolusi dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu (Dirjen POM,

1995) :

a. Alat terdiri dari sebuah wadah tertutup yang terbuat dari kaca atau bahan

transparan yang inert, suatu batang logam yang digerakkan oleh motor dan

keranjang yang berbentuk silinder dan dipanaskan dengan tangas air pada

suhu 370C.

b. Alat yang digunakan adalah dayung yang terdiri dari daun dan batang

sebagai pengaduk. Batang berada pada posisi sedemikian sehingga


sumbunya tidak lebih dari 2 mm pada setiap titik dari sumbu vertikel

wadah dan berputar dengan halus tanpa goyangan yang berarti.

B. Uraian Bahan

1. Air suling ( Ditjen POM, 1979 )

Nama Resmi : AQUA DESTILLATA

Nama lain : Air suling

RM/BM : H2O / 18,02

Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai

rasa.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Kegunaan : Sebagai pelarut.

2. Parasetamol ( Ditjen POM, 1979 )

Nama Resmi : ASETAMINOPHENUM

Nama lain : Parasetamol, asetaminofen

RM/BM : C8H9NO2 / 151,16

Pemerian : Hablur atau serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya

Kegunaan : Sebagai sampel.

IV. Alat dan bahan

a. Alat

1. Alat disolution tester

2. Erlenmeyer

3. Gelas ukur
4. Beaker glass

5. Spoit

6. Termometer

7. Spektrofotometer

8. Bejana

b. Bahan

1. Aquadest

2. Baku pembanding paracetamol

3. Tablet paracetamol

V. Cara kerja

1. Dicari panjang gelombang serapan maksimum untuk baku pembanding

paracetamol.

2. Tablet dicelupkan kedalam medium aquadest sampai dasar yang terdapat

dalam labu sebanyak 900 ml, suhu dipertahankan pada 37,50 C motor diatur

pada kecepatan konstan 50 rpm.

3. Cairan sampel diambil pada selang waktu menit ke-5, ke-15, ke-25, ke-35 da

menit ke-45 untuk menentukan jumlah obat dalam cairan itu.

4. Diencerkan 1 ml dari setiap cuplikan menjadi 10 ml dengan medium dan

tentukan absorbansinya pada panjang gelombang maksimum yang didapat

pada percobaan

5. Untuk menentukan kadar obat maka digunakan alat spektrofotometri dengan

mengukur tingkat adsorbansinya.

VI. Data hasil pengamatan