You are on page 1of 24

DASAR-DASAR TERAPI CAIRAN DAN ELEKTROLIT

Disusun oleh:
Borni Isnandini 17360041
Ricky Pratama P.

KEPANITERAAN KLINIK ILMU ANESTESI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI

RUMAH SAKIT PERTAMINA BINTANG AMIN BANDAR LAMPUNG

PERIODE 8 OKTOBER – 10 NOVEMBER 2018


PENDAHULUAN

Menjaga agar volume cairan tubuh tetap relatif konstan dan komposisi

elektrolit di dalamnya tetap stabil adalah penting bagi homeostatis. Beberapa

masalah klinis timbul akibat adanya abnormalitas dalam hal tersebut. Untuk

bertahan, kita harus menjaga volume dan komposisi cairan tubuh, baik

ekstraseluler (CES) maupun cairan intraseluler (CIS) dalam batas normal.

Gangguan cairan dan elektrolit dapat membawa penderita dalam kegawatan yang

kalau tidak dikelolam secara cepat dan tepat dapat menimbulkan kematian. Hal

tersebut terlihat misalnya pada diare, peritonitis, ileus obstruktif, terbakar, atau

pada pendarahan yang banyak.

Elektrolit merupakan molekul terionisasi yang terdapat di dalam darah,

jaringan, dan sel tubuh. Molekul tersebut, baik yang positif (kation) maupun yang

negatif (anion) menghantarkan arus listrik dan membantu mempertahankan

pH dan level asam basa dalam tubuh. Elektrolit juga memfasilitasi pergerakan

cairan antar dan dalam sel melalui suatu proses yang dikenal sebagai osmosis dan

memegang peraran dalam pengaturan fungsi neuromuskular, endokrin, dan

sistem ekskresi.

Jumlah asupan air dan elektrolit melalui makan dan minum akan

dikeluarkan dalam jumlah relatif sama. Ketika terjadi gangguan homeostasis

dimana jumlah yang masuk dan keluar tidak seimbang, harus segera diberikan

terapi untuk mengembalikan keseimbangan tersebut.


TINJAUAN PUSTAKA

Anatomi Cairan Tubuh

Total Body Water ( TBW )

Air merupakan komponen utama dalam tubuh yakni sekitar 60% dari berat badan pada

laki-laki dewasa. Persentase tersebut bervariasi bergantung beberapa faktor diantaranya:

 TBW pada orang dewasa berkisar antara 45-75% dari berat badan. Kisaran ini

tergantung pada tiap individu yang memiliki jumlah jaringan adipose yang berbeda,

yang mana jaringan ini hanya mengandung sedikit air.

 TBW pada wanita lebih kecil dibanding dengan laki-laki dewasa pada umur yang

sama, karena struktur tubuh wanita dewasa yang umumnya lebih banyak mengandung

jaringan lemak.

 TBW pada neonatus lebih tinggi yaitu sekitar 70-80% berat badan

 Untuk beberapa alasan, obesitas serta peningkatan usia akan menurunjkan jumlah

kandungan total air tubuh

TBW dibagi dalam 2 komponen utama yaitu cairan intraseluler (CIS) dan cairan ekstra

seluler (CES) seperti terlihat pada gambar


Cairan intra seluler merupakan 40% dari TBW. Pada seorang laki- laki dewasa

dengan berat 70 kg berjumlah sekitar 27 liter. Sekitar 2 liter berada dalam sel darah

merah yang berada di dalam intravaskuler. Komposisi CIS dan kandungan airnya

bervariasi menurut fungsi jaringan yang ada. Misalnya, jaringan lemak memiliki jumlah

air yang lebih sedikit dibanding jaringan tubuh lainnya.

Komposisi dari CIS bervariasi menurut fungsi suatu sel. Namun terdapat

perbedaan umum antara CIS dan cairan interstitial. CIS mempunyai kadar Na +, Cl- dan

HCO3- yang lebih rendah dibanding CES dan mengandung lebih banyak ion K+ dan fosfat

serta protein yang merupakan komponen utama intra seluler.

Komposisi CIS ini dipertahankan oleh membran plasma sel dalam keadaan stabil

namun tetap ada pertukaran. Transpor membran terjadi melalui mekanisme pasif seperti

osmosis dan difusi, yang mana tidak membutuhkan energi sebagaimana transport aktif.

Sekitar sepertiga dari TBW merupakan cairan ekstraseluler (CES), yaitu seluruh

cairan di luar sel. Dua kompartemen terbesar dari mairan ekstrasluler adalah cairan

interstisiel, yang merupakan tiga perempat cairan ekstraseluler, dan plasma, yaitu

seperempat cairan ekstraseluler. Plasma adalah bagian darah nonselular dan terus
menerus berhubungan dengan cairan interstisiel melalui celah-celah membran kapiler.

Celah ini bersifat sangat permeabel terhadap hampir semua zat terlarut dalam cairan

ekstraseluler, kecuali protein. Karenanya, cairan ekstraseluler terus bercampur, sehingga

plasma dan interstisiel mempunyai komposisi yang sama kecuali untuk protein, yang

konsentrasinya lebih tinggi pada plasma.

Cairan transeluler merupakan cairan yang disekresikan dalam tubuh terpisah dari

plasma oleh lapisan epithelial serta peranannya tidak terlalu berarti dalam keseimbangan

cairan tubuh, akan tetapi pada beberapa keadaan dimana terjadi pengeluaran jumlah

cairan transeluler secara berlebihan maka akan tetap mempengaruhi keseimbangan

cairan dan elektrolit tubuh. Cairan yang termasuk cairan transseluler yaitu :Cairan

serebrospinal, cairan dalam kelenjar limfe, cairan intra okular, cairan gastrointestinal

dan empedu, cairan pleura, peritoneal, dan perikardial.

Kandungan air dalam tiap organ tidak seragam seperti terlihat pada table berikut:
Tabel 3. Kandungan air dalam tiap organ1
Jaringan Presentasi Air
Otak 84
Ginjal 83
Otot Lurik 76
Kulit 72
Hati 68
Tulang 22
Lemak 10
Komponen cairan ekstraseluler terbagi menjadi seperti pada tabel berikut:
Komponen CES pada seorang laki-laki dewasa ( BB 70 Kg)
Cairan Berat Badan (%) Volume (%)
Cairan interstitial 15 10,5
Plasma Cairan 5 3,5
transeluler Total 1 0,7
CES 21 14,7

Komposisi Cairan Tubuh

Secara garis besar, komposisi cairan tubuh yang utama dalam plasma,

interstitial dan intraseluler ditunjukkan pada tabel berikut:(4)

Komposisi Plasma, interstitial, dan Intraselular ( mmol/L)


Substansia Plasma Cairan interstitial Cairan intraseluler
Kation
Na+ 153 145 10
K+ 4,3 4,1 159
Ca2+ 2,7 2,4 <1
Mg2+ 1,1 1 40
Total 161,1 152,5 209
Anion
Cl- 112 117 3
-
HCO3 25,8 27,1 7
Protein 15,1 <0,1 45
Lainnya 8,2 8,4 154
Total 161,1 152,5 209
Kebutuhan Air dan Elektrolit

Bayi dan anak:(7)

Pada bayi dan anak sesuai dengan perhitungan di bawah ini :

Berat badan Kebutuhan air perhari

Sampai 10 kg 100 ml/kgBB

11-20 kg 1000 ml + 50 ml/kgBB

( untuk tiap kg diatas 10 kg)

>20 kg 1500 ml + 20 ml/kgBB

( untuk tiap kg diatas 20 kg)

Kebutuhan kalium 2,5 mEq/kgBB/hari

Kebutuhan natrium 2-4 mEq/kgBB/hari

Orang dewasa:(2)

Pada orang dewasa kebutuhannya yaitu :

 Kebutuhan air sebanyak 30 -50 ml/kgBB/hari

 Kebutuhan kalium 1-2 mEq/kgBB/hari

 Kebutuhan natrium 2-3 mEq/kgBB/hari

Faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Cairan

Yang menyebabkan adanya suatu peningkatan terhadap kebutuhan cairan harian

diantaranya :

 Demam ( kebutuhan meningkat 12% setiap 10 C, jika suhu > 370 C )

 Hiperventilasi

 Suhu lingkungan yang tinggi


 Aktivitas yang ekstrim / berlebihan

 Setiap kehilangan yang abnormal seperti diare atau poliuria

Yang menyebabkan adanya penurunan terhadap kebutuhan cairan harian

diantaranya yaitu :

 Hipotermi ( kebutuhannya menurun 12% setiap 10 C, jika suhu <370 C )

 Kelembaban lingkungan yang sangat tinggi

 Oliguria atau anuria

 Hampir tidak ada aktivitas

 Retensi cairan misal gagal jantung

Perubahan Cairan Tubuh

Gangguan cairan tubuh dapat dibagi dalam tiga bentuk yakni perubahan :

1. Volume,

2. Konsentrasi, dan

3. Komposisi.

Ketiga macam gangguan tersebut mempunyai hubungan yang erat satu dengan

yang lainnya sehingga dapat terjadi bersamaan. Namun demikian, dapat juga terjadi

secara terpisah atau sendiri yang dapat member gejala-gejala tersendiri pula. Yang paling

sering dijumpai dalam klinik adalah gangguan volume.

1. Perubahan Volume

Defisit Volume

Pada keadaan akut, kehilangan cairan yang cepat akan menimbulkan tanda gangguan pada

susunan saraf pusat dan jantung. Pada kehilangan cairan yang lambat, lebih dapat

ditoleransi sampai defisit volume cairan ekstraseluler yang berat.


Dehidrasi

Dehidrasi sering dikategorikan sesuai dengan kadar konsentrasi serum dari natrium

menjadi isonatremik (130-150 mEq/L), hiponatremik (<139 mEq/L) atau hipernatremik

(.150 mEq/L). Dehidrasi isonatremik merupakan yang paling sering terjadi (80%),

sedangkan dehidrasi hipernatremik atau hiponatremik sekitar 5-10% dari kasus.

Dehidrasi isotonis (isonatremik) terjadi ketika kehilangan cairan hampir sama dengan

konsentrasi natrium terhadap darah. Kehilangan cairan dan natrium besarnya relatif sama

dalam kompartemen intravascular maupun kompartemen ekstravaskular. 3

Dehidrasi hipotonis (hiponatremik) terjadi ketika kehilangan cairan dengan

kandungan natrium lebih banyak dari darah (kehilangan cairan hipertonis).

Sedangkan dehidrasi hipertonis (hipernatremik) terjadi ketika kehilangan cairan dengan

kandungan natrium lebih sedikit dari darah. 3

Ditinjau dari segi banyaknya defisit cairan dan elektrolit yang hilang, maka dehidrasi

dapat dibagi atas :

1. Dehidrasi ringan (defisit 4%BB)

2. Dehidrasi sedang (defisit 8%BB)

3. Dehidrasi berat (defisit 12%BB)

Tabel 4. Rumatan Cairan menurut rumus Hollyday-Segar3


Berat Badan Jumlah Cairan
< 10 kg 100 ml/kg/hari
11 – 20 kg 1000 ml + 50 ml/kg/hari untuk setiap kg
di atas 10 kg
> 20 kg 1500 ml + 20 ml/kg/hari untuk setiap kg
di atas 20 kg
Cara rehidrasi yaitu hitung cairan dan elektrolit total (rumatan + penggantian defisit) untuk

24 jam pertama. Berikan separuhnya dalam 8 jam pertama dan selebihnya dalam 16

jam berikutnya.

Kelebihan Volume

Kelebihan volume cairan ekstraselular merupakan suatu kondisi akibat iatrogenic

(pemberian cairan intravena seperti NaCl yang menyebabkan kelebihan air dan NaCl

ataupun pemberian cairan intravena glukosa yang menyebabkan kelebihan air) ataupun

dapat sekunder akibat insufisiensi renal (gangguan GFR), sirosis, ataupun gagal jantung

kongestif.

2. Perubahan Konsentrasi

Perubahan konsentrasi cairan tubuh dapat berupa hipernatremia atau hiponatremia

maupun hiperkalemia atau hipokalemia.

Rumus untuk menghitung defisit elektrolit :3,4

o Defisit natrium (mEq total) = (Na serum yang diinginkan – Na serum

sekarang) x 0,6 x BB (kg)

o Defisit Kalium (mEq total) = (K serum yang diinginkan [mEq/liter] – K serum

yang diukur) x 0,25 x BB (kg)

o Defisit Klorida (mEq total) = (Cl serum yang diinginkan [mEq/liter] – Cl

serum yang diukur) x 0,45 x BB (kg)


3. Perubahan komposisi

Perubahan komposisi itu dapat terjadi tersendiri tanpa mempengaruhi osmolaritas cairan

ekstraseluler. Sebagai contoh misalnya kenaikan konsentrasi K dalam darah dari 4

mEq menjadi 8 mEq, tidak akan mempengaruhi osmolaritas cairan ekstraseluler

tetapi sudah cukup mengganggu otot jantung. Demikian pula halnya dengan gangguan ion

kalsium, dimana pada keadaan hipokalsemia kadar Ca kurang dari 8 mEq, sudah akan

timbul kelainan klinik tetapi belum banyak menimbulkan perubahan osmolaritas.

Gangguan Keseimbangan Air dan Elektrolit

Gangguan keseimbangan air dan elektrolit dapat terjadi karena:

 Gastroenteritis, demam tinggi ( DHF, difteri, tifoid )

 Kasus pembedahan ( appendektomi, splenektomi, section cesarea, histerektomi )

 Penyakit lain yang menyebabkan pemasukan dan pengeluaran tidak seimbang

( kehilangan cairan melalui muntah )

Dehidrasi

Dehidrasi merupakan keadaan dimana kurangnya terjadi kekurangan jumlah

cairan tubuh dari jumlah normal akibat kehilangan, aasupan yang tidak memadai atau

kombinasi keduanya. Menurut jenisnya dehidrasi dibagi atas ;

Dehidrasi hipotonik

Dehidrasi hipertonik

Dehidrasi isotonik
Sedangkan menurut derajat beratnya dehidrasi yang didasarkan pada tanda interstitial

dan tanda intravaskuler yaitu ;

Dehidrasi ringan ( defisit 4% dari BB)

Dehidrasi sedang ( defisit 8% dari BB)

Dehidrasi berat ( defisit 12% dari BB)

Syok ( defisit dari 12% dari BB)

Defisit cairan interstitial dengan gejala sebagai berikut :

Turgor kulit yang jelek

Mata cekung

Ubun-ubun cekung

Mukosa bibir dan kornea kering

Defisist cairan intravaskuler dengan gejala sebagai berikut :

Hipotensi, takikardi

Vena-vena kolaps

Capillary refill time memanjang

Oliguri

Syok ( renjatan)

Dehidrasi hipotonik ( hiponatremik )

Pada anak yang diare yang banyak minum air atau cairan hipotonik atau diberi

infus glukosa 5%

Kadar natrium rendah ( <130 mEq/L)

Osmolaritas serum < 275 mOsm/L

Letargi, kadang- kadang kejang


Dehidrasi hipertonik

Biasa terjadi setelah intake cairan hipertonik ( natrium, laktosa ) selama diare

Kehilangan air >> kehilangan natrium

Konsentrasi natrium > 150 mmol/ L

Osmolaritas serum meningkat > 295 mOsm/L

Haus, irritable

Bila natrium serum mencapai 165 mmol/L dapat terjadi kejang

Tabel: Derajat Dehidrasi

Tanda- tanda Ringan Sedang Berat


Defisit 3-5 % dari BB 6-8 % dari BB 10 % dari BB
Keadaan • Gelisah Lesu lunglai dan tidak
Baik, sadar
Umum • Rewel sadar
Air Mata Ada Tidak ada Tidak ada
Mulut dan
Basah Kering Sangat kering
lidah
Minum biasa, Haus ingin minum Malas minum atau
Rasa haus
tidak haus banyak tidak bisa minum
Turgor kulit Kembali cepat Kembali lambat Kembali sangat lambat
Pekat, produksi/
Urine Pekat Oligouria
jumlah menurun
Takikardi, nadi nadi sulit diraba, akral
Nadi Takikardi
lemah dingin

Sementara kehilangan darah dapat diperkirakan besarnya melalui


beberapa kriteria klinis seperti pada tabel di bawah ini ;
Klas I Klas II Klas III Klas IV
Kehilangan darah Sampai 750 750-1500 1500-2000 >2000
( ml)
Kehilangan darah Sampai 15% 15-30% 30-40% >40%

( %EBV)
Denyut nadi <100 >100 >120 >140
Tek. Darah Normal Normal Menurun Menurun
(mmHg)
Tek. Nadi Normal atau Menurun Menurun Menurun
(mmHg) meningkat
Frek. Napas 14-20 20-30 30-35 >35
Produksi urin >30 20-30 5-15 Tidak ada
(ml/jam)
SSP / status Gelisah ringan Gelisah sedang Gelisah dan Bingung dan
mental bingung letargi

Cairan pengganti Kristaloid Kristaloid Kristaloid dan Kristaloid dan


( rumus 3 :1) darah Darah

Berikut tabel yang menggambarkan tentang beberapa gangguan elektrolit:

Ion dan batas CES Terganggu ( mEq/L) Gejala- gejala Penyebab


normal ( mEq/L)
Natrium ( 136- 142) Hipernatremia ( >150) Haus, kulit kering Dehidrasi, kehilangan
dan mengkerut, cairan hipotonik
penurunan tekanan
dan volume darah,
bahkan kolaps
sirkulasi
Hiponatremia (<130) Gangguan fungsi Infuse atau ingesti solusi
SSP (intoksikasi air hipotonik dalam jumlah
konfusi, halusinasi, besar
kejang, koma,
kematian pada
beberapa kasus
Kalium ( 3,8-5,0) Hiperkalemia ( >8) Aritmia jantung Gagal ginjal,
berat penggunaaan diuretic,
asidosis kronik
Hipokalemia ( <2) Kelemahan dan Diit rendah kalium.
paralysis otot Ddiuretik dan
hipersekresi aldosteron
Kalsium ( 4,5-5,3) Hiperkalsemia ( >11) Konfusi, nyeri otot, Hiperparatiroid, kanker,
aritmia jantung, batu toksisitas vit. D.
ginjal, kalsifikasi suplemen kalsium
pada jaringan lunak dengan dosis yang
sangat berlebihan
Hipokalsemia (<4) Spasme otot, Diit yang jelek, kurang
kejang, kram usus, vitamin D, gagal ginjal,
denyut jantung yang hipoparatiroid,
lemah, aritmia hipomagnesemia
jantung, osteoporosi
Terapi Cairan

Penatalaksanaan terapi cairan meliputi dua bagian

dasar yaitu ;

Resusitasi cairan

Ditujukan untuk menggantikan kehilangan akut cairan tubuh, sehingga

seringkali dapat menyebabkan syok. Terapi ini ditujukan pula untuk

ekspansicepat dari cairan intravaskuler dan memperbaiki perfusi jaringan.

Terapi rumatan

Bertujuan untuk memelihara keseimbangan cairan tub uh dan nutrisi yang

diperlukan oleh tubuh


Hal ini digambarkan dalam diagram berikut :

Terapi Cairan

Resusitasi Rumatan

Kristaloid Koloid Elektrolit Nutrisi

Prinsip pemilihan cairan dimaksudkan untuk :

Mengganti kehilangan air dan elektrolit yang normal melaui urine, IWL, dan

feses

Membuat agar hemodinamik agar tetap dalam keadaan stabil

Pada penggantian cairan, maka jenis cairan yang digunakan didasarkan pada :

Cairan pemeliharaan ( jumlah cairan yang dibutuhkan selama 24 jam )

Cairan defisit ( jumlah kekurangan cairan yang terjadi )

Cairan pengganti ( replacement )

o Sekuestrasi ( cairan third space )

o Pengganti darah yang hilang

o Pengganti cairan yang hilang melalui fistel, maag selang dan drainase

Pemilihan Cairan

Cairan intravena diklasifikasikan menjadi kristaloid dan koloid. Kristaloid

merupakan larutan dimana molekul organik kecil dan inorganik dilarutkan dalam air.

Larutan ini ada yang bersifat isotonik, hipotonik, maupun hipertonik. Cairan kristaloid
memiliki keuntungan antara lain : aman, nontoksik, bebas reaksi, dan murah. Adapun

kerugian dari cairan kristaloid yang hipotonik dan isotonik adalah kemampuannya

terbatas untuk tetap berada dalam ruang intravaskular.

Kristaloid

Cairan kristaloid yang paling banyak digunakan adalah normal saline dan

ringer laktat. Cairan kristaloid memiliki komposisi yang mirip cairan

ekstraselular. Karena perbedaan sifat antara kristaloid dan koloid, dimana kristaloid

akan lebih banyak menyebar ke ruang interstitial dibandingkan dengan koloid maka

kristaloid sebaiknya dipilih untuk resusitasi defisit cairan di ruang intersisial.

Penggunaan cairan normal salin dalam jumlah yang besar dapat menyebabkan

timbulnya asidosis hiperkloremik, sedangkan penggunaan cairan ringer laktat dengan

jumlah besar dapat menyebabkan alkalosis metabolik yang disebabkan adanya

peningkatan produksi bikarbonat akibat metabolisme laktat.

Larutan dekstrose 5% sering digunakan jika pasien memiliki gula darah yang

rendah atau memiliki kadar natrium yang tinggi. Namun penggunaannya untuk

resusitasi dihindarkan karena komplikasi yang diakibatkan antara lain

hiperomolalitas- hiperglikemik, diuresis osmotik, dan asidosis serebral.


Tabel: Komposisi Cairan Kristaloid5
Solution Glucose Sodium Chloride Potassium Kalsium Lactate (mOsmol/L)
(mg/dL) (mEq/dL) (mg/dL) (mEq/dL (mEq/dL) (mEq/dL)

5% 5000 253
Dextrose in
water
D5 ½ NS 5000 77 77 406
D5 NS 5000 154 154 561
0,9% NaCl 154 154 308
Ringer 130 109 4. 3.0 28 273
Laktat 0
D5 RL 5000 130 109 4. 3.0 28 525
5% NaCl 855 855 0 1171

Koloid

Cairan koloid disebut juga sebagai cairan pengganti plasma atau biasa disebut “plasma

expander”. Di dalam cairan koloid terdapat zat/bahan yang mempunyai berat molekul tinggi

dengan aktivitas osmotik yang menyebabkan cairan ini cenderung bertahan agak lama

dalam ruang intravaskuler.

Koloid dapat mengembalikan volume plasma secara lebih efektif dan efisien daripada

kristaloid, karena larutan koloid mengekspansikan volume vaskuler dengan lebih sedikit

cairan dari pada larutan kristaloid. Sedangkan larutan kristaloid akan keluar dari pembuluh

darah dan hanya 1/4 bagian tetap tinggal dalam plasma pada akhir infus. Koloid adalah cairan

yang mengandung partikel onkotik dan karenanya menghasilkan tekanan onkotik. Bila

diberikan intravena, sebagian besar akan menetap dalam ruang intravaskular.

Meskipun semua larutan koloid akan mengekspansikan ruang intravaskular, namun

koloid yang mempunyai tekanan onkotik lebih besar daripada plasma akan menarik
pula cairan ke dalam ruang intravaskular. Ini dikenal sebagai ekspander plasma, sebab

mengekspansikan volume plasma lebih dari pada volume yang diberikan.

Albumin

Albumin merupakan larutan koloid murni yang berasal dari plasma manusia. Albumin

dibuat dengan pasteurisasi pada suhu 60 0C dalam 10 jam untuk meminimalisir resiko

transmisi virus hepatitis B atau C atau pun virus imunodefisiensi. Waktu paruh albumin

dalam plasma adalah sekitar 16 jam, dengan sekitar 90% tetap bertahan dalam intravascular

2 jam setelah pemberian.

Dekstran

Dekstran merupakan semisintetik koloid yang secara komersial dibuat dari sukrose

oleh mesenteroides leukonostok strain B 512 dengan menggunakan enzim dekstran sukrose.

Ini menghasilkan dekstran BM tinggi yang kemudian dilengketkan oleh hidrolisis asam dan

dipisahkan dengan fraksionasi etanol berulang untuk menghasilkan produk akhir dengan

kisaran BM yang relatif sempit. Dekstran untuk pemakaian klinis tersedia dalam dekstran

70 (BM 70.000) dan dekstran 40 (BM 40.000) dicampur dengan garam faal, dekstrosa atau

Ringer laktat.

Dekstran 70 6 % digunakan pada syok hipovolemik dan untuk profilaksis

tromboembolisme dan mempunyai waktu paruh intravaskular sekitar 6 jam. Pemakaian

dekstran untuk mengganti volume darah atau plasma hendaknya dibatasi sampai 1 liter (1,5

gr/kgBB) karena risiko terjadi perdarahan abnormal. Batas dosis dekstran yaitu 20

ml/kgBB/hari.

Sekitar 70% dosis dekstran 40 yang diberikan akan dieksresikan ke dalam urine dalam

24 jam. Molekul- molekul yang lebih besar dieksresikan lewat usus atau dimakan oleh sel-
sel sistem retikoloendotelial. Volume dekstran melebihi 1 L dapat mengganggu hemostasis.

Disfungsi trombosit dan penurunan fibrinogen dan faktor VIII merupakan alasan timbulnya

perdarahan yang meningkat. Reaksi alergi terhadap dekstran telah dilaporkan, tetapi

kekerapan reaksi anafilaktoid mungkin kurang dari 0,02 %. Dekstran 40 hendaknya jangan

dipakai pada syok hipovolemik karena dapat menyumbat tubulus ginjal dan

mengakibatkan gagal ginjal akut.

Gelatin

Gelatin dibuat dengan jalan hidrolisis kolagen sapi. Preparat yang umum

dipasaran adalah gelatin yang mengalami suksinasi seperti Gelofusin dengan pelarut

NaCL isotonik. Gelatin dengan ikatan urea-poligelin ( Haemaccel ) dengan pelarut NaCL

isotonik dengan Kalium 5,1 mmol/l dan Ca 6,25 mmol/ L.

Pemberian gelatin agaknya lebih sering menimbulkan reaksi alergik daripada koloid

yang lain. Berkisar dari kemerahan kulit dan pireksia sampai anafilaksis yang mengancam

nyawa. Reaksi-reaksi tersebut berkaitan dengan pelepasan histamine yang mungkin sebagai

akibat efek langsung gelatin pada sel mast.

Gelatin tidak menarik air dari ruang ekstravaskular sehingga bukan termasuk

ekspander plasma seperti dekstran. Larutan gelatin terutama diekskresikan lewat ginjal

dalam urin, sementara itu gelatin dapat menghasilkan diuresis yang bagus. Sebagian kecil

dieliminasikan lewat usus. Karena gelatin tidak berpengaruh pada sistem koagulasi,

maka tidak ada pembatasan dosis. Namun, bila terlalu banyak infus, pertimbangkan adanya

efek dilusi. Gelatin dapat diberikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal bahkan pada

pasien yang menjalani hemodialisis. Indikasi gelatin : Penggantian volume primer pada

hipovolemia, stabilisasi sirkulasi perioperatif. Sedangkan kontraindikasi adalah infark

miokard yang masih baru terjadi, gagal jantung kongestif dan syok normovolemik.
Hydroxylethyl Starch (HES)

Senyawa kanji hidroksietil ( HES ) merupakan suatu kelompok koloid sintetik

polidisperse yang mempunyai glikogen secara struktural. Kurang dapat diterima kanji

hidroksi (HES ) untuk pengantian volume paling mungkin akibat laporan-laporan adanya

koagulasi abnormal yang menyertai subtitusi plasma ini. Laporan laporan tentang HES yang

memperlihatkan koagulasi darah yang terganggu dan kecenderungan perdarahan yang

meningkat sebagian besar berdasarkan pemakaian preparat HES berat molekul tinggi (

HMW-HES ). Waktu paruh dari 90% partikel HES adalah 17 hari.

Seperti semua koloid lainnya, kanji hidroksietil juga berkaitan dengan reaksi

anafilaktoid yang ringan dengan kekerapan kira-kira 0,006 %. Indikasi pemberian HES

adalah :Terapi dan profilaksis defisiensi volume (hipovolemia) dan syok (terapi penggantian

volume) berkaitan dengan pembedahan (syok hemoragik), cedera (syok traumatik), infeksi

(syok septik), kombustio (syok kombustio). Sedangkan kontra indikasi adalah : Gagal

jantung kongestif berat, Gagal ginjal (kreatinin serum >2 mg/dL dan >177

mikromol/L).Gangguan koagulasi berat (kecuali kedaruratan yang mengancam nyawa).

Dosis penggunaan HES adalah 20 ml/kgBB/hari.

Tabel: Perbandingan Kristaloid dan Koloid3


Kristaloid Koloid
Keunggulan 1. Lebih mudah tersedia dan 1. Ekspansi volume plasma
murah tanpa ekspansi interstitial

2. Komposisi serupa dengan 2. Ekspansi volume lebih besar


plasma (Ringer asetat/ringer
3. Durasi lebih lama
laktat)

3. Bisa disimpan di suhu kamar 4. Oksigenasi jaringan lebih


baik
4. Bebas dari reaksi anafilaktik
5. Insiden edema paru dan/atau
5. Komplikasi minimal edema sistemik lebih rendah
Kekurangan 1. Edema bisa 1. Anafilaksis
mengurangi ekspansibilitas 2. Koagulopati
dinding dada
3. Albumin bias memperberat
2. Oksigenasi jaringan
terganggu karena depresi miokard pada pasien
bertambahnya jarak kapiler
dan sel
3. Memerlukan volume 4 kali
lebih banyak
DAFTAR PUSTAKA

1. Guyton, A. Kompartemen Cairan Tubuh: Cairan Ekstraseluler dan Intraseluler.

Dalam: Buku ajar Fisiologi Kedokteran edisi 9. Jakarta: EGC; 1997. hal 375-7.

2. Latief, AS, dkk. Petunjuk Praktis Anestesiologi : Terapi Cairan Pada


Pembedahan. Edisi Kedua. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif, FKUI.
2002.
3. Pinnock, Colin, et al. Fundamentals of Anaaesthesia. GMM. 1999.
4. Graber, MA. Terapi Cairan, Elektrolit, dan Metabolik. Edisi 2. Jakarta: Farmedia.
2003.
5. Aitkenhead, Alan R, et al. Textbook of Anaethesia. Fifth Edition. United
Kingdom : Churchill Livingstone. 2007.
6. Stoelting, Robert K, and Ronald D. miller. Basics of Anesthesia. Fifth edition.
California : Churchill Livingstone. 2007.
7. Evers, AS, and Mervyn Maze. Anesthetic Pharmacology: Physiologic
Principles and Clinical Practice. United Kingdom : Churchill Livingstone.
2004.
8. Morgan, GE, et al. Clinical Aneshesiology : Fluid Management and
Transfusion. Third Edition. New York : Lange Medical Books/McGraw-Hill.
2002.
9. Lyon Lee. Resuscitation Fluids, Disorder of Fluid and Electrolyte Balance.
Oklahoma State University – Center for Veterinary Health. 2006. Tersedia dari ;
http://member.tripod.com/-lyser/ivfs.htm
10. Anonim. Resusitasi Cairan dan Elektrolit. Dalam Buku Pegangan Pelatihan

Bantuan hidup Dasar dan Bantuan Hidup Lanjut bagi Dokter Umum se-Propinsi

Sulawesi Selatan. Makassar: Ikatan Dokter Spesialis Anestesiologi Indonesia

Cabang Sulawesi Selatan; 2000. hal 62-72.


11. Anonym. Electrolyte Disorders. Available from:
URL: http://www.nejm.article.php. Accessed Desember 14, 2005.

12. Anonym. Fluid and Electrolyte Therapy in Children. Available from:


URL: http://www.bmj.com/merckcourse.htm. Accessed Desember 14, 2005.

13. Anonym. Fluid and Electrolyte Therapy. Available from:


URL: http://www.cvm.okstate.edu/courses.vmed5412. Accessed Desember
14, 2005.

14. Anonim. Kebutuhan Harian Air dan Elektrolit, gangguan Keseimbangan Air

dan Elektrolit, dan Terapi Cairan. Dalam: Pedoman Cairan Infus edisi revisi

VIII. Jakarta: PT. Otsuka Indonesia; 2003. hal. 16-33.