Glaukoma Akut Glaukoma adalah kelompok penyakit mata yang ditandai dengan peninggian tekanan intraokuler yang mengakibatkan

perubahan patologis dalam diskus optikus dan defek pada lapang pandang yang khas. (Dorland, 2007) Secara umum, glaukoma diklasifikasikan menjadi glaukoma primer, glaukoma kongenital, dan glaukoma sekunder. Pada glaukoma primer, dikenal glaukoma sudut tertutup dan glaukoma sudut terbuka. Pengklasifikasian ini ditinjau dari tertutup atau tidaknya sudut bilik depan mata. Glaukoma sudut terbuka disebut juga glaukoma simpleks menahun karena permulaannya tidak kentara, berjalan progresif lamban tanpa gejala. Sedangkan pada glaukoma sudut tertutup, terjadi peningkatan tekanan intraokular yang mendadak sehingga onset penyakit adalah akut. Bila terjadi berulang kali disebut subakut atau menahun (Vaughan, Asbury and Riordan, 2000). Glaukoma sudut tertutup terjadi bila tekanan intraokular mendadak naik karena adanya hambatan oleh akar iris pada sudut bilik mata depan, yang membendung semua aliran keluar. Timbul nyeri hebat dan penglihatan mendadak hilang. Biasanya terjadi pada usia lebih dari 40 tahun. Serangan akut glaukoma sudut tertutup hanya terjadi bila sudut bilik mata depan secara anatomis sempit. Secara klinis keadaan ini mudah dinilai dengan memperkirakan kedalaman bilik mata depan menggunakan iluminasi oblik dari sebuah lampu senter kecil. Faktor-faktor berikut bisa lebih memperdangkal sudut bilik mata depan, dan mempermudah terjadinya glaukoma sudut tertutup: (1) hambatan pupil fisiologis, sudut bilik mata depan sempit; (2) bertambahnya ukuran lensa (Vaughan, Asbury and Riordan, 2000). Faktor pencetus terjadinya glaukoma akut pada bentuk primer (bakat bawaan) adalah berupa pemakaian obat-obatan midriatik, berdiam lama di tempat yang gelap, dan gangguan emosional. Bentuk sekunder (akibat penyakit lain) sering disebabkan hifema, luksasi/ subluksasi lensa, katarak intumesen atau katarak hipermatur, uveitis dengan suklusio/ oklusio pupil atau iris bombe, atau pasca bedah intraokuler (Mansjoer, 2001). Perubahan patologi pada glaukoma akut antara lain sinekia anterior perifer dan sembab maupun kongesti jonjot- jonjot siliar dan iris. Hal ini sebagai akibat penyempitan vaskular karena tekanan tinggi. Perubahan yang timbul kemudian adalah akibat gangguan perdaragan dan tekanan tinggi ini. Iris dan badan siliar mengalami atrofi dan jonjot- jonjot siliar menunjukkan degenerasi hialin. Sembab kornea menahun menyebabkan longgarnya epitel kornea dan pembentukan bula epiter (keratopati bula). Perubahan patologi terpenting adalah kerusakan unsur-unsur saraf degenerasi serabut saraf dan hilangnya substansi mangkuk optik yang berkaitan dengan lempeng kribriform yang melengkung ke belakang. Lapisan sel-sel ganglion dan lapisan serabut sarad retina mengalami degenerasi. Sementara itu mungkin terjadi katarak (Vaughan, Asbury and Riordan, 2000). Penemuan klinis glaukoma akut antara lain nyeri pada mata yang mendapat serangan yang berlansung beberapa jam dan hilang setelah tidur sebentar. Melihat pelangi (halo) sekitar lampu dan keadaan ini merupakan stadium prodormal. Terdapat gejala gastrointestinal berupa mual dan muntah. Selain itu ditemukan pula bradikardia, mata dengan tanda- tanda peradangan seperti kelopak mata bengkak, mata merah, tekanan bola mata sangat tinggi yang mengakibatkan pupil lebar, kornea suram dan edem, iris sembab meradang, papil saraf optik hiperemis, edem dan lapang pandangan menciut berat. Iris bengkak dengan atrofi dan sinekia posterior serta lensa menjadi keruh. Tajam penglihatan sangat menurun. Biasanya mata yang lain diserang 2-5 tahun kemudian. Sesudah beberapa kali serangan atau berlangsung lama maka terjadi perlengketan antara pangkal iris dan kornea (goniosinekia) (Ilyas, 1998). Iritis akut dan konjungtivitis harus dipertimbangkan sebagai diagnosis banding pada glaukoma sudut tertutup bila ada radang mata akut, meskupin pada kedua hal tersebut di atas jarang disertai bilik mata depan yang dangkal atau tekanan yang tinggi. Pada iritis akut terdapat lebih banyak fotofobia, tetapi rasa nyerinya kurang jika dibanding glaukoma. Ditemukan flare and cell di bilik mata depan dan terdapat injeksi
1

1998). Penatalaksanaan pasien dengan glaukoma akut pada prinsipnya adalah menurunkan tekanan intraokular secepatnya dengan pemberian asetazolamid 500 mg dilanjutkan 4 x 250 mg. dan tonografi bila edema kornea menghilang. 2002). dan pada uveitis dilakukan iridektomi atau operasi filtrasi. Uveitis non-granulomatosa terutama timbul di bagian anterior traktus ini. Diberikan pula tetes mata kortikosteroid dan antibiotik untuk mengurangi reaksi inflamasi. merah. Pada kasus berat dapat terbentuk bekuan fibrin besar atau hipopion di dalam kamera okuli anterior (Vaughan. flare and cell dalam bilik mata depan serta endapan fibrin pada pupil yang dapat menyebabkan sinekia posterior (Ilyas. Pengobatan pada uveitis anterior adalah dengan steroid yang diberikan pada siang hari bentuk tetes dan pada malam hari bentuk salep. Misalnya pada hifema dilakukan parasintesis. 2000). ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan gonioskopi. Keluhan pasien dengan uveitis anterior akut mata sakit. Dikenal dua bentuk tukak pada kornea yaitu sentral dan marginal / perifer. B. Uveitis granulomatosa dapat mengenai sembarang bagian traktus uvealis namun lebih sering pada uvea posterior. presipitat keratik. Tidak ada injeksi siliar. Asbury and Riordan. Bila perlu diberikan analgetik dan antiemetik.siliar yang dalam. yakni. dan lakrimasi. memberi istirahat pada iris yang meradang (Ilyas. Uveitis Peradangan traktus uvealis banyak penyebabnya dan dapat mengenai satu atau ketiga bagian secara bersamaan seperti pada sarkoidosis. Terbentuknya ulkus pada kornea mungkin banyak ditemukan oleh adanya kolagenase oleh sel epitel baru dan sel radang. Bila tekanan bola mata normal dan mata telah tenang.0. diberikan tetes mata pilokarpin 2% tiap ½ . namun ditemukan kotoran mata dan konjungtiva sangat meradang (Vaughan.150 ml dalam air jeruk. Keluhan sukar melihat dekat pada pasien uveitis akibat ikut meradangnya otot-otot akomodasi. gonioskopi. dapat dibedakan dua jenis besar uveitis yaitu yang non-granulomatosa dan granulomatosa. harus dicari penyebabnya dan diobati yang sesuai. Jenis operasi. melepas sinekia yang terjadi. pada kelainan lensa dilakukan ekstraksi lensa. ataupun datang perlahan dengan mata merah dan sakit ringan dengan penglihatan turun perlahan-lahan. Sebagai pencegahan juga dilakukan iridektomi pada mata sebelahnya. Lain halnya pada konjungtivitis yang tidak begitu nyeri atau tidak nyeri sama sekali dan tajam penglihatan tidak turun. iridektomi atau filtrasi. 2000). fotofobia.5 g. Asbury and Riordan. Berdasarkan patologi. penglihatan turun ringan dengan mata berair.1 jam pada mata yang mendapat serangan dan 3 x 1 tetes pada mata sebelahnya.25. Deposit radang pada permukaan posterior kornea terutama terdiri atas makrofag dan sel epiteloid. iris dan corpus ciliare. sakit kepala. solusio gliserin 50% 4 x 100. Tukak (Ulkus) Kornea Definisi Tukak kornea merupakan hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan kornea. Sikloplegik diberikan untuk mengurangi rasa sakit. Keluhan subjektif uveitis anterior pada awalnya dapat berupa sakit di mata. Untuk bentuk yang primer. dengan terlihatnya infiltrasi sel-sel limfosit dan sel plasma dalam jumlah cukup banyak dan sedikit sel mononuklear. fotofobia. Pemeriksaan penunjang untuk membantu penegakan diagnosis glaukoma akut antara lain: pengukuran dengan tonometri Schiotz. perimetri. Diperlukan pengobatan segera untuk mencegah kebutaan. Gejala obyektifnya adalah injeksi siliar. dapat dilakukan pembedahan. Dilakukan operasi hanya bila perlu dan jenisnya tergantung penyebab. penghambatan beta adrenergik 0. Penyakit peradangan traktus uvealis umumnya unilateral. Terdapat kelompok nodular sel epitelial dan sel-sel raksasa yang dikelilingi limfosit di daerah yang terkena.5 % 2 x 1 dan KCl 3 x 0. Terdapat reaksi radang. (Mansjoer. dan mata merah. Uveitis dapat terjadi mendadak atau akut berupa mata merah dan sakit. Tukak kornea 2 . Pada bentuk yang sekunder. 2001) A.

Ada benda asing di mata . autoimun dan infeksi. infiltrasi sel lekosit dan limfosit yang memakan bakteri atau jaringan nekrotik yang terbentuk.Regresif 3.Penglihatan menurun 5.Cedera mata . 2002).Infeksi virus 4. 3 . 2000). alergi.Kekeruhan berwarna putih pada kornea Gejala yang dapat menyertai adalah terdapatnya penipisan kornea.Progresif Pada proses kornea yang progresif dapat terihat. influenza dan M. Enterobacter hafniae. dan infeksi campuran Erogenes.Membentuk jaringan parut Pada pembentukan jaringan parut akan terdapat epitel.Infeksi bakteri Bakteri yang sering menyebabkan tukak kornea adalah Streptococcus α-hemoliticus. H. Vaughan. Asbury and Riordan. Streptococcus anaerobic. reaksi jaringan kornea (akibat gangguan vaskularisasi iris).Defisiensi vitamin A 5. besar dan virulensi inokulum (Ilyas. Moraxella likuefasiens. hifema dan sinekia posterior (Ilyas. 2002) Etiologi Penyebab tukak kornea : 1. Proteus sp. Faktor risiko terbentuknya ulkus: . 2002) Perjalanan Penyakit Tukak Kornea 1. berupa suar.Difus disertai masuknya pembuluh darah kedalamnya (Ilyas. 2000) Macam Tukak Kornea Berdasarkan bentuknya tukak kornea dibagi menjadi : 1. Staphylococcus aureus. Asbury and Riordan. Gejala Klinis 1.Marginal 2. Nocardia asteroides. 2002. (Ilyas.Iritasi akibat lensa kontak.Lagophtalmus akibat parese N.Trauma yang merusak epitel kornea 7. 2. jaringan kolagen baru dan fibroblas. Staphylococcus epidermidis. VII dan N. Pseudomonas aeroginosa. Berat ringannya penyakit juga ditentukan oleh keadaan fisik pasien. hipopion. Alcaligenes sp.Sakit mata ringan hingga berat 3.III 6. 2.perifer dapat disebabkan oleh reaksi toksik. Infeksi pada kornea perifer biasanya oleh kuman Staphylococcus aureus.Multifokal 4.Mata merah 2. Streptococcus β-hemolitivus. lipatan Descemet.lacunata (Ilyas.Ulkus Mooren (Vaughan.Fotofobia 4. 2002).Fokal 3.Infeksi jamur 3.

Bila infeksi disebabkan virus. Sabouroud. Etiologinya dapat berasal dari bakteri. 2000). Vaughan. Bila tukak disebabkan Pseudomonas maka tukak akan terlihat melebar dengan cepat. Staphylococcus aureus dan Streptococcus pneumoni akan memberikan gambaran tukak yang terbatas. fotofobia. Mikroorganisme ini tidak mudah masuk ke kornea selama epitelnya sehat. Vaughan. berbentuk bulat atau lonjong. Secara umum tukak diobati sebagai berikut : . Diagnosis laboratorium tukak kornea adalah keratomalasia dan infiltrate sisa karat benda asing. antibiotika yang sesuai topical dan subkonjungtiva. 2000). Biasanya kokus gram positif. Biasanya diberi lokal kecuali keadaan berat. 2000).Debridement sangat membantu penyembuhan. berwarna putih abu-abu pada anak tukak yang supuratif. pemakai obat lokal anestetika. 2002. 2002. Vaughan. sehingga diperlukan faktor predisposisi seperti erosi pada kornea.Sekret yang terbentuk dibersihkan 4 kali sehari. Bila tukak disebabkan jamur maka infiltrat akan berwarna abu-abu dikelilingi infiltrat halus disekitarnya (fenomena satelit) (Ilyas. Bila tukak berbentuk dendrit akan terdapat hipestesi pada kornea. 2000). karena akan menaikkan suhu sehingga akan berfungsi sebagaiincubator. Pada tukak kornea dilakukan pembedahan atau keratoplasti apabila dengan pengobatan tidak sembuh. dan pasien bila mengancam perforasi. Asbury and Riordan. Asbury and Riordan. 2002. Pemeriksaan jamur dilakukan dengan melakukan sediaan hapus yang menggunakan larutan KOH. Iris sukar dilihat karena keruhnya kornea akibat edema dan infiltrasi sel radang pada kornea. 2002. . Ulkus sentral Ulkus sentral dibedakan 2 menjadi : ulkus kornea sentral dan ulkus kornea marginal. akan terlihat reaksi hipersensitifitas disekitarnya. Daerah kornea yang tidak terkena akan tetap berwarna jernih dan tidak terlihat infiltrasi sel radang (Ilyas.Tidak boleh dibebat.Pengobatan dihentikan bila terjadi epitelisasi dan mata terlihat tenang kecuali bila penyebabnya pseudomonas yang memerlukan pengobatan ditambah 1-2 minggu. Vaughan. Vaughan. Tukak kornea akan memberikan kekeruhan berwarna putih pada kornea dengan defek epitel yang dengan pewarnaan fluorescein akan berwarna hijau ditengahnya. keratitis neurotrofik atau pemakai kortikosteroid atau imunosupresif. berkurang infiltrate pada tukak dan defek epitel kornea menjadi bertambah kecil (Ilyas. Vaughan. Triglikolat dan agar coklat (Ilyas. 2000). 2002. Asbury and Riordan. Bila proses pada tukak berkurang maka akan terlihat berkurangnya rasa sakit. 2000). . pasien tidak dapat memberi obat sendiri. pasien Diabetes 4 . . Asbury and Riordan. pemakai IDU. . Terjadinya jaringan parut yang menganggu penglihatan (Ilyas. Asbury and Riordan.Sebaiknya pada setiap tukak kornea dilakukan pemeriksaan agar darah. Asbury and Riordan.Diberi antibiotika yang sesuai dengan kausa.Pada tukak kornea yang disebabkan oleh jamur dan bakteri akan terdapat defek epitel yang dikelilingi PMN. virus maupun jamur. Pemeriksaan laboratorium sangat berguna untuk membantu membuat diagnosa kausa. Pemeriksaan Penunjang Dengan pemeriksaan biomikroskopi tidak mungkin untuk mengetahui diagnosis kausa tukak kornea. Pengobatan Tukak Kornea Pengobatan umumnya untuk tukak kornea adalah dengan sikloplegik. Tukak yang berjalan cepat dapat membentuk descemetokel atau terjadi perforasi kornea yang berakhir dengan membuat suatu bentuk lekoma adheren. bahan purulen berwarna kuning hijau terlihat melekat pada permukaantukak. Pengobatan pada tukak kornea betujuan menghalangi hidupnya bakteri dengan antibiotika dan mengurangi reaksi radang dengan steroid (Ilyas. tidak terdapat reaksi obat dan perlunyaobatsistemik. Diperhatikan kemungkinan terjadinya glaukoma sekunder. 2002.

dan keracunan obat seperti neomisin. Pada usia lanjut. dan dangkal. Konjungtivitis angular disebabkan oleh Moraxella. bila kronik akan terlihat jaringan parut dan vaskularisasi. Banyak pengobatan yang dicoba. Penyakit infeksi lokal dapat mengakibatkan keratitis katarak atau keratitis marginal. Vaughan. Sumbu memanjang daerah peradangan biasanya sejajar dengan limbus kornea. dry eyes. infeksi virus. Keratitis Radang pada kornea atau yang biasa disebut dengan keratitis. dapat terbentuk neovaskularisasi dari arah limbus (Ilyas. dengan adanya blefarokonjungtivitis atau pada orang tua. Keratitis jenis ini biasa disebabkan oleh hal yang tidak spesifik dan dapat terjadi pada moluskum kontagiosum. Merupakan tukak kornea idiopatik unilateral ataupun bilateral. infiltrat atau ulkus yang memanjang. 2002). dengan kemungkinan terdapatnya Streptococcus pneumoniae. seperti keratitis superficial dan keratitis profunda. akne rosasea. 2002). Tukak ini menghancurkan membran Bowman dan stroma kornea. Namun klasifikasi juga dapat didasarkan pada letak pupil. injeksi konjungtiva. Tukak yang terdapat biasanya di bagian perifer kornea dan biasanya terjadi akibat reaksi alergi. parasentral serta marginal. herpes simpleks. trakoma dan trauma radiasi. Haemophillus aegepty pada scapping (Ilyas. Proses yang terjadi kemungkinan kematian sel yang disusul dengan pengeluaran kolagenase. Terdapat unilateral. blefaritis neuroparalitik. Terdapat pada satu mata blefarospasme. 2000). Lambat laun ulkus ini akan mengenai seluruh kornea. Pada beberapa keadaan. diklasifikasikan berdasaskan lapisan kornea yang terkena. atau ketuaan (Ilyas. Perjalanan penyakit ini bervariasi. 2002). 2002). 2000). sering disertai rasa sakit dan merah. Vaughan. tidak terdapat neovaskularisasi pada bagian yang sedang aktif. 1. menghasilkan bahan-bahan proteolitik yang mengakibatkan defek pada epitel. Pemberian steroid sebaiknya diberikan dapat jangka waktu singkat dengan disertai pemberian vitamin B dan C dosis tinggi (Ilyas. yang sering dihubungkan dengan reumatik dan debilitas (Ilyas. fotofobia dan lakrimasi. vaksinia. Infiltrat dan tukak yang terlihat diduga merupakan timbunan kompleks antigen-antibodi dan secara histopatologi terlihat sebagai ulkus atau abses yang epitelial atau subepitelial. basil Koch Weeks atau Proteus vulgaris. Asbury and Riordan. dapat diberikan setelah kemungkinan infeksi HSV disingkirkan. D. Ulkus marginal juga dapat terjadi bersama-sama dengan radang konjungtiva yang disebabkan oleh Morazella. 2002. legoftalmos. Pasien terlihat sakit berat dan 25% mengalami billateral. Keratitis Superfisial a) Keratitis Pungtata Superfisialis merupakan keratitis yang terkumpul di daerah membrane Bowman. Keratitis marginal biasanya terdapat pada pasien setengah umur. namun belum ada yang memberikan hasil yang memuaskan (Ilyas. Ulkus Mooren Ulkus Mooren adalah suatu ulkus menahun superfisial yang dimulai dari tepi kornea. Jarang terjadi perforasi ataupun hipopion. 5 . namun dapat pula kambuh dalam waktu singkat. dengan bagian tepinya bergaung dan berjalan progresif tanpa kecenderungan perforasi. Pengobatan berupa antibiotik dengan steroid lokal. yang terdiri dari keratitis sentral. penyakit ini berhubungan dengan alergi makanan. Asbury and Riordan. dengan gambaran klinis bercak-bercak putih halus (infiltrat) pada kornea. Diduga dasar kelainannya adalah suatu reaksi hipersensitivitas terhadap eksotoksin stafilokokus (kurang lebih 50%). 2002. Gejala yang timbul berupa : visus yang menurun disertai rasa sakit. Penyakit ini sering terdapat pada wanita usia pertengahan. infeksi dan penyakit kolagen vaskular. dapat sembuh cepat.Mellitus. toksik. Tukak (ulkus) marginal Tukak marginal merupakan peradangan kornea bagian perifer berbentuk khas yang biasanya terdapat daerah jernih antara limbus kornea dengan tempat kelainannya. dapat tunggal atau multipel dan daerah jernih antara kelainan ini dengan limbus kornea. herpes zoster.

keratitis. Terapi dapat menggunakan kortikosteroid lokal. Terapi medikamentosa dapat menggunakan steroid tetes mata. yang berupa. Obyektif dapat berupa bagian dari trias Hutchinson yang terdiri dari : keratitis interstisial. erosi kornea. arteri pericornea) maka akan terjadi mata merah. Namun sekarang lebih banyak dihubungkan dengan reaksi imunologik. silau dan kabur. 6 . Penyebab terdiri dari defisiansi kelenjar air mata. terfilm kornea mudah pecah. Terjadi reaksi imunologik terhadap treponema palidum. 2. Terdapat infiltrate bundar berbatas tegas. mata merah dapat juga terjadi akibat pecahnya salah satu dari kedua pembuluh darah di atas dan darah tertimbun di bawah jaringan konjungtiva (perdarahan subkonjungtiva). pada Test schemer berkurang. serta terjadi denervasi kelenjar lakrimal atau biasa disebut dry eye sindrom. Sedangkan secara obyektif dapat memberikan gambaran klinis berupa benjolan putih kekuningan. (Ilyas. keratitis filamentosa. Pada mata normal sklera berwarna putih. Pada keratitis jenis ini terdapat gangguan trofik kornea. atau iridosiklitis. ekstropion. Gambaran klinik yang subyektif berupa sakit. serta dalamfase lanjut dapat terjadi pannus lepromatosa. etiologi diduga bersala dari virus. sukar gerakkan kelopak mata. injeksi siliar. neovaskularisasi. Keratitis jenis ini memiliki gambaran klinis yang subyektif berupa benjolan putih kemerahan dan apabila sudah menjalar ke kornea maka akan terjadi epifora. legoftalmos. misalnya: konjungtivitis. arteri episclera. c) Keratitis Sika didasarkan pada kurangnya sekresi kelenjar lakrimalis atau sel goblet. gejala dapat berupa silau. Gejala klinik berupa fotofobia. Keratitis Profunda a) Keratitis Interstisial Luetik merupakan manifestasi sifilis congenital. Gambaran klinik subyektif berupa palpebra edema dan hiperemi. penguapan air mata berlebihan. bila masih dalam tahap awal dan belum ada kerusakan biasanya hanya berupa rasa ngeres. Tear brea luptime berkurang.b) Keratitis Flikten dahulu sering didapatkan pada anak dengan kasus kurang gizi. lesi pungtata warna putih seperti kapur. Rifampisin. pelan-pelan penglihatan kabur. infiltrate. sakit dan kabur. Patognomonik terdapat edema saraf kornea. dan karena pathogen lain. e) Keratitis Numularis biasanya unilateral. bila ada ulkus beri antibiotika. lesi saling menyatu yang dapat menyebabkan kerusakan pada sub epitel (nebula). dan pada penderita TBC sistemik. serta akibat dari parut atau mikrovili yang rusak. berair. 2002) >> Mata merah merupakan perubahan warna bola mata yang sebelumnya berwarna putih menjadi merah. serta didapatkan adanya pustule pada konjungtiva atau pada kornea. apabila terjadi melebarnya pembuluh-pembuluh darah konjungtiva (arteri konjungtiva posterior. Selain melebarnya pembuluh darah. defisiansi komponen lemak. defisiansi komponen musin. dimana gambaran subyektifnya tergantung dari kelainan pada kornea. Sedangkan gambaran klinik yang obyektif terdapat keratitis avaskuler. koksidiosis. dan kelainan gigi seri atas. Biasanya menyerang pada usia 5-15 tahun. dikelilingi hyperemia konjungtiva. kabur. anesthesia kornea. infeksi stafilokokus aureus. Untuk yang obyektif dapat memberikan gambaran klinis berupa kejernihan konjungtiva dan kornea hilang. Gambaran klinisnya terbagi atas subyektif dan obyektif. Terapi medikamentosa dapat diberikan Dapson. pedih pada mata dan adanya keluhan dye-eye. serta pembedahan bila ada kelainan pada palpebra. Mata merah sering disebut hiperemia konjungtiva terjadi akibat bertambahnya asupan pembuluh darah ataupun berkurangnya pengeluaran darah seperti pada pembendungan darah. gangguan dengar. kering. factor predisposisi adalah para petani. Selain itu. d) Keratitis Lepra merupakan bentuk keratitis yang terjadi akibat komplikasi dari penyakit lepra. Bila terjadi pelebaran pembuluh darah konjungtiva atau episklera atau perdarahan antara konjungtiva dan sclera maka akan terlihat warna merah pada mata. Mata terlihat merah akibat melebarnya pembuluh darah konjungtiva yang terjadi pada peradangan mata akut. Sedangkan bila telah merusak kornea.

sclera berwarna putih. Sifat-sifat injeksi siliar sebagai berikut: . ukuran pupil irregular. pembuluh darah berwarna ungu. tidak hilang dengan pemberian adrenalin 1:1000. karena menempel erat pada jaringan perikornea . maupun karena pelebaran pembuluh darah.Berwarna lebih ungu dibanding injeksi konjungtival .Pembuluh darah tidak tampak . Apabila tidak bisa menghitung jari.Pupil ukuran normal dengan reaksi normal (Ilyas. maka pemeriksaan dilanjutkan dengan jari tangan mulai dari jarak 1m sampai 6m. Kartu ini berisi huruf. Pada penderita dilakukan pemeriksaan fisik untuk menunjang diagnosis. maka dapat diakibatkan karena bertambahnya asupan pembuluh darah. Penderita mengalami injeksi silliar yang memiliki cirriciri fotofobia. glaucoma. . tukak kornea.Tipe mata merah ada dua macam yaitu injeksi siliar dan injeksi konjungtival.Tidak ikut serta dengan pergerakan konjungtiva bila digerakkan. digunakan lambaian tangan dengan jarak 1m. angka atau gambar yang dibuat sedemikian rupa dan terdapat interpretasi hasil yang berisi jarak baca orang yang diperiksa dan jarak baca orang normal. Apabila penderita tidak mencapai 6/6 atau 5/5 atau 20/20. Injeksi siliar (injeksi perikornea) merupakan melebarnya pembuluh darah perikornea (arteri ciliaris anterior) terjadi akibat radang kornea. karena asalnya dari bagian perifer atau arteri ciliaris anterior . yaitu: obyektif dan subyektif. sehingga menimbulkan keadaan hiperemia. benda asing pada kornea. Sifat-sifat injeksi konjungtival antara lain. 2009) Pada penderita. . digunakan berkas cahaya dengan jarak 1m. yang berarti visusnya 1/300. paling padat sekitar kornea dan berkurang kea rah forniks. Keluhan ini timbul karena perubahan bola mata yang sebelumnya putih. Pada mata normal.Lakrimasi . endoftalmitis ataupun panoftalmitis.Gatal .Pupil irregular kecil (iritis) dan lebar (glaucoma) Injeksi konjungtival merupakan pelebaran pembuluh darah arteri conjungtiva posterior dapat terjadi akibat pengaruh mekanis.Pembuluh darah berwarna merah segar .Pada konjungtivitis pembuluh darah ini terutama didapatkan di daerah forniks .Ukuran sangat halus terletak di sekitar kornea. namun bila terjadi mata merah.Fotofobia . radang jaringan uvea. alergi. Pemeriksaan tekanan intraokuler dapat dilakukan dengan dua cara.Ukuran pembuluh darah makin besar ke bagian perifer.Pembuluh darah akan lenyap bila ditetesi adrenalin 1:1000 . Pemeriksaan subyektif menggunakan dua jari telunjuk menekan secara halus dan penuh perasaan bergantian 7 . menjadi merah.Mudah digerakkan dari dasarnya disebabkan arteri conjungtiva posterior melekat secara longgar pada conjungtiva bulbi yang mudah dilepas dari dasarnya sclera . yang berat visusnya 1/˜.Pembuluh darah perikornea tidak menciut bila diberi epinefrin atau adrenalin 1:1000.Sakit tekan yang dalam di sekitar kornea . Bila tidak bisa melihat lambaian tangan.Tidak ada fotofobia . terdapat keluhan mata merah. Pemeriksaan visus dilakukan dengan kartu ortotipe Snellen pada jarak 5m atau 6m. Pemeriksaan visus (tajam penglihatan) pada penderita berguna untuk menentukan dejerat kelainan refraksi yang dikeluhkan pasien berupa pandangan kabur. ataupun infeksi pada jaringan konjungtiva. .

Garis lingkaran tidak teratur terdapat pada astigmatisme irreguler akibat adanya infiltrat/parut kornea. Penilaian didapatkan hasil N (normal). selain itu didapatkan pula camera occuli anterior (COA) atau anterior chamber dangkal. glaukoma akut sudut tertutup. 8 . Perjalanan penyakit pasien. Keadaan infeksi tersebut dapat berasal dari infeksi langsung. Selain itu. guna menegakan diagnosis pada pasien. juga dapat berguna untuk membantu mengurangi produksi aqueus humour. Hal ini disebabkan karena pada glaukoma akut. yang terjadi secara mendadak. dan pada pemeriksaan flaccido. ukuran kornea yang kecil. memiliki suatu interpretasi tertentu. Hal ini didasari pada hasil pemeriksaan fluorusensi yang positif. Digunakan papan plasido yang terdapat gambaran lingkaran konsentris putih hitam yang menghadap sumber cahaya dan penderita. Keadaan ulkus cornea sendiri dapat berlanjut menjadi uveitis. diantaranya adalah keadaan sumbu bola mata yang pendek. N-3 untuk TIO di bawah normal. Bila terjadi keratitis maupun ulkus cornea. perlu diperhatikan pula serangan kambuhan/intermitensi dari penyakit ini. dan tinggi (dapat mencapai 60mmHg). Selain itu keadaan infeksi dari kornea. dan mata yang merah dan nyeri. Hal ini harus dibedakan dari glaukoma akut sudut terbuka. Bila diperlukan. guna melihat spesifikasi penyebab terjadinya ulkus cornea. Hasil pemeriksaan fisik dan laboratorium pada pasien di skenario. tetapi perlu diingat. tetapi terdiri atas beberapa penyakit. adalah keadaan glaukoma akut ini dapat menyebabkan mata yang satunya terserang juga. dapat dilakukan iridektomi. Hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut. Pemeriksaan uji fluoresensi merupakan pemeriksaan yang menggunakan bahan berwarna jingga merah yang bila disinari gelombang biru akan memberikan hasil gelombang (warna) hijau. Pemeriksaan ini dapat dilakuakan dengan dua cara yaitu larutan fluoresen 2% dan kertas fluoresein. N-2. Pada mata kiri. didapatkan gambaran lingkaran yang tidak konsentris dan ada bagian yang terputus. tukak kornea dan erosi kornea.pada kedua bola mata. Pemeriksaan lainnya yang dapat dilakukan. didasari pada keadaan visus yang menurun mendadak. terjadi akibat berbagai hal. dan dapat berakibat terjadinya hilang penglihatan secara progresif. yang sudah terjadi ulkus cornea. merupakan suatu keadaan multiple diagnosis. harus dibedakan antara mata kana dan mata kiri. tidak hanya diagnosis tunggal. adalah glaukoma akut sudut tertutup. N+3 untuk TIO di atas normal dan N-1. N+1. maupun suatu perjalanan dari penyakit lain. Penderita membelakangi sumber cahaya dan menghadap papan plasido. konjungtivitis. dan disertai kelopak mata yang bengkak. Apabila terdapat permukaan kornea berwarna hijau maka dinyatakan uji fluoresensi positif. seperti blefaritis. hingga hilang penglihatan. Sedangkan untuk mata kiri. Sehingga akan tampak bayangan papan plasido pada kornea dengan gambaran normal berupa lingkaran konsentris. Pada mata kiri. Hal ini menunjukkan adanya defek epitel kornea misalnya. Kemungkinan diagnosis yang mendekati pasien pada mata kanannya. Pemeriksaan obyektif TIO menggunakan tonometer Schiotz dan tonometer aplanasi. maka tajam penglihatan akan turun secara perlahan. yang disertai adanya tukak (ulkus) pada kornea. maupun keratitis. untuk mengurangi kejadian intermittensi. yang dapat membuka sudut bola matanya. Bila terdapat gambaran lingkaran lonjong terjadi pada astigmatisme kornea. adalah dengan melakukan kultur ambilan kerokan dari kornea. Penderita disuruh melirik ke bawah. N+2. stroma iris yang tebal. Tindakan penatalaksanaan penderita pada mata kanan dapat dilakukan pemberian pilocarpin 2%. Pemeriksaan ini berfungsi untuk melihat terdapatnya defek epitel kornea atau fistel kornea. sehingga dapat menurunkan TIO. yang didasari atas adanya penemuan flare dan cell di camera occuli anterior. Diagnosis yang dimungkinkan pada mata kiri pasien. maupun konjungtivitis dan blefaritis juga menjadi faktor presdeposisi terjadinya glaukoma tersebut. peningkatan tekanan intraokuler secara mendadak. uveitis. hasil pemeriksaan fisik dan laboratoriumnya menandakan adanya suatu keadaan infeksi. Selain itu pemberian acetazolamid 500mg iv. keratitis superfisialis epithelial. pada mata kiri. Pemeriksaan uji flaccido merupakan pemeriksaan mata untuk melihat kelengkungan kornea. dengan pertimbangan terjadi peningkatan TIO mata kiri sebesar 19 mmHg. edema kornea. diantaranya ulkus kornea.

tindakan operatif ini hanya dapat dilakukan. Selain itu pasien juga diberikan edukasi mengenai tindakan untuk menghindari faktor pencetus dan faktor presipitasi. yang dapat menyebabkan kambuhan terjadi. Untuk mata kiri. dapat diberikan obat antibiotik topikal. ketika mata tenang. dapat dilakukan tindakan kultur dahulu. 9 . dan diidentifikasi mikroorganisme yang menyebabkan terjadinya infeksi. dan tidak terjadi kambuhan. Selain itu dapat diberikan edukasi mengenai menjaga kebersihan dan kesehatan mata. dan sambil menunggu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful