You are on page 1of 498

KEMENTERIAN KEUANGAN

REPUBLIK INDONESIA
Ministry of Finance of Republic Indonesia

Menjaga
Keberlanjutan
Fiskal

Maintenance Fiscal Sustainability

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan


Annual Report of Ministry of Finance

2012
Laporan Tahunan
Kementerian Keuangan
Tahun Anggaran
2012
Daftar Isi
Table of Content

Kilas Kinerja 2012


Performance Summary 2012
BAB
Chapter 01
Pengelolaan Kinerja Organisasi
Organizational Performance Management 18
Highlight Laporan Keuangan
Finance Statement Highlights 21
Realisasi Anggaran
Actual Budget Report 22
Neraca
Balance Statement 23
Catatan atas Laporan Keuangan
Notes on the Finance Report 24
Peristiwa Penting
Event Highlights 25
Sambutan Menteri Keuangan Republik Indonesia
Pada Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012
Foreword Minister of Finance of The Republic of Indonesia 39
In 2012 Annual Report of Ministry of Finance

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


2 Annual Report of Ministry of Finance 2012
BAB
Chapter 02
Visi, Misi dan Tata Nilai
Vision, Mision and Values 46
Sejarah Kementerian Keuangan
History of the Ministry of Finance 50
Bagan Organisasi Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Chart of Financial Ministry’s Organization Republic Indonesia 54
Profil Pejabat
Profile of the Officials 56

3
Daftar Isi
Table of Content

Sumber Daya Manusia


Human Resources
BAB
Chapter 03
Profil SDM
Human Resource Profile 72
Berdasarkan Jenjang Pendidikan
Based On Qualifications 72
Berdasarkan Usia
Based on Age 73
Berdasarkan Jabatan
Based on Position 73
Berdasarkan Gender
Based on Gender 74
Pendidikan dan Pelatihan
Education and Training 75

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


4 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan
Pre-Employment Education and Training 76
Pendidikan dan Pelatihan Dalam Jabatan
Employment Education and Training 76
Pengembangan Kapasitas SDM Lain
Other Human Resources Capacity Development 77
Pendidikan Tinggi Kedinasan
Official Institute of Further Education 77
Pengembangan Sumber Daya Manusia di Luar BPPK
Human Resource Development Outside BPPK 78
Pengelolaan Kinerja
Recruitement 79
Pengelolaan Kinerja Pegawai
Employee Performance Management 83
Pengawasan dan Penegakan Disiplin
Supervision and Enforcement of Discipline 86
Pengukuran Kepuasan Pegawai
Employee Satisfaction Measurement 92

5
Daftar Isi
Table of Content

Analisis Kinerja
Performance Analysis
BAB
Chapter 04
Perumusan Kebijakan Fiskal
Fiscal Policy Formulation 100
Kebijakan Pendapatan Negara
Government Revenues Policy 100
Kebijakan APBN
State Budget Policies 101
Kebijakan Ekonomi Makro
Macro Economic Policy 104
Kebijakan Pengelolaan Risiko Fiskal
Fiscal Risk Management Policy 105

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


6 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Pengelolaan Keuangan Negara
State Finance Management 113
Pengelolaan Anggaran
Budget Management 113
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)
Non-Tax Revenues (PNBP) 113
Target dan Realisasi PNBP
Target and Realization of Non-Tax Revenues 113
Regulasi PNBP
Non-Tax Government Revenues Regulations 115
Sistem Informasi Bidang PNBP
Information System in Non-Tax Revenues (PNBP) Sector 116
Kebijakan Sistem Penganggaran
Budgeting System Policy 118
Standar Biaya
Cost Standard 119
Evaluasi Kinerja Penganggaran
Budgeting Performance Evaluation 120
Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA)
Budget Allocation List (DIPA) 124
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
State Budget (APBN) 122
APBN Perubahan Tahun 2012
State Budget Review 2012 124
APBN Tahun 2013
State Budget 2013 126
Perbendaharaan
Treasury 130
Pembentukan KPPN Percontohan
Setting Up of Pilot State Treasury Offices (KPPN) 130
Penataan Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal
Organization and Work Procedure of Vertical Institutions 131
Realisasi Penyerapan Anggaran K/L
Realization of Budget Absorption at Ministries/Institutions 136

7
Mekanisme Spending Review
Spending Review Mechanism 138
Remunerasi di BI dan Bank Umum
Remuneration at Bank Indonesia and Commercial Banks 142
Treasury Dealing Room (TDR)
Treasury Dealing Room (TDR) 143
Asset Liability Management (ALM)
Asset Liability Management (ALM) 145
Penyaluran Dana Investasi Pemerintah
Distribution of Government’s Investment Fund 145
Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun 2012
Central Government’s Financial Report 2012 147
Government Finance Statistics (GFS)
Government Finance Statistics (GFS) 151
Peningkatan Pembinaan Satker BLU
Increase of the Public Service Body (BLU) Work Units Development 151
Perkembangan Implementasi SPAN
Development of the State Budget and Treasury System (SPAN) Implementation 156
Pembangunan SAKTI
Development of Institutional Financial Application System (SAKTI) 159
Penerimaan Negara Perpajakan
Government Revenues Taxation 160
Penyempurnaan Kebijakan Perpajakan
Perfecting Taxation Policies 160
Pengalihan PBB Sektor Pedesaan dan Perkotaan (PBB-P2)
Diversion of the Property Tax of Regional and Urban Sectors (PBB-P2) 161
Penggalian Potensi
Potential Exploration 162
Ekstensifikasi
Extensification 162
Sensus Pajak Nasional
National Tax Census 163
Intensifikasi
Intensification 163
Penanganan Perkara/Sengketa Perpajakan
Handling Case/Tax Conflict 164
Pelayanan, Penyuluhan, dan Kehumasan
Service, Counseling, and Public Relations 165
Kring Pajak 500200
Kring Pajak 500200 166
Penyuluhan
Counselling
167
Kehumasan
Public Relations 168
Penerimaan Perpajakan
Taxation Revenues
170
Penegakan Hukum
Law Enforcement 171

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


8 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Pemeriksaan
Inquiry 171
Penagihan
Billing 173
Penyidikan
Investigation 173
Kepabeanan dan Cukai
Customs and Excise 174
Pencapaian Penerimaan Target
Achievement of Revenues Target 172
Bea Masuk
Import Duties 175
Cukai
Excise 176
Bea Keluar
Export Duties 177
Pajak Dalam Rangka Impor
Taxes in the framework of Imports 178
Pengawasan dan Penindakan
Supervision and Action 178
Pengawasan
Supervision 178
Penindakan
Actions 184
Pengelolaan Utang
Debt Management 191
Kebijakan Pembiayaan Utang
Debt Financing Policy 192
Sumber dan Penggunaan Pembiayaan Utang
Source And Use Of Debt Financing 191
Pinjaman
Loan 194
Surat Berharga Negara
Government Securities (SBN) 196
Capaian Pengelolaan Utang
Debt Management Achievement 199
Perkembangan Debt To GDP Ratio
Development of Debt to GDP Ratio 199
Risiko Utang
Debt Risk 200
Biaya Utang
Debt Cost
201
Isu Terkini Dalam Pengelolaan Utang
Latest Issues In Debt Management 202
Efisiensi Pengelolaan Utang
Debt Management Efficiency
202
Fleksibilitas Pembiayaan Utang
Flexibility of Debt Financing 205

9
SBSN Proyek
Project Based Sukuk 207
Kewajiban Kontingensi
Contingency Liability 208
Perimbangan Keuangan
Fiscal Balance 209
Kebijakan dan Pengelolaan Anggaran Transfer Ke Daerah
Policies and Management of Block Grant 209
Kebijakan Dana Bagi Hasil (DBH)
Policy of Revenue-Sharing (DBH) 211
Kebijakan Dana Alokasi Umum (DAU)
Policy of General Allocation Fund (DAU) 213
Kebijakan Dana Alokasi Khusus (DAK)
Policy of Special Allocation Fund (DAK) 215
Dana Proyek Pemerintah Daerah dan Desentralisasi (P2D2P)
Fund for Local Government and Decentralization Projects (P2D2) 217
Kebijakan Dana Otonomi Khusus
Policy of Special Autonomy Fund (Otsus) 218
Kebijakan Dana Penyesuaian
Policy of Adjustment Fund 218
Penyaluran Anggaran Transfer Ke Daerah
Distribution of Block Grant 221
Penyaluran Dana Perimbangan
Distribution of Balance Fund 223
Penyaluran Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian
Distribution of Special Autonomy and Adjustment Fund 227
Penyaluran Dana Proyek Pemerintah Daerah dan Desentralisasi
Distribution of Local Government and Decentralization Projects Fund (P2D2) 228
Pengelolaan Kekayaan Negara
State Assets Management 230
Arah dan Strategi Pengelolaan Kekayaan Negara
Direction and Strategy of The State Assets Management 230
Utilisasi kekayaan negara
Utilization of State Assets 231

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


10 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Tindak lanjut hasil penertiban barang milik negara
Follow up to Putting Into Order Result of State Owned Asset (BMN) 233
Pengelolaan dan penatausahaan investasi pemerintah
Government Investment’s Management and Administration 237
Perencanaan Investasi Pemerintah
Governmment’s Investment Planning 237
Pelaporan Investasi Pemerintah
The Government’s Investment Reporting 239
Pembelian 7 Persen Saham Divestasi Newmont
Purchase of 7-Percent Shares of Newmont Divestment 240
Pengambilalihan Aset Eks Proyek Asahan/PT Inalum
Assets Take Over of Ex-Asahan Project/Pt. Inalum 242
Pengelolaan Aset Eks Pertamina
Management of Ex-Pertamina’s Assets 244
Penanganan Penyelesaian Aset-Aset Eks IJJDF
Handling Settlement Of Ex-Ijjdf’s Assets 247
Pengawasan Pasar Modal dan Lembaga Keuangan
Capital Market And Financial Institutions Supervision 249
Kinerja Pasar Modal Indonesia
Performance of the Indonesian Capital Market 249
Kinerja Pasar Modal
Capital Market Performance 251
Kinerja Industri Keuangan Non-Bank
Performance of Non-Bank Financial Industry 256
Regulasi
Regulations 261
Penegakan Hukum
Law Enforcement 265
Pemeriksaan dan Penyidikan
Inquiry and Investigation 265
Pengenaan Sanksi
Sanctions 265
Satuan Tugas Investasi
Investment Task Force 268
Persiapan Pembentukan Otoritas Jasa Keuangan
Preparation of the Establishment of the Financial Service Authority 269

11
Daftar Isi
Table of Content

GOVERNANCE
BAB
Chapter 05
Sistem Pengendalian Intern
Internal Control System 276
Manajemen Risiko
Risk Management 282
Penilaian Manajemen Risiko
Risk Management Assessment 283
Budaya Kerja
Work Culture 284
Whistleblowing System
Whistleblowing System 291
Aplikasi WISE
WISE Application 293
Mekanisme Penanganan Pengaduan
Mechanism of Complains Handling 293

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


12 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Sosialisasi Aplikasi WISE
WISE Application Socialisation 294
Integrasi Aplikasi WISE
WISE Application Integration 295
Data Pengelolaan Pengaduan Berbasis WISE
Data of WISE-based Complains Management 296
Implementasi Pengelolaan Pengaduan
Implementation of Complains Management 298
Keterbukaan Informasi
Information Disclosure 299

13
Balap Karung
Balap karung adalah permainan yang menggunakan karung, dan peserta diwajibkan
memasukkan bagian bawah badannya ke dalam karung kemudian berlomba sampai ke
garis akhir. Caranya bebas asal tetap dalam karung. Ada yang melompat, melangkah
pelan-pelan, atau lari. Yang paling sering digunakan dengan cara melompat. Dalam
permainan ini diperlukan semangat yang tinggi dan sportivitas dalam berkompetisi.

Sack race is a game that uses a sack, and participants are required to enter the lower body
into a sack and then race to the finish line. Free trick origin remains in the sack. There are
jumps, stepping slowly, or run. The most frequently used by jumping. In this game required
a high spirit and sportsmanship in competition.
BAB
CHAPTER 01
Pengelolaan Kinerja Organisasi
Organizational Performance Management
Highlight Laporan Keuangan
Finance Statement Highlights
Peristiwa Penting
Event Highlights
Penghargaan Dan Sertifikat
Rewards and Certificates
Sambutan Presiden RI
Speech by the President of the Republic of Indonesia
Sambutan Menteri Keuangan
Speech by the Minister of Finance
Kilas Kinerja 2012
Performance Summary 2012
Pengelolaan
Kinerja Organisasi

Sejak tahun 2008, Kementerian Keuangan telah Since2008, the Ministry of Finance has implemented
menerapkan pengelolaan kinerja organisasi modern modern organizational performance management
berdasarkan prinsip strategy-focused organization based on the principle of strategy-focused
atau pengelolaan kinerja berbasis balanced organization, or performance management based
scorecard. Pelaksanaan model pengelolaan kinerja on a balanced scorecard. The implementation
tersebut dirumuskan dalam Keputusan Menteri of this performance management system was
Keuangan Nomor 454/KMK.01/2011 tentang defined in Ministry of Finance Decree Number 454/
pengelolaan kinerja di lingkungan Kementerian KMK.01/2011 on performance management in the
Keuangan. Ministry of Finance sphere.

Dengan balanced scorecard, strategi Kementerian Using the balanced scorecard, the Ministry of
Keuangan disusun secara komprehensif dan bervisi Finance strategy has been comprehensively
jangka panjang yang mencakup empat perspektif : ordered with a long term vision encompassing
stakeholder, customer, internal process, dan learning four perspectives: stakeholders, customers, internal
and growth. Hal ini berarti strategi Kementerian processes, and learning and growth. This means that
Keuangan berorientasi untuk memenuhi kebutuhan the Ministry of Finance strategy is oriented towards
para pemangku kepentingan dan pelanggan. fulfilling the needs of all relevant stakeholders and
Untuk mencapainya, Kementerian Keuangan terus clients. In order to achieve this, the Ministry of
berusaha membenahi kinerja internal dan mengelola Finance has to continually work to improve internal
sumber daya organisasi dengan lebih performance and better manage organizational

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


18 Annual Report of Ministry of Finance 2012
baik. Dengan demikian, terdapat keseimbangan resources. As such, a balance is achieved in defining
dalam perumusan dan pelaksanaan strategi and implementing a strategy which will strengthen
yang akan memperkuat output dan daya dukung output and organizational capacity in achieving the
organisasi dalam mewujudkan visi dan misinya. mission and vision.

Strategi melalui empat perspektif tersebut This strategy through four perspectives has been
selanjutnya dituangkan menjadi peta strategi mapped into a Ministry of Finance strategy in
Kementerian Keuangan dalam suatu dokumen the form of a Ministry of Finance performance
komitmen kinerja Menteri Keuangan. Dalam commitment document. This document defines
dokumen tersebut dirumuskan sasaran strategis the strategic targets which will be achieved for each
yang akan dicapai dalam setiap perspektif dan perspective and Main Performance Indicators (IKU).
Indikator Kinerja Utama (IKU).

Peta strategi Kementerian Keuangan ini kemudian This Ministry of Finance strategic map is then broken
diturunkan ke seluruh unit Eselon I (Kemenkeu-One), down through all units, Echelon I (Kemenkeu-
Eselon II (Kemenkeu-two), Eselon III (Kemenkeu- One), Echelon II (Kemenkeu-two), Echelon III
three), Eselon IV (Kemenkeu-four) hingga Pelaksana (kemenkeu-three), Echelon IV (Kemenkeu-four)
(Kemenkeu-five) melalui proses cascading, yang to Implementation (kemenkeu-five) through a
semuanya dituangkan dalam Kontrak Kinerja process of cascading, all of which is condensed
Pegawai. Dengan cascading, strategi Kementerian into the Employee Performance Contract. Through
Keuangan menjadi strategi seluruh pegawai di tiap cascading, the Ministry of Finance strategy is the
level. strategy of all employees at every level.

Sebagai penanggung jawab pengelolaan kinerja A person responsible for performance


ditunjuk seorang penanggung jawab di setiap level. management is appointed at each level. At the
Pada level Kementerian ditunjuk Pusat Analisis Ministerial level, the Centre for Policy Analysis and
dan Harmonisasi Kebijakan (Pushaka), sebuah Hamonization(Pushaka), an Echelon II unit in the
unit Eselon II di lingkungan Sekretariat Jenderal sphere of the Secretariat-General is appointed for
sebagai pengelola kinerja. Untuk level unit Eselon I, performance management.At the Echelon I unit
pengelola kinerja dilaksanakan oleh Manajer Kinerja level, performance management is implemented by
Organisasi. Sementara untuk level unit Eselon II dan the Organizational Performance Manger, while at the
Kantor Pelayanan, pengelolaan kinerja dilaksanakan Echelon II unit level and Service Centre, performance
oleh Mitra Manajer Kinerja. management is undertaken by the Performance
Partnership Manager.

Pada tahun 2012, Kementerian Keuangan telah In 2012,the Ministry of Finance defined a Ministry
merumuskan peta strategi Kementerian Keuangan of Finance strategic map which was condensed
yang diturunkan dalam kontrak kinerja. Setelah into a performance contract. Since the signing
kontrak kerja ditandatangani, dilakukan pengawasan of this work contract, monitoring and evaluation
dan evaluasi atas pencapaian setiap triwulan. Pada of quarterly achievements has been undertaken.
level Kementerian Keuangan, proses tersebut At the Finance Ministerial level, this process was
dilakukan dalam rapat pimpinan yang khusus undertaken at a leadership meeting specifically to
membahas pencapaian kinerja (Rapimja). Rapimja discuss performance achievement (Rapimja). In
pada tahun 2012 dilaksanakan pada bulan Januari, 2012, these meetings were held in January, April,
April, Juli, dan Oktober. July and October.

Dalam pelaksanaan Rapimja, Menteri Keuangan In the implementation of these Rapimja meetings,the
mengalokasikan waktu cukup banyak untuk Finance Minister allocates sufficient time to monitor
memantau pencapaian kinerja dan memberi performance achievements and provide input. This
masukan. Hal ini membuktikan komitmen pimpinan proves the commitment of the Ministry of Finance
Kementerian Keuangan dalam mewujudkan setiap leadership to realizing each agreed strategic target.
sasaran strategis yang telah ditetapkan bersama. The result can be seen from the overall achievement
Hasilnya dapat dilihat dengan tercapainya target of the Ministry of Finance performance targets, with

Bab 01 | Kilas Kinerja 2012


Chapter 01 | Performance 2012 at a Glance
19
kinerja Kementerian Keuangan secara keseluruhan an Organizational Performance value of 104,61
dengan Nilai Kinerja Organisasi mencapai 104,61 (Good).
(Baik).

Kementerian Keuangan juga melaksanakan survei The Ministry of Finance has also implemented
Strategy-Focused Organization yang dilakukan unit aStrategy-Focused Organizationsurvey in 2012,
Strategy Management Office dalam hal ini Pusat undertaken by theStrategy Management Officeunit,
Analisis dan Harmonisasi Kebijakan pada tahun 2012. in this case the Centre for Policy Analysis and
Survei dilakukan terhadap sampel yang mewakili Hamonization. The survey was undertaken on a
seluruh unit Eselon I. Tujuan survei ini untuk menilai sample representing the entire Echelon I unit. The
penerapan prinsip strategy-focused organization aim of the survey was to evaluate the application
pada Kementerian Keuangan berdasarkan persepsi of the strategy-focused organization principle
pegawai. Hasilnya menunjukkan, Kementerian on the Ministry of Finance, based on employee
Keuangan telah berhasil menerapkan prinsip perceptions.The results show that the Ministry of
strategy-focused organization dengan baik. Dari Finance has succeeded in applying the principle of
survei juga diperoleh beberapa masukan sebagai a strategy-focused organizationwell. The survey also
bahan untuk perbaikan pengelolaan kinerja provided several inputs to improve the performance
Kementerian Keuangan. management of the Ministry of Finance.

Pembenahan pengelolaan kinerja pada tahun 2012 The improvement in performance management in
juga dapat dilihat dari upaya meningkatkan kualitas 2012 can also be seen from the effort to increase
Indikator Kinerja Utama (IKU) yang menjadi ukuran the Key Performance Indicator (IKU) quality, which
keberhasilan pencapaian sasaran strategis. Upaya forms a measurement of success of strategic target
perbaikan berujung pada penyusunan peta strategi achievement.The effort to improve resulted in the
tahun 2013 yang telah disahkan pada bulan Maret creation of the 2013 strategic map, formalized in
2013, bersamaan dengan penandatanganan Kontrak March 2013 at the same time as the signing of the
Kinerja Eselon I. Echelon I Performance Contract.

Peningkatan efektivitas pengelolaan kinerja The increase in effectiveness of Ministry of


Kementerian Keuangan juga dilakukan dengan Finance performance management has also been
sosialisasi kepada pegawai melalui penyusunan undertaken with socialization to employees through
buletin kinerja setiap tiga bulan, pembagian the creation of a performance bulletin every three
gimmick bertema kinerja, layanan konsultasi months, sharing of performance-themed gimmicks,
pengelolaan kinerja dan pelatihan pengelolaan a performance management consultation service
kinerja bagi pegawai. Dengan sosialisasi tersebut, and training on performance management for
diharapkan pemahaman dan kesadaran pegawai employees.This socialization is hoped to increase
akan meningkat dalam implementasi pengelolaan understanding and awareness of employees in
kinerja berbasis balanced scorecard. implementing performance management based on
the balanced scorecard.

Melalui upaya-upaya seperti yang disebutkan di atas, Efforts such as those mentioned above are hoped to
diharapkan efektivitas pengelolaan kinerja dapat continually improve effectiveness of performance
terus meningkat. Hal itu dapat dirasakan dengan management. This can be felt in the increased
semakin terpacunya setiap pegawai Kementerian motivation of each Ministry of Finance employee
Keuangan untuk mencapai target kinerjanya. to achieve performance targets. As such it is
Demikian juga sumber daya organisasi lainnya hoped that all other organizational resources can
diharapkan semuanya secara sinergis diberdayakan be empowered in synergy to increase Ministry of
untuk meningkatkan kinerja Kementerian Keuangan. Finance performance. Finally, the Ministry of Finance
Akhirnya, misi Kementerian Keuangan dalam mission in fiscal management and state wealth can
pengelolaan fiskal dan kekayaan negara dapat be achieved in accordance with the expectations of
tercapai dengan hasil sesuai dengan harapan para relevant stakeholders, particularly the wider public.
pemangku kepentingan, terutama masyarakat luas.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


20 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Laporan Keuangan

Berdasarkan Pasal 55 ayat (2) UU Nomor 1 Tahun Based on Article 55 verse (2) Act Number 1 2004 on
2004 tentang Perbendaharaan Negara dan PMK the State Treasury and Ministry of Finance Regulation
Nomor 171/PMK.05/2007 dan telah diubah dengan (PMK)Number 171/PMK.05/2007 and amended
PMK Nomor 233/PMK.05/2011 tentang Perubahan Ministry of Finance Regulation (PMK) Number 233/
atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/ PMK.05/2011 onChanges in Ministry of Finance
PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Regulations Number 171/PMK.05/2007 on Central
Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat, Menteri/ Government Financial Reporting and Accountancy
Pimpinan Lembaga selaku Pengguna Anggaran/ System, the Minister / Organization Leader as Budget
Pengguna Barang menyusun dan menyampaikan User / Goods User creates and delivers a National /
Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga Line MinistriesFinance Statement (LKKL). That report
(LKKL). Laporan itu meliputi Laporan Realisasi covers the Actual Budget Report, Balance Statement,
Anggaran, Neraca, dan Catatan atas Laporan and Notes on the Finance Report to the Finance
Keuangan kepada Menteri Keuangan selaku Minister as the fiscal manager,in creation of the
pengelola fiskal, dalam rangka penyusunan Laporan Central Government Finance Statement (LKPP).
Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP).

Laporan Keuangan Kementerian Keuangan Tahun The Ministry of Finance Financial Report for
Anggaran 2012 disusun dan disajikan sesuai dengan the Budget Year 2012 is created and presented

Bab 01 | Kilas Kinerja 2012


Chapter 01 | Performance 2012 at a Glance
21
Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang accordingto Government Regulation Number 71
Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). 2010 on Government Accounting Standards (SAP).

REALISASI ANGGARAN ACTUAL BUDGET REPORT

Laporan Realisasi Anggaran menggambarkan The Actual Budget Report depicts the comparison
perbandingan antara anggaran dengan realisasinya. between the Budget and its realization, covering the
Laporan ini mencakup unsur-unsur pendapatan dan elements of income and spending for the period 1
belanja selama periode 1 Januari sampai dengan 31 January – 31 December 2012.
Desember 2012.

Realisasi Pendapatan Negara dan Hibah The Actual State Revenue and Grants for the
pada Tahun Anggaran (TA) 2012 sebesar Budget Year 2012 amounted to Rp986.400.749
Rp986.400.749.109.760,00 atau 96,96 persen dari .109.760,00or96,96percent of the target set in
target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan the Annual National Budget for 2012(APBN-P TA
dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) TA 2012 2012)ofRp1.017.371.947.232.192,00.This amount
sebesar Rp1.017.371.947.232.192,00. Jumlah comprises Tax Revenue ofRp979.712.121.958.818,00
tersebut terdiri atas Penerimaan Pajak sebesar or reaching96,41 percentof the budgetted amount,
Rp979.712.121.958.818,00 atau mencapai and Non Tax Revenue ofRp6.688.627.150.942,00OR5
96,41 persen dari pagu anggarannya dan 89,51percent of the defined budget amount.
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar
Rp6.688.627.150.942,00 atau mencapai 589,51
persen dari pagu anggaran yang ditetapkan.

Realisasi Belanja Negara termasuk Imbalan Bunga Actual State Expenditure including Interest
pada TA 2012 sebesar Rp16.321.354.860.276,00 Repaymentfor the Budget Year 2012 amounted to
atau mencapai 93,79 persen dari anggarannya. Rp16.321.354.860.276,00or93,79 percent of the
Jumlah realisasi belanja Negara tersebut terdiri budgeted amount. This Actual Spending consists
dari realisasi Belanja Rupiah Murni sebesar ofactual Pure Rupiah Spending amounting
Rp16.195.788.545.029,00 (termasuk di dalamnya toRp16.195.788.545.029,00 (included within
realisasi belanja Imbalan Bunga yang tidak tersedia this is actual spending on Interest Repaymentof
pagu anggarannya dalam Daftar Isian Pelaksanaan Rp610.940.774.951,00for which there is no budgeted
Anggaran (DIPA) sebesar Rp610.940.774.951,00 amount in the DIPA [budget]) or94,07percentof
atau 94,07 persen dari anggarannya dan Belanja the budget,Borrowing and International Grant
Pinjaman dan Hibah Luar Negeri sebesar Spending ofRp125.566.315.247,00or67,87 percentof
Rp125.566.315.247,00 atau 67,87 persen dari the budget.Actual State Spending without Interest
anggarannya. Adapun realisasi Belanja Negara Repayment for the 2012 Budget Year wasRp15.71
tanpa Imbalan Bunga pada TA 2012 adalah sebesar 0.414.085.325,00or90,28 percent of the budgetted
Rp15.710.414.085.325,00 atau mencapai 90,28 amount. This Actual Spending comprises Pure Rupiah
persen dari anggarannya. Jumlah realisasi belanja Spending ofRp15.584.847.770.078,00 or90,52 percent
Negara tersebut terdiri atas realisasi Belanja Rupiah of the budget, and Borrowing and International
Murni sebesar Rp15.584.847.770.078,00 atau 90,52 Grant Spending ofRp125.566.315.247,00or67,87
persen dari anggarannya, dan Belanja Pinjaman dan percent of the budget.
Hibah Luar Negeri sebesar Rp125.566.315.247,00
atau 67,87 persen dari anggarannya.

Ringkasan atas Laporan Realisasi Anggaran TA 2012 A summary of the Actual BudgetReport for Budget
beserta perbandingan dengan Realisasi Anggaran Year 2012, alongwith a comparison of the Actual
TA 2011 dapat dilihat pada Tabel 1.1. BudgetReport for Budget Year 2011 is shown in Table
1.1.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


22 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Tabel 1.1 Ringkasan Laporan Realisasi Anggaran TA 2012 dan 2011
Table 1.1 Summary of the Budget Realization Report in Fiscal Year 2012 and 2011

TA 2012 TA 2011

Uraian Item Anggaran Realisasi Anggaran Realisasi


Budget Actual Budget Actual

Pendapatan Negara dan Hibah KAS


1.017.371.947.232.192 986.400.749.109.760 879.328.211.203.898 875.490.823.295.438
Cash State Revenue and Grants

Penerimaan Perpajakan Tax Revenue 1.016.237.341.511.000 979.712.121.958.818 878.685.216.762.000 873.721.483.886.873


PNBP Non Tax Revenue 1.134.605.721.192 6.688.627.150.942 642.994.441.898 1.769.339.408.565
Hibah Grants 0 0 0 0

Pendapatan Negara dan Hibah Transaksi NON Kas


0 0 0 0
Non-Cash State Revenue and Grant Transactions

Penerimaan Perpajakan Tax Revenue 0 0 0 0


PNBP Non Tax Revenue 0 0 0 0

Jumlah Pendapatan dan Hibah


1.017.371.947.232.192 986.400.749.109.760 879.328.211.203.898 875.490.823.295.438
Total Revenue and Grants

Belanja Transaksi KAS Cash Transaction Spending 17.402.097.003.000 16.321.354.860.276 17.346.872.669.000 16.096.296.744.832
Belanja Rupiah Murni Pure Rupiah Spending 17.217.079.527.000 16.195.788.545.029 17.183.692.670.000 15.986.719.279.081
Belanja PHLN Borrowing and International Grant Spending 185.017.476.000 125.566.315.247 163.179.999.000 109.577.465.751
Belanja Transaksi Non KAS Non cash Transaction Spending 0 0 0 4.036.475.457

Belanja Barang Non KAS Non cash Goods Spending 0 0 0 4.036.475.457


Jumlah Belanja Total Spending 17.402.097.003.000 16.321.354.860.276 17.346.872.669.000 16.100.333.220.289

NERACA BALANCE STATEMENT

Neraca yang dijabarkan berikut ini menggambarkan The Balance Statement depicts the financial position
posisi keuangan entitas mengenai aset, kewajiban, of an entity regarding assets, liabilities, and fund
dan ekuitas dana pada 31 Desember 2012 dan 2011. equity as of 31 December 2012 and 2011.

Nilai aset adalah sebesar Rp108.538.464.823.910,00 Assets are valued atRp108.538.464.823.910,00consist


yang terdiri atas Aset Lancar sebesar ing of Current Assets ofRp68.374.808.813.264,00,Fixed
Rp68.374.808.813.264,00, Aset Tetap sebesar Assets ofRp39.265.517.222.522,00, Long Term
Rp39.265.517.222.522,00, Piutang Jangka Panjang Receivables ofRp170.783.795,00, andOther Assets
sebesar Rp170.783.795,00, dan Aset Lainnya sebesar ofRp897.968.004.329,00.
Rp897.968.004.329,00.

Nilai Kewajiban adalah sebesar Liabilities are valued atRp812.928.850.900,00compris


Rp812.928.850.900,00 yang terdiri atas Kewajiban ing Short-Term liabilities ofRp812.928.850.900,00and
Jangka Pendek sebesar Rp812.928.850.900,00 Long Term Liabilities ofRp0,00.
dan Kewajiban Jangka Panjang sebesar Rp0,00.

Sementara itu, nilai Ekuitas Dana adalah sebesar Meanwhile, Fund Equity amounts to Rp107.725.535
Rp107.725.535.973.010,00 yang terdiri atas Ekuitas .973.010,00comprising Unrestricted Fund EquityofR
Dana Lancar sebesar Rp67.561.879.962.364,00 p67.561.879.962.364,00and Investment Fund Equity
dan Ekuitas Dana Investasi sebesar ofRp40.163.656.010.646,00.
Rp40.163.656.010.646,00.

Bab 01 | Kilas Kinerja 2012


Chapter 01 | Performance 2012 at a Glance
23
Ringkasan Neraca per 31 Desember 2012 dan per 31 The Balance Statement Summary per31 December
Desember 2011 dapat disajikan sebagai Tabel 1.2. 2012 and per 31 December 2011 is shown in Table
1.2.

Tabel 1.2 Ringkasan Neracaper 31 Desember 2012 dan per 31 Desember 2011
Table 1.2 Summary of Balance per December 31st, 2012 and per December 31st, 2011

Tanggal Neraca Kenaikan/ Penurunan


Date of Balance Statement Increase/Decrease
Uraian Item
31 Desember 2012 31 Desember 2011
Rp %
(Rp) (Rp)

Aset Assets
Aset Lancar Current Assets 68.374.808.813.264 62.816.187.789.195 5.558.621.024.069 8,85
Aset Tetap Fixed Assets 39.265.517.222.522 37.731.845.000.870 1.533.672.221.652 4,06
Piutang Jangka Panjang Long-term Receivables 170.783.795 0 170.783.795 0,00
Aset Lainnya Other Assets 897.968.004.329 801.376.507.540 96.591.496.789 12,05
Jumlah Aset Total Assets 108.538.464.823.910 101.349.409.297.605 7.189.055.526.305 7,09
Kewajiban Liabilities

Kewajiban Jangka Pendek Short Term Liabilities 812.928.850.900 806.982.593.139 5.946.257.761 0,74
Kewajiban Jangka Panjang Long Term Liabilities 0 0 0 0,00
Jumlah Kewajiban Total Liabilities 812.928.850.900 806.982.593.139 5.946.257.761 0,74
Ekuitas Dana Fund Equity
Ekuitas Dana Lancar Unrestricted Fund Equity 67.561.879.962.364 62.084.362.174.070 5.477.517.788.294 8,82
Ekuitas Dana Investasi Investment Fund Equity 40.163.656.010.646 38.458.064.530.396 1.705.591.480.250 4,43
Jumlah Ekuitas Dana Total Fund Equity 107.725.535.973.010 100.542.426.704.466 7.183.109.268.544 7,14
Jumlah Kewajiban dan Ekuitas Total Liabilities and Equity 108.538.464.823.910 101.349.409.297.605 7.189.055.526.305 7,09

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN NOTES ON THE FINANCE REPORT

Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) meliputi Notes to the Finance Report (CaLK) cover
penjelasan atau daftar perincian atau analisis explanations, details, or analysis on the values
atas nilai suatu pos yang disajikan dalam Laporan provided in the Actual Budget Report and Balance
Realisasi Anggaran dan Neraca. Termasuk pula dalam Statement. Furthermore, Notes on the Finance Report
Catatan atas Laporan Keuangan adalah penyajian include information required and recommended by
informasi yang diharuskan dan dianjurkan oleh the Government Accounting Standards and other
Standar Akuntansi Pemerintah serta pengungkapan- disclosures required for presentation in a finance
pengungkapan lain yang diperlukan untuk penyajian report.
yang wajar atas laporan keuangan.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


24 Annual Report of Ministry of Finance 2012
PERISTIWA PENTING

2 Januari 2012
January 2nd
Pembukaan Perdagangan Bursa Efek Indonesia
Tahun 2012
Menteri Keuangan Agus Martowardojo mendampingi
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuka
perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI)
tahun 2012 di Jakarta. Tema perdagangan BEI pada
tahun 2012 adalah “Memperkecil Dampak dari
Krisis Perekonomian Global”. Dalam sambutannya,
Presiden memberikan apresiasi kepada para pelaku
ekonomi yang bersama dengan pemerintah telah
berhasil meningkatkan perekonomian Indonesia.

Opening of the 2012 Indonesian Stock Exchange


trading
Accompanying President Susilo Bambang
Yudhoyono, the Minister of Finance opened the
2012 Indonesia Stock Exchange trading at the
Indonesian Stock Exchange building, Jakarta. The
theme of the 2012 Indonesia Stock Exchange trading
was “Minimizing Impacts of the Global Economic
Crisis”/ in his speech, the President expressed his
appreciation to economic practitioners who, along
with the government, had successfully increased the
Indonesian economy.

21 Februari 2012
February 21st
Lokakarya APIP K/L dan Pemda
Kementerian Keuangan bekerja sama dengan Forum
Bersama Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP)
menyelenggarakan lokakarya APIP Kementerian
Negara/Lembaga dan Pemerintah Daerah di Aula
Dhanapala, Kementerian Keuangan, Jakarta. Acara
dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden Boediono.
Lokakarya bertujuan untuk memperbesar peran
APIP dalam peningkatan kualitas pengelolaan
keuangan negara dan kinerja instansi pemerintah

APIP workshops of ministries/institutions and


regional governments
The Ministry of Finance, in cooperation with the Joint
Forum of Government Internal Supervisors (APIP),
will hold an APIP workshop of ministries/institutions
and regional governments at Aula Dhanapala, the
Ministry of Finance, Jakarta. The event, which will
be officially opened by the Vice President, is held to
increase APIP’s role in increasing quality of the state
financial management and government institutions’
performance.

Bab 01 | Kilas Kinerja 2012


Chapter 01 | Performance 2012 at a Glance
25
Penerimaan Penghargaan dari FinanceAsia
Indonesia memperoleh penghargaan “Best
Sovereign BondRepublic of Indonesia $2.5 billion
2012
7 Maret March 7th

10-year bond” dan “Borrower of the Year 2011” dari


majalah FinanceAsia. Penghargaan diberikan secara
simbolis oleh perwakilan majalah FinanceAsia,
Stuart Wadsworth, kepada Wakil Menteri Keuangan,
Mahendra Siregar di Jakarta. Indonesia juga diakui
telah menjadi salah satu penerbit obligasi global
yang profesional dan berpengalaman di kawasan
Asia.

Receiving an award from FinanceAsia


Indonesia obtained the “Best Sovereign
BondRepublic of Indonesia $2.5 billion 10-year bond”
and the “Borrower of the Year 2011” in December
2011 and January 2012. The awards were presented
symbolically by representative of FinanceAsia
magazine, Stuart Wadsworth, to the Vice Minister
of Finance, Mahendra Siregar, on March 7th, 2012,
in Jakarta. Indonesia was also acknowledged as one
of the professional and experienced global bond
issuers in the Asian region.

Penandatanganan
Keuangandan POLRI
MoU Kementerian

Kementerian Keuangan dan Kepolisian Negara


2012
8 Maret March 8th

Republik Indonesia (POLRI) menandatangani nota


kesepahaman (MoU) terkait kerja sama dalam
pelaksanaan tugas dan fungsi masing-masing
lembaga di Aula Djuanda Kementerian Keuangan,
Jakarta. MoU ini merupakan langkah awal untuk
mendorong terwujudnya tata kelola yang baik dan
pemerintahan yang bersih.

MoU signing between the Ministry of Finance and


the Indonesian Police
The Ministry of Finance and the Indonesian Police
(POLRI) signed a Memorandum of Understanding
(MoU) in relation with the implementation of
tasks and function of the respective institution, on
Thursday (8/3), at Aula Djuanda of the Ministry of
Finance, Jakarta. It was an initial step to encourage
the realization of good and clean governance.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


26 Annual Report of Ministry of Finance 2012
13 Maret 2012
March 13th
Penyampaian RKA-K/L APBN-P TA 2012
Menteri Keuangan Agus Martowardojo
menyampaikan Rencana Kerja dan Anggaran
Kementerian Negara/Lembaga Kementerian
Keuangan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara Perubahan Tahun Anggaran 2012 kepada
komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat, di Jakarta.
Menteri Keuangan mengungkapkan, Kementerian
Keuangan akan melakukan penghematan anggaran
sebesar Rp925 miliar untuk Tahun Anggaran 2012.

Submission of the Work Plan and Budget of


Ministries/Institutions of the State Budget
Review Fiscal Year 2012
The Minister of Finance, Agus D.W. Martowardojo,
submitted the Work Plan and Budget of ministries/
institutions of the Ministry of Finance at State Budget
Review Fiscal Year 2012 to Commission XI of the
House of Representatives, in Jakarta. The Minister
of Finance stated that the Ministry of Finance would
carry out budget efficiency of IDR925 billion.

5 April 2012
April 5th
Penandatanganan MoU Kementerian Keuangan
dan Kejaksaan Agung
Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara
Kementerian Keuangan dan Kejaksaan Agung untuk
meningkatkan pengelolaan keuangan negara. Kerja
sama difokuskan pada pengamanan penerimaan
negara, pengelolaan aset negara, penegakan hukum,
dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan,
kerja sama tersebut merupakan langkah strategis
dan bentuk sinergi kuat dalam penegakan hukum.

MoU signing between the Ministry of Finance and


the Attorney General Office
To increase the state’s financial management,
the Ministry of Finance works together with the
Attorney General Office through the signing of a
memorandum of understanding (MoU). Cooperation
between the two parties was focused on security
of the government revenues, state’s assets
management, law enforcement, and increase of the
human resources capacity. The Minister of Finance,
Agus Martowardojo, stated that the cooperation
was a strategic step and strong synergy in the law
enforcement.

Bab 01 | Kilas Kinerja 2012


Chapter 01 | Performance 2012 at a Glance
27
Official Launch Asia Bond Monitor
Direktur Jenderal Pengelolaan Utang (DJPU)
Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto
2012
26 April April 26th

menghadiri peluncuran Asia Bond Monitor, terbitan


Asian Development Bank (ADB) di Hotel Four Season,
Jakarta. Asia Bond Monitor merupakan sarana dalam
pasar obligasi yang dapat bermanfaat bagi negara-
negara di kawasan Asia.

Official Launch of Asia Bond Monito


The Director General of Debts Management (DJPU)
of the Ministry of Finance, Rahmat Waluyanto,
attended the launching of Asia Bond Monitor,
issued by the Asian Development Bank (ADB) at
Four Seasons Hotel, Jakarta. Rahmat said that the
Asia Bond Monitor was a facility in the bonds market
advantageous for countries in the Asian region.

The 1st ASEAN Conferenceon Financial Inclusio


Menteri Keuangan Agus Martowardojo membuka
‘The 1st ASEAN Conference on Financial Inclusion’ di
2012
27 Juni June 27th

Jakarta Convention Centre. Acara ini merupakan


konferensi tingkat ASEAN yang membahas
peningkatan kesempatan bagi masyarakat luas
untuk mendapatkan akses keuangan. Konferensi
dihadiri pembicara dari berbagai institusi dan
lembaga keuangan dan perekonomian, baik dalam
negeri, regional maupun global.

The 1st ASEAN Conferenceon Financial Inclusion


The Minister of Finance, Agus D.W. Martowardojo,
officially opened the 1st ASEAN Conference on
Financial Inclusion at the Jakarta Convention Centre.
It was an ASEAN-level conference that discussed
increase of opportunities for the public to gain
financial access. Speakers from various finance and
economy-related institutions, domestic, regional,
and global, attended the conference.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


28 Annual Report of Ministry of Finance 2012
9 Juli 2012 July 9th
Kunjungan Managing Director IMF
Pemerintah Indonesia menyambut baik kedatangan
Managing Director Dana Moneter Internasional
(IMF) Christine Lagarde yang baru saja terpilih.
Indonesia merupakan salah satu negara yang
dikunjungi Lagarde dalam lawatannya dari sejumlah
negara di Asia. Pertemuan dengan IMF membahas
perkembangan ekonomi dunia yang mengalami
koreksi, dan juga reformasi IMF sebagaimana
diminta oleh pimpinan G20.

Visit of IMF Managing Director


The Government welcomed visit of the International
Monetary Fund (IMF) managing Director, Christine
Lagarde, to Indonesia, which was one of the countries
visited in Asia. Based on the previous experience, the
meeting with the new Managing Director would
discuss update of the world economic development,
including correction of the world economic growth.
During the meeting, the new Managing Director
explained IMF reform program as urged by G20
leaders.

29 Agustus 2012
August 29th
Rapat Paripurna DPR: RUU Pertanggungjawaban
Pelaksanaan APBN TA 2011
Menteri Keuangan Agus Martowardojo
beserta jajarannya menghadiri rapat paripurna
DPR yang mengagendakan pembicaraan
tingkat II/pengambilan keputusan terhadap
Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang
Pertanggungjawaban Atas Pelaksanaan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun
Anggaran 2011, serta Pandangan Umum Fraksi atas
RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2013.

Plenary session of the House of Representatives:


Draft Law on the Accountability of the State
Budget Fiscal Year 2011 Implementation
The Minister of Finance, Agus D.W. Martowardojo,
and his staff attended a plenary session of the House
of Representatives. The session’s agenda was II-level
discussion on the Draft Law of Accountability of the
State Budget Implementation Fiscal Year 2011, and
the general views of the factions on the State Budget
Fiscal Year 2013.

Bab 01 | Kilas Kinerja 2012


Chapter 01 | Performance 2012 at a Glance
29
Annual Report Award 2012
Bapepam-LK, Direktorat Jendral Pajak, Kementerian
BUMN, Bank Indonesia, Bursa Efek Indonesia, Komite
2012
18 September September 18st

Nasional Kebijakan Governance, dan Ikatan Akuntan


Indonesia menyelenggarakan Annual Report Award
(ARA) 2011. Acara dihadiri Menteri Keuangan Agus
Martowardojo dan Menteri BUMN Dahlan Iskan.
Tema ARA ke-11 adalah “Transparasi Informasi
Sebagai Upaya Penerapan Pengelolaan Perusahaan
yang Bersih dan Berintegrasi untuk Meningkatkan
Daya Saing Perusahaan dalam Perekonomian
Regional”.

Annual Report Award 2012


The Capital Market and Financial Institutions
Supervisory Agency (Bapepam-LK), the Directorate
General of Tax, the Ministry of State-owned
Enterprises, Bank Indonesia, the Indonesia
Stock Exchange, the National Committee of the
Governance Policy, and the Association of Indonesian
Accountants held the 11th Annual Report Award
(ARA) 2011. The event was attended by the Minister
of Finance, Agus Martowardojo, and the Minister of
State-owned Enterprises, Dahlan Iskan. The theme
was “Information Transparence as Effort to Apply
Clean and Integrated Company Management to
Increase Corporate Competitiveness in the Regional
Economy.”

Launching ORI 009


Pemerintah Indonesia menerbitkan Obligasi
Negara Ritel (ORI). Penerbitan ORI bertujuan untuk
2012
21 September September 21st

memenuhi kebutuhan pembiayaan APBNP 2012,


dan mengembangkan pasar Surat utang Negara
domestik melalui diversifikasi instrumen sumber
pembiayaan dan perluasan basis investor. ORI009
menawarkan 6,25 persen dengan target investor
individu domestik.

Launching of ORI 009


The government, through the Directorate General
of Debt Management of the Ministry of Finance,
issued Retail Government Bonds (ORI).Through
ORI009, the government offered coupons of 6.25
percent. According to Robert, the issuance of ORI009
was aimed at fulfilling the need to finance the State
Budget Review 2012, and at developing the domestic
market of Government Bonds (SUN) through
diversification of financing source instruments and
investors basis expansion.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


30 Annual Report of Ministry of Finance 2012
2 Oktober 2012
October 2nd
Kesepakatan Bersama tentang Pensertifikatan
Tanah antara Kementerian Keuangan dan BPN
Menteri Keuangan Agus Martowardojo dan Kepala
Badan Pertanahan Nasional (BPN) Hendarman
Supandji menandatangani kesepakatan bersama
pembuatan sertifikat tanah yang berlaku selama lima
tahun di Aula Mezzanie Gedung Juanda I, Jakarta
Pusat. Kementerian Keuangan memiliki 717 bidang
tanah yang belum disertifikasi, sehingga perlu kerja
sama dengan BPN agar barang milik negara lebih
tertib administrasi dan memiliki kejelasan hukum.

Joint agreement on Land Certification between


the Ministry of Finance and the National Land
Agency
The Minister of Finance, Agus D.W. Martowardojo,
and Head of the National Land Agency (BPN),
Hendarman Supandji, signed a joint agreement on
5-year land certification at Aula Mezzanine Gedung
Djuanda I, Central Jakarta. At present, the Ministry of
Finance has 717 pieces of land which are not certified
yet, so that cooperation with the National Land
Agency (BPN) is required to put state’s property into
order, both in terms of administration as well as legal
certainty.

10 Oktober 2012
October 10th
Wisuda STAN 2012
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)
menyelenggarakan wisuda 3.546 mahasiswanya
dari berbagai program Diploma Keuangan I dan III
di Sentul International Convention Center (SICC),
Jawa Barat. Acara dihadiri oleh Sekretaris Jenderal
Kementerian Keuangan, Kiagus Ahmad Badaruddin
yang secara khusus mewisuda 12 wisudawan terbaik
dari masing-masing spesialisasi Program Diploma
Keuangan.

Graduation of the State Institute of Accountancy


2012
The State Institute of Accountancy (STAN) held
a graduation for its 3,546 students from various
programs of Financial Diploma I and III at Sentul
International Convention Centre (SICC), West Java.
The graduation was attended by the Secretary
General of the Ministry of Finance, Kiagus Ahmad
Badaruddin. He particularly awarded 12 best
graduates from each specialization of the Finance
Diploma program.

Bab 01 | Kilas Kinerja 2012


Chapter 01 | Performance 2012 at a Glance
31
Pencanangan Zona Integritas Menuju Wilayah
Bebas Korupsi
Kementerian Keuangan mencanangkan Zona
2012
31 Oktober October 31st

Integritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi di Aula


Dhanapala, Kementerian Keuangan. Sebagai
pengemban tugas pengelolaan keuangan
dan kekayaan negara, reformasi birokrasi yang
dilakukan Kementerian Keuangan bertujuan untuk
membangun public trust. Untuk mendapatkan
kepercayaan ini, korupsi harus dicegah dan
diberantas sehingga Kementerian Keuangan dapat
menciptakan birokrasi yang bersih, dengan kualitas
pelayanan yang lebih baik lagi.

Launching of Integrity Zone towards Corruption-


Free Area
Ministry of Finance launched the Integrity Zone
towards Corruption-Free Area at Aula Dhanapala of
the Ministry of Finance. As a state financial and assets
manager, the bureaucracy reform conducted by the
Ministry of Finance is aimed at building a public
trust.As such, corruption must be prevented and
eradicated, so that the Ministry of Finance can create
a clean bureaucracy with better service quality.

Refleksi dan Apresiasi Pengelolaan BMN pada


Kementerian/Lembaga (K/L)
Menteri Keuangan Agus Martowardojo dan Direktur
2012
1 November November 1st

Jenderal Kekayaan Negara Hadiyanto membuka


acara ‘Refleksi dan Apresiasi Pengelolaan BMN pada
Kementerian/Lembaga (K/L)’. Nilai BMN meningkat
dari Rp323,51 triliun menjadi Rp1.726,33 triliun
selama periode 2006-2012, menunjukkan adanya
komitmen untuk mewujudkan pengelolaan
BMN yang andal. Sebagai upaya untuk menjaga
dan meningkatkan tren positif tersebut, DJKN
memberikan apresiasi dengan melibatkan 85 K/L
melalui acara tersebut.

Reflection and Appreciation of State’s Property


Management at Ministries/Institutions
The Minister of Finance, Agus Martowardojo, with the
Director General of State Assets, Hadiyanto, opened
an event entitled “Reflection and Appreciation
of State’s Property Management at Ministries/
Institutions.’ The State’s Property value increased from
IDR323.51 trillion to IDR1,726.33 trillion during the
period of 2006-2012, showing a strong commitment
to create reliable State’s Property management.
To maintain and increase the positive trend, the
Directorate General of State Assets presented an
appreciation by involving 85 ministries/institutions
in the event.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


32 Annual Report of Ministry of Finance 2012
30 November 2012
November 30th
Penandatanganan Surat Keputusan Bersama
Menteri Keuangan dan Ketua Dewan Komisioner
OJK
Acara Penandatanganan Surat Keputusan Bersama
(SKB) Menteri Keuangan dan Ketua Dewan
Komisioner OJK Mengenai Penggunaan Kekayaan
Negara dan Dokumen Kemenkeu oleh OJK di Aula
Djuanda Kementerian Keuangan, Jakarta. Menteri
Keuangan Agus Martowardojo menegaskan
kembali komitmen Kementerian Keuangan untuk
mendukung penuh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Signing of Joint Decree between the Minister


of Finance and Chairman of the Board of
Commissioners of the Financial Service
Authority
The signing of a Joint Decree of the Minister of
Finance and Chairman of the Board of Commissioners
of the Financial Service Authority (OJK) on the Use
of State Assets and Documents of the Ministry of
Finance by the Financial Service Authority (OJK)
was held on Friday (30/11), at Aula Djuanda of the
Ministry of Finance, Jakarta. The Minister of Finance,
Agus D.W. Martowardojo, re-affirmed the Ministry of
Finance’s commitment to fully support the Financial
Service Authority (OJK).

6 Desember 2012
December 6th
Seminar Internasional: Financial Stability
Through Effective Crisis Management and Inter-
agency Coordination
Menteri Keuangan Agus Martowardojo membuka
seminar internasional ”
”, di Nusa Dua, Bali. Seminar dihadiri sekitar 250
orang dari beberapa negara, yang bergerak di sektor
finansial.
Dalam pidatonya, Menteri Keuangan menyampaikan,
Indonesia sudah belajar dari krisis ekonomi
tahun 1998 dan 2008 sehingga meningkatkan
sistem peringatan dini dan protokol manajemen
menghadapi krisis.

International seminar: Financial Stability


Through Effective Crisis Management and Inter-
agency Coordination
The Minister of Finance, Agus Martowardojo, officially
opened an international seminar on “Financial
Stability Through Effective Crisis Management and
Inter-agency Coordination”, at Nusa Dua, Bali. The
seminar was attended by 250 persons from various
countries, dealing in the financial sector.
In his speech, the Minister of Finance stated that
Indonesia had learnt from the economic crisis in
1998 and 2008. From the condition, Indonesia has
increased the early warning system and management
protocol to face a crisis.

Bab 01 | Kilas Kinerja 2012


Chapter 01 | Performance 2012 at a Glance
33
Paripurna DPR: Pengesahan UU Lembaga
Keuangan Mikro
DPR mengesahkan RUU Lembaga Keuangan Mikro
2012
11 Desember December 11th

menjadi UU. UU tersebut merupakan inisiatif dari


Komisi BUMN dan Koperasi DPR. Menteri Keuangan
Agus Martowardojo menyatakan, saat ini banyak
LKM yang berdiri di Indonesia untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat berpenghasilan rendah
dan pengusaha kecil dan mikro. Karena itu, harus
ada payung hukum yang memadai agar dapat
memberikan rasa aman dan pelayanan yang baik.

Plenary session of the House of Representatives:


Ratification of Law on the Micro Financial
Institution
The House of Representatives ratified the Draft
Law on Micro Financial Institution to law. The law
was initiated by the Commission of State-owned
Enterprises and Cooperatives of the House of
Representatives. The Minister of Finance, Agus
Martowardojo, stated that many Micro Financial
Institutions had been set up in Indonesia to fulfill
the need of low-income people, and small and micro
businessmen, so that a sufficient legal umbrella was
required to provide security and better service.

Penutupan Perdagangan Bursa 2012


Menteri Keuangan Agus Martowardojo didampingi
Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar, Ketua
2012
28 Desember December 28th

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mulyaman D Haddad


dan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito
Warsito menutup perdagangan saham di Bursa
Efek Indonesia tahun 2012. Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) pada perdagangan terakhir di
tahun 2012 tercatat naik 34 poin di posisi 4.316.

Closing of the 2012 stock exchange trading


The Minister of Finance, Agus Martowardojo, blew
a trumpet accompanied by the Vice Minister of
Finance, Mahendra Siregar, Chairman of the Financial
Service Authority (OJK), Mulyaman D. Haddad (third
from right), President Director of the Indonesia Stock
Exchange, Ito Warsito, at the closing of 2012 stock
exchange trading. The Jakarta Composite Index
closed the final trading in 2012 with an increase of
34 points to 4,316.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


34 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Bab 01 | Kilas Kinerja 2012
Chapter 01 | Performance 2012 at a Glance
35
“Perbaikan demi perbaikan terus dilakukan “The Ministry of Finance has endeavored every bit of
Kementerian Keuangan agar dapat membawa improvement they can make in order to bring forth a
perekonomian Indonesia lebih baik sekaligus better Indonesia’s economy as well as to have the
mendapatkan pengakuan dunia internasional. world acknowledged it. This is given birth by the
Hal itu dilandasi oleh visi Kementerian Ministry of Finance’s vision to be the best and
Keuangan sebagai Pengelola Keuangan dan worth-trusting Administrator of the State Finance
and Assets at regional level in order to materialize a
Kekayaan Negara yang terpercaya dan terbaik di
prosperous, democratic, and fair Indonesia”.
tingkat regional untuk mewujudkan Indonesia
yang sejahtera, demokratis, dan berkeadilan”.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


36 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh, Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua, May His blessings are all upon us,

Tahun 2012 merupakan serangkaian langkah 2012 has witnessed a series of significant steps
panjang dari perjalanan Transformasi dan Reformasi of Ministry of Finance’s long journey toward its
Birokrasi Kementerian Keuangan. Pada tahun Bureaucracy Transformation and Reform. It was
tersebut, seluruh pejabat dan pegawai telah bekerja in that year that all of its officials and employees
keras untuk membawa Kementerian Keuangan have worked hard to bring the Ministry of Finance
ke dalam fase yang lebih baik. Namun demikian, to a better stage. Nevertheless, the necessity to
perjalanan transformasi menuju Kementerian continue such journey of transformation toward a
Keuangan yang bersih dan sesuai dengan nilai-nilai better, cleaner Ministry of Finance that conforms the
masih harus dilanjutkan. Untuk menuju sasaran noble values remains there. To achieve the goal, the
itu, Kementerian Keuangan juga harus dilengkapi Ministry of Finance should also equip themselves
dengan perbaikan di beberapa aspek fundamental with some advancement in several fundamental
yang tentunya akan sangat berpengaruh secara aspects which certainly will affect it in its long run.
jangka panjang.

Implementasi budaya yang berakar pada nilai- The Ministry of Finance has applied those cultures
nilai Integritas, Profesionalisme, Sinergi, Pelayanan, rooting in values of Integrity, Proffesionalism,
dan Kesempurnaan telah ditetapkan Kementerian Synergy, Commitment, and Perfection through the
Keuangan melalui Keputusan Menteri Keuangan establishment of Ministerial Decree of Finance Number
Nomor 312/KMK.01/2011. Pelaksanaan program itu 312/KMK.01/2011. The program implementation
akan terus diperkuat karena merupakan katalisator should be continuously improved since it serves as
penentu dalam transformasi Kementerian Keuangan a determinant catalyst in transforming the Ministry
dan mendukung Reformasi Birokrasi. Reformasi of Finance and in supporting the Bureaucracy
Birokrasi Kementerian Keuangan sudah semestinya Reform. It is safe to say, then, that the Ministry of
diperkuat, karena sejak dicanangkan telah Finance’s Bureaucracy Reform should be reinforced
memberikan dampak positif pada peningkatan due to its self-evident positive impact it had on the
belanja negara. Sejak tahun 2005 hingga 2012, government expenditure improvement since its first
tercatat rata-rata pertumbuhan belanja negara promotion. Since 2005 to 2012, it is reported that
sebesar 17 persen per tahun. the government expenditure has seen an average
growth of 17 percent per annum.

Bab 01 | Kilas Kinerja 2012


Chapter 01 | Performance 2012 at a Glance
37
Perbaikan demi perbaikan terus dilakukan The Ministry of Finance has endeavored every bit
Kementerian Keuangan agar dapat membawa of improvement they can make in order to bring
perekonomian Indonesia lebih baik sekaligus forth a better Indonesia’s economy as well as to
mendapatkan pengakuan dunia internasional. have the world acknowledged it. This is given birth
Hal itu dilandasi oleh visi Kementerian Keuangan by the Ministry of Finance’s vision to be the best and
sebagai Pengelola Keuangan dan Kekayaan Negara worth-trusting Administrator of the State Finance
yang terpercaya dan terbaik di tingkat regional untuk and Assets at regional level in order to materialize
mewujudkan Indonesia yang sejahtera, demokratis, a prosperous, democratic, and fair Indonesia. In
dan berkeadilan. Dalam hal ini, pada September this case, in September, 2012, Japan through one of
tahun 2012, Jepang melalui salah satu lembaganya their institution Rating and Investment Information,
yaitu Rating and Investment Information, Inc. (R&I) Inc. (R&I) had placed Indonesia’s sovereign credit
menaikkan tingkat sovereign credit rating Indonesia rating to BBB-/ with stable outlook or investment
menjadi BBB-/ dengan stable outlook atau investment grade. The same had also been granted by the rating
grade. Hal serupa juga telah diberikan oleh lembaga institutions Fitch Ratings and Moody’s last year, who
pemeringkat Fitch Ratings dan Moody’s pada tahun placed Indonesia’s sovereign credit rating from BB+
lalu, yang menaikkan peringkat sovereign credit to BBB-. Such improvement in Indonesia’s sovereign
rating Indonesia dari BB+ menjadi BBB-. Naiknya credit rating was based on its improved economic
peringkat utang Indonesia ini berdasarkan pada performance, strong external liquidity, low and
peningkatan kinerja perekonomian, kuatnya decreasing public debt, and its prudent ratio policy
likuiditas eksternal, rasio utang Pemerintah yang (application of principles of prudence). In addition,
rendah dan trennya menurun, serta kebijakan rasio the year-on-year inflation in 2012 of only 4.3 percent
yang prudent atau menerapkan azas kehati-hatian. has been deemed as the lowest inflation rate by
Tidak hanya itu, inflasi year on year pada tahun 2012 Statistics Indonesia for the last three years. This
yang sebesar 4,3 persen dinyatakan sebagai inflasi inflation rate is even lower than the Government
terendah oleh Badan Pusat Statistik selama tiga prediction, i.e. 5.3 percent, and mostly influenced by
tahun terakhir. Besaran inflasi ini lebih rendah dari food group commodity.
prediksi Pemerintah yang sebesar 5,3 persen dan
sebagian besar dipengaruhi oleh kelompok bahan
makanan.

Indikator-indikator tersebut menunjukkan Those indicators indicate that Indonesia’s economy


perekonomian Indonesia masih mampu bertahan is still capable of surviving despite the uncertain
di tengah ketidakpastian perkembangan ekonomi world economic growth and show the world its
dunia dan memperlihatkan kepada dunia tahapan- developing economic growth stages in the midst of
tahapan pertumbuhan ekonominya yang semakin global economic crisis hit since 2008. Its economic
baik di tengah terpaan krisis ekonomi global sejak growth performance at 6.3 percent in 2012 could
tahun 2008 lalu. Kinerja pertumbuhan ekonomi even be said to be the second best economic growth
pada angka 6,3 persen tahun 2012 bahkan dapat after China’s at a range of 8.3 percent.
dikatakan sebagai kondisi pertumbuhan ekonomi
terbaik setelah China yang berada pada kisaran 8,3
persen.

Mengawal perekonomian Indonesia di tengah In order to secure the Indonesia’s economy amidst
ketidakpastian perekonomian dunia tentu the uncertain world economy there is a need for an
membutuhkan sebuah kebijakan makro dan fiskal appropriate macro and fiscal policy. In line with the
yang tepat. Sejalan dengan tema pembangunan theme of national development in the Government
nasional dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Work Plan (RKP) 2012, i.e. the Acceleration and
2012, yaitu Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Extension of Quality, Inclusive and Fair Economic
Ekonomi yang Berkualitas, Inklusif dan Berkeadilan Growth for People Welfare Improvement, the policy
Bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat, kebijakan of state budget allotment in 2012 APBN is addressed
alokasi anggaran belanja negara dalam APBN tahun to the effort in promoting growth at regional level
2012 diarahkan kepada upaya untuk mendorong by developing economic corridor, and constructing
pertumbuhan di daerah melalui pengembangan infrastructure to support the realization of

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


38 Annual Report of Ministry of Finance 2012
koridor ekonomi, membangun infrastruktur yang regional connectedness (globally and domestically
mendukung terwujudnya keterhubungan wilayah connected). Meanwhile, in order to maintain the
(globally connected dan domestically integrated). fiscal sustainability, the macro economic policy
Sementara, untuk menjaga kesinambungan fiskal, direction has also referred to the strengthened
arah kebijakan ekonomi makro juga mengacu public consumption, improved investment climate,
pada penguatan konsumsi masyarakat, perbaikan increased international trade performance, and
iklim investasi, perbaikan kinerja perdagangan reinforced investment financing partnership scheme
internasional, dan penguatan skema kerja sama with private sector.
pembiayaan investasi dengan swasta.

Fluktuasi perekonomian global juga menuntut The global economic fluctuation also demands
pengawasan dan sikap kehati-hatian dalam a great deal of monitoring and prudence in
merespons setiap perkembangan ekonomi global. respoding to any development of global economy.
Dibutuhkan peranan seluruh pejabat/pegawai All officials/employees from various echelon I unit
dari berbagai unit eselon I Kementerian Keuangan of the Ministry of Finance are required to play some
untuk terus memperkuat pengawasan kebijakan, role in order to constantly strengthen its policy
peningkatan kualitas sumber daya manusia, maupun monitoring, improve its human resources, as well
memperkuat penerapan budaya berbasis kinerja. as reinforce the implementation of its performance-
Reformasi birokrasi juga harus terus dijalankan agar based culture. The bureaucracy reform should also
tercipta sebuah organisasi yang efektif dan efisien be consistently performed to allow an effective,
sehingga siap menghadapi berbagai perkembangan efficient organization capable of dealing with any
di dalam dan luar negeri. possible domestic and international development.

Sebagai perwujudan dari komitmen Kementerian In the effort of realizing the Ministry of Finance’s
Keuangan untuk terus menggalakkan reformasi commitment to incessantly promote bureaucracy
biokrasi dan meningkatkan pengawasan dalam reform and enhance the supervision of policy
pelaksanaan kebijakan di lingkungan internal, implementation within its internal environment,
pada Hari Oeang ke 66 Kementerian Keuangan on the 66th Hari Oeang, the Ministry of Finance
meresmikan Zona Integritas dalam acara yang inaugurated an Integrity Zone in an event entitled
bertajuk Zona Integritas dengan Nilai-nilai Integrity Zone with the Ministry of Finance’s Values.
Kementerian Keuangan. Dalam pencanangan In setting such Integrity Zone, all echelon I officials
Zona Integritas tersebut, seluruh pejabat eselon I declare their commitments to persistently maintain
menyatakan komitmennya untuk terus menjaga the mandates originated from the Ministry of Finance
amanat dari nilai-nilai Kementerian Keuangan. Selain values. Additionally, the steps the Inspectorate
itu, langkah Inspektorat Jenderal untuk menciptakan General has taken to create a system disabling any
rofes yang menutup potensi adanya celah korupsi, potential gap to corruption, collusion and nepotism
kolusi dan nepotisme yang dapat dilakukan oleh an individual employee might commit, i.e. WISE
oknum pegawai yaitu WISE (Whistleblowing System) (Whistleblowing System), need to be appreciated
perlu diapresiasi dan diharapkan dapat menunjukkan and it is expected that the Ministry of Finance can
dukungan yang penuh Kementerian Keuangan display a whole-hearted support to the Corruption
kepada Komisi Pemberantas Korupsi untuk bersama Eradication Commission to jointly eliminate
memberantas korupsi di kementerian/lembaga. corruption in any ministry/institution.

Dalam rangka membangun high performance To build a high-performance organization, one


organization, maka pembangunan regulasi dan tools indispensable prerequisite is to construct regulation
pengelolaan budaya berbasis kinerja merupakan and tools to manage its performance-based culture.
prasyarat mutlak. Hal ini dilakukan melalui metode It can be performed through a method called
balanced scorecard yang telah dirintis Kementerian balanced scorecard the Ministry of Finance has
Keuangan pada tahun 2007. Seiring dengan pioneered in 2007. With the development of the
berkembangnya kebutuhan untuk meningkatkan need to improve its human resource performance
kualitas kinerja sumber daya manusia, pada tahun quality, in 2012 the Ministry of Finance released
2012 Kementerian Keuangan mengeluarkan its website www.e-performance.depkeu.com
website www.e-performance.depkeu.com sebagai as a tool to facilitate the implementation of

Bab 01 | Kilas Kinerja 2012


Chapter 01 | Performance 2012 at a Glance
39
perangkat untuk mempermudah implementasi performance management process. Until recently,
proses pengelolaan kinerja. Hingga tahun ini proses such performance management process has
pengelolaan kinerja telah sampai pada level individu reached to individual level through the Ministry of
melalui Kontrak Kinerja Kementerian Keuangan yang Finance’s Performance Contract signed by the entire
telah ditandatangani oleh seluruh jajaran pegawai employees of the Ministry of Finance.
Kementerian Keuangan.

Sejalan dengan upaya optimalisasi pendapatan Consistent with the effort of optimizing the
Negara untuk meningkatkan kemandirian dalam Government revenue to promote its independence
pendanaan anggaran belanja rofes, realisasi in funding the state budget, there has been a
pendapatan Negara dalam satu dekade terakhir significant improvement in the realization of
mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Government revenue within one last decade. The
Pendapatan Negara pada periode 2001–2012 Government revenue for 2001–2012 grew at an
bertumbuh rata-rata sebesar 14,68 persen per average of 14.68 percent per annum. Such growth
tahun. Pertumbuhan itu berasal dari konstribusi derived from the contribution of tax income growing
penerimaan perpajakan yang tumbuh rata-rata at an average of 16.72 percent per annum and Non-
sebesar 16,72 persen per tahun dan Penerimaan Tax Government Revenue gwroing at an average of
Negara Bukan Pajak yang tumbuh rata-rata sebesar 10.38 percent per annum. Meanwhile, grant income
10,38 persen per tahun. Sedangkan penerimaan grew at an average of 26.39 percent per annum. In
hibah yang tumbuh rata-rata sebesar 26,39 persen general, three approaches are applied in managing
per tahun. Secara umum ada tiga pendekatan yang the State budget as a follow up of the reform in
diterapkan dalam pengelolaan anggaran Negara budgeting field, namely integrated budgeting,
sebagai tindak lanjut dari reformasi di bidang medium-term expenditure and performance-based
penganggaran, yaitu penganggaran terpadu, budgeting.
pengeluaran jangka menengah dan penganggaran
berbasis kinerja.

Tahun 2012 ini juga merupakan tahun transisi 2012 has also witness the transition of the Capital
Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan Market and Financial Institution Supervisoru
dialihkan menjadi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Agency into Financial Services Authority (OJK). This
Pengalihan ini antara lain dalam menghadapi transition aims at dealing with various challenges in
berbagai tantangan dalam sektor finansial. Sehingga financial sector. Therefore, there is a need for policy
dibutuhkan pengembangan kebijakan (policy development one of which is contained in the Law
development) yang salah satunya tertuang dalam Number 21 of 2011 concerning the Financial Services
Undang-Undang Nomor 21 tahun 2011 tentang Authorities (UU OJK). In this UU OJK, a coordination
Otoritas Jasa Keuangan (UU OJK). Dalam UU OJK protocol in the form of Coordination Forum for
ini ditetapkanlah protokol koordinasi dalam bentuk Financial System Stability (FKSSK) is established
Forum Koordinasi Stabilitas Keuangan yang tentu and, of course, followed by the promulgation of
saja harus diikuti dengan pengesahan Undang- Financial Sector Safety Net Law as the legal basis
Undang Jaring Pengaman Sektor keuangan sebagai of the formation of Crisis Management Protocol
landasan hukum dibentuknya Crisis Management (CMP). It is expected that the establishment of OJK
Protocol (CMP). Diharapkan dengan dibangunnya as a separate, external institution to the Ministry of
OJK sebagai lembaga tersendiri di luar Kementerian Finance enable a more intensive supervisory system
Keuangan, maka sistem pengawasan yang lebih in the financial sector.
intensif di sektor keuangan dapat terwujud.

Pada kesempatan kali ini, kami berharap Kementerian In this occassion, we would like to hope for the
Keuangan dapat terus menjalankan visi dan misinya Ministry of Finance to be able to ceaselessly
sebagai pengelola keuangan dan kekayaan negara implement their vision and missions as the
serta dapat berkontribusi penuh dalam menyokong administrator of state finance and assets and to fully
pertumbuhan ekonomi yang lebih baik di tahun contribute to the promotion of a better economic
berikutnya. Proses pencapaian visi dan misi ini tidak growth in the following years. The process to achieve
lepas kiranya dari dukungan seluruh pemangku such vision and missions cannot be separated from

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


40 Annual Report of Ministry of Finance 2012
kepentingan Kementerian Keuangan. Diharapkan the supports given by the entire Ministry of Finance’s
melalui Laporan Tahunan Kementerian Keuangan stakeholders. Through this Annual Report of Ministry
ini, para pemangku kepentingan Kementerian of Finance, the stakeholders of the Ministry of Finance
Keuangan dapat lebih memperkaya informasi are expected to enrich their information with regard
mengenai pencapaian Kementerian Keuangan to the achievement the Ministry of Finance has made
selama tahun 2012. during 2012.

Saya sampaikan selamat kepada pejabat dan I would like to congratulate those officials and
pegawai Kementerian Keuangan yang pada tahun ini employees of the Ministry of Finance who hold
menempati posisi yang baru di beberapa unit eselon I new positions this year in several echelon I units
baik di lingkungan Kementerian Keuangan maupun both within the Ministry of Finance and within the
di lingkungan baru OJK. Semoga amanat nilai-nilai new OJK. I wish that the mandates of the Ministry of
Kementerian Keuangan untuk mewujudkan zona Finance’s values to realize an integrity zone remains
integritas terus berakar dalam jiwa masing-masing deeply rooted in the souls of each individual and that
individu dan dapat diimplementasikan di manapun we can implement them in any post we are holding
kita berada. to serve the country.

Seiring langkah kita ke depan, saya juga ingin Along with our steps forward, let me extend my
menyampaikan terima kasih kepada seluruh gratitude to all officials and employees for their hard
pejabat dan pegawai atas kerja kerasnya untuk work to continuously apply the Ministry of Finance’s
terus senantiasa menerapkan nilai-nilai Kementerian value in their performance during 2012. I solemnly
Keuangan dalam kinerjanya selama tahun 2012 wish that through an excellent coordination and
dengan menjaga semangat Transformasi dan participation of all personnel of the Ministry of
Reformasi Birokrasi di Kementerian Keuangan. Finance they will be able to unendingly contribute to
Koordinasi yang baik dan peran serta seluruh jajaran a sound synergy to achieve the Ministry of Finance’s
Kementerian Keuangan saya harapkan mampu terus goal to materialize the ideal of fair and evenly-
memberikan sinergi yang baik bagi pencapaian distributed economy for a prosperous Indonesia.
tujuan Kementerian Keuangan dalam rangka
mewujudkan perekonomian yang adil dan merata
demi masyarakat Indonesia yang sejahtera.

Jakarta, Mei 2013


Menteri Keuangan Republik Indonesia
Minister of Finance of the Republic of Indonesia

Agus D.W. Martowardojo

Bab 01 | Kilas Kinerja 2012


Chapter 01 | Performance 2012 at a Glance
41
Lompat Bambu
permainan ini dimainkan secara berkelompok, aturan permainan ini sangat mudah bagi
anak yang sedang mendapat giliran melompat. Lalu gagal melompati bambu, maka anak
tersebut akan berganti dari posisi pelompat menjadi pemegang bambu. Permainan ini
serupa dengan tarian tektek alu yang biasa dilakukan orang NTT dalam menyambut hasil
panen pertanian, Dalam permainan ini diperlukan ketepatan dalam melompat dan ketelitian
dalam mengikuti ritme alunan bambu.

This game is played in groups, the rules of this game is very easy for a child who was a
turn jumping. Then failed to jump over the bamboo, then the child will be a change of
position jumper into bamboo holder. This game is similar with tektek alu dance commonly
performed in NTT for welcoming agricultural crops, in this game required accuracy and
precision in jumping in rhythm of bamboo.
CHAPTER
BAB
02
Visi, Misi dan Tata Nilai
Vision, Mision and Values
Sejarah Kementerian Keuangan
History of the Ministry of Finance
Struktur Organisasi
Structure of Organization
Profil Pejabat
Profile of Officials
Visi, Misi, dan
Tata Nilai
Vision, Mision and Values

VISI

Menjadi pengelola keuangan negara yang terpercaya, akuntabel, dan terbaik di tingkat regional untuk
mewujudkan Indonesia yang sejahtera, demokratis, dan berkeadilan.

MISI

Untuk mewujudkan visi tersebut, Kementerian Keuangan mempunyai empat misi, yaitu:

(i) Misi Fiskal


Mengembangkan kebijakan fiskal yang sehat, berkelanjutan, hati-hati (prudent), dan bertanggung jawab.

(ii) Misi Kekayaan Negara


Mewujudkan pengelolaan kekayaan negara yang optimal sesuai dengan asas fungsional, kepastian hukum,
transparan, efisien, dan bertanggung jawab.

(iii) Misi Pasar Modal dan Lembaga Keuangan


Mewujudkan industri pasar modal dan lembaga keuangan non bank sebagai penggerak dan penguat
perekonomian nasional yang tangguh dan berdaya saing global.

(iv) Misi Penguatan Kelembagaan


1. Membangun dan mengembangkan organisasi berlandaskan administrasi publik sesuai dengan
tuntutan masyarakat.
2. Membangun dan mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang amanah, profesional,
berintegritas tinggi dan bertanggung jawab.
3. Membangun dan mengembangkan teknologi informasi keuangan yang modern dan terintegrasi serta
sarana dan prasarana strategis lainnya.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


46 Annual Report of Ministry of Finance 2012
VISION

To become a trusted manager of state funds, accountable and best at a regional level, in order to achieve a
prosperous, democratic and just Indonesia.

MISION

To achieve this vision, the Ministry of Finance has four missions, namely:

(i) Fiscal mission


To develop healthy, sustainable, prudent and responsible fiscal policies.

(ii) State Wealth Mission


To achieve optimal management of state wealth in accordance with functional principles, legislation,
transparency, efficiency and responsibility.

(iii) Market Investment and Financial Institution Mission


To achieve a strong and globally competitive market investment industry and non-bank financial institutions
to move and strengthen the national economy.

(iv) Institutional Strengthening Mission


1. To build and develop public administration organizations according to public demand.
2. To build and develop trustworthy, professional, responsible Human Resources with a high level of
integrity.
3. To build and develop modern financial information technology, integrated with other strategic
infrastructures.

Bab 02 | Profil Kementerian


Chapter 02 | Ministry’s Profile
47
NILAI-NILAI VALUES

Integritas Integrity

Berpikir, berkata, berperilaku dan bertindak baik dan Think, speak, behave and act appropriately, as well as
benar serta memegang teguh kode etik dan prinsip- keeping a tight hold on the code of ethics and moral
prinsip moral. principles.

Profesionalisme Professionalism

Bekerja tuntas dan akurat atas dasar kompetensi Complete and accurate work based on the best
terbaik dengan penuh tanggung jawab dan competence, full responsibility and a high level of
komitmen yang tinggi. commitment.

Sinergi Synergy

Membangun dan memastikan hubungan kerjasama Develop and ensure productive internal teamwork
internal yang produktif serta kemitraan yang and harmonic partnerships with key stakeholders, to
harmonis dengan para pemangku kepentingan, create useful and high quality work.
untuk menghasilkan karya yang bermanfaat dan
berkualitas.

Pelayanan Service

Memberikan layanan yang memenuhi kepuasan Provide service to the satisfaction of key stakeholders,
pemangku kepentingan dilakukan dengan sepenuh undertaken whole-heartedly, transparently, quickly,
hati, transparan, cepat, akurat dan aman. accurately and safely.

Kesempurnaan Excellence

Senantiasa melakukan upaya perbaikan di segala Continuously attempting to improve in every field, in
bidang untuk menjadi dan memberikan yang order to become and to provide the best.
terbaik.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


48 Annual Report of Ministry of Finance 2012
TATA NILAI DAN PERILAKU UTAMA VALUES AND MAIN BEHAVOURS

Tabel 2.1 Tata Nilai dan Perilaku Utama


Table 2.1 Prime Values and Behaviour

Integritas Profesionalisme Sinergi Pelayanan Kesempurnaan


Integrity Professionalism Synergy Service Perfection

(1) Bersikap jujur, tulus (3) Mempunyai keahlian dan (5) Memiliki sangka baik, saling (7) Melayani dengan Berwawasan ke depan
dan dapat dipercaya pengetahuan yang luas percaya dan menghormati. berorientasi pada dan adaptif
(1) Honesty, sincerity (3) Having wide expertise Melayani dengan berorientasi kepuasan pemangku Forward thinking and
and trustworthyness and knowledge pada pemangku kepentingan kepentingan adaptable
(5) Positive thinking, trusting (7) Providing service oriented
and respecting others. Providing towards satisfying key
towards key stakeholders stakeholders

Bertindak transparan Memiliki kepercayaan Berkomunikasi dengan sikap Menghindari arogansi (9) Melakukan perbaikan
dan konsisten diri yang tinggi terbuka dan menghargai kekuasaan terus menerus
Actively transparent Be Confident perbedaan Avoidance of authoritative (9) Constantly
and consistent Open communication and arrogance improving
respectful of differences

(2) Menjaga martabat dan tidak Bekerja efisien dan efektif (6) Menemukan dan Bersikap ramah dan santun (10) Mengembangkan inovasi
melakukan hal-hal tercela Work efficiently and effectively melaksanakan solusi terbaik Be politeand friendly dan kreativitas
(2) Safeguard standards and avoid (6) Find and implement (10) Develop innovation and
reprehensible behaviour the best solutions creativity

Bertanggung jawab Bekerja cerdas, cepat, Berorientasi pada hasil yang (8) Bersikap proaktif dan Peduli lingkungan
atas hasil kerja cermat, dan tuntas memberikan nilai tambah cepat tanggap Concern for the environment
Be responsible for work results Work intelligently, quickly, Be oriented towards results (8) Be Proactive and respond
carefully and completely with added value rapidly

Bersikap obyektif (4) Bekerja dengan hati


Be objective (4) Work from the heart

Bab 02 | Profil Kementerian


Chapter 02 | Ministry’s Profile
49
Sejarah Kementerian
Keuangan
History of the Ministry of Finance

Sebagai bagian dari pemerintahan, Kementerian As a part of the government, the Ministry of Finance
Keuangan merupakan instansi yang memiliki forms an institution with a vital role in developing
peranan vital dalam pembangunan perekonomian. the economy. Economic development will progress
Pembangunan ekonomi akan berjalan lancar if it is accompanied by good administration in the
apabila disertai dengan administrasi yang baik management of state funds. The vital role of the
dalam pengelolaan keuangan negara. Peranan vital Ministry of Finance is to manage state funds and
Kementerian Keuangan adalah mengelola keuangan assist state leadership in the field of finance and
negara dan membantu pimpinan negara dalam wealth of the state, as the protector of state wealth
bidang keuangan dan kekayaan negara sehingga (Nagara Dana Rakca).
bisa disebut sebagai penjaga keuangan negara
(Nagara Dana Rakca).

Sebelum Kemerdekaan Pre-Independence


Sejarah pengelolaan keuangan Indonesia sudah The history of financial management in Indonesia
dimulai sejak zaman kerajaan. Namun, yang goes back to the age of the kingdoms. However,
bisa digarisbawahi adalah ketika Belanda mulai what can be underlined is that when the Dutch
menancapkan kukunya di Hindia Belanda, melalui began to stick their nails in to the East Indies through
Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). VOC the VereenigdeOost-IndischeCompagnie(VOC). VOC
diberi hak octrooi yang salah satunya adalah mencetak was given the right of octrooi, one of which was to
uang dan sejumlah kebijakan perekonomian seperti print money and several economic policies such as
verplichte leverentie (kewajiban menyerahkan hasil verplichteleverentie (the obligation to give natural
bumi pada VOC), contingenten (pajak hasil bumi, produce to the VOC), contingenten (produce tax,
pembatasan jumlah tanaman rempah-rempah agar limits on quantatitofspices farmed so prices would
harganya tinggi), dan preangerstelsel (kewajiban be high), and preangerstelsel(obligation to plant
menanam pohon kopi). coffee).

Ketika kekuasaan Hindia Belanda beralih ke Inggris, When control of the East Indies flowed towards
terjadi pula perubahan kebijakan perekonomian. England, there were changes in economic policy.
Kekuasaan Inggris ditandai dengan kebijakan English power was marked by the policy of landrent
landrent (pajak tanah) untuk menggantikan pola (land tax), different from the style of property tax
pajak bumi yang diterapkan Belanda sebelumnya. implemented by the Dutch beforehand.

Ketika kekuasaan Hindia Belanda kembali As control over the East Indies returned to the Dutch,
dikuasai Belanda, perbaikan perekonomian mulai economic improvements started to take place.
dilaksanakan. Gubernur Jenderal Leonard Pierre Governor GeneralLeonard Poerre Joseph Du Bus de
Joseph Du Bus de Gisignies (1826) mendirikan De Gisignies (1826)founded De Javasche Bank (DJB) on
Javasche Bank (DJB) dengan alasan kondisi keuangan the grounds that the financial conditions of the East
di Hindia Belanda dianggap memerlukan penertiban Indies were considered to be in need of order and
dan pengaturan sistem pembayaran. regulation of the payment system.

Du Bus kemudian digantikan oleh Johannes Du Bus was then replaced by Johannes van den
van den Bosch. Pada tahun 1836, van den Bosch Bosch. In 1836, van Den Bosch enacted cultuurstelsel
memberlakukan cultuurstelsel (sistem tanam paksa) (a system of forced planting) with the aim of
dengan tujuan memproduksi berbagai komoditas producing several commodities requested by the
yang diminati di pasar dunia. Kebijakan lain yang global market. Another policy applied by the Dutch
diterapkan Pemerintah Belanda di Hindia Belanda governance of the East Indies was laissez faire laissez
adalah laissez faire laissez passer, yaitu menyerahkan passer, which left the economy in private hands
perekonomian pada pihak swasta (kaum kapitalis). (capitalist groups). This policy was implemented at
Kebijakan ini dilakukan atas desakan kaum Humanis the insistence of Dutch humanists, who wanted to
Belanda yang menginginkan perubahan nasib improve the fate of local citizens.These new agrarian

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


50 Annual Report of Ministry of Finance 2012
warga agar lebih baik. Peraturan agraria baru ini regulations did not change things for the better,
bukannya mengubah keadaan menjadi lebih baik but rather caused suffereing. During this era the
melainkan menimbulkan penderitaan. Pada masa Departement van Financienwas formed, because of
ini dibentuklah Departement van Financien karena the alarming economic conditions.
keadaan perekonomian yang memprihatinkan.

Departement van Financien bertempat di bangunan The location of the Departement van Financienin
istana yang digagas oleh Daendels karena pusat the palace was initiated by Daendelsbecause the
pemerintahan berpindah ke tempat lain. Gedung central government was moved elsewhere. This
ini dijadikan sebagai tempat pengkoordinasian building was used for coordination of tasks to be
pelaksanaan tugas, pembinaan, dan pemberian implemented, development, and providing financial
dukungan administratif keuangan ke tempat administrative support to other places. This central
lain. Terpusatnya tempat pengelolaan keuangan place of financial management was meant to
dimaksudkan untuk memudahkan pengontrolan facilitate control of state income and spending.
pemasukan dan pengeluaran negara.

Karena kekurangan tenaga ahli keuangan, Because of a lack of financial expertise, the Dutch
Pemerintah Belanda menyelenggarakan berbagai government arranged several courses for Dutch
kursus bagi orang Belanda dan orang Pribumi yang people and locals considered capable. The courses
dipandang mampu. Kursus yang diikuti adalah followed were courses on adjunct control and
kursus ajun kontrolir dan treasury/perbendaharaan. treasury.

Situasi kemudian berubah ketika Perang Dunia II The situation then changed when World War II
pecah di Eropa dan terus menjalar hingga ke wilayah broke in Europe and spread across to the Asia Pacific
Asia Pasifik. Kedudukan Indonesia sebagai jajahan region.Indonesia’s position as a Dutch colony was
Belanda sangat sulit, ditambah dengan terjepitnya very difficult, added to which the Dutch governance
Pemerintah Belanda akibat serbuan Jepang. were trapped by the Japanese invasion.Approaching
Menjelang kedatangan Jepang di Pulau Jawa, the Japanese arrival on Java, the President of the DJB,
Presiden DJB, Dr. G.G. van Buttingha Wichers berhasil Dr. G.G. van ButtinghaWicherssucceeded in moving
memindahkan semua cadangan emas ke Australia all of the gold reserves to Australia andSouth Africa
dan Afrika Selatan melalui pelabuhan Cilacap. through the port ofCilacap.

Selama menduduki Indonesia, Jepang menjadikan For the duration of their occupation of Indonesia,
Kota Jakarta sebagai pusat pemerintahan. Gedung Japan made Jakarta the centre of government. The
Departement van Financien dijadikan tempat untuk DepartementvanFinancien building was used to
melakukan aktivitas keuangan sehari-hari. Gedung conduct daily financial activities.This building was
ini dijadikan sebagai tempat pengolahan keuangan used by the Japanese for financial management and
dan pemutusan kebijakan ekonomi oleh Jepang. economic policy making. On 7 March 1943, the statue
Pada 7 Maret 1943, patung Jan Pieterzoon Coen of Jan PieterzoonCoenin front of theDepartement
yang berada di depan gedung Departement van van Financien was destroyed by the Japanese
Financien dihancurkan Jepang karena dianggap because it was seen as a symol of Batavian rule.
sebagai lambang penguasa Batavia.

Banyak tenaga ahli keuangan Belanda ditawan Manya Dutch financial experts were captured by
Jepang, dan beberapa orang yang ahli dan Japan, and several of those with expertise and
berpengalaman dijadikan sebagai tenaga pengajar experience were made financial teachers for the sons
keuangan putra-putri Indonesia. Jepang mendidik and daughters of Indonesia. Japan taught the East
rakyat Hindia Belanda untuk mengikuti pendidikan Indies society to join financial education, because
keuangan karena kekurangan tenaga keuangan. ofa shortage of financial power.

Bab 02 | Profil Kementerian


Chapter 02 | Ministry’s Profile
51
Selama tahun 1942-1945, Jepang menerapkan From1942-1945, Japan applied several policies, such
beberapa kebijakan seperti, memaksa penyerahan as forced handover of all bank assets, ordonansiin
seluruh aset bank, melakukan ordonansi berupa the form of liquidation instructions for all Dutch,
perintah likuidasi untuk seluruh Bank Belanda, English and Chinese banks. Japan also undertook
Inggris, dan China. Jepang juga melakukan invasion invasion money of 2,4billion gulden so that inJava
money senilai 2,4 miliar gulden di pulau Jawa hingga there was 8 billion gulden in 1946. The aim of this
8 miliar gulden pada tahun 1946. Tujuan invasion invasion moneywas to destroy the value of the
money adalah menghancurkan nilai mata uang Dutch currency which had already spread through
Belanda yang sudah terlanjur beredar di Hindia the East Indies.
Belanda.

Jepang merombak besar-besaran struktur ekonomi Japan drastically remodeled the economic structure
masyarakat. Kesejahteraan rakyat merosot tajam dan of society. Public prosperity degenerated sharply and
terjadi bencana kekurangan pangan karena produksi food shortages occurred because of the production
minyak jarak. Jepang juga menguras kekayaan of castor oil. Japan drained natural wealth and
alam dan hasil bumi, serta menjadikan para tenaga produce, as well as turning the productive workforce
produktif sebagai romusha. Terjadi hiperinflasi into romusha. Hyperinflation occurred, causing huge
yang menyebabkan pengeluaran bertambah besar, increases in spending, even though tax and customs
padahal pemasukan pajak dan bea masuk turun revenue reduced drastically. Policy ala Dai Nippon
drastis. Kebijakan ala tentara Dai Nippon merugikan army inflicted financial loss on Indonesian citizens
penduduk Indonesia dan menimbulkan krisis. and created crisis.

Masa Kemerdekaan The Era of Independence


Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945 setelah Indonesia gained independence on 17 August
Jepang menyerah kepada Sekutu. Keadaan ekonomi 1945 after Japan gave up to the Allies.The financial
keuangan awal kemerdekaan amat buruk, terjadi economy at the dawn of independence was in a
inflasi yang tinggi akibat beredarnya tiga mata uang terrible condition, with high inflation caused by
di wilayah RI, yaitu mata uang De Javasche Bank, the three currencies in circulation in the Republic
mata uang Pemerintah Hindia Belanda, dan mata of Indonesia territory, namely theDe Javasche
uang pendudukan Jepang. Bankcurrency, the Dutch East Indies government
currency, and the currency of the Japanese
occupation.

Dengan demikian, tantangan mempertahankan As such, the challenge to preserve independence,


kemerdekaan selain dengan kekuatan senjata other than through weapons, required financial
juga harus ada dukungan dana untuk membiayai support to pay for the struggle. Dr. Samsi,as the
perjuangan itu. Dr. Samsi sebagai menteri keuangan Finance Minister of the first presidential cabinet,
pada kabinet presidensil pertama, sangat berperan was highly influential in finding funds to support
dalam upaya mencari dana untuk membiayai Indonesia’s struggle at that time. Dr. Samsi received
perjuangan Indonesia ketika itu. Dr. Samsi information that at the Bank Escompto Surabaya
mendapatkan informasi bahwa di Bank Escompto there remained money left by the Dutch East Indies
Surabaya tersimpan uang peninggalan Pemerintah government controlled by Japan. He then used
Hindia Belanda yang dikuasai Jepang. Dia kemudian proximity with the Japanese government to liquefy
menggunakan kedekatannya dengan Pemerintah these funds to aid the struggle. Dr. Samsi resigned
Jepang untuk mencairkan dana tersebut sehingga on 26 September 1945and was replaced by A.A.
dapat digunakan membantu perjuangan. Dr. Samsi Maramis.
mengundurkan diri pada 26 September 1945 dan
digantikan oleh A.A. Maramis.

Sejarah keuangan Indonesia kembali diukir Indonesia’s financial history was carved once
setelah mencetak mata uangnya sendiri. Pada 24 again after the printing of our own currency.
Oktober 1945, Menteri Keuangan A.A Maramis On24 October 1945, Finance Minister A.A
menginstruksikan tim serikat buruh G. Kolff Maramisinstructed the workers’ union team
selaku tim pencari data untuk menemukan of G. Kolffas the team to find data and locate

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


52 Annual Report of Ministry of Finance 2012
tempat percetakan uang dengan teknologi yang a mint, or cash printing house, with relatively
relatif modern. Hasilnya, percetakan G. Kolff modern technology.The result, G. KolffPrinting,
Jakarta dan Nederlands Indische Mataaalwaren en Jakarta, and NederlandsIndischeMataaalwaren
Emballage Fabrieken (NIMEF) Malang dianggap en EmballageFabrieken (NIMEF), Malang were
memenuhi persyaratan. Menteri pun menetapkan considered to fulfil the necessary criteria.The Minister
pembentukan Panitia Penyelenggaraan Percetakan established the formation of the Committee for the
Uang Kertas Republik Indonesia yang diketuai oleh Management of Printing Republic of Indonesia Ban
TBR Sabarudin. Akhirnya, Oeang Republik Indonesia knotes(PanitiaPenyelenggaraanPercetakanUangKe
(ORI) pertama berhasil dicetak dan ditandatangani rtasRepublik Indonesia),chaired by TBR Sabarudin.
oleh RAS Winarno dan Joenet Ramli. Finally, the firstOeangRepublik Indonesia (ORI) was
printed and signed by RAS Winarno andJoenetRamli.

Pada 14 November 1945, terjadi pergantian menteri On 14 November 1945, there was a change in
keuangan pada era Kabinet Sjahrir I. Mr. Sunarjo Finance Minister in the era of the cabinet of Sjahrir
Kolopaking ditunjuk sebagai menteri keuangan baru. I. Mr. SunarjoKolopakingwas appointed as the
Pada masa tersebut, Kabinet Sjahrir menghadapi new Finance Minister. In this new era, the cabinet
kendala kekurangan uang untuk peredaran ORI. of Sjahrir faced an obstacle in a lack of money for
Pada 5 Desember 1945, kembali terjadi pergantian the circulation of ORI. On 5 December 1945, there
menteri keuangan. Kali ini, posisi menteri keuangan was a further change in Finance Minister. This time,
dipegang oleh Ir. Surachman Tjokroadisurjo. the position of Finance Minister was held by Ir.
SurachmanTjokroadisurjo.

Namun, pada 2 Oktober 1946, terjadi lagi perubahan However, on 2 October 1946, there was a further
di kabinet. Mr. Sjafruddin Prawiranegara dipercaya change in cabinet. Mr. SjafruddinPrawiranegarawas
menjadi menteri keuangan selanjutnya. Masa trusted to become the next Finance Minister.This
tersebut ditandai dengan berhasilnya penerbitan era was marked by the success of the currency
uang pertama yakni uang kertas ORI pada tanggal printing effort, with the emission of the first ORI
30 Oktober 1946. Sejak tanggal tersebut, hanya ORI banknote being printed on 30 October 1946.
yang dinyatakan sah. Tanggal 30 Oktober kemudian From this date, only ORI was declared valid.
disahkan sebagai Hari Keuangan Republik Indonesia. 30th October has subsequently been formalized
asHariKeuanganRepublik Indonesia (Republic of
Indonesia Currency Day).

Untuk menghargai jasa A.A Maramis, maka gedung As a sign of appreciation for the services of A.A Maramis,
Departement van Financien atau gedung Daendels theDepartementvanFinancienorDaendelsbuilding
diberi nama gedung A.A Maramis. Gedung ini was given the name A.A Maramis building. This
menjadi pusat kerja Menteri Keuangan selaku buildingis the headquarters of the Finance Minister
pimpinan Departemen Keuangan Republik as the leader of the Department of Finance of the
Indonesia saat menjalankan tugasnya sehari- Republic of Indonesia, for carrying out daily tasks.
hari. Seiring dengan kebutuhan koordinasi antar Concomitant with the requirements of inter-unit
unit, sejak tahun 2007 gedung Menteri Keuangan coordination, since 2007 the Finance Minister has
dipindah ke Gedung Djuanda 1 yang berlokasi di relocated to Djuanda 1 Building, which is located at
seberang gedung A.A Maramis. the oppositeof A.A Maramis building.

Menindaklanjuti Undang-Undang Nomor 39 Following on from Act Number 39 2008 on State


tahun 2008 tentang Kementerian Negara juncto Ministries in conjunction with Presidential Decree
Peraturan Presiden Nomor 47 tahun 2009 tentang Number 47 2009 on Formation and Organization
pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara, of State Ministries, and referring to the circular
serta merujuk pada surat edaran Sekretaris Jenderal of the Secretary General of the Department of
Departemen Keuangan Nomor SE-11 MK.1/2010 Finance, Number SE-11 MK.1/2010 on Change in
tentang perubahan Nomenklatur Departemen Nomenclature Department of Finance becoming
Keuangan menjadi Kementerian Keuangan, maka Ministry of Finance, since 2009, the name of
sejak 2009, Departemen Keuangan resmi berubah Department of Finance officially changed to become
nama menjadi Kementerian Keuangan. the Ministry of Finance.

Bab 02 | Profil Kementerian


Chapter 02 | Ministry’s Profile
53
BAGAN ORGANISASI
KEMENTERIAN KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
CHART OF FINANCIAL MINISTRY’S ORGANIZATION REPUBLIC INDONESIA

Staf
Ahli Menteri Inspektorat Jenderal
Expert Staff Minister Inspector General
Staf Khusus
Specialized Staff

Direktorat Jenderal
Direktorat Jenderal Anggaran Direktorat Jenderal Pajak Bea dan Cukai
Director General of Budget Director General of Tax
Director General of Customs and Excise

Direktorat Jenderal Direktorat Jenderal Badan Pengawas Pasar Modal


Perimbangan Keuangan Pengelolaan Utang dan Lembaga Keuangan
Director General of Fiscal Balance Director General of Debt Management Capital Market and Financial
Institutions Supervisory Agency

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


54 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Menteri Keuangan
Minister of Finance

Wakil Menteri Keuangan


Vice Minister of Finance

Sekretariat Jendral
Secretary General

Direktorat Jenderal Direktorat Jenderal


Perbendaharaan Kekayaan Negara
Director General of Treasury Director General of the State
Assets Management

Badan Pendidikan dan


Badan Kebijakan Fiskal Pelatihan Keuangan
Fiscal Policies Agency Financial Education
and Training Agency

Bab 02 | Profil Kementerian


Chapter 02 | Ministry’s Profile
55
Agus D.W. Martowardojo
Menteri Keuangan
Minister of Finance

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


56 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Kelahiran Amsterdam, Belanda, 24 Januari 1956. Memperoleh Born in Amsterdam, the Netherlands, on January 24th,
gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia. 1956. He obtained Bachelor in Economics from Universitas
Pendidikannya dilanjutkan di sejumlah institusi seperti State Indonesia. His studies continued at a number of institutions,
University of New York, Harvard Business School, Standford including the State University of New York, Harvard Business
University, dan Wharton Executive Education. School, Standford University, and Wharton Executive
Education.

Pada tahun 1986 bergabung di PT Bank Niaga dengan In 1986, he joined PT. Bank Niaga with the last position as
jabatan terakhir sebagai Vice President-Corporate Banking Vice President-Corporate Banking Head, Corporate Banking
Head, Corporate Banking Group. Karir di bidang perbankan Group. His banking career continued as President Director
berlanjut sebagai Direktur Utama PT Bank Bumiputera (1995) of PT. Bank Bumiputera in 1995 and President Director of PT.
dan Direktur Utama PT Bank Ekspor Impor Indonesia (Persero) Bank Ekspor Impor Indonesia (Persero) in 1998.
(1998).

Pada tahun 1999 hingga 2000 menjabat sebagai Managing From 1999-2000, he was Managing Director of Bank Mandiri
Director Bank Mandiri yang membawahi berbagai bidang, supervising various fields, such as Risk Management & Credit
seperti Risk Management & Credit Restructuring, Retail Banking Restructuring, Retail Banking & Operations. Following a
& Operations. Setelah menjabat sebagai Penasihat Ketua position as Advisor of the National Banking Restructuring
Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), ditugaskan Body (BPPN), he was assigned as President Director of PT.
menjadi Direktur Utama PT Bank Permata Tbk mulai Oktober Bank Permata Tbk in October 2002. From May 2005 to May
2002. Sejak Mei 2005 hingga Mei 2010 menjabat sebagai 2010, he was President Director of PT. Bank Mandiri (Persero).
Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Pada tanggal On May 20th, 2010, he was installed as Minister of Finance by
20 Mei 2010 dilantik sebagai Menteri Keuangan oleh Presiden the President of the Republic of Indonesia.
Republik Indonesia.

Meraih sejumlah penghargaan, antara lain Indonesia’s Best He has won a number of awards, among others Indonesia’s
Executive in 2009 oleh Asia Money dan The Indonesian Banker Best Executive in 2009 by Asiamoney and The Indonesian
Leadership Achievement Award 2010 dari The Asian Banker. Banker Leadership Achievement Award 2010 from The Asian
Pada Februari 2012, terpilih sebagai Finance Minister of the Banker. In February 2012, he was awarded Minister of Finance
Year 2012 untuk level dunia dan Asia-Pasifik versi The Banker. of the Year 2012 for the world and Asia Pacific level by The
Banker’s version.

Bab 02 | Profil Kementerian


Chapter 02 | Ministry’s Profile
57
Anny Ratnawati
Wakil Menteri Keuangan I
Vice Minister of Finance I

Kelahiran Yogyakarta, 24 Februari Born in Yogyakarta, on February 24th, 1962. She


1962. Meraih gelar Sarjana Agribisnis obtained Bachelor in Agribusiness from Bogor
dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Institute of Agriculture (IPB) in 1985. She then
pada tahun 1985. Setelah itu, finished her Master program in Agricultural
menyelesaikan program Magister Economy in 1989 and graduated cum laude in her
Ekonomi Pertanian pada tahun 1989 Doctoral degree in Agricultural Economy in 1996
dan Doktor Ekonomi Pertanian pada from the same university. From February 25th, 2008
tahun 1996 dari kampus yang sama – July 2008, she was Head of the Financial Education
dengan predikat cumlaude. Pada and Training Agency (BPPK). Her career continued
25 Februari 2008 - Juli 2008 sempat to rise when she was appointed as Director General
menjabat sebagai sebagai Kepala of Budget, before she was installed as Vice Minister
Badan Pendidikan dan Pelatihan of Finance I by the President of the Republic of
Keuangan (BPPK). Karirnya berlanjut Indonesia on May 20th, 2010.
sebagai Direktur Jenderal Anggaran
sebelum akhirnya dilantik oleh Presiden
Republik Indonesia menjadi Wakil Menteri
Keuangan I pada 20 Mei 2010.

Pada tanggal 20 Juli 2012 ditetapkan on 20th July, she was appointed as the member
oleh Presiden RI sebagai Anggota Dewan of Ex Officio of ministry of finance commissioners
Komisioner Ex Officio Kementerian Keuangan board in Financial Service Authority (OJK)
pada Otoritas Jasa Keuangan.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


58 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Mahendra Siregar
Wakil Menteri Keuangan II
Vice Minister of Finance II

Lahir di Bandung, 17 Oktober 1962. Memperoleh Born in Bandung, on October 17th, 1962. He
gelar Sarjana Ekonomi dari Fakultas Ekonomi obtained Bachelor in Economics from the Faculty
Universitas Indonesia tahun 1986 dan Master of Economics Universitas Indonesia in 1986
Ekonomi dari Monash University, Australia, pada and Master in Economics from Monash
tahun 1991. Bergabung dengan Kementerian University, Australia, in 1991. He joined the
Luar Negeri pada 1986 dan pernah menjabat Ministry of Foreign Affairs in 1986 and was
sebagai Economic Third Secretary pada Kedutaan Economic Third Secretary at the Indonesian
Besar Republik Indonesia (KBRI) di London tahun Embassy (KBRI) in London from 1992 to 1995.
1992 hingga 1995. Pada tahun 1998 hingga 2001 From 1998 to 2001, he was Information
menjadi Konselor Penerangan KBRI di Washington, Councellor at the Indonesian Embassy in
D. C. Pada tahun 2001 juga bergabung dengan Washington, D.C. In 2001, he joined the
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Coordinating Ministry of Economic
sebagai staf ahli. Affairs as an Expert Staff.

Tahun 2005 menjabat sebagai Deputi Menteri In 2005, he was Deputy Minister
Bidang Koordinasi Kerjasama Internasional hingga of International Cooperation
tahun 2009 dan sempat menjadi Chairman dan CEO Coordination until 2009 and was
Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia selama 5 Chairman and CEO of the Indonesian
tahun. Ditugaskan mewakili Pemerintah Indonesia Export Financing Institution
di berbagai pertemuan dan organisasi internasional, for five years. He was assigned
seperti tahun 2007 hingga 2008 menjadi anggota to represent the Indonesian
Adaptation Fund Brand UNFCCC mewakili Asia dan government in a number of
sejak 2009 hingga saat ini menjadi Sherpa Presiden meetings and international
RI di G20. Pernah menjabat sebagai komisaris organizations, including in 2007 to
yang mewakili Pemerintah Indonesia pada PT 2008 as member of the Adaptation
Dirgantara Indonesia, PT Aneka Tambang, Tbk, PT Fund Brand UNFCCC representing
Rajawali Nusantara Indonesia dan saat ini menjadi Asia. Since 2009 until present, he is
Komisaris Utama PT Semen Gresik Group, Tbk. Sherpa of the President at G20. He was
Dilantik menjadi Wakil Menteri Perdagangan oleh once commissioner representing the
Presiden RI pada 11 November 2009 dan menjadi Indonesian government at PT. Dirgantara
Wakil Menteri Keuangan sejak tanggal 19 Oktober Indonesia, PT Aneka Tambang, Tbk., PT
2011. Rajawali Nusantara Indonesia and at
present President Commissioner of PT.
Semen Gresik Group Tbk. He was installed
as Vice Minister of Trade by the President
of the Republic of Indonesia on November
11th, 2009 and Vice Minister of Finance on
October 19th, 2011.

Bab 02 | Profil Kementerian


Chapter 02 | Ministry’s Profile
59
Kiagus Ahmad Badaruddin
Sekretaris Jenderal
Secretary General

Kelahiran Palembang, 29 Maret 1957. Born in Palembang, on March 29th, 1957. He finished
Menyelesaikan pendidikan Diploma III Ekonomi his D III in Corporate Economics and Bachelor
Perusahaan dan S1 Ekonomi Manajemen in Management Economics from Universitas
di Universitas Sriwijaya Palembang. Gelar Sriwijaya, Palembang. He obtained his bachelor
Sarjana Ekonomi diraihnya pada tahun 1986. degree in 1986. He continued his master degree
Menempuh pendidikan S2 di Universitas at the University of Illinois at Urbana-Champaign
of Illinois at Urbana-Champaign dan and obtained Master of Science in 1991. In 2006,
mendapatkan gelar Master of Science pada he was Director of Treasury System, then Director
tahun 1991. Pada tahun 2006 menjabat of Budget Implementation from 2008 to 2009, at
sebagai Direktur Sistem Perbendaharaan, the Directorate General of Budget. He was then
kemudian dipercaya menduduki jabatan installed as Secretary of the Directorate General,
Direktur Pelaksanaan di Direktorat Jenderal Directorate General of Treasury in 2009. In January
Perbendaharaan Anggaran sejak tahun 2008 2011, he was Expert Staff of the State Expenditure
hingga 2009. Selanjutnya dilantik menjadi until he was assigned as Secretary General of
Sekretaris Direktorat Jenderal, Direktorat the Ministry of Finance since January 2012.
Jenderal Perbendaharaan di tahun 2009. Pada
Januari 2011, menjabat sebagai Staf Ahli
Bidang Pengeluaran Negara hingga ditugaskan
sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian
Keuangan mulai bulan Januari 2012.

Herry Purnomo
Direktur Jenderal Anggaran
Director General of Budget

Kelahiran Ciamis, 8 Mei 1953. Meraih gelar sarjana Born in Ciamis, on May 8th, 1953. He
muda dan sarjana dari Institut Ilmu Keuangan obtained baccalaureate and bachelor
pada tahun 1980. Gelar Master of Social Science degree from the Institute of Financial
diperoleh dari University of Birmingham pada tahun Science in 1980. His Master in Social
1989. Pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Science was obtained from the University
Perbendaharaan selama kurang lebih 5 tahun, yaitu of Birmingham in 1989. He was Director
sejak tahun 2006 sampai dengan awal tahun 2011. General of Treasury for around five years,
Sebelumnya pernah menduduki jabatan sebagai since 2006. Other positions include
Direktur Pembinaan Kekayaan Negara dan Direktur Director of the State Assets Development,
Pengelolaan Barang Milik/Kekayaan Negara. Directorate General of Budget and Director
Selanjutnya, menjabat sebagai Direktur Jenderal of the State’s Property/Assets Management.
Anggaran Kementerian Keuangan sejak tanggal 16 He is Director General of Budget at the
Februari 2011. Ministry of Finance since February 16th,
2011.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


60 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Ahmad Fuad Rahmany
Direktur Jenderal Pajak
Director General of Tax

Kelahiran Singapura, 11 November Born in Singapore, on November 11th, 1954. He


1954. Meraih gelar Sarjana dari Fakultas obtained Bachelor in Economics from Universitas
Ekonomi Universitas Indonesia pada Indonesia in 1981. He finished his Master of Arts
tahun 1981. Menyelesaikan Master of Arts in Economics at Duke University, Durham, North
in Economics di Duke University, Durham, Carolina in 1987, and Doctor of Philosophy in
North Carolina pada tahun 1987 dilanjutkan Economics from Vanderblit University in 1997. He
dengan Doctor of Philosophy in Economics joined the Ministry of Finance in 1981. He was
dari Vanderblit University pada tahun 1997. Chairman of the Capital Market and Financial
Bergabung dengan Kementerian Keuangan Instutions Supervisory Agency (Bapepem-LK) since
pada Agustus 1981. Menjabat sebagai Ketua 2006, before he was appointed as Director General of
Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Tax at the Ministry of Finance on January 21st, 2011.
Keuangan (Bapepam-LK) sejak tahun 2006,
dan dilantik sebagai Direktur Jenderal Pajak
Kementerian Keuangan pada 21 Januari
2011.

Agung Kuswandono
Direktur Jenderal Bea dan Cukai
Director General of Customs and Excise

Kelahiran Banyuwangi, 29 Maret 1967. Meraih gelar Born in Banyuwangi, on March 29th, 1967.
Sarjana Kehutanan dari Institut Pertanian Bogor He obtained Bachelor in Forestry from Bogor
pada tahun 1990, kemudian mendapatkan gelar Institute of Agriculture in 1990, and Master of
Master of Arts Economics di University of Colorado Arts in Economics at the University of Colorado
pada tahun 1997. Memulai karirnya di Kementerian in 1997. He began his career at the Ministry
Keuangan sebagai Penata Muda pada tahun 1991 of Finance as Penata Muda in 1991, and was
dan pernah menjabat sebagai Direktur Teknis Director of Customs Technics and Director of
Kepabeanan dan Direktur Fasilitas Kepabeanan Customs Facility in 2008 and 2010. Since April
pada tahun 2008 dan 2010. Sejak 25 April 2011, 25th, 2011, he is Director General of Customs
menjabat sebagai Direktur Jenderal Bea dan Cukai and Excise at the Ministry of Finance.
Kementerian Keuangan.

Bab 02 | Profil Kementerian


Chapter 02 | Ministry’s Profile
61
Agus Suprijanto
Direktur Jenderal Perbendaharaan
Director General of Treasury

Kelahiran Yogyakarta, 14 Agustus 1953. Born in Yogyakarta, on August 14th, 1953. He


Meraih gelar S1 Hukum Perdata dari obtained Bachelor in Civil Law from Universitas
Universitas Udayana pada tahun 1985. Udayana in 1985. He then obtained Master of Arts in
Meraih gelar Master of Arts in Economics Economics and Doctor of Philosophy in Economics
dan Doctor of Philosophy in Economics from the University of Colorado at Boulder in 1991
dari University of Colorado at Boulder and 1995. He started his career as a civil servant
pada tahun 1991 dan 1995. Mulai bekerja candidate on March 1st, 1975. He was Head of
sebagai CPNS Kementerian Keuangan pada Pushaka, Expert Staff of the Minister of Finance
1 Maret 1975. Pernah menjabat sebagai for Government Revenue, and Head of the Fiscal
Kepala Pushaka, Staf Ahli Menteri Keuangan Policy Agency (BKF). On January 21st, 2011, he was
Bidang Penerimaan Negara, dan Kepala officially appointed as Director General of Treasury
Badan Kebijakan Fiskal. Pada 21 Januari 2011, at the Ministry of Finance.
resmi menjabat sebagai Direktur Jenderal
Perbendaharaan Kementerian Keuangan.

Hadiyanto
Direktur Jenderal Kekayaan Negara
Director General of the State Assets Management

Kelahiran Ciamis, 10 Oktober 1962. Gelar Sarjana Born in Ciamis, on October 10th, 1962. He
Hukum diraihnya dari Universitas Padjadjaran obtained Bachelor in Law from Universitas
Bandung pada tahun 1986, sementara gelar Master Padjadjaran Bandung in 1986, and Master
of Law diperoleh dari Harvard University, Amerika in Law from Harvard University, the United
Serikat pada tahun 1993. Meraih gelar Doktor Ilmu States, in 1993. He started his career as a civil
Hukum dari Universitas Padjajaran pada tahun servant candidate at the Ministry of Finance
2012. Mulai bekerja sebagai CPNS Kementerian on March 1st, 1987. He was Head of the Legal
Keuangan pada tanggal 1 Maret 1987. Pernah Bureau at the Secretariat General in 2005. Since
menjabat sebagai Kepala Biro Hukum Sekretariat 2006 until present, he is Director General of
Jenderal pada tahun 2005. Sejak tahun 2006 hingga State Assets at the Ministry of Finance.
saat ini, memimpin Direktorat Jenderal Kekayaan
Negara Kementerian Keuangan.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


62 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Marwanto Harjowiryono
Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan
Director General of Fiscal Balance

Kelahiran Yogyakarta, 6 Juni 1959. Meraih gelar Born in Yogyakarta, on June 6th, 1959. He obtained
Sarjana Ekonomi dari Fakultas Ekonomi Bachelor in Economics from Universitas Gajah Mada
Universitas Gajah Mada (UGM) pada tahun (UGM) in 1983, and finished his Master degree at
1983 dan menamatkan pendidikan S2 di Vanderbilt University, USA, in 1991. His Doctoral
Vanderbilt University, USA, pada tahun 1991. degree was obtained from UGM in 2009. He started
Gelar S3 diraih dari Sekolah Pascasarjana his career as a civil servant candidate at the Ministry
UGM pada tahun 2009. Mulai bekerja sebagai of Finance on December 1st, 1983. He was Head
CPNS Kementerian Keuangan pada tanggal of the Public Relations Bureau at the Secretariat
1 Desember 1983. Pernah menjabat sebagai General from 2004 to 2006. Other positions included
Kepala Biro Hubungan Masyarakat di Sekretariat Expert Staff of the Minister of Finance for the State
Jenderal dari tahun 2004 hingga 2006. Jabatan Expenditure. He has an experience as the Executive
lain yang pernah didudukinya adalah Staf Ahli Director of the Asian Development Bank from 2009
Menteri Keuangan Bidang Pengeluaran Negara. to 2011. Since January 21st, 2011, he is Director
Berpengalaman sebagai Direktur Eksekutif Bank General of Fiscal Balance at the Ministry of Finance.
Pembangunan Asia sejak tahun 2009 hingga
2011. Sejak tanggal 21 Januari 2011, menjabat
sebagai Direktur Jenderal Perimbangan
Keuangan Kementerian Keuangan.

(Kuasa Khusus) Direktur Jenderal Pengelolaan Utang


(Special Power of Attorney) Director General of Debt Management

Kelahiran Tanjung Balai, 20 Oktober 1959. Lulus Born in Tanjung Balai, on October
program Diploma III Keuangan Spesialisasi Akuntansi 20th, 1959. He graduated from D III of
dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara pada tahun financial program with specialization
1981. Melanjutkan pendidikan Diploma IV di in Accountancy from the State College
kampus yang sama pada tahun 1985 hingga 1987. of Accountancy (STAN) in 1981. He
Meraih Gelar Doctor of Philosophy in Economics dari preceeded his study to D IV at the same
University of North Carolina at Chapel Hill, USA pada campus from 1985 to 1987. In 1998, he
tahun 1998. Sempat menjadi Tenaga Pengkaji Bidang obtained his Doctoral degree in Philosopy
Ekstensifikasi dan Intensifikasi Pajak pada tahun in Economics from the University of North
2003 hingga tahun 2005. Menjabat sebagai Direktur Carolina at Chapel Hill, the United States.
Potensi dan Sistem Perpajakan hingga tahun 2006 He was reviewer of the Tax Extensification
dan Direktur Transformasi Proses Bisnis. Dilantik and Intensification Unit from 2003 to 2005. He
menjadi Staf Ahli Bidang Penerimaan Negara pada was then Director of Tax Potential and System
tahun 2011 dan sejak Juli 2012 merangkap jabatan until 2006, and Director of Business Process
sebagai Kuasa Khusus Dirjen Pengelolaan Utang. Transformation. He was installed as Expert Staff
in the State’s Revenue in 2011, and since July
2012, he is also Special Power of Attorney of the
Director General of Debt Management.

Bab 02 | Profil Kementerian


Chapter 02 | Ministry’s Profile
63
Vincentius Sonny Loho
Inspektorat Jenderal
Inspector General

Kelahiran Jakarta, 1 Juni 1957. Mulai bekerja Born in Jakarta, on June 1st, 1957. He started working
di Kementerian Keuangan pada tanggal 1 at the Ministry of Finance on November 1st, 1979.
November 1979. Menempuh pendidikan He obtained D III in Finance with specialization in
Diploma III Keuangan Spesialisasi Akuntansi Accountancy at the State College of Accountancy
di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) (STAN) in 1980, and continued his D IV study at
pada tahun 1977 hingga 1980 dan kemudian STAN until 1987. He obtained his Master in Public
melanjutkan pendidikan Diploma IV di Management at Carnegie Mellon University in
STAN hingga tahun 1987. Mendapat gelar Pitsburgh, Pennsylvania, in 1998. He was appointed
Master of Public Manajemen di Carnegie as Director of Financial Management Development of
Mellon University Pitsburgh, Pennsylvania, the Public Service Board, at the Directorate General
pada tahun 1998. Sempat menjabat sebagai of Treasury on November 9th, 2006. He then became
Direktur Pembinaan Pengelolaan Keuangan Director of Accountancy and Financial Reporting,
Badan Layanan Umum, Direktorat Jenderal Directorate General of Treasury, since October 17th,
Perbendaharaan pada tanggal 9 November 2008. He was appointed as Inspector General at the
2006. Menjadi Direktur Akuntansi dan Pelaporan Ministry of Finance on January 21st, 2011.
Keuangan, Direktorat Jenderal Perbendaharaan
mulai 17 Oktober 2008. Dilantik sebagai
Inspektur Jenderal Kementerian Keuangan
pada tanggal 21 Januari 2011.

(Kuasa Khusus) Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan
(Special Power of Attorney) Chairman of the Capital Market and Financial Institutions Supervisory Agency

Kelahiran Surakarta, 30 Mei 1955. Meraih gelar Born in Surakarta, on May 30th, 1955. He
Sarjana Hukum dan Ekonomi di Universitas Indonesia obtained Bachelor in Law and Economics
pada tahun 1988. Melanjutkan pendidikan Master of from Universitas Indonesia in 1988. He
Science di University of Illinois, AS pada tahun 1992. continued his study to Master of Science at
Bergabung dengan Kementerian Keuangan sejak the University of Illinois, the United States,
tahun 1977. Menjabat sebagai Direktur Perbankan in 1992. He joined the Ministry of Finance
dan Usaha Jasa Pembiayaan Direktorat Jenderal in 1977. He was Director of Banking
Lembaga Keuangan pada tahun 2005. Pada Mei and Financing Service at the Directorate
2006, ditunjuk menjadi Kepala Biro Perbankan, General of Financial Institution in 2005. In
Pembiayaan dan Penjaminan Bapepam LK sebelum May 2006, he was appointed as Head of
akhirnya ditunjuk menjadi Sekretaris Bapepam-LK Banking, Financing and Guarantee Bureau at
pada Desember 2006. Pada Januari 2012, dilantik the Capital Market and Financial Institutions
menjadi staf ahli bidang kebijakan dan regulasi jasa Supervisory Agency (Bapepam-LK), before he
keuangan dan pasar modal dan merangkap jabatan was finally appointed as Secretary of the Capital
sebagai Kuasa Ketua Badan Pengawasan Pasar Modal Market and Financial Institutions Supervisory
dan Lembaga Keuangan sejak Juli 2012. Agency (Bapepam-LK) in December 2006. In
January 2012, he was installed as Expert Staff
in the financial and capital market policies and
regulation unit, and also Special Power of Attorney
of Chairman of the Capital Market and Financial
Institutions Supervisory Agency (Bapepam-LK)
since July 2012.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


64 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Kepala Badan Kebijakan Fiskal
Head of Fiscal Policies Agency

Kelahiran Jakarta, 3 Oktober 1966. Menempuh Born in Jakarta, on October 3rd, 1966. He studied
pendidikan sarjana di bidang Ekonomi Development Economy and Regional Economy at the
Pembangunan dan Ekonomi Regional di Faculty of Economics Universitas Indonesia in 1985 –
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia 1990. He then continued his study at the University
pada tahun 1985-1990. Lalu melanjutkan of Illinois at Urbana-Champaign, the United States,
pendidikan di University of Illinois at and obtained a Master degree in 1995. A Doctoral
Urbana-Champaign, Amerika Serikat, dan degree was obtained from the same campus in
meraih gelar Master pada tahun 1995 dan 1997. He was a guest lecturer at the Department of
gelar Ph.D Agustus 1997 di tempat yang Urban and Regional Planning, University of Illinois at
sama. Pernah menjadi dosen tamu pada Urbana-Champaign, the United States, in November
The Department of Urban and Regional 2002. He was Dean of the Faculty of Economics
Planning, University of Illinois at Urbana- Universitas Indonesia from 2005 – 2009. He was
Champaign, Amerika Serikat, pada bulan Director General of Islamic Research and Training
November 2002. Menjadi Dekan FE-UI sejak Institute at the Islamic Development Bank until 2011.
tahun 2005 hingga 2009. Menjabat Director On January 21st, 2011, he was appointed as Acting
General Islamic Research and Training Institute, Head of the Fiscal Policies Agency at the Ministry
Islamic Development Bank hingga tahun 2011. of Finance. He is now professor in economics at the
Ditunjuk menjadi Plt. Kepala Badan Kebijakan Faculty of Economics Universitas Indonesia.
Fiskal Kementerian Keuangan sejak tanggal 21
Januari 2011. Saat ini masih menjabat sebagai
Guru Besar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia.

Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan


Head of Financial Education and Training Agency

Kelahiran Padang, 17 Desember 1952. Menempuh Born in Padang, on December 17th, 1952. He
pendidikan Sarjana Muda di Institut Ilmu Keuangan studied D III program at the Institute of Financial
milik Kementerian Keuangan pada tahun 1972 Science belonging to the Ministry of Finance
hingga 1975. Mendapatkan gelar Sarjana dari from 1972 to 1975. He obtained a Bachelor
kampus yang sama pada tahun 1979. Gelar Master degree from the same campus in 1979. Master
of Arts in Economics diraih dari Ohio University of Arts in Economics was obtained from the
pada tahun 1986. Menjabat sebagai Sekretaris Ohio University in 1986. He was Secretary at
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dari bulan the Directorate General of Customs and Excise
Juni 2007 hingga Oktober 2010. Pada tanggal 12 for three years, from June 2007 to October 2010.
Oktober 2010, menduduki jabatan sebagai Direktur On October 12th, 2010, he was appointed as
Kepabeanan Internasional. Dilantik sebagai Kepala Director of International Customs. He was then
Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) installed as Head of the Financial Education and
Kementerian Keuangan pada bulan Januari 2011. Training Agency (BPPK) at the Ministry of Finance
in January 2011.

Bab 02 | Profil Kementerian


Chapter 02 | Ministry’s Profile
65
Boediarso Teguh Widodo
Staf Ahli Menteri Keuangan bidang Pengeluaran Negara
Expert Staff in Government Expenditure

Kelahiran Rembang, 23 Agustus 1958. Meraih Born in Rembang, on August 23rd, 1958. He obtained
gelar Sarjana Ekonomi Umum dari Universitas Bachelor in General Economy from Universitas
Diponegoro pada tahun 1982. Pendidikannya Diponegoro in 1982. His study continued to a Master
berlanjut ke Magister Ekonomi, Studi degree in Economics, Planning Study and Public
Perencanaan dan Kebijakan Publik Policies from Universitas Indonesia in 2005. He joined
Universitas Indonesia pada tahun 2005. the Ministry of Finance in 1982. He was Head of The
Bergabung dengan Kementerian Keuangan Financial and Monetary Analysis Agency in 1984. In
sejak tahun 1982. Menjabat sebagai Kepala 2004, he was appointed as Director of the State Budget
Badan Analisa Keuangan dan Moneter pada Arrangement. In January 2012, he was appointed as
tahun 1984. Pada tahun 2004, diangkat Expert Staff in Government Expenditure.
sebagai Direktur Penyusunan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara. Sejak Januari
2012 diangkat sebagai Staf Ahli Bidang
Pengeluaran Negara.

Permana Agung
Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Makro Ekonomi dan Keuangan Internasional
Expert Staff in Macro Economics and International Finance

Kelahiran Cakranegara, Lombok, 27 Oktober 1952. Born in Cakranegara, Lombok, on October


Lulusan Sarjana Muda Institut Ilmu Keuangan pada 27th, 1952. He finished his D III degree from
tahun 1975. Melanjutkan pendidikan D4 di kampus the Institute of Financial Science in 1975.
yang sama pada tahun 1977 hingga 1979. Mendapat He continued his D IV degree at the same
gelar Master of Science dari University of Illinois- campus from 1977 to 1979. He obtained
Urbana Champaign pada tahun 1985 dan Master of his Master of Science degree from the
Arts Public Finance dari University of Notre Dame University of Illinois-Urbana Champaign in
pada tahun 1988. Menempuh pendidikan S3 di 1985 and Master of Arts in Public Finance
University of Notre Dame. Dilantik sebagai Direktur from the University of Notre Dame in
Jenderal Bea dan Cukai dari tahun 1999 hingga 1988. He took his Doctoral degree at the
2002. Pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal University of Notre Dame. He was Director
Kekayaan Negara hingga tahun 2006. Sempat General of Customs and Excise from 1999 to
memimpin Inspektorat Jenderal hingga tahun 2006 2002. He was also Director General of State
dan menjabat sebagai Staf Ahli Bidang Hubungan Assets until 2006. He chaired the Inspectorate
Ekonomi Keuangan Internasional sejak bulan General until 2006 and has been Expert Staff
Agustus 2008. in the International Financial and Economic
Relations since August 2008.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


66 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Organisasi, Birokrasi, dan Teknologi Informasi
Expert Staff in Organization, Bureaucracy, and Information Technology

Kelahiran Pekanbaru, 23 April 1966. Meraih gelar in Pekanbaru, on April 23rd, 1966. He obtained
Sarjana Hukum di Universitas Indonesia pada his Bachelor in Law from Universitas Indonesia in
tahun 1989. Jenjang pendidikannya berlanjut 1989. His study continued until he obtained LLM
di LLM Common Law Georgetown University ComExpert at Stamon Law Georgetown University in
pada tahun 1993. Mulai bekerja di Kementerian 1993. He began working at the Ministry of Finance
Keuangan pada tahun 1990. Pernah menjabat in 1990. He was acting Secretary General twice,
sebagai Pelaksana Sekretariat Jenderal dua in 2002 and 2006. He was appointed as Division
kali yakni pada tahun 2002 dan 2006. Diangkat Head of Recommendation Formulating of Fiscal
menjadi Kepala Bidang Perumusan Rekomendasi Risk Management in 2006, until he became Head
Pengelolaan Risiko Fiskal pada tahun 2006 hingga of the Analysis and Policies Harmonization Centre
kemudian menjadi Kepala Pusat Analisis dan in 2008. Since January 13th, 2012, he is Expert Staff
Harmonisasi Kebijakan pada tahun 2008. Sejak in Organization, Bureaucracy, and Information
13 Januari 2012 dilantik sebagai Staf Ahli Bidang Technology.
Organisasi, Birokrasi, dan Teknologi Informasi.

Bab 02 | Profil Kementerian


Chapter 02 | Ministry’s Profile
67
Deduplak
Permainan ini disebut juga egrang bathok, permainan ini menggunakan bathok
kelapa/tempurung, meletakan kaki diatas masing-masing tempurung, kemudian kaki satu
diangkat, sementara kaki lainnya bertumpu pada tempurung lainnya ditanah seperti
layaknya berjalan. Dalam permainan ini diperlukan ketangkasan dan kecepatan berjalan
diatas tempurung tersebut, siapa yang paling cepat berjalan tanpa harus jatuh dianggap
sebagai pemenang.

This game is also called bathok stilts, this game uses coconut shell / shell, put feet on
each shell, then lifted one leg, while the other foot rests on the ground like any other shell
running. In this game the necessary agility and speed runs on the shell, who is the fastest
run without falling regarded as the winner.
CHAPTER
BAB
03
Profil SDM
Human Resource Profile
Pendidikan dan Latihan
Education and Training
Rekrutmen
Recruitment
Pengelolaan Kinerja Pegawai
Employee Performance Management
Pengawasan dan Penegakan Disiplin
Supervision and Enforcement of Discipline
Pengukuran Kepuasan Pegawai
Employee Satisfaction Measurement
Sumber Daya Manusia
Human Resources
Mengikuti dinamika organisasi agar semakin Following the organizational dynamic to be
efektif dan dapat melayani dengan baik, pegawai increasingly effective and to provide good
Kementerian Keuangan juga terus mengalami service, employees of the Ministry of Finance also
perubahan, baik dari sisi jumlah maupun profilnya. continuously experience change, whether in terms
Hingga akhir tahun 2012, Kementerian Keuangan of quantity or profile. At the end of 2012, the
diperkuat oleh 61.091 orang pegawai yang terbagi Ministry of Finance was strengthened by 61,091
dalam 12 unit Eselon I dan tersebar di seluruh employees, divided into 12 Echelon units and spread
Indonesia. Profil Sumber Daya Manusia (SDM) throughout Indonesia. The human resource profile
Kementerian Keuangan per periode 31 Desember of the Ministry of Finance as per period 31 December
2012 dapat dilihat sebagai berikut: 2012 can be seen below.

BERDASARKAN JENJANG PENDIDIKAN BASED ON QUALIFICATIONS

Kementerian Keuangan diperkuat SDM dengan The Ministry of Finance was strengthened by human
tingkat pendidikan yang tinggi. Pegawai yang telah resources with a high level of education. Employees
menempuh pendidikan Doktoral (S3) sebanyak 94 with Doctoral Education (S3) amount to 94 people,
orang, jenjang Pascasarjana (S2) sebanyak 6.798 Post-graduate or Masters qualifications (S2) of
orang (11 persen), Sarjana (S1) sebanyak 19.755 6,798 people (11 percent), Bachelor’s degree level
orang (32 persen), jenjang Diploma I hingga IV (S1) of 19,755 people (32 percent), Diploma I to
sebanyak 21.117 orang (35 persen), jenjang SD IV qualifications of to 21,117 people (35 percent),
hingga SMA sebanyak 13.327 orang (22 persen). and elementary (SD) to senior high school (SMA)
graduates of 13,327 people (22 percent).

Grafik 3.1 Komposisi SDM berdasarkan pendidikan


Diagram 3.1. Compositionof Human Resources based on Education

S3 94

S2 6798
S1 19755

D4 1446

D3 11806
D2 43

D1 7822

SMA Senior High School 12272

SMP Junior High School 801


SD Primary School 254

0 5000 10000 15000 20000 25000

Sumber : SIMPEG Source: SIMPEG

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


72 Annual Report of Ministry of Finance 2012
BERDASARKAN USIA BASED ON AGE

Sebagai organisasi yang terus berkembang, As a continuously developing organization, the


Kementerian Keuangan ditopang oleh SDM yang Ministry of Finance was sustained by a human
usianya relatif masih muda dan produktif. SDM resource pool which is relatively young and
Kementerian Keuangan sebagian besar diisi oleh productive. The human resources of the Ministry
kelompok pegawai dengan usia produktif di of Finance was mostly filled with employees in the
bawah 40 tahun. Kelompok pegawai Kementerian productive age group of under 40 years. Ministry of
Keuangan dengan usia produktif antara 20 hingga Finance employees in the productive age range of 20
39 tahun mencapai 35.149 orang (58 persen) atau to 39 years old amount to 35,149 people (58 percent),
lebih besar dibanding kelompok usia senior ( di atas larger than the senior aged group (over 40 years old)
40 tahun) yang mencapai 25.942 orang (42 persen). which amounts to 25,942 people (42 percent).

Grafik 3.2 Komposisi SDM berdasarkan usia


Diagram 3.2. Composition of Human Resources Based on Age

di atas 60 Over 60 12

55 s.d. 59 1892
50 s.d. 54 9230
45 s.d. 59 6139

40 s.d. 44 8669

35 s.d. 39 9633
30 s.d. 34 8017
25 s.d. 29 13929

20 s.d. 24 3570

0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 16000

Sumber : SIMPEG Source: SIMPEG

BERDASARKAN JABATAN BASED ON POSITION

Komposisi terbesar SDM Kementerian Keuangan The composition of the largest group of Ministry of
berdasarkan jabatan adalah kelompok jabatan Finance human resources was at the implementation
Pelaksana. Pada kelompok ini ada 44.185 orang level. There were 44,185 people in this group, or
atau sebesar 72 persen dari keseluruhan pegawai. 72 percent of the total employees.Composition
Komposisi terbesar kedua adalah pejabat Eselon IV of the second largest group was the Echelon IVA
A, sebanyak 7.857 orang atau 13 persen. Komposisi Officials,amounting to 7,857 people, or 13 percent.
terbesar ketiga adalah kelompok jabatan fungsional Composition of the third largest group was the
sebanyak 5.504 orang atau 9 persen. functional officials, of to 5,504 people, or 9 percent.
The composition based on position of Ministry of
Komposisi SDM berdasarkan jabatan pada Finance human resources is divided into several
Kementerian Keuangan dibagi menjadi beberapa groups. The group of Vice-Ministers comprised
kelompok. Pertama, Kelompok pejabat Wakil Menteri 2 people. Next is the group of Echelon I A/B
yang terdiri dari 2 orang. Selanjutnya kelompok Officials, comprising 15people, the Echelon II

Bab 03 | Sumber Daya Manusia


Chapter 03 | Human Resources
73
pejabat Eselon I A/B sebanyak 15 orang, kelompok A/B Officialsamounting to 199 people (less than
pejabat Eselon II A/B sebanyak 199 orang (di bawah 1 percent of the total employees). The group of
1 persen dari keseluruhan pegawai). Kelompok officials in Echelon III A/B comprises 1,579 people, or
pejabat Eselon III A/B sebanyak 1.579 orang atau 2,58 2.58 percent, Officials in Echelon IV A/B amount to
persen, pejabat Eselon IV A/B sebanyak 7.841 orang 7,841 people, or 12.43 percent, Functional Officals of
atau 12,43 persen, pejabat Fungsional sebanyak 8,106 people, or 13.27 percent, Echelon V A Officials
8.106 orang atau sebesar 13,27 persen, pejabat of 867, or 1.42 percent, and staff of 44,185 people, or
Eselon V A sebanyak 867 atau sebesar 1,42 persen, 72.33 percent.
serta Pelaksana sebanyak 44.185 orang atau sebesar
72,33 persen.

BASED ON GENDER
Grafik 3.3 Komposisi SDM berdasarkan jabatan
Diagram 3.3.Composition of Human Resources Based on Position

Eselon Menteri Ministerial Echelon 2


I.A 10
I.B 4
II.A 183
II.B 16
III.A 1554
III.B 25
IV.A 7857
IV.B 249
V.A 867
Fungsional Functional 5504
Koordinator Coordinator 49
Pelaksana Executor 44185
Dipekerjakan Hired 484
Diperbantukan Employeed 102

0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000 45000 50000

Sumber : SIMPEG Source: SIMPEG

BERDASARKAN GENDER

Kementerian Keuangan berkomitmen untuk The Ministry of Finance is commited to applying


menerapkan kebijakan pembinaan pegawai yang a pro-gender development policy. From year to
pro-gender. Dari tahun ke tahun, jumlah pegawai year, the number of female employees continues
perempuan terus meningkat meski komposisinya to increase, even though the composition at the
saat ini masih lebih rendah dibandingkan jumlah current time is still lower than the quantity of male
pegawai pria. Pegawai pria di Kementerian employees. Male employees in the Ministry of
Keuangan sebanyak 46.286 orang atau sebesar 76 Finance amounted to 46,286 people, or 76 percent,
persen, sementara pegawai perempuan sebanyak while female employees comprised 14,805 people,
14.805 orang atau 24 persen. or 24 percent.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


74 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Pengembangan SDM melalui pendidikan dan Human Resource Development through education
pelatihan (diklat) merupakan salah satu hal yang and training (diklat) forms one aspect of great
sangat diperhatikan di Kementerian Keuangan. concern to the Ministry of Finance. There is an
Terdapat sebuah badan khusus yang bertanggung agency specifically responsible for Human Resource
jawab untuk pengembangan SDM di Kementerian Development, Financial Education and Training
Keuangan yakni Badan Pendidikan dan Pelatihan Agency (BPPK), which forms an Echelon I unit.
Keuangan (BPPK), yang merupakan sebuah unit
Eselon I.

Dalam melaksanakan diklat di bidang keuangan In implementing education and training in the field
negara, BPPK memiliki delapan unit Eselon II, of national finance, BPPK has also eight Echelon II
yaitu Sekretariat Badan, Pusdiklat Pengembangan units, namely the Secretariate Board, The Human
Sumber Daya Manusia (PSDM), Pusdiklat Anggaran Resource Development Centre for Education and
dan Perbendaharaan (AP), Pusdiklat Pajak, Pusdiklat Training (PSDM), The Treasury and Budget Centre
Bea dan Cukai (BC), Pusdiklat Keuangan Umum for Education and Training (AP), The Tax Centre for
(KU), Pusdiklat Kekayaan Negara dan Perimbangan Education and Training, The Customs and Excise
Keuangan (KNPK), serta Sekolah Tinggi Akuntansi Centre for Education and Training (BC), The General
Negara (STAN). Finance Centre for Education and Training (KU),
The Financial Balance and State Wealth Centre for
Education and Training (KNPK), andthe National
Accountancy Institute (STAN).

Bab 03 | Sumber Daya Manusia


Chapter 03 | Human Resources
75
Untuk menjangkau seluruh SDM Kementerian To reach all Ministry of Finance human resources
Keuangan di Indonesia, BPPK juga memiliki Balai throughout Indonesia, BPPK also Finance Education
Diklat Keuangan (BDK), sebuah unit Eselon III yang and Training Centres (BDK), anEselon III unit,
tersebar di 12 kota Indonesia. Kota yang memiliki distributed in 12 Indonesian cities. The cities with
BDK adalah Medan, Pekanbaru, Palembang, Cimahi, BDK areMedan, Pekanbaru, Palembang, Cimahi,
Yogyakarta, Magelang, Malang, Denpasar, Pontianak, Yogyakarta, Magelang, Malang, Denpasar, Pontianak,
Balikpapan, Makassar, dan Manado. Balikpapan, Makassar, and Manado.

BPPK juga melakukan koordinasi dengan unit Eselon BPPK also utilizes coordination with other Echelon
I lain untuk menyelenggarakan program diklat yang I units to provide education and training programs
sesuai dengan kebutuhan tugas dan fungsi masing- appropriate to the needs of each task and function.In
masing. Selama tahun 2012, BPPK sudah mendidik 2012, BPPK educated and trained 33,117employees
dan melatih 33.117 pegawai dan 6.743 mahasiswa and 6,743 National Accountancy Institute (STAN)
STAN (calon pegawai negeri sipil Kementerian students (Ministry of Finance civil servant
Keuangan) candidates).

PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PRAJABATAN PRE-EMPLOYMENT EDUCATION AND TRAINING

Kementerian Keuangan menyelenggarakandiklat The Ministry of Finance provides education and


sebelum pegawai diangkat menjadi Pegawai training before employees are appointed as Civil
Negeri Sipil (PNS) di Kementerian Keuangan.Diklat Servants in the Ministry of Finance. Pre-employment
prajabatan adalah diklat yang bertujuan untuk education and training includes education and
memberikan pengetahuan untuk pembentukan training aimed to provide knowledge to shape a
wawasan kebangsaan, kepribadian, dan etika PNS. national perspective, personality and civil servant
Diklat juga bertujuan memberikan pengetahuan ethics. Education and training is also aimed to provide
dasar tentang sistem penyelenggaraan basic knowledge about the government distribution
pemerintahan serta bidang tugas dan budaya system, fields of work, and organizational culture,
organisasi, sehingga mampu melaksanakan tugas to enable functions and tasks to be undertaken as
dan fungsinya sebagai pelayan masyarakat. Diklat community servants. Pre-employment education
Prajabatan merupakan syarat pengangkatan calon and training constitutes a requirement for civil
PNS untuk menjadi PNS. servant candidates to become civil servants.

PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DALAM JABATAN EMPLOYMENT EDUCATION AND TRAINING

Setelah menjadi PNS Kementerian Keuangan, After becoming Ministry of Finance civil servants,
pegawai terus dibekali dengan diklat. Diklat employees are continuously provided education
dalam jabatan bertujuan untuk mengembangkan and training. Employment education and training
pengetahuan, keterampilan, dan sikap PNS agar aims to develop knowledge, skills and attitudes of
dapat melaksanakan tugas pemerintahan dan civil servants, to enable optimal implementation
pembangunan dengan sebaik-baiknya. Terdapat of government tasks and development. There are
enam jenis diklat dalam jabatan, yaitu Pendidikan six types of employment education and training,
dan Pelatihan Kepemimpinan (Diklatpim), Diklat namely Leadership Education and Training
Fungsional (DF), Diklat Teknis (DT), Diklat Ujian Dinas (Diklatpim), Functional Education and Training (DF),
(DUD), Diklat Penyesuaian Ijazah, Diklat Penyegaran. Technical Education and Training (DT), Departmental
Exam Education and Training (DUD), Appropriate
Certification Education and Training, and Refresher
Education and Training.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


76 Annual Report of Ministry of Finance 2012
PENGEMBANGAN KAPASITAS SDM LAIN OTHER HUMAN RESOURCES CAPACITY DEVELOPMENT

Selain diklat, BPPK juga menyelenggarakan bentuk Other than Education and Training, BPPK also
pengembangan kapasitas SDM lain yang berupa provides other types of human resource capacity
seminar, workshop, diskusi, sarasehan, ujian development in the form of seminars, workshops,
sertifikasi, dan Placement Test TOEFL Preparation. discussions, certified exams, and TOEFL Preparation
Placement Tests.

PENDIDIKAN TINGGI KEDINASAN OFFICIAL INSTITUTE OF FURTHER EDUCATION

Pendidikan Tinggi Kedinasan (PTK) terdiri dari Official Institutes of Further Education (PTK) comprise
akademi, politeknik, dan sekolah tinggi yang of acadamies, polytechnics and institutes of further
diselenggarakan oleh kementerian atau lembaga education which are provided by ministries or non-
pemerintah non kementerian yang kualifikasinya ministerial governmental institutions, which do
belum dipenuhi oleh Perguruan Tinggi Negeri not yet fulfil the qualification of State College (PTN)
(PTN) atau Perguruan Tinggi Swasta (PTS). PTK di or Private College (PTS).The Official Institute of
Kementerian Keuangan diselenggarakan oleh STAN. Further Education (PTK) in the Mininstry of Finance
STAN menyelenggarakan program pendidikan untuk is provided bythe National Institute of Accountancy
menghasilkan SDM di bidang keuangan negara (STAN).STAN provides an education program and
dengan spesialisasi tertentu yang mempunyai produces human resources in the field of state
pengetahuan, keterampilan dan kemampuan,serta finance, particularly specializing in providing the
keahlian profesional dalam memenuhi kebutuhan knowledge, skills, abilities and professional expertise
pegawai. Selain itu juga untuk mencetak kader to fulfil employee needs, in addition to creating
pengelola keuangan negara di Kementerian government financial management cadre for the
Keuangan. Ministry of Finance.

Penyelenggaraan program pendidikan tinggi Official further education programs are not only
kedinasan tidak hanya diselenggarakan di kampus provided at the STAN campus, but also at several BDK,
STAN, tetapi juga beberapa Balai Diklat Keuangan particularly for the Diploma I program in Finance
(BDK), khususnya untuk program Diploma I Specializing in Customs and Excise. In 2012, a total
Keuangan Spesialisasi Kepabeanan dan Cukai. of 6,743 students participated in the PTK Program
Pada tahun 2012, total peserta Program PTK yang implemented by STAN. Details are as follows:
dilaksanakan oleh STAN sebanyak 6.743 mahasiswa.
Perinciannya sebagai berikut :

1) Program Diploma I Administrasi Perpajakan dan 1) Diploma I Program in Tax Administration


Kepabean dan Cukai sebanyak 1.587 mahasiswa; andCustoms and Excise, totaling 1,587 students;
2) Program Diploma III Kebendaharaan Negara, 2) Diploma III Program in State Treasury, Tax
Administrasi Perpajakan, Pengurusan Piutang Administration, Arranging the Auction of State
Lelang Negara, Pajak Bumi dan Bangunan, Liabilities, Building and Property Tax, Customs
Kepabeanan dan Cukai, dan Akuntansi and Excise, and Government Accountancy,
Pemerintahan sebanyak 4.320 mahasiswa; totaling 4,320 students;
3) Program Diploma III Kurikulum Khusus Akuntansi 3) Diploma III Program in Special Curriculum
Pemerintahan dan Administrasi Perpajakan Government Accountancy and Tax
sebanyak 393 mahasiswa; Administration, totaling 393 students;
4) Program Diploma IV Akuntansi Pemerintah 4) Diploma IV Program in Government
sebanyak 443 mahasiswa. Accountancy, totaling 443 students.

Bab 03 | Sumber Daya Manusia


Chapter 03 | Human Resources
77
Tabel 3.1 Pengembangan Kapasitas SDM yang diselenggarakan BPPK Tahun 2012
Table 3.1 Human resources capacity development organized by the Financial Education and Training Agency (BPPK) in 2012

Jumlah Peserta
No Jenis Diklat Type of Education and Training
Total Participants

1 Diklat Pengembangan Sumber Daya Manusia Human Resource Development Education & Training (PSDM) 3.815
2 Diklat Anggaran dan Perbendaharaan Treasury and Budget Education & Training (AP) 5.041

3 Diklat Pajak Tax Education & Training 13.169

4 Diklat Bea dan Cukai Customs and Excise Education & Training (BC) 3.756
5 Diklat Kekayaan Negara dan Pertimbangan Keuangan Financial Balance and State Wealth Education & Training (KNPK) 2.708
6 Diklat Keuangan Umum General Finance Education & Training (KU) 4.628
7 Diklat Program,Diploma Sekolah Tingi Akuntansi Negara Diploma Program from theNational Accountancy Institute (STAN) 6.743
Jumlah Total 39.860

Sumber : BPPK Source: BPPK

PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA di HUMAN RESOURCE DEVELOPMENT OUTSIDE


LUAR BPPK BPPK

Mengingat kebutuhan diklat yang sangat tinggi Bearing in mind that education and training needs
dan melampaui kapasitas BPPK, maka unit Eselon are very high and exceed the capacity of BPPK,
I di Kementerian Keuangan juga melaksanakan the Echelon I units of the Ministry of Finance also
pengembangan kapasitas pegawainya sendiri. undertake capacity building of their own employees.
Pengembangan kapasitas pegawai di unit Eselon This capacity building of Echelon I unit employees
I juga dilakukan karena kebutuhan yang sangat is also undertaken because of their very specific
spesifik dan mendesak bagi unit yang bersangkutan needs and is pressing for related units according to
sesuai tugas pokok dan fungsinya.Diklat yang main roles and functions. Education and training
dilaksanakan berupa pelatihan teknis, in-house undertaken are in the form of technical training,
training, dan diklat fungsional. in-house training and functional education and
training.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


78 Annual Report of Ministry of Finance 2012
SDM merupakan salah satu pilar penting dalam Human Resources form one of the important pillars
program reformasi birokrasi di Kementerian in the Ministry of Finance’s bureaucracy reform
Keuangan. Peran SDM semakin penting karena program. The role of human resources is increasingly
Kementerian Keuangan merupakanlembaga yang important because the Ministry of Finance is a very
sangat besar dengan tugas dan fungsi beragam large institution with a variety of roles and functions
dalam mengemban dan mengelola keuangan in holding and managing national finances. The
negara. Kementerian Keuangan membutuhkan SDM Ministry of Finance needs human resources of
yang memiliki integritas tinggi, profesional, mampu high integrity, professionalism, capable of synergy,
bersinergi, memberikan pelayanan terbaik, dan providing the best service and always striving
selalu menyempurnakan kemampuan diri. towards self-improvement.

Oleh karena itu, rekrutmen pegawai baru dan As a result, recruitment of new employees and
pengembangan kapasitas pegawai menjadi sangat capacity development of employees is extremely
penting. Rekrutmen bertujuan agar kebutuhan important. Recruitment aims to fulfil the short-,
pegawai Kementerian Keuangan dalam jangka medium- and long-term needs of the Ministry
pendek, menengah, dan panjang dapat dipenuhi of Finance according to the competencies and
sesuai kompetensi dan jumlah yang dibutuhkan quantity required, without sacrificing the principle
tanpa mengorbankan prinsip efisiensi. Tujuan of efficiency. An additional aim is to balance the
lainnya untuk mengimbangi dinamika perubahan dynamic of change in the strategic environment
lingkungan strategis Kementerian Keuangan. of the Ministry of Finance. At the same time,

Bab 03 | Sumber Daya Manusia


Chapter 03 | Human Resources
79
Sementara pengembangan kapasitas SDM ditujukan human resource capacity building aims to increase
untuk meningkatkan komptensi baik soft maupun competence, whether soft or hard skills.
hard skills.

Proses rekrutmen di Kementerian Keuangan diatur The Ministry of Finance recruitment process is
melalui ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor regulated through Government Regulation Number
98 Tahun 2000 tentang Pengadaan Pegawai Negeri 98, 2000, on Procurement of Civil Servants and the
Sipil sebagaimana telah diubah dengan Peraturan amendments in Government Regulation Number
Pemerintah Nomor 11 Tahun 2002. Peraturan ini 11, 2002. These regulations form the cornerstone
menjadi landasan dalam setiap kebijakan pengadaan of each policy on the procurement of Civil Servant
Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) atau pegawai di Candidates (CPNS), or employees in the Ministry of
lingkungan Kementerian Keuangan. Finance sphere.

Pada tahun 2012, proses rekrutmen CPNS In 2012, the Ministry of Finance Civil Servant
Kementerian Keuangan tetap dilaksanakan Candidate recruitment process continued, even
meski pemerintah memberlakukan moratorium though the government undertook a moratorium
penerimaan CPNS melalui Peraturan Bersama on Civil Servant Candidate recruitment through
Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara joint Regulation with the National Minister of State
dan Reformasi Birokrasi, Menteri Dalam Negeri dan Apparatus Reform and Bureaucratic Reform, Minister
Menteri Keuangan dengan Nomor 02/SPB/M.PAN- for the Interior, and Finance Minister, Number 02/
RB/8/2011; Nomor 800-632 Tahun 2011; Nomor 141/ SPB/M.PAN-RB/8/2011; Number 800-632, 2011;
PMK.01/2011. Number 141/PMK.01/2011.

Pemberlakuan moratorium CPNS merupakan Enforcement of the Civil Servant Candidate


upaya pemerintah untuk mengevaluasi dan moratorium was part of the government effort to
menata SDM di kementerian/lembaga (K/L) yang evaluate and arrange human resources within the
ada di Indonesia. Sistem ini dimaksudkan untuk existing ministries and institutions in Indonesia.
memperbaiki penghitungan kebutuhan pegawai This system is meant to improve calculations of the
di masing-masing K/L sekaligus mempersiapkan need for employees in each ministry/institution,
perbaikan sistem rekrutmen pegawai. Diharapkan, at the same time as preparing improvement of the
setiap K/L dapat menghitung kebutuhan pegawai employee recruitment system. It is hoped that each
dengan tepat dan sesuai dengan kebutuhannya ministry/institution will be to calculate the number
masing-masing, serta melakukan rekrutmen secara of employees required accurately, according to
profesional, transparan, dan terpercaya, serta bebas individual needs, and undertake recruitment
dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. professionally, transparently and trustworthily, as
well as free from corruption, collusion and nepotism.

Pelaksanaan rekrutmen CPNS di Kementerian Recruitment of Civil Service Candidates was still
Keuangan tetap dilaksanakan, karena dalam undertaken in the Ministry of Finance as under
peraturan itu juga disebutkan bahwa, penundaan the regulations it is also stated that: the temporary
sementara penetapan tambahan formasi untuk postponement of additional appointments in the
penerimaan CPNS dikecualikan bagi K/L yang formation of Civil Service Candidate acceptance is
membutuhkan PNS untuk melaksanakan tugas salah with the exception of those ministries/institutions
satunya untuk jabatan yang bersifat khusus dan that require Civil Servants to undertake roles such
mendesak atau memiliki ikatan dinas sesuai dengan as special or urgent positions, or those which are
peraturan perundang-undangan. connected to an agency according to the regulations
in the legislation.

Kementerian Keuangan merupakan instansi The Ministry of Finance is the first institute to fulfil
pertama yang memenuhi seluruh persyaratan yang all of the criteria stated by the Ministry of State
ditetapkan oleh Kementerian Pendayagunaan Apparatus Reform and Bureaucratic Reform to be
Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi untuk exempt from the aforementioned moratorium.
mendapatkan pengecualian dari moratorium The Ministry of Finance all of the requirements,

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


80 Annual Report of Ministry of Finance 2012
tersebut. Kementerian Keuangan menyerahkan namely Workload Analysis, Chart of Organizational
persyaratan yang diminta yaitu Analisa Beban Kerja, Structure, Five-Year Employee Projection, List of
Peta Jabatan, Proyeksi Pegawai per lima tahun, Daftar Exempt Positions and reasoning, and Explanation
Jabatan yang dikecualikan dan argumentasinya, serta for Employee Redistribution. As such, the Ministry
Penjelasan Redistribusi Pegawai. Dengan demikian of Finance was entitled to conduct employee
Kementerian Keuangan berhak melaksanakan recruitment in 2012.
rekrutmen pegawai tahun 2012.

Proses rekrutmen di Kementerian Keuangan The recruitment process in the Ministry of Finance
mempunyai regulasi khusus dengan mengadopsi has special regulations adopted from the closed
sistem karir tertutup sesuai yang berlaku di Indonesia. career system used in Indonesia. This means that a
Artinya, seseorang tidak dapat keluar masuk ke person cannot come and go within the bureaucratic
dalam birokrasi. Namun, tidak semua pegawai baru system. However, not all new employees fulfil
dapat memenuhi kriteria yang diinginkan sehingga the desired criteria, so new employee selection is
perlu seleksi pegawai baru. required.

Dalam rangka mendapatkan SDM berkualitas tinggi In order to aquire the necessary high quality human
sesuai dengan kebutuhan dan memiliki kompetensi resources with the expected competencies, the
yang diharapkan, proses rekrutmen terhadap process of recruitment of applicants is implemented
para pelamar dilaksanakan melalui seleksi yang through quality and weighted selection. There are
berkualitas dan berbobot. Untuk itu, ditetapkan several stages of selection decreed, which must
beberapa tahapan seleksi yang harus dilalui oleh be passed by all applicants. These stages start
para pelamar. Tahapan itu dimulai dari Seleksi from Administrative Selection, Basic Competency
Administrasi, Tes Kompetensi Dasar (TKD), Psikotes, Test (TKD), Psychotest, Health & Fitness Test (TKK),
Tes Kesehatan dan Kebugaran (TKK), hingga through to the interview stage which forms a test
wawancarayang merupakan tes yang disesuaikan appropriate to the role requirements and position.
dengan kebutuhan persyaratan tugas dan jabatan.

Tahapan Seleksi Administrasi diselenggarakan pada The Administrative Selection stage was arranged
tanggal 16 Juli hingga 28 Agustus 2012. Tahap ini from 16 July - 28 August 2012. Some 30,429 people
diikuti oleh 30.429 peserta dengan jumlah peserta participated in this stage, with a total of 14,078
yang lulus sebanyak 14.078 peserta (46,2 persen). participants (46.2 percent) succesfuly completing
Tahapan berikutnya adalah Tes Kompetensi Dasar this stage. The following stage was the Basic
(TKD), yang diselenggarakan pada tanggal 8 Competence Test (TKD), held on 8 September 2012.A
September 2012.TKD diikuti oleh 10.977 peserta total of 10,977 participants undertook this TKD test,
dengan jumlah peserta yang lulus sebanyak 1.082 with 1,082 (9.9 percent) of participants completing
(9,9 persen). Seleksi berlanjut dengan psikotes, the test successfully.The selection continued with
yang diselenggarakan pada 17 hingga 18 Oktober the psychotest from17-18 October 2012, joined by
2012 dan diikuti oleh 1.049 peserta dengan jumlah 1,049 participants, with 494 succesful candidates
peserta yang lulus sebanyak 494 (47,1 persen). (47.1 percent). At the Health and Fitness Test(TKK)
Pada tahap TKK yang diselengarakan pada tanggal from 6-8 November 2012, 479 participantsjoined
6 hingga 8 November 2012, sebanyak 479 peserta the test, with a total of 235succesful participants
mengikuti tes dengan jumlah peserta yang lulus (49.1 percent). The final stage was the interview, also
sebanyak 235 peserta (49,1 persen). Tahapan held from 6-8 November 2012, with 235 succesful
terakhir adalahwawancara pada tanggal 6 hingga 8 participants from a total of 350 applicants who
November 2012, terdapat 235 peserta yang lulus dari participated in the test, or 38.6 percent.
total 350 peserta yang mengikuti tes atau sebesar
38,6 persen.

Proses seleksi dilaksanakan di 7 kota besar yaitu: The selection process was undertaken in 7 major
Medan, Jakarta, Semarang, Surabaya, Makassar, cities, namely: Medan, Jakarta, Semarang, Surabaya,
Balikpapan, dan Jayapura. Adapun untuk Kota Makassar, Balikpapan, andJayapura. In Balikpapan,
Balikpapan, tidak dilakukan seleksi wawancara interview selection did not take place, as there were
karena tidak terdapat peserta untuk mengisi posisi no participants to fill the Category III position.
di Golongan III.

Bab 03 | Sumber Daya Manusia


Chapter 03 | Human Resources
81
Penyelenggaraan kegiatan rekrutmen pegawai The organization of Ministry of Finance employee
Kementerian Keuangan pada tahun 2012 sudah recruitment activities in 2012 went very well.
berjalan dengan sangatbaik. Total penerimaan CPNS Procurement of Ministry of Finance Civil Servant
Kementerian Keuangan jalur umum sebanyak 235 Candidates through the public stream totaled
orang. Berdasarkan hasil Survei Persepsi Pelamar 235 people.Based on the results of the Applicant
kepada peserta yang lulus seleksi, 97,9 persen Perception Survey, 97.9 percent of the applicants who
menyatakan proses rekrutmen Kementerian succesfuly completed the selection process stated
Keuangan bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme the the Ministry of Finance recruitment process
(KKN). Sebanyak 2,1 persen sisanya menyatakan was free from corruption, collusion and nepotism
ragu-ragu, tetapi tidak dapat memberikan bukti (KKN). The remaining 2.1 percent stated they were
telah terjadi praktik KKN. Kepercayaan masyarakat uncertain, but were unable to provide any proof of
tersebut perlu dijaga dengan selalu meningkatkan malpractice. Public trust needs to be safeguarded
kualitas sistem rekrutmen di Kementerian Keuangan through continual quality-improvement of the
agar putra-putri terbaik bangsa dapat bergabung Ministry of Finance recruitment system, in order
bersama Kementerian Keuangan membangun that the country’s finest younger generation join the
bangsa. Ministry of Finance to develop the nation.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


82 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Pengelolaan kinerja merupakan salah satu mata Performance management is an important
rantai penting dalam proses Reformasi Birokrasi link in the process of Bureaucratic Reform and
dan Transformasi Kelembagaan di Kementerian Organizational Transformation in the Ministry of
Keuangan. Untukmembangun organisasi dengan Finance. To develop the organization with a high
kinerja yang tinggi, maka pembangunan regulasi level of performance, then developing performance
dan perangkat pengelolaan kinerja merupakan management regulations and devices is an absolute
prasyarat mutlak.Suatu hal yang sangat penting bagi prerequisite. A particularly important aspect for
organisasi adalah dapat mentransmisikan kebijakan the organization is how to transmit the policies
dan strategi organisasi yang sudah digariskan and organizational strategies, which have already
menjadi kegiatan operasional yang sukses. been outlined, to become successful operational
Menyadari rumitnya hal tersebut, Kementerian activities. In awareness of how complicated this is,
Keuangan menyusun suatu sistem pengelolaan the Ministry of Finance has arranged a performance
kinerja yang mampu menjaga derap langkah management system capable of safeguarding each
organisasi dari jajaran tertinggi sampai dengan level level of organization, ranging from the highest down
pelaksana. to the operational level.

Pelaksanaan pengelolaan kinerja di lingkungan Performance Management implementation in


Kementerian Keuangan yang menggunakan metode the Ministry of Finance sphere uses a balanced
balanced scorecard telah dirintis secara bertahap scorecardmethod, pioneered in stages since
sejak tahun 2007. Seiring dengan berkembangnya 2007. Concurrent with developing performance

Bab 03 | Sumber Daya Manusia


Chapter 03 | Human Resources
83
kebutuhan akan pengelolaan kinerja, Menteri management needs, the Ministry of Finance
Keuangan menetapkan Keputusan Menteri established the Ministry of Finance Decree Number
Keuangan Nomor 454/KMK.01/2011 tentang 454/KMK.01/2011 on Performance Management
Pengelolaan Kinerja di Lingkungan Kementerian in the Ministry of Finance Sphere, subsequently
Keuangan yang selanjutnya disebut “Pengelolaan referred to as “Ministry of Finance Performance
Kinerja Kementerian Keuangan”. Management”.

Pada tahun 2012, pengelolaan kinerja Kementerian In 2012, Ministry of Finance performance
Keuangan telah selesai dibangun sampai ke management completed development to the
level individu untuk seluruh jajaran Kementerian individual level for all strata of Ministry of Finance
Keuangan, yaitu dengan ditandatanganinya employees through the signing of Performance
Kontrak Kinerja oleh seluruh pegawai. Untuk Contracts by all employees.To optimize the
mengoptimalkan pelaksanaan Pengelolaan implementation ofMinistry of Finance performance
Kinerja Kementerian Keuangan, Menteri Keuangan management, The Minister of Finance published
menerbitkan Instruksi Menteri Keuangan Nomor Ministerial Instruction Number 11/IMK.01/2012
11/IMK.01/2012 tentang Diseminasi Pengelolaan on Dissemination of Performance Management in
Kinerja di Lingkungan Kementerian Keuangan yang the Ministry of Finance sphere, which obliges the
mewajibkan penunjukan trainers di setiap unit Eselon nomination of trainers in each Echelon I unit. These
I. Para trainers telah dibekali workshop pengelolaan trainers have been equipped through performance
kinerja dan disiapkan untuk melakukan diseminasi management workshops and prepared to undertake
tentang Pengelolaan Kinerja Kementerian Keuangan dissemination on Ministry of Finance Performance
kepada seluruh pegawai di unit kerja masing-masing. Management for all employees in their individual
work units.

Untuk mendukung Pengelolaan Kinerja Kementerian To support Ministry of Finance Performance


Keuangan, sepanjang tahun 2012 telah dilakukan Management, dissemination of performance
diseminasi pengelolaan kinerja yang terdiri dari: management for the duration of 2012 comprised of:

1. Sosialisasi 1. Socialisation
a. Sebanyak 14 kali kegiatan sosialisasi yang a. 14 socialisation activities in the form of
merupakan inisiatif unit-unit Eselon I telah Echelon I unit to unit initiatives, undertaken
dilaksanakan pada bulan Oktober 2011 from October 2011 - March 2012;
sampai dengan Maret 2012;
b. Sosialisasi terhadap 1.884 pegawai di b. Socialisation for 1,884 employees in nine
sembilan kota pada bulan Februari sampai cities from February - March 2012;
dengan Maret 2012;
c. Sosialisasi terhadap 18.180 pegawai yang c. Socialisation for 18,180 employees,
dilakukan oleh para trainers di unit-unit undertaken by trainers in Echelon I units
Eselon I pada bulan Februari sampai dengan from February-Juli 2012.
Juli 2012.

2. Workshop Pengelolaan Kinerja Tahap II 2. Stage II Performance Management Workshops


Kegiatan ini merupakan lanjutan dari workshop This activity is a continuation of the stage
pengelolaan kinerja tahap I yang dilakukan I performance management workshops
pada akhir tahun 2011 dengan total 130 peserta. undertaken at the end of 2011, with a total
Workshop tahap II dilaksanakan pada bulan of 130 participants. Stage II workshops were
Februari 2012 di Jakarta dan dihadiri oleh 172 undertaken in February 2012 in Jakarta and were
peserta dari unit-unit Eselon I Kementerian attended by 172 participants from Ministry of
Keuangan. Finance Echelon I units.

3. Survei Pengelolaan Kinerja 3. Performance Management Survey


Survei Pengelolaan Kinerja di Lingkungan The Survey of Performance Management in the
Kementerian Keuangan merupakan bentuk Ministry of Finace Sphere is a form of monitoring

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


84 Annual Report of Ministry of Finance 2012
pengawasan sekaligus evaluasi atas pelaksanaan and evaluation of the implementation of
Pengelolaan Kinerja. Survei dilaksanakan pada Performance Management. The survey was
tanggal 1 hingga 23 Oktober 2012 di 11 kota, undertaken from 1- 23 October 2012 in 11 cities,
dengan melibatkan 1.939 responden dari pejabat involving1,939 respondents from Echelon II –
Eselon II sampai IV, pejabat Fungsional, serta IV officials, Functional Officials, and staff in the
pelaksana di lingkungan Kementerian Keuangan. Ministry of Finance sphere.The survey results
Hasil survei menunjukkan, pengelolaan kinerja show that Ministry of Finance Performance
Kementerian Keuangan berada pada tingkat 3 Management is at level 3 (defined) from a scale
(defined) dari skala 5 tingkatan. of 5 levels.

Tahun 2012 juga merupakan babak baru bagi 2012 was also the start of a new chapter in
pengelolaan kinerja di lingkungan Kementerian performance management in the Ministry of
Keuangan dengan diluncurkannya aplikasi web Finance sphere, with the launch of a performance
pengelolaan kinerja bernama e-performance management web application namede-
pada situs www.e-performance.depkeu.go.id. performanceon the sitewww.e-performance.
Pembuatan aplikasi ini bertujuan menunjang depkeu.go.id. The creation of this application
efisiensi dan efektivitas pelaksanaan Pengelolaan was aimed to bolster efficiency and effective
Kinerja Pegawai Kementerian Keuangan. implementation of Ministry of Finance Employee
Performance Management.

Pada fase pertama (Januari-Juni 2012) telah In the first phase (Januari-Juni 2012), a
dikembangkan secara in house aplikasi performance management application was
pengelolaan kinerja yang mampu menangani developed in house, with the capability of
core system, meliputi penyusunan sasaran handling the core system, covering strategic
strategis, kontrak kinerja dan cascading Indikator target organization, performance contract and
Kinerja Utama (IKU), penilaian kinerja (Capaian cascading Key Performance Indicators (IKU),
Kinerja Pegawai) dan proses pengukuran Nilai performance value (Employee Performance
Perilaku (NP) serta akhirnya menyusun Nilai Achievement) and the Behaviour Value (NP)
Kinerja Pegawai (NKP). Laporan modul serta measurement process as well as finaly creating
pengawasan sudah dikembangkan juga dengan an Employee Performance Value (NKP). Module
fitur-fitur inti tersebut.Pada fase kedua, fitur reports and supervision have been developed
tambahan dan menu untuk pengelolaan kinerja with these key features. In the second phase,
pegawai yang mutasi akan dikembangkan agar additional features and a menu for changing
dapat menampung semua kebutuhan pengguna employee performance managementwill be
(user). developed to accommodate the needs of all
users.

Survei pengelolaan kinerja menunjukkan bahwa The performance management survey showed
secara umum, implementasi pengelolaan that, in general, employee performance
kinerja pegawai telah on the right track.Namun, management is on the right track.However,
pengelolaan kinerja Kementerian Keuangan Ministry of Finance performance management
merupakan proses berkelanjutan yang masih is an ongoing process which still needs to
memerlukan penyempurnaan. Penyempurnaan be perfected. Improvement includes the
meliputi kelengkapan peraturan yang lebih completion of more comprehensive regulations
komprehensif dan sesuai dengan kebijakan in line with national policy, information
nasional, infrastruktur informasi teknologi, technology infrastructure, applicantions, and
aplikasi, dan yang paling penting pemberian most importantly, provision of knowledge for all
knowledge bagi seluruh jajaran pegawai tentang levels of employees regarding the process and
proses dan pentingnya pengelolaan kinerja. importance of performance management.

Bab 03 | Sumber Daya Manusia


Chapter 03 | Human Resources
85
Sesuai dengan falsafah man behind the gun, roda According to the philosophy of the man behind
organisasi sangat tergantung pada perilaku- the gun, the wheels of an organization are heavily
perilaku SDM yang bekerja di dalamnya. Terkait hal dependent on the behavior of the human resources
ini, disiplin SDM menjadi penting untuk menjamin who work there.Linked to this, human resource
segala peraturan organisasi ditaati dan dilaksanakan discipline is important in order to guarantee that
atas dasar kesadaran diri dalam mencapai tujuan all organizational regualations are obeyed an
organisasi. Upaya peningkatan disiplin untuk implemented consciously to achieve the aims of
mendorong produktivitas SDM Kementerian the organization. The Ministry of Finance’s efforts
Keuangan selama ini dijalankan melalui pengawasan to improve discipline in order to support human
dan penegakan disiplin SDM. Bagian dari program resource productivity have been undertaken so
reformasi birokrasi itu akan terus digulirkan untuk far through human resource supervision and
menjaga perilaku dan memastikan disiplin kerja enforcement of discipline.Part of that bureaucratic
SDM serta meminimalisasi berbagai penyelewengan reform process is continual rolling, to protect
dan pelanggaran, termasuk tindakan korupsi oleh behavior and ensure discipline of human resources,
aparatur di lingkungan Kementerian Keuangan. as well as minimalise various misappropriation
and transgressions, including corruption, by the
apparatus in the Ministry of Finance sphere.

1. Penetapan Kode Etik dan Pemantauan 1. Defining a Code of Ethics and Monitoring its
Penerapannya Implementation

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


86 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Untuk meningkatkan, mengaplikasikan, dan To remind, apply, and uphold discipline of
menegakkan disiplin SDM di lingkungan human resources in the Ministry of Finance
Kementerian Keuangan, diterbitkan PMK Nomor sphere, Finance Minister Regulation Number
29/PMK.01/2007 sebagaimana telah diubah 29/PMK.01/2007 and amendment Number
dengan PMK Nomor 71/PMK.01/2007 tentang 71/PMK.01/2007 regarding Guidance for the
Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Increase of Civil Servant Discipline in the Ministry
Sipil di Lingkungan Departemen Keuangan. of Finance Sphere were published. These
PMK tersebut mewajibkan setiap unit Eselon Ministry of Finance Regulations (PMK) oblige
I Kementerian Keuangan menyusun kode etik each Ministry of Finance Echelon I unit to create
pegawai negeri sipil yang disesuaikan dengan a code of ethics for civil servants, according to
karakteristik masing-masing unit. Saat ini, kode the characteristics of each unit. At this point in
etik 12 unit Eselon I telah ditetapkan sejalan time, the code of ethics of 12 Echelon I units have
dengan PMK tersebut. Selain itu, Kementerian been set in accordance with the aforementioned
Keuangan juga membentuk majelis kode Ministry of Finance Regulations. Furthermore,
etik yang akan memeriksa pelanggaran kode the Ministry of Finance has also formed a code
etik, sebagaimana diatur dalam PMK No. 72/ of ethics board, which will inspect violations of
PMK.01/2007 tentang Majelis Kode Etik di the code of ethics, as regulated under PMK No.
lingkungan Kementerian Keuangan. 72/PMK.01/2007 on Code of Ethics Board in the
Ministry of Finance Sphere.

Pemantauan penerapan kode etikdan penegakan Monitoring implementation of the code of


disiplin SDM dilakukan secara simultan di unit ethics and establishment of discipline amongst
Eselon I Kementerian Keuangan. Beberapa human resources is undertaken simultaneously
Eselon I telah memiliki unit yang menjalankan in Ministry of Finance Echelon I units. Several
peran tersebut, antara lain Inspektorat Bidang Echelon I have units that undertake this role,
Investigasi di Itjen, Direktorat Kepatuhan Internal including the Investigation Sector of the
dan Transformasi Sumber Daya Aparatur di DJP, General Inspectorate, the Internal Conformity
Unit Kepatuhan Internal pada Kantor Pelayanan and Apparatus Resource Directorate in
Utama DJBC, serta Unit Kepatuhan Internal the Directorate General of Tax, the Internal
(UKI) di unit Eselon I lainnya yang sedang dalam Conformity Unit of the Main Service Office of the
proses pembentukan. Directorate General of Customs and Excise, and
the Internal Conformity Unit of other Echelon I
units which are still being formed.

2. Internalisasi Nilai-nilai Kementerian Keuangan 2. Internalisation of Ministry of Finance Values

Nilai-nilai Kementerian Keuangan sebagaimana The values of the Ministry of Finance as defined
telah ditetapkan dalam KMK Nomor 312/ in Finance Minister Decree (KMK) Number 312/
KMK.01/2011, yaitu Integritas, Profesionalisme, KMK.01/2011, namely Integrity, Professionalism,
Sinergi, Pelayanan, dan Kesempurnaan, tak Synergy, Service, and Excellence, do not stop at
hanya berhenti pada tahapan pencetusannya the level of instigation.The Minister of Finance,
saja. Menteri Keuangan sebagai pelopor dan as the pioneer and initiator of the concept of
inisiator dari gagasan nilai-nilai Kementerian these Ministry of Finance values, appealed that
Keuangan mengimbau agar agar nilai-nilai these values should be internalized by each
ini diinternalisasikan ke seluruh pegawai Ministry of Finance employee, so that they can
Kementerian Keuangan agar dapat dipahami, be understood, internalized, and applied in daily
dihayati, dan diterapkan dalam pekerjaan work.
keseharian.

Seluruh unit Eselon I telah melakukan All Echelon I units have internalized the Ministry
internalisasi nilai-nilai Kementerian Keuangan of Finance values to all employees during
kepada seluruh pegawainya selama tahun 2012. The most general form of internalization
2012. Bentuk internalisasi yang paling umum undertaken was outbound and/or capacity
dilakukan adalah outbond dan/atau capacity building. Internalizing Ministry of Finance values

Bab 03 | Sumber Daya Manusia


Chapter 03 | Human Resources
87
building. Internalisasi nilai-nilai Kementerian is continuously undertaken in the hope that
Keuangan terus dilakukan dengan harapan all employees come to embody the corporate
seluruh pegawai dapat menjiwai corporate values and apply them in their daily work, so
value dan mengaplikasikannya dalam pekerjaan that work discipline is supported in providing
sehari-hari sehingga menjadi pendorong disiplin service to society and Ministry of Finance key
kerja dalam melakukan pelayanan kepada stakeholders.
masyarakat dan para pemangku kepentingan
Kementerian Keuangan.

3. Sosialisasi anti korupsi 3. Socialisation ofAnti-Corruption

Upaya pencegahan dan pemberantasan Corruption prevention and eradication efforts


korupsi terus dilakukan di Kementerian are continuously undertaken in the Ministry of
Keuangan, antara lain dalam bentuk sosialisasi Finance, one form of which is thesocialisation of
pencegahan korupsi. Kegiatan ini dilaksanakan corruption prevention. This activity is undertaken
untuk menumbuhkan sikap tidak korupsi para in order to develop a non-corrupt attitude in
pegawai/pejabat dan mendorong keberanian employees/officials and support having the
melaporkan pelanggaran (whistleblowing) di courage to report violations (whistleblowing) in
lingkungan Kementerian Keuangan. the Ministry of Finance sphere.

Kegiatan sosialisasi telah dilaksanakan sejak Socialisation activities have been implemented
tahun 2011 (10 kegiatan), dan terus berlanjut since 2011 (10 activities), and continued in
pada tahun 2012 sebanyak 17 kali sosialisasi di 2012 with 17 socialisation activities in several
berbagai kota besar di Indonesia, antara lain: major Indonesian cities, including: Jakarta,
Jakarta, Medan, Surabaya, Makassar, Balikpapan, Medan, Surabaya, Makassar, Balikpapan, Batam,
Batam, Serang, Pekanbaru, Banda Aceh, dan Serang, Pekanbaru, Banda Aceh, and Mataram.
Mataram. Materi sosialisasi meliputi: Korupsi The material sosialised covered: corruption and
dan Pencegahannya, Peran Itjen Dalam Kegiatan prevention, the role of the General Inspectorate
Pencegahan dan Penindakan Korupsi, PP Nomor in corruption prevention and action, Government
53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Regulation (PP) Number 53, 2010 on Civil Servant
Sipil, dan Whistleblowing System (WISE). Discipline and the Whistleblowing System
(WISE).
4. Kewajiban penyampaian LHKPN
4. Obligation to submit Government Officials’ Asset
Report (LHKPN)
Kementerian Keuangan telah menerbitkan KMK
Nomor 38/KMK.01/2011 tentang Penyelenggara The Ministry of Finance has published a
Negara di Lingkungan Kementerian Keuangan Finance Ministerial Decree(KMK) Number 38/
yang Wajib Menyampaikan Laporan Harta KMK.01/2011 on Government Officials in the
Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN). KMK Ministry of Finance Sphere who are Obliged
ini tidak hanya membatasi pejabat/pegawai to Submit a Government Officals’ Asset Report
yang berkewajiban untuk menyampaikan LHKPN (LHKPN). This Decree not only limits officials/
pada Penyelenggara Negara sebagaimana employees who are required to submit a State
didefinisikan dalam pasal 2 Undang-Undang Officials’ Wealth Report to the Government
Nomor 28 tahun 1999, melainkan kepada Officials as defined in article 2, Act No. 28, 1999,
pejabat/pegawai lain yang memiliki posisi/peran but to other officials/employees who hold a
strategis dalam melaksanakan tugasnya mereka strategic position/role in implementing their
antara lain: Pejabat Pembuat Komitmen, Panitia tasks, including: Commitment Creation Officials,
Pengadaan Barang dan Jasa, Bendahara, dan Goods and Services Procurement Committee,
Pejabat Fungsional Auditor. Melalui KMK ini, Treasurer, and Functional Officials’ Auditor.
Kementerian Keuangan memperluas cakupan Through this Decree, the Ministry of Finance has
kewajiban pelaporan LHKPN bagi pegawai yang extended the scope of those required to submit an
semula berjumlah 7.442 orang menjadi 24.808 LHKPN report from the original quantity of 7,442
orang (naik 333,335 persen). to 24,808 people (anincrease of 333.335 percent).

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


88 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Berdasarkan data aplikasi LHKPN KPK per 5 Based on Corruption Eradication Committee
Maret 2013, dari 24.705 orang wajib LHKPN di (KPK) data, LHKPN applications per 5 March
lingkungan Kementerian Keuangan, sejumlah 2013, from a total of 24,705 people required
24.430 orang telah menyampaikan LHKPN to submit LHKPN reports in the Ministry of
(98,89 persen). Kementerian Keuangan terus Finance sphere, some 24,430 have submitted the
memantau penyampaian LHKPN di lingkungan report (98.89 percent). The Ministry of Finance
Kementerian Keuangan serta mengingatkan continually monitors the submission of LHKPN in
pengenaan sanksi bagi pegawai negeri yang the Ministry of Finance sphere and increase the
tidak menyampaikan LHKPN sesuai ketentuan. imposition of sanctions for civil servants who fail
to submit LHKPN according to the requirements.

5. Kewajiban Penyampaian LP2P dan DHK 5. Obligation to Submit a Personal Tax Report
(LP2P) andAsset Register (DHK)
Kementerian Keuangan melalui KMK Nomor The Ministry of Finance, through Finance
07/KMK.09/2011 sebagaimana telah diubah Ministerial Decree (KMK) Number 07/
dengan KMK Nomor 366/KMK.09/2012 tentang KMK.09/2011 and amendment KMK Number 366/
Perubahan atas Keputusan Menteri Keuangan KMK.09/2012 on Changes in Finance Minister
Nomor 7/KMK.09/2011 Tentang Penyampaian Decree Number 7/KMK.09/2011 on Submission
dan Pengelolaan Laporan Pajak-Pajak Pribadi and Management of Personal Tax Report (LP2P)
(LP2P) Pejabat/Pegawai di Lingkungan for Officials/Employees in the Ministry of Finance
Kementerian Keuangan, mewajibkan para schere, requires all officials/employees of at least
pejabat/pegawai yang memiliki golongan category III/a or officials/employees connected
minimal III/a atau para pejabat/pegawai to public service to submit a Personal Tax Report
yang terkait dengan pelayanan publik untuk and Asset Register.
menyampaikan LP2P beserta Daftar Harta
Kekayaan (DHK).

Untuk menguji kebenaran pelaporan dan To test the accuracy of reports and acquisition
perolehan atau kepemilikan harta secara wajar or ownership of wealth reasonably, examination
dilakukan eksaminasi atas LP2P dan DHK yang of Personal Tax Reports and Asset Registers
telah disampaikan. Selama tahun 2011 telah submitted was undertaken. In 2011, examination
dilakukan kegiatan eksaminasi terhadap 50 of 50 employees was undertaken, while in 2012
pegawai, dan tahun 2012 telah dilakukan some 90 employees were examined.
kegiatan eksaminasi terhadap 90pegawai.

6. MoU Kementerian Keuangan dengan Instansi 6. Ministry of Finance MoU with Law Enforcement
Penegak Hukum Agencies

Untuk mewujudkan kerjasama dalam To achieve partnership in eradicating corruption


pemberantasan korupsi dan penegakan hukum, and law enforcement, the Ministry of Finance
Kementerian Keuangan telah menandatangani has signed Memorandum of Understanding/
Nota Kesepahaman (Memorandum of MoU with Law Enforcement Agencies (Republic
Understanding/MoU) dengan instansi-instansi of Indonesia National Police and Republic of
penegak hukum (Kepolisian Negara RI dan Indonesia Attornies), namely:
Kejaksaan RI), yaitu :

a) MoU antara Kementerian Keuangan dengan a) MoU between the Ministry of Finance and
Kepolisian Negara RI pada tanggal 8 Maret Republic of Indonesia National Police on 8
2012 ; March 2012;
b) MoU antara Kementerian Keuangan dengan b) MoU between the Ministry of Finance and
Kejaksaan RI pada tanggal 5 April 2012. Republic of Indonesia Attornies on 5 April
2012.

Bab 03 | Sumber Daya Manusia


Chapter 03 | Human Resources
89
Dalam rangka pencegahan dan pemberantasan With the aim of corruption eradication and
korupsi, Itjen sebagai unit pengawas semua prevention, the Inspectorate General as the
unsur di lingkungan Kementerian Keuangan supervisory unit for all elements in the Ministry
juga telah menandatangani Nota Kesepahaman of Finance sphere has also signed MoU with the
dengan KPK dan PPATK, yaitu : Corruption Eradication Committee (KPK) and the
Indonesian Financial Transaction Reports and
Analysis Center (PPATK), namely:

a) MoU antara Itjen dengan KPK pada tanggal a) MoU between the Inspectorate General and
18 Februari 2005; KPKon 18 February 2005;

b) MoU antara Itjen dengan PPATK pada tanggal b) MoU between the Inspectorate General and
12 Januari 2007. PPATKon 12 January 2007.

7. Optimalisasi peran Inspektorat Bidang 7. Optimizing the role of the Field Investigation
Investigasi Inspectorate

Inspektorat Bidang Investigasi (IBI) merupakan The Field Investigation Inspectorate (IBI) is an
unit investigasi pada Itjen yang dibentuk investigation unit of the Inspectorate General,
sebagai upaya penegakan disiplin di lingkungan which was formed as an effort to enforce
Kementerian Keuangan.Selama tahun 2012, IBI discipline in the Ministry of Finance sphere. For
melaksanakan kegiatan sosialisasi pencegahan the duration of 2012, IBI undertook corruption
korupsi, pengumpulan bahan dan keterangan eradication socialization activities, collection
(PULBAKET),eksaminasi harta kekayaan, of materials and information, examination of
pelaksanaan audit investigasi, serta kegiatan assets, implementation of audit investigations,
terkait lainnya. and other related activities.

Untuk menindaklanjuti hasil pemeriksaan To further the investigation results to be


investigasi agar dapat diproses secara hukum, processed under law, the Inspectorate General
Itjen telah melakukan pelimpahan kasus undertook devolution of cases resulting from
hasil pemeriksaan investigasi kepada instansi investigations to law enforcement agencies
penegak hukum (Kepolisian Negara RI dan Komisi (national police and the Corruption Eradication
Pemberantas Korupsi) karena adanya unsur Committee) because of the criminal element of
tindak pidana korupsi. Itjen telah melimpahkan corruption.The Inspectorate General devolved
kasus kepada instansi penegak hukum sebanyak five cases to the law enforcement agencies in
lima kasus pada tahun 2011, dan tiga kasus pada 2011, and threein 2012.
tahun 2012.

8. Penjatuhan hukuman disiplin 8. Imposition of disciplinary sanctions

Sebagai bentuk tindakan penegakan disiplin As a sign of action of enforcement of discipline and an
dan upaya pembinaan pegawai, sejumlah effort to develop employees, a number of employees
pegawai telah dijatuhi hukuman disiplin sesuai had disciplinary sanctions imposed, in accordance
dengan PP Nomor 53 Tahun 2010 tentang with Government Regulation Number 53, 2010 on
Disiplin PNS. Hukuman disiplin dijatuhkan Civil Servant Discipline. Disciplinary sanctions are
karena pegawai yang bersangkutan terbukti imposed after the relevant employee is proven guilty
bersalah melakukan penyimpangan dan atau of a deviation and/or misuse of authority related to
penyalahgunaan wewenang terkait tugas dan their role and position. Other than that, disciplinary
jabatannya. Selain itu, penjatuhan hukuman sanctions are also imposed on employees who have
disiplin telah pula dilakukan terhadap pegawai faced disciplinary action in observing working hours
yang telah melakukan tindakan indisipliner (absence), as defined in Finance Minister Regulation
terkait tata tertib jam kerja (kehadiran) (PMK) Number 41/PMK.01/2011 on Establishing
sebagaimana ditetapkan dalam PMK Nomor Discipline in Relation to the Provision of Special State
41/PMK.01/2011 tentang Penegakan Disiplin Funded Development Allowance for Cicil Servants in

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


90 Annual Report of Ministry of Finance 2012
dalam Kaitannya dengan Pemberian Tunjangan the Ministry of Finance Sphere, and violation of other
Khusus Pembinaan Keuangan Negara Kepada employment related regulations.
Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Kementerian
Keuangan, serta pelanggaran atas peraturan
terkait kepegawaian lainnya.
Based on investigation results, 137 employees were
Berdasarkan hasil pemeriksaan investigasi, recommended for disciplinary sanctions during the
terdapat 137 pegawai yang direkomendasikan 2011 and 2012 period. From this total, 75 employees
untuk mendapatkan hukuman disiplin selama had disciplinary sanctions imposed. Details of the
kurun waktu 2011 dan 2012. Dari jumlah itu, disciplinary actions imposed are as shown below.
sebanyak 75 pegawai telah dijatuhi hukuman
disiplin. Penjatuhan hukuman disiplin secara
terperinci disajikan sebagai berikut.

Tabel 3.3. Hukuman Disiplin Pegawai di Lingkungan Kementerian Keuangan Tahun 2011 dan 2012
Table 3.3. Employee Disciplinary Action in the Ministry of Finance Sphere 2011 and 2012

Hukdis Berat Hukdis Sedang Hukdis Ringan Jumlah


Tahun Heavy Sanctions Medium Sanctions Light Sanctions Total
Year
Rek/Rec TL /Imp Rek/Rec TL /Imp Rek/Rec TL /Imp Rek/Rec TL /Imp Blm TL
2011 47 27 29 18 35 30 111 75 36
2012 12 0 7 0 7 0 26 0 26
Jumlah Number 59 27 36 18 42 30 137 75 62
Sumber : Itjen Source: Inspectorate General
t3FD3FDPNNFOEFEGPSEJTDJQMJOBSZTBODUJPOT 
t*NQEJTDJQMJOBSZTBODUJPOTJNQPTFE

Bab 03 | Sumber Daya Manusia


Chapter 03 | Human Resources
91
Satu hal penting lainnya terkait pengelolaan SDM Another important point related to human resource
adalah kepuasan kerja. Kepuasan kerja diyakini management is job satisfaction. It is believed that
dapat mendorong dan mempengaruhi semangat job satisfaction can support and influence employee
kerja pegawai. Tingginya kepuasan kerja pegawai spirits. High employee job satisfaction is hoped to
diharapkan dapat berimplikasi secara positif baik have a positive implication on employee productivity
terhadap produktivitas pegawai itu sendiri maupun itself, as well as the organization as a whole.
organisasi secara keseluruhan.

Kementerian Keuangan memberi perhatian lebih The Ministry of Finance pays particular attention
akan hal kepuasan kerja. Untuk mengetahui sejauh to the issue of job satisfaction.In order to discover
mana kepuasan serta ekspektasi yang dirasakan how far satisfaction and expectations are felt by
oleh pegawai Kementerian Keuangan atas kondisi Ministry of Finance employees regarding human
Tata Kelola SDM dan Organisasi Kementerian resource management conditions and Ministry of
Keuangan, selama Oktober hingga November 2012 Finance organization, from October to November
telah dilakukan Survei Kepuasan Pegawai secara 2012 an online Employee Satisfaction Survey was
online dengan jumlah responden sebanyak 38.894. undertaken, with 38,894 respondants.In addition, in
Selain itu dilakukan pula in depth interview pada 10 depth interviews were carried out for 10 respondants
orang responden terpilih dari 5 kota besar yaitu: chosen fromfive major cities, namely: Medan,
Medan, Balikpapan, Makassar, Surabaya, dan Batam. Balikpapan, Makassar, Surabaya, and Batam. The

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


92 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Hasil survei ini dapat memberikan umpan balik dan results of these surveys provided feedback and input
masukan untuk peningkatan kepuasan kerja SDM di to increase job satisfaction of human resources in the
lingkungan Kementerian Keuangan. Ministry of Finance sphere.

Dari hasil survei kepuasan pegawai tersebut, dengan From the results of these employee satisfaction
menggunakan skala likert 1–5, diperoleh indeks surveys, using the likert 1–5 scale, a Ministry of
kepuasan pegawai Kementerian Keuangan sebesar Finance employee satisfaction index of 3.39 was
3,39 (dari target sebesar 3,04) atau dalam kategori obtained (from a target ofr 3.04), or in the category
“Puas”. Perincian nilai indeks hasil survei kepuasan of “Satisfied”. Details of the employee satisfaction
pegawai disajikan per unit Eselon I dapat dilihat survey index value results per Echelon I unit can be
pada Grafik 3.4. seen in Figure 3.4.

Graphic 3.4 Nilai Indeks Kepuasan Pegawai tahun 2012


Figure 3.4. Index Value of Employee Satisfaction 2012

3,6
3,53 3,52
3,5
3,44
3,42
3,39
3,4 3,38
3,32 3,33
3,3 3,21
3,25

3,2 3,18
3,19
3,13
3,1

2.9
u nce n eral en eral DJA dget DJP f Tax JBC xcise JPB asury KN ssets JPK lance JPU ment -LK ions cy KF oard PPK ency
e nkef Fina Itjee Gen Setj y Gen Bu lo D dE D re DN e A D l Ba D ge am itut en B es B B Ag
of era n fT t a ep al Inst ry Ag Polici ng
Kemistry Sta
o rat tar sa a an
cto cre ral en m al o f F isc M a p ini
ne e G to e r l o f t B c i i s o l r a b a
Mi
n pe Se Ge o ra
t
Cu
s Ge
n era lo De n v
ina per Fis
c dT
Ins te ect l of te Ge
n era l of an
ra a en ra d F Su on
cto Dir ne
ra tor ate eG ne ta
n ti
ire Ge rec tor rat Ge e uca
D
te Di rec ect
o te ar k l Ed
tor
a Di Dir tor
a a lM cia
Sumber : Itjen rec rec pit an Source: Inspectorate General
Di Di Ca Fin

Variabel-variabel yang digunakan untuk mengukur Variables used to measure the employee
indeks kepuasan pegawai adalah hal-hal terkait satisfaction indexwere the following linked
dengan: pekerjaan, imbalan, pengembangan points: work, rewards, employee skill/
kompetensi/skill pegawai, mutasi/rotasi pegawai, competence development, employee rolling/
supervisi, dan rekan kerja. Nilai indeks kepuasan rotation, supervision, and co-workers. Employee
pegawai berdasarkan variabel yang diteliti dapat satisfaction index values based on the
dilihat pada Grafik 3.5. investigated variables can be seen in Figure 3.5.

Bab 03 | Sumber Daya Manusia


Chapter 03 | Human Resources
93
Graphic 3.5 Nilai Indeks Per Variabel
Figure 3.5.Index Value Per Variable

Pekerjaan work 3.44

Imbalan Reward 3.12


Pengembangan Kompentensi/Skill Pegawai
Employees’ competence/skill development 3.19
Mutasi/Rotasi Pegawai
Employees’ mutation/rotation 2.88

Supervisi Supervision 3.56

Rekan Kerja Colleagues 3.66

2.00 2.20 2.40 2.60 2.80 3.00 3.20 3.40 3.60 3.80

Sumber : Hasil Pengolahan Data Sources: Data Processing Results

Dilihat dari nilai indeks per variabel penelitian, From the research of index value per variable, it can
dapat disimpulkan bahwa variabel mutasi/rotasi be concluded that the variable of rolling/rotation has
memiliki nilai yang relatif rendah bila dibandingkan a relatively low value in comparison with the other
dengan variabel-variabel lainnya, yaitu sebesar variables, namely of 2.88. Related to the employee
2,88. Terkait ketidakpuasan pegawai pada mutasi/ dissatisfaction towards rolling/rotation, several
rotasi, beberapa responden menyebutkan bahwa respondents stated that ineffectiveness of the rolling
tidak berjalannya pola mutasi dapat menimbulkan system caused a negative effect when an official
efek negatif ketika seorang pejabat menduduki stayed in a position for too long. Rolling should
suatu posisi terlalu lama. Mutasi hendaknya balance development of employee competence
mempertimbangkan pengembangan kompetensi to prevent employee demotivation. Furthermore,
pegawai sehingga dapat mencegah demotivasi rotation between sections is also necessary for
pegawai. Selain itu, rotasi antar bagian juga employees to gain holistic understanding of the
diperlukan oleh para pegawai untuk mendapatkan tasks and functions of the work unit.
pemahaman secara menyeluruh terhadap tugas dan
fungsi unit kerja.

Dari hasil in depth interview, diperoleh beberapa From the results of thein-depth interviews, several
masukan, meliputi: perlunya kejelasan pola inputs were obtained, covering: the necessity for
mutasi pegawai, pentingnya kenaikan tunjangan information on the employee rolling system; the
disesuaikan dengan tingkat inflasi dan disesuaikan importance of increases in rewards to fit the rate
dengan tingkat biaya hidup masing-masing daerah of inflation and adjustment to the cost of living in
penempatan, serta perlu adanya percepatan proses each placement area, and the need for an increase in
penyebaran informasi dari pusat. speed of the process of dissemination of information
from the centre.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


94 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Dampu Gunung/ Engklek / Sudamanda
Permainan dampu digambar di atas tanah, membentuk diagram gambar yang terdiri dari
beberapa blok, masing-masing blok mengandung makna: gunung, rumah, dan tangga.
Dampu berasal dari kata Melayu, yaitu panggilan kehormatan pada seseorang, atau kata
dampu berasal dari kata di + ampu, atau diampu yang berarti angkat, para pemain
mengangkat sebelah kakinya meIoncat dari satu blok ke blok lain. Permainan ini
diperlukan ketelitian dan kehati-hatian dalam melangkah dan meniti blok.

Dampu game drawn on the ground, forming a picture diagram consists of several blocks,
each block contains the meaning: the mountains, houses, and stairs. Dampu derived from
the Malay word, which calls on one's honor, or is derived from the word di + ampu, or
diampu which means lift, the players lifted his legs and jumping from one block to another
block. This game takes accuracy and prudent in moving and pursue blocks.
CHAPTER
BAB
04
Perumusan Kebijakan Fiskal
Fiscal Policies Formulation
Pengelolaan Keuangan Negara
State Financial Management
Pengelolaan Kekayaan Negara
State Assets Management
Pengawasan Pasar Modal Dan Lembaga Keuanga
Supervision of Capital Market and Financial Institutions
Analisis Kinerja
Performance Analysis
PERUMUSAN
KEBIJAKAN FISKAL
FISCAL POLICY FORMULATION

KEBIJAKAN PENDAPATAN NEGARA GOVERNMENT REVENUES POLICY

Arah kebijakan pendapatan negara pada tahun 2012 The direction of the Government Revenues policy
dirumuskan dalam kerangka kebijakan fiskal terkait in 2012 was formulated in fiscal policy framework
pemberian insentif dan/atau disinsentif di bidang related to the provision of incentives and/or
perpajakan yang bertujuan untuk: disincentives in the tax sector, aimed at:

(i) Optimalisasi pendapatan negara; (i) Optimizing revenues;


(ii) Melakukan pengendalian harga pangan pokok; (ii) Controlling staple food prices;
(iii) Meningkatkan investasi dan menggerakkan (iii) Increasing investment and driving the real sector;
sektor riil; (iv) Increasing competitiveness of domestic
(iv) Meningkatkan daya saing produk dalam negeri; products;
(v) Memulihkan injury industri dalam negeri karena (v) Recovering domestic industrial injury due to
adanya perdagangan yang tidak fair. unfair trading.

Kebijakan-kebijakan tersebut dituangkan ke dalam These policies were mentioned in the programs of
program-program perumusan kebijakan fiskal, yaitu: fiscal policy formulation, including:

a. Optimalisasi penerimaan perpajakan dan a. Optimization of Tax Revenues and Non-Tax


Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNPB), melalui Revenues (PNBP), through policies related to tax

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


100 Annual Report of Ministry of Finance 2012
kebijakan-kebijakan yang terkait dengan policies (tax, import tax, export tax, excise) and
kebijakan perpajakan (pajak, bea masuk, bea Non-Tax Revenues (PNBP).
keluar, cukai) dan PNBP;
b. Stabilisasi harga pangan pokok dilaksanakan b. Stabilisation of staple food prices implemented
melalui kebijakan fiskal dalam kerangka through fiscal policies in the framework of
pengendalian harga pangan pokok. Hal ini controlling staple food prices. It is implemented
dilaksanakan untuk dapat memenuhi kebutuhan to fulfill people’s needs at an affordable price.
masyarakat dengan harga terjangkau;
c. Peningkatan investasi untuk lebih menggerakkan c. Increase of investment to encourage the real
sektor riil dilaksanakan dengan beberapa cara. sector implemented in various ways. For instance,
Misalnya dengan menerbitkan kebijakan untuk by issuing a policy to support investment
mendukung peningkatan investasi seperti increase such as tax relief for Tax Payers who
pemberian fasilitas atau keringanan perpajakan make new investments or business expansion.
bagi Wajib Pajak yang melakukan investasi baru
maupun perluasan usaha; d. Increase of domestic products competitiveness
d. Peningkatan daya saing produk dalam negeri through a change of goods classification and
dilaksanakan melalui perubahan sistem klasifikasi imposition of import tariff. This is aimed at
barang dan pembebanan tarif bea masuk impor. increasing domestic products’ competitiveness.
Hal ini bertujuan untuk meningkatkan daya
saing produk dalam negeri;
e. Peningkatan perdagangan dilaksanakan dengan e. Increase of trade by expanding market access
cara memperluas akses pasar melalui skema- through international trade agreements,
skema perjanjian perdagangan internasional, including tariff preferences cooperation. It is
termasuk kerjasama-kerjasama tarif preferensi. executed by the issuance of Regulations of the
Upaya ini dilakukan dengan diterbitkannya Minister of Finance related to the international
Peraturan Menteri Keuangan (PMK) terkait trade agreements (Free Trade Area).
dengan perjanjian-perjanjian perdagangan
internasional (free trade area).
f. Penetapan tarif bea masuk antidumping dan f. Stipulation of antidumping import tariff and
pengamanan atas sejumlah produk. Langkah security of a number of products. It is aimed
ini ditujukan untuk memulihkan industri at recovering domestic industry due to unfair
dalam negeri karena terjadi unfair trade and imbalanced trade committed by one or a
dan ketidakseimbangan perdagangan yang number of countries. The Ministry of Finance has
dilakukan oleh satu atau sejumlah negara. issued a regulation on Antidumping Import Tax
Kementerian Keuangan menerbitkan PMK and Security Efforts Import Tax.
pengenaan Bea Masuk Antidumping dan Bea
Masuk Tindakan Pengamanan.

Sesuai dengan program kerja yang telah ditetapkan, According to the stipulated work plan, in 2012, the
output yang dihasilkan oleh Pusat Kebijakan Government Revenues Policies Centre produced 45
Pendapatan Negara pada tahun 2012 sebanyak 45 Regulations of the Minister of Finance, as follow:
buah PMK.

KEBIJAKAN APBN STATE BUDGET POLICIES

Berdasarkan UU No. 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Under Law No. 17/2003 on State Finance, the Minister
Negara, Presiden memberi kuasa kepada Menteri of Finance shall be empowered by the President
Keuangan untuk bertindak selaku pengelola fiskal to act as the fiscal manager and the government
dan wakil pemerintah dalam kepemilikan kekayaan representative in the possession of separated state
negara yang dipisahkan. Sebagai pengelola fiskal, assets. As the fiscal manager, one of the Ministry of
salah satu tugas Kementerian Keuangan adalah Finance’s tasks shall be to prepare fiscal policies and
menyusun kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi macro economic framework. The Ministry of Finance

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
101
makro. Kementerian Keuangan juga bertugas shall also have the task to prepare the State Budget
menyusun RAPBN dan RAPBN perubahan (RAPBN-P), Draft and the State Budget Revised Draft, and other
serta tugas-tugas lain di bidang pengelolaan fiskal tasks in the fiscal management sector as stipulated
berdasarkan ketentuan UU. in the Law.

Secara substansi, kerangka ekonomi makro dan Substantially, the macro economic framework and
Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) disusun dengan Fiscal Policies Principals are arranged based on the
berlandaskan pada Rencana Kerja Pemerintah Government’s Work Plan (RKP). It is a manifestation
(RKP). Hal tersebut merupakan perwujudan dari of the government’s vision, mission, and annual
visi, misi, dan program kerja pemerintah setiap work plan and contained in the Medium-Term
tahun dan tertuang dalam Rencana Pembangunan Development Plan (IDRJM). The Government’s
Jangka Menengah (RPJM). PPKF menjabarkan arah Work Plan shall elaborate the fiscal policy direction
kebijakan fiskal untuk mendukung pencapaian to support the achievement of the national
sasaran pembangunan nasional. development target.

Pada tahun 2012, tema RKP 2012 adalah “Percepatan In 2012, the theme of the Government’s Work
dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi Yang Inklusif Plan was “Acceleration and Expansion of Inclusive
dan Berkeadilan Bagi Peningkatan Kesejahteraan and Equal Economic Growth to Increase People’s
Rakyat”. Sejalan dengan itu kebijakan fiskal disusun Welfare”. Along with it, the fiscal policies were
untuk mendukung terwujudnya pertumbuhan arranged to support the realization of economic
ekonomi di daerah melalui beberapa langkah. Di growth in regions through some steps, including the
antaranya adalah pengembangan koridor ekonomi, economic gateways development, the infrastructure
pembangunan infrastruktur untuk mewujudkan development to create regional connectivities, and
keterhubungan wilayah, dan memperluas program expansion of social protection programs.
perlindungan sosial.

Sehubungan dengan hal tersebut, kebijakan fiskal In relation with it, the 2012 fiscal policies were
di tahun 2012 diarahkan untuk mengoptimalkan directed to optimize sources of Government
sumber-sumber pendapatan negara, meningkatkan Revenues, to increase efficiency and effectiveness
efisiensi dan efektivitas belanja negara, serta of the state expenditures, as well as to optimize
mengoptimalkan pengelolaan pembiayaan prudent financing management. In addition, the
secara berhati-hati. Di samping itu juga untuk policies were also directed to increase advantages of
meningkatkan pemanfaatannya bagi kegiatan- productive activities.
kegiatan yang bersifat produktif.

Kebijakan fiskal yang sehat, prudent, dan Sound, prudent, and sustainable fiscal policies
berkesinambungan, merupakan salah satu kunci are one of the main keys in the national economic
utama kekuatan perekonomian nasional. Ada tiga strength. There are three main functions of the State
fungsi utama dari APBN, yaitu mengalokasikan Budget, including to allocate economic sources,
sumber-sumber ekonomi, mendistribusikan barang to distribute goods and services, and to maintain
dan jasa, serta menjaga stabilitas dan akselerasi stability and acceleration of economic performance.
kinerja perekonomian. Salah satu indikator kebijakan One of the fiscal policies indicators used by the
fiskal yang digunakan pemerintah untuk mengukur government to measure the fiscal resilience is the
ketahanan fiskal adalah surplus/defisit APBN atau State Budget’s surplus/deficit or budget surplus/
surplus/defisit anggaran. Penetapan postur APBN deficit. The stipulation of expansive and contractive
yang ekspansif atau kontraktif menjadi pilihan dalam posture of the State Budget is a choice in influencing
mempengaruhi perekonomian nasional, khususnya the national economy, especially in the event of a
pada saat terjadi kegagalan pasar (market failure). market failure.

APBN tahun 2012 bukan merupakan APBN biasa The 2012 State Budget was not an ordinary
karena disusun pada saat perekonomian global State Budget as it was prepared when the global
masih menghadapi ketidakpastian. Perekonomian economy remained in an uncertainty. The global
dunia, khususnya negara-negara maju, masih economy, especially in the developed countries, was

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


102 Annual Report of Ministry of Finance 2012
dibayang-bayangi perlambatan pertumbuhan shadowed by a slow down in the economic growth.
ekonomi. Keadaan perekonomian global itu The condition was feared to affect both the domestic
dikhawatirkan berdampak pada perekonomian as well as the regional economy. Oil price raise,
regional dan domestik. Kenaikan harga minyak, the potential of unreached oil lifting, and rupiah
potensi tidak tercapainya lifting minyak dan devaluation towards US dollar also gave pressure to
pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga the national fiscal endurance.
turut memberikan tekanan terhadap ketahanan
fiskal nasional.

Untuk merespons dan mengantisipasi tekanan To respond and anticipate the pressure towards the
terhadap fiskal tersebut, pemerintah menempuh fiscal, the government took a policy to accelerate the
kebijakan melakukan percepatan perubahan 2012 State Budget Review. In general, the draft of the
APBN tahun 2012. Secara umum, latar belakang State Budget Review included four principal things:
diajukannya rancangan APBN-P meliputi empat hal (i) adjustment of the macro economic assumptions
pokok, yaitu (i) penyesuaian asumsi ekonomi makro to the development of the global, regional, and
atas perkembangan perekonomian global, regional, domestic economy; (ii) change of the fiscal policy
dan domestik; (ii) perubahan kebijakan fiskal untuk to maintain sustainability between the fiscal and
menjaga kesinambungan fiskal dan stabilitas the economic stability; (iii) switch between the
perekonomian; (iii) pergeseran antarjenis belanja expenditures and activities to increase efficiency
dan antarkegiatan untuk meningkatkan efisiensi dan and accountability; (iv) use of the Remaining
akuntabilitas; dan (iv) penggunaan Sisa Anggaran Budget (SAL) to support productive activities able to
Lebih (SAL) untuk mendukung kegiatan produktif stimulate the economy.
yang dapat menstimulasi perekonomian.

Dalam APBN-P tahun 2012, pemerintah In the State Budget Review 2012, the government
menerapkan lima langkah besar kebijakan fiskal, applied five major steps in the fiscal policy, including:
yaitu: pertama menjaga kesinambungan fiskal first, to maintain fiscal sustainability by controlling
melalui pengendalian defisit anggaran dalam batas the budget deficit in a safe zone, controlling the
aman, pengendalian subsidi, dan peningkatan subsidy, and increasing the expenditures efficiency
efisiensi belanja kementerian/lembaga (K/L) dan in ministries/institutions and to be directed into more
diarahkan untuk kegiatan yang lebih produktif. productive activities. Second, to execute a counter
Kedua, melakukan counter cyclical untuk menjaga cyclical to maintain momentum of a high economic
momentum pertumbuhan ekonomi tetap tinggi growth through an increase in the infrastructure
melalui peningkatan pembangunan infrastruktur. development. Third, to take advantage of the
Ketiga, memanfaatkan SAL untuk kegiatan produktif Remaining Budget (SAL) for productive activities
dalam memberikan stimulasi perekonomian melalui to stimulate the economy through infrastructure
pembangunan infrastruktur, ketahanan pangan, development, food security, disasters mitigation, and
mitigasi bencana, dan kebutuhan mendesak lainnya. other urgent needs. Fourth, to maintain the budget
Keempat, menjaga rasio anggaran pendidikan tetap ratio for education at a minimum of 20 percent, and
minimal 20 persen, dan kelima, mencari sumber- fifth, to seek low-risk, efficient financing sources,
sumber pembiayaan yang berisiko rendah, efisien, directed for productive activities.
dan diarahkan untuk kegiatan yang produktif.

Kementerian Keuangan juga telah mempersiapkan The Ministry of Finance also prepared other
langkah-langkah antisipatif lainnya dalam anticipative steps to face the global economic
menghadapi kondisi perekonomian global tahun condition in 2012. The steps included preparation of a
2012. Langkah-langkah tersebut antara lain Crisis Management Protocol (CMP), establishment of
penyusunan crisis management protocol (CMP), a Bond Stabilization Framework (BSF), and setting up
pembentukan bond stabilization framework (BSF), of international cooperation in crisis management.
dan melakukan kerjasama internasional penanganan The government also had an authority to handle a
krisis. Pemerintah juga memiliki otoritas untuk crisis through the articles on crisis mitigation in Law
menangani krisis melalui pasal mitigasi krisis dalam on 2012 State Budget, especially Articles 40, 41, and
UU APBN tahun 2012, khususnya Pasal 40, 41, dan 43. 43.

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
103
Dengan berbagai langkah responsif dan antisipatif Thanks to the responsive and anticipative steps,
tersebut, realisasi defisit anggaran tahun 2012 the realization of budget deficit in 2012 was 1.77
mencapai 1,77 persen terhadap Produk Domestik percent to the Gross Domestic Product. However, for
Bruto (PDB). Angka ini jauh lebih rendah dari the first time, the realization of the primary balance
targetnya dalam APBN-P 2012 sebesar 2,23 persen was in a negative position. This was a signal of the
terhadap PDB. Namun demikian, untuk pertama need of increasing awareness in maintaining the
kalinya realisasi keseimbangan primer dalam fiscal sustainability. One of the factors that caused
posisi negatif. Hal ini merupakan sinyal perlunya the awareness was the high realization of the energy
peningkatan kewaspadaan dalam menjaga subsidy as a result of the failure to control fuel
kesinambungan fiskal. Salah satu faktor yang consumption and the cancelled raise of domestic oil
menyebabkannya kewaspadaan ini adalah tingginya price.
realisasi subsidi energi akibat kegagalan dalam
upaya pengendalian konsumsi Bahan Bakar Minyak
(BBM) dan batalnya kenaikan harga BBM dalam
negeri.

Selain berdasarkan perkembangan perekonomian Apart from the macro economic development,
makro serta prioritas dan sasaran pembangunan, and the development priorities and targets, the
perumusan kebijakan fiskal juga memperhatikan formulation of the fiscal policies also took various
berbagai rekomendasi dari hasil kajian dan analisis recommendations from assessment results and
di bidang fiskal. Beberapa kajian yang dilaksanakan fiscal analysis into consideration. Some assessments
selama tahun 2012 untuk mendukung perumusan made in 2012 to support the formulation of the
kebijakan fiskal antara lain: kajian teoretis fiscal fiscal policies included: a theoretical assessment on
space dan penyusunan model kebutuhan fiscal space the fiscal space and the preparation of fiscal space
terhadap pembangunan infrastruktur; antisipasi model towards the infrastructure development;
dan mitigasi krisis fiskal melalui pengembangan anticipation and mitigation of the fiscal crisis through
crisis management protocol (CNP) fiskal; desain the development of the fiscal Crisis Management
subsidi tepat sasaran; pengaturan batas kumulatif Protocol; a subsidy design that is right on target;
defisit APBD; rekomendasi, pemantauan, evaluasi arrangement of the Regional Budget deficit
efektivitas dan kesesuaian alokasi Dana Alokasi accumulative limit; recommendation, observation,
Umum (DAU). evaluation of the General Allocation Fund (DAU)
effectiveness and suitability.

KEBIJAKAN EKONOMI MAKRO MACRO ECONOMIC POLICY

Berbagai hal yang berkaitan dengan kebijakan A variety of things related to the Indonesian
ekonomi makro Indonesia dirumuskan oleh macroeconomic policy were formulated by the
Pusat Kebijakan Ekonomi Makro (PKEM), yang Macro Economic Policy Centre, a part of the Fiscal
merupakan bagian dari Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Policy Agency of the Ministry of Finance. The Centre
Kementerian Keuangan. PKEM memiliki sejumlah had a number of tasks, among others, to implement
tugas, di antaranya melaksanakan pemantauan dini an early observation of the macroeconomic
perkembangan ekonomi makro, analisis kebijakan development, policy analysis, and formulation of a
dan perumusan rekomendasi kebijakan ekonomi recommendation on the macroeconomic policy.
makro.

Dalam melaksanakan tugasnya, PKEM In implementing its tasks, the Macro Economic Policy
menyelenggarakan fungsi: Centre has the following functions:

a. Memantau secara dini dan menganalisis a. To observe early and to analyse the economic
perkembangan ekonomi yang berpotensi development potential to affect the State Budget
berdampak terhadap APBN dan perekonomian and the national economy;
nasional;

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


104 Annual Report of Ministry of Finance 2012
b. Merumuskan pokok-pokok kebijakan fiskal dan b. To formulate outline of the fiscal policy and
kerangka ekonomi makro; framework of the macro economy;
c. Menyusun proyeksi asumsi dasar ekonomi makro c. To prepare a projection of the macro economic
sebagai dasar perhitungan Nota Keuangan dan basic assumption as a calculation basic for the
RAPBN; Financial Statement and the State Budget Draft;
d. Menyusun bahan Nota Keuangan dan RAPBN, d. To prepare materials for the Financial Statement
laporan semester I dan prognosa semester II and the State Budget Draft, semester I report and
pelaksanaan APBN, RAPBN Perubahan, bahan semester II prognosis of the implementation of
Pidato dan Lampiran Pidato Presiden, Jawaban the State Budget, the State Budget Review Draft,
Pemerintah atas pertanyaan DPR dan DPD, the Presidential speech and speech attachments,
jawaban pertanyaan dan bahan konsultasi the government’s answers to questions of the
dengan Lembaga Internasional dan Regional di House of Representatives and the Regional
bidang ekonomi makro; Representatives Board, answers to questions
and consultation from international and regional
institutions in the macro economic sector;
e. Menganalisis sektor riil, fiskal, moneter dan e. To analyse the real, fiscal, monetary sector and
lembaga keuangan; the financial institution;
f. Menyusun rancangan KMK tentang penetapan f. To prepare draft of the decree of the Minister
nilai tukar sebagai dasar perhitungan pajak dan of Finance on the exchange rate as a basis for
bea masuk atas barang dan jasa; tax and import duties of goods and service
calculation;
g. Mempersiapkan bahan koordinasi penetapan g. To prepare coordination materials of targets,
sasaran, pemantauan dan pengendalian inflasi, observation, and inflation controlling, investors
hubungan investor dan stabilisasi sektor relations and the financial sector stabilization;
keuangan;
h. Mengembangkan model analisis ekonomi h. To develop a model of macro economic analysis;
makro;
i. Mengembangkan aplikasi dan pengelolaan basis i. To develop an application and management of
data ekonomi makro; the macro economic data basis;
j. Merencanakan program pengkajian, diseminasi j. To plan an assessment, dissemination, and
dan publikasi hasil kajian; dan publication program of the assessment result;
and
k. Melaksanakan tata kelola pusat. k. To implement the central governance.

KEBIJAKAN PENGELOLAAN RISIKO FISKAL FISCAL RISK MANAGEMENT POLICY

Ketika melaksanakan pembangunan untuk In the development for the people’s welfare, a country
kesejahteraan rakyatnya, sebuah negara akan will always relate to fiscal management. However, in
selalu berhubungan dengan pengelolaan fiskal. the implementation, the country will always face a
Namun dalam pelaksanaannya, negara akan fiscal vulnerability if it fails to coordinate the fiscal
selalu menghadapi kerentanan fiskal jika gagal policy comprehensively. One of the indicators of the
melaksanakan koordinasi kebijakan fiskal secara fiscal vulnerability as a result of the government’s
keseluruhan. Salah satu indikasi kerentanan fiskal coordination failure is the risk of uncertainty in the
akibat kegagalan koordinasi pemerintah adalah implementation of the fiscal policy. Wheras the
adanya risiko ketidakpastian dalam pelaksanaan fiscal policy has three important roles, including:
kebijakan fiskal. Padahal kebijakan fiskal memiliki budget allocation, distribution of subsidy revenues,
tiga peran penting yaitu : alokasi anggaran, and economic stabilization. These three roles are
distribusi pendapatan subsidi dan stabilisasi important in the national economic management.
ekonomi. Ketiganya memiliki peran yang sangat
penting dalam pengelolaan perekonomian nasional.

Perkembangan perekonomian lokal, regional The economic development, both local, regional,
maupun global sangat cepat berubah. Berbagai as well as global, is very fast. Various pressures

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
105
tekanan terhadap perekonomian, baik berasal dari towards the economy, both internally as well as
internal maupun eksternal akan berpengaruh externally, will significantly affect the State Budget.
secara signifikan terhadap APBN. Pemerintah The government must manage the fiscal to achieve
harus mengelola fiskal agar tercapai ketahanan a fiscal resilience, so that it can maintain a fiscal
fiskal, sehingga dapat menjaga kesinambungan sustainability. The fiscal sustainability will be formed
fiskal. Kesinambungan fiskal akan terbentuk jika if the government can maintain a budget deficit
pemerintah dapat menjaga defisit anggaran of maximum three percent of the Gross Domestic
maksimum sebesar 3 persen dari PDB dan pinjaman Product (GDP) and a government loan of maximum
pemerintah maksimum sebesar 60 persen dari PDB. 60 percent of the Gross Domestic Product (GDP).

Persoalan menjaga kesinambungan fiskal Maintaining fiscal sustainability and resilience is


dan ketahanan fiskal merupakan manajemen a matter of control management and fiscal risk
pengendalian dan pengelolaan risiko fiskal. Definisi management. The definition of fiscal risk in some
risiko fiskal dalam beberapa referensi berbeda-beda, references varies, yet there are some similar opinions
tetapi ada beberapa kesamaan pendapat secara in general. The first fiscal risk can be defined as the
garis besar. Risiko fiskal pertama dapat didefinisikan high uncertainty of the macro economic condition
sebagai tingginya ketidakpastian kondisi such as the volatility of the international oil price and
makro ekonomi seperti volatilitas harga minyak rupiah exchange rate. The change will significantly
internasional dan nilai tukar rupiah. Perubahan ini affect the State Budget posture both the revenues,
secara signifikan akan mempengaruhi postur APBN the expenditures as well as the financing of the
baik pada sisi pendapatan negara, belanja negara swallowing deficit. The second definition of the fiscal
maupun pembiayaan atas membengkaknya defisit. risk is the increase of the government’s contingency
Definisi kedua risiko fiskal adalah meningkatnya obligation which is among others caused by the
kewajiban kontijensi pemerintah yang antara lain expansion of the government’s roles.
disebabkan oleh perluasan peran pemerintah.

Seiring dengan tuntutan perbaikan ekonomi In line with a demand of the Indonesian economic
Indonesia pascakrisis ekonomi yang terjadi pada improvement after the economic crisis in 1997-
tahun 1997-1998, pemerintah melakukan program 1998, the government accelerates the development,
percepatan pembangunan khususnya di bidang in particular the infrastructure sector. The limited
infrastruktur. Keterbatasan kemampuan APBN capacity of the State Budget was the main constraint
menjadi hambatan utama dalam pelaksanaan in the program implementation. As the development
program ini. Mengingat program percepatan acceleration program requires a huge capital, one of
pembangunan membutuhkan modal yang the solutions is to set up cooperation between the
sangat besar. Salah satu solusi dalam mengatasi government and the private sector (public private
hambatan adalah dengan menjalin kerjasama partnership). To bridge cooperation between
antara pemerintah dengan swasta (public private the government and the private sector as well as
partnership). Untuk menjembatani hubungan antara prudence in the state financial management, the
pemerintah dan swasta serta kehati-hatian dalam Committee of Risk Management on the Infrastruture
pengelolaan keuangan negara, pada tahun 2005 Provision (KPIDRI) was set up in 2005 through Decree
melalui Keputusan Menteri Keuangan Republik of the Minister of Finance Number 518/KMK.01/2005.
Indonesia Nomor 518/KMK.01/2005 dibentuklah
Komite Pengelolaan Risiko Atas Penyediaan
Infrastruktur (KPRPI).

Perkembangan perekonomian terjadi begitu cepat There has been a fast economic development, and
dan pemenuhan terhadap kebutuhan masyarakat extensive and varied needs of the people. On the
sangat luas dan bervariasi. Di sisi lain, APBN other hand, the State Budget is limited to fulfill all
terbatas untuk dapat memenuhi semua kebutuhan needs of the people that priorities are a must. When
masyarakat sehingga diperlukan prioritas. Apabila a certain priority has been implemented, but the
prioritas tersebut telah dilaksanakan, tetapi APBN State Budget has not fulfilled the state needs as
belum memenuhi hajat negara seperti dimaksud, mentioned, then the government must expand its

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


106 Annual Report of Ministry of Finance 2012
maka pemerintah harus melakukan perluasan peran roles for the sake of the welfare and high economic
demi kepentingan kemakmuran dan pertumbuhan growth.
ekonomi yang tinggi.

Polackova (1998) mengemukakan, pemerintah di Polackova (1998) stated that the government in
berbagai negara sekarang ini menghadapi risiko fiskal various countries is currently facing a higher fiscal
dan ketidakpastian yang lebih tinggi dibandingkan risk and uncertainty compared to the previous
periode-periode sebelumnya. Alasan utamanya periods. The main reason is the change of the
adalah perubahan peran negara/pemerintah. Jika state/government’s role. If previously, its role was a
sebelumnya berperan sebagai penyedia pembiayaan finanicer, its current role is a guarantor in providing
(financier), peran pemerintah kemudian bergeser services and development projects both implicitely
sebagai penjamin (guarantor) dalam penyediaan as well as explicitely. The task becomes broader when
jasa-jasa dan proyek pembangunan baik secara there is a gap and limitation in the State Budget to
implisit maupun eksplisit. Tugas itu akan semakin help providing the infrastructure. Therefore, in the
luas jika ada kesenjangan dan keterbatasan APBN 2008 Financial Statement, the government put a sub
untuk membantu penyediaan infrastruktur. Karena chapter of fiscal risk in the State Budget.
itu, dalam Nota Keuangan Tahun 2008, pemerintah
memasukkan subbab risiko fiskal dalam APBN.

Hal tersebut dimaksudkan agar tercapai hasil It was aimed at obtaining a measurable fiscal
kestabilan fiskal yang dapat terukur. Apabila di stability. When in the future, there is an uncertainty
kemudian hari terjadi ketidakpastian atau kejadian or certain event affecting the State Budget, then
tertentu yang berdampak pada APBN, maka APBN the State Budget could be made more flexible. The
dapat dibuat lebih fleksibel. APBN dapat menalangi State Budget could first bail certain budgets upon
dan memberikan bantalan terhadap anggaran pressures that might affect the State Budget.
tertentu apabila terjadi tekanan yang dapat
mengguncang APBN.

Untuk memantau risiko-risiko fiskal, Kementerian To observe the fiscal risks, the Ministry of Finance
Keuangan membentuk Pusat Pengelolaan Risiko has set up a Fiscal Risk Management Centre, a unit
Fiskal (PPRF) unit Pengelolaan Risiko Fiskal yang of fiscal risk management under the Fiscal Policy
berada di bawah BKF. Pembentukan unit ini Agency. The unit was set up under the Regulation of
berdasarkan PMK Nomor 184/PMK.01/2010 tentang the Minister of Finance Number 184/PMK.01/2010
Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Keuangan. on the Organization and Work Procedures of the
Tugas PPRF adalah melakukan analisis, perumusan Ministry of Finance. Its tasks include to analyse,
rekomendasi, dan evaluasi pengelolaan risiko to formulate recommendations, and to evaluate
ekonomi, keuangan, sosial, BUMN, dan dukungan economic, financial, social, state-owned enterprises,
pemerintah. and the government’s risk management.

PPRF juga menentukan sumber risiko fiskal dan The Fiscal Risk Management Centre also determines
menjalankan mitigasi risiko fiskal berkelanjutan. the fiscal risk sources and implements the fiscal risk
Risiko fiskal yang diungkapkan dalam Nota mitigation to realize sustainable fiscal. The fiscal risk
Keuangan Negara dan APBN dapat dirinci sebagai as disclosed in the State Financial Statement can be
berikut. detailed as follows:

1. Sensitivitas Asumsi Ekonomi Makro 1. Sensitivity of Macro Economic Assumptions


Dalam penyusunan APBN, indikator-indikator In preparing the State Budget, macro economic
ekonomi makro yang digunakan sebagai dasar indicators used as a setting basis is the economic
penyusunan adalah pertumbuhan ekonomi serta growth and the inflation rate. Referring to the
tingkat inflasi. Jika mengacu kepada standar international accountancy standard (IAS 37.10),
akuntansi internasional (IAS 37.10), kewajiban the contingency obligation is defined as a
kontijensi didefinisikan sebagai kewajiban possible obligation that depends on uncertain
yang mungkin timbul dan bergantung kepada future events. For instance, the three-month

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
107
suatu peristiwa yang tidak pasti pada masa interest rate of Bank Indonesia Certificate, the
mendatang. Misalnya saja tingkat suku bunga exchange rate, the Indonesian Crude Oil Price,
Sertifikat Bank Indonesia (SBI) tiga bulan, nilai and the oil lifting.
tukar rupiah, harga minyak mentah Indonesia
(Indonesia Crude Oil Price/ICP), dan lifting minyak.

2. Risiko Utang Pemerintah 2. The Government’s Debt Risk


Salah satu aspek pengelolaan risiko fiskal adalah One of the aspects of fiscal risk management is
pengelolaan risiko utang pemerintah. Risiko the management of the government’s debt risk.
yang dihadapi dalam pengelolaan risiko utang Risks faced in managing the government’s debt
pemerintah dapat muncul dari lingkungan risk may be both externally as well as internally
eksternal maupun internal organisasi pengelola from the debt managing organization. Risks
utang. Risiko dimaksud antara lain (1) risiko mentioned include (1) financial risk, that is the
keuangan yang terdiri dari risiko tingkat suku interest rate and the refinancing risk, and (2)
bunga, risiko nilai tukar, dan risiko refinancing, operational risk.
serta (2) risiko operasional.

3. Proyek Pembangunan Infrastruktur 3. Infrastructure Development Project


Cadangan anggaran risiko fiskal adalah besaran The budget reserve of fiscal risk is the amount of
anggaran belanja yang harus disediakan the expenditures budget that the government
pemerintah sebagai cadangan untuk must provide as a reserve to anticipate economic
mengantisipasi perubahan-perubahan ekonomi changes. This aims to measure and observe the
yang terjadi. Tujuannya untuk mengukur dan absorption of the fiscal risk reserve as well as to
memantau penyerapan cadangan risiko fiskal measure the accuracy of the fiscal risk budget.
serta mengukur ketepatan proyeksi anggaran The fiscal risk reserve used consists of two
risiko fiskal. Cadangan anggaran risiko fiskal components, macro assumption reserve and
yang digunakan terdiri dari dua komponen, landscaping reserve.
yaitu cadangan asumsi makro dan cadangan
land capping (jaminan pemerintah atas kenaikan
harga tanah).

Risiko fiskal yang terkait dengan proyek Fiscal risk related to infrastructure development
pembangunan infrastruktur berasal dari projects comes from the support/guarantee
dukungan/jaminan yang diberikan oleh provided by the government towards some
pemerintah terhadap beberapa proyek, yaitu projects, including the acceleration project
proyek percepatan pembangunan pembangkit of 10,000-MW power plant construction, the
tenaga listrik 10.000 megawatt (MW), proyek construction project of Jakarta Outer Ring
pembangunan jalan tol trans Jawa, proyek Road II (JORR II), and the construction project
pembangunan jalan tol Jakarta outer ring road of Jakarta monorail, as well as the Business
II (JORR II), dan proyek pembangunan monorail Feasibility Guarantee Letter (SJKU) and SJPP
Jakarta, surat jaminan kelayakan usaha (SJKU) for partnership projects between the private
dan SJPP untuk proyek kemitraan swasta sector and the government. PPRF assesses the
dan pemerintah. PPRF melakukan kajian sources of fiscal risks when there is a guarantee
sumber risiko fiskal ketika ada penjaminan from the government to the assignment of the
dari pemerintah terhadap penugasan proyek infrastructure projects executed by PT PII, PT SMI,
infrastruktur yang dilaksanakan oleh PT PII, PT IIF dan PIP.
SMI, IIF dan PIP.

4. Risiko Badan Usaha Milik Negara (BUMN) 4. State-Owned Enterprises Risk


Perubahan nilai tukar, tingkat suku bunga, Changes in the exchange rate, the interest rate,
dan harga minyak mentah berdampak pada and the crude oil price may affect performance
kinerja keuangan BUMN, sehingga tidak of state-owned enterprises’ finance, that it may
tertutup kemungkinan akan mempengaruhi possibly affect their contribution to the State

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


108 Annual Report of Ministry of Finance 2012
kontribusinya terhadap APBN. Penurunan Budget. The decrease of the contribution is a
kontribusi ini merupakan bagian dari risiko part of the fiscal risks sourcing from the state-
fiskal yang bersumber dari BUMN. Untuk owned enterprises. To find out to what extent
mengetahui sampai seberapa jauh perubahan the changes, the government has examined
tersebut, pemerintah telah melakukan the sensitivity or conducted a macro stress test
pengujian sensitivitas atau macro stress test using some fiscal risk indicators, including (1) net
dengan menggunakan beberapa indikator risiko contribution of state-owned enterprises to the
fiskal yang meliputi (1) kontribusi bersih BUMN State Budget, (2) net debt of the state-owned
terhadap APBN, (2) utang bersih BUMN, dan (3) enterprises, and (3) the need of gross financing
kebutuhan pembiayaan bruto BUMN. Simulasi of the state-owned enterprises. This simulation is
ini dilakukan sebagai upaya untuk dapat conducted as an effort to identify early the fiscal
mengidentifikasi secara dini risiko fiskal yang risks sourcing from the state-owned enterprises
bersumber dari BUMN, sehingga kesinambungan to maintain the State Budget’s sustainability.
APBN dapat lebih terjaga.

Macro stress test merupakan simulasi yang Macro stress test is a simulation conducted
dilakukan dengan asumsi rupiah akan assuming that rupiah will be depreciated
terdepresiasi terhadap dolar AS, harga minyak towards the US dollar, the oil price will soar,
melonjak dan suku bunga naik. Selanjutnya and the interest rate will rise. The changes
perubahan ini akan mengubah parameter will then change parameter of the financial
kinerja keuangan BUMN dan indikator risiko performance and the fiscal risks indicators of
fiskal BUMN. Pengujian macro stress test the state-owned enterprises. The macro stress
dilakukan atas proyeksi risiko fiskal BUMN secara test is conducted to fiscal risks projection of the
parsial maupun keseluruhan. Sampel pengujian state-owned enterprises, both partially as well
meliputi beberapa BUMN nonkeuangan yang as comprehensively. The test samples include
mempunyai hubungan paling signifikan some non-financial state-owned enterprises
dengan APBN yang mewakili sektor energi, having the most significant relations with the
pertambangan, telekomunikasi, pupuk, dan State Budget representing the energy, mining,
transportasi. telecommunication, fertilizer, and transportation
sectors.

Sementara agar subsidi listrik berkurang dan The Service Level Agreement (SLA) of the state
lebih tepat sasaran, dilakukan kajian tentang owned electricity company (PLN) was assessed
Service Level Agreement (SLA) PLN. Hasilnya to decrease the electricity subsidy and to be
telah dilakukan penandatanganan kesepakatan more on target. The result was the signing of a
kontrak di hadapan Wakil Presiden dengan contract agreement in front of the vice president
beberapa Kementerian. Hasil kesepakatan and some ministers. Under the agreement, the
akan menentukan suatu besaran subsidi listrik electricity subsidy is stipulated and it is hoped
dan diharapkan terjadi penurun subsidi listrik that the subsidy will decrease by IDR20 trillion
sebesar Rp 20 triliun per tahun karena terjadi per year due to the significant efficiency.
efisiensi yang cukup siginifikan.

5. Sektor Keuangan 5. Financial Sector


Risiko fiskal yang terkait dengan sektor Fiscal risks related to the financial sector included
keuangan di antaranya bersumber dari from Bank Indonesia and the Indonesia Deposit
Bank Indonesia (BI) dan Lembaga Penjamin Insurance Corporation (LPS). Both were joined
Simpanan (LPS). BI dan LPS dijadikan dalam satu in one group as they had the same source of
kelompok karena sumber risikonya sama yaitu risks: the government’s obligation to inject funds
kewajiban pemerintah menyuntikkan dana jika upon a lack of early capital as required in Bank
terjadi kekurangan modal awal sebagaimana Indonesia’s legislation.
disyaratkan oleh peraturan perundang-
undangan Bank Indonesia.

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
109
6. Program Pensiun dan Tunjangan Hari Tua (THT) 6. Pension and Old Age Benefits Program
PNS dan BPJS for Civil Servants and Social Guarantee
Sumber risiko fiskal yang berasal dari Program Organizing Agency (BPJS)
Pensiun PNS di antaranya berasal dari The source of fiscal risks from the Pension
pembagian beban pembayaran pensiun antara Program for civil servants among others comes
APBN dan PT Taspen. Jumlah pembayaran ini from the distribution of pension payment load
meningkat dari tahun ke tahun. Dengan terus between the State Budget and PT. Taspen. The
meningkatnya beban APBN untuk pembayaran amount of payment increases from year to year.
pensiun dan sesuai dengan UU Nomor 11 Tahun With the increasing load of the State Budget
1969, pemerintah perlu membentuk suatu dana to pay pension and pursuant to Law Number
pensiun dan menerapkan sistem fully funded 11/1969, the government has set up a pension
dalam program pensiun PNS, yaitu pemerintah fund and applies a fully-funded system in the
sebagai pemberi kerja bersama-sama PNS pension program for civil servants, in which the
memupuk dana untuk dikelola oleh suatu Dana government as the employer jointly collects
Pensiun sehingga pembayaran pensiun di fund with the civil servants to be managed by
kemudian hari tidak akan membebani APBN. the Pension Fund, so that in the future, pension
payment will not burden the State Budget.

Terkait dengan Sistem Jaminan Sosial Nasional In relation to the National Social Insurance
(SJSN) dan Badan Penyelenggara Jaminan System (SJSN) and the Social Guarantee
Sosial (BPJS), PPRF telah melakukan kajian dan Organizing Agency (BPJS), PPRF has made an
rekomendasi terhadap penyelenggaran BPJS assessment and recommendation on the said
dimaksud. Telah disusun peraturan pelaksanaan Social Guarantee Organizing Agency (BPJS). An
Amanah UU SJSN dan UU BPJS yang di antaranya implementation regulation on the mandate of
Perpres tentang Jaminan Kesehatan dan RPP the Laws on National Social Insurance System
tentang Penerima Bantuan Iuran Jamkes. (SJSN) and the Social Guarantee Organizing
Agency (BPJS) has been set of which are a
Presidential Regulation on the Health Insurance
and a Government Regulation Draft on Receivers
of the Health Insurance Dues Assistance.

7. Desentralisasi Fiskal 7. Fiscal Decentralization


Kebijakan desentralisasi fiskal dilakukan dengan The policy of fiscal decentralization is aimed
tujuan untuk mempercepat terwujudnya at accelerating the realization of the people’s
kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan welfare through an increase of service,
pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta empowerment, and the public participation, as
masyarakat, serta peningkatan daya saing well as regional competitiveness by taking the
daerah dengan memperhatikan prinsip democracy principles, equity, justice, distinction,
demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan, and specificity of a region in the Republic of
dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Indonesia into consideration.
Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Beberapa sumber risiko fiskal yang terkait Some sources of fiscal risks related to fiscal
dengan desentralisasi fiskal di antaranya: (a) decentralization include: (a) regional expansion,
pemekaran daerah, (b) hold harmless, dan (c) (b) hold harmless, and (c) Natural Resources
alokasi Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam. Revenue Sharing. i. Regional expansion, addition
Pemekaran Daerah dengan penambahan daerah of new autonomous regions has impacts to
otonom baru memiliki dampak terhadap APBN the State Budget, including to the (i) General
yaitu pada (i) Dana Alokasi Umum (DAU); (ii) Allocation Fund (DAU); (ii) Special Allocation Fund
Dana Alokasi Khusus (DAK); dan (iii) kebutuhan (DAK); and (iii) needs of the vertical institutions.
pada instansi vertikal. Hold Harmless sesuai ii. Hold harmless, Law Number 33/2004 on
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang the Fiscal Balance between the Central and
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah the Regional Government regulating that the

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


110 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Pusat dan Pemerintahan Daerah mengatur General Allocation Fund (DAU) is provided based
bahwa pemberian DAU ke daerah dilakukan on a certain formula. If the calculation of the
berdasarkan suatu formula tertentu. Apabila Revenue Sharing realization is higher than the
perhitungan realisasi Dana Bagi Hasil suatu allocation, the government shall transfer the
daerah lebih tinggi daripada alokasi, pemerintah fund difference to the related regions.
harus mentransfer selisih dana tersebut ke
daerah yang bersangkutan.

8. Tuntutan Hukum kepada Pemerintah 8. Legal Demand to the Government


Tuntutan hukum kepada pemerintah akan A legal demand to the government shall take
terjadi jika kasus telah diputuskan pengadilan place if a case has been decided by the court
dan mempunyai kekuatan hukum yang kuat and has a strong and permanent legal power. A
dan tetap. Pihak ketiga mengajukan tuntutan third party shall submit a legal demand to the
hukum kepada pemerintah melalui pengadilan government through the court on a sued case,
pada kasus yang diperkarakan, dan secara final and shall financially have a legal power. The
mempunyai kekuatan hukum. Pemerintah akan government shall pay the legal demand through
membayarkan tuntutan hukum tersebut melalui a contingence obligation provided in the State
kewajiban kontijensi yang harus disediakan Budget. PPRF shall provide a recommendation
dalam APBN. PPRF memberikan suatu of a case payment as a result of the legal power,
rekomendasi pembayaran kasus akibat kekuatan which shall be executed through the budget
hukum itu akan dilaksanakan melalui anggaran sued.
Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) K/L
yang diperkarakan.

9. Keanggotaan pada Organisasi dan Lembaga 9. Membership in International Financial


Keuangan Internasional Organizations and Institutions
Keanggotaan Indonesia pada organisasi The Indonesian membership in international
dan lembaga keuangan internasional dapat financial organizations and institutions may result
menimbulkan risiko fiskal terkait adanya in related fiscal risks due to the government’s
komitmen pemerintah untuk memberikan commitment to contribute and to invest in the
kontribusi dan penyertaan modal kepada international financial organizations.
organisasi-organisasi atau lembaga keuangan
internasional tersebut.

10. Bencana Alam 10. Disasters


Berdasarkan UU Nomor 24 Tahun 2007 Under Law Number 24/2007 on Disasters
tentang Penanggulangan Bencana, tanggung Management, the government’s responsibility
jawab pemerintah dalam penyelenggaraan in disasters management includes the people’s
penanggulangan bencana di antaranya adalah protection from the disaster impacts, recovering
memberikan perlindungan terhadap masyarakat the condition from the disaster impacts, and
dari dampak bencana, pemulihan kondisi dari allocating a budget for disasters management in
dampak bencana dan pengalokasian anggaran the State Budget. The budget is allocated for pre-
penanggulangan bencana dalam APBN. disaster activities, during the disaster emergency,
Anggaran tersebut untuk kegiatan-kegiatan and post-disaster. Considering that Indonesia
tahap prabencana, saat tanggap darurat bencana, has a geographic, geological, hydrological, and
dan pascabencana. Mengingat Indonesia demographic condition prone to disasters,
memiliki kondisi geografis, geologis, hidrologis, increasing probability of disasters, and a huge
dan demografis yang memungkinkan terjadinya loss due to the disasters, PPRF has assessed
bencana, probabilitas kejadian bencana yang an Alternative Scheme of Natural Disasters
meningkat, dan nilai kerugian akibat bencana Financing Using an Insurance Scheme. PPRF has
yang besar, maka PPRF menyusun kajian tentang also prepared a Minister of Finance’s Regulation
skema alternatif pembiayaan bencana alam draft on Fiscal Endurance in Facing Disasters. The
dengan menggunakan skema asuransi; dan juga discussion on the regulation draft will continue

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
111
menyusun draf Rancangan Peraturan Menteri to be made through coordinating meetings with
Keuangan (RPMK) Ketahanan Fiskal dalam the Directorate General of Budget, the Capital
Menghadapi Bencana. Pembahasan tentang Market and Financial Institutions Supervisory
RPMK ini akan terus dilakukan melalui rapat Agency (Bapepam-LK), the Directorate General
koordinasi dengan DJA, Bapepam LK, Ditjen of Treasury, the Inspectorate General, and the
Perbendaharaan, Itjen, dan Sekjen. Secretariat General.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


112 Annual Report of Ministry of Finance 2012
PENGELOLAAN
KEUANGAN NEGARA
STATE FINANCE MANAGEMENT

PENGELOLAAN ANGGARAN BUDGET MANAGEMENT

Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Non-Tax Revenues (PNBP)

Target dan realisasi PNBP Target and Realization of Non-Tax Revenues

Pemerintah berkewajiban menjaga defisit APBN The government had the obligation to maintain the
tidak melampaui 3 persen terhadap PDB. Untuk State Budget deficit to not exceed three percent
itu harus dilakukan langkah-langkah pengamanan towards the Gross Domestic Product. Safety steps
di antaranya dengan meningkatkan pendapatan should be made, among others, by increasing the
negara dari Rp301 trilliun pada tahun 2001 menjadi Government Revenues from IDR301 trillion in 2001
Rp1.358 trilliun pada tahun 2012. Peningkatan to IDR1,358 trillion in 2012. The revenues increase
pendapatan salah satunya disumbangkan dari was contributed by the Non-Tax Revenues (PNBP)
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang pada which in 2011 was only targeted IDR115 trillion, and
tahun 2011 hanya ditargetkan Rp115 trilliun menjadi raised to IDR341 trillion in 2012.
Rp341 trilliun pada tahun 2012.

Peningkatan PNBP tersebut berasal dari kontribusi The increase of the Non-Tax Revenues (PNBP) came
penerimaan migas sebesar 65 persen. Sementara from the contribution of oil and gas revenues of

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
113
Tabel 4.1. PNBP dari Tahun ke Tahun
Table 4.1. Non-Tax Revenues (PNBP) from Year to Year

350
300
250
200
150
100
50
0
2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 APBN-P2012

BLU SDA Non Migas Dividen BUMN PNBP Lainnya SDA Migas

Sumber : DJA Source : Directorate General of Budget

kontribusi PNBP lainnya sebesar 23 persen, dividen 65 percent, other sectors 23 percent, state-owned
BUMN sebesar 9 persen, dan Sumber Daya Alam enterprises’ dividends 9 percent, and non-oil and gas
(SDA) non-migas sebesar 3 persen. Natural Resources 3 percent.
Dalam APBNP tahun 2012, PNBP ditargetkan In the State Budget Review 2012, the Non-Tax
sebesar Rp341,1 triliun. Berdasarkan laporan per 31 Revenues (PNBP) was targeted IDR341,1 trillion.
Desember 2012, realisasi PNBP mencapai Rp344,9 Based on the report per December 31st, 2012,
triliun atau 101,14 persen dari target APBN-P 2012. the Non-Tax Revenues (PNBP) realization reached
Komposisinya terdiri dari penerimaan SDA Migas IDR344,9 trillion or 101.4 percent above the 2012
sebesar Rp205,85 triliun (59,7 persen), PNBP lainnya Non-Tax Revenues (PNBP) target. The composition
sebesar Rp73,21 triliun (2 persen), penerimaan consisted of Oil and gas Natural Resources revenues
bagian laba BUMN sebesar Rp30,79 triliun (8,9 in amount of IDR205,85 trillion (59.7 percent), other
persen), penerimaan SDA Non Migas sebesar Non-Tax Revenues (PNBP) in amount of IDR73,21

Grafik 4.1. Realisasi PNBP TA 2012 berdasarkan Buku Merah hingga 31 Desember 2012
Graphic 4.1. Realization of Non Tax Revenues Fiscal Year 2012 based on the Red Book until December 31st, 2012

2012 2013

15T, 4% 23T,7%

SDA Migas
73T,21
SDA Non Migas
78T,23%
Dividen BUMN 175T,53%
206 T, 60%
31T,9% PNBP Lainnya
BLU
21T,6% 34T,10%
22T,7%

Sumber : DJA Source : Directorate General of Budget

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


114 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Rp20,61 triliun (6 persen), dan pendapatan Badan trillion (two percent), revenues from state-owned
Layanan Umum sebesar Rp14,53 triliun (4,2 persen). enterprises profit in amount of IDR30,79 trillion (8.9
Realisasi PNBP TA 2012 dan target PNBP 2013 dapat percent), non oil and gas Natural Resources revenues
dilihat dalam Grafik 4.1. of IDR20,61 trillion (six percent), and Public Service
Agencies revenues of IDR14,53 trillion (4.2 percent).
Realization of Non-Tax Revenues (PNBP) Fiscal Year
2012 and the Target of Non-Tax Revenues (PNBP)
Fiscal Year 2013 can be seen in graphic 4.1:

Regulasi PNBP Non-Tax Government Revenues Regulations

Salah satu upaya penting untuk meningkatkan One of the important efforts to increase Non-Tax
peranan PNBP sebagai sumber penerimaan negara Revenues (PNBP) role as a source of the Government
adalah dengan penyempurnaan UU Nomor 20/1997 Revenues is by perfecting Law Number 20/1997 on
tentang PNBP. Rencana revisi UU tersebut termasuk Non-Tax Revenues (PNBP). The law revision was one
salah satu Program Legislasi Nasional (Prolegnas) of the National Legislation Program (Prolegnas) 2010-
2010-2014 yang telah ditetapkan oleh DPR RI 2014, stipulated by the House of Representatives
berdasarkan Surat Keputusan DPR RI Nomor: 41A/ of the Republic of Indonesia based on Decree of
DPR RI/I/2009. Hingga akhir tahun 2012, rancangan the House of Representatives of the Republic of
revisi UU tersebut masih terus disempurnakan dan Indonesia Number: 41A/DPR RI/I/2009. Through to
diharapkan tahun 2013 sudah dapat diajukan ke DPR end of 2012, the law revision remained perfected
untuk dilakukan pembahasan. and was expected to be submitted to the House of
Representatives for endorsement in 2013.

Beberapa peraturan dan keputusan terkait Some regulations and decrees related to the Non-
pengelolaan PNBP dan subsidi yang telah berhasil Tax Revenues (PNBP) and subsidy management
diselesaikan selama tahun 2012 meliputi : successfully completed in 2012, include:

1) KMK 10/KMK.02/2012 tentang Persetujuan 1) Decree of the Minister of Finance Number 10/
Penggunaan sebagian Dana PNBP pada Ditjen KMK.02/2012 on Approval of the Use of a Part of
Administrasi Hukum dan HAM, Kementerian the Non-Tax Revenues (PNBP) at the Directorate
Hukum dan HAM; General of Legal Administration and Human
Rights, Ministry of Justice and Human Rights.
2) KMK 20/KMK.02/2012 tentang Persetujuan 2) Decree of the Minister of Finance Number 20/
Penggunaan sebagian Dana PNBP Ditjen KMK.02/2012 on Approval of the Use of a Part of
Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan; the Non-Tax Revenues (PNBP) at the Directorate
General of Air Transportation, Ministry of
Transportation.
3) KMK 03/KMK.02/2013 tentang Persetujuan 3) Decree of the Minister of Finance Number 03/
Penggunaan sebagian Dana PNBP Kem. KMK.02/2013 on Approval of the Use of a Part
Sekretariat Negara ditetapkan pada 2 Januari of the Non-Tax Revenues (PNBP) at the Ministry
2013; of State Secretariat, stipulated on January 2nd,
2013.
4) PMK 79/PMK.02/2012 tentang Tata Cara 4) Regulation of the Minister of Finance Number
Penyetoran dan Pelaporan Penerimaan Negara 79/PMK.02/2012 on Procedure of Depositing
dari Kegiatan Hulu Migas dan Perhitungan PPh and Reporting Government Revenues from Oil
untuk Keperluan pembayaran PPh Migas berupa and Gas Upstream Activities and Income Tax
Volume Migas; Calculation for Oil and Gas Income Tax Payment
in the Form of Oil and Gas Volume.
5) PMK 05/PMK.02/2013 tentang Tata Cara 5) Regulation of the Minister of Finance Number
Penyetoran PNBP dari Dividen tgl 2 Januari 2013; 05/PMK.02/2013 on Procedure of Depositing
Non-Tax Revenues (PNBP) from Dividends dated
January 2nd, 2013.

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
115
6) PMK 06/PMK.02/2013 tentang Tata Cara 6) Regulation of the Minister of Finance Number
Penyetoran PNBP dari Surplus Bank Indonesia 06/PMK.02/2013 on Procedure of Depositing
Bagian Pemerintah pada tanggal 2 Januari 2013; Non-Tax Revenues (PNBP) from Bank Indonesia’s
Surplus of the Government’s Part dated January
2nd, 2013.
7) PMK 64/PMK.02/2012 tentang Perubahan 7) Regulation of the Minister of Finance Number
atas PMK 218/PMK.02/2011 tentang Tata 64/PMK.02/2012 on Amendment of Regulation
Cara Penyediaan Anggaran, Penghitungan, of the Minister of Finance Number 218/
Pembayaran, Pertanggungjawaban Subsidi PMK.02/2011 on Procedure of Providing Budget,
Liquified Petroleum Gas 3 Kg; Calculation, Responsibility of 3-kilogram LPG
Subsidy.
8) PMK 65/PMK.02/2012 tentang Perubahan 8) Regulation of the Minister of Finance Number
atas PMK 217/PMK.02/2011 tentang Tata 65/PMK.02/2012 on Amendment of Regulation
Cara Penyediaan Anggaran, Penghitungan, of the Minister of Finance 217/PMK.02/2011
Pembayaran, dan Pertanggungjawaban Subsidi on Procedure of Providing Budget, Calculation,
Jenis BBM Tertentu; Payment, and Subsidy of Certain Fuel.
9) Keputusan Dirjen Anggaran Nomor : KEP-04/ 9) Decree of the Director General of Budget
AG.6/2012 tentang Tata Cara dan Prosedur Number: KEP-04/AG.6/2012 on Procedure of
Penelitian dan Verifikasi Data Pendukung Assessment and Verification of Supporting Data
Permintaan Pembayaran Subsidi LPG Tabung 3 Kg; of Subsidy Payment Request of 3-Kilogram LPG.
10) Keputusan Dirjen Anggaran Nomor : KEP-05/ 10) Decree of the Directorate General of Budget
AG.6/2012 tentang Tata Cara dan Prosedur Number: KEP-05/AG.6/2012 on Procedure of
Penelitian dan Verifikasi Data Pendukung Assessment and Verification of Supporting Data
Permintaan Pembayaran Subsidi Jenis BBM of Subsidy Payment Request of Certain Fuel.
Tertentu.

Sistem Informasi Bidang PNBP Information System in Non-Tax Revenues (PNBP)


Sector

Meningkatnya PNBP sebagai salah satu komponen The continuous increase of Non-Tax Revenues
penerimaan dalam negeri perlu diiringi dengan (PNBP) as one of the domestic revenue components
penyempurnaan administrasi penerimaan yang must be in line with the perfection of revenues
sudah dirancang dan dikembangkan sejak 2011. administration which has been designed and
Yaitu melalui sistem informasi berbasis web secara developed since 2011. It was implemented through
online yang dinamakan Sistem Informasi PNBP a web-based information system named Online Non-
Online (SIMPONI), yang terintegrasi dengan Sistem Tax Revenues (PNBP) Information System (SIMPONI),
Modul Penerimaan Negara generasi ke-2 (MPN-2). integrated with the 2nd Generation of Government
Revenues Module System (MPN-2).

Beberapa hal yang melatarbelakangi perlunya dibuat Some factors which were a background of the
SIMPONI diantaranya adalah data setoran PNBP setting up of the Online Non-Tax Revenues (PNBP)
yang diragukan keakuratannya, banyaknya rekening Information System were the Non-Tax Revenues
pemerintah yang dikelola, pelayanan kepada wajib (PNBP) deposit data of which the accuracy
bayar/wajib setor kurang terlayani dengan baik dan was doubted, the large number of managed
penggunaan sistem informasi teknologi informasi government’s accounts, insufficient service to the
yang kurang mengikuti perkembangan zaman. tax payers, and the use of information technology
which was not updated.

Pengintegrasian SIMPONI dengan MPN-2 bertujuan The integration of the Online Non-Tax Revenues
untuk mendukung penyempurnaan pembangunan (PNBP) Information System and the 2nd Generation
sistem pengadministrasian pendapatan negara of Government Revenues Module System (SIMPONI)
yang modern. Selain itu juga untuk membangun was aimed at supporting perfection of a modern
database realisasi PNBP yang komprehensif sebagai Government Revenues administration system

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


116 Annual Report of Ministry of Finance 2012
alat analisa dalam perumusan kebijakan dan development. In addition, it was also aimed at a
perencanaan PNBP terkait serta untuk memperbaiki comprehensive database of the Non-Tax Revenues
kualitas perencanaan dan perumusan kebijakan (PNBP) realization as an analysis tool in formulating
PNBP. policies and plans of the related Non-Tax Revenues
(PNBP), as well as to improve quality of the planning
and formulating of Non-Tax Revenues (PNBP)
policies.

Diharapkan di tahun 2013, semua kementerian It is expected that in 2013, all ministries/institutions
lembaga atau wajib bayar PNBP sudah dapat or Non-Tax Revenues (PNBP) payers can already
mengoperasikan SIMPONI. Ada beberapa manfaat operate the Online Non-Tax Revenues (PNBP)
yang akan dirasakan oleh kementerian lembaga Information System. Some advantages that
yaitu : ministries/institutions perceive, include:

a. Mempermudah dan menyederhanakan proses a. It facilitates and simplifies the process of data
pengisian data dan pelaporan PNBP.; filling and Non-Tax Revenues (PNBP) reporting.
b. Menghindari kemungkinan terjadinya human b. It prevents a human error possibility. This is
error. Hal ini dimungkinkan karena tidak ada possible because there is no process of payment
proses input ulang data pembayaran oleh teller data re-input by tellers at the bank/post office,
di bank/pos persepsi serta dengan digunakannya and the use of a specific account according to the
rekening yang spesifik sesuai jenis PNBP yang Non-Tax Revenues (PNBP) type in relation with
berkaitan dengan pelayanan satuan kerja; the work unit service.
c. Memperbanyak pilihan tempat pembayaran, c. It multiplies the payment place choices, so that it
sehingga lebih mudah dan fleksibel; is easier and more flexible.
d. K/L dapat memperoleh akses untuk melakukan d. Ministries/institutons can gain access to observe
pemantauan realisasi pembayaran PNBP the realization of Non-Tax Revenues (PNBP)
dan mendapatkan laporan realisasi (sesuai payment and to obtain the realization report
kewenangannya) secara berkala. (according to its authority) periodically.

Kehadiran SIMPONI diharapkan dapat meningkatkan The Online Non-Tax Revenues (PNBP) Information
kinerja dan kualitas pelayanan dalam pembayaran System (SIMPONI) is expected to increase
PNBP. Selain itu juga meningkatkan ketersediaan performance and service quality in the Non-Tax
dan realibilitas data PNBP, meningkatkan Revenues (PNBP) payment. In addition, it also
akuntabilitas dan transparansi pengelolaan PNBP., increases the availability of Non-Tax Revenues (PNBP)
serta menciptakan sinergi antara perencanaan, data, increases accountability and transparence of
pemantauan, dan evaluasi pengelolaan PNBP. Non-Tax Revenues (PNBP) management, as well as
to create a synergy between planning, observation,
and evaluation of the Non-Tax Revenues (PNBP)
management.

Sementara untuk meningkatkan koordinasi terkait To increase coordination related to supervision


pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan and controlling of the Non-Tax Revenues (PNBP)
PNBP, maka pada tanggal 14 Desember 2012 management, on December 14th, 2012, a
telah dilaksanakan penandatanganan MoU antara Memorandum of Understanding (MoU) was signed
Menteri Keuangan dengan para menteri/ketua between the Minister of Finance and ministers/heads
lembaga. Isi MoU meliputi hal-hal yang terkait of institutions. The MoU contains matters related
dengan pengelolaan PNBP, evaluasi dan pelaporan to the Non-Tax Revenues (PNBP) management,
pengelolaan PNBP, kesepahaman koordinasi dalam evaluation and reporting of the Non-Tax Revenues
hal optimalisasi pengelolaan PNBP. (PNBP) management, and a coordination
understanding in the optimization of the Non-Tax
Revenues (PNBP) payment.

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
117
Kebijakan Sistem Penganggaran Budgeting System Policy

Dalam siklus penyusunan APBN, Ditjen Anggaran In preparing the State Budget, the Directorate
(DJA) memegang peranan sangat penting terkait General of Budget plays a very important role in
alokasi dana. DJA juga berperan penting untuk relation with the fund allocation. The Directorate
menyusun sistem penganggaran yang digunakan. General of Budget also plays an important role in
Sistem itu menyangkut standar biaya untuk arranging the used budgeting system. The system
menghitung biaya kegiatan yang akan dilaksanakan involves a cost standard to calculate the activities cost
setiap K/L maupun tata acara penyusunan Rencana to be implemented by each ministries/institutions as
Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-K/L) well as the procedure of Work Plan arrangement of
serta tata cara revisi pergeseran dananya. ministries/institutions, and the procedure of revising
the fund switch.

Pada tahun 2012 beberapa kebijakan penganggaran In 2012, some budgeting policies already
yang telah dilaksanakan meliputi : implemented included:

1. Menyempurnakan rumusan kinerja agar sesuai 1. Perfection of the performance formulation


dengan ketentuan serta tugas dan fungsi K/L to be suitable with the tasks and functions of
atau instansi; ministries/institutions.
2. Penerapan pengkajian angka dasar (baseline) 2. Application of the baseline assessment towards
terhadap prakiraan maju yang telah dicantumkan the advance prediction already mentioned in
dalam RKA-K/L. Pengkajian angka dasar the Work Plan of ministries/institutions. The
merupakan suatu tahapan dalam pengalokasian baseline assessment was a step in allocating a
anggaran yang sangat penting. Sekitar 90 persen very important budget. Some 90 percent of the
output dalam APBN dialokasikan berdasarkan output in the State Budget has been allocated
angka dasar, sehingga tahapan ini sangat based on the baseline so that the step greatly
berpengaruh terhadap kualitas APBN yang affected the State Budget quality.
disusun;
3. Penyusunan inisiatif baru untuk program/ 3. Arrangement of new initiatives for new
kegiatan/output baru yang akan dilaksanakan programs/activities/outputs to be implemented
K/L. Inisiatif baru ini harus diajukan kepada by the ministries/institutions. The new initiatives
Bappenas dan Kemenkeu c.q. DJA untuk should be submitted to the State Ministry/
mendapatkan persetujuan agar dapat National Development Planning Agency
dilaksanakan dalam tahun yang direncanakan; (Bappenas) and the Ministry of Finance c/q the
Directorate General of Budget for an approval of
the execution in the planned year.
4. Penerapan sistem pemberian penghargaan 4. Application of a reward and punishment system
dan pengenaan sanksi (reward dan punishment) in budget allocating. The stipulation of the
dalam pengalokasian anggaran. Penetapan reward and punishment referred to an evaluation
reward dan punishment ini mengacu pada result obtained by ministries/institutions in the
hasil evaluasi atas pencapaian kinerja K/L tahun previous year. This was aimed at encouraging
sebelumnya. Hal ini bertujuan mendorong K/L the ministries/institutions to be efficient in the
agar melakukan efisiensi dalam pelaksanaan budget implementation without reducing the
anggaran tanpa mengurangi sasaran kinerjanya; performance target.
5. Pengintegrasian antara proses penelaahan 5. Integration between the Work Plan assessment
RKA-K/L dan pengesahan DIPA. Langkah process and the endorsement of the Budget
pengintegrasian merupakan upaya untuk Allocation List (DIPA). The integration step was
meningkatkan pelayanan kepada K/L. Selama ini an effort to increase services to the ministries/
antara penelaahan RKA-K/L dengan pengesahan institutions. To date, assessment of the Work
DIPA dilaksanakan oleh dua unit Eselon I Plan at the ministries/institutions was made by
yaitu DJA dan Ditjen Perbendaharaan. Dengan two Echelon I units, the Directorate General of
pengalihan pengesahan DIPA dari Ditjen Budget and the Directorate General of Treasury.
Perbendaharaan ke DJA, efisiensi dan efektivitas The transfer of the Budget Allocation List DIPA

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


118 Annual Report of Ministry of Finance 2012
tidak hanya dirasakan oleh K/L tapi juga oleh endorsement from the Directorate General of
Ditjen Perbendaharaan dan DJA. Treasury to the Directorate General of Budget,
efficiency and effectiveness were not just
enjoyed by the ministries/institutions but also
by the Directorate General of Treasury and the
Directorate General of Budget.

Standar Biaya Cost Standard

Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 90 Tahun 2010 Under the Government Regulation Number 90/2010
pasal 5 ayat (3) tentang Penyusunan Rencana Kerja article 5 paragraph (3) on the Preparation of Work
dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-K/L), Plan and Budget at ministries/institutions, the
penerapan anggaran berbasis kinerja memerlukan performance-based budgeting application requires
tiga persyaratan. Persyaratan itu adalah indikator three factors, including the work indicator, the cost
kinerja, standar biaya, dan evaluasi kinerja. standard, and the performance evaluation.

Standar biaya merupakan salah satu instrumen The cost standard is one of the instruments in the
dalam penerapan penganggaran berbasis kinerja performance-based budgeting application that
yang meliputi standar biaya masukan (SBM) dan includes input cost standard (SBM) and output cost
standar biaya keluaran (SBK). standard (SBK).

Secara umum fungsi standar biaya adalah sebagai In general, the cost standard’s function is a reference
acuan penghitungan kebutuhan anggaran dalam of the budget needs calculation in the preparation
penyusunan RKA-K/L. Dalam konteks perencanaan of Work Plan and Budget at ministries/institutions.
anggaran, maka fungsi SBM dan SBK adalah sebagai In the context of budget planning, both standards
batas tertinggi yang tidak dapat dilampaui besaran are the highest limit of which the amount cannot be
biayanya. exceeded.

Meski SBM merupakan batas tertinggi, tetapi mulai Although the input cost standard is the highest
tahun 2012 setiap instansi dapat menggunakan limit, beginning in 2012, each agency can use its
standar biaya sendiri yang melampaui standar biaya own cost standard that exceeds the cost standard
yang ditetapkan oleh menteri keuangan. Namun, stipulated by the Minister of Finance. However,
dalam pelaksanaannya harus disertai dengan catatan in the implementation, it must be accompanied
bahwa K/L melampirkan Surat Pernyataan Tanggung with a note that the ministries/institutions attach
Jawab Mutlak (SPTJM) yang ditandatangani oleh a Statement Letter of Absolute Liabiliity (SPTJM)
Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran signed by the Budget User/Power of Budget User (PA/
(PA/KPA). Dengan menandatangani surat pernyataan KPA). By signing the statement letter, the ministries/
tersebut, berarti K/L bertanggung jawab penuh institutions shall be fully responsible for the use of
atas penggunaan satuan biaya, baik jenis maupun the cost units, both the types as well as the amount.
besarannya. Khusus mengenai besaran honorarium Particularly on the amount of honorarium exceeding
yang akan melebihi standar biaya, terlebih dahulu the cost standard, it must have a prior approval from
harus mendapat persetujuan dari menteri keuangan. the Minister of Finance.

Ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan untuk There are some criteria that must be considered
pengajuan usulan biaya kegiatan yang melampui in proposing an activity cost that exceeds a cost
standar biaya yaitu : standard, including:

a. adanya kekhususan satuan biaya yang dimiliki a. Special cost units owned by the ministries/
oleh K/L; institutions;
b. adanya tuntutan peningkatan kualitas pelayanan b. A demand of increasing the quality of certain
publik tertentu; dan/atau public services; and/or
c. daerah terpencil/daerah perbatasan/pulau c. Isolated regions/border regions/outer islands
terluar.

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
119
Evaluasi Kinerja Penganggaran Budgeting Performance Evaluation

Evaluasi kinerja penganggaran sudah Evaluation of the budgeting performance has


mulai diterapkan pada tahun 2011 dengan been applied since 2011 with the objective of
tujuan meningkatkan efisiensi anggaran increasing the budget efficiency and optimizing
dan mengoptimalkan belanja K/L sekaligus the ministries/institutions as well as achieving the
untuk mencapai target kinerja serta sasaran performance target and the national development
prioritas pembangunan nasional. Sementara priorities. To increase efficiency and effectiveness
untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas of the central government budget implementation,
pelaksanaan anggaran belanja pemerintah pusat, the government has also been applying a reward
telah diterapkan sistem pemberian penghargaan and punishment system. Sanctions are given to
dan pengenaan sanksi (reward and punishment). ministries/institutions that are not implementing the
Sanksi dapat dijatuhkan kepada K/L yang tidak budget properly. The policy is expected to increase
melaksanakan anggaran dengan baik. Kebijakan ini the budget discipline and to encourage realization
diharapkan dapat meningkatkan disiplin anggaran of a better planning and expenditures quality.
serta mendorong terwujudnya kualitas perencanaan
dan kualitas belanja yang semakin baik.

Penerapan evaluasi kinerja penganggaran dan The application of the budget performance evaluation
kebijakan reward and punishment tersebut and the reward and punishment policy are a follow
merupakan tindak lanjut dari PP No. 90 Tahun 2010 up to the Government Regulation No. 90/2010 on
tentang RKA-K/L. Dalam PP tersebut diatur bahwa the Work Plan and Budget of ministries/institutions.
dalam menyusun rencana kerja anggarannya, Under the regulation, each ministry/institution shall
setiap K/L harus menggunakan instrumen indikator use a performance indicator instrument, a cost
kinerja, standar biaya dan evaluasi kinerja. Setiap standard and a performance evaluation to prepare
tahun, menteri/pimpinan lembaga wajib melakukan its work plan and budget. Every year, ministers/head
pengukuran dan mengkaji kinerja atas pelaksanaan of institutions shall have the obligation to measure
RKA-K/L tahun sebelumnya dan tahun anggaran and to assess performance of the Work Plan and
berjalan. Evaluasi kinerja meliputi tingkat keluaran Budget from the previous year and the current year.
(output), capaian hasil (outcome), tingkat efisiensi, The performance evaluation includes the output, the
konsistensi antara perencanaan dan implementasi, outcome, efficiency level, consistence between the
serta realisasi penyerapan anggaran. planning and the implementation, and realization of
the budget absorption.

Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Budget Allocation List (DIPA)

DIPA sebelumnya didefinisikan sebagai dokumen The Budget Allocation List (DIPA) was defined as a
pelaksanaan anggaran yang disusun oleh Pengguna document of the budget implementation arranged
Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (PA/KPA) dan by a Budget User/Power of Budget User (PA/KPA),
disahkan oleh Ditjen Perbendaharaan atau Kepala and endorsed by the Directorate General of Treasury
Kanwil Ditjen Perbendaharaan atas nama Menteri or Head of Regional Office of the Directorate General
Keuangan selaku Bendahara Umum Negara. Definisi of Treasury on behalf of the Minister of Finance as
ini mengacu oleh pengesahan DIPA oleh Ditjen the State Treasurer. The definition referred to the
Perbendaharaan, seperti yang tercantum dalam endorsement of the List of Budget Implementation
PMK Nomor 164/PMK.05/2011. Namun semenjak by the Directorate General of Treasury as contained
tahun 2012, DIPA didefinisikan sebagai dokumen in Regulation of the Minister of Finance Number
pelaksanaan anggaran yang disusun oleh PA/KPA. 164/PMK.05/2011. However, since 2012, the Budget
Definisi ini seperti yang tercantum dalam PMK Allocation List (DIPA) is defined as a document of
Nomor 160/PMK.02/2012. Meski memiliki definisi the budget implementation arranged by the Budget
berbeda, secara substansi tidak ada perubahan Executor/Power of the Budget Executor (PA/KPA). The
bahwa DIPA disusun oleh PA/KPA setelah melakukan definition is contained in Regulation of the Minister
penelaahan RKA-K/L dengan DJA. Hal yang of Finance Number 160/PMK.02/2012. Despite the
membedakan adalah surat pengesahannya, dimana different definition, there is no substantial change

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


120 Annual Report of Ministry of Finance 2012
sejak 2012 (untuk DIPA tahun 2013) dilakukan oleh that the Budget Allocation List (DIPA) is prepared
DJA. by the Budget Executor/Power of Budget Executor
(PA/KPA) following an assessment of the Work Plan
and Budget of the ministries/institutions with the
Directorate General of Budget. The difference is that
since 2012 (for the Budget Allocation List (DIPA)
in 2013), the Endorsement Letter of the Budget
Allocation List (DIPA) is endorsed by the Directorate
General of Budget.

Format DIPA tahun anggaran 2013 juga berubah. Format of the Budget Allocation List (DIPA) of Fiscal
Jika pada tahun-tahun anggaran sebelumnya format Year 2013 has also changed. If in the previous fiscal
DIPA terdiri dari satu format, maka sejak tahun years, the format had only one format, since Fiscal Year
anggaran 2013 format DIPA terdiri atas dua format 2013, it consists of two formats, the Parent Budget
yaitu DIPA Induk dan DIPA Petikan. Namun, keduanya Allocation List and the Excerpt of Budget Allocation
merupakan satu kesatuan tidak terpisahkan sebagai List (DIPA). However, both are an inseparable unit as
dokumen DIPA. a document of the Budget Allocation List (DIPA).

Ada beberapa pertimbangan yang melatarbelakangi Some background considerations of integrating


pengintegrasian antara proses penelaahan RKA-KL the process of Work Plan and Budget of ministries/
dengan pengesahan DIPA antara lain: institutions assessment and the Budget Allocation
List (DIPA) endorsement:

a. Memantapkan penerapan Penganggaran a. To stabilize the application of Integrated


Terpadu, Penganggaran Berbasis Kinerja (PBK) Budgeting, Performance-based Budgeting, and
dan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah the Medium-term Expenditures Framework.
(KPJM); b. To perfect provisions related to the preparation
b. Menyempurnakan ketentuan terkait tata cara and endorsement of the Budget Allocation List
penyusunan dan pengesahan DIPA, sejalan (DIPA), along with the transfer of authority of the
dengan adanya pengalihan kewenangan Budget Allocation List (DIPA) from the Directorate
pengesahan DIPA dari semula dilaksanakan oleh General of Treasury to the Directorate General of
Ditjen Perbendaharaan menjadi DJA; Budget.
c. Menyederhanakan proses dalam pengurusan c. To simplify the process of arranging the Work
RKA-K/L dan DIPA serta penyelesaian revisi Plan and Budget of ministries/institutions and
anggaran, dalam rangka meningkatkan kualitas the Budget Allocation List (DIPA), including
pelayanan Kementerian Keuangan kepada para completion of the budget revision to increase
pemangku kepentingan; the service quality of the Ministry of Finance to
the stakeholders.
d. Menjamin tersedianya integritas dan validitas d. To ensure integrity and validity of the budget
data anggaran. data.

Adapun pertimbangan yang mendasari perubahan Some considerations of changing the Budget
format DIPA yaitu : Allocation List (DIPA) format:

a. Menjaga konsistensi penerapan penganggaran a. To maintain consistency in the application


berbasis kinerja, mulai dari penetapan prioritas of performance-based budgeting, from
pembangunan dalam Rencana Kerja Pemerintah stipulation of the development priorities in the
(RKP), penyusunan RKA-K/L dan pengesahan Government’s Work Plan (RKP), preparation of the
DIPA; Work Plan and Budget of ministries/institutions,
and endorsement of the Budget Allocation List
(DIPA).

b. Memberikan fleksibilitas kepada Pengguna b. To provide flexibility to the Budget Users in the
Anggaran jika diperlukan adanya pergeseran event a budget switch is required among work

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
121
anggaran antarsatuan kerja dalam satu unit units in one Echelon I unit and one program, as
Eselon I dan satu program, sepanjang pagu long as the budget ceiling and the performance
anggaran dan target kinerja tidak berubah target remain unchanged that the budget
sehingga dapat menyederhanakan proses revisi revision process can be simplified.
anggaran;
c. Meningkatkan akuntabilitas K/L sebagai c. To increase ministries/institutions’ accountability
penanggung jawab pelaksanaan program dan as the responsible party in the program
target kinerja yang harus dicapai termasuk implementation and performance target that
koordinasi terhadap satuan kerja-satuan kerja must be achieved, including coordination of
(satker) yang berada di bawah program yang work units under the related program.
bersangkutan;
d. Mengurangi beban DJA dalam penandatanganan d. To reduce load of the Directorate General of
Surat Pengesahan DIPA yaitu hanya DIPA induk Budget in signing the Budget Allocation List
(per Unit Eselon I yang jumlahnya sekitar 287 (DIPA), as there are a lot of Budget Allocation List
DIPA). (DIPA) per Echelon I unit (287 Budget Allocation
Lists), not necessarily Budget Allocation List for
all work units (24.000 work units). The Budget
Allocation List (DIPA) for all work units are legal
for payment/fund disbursement basis.

DIPA Induk terdiri atas empat bagian yaitu : Parent Budget Allocation List (DIPA) consists of four
parts, including:

a. Lembar Surat Pengesahan DIPA Induk (SP DIPA a. Endorsement Letter of the Parent Budget
Induk); Allocation List (DIPA);
b. Halaman I memuat Informasi Kinerja dan b. Page I contains Performance Information and
Anggaran Program; Program Budget;
c. Halaman II memuat Rincian Alokasi Anggaran c. Page II contains Detail of Budget Allocation per
per satker; Work Unit;
d. Halaman III memuat Rencana Penarikan Dana d. Page III contains Plan of Fund Withdrawal and
dan Perkiraan Penerimaan. Revenues Prediction.

Sedangkan DIPA Petikan terdiri atas lima bagian Excerpt of Budget Allocation List (DIPA) consists of
yaitu : five parts, including:

a. Lembar Surat Pengesahan DIPA Petikan (SP DIPA a. Endorsement Letter of Excerpt of Budget
Petikan ); Allocation List (DIPA);
b. Halaman I memuat Informasi Kinerja dan Sumber b. Page I contains Performance Informaton and
Dana : Source of Fund:
• Halaman I A mengenai Informasi Kinerja; • Page IA on Performance Information;
• Halaman I B mengenai Sumber Dana; • Page IB on Source of Fund;
c. Halaman II memuat Rincian Pengeluaran; c. Page II contains Expenditures Detail;
d. Halaman III memuat Rencana Penarikan Dana d. Page III contains Fund Withdrawal Plan and
dan Perkiraan Penerimaan; Revenues Prediction;
e. Halaman IV memuat Catatan. e. Page IV contains Note.

Isi dari pernyataan syarat dan ketentuan (disclaimer) Content of the terms and conditions statement
pada Surat Pengesahan DIPA Induk dan DIPA Petikan, (disclaimer) of the Endorsement Letter of the Parent
yaitu : Budget Allocation List (DIPA) and Excerpt of Budget
Allocation List (DIPA):

1. Surat Pengesahan DIPA Induk 1. Endorsement Letter of the Parent Budget


Allocation List (DIPA):

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


122 Annual Report of Ministry of Finance 2012
a. DIPA Induk yang telah disahkan, lebih lanjut a. Parent Budget Allocation List (DIPA) which has
dituangkan ke dalam DIPA Petikan untuk masing- been passed, will further be contained in the
masing satker; Excerpt of List of Budget Allocation List (DIPA) for
the respective work unit;
b. Pengesahan DIPA Induk sekaligus merupakan b. Endorsement of the Parent Budget Allocation
pengesahan DIPA Petikan; List (DIPA) is also endorsement of Excerpt of
Budget Allocation List (DIPA);
c. DIPA Petikan berfungsi sebagai dasar c. Excerpt of Budget Allocation List (DIPA) functions
pelaksanaan kegiatan satker dan dasar pencairan as an implementation basis for work unit
dana/pengesahan bagi Bendahara Umum activities and fund withdrawal/endorsement for
Negara/Kuasa Bendahara Umum Negara; the State Treasurer/Power of the State Treasurer;
d. DIPA Petikan dicetak secara otomatis melalui d. Excerpt of Budget Allocation List (DIPA) is printed
sistem yang dilengkapi dengan kode pengaman automatically through a system equipped with a
berupa digital stamp sebagai pengganti tanda security code in the form of a digital stamp as a
tangan pengesahan (otentifikasi); substitute of an ensorsement signature
e. Informasi mengenai KPA, Bendahara Pengeluaran e. Information on Power of Budget Users,
dan Pejabat Penanda tangan SPM untuk masing- Expenditures Treasurers, and Signing Officials
masing satker terdapat pada DIPA Petikan; for the respective work unit is contained in the
Excerpt of Budget Allocation List (DIPA);
f. Rencana Penarikan Dana dan Perkiraan f. Fund Withdrawal Plan and Revenues Prediction
Penerimaan yang tercantum dalam Halaman mentioned in page III of the Parent Budget
III DIPA Induk diisi sesuai dengan rencana Allocation List (DIPA) are filled according to the
pelaksanaan kegiatan; activities plan;
g. Tanggung jawab terhadap penggunaan dana g. Responsibility of the use of the fund is contained
yang tertuang dalam DIPA Induk sepenuhnya in the Parent Budget Allocation List (DIPA)
berada pada PA/KPA; entirely in the Budget Users/Power of Budget
Users;
h. DIPA Induk berlaku sejak tanggal 1 Januari 2XXX h. The Parent Budget Allocation List (DIPA) shall be
sampai dengan 31 Desember 2XXX. valid from January 1st, 2XXX to December 31st,
2XXX.

2. Surat Pengesahan DIPA Petikan 2. Endorsement Letter of Excerpt of Budget


Allocation List (DIPA):

a. DIPA Petikan merupakan bagian yang tidak a. Excerpt of Budget Allocation List (DIPA) is an
terpisahkan dari DIPA Induk (Nama Program, Unit inseperable part of the Parent Budget Allocation
Organisasi dan Kementerian Negara/Lembaga); List (DIPA) (program name, organization unit,
and ministries/institutions);
b. DIPA Petikan dicetak secara otomatis melalui b. Excerpt of Budget Allocation List (DIPA) is printed
sistem yang dilengkapi dengan kode pengaman automatically through a system equipped with
berupa digital stamp sebagai pengganti tanda s safety code in the form of a digital stamp as a
tangan pengesahan (otentifikasi); substitute of an endorsement signature;
c. DIPA Petikan berfungsi sebagai dasar c. Excerpt of Budget Allocation List (DIPA) functions
pelaksanaan kegiatan satker dan pencairan as a basis of work units actvitities implementation
dana/pengesahan bagi Bendahara Umum and fund withdrawal/endorsement for the State
Negara/Kuasa Bendahara Umum Negara; Treasurer/Power of the State Treasurer;
d. Rencana Penarikan Dana dan Perkiraan d. Fund Withdrawal Plan and Revenues Prediction
Penerimaan yang tercantum dalam halaman as contained in page III of the Budget Allocation
III DIPA Petikan diisi sesuai dengan rencana List (DIPA) are filled according to the activities
pelaksanaan kegiatan; implementation;
e. Tanggung jawab terhadap penggunaan dana e. Responsibility for the use of fund as contained
yang tertuang dalam DIPA Petikan sepenuhnya in the Excerpt of Budget Allocation List (DIPA)
berada pada PA/KPA; is entirely in the Budget Users/Power of Budget
Users;

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
123
f. Dalam hal terdapat perbedaan data antara f. In the event there is a difference in the data
DIPA Petikan dengan database RKA-K/L- between the Excerpt Budget Allocation List
DIPA Kementerian Keuangan, maka yang (DIPA) and the Work Plan and Budget of
berlaku adalah data yang terdapat di dalam ministries/institutions at the Ministry of Finance,
database RKA-K/L-DIPA Kementerian Keuangan then the database in the Work Plan and Budget
(berdasarkan bukti-bukti yang ada); dan of ministries/institutions (based on existing
evidence) is valid; and
g. DIPA Petikan berlaku sejak tanggal 1 Januari g. The Excerpt of Budget Allocation List (DIPA) shall
2XXX sampai dengan 31 Desember 2XXX. be valid from January 1st, 2XXX to December
31st, 2XXX.

Seluruh DIPA tahun anggaran 2013 telah diselesaikan All Budget Allocation Lists (DIPA) Fiscal Year 2013
pada tanggal 5 Desember 2012 atau lebih awal dari were completed on December 5th, 2012 or earlier
target waktu yang ditentukan. Presiden RI secara than the set time target. The President of the
simbolis telah menyerahkan DIPA kepada para Republic of Indonesia symbolically presented the
gubernur dan K/L pada tanggal 11 Desember 2012 di Budget Allocation List (DIPA) to the governors and
Istana Negara. Selanjutnya, DJA bekerja sama dengan ministries/institutions on December 11th, 2012 at
Kanwil Ditjen Perbendaharaan dan Gubernur/ the State Palace. Further, the Directorate General
Pemda Provinsi menyerahkan DIPA Petikan kepada of Budget in cooperation with the Regional Offices
ketua Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKBD) dan of the Directorate General of Treasury and the
para Bupati/ Walikota terkait dana transfer daerah. provincial governments presented the Excerpt of
Jumlah DIPA Induk yang berhasil diselesaikan adalah Budget Allocation List (DIPA) of their respective
sebanyak 263 buah dan DIPA Petikan berjumlah province to Heads of the Regional Office of the
23.192 buah. ministries/institutions, Head of Regional Work Units,
and regents related to the regional fund transfer.
The number of Parent Budget Allocation Lists (DIPA)
completed amounted to 263 and Excerpt of Budget
Allocation List (DIPA) 23,192.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara State Budget (APBN)


(APBN)

APBN Perubahan Tahun 2012 State Budget Review 2012

Tanda-tanda kelesuan perekonomian global sudah Global economic downturn has been seen since mid
terlihat sejak pertengahan tahun 2011. Memasuki 2011. Entering the year 2012, the global economic
tahun 2012, gejolak perekonomian global semakin fluctuation was greater due to the economic crisis in
besar akibat masalah perekonomian di Yunani, Greece, Spain, and some other European countries.
Spanyol serta beberapa negara Eropa lainnya. The economic fluctuation has affected non-European
Gejolak ekonomi tersebut berdampak ke negara- countries, including Asia. The crude oil price in the
negara di luar Eropa, termasuk Asia. Harga minyak international market fluctuated wildly with a trend of
mentah di pasar internasional bergerak tidak going up. Meanwhile, rupiah exchange rate to the US
menentu dengan kecenderungan yang terus naik. dollar continued to fluctuate. The condition has also
Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar AS affected the Indonesian economy, though it did not
yang terus bergerak fluktuatif. Kondisi tersebut juga end up in a domestic financial crisis.
berdampak pada perekonomian Indonesia, meski
tidak sampai menyebabkan krisis finansial dalam
negeri.

Kondisi tersebut mengharuskan perubahan APBN Such a condition required an amendment in the
2012. Setidaknya ada empat faktor utama yang 2012 State Budget. At least there were four main
menyebabkan perlunya dilakukan perubahan factors causing the amendment. First, the global

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


124 Annual Report of Ministry of Finance 2012
tersebut. Pertama, melambatnya perekonomian economy slowed down due to the debt and fiscal
global akibat krisis utang dan fiskal di Eropa. Kondisi crisis in Europe. Second, the crude oil price at the
ini akan berdampak pada neraca pembayaran dan world market continued to rise that the oil and
juga pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kedua, harga electricity subsidy sharply soared. This significantly
minyak minyak mentah di pasar dunia cenderung affected the State Bdget. Third, the rupiah exchange
terus naik sehingga beban subsidi BBM dan listrik rate tended to depreciate to the US dollar, as a
naik tajam. Hal ini akan berdampak secara signifikan result of uncertainty in the global crisis solution.
terhadap APBN. Ketiga, nilai tukar rupiah yang Fourth, prediction that the oil lifting assumption was
cenderung melemah terhadap dolar AS, sebagai not achieved in the State Budget 2012 due to the
akibat dari ketidakpastian penyelesaian krisis global. decrease of revenues from the oil and gas sector.
Keempat, perkiraan tidak tercapainya asumsi lifting
minyak dalam APBN 2012 yang berdampak pada
penurunan penerimaan dari sektor migas.

Pada tanggal 7 hingga 30 Maret 2012 dilakukan From March 7th to 30th, 2012, a State Budget
pembahasan RAPBNP 2012 antara DPR RI dengan Review 2012 was discussed between the House
pemerintah. Sebelumnya, pada akhir bulan Februari of Representatives and the government, after the
2012 pemerintah telah menyampaikan dokumen government presented the Financial Statement and
Nota Keuangan dan RAPBN Perubahan 2012. Pada State Budget Review 2012 at the end of February
tanggal 31 Maret 2012 disahkan Undang-undang 2012. On March 31st, 2012, Law Number 4/2012 on
Nomor 4 Tahun 2012 tentang Perubahan atas Amendment of Law Number 22/2011 on the State
Undang-undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang Budget 2012 was passed.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun
Anggaran 2012.

Asumsi dasar ekonomi makro yang digunakan pada The macroeconomic basic assumptions used in the
Nota Keuangan (APBN awal tahun anggaran 2012) Financial Statement (State Budget of the early Fiscal
dan pada saat melakukan perubahan (APBN-P) 2012 Year 2012) and during the amendment of the State
dapat dilihat pada Tabel 4.2. Budget 2012 can be seen in Table 4.2.

Dalam APBN-P tahun 2012, pemerintah In the State Budget Review 2012, the government
menyesuaikan kebijakan anggaran dengan pokok- adjusted the budget policies with the following
pokok besaran sebagai berikut: assumptions:

1. Pendapatan negara direncanakan mencapai 1. Government Revenues totalling IDR1,358.2


Rp1.358,2 triliun, terdiri atas penerimaan trillion, consisting of tax revenues IDR1,016.2
perpajakan Rp1.016,2 triliun, PNBP Rp341,1 trilion, Non-Tax Revenues (PNBP) IDR341,1
triliun, dan penerimaan hibah Rp825,1 miliar; trililion, and grant IDR825,1 billion;

Tabel 4.2. Asumsi Dasar Ekonomi Makro Tahun 2012URAIAN 2012


Table 4.2. Macro Economic Basic Assumptions 2012

2012
URAIAN
DESCRIPTION APBN APBNP REALISASI
STATE BUDGET STATE BUDGET REVIEW REALIZATION

Pertumbuhan Ekonomi (%, yoy) Economi Growth (%,yoy) 6,7 6,5 6,2
Inflasi (%, yoy) Inflation (%,yoy) 5,3 6,8 4,3

Tingkat Suku Bunga SP SPN Three-Month Interest Rate (%) 6,0 5,0 3,2
Nilai Tukar (RP/US$) (%) Exchange Rate (IDR/US$) (%) 8.800,0 9.000,0 9.384,0

Harga Minyak Mentah Indonesia (US$/barel) Indonesian Crude Oil Price (US$/barrel) 90 105 112,7
Lifting Minyak Indonesia (Ribu barel per hari) Indonesian Oil Lifting (thousands of barrel per day) 950 930 861,0

Sumber : DJA Source: Directorate General of Budget

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
125
Tabel 4.3. Postur APBN dan APBNP Tahun 2012
Table 4.3 Posture of the State Budget and the State Budget Review 2012

POSTUR APBN DAN APBN - PERUBAHAN TAHUN 2012 (Trilliun Rupiah)


POSTURE OF THE STATE BUDGET AND THE STATE BUDGET REVIEW 2012 (Trillion Rupiah) APBN APBN-P
A. Pendapatan Negara Government Revenues 1.311,4 1,358.2
i. Penerimaan Dalam Negeri Domestic Revenues 1.310,6 1.357,4
1. Penerimaan Perpajakan Tax Revenues 1.032,6 1.016,2
(% terhadap PDB) (% to GDP) 12,7 11,9
2. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) (PNBP) 278,0 341,1
II. Penerimaan Hibah Grant 0,8 0,8
B. Belanja Negara State Expenditures 1.435,4 1.548,3
I. Belanja Pemerintah Pusat Central Goverment Expenditures 965,0 1.069,5

II. Transfer Ke Daerah Block Grant 470,4 478,8


C. Keseimbangan Primer Primary Balance (1,8) (72,3)
D. Surplus/Defisit Anggaran (A-B) Budget Surplus/Deficit (A-B) (124,0) (190,1)

% terhadap PDB % to GDP (1,53) (2,23)


E. Pembiayaan Financing 124,0 190,1

III. Pembiayaan Dalam Negeri Domestic Financing 125,9 194,5


IV. Pembiayaan Luar Negeri (Netto) Foreign Financing (Net) (1,9) (4,4)

Sumber : DJA Source: Directorate General of Budget

2. Belanja negara direncanakan sebesar Rp1.548,3 2. State expenditures totalling IDR1,548.3


triliun, terdiri atas belanja pemerintah pusat trillion, consisting of the central government’s
Rp1.069,5 triliun dan transfer ke daerah Rp478,8 expenditures IDR1,069.5 trillion and block grant
triliun; of IDR478,8 trillion;
3. Defisit anggaran diperkirakan sebesar Rp190,1 3. Budget deficit in amount of IDR190,1 trillion (2.2
triliun (2,2 persen terhadap PDB); serta percent from the GDP); and
4. Pembiayaan defisit APBN 2013 direncanakan 4. Deficit financing of the State Budget 2013 was
berasal dari sumber-sumber pembiayaan dalam planned to be from domestic financing in amount
negeri sebesar Rp194,5 triliun, dan pembiayaan of IDR194,5 trillion, and foreign financing (net) in
luar negeri (neto) sebesar negatif Rp4,4 triliun. amount of negative IDR4,4 trillion.

APBN Tahun 2013 State Budget 2013

Sebagai wujud pelaksanaan pasal 23 Undang- As a manisfestation of implementing the mandate


Undang Dasar 1945 Amandemen keempat, of article 23 of the Constitution 1945 fourth
pemerintah menyusun dan mengajukan RUU APBN amendment, the government has prepared and
2013 beserta Nota Keuangannya kepada DPR. submitted draft bill on the State Budget 2013 and the
Setelah melalui proses pembahasan yang intensif Financial Statement to the House of Representatives.
dan mendalam, DPR RI dalam Sidang Paripurna Following a process of intensive and in-depth
menyepakati dan mengesahkan RUU tentang discussions, the House of Representatives approved
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2013 and passed the draft bill on the State Budget 2013
pada tanggal 23 Oktober 2012. Penetapan ini in a Plenary Session on October 23rd, 2012. The
tertuang dalam UU nomor 19 Tahun 2012. stipulation was contained in Law Number 19/2012.

Sesuai ketentuan UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Under Law Number 17/2003 on the State’s Finance,
Keuangan Negara, penyusunan RAPBN 2013 arrangement of the State Budget Plan 2013 was

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


126 Annual Report of Ministry of Finance 2012
berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) guided by the Government’s Work Plan 2012. The
tahun 2013. Penyusunan ini merupakan satu mata arrangement was a link to the implementation of the
rantai dari pelaksanaan Rencana Pembangunan National Middle-Term Develoment Plan (IDRJMN)
Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2010 2010 – 2014, and the Framework of Macro Economy
- 2014, serta Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok- and Fiscal Policies 2013. These were approved in a
pokok Kebijakan Fiskal tahun 2013. Hal-hal tersebut preliminary discussion between the government
telah disepakati dalam pembicaraan pendahuluan and the House of Representatives from May 29th,
antara pemerintah dan DPR RI tanggal 29 Mei 2012 to July 3rd, 2012.
hingga 3 Juli 2012.

SB Pagu Indikatif Menteri


Kapasitas Fiskal Keputusan Menteri Keuangan
Keuangan + Menteri Pembicaraan Pendahuluan
Januari - Februari 2012 tentang Pagu Anggaran
Perencanaan Pembangunan 30 Mei - 3 Juli 2012
K/L 6 Juli 2012
Nasional 30 Maret 2012

Sidang Paripurna Pembahasan dengan Pidato Presiden


DPR tentang DPR 4 September 2012 - Penyampaian Nota
Pengesahan UU 22 Oktober 2012 Keuangan 16 Agustus 2012
APBN 23 Oktober 2012

UU No. 19 Tahun 2012 Surat Mentri Keuangan Keputusan Presiden


tentang APBN 2013 tentang Alokasi Anggaran tentang Rincian Anggaran
23 Oktober 2012 23 Oktober 2012 30 November 2012

Proses dan mekanisme penyiapan, penyusunan, Process and mechanism of preparation, arrangement,
dan pembahasan RAPBN Tahun Anggaran 2013 and discussion of the State Budget Plan Fiscal Year
juga dilakukan berdasarkan UU Nomor 27 Tahun 2013 were executed under Law Number 27/2009
2009 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD. Proses on the People’s Consultative Assembly, the House
penyusunan sampai dengan penetapan APBN 2013 of Representatives, and the Regional House of
dapat diikuti pada bagan berikut ini. Representatives. The process from the arrangement
until the sipulation of the State Budget 2013 can be
seen in the following chart:

Dalam Rencana Kerja Pemerintah tahun 2013, In the Government’s Work Plan 2013, the national
ditetapkan tema pembangunan nasional: development theme was set:“To strengthen domestic
“Memperkuat Perekonomian Domestik bagi economy for the increase and expansion of the
Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat”. people’s welfare”. The theme was chosen considering
Tema itu dipilih dengan mempertimbangkan the challenges and problems that the government
tantangan dan masalah yang dihadapi, capaian was facing, the performance achievement and

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
127
kinerja dan potensi yang dimiliki, serta sasaran- potential, as well as the development target to be
sasaran pembangunan yang akan dicapai. achieved.

Sejalan dengan tema pembangunan tersebut, Along with the development theme, the fiscal
ditetapkan arah kebijakan fiskal: “Mendorong policies direction was stipulated: “To encourage
Pertumbuhan Ekonomi yang Berkelanjutan sustainable economic growth through fiscal
melalui Upaya Penyehatan Fiskal”. Arah kebijakan restructuring efforts”. The policies direction stressed
tersebut menekankan pentingnya mengupayakan out the importance of trying to realize a healthy fiscal
terwujudnya kondisi fiskal yang sehat dalam rangka condition to maintain a sustainable economic growth.
mendorong terjaganya pertumbuhan ekonomi The strategy to maintain the fiscal sustainability
yang berkelanjutan. Adapun strategi untuk menjaga included four main things, including: (1) to optimize
kesinambungan fiskal ditempuh melalui empat hal the Government Revenues by maintaining the
pokok, yaitu: (1) optimalisasi pendapatan negara investment climate, the business sustainability,
dengan tetap menjaga iklim investasi, keberlanjutan and the environmental preservation; (2) to increase
dunia usaha, dan kelestarian lingkungan hidup; quality of the government expenditures through
(2) meningkatkan kualitas belanja negara melalui unproductive expenditures efficiency and by
efisiensi belanja yang kurang produktif dan increasing infrastructure expenditures to spur
meningkatkan belanja infrastruktur untuk memacu economic growth; (3) to maintain the budget deficit
pertumbuhan; (3) menjaga defisit anggaran pada in a safe limit (below three percent of GDP); and (4) to
batas aman (di bawah 3 persen terhadap PDB); dan decrease the debt to GDP ratio in a controlled limit.
(4) menurunkan rasio utang terhadap PDB dalam
batas yang terkendali.

Tabel 4.4. menyajikan perbandingan asumsi Table 4.4. presents comparison of the macro
dasar ekonomi makro yang digunakan pada saat economic basic assumptions used in preparing the
menyusun pada Nota Keuangan dan APBN tahun Financial Statement and the State Budget Fiscal Year
anggaran 2013 dengan tahun anggaran 2012. 2013 and 2012.

Tabel 4.4. Asumsi Dasar Ekonomi Makro Tahun 2012-2013


Tabel 4.4. Macro Economic Basic Assumptions 2012-2013

2012 2013
URAIAN
DESCRIPTION APBNP REALISASI APBN
STATE BUDGET REVIEW REALIZATION STATE BUDGET

Pertumbuhan Ekonomi (%, yoy) Economic Growth (%,yoy) 6,5 6,2 6,8
Inflasi (%, yoy) Inflation (%,yoy) 6,8 4,3 4,9

Tingkat Suku Bunga SPN 3 Bulan (%) Goverment Treasury Bill Three-Month Interest Rate (%) 5,0 3,2 5,0
Nilai Tukar (RP/US$) (%) Exchange Rate (IDR/USD) (%) 9,000,0 9.384,0 9.300,0

Harga Minyak Mentah Indonesia (US$/barel) Indonesian Crude Oil Price (USD/barel) 105 112,7 100,0
Lifting Minyak Indonesia (Ribu barel per hari) Indonesian Oil Lifting (thousand of barrels per day) 930 861,0 900,0
Lifting Gas (ribu barel per hari setara minyak) Gas Lifting (thousaand of barrels per day equivalent to oil) n,a n,a 1.360,0

Sumber : DJA Source: Directorate General of Budget

Dalam tahun 2013, pemerintah masih menempuh In 2013, the government still took an expansive
kebijakan anggaran ekspansif dengan pokok-pokok budget policy with the following assumptions:
besaran sebagai berikut:
1. Pendapatan negara direncanakan mencapai 1. Government revenues was planned to amount
Rp1.529,7 triliun, terdiri atas penerimaan to IDR1,529.7 trillion, consisting of tax revenues
perpajakan Rp1.193,0 triliun, PNBP Rp332,2 IDR1,193.0 trillion, Non-Tax Revenues (PNBP)
triliun, dan penerimaan hibah Rp4,5 triliun; IDR332.2 trillion, and grant IDR4.5 trillion;

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


128 Annual Report of Ministry of Finance 2012
2. Belanja negara direncanakan sebesar Rp1.683,0 2. State expenditures was planned to total
triliun, terdiri atas belanja pemerintah pusat IDR1,683.0 trillion, consisting of the central
Rp1.154,4 triliun dan transfer ke daerah Rp528,6 government expenditures IDR1,154.4 trillion and
triliun; block grant IDR528.6 trillion;
3. Defisit anggaran diperkirakan sebesar Rp153,3 3. Budget deficit was predicted to total IDR153.3
triliun (1,65 persen terhadap PDB); serta trillion (1.65 percent of GDP); and
4. Pembiayaan defisit APBN 2013 direncanakan 4. Deficit financing of the State Budget 2013
berasal dari sumber-sumber pembiayaan dalam was planned to be from domestic financing of
negeri sebesar Rp172,8 triliun, dan pembiayaan IDR172.8 trillion, and foreign financing (net) of
luar negeri (neto) sebesar negatif Rp19,5 triliun. negative IDR19.5 trillion.
Ringkasan postur APBN-Perubahan 2012 dan APBN Resume of the posture of the State Budget Review
tahun anggaran 2013 terangkum dalam Tabel 4.5. 2012 and the State Budget 2013 is contained in Table
4.5.

Tabel 4.5. Ringkasan APBN 2012-2013 (dalam triliun rupiah)


Table 4.5. Summary of the State Budget 2012-2013 (in trillion of rupiahs)

2012 2013
APBN APBNP APBN
A. Pendapatan Negara Government Revenues 1.311,4 1.358,2 1.529,7
i. Penerimaan Dalam Negeri Domestic Revenues 1.310,6 1.357,4 1.525,2
1. Penerimaan Perpajakan Tax Revenues 1.032,6 1.016,2 1.193,0
(% terhadap PDB) % to GDP 12,7 11,9 12,9
2. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Non-Tax Revenues (PNBP) 278,0 341,1 332,2
II. Penerimaan Hibah Grant 0,8 0,8 4,5
B. BELANJA NEGARA State Expenditures 1.435,4 1.548,3 1.683,0
I. Belanja Pemerintah Pusat Central Government Expenditures 965,0 1.069,5 1.154,4

II. Transfer Ke Daerah Block Grant 470,4 478,8 528,6


C. Keseimbangan Primer Primary Balance (1,8) (72,3) (40,1)
D. Surplus/Defisit Anggaran (A-B) Budget Surplus/Deficit (A_B) (124,0) (190,1) (153,3)

% terhadap PDB % to GDP (1,53) (2,23) (1,65)


E. Pembiayaan Financing 124,0 190,1 153,3

III. Pembiayaan Dalam Negeri Domestic Financing 125,9 194,5 172,8


IV. Pembiayaan Luar Negeri (Netto) Foreign Financing (net) (1,9) (4,4) (19,5)

Sumber : DJA Source : Directorate General of Budget

Tabel 4.6. Alokasi Anggaran TA 2013 per Jenis Belanja


Table 4.6. Budget Allocation of Fiscal Year 2013 per Expenditure Item (in rupiah)

No Jenis Belanja Type of Expenditure Jumlah Amount

1 Belanja Pegawai Employee expenditure 139.890.094.501.000


2 Belanja Barang Goods expenditure 200.735.154.495.000

3 Belanja Modal Capital expenditure 184.363.520.833.000

4 Bantuan Sosial Social Assistance 69.608.838.275.000


Jumlah Amount 594.597.608.104.000

Sumber : Keppres Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat (RABPP) Source: Presidential Decree on the Detailed Central State Budget (RABPP)

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
129
Tabel 4.7. 10 Kementerian Lembaga Dengan Alokasi Anggaran Terbesar Tahun Anggaran 2013
Table 4.7. 10 Ministries/institutions with the Largest Budget Allocation Fiscal Year 2013

JENIS BELANJA TYPE OF EXPENDITURE


Kementerian / Lembaga Jumlah
Ministry / Institution Amount
Pegawai Barang Modal Bansos
Employee Goods Capital Social Assistance
Pertahanan Defense 37.045.556.539 62.583.138.404 32.029.004.285 - 81.963.562.678
PU Public Works 1.400.764.849 10.040.697.297 62.583.138.405 3.953.417.017 77.978.017.568

Pendidikan Education 9.895.938.617 36.959.136.720 3.312.135.454 22.920.294.616 73.087.504.957


Polri Indonesia Police 29.859.419.544 8.940.660.245 6.821.952.516 - 45.622.032.305

Agama Religious Affairs 21.312.962.566 8.332.605.412 3.002.905.680 11.312.042.045 43.960.515.703


Perhubungan Transportation 1.567.862.834 7.332.643.986 27.778.739.824 - 43.960.515.703
Kesehatan Health 4.739.775.041 14.770.903.782 6.964.628.562 8.106.650.000 34.581.957.385

ESDM Energy and Mineral Resources 621.159.414 5.646.758.819 12.535.973.135 - 18.803.891.368


Keuangan Finance 8.415.555.703 7.052.062.711 2.766.779.066 - 18.234.397.480
Pertanian Agriculture 1.250.025.520 8.869.665.281 1.660.733.595 6.039.120.816 17.819.545.212

PERBENDAHARAAN TREASURY

Pembentukan KPPN Percontohan Setting up of Pilot State Treasury Offices (KPPN)

Perubahan desain organisasi yang signifikan A significant change in the organization design of
di tubuh Ditjen Perbendaharaan salah satunya the Directorate General of Treasury was realized by
diwujudkan melalui pembentukan Kantor Pelayanan the setting up of Pilot State Treasury Offices (KPPN).
Perbendaharaan Negara (KPPN) Percontohan. Ada There are two services provided by the Pilot State
dua layanan yang diberikan KPPN Percontohan yakni Treasury Offices (KPPN), including Instruction Letter
penyelesaian Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) of Fund Disbursement (SP2D) and administering of
dan penatausahaan penerimaan negara. Di KPPN Government Revenues. At the Pilot State Treasury
Percontohan, dua layanan tersebut dilaksanakan Offices (KPPN), these two services are implemented
sesuai dengan fungsi front office, middle office, dan according to the front office, middle office, and back
back office yang didukung oleh penyesuaian layout office functions supported by the offices’ layout.
kantor.

Pemisahan ini untuk menunjang pemisahan tugas The separation aims to support tasks separation
antar bagian; pengkartuan satker secara elektronik among divisions: electronic work units card
non-departemental job; dan tersedianya customer system; non-departmental jobs; and customer
service yang akan melayani satker jika menghadapi service to help the work units whenever they face
permasalahan. Pemisahan fungsi ditujukan untuk problems. The functions separation aims to shorten
memperpendek jalur birokrasi serta memutus bureaucracy and to cut opportunities of bureaucracy
peluang-peluang terjadinya mafia birokrasi dan mafia and corruption. On the other hand, under the
korupsi. Demikian pula Pencairan SP2D non Belanja conventional service, the Instruction Letter of Fund
Pegawai yang pada proses layanan konvensional Disbursement for Non Employees Expenditure takes
memakan waktu satu hari, tetapi dengan adanya one day to process; however, thanks to the standard
prosedur operasi standar di KPPN Percontohan, operation procedure at the Pilot State Treasury
proses itu dapat disingkat menjadi satu jam saja. Offices (KPPN), the process takes only one hour.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


130 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Pembentukan KPPN Percontohan telah dimulai The setting up of Pilot State Treasury Offices (KPPN)
sejak tanggal 30 Juli 2007. Saat itu operasional started on July 30th, 2007 at 18 State Treasury Offices
KPPN Percontohan didirikan di 18 KPPN dari in 17 provincial capitals. In 2008, 14 Pilot State
17 ibukota provinsi mulai dilaksanakan secara Treasury Offices (KPPN) were set up, and in 2009, an
penuh. Pada tahun 2008 telah dibentuk 14 KPPN additional 5 Pilot State Treasury Offices (KPPN) were
Percontohan dan pada tahun 2009 telah dibentuk established. Until 2012, all 177 State Treasury Offices
5 KPPN Percontohan. Hingga tahun 2012, 117 KPPN have become Pilot State Treasury Offices (KPPN).
seluruhnya telah menjadi KPPN Percontohan.

Penataan Organisasi dan Tata Kerja Instansi Organization and Work Procedure of Vertical
Vertikal Institutions

Kinerja Kantor Vertikal di lingkungan Ditjen Performance of vertical offices at the Directorate
Perbendaharaan terus ditingkatkan untuk General of Treasury continues to be increased to
mendukung terwujudnya tata kelola keuangan support the realization of professional, productive,
negara dan kekayaan negara yang profesional, and transformative state’s finance and state’s assets
produktif, transformatif sesuai dengan transformasi governance in accordance with the institutional
kelembagaan Kementerian Keuangan. Peningkatan transformation at the Ministry of Finance. The
kinerja juga ditujukan mendukung sinergi antar unit performance increase is also aimed at supporting
Eselon I Kementerian Keuangan. Untuk itu, perlu synergy among Echelon I units at the Ministry of
dilakukan penyempurnaan organisasi dan tata kerja Finance. For this purpose, the organization and work
Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan dan Kantor procedures of the Regional Offices and State Treasury
Pelayanan Perbendaharaan Negara. Penyempurnaan Offices of the Directorate General of Treasury must
organisasi Kantor Vertikal Direktorat Jenderal be perfected. The organizational improvement of the
Perbendaharaan diatur melalui PMK Nomor: 169/ vertical offices at the Directorate General of Treasury
PMK/2012 pada tanggal 6 November 2012. is regulated under Regulation of the Minister of
Finance Number: 169/PMK/2012 dated November
6th, 2012.

Beberapa faktor utama penataan organisasi kantor Some main factors of the organizational
vertikal Ditjen Perbendaharaan antara lain: improvement of vertical offices at the Directorate
General of Treasury include:

1. Rencana implementasi Sistem Perbendaharaan 1. Implementation plan of the State Budget and
Anggaran Negara (SPAN) dan transformasi Treasury System (SPAN) and the institutional
kelembagaan Kementerian Keuangan serta transformation of the Ministry of Finance as well
penajaman fungsi Perbendaharaan; as sharpening the Treasury’s functions;
2. Berdasarkan perhitungan full time equivalent 2. Based on the Full Time Equivalent (FTE)
(FTE) dengan implementasi SPAN, beban kerja calculation with the State Budget and Treasury
pada Kanwil Ditjen Perbendaharaan berkurang System (SPAN) implementation, the work load of
23 persen, dan KPPN berkurang 18 persen; the Regional Offices at the Directorate General
of Treasury has decreased 23 percent, and of the
State Treasury Offices 18 percent;
3. Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan perlu 3. Regional Offices at the Directorate General of
mempertajam fungsi kantor wilayah sebagai Treasury need to sharpen their functions as a unit
unit koordinatif, pembinaan, supervisi teknis dan to coordinate, develop, technically supervise,
pengembangan kapasitas kantor operasional and develop capacity of the operational offices
serta menjalankan fungsi wakil Kementerian as well as to represent the Ministry of Finance
Keuangan di bidang fiskal di daerah (pembinaan in the fiscal sector in regions (development of
keuangan pusat-daerah, analisis belanja

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
131
pemerintah, konsolidasi APBN-APBD dalam central-regional finance, analysis of the state’s
Government Finance Statistics); expenditures, consolidation of the State Budget
and the Regional Budget in the Government
Finance Statistics);
4. KPPN perlu mempertajam fungsi sebagai Kuasa 4. The State Treasury Offices need to sharpen
Bendahara Umum Negara yang melaksanakan their function as Power of the State’s General
tugas pencairan dana APBN, pemantauan, Treasurer that implement the State Budget
dan bimbingan teknis kepada satker, fund disbursement, observation and technical
serta standardisasi pengelolaan keuangan guidance to work units, as well as standardization
pemerintah. of the government financial management.

Struktur Baru Kantor Vertikal Ditjen Perbendaharaan Struktur Baru Kantor Vertikal Ditjen Perbendaharaan
berdasarkan PMK 169/PMK.01/2012 adalah sebagai berdasarkan PMK 169/PMK.01/2012 adalah sebagai
berikut. berikut.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


132 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Kanwil Ditjen Perbendaharaan
Regional Offices at the Directorate General of Treasury

SUBBAGIAN
KEPEGAWAIAN

SUBBAGIAN
KEUANGAN
KANTOR WILAYAH
DITJEN PERBENDAHARAAN BAGIAN UMUM
SUBBAGIAN
TATA USAHA DAN RUMAH TANGGA

SUBBAGIAN
PENILAIAN KINERJA

BIDANG
BIDANG PEMBINAAN BIDANG PEMBINAAN PEMBINAAN PELAKSANAAN DAN BIDANG SUPERVISI KPPN
PELAKSANAAN ANGGARAN I PELAKSANAAN ANGGARAN II PELAPORAN KEUANGAN DAN KEPATUHAN

SEKSI PEMBINAAN SEKSI PEMBINAAN SEKSI PEMBINAAN SEKSI


PELAKSANAAN PELAKSANAAN AKUNTANSI PEMERINTAH SUPERVISI
ANGGARAN I A ANGGARAN II A PUSAT PROSES BISNIS

SEKSI PEMBINAAN SEKSI PEMBINAAN SEKSI PEMBINAAN SEKSI


PELAKSANAAN PELAKSANAAN SISTEM AKUNTANSI SUPERVISI TEKNIS
ANGGARAN I B ANGGARAN II B PEMERINTAH DAERAH APLIKASI

SEKSI PEMBINAAN SEKSI PEMBINAAN SEKSI ANALISA, STATISTIK, SEKSI


PELAKSANAAN PELAKSANAAN DAN PENYUSUNAN KEPATUHAN
ANGGARAN I C ANGGARAN II C LAPORAN KEUANGAN INTERNAL

SEKSI PEMBINAAN
PELAKSANAAN
ANGGARAN I D

KANTOR PELAYANAN KELOMPOK JABATAN


PEMBENDAHARAAN NEGARA FUNGSIONAL

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
133
KPPN Tipe A1
KPPN Tipe A1

KANTOR PELAYANAN PERBENDAHARAAN


NEGARA TIPE A1

SUBBAGIAN
UMUM

SEKSI SEKSI MANAJEMEN SATKER SEKSI VERIFIKASI


SEKSI BANK
PENCAIRAN DANA DAN KEPATUHAN INTERNAL DAN AKUNTANSI

KELOMPOK JABATAN
FUNGSIONAL

KPPN Tipe A2
KPPN Tipe A2

KANTOR PELAYANAN PERBENDAHARAAN


NEGARA TIPE A2

SUBBAGIAN
UMUM

SEKSI PENCAIRAN DANA SEKSI BANK SEKSI VERIFIKASI


DAN MANAJEMEN SATKER DAN AKUNTANSI

KELOMPOK JABATAN
FUNGSIONAL

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


134 Annual Report of Ministry of Finance 2012
KPPN Khusus Pinjaman dan Hibah
State Treasury Offices particularly for Loan and Grant

KANTOR PELAYANAN PERBENDAHARAAN


KHUSUS PINJAMAN DAN HIBAH

SUBBAGIAN UMUM

SEKSI SEKSI
SEKSI PENYALURAN SEKSI PENYALURAN SEKSI BANK
MANAJEMEN SATKER DAN VERIFIKASI DAN
PINJAMAN DAN HIBAH I PINJAMAN DAN HIBAH II KEPATUHAN INTERNAL AKUNTANSI

KELOMPOK JABATAN
FUNGSIONAL

KPPN Khusus Penerimaan


State Treasury Offices particularly for Revenues

KANTOR PELAYANAN PERBENDAHARAAN


NEGARA KHUSUS PENERIMAAN

SUBBAGIAN UMUM

SEKSI PELAPOR DAN SEKSI SEKSI VERIFIKASI, AKUNTANSI, SEKSI LAYANAN DAN PENGELOLAAN
KEPATUHAN INTERNAL REKONSILIASI DAN ANALISA STATISTIK TEKNOLOGI INFORMASI

KELOMPOK JABATAN
FUNGSIONAL

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
135
KPPN Khusus Investasi
State Treasury Offices particularlly for Investment

KANTOR PELAYANAN PERBENDAHARAAN


NEGARA KHUSUS INVESTASI

SUBBAGIAN UMUM

SEKSI PENYALURAN SEKSI SETELMEN SEKSI SETELMEN SEKSI VERIFIKASI, AKUNTANSI,


INVESTASI INVESTASI II INVESTASI II DAN ANALISA STATISTIK

KELOMPOK JABATAN
FUNGSIONAL

Realisasi Penyerapan Anggaran K/L Realization of Budget Absorption at Ministries/


institutions

Dengan kecenderungan belanja negara yang Considering the continuously increasing government
terus meningkat dari tahun ke tahun, maka Ditjen expenditures from year to year, the Directorate
Perbendaharaan selaku Kuasa Bendahara Umum General of Treasury as Power of the General
Negara (BUN) semakin bertanggung jawab untuk State Treasurer (BUN) is increasingly responsible
memberikan pelayanan yang prima. Hal itu untuk of providing prime service. This is to encourage
mendorong K/L merealisasikan anggarannya ministries/institutions realize their budget optimally
secara optimal agar berdampak signifikan terhadap to affect significantly in the people’s welfare.
peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Realisasi penyerapan anggaran TA 2012 seluruh K/L Realization of the budget absorption Fiscal Year
secara nasional yang tercantum dalam Daftar Isian 2012 for all ministries/institutions as contained
Pelaksanaan Anggaran (DIPA) berdasarkan aplikasi in the Budget Allocation List (DIPA) based on the
monitoring dan evaluasi penyerapan Anggaran monitoring and evaluation application was in
adalah sebesar Rp492,8 triliun, atau sebesar 88,21 amount of IDR492,8 trillion, or 88.21 percent from
persen dari pagu sebesar Rp558,7 triliun. Jumlah the ceiling totalling IDR558,7 trillion. The percentage
ini tidak berbeda jauh dengan TA 2011 yang juga was slightly different from Fiscal Year 2011 which
berkisar 88,21 persen dan pada TA 2010 sebesar was 88.21 percent and Fiscal Year 2010 which was
89,47 persen. Apabila dibedakan per jenis belanja, 89.47 percent. Grouped per expenditure item, the
Belanja Pegawai mempunyai persentase penyerapan Employees Expenditure had the highest percentage
anggaran tertinggi yaitu sebesar 97,53 persen. of the budget absorption, which was 97.53 percent;
Sedangkan persentase penyerapan anggaran while the Capital Expenditure had the lowest
terendah adalah Belanja Modal sebesar 81,41 persen. percentage of the budget absorption, which was
81.41 percent.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


136 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Grafik 4.2. Pagu Belanja TA 2006-2012
Graphic 4.2. Expenditure Ceiling Fiscal Year 2006-2012

Pagu Belanja T.A. 2006 - 2012

1.600.000

1.400.000

1.200.000

1.000.000
Miliar Rupiah

800.000

600.000

400.000

200.000
0
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

Tahun Anggaran

Tahun Anggaran 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

Pagu Belanja (Miliar) 667.128,7 757.649,9 985.730,7 937.382,1 1.042.117,2 1.320.751,3 1.435.406,7

Sumber : Data Pokok APBN 2006 – 2012 Source: Principal Data of the State Budget 2006 – 2012

Tabel 4.8. Rekapitulasi Pagu dan Realisasi DIPA K/L T.A. 2012 per Jenis Belanja
Table 4.8. Recapitulation of Ceiling and Realization of the List of Budget Implementation of Ministries/Institutions Fiscal Year 2012
per Expenditure Item (billion rupiah)

No Jenis Belanja Type of Expenditure Pagu Ceiling Realisasi Realization Presentasei Percentage

1 Belanja Pegawai Personnel Expenditure 131.339,11 128.096,49 97,53%


2 Belanja Barang Goods Expenditure 164.762,17 141.790,17 86,06%

3 Belanja Modal Capital Expenditure 180.804,35 147.212,21 81,42%

4 Bantuan Sosial Social Expenditure 81.762,20 75.716,85 92,61%


Jumlah Total 558.667,83 492.815,72 88,21%

Sumber : Aplikasi Monitoring dan Evaluasi Penyerapan Anggaran (data sementara per 13 Februari 2013)
Source : Monitoring and Evaluation Application of Budget Absorption (temporary data per February 13th, 2013)

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
137
Grafik 4.3. Perbandingan Pagu dan Realisasi DIPA K/L TA 2010-2012
Graphic 4.3. Comparison of Ceiling and Realization of the Budget Allocation List (DIPA) of Ministries/Institutions Fiscal Year 2010-2012

Perbandingan Pagu dan Realisasi DIPA K/L T.A. 2010-1012

600.000

500.000
Miliar Rupiah

400.000

300.000

200.000

100.000 Pagu
0 Realisasi
2010 2011 2012

Tahun Anggaran

Sumber: Aplikasi Monev Penyerapan Anggaran (data per 13 Februari 2013)


Source: Monitoring and Evaluation Application of Budget Absorption (data per February 13th, 2013)

Mekanisme Spending Review Spending Review Mechanism

Kecenderungan belanja negara semakin meningkat The government expenditures tend to continuously
dari tahun ke tahun, bahkan volume APBN saat ini increase from year to year, the current State Budget’s
sudah mencapai tiga kali lipat dibanding tahun volume is even three times higher than that in 2005.
2005. Namun, perkembangan tersebut belum diikuti However, the development is not followed with an
dengan peningkatan angka Human Development increase in the Indonesian Human Development
Indeks (HDI) di Indonesia. Pada tahun 2005 volume Index (HDI). In 2005, the State Budget’s volume
APBN sebesar Rp509,6 triliun, sedangkan pada totalled IDR509.6 trillion, while in 2011, the State
tahun 2011 jumlah APBN sebesar Rp1.320, 8 triliun. Budget was in amount of IDR1,320.8 trillion.
Sementara itu, HDI Indonesia pada tahun 2005 Meanwhile, the Indonesian HDI in 2005 was 0.572,
berada pada nilai 0,572, sedangkan nilai pada and in 2011, it was 0.617. Compared with other
tahun 2011 dalam angka 0,617. Jika dibandingkan Asian countries, the Indonesian HDI’s growth was
dengan negara Asia lainnya, pertumbuhan nilai lower than Thailand. Also, if compared with South
HDI Indonesia masih berada di bawah Thailand. Korea that is experiencing post-crisis growth with
Demikian pula jika dibandingkan dengan Korea yang Indonesia, the current HDI is far above Indonesia.
sama-sama mengalami pertumbuhan pascakrisis
bersama Indonesia, saat ini nilai HDI-nya sudah jauh
di atas Indonesia.

Sementara fiscal space pemerintah dari tahun ke The government’s fiscal space from year to year only
tahun hanya berkisar antara 5,11 -5,10 persen dari ranges between 5.11 – 5.10 percent from the GDP.
PDB. Pada tahun 2011, ficsal space sebesar 5,10 In 2011, the fiscal space was 5.10 percent from the
persen dari PDB dengan kondisi Belanja Terikat GDP where the Bonded Expenditures had a ratio
memiliki rasio 71,30 persen dari total belanja. Ruang of 71.30 percent from the Total Expenditures. The
Pemerintah untuk mengalokasikan belanja modal government’s space to allocate capital expenditures
yang berperan signifikan dalam pertumbuhan playing a significant role in the economic growth, was

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


138 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Grafik 4.4. Komparasi Belanja Negara dengan Indeks Pembangunan Manusia Periode 2005-2011.
Graphic 4.4. Comparison of the Government Expenditures with the Human Development Index 2005-2011

Komparasi Belanja Negara Dengan Indeks Pembangunan Manusia (HDI) Periode 2005-2011

1.600
TMiliar Rupiah

1.400 1.320.8

1.200
1.042.1
Belanja Negara

1.000 985.7 937.4

800 757.6
667.1
600
509.6
0.607 0.613 0.617
400 0.591 0.598
0.579
200 0.572

0
2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011

BELANJA NEGARA HUMAN DEVELOPMENT INDEXS

ekonomi menjadi terbatas. Hal itu menunjukan then limited. This showed the low outcome of the
rendahnya outcome pelaksanaan anggaran K/L. budget implementation at ministries/institutions,
where there remained a discrepancy between the
input and the outcome.

Dalam hal penyerapan belanja negara, khususnya Absorption of the government expenditures,
belanja barang dan belanja modal K/L, tidak berjalan especially goods and capital expenditures at
secara optimal dan cenderung menumpuk pada ministries/institutions, did not run optimally and
akhir tahun anggaran. Akibatnya, peran stimulus tended to accumulate by the end of the fiscal
fiskal dari kontribusi belanja negara tidak tercapai year. As a result, the role of the fiscal stimulus
dan tidak menguntungkan bagi pengelolaan kas contributed from the government expenditures, was
yang baik. Dilihat dari sisi kualitas belanja (value for not achieved and advantageous in the good cash
money), belanja operasional birokrasi lebih besar management. From the point of view of the value for
dari pada belanja modal atau belanja pelayanan money, expenditures for bureaucracy operational
langsung kepada publik, serta ketidakterkaitan were higher than capital expenditures or public
antara komponen input dengan output. Hal ini direct service expenditures. There was no relation
mengindikasikan terjadi pemborosan, inefisiensi between the input and output either. This indicated a
dan tidak terukurnya pengaruh belanja pemerintah waste, inefficiency, and unmeasurable expenditures
terhadap kualitas penyediaan layanan publik. of the government to the quality of public service.
Dibutuhkan peran pemerintah yang semakin A greater role of the government was required to
besar untuk memastikan belanja kesejahteraan ensure that the expenditures for the people’s welfare
masyarakat dan pelayanan publik dapat terlaksana and the public service were implemented effectively
dengan efektif dan efisien. and efficiently.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, diputuskan Based on the facts mentioned above, it was
untuk melaksanakan kebijakan berupa penajaman decided to implement a policy on sharpening the

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
139
fungsi pengawasan dan evaluasi pelaksanaan supervision and evaluation function in the budget
anggaran melalui spending review. Untuk implementation through a spending review. As
menindaklanjuti hal tersebut dibentuk Tim a follow up, a Drafting Team of Spending Review
Penyusun Modul Spending Review Pelaksanaan Module of the Budget Implementation was set up
Anggaran melalui Keputusan Direktur Jenderal under Decree of the Director General of Treasury No.
Perbendaharaan No. KEP-150/PB/2012. Rapat awal KEP-150/PB/2012. The first meeting of the Drafting
Tim Penyusun Modul Spending Review dilaksanakan Team of Spending Review Module was held on July
pada tanggal 19 Juli 2012. Rapat ini dipimpin Tenaga 19th, 2012. The meeting was chaired by Assessors
Pengkaji Bidang Perbendaharaan, disusul rapat tim in Treasury, followed by a meeting of the working
kerja pada tanggal 25-27 Juli 2012 dan tanggal team on July 25th – 27th, 2012 and on August 1st
1-3 Agustus 2012 untuk menyusun referensi dan – 3rd, 2012 to draft references and methodology of
metodologi spending review dalam pelaksanaan spending review in the budget implementation.
anggaran.

Definisi spending review secara umum adalah The definition of spending review is in general a
kajian komprehensif terhadap performa belanja comprehensive assessment of the State Budget
pemerintah (APBN) untuk mengetahui efisiensi, to know its efficiency, effectiveness, and value for
efektivitas dan value for money atas alokasi anggaran money of the budget allocation and the state’s
dan pelaksanaan anggaran pemerintah. Spending budget implementation. Spending review is a tool
review adalah alat untuk mengevaluasi kinerja to evaluate the government’s performance, of which
pemerintah, yang hasilnya dijadikan rekomendasi the result is a recommendation for the budgeting
untuk proses penganggaran dan pelaksanaan process and implementation so that the government
anggaran pemerintah agar belanja pemerintah lebih expenditures are more effective and efficient.
efektif dan efisien (value for money).

Spending review akan dilaksanakan oleh unit Spending review will be executed by units at both
kantor pusat maupun kantor vertikal Ditjen the central office as well as vertical offices at the
Perbendaharaan. Directorate General of Treasury.

Grafik 4.5. Metodologi Spending Review 2012


Graphic 4.5. Spending Review Methodology 2012

Pagu / Realisasi Kesimpulan


BA
Es I In-Efisiensi
Program
Satker Duplikasi
Kegiatan
Output Einmalegh
Jenis Belanja
Akun Proses

INPUT OUTPUT
Analisis

Tren Penyerapan
Proporsi Pagu
METODOLOGI SPENDING Relevan

Review 2012 Standar Biaya


Indeks Baseline

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


140 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Sebagai langkah awal dan mempertimbangkan As an initial step and considering the limited data,
keterbatasan data, maka spending review tahun the spending review 2012 was implemented in 10
2012 dilaksanakan terhadap 10 K/L yang memiliki ministries/institutions with the largest ceiling. Out
pagu terbesar. Di 10 K/L tersebut pelaksanaan of the 10 ministries/institutions, the spending review
spending review difokuskan pada Belanja Barang was focused on Goods and Capital Expenditure
serta Belanja Modal 104 Satuan Kerja Pusat. Dari in 104 central work units. Out of the Goods
Belanja Barang dan Belanja Modal tersebut dipilih Expenditure and the Capital Expenditure, certain
mata anggaran tertentu yang umumnya terdapat budget items were selected generally existing in all
pada semua satker. Proporsi pagu sampel terpilih work units. Proportion of the selected ceiling sample
dibandingkan dengan pagu 10 K/L adalah 13,81 compared to the ceiling in 10 ministries/institutons
persen. Sepuluh K/L dimaksud adalah Kementerian was 13.81 percent. The 10 ministries/institutions
Dalam Negeri, Kementerian Keuangan, Kementerian included Ministry of Homes Affairs, Ministry of
Pertanian, Kementerian Energi dan sumber Daya Finance, Ministry of Agriculture, Ministry of Energy
Mineral, Kementerian Perhubungan, Kementerian and Mineral Resources, Ministry of Transportation,
Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Ministry of Education and Culture, Ministry of Health,
Kesehatan, Kementerian Agama, Kementerian Ministry of Religious Affairs, and Ministry of Public
Pekerjaan Umum, dan Kepolisian RI. Works, as well as the Indonesian Police.

Data sampel 104 satker pusat dari 10 K/L, total pagu Based on the data of 104 central work units in
Belanja Barang dan Belanja Modal yang dijadikan 10 ministries/institutions, the total ceiling of the
sampel obyek kajian sebesar Rp37,4 triliun. Dari Goods Expenditure and Capital Expenditure made
sampel ini didapat nilai inefisiensi dan inefektivitas sample of the assessment object was IDR37.4 trillion.
sebesar Rp4,87 triliun atau 15,85 persen dari pagu Out of the sample, the values of inefficiency and
sampel. Sedangkan untuk norma duplikasi dan ineffectiveness amounted to IDR4.87 trillion or 15.85
einmalegh (bersifat insidentil) diperoleh nilai sebesar percent from the sample ceiling. For duplication
Rp50,4 miliar. Dari hasil kajian tersebut diperoleh nilai norm and einmalegh (incidental), the value was
sebesar Rp4,92 triliun (16,03 persen) dari total pagu IDR50.4 billion. Based on the assessment, IDR4.92
sampel sebesar Rp37,4 triliun, yang diindikasikan trillion (16.03 percent) from the total sample ceiling of
merupakan alokasi pagu yang bersifat inefisiensi, IDR37.4 trillion, was indicated inefficient, ineffective,
inefektivitas, duplikasi maupun einmalegh. Angka duplicate, and enimalegh. The total IDR4.92 trillion
sebesar Rp4,92 triliun dari hasil kajian dimaksud from the said assessment proved a fiscal space

Tabel 4.9. Potensi Fiscal Space Pada Sampel di 10 K/L tahun 2012
Table 4.9. Fiscal Space Potential in Samples in 10 Ministries/Institutions 2012

POTENSI FISCAL SPACE PADA SAMPEL YANG DIAMBIL DRI 10 K/L2012

Pagu Belanja Barang


OBJEK REVIEW dan Belanja Modal Nilai % Keterangan

IN-Efisiensi & IN-Efektifitas 30,47 T 4,87 T 15,85 Berasal dari Pagu Bel. Barang & Bel. Modal 104 Satker

Duplikasi 30,47 T 0.05 T 0,18 Berasal dari Pagu Bel. Barang & Bel. Modal 104 Satker

Einmaligh 30,47 T 0,0004 T 0,0013 Berasal dari Pagu Bel. Barang & Bel. Modal 104 Satker

Potensi Fiscal Space 2012 30,74 T 4.92 T 16,03

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
141
membuktikan adanya potensi fiscal space yang potential which could have been allocated for other
dapat dialokasikan untuk kebutuhan lain yang lebih more prioritized, for instance infrastructure fund.
prioritas, misalnya untuk dana infrastruktur.

Jika diasumsikan kondisi seluruh K/L sama dengan Assuming that all ministries/institutions and 10
kondisi sampel dari 10 K/L yang dianalisis, sehingga analysed ministries/institutions had the same
persentase fiscal space sampel dari 10 K/L yang condition, that the fiscal space percentage at 10
dianalisis merupakan persentase fiscal space pada analysed ministries/institutions was the fiscal space
seluruh K/L, maka dari pagu Belanja Barang dan percentage at all ministries/institutions, that the
Modal Tahun Anggaran 2012 pada seluruh K/L Goods Expenditure and Capital Expenditure ceiling
sebesar Rp341,54 triliun hasilnya diperoleh potensi in 2012 at all ministries/institutions amounted to
tambahan fiscal space sebesar Rp54,75 triliun yang IDR341,54 trillion, then an additional potential of
dapat dialokasikan untuk kebutuhan lain yang lebih fiscal space in amount of IDR54,75 trillion could’ve
utama. been allocated for other more prioritized needs.

Tabel 4.10. Potensi Fiscal Space di Seluruh K/L


Table 4.10. Fiscal Space Potential at all Ministries/institutions

POTENSI FISCAL SPACE PADA SELURUH K/L

Pagu Belanja Barang


OBJEK REVIEW dan Belanja Modal Nilai % Keterangan

IN-Efisiensi & IN-Efektivitas 341,54 T 54,13 T 15,85 Berasal dari Pagu Bel. Barang & Bel. Modal Seluruh K/L

Duplikasi 341,54 T 0.61 T 0,18 Berasal dari Pagu Bel. Barang & Bel. Modal Seluruh K/L

Einmaligh 341,54 T 0,0004 T 0,0013 Berasal dari Pagu Bel. Barang & Bel. Modal Seluruh K/L

Potensi Fiscal Space 2012 341,54 T 54,75 T 16,03

Angka Fiscal Space diperoleh dengan asumsi bahwa kondisi seluruh K/L sama dengan kondisi sampai dari 10 K/L sehingga persentase fiscal space sampel dari
10 K/L yang dianalisis merupakan persentase fiscal space pada seluruh K/L.

Remunerasi di BI dan Bank Umum Remuneration at Bank Indonesia and Commercial


Banks

Dalam melaksanaan fungsi pengelolaan kas Negara, In executing its functions in the state’s cash
Ditjen Perbendaharaan juga mendapatkan PNBP, management, the Directorate General of Treasury
khususnya atas pengelolaan rekening tunggal also obtains Non-Tax Revenues (PNBP), especially
perbendaharaan dan/ atau atas penempatan uang on the management of the treasury’s single account
negara dan pengelolaan valuta asing sebesar and/or on placement of the state’s money and
Rp 6.223.880.083.941,00 dengan rincian sebagai management of the foreign exchange in amount of
berikut. IDR6,223,880,083,941.00 with the following detail:

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


142 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Tabel 4.11. Pengelolaan Rekening Tunggal Perbendaharaan
Table 4.11. Management of the Treasury’s Single Account

Akun Jumlah Rp
Uraian Description
Account Amount (IDR)

423251 Pendapatan atas penerbitan SP2D dalam rangka TSA Revenues from the issuance of SP2D in the framework of TSA 84.071.217.929,00
423253 Pendapatan dari pelaksanaan Treasury National Pooling Revenues from the implementation of treasury National Pooling 176.929.365.876,00

423254 Pendapatan dari penempatan uang negara di Bank Indonesia Revenues from placement of the state’s cash at Bank Indonesia 4,156,871,253,564.00

423941 Keuntungan atas pengelolaan selisih kurs Profits from the exchange rate difference management 1,806,008,246,572.00
Jumlah Total 6,223,880,083,941.00

Sumber data: Buku Laporan Realisasi APBN (buku merah) 31 Desember 2012
Source of data: Book of the State Budget Realization Report (red book) December 31st, 2012

Treasury Dealing Room (TDR) Treasury Dealing Room (TDR)

Treasury Dealing Room (TDR) dibangun untuk A Treasury Dealing Room (TDR) was set up to
meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan increase effectiveness and efficiency of the state’s
uang negara, khususnya pengelolaan kelebihan/ money management, especially cash surplus/deficit
kekurangan kas. Kegiatan pengelolaan kelebihan/ management. The cash surplus/deficit management
kekurangan kas yang akan disentralisasi pada TDR to be decentralized at the Treasury Dealing Room
berupa: (TDR) includes:

1. Penempatan dana atas kelebihan kas pemerintah 1. Placement of fund from the government’s cash
(placement) di pasar uang (money market) baik surplus at the money market both in rupiah as
dalam mata uang rupiah maupun valuta asing; well as foreign currency;
2. Penempatan dana atas kelebihan kas pemerintah 2. Placement of fund from the government’s cash
dengan membeli Surat Berharga Negara (SBN), surplus by purchasing Government Securities,
baik dalam denominasi mata uang rupiah both in rupiah as well as foreign currency;
maupun valuta asing;
3. Transaksi penukaran suatu mata uang terhadap 3. Transaction of a foreign exchange to another
mata uang lainnya di pasar valuta asing (foreign currency at the foreign exchange market, aiming
exchange market), untuk tujuan pemenuhan at fulfilling the needs/obligation, optimization
kebutuhan/kewajiban, optimalisasi dan atau and/or hedging;
lindung nilai (hedging);
4. Transaksi pembelian Surat Berharga Negara 4. Transaction of purchasing Government Securities
(SBN) dalam rangka stabilisasi; in the framework of stabilisation;
5. Penerbitan Surat Perbendaharaan Negara 5. Issuance of Treasury Bills to fulfill a lack of cash
(SPN) untuk memenuhi kekurangan kas dan and to coordinate with the Directorate General
berkoordinasi dengan DJPU; of Debt Management;
6. Pembuatan kebijakan dan Standard Operating 6. Making policies and the Standard Operating
Procedure (SOP) TDR; Procedure of the Treasury Dealing Room (TDR);
7. Pengelolaan risiko transaksi (manajemen risiko); 7. Transaction risks management;
8. Penyelesaian transaksi, pembukuan dan 8. Transaction, bookkeeping, and reporting
pelaporan; settlement;
9. Pembukuan dan pelaporan transaksi yang 9. Bookkeeping and reporting of made transactions.
dilakukan.

TDR akan didukung sarana prasarana standar The Treasury Dealing Room (TDR) will be supported
dealing room perbankan baik aplikasi dan jaringan by standard infrastructures of a banking dealing
yang digunakan, infrastruktur, SOP transaksi, sistem room, both the application and netrworks,

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
143
pengamanan, maupun kompetensi pegawai- infrastructure, transactions SOP, security system,
pegawai yang diproyeksikan bertugas di TDR. and the employees’ competence projected to be
assigned in the Treasury Dealing Room (TDR).

Dari sisi SDM, telah dilakukan pelatihan TDR di For the human resources, a Treasury Dealing Room
Cipanas Bogor pada bulan Maret 2012 dalam (TDR) training program was held in Cipanas, Bogor,
dua gelombang yang diikuti 49 peserta. Peserta in March 2012. The training was divided into two
pelatihan adalah para pegawai dari kantor pusat phases, participated by 49 participants, including
maupun Kanwil Ditjen Perbendaharaan dan KPPN employees at the Head Office, the Regional Office
yang lulus seleksi online pengetahuan finance dasar. of the Directorate General of Treasury, and State
Dilakukan pula pelatihan pembacaan/analisis data Treasury Offices (KPPN) who passed a basic finance
Bloomberg. Bloomberg merupakan sistem informasi online selection. A training program on reading/
dan transaksi keuangan internasional yang nantinya analyzing Bloomberg data was also provided.
akan digunakan untuk memantau pergerakan harga Bloomberg is an information and international
instrumen fixed income, pengelolaan risiko, dan financial transaction system used to monitor the
analisis perekonomian lainnya. movement of instrument price, such as fixed income,
risk management, and other economic analysis.

Selain Bloomberg, TDR nantinya akan menggunakan A part from Bloomberg, the Treasury Dealing Room
sistem informasi dan transaksi keuangan Thomson- (TDR) will also use an information system and
Reuters untuk keperluan pemantauan pergerakan financial transaction system from Thomson-Reuters
harga valuta asing dan untuk melakukan transaksi to monitor the movement of foreign exchange
penempatan uang negara di perbankan, transaksi price and to make transactions of the state’s
jual/beli Surat Berharga Negara (SBN), repo/ money placement at banks, government securities
reverse repo, serta transaksi jual/beli valuta asing. purchase/sale transactions, repo/reverse repo, and
Sebagaimana Bloomberg, sistem Thomson-Reuters foreign exchange purchase/sale transactions. As
juga akan dipasang di fungsi Pengelolaan Kas Negara Bloomberg, the Thomson-Reuters system will also
Ditjen Perbendaharaan untuk keperluan edukasi dan be installed at the State’s Cash Management of the
pemantauan data instrumen keuangan. Directorate General of Treasury for education and
monitoring of the state’s instruments data.

Pada tanggal 30 November 2012, Kantor Pusat On November 30th, 2012, the Head Office of the
Ditjen Perbendaharaan menandatangani kontrak Directorate General of Treasury signed a Treasury
pembangunan infrastruktur TDR nomor PRJ-335001/ Dealing Room (TDR) infrastructure construction
PB.15/2012 senilai Rp33,4 miliar setelah mendapat contract Number PRJ-335001/PB.15/2012 totalling
izin kontrak tahun jamak (multiyears contract) IDR33.4 billion after it has obtained a multiyears
nomor S-187/MK.2/2012 tanggal 31 Agustus 2012 contract Number S-187/MK.2/2012 on August 31st,
dari Menteri Keuangan, terkait dengan masa 2012 from the Minister of Finance, in relation with
pembangunan infrastruktur yang direncanakan the infrastructure construction planned for more
lebih dari satu tahun anggaran. Pembangunan TDR than one fiscal year. The Treasury Dealing Room
dijadwalkan selesai pada akhir triwulan III tahun (TDR) construction is scheduled to be completed at
2013. the end of third quarter 2013.

Atas dasar kontrak tersebut pihak ketiga mulai Based on the contract, a third party has begun the
melaksanakan pekerjaan. Sampai dengan akhir work. By the end of 2012, completed infrastructure
tahun 2012 pekerjaan pembangunan infrastruktur construction work included demolition and server
yang telah diselesaikan meliputi pekerjaan providing works. Most of the materials and works
pembongkaran dan pengadaan server. Mayoritas will be provided and completed in Fiscal Year 2013.
material dan pekerjaan akan diadakan dan
diselesaikan pada tahun anggaran 2013.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


144 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Asset Liability Management (ALM) Asset Liability Management (ALM)

Asset Liability Management (ALM) disusun untuk The Asset Liability Management (ALM) has been
memitigasi risiko-risiko likuiditas, risiko bunga, risiko arranged to mitigate liquidity risks, interest risks,
nilai tukar dan risiko kredit serta menciptakan early exchange rate risks, and credit risks, as well as to
warning system terhadap kondisi krisis keuangan create an Early Warning System toward a financial
dan dampaknya terhadap neraca pemerintah. Untuk crisis condition and its impact to the state’s balance.
membangun sistem ALM, Menteri Keuangan telah To develop the Asset Liability Management (ALM)
menunjuk Ditjen Pengelolaan Utang sebagai lead system, the Minister of Finance has appointed the
dengan Ditjen Perbendaharaan sebagai mitra utama Directorate General of Debt Management as leader
karena merupakan pengelola neraca pemerintah and the Directorate General of Treasury as its main
pusat. partner as it is the central government’s balance
manager.

ALM Kementerian Keuangan dibangun The Asset Liability Management (ALM) of the Minister
berlandaskan konsep best practice ALM internasional of Finance was built based on an international Asset
dan menggunakan data-data yang salah satunya Liability Management (ALM) best practice concept,
berasal dari data penerimaan (buku biru) dan data using data of which one comes from the receiving
realisasi anggaran (buku merah) fungsi Pengelolaan data (blue book) and the budget realization data
Kas Negara Ditjen Perbendaharaan. Adapun (red book) of the State’s Cash Management at the
untuk keperluan proyeksi data, sistem ALM juga Directorate General of Treasury. For data projection,
berkoordinasi dengan tim Cash Planning Information the Asset Liability Management (ALM) system also
Network (CPIN) yang dikoordinir fungsi Pengelolaan coordinates with a Cash Planning Information
Kas Negara Ditjen Perbendaharaan. Sistem ALM Network (CPIN) team, coordinated by the State’s Cash
Kementerian Keuangan dapat diakses menggunakan Management function of the Directorate General
intranet dengan IP: 10.100.93.129. of Treasury. The Asset Liability Management (ALM)
system of the Ministry of Finance can be accessed
using an intranet with IP: 10.100.93.129.

Penyaluran Dana Investasi Pemerintah Distribution of the Government’s Investment


Fund

Sejak tahun 2006 hingga 2012, Ditjen From 2006 until 2012, The Directorate General of
Perbendaharaan telah menyalurkan dana APBN Treasury distributed fund from the State Budget to the
kepada Pusat Investasi Pemerintah (PIP) selaku Government Investment Agency (PIP) as an operator
operator pelaksanaan investasi pemerintah. of the government investment implementation. The
Penyaluran dana APBN tersebut merupakan modal distribution of the fund from the State Budget was
untuk investasi pemerintah. Total dana investasi aimed as capital for the government’s investment.
(reguler) yang disalurkan dari APBN ke PIP sejak The total investment fund (regular) distributed from
tahun 2006 hingga tahun 2012 sebesar Rp7.727,1 the State Budget to the Government Investment
miliar. Agency (PIP) from 2006 until 2012 was in amount of
IDR7,727.1 billion.

Sedangkan penyelesaian piutang pemerintah Menawhile, the government’s debt were settled
di antaranya dilaksanakan melalui penyelesaian through debt settlement to the Regional Water
piutang kepada Perusahaan Daerah Air Minum Utility Company (PDAM) based on Regulation of
(PDAM) dengan berlandaskan pada PMK 120/ the Minister of Finance Number 120/PMK.05/2008
PMK.05/2008 tentang Penyelesaian Piutang Negara on the State’s Debt Settlement from Foreign Loan,
yang Bersumber dari Penerusan Pinjaman Luar Investment Fund Accounts and PDAM’s Regional
Negeri, Rekening Dana Investasi dan Rekening Development Account. As a result, out of 175 PDAM
Pembangunan Daerah PDAM. Hasilnya, dari 175 in arrears, 84 PDAM have obtained an approval of
PDAM yang menunggak, sebanyak 84 PDAM telah debt restructuring and/or settlement. The detail

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
145
memperoleh persetujuan restrukturisasi dan/atau is 75 PDAM through debt restructuring based on
menyelesaikan pinjaman. Perinciannya, 75 PDAM Regulation of the Minister of Finance Number
melalui restrukturisasi utang berdasarkan PMK 120, 120, 1 PDAM through debt reschedulling outside
satu PDAM melalui penjadwalan kembali pinjaman mechanism of Regulation of the Minister of Finance
di luar mekanisme PMK 120, dan delapan PDAM Number 120, and 8 PDAM have settled their
diselesaikan (dilunasi atau diambil alih menjadi debt (paid or taken over to debt of the Regional
pinjaman pemda atau PDAM Induk). Government or the Parent PDAM).

Terkait penyelesaian pinjaman pemda dilakukan atas In relation to the settlement of the regional
tunggakan pinjaman per 22 Oktober 2008 dengan governments’ debt, the debt was made arrears as of
ketentuan: October 22nd, 2008, with the following provisions:

a. Penjadwalan kembali tunggakan pokok; a. Reschedulling of the principal arrears;


b. Penghapusan atas seluruh tunggakan non b. Deletion of all non-principal arrears;
pokok;
c. Kombinasi antara penghapusan atas sebagian c. Combination between deletion of a part of the
tunggakan non pokok dan debt swap. non-principal arrears and debt swap.

Hingga 31 Desember 2012, permohonan Until December 31st, 2012, debt restructuring
restrukturisasi utang 47 pemda telah disetujui. requests from 47 regional governments had been
approved.

Untuk membantu sektor Usaha Mikro, Kecil, To help the micro, small, medium business, and
Menengah, dan Koperasi (UMKM-K) termasuk petani, cooperatives sector (UMKM-K), including farmers,
peternak, pekebun, dan nelayan yang usahanya breeders, planters, and fishermen whose business is
kurang feasible tetapi bankable, pemerintah not feasible enough but bankable, the government
meluncurkan kredit program pemerintah. Kredit has launched a government program credit. The
itu memiliki skema subsidi bunga bekerjasama credit has an interest subsidy scheme in cooperation
dengan perbankan nasional. Kredit program skema with the national banking industry. The interest
subsidi bunga dilakukan dengan cara pemerintah subsidy scheme program credit is conducted with
menanggung selisih tingkat bunga komersial yang the government bears the difference between the
berlaku untuk kegiatan usaha sejenis dan tingkat prevailing national commercial interest rate for a
bunga yang menjadi beban UMKMK. similar activity with the interest rate borne by the
micro, small, medium business, and cooperatives
sector.

Saat ini terdapat lima jenis kredit program skema At present, there are five types of interest subsidy
subsidi bunga, yakni Kredit Ketahanan Pangan dan scheme program credit, including Food and
Energi (KKPE), Kredit Pengembangan Energi Nabati Energy Endurance Credit (KKPE), Vegetable Energy
dan Revitalisasi Perkebunan (KPENRP), Kredit Usaha Development and Plantation Revitalisation Credit
Pembibitan Sapi (KUPS), Subsidi Resi Gudang (SRG), (KPENIDR), Cattle Breeding Business Credit (KUPS),
Kredit Pemberdayaan Pengusaha NAD dan Nias Warehouse Receipt Credit (SRG), Aceh and Nias
(KPP NAD-Nias) korban bencana alam gempa dan Businessmen Empowerment Credit (KPP NAD-Nias)
tsunami. as victims of the earthquake and the tsunami natural
disasters.

Selain kredit program skema subsidi bunga, sejak In addition to the interest subsidy scheme program
tahun 2009 pemerintah meluncurkan Kredit Usaha credit, in 2009, the government launched the People
Rakyat (KUR) dengan skema penjaminan. KUR Business Credit (KUR) with a guarantee scheme.
ditujukan untuk calon debitur yang usahanya The credit was addressed to prospective debtors
feasible, tetapi tidak mampu menyediakan agunan whose business was feasible, yet could not provide
tambahan kepada perbankan (not bankable). an additional collateral to the banking sector. With
Dengan adanya KUR diharapkan pelaku UKM yang the credit, it was hoped that micro, small, medium

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


146 Annual Report of Ministry of Finance 2012
baru memulai usaha dan terkendala dengan agunan businessmen who just started their business and
kredit akan tetap dapat mengakses pembiayaan faced a credit collateral contraint, would still be
kredit dari perbankan. Target penyaluran KUR able to access credit financing from the banking
selama lima tahun (dari 2009 hingga 2014) sebesar sector. The People Business Credit (KUR) distribution
Rp100 triliun atau Rp20 triliun per tahun. Terhadap during five years (2009 – 2014) was targeted of
penyaluran KUR yang dilakukan perbankan tersebut, IDR100 trillion or IDR20 trillion per year. Towards
pemerintah membayar imbal jasa penjaminan the distribution of the People Business Credit by the
kepada perusahaan penjamin sebesar 3,25 persen banking sector, the government paid a guarantee
per tahun untuk menjamin risiko KUR sebesar reward to the guarantor companies 3.25 percent
maksimal 80 persen dari plafon kredit. annually to guarantee the People Business Credit
risks of maximum 80 percent from the credit ceiling.

Sebagai dampak peningkatan penyaluran KUR, As an impact of the increase of the People Business
pemerintah telah meningkatkan alokasi anggaran Credit distribution, the government has increased
subsidi imbal jasa penjaminan pada APBN. the subsidy budget for guaranty reward to the State
Budget.

APBN 2011 APBN 2012


State Budget 2011 State Budget 2012

Alokasi Imbal Jasa Penjaminan Rp636 Miliar Rp801 Miliar


Allocation of guarantee reward IDR636 billion IDR801 billion
Realisasi Pembayaran Imbal Jasa Penjaminan Rp624 Miliar (98%) Rp801 Miliar (100%)
Realization of guarantee reward payment IDR624 billion (98%) IDR801 billion (100%)

Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun 2012 Central Government’s Financial Report 2012

Salah satu wujud nyata penerapan transparansi One of the concrete manifestations of transparency
dan akuntabilitas adalah melalui penyusunan and accountability application is a relevant and
laporan keuangan pemerintahan yang relevan reliable government’s financial report, which is
dan andal, disusun berdasarkan Standar Akuntansi arranged based on the Government Accounting
Pemerintahan (SAP) dan sistem akuntansi yang Standard (SAP) and an accountancy system
menyediakan prosedur pemrosesan transaksi providing a transaction processing process until it
sampai menjadi laporan keuangan. becomes a financial report.

Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) terdiri The Central Government’s Financial Statement
atas Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan (LKPP) consists of Report of the Budget Realization,
Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan. LKPP Balance, Cashflow Report, and Note on the Financial
tersebut disampaikan Presiden kepada DPR paling Statement. The Central Government’s Financial
lambat enam bulan setelah tahun anggaran berakhir, Statement is submitted by the President to the
sebagaimana diatur dalam pasal 55 ayat (4) UU No. 1 House of Representatives no later than six months
Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. after the end of a fiscal year, as regulated in article
55 paragraph (4) of Law No. 1/2004 on the State’s
Treasury.

Pemerintah telah menerbitkan SAP yang ditetapkan The government has issued a Government Accounting
melalui Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun Standard (SAP) stipulated by the Government
2010 sebagai pengganti PP Nomor 24 Tahun 2005. regulation Number 71/2010 as a substitute of the
PP tersebut telah mengakomodasikan perubahan Government Regulation Number 24/2005. The
yang signifikan dalam akuntansi pemerintahan di Government Regulation accommodates significant

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
147
MENTERI/PIMPINAN LEMBAGA SEBAGAI PENGGUNA ANGGARAN/BARANG
Sistem Akuntansi Instansi

PRESIDEN
LKPP
DPR LRA BPK
Neraca
LAK
CaLK

KONSOLIDASI

LKKL LKBUN
LRA Lap. Arus Kas
Neraca LRA
CaLK Neraca
CaLK

K/L
BUN
[76]

Eselon 1
[270]
APK-DJPB [1]
Belanja Subsidi dan
Belanja Lain-lain

Wilayah / Provinsi
[4.006] Kanwil DJPB [30]
Transaksi Badan
Khusus Lainnya

KPPN/PKN [177]

Satker Satker BLU Penerusan Transfer


[20.145*] [108**] Pinjaman ke Daerah

Utang dan Investasi


Hibah Pemerintah

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


148 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Grafik 4.6. Kerangka Umum Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP)
Graphic 4.6. General Framework of the Central Government Accounting System (SAPP)

SAPP

SAI SA-BUN

SIMAK-
SAK SiAP SAUP&H SA-IP SA-PP SA-TD SA-BS SA-BL SA-TK
BMN

999.01
SAKUN SAU 999.03 999.04 999.05 999.07 999.08 999.99
999.02

Indonesia berupa akuntansi berbasis akrual. Namun changes in the government’s accounting in
demikian, bagi entitas pemerintah yang belum Indonesia in the form of accrual-based accountancy.
dapat menerapkan akuntansi berbasis akrual dapat However, a government entity which is not able yet
menerapkan akuntansi berbasis kas menuju akrual to apply the accrual-based accountancy, can apply
sampai dengan tahun 2014. Selanjutnya, SAP tersebut the cash-based accountancy until 2014. Further, the
perlu dituangkan ke dalam suatu sistem akuntansi Government Accounting Standard (SAP) must be
dan pelaporan keuangan untuk dapat menghasilkan contained in an accountancy system and financial
LKPP, yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan selaku reporting to produce a Central Government’s
Bendahara Umum Negara (BUN). Ketentuan ini diatur Financial Report (LKPP), stipulated by the Minister of
dalam PMK Nomor 171/PMK.05/2007 tentang Sistem Finance as the State’s General Treasurer (BUN). The
Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah provision is regulated in Regulation of the Minister
Pusat, sebagaimana diubah menjadi PMK Nomor of Finance Number 171/PMK.05/2007 on the
233/PMK.05/2011. Accountancy System and the Central Government’s
Financial Reporting, as has been amended in
Regulation of the Minister of Finance Number 233/
PMK.05/2011.

Penyusunan laporan keuangan dilakukan The financial report is arranged in stages and
secara berjenjang dan terdesentralisasi dengan decentralized with the setting up of a Financial
pembentukan Unit Akuntansi Keuangan dan Unit Accountancy Unit and Goods Accountancy Unit
Akuntansi Barang di masing-masing tingkat, mulai in each level, from the work unit, region, Echelon I
dari tingkat satuan kerja, wilayah, Eselon I dan K/L. and ministries/institutions. The financial statement
Laporan Keuangan K/L tersebut, disertai dengan of the ministries/institutions is accompanied by a
Ikhtisar Laporan Keuangan BUMN dan Badan Layanan Summary of the Financial Statement of State-owned
Umum, disampaikan kepada Menteri Keuangan enterprises and general Public Agencies, submitted
untuk dikonsolidasikan dalam penyusunan LKPP. to the Minister of Finance for consolidation in
preparing the Central Government’s Financial
Statement.

Keterangan: Note:
*) Jumlah satker menurut Buku Satuan Kerja *) Number of work units according to the Book of
Pengguna Anggaran Pemerintah Pusat 2011. the Central Government’s Budget Using Work Units
2011.
**) data per 31 Desember 2010. **) Data per December 31st, 2010.

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
149
Proses penyusunan dan penyampaian LKPP tahun Process of preparing and submitting the Central
2011 sebagai laporan pertanggungjawaban Government’s Financial Statement 2011 as a liability
pelaksanaan APBN adalah sebagai berikut: report of the State Budget Implementation was as
follows:

a. Konsolidasi dan Penyampaian LKPP (unaudited) a. Consolidation and submission of the Central
oleh Menteri Keuangan kepada BPK untuk Government’s Financial Statement (unaudited)
diaudit pada Februari dan Maret 2012; by the Minister of Finance to the Supreme Audit
Agency to be audited in February 2012.
b. Pembahasan tiga pihak (Kemenkeu, BPK, dan b. Discussion by three parties (Ministry of Finance,
K/L) pada April 2012; the Supreme Audit Agency, and ministries/
insitutions) in April 2012.
c. Pembahasan Temuan Pemeriksaan BPK atas c. Discussion of Examination Findings by
LKPP terkait K/L dan BUN pada Mei 2012; the Supreme Audit Agency on the Central
Government’s Financial Statement in relation to
ministries/institutions and BUN in May 2012.
d. Penyampaian Tanggapan Pemerintah terhadap d. Submission of the government’s response to
LHP BPK atas LKPP oleh Menkeu kepada Ketua the Examination Result Report of the Supreme
BPK pada Mei 2012; Audit Agency on the Central Government’s
Financial Statement by the Minister of Finance to
Chairman of the Supreme Audit Agency in May
2012.
e. Penyampaian LKPP (audited) kepada BPK pada e. Submission of the Central Government’s
akhir Mei 2012; Financial Statement (audited) to the Supreme
Audit Agency in end of May 2012.
f. Penyampaian dan pembahasan RUU P2 APBN f. Submission and discussion of the draft of Law on
oleh Presiden kepada DPR. UU Nomor 14 tahun the State Budget by the President to the House
2011 P2APBN TA 2011 ditetapkan tanggal 19 of Representatives. Law Number 14/2011 on the
September 2012; draft of the Law on the State Budget Fiscal Year
2011 was stipulated on September 19th, 2012.
g. Penyampaian Rencana Tindak terhadap temuan g. Submission of Action Plan towards findings
BPK atas LKPP oleh Menteri Keuangan kepada of the Supreme Audit Agency on the Central
BPK; Government’s Financial Statement by the
Minister of Finance to the Supreme Audit Agency.
h. Penyampaian Laporan Pemantauan Tindak h. Submission of the Follow Up Monitoring Report
Lanjut terhadap Temuan BPK atas LKPP oleh towards findings of the Supreme Audit Agency
Menteri Keuangan kepada Wakil Presiden; on the Central Government’s Financial Statement
by the Minister of Finance to the Vice President.
i. Penyampaian Rencana Tindak Pemerintah atas i. Submission of the Government’s Action Plan
Temuan Pemeriksaan BPK terhadap LKBUN, LKKL towards Examination Findings by the Supreme
dan LKPP Tahun 2011 oleh Menkeu kepada BPK; Audit Agency towards LKBUN, LKKL and the
Central Government’s Financial Statement by
the Minister of Finance to the Supreme Audit
Agency.
j. Penyusunan LKPP semester I tahun 2012. j. Preparation of the Central Government’s
Kegiatan penyusunan LKPP semester I tahun Financial Statement of semester I/2012.
2012 meliputi penyusunan dan pembahasan
draf Laporan Arus Kas, Laporan Realisasi APBN,
Neraca Pemerintah Pusat, dan Catatan atas
Laporan Keuangan;
k. Penyusunan Pemantauan Rencana Tindak k. The preparation activities of the Central
Pemerintah atas Temuan Pemeriksaan BPK Government’s Financial Statement semester
terhadap LKKL, LKBUN, dan LKPP 2010; I/2012 included arrangement and discussion of
the draft of Cashflow Report, the State Budget

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


150 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Realization Report, the Central Government’s
Balance, and Note of the Financial Statement.
l. Penyusunan Laporan Penertiban Rekening l. Arrangement of the Government’s Action Plan
Pemerintah. on the Examination Findings of the Supreme
Audit Agency towards LKKL, LKBUN, and the
Central Government’s Financial Statement 2010.
m. Arrangement of the Government’s Account
Made into Order Report.

Government Finance Statistics (GFS) Government Finance Statistics (GFS)

Beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan untuk Some activities to implement the Government
mengimplementasikan GFS selama tahun 2012 Finance Statistics (GFS) in 2012:
antara lain:

a. Pembentukan Tim Statistik Keuangan a. Establishment of a team of the Government


Pemerintah; Finance Statistics (GFS);
b. Pelatihan Sistem Statistik Keuangan Pemerintah b. Training of a Government Finance Statistics
(IMF expert); System (GFS) (IMF Expert);
c. Lokakarya Statistik Keuangan Pemerintah. c. Workshop on the Government Finance Statistics
(GFS).

Peningkatan Pembinaan Satker BLU Increase of the Public Service Body (BLU) Work
Units Development

Konsep Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Concept of the Public Service Body (BLU) Financial
Umum (BLU) tertuang dalam UU Nomor 1 tahun Management is stated in Law Number 1/2004 on the
2004 tentang Perbendaharaan Negara. BLU adalah State Treasury. Public Service Body is a government
instansi di lingkungan pemerintah yang dibentuk institution established to serve the people in the
untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat form of providing goods and/or service sold without
berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang prioritizing profit-seeking. The Public Service Body
dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan. (BLU) runs its activities based on the efficiency and
BLU melakukan kegiatannya berdasarkan prinsip productivity principle.
efisiensi dan produktivitas.

Dengan semakin bertumbuh dan berkembangnya In line with the growing and developing work
satker yang menerapkan pola Pengelolaan units that apply the Public Service Body (BLU)
Keuangan BLU, peran dan tanggung jawab Financial Management pattern, the role and
Ditjen Perbendaharaan dalam melakukan responsibilty of the Directorate General of Treasury
pembinaan akan semakin bertambah besar. Ditjen in the development also increases. The Directorate
Perbendaharaan memberikan bimbingan, asistensi, General of Treasury provides guidance, assistance,
dan konsultasi dalam penyusunan tarif/pola tarif, and consultation in the preparation of tariff/tariff
menyelenggarakan pembahasan pengkajian usulan pattern, and submits a recommendation to the
tarif/pola tarif, dan menyampaikan rekomendasi Minister of Finance on the tariff/tariff pattern of the
kepada Menteri Keuangan mengenai penetapan Public Service Body (BLU). The technical guidance
usulan tarif/pola tarif instansi PK BLU. Bimbingan is aimed at preparing administrative requirements
teknis berupa pemberian bimbingan dalam rangka for work units that will propose a recommendation
penyusunan persyaratan administratif bagi satker to be work unit, that applies the Public Service
yang akan mengajukan usulan menjadi satker Body (BLU) financial management and technical
yang menerapkan PK BLU dan bimbingan teknis guidance for work units that already apply the Public
bagi satker yang telah menerapkan PK BLU seperti Service Body (BLU) financial management such as

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
151
pembuatan Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA), tarif making Business and Budget Plan (RBA), tariff and
dan remunerasi. remuneration.

Ditjen Perbendaharaan melakukan pembinaan The Directorate General of Treasury provides a direct
secara langsung antara lain: development, including:

a. Memberikan arahan terkait dengan pengelolaan a. Providing directions related to the Public Service
keuangan BLU; Body (BLU) financial management;
b. Menindaklanjuti permasalahan yang dihadapi b. Following up to problems faced by the Public
satker BLU, dengan cara melakukan koordinasi Service Body (BLU) work units, by coordinating
dengan pihak-pihak yang terkait; with the related parties;
c. Menyelenggarakan Help Desk sebagai sarana c. Organizing a Help Desk as a facility for the Public
bagi satker BLU dalam menyampaikan berbagai Service Body (BLU) work units in submitting
permasalahannya terkait dengan implementasi various problems related to the implementation
PK BLU. of the Public Service Body (BLU) financial
management.

Penyusunan grand design BLU merupakan salah Preparation of the General Service Body grand
satu kegiatan yang sangat krusial dilakukan Ditjen design was one of the most crucial activities of the
Perbendaharaan selama tahun 2012. Grand design Directorate General of Treasury in 2012. The grand
akan mengubah tata kelola dan administrasi design will change the governance and managerial
manajerial BLU. Latar belakang perlunya penyusunan administration of the Public Service Body (BLU).
grand design di antaranya adalah: Background of making the grand design included:

1. Perubahan eksternal/regulasi yang akan 1. External/internal changes that affected the


berimbas terhadap tata kelola BLU; Public Service Body (BLU) governance;
2. Reorganisasi di lingkungan Kementerian 2. Reorganization at the Ministry of Finance that
Keuangan yang berimbas pada proses affected the developing process of the Public
pembinaan BLU; Service Body (BLU);
3. Kecenderungan beberapa satker BLU 3. Tendency of some Public Service Body (BLU)
implementasi PK BLU tidak sesuai dengan latar work units where the Public Service Body (BLU)
belakang pembentukan BLU seperti PNBP yang financial management was not implemented as
tidak tergarap secara optimal; the background of the Public Service Body (BLU)
establishment, as the Non-Tax Revenues (PNBP)
that was not optimally explored;
4. Beberapa BLU yang perlu penanganan khusus. 4. Some Public Service Bodies (BLU) that needed a
special treatment.

Dengan beberapa alasaan tersebut, penyusunan Considering these reasons, preparation of the
grand design menjadi hal yang krusial dan mendesak grand design was a crucial and urgent thing to be
untuk dilaksanakan sebagai pijakan kuat dalam implemented as a strong based to design the Public
rancangan peraturan BLU di masa yang akan datang. Service Body (BLU)’s future regulations.

Kebijakan dan strategi pengembangan BLU ke Future policies and strategies of the Public Service
depan, yakni; Body (BLU) development:

1. Penetapan satker BLU baru dilakukan secara 1. New Public Service Body (BLU) work units were
lebih selektif dengan mempertimbangkan stipulated more selectively considering service
jenis layanan, kelayakan skala layanan dan types, service scale worthiness, and the funding
kemampuan pendanaan PNBP BLU dalam capacity of the Public Service Body (BLU) by Non-
bentuk threshold; Tax Revenues (PNBP) in threshold;
2. Penyempurnaan mekanisme penganggaran BLU 2. Perfection of the Public Service Body (BLU)
sehingga satker BLU dapat mengoptimalkan budgeting mechanism, so that the Public Service

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


152 Annual Report of Ministry of Finance 2012
PNBP, meningkatkan efisiensi biaya, transparansi Body (BLU) work units can optimize Non-Tax
dan akuntabilitas; Revenues (PNBP), increase the cost efficiency,
transparence, and accountability;
3. Pengaturan kembali fleksibilitas yang diberikan 3. Re-arrangement of flexibility provided to the
kepada satker BLU agar dapat digunakan untuk Public Service Body (BLU) work units to be used
meningkatkan kinerja layanan dan optimalisasi to increase service performance and optimize
PNBP; Non-Tax Revenues (PNBP);
4. Pengaturan kembali mengenai pengelolaan aset 4. Re-arrangement of assets management of the
tetap satker BLU sehingga dapat digunakan untuk Public Service Body (BLU) work units to be used
meningkatkan kinerja layanan, mengurangi aset to increase service performance, to decrease
tetap yang idle/terbengkalai, mengamankan idle fixed assets, to secure fixed assets, and to
aset tetap/BMN, dan optimalisasi PNBP; optimize Non-Tax Revenues (PNBP);
5. Peningkatan peran sistem pengendalian intern 5. Increase of the role of the internal controlling
(SPI) sebagai pemeriksa internal dan Dewas system as an internal examiner and the Board
sebagai pengawas terhadap satker BLU; of Governors as supervisor of the Public Service
Body (BLU) work units;

Selama tahun 2012 terdapat penambahan 15 satker In 2012, there was an additional 15 work units that
yang menerapkan pola pengelolaan keuangan BLU. applied the Public Service Body (BLU) financial
management pattern.

Penyusunan dan revisi regulasi


mulai TW II 2012 s/d akhir 2013

Pengukuran kinerja 2012 yang komprehansif


dilaksanakan mulai Semester II 2012
s/d akhir TW II 2013

Implementasi PK BLU berdasar regulasi


yang telah disempurnakan
mulai awal 2104

Tata kelola yang transparan dan akuntabel


Kinerja layanan dan keuangan yang
baik dan efisien
Kemandirian pendanaan meningkat
Berkontribusi dalam penghematan
RM APBN Akhir 2015

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
153
Grafik 4.7. Jumlah Satker BLU Berdasarkan Sejumlah Kriteria
Graphic 4.7. Number of Public Service Body (BLU) Work Units based on a Number of Criteria

Jumlah Satker BLU berdasarkan Tahun Pengesahan s.d 31 Desember 2012

30

25

20

15

10

5
0
2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

Sampai dengan 31 Desember 2012 jumlah satker Until December 31st, 2012, the number of stipulated
BLU yang telah ditetapkan sebanyak 144 satker Public Service Body (BLU) work units was 144,
yang tersebar di 23 wilayah kerja Kanwil Ditjen spreading in 23 regions under the coverage of
Perbendaharaan di seluruh Indonesia. Grafik 4.7 the Directorate General of Treasury throughout
menggambarkan diagram satker BLU berdasarkan Indonesia. Below is a diagram of the Public Service
Tahun Pengesahan, K/L, jenis layanan, rumpun Body (BLU) work units based on the endorsement
layanan, dan sebaran satker BLU di Kanwil Ditjen year, ministries/institutions, service types, service
Perbendaharaan seluruh Indonesia. groups, and the distribution at Regional Offices

Jumlah Satker BLU berdasarkan Tahun Pengesahan s.d 31 Desember 2012

60
52
50

40
33
Jumlah

30

20
15
10
10 7
3 5 3 2 2 2
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
0
Keuangan
Perindustrian
ESDM
Perhubungan
Dikbud
Kesehatan
Agama
Nakertrans
Kehutanan
Pek Umum
Ristek
KUKM
Kominfo
BPPT
LAPAN
Setneg
Pertanian
KEMENPERA
Kepolisian
BP BATAM
BPKP Sabang

Kementerian / Lembaga

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


154 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Jumlah Satker BLU Berdasarkan Rumpun Layanan s.d 31 Desember 2012

80 73
Kesehatan
60
49 Pendidikan
40 Barang/Jasa Lainnya
Dana
20 12 6 4 Kawasan
0
Kesehatan Pendidikan Barang/Jasa Dana Kawasan
Lainnya

of the Directorate General of Treasury throughout


Indonesia.

Selama tahun 2012 terdapat tiga proses pencabutan In 2012, there were three processes of Public Service
status BLU terhadap satker BLU yang tidak lagi Body (BLU) status revocation towards Public Service
memenuhi aspek substantif, teknis, dan administratif Body (BLU) work units that no longer fulfilled the
sebagaimana diatur dalam PP no. 23 tahun 2005, substantive, technical, and administrative aspects
yaitu: Balai Besar Latihan Kerja Industri Serang, Balai as regulated in the Government Regulation No.
Besar Pengembangan Latihan Kerja Dalam Negeri 23/2005, including Industrial Training Unit in Serang,
Bandung, Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja Domestic Training Development Unit in Bandung,
Luar Negeri Bekasi. Foreign Training Development Unit in Bekasi.

Pada tahun 2012 juga dilakukan penilaian terhadap In 2012, performance of 11 Public Service Body (BLU)
kinerja 117 satker BLU yang meliputi aspek work units was also assessed, including the financial
keuangan dan aspek kepatuhan terhadap peraturan and compliance aspects towards the legislation.
perundang-undangan. Satker BLU dinyatakan A Public Service Body (BLU) work unit was stated
memiliki kinerja keuangan baik apabila memperoleh to have a GOOD financial performance when it
total skor penilaian lebih besar dari 50 atau BB. obtained a total score of more than 50 or BB.

Jumlah Satker BLU Berdasarkan Jenis Layanan s.d 31 Desember 2012

4,3%
Penyediaan Barang/Jasa
6,4% Pengelolaan Wil/ Kawasan
134,93%
Pengelolaan Dana Khusus

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
155
Grafik 4.8 Penilaian Kinerja Keuangan Satker BLU
Graphic 4.8 Assessment of Financial Performance of Public Service Body (BLU) Work Units

60 56
50
50
42
40
40

30
19
20 18

10 Satker yang dinilai


0 Satker yang kinerjanya baik
BLU Kesehatan BLU Pendidikan BLU Lainnya

Dari 117 satker BLU yang dilakukan penilaian, Out of the 117 assessed Public Service Body (BLU)
108 satker BLU kinerja keuangannya baik dengan work units, 108 units showed a good financial
perincian sebagai berikut: performance, with the following detail:

1. Dari 42 satker BLU bidang kesehatan yang dinilai, 1. Out of 42 Public Service Body (BLU) work units in
40 satker kinerja keuangannya dinyatakan baik. the health sector, 40 units were stated to have a
good financial performance.
2. Dari 56 satker BLU bidang pendidikan yang 2. Out of 56 Public Service Body (BLU) work units
dinilai, 50 satker kinerja keuangannya dinyatakan in the education sector, 50 units were stated to
baik. have a good financial performance.
3. Dari 19 satker BLU lainnya yang dinilai, 18 satker 3. Out of 19 Public Service Body (BLU) work units
kinerja keuangannya dinyatakan baik. in other sectors, 18 units were stated to have a
good financial performance.

Perkembangan Implementasi SPAN Development of the State Budget and Treasury


System (SPAN) Implementation

Rancangan proses bisnis Sistem Perbendaharaan Design of the State Budget and Treasury System
dan Anggaran Negara (SPAN) telah mendapatkan (SPAN) business process was approved and signed
persetujuan dan ditandatangani pada 13 Januari on January 13th, 2012. In early 2012, the application
2012. Pada awal tahun 2012 dilaksanakan fase unit based on a financial transation per module scenario
test yang merupakan pengujian terhadap aplikasi was tested. Following the test, the State Budget and
berdasarkan skenario transaksi keuangan per Treasury System (SPAN) team, in cooperation with
modul. Setelah unit test selesai, tim SPAN bekerja the LG-CNS, carried out an intensive Integration
sama dengan LG-CNS melaksanakan fase Integration Test since November 2012. A cross module test was
Test secara intensif sejak November 2012. Dilakukan carried out on the application with an end to end
pengujian aplikasi secara menyeluruh (cross module) process. The Integration Test should absolutely be
dengan skenario komprehensif (end to end process). carried out as the real financial transactions involved
Prosedur pengujian seperti ini dilakukan untuk some module cores in a series. Until end of 2012,
menguji keterkaitan dan pengaruh antar modul. the integration test was still carried out and it was

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


156 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Integration Test mutlak dilaksanakan karena transaksi expected that it would be completed in 2013 and
keuangan yang sesungguhnya melibatkan beberapa followed by a User Acceptance Test (UAT).
core modul dalam satu rangkaian. Hingga akhir tahun
2012, Integration Test masih terus berlangsung dan
diharapkan dapat selesai pada tahun 2013 untuk
segera memasuki fase UAT (User Acceptance Test).

Untuk mempercepat proses transaksi keuangan To accelerate the state’s financial transaction process,
Negara, SPAN disambungkan ke sistem perbankan. the State Budget and Treasury System (SPAN) will
Pembahasan teknis sudah dimulai sejak Januari, be connected to a banking system. Technical
dengan pihak perbankan yang terlibat adalah Bank discussions have begun since January, in which
Operasional I (BO I): Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BTN. banks involved included Operational Banks I (BO
Ditjen Perbendaharaan melakukan perintah transfer I): Bank Mandiri, BRI, BNI, and BTN. The Directorate
kepada Bank Indonesia dari rekening kas umum General of Treasury would instruct a transfer to Bank
negara ke rekening BO I melalui aplikasi BIG-eB. Indonesia from the state’s account to BO I’s account
Untuk menjembatani SPAN dengan BIG-eB dibangun through the BIG-eB application. To connect the State
interkoneksi antara keduanya pada bulan Maret. Budget and Treasury System (SPAN) and the BIG-eB,
Dengan jembatan ini, surat perintah transfer dari an interconnection was set up in March. With the
rekening kas umum negara ke BO I dapat dilakukan interconnection, a transfer instruction letter from
secara otomatis by system. the state’s account to the BO I’s account could be
automatically made by system.

Pelaksanaan SPAN juga dilandasi oleh sebuah Implementation of the State Budget and Treasury
peraturan. Penyusunan Rancangan Peraturan System (SPAN) was also based on a regulation. The
Menteri Keuangan (RPMK) tentang Pelaksanaan draft of Regulation of the Minister of Finance on
SPAN dimulai dengan pembentukan Tim Penyusun the Implementation of State Budget and Treasury
Peraturan yaitu dengan KEP-181/PB/2012 tanggal System (SPAN) began with the setting up of a team
13 Agustus 2012. Pihak Direktorat Transformasi with KEP-181/PB/2012 dated August 13th, 2012.
Perbendaharaan (Dit. TP) kemudian melakukan The Directorate of Treasury’s Transformation made
inventarisir atas proses bisnis SPAN dan peraturan- inventories of the State Budget and Treasury System
peraturan saat ini yang akan terkena dampak (SPAN) business process and current regulations that
implementasi SPAN. would be affected by the implementation of the
State Budget and Treasury System (SPAN).

Kajian atas perubahan-perubahan proses bisnis The assessment on changes of the current business
saat ini yang dilakukan dalam SPAN selanjutnya process in the State Budget and Treasury System
diolah untuk disusun sebagai pokok-pokok pikiran (SPAN) was then processed to be prepared as
yang akan menjadi batang tubuh RPMK. Pada bulan principal thoughts of the content of the draft of
Oktober, penyusunan legal drafting RPMK yang Regulation of the Minister of Finance (RPMK). In
dilakukan oleh Dit. TP diserahkan kepada Dit. SP agar October, the draft of Regulation of the Minister
dilakukan harmonisasi peraturan. Dan setelah itu, of Finance (RPMK) by the Directorate of TP was
secara bersama-sama, Dit. TP dan Dit. SP melakukan submitted to the Directorate of SP for regulation
pembahasan draft RPMK dengan pihak-pihak terkait harmonization. Further, the Directorate of TP and
seperti fungsi-fungsi lingkup DJPBN selaku business Directorate of SP jointly discussed the draft of
owner, Bagian OTL Setditjen PBN, serta Biro Hukum Regulation of the Minister of Finance (RPMK) with
Setjen Kemenkeu. related parties such as functions in the Directorate
General of State Treasury as the business owner, OTL
party at the Secretariat of the Directorate General
of State Treasury, and the Legal Bureau of the
Secretariat General at the Ministry of Finance.

Sistem teknologi informasi harus didukung The information technology system must be
komponen infrastruktur yang komprehensif, tidak supported by a comprehensive infrastructure,

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
157
terkecuali untuk SPAN. Sistem infrastruktur SPAN the State Budget and Treasury System (SPAN)
dirancang untuk menghubungkan data center is no exception. The State Budget and Treasury
sampai ke end user (baik Kantor Pusat, Kanwil, dan System (SPAN) infrastructure has been designed
KPPN). Sejak tahun 2009 hingga 2011, tim SPAN to connect the data centre to the end user (Head
melakukan pengumpulan data dari seluruh lokasi Offices, Regional Offices, and State Treasury Offices).
(Kanwil/KPPN) untuk menyusun strategi instalasi Since 2009 to 2011, a team of the State Budget
(deployment). Dengan bantuan fungsi sistem and Treasury System (SPAN) collected data from all
perbendaharaan dan fungsi kesekretariatan Ditjen locations (Regional Offices/State Treasury Offices)
Perbendaharaan, Kanwil/KPPN, Pusintek, dan DJA, to arrange the installation deployment. Assisted by
strategi ini dilaksanakan mulai November 2011 the Treasury’s system function and the Secretariat at
hingga Juli 2012 terhadap 30 Kanwil DJPBN dan the Directorate General of Treasury, Regional Offices/
177 KPPN serta unit pusat yang terkait proses bisnis State Treasury Offices, Information and Technology
SPAN. Namun demikian, terdapat tiga KPPN yang Centre, and the Directorate General of Budget,
melakukan proses renovasi maupun pembangunan the strategy was implemented from November
gedung baru, sehingga deployment pada kantor- 2011 to July 2012 to 30 Regional Offices and 177
kantor tersebut baru bisa dilaksanakan pada StateTreasury Offices as well as central units related
November 2012. to the State Budget and Treasury System (SPAN)
business process. However, three State Treasury
Offices were renovating or constructing a new
building, so that installation in these offices was
deployed in November 2012.

Pada saat implementasi SPAN, para pengguna akan During the State Budget and Treasury System (SPAN)
didukung dengan layanan bantuan (service desk). implementation, the users will be supported by
Layanan ini akan menjadi single point of contact a service desk. It will be a single point of contact
apabila pengguna menghadapi permasalahan when the users face operational problems, including
operasional, yang dibagi menjadi tiga area: gangguan a business process disturbance, an application
proses bisnis, gangguan aplikasi, dan gangguan disturbance, and an infrastructure disturbance.
infrastruktur. Pada bulan Mei 2012, tim infrastruktur In May 2012, an infrastructure team from the
DTP menyelenggarakan workshop service desk SPAN Directorate of Treasury Transformation held a service
yang menghimpun seluruh anggota service desk desk workshop to gather all members of the service
(Pusintek) dan tim ITSU (Information Technology desk and a team from the Information Technology
Service Unit - terdiri dari tim gabungan Ditjen Service Unit (ITSU), consisting of the Directorate
Perbendaharaan, DJA dan Pusintek). Workshop General of Treasury, the Directorate General of
ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan Budget, and the service desk. The workshop was
kepada seluruh peserta tentang urgensi ITSU dalam aimed at providing knowledge to all participants on
Implementasi SPAN dan rentang layanan yang akan the urgency of Information Technology Service Unit
diberikan kepada pengguna. Selain itu, kepada staf (ITSU) in the implementation of the State Budget
pusat layanan DJA juga telah diberikan pelatihan and Treasury System, and the service provided to
proses bisnis SPAN. the users. In addition, the service desk staff of the
Directorate General of Budget was provided with
training on the State Budget and Treasury System
(SPAN) business process.

Perubahan sistem secara luas seperti implementasi A vast system change such as the implementation
SPAN tentunya akan memberikan dampak of the State Budget and Treasury System (SPAN)
bagi organisasi dan SDM. Strategi komunikasi would definitely affect the organization and
dan pengelolaan perubahan diperlukan agar human resources. A communication strategy and
memudahkan pegawai menjalani proses transisi change management was required to facilitate
sistem lama ke sistem yang baru. Untuk itu the employees in undergoing the transition from
dalam program pengelolaan perubahan dan the old system to the new system. The program
komunikasi melibatkan para pegawai dari Ditjen of change management and communication
Perbendaharaan, DJA, dan Pusintek Setjen. Ada involved employees from the Directorate General

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


158 Annual Report of Ministry of Finance 2012
empat fokus utama dalam penyusunan strategi of Treasury, the Directorate General of Budget,
perubahan: workstream pengelolaan perubahan, and the Information and Technology Centre of the
workstream komunikasi, workstream pelatihan, dan Secretariat General. There were four focuses in the
workstream organisasi. change strategy: change management workstream,
communication workstream, training workstream,
and organization workstream.

Pembangunan SAKTI Development of Institutional Financial


Application System (SAKTI)

Sistem Aplikasi Keuangan Tingkat Instansi (SAKTI) Institutional Financial Application System (SAKTI)
adalah aplikasi yang digunakan satker untuk is an application used by the work units at
membantu administrasi pengelolaan keuangan ministries/institutions to help administer the state’s
negara. Proses pembangunan SAKTI dan SPAN financial management. Development process
terus berjalan beriringan secara terpisah dengan of the Institutional Financial Application System
tetap memperhatikan kebutuhan interkoneksi (SAKTI) and the State Budget and Treasury System
antara keduanya. Ke depan, database SPAN akan (SPAN) continued separately by still taking the
mendapat input data dari database SAKTI. Proses interconnection of both systems into consideration.
pembangunan sistem dimulai dengan menyusun In the future, database of the State Budget and
Software Requirement Specification (SRS) dan Treasury System (SPAN) will be able to receive
pembentukan peta jurnal pada bulan Januari-Juni. input from the Institutional Financial Application
SRS adalah dokumen acuan dalam pengembangan System (SAKTI). The process of setting up the system
sistem yang mencakup tujuan dan batasan sistem, started with making a Software Requirement
aktor, user interface, desain layout reporting, dan Specification (SRS) and a journal map in January –
proses bisnis pada setiap modul. Sedangkan peta June. The Software Requirement Specification (SRS)
jurnal merupakan ketentuan perlakuan akuntansi is a reference document in the system development
untuk setiap variasi transaksi yang dirumuskan covering the system’s goal and definition, actor, user
dalam bentuk jurnal standar. Setelah finalisasi interface, reporting layout design, and the business
SRS, pembangunan aplikasi kemudian dilakukan process in each module. A journal map is a provision
bersama PT. Quadra sebagai vendor. of accountancy treatment for every transaction
variation formulated in a standard journal. After the
Software Requirement Specification (SRS) has been
finalized, the application was then set up with PT.
Wuadra as the vendor.

Pada masa implementasi sistem diperlukan standar During the system implementation, a documented
penggunaan yang didokumentasi dalam Prosedur usage standard is needed in the implementation
Implementasi. Setiap aplikasi memiliki keterbatasan procedure. Every application has a coverage
ruang lingkup. Dalam hal ini, Prosedur Implementasi limitation. In this case, the implementation standard
juga bisa digunakan sebagai salah satu sumber can also be used as one of the information sources
informasi dalam menyelesaikan permasalahan yang in the settlement of any problems in the application.
terjadi pada aplikasi. Terhadap aplikasi yang selesai The application, of which the setting up has been
dibangun oleh pihak pengembang, dilakukan completed by the developer, has been tested to
pengujian untuk mengetahui kesiapan setiap modul find out the readiness of every module in executing
dalam mengeksekusi transaksi. Pada bulan Oktober, transactions. In October, a test scenario was discussed
skenario pengujian sudah dibahas dan dipersiapkan. and prepared. In November, the application was
Pada bulan November, aplikasi mulai dipasang pada installed in the examining computers to process the
komputer penguji untuk melaksanakan proses unit Unit Test, and this last until end of the year.
test dan masih berlangsung hingga akhir tahun 2012.

Seperti pada pembangunan SAKTI, pada bulan Like the Institutional Financial Application System
Februari hingga Juni dilakukan kajian terhadap (SAKTI), from February to June, the Software

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
159
SRS Interkoneksi SPAN-SAKTI. Data pada aplikasi Requirement Specification (SRS) interconnected with
KPPN merupakan data yang diperoleh dari satker the State Budget and Treasury System (SPAN) and
dalam bentuk ADK. Saat implementasi SAKTI, proses the Institutional Financial Application System (SAKTI)
pengiriman data (data inbound dan outbound) juga was tested. As in the current process, data in the
harus ditentukan. Proses ini dirumuskan pada bulan State Treasury Offices was obtained from work units
Juli untuk modul anggaran, modul manajemen in the form of ADK. During the implementation, the
komitmen, modul pembayaran, dan modul akuntansi data inbound and outbound delivery process should
dan pelaporan pada aplikasi SAKTI. Pembahasan SOP also be determined. The process was formulated
interkoneksi SPAN-SAKTI dan skenario uji cobanya in July for the budget module, commitment
dilakukan pada bulan September hingga Oktober. management module, payment module, and
accountancy module, as well as reporting in the
Institutional Financial Application System (SAKTI)
application. The Standard Operation Procedure
of the interconnection between the State Budget
and Treasury System (SPAN) and the Institutional
Financial Application System (SAKTI) was discussed
and tested from September to October.

PENERIMAAN NEGARA PERPAJAKAN GOVERNMENT REVENUES TAXATION

Penyempurnaan Kebijakan Perpajakan Perfecting Taxation Policies

Ditjen Pajak (DJP) membutuhkan data dan informasi The Directorate General of Tax required taxation
perpajakan dari instansi pemerintah, lembaga, data and information from the government
asosiasi, dan pihak lainnya untuk pengawasan institutions, associations, and other parties to
kepatuhan pelaksanaan kewajiban perpajakan supervise compliance of the taxation obligation
sebagai konsekuensi penerapan sistem self implementation as a consequence of the self
assessment. Data dan informasi dimaksud adalah data assessment system application. The said data
dan informasi orang pribadi atau badan yang dapat and information included both personal as well
menggambarkan kegiatan atau usaha, peredaran as agencies describing the business, business
usaha, penghasilan dan/atau kekayaan yang distribution, income and/or wealth of the related
bersangkutan. Informasi itu termasuk mengenai person or agency. The information included the
nasabah debitur, data transaksi keuangan dan lalu debtors, financial transaction data and foreign
lintas devisa, kartu kredit, serta laporan keuangan currency traffic, credit cards, and financial report
dan/atau laporan kegiatan usaha yang disampaikan and/or business activities report submitted to other
kepada instansi lain di luar DJP. agencies other than the Directorate General of Tax.

Penghimpunan data itu sudah diatur dalam sebuah The data was collected according to the regulation.
aturan. UU Ketentuan Umum Perpajakan (KUP) Pasal Law on Tax General Stipulation (KUP) article 35A
35A mengamanatkan pengaturan lebih lanjut dalam mandates a further arrangement in the Government
Peraturan Pemerintah. Sebagai implementasi dari Regulation. As an implementation of the Law on
pengaturan dalam UU KUP tersebut, pada tanggal Tax General Stipulation, on February 27th, 2012,
27 Februari 2012, Peraturan Pemerintah Republik the Government Regulation Number 31/2012 on
Indonesia Nomor 31 Tahun 2012 tentang Pemberian Presenting and Collecting Data and Information
dan Penghimpunan Data dan Informasi Yang in relation with Taxation was enacted In the State
Berkaitan Dengan Perpajakan diundangkan dalam Gazette of the Republic of Indonesia Number 56/
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 56 2012.
Tahun 2012.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


160 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Pengalihan PBB Sektor Pedesaan dan Perkotaan Diversion of the Property Tax of Regional and
(PBB-P2) Urban Sectors (PBB-P2)

Sesuai dengan ketentuan UU Nomor 28 Tahun Under the provision of Law Number 28/2009 on
2009 tentang Pajak Daerah dan Restribusi Daerah, the Regional Tax and the Regional Retribution, the
PBB Sektor Pedesaan dan Perkotaan (PBB-P2) akan Property Tax of Regional and Urban Sectors (PBB-2)
dialihkan sebagai Pajak Daerah selambatnya- will be diverted to Regional Tax no later than January
lambatnya 1 Januari 2014. Sepanjang tahun 2012, 1st, 2014. Along 2012, the Directorate General of Tax
DJP beserta tim dari Kementerian Keuangan and a team from the Ministry of Finance observed
melaksanakan pemantauan dan evaluasi terhadap and evaluated preparation of the diversion and
persiapan pengalihan dan pelaksanaan pemungutan implementation of collecting Property Tax of
PBB-P2 ke pemerintah kabupaten/kota yang telah Regional and Urban Sectors (PBB-2) to the regency/
mengadministrasikan PBB-P2. city governments already administered the Property
Tax of Regional and Urban Sectors (PBB-2).

Agar persiapan pengalihan dan pelaksanaan To well prepare the diversion and implementation
pemungutan PBB-P2 dapat berjalan dengan baik, of collecting the Property Tax of Regional and Urban
DJP menindaklanjuti dengan: Sectors (PBB-2), the Directorate General of Tax
followed it up by:

a. Memantau kesiapan 105 kabupaten/kota yang a. Observing the readiness of 105 regencies/
akan mengelola PBB-P2 tahun 2013; municipalities that manage the Property Tax of
Regional and Urban Sectors (PBB-2) in 2013.
b. Melakukan bimbingan teknis pengelolaan b. Providing a technical guidance on managing
PBB-P2 ke pemda. Bimbingan dilakukan Kantor the Property Tax of Regional and Urban Sectors
Wilayah (Kanwil) DJP dan/atau Kantor Pelayanan (PBB-2) to regional governments. The guidance
Pajak (KPP) Pratama; was held in Regional Offices of the Directorate
General of Tax and/or Pratama Tax Service Offices
(KPP).
c. Mendorong Kanwil DJP untuk membentuk tim c. Encouraging Regional Offices of the Directorate
bersama pemda setempat untuk membantu General of Tax to set up a joint team with the
pemerintah kabupaten/kota dalam persiapan local regional government to help the regency/
pemungutan PBB-P2; municipality governments in the preparation
of collecting the Property Tax of Regional and
Urban Sectors (PBB-2).
d. Mengadakan – terkait teknologi informasi d. Organizing a workshop related to information
khususnya untuk instalasi dan kustomisasi technology, particularly for installation and
aplikasi Sistem Manajemen Informasi Objek customization of the Tax Payer Information
Pajak (SISMIOP) pada 105 kabupaten/kota yang Management System (SISMIOP) application in
akan mengelola PBB-P2; 105 regencies/municipalities managing the
Property Tax of Regional and Urban Sectors (PBB-
2).
e. Mengadakan workshop Penilaian pada 18 e. Organizing assessment workshops in 18
kabupaten/kota yang telah melaksanakan regencies/municipalities that have collected the
pemungutan PBB-P2 pada tahun 2011 dan 2012; Property Tax of Regional and Urban Sectors (PBB-
2) in 2011 and 2012.
f. Mengadakan kerja sama dengan Sekolah f. Setting up up cooperation with the State
Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dalam Institute of Accountancy (STAN) in organizing a
menyelenggarakan program Diploma I Diploma I program on Taxation of Evaluator and
Perpajakan Konsentrasi Penilai dan Operator Console Operator consentration of which most of
Console dengan pengajar yang sebagian besar the lecturers were employees of the Directorate
dari pegawai DJP. General of Tax.

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
161
Pada tahun 2011, baru kota Surabaya yang In 2011, only Surabaya has collected the Property Tax
melaksanakan pemungutan PBB-P2. Pada tahun of Regional and Urban Sectors (PBB-P2). In 2012, the
2012, jumlahnya meningkat menjadi 17 kabupaten/ number increased to 17 regencies/municipalities.
kota. Diharapkan pada 1 Januari 2014 seluruh It is hoped that on January 1st, 2014, all regencies/
pemerintah kabupaten/kota sudah melaksanakan municipalities have collected their own Property Tax
pemungutan PBB-P2 sendiri. of Regional and Urban Sectors (PBB-P2).

Penggalian Potensi Potential Exploration

Ekstensifikasi Extensification

Salah satu program atas kebijakan umum perpajakan One of the programs on 2012 taxation general
2012 dalam nota keuangan APBN 2012 adalah policy in the State Budget 2012 was the taxation
program ekstensifikasi perpajakan yang bertujuan extensification aimed at increasing the number
untuk meningkatkan jumlah Wajib Pajak Orang of Individual Tax Payers (WP OP) of profession,
Pribadi (WP OP) berbasis profesi, pemberi kerja, employer, feeding basis from 1,000 Large Tax Payers
feeding dari 1.000 Wajib Pajak Besar dan Wajib Pajak and Individual Tax Payers of Certain Businessmen
Orang Pribadi Pengusaha Tertentu (WP OPPT) (WP OPPT)

Program Ekstensifikasi WP OP masuk dalam peta The extensification program of the Individual Tax
strategis DJP 2008-2012. Kegiatan ini dimaksudkan Payers (WP OP) was inserted in the strategic map of
untuk memperluas basis pengenaan pajak (tax base the Directorate General of Tax 2008-2012. The activity
broadening) dengan meningkatkan Wajib Pajak (WP) was aimed at expanding the tax imposition base by
terdaftar, meningkatkan kepatuhan wajib pajak, increasing the registered Tax Payers, their compliance,
serta meningkatkan penerimaan pajak. Program and tax revenues. The extensification program was a
ekstensifikasi merupakan upaya proaktif DJP sebagai proactive effort of the Directorate General of Tax as a
bentuk pelayanan kepada masyarakat untuk memiliki service to the public to have a tax number (NPWP).
Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Pendekatan yang The approach used was employees and property
digunakan adalah berbasis karyawan dan properti. basis. The employees-based approach was made
Pendekatan berbasis karyawan dilakukan melalui through the employers. Employees inserted in this
pemberi kerja. Karyawan yang masuk dalam daftar list included commissioners, shareholders, directors
ini termasuk komisaris, pemegang saham, direksi and employees of private companies or state-owned
dan karyawan pada perusahaan swasta atau BUMN enterprises and civil servants both in the central as
serta PNS baik tingkat pusat maupun daerah. well as regional governments.

Peningkatan jumlah WP terdaftar dan Penambahan Increase of the number of registered Tax Payers and
Wajib Pajak Orang Pribadi dari tahun ke tahun dapat Individual Tax Payers from year to year can be seen in
dilihat pada Tabel 4.12. the following table 4.12.

Tabel 4.12. Jumlah Wajib Pajak terdaftar dan Penambahan Wajib Pajak Orang Pribadi
Table 4.12. Number of Registered Tax Payers and Individual Tax Payers

Wajib Pajak Tax Payers 2008 2009 2010 2011 2012

1. Orang Pribadi Individual 8.807.666 13.861.253 16.880.649 19.881.684 22.131.323


2. Bendahara Treasurer 392.509 441.986 471.833 507.882 545.232
3. Badan Entity 1.481.924 1.608.337 1.760.108 1.929.507 2.136.014
Jumlah Wajib Pajak Terdaftar (1+2+3)
10.682.099 15.911.576 19.112.590 22.319.073 24.812.569
Number of Registered Tax Payers (1+2+3)
Penambahan Wajib Pajak Orang Pribadi
3.375.977 5.053.587 3.019.396 3.001.035 2.249.639
Addition of Individual Tax Payers
Sumber: DJP Source: Directorate General of Tax

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


162 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Sensus Pajak Nasional National Tax Census

Program Sensus Pajak Nasional (SPN) 2012 The National Tax Census (SPN) 2012 program was
dicanangkan kembali oleh DJP di Jakarta pada relaunched by the Directorate General of Tax on May
tanggal 1 Mei 2012. Tujuan dari SPN adalah 1st, 2012. The aim of the National Tax Census was
menjaring seluruh potensi perpajakan dalam rangka to encompass all tax potentials in the framework
Tridharma Perpajakan yaitu seluruh WP terdaftar, of Tridharma Perpajakan, including registered Tax
seluruh Objek Pajak dipajaki, dan pelaksanaan Payers, all taxed Tax Objects, and implementation of
kewajiban perpajakan tepat waktu dan tepat jumlah. on-time and on-amount tax obligation.

SPN dilaksanakan secara serentak di seluruh wilayah The National Tax Census was implemented
Indonesia. Pemilihan lokasi sensus menggunakan simultaneously throughout Indonesia. The census
hasil pemetaan dan monografi fiskal. Prioritas adalah locations were selected by using mapping and fiscal
sentra ekonomi/kawasan bisnis, high rise building, monography result. Priorities included economic
pemukiman serta kawasan potensial lainnya seperti centres/business areas, high-rise buildings, housing
perkebunan kelapa sawit, pertambangan dan lainya. complexes, and other potential areas such as palm
Pada lokasi sensus, seluruh subjek dan objek pajak oil plantations, mining areas, and others. At the
didata menggunakan Formulir Isian Sensus (FIS) dan census locations, all tax subjects and objects were
diikuti dengan penyuluhan dan imbauan. Tempat registered by using a Census Form (FIS), followed by
usaha dan/atau tempat tinggal responden yang a guidance and appeal. A sticker was then attached
telah disensus selanjutnya dipasang stiker sebagai on the business locations and/or housing complexes
tanda telah dilakukan sensus. of the respondents who have been censused as a
sign that the respondents have been registered.

Tabel 4.13. Hasil Sensus Pajak Nasional 2011-2012


Table 4.13. Result of National Tax Census 2011-2012

FIS Kategori FIS Category Jumlah Kategori % Kategori Jumlah Kategori % Kategori
Tahun Rencana 1-2-3 1-2-3 1-2-3-4 1-2-3-4
Year Plan Number of % Category Number of % Category
1 2 3 4 Category 1-2-3 1-2-3 Category 1-2-3-4 1-2-3-4

2011 1.030.903 443.113 15.206 101.385 86.951 559.704 54,29% 646.655 62,73%

2012 3.588.000 2.922.004 78.410 454.922 50.279 3.455.336 96,30% 3.505.615 97,70%

Keterangan: Note:
• Kategori 1: Responden dapat ditemui di • Category 1: Respondents could be met at the
lokasi sensus, dan bersedia menjawab serta census location and were willing to answer
menandatangani FIS and sign the Census Form
• Kategori 2: Responden dapat ditemui di • Category 2: Respondents coud be met at
lokasi sensus akan tetapi tidak bersedia the census location but were not willing to
menjawab dan menandatangani FIS answer and sign the Census Form
• Kategori 3: Responden tidak berada • Category 3: Respondents were not present
ditempat saat sensus, tetapi ada pihak yang at the location during the census but there
memiliki hubungan dengan responden were parties related to the respondents
• Kategori 4: Objek sensus tidak/belum • Category 4: Census objects were not (yet)
berpenghuni inhabited

Intensifikasi Intensification

Salah satu program dari kebijakan umum perpajakan One of the programs of the general taxation policy in
dalam nota keuangan APBN 2012 adalah program the Financial Note of the State Budget 2012 was the
intensifikasi. Program intensifikasi dilakukan melalui intensification program. The intensification program
(a) pengamanan pembayaran masa; (b) pemantapan was conducted through (a) security of the period

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
163
profil seluruh WP di Kantor Pelayanan Pajak Madya, payment; (b) strengthening the profile of all Tax
Kantor Pajak Wajib Pajak Besar (Large Tax Office- Payers in the Medium Tax Offices, Large Tax Offices,
LTO), Kanwil Jakarta Khusus; (c) pemantapan & Regional Offices of Jakarta; (c) strengthening of
bedah profil 1.000 WP utama Kantor Pelayanan profiles of 1.000 prime Tax Payers at Prime Tax Offices;
Pajak Pratama; (d) penambahan pembuatan 500 (d) addition of making 500 out of 1.000 profiles of
profil WP dari 1.000 WP yang wajib profil sebagai Tax Payers as a follow up to the freeding program at
tindak lanjut dari program feeding di KPP Pratama; Prime Tax Offices; (e) securing Tax Payers acceptance
(e) pengamanan penerimaan WP sektor tertentu; from certain sectors; (f ) securing certain corporate
(f ) pengamanan penerimaan WP OP Pengusaha Tax Payers acceptance and high wealth individuals
Tertentu (OPPT) dan high wealth individuals (HWI); (HWI); (h) securing treasurer Tax Payers acceptance;
(h) pengamanan penerimaan dari WP bendahara; (i) (i) securing transaction-based acceptance; and (j)
pengamanan penerimaan berbasis transaksi; dan (j) securing high rise building-based acceptance.
pengamanan penerimaan berbasis high rise building.

Kegiatan intensifikasi juga didukung dengan The intensification activity was also supported by a
berbagai program seperti: variety of programs, such as:

a. program feeding yaitu pertukaran data WP a. Feeding program, an exchange of Tax Payers’
antar KPP berbasis profil dan pengawasan data between Tax Offices based on the profile
pemanfaatan data dalam rangka pembuatan and supervision of the data use to make and/
dan/atau pemutakhiran profil WP serta or to update the Tax Payers’ profile, as well as to
penggalian potensi pajak; explore tax potentials.
b. Penggalian potensi sektoral yaitu penggalian b. To explore sectoral potentials against booming
potensi pajak terhadap sektor-sektor yang sectors in 2012;
booming pada tahun 2012;
c. Penggalian potensi orang pribadi berbasis c. To explore individual potentials based on
pencarian di internet; searching in the internet;
d. Pengawasan Pembayaran Masa yaitu d. To supervise Mass Payment not expressing the
pengawasan Pembayaran Masa yang tidak amount of expected tax payment and/or the
mencerminkan jumlah pembayaran pajak amount of analysis-based tax payment;
seharusnya dan/atau jumlah pembayaran pajak
berdasarkan analisis;
e. Benchmarking yaitu mengukur tingkat risiko e. Benchmarking, to measure the level of
kepatuhan dan kinerja WP dibandingkan compliance risk and performance of the Tax
dengan WP lain pada sektor industri/klasifikasi Payers compared with other Tax Payers in the
yang sama. same industrial sector/classification.

Penanganan Perkara/Sengketa Perpajakan Handling Case/Tax Conflict

Penyelesaian sengketa perpajakan senantiasa A tax conflict settlement should always be an


menjadi hal penting bagi DJP untuk memberikan important matter for the Directorate General of Tax
keadilan dan kepastian hukum terhadap WP. to provide justice and legal certainty for Tax Payers.
Dalam penyelesaian sengketa perpajakan, WP bisa A Tax Payer can settle a tax conflict at the Directorate
melakukannya di DJP, Pengadilan Pajak ataupun General of Tax, Tax Court, or the Supreme Court. The
Mahkamah Agung. Penyelesaian sengketa pajak di settlement of a tax conflict at the Directorate General
DJP terdiri dari dari proses keberatan, pembetulan, of Tax consists of an objection, a correction, a deletion,
pengurangan, penghapusan dan pembatalan and a cancellation process of tax stipulation, while a
ketetapan pajak. Sementara proses yang process settled outside the Directorate General of
diselesaikan di luar DJP adalah banding dan gugatan Tax includes an appeal and a claim settled at the Tax
yang diselesaikan di Pengadilan Pajak dan proses Court, of which the reconsideration process can be
peninjauan kembali yang dapat diajukan WP atau submitted by a Tax Payer or the Directorate General
DJP ke Mahkamah Agung melalui Pengadilan Pajak. of Tax to the Supreme Court through the Tax Court.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


164 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Pengajuan banding atau gugatan ke Pengadilan The number of appeals or claims to the Tax Court
Pajak yang telah diputuskan oleh Majelis Hakim dan which has been decided by the Board of Judges
telah diterima putusannya oleh DJP selama tahun of which the verdict has been accepted by the
2012 adalah 3.718 putusan Directorate General of Tax in 2012 amounted to
3,718.

Tabel 4.14. Distribusi Putusan Banding dan Gugatan selama tahun 2012
Table 4.14. Distribution of Appeals and Claims based on Verdicts Received by the Directorate General of Tax in 2012

Banding Gugatan Jumlah


Amar Putusan Verdict Claim Total
Appeal

Menolak To reject 560 421 981


Mengabulkan Sebagian To approve partly 619 48 667

Mengabulkan Seluruhnya To approve entirely 840 146 996


Membatalkan To cancel 65 40 105
Menghapus dari daftar sengketa To delete from the list of conflicts 2 17 19
Tidak dapat diterima Unacceptable 419 411 830
Menambah To add 1 - 1
Membetulkan salah tulis / hitung To correct mis-writing/mis-calculation 113 6 119
Jumlah Total 2.516 1.083 3.599

Sumber: DJP Source: Directorate General of Tax

Pelayanan, Penyuluhan dan Kehumasan Service, Counseling, and Public Relations

Sasaran strategis DJP dalam perspektif para The strategic target of the Directorate General of Tax
pemangku kepentingan adalah meningkatkan in the stakeholders’ perspective is to increase public
kepercayaan masyarakat dan tercapainya kepuasan trust and the achievement of a high satisfaction
yang tinggi dari pengguna layanannya. Berdasarkan from the service customers. Based on the result of
hasil Survei Tingkat Kepuasan Masyarakat Terhadap the Survey on the Public Satisfaction Level towards
Pelayanan Perpajakan yang dilaksanakan oleh pihak Tax Service conducted by an independent party, the
independen, Indeks Kepuasan Pengguna Layanan Index of Satisfaction of Service Customers was 3,093
mencapai 3.093 (dengan skala 1-4) atau 77,3 persen. (scale 1 – 4) or 77.3 percent. The figure showed that
Nilai tersebut menunjukkan bahwa pengguna the service customers tended to be satisfied with
layanan cenderung puas dengan pelayanan the service provided by the Directorate General of
yang diberikan DJP. Sementara hasil survei DJP Tax. Meanwhile, result of the Directorate General of
menunjukkan Indeks Kepercayaan Masyarakat Tax survey showed that the Public Trust Index was
pada angka 84,16 persen. Sebanyak 49,51 persen 84.16 percent. Even better, 49.51 percent of the
responden menyatakan citra DJP lebih baik dari respondents stated that the image of the Directorate
tahun lalu dan 43,52 persen responden menyatakan General of Tax was better than the previous year,
sama dengan tahun lalu. while 43.52 percent stated tha same compared to
the previous year.

Perbaikan layanan perpajakan terus dilakukan. Tax service continued to be improved. In general,
Secara umum, layanan perpajakan yang diberikan taxation service provided by the Directorate General
oleh DJP harus dilakukan berdasarkan prosedur of Tax should be executed based on the standard
operasi standar yang telah ditetapkan. DJP telah operational procedure which has been set. The
menetapkan 16 layanan sebagai Layanan Unggulan Directorate General of Tax has decided 16 services as
DJP, yaitu: the Examplary Service of the Directorate General of
Tax, including:

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
165
No Jenis Layanan Unggulan Perpajakan Type of Taxation Prime Service

1 Pelayanan penyelesaian permohonan pendaftaran Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)


Service of request settlement of Tax Number (NPWP) registration

2 Pelayanan penyelesaian permohonan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (PKP)


Service of request settlement request of Businessman Tax Payers (PKP) strengthening

3 Pelayanan penerbitan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
Service of request issuance of Value Added Tax (PPN) reimbursement

4 Pelayanan penerbitan Surat Perintah Membayar Kelebihan Pajak (SPMKP)


Service of issuance of Tax Excess Payment Instruction Letter (SPMKP)
5 Pelayanan penyelesaian permohonan keberatan penetapan Pajak PPh, PPN dan PPnBm
Service of request settlement of stipulation of Income Tax, Value Added Tax and PPnBM objection
6 Pelayanan penyelesaian Surat Keterangan Bebas (SKB) Pemungutan PPh Pasal 22 Impor
Service of settlement of Free Information Letter (SKB) of Income Tax Collection Article 22 Import
7 Pelayanan penyelesaian permohonan pengurangan PBB
Service of request settlement of Property Tax reduction
8 Pelayanan pendaftaran Objek Pajak baru dengan Penelitian Kantor
Service of registration of new Tax Objects with an office’s assessment
9 Pelayanan penyelesaian mutasi seluruh Objek dan Subjek Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
Service of mutation settlement of all Objects and Subjects of Property Tax (PBB)
10 Pelayanan penyelesaian permohonan Surat Keterangan Bebas (SKB) Pemotongan PPh Pasal 23
Service of request settlement of Free Information Leter (SKB) of Income Tax reduction Article 23

11 Pelayanan penyelesaian permohonan Surat Keterangan Bebas (SKB) Pemotongan PPh atas bunga deposito dan tabungan serta diskon SBI
yang diterima atau diperoleh Dana Pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan
Service of request settlement of Free Informaton Letter (SKB) of Income Tax reduction on time deposits and savings interest and SBI discount
received or obtained by a Pension Fund of which the establishment was endorsed by the Minister of Finance

12 Pelayanan penyelesaian Surat Keterangan Bebas (SKB) PPh atas Penghasilan dan Pengalihan Hak Atas tanah dan /atau Bangunan
Service of settlement of Free Information Letter (SKB) of Income Tax on Income and Transfer of Right on land and/or building

13 Pelayanan penyelesaian Permohonan Surat Keterangan Bebas (SKB) Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas Barang Kena Pajak (BKP) tertentu
Service of settlement of Free Information Letter (SKB) of Value Added Tax (PPN) on certain Taxed Goods (BKP)

14 Pelayanan penyelesaian permohonan keberatan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)


Service of request settlement of Property Tax objection

15 Pelayanan penyelesaian permohonan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi


Service of request settlement on reduction or deletion of administrative sanction

16 Pelayanan penyelesaian permohonan pengurangan atau pembatalan ketetapan Pajak yang tidak benar
Service of request settlement of reduction or cancelation of incorrect tax stipulation

Kring Pajak 500200 Kring Pajak 500200

DJP juga terus berusaha agar selaras dengan The Directorate General of Tax continued to make
reformasi birokrasi melalui upaya pemenuhan efforts to be consistent with the bureaucracy reform
kebutuhan masyarakat akan layanan publik yang through efforts to fulfill the people’s needs on
berkualitas. Upaya mewujudkan pemerintahan yang quality public service. The efforts to realize a clean
bersih (clean government) dengan prinsip-prinsip tata government with good governance principles must

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


166 Annual Report of Ministry of Finance 2012
kelola pemerintahan yang baik (good governance) be able to fulfill modern people’s needs on services
harus mampu memenuhi kebutuhan masyarakat with a different characteristic from conventional
modern akan layanan dengan karakteristik berbeda services. Based on the thought, the Directorate
dengan layanan konvensional. Berangkat dari General of Tax has been operating an pilot project
pemikiran tersebut, DJP telah mengoperasikan in the form of a contact centre Kring Pajak 500200
sebuah proyek percontohan layanan berupa Contact since January 8th, 2008. The pilot project had two
Center Kring Pajak 500200 sejak 8 Januari 2008. main functions, Information Service Centre and Tax
Proyek percontohan itu menjalankan dua fungsi Claim Centre.
utama, yaitu Pusat Layanan Informasi dan Pusat
Pengaduan Pajak.

Tabel 4.15. Kinerja Layanan Informasi dan Konsultasi Kring Pajak 500200 Tahun 2012
Table 4.15. Performance of Information Service and Kring Pajak 500200 consultation in 2012

Panggilan Terjawab Answered Calls


Bulan Panggilan Masuk
Month Incoming Calls
Jumlah %
Total
Januari January 37.625 28.855 76.69%
Februari February 35.437 30.969 87.39%
Maret March 47.723 37.408 78.39%
April April 36.408 31.835 87.44%

Mei May 23.390 22.569 96.49%


Juni June 24.856 23.841 95.92%
Juli July 30.294 26.691 88.11%
Agustus August 22.803 22.051 96.70%
September September 24.777 23.036 92.97%
Oktober October 21.626 18.974 87.74%
November November 27.556 23.467 85.16%
Desember December 26.473 22.552 85.19%
Jumlah Total 358.968 312.248 86.98%

Sumber: DJP Source: Directorate General of Tax

Penyuluhan Counselling

Tahun 2012 merupakan tahun pertama implementasi 2012 was the first year of implementing a counselling
kebijakan penyuluhan yang dituangkan dalam Surat policy as contained in the Circular Note of the
Edaran Direktur Jenderal Pajak nomor SE-98/PJ/2011 Director General of Tax Number SE-98/PJ/2011 on
tentang Pedoman Penyusunan Rencana Kerja dan Guidance of Preparing the Work Plan and Taxation
Laporan Kegiatan Penyuluhan Perpajakan Unit Counselling Activities Report of the Vertical Units
Vertikal di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak. at the Directorate General of Tax. In addition, SE-
Selain itu, diimplementasikan juga SE-99/PJ/2011 99/PJ/2011 on Guidance of setting up a Taxacation
tentang Pedoman Pembentukan Tim Penyuluhan Counselling Team of the Vertical Units at the
Perpajakan Unit Vertikal di Lingkungan Direktorat Directorate General of Tax was also implemented.
Jenderal Pajak. Amanat dua surat edaran tersebut Mandate of these two circular notes was that each
adalah masing-masing unit kerja menyusun work unit prepares a work plan of guidance based
rencana kerja penyuluhan berdasarkan tiga fokus on three guidance focuses. The three focuses were
penyuluhan. Ketiga fokus itu ditujukan bagi calon addressed to prospective Tax Payers, new Tax Payers,
WP, WP baru, dan WP terdaftar. and registered Tax Payers.

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
167
Pelaksanaan diklat tenaga penyuluh perpajakan An education and training program for taxation
untuk pertama kalinya dilaksanakan pada tahun guidance officers was first held in 2012. The
2012. Diklat ini penting untuk meningkatkan education and training program was important to
kompetensi tenaga penyuluh yang telah dibentuk increase competence of the guidance officers set up
oleh unit kerja Kanwil/KPP. Diklat tenaga penyuluh by the work units at the Regional Offices/Tax Offices.
perpajakan dilaksanakan selama lima hari kerja dan The education and training program for taxation
dibagi ke dalam empat gelombang mulai 30 Mei guidance officers was held five days and divided
hingga 22 Juni 2012. Diklat diikuti oleh 548 orang into four phases from May 30th to June 22nd, 2012.
yang merupakan perwakilan dari anggota tim Some 548 persons took part in the program as
tenaga penyuluh di KPP. representatives of the guidance teams at the Tax
Offices.

Penyempurnaan pola penyuluhan menjadi lebih The guidance pattern has been more structurized.
terstruktur juga dilakukan dalam bentuk penyiapan Facilities for the guidance have been prepared to
sarana penyuluhan yang mendukung penyuluhan support the program, from the Tax Payers registered
mulai awal WP mendaftarkan diri untuk memperoleh themselves to get a Tax Number (NPWP), in the form
NPWP, yaitu dalam bentuk starter kit NPWP Panduan of a starter kit, a Basic Guidance for Individual Tax
Dasar Wajib Pajak Orang Pribadi. Isi paket starter kit Payers. The starter kit consisted of one interactive CD
terdiri atas satu buah CD interaktif dan tiga buah and three books of short guidance for Individual Tax
buklet panduan singkat bagi WP OP. Ketiga buklet Payers. The three books were addressed to Employee
itu ditujukan untuk WP OP Pegawai atau Karyawan, Individual Tax Payers, Invidual Tax Payers Doing Free
WP OP Yang Melakukan Pekerjaan Bebas, dan WP OP Jobs, and Individual Tax Payers Certain Businessmen.
Pengusaha dan Pengusaha Tertentu.

Tahun 2012 ditutup dengan evaluasi efektivitas The year 2012 was closed by an evaluation of the
kegiatan penyuluhan oleh penyedia jasa survei guidance activities effectiveness by an independent
independen. Hasil survei menunjukkan perolehan surveyor. Result of the survey showed a score of
nilai sebesar 73,744, yang berarti hampir memenuhi 73.744, meaning that it almost achieved the targeted
target nilai efektivitas kegiatan penyuluhan yang score of the guidance activities effectiveness
ditetapkan dalam Indikator Kinerja Utama (IKU) stipulated in the KPI 2012, which was 74.00.
Tahun 2012, yaitu sebesar 74,00. Dengan demikian, Therefore, the achievement level of the taxation
tingkat pencapaian target efektivitas kegiatan guidance activities effectiveness in 2012 was 99.65
penyuluhan perpajakan pada tahun 2012 adalah percent.
sebesar 99,65 persen.

Kehumasan Public Relations

Serangkaian kegiatan kehumasan dilakukan A range of public relations activities was organized
DJP selama tahun 2012. Tujuan utama kebijakan by the Directorate General of Tax in 2012. The
kehumasan DJP antara lain: main goals of the public relations policies of the
Directorate General of Tax included:

a. Meningkatkan kesadaran dan pemahaman a. To increase public awareness and understanding


masyarakat akan pentingnya pajak bagi of the importance of tax in the national
pembangunan bangsa (awareness); development;
b. Membangun kepercayaan masyarakat pada DJP b. To develop public trust to the Directorate
(image); General of Tax;
c. Mendorong WP untuk memenuhi kewajiban c. To encourage Tax Payers to comply with their
perpajakannya (compliance). taxation obligation.

Untuk mencapai tujuan kehumasan tersebut, telah To achieve the public relations’ goals, a variety of
dilaksanakan berbagai kegiatan kehumasan selama public relations activities was organised in 2012,
tahun 2012, yaitu: including:

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


168 Annual Report of Ministry of Finance 2012
a. Penyebaran informasi perpajakan kepada pihak a. Dissemination of taxation information to both
internal dan eksternal melalui majalah elektronik internal as well as external parties through
e-Magazine dan situs resmi DJP, www.pajak.go.id; e-magazine and the official web of the
b. Produksi dan penayangan iklan layanan Directorate General of Tax, www.pajak.go.id ;
masyarakat DJP melalui media cetak, media b. Production and showing of Public Service
elektronik (televisi dan radio), media online, dan Advertisements of the Directorate General
media luar ruang (billboard kereta api, stasiun of Tax through print media, electronic media
kereta api, dan bandara); (television and radio), online media, and outdoor
media (billboard on trains, at railway stations and
airports);
c. Sosialisasi perpajakan secara interaktif melalui c. Interactive taxation socialisation through
media televisi dan radio; television and radio;
d. Menjalin hubungan dengan wartawan/media d. Setting up relations with journalists/media
melalui berbagai kegiatan seperti pelatihan/ through various activities, such as tax training/
kelas pajak bagi wartawan, media tour, media classes for journalists, media tours, media
gathering, konferensi pers, dan wawancara gatherings, press conferences, and interviews
media televisi/radio/cetak/online; with print and electronic media;
e. Penerbitan siaran pers untuk menyebarluaskan e. Publication of press releases to disseminate
informasi mengenai kebijakan dan kinerja information on the policies and performance of
DJP maupun isu terkini perpajakan kepada the Directorate General of Tax as well as on the
masyarakat; latest taxation issues to the people;
f. Pelaksanaan analisa dan tanggapan atas f. Analysis and responses on news, opinions, and

No Nomor Number Tanggal Date Hal Subject

1 KEP-40/Pj/2012 dan B/15/III/2012 8 Maret 2012 Kesepakatan Bersama antara DJP dengan Badan Reserse Kriminal POLRI tentang Koordinasi dalam Penegakan
Hukum di Bidang Perpajakan
KEP-40/Pj/2012 and B/15/III/2012 March 8th, 2012 Joint agreement between the Directorate General of Tax and the Indonesian Police on Coordination on Law
Enforcement in Taxation

2 KEP-41/Pj/2012 dan B/18/III/2012 8 Maret 2012 Kesepakatan Bersama antara DJP dengan Badan Pemelihara Keamanan POLRI tentang Koordinasi Dalam
Penegakan Hukum di Bidang Perpajakan
KEP-41/Pj/2012 and B/18/III/2012 March 8th, 2012 Joint agreement between the Directorate General of Tax and the Indonesian Police on Coordination on Law
Enforcement in Taxation

3 KEP-42/Pj/2012 dan B/21/III/2012 8 Maret 2012 Kesepakatan Bersama antara DJP dengan Badan Intelijen Keamanan POLRI tentang Kerjasama Intelijen
Dalam Rangka Penghimpunan Data dan Informasi
KEP-42/Pj/2012 and B/21/III/2012 March 8th, 2012 Joint agreement between the Directorate General of Tax and the Indonesian Police on Intelligence
Cooperation to collect Data and Information

4 KEP-109/Pj/2012 dan KEP - 5 April 2012 Kesepakatan Bersama antara DJP dengan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Umum tentang
03/E/EJP/04/2012 Penegakan Hukum Tindak Pidana di Bidang Perpajakan
KEP-109/Pj/2012 and KEP - April 5th, 2012 Joint agreement between the Directorate General of Tax and the Vice Attorney General in Criminal
03/E/EJP/04/2012 Acts on Law Enforcement of Criminal Acts in Taxation

5 KEP-110/Pj/2012 dan 5 April 2012 Kesepakatan Bersama antara DJP dengan Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara tentang
B/169/G/Gs.1/04/2012 Penanganan Masalah Hukum Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara
KEP-110/Pj/2012 and April 5th, 2012 Joint agreement between the Directorate General of Tax and Vice Attorney General of Civil Acts and
B/169/G/Gs.1/04/2012 State Administration on Handling Civil and State Administration Legal Issues

6 KEP-111/Pj/2012 dan 5 April 2012 Kesepakatan Bersama antara DJP dengan Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen tentang Kerjasama Dalam
B/1474/D/Ds/04/2012 Rangka Mendukung Kinerja Penegakan Hukum di bidang Perpajakan
KEP-111/Pj/2012 and April 5th, 2012 Joint agreement between the Directorate General of Tax and Vice Attorney General of Intelligence to
B/1474/D/Ds/04/2012 Support Law Enforcement Performance in Taxation

7 KEP-180/Pj/2012 dan 14 Juni 2012 Kesepakatan Bersama antara DJP dengan PASPAMPRES tentang Kerjasama dalam Pelaksanaan
NK-228/VI/2012 Tugas dan Fungsi
KEP-180/Pj/2012 and June 14th, 2012 Joint agreement between the Directorate General of Tax and the Presidential Security Force on
NK-228/VI/2012 the Implementation of Tasks and Functions

8 KEP-42/Pj/2012 dan 21 Juni 2012 Kesepakatan Bersama antara DJP dengan Perpustakaan KantorPusat BI tentang Peminjaman Bahan Pustaka
B/21/III/2012 Joint agreement between the Directorate General of Tax and the Library of Bank Indonesia’s Head Office
KEP-42/Pj/2012 and June 21th, 2012 on Borrowing Books
B/21/III/2012

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
169
pemberitaan, opini, dan surat pembaca complains towards the Directorate General of
mengenai DJP yang terdapat pada media cetak Tax in both print media as well as online media;
dan media online;
g. Penerbitan majalah kliping media cetak dan g. Publication of PamorKu (Pajak, Moneter dan
online PamorKu (Pajak, Moneter dan Keuangan) Keuangan) clipping magazine internally from
secara internal, yang berisi tentang berita-berita both print media as well as online media,
mengenai perpajakan, moneter dan keuangan; containing news on taxation, monetary and
financial issues;

Selama tahun 2012, DJP telah berhasil menjalin In 2012, the Directorate General of Tax set up
kerjasama kelembagaan dalam bentuk MoU sebagai cooperation with institutions in the form of
berikut: Memorandum of Understanding (MoU), as follows:

Penerimaan Perpajakan Taxation Revenues

Berdasarkan data realisasi penerimaan pajak sampai Based on the data of tax revenues realization until
dengan tanggal 31 Desember 2012 yang berasal dari December 31st, 2012, from the Directorate General
Ditjen Perbendaharaan, dapat disampaikan hal-hal of Treasury, following is some information:
sebagai berikut:

• Realisasi Penerimaan DJP tahun 2012 • Revenues realization of the Directorate


sebesar Rp835.255,12 miliar atau 94,38 General of Tax in 2012 was in amount of
persen dari rencana APBN-P 2012. Angka IDR835,255.12 billion or 94.38 percent of the
ini lebih rendah dibandingkan pencapaian State Budget Review 2012 plan. The figure
tahun 2011 yang sebesar 97,24 persen dari was lower compared to 2011, which achieved
APBN-P 2011. Penurunan ini dipengaruhi 97.24 percent from the State Budget Review
oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi 2011. The decrease was affected by the
Indonesia. Pada tahun 2012, pertumbuhan slowing down of the Indonesian economic
ekonomi hanya mencapai 6,23 persen, growth. In 2012, the economic growth
sedangkan, pada tahun 2011 mencapai 6,5 only reached 6.23 percent, while in 2011, it
persen; reached 6.5 percent.
• Penerimaan DJP tahun 2012 mencapai • Revenues of the Directorate General of Tax
12,47 persen atau mengalami perlambatan in 2012 reached 12.47 percent or a slow
jika dibandingkan dengan pertumbuhan down compared to 2011, which grew 19.81
2011 yang tumbuh 19,81 persen. Namun, percent. However, the revenues growth of
pertumbuhan penerimaan DJP masih di atas the Directorate General of Tax remained
pertumbuhan produk domestik bruto tahun above the Gross Domestic Product (GDP)
2012 yang berada pada level 10,87 persen. 2012 which was at the level of 10.87 percent.

• Penurunan pertumbuhan penerimaan DJP • Decrease of the revenues growth at the


terutama disebabkan oleh perlambatan Directorate General of Tax was mainly caused
pertumbuhan penerimaan PPh nonmigas by the slowing revenues growth of non oil
yang turun dari 20,19 persen (2011) menjadi and gas Income Tax, which went down from
6,49 persen (2012). Pertumbuhan PPh 20.19 percent (2011) to 6.49 percent (2012).
nonmigas berpengaruh signifikan terhadap The non oil and gas Income Tax growth
pertumbuhan penerimaan perpajakan significantly affected the taxation revenues
karena memiliki kontribusi terbesar, yaitu growth as it had the largest contribution,
sebesar 45,64 persen. 45.64 percent.

Sedangkan data penerimaan pajak dari tahun ke Data of tax revenues from year to year can be seen
tahun dapat dilihat dalam Tabel 4.16. in Table 4.16.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


170 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Tabel 4.16. Penerimaan Pajak Tahun 2008-2012
Table 4.16. Tax Revenues 2008 – 2012

Tahun Year
No Uraian Description
2008 2009 2010 2011 2012

I Trend Penerimaan Negara (triliun) Government Revenues Trend (trillion)

1 PDB Atas Dasar Harga Berlaku GDP based on Prevailing Price 4.948,69 5.606,20 6.436,27 7.427,09 8.234,48

2 Pendapatan Negara & Pajak Daerah Government Revenues & Regional Tax 1.018,55 891,65 1.041,30 1.227,35 1.375,61

3 Pendapatan Negara Government Revenues 981,61 848,76 995,27 1.165,25 1.311,40


4 Penerimaan Dalam Negeri Domestic Revenues 979,30 847,10 992,25 1.205,35 1.357,38

5 Total Penerimaan Perpajakan (Pajak Pusat) Total Tax Revenues (Central Tax) 658,70 619,92 723,31 873,87 1.016,24
6 Total Penerimaan DJP termasuk PPh Migas 628,23 835,83
571,11 544,53 742,74
Total Revenues of the Directorate General of Tax including Oil &Gas income Tax
7 Penerimaan DJP tanpa PPh Migas
494,09 494,49 569,35 669,65 752,37
Revenues of the Directorate General of Tax excluding Oil & Gas Income Tax
8 Pajak Daerah Regional Tax 1) 36,94 42,89 46,03 62,10 64,21

9 Penerimaan SDA Revenues from Natural Resources 224,46 138,96 168,83 213,82 217,16

II Tax Ratio Perpajakan Tax Ratio


1 Tax Ratio Pajak Pusat+ Daerah+SDA terhadap PDB 18,59% 14,30% 14,58% 15,48% 15,76%
Central+Regional+Natural Resoutces Tax Ratio to GDP
2 Tax Ratio Pajak Pusat+Daerah terhadap PDB Central Regional Tax Ratio to GDP 14,06% 11,82% 11,95% 12,60% 13,12%
3 Tax Ratio Pajak Pusat terhadap PDB Central Tax Ratio to GDP 13,31% 11,06% 11,24% 11,77% 12,34%
1) Tahun 2011 & 2012 masih target/ rencana 1) Years 2011 & 2012 remained a target/plan
Sumber: Direktorat PKP, Ditjen Pajak 2013 Source: Directorate PKP, Directorate Genderal of Tax 2013
(diusulkan hanya angka akhir penerimaan dan tax ratio) (Only the final figures of revenues and tax ratio are recommended)

Penegakan Hukum Law Enforcement

Pemeriksaan Inquiry

Selain meningkatkan pelayanan dan pengawasan In addition to increase service and supervision to
kepada WP, DJP juga berupaya meningkatkan Tax Payers, the Directorate General of Tax also makes
kepatuhan sukarela (voluntary compliance) WP, untuk efforts to increase Tax Payers’ voluntary compliance
memenuhi kewajiban perpajakan melalui kegiatan to fulfill their taxation obligation through law
penegakan hukum. Dengan peningkatan kepatuhan enforcement activities. With the increased voluntary
sukarela WP maka tugas DJP dalam menghimpun compliance of the Tax Payers, the Directorate
penerimaan negara akan semakin efisien. General of Tax has more efficient tasks in collecting
Government Revenues.

Terdapat tiga bentuk penegakan hukum yang There are three forms of law enforcement conducted
dilakukan oleh DJP, yaitu melalui pemeriksaan, by the Directorate General of Tax, including inquiry,
penagihan, dan penyidikan. Selain memberikan billing, and investigation. Apart from affecting the
dampak pada peningkatan kepatuhan sukarela Tax Payers’ voluntary compliance, in the short term,
WP, tindakan penegakan hukum ini secara jangka the law enforcement is expected to contribute
pendek diharapkan memberikan kontribusi terhadap tax revenues. Therefore, law enforcement must
penerimaan pajak. Oleh karena itu, tindakan be conducted in a measurable, consistent, and
penegakan hukum harus dilakukan secara terukur, professional way. Such low enforcement will
konsisten, dan profesional. Pelaksanaan penegakan minimize any possible conflict between the Tax

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
171
hukum yang demikian, akan meminimalkan Payers and the Directorate General of Tax.
kemungkinan terjadinya sengketa antara WP
dengan DJP.

Pemeriksaan merupakan tindakan awal penegakan Inquiry is the preliminary action of law enforcement
hukum yang dilakukan oleh DJP. Langkah ini conducted by the Directorate General of Tax. This
dilakukan untuk dua keperluan. Pertama, menguji is aimed at two goals: first, to examine Tax Payers’
kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan WP. compliance in fulfilling their taxation obligation;
Kedua, untuk tujuan lain dalam rangka pelaksanaan second, to implement taxation legislation. The inquiry
peraturan perundang-undangan perpajakan. to test the Tax Payers’ compliance and correctness
Pemeriksaan yang dilakukan dalam rangka menguji in filling the Tax Form will result in a tax stipulation
kepatuhan serta menguji kebenaran pengisian SPT letter. The inquiry is also aimed at implementing
WP akan menghasilkan surat ketetapan certain taxation legislations. For instance, selecting
pajak. Sementara pemeriksaan bertujuan isolated areas to provide taxation facilities, deciding a
lain dilakukan untuk melaksanakan peraturan commercial production time to provide tax facilities,
perundang-undangan perpajakan tertentu. Misalnya exchange of information with other countries, and
penentuan daerah terpencil untuk pemberian other purposes. The inquiry for other purposes is not
fasilitas perpajakan, penentuan Saat Produksi aimed at issuing a tax stipulation letter, instead it is
Komersial dalam pemberian fasilitas perpajakan, more for certain services to the Tax Payers.
pertukaran Informasi dengan negara lain dan tujuan-
tujuan lainnya. Pemeriksaan untuk tujuan lain bukan
dimaksudkan untuk menerbitkan surat ketetapan
pajak, tetapi lebih untuk kepentingan pelayanan
tertentu kepada WP.

Tabel 4.17. Kinerja dan Pencapaian Target Pemeriksaan Tahun 2012


Table 4.17. InquiryTarget Performance and Achievement in 2012

1 Target penyelesaian pemeriksaan (hasil konversi) Target of examination completion (conversion result) 28.618,81 LHP
Penyelesaian pemeriksaan (hasil konversi) Examination completion (conversion result) 29.487,00 LHP
Persentase pencapaian target Percentage of target achievement 103,03%
2 Target penerimaan dari pemeriksaan Receipt target from examination Rp13.30 triliun IDR 13.30 trillion

Realisasi penerimaan dari pemeriksaan Receipt realization from examination Rp14.24 triliun IDR 14.24 trillion
Persentase pencapaian target Percentage of target achievement 107,07%
3 Target persentase hasil pemeriksaan dan Refund Discrepancy terhadap Penerima Pajak 2%
Target percentage of examination result and discrepancy result towards tax receipt
Realisasi penerimaan dari hasil pemeriksaan Receipt realization from examination result Rp14.24 triliun IDR 14.24 trillion
Refund Discrepancy Refund Discrepancy Rp2.86 triliun IDR 2.86 trillion
Realisasi penerimaan pajak Realization of tax receipt Rp752.37 triliun IDR 752.37 trillion
Persentase hasil pemeriksaan dan Refund Discrepancy terhadap penerimaan pajak 2,27%
Percentage of examination result and discrepancy refund towards tax receipt
Sumber : DJP Source: Directorate General of Tax

Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan The Tax Payers’ compliance in fulfilling their taxation
kewajiban perpajakan dilaksanakan berdasarkan obligation is inquired based on the risk analysis
hasil analisis risiko baik secara manual maupun result of the Tax Payers’ profile both manually as well
terkomputerisasi atas profil WP atau berdasarkan as computerized, or based on the analysis result on
hasil analisis Informasi, Data, Laporan dan information, data, report and complain, indicating
Pengaduan (IDLP), yang mengindikasikan adanya the Tax Payers’ incompliance. In addition, the Tax

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


172 Annual Report of Ministry of Finance 2012
ketidakpatuhan WP. Selain itu, pemeriksaan untuk Payers’ compliance is also examined in the event
menguji kepatuhan juga dilakukan dalam hal there is a restitution request by Tax Payers other than
terdapat permohonan restitusi oleh WP selain WP Tax Payers who obtain a preliminary refund.
yang memperoleh pengembalian pendahuluan.

Penagihan Billing

Kebijakan Umum dan Strategi Penagihan 2012 General policy and billing strategy 2012

1. Prioritas Tindakan Penagihan dan Prognosis 1. Billing priority and debt disbursement prognosis
Pencairan Piutang
a) KPP diwajibkan melakukan analisis risiko a) Tax Offices are obliged to analyse tax credit risks
piutang pajak dengan berpedoman pada Tabel with guidance to the Table of Tax Credit Analysis
Parameter Analisis Piutang Pajak dan Kertas Kerja Parameter and the Work Paper of Tax Credit Risk
Analisis Risiko Piutang Pajak; Analysis.
b) KPP mengelompokkan Penunggak Pajak/WP b) Tax Offices group Tax Payers based on the total
berdasarkan total skor dari Kertas Kerja Analisis score from the Work Paper of Tax Credit Risk
Risiko Piutang Pajak dan menjadi dasar skala Analysis which is a base of tax billing priority.
prioritas tindakan penagihan pajak;
c) Menyusun Kertas Kerja Penagihan terhadap 200 c) Tax Offices arrange a Billing Work Paper for 200
penunggak pajak terbesar Pemutakhiran Data largest Tax Payers from the Credit Data Updating.
Piutang;
d) Dukungan data dan evaluasi atas penyelesaian d) Tax Offices collect data and evaluate support for
piutang pajak yang bermasalah untuk dapat troubled tax credit settlement according to the
dilakukan penyelesaian sesuai ketentuan prevailing taxation provision.
perpajakan yang berlaku.

2. Pelaksanaan Pemutakhiran Data Piutang Pajak 2. Updating Tax Credit Data


a) Pemutakhiran Piutang Pajak Penghasilan, a) Updating credits of Income Tax, Value Added Tax,
Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan and Luxurious Goods Sales Tax in the Information
atas Barang Mewah dalam Sistem Informasi System of the Directorate General of Tax; (SE-86/
Direktorat Jenderal Pajak (SIDJP) (SE-86/PJ/2011); PJ/2011);
b) Pemeliharaan Basis Data Pajak Bumi dan b) Maintenance of Property Tax basis data to
Bangunan (PBB) dalam rangka Pemutakhiran update data of Property Tax credit in the regional
Data Piutang PBB Sektor Perdesaan dan and urban areas; (SE-12/PJ/2012).
Perkotaan (SE-12/PJ/2012).

3. Pengembangan outbond call center untuk 3. Development of outbond call centre for tax
penagihan pajak dalam rangka optimalisasi billing to optimize tax billing.
tindakan penagihan pajak.

Penyidikan Investigation

Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan Investigation of criminal acts in the taxation
merupakan upaya penegakan hukum terakhir sector is an effort of the ultimate law enforcement
(ultimum remedium) yang dimiliki DJP sesuai amanat (ultimum remedium) by the Directorate General of
UU. Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan Tax pursuant to the law mandate. The investigation
adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh of criminal acts in the taxation sector is a range of
penyidik untuk mencari serta mengumpulkan actions made by investigators to search and collect
bukti. Bukti yang ditemukan itu akan membuat evidence. The evidence will make the criminal acts
tindak pidana bidang perpajakan terlihat terang obvious, so that the suspect can be found. The
sehingga tersangkanya bisa ditemukan. Penyidik investigators are certain officials at the Directorate
adalah pejabat PNS tertentu di lingkungan DJP yang General of Tax granted a special authority as

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
173
diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk investigators to investigate any criminal act in the
melakukan penyidikan tindak pidana di bidang taxation sector pursuant to the legislation.
perpajakan sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.

Proses penyidikan dimulai dari pengembangan dan The investigation process starts IDLP development
analisis IDLP. Apabila dalam pengembangan dan and analysis. If in the IDLP development and analysis,
analisis IDLP ditemukan indikasi kuat tindak pidana a strong indication of a criminal act in the taxation
di bidang perpajakan, akan ditindaklanjuti dengan sector is found, the investigation will be followed
usul pemeriksaan bukti permulaan. Bila pada proses with a probe recommendation of the preliminary
pemeriksaan ditemukan bukti permulaan tentang evidence. If during the probe, a preliminary
adanya dugaan telah terjadi tindak pidana di bidang evidence is found of an alleged criminal act in the
perpajakan, akan ditindaklanjuti dengan usul taxation sector, the probe will be followed with an
penyidikan. investigation recommendation.

Keterangan: Saldo per tanggal untuk berkas perkara Note: Balance per date for documents already
yang telah diserahkan ke Kejaksaan tetapi belum submitted to the Attorney’s office but not stated
dinyatakan lengkap. complete yet.

Tabel 4.18. Kinerja Penyidikan Tahun 2007 - 2011


Table 4.18. Investigation Performance in 2007 - 2011

No Keterangan Explanation 2008 2009 2010 2011 2012

I Berkas diserahkan ke Kejaksaan Documents submitted to the Attorney’s office


A Berkas P-19* P-19* Document 24 19 14 3 20

Kerugian Negara (Miliar Rupiah) State’s loss (billion rupiahs) 1.412 162 233 5 1.540
Tersangka Suspect 13 16 12 6 1

B Berkas P-21 Documents are P-21 11 24 19 24 27


Kerugian Negara (Miliar Rupiah) State’s loss (billion rupiah,) 131 239 509 169 144,7
Tersangka Suspect: 11 18 16 18 25

II Berkas Sudah Divonis Documents are sentenced


Jumlah Sudah Divonis Number of documents sentenced 13 18 13 15 26

Kerugian Negara (Miliar Rupiah) State’s loss (billion rupiahs) 463 288 409 58 1.550

Denda Pidana (Miliar Rupiah) Criminal fine (billion rupiahs) 115 633 301 42 3.270
Terdakwa Suspect 17 14 11 14 19
Keterangan :Saldo per tanggal untuk berkas perkara yang telah diserahkan ke Kejaksaan Tetapi belum dinyatakan lengkap.
Note: Balance per date for documents already submitted to the Attorney’s office but not stated complete yet.
Sumber : DJP Source: Directorate General of Tax

KEPABEANAN DAN CUKAI CUSTOMS AND EXCISE

Pencapaian Target Penerimaan Achievement of Revenues Target

Meski menghadapi berbagai kendala, terutama Despite various constraints, particularly related
terkait dengan krisis perekonomian global sepanjang to the global economic crisis throughout the year

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


174 Annual Report of Ministry of Finance 2012
tahun 2012, penerimaan Bea dan Cukai tetap 2012, the Directorate General of Customs and Excise
berhasil mencapai target Tahun Anggaran 2012. successfully achieved the revenues target for Fiscal
Hingga 31 Desember 2012, realisasi penerimaan Year 2012. Until December 31st, 2012, revenues
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) mencapai realization of the Directorate General of Customs
Rp144.536,76 miliar atau 110,16 persen dari target. and Excise amounted IDR144,536.76 billion or 110.16
Perincian realisasi penerimaan disajikan dalam Tabel percent from the target. Detail of the revenues
4.19. realization is presented in table 4.19

Tabel 4.19. Realisasi Penerimaan Bea Cukai


Table 4.19. Revenues Realization of Customs and Excise

Target s.d. Pencapaian Target Surplus (Defisit Per 31 Desember


No Jenis Penerimaan Target APBN-P Realisasi
31 Desember
s.d. 31 Tahunan Nominal %
Desember
1 2 3 4 5 6(5/4) 7(5/3) 8(5-4) 9(8/4)
1 BEA MASUK 24.737.900,00 24.737.900,00 28.280.485,15 114,32% 114,32% 3.542.585,15 14,32%
Bea Masuk Riil 24.137.900,00 24.137.900,00 28.237.662,28 116,98% 116,98% 4.099.762,28 16,98%

Bea Masuk DTP 600.000,00 600.000,00 42.822,87 7,14% 7,14% (557.177,14) -92,86%
2 CUKAI 83.266.625,00 83.266.625,00 95.019.271,07 114,11% 114,11% 11.752.646,07 14,11%

3 BEA KELUARi 23.206.200,00 23.206.200,00 21.237.008,24 91,51% 91,51% (1.969.191,77) -8,49%


Sub Total 131.210.725,00 131.210.725,00 144.536.764,45 110,16% 110,16% 13.326.039,45 10,16%
PPN Impor 126.609.743,58

PPn BM Impor 8.422.809,25


PPn Pasal 22 Impor 31.610.210,42
Sub Total PDRI 166.642.763,25
PPN Cukai HT 14.156.587,99
Total Pajak 180.799.351,24
TOTAL DJBC + PERPAJAKAN 325.336.115,69
Keterangan
1. Data sampai dengan 31 Desember 2012
2. Data Bea Masuk dan Cukai sudah termaksud pendapatan DA dan sudah dikurang Restitusi
3. Sumber Data : Direktorat Pengelolaan Kas Negara - Ditjen Perbendaharaan
4. Data Penerimaan PPNCukai HT dari MPO

Capaian masing-masing penerimaan bisa dijelaskan Revenues of each unit can be explained as follows:
sebagai berikut.

Bea Masuk Import Duties

1. Realisasi penerimaan Bea Masuk hingga 31 1. Revenues realization from Import Duties
Desember 2012 sebesar Rp28.280,49 miliar until December 31st, 2012 was in amount
setara dengan 114,32 persen dari target APBN-P of IDR28,280.49 billion, equivalent to 114.32
2012 yang sebesar Rp24.737,9 miliar. percent from the State Budget Review 2012
target, in amount of IDR24,737.9 billion.
2. Target penerimaan Bea Masuk per 31 Desember 2. Revenues target from Import Duties per
2012 tercapai karena beberapa faktor, yakni: December 31st, 2012 was achieved thanks to
some factors, including:
• Bertambahnya tingkat importasi yang • The increasing importation level as shown
ditunjukkan dengan Devisa Impor Bayar by the Pay Import Foreign Exchange of

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
175
sebesar 146,14 miliar dolar AS atau USD146.14 billion or an increase of 3.59
meningkat 3,59 persen dibandingkan percent compared to the same period in
periode yang sama tahun 2011 yang sebesar 2011, which was USD141.06 billion;
141,06 miliar dolar AS;
• Tingginya tarif efektif rata-rata. Hingga • The high average effective tariff. Until
Desember 2012 tarif efektif rata-rata tercatat December 2012, the average effective tariff
sebesar 2,06 persen, naik 1,02 persen dari was 2.06 percent, an increase of 1.02 percent
periode yang sama tahun 2011 yang sebesar compared to the same period in 2011, which
2,04 persen. Angka ini di atas tarif yang was 2.04 percent. The figure is above the
diasumsikan dalam APBN-P pada tahun 2012 tariff assumed in the State Budget Review
sebesar 1,92 persen; 2012, which was 1.92 percent;
• Pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS. • The depreciation of rupiah to the US dollar.
Nilai kurs rata-rata hingga Desember 2012 The average exchange rate until December
sebesar Rp9.396,09 per dolar AS. Rupiah 2012 was IDR9,396.09 per US dollar. Rupiah
melemah sebesar Rp620,88 per dolar AS was depreciated IDR620,88 per US dollar
(7,08 persen) dibanding periode yang sama (7.08 percent) compared to the same period
tahun 2011 (Rp 8.775,21 per dolar AS). Kurs in 2011 (IDR8,775.21 per US dollar). The
rupiah terhadap dolar AS ini berada di atas exchange rate of rupiah towards the US
asumsi makro APBN-P 2012 yang sebesar dollar was above the macro assumption of
Rp9.000 per dolar AS; the State Budget Review 2012, which was
IDR9,000 per US dollar;
• Upaya internal DJBC berupa efektivitas • Internal efforts of the Directorate General of
pemeriksaan melalui akurasi nilai pabean, Customs and Excise included examination
klasifikasi barang, dan hasil audit effectiveness through value accuracy of the
cutoms, goods classification, and audit result.

Cukai Excise

1. Sampai 31 Desember 2012, realisasi penerimaan 1. Until December 31st, 2012, revenues realization
cukai yang bersumber dari Cukai Hasil from Tobacco Excise (HT), Alcohool Ethyl (EA),
Tembakau (CHT), Etil Alkohol (EA), dan Minuman and Alcohool Ethyl-contained Beverages (MMEA)
Mengandung Etil Alkohol (MMEA) sebesar was in amount of IDR95,019,27 billion or 114.11
Rp95.019,27 miliar atau mencapai 114,11 percent from the State Budget Review target,
persen dari target APBN-P 2012 yang sebesar which was in amount of IDR83,266,625 billion;
Rp83.266,62 miliar;

2. Terlampauinya target penerimaan Cukai 2. The Excise revenues target was exceeded
antara lain disebabkan adanya upaya internal because of, among others, an internal effort of
DJBC dalam pemberantasan peredaran rokok the Directorate General of Customs and Excise to
ilegal menjadi legal dan tingginya produksi eradicate the distribution of illegal cigarettes and
bayar Cukai HT hingga Desember 2012. Dari the high pay production of Tobacco Excise until
sisi produksi bayar, pendapatan dari Cukai HT December 2012. From the pay production side,
hingga Desember 2012 dihasilkan dari produksi revenues from Tobacco Excise until December
bayar HT sebesar 338,4 miliar batang. Angka ini 2012 came from Tobacco Excise pay production
naik sebesar 5,88 persen dibandingkan dengan of 338.4 billion cigarettes. The figure increased
produksi bayar HT pada periode yang sama 5.88 percent compared to the Tobacco Excise pay
tahun 2011 yang sebanyak 319,6 miliar batang. production in the same period of 2011, of 319.6
Kenaikan produksi HT tersebut, lebih disebabkan billion cigarettes. The Tobacco Excise production
karena meningkatnya pesanan pita cukai increase was caused by the increasing demand
pada bulan Desember 2011 yang jatuh tempo of excise ribbon in December 2011 of which the
pembayarannya bulan Februari 2012. due date was February 2012.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


176 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Bea Keluar Export Duties

1. Sampai dengan 31 Desember 2012, 1. Until December 31st, 2012, revenues realization
realisasi penerimaan Bea Keluar sebesar from Export Duties was in amount of
Rp21.237,01miliar atau 91,51 persen dari target IDR21,237.01 billion or 91.51 percent from the
APBN-P 2012 yang sebesar Rp23.206,2 miliar; State Budget Review 2012 target, which was in
amount of IDR23,206.2 billion;

2. Rendahnya penerimaan Bea Keluar hingga 31 2. The low revenues from Export Duties until
Desember 2012 dapat dijelaskan sebagai berikut: December 31st, 2012 can be explained as follows:
• Komoditi utama penghasil Bea Keluar adalah • The main commodities producing Export
dari ekspor minyak sawit mentah (crude palm Duties include Crude Palm Oil (CPO) and its
oil-CPO) dan turunannya; derivatives;
• Pada Tahun 2012, harga pasaran internasional • In 2012, there was a decrease in the price of
CPO dan turunannya menurun sehingga CPO and its derivatives, so that Export Duties
tarif Bea Keluar juga turun. Penurunan ini also decreased. The decrease affected to the
berdampak pada rendahnya penerimaan low revenues of Export Duties from CPO
Bea Keluar dari ekspor CPO dan turunannya; export and its derivatives;
• Terjadi pergeseran komoditi ekspor dari • There was a switch of export commodities
CPO ke turunannya terutama refinied from CPO to its derivatives, mainly refined
bleached deodorised palm oil (RBD). Tarif RBD bleached deodorised palm oil (RBD). RBD
lebih rendah sehingga berdampak pada tariff was lower that it affected to the low
rendahnya penerimaan Bea Keluar; revenues of Export Duties;
• Penerimaan Bea Keluar dari ekspor mineral • Revenues from Export Duties from mineral
yang mulai berlaku mulai Juni 2012 belum exports effective as of June 2012, was was
efektif menghasilkan penerimaan. Sampai not effective yet to produce revenues. Until
dengan Desember 2012 penerimaan December 2012, revenues from Export Duties
Bea Keluar dari ekspor mineral logam from mineral exports totalled IDR1,746.41
sebesar Rp1.746,41 miliar. Kontribusi dari billion. Contribution from each Service Office
masing-masing Kantor Pelayanan adalah is as in Table 4.20.
sebagaimana pada Tabel 4.20.

Tabel 4.20. Penerimaan Bea Keluar dari ekspor mineral logam


Table 4.20. Revenues from Export Duties from Metal Mineral Exports

No KPPBC Juni Juli Agt Sept Okt Nov Des Total Rata-rata Bulanan

1 Ketapang 0,00 9.890,40 11.218,26 1.524,08 21.265,76 22.882,03 24.082,49 90.863,02 18.172,60
2 Pontianak 0,00 6.737,18 12.008,14 17.983,33 19.233,63 26.204,42 18.671,72 100.833,43 16.805,57
3 Kotabaru 23.185,85 31.989,54 39,073,44 38.729,60 28.636,94 50.907,78 37.815,45 250.338,61 35.762,66
4 Kendari 8.242,86 28.888,37 43.556,79 47.537,86 66.998,41 153.823,78 135.880,76 484.928,82 69.275,55
5 Pomalaa 5.478,88 7.729,74 2.450,18 7.263,33 29.956,62 43.046,24 60.882,08 156.807,06 22.401,01

6 Poso 7.817,07 13.771,46 12.602,00 24.566,54 20.846,73 33.179,86 13.221,20 126.004,86 18.000,69
7 Luwuk 0,00 0,00 0,00 0,00 12.527,53 10.561,36 9.142,87 32.231,76 10.743,92
8 Ternate 44.521,06 43.069,54 43.736,98 66.328,73 77.787,21 53.310,44 85.549,30 414.303,26 59.186,18
9 Sorong 0,00 0,00 0,00 0,00 6.361,15 3.916,44 3.499,17 13.776,76 4.592,25

10 Dabo Singkep 0,00 0,00 0,00 0,00 2.661,19 8.218,58 11.164,88 22.044,65 7.348,22
11 Rj. Pinang 0,00 0,00 0,00 0,00 3.663,31 23.459,23 27.153,29 54.275,83 18.091,94
Total 89.245,72 142.071,24 164.645,79 203.933,47 289.938,47 429.510,16 427.063,20 1.746,408,05 262.288,65

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
177
Masih rendahnya penerimaan Bea Keluar dari ekspor The low revenues from Export Duties from mineral
mineral disebabkan adanya kendala perizinan exports were caused by a license constraint faced
terhadap eksportir. Eksportir harus mendapat by the exporters. The exporters must obtain a Clear
izin Clear and Clean dari Kementerian ESDM dan and Clean from the Ministry of Energy and Mineral
rekomendasi Eksportir Terdaftar dari Kementerian Resources and a recommendation of registered
Perdagangan. Karena adanya keterlambatan proses Exporter from the Ministry of Trade. Due to the
penerbitan perizinan tersebut, para pengusaha late process of the license issuance, the mining
pertambangan terlambat melakukan ekspor mineral businessmen were late in exporting mineral, so that
sehingga penerimaan Bea Keluar tertunda. revenues from Export Duties were delayed.

Pajak Dalam Rangka Impor Taxes in the framework of Imports

Selain memungut jenis penerimaan Bea Masuk, Bea In addition to collect revenues from Import Duties,
Keluar, dan Cukai, DJBC juga melakukan pemungutan Export Duties, and Excise, the Directorate General of
terhadap jenis penerimaan Pajak Dalam Rangka Customs and Excise also collects revenues from Tax
Impor (PDRI) dan PPN Cukai Hasil Tembakau yang in the framework of Imports (PDRI) and Income Tax
menjadi persepsi Direktorat Jenderal Pajak. of Tobacco Excise, which have been perception of
the Directorate General of Customs and Excise.

Sampai Desember 2012, realisasi penerimaan Until December 2012, revenues realization from the
mencapai Rp166.642,76 miliar (meningkat 18,45 Tax in the framework of Imports (PDRI) was in amount
persen dari tahun 2011 pada periode yang sama). of IDR166,642,76 billion (an increase of 18.45 percent
Sementara, PPN Hasil Tembakau sebesar Rp14.156,6 from the same period in 2011). Meanwhile, the
miliar (naik 10,11 persen dari tahun 2011). Perincian Income Tax of Tobacco Excise totalled IDR14,156,6
realisasi penerimaan PDRI terangkum dalam Tabel billion (an increase of 10.11 percent from 2011).
4.21. Detail of the revenues realization from Tax in the
framework of Imports (PDRI) is summarized in Table
4.21.

Tabel 4.21. Realisasi Penerimaan PDRI


Table 4.21. Realization of Tax in the framework of Imports Revenues (PDRI)

Real s.d Desember GROWTH


No Jenis Penerimaan
2011 2012 Nominal %

1 PPN Impor 107.016,02 126.609,74 19.593,73 18,31%


2 PPnBM Impor 5.374,48 8.422,81 3.048,33 56,72%

3 PPhPs 22 Impor 28.295,19 31.610,21 3.315,02 11,72%

Sub Total PDRI 140.685,69 166.642,76 25.957,08 18,45%

4 PPN HT 12.856,79 14.156,59 1.299,80 10,11%

Total PDRI 153.542,47 180.799,35 27.256,88 17,75%

Sumber Data : Ditjen Perbendaharaan

Pengawasan dan Penindakan Supervision and Action

Pengawasan Supervision

Realisasi atas program kerja yang ditetapkan pada Realization of the work plan stipulated in 2012,
tahun 2012, yaitu : includes:

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


178 Annual Report of Ministry of Finance 2012
a. Melakukan operasi pengawasan penyelundupan a. To conduct supervisory operations of physical
fisik dan pelanggaran administrasi barang impor. smuggling and administrative violations of
imported goods.
Operasi pengawasan kegiatan impor The supervisory operations of import activities
dimaksudkan untuk mencegah terjadinya were aimed at preventing any violation of
pelanggaran ketentuan kepabeanan di bidang the excise provisions in the import sector as
impor yang dilaksanakan di wilayah kerja kantor- implemented in the following offices of work
kantor berikut. Selama tahun 2012, dilakukan areas. In 2012, 72 operations were conducted
72 kali operasi dengan rincian Kanwil DJBC with the detail: North Sumatra Regional Office
Sumatera Utara (2 kali), Kanwil DJBC Riau dan of the Directorate General of Customs and
Sumbar (3 kali), Kanwil DJBC Khusus Kepulauan Excise (twice), Riau and West Sumatra Regional
Riau (2 kali), Kanwil DJBC Sumbagsel (2 kali), Office of the Directorate General of Customs
Kanwil DJBC Jakarta (1 kali), Kanwil DJBC and Excise (three times), Riau Islands Regional
Jateng dan DIY (3 kali), Kanwil DJBC Jatim I (1 Office of the Directorate General of Customs and
kali), Kanwil DJBC Jatim II (2 kali), Kanwil DJBC Excise (twice), Southern Part of Sumatra Regional
Kalimantan Bagian Barat (1 kali), KPU BC Tipe A Office of the Directorate General of Customs
Tanjung Priok (5 kali), KPU BC Tipe B Batam (3 and Excise (twice), Jakarta Regional Office of
kali), KPPBC Belawan (5 kali), KPPBC Teluk Nibung the Directorate General of Customs and Excise
(1 kali), KPPBC Pekanbaru (2 kali), KPPBC Dumai (once), Central Java and Yogyakarta Regional
(2 kali), KPPBC B. Lampung (3 kali), KPPBC Merak Office of the Directorate General of Customs
(4 kali), KPPBC Jakarta (1 kali), KPPBC Marunda (1 and Excise (three times), East Java I Regional
kali), KPPBC Tangerang (1 kali), KPPBC Soekarno Office of the Directorate General of Customs
Hatta (1 kali), KPPBC Bekasi (1 kali), KPPBC and Excise (once), East Java II Regional Office of
Bogor (1 kali), KPPBC Bandung (3 kali), KPPBC the Directorate General of Customs and Excise
Purwakarta (1 kali), KPPBC Cilacap (1 kali), KPPBC (twice), Western Part of Kalimantan Regional
Tanjung Emas (7 kali), KPPBC Kudus (1 kali), Office of the Directorate General of Customs
KPPBC Surakarta (1 kali), KPPBC Perak (6 kali), and Excise (once), Tanjung Priok Customs and
KPPBC Juanda (1 kali), KPPBC Juanda (1 kali), Excise Prime Office Type A (five times), Batam
KPPBC Gresik (1 kali), KPPBC Kediri (1 kali), KPPBC Customs and Excise Prime Office Type B (three
Pasuruan (1 kali). times), Belawan Customs and Excise Office
(five times), Teluk Nibung Customs and Excise
Office (once), Pekanbaru Customs and Excise
Office (twice), Dumai Customs and Excise Office
(twice), Lampung Customs and Excise Office B
(three times), Merak Customs and Excise Office
(four times), Jakarta Customs and Excise Office
(once), Marunda Customs and Excise Office
(once), Tangerang Customs and Excise Office
(once), Tangerang Customs and Excise Office
(once), Soekarno Hatta Customs and Excise
Office (once), Nekasi Customs and Excise Office
(once), Bogor Customs and Excise Office(once),
Bandung Customs and Excise Office (three
times), Purwakarta Customs and Excise Office
(once), Cilacap Customs and Excise Office (once),
Tanjung Emas Customs and Excise Office (seven
times), Kudus Customs and Excise Office (once),
Surakarta Customs and Excise Office (once), Perak
Customs and Excise Office (once), Perak Customs
and Excise Office (six times), Juanda Customs and
Excise Office (once), Juanda Customs and Excise
Office (once), Gresik Customs and Excise Office
(once), Kediri Customs and Excise Office (once),
Pasuruan Customs and Excise Office (once).

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
179
Dari hasil pengawasan ditemukan beberapa From the supervision, some violations were
jenis pelanggaran. Pelanggaran yang ditemukan discovered, including notification mistakes of
antara lain berupa kesalahan pemberitahuan the number and types of goods, prohibited
jumlah dan jenis barang, barang impor yang and limitation-imposed imported goods not
terkena larangan dan pembatasan yang tidak completed with a technical permit from the
dilengkapi izin dari instansi terknis terkait. Ada related institution. There were also violations of
pula pelanggaran tipe, merek, spesifikasi, ukuran, types, brands, specification, sizes, and weight
dan berat yang tidak sesuai pemberitahuan, nilai irrelevant with the notification, improper duties
pabean yang tidak wajar, dan pelanggaran- values, and other violations.
pelanggaran lainnya.

b. Melaksanakan pemberantasan penyalahgunaan b. To eradicate abuse of customs and excise


fasilitas kepabeanan dan cukai. facilities.
Operasi pengawasan terhadap perusahaan Supervisory operations towards facilities-
penerima fasilitas Kawasan Berikat (KB), Gudang receiving companies in Bonded Zones, Bonded
Berikat (GB), dan Kemudahan Impor Tujuan Warehouses, and Imports Facilities for Exports
Ekspor (KITE), dilaksanakan khususnya di wilayah were conducted especially in the supervisory
pengawasan Kantor Wilayah DJBC Jakarta, Kantor areas in Jakarta Regional Office of the Directorate
Wilayah DJBC Banten, Kantor Wilayah DJBC Jawa General of Customs and Excise, Banten Regional
Barat, Kantor Wilayah DJBC Jawa Tengah dan DIY, Office of the Directorate General of Customs and
dan Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur I. Excise,West Java Regional Office of the Directorate
General of Customs and Excise,Central Java and
Yogyakarta Regional Office of the Directorate
General of Customs and Excise,and East Java
I Regional Office of the Directorate General of
Customs and Excise.
Dalam operasi tersebut, masih ditemukan In the operations, violations in the form of
pelanggaran berupa pengeluaran barang tanpa releasing goods without any approval from the
persetujuan pejabat Bea dan Cukai, pengeluaran Customs and Excise official, releasing of goods
barang yang diperuntukkan untuk ekspor for exports but sold in the domestic markets,
namun dijual ke pasar dalam negeri, kesalahan notification mistakes of the types of goods,
pemberitahuan jenis barang, klasifikasi dan classification and tariff of import duties, and
tarif bea masuk, dan kesalahan pemberitahuan notification mistakes of the number of types of
jumlah dan jenis barang, dan lain-lain. Komoditas goods, and so on, were still discovered. Common
umumnya berupa tekstil dan produk tekstil serta commodities included textile and textile
elektronik. products as well as electronic goods.

c. Melaksanakan pengawasan dan penindakan c. To supervise and to bring an action against


penyelundupan di daerah rawan dan perbatasan smugglings in troubled and border areas.
Operasi pengawasan untuk mencegah terjadinya Supervisory operations to prevent any
penyelundupan di daerah rawan dan perbatasan smuggling in troubled and border areas were
dilaksanakan melalui operasi patroli laut di conducted through a sea patrol operations in the
wilayah perairan Kantor Wilayah DJBC Nangroe waters of Nangroe Aceh Darussalam Regional
Aceh Darussalam, Kantor Wilayah DJBC Sumatera Office of the Directorate General of Customs
Utara, Kantor Wilayah DJBC Khusus Kepulauan and Excise, North Sumatra Regional Office of the
Riau, Kantor Wilayah DJBC Riau dan Sumatera Directorate General of Customs and Excise, Riau
Barat, Kantor Wilayah DJBC Sumatera Bagian Islands Regional Office of the Directorate General
Selatan, Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai of Customs and Excise, Riau and West Sumatra
Tipe B Batam. Selain itu, pengawasan serupa Regional Office of the Directorate General of
juga dilakukan di wilayah Kantor Wilayah DJBC Customs and Excise, Southern Part of Sumatra
Jakarta, Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur I, Kantor Regional Office of the Directorate General of
Wilayah DJBC Jawa Timur II, Kantor Wilayah DJBC Customs and Excise, and Batam Prime Office
Bali, NTB, dan NTT, Kantor Wilayah DJBC Sulawesi Type B of the Directorate General of Customs and
dan Kantor Wilayah DJBC Maluku, Papua Excise. In addition, similar supervision operations

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


180 Annual Report of Ministry of Finance 2012
dan Papua Barat. Operasi dilakukan dengan were also conducted in Jakarta Regional Office of
menggunakan kapal patroli Bea dan Cukai. Kapal the Directorate General of Customs and Excise,
patroli berasal dari Pangkalan Sarana Operasi East Java I Regional Office of the Directorate
Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Balai Karimun, General of Customs and Excise, East Java II
dari Pangkalan Sarana Operasi Bea dan Cukai Regional Office of the Directorate General of
Batam, Pangkalan Sarana Operasi Bea dan Cukai Customs and Excise, Bali Regional Office of the
Tanjung Priok, Pangkalan Sarana Operasi Bea dan Directorate General of Customs and Excise, West
Cukai Pantoloan. Semenatara Komandan Patroli Nusa Tenggara Regional Office of the Directorate
berasal dari pegawai Subdirektorat Penindakan General of Customs and Excise, and East Nusa
Direktorat Penindakan. Tenggara Regional Office of the Directorate
General of Customs and Excise, Sulawesi Regional
Office of the Directorate General of Customs and
Excise, and Maluku, Papua and West Regional
Office of the Directorate General of Customs
and Excise. The operations were conducted
using Customs and Excise’ patrol boats, from
the Customs and Excise Type A Operational
Facilities Base at Tanjung Balai Karimun, from the
Customs and Excise Operational Facilities Base
at Batam, the Customs and Excise Operational
Facilities Base at Tanjung Priok, the Customs and
Excise Operational Facilities Base at Pantoloan.
Patrol commanders were employees of the Sub
Directorate of Action of the Directorate of Action.
Patroli laut selama tahun 2012 dilaksanakan 9 Sea patrols in 2012 was conducted nine times in
kali dengan rincian perairan wilayah Sumatera Sumatra area and its surrounding (twice), Malaka
dan sekitarnya (2 kali), perairan Selat Malaka Strait (three times), Riau Islands Regional Office
(3 kali), wilayah kerja Kanwil DJBC Khusus of the Directorate General of Customs and Excise
Kepulauan Riau (1 kali), perairan wilayah tengah (once), the central waters of Indonesia (once),
Indonesia (1 kali), perairan Selat Makassar dan Makassar Strait and Sulawesi Sea (once), Java
Laut Sulawesi (1 kali), perairan Laut Jawa, Laut Sea, Bali Sea, and Flores Sea (once).
Bali dan Laut Flores (1 kali).

Hasil patroli laut menemukan kapal mengangkut The sea patrol discovered boats transporting
barang yang dilarang diimpor atau ekspor tanpa goods prohibited to be imported or exported
pemberitahuan pada manifest dengan komoditi without a manifest with commodities, among
antara lain berupa kayu dan ball press. others logs and ball press.

d. Melaksanakan pemberantasan ekspor fiktif, d. To eradicate fictive exports, prohibited and


ekspor barang larangan pembatasan dan barang limited goods exports, and Export Duties-
yang terkena Bea Keluar. Operasi pengawasan imposed goods. The supervisory operations
ekspor dilakukan dengan sistem targetting were conducted with a targeting system. The
Operasi yang dilaksanakan telah berhasil operations successfully prevented timber and
menegah upaya penyelundupan kayu dan rotan rattan smuggling through Tanjung Priok harbor.
melalui pelabuhan Tanjung Priok. Salah satu One of the preventive processes was conducted
proses penegahan dilakukan dengan melakukan by chasing transportation means already on the
pengejaran terhadap sarana pengangkut yang Java sea territory.
telah berada di perairan Laut Jawa.

e. Memberantas pemalsuan pita cukai, pemakaian e. To eradicate excise stamp forgery, use of false
pita cukai palsu, penggunaan pita cukai yang excise ribbon, use of excise ribbon which was
bukan haknya, penggunaan pita cukai yang not one’s right, use of excise ribbon of which
tidak sesuai peruntukannya, dan hasil tembakau the allocation was not accordingly, and tobacco
tidak dilekati pita cukai (rokok polos) product not attached with excise ribbon.

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
181
Operasi pencegahan pelanggaran di bidang Preventive operations on violations in excise
cukai khususnya hasil tembakau dilaksanakan especially tobacco excise were conducted in the
di wilayah pengawasan Kantor Wilayah DJBC supervisory areas of North Sumatra Regional Office of
Sumatera Utara, Kantor Wilayah DJBC Riau dan the Directorate General of Customs and Excise, Riau
Sumatera Barat, Kantor Wilayah DJBC Sumatera and West Sumatra Regional Office of the Directorate
Bagian Selatan, Kantor Wilayah DJBC Banten, General of Customs and Excise, Southern Part of
Kantor Wilayah DJBC Jakarta. Juga dilakukan di Sumatra Regional Office of the Directorate General
wilayah pengawasan Kantor Wilayah DJBC Jawa of Customs and Excise, Banten Regional Office of
Barat, Kantor Wilayah DJBC Jawa Tengah dan DIY, the Directorate General of Customs and Excise,
Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur I, Kantor Wilayah Jakarta Regional Office of the Directorate General
DJBC Jawa Timur II, Kantor Wilayah DJBC Bali, of Customs and Excise. Supervisory operations
NTB, dan NTT, Kantor Wilayah DJBC Kalimantan were also conducted in West Java Regional Office
Bagian Barat, Kantor Wilayah DJBC Kalimantan of the Directorate General of Customs and Excise,
Bagian Timur, dan Kantor Wilayah DJBC Sulawesi. Central Java and Yogyakarta Regional Office of the
Dari operasi tersebut masih ditemukan adanya Directorate General of Customs and Excise, East
pelanggaran berupa peredaran rokok tanpa Java I Regional Office of the Directorate General of
dilekati pita cukai, peredaran rokok yang dilekati Customs and Excise, East Java II Regional Office of the
pita cukai palsu, peredaran rokok yang dilekati Directorate General of Customs and Excise, Bali, West
pita cukai yang tidak sesuai peruntukannya, Nusa tenggara, and East Nusa Tenggara Regional
peredaran rokok yang dilekati pita cukai Office of the Directorate General of Customs and
bukan haknya (salah personalisasi), produksi Excise, Western Part of Kalimantan Regional Office of
rokok tanpa memiliki izin, produksi rokok di the Directorate General of Customs and Excise, East
luar perizinan yang dimiliki, dan pelanggaran- Part of Kalimantan Regional Office of the Directorate
pelanggaran lainnya. General of Customs and Excise, and Sulawesi Regional
Office of the Directorate General of Customs and
Excise. From the operations, distribution of cigarettes
attached with false excise ribbon, distribution of
cigarettes attached with excise ribbon of which
the allocation was not accordingly, distribution of
cigarettes attached with excise ribbon not one’s
right, production of cigarettes without a license,
production of cigarettes off the possessed licensing,
and other violations, were still discovered.
Perbandingan kegiatan pengawasan yang telah Comparison of supervisory activities conducted in
dilaksanakan pada tahun 2011 dan 2012 dapat 2011 and 2012 can be seen in Table 4.22:
terlihat dari Tabel 4.22.

Tabel 4.22. Data Kegiatan Pengawasan Direktorat Penindakan dan Penyidikan


Table 4.22. Data of Supervisory Activities Directorate of Action and Investigation

Jumlah Pengawasan (Kali)


Number of Supervisions (times)
No Kegiatan Pengawasan Supervisory activities
Tahun 2011 Tahun 2012

1 Operasi Pengawasan Kegiatan Impor Supervisory operations of import activities 9 30


2 Operasi pengawasan terhadap perusahaan penerima fasilitas kepabeanan dan cukai 12 Menjadi satu dengan
Supervisory operations towards companies receiving customs and excise facilities pengawasan impor
Simultaneously with
imports supervision
3 Operasi patroli laut Sea patrol operations 9 9

4 Operasi pengawasan kegiatan ekspor Supervisory operations of export activities 3 7

5 Operasi pengawasan hasil tembakau Supervisory operations of tobacco 15


12
6 Operasi pengawasan MMEA Supervisory operations of MMEA 9
Jumlah Number 54 58
Sumber Data : DJBC Source: Directorate General of Customs and Excise

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


182 Annual Report of Ministry of Finance 2012
f. Kegiatan Pengawasan di bidang Narkotika, f. Supervision activities in Narcotics, Psychotropics,
Psikotropika dan Prekursor (NPP) and Precursors (NPP)
Melaksanakan pengawasan di bidang Narkotika, To supervise Narcotics, Psychotropics, and
Psikotropika dan Prekursor (NPP) dan asistensi Precursors (NPP) and to assist the supervision
kegiatan pengawasan NPP ke KPPBC. activities in Narcotics, Psychotropics, and
Precursors (NPP) to the Customs and Excise
Office.
Pengawasan di bidang NPP selama tahun In 2012, Narcotics, Psychotropics, and Precursor
2012 dilakukan melalui kegiatan patroli dan (NPP) were supervised through patrol and
operasi NPP, serta asistensi terhadap kegiatan operation activities, as well as assistance in the
pengawasan yang dilaksanakan oleh KPU BC supervisory activities by the Customs and Excise
atau KPPBC. Offices.

Tabel 4.23. Kegiatan Pengawasan Sepanjang tahun 2012


Table 4.23. Supervisory Activities in 2012

No Kegiatan Activities KPPBC Custom and Excise Office Jumlah Number

1 Patroli NPP Rutin Bulanan KPU BC Tanjung Priok Tanjung Priok Customs and Excise Office 12
Monthly routine NPP Patrols KPPBC Soekarno Hatta Soekarno Hatta Customs and Excise Office
KPPBC Jakarta Jakarta Customs and Excise Office
KPPBC Bandung Bandung Customs and Excise Office

KPPBC Kantor Pos Pasar Baru Pasar Baru Post Office Customs and Excise Office
2 Patroli NPP Khusus KPPBC Teluk Bayur Teluk Bayur Customs and Excise Office 1

Special NPP Patrols KPPBC Palembang Palembang Customs and Excise Office 1

KPPBC Jayapura Jayapura Customs and Excise Office 1

KPPBC Belawan Belawan Customs and Excise Office 1

KPPBC Nunukan Nunukan Customs and Excise Office 1


KPPBC Tanjung Pinang Tanjung Pinang Customs and Excise Office 1
KPPBC Tanjung Balai Karimun Tanjung Balai Karimun Customs and Excise Office 1

KPPBC Jambi Jambi Customs and Excise Office 1

KPU BC Batam Batam Customs and Excise Office 2


KPPBC Bengkalis Bengkalis Customs and Excise Office 2
KPPBC Dumai Dumai Customs and Excise Office 1

KPPBC Selat Panjang Selat Panjang Customs and Excise Office 1

KPPBC Pekan Baru Pekan Baru Customs and Excise Office 1


KPPBC Ngurah rai Ngurah rai Customs and Excise Office 1
KPPBC Balikpapan Balikpapan Customs and Excise Office 2
KPPBC Tanjung Emas Tanjung Emas Customs and Excise Office 1
Kanwil DJBC Khusus Kepulauan Riau Riau Islands Regional Office of the Directorate eneral of Customs and Excise Office 2

KPPBC Tanjung Perak Tanjung Perak Customs and Excise Office 1

KPPBC Lampung Lampung Customs and Excise Office 1

KPPBC Merak Merak Customs and Excise Office 1


KPPBC Teluk Nibung Teluk Nibung Customs and Excise Office 1

Sumber Data : DJBC Source: Directorate General of Customs and Excise

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
183
Penindakan Actions

a. Melakukan kegiatan penindakan atas a. To to bring an action against violations in


pelanggaran ketentuan di bidang kepabeanan customs and excise.
dan cukai

Selama periode Januari hingga Desember 2012, From January to December 2012, the
Subdirektorat Penindakan telah melakukan 49 Subdirectorate of Enforcement brought an action
kali penindakan, dengan rincian penindakan di against 49 cases, including 30 cases in imports, 7
bidang impor (30 kasus), penindakan di bidang cases in exports, and 12 cases in excise.
ekspor (7 kasus), penindakan di bidang cukai (12
kasus).

Penindakan tersebut menghasilkan temuan The action found 27 SBP, 7 SBP of which the result
sebanyak 27 Surat Bukti Penindakan (SBP), hasil was according to the notification, and 15 SBP still
sesuai dengan pemberitahuan sebanyak tujuh in assessment.
SBP dan masih dalam proses penelitian sebanyak
15 SBP.

Saat ini sedang dikembangkan sistem aplikasi A data action application system is currently
data penindakan untuk mengisi data penindakan being developed to fill in action data in detail
secara detail dan tindak lanjut temuan yang and the findings follow up based on a website,
berbasis web base yakni http://app.penindakan. http://app.action.net as a facility to recapitulate
net sebagai sarana untuk melakukan rekapitulasi the action data. The application will complete
data penindakan. Aplikasi ini akan melengkapi the S-275/BC/2010 format and the content in
format S-275/BC/2010 dan konten yang ada SIDIA. It is a friendly user application, which can
di Sistem Informasi Direktorat P2 (SiDiA). be accessed through the internet at any time, so
Penggunaan aplikasi bersifat user friendly that the action data can be presented update.
dan dapat diakses dengan internet kapan saja The data that have been partly received from
sehingga data penindakan dapat disajikan each Regional Office until August 2012 by email
secara update. Sebagian data yang telah diterima (action@gmail.com) have been put into entry
dari masing-masing Kanwil/KPU sampai dengan manually.
bulan Agustus 2012 via email (penindakan@
gmail.com) telah dilakukan entry data secara
manual.

b. Sebagai Liason Unit dalam pelaksanaan b. As a Liaison Unit in annual coordination patrols
Patroli Koordinasi (Patkor Kastima) yang (Patkor Kastima).
diselenggarakan setiap tahun.

1. PATKOR KASTIMA – 18A/2012 yang 1. PATKOR KASTIMA – 18A/2012 was held on


dilaksanakan pada tanggal 11 September September 11th – 22nd, 2012 and officially
sampai dengan 22 September yang diawali opened with an opening ceremony on
dengan upacara pembukaan Patkor Kastima September 11th, 2012 at Kompleks Kastam
18 / 2012 pada tanggal 11 September 2012 Seberang Jaya, Pulau Pinang, Malaysia.
di Kompleks Kastam Seberang Jaya, Pulau Parties involved from each country included:
Pinang, Malaysia. Unsur-unsur yang terlibat
dari masing-masing negara adalah sebagai
berikut:

. DJBC yaitu Kapal Patroli Cepat FPB28 BC– . From Indonesia’s Directorate General of
10002, Kapal Patroli Cepat FPB 28 BC – Customs and Excise: FPB28 BC–10002
800, Kapal Patroli Cepat FPB28 BC – 8006, patrol speed boat, FPB 28 BC – 800 patrol

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


184 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Kapal Patroli VSV BC – 1601, Kapal Patroli speed boat, FPB28 BC – 8006 patrol
Speed Boat BC – 15015 dan Kapal Patroli speed boat, BC – 1601 patrol speed
Speed Boat BC – 15031; boat,–15015 patrol speed boat and BC –
15031 patrol speed boat;

. Jabatan Kastam Diraja Malaysia yaitu . From Malaysia’s Customs and Excise
Perantas KB – 51, Perantas KB – 82, office: Perantas KB – 51, Perantas KB –
Perantas KB – 85, Perantas KB – 86, 82, Perantas KB – 85, Perantas KB – 86,
Perantas KB – 90, Penumpas P – 052 dan Perantas KB – 90, Penumpas P – 052 and
Penumpas P – 055; Penumpas P – 055;

2. PATKOR KASTIMA - Patkor Kastima 18B/2012, 2. PATKOR KASTIMA - Patkor Kastima 18B/2012
diselenggarakan pada tanggal 15 – 25 was held on November 15th – 25th, 2012 and
November 2012, dan diakhiri dengan officially closed with a closing ceremony of
upacara penutupan Patkor Kastima 18 / 2012 Patkor Kastima 18 / 2012 on November 27th,
pada tanggal 27 November 2012 di Kantor 2012, at the North Sumatra Regional Office
Wilayah DJBC Sumatera Utara dengan unsur- of the Directorate General of Customs and
unsur yang terlibat dari masing-masing Excise. Parties involved from each country
negara adalah sebagai berikut: included:

. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai . From Indonesia’s Directorate General of


Republik Indonesia yaitu Kapal Patroli Customs and Excise: FPB28 BC–10002
Cepat FPB28 BC–10002, Kapal Patroli patrol speed boat, FPB 28 BC – 8001
Cepat FPB 28 BC – 8001, Kapal Patroli patrol speed boat, FPB28 BC – 8006
Cepat FPB28 BC – 8006, Kapal Patroli VSV patrol speed boat, VSV BC – 1608 patrol
BC – 1608, Kapal Patroli Speed Boat BC – boat, BC – 15015 patrol speed boat , and
15015 dan Kapal Patroli Speed Boat BC BC – 15031 patrol speed boat;
– 15031;
. Jabatan Kastam Diraja Malaysia yaitu . From Malaysia’s Customs and Excise
Perantas KB – 51, Perantas KB – 82, office: Perantas KB – 51, Perantas KB – 82,
Perantas KB – 83, Perantas KB – 85 dan Perantas KB – 83, Perantas KB – 85 and
Perantas KB – 8. Perantas KB – 8;

Operasi di wilayah Indonesia mulai dari Operations in the Indonesian territory started
Perairan Kuala Langsa (Aceh) ke Perairan from Kuala Angsa waters (Aceh) to Pulau Karimun
Pulau Karimun Anak (Kepulauan Riau). Anak waters (Riau Islands), while operations in
Sedangkan operasi di wilayah Malaysia mulai the Malaysian territory started from Pulau Pinang
dari Perairan Pulau Pinang ke Perairan Sungai waters to Sungai Pulai waters, all divided into five
Pulai yang semuanya terbagi dalam 5 sektor. sectors.

c. Melakukan pemantauan dan pembaruan data c. To monitor and update enforcement data from
penindakan dari seluruh Kantor Wilayah DJBC, all Regional Offices of the Directorate General of
Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai, dan Customs and Excise, Prime Offices of Customs
Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan and Excise, and Supervision and Service Offices
Cukai of Customs and Excise.

Jumlah penindakan pelanggaran kepabeanan The number of action towards customs and
dan cukai di seluruh Indonesia dari bulan Januari excise violations in Indonesia from January to
hingga Desember 2012 sebanyak 3.669 kasus December 2012 was 3,669, of which 2,975 or
dan menghasilkan temuan sebanyak sebanyak 81.08 percent resulted in findings.
2.975 kasus, sehingga tingkat capaian IKU
sebesar 81,08 persen.

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
185
Tabel 4.24. Data Temuan Pelanggaran Kepabeanan dan Cukai
Table 4.24. Data of Customs and Excise Violation Findings

Jumlah Tindak Lanjut Temuan Hasil Penindakan

Rekomendasi Tdk dilayani


Rekomendasi Audit
Penatapan Sebagai

Pembekuan NPPBKC

Pencabutan NPPBKC
ke Instansi Terkait
Saksi Administrasi

Pemusnahan BKC
Pemesanan Pita Cukai
Periode Tahun Jumlah Memaksimalkan

BDN atau BMN

Pembelokiran

Pelimpahan
2012 Penindakan Temuan
Penyidikan

Reekspor
Jan 339 84 4 196 - - 6 - 16 - - 3
Feb 445 334 78 18 186 - - 24 - 25 1 1 1
Mar 402 369 86 7 221 - - 11 - 37 - - 7
Apr 356 295 65 13 186 - 1 6 - 21 - 1 2
Mei 388 328 82 5 205 - - 7 - 25 - 2 2
Jun 334 275 75 3 164 - 1 5 - 21 - 2 4

Jul 333 300 71 2 182 - 3 10 - 20 3 3 6


Ags 232 207 42 2 141 - - 1 - 15 4 - 2
Sep 261 209 37 6 135 - - 8 - 21 - - 2

Okt 367 202 49 7 112 - 1 4 - 28 - 1 -


Nop 212 147 40 2 84 - 1 3 - 14 - - 3
Des - - - - - - - - - - - - -
Jumlah 3669 2975 709 69 1812 0 0 85 0 243 8 10 32
Capaian 81.08% Periode: 1 Januari s.d 1 Desember 2012
Sumber : DJBC Source: Directorate General of Customs and Excise Unit Kerja : DJBC

d. Kegiatan Koordinasi Lintas Sektoral; d. Inter-sectoral coordination activities;

1. Selama periode tahun 2012, DJBC 1. During the period of 2012, the Directorate
berpartisipasi dalam patroli bersama yang General of Customs and Excise participated
dilaksanakan di bawah koordinasi Badan in two joint patrols under the coordination
Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla), of the Sea Security Coordinating Board, that
yakni Operasi Gurita, sebanyak dua kali, was Gurita Operation, in July-August 2012
periode Juli-Agustus 2012 dan Oktober- and October-November 2012.
November 2012.

2. Ditandatangani kesepakatan bersama antara 2. A joint agreement was signed between the
Kementerian Keuangan (DJBC) dengan Ministry of Finance (Directorate General of
Bakorkamla Nomor: KEP-131/BC/2012 dan Customs and Excise) and the Sea Security
Nomor: MoU-008/Kalakhar/Bakorkamla/ Coordinating Board Number: KEP-131/
VII/2012 tentang Peningkatan Kerja Sama BC/2012 and Number: MoU-008/Kalakhar/
Pemberantasan Penyelundupan di Laut. Bakorkamla/ VII/2012 on Cooperation
Increase in Smugglings Eradication at Sea.

Kesepakatan bersama tersebut dimaksudkan The joint agreement was aimed at increasing
untuk meningkatkan kerja sama dalam cooperation in eradicating smugglings at
rangka pemberantasan penyelundupan sea according to the tasks and functions
di laut sesuai tugas dan fungsi DJBC- of the Directorate General of Customs and
Bakorkamla. Ruang lingkup kerja sama Excise-Sea Security Coordinating Board. The
di bidang sosialisasi, bimbingan teknis, cooperation included socialization, technical
operasional dan pertukaran informasi. and operational training, and exchange of
information.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


186 Annual Report of Ministry of Finance 2012
3. Partisipasi dalam kegiatan kunjungan 3. Participation in a visit by a delegation of the
delegasi pimpinan MPR ke Pulau Sebatik People’s Consultative Assembly to Sebatik
dengan mengerahkan kapal patroli BC 9005 island by mobilizing BC 9005 patrol boat
dari Pangkalan Sarana Operasi Pantoloan. from Pantoloan operational facility base.

4. Partisipasi dalam kegiatan Parade Nusantara 4. Participation in the Parade Nusantara by the
oleh kementerian dengan mengerahkan Ministry by mobilizing BC 8004 patrol boat
kapal patroli BC 8004 dari Pangkalan Sarana from Tanjung Priok operational facility base.
Operasi Tanjung Priok.

5. Partisipasi dan koordinasi dengan Badan 5. Participation and coordination with the
Pengawas Obat dan Makanan (POM) terkait Medicine and Food Supervisory Board in
pengawasan terhadap MMEA Ilegal dengan relation to the supervision of illegal MMEA by
jalan pemberian sosialisasi terhadap importir socializing to MMEA importers on granting
MMEA mengenai pemberian izin ML dan SKI. ML and SKI license.

e. Melakukan penindakan di bidang NPP di seluruh e. To bring an action against all 131 Narcotics,
Indonesia sebanyak 131 kasus yang tersebar pada Psychotropics, and Precursors (NPP) cases,
28 Kantor, dengan total barang bukti seberat spreading in 28 offices, with a total evidence
546.542,25 gram senilai Rp515.014.837.800. wieghing 546,542.25 grams in amount of
IDR515,014,837,800.

Perincian penindakan NPP adalah KPP BC TMC Detail of Narcotics, Psychotropics, and Precursors
Soekarno Hatta (39 kasus), KPU Batam (14 kasus), (NPP) actions included Soekarno Hatta Customs
KPPBC Medan (11 kasus), KPPBC Ngurah Rai (9 kasus), and Excise Office (39 cases), Batam Prime Customs
KPPBC Tanjung Balai Karimun (6 kasus), KPPBC Teluk and Excise Office (14 cases), Medan Customs and
Nibung (5 kasus), KPPBC Banda Aceh (5 kasus), KPPBC Excise Office (11 cases), Ngurah Rai Customs and
Jayapura (4 kasus), KPPBC Juanda (3 kasus), KPPBC Excise Office (nine cases), Tanjung Balai Karimun
Bandung (3 kasus), KPPBC Dumai (3 kasus), KPPBC Customs and Excise Office (six cases), Teluk Nibung
Yogyakarta (3 kasus), KPPBC Entikong (3 kasus), Customs and Excise Office (five cases), Banda Aceh
KPPBC Tanjung Pinang (3 kasus). Dua kasus masing- Customs and Excise Office (five cases), Jayapura
masing ditemukan di KPPBC Kantor Pos Pasar Baru, Customs and Excise Office (four cases), Juanda
KPPBC Mataram, KPPBC Balikpapan, KPPBC Jakarta, Customs and Excise Office (three cases), Bandung
KPPBC Manado, KPPBC Atapupu. Sementara 1 kasus Customs and Excise Office (three cases), Dumai
masing-masing ditemukan di KPPBC Surakarta, Customs and Excise Office (three cases), Yogyakarta
KPPBC Bengkalis, KPPBC Selat Panjang, KPU BC Customs and Excise Office (three cases), Entikong
Tanjung Priok, KPPBC Pekanbaru, KPPBC Makassar, Customs and Excise Office (three cases), Tanjung
KPPBC Teluk Bayur, KPP BC MP Tanjung Emas. Pinang Customs and Excise Office (three cases). Two
cases were respectively found at Pasar Baru Post
Office Customs and Excise Office, Mataram Customs
and Excise Office, Balikpapan Customs and Excise
Office, Jakarta Customs and Excise Office, Manado
Customs and Excise Office, Atapupu Customs and
Excise Office. While one case was respectively found
at Surakarta Customs and Excise Office, Bengkalis
Customs and Excise Office, Selat Panjang Customs
and Excise Office, Tanjung Priok Prime Customs
and Excise Office, Pekanbaru Customs and Excise
Office, Makassar Customs and Excise Office, Teluk
Bayur Customs and Excise MP Office, Tanjung Emas
Customs and Excise Office.

Realisasi asistensi pengawasan yang menghasilkan Realization of supervision assistance resulting in


penindakan NPP Subdirektorat narkotika selama actions in Narcotics, Psychtropics, and Precursors

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
187
tahun 2012 meliputi 22 kasus dengan rincian: KPPBC (NPP) at the Narcotics Subdirectorate in 2012 was
TMP Soekarno Hatta (10 kasus), KPPBC Pasar Baru 22 cases, including: TMP Soekarno Hatta Customs
(2 kasus), KPPBC Jakarta (2 kasus) dan selebihnya and Excise Office (10 cases), Pasar Baru Customs
masing-masing 1 kasus yakni di KPU Tanjung Priok, and Excise Office (two cases), Jakarta Customs and
KPU Batam, KPPBC TMP Yogyakarta, KPPBC TMP Excise Office (two cases), and the rest respectively
Atapupu, KPPBC Ngurah Rai, KPPBC Teluk Nibung, one case at Tanjung Priok Prime Office, Batam Prime
KPPBC Balikpapan, KPPBC Medan. Office, TMP Yogyakarta Customs and Excise Office,
TMP Atapupu Customs and Excise Office, Ngurah Rai
Customs and Excise Office, Teluk Nibung Customs
and Excise Office, Balikpapan Customs and Excise
Office, Medan Customs and Excise Office.

Tabel 4.25. Penindakan NPP DJBC Tahun 2012 Berdasarkan Jenis


Table 4.25. Enforcement of Narcotics, Psychotropics, and Precursors (NPP) at the Directorate General of Customs and Excise 2012 Based on the Type

No JENIS TYPE JUMLAH (Gram) AMOUNT (gram)

1 Methamphetmanie 96.383,09
2 Ketamine 10.471,00
3 Heroin 33.882,90
4 Extacy 383.127,05
5 Mariyuana 3.432,48

6 Erimin Five/Happy Five 211,25


7 Cocain 6.847,50
8 Hashish 8.148,00
9 Ephedrine 2,98
10 Levometrofan 536,00
11 Levometrofan 3.500,00
Jumlah Total 546.542,25
Sumber Data : DJBC Source: Directorate General of Customs and Excise

1. Kegiatan Penyidikan 1. Investigation activities


Kegiatan penyidikan dalam tahun 2012 mencapai Investigation activities in 2012 totalled 97 cases,
97 kasus, sebanyak 82 kasus (84,54 persen) di out of which 82 cases (84.54 percent) have been
antaranya telah diserahkan ke kejaksaan dengan submitted to the attorney office with P 21 status.
status P-21. Pencapaian ini melebihi target yang The achievement exceeded the target, which
ditetapkan yaitu sebesar 50 persen. had been previously set, 50 percent.

2. Kegiatan Intelijen 2. Intelligence activities


Terkait tugas Direktorat Penindakan dan In relation to tasks of the Directorate of
Penyidikan di bidang Intelijen sebagai langkah Enforcement and Investigation in Intelligence,
pelaksanaan program pengawasan sesuai the supervisory programs according to the work
rencana kerja yang ditetapkan untuk tahun 2012 plan in 2012 included:
adalah :

a. Meningkatkan kepatuhan di bidang a. To increase compliance in the customs and


kepabeanan dan cukai; excise sector;
Selama periode tahun 2012 telah diberikan In 2012, licenses in the customs and excise
perizinan di bidang kepabeanan dan cukai sectors were granted by the Directorate

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


188 Annual Report of Ministry of Finance 2012
oleh DJBC. Selain itu juga dilakukan kegiatan General of Customs and Excise. In addition,
pemblokiran terhadap perusahaan yang companies that violated provisions in the
melakukan pelanggaran sesuai dengan yang Decree KEP-14/BC/2001 had been blocked.
diatur dalam KEP-14/BC/2001. Perincian The number of licenses and blockings in
jumlah perizinan dan pemblokiran untuk 2012 is as follows in Table 4.26:
periode tahun 2012 terdapat pada Tabel 4.26:

Tabel 4.26. Jumlah perizinan dan pemblokiran selama tahun 2012


Table 4.26. Number of Licenses and Blockings in 2012

Perusahaan Company Jumlah Seluruh Perizinan Jumlah Pemblokiran Persentase


Total number of licenses Total Number of blockings Percentage
Importir & PPJK Importers & PPJK 32993 147 0,45%
Total 32993 147 0,45%
Sumber Data : DJBC Source: Directorate General of Customs and Excise

b. Meningkatkan efektivitas kegiatan intelijen b. To increase effectiveness of intelligence


di bidang kepabeanan melalui penerbitan activities in the excise sector through the
Nota Hasil Intelijen (NHI) yang akurat; issuance of accurate Notes of Intelligence
Berdasarkan data dan informasi yang Results (LHI).
diperoleh selama tahun 2012, telah Based on the data and information obtained
dilakukan proses klasifikasi dan analisa yang in 2012, classification and analysis had been
dituangkan dalam Lembar Kerja Analisa processed as contained in the Work Sheet
Informasi (LKAI) dan ditindaklanjuti baik of Information Analysis (LKAI) which was
dengan atensi maupun penerbitan NHI yang followed up with both attention as well as
dikirimkan ke KPPBC; the issuance of Notes of Intelligence Results
sent to Customs and Excise Offices.

NHI yang telah diterbitkan selama tahun The number of Notes of Intelligence Results
2012 mencapai 92, dan semuanya telah issued in 2012 was 92, out of which all have
ditindaklanjuti. Jumlah NHI yang akurat been followed up. The accurate number of
adalah 61, sehingga persentase akurasi Notes of Intelligence Results was 61, so that
adalah 66,30 persen. the accurate percentage was 66.30 percent.

c. Melaksanakan bimbingan teknis dalam c. To provide a technical guidance to increase


rangka peningkatan fungsi intelijen; the intelligence function.
Dalam rangka meningkatkan fungsi intelijen To increase the intelligence function, a
telah dilakukan bimbingan teknis mengenai technical guidance on SIDIA and PAU
aplikasi SiDiA dan Passenger Analyzing Unit application was provided in each Regional
(PAU) pada setiap kantor wilayah. Office.

d. Melaksanakan evaluasi yang efektif terhadap d. To make an effective evaluation on the


kegiatan intelijen di bidang kepabeanan dan intelligence activities in the customs and
cukai; excise sector.

Dalam rangka efektivitas pengawasan In the framework of supervision effectiveness


yang berkaitan dengan pengamanan hak- in relation to security of the state’s rigts and
hak negara dan dipenuhinya ketentuan the fulfillness of excise provisions on the
kepabeanan tentang ekspor kelapa sawit, exports of Crude Palm Oil and its derivatives,
CPO dan produk turunannya maka Subdit the Sub Directorate of Intelligence has
Intelijen telah menyusun Kajian Evaluasi prepared an Assessment of Supervision
Pengawasan Ekspor Kelapa Sawit. Evaluation on Crude Palm Oil Exports.

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
189
e. Pemanfaatan Sistem Teknologi Informasi dan e. To take advantage of an integrated
Komunikasi yang terintegrasi secara optimal; Information and Communication Technology
optimally.

a) Menerapkan dan mengembangkan PAU a) To develop and to apply a Passenger


untuk mengawasi penumpang pesawat Analyzing Unit (PAU) to monitor airline
udara. PAU ini telah terinstalasi di 8 Kantor passengers. The Passenger Analyzing
Wilayah Bea dan Cukai (KWBC) dan 16 Unit (PAU) has been installed in eight
Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Regional Offices of Customs and Excise
dan Cukai (KPPBC). Beberapa kasus and 16 Customs and Excise Offices. Some
penangkapan penyelundupan narkotika narcotics smuggling cases at airports
di bandara adalah merupakan hasil were an analysis result using the PAU.
analisa dengan menggunakan PAU;
b) Dalam rangka optimalisasi kegiatan b) To optimize supervision, a Directorate
pengawasan juga telah dibuat aplikasi Information System P2 (SIDIA) has also
SiDiA yang telah terpasang di 16 KWBC, been installed in 16 Regional Offices of
2 Kantor Pelayanan Utama (KPU) dan 18 Customs and Excise, two Prime Offices of
KPPBC; Customs and Excise, and 18 Customs and
Excise Offices.
c) Untuk memudahkan pengawasan di c) To facilitate supervision in customs and
bidang kepabeanan dan cukai saat ini excise, a design of supervision procedure
juga sedang dikembangkan desain application is currently being developed.
aplikasi tata laksana pengawasan.

f. Penerapan manajemen risiko yang efektif f. To apply an effective risk management in


dalam pelayanan dan pengawasan Customs and Excise service and supervision.
kepabeanan dan cukai; Customs and Excise risk management has
Penerapan dan pengembangan manajemen been developed and applied to increase the
risiko kepabeanan dan cukai dilakukan effetiveness and efficiency of intelligence
untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi activities in supervision. It was implemented
kegiatan intelijen dalam rangka pengawasan. by profiling importers, commodities,
Pelaksanaannya dengan melakukan profiling companies possessing NPPBKC, companies
terhadap importir, komoditi, perusahaan receiving facilities related to customs and
pemilik Nomor Pokok Pengusaha Barang excise activities.
Kena Cukai (NPPBKC), perusahaan penerima
fasilitas yang berkaitan dengan kegiatan
kepabeanan dan cukai.

g. Profil Importir g. Importers profile


Profiling perusahaan yang ter-update selama The number of companies profiled in 2012
tahun 2012 mencapai 2.925 perusahaan atau was 2,925 or an average of 243.75 companies
rata-rata 243,75 per bulan. per month.

h. Profil Pengusaha Hasil Tembakau (Pemilik h. Tobacco Produce Companies Profile (owner
NPPBKC HT) of NPPBKC HT)
Database Profil Pengusaha Hasil Tembakau Database of Tobacco Produce companies
saat ini sudah ada pada Sistem Aplikasi profile is at present in the Excise Application
Cukai (SAC). Telah diselesaikan proses legal System (SAC). The formal legal process
formal untuk dasar hukumnya dengan has been completed for the legal basis
diterbitkannya Surat Rahasia Direktur of the issuance of a Confidential Letter
Jenderal Bea dan Cukai Nomor SR-27/ of the Director General of Customs and
BC/2010 yang ditujukan kepada KPPBC Excise Number SR-27/BC/2010 addressed
terkait untuk dilaksanakan dan laporan to related Customs and Excise Offices for

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


190 Annual Report of Ministry of Finance 2012
pelaksanaannya akan menjadi input dalam implementation of which the report will be
proses pembentukan dan pengembangan an input in the setting up and development
Database Profil Pengusaha Hasil Tembakau. process of the database of Tobacco Produce
Companies Profile.

i. Menerapkan dan mengembangkan sistem i. To develop and apply a Passenger Analyzing


PAU untuk mengawasi penumpang pesawat Unit (PAU) system to monitor airline
udara; passengers.
Sistem PAU ini sangat bermanfaat untuk The PAU system is very advantageous to
efektivitas dan efisiensi pengawasan/ effectively and efficiently monitor airline
targeting penumpang pesawat udara passengers and their baggages having a
beserta barang bawaannya yang memiliki high risk as Narcotics, Psychotropics, and
tingkat risiko tinggi sebagai kurir NPP. Pada Percursors (NPP) courrier. At the beginning
awalnya (tahun 2010) sistem PAU diterapkan (2010), the PAU system was applied in five
di lima bandar udara internasional di international airports in Indonesia: Soekarno
Indonesia yaitu Bandara Soekarno Hatta Hatta Jakarta, Ngurah Rai Denpasar, Juanda
Jakarta, Ngurah Rai Denpasar, Juanda Surabaya, Polonia Medan, and Husein
Surabaya, Polonia Medan dan Husein Sastranegara Bandung. In mid 2011, the
Sastranegara Bandung. Pada pertengahan PAU system was socialized in a number of
tahun 2011 telah dilakukan sosialisasi sistem Regional Offices of Customs and Excise/Prime
PAU ke beberapa KWBC;KPU;KPPBC yang Customs Offices/Customs and Excise Offices
membawahi bandara-bandara internasional supervising international airports, including
seperti : KWBC Sumatera Bagian Selatan. southern part of Sumatra Regional Office of
KWBC Banten; KWBC Bali; NTT dan NTB; Customs and Excise, Banten Regional Office
KWBC Sulawesi; KWBC Riau dan Sumatera of Customs and Excise, Bali Regional Office
Barat; KWBC Kalimantan Bagian Timur; of Customs and Excise, East Nusa Tenggara
KWBC Jawa Timur I; KPU Batam dan KPPBC and West Nusa Tenggara Regional Office
Yogyakarta. Beberapa kasus penegahan NPP of Customs and Excise, Sulawesi Regional
di bandara adalah merupakan hasil analisa Office of Customs and Excise, Riau and
dengan menggunakan sistem PAU. West Sumatra Regional Office of Customs
and Excise, Eastern part of Kalimantan
Regional Office of Customs and Excise, East
Java Regional Office of Customs and Excise,
Batam Prime Customs Office, and Yogyakarta
Customs and Excise Office. Some Narcotics,
Psychotropics, and Precursors (NPP) cases
at airports had been prevented thanks to
analysis using the PAU system.

Pengembangan PAU dilakukan dengan penambahan The PAU system has been developed by adding the
konten, penambahan jumlah maskapai penerbangan content, the number of airlines connected with the
yang terhubung dengan sistem PAU serta perluasan PAU system, and expanding the use of PAU system in
penggunaan PAU di bandara-bandara internasional other international airports.
lainnya.

PENGELOLAAN UTANG DEBT MANAGEMENT

Pemerintah mengambil kebijakan defisit pada The government took a deficit policy in 2012 to
tahun 2012 untuk mendorong tercapainya achieve high economic growth. To compensate the
pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Untuk deficit, financing through debt remained the most
menutup defisit tersebut, pembiayaan melalui dominant method considering the increasingly
utang masih paling dominan mengingat semakin limited financing through non debt. Apart from

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
191
terbatasnya pembiayaan melalui nonutang. Selain being an instrument to compensate the deficit,
sebagai instrumen untuk menutup defisit, utang debt was also used to finance expenditures such as
juga digunakan untuk membiayai pengeluaran the government investment, guarantee, and other
pembiayaan seperti investasi pemerintah, financing expenditures.
penjaminan, dan pengeluaran pembiayaan lainnya.

Peningkatan jumlah outstanding utang ini perlu The increase of outstanding debt should be
diwaspadai mengingat beberapa negara Eropa paid attention as some European countries are
mengalami krisis akibat outstanding utang yang experiencing a crisis due to high outstanding
tinggi dan kurang hati - hati dalam pengelolaan debt and non-prudent debt management. As an
utang. Sebagai dampak dari krisis tersebut, impact of the crisis, some countries apply a fiscal
beberapa negara menerapkan kebijakan konsolidasi consolidation policy through budget tightening to
fiskal melalui pengetatan anggaran untuk menekan press the deficit in the framework of controlling their
defisit dalam rangka mengendalikan utangnya. debt. To anticipate the impact of the financial crisis
Untuk mengantisipasi pengaruh krisis keuangan and to learn from the experience of the countries
dan belajar dari pengalaman negara-negara experiencing the crisis in Europe, the Indonesian
yang terkena krisis di Eropa tersebut, Pemerintah government made a more prudent policy on the
Indonesia mengambil kebijakan pembiayaan APBN State Budget’s financing. This is in line with the
secara lebih berhati-hati. Hal ini sejalan dengan President’s direction that the Debt to GDP ratio
arahan presiden agar jumlah utang berada dalam should be at a safe level, that is maximum 22 percent
tingkat yang aman dengan mengupayakan rasio in 2014. One of the efforts to implement the policy
utang terhadap PDB (debt to GDP ratio) pada tahun is to prepare a medium-term State Budget to a
2014 maksimal 22 persen. Salah satu implementasi balanced budget.
dari kebijakan tersebut adalah menyusun arah
kebijakan APBN dalam jangka menengah menuju
anggaran berimbang.

Dalam hal pemerintah menetapkan kebijakan APBN Whether it is balanced or surplus budget, debt
berimbang maupun surplus, pengadaan utang tetap remains to be needed in such conditions as:
diperlukan pada kondisi antara lain sebagai berikut:

(1) Membiayai utang yang jatuh tempo; (1) To finance maturity of debt;
(2) Menciptakan benchmark risk free asset di pasar (2) (To create a benchmark of risk-free assets in the
keuangan untuk menjaga stabilitas pasar money market to maintain stability in the money
keuangan; market;
(3) Pengelolaan portofolio utang pemerintah; (3) To manage the government’s debt portfolio;
(4) Membiayai investasi pemerintah; serta (4) To finance the government’s investment; and
(5) Melanjutkan proyek-proyek tahun sebelumnya (5) To continue projects of the previous years of
yang masih berlangsung masa penarikannya. which the withdrawal period still remains.

Kebijakan Pembiayaan utang Debt Financing Policy

Dalam 10 tahun terakhir, pemerintah mengambil During the last 10 years, the government has been
kebijakan defisit sehingga konsekuensinya adalah applying a deficit policy with a consequence of
jumlah utang yang semakin meningkat. Kondisi continuous increasing debt. Such a condition
ini memerlukan pengelolaan utang yang prudent, requires a prudent, effective, efficient, and trusted
efektif, efisien, dan terpercaya. Untuk mendukung debt management. To support the policy, a
hal tersebut, telah disusun strategi pengelolaan strategy of mid-term debt management has been
utang jangka menengah sebagai pedoman bagi unit prepared as a guidance for the debt management
pengelola utang. Strategi tersebut menitikberatkan unit. The strategy is focused on efforts to increase
pada upaya untuk meningkatkan efisiensi debt management efficiency by still adhering to
pengelolaan utang dengan tetap memperhatikan measurable debt risks. The goal is implemented
risiko utang secara terukur. Tujuan tersebut in the policy of the Government Securities (SBN)

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


192 Annual Report of Ministry of Finance 2012
diimplementasikan dalam penyusunan kebijakan and loan policy. The strategy of the Government
pengelolaan SBN dan pinjaman. Strategi pengelolaan Securities (SBN) management is focused on the
SBN dititikberatkan pada peningkatan likuiditas dan increase of liquidities and the domestic market
daya serap pasar domestik melalui pengembangan absorption through the development of primary
pasar perdana dan sekunder, serta memperkuat basis and secondary market, as well as strengthening the
investor. Adapun strategi pengelolaan pinjaman investors’ basis. The strategy of loan management is
dititikberatkan pada penarikan dana secara tepat focused on a timely fund withdrawal and an increase
waktu serta peningkatan kualitas proses bisnis, data, of the business, data, and information process
dan informasi. quality.

Strategi jangka menengah menjadi acuan bagi The mid-term strategy becomes a reference for the
penyusunan strategi dan kebijakan pembiayaan preparation of annual debt financing strategy and
utang tahunan dengan mempertimbangkan kondisi policy, by considering the latest financial market
pasar keuangan terkini, besaran pembiayaan condition, the non-debt financing amount, and
nonutang, dan pengelolaan pasar sekunder SBN. the Government’s Securities secondary market
Pada tahun 2012, kebijakan pengelolaan utang management. In 2012, the debt management was
diarahkan pada: directed to:

1. Mengoptimalkan potensi pembiayaan domestik; 1. Optimize domestic financing potentials;


2. Memelihara likuiditas pasar SBN domestik; 2. Maintain domestic Government Securities
market liquidity;
3. Melakukan diversifikasi instrumen utang; 3. Diversify debt instruments;
4. Pengadaan pinjaman/kredit luar negeri 4. Provide Foreign Loans/credits by taking the
dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan priority needs and no political bind into
prioritas dan tidak ada ikatan politik; consideration;
5. Meningkatkan penarikan pinjaman yang telah 5. Increase effective loans withdrawal to control
efektif untuk mengendalikan biaya; costs;
6. Meningkatkan koordinasi dengan otoritas 6. Increase coordination with the monetary and
moneter dan otoritas jasa keuangan dalam financial service authorities to encourage
mendorong financial deepening; financial deepening;
7. Meningkatkan fungsi pemantauan dan evaluasi 7. Increase the loans monitoring and evaluation
pinjaman untuk mendorong percepatan function to encourage an acceleration of the
pelaksanaan kegiatan dan penyerapan pinjaman. activities implementation and loans absorption.

Sumber dan Penggunaan Pembiayaan Utang Source and Use of Debt Financing

Utang pemerintah, berdasarkan jenisnya, dapat Based on the type, the government’s loan can
dikelompokkan dalam dua instrumen yaitu be grouped into two instruments, loan and
instrumen pinjaman dan SBN. Instrumen pinjaman Government Securities (SBN). Based on the source,
berdasarkan sumbernya dapat dibedakan menjadi loan consists of Foreign Loan and domestic loan,
pinjaman luar negeri dan pinjaman dalam negeri. while based on the type, it consists of program
Berdasarkan jenisnya instrumen pinjaman, loan and project loan. The Government Securities
dibedakan menjadi pinjaman yang berbentuk tunai (SBN) consists of the Government Bonds (SUN)
(program loan) atau terkait dengan proyek (project which are conventional marketable securities and
loan). Instrumen SBN mencakup Surat Utang the Sovereign Sharia Securities which are sharia-
Negara (SUN) yang merupakan surat berharga based marketable securities. Based on the currency,
konvensional dan Surat Berharga Syariah Negara Government Securities (SBN) can be issued using
(SBSN) yang merupakan surat berharga berbasis rupiah and/or foreign currency. According to the
syariah. Berdasarkan jenis mata uangnya, SBN dapat debt management strategy, both instruments will
diterbitkan dengan menggunakan mata uang rupiah continue to develop in line with the needs and
dan/atau mata uang asing. Sesuai dengan strategi development of the financial market.
pengelolaan utang kedua instrumen utang tersebut
akan terus berkembang sesuai dengan kebutuhan
dan perkembangan pasar keuangan.

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
193
Pinjaman Loan

1. Pinjaman Dalam Negeri 1. Domestic Loan

Pinjaman Dalam Negeri (PDN) merupakan salah satu Domestic Loan (PDN) is one of the debt instruments
bentuk instrumen utang yang mulai dimanfaatkan taken advantage since 2010 to support the domestic
pada tahun 2010 untuk mendukung pemberdayaan industrial empowerment and infrastructure
industri dalam negeri dan pembangunan development. Development of the instrument is
infrastruktur. Pengembangan instrumen ini also one of the alternatives to decrease dependence
juga sebagai salah satu alternatif mengurangi on commercial Foreign Loan. At the beginning, the
ketergantungan pada pinjaman luar negeri Domestic Loan was focused on the implementation
komersial. Pada tahap awal, pemanfaatan PDN masih of the government activities (project loan) with an
difokuskan pada pelaksanaan kegiatan pemerintah annual withdrawal target of IDR1 trillion.
(pinjaman proyek) dengan besaran target penarikan
Rp1 triliun setiap tahunnya.

Pada tahun 2012 terjadi peningkatan jumlah In 2012, the loan realization was higher compared to
realisasi pinjaman yang lebih tinggi dibandingkan the withdrawal target as mentioned in the Revised
dengan target penarikan pada APBNP. Realisasi State Budget. The realization of Domestic Loan
penarikan PDN tahun 2012 sebesar Rp1,5 triliun atau withdrawal in 2012 was in amount of IDR1.5 trillion
lebih tinggi 135 persen dibandingkan target APBN-P or 135 percent higher than the Revised State Budget
sebesar Rp1,1 triliun. Peningkatan penarikan PDN ini target in amount of IDR1.1 trillion. Increase of the
disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya adalah: Domestic Loan withdrawal was caused by some
reasons, including:

• Koordinasi yang intensif antara kementerian/ • An intensive coordination between


lembaga sebagai pelaksana kegiatan, ministries/institutions as the activities
Bappenas sebagai perencana kegiatan dan executors, and the National Planning and
Kementerian Keuangan; Development Agency (Bappenas) and the
activities planner, and the Ministry of Finance;

• Kebijakan peluncuran dana dan kebijakan • The policies of fund launching and multiyears
pelaksanaan kegiatan tahun jamak activities implementation, so that a launching
(multiyears) sehingga terdapat kegiatan activity took place in 2011 of which the fund
luncuran tahun 2011 yang dananya ditarik was withdrawn in 2012.
pada tahun 2012.

Tabel 4.27. Realisasi penarikan pinjaman dalam negeri


Table 4.27. Realization of Domestic Loan Withdrawal

2011 2012

APBNP LKPP %APBNP APBNP LKPP %APBNP

Pinjaman Dalam Negeri 1.452,10 619,40 42,70% 991,20 1.467,20 148,02%


Penarikan 1.522,10 619,40 40,70% 1.132,50 1.537,80 135,80%

Pembayaran Pokok (70) - - (141,30) (70,60) 50,00%

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


194 Annual Report of Ministry of Finance 2012
2. Pinjaman Luar Negeri 2. Foreign Loan

Pengelolaan pinjaman luar negeri terdiri atas tiga Foreign Loan management consisted of three main
komponen utama, yaitu penarikan pinjaman, components, including loan withdrawal, Subsidiary
penerusan pinjaman dan pembayaran cicilan pokok Loan, and payment of loan principal installment. The
pinjaman. Penarikan Pinjaman Luar Negeri (PLN) Foreign Loan (PLN) withdrawal in 2012 consisted of
dalam tahun 2012 terdiri atas pinjaman program dan program loan and project loan of which the total
pinjaman kegiatan yang memiliki tingkat realisasi realization level was 63.6 percent from the ceiling.
keseluruhan 63,6 persen dari pagu. Rendahnya The low realization was caused by the project loan
realisasi ini disebabkan adanya tingkat penyerapan absorption level which did not reach the target in the
pinjaman proyek yang tidak mencapai target dalam last two years. On the other hand, the program loan
dua tahun terakhir. Di sisi lain, penarikan pinjaman realization reached 96.2 percent, 3.2 percent lower
program lebih tinggi dibandingkan pinjaman than the target. The total amount was 3.8 percent
kegiatan. Realisasi pinjaman program mencapai under the target because of a currency discrepancy
96,2 persen. Kekurangan target sebesar 3,8 persen and the fact that the program loan withdrawal plan
disebabkan adanya selisih kurs dan tidak tercapainya for refinancing modality was not achieved.
rencana penarikan pinjaman program refinancing
modality .

Tabel 4.28. Realisasi Pinjaman Luar Negeri 2011-2012


Table 4.28. Realization of Foreign Loan 2011-2012

2011 2012

APBNP LKPP %APBNP APBNP LKPP %APBNP

Pinjaman Luar Negeri (2.776,6) (17.799,1) - (4.425,6) (19.147,6) -


Penarikan 56.182,9 33.747,2 60,1% 53.731,1 34.170,9 63,6%
Pinjaman Program 19.201,8 15.266,1 79,5% 15.603,9 15.003,5 96,2%
Pinjaman Proyek 36.981,1 18.481,1 50,0% 38.127,2 19.167,4 50,3%
Penerusan Pinjaman (11.724,8) (4.223,8) 36,0% (8.431,8) (2.160,9) 25,6%
Pembayaran Pokok (47.234,7) (47.234,7) 100,2% (49.724,9) (51.157,6) 102,9%

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mendorong A variety of efforts have been made to encourage
tingkat penyerapan pinjaman luar negeri tersebut Foreign Loan absorption, among others with
di antaranya adalah penetapan PP Nomor 10 tahun the stipulation of the Government Regulation
2011 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman Luar Number 10/2011 on the Method of Foreign Loan
Negeri dan Penerimaan Hibah sebagai pengganti PP Provision and Grant Receipt as a replacement of the
No. 2 Tahun 2006. Government Regulation Number 2/2006.

Namun demikian, sampai tahun 2012 masih banyak However, until 2012, there remained a lot of things
hal yang perlu ditingkatkan untuk mempercepat to be increased to accelerate loan implementation to
pelaksanaan pinjaman dalam mendorong encourage more optimal Foreign Loan absorption.
penyerapan pinjaman luar negeri agar lebih optimal. Things to be increased included:
Hal-hal yang perlu ditingkatkan di antaranya :

• Peningkatan koordinasi antar unit terkait • Increasing coordination amongst related


(Kementerian Keuangan, Bappenas, dan K/L) units (the Ministry of Finance, the National
dalam perencanaan kegiatan. Perencanaan Planning and Development Agency

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
195
tersebut seharusnya telah mengakomodir (Bappenas), and line ministries). The
kemampuan pelaksanaan kegiatan oleh planning should accomodate capacity of the
K/L dan mempertimbangkan kendala yang activities implementation by the ministries/
berpotensi muncul dalam pelaksanaan institutions and contraints that may emerge
kegiatan; in the activities implementation;
• Peningkatan tingkat kesadaran pelaksana • Increasing awareness of the activities
kegiatan executors;
• Optimalisasi pemantauan dan evaluasi serta • Optimizing the monitoring and evaluation
fungsi unit pemeriksa untuk mendorong as well as the examiner units to encourage
percepatan pelaksanaan kegiatan. acceleration of the activities implementation.

Surat Berharga Negara Government Securities (SBN)

Pada tahun 2012, kepemilikan asing pada SBN In 2012, the foreign ownership of the domestic
domestik cenderung semakin meningkat. Hal Government Securities (SBN) tended to increase.
ini berarti ada peningkatan tingkat kepercayaan This showed an increase in the foreign investors’
investor asing terhadap pasar keuangan domestik trust in the domestic financial market in particular
khususnya dan perekonomian Indonesia pada and the Indonesian economy in general. The foreign
umumnya. Kepemilikan asing SBN pada tahun 2012 ownership of Government Securities (SBN) in 2012
mencapai mencapai 33 persen (dari outstanding reached 33 percent from the tradeable outstanding
SBN tradable) dengan nilai sekitar Rp270 triliun. Government Securities (SBN) with an amount of
Secara keseluruhan pada tahun 2011, dana asing some IDR270 trillion. In total in 2011, foreign fund
yang masuk ke pasar obligasi Indonesia cukup that entered the Indonesian bond market was
besar, hal ini dapat dilihat dari peningkatan nominal sufficiently significant, as seen in the increase of the
outstanding SBN yang dimiliki oleh asing dari Rp222 outstanding Government Securities (SBN) nominal
triliun menjadi Rp270 triliun atau terjadi peningkatan owned by the foreign party, from IDR222 trillion to
sebesar Rp40 triliun. IDR270 trillion, or an increase of some IDR40 trillion.

Grafik 4.9. Kepemilikan SBN Tradeable Tahun 2005-2011


Graphic 4.9. Tradeable Government Securities (SBN) Ownership in 2005-2011

900 35%

800
30%
700
25%
600
20%
500

400 15%

300
10%
200
5%
100
0 0
Des’ 07 Des’08 Des’09 Des’10 Des’11 28-Des-12

Perbankan Lorem NON-BANK AsingLorem % Asing terhadap Total Lorem iusum

Sumber Data : Bloomberg, diolah Source: Bloomberg, processed

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


196 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Peningkatan kepemilikan asing ini juga perlu The increase of the foreign ownership should
diwaspadai karena jika terjadi pembalikan modal be paid attention as foreign capital reversal may
asing dapat menimbulkan gejolak di pasar keuangan result in fluctuation in the domestic financial
domestik. Namun demikian, pengelolaan SBN pada market. However, Government Securities (SBN)
tahun 2012 menunjukkan indikator yang semakin management in 2012 showed an improving indicator
membaik melalui peningkatan indeks SUN dan through the increasing index of the Government
penurunan imbal hasil SBN yang diminta investor. Bonds (SUN) and the decreasing Government
Selain itu, pemerintah juga telah mengembangkan Securities (SBN) yields requested by the investors.
early warning system (EWS) terhadap indikator In addition, the government has also developed an
pergerakan kepemilikan asing tersebut, yang dapat Early Warning System (EWS) towards the movement
memberikan sinyal kepada pemberi kebijakan untuk indicator of the foreign ownership, that may provide
mengambil langkah-langkah jika terjadi gejolak di a signal to the policy makers to take steps in the
pasar keuangan. Dengan EWS, diharapkan gejolak event of fluctuation in the financial market. With
yang kemungkinan menimbulkan krisis dapat the Early Warning System (EWS), it is hoped that the
ditanggulangi lebih dini melalui kebijakan yang fluctuation that may result in a crisis could be early
tepat sehingga dampaknya dapat diminimalkan. solved through a correct policy to minimize the
impact.

Bid to Cover Ratio Penerbitan SBN Tahun 2007-2011


Graphic 4.10. Bid to Cover Ratio, Issuance of Government Securities (SBN) 2007-2011

600 3,5

3,0
500

2,5
400
Triliun Rupiah

2,0
300
1,5
200
1,0

100 0,5

0 -
2007 2008 2009 2010 2011 2012

Total Bid Total Awarded Bid to Cover Ratio

Sumber Data : Ditjen Pengelolaan Utang Source: Directorate General of Debt Management

Tingginya arus modal asing yang akan berinvestasi The high foreign capital flow investing in the
di pasar SBN dan pertumbuhan ekonomi yang Government Securities (SBN) and the relatively
relatif tinggi serta peningkatan tingkat kepercayaan high economic growth as well as the increasing
investor domestik mendorong peningkatan trust of the domestic investors have encouraged
likuiditas pasar SBN domestik. Hal ini dapat dilihat an increase in the domestic Government Securities
dari tingginya jumlah penawaran yang masuk pada (SBN) market liquidity. This can be seen from
setiap lelang perdana SBN yang dilaksanakan jika the high number of offers at every Government
dibandingkan dengan tingkat penawaran yang Securities (SBN) public bid compared to the offers

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
197
dimenangkan (bid to cover ratio) hingga mencapai won (bid to cover ratio) that reached 2.48 times. In
2,48 kali. Pada kondisi likuiditas yang tinggi ini, akan such a high liquidity condition, the government will
tercipta tingkat biaya yang diperoleh pemerintah obtain a lower cost level, as seen in the descending
menjadi semakin rendah. Hal ini dapat dilihat dari Government Securities (SBN) yield movement. The
pergerakan yield SBN yang cenderung menurun. liquid Government Securities (SBN) market must
Pasar SBN yang likuid ini perlu senantiasa dijaga agar be maintained at all times to encourage a domestic
dapat mendorong pertumbuhan pasar keuangan financial market growth, so that the government
domestik sehingga pemerintah bahkan swasta and even the private sector can obtain an easy and
dapat memperoleh pembiayaan dengan mudah dan relatively cheap financing.
biaya yang relatif murah.

Target penerbitan SBN bruto berdasarkan APBN-P The target of issuing gross Government Securities
2012 adalah sebesar Rp270,42 triliun dan dapat (SBN) based on the State Budget Review 2012 was
direalisasikan sebesar Rp268,55 triliun dengan IDR270.42 trillion, of which IDR268.55 trillion could
memperhitungkan buyback sebesar Rp1,14 triliun. be realised by calculating buyback of IDR1.14 trillion.
Target yang besar tersebut masih terkendala The large target still faced a constraint of limited
pada keterbatasan sumber utang domestik, source of domestic loan both in the domestic
baik kedalaman pasar SBN domestik maupun Government Securities (SBN) market as well as
likuiditasnya. Untuk menjaga agar penerbitan SBN the liquidity. To keep the Government Securities
tidak menyebabkan adanya crowding out effect, maka (SBN) issuance from resulting in a crowding out
pemerintah mengambil kebijakan menerbitkan SBN effect, the government has made a policy of issuing
dalam mata uang asing (SBN Valas) secara terukur. Government Securities (SBN) in foreign currency in
Pada tahun 2012 pemerintah menerbitkan SBN Valas a measurable way. In 2012, the government issued
dengan dua jenis mata uang yaitu dalam yen dan such Government Securities (SBN) in two foreign
dolar AS. Realisasi penerbitan SBN tersebut terdiri currencies, including yen and US dollars. Realization
atas penerbitan SUN sebesar Rp211,46 trilliun dan of the Government Securities (SBN) issuance
penerbitan SBSN sebesar Rp57,09 trilliun. Realisasi consisting of the issuance of the Government
penerbitan SBN terdiri atas penerbitan SBN domestik Bonds (SUN) in amount of IDR211.46 trillion and
sebesar Rp212,89 triliun dan penerbitan SBN Valas the issuance of Sovereign Sharia Securities (SBSN)
sebesar Rp55,66 triliun. of IDR57.09 trillion. The realization of Government
Securities (SBN) issuance consisted of the issuance
of domestic Government Securities (SBN) in amount
of IDR212.89 trillion and the issuance of foreign
currency Government Securities (SBN) in amount of
IDR55.66 trillion.

Tabel 4.29. Rincian Penerbitan SBN Tahun 2012 (dalam triliun rupiah)
Table 4.29. Detail of Government Securities (SBN) Issuance in 2012 ( in trillion of rupiahs)

INSTRUMEN SUN SBSN SBN

Denominasi Rupiah 165.442 47.450 212.892


SPN/SPNS 30.520 1.380 31.900

Ritel 12.677 13.614 26.291


Fixed 122.245 32.456 154.701
Denominasi Valas 46.017 9.639 55.656
USD 39.005 9.639 48.644
JPY 7.012 - 7.012

Sumber Data : Ditjen Pengelolaan Utang Source: Directorate General of Debt Management

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


198 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Capaian Pengelolaan Utang Debt Management Achievement

Pada tahun 2012, realisasi pembiayaan utang adalah In 2012, realization of the debt financing was in
sebesar Rp142 triliun yang meningkat Rp39,3 triliun amount of IDR142 trillion, an increase of IDR39.3
atau 38 persen dibandingkan tahun 2011 yang trillion or 38 percent, compared to 2011 which
hanya sebesar Rp102,3 triliun. Kenaikan pembiayaan amounted to IDR102.3 trillion. The increase of debt
utang disebabkan naiknya kebutuhan pembiayaan financing was caused by an increase of the State
APBN dan adanya kebutuhan pembayaran kembali Budget financing need and the maturity date debt
utang jatuh tempo. Dari jumlah tersebut, penerbitan refinancing need. Out of the total amount, the
SBN pada tahun 2012 masih mendominasi Government Securities (SBN) issuance in 2012
pemenuhannya yaitu sebesar Rp159,7 triliun. still dominated the fulfillment, totalling IDR159.7
Sementara penarikan pinjaman luar negeri masih trillion, while the foreign loan withdrawal remained
tetap negatif Rp19,1 triliun dan pinjaman dalam negative, IDR19.1 trillion, and the domestic loan was
negeri sebesar Rp1,5 triliun. IDR1.5 trillion.

Realisasi pembiayaan utang tersebut menambah The realization of the debt financing added the
jumlah outstanding utang pemerintah pada akhir number of government’s outstanding debt at the
tahun 2012 menjadi Rp1.975,4 triliun yang terdiri atas end of 2012 to IDR1,975.4 trillion, consisting of
SBN sebesar Rp1.361,1 triliun dan pinjaman sebesar Government Securities (SBN) in amount of IDR1,361.1
Rp614,3 triliun. Jumlah outstanding ini berarti trillion and loan in amount of IDR614.3 trillion. The
meningkat sebesar Rp166,5 triliun atau 9,2 persen number of outstanding debt thus increased IDR166.5
jika dibandingkan dengan jumlah outstanding utang trillion or 9.2 percent compared to the amount of
akhir tahun 2011 sebesar Rp1.808,9 triliun. Namun outstanding debt at the end of 2011 of IDR1,808.9
demikian, perubahan jumlah outstanding utang ini trillion. However, the change of the number of
bukan hanya disebabkan oleh pengadaan utang outstanding debt was not only caused by new debt,
baru, melainkan juga dampak perubahan nilai tukar but also by a change in rupiah exchange rate as the
rupiah mengingat portofolio utang pemerintah government’s debt polio consisted of various foreign
terdiri atas berbagai mata uang. Dalam hal nilai currencies. In the event of depreciating rupiah, the
rupiah melemah, maka outstanding utang akan amount of outstanding debt would increase, and on
bertambah dan sebaliknya, apabila nilai tukar rupiah the contrary, in the event of appreciating rupiah, the
menguat, maka outstanding utang akan berkurang. outstanding debt would decrease.

Perkembangan Debt to GDP Ratio Development of Debt to GDP Ratio

Outstanding utang cenderung meningkat pada The outstanding debt tended to increase at the
akhir tahun 2012. Namun demikian rasio utang end of 2012, yet the debt to GDP ratio significantly
terhadap PDB (debt to GDP ratio) mengalami decreased. The debt to GDP ratio in 2009 was 28.3
penurunan yang cukup signifikan. Rasio debt percent, and decreased to 23.97 percent in 2012. The
to GDP tahun 2009 sebesar 28,3 persen turun ratio showed an increasing long-term fiscal capacity
menjadi 23,97 persen pada tahun 2012. Rasio ini of the government to fulfill its debt liability. The
menunjukkan peningkatan kemampuan fiskal decreasing ratio was encouraged by efforts to control
pemerintah dalam jangka panjang untuk memenuhi fiscal and debt management by the government in
kewajiban utangnya. Penurunan rasio ini didorong a prudent, efficient, effective, and trustworthy way,
oleh upaya pengendalian fiskal dan pengelolaan so that the increase of GDP nominal was higher
utang pemerintah yang hati-hati, efisien, efektif compared to the increase of debt nominal. Some
dan terpercaya sehingga peningkatan nominal PDB policies supported the debt-controlling efforts,
lebih tinggi dibandingkan peningkatan nominal among others:
utang. Beberapa kebijakan yang mendukung upaya
pengendalian utang tersebut, antara lain:

(i) Pelaksanaan kebijakan net negative flow (i) Implementation of the net negative flow policy,
yang diterjemahkan dengan menetapkan interpreted as to stipulated the amount of
jumlah penarikan PLN diupayakan lebih Foreign Loan withdrawal lower than the amount

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
199
rendah dari jumlah cicilan pokok PLN yang of maturity of Foreign Loan principal installment.
jatuh tempo, namun tetap sesuai dengan However, the policy remained according to the
kebutuhan pembiayaan bagi K/L. Kebijakan ini financing need for ministries/institutions. The
diimplementasikan melalui penyusunan Batas policy was implemented through the preparation
Maksimum Pinjaman Luar Negeri (BMPLN); of the Maximum Limit of Foreign Loan (BMPLN);
(ii) Penerbitan dan penarikan utang semaksimal (ii) Issuance and withdrawal of debt as maximum
mungkin mengacu pada kebutuhan riil defisit possible by referring to the State Budget deficit
APBN; real need;
(iii) Pemilihan jenis mata uang dan tingkat bunga (iii) Selection of foreign currencies and a stable and
utang baru yang stabil dan menguntungkan advantageous interest for the new long-term
dalam jangka panjang. debt.

Perkembangan Debt to GDP Ratio Tahun 2005-2011


Graphic 4.11. Development of Debt to GDP Ratio 2005-2011

2.000 40%

1.500 35,1% 35%


33,0%
Triliun

1.000 30%
28,3%
26,1%
500 24,4% 25%
23,9%

0 20%
2007 2008 2009 2010 2011 2012

Outstanding Utang Rasio Utang terhadap. PDB (RHS)

Sumber Data : Ditjen Pengelolaan Utang Source: Directorate General of Debt Management

Risiko Utang Debt Risk


Peningkatan outstanding utang akan meningkatkan Increasing outstanding debt will increase the risk,
risiko, baik risiko pasar (market risk) yang terdiri atas both market risk, currency risk, and interest rate risk,
risiko mata uang (currency risk) dan risiko tingkat as well as refinancing risk. As an effort to control
bunga (interest rate risk), maupun risiko pembayaran the risks, the government prioritizes Domestic Debt
kembali (refinancing risk). Sebagai upaya untuk through the issuance of Government Securities (SBN)
mengendalikan risiko tersebut, pemerintah with a fixed interest rate and domestic loan provision
memprioritaskan pengadaan utang yang bersumber in rupiah currency.
dari dalam negeri melalui penerbitan SBN dengan
tingkat bunga tetap dan pengadaan pinjaman
dalam negeri dalam mata uang rupiah.

Tingkat risiko pengelolaan utang pemerintah The risk level of the government’s debt management
semakin membaik, yang terlihat dari penurunan was improving, as seen from the decreasing interest
tingkat risiko suku bunga dan risiko nilai tukar. rate risk and currency risk. While the refinancing risk
Sementara risiko pembiayaan kembali mengalami increased due to the government’s debt strategy
peningkatan yang disebabkan oleh strategi utang to increase debt financing efficiency by issuing

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


200 Annual Report of Ministry of Finance 2012
pemerintah untuk meningkatkan efisiensi biaya short-term debt. However, comprehensively, the
utang dengan menerbitkan utang jangka pendek, government’s debt risk remained in a controlled rate.
meskipun secara keseluruhan tingkat risiko utang
pemerintah masih berada pada tingkat yang
terkendali.

Tabel 4.30. Perkembangan Indikator Risiko Utang Tahun 2011-2012


Table 4.30. Development of Debt Risk Indicator 2011-2012

Indikator Des-2011 Des-2012

Outstanding (Miliar Rupiah)


SBN 1.187.655,04 1.361.100,90

Pinjaman 621.291,79 614.322,47


Total 1.808.946,83 1.975.423,37
Interest Rate Risk
VR Proportion 18,8% 16,1%
Refixing Rate 25,8% 22,4%
Refixing Rate 812,4% 873,7%
Refinancing Rick
ATM (Years) 932,5% 971,0%
Matured in 3 years 22,7% 21,5
Matured in 5 years 34,6% 32,4%
Exchange Rate Risk
FX Proportion 45,1% 44,4%
FX thd PDB 11,0% 10,7%
Debt to DGP 24,4% 23,9%
Sumber Data : Ditjen Pengelolaan Utang Source: Directorate General of Debt Management

Biaya utang Debt Cost

Dari sisi biaya utang, khususnya untuk penerbitan From the debt cost point of view, in particular
SBN, terdapat efisiensi biaya akibat kecenderungan for the issuance of Government Securities (SBN)
penurunan yield. Hal itu didorong oleh ekspektasi there has been a cost efficiency due to the tend of
investor bahwa perekonomian Indonesia yang yield decrease. This was encouraged by investors’
semakin membaik dan pencapaian peringkat kredit expectation that the Indonesian economy
pada level layak investasi (investment grade). Efisiensi was improving and the credit rate achieved an
biaya utang didorong pula oleh pengembangan investment grade. The debt cost efficiency was also
pasar SBN menuju ke arah pasar yang dalam, likuid, encouraged by the Government Securities (SBN)
dan aktif. market development to a deep, liquid, and active
market.

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
201
Grafik 4.12. Perkembangan Yield SUN untuk Tenor 2, 5, 10, dan 30 Tahun
Graphic 4.12. Development of Government Bonds (SUN) yield for 2,5,10, and 30 year-tenors

24 24

20 20

16 16

12 12

8 8

4 4
Feb-08 Feb-09 Feb-10 Feb-11 Feb-12 Feb-13

SUN 27 SUN 5y SUN 10y SUN 30y

Sumber Data : Bloomberg, diolah Source: Bloomberg, processed

Isu Terkini dalam Pengelolaan Utang Latest Issues in Debt Management

Efisiensi Pengelolaan Utang Debt Management Efficiency

Efisiensi pengelolaan utang merupakan salah satu Debt management efficiency was one of the efforts
upaya mencapai tujuan pengelolaan utang yaitu to achieve debt management goals, including debt
memenuhi target pembiayaan utang dengan biaya financing with low cost at a controlled risk rate. The
minimal pada tingkat risiko terkendali. Efisiensi debt management efficiency was conducted in
pengelolaan utang yang telah dilakukan dalam various methods, including selecting and optimizing
beberapa cara, meliputi pemilihan dan optimalisasi activities implementation financed by the debt,
pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari utang, selecting the debt type that provided optimal
pemilihan jenis instrumen utang yang memberikan cost and risk, issuing Government Securities (SBN)
biaya dan risiko optimal, pelaksanaan penerbitan according to the needs of the state’s cash and the
SBN sesuai dengan kebutuhan kas negara dan Government Securities (SBN) market development,
kebutuhan untuk pengembangan pasar SBN, serta as well as debt portfolio management.
pengelolaan portofolio utang.

Secara umum, pelaksanaan efisiensi pengelolaan In general, activities which has been done in relating
utang dapat dijelaskan sebagai berikut: to debt management efficiency can be explained as
follows:

. Pemilihan dan optimalisasi pelaksanaan . Selecting and optimizing activities


kegiatan yang dibiayai dari utang implementation financed by the debt
Pemilihan kegiatan yang dapat dibiayai dari Selecting activities financed by the debt was
utang bertujuan agar utang yang diperoleh aimed at providing a maximal additional value
memberikan nilai tambah yang maksimal from the debt for the economic growth. At
bagi pertumbuhan ekonomi. Saat ini, proses present, there has been a better process of

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


202 Annual Report of Ministry of Finance 2012
pemilihan jenis kegiatan yang dapat dibiayai selecting activities types that can be financed by
dari utang semakin baik. Caranya dengan the debt. The method is by prioritizing sectors
mengutamakan sektor-sektor yang memberikan that provide great economic impacts, such as
dampak ekonomi besar seperti untuk belanja capital expenditures and goods that cannot
modal dan membiayai barang yang tidak dapat be produced domestically as well as transfer of
diproduksi di dalam negeri serta memberikan technology. This is supported by the President’s
manfaat alih teknologi. Hal ini didukung oleh direction to use Foreign Loan to finance the
arahan Presiden agar menggunakan pinjaman infrastructure and energy sectors and not to be
luar negeri untuk membiayai sektor infrastruktur used for goods and education expenditures. The
dan energi serta tidak digunakan untuk activities implementation is optimized through
belanja barang dan pendidikan. Sedangkan supervision and evaluation of the Foreign Loan
optimalisasi pelaksanaan kegiatan dilakukan use.
melalui pengawasan dan evaluasi pemanfaatan
pinjaman luar negeri.

Sampai saat ini, pemanfaatan pinjaman luar To date, the Foreign Loan use has not shown
negeri belum menunjukkan hasil optimal. Hal ini an optimal result. This is indicated by the still
diindikasikan oleh masih rendahnya penyerapan low absorption of the Foreign Loan. The low
pinjaman luar negeri. Rendahnya penyerapan absorption was caused by the inconsistent
ini disebabkan belum selarasnya perencanaan planning and implementation of the activities.
dan pelaksanaan kegiatan. Beberapa upaya yang Some efforts that have been made included
telah dilakukan antara lain melalui peningkatan increasing coordination with the stakeholders
koordinasi dengan para pemangku kepentingan and stipulating the Foreign Loan Maximum Limit
dan penetapan BMPLN. (BMPLN)

. Pemilihan jenis instrumen utang . Selecting debt instrument types


Pemilihan jenis utang dalam memenuhi target Selecting debt types to fulfill the financing
pembiayaan meliputi pemilihan tenor, mata uang, target included selecting the tenor, the currency,
jenis bunga, dan instrumen utang. Pemilihan the interest type, and the debt instrument. The
ini dilakukan berdasarkan hasil analisis biaya selection was based on the cost analysis and
dan risiko utang dengan mempertimbangkan debt risk result by taking the need to develop
kebutuhan untuk pengembangan pasar SBN. the Government Securities (SBN) market into
Dalam rangka efisiensi pengelolaan utang, consideration. For debt management efficiency,
pemilihan utang dengan tenor pendek dapat short-tenor debt could be selected as long as the
dilakukan sepanjang peningkatan risiko refinancing risk increase remained in a controlled
refinancing masih dalam batas yang terkendali. limit. During the last few years, for debt financing
Beberapa tahun terakhir, dalam rangka efisiensi efficiency in the condusive financial market
biaya utang di tengah kondisi pasar keuangan condition, short-term Government Securities
yang cukup kondusif, diterbitkan SBN dengan (SBN) was issued in the form of the Government
tenor pendek berupa SPN dan SBN ritel dengan Treasury Bill (SPN) and retail Government
tenor tiga tahun. Jumlah yang diterbitkan Securities (SBN) with a three-year tenor. The
lebih besar dari target semula. Hal ini dapat amount issued was larger than the initial target.
menurunkan biaya utang karena yield SBN This could decrease the debt cost as the short-
tenor pendek lebih rendah dari tenor panjang, tenor Government Securities (SBN) yield was
meskipun menyebabkan peningkatan risiko lower than the long-tenor Government Securities
refinancing khususnya porsi utang jatuh tempo (SBN), although it may increase the refinancing
kurang dari tiga tahun. risk particularly the maturity of debt portion of
less than three years.

Sementara itu, pemilihan utang dengan mata Meanwhile, selecting foreign currency debt
uang valas relatif memberikan tingkat bunga would relatively provide a lower interest rate
yang lebih rendah dibandingkan utang dengan compared to the debt in rupiah. However, this
mata uang rupiah. Namun, hal ini dibatasi untuk option was limited to decrease dependence on

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
203
mengurangi ketergantungan pada sumber the foreign debt source and exchange rate risk
utang dari luar negeri dan mengurangi risiko nilai that might have a relatively large impact. Further,
tukar yang berdampak cukup besar. Selanjutnya, selecting debt with a floating interest rate
pemilihan utang dengan tingkat bunga basically provided a lower interest rate compared
mengambang pada dasarnya memberikan to debt with a fixed interest rate. However, the
tingkat bunga yang lebih rendah dibandingkan issuance of debt with a fixed interest rate does
utang dengan tingkat bunga tetap. Penerbitan not attract investors due to the low reference
utang dengan tingkat bunga mengambang saat interest rate, namely the Government Treasury
ini tidak diminati oleh investor karena rendahnya Bill (SPN) yield with a three-year tenor. While
suku bunga acuan yaitu yield SPN bertenor tiga debt based on the instrument was selected
bulan. Sedangkan pemilihan utang berdasarkan by referring to the general policy of debt
instrumen utang dilakukan dengan mengacu management to reduce Foreign Loan, and the
pada kebijakan umum pengelolaan utang untuk Government Securities (SBN) market condition,
mengurangi pinjaman luar negeri dan kondisi which was not deep and liquid enough, so that
pasar pasar SBN yang belum cukup dalam it was very much influenced by the development
dan likuid sehingga sangat dipengaruhi oleh of the global financial market.
perkembangan pasar keuangan global.

. Pelaksanaan penerbitan SBN . Government Securities (SBN) Issuance


Pelaksanaan penerbitan SBN meliputi penetapan The Government Securities (SBN) issuance
waktu dan besaran penerbitan yang dilakukan included the time stipulation and the issuance
berdasarkan kebutuhan pengembangan amount based on the need of the Government
pasar SBN dan kebutuhan kas Negara untuk Securities (SBN) market development and
membiayai defisit APBN serta refinancing utang the state’s cash to finance the State Budget
jatuh tempo. Penerbitan SBN untuk kebutuhan deficit as well as to refinance due-date debt.
pengembangan pasar dilakukan melalui The Government Securities (SBN) issuance for
penerbitan SBN seri benchmark secara rutin the market development need was conducted
setiap bulan untuk memberikan kepastian suplai through the issuance of benchmark-series
kepada investor domestik yang memerlukan Government Securities (SBN) monthly to ensure
penempatan dana investasinya. Sebelum supply to the domestic investors in need of
melakukan penerbitan SBN, Kementerian investment fund. Prior to the Government
Keuangan terlebih dahulu mempublikasikan Securities (SBN) issuance, the Ministry of
indikasi jadwal dan besaran penerbitan sehingga Finance first published a schedule indication and
investor memiliki gambaran tentang waktu isuance amount, so that investors had a picture
dan alokasi dana yang akan diinvestasikan. of the time and fund allocation to be invested.
Sedangkan penerbitan SBN untuk kebutuhan Meanwhile, the Government Securities (SBN)
kas dilakukan berdasarkan proyeksi kondisi for cash was issued based on the projection of
kas negara. Secara umum, pola kebutuhan the state’s cash condition. In general, the state’s
kas negara menunjukkan bahwa kas negara cash need pattern showed a deficit by end of the
mengalami defisit menjelang akhir tahun Fiscal Year because the state’s expenditures was
anggaran karena belanja negara dalam jumlah in a large amount by end of the year. Therefore,
cukup besar terjadi menjelang akhir tahun. Oleh Government Securities (SBN) issuance for cash
karena itu, penerbitan SBN untuk kebutuhan kas need tended to be caried out at the end of the
akan cenderung dilakukan pada akhir tahun atau year or certain months in the event of a cash
pada bulan tertentu apabila terjadi kekurangan deficit as a result of discrepancy between the
kas akibat ketidaksesuaian antara penerimaan government revenues and the government
dengan belanja negara. Keberhasilan penerbitan expenditures. The success of Government
SBN sesuai kebutuhan kas ditentukan oleh Securities (SBN) issuance accoding to the cash
koordinasi penyusunan proyeksi belanja dan need was determined by the coordination of
penerimaan negara yang akurat terutama the government accurate expenditures and
belanja K/L negara yang tidak bersifat rutin. revenues projection in particular for non-routine
expenditures in ministries/institutions.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


204 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Saat ini sedang dikembangkan pengelolaan At present, an asset and liability management is
asset dan liability yang antara lain bertujuan agar being developed which is aimed at, among others,
penarikan/penerbitan utang dapat dilakukan debt withdrawal/issuance according to the need for
sesuai dengan kebutuhan sehingga pengelolaan a more efficient debt management.
utang menjadi semakin efisien.

. Pengelolaan portofolio utang . Debt portfolio management


Pengelolaan portofolio utang untuk efisiensi Debt portfolio management for debt cost efficiency
biaya utang dilakukan melalui program was carried out for buyback and prepayment
pembelian kembali dan percepatan pembayaran program of the debt with a high interest rate.
(prepayment) utang yang memiliki tingkat The effort success was mainly determined by the
bunga tinggi. Keberhasilan upaya ini terutama financial market condition and the negotiation result
ditentukan oleh kondisi pasar keuangan dan with the creditors. To maximize the program impact,
hasil negosiasi dengan pemberi pinjaman. Untuk a capacity was required to make a yield projection
memaksimalkan dampak program tersebut, or debt interest rate accurately. During the last few
diperlukan kemampuan membuat proyeksi yield years, the Government Securitties (SBN) buyback
atau tingkat bunga utang secara akurat. Dalam and debt switch did not produce sufficiently good
beberapa tahun terakhir program pembelian result due to the low interest of the investors to take
kembali SBN melalui buyback dan debt switch part in the program. This was caused by the volatile
belum memberikan hasil yang cukup baik karena financial market, so that investors tended to not take
rendahnya minat dari investor untuk mengikuti part in buyback bid offered by the government.
program tersebut. Hal ini disebabkan kondisi
pasar keuangan yang masih cukup volatile
sehingga investor cenderung tidak mengikuti
lelang pembelian kembali yang ditawarkan oleh
pemerintah.

Sementara itu, program percepatan pembayaran Meanwhile, the prepayment program has been
(prepayment) utang telah beberapa kali carried out several times for Foreign Loan, which
dilakukan untuk pinjaman luar negeri yang was borrowed by state-owned enterprises. A soft
diteruspinjamkan kepada BUMN. Sedangkan prepayment offer on the Foreign Loan is currently
tawaran prepayment atas pinjaman luar negeri in an analysis process to calculate the profit and loss
yang bersifat lunak saat ini sedang dalam borne by the government.
proses analisis untuk menghitung keuntungan
dan kerugian yang akan ditanggung oleh
pemerintah.

Fleksibilitas Pembiayaan Utang Flexibility of Debt Financing

Target pembiayaan utang yang besar di tengah A large debt financing target in the dynamic
kondisi pasar keuangan yang dinamis dan financial market condition and the expenditures
ketidakpastian penyerapan belanja dalam APBN absorption uncertainty in the State Budget required
memerlukan fleksibilitas. Dalam beberapa tahun flexibility. During the last few years, the House of
terakhir, DPR melalui UU APBN telah menyetujui Representatives, through Law on the State Budget,
adanya fleksibilitas pembiayaan utang. Pada has approved flexibility in the debt financing. Initially,
awalnya, fleksibilitas yang diberikan oleh UU APBN the flexibility provided by Law on the State Budget
hanya meliputi utang tunai, yaitu SBN dan pinjaman only included cash money, namely Government
program. Namun, seiring dengan tantangan Securities (SBN) and program loan. However, in line
pengelolaan utang yang semakin besar dan with the larger and more complex challenges in
kompleks, sejak tahun 2012, fleksibilitas pembiayaan debt management, since 2012, the debt financing
utang diperluas hingga mencakup seluruh utang, flexibility has been expanded that it covered all debt,
baik tunai maupun utang yang terkait dengan both cash as well as debt related to certain activities.
kegiatan tertentu. Fleksibilitas pembiayaan utang The debt financing flexibility was carried out in the

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
205
dapat dijalankan dalam hal terdapat instrumen event there was a more advantageous debt financing
pembiayaan utang yang lebih menguntungkan instrument and/or one of the debt financing
dan/atau ketidaktersediaan salah satu instrumen instruments was unavailable. The consideration
pembiayaan utang. Pertimbangan tersebut became relevant when the international financial
menjadi relevan ketika kondisi pasar keuangan market condition was not conducive resulting in
internasional tidak kondusif sehingga menyebabkan the unavailability of Foreign Loan instrument or the
ketidaktersediaan instrumen pinjaman luar negeri availability of the loan but at a high borrowing cost.
atau pinjaman tersebut tersedia tetapi dengan cost of Thus, the debt financing flexibility included a change
borrowing yang tinggi. Dengan demikian fleksibilitas in the net Government Securities (SBN) issuance or
pembiayaan utang meliputi perubahan penerbitan Domestic Loan withdrawal, and/or Foreign Loan
SBN neto atau penarikan pinjaman dalam negeri, withdrawal, without causing any net debt addition.
dan/atau penarikan pinjaman luar negeri, tanpa
menyebabkan tambahan utang neto.

Penerapan fleksibilitas utang tunai relatif lebih Flexibility in cash debt was relatively more easily
mudah dilakukan karena tidak mempengaruhi applied as it did not affect the activities planning and
perencanaan kegiatan dan tidak terdapat perubahan there was no change in the budget implementation
dokumen pelaksanaan anggaran. Sedangkan document. Flexibility in debt related to priority
penerapan fleksibilitas yang melibatkan utang activities was relatively more difficult to be applied.
yang terkait (earmarked) dengan kegiatan-kegiatan At present, the debt earmarked with priority
prioritas relatif lebih sulit dilakukan. Saat ini utang activities takes advantage of Foreign Loan and the
yang earmarked dengan kegiatan-kegiatan prioritas Sovereign Sharia Securities (SBSN) instruments with
memanfaatkan instrumen pinjaman luar negeri dan a project financing scheme.
SBSN dengan skema project financing.

Dalam pelaksanaannya, realisasi penyerapan In the implementation, realization of the activities


kegiatan yang dibiayai dari utang terutama absorption financed by the debt particularly Foreign
pinjaman luar negeri cenderung rendah. Salah satu Loan tended to be low. One of the reasons was the
penyebabnya adalah proses pengadaan pembiayaan process of providing the financing took a relatively
yang memerlukan waktu relatif panjang atau bahkan long time or even could not be completed in the
tidak dapat diperoleh pada tahun anggaran berjalan. current fiscal year. Such delay in the implementation
Keterlambatan pelaksanaan kegiatan prioritas di satu of priority activities might result in additional loan
sisi dapat menimbulkan tambahan biaya pinjaman, cost on one side, and on the other side, it might
dan di sisi lain dapat menunda pencapaian target delay the designed development target as had been
pembangunan yang telah dirancang sebagaimana stipulated in the State Budget.
ditetapkan dalam APBN.

Penerapan kebijakan fleksibilitas pembiayaan utang Application of the debt financing flexibility policy
merupakan suatu jaminan atas pembiayaan kegiatan was a guarantee of the activities financing as the
mengingat instrumen pembiayaan tidak dibatasi financing instrument was not limited to a certain
pada salah satu instrumen pembiayaan tertentu, financing, instead it could take advantage of
tetapi dapat memanfaatkan instrumen pembiayaan other financing instruments. Thus, the activities
lain. Dengan demikian, pelaksanaan kegiatan implementation was not hampered by problems in
tidak terhambat oleh permasalahan dalam proses the financing provision process so that it could be a
pengadaan pembiayaan sehingga dapat menjadi solution in financing-fulfillment problems. However,
solusi atas permasalahan-permasalahan dalam to smoothen the application of debt financing
pemenuhan pembiayaan, khususnya pembiayaan flexibility, an implementation and coordination
kegiatan. Namun, untuk memperlancar penerapan regulation is currently being prepared by the
fleksibilitas pembiayaan utang, khususnya yang stakeholders, so that the application would not
terkait dengan kegiatan prioritas, saat ini sedang result in negative impacts in the realization of the
disusun aturan pelaksanaan dan koordinasi diantara activities implementation.
pemangku kepentingan agar penerapannya tidak
berdampak negatif pada realisasi pelaksanaan
kegiatan.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


206 Annual Report of Ministry of Finance 2012
SBSN Proyek Project Based Sukuk

Dalam rangka meningkatkan kapasitas pembiayaan To increase debt financing capacity and debt
utang dan efisiensi pengelolaan utang, diperlukan management efficiency, an instrument development
upaya pengembangan instrumen dan perluasan and Government Securities (SBN) investors basis
basis investor SBN, antara lain melalui penerbitan expansion were required, among others through the
SBSN yang terkait dengan proyek tertentu. issuance of the Sovereign Sharia Securities (SBSN)
Berdasarkan UU Nomor 19 Tahun 2008 tentang Surat related to certain projects. Under Law Number
Berharga Syariah Negara dan Peraturan Pemerintah 19/2008 on the State’s Sharia Marketable Securities
Nomor 56 Tahun 2011 tentang Pembiayaan Proyek and the Government Regulation Number 56/2011 on
melalui Penerbitan Surat Berharga Syariah Negara, the Projects Financing through the Issuance of the
pemerintah dapat melaksanakan pembiayaan Sovereign Sharia Securities (SBSN), the government
proyek melalui penerbitan SBSN - Project Based shall implement projects financing through the
Sukuk (SBSN Proyek). Penerbitan SBSN proyek dapat issuance of the Sovereign Sharia Securities (SBSN)-
dilakukan melalui dua skema yaitu project underlying Project Based Sukuk. The Sovereign Sharia Securities
dan project financing. Project underlying adalah (SBSN) shall be issued in two schemes, including the
penerbitan SBSN menggunakan proyek pemerintah project underlying, the issuance of the Sovereign
yang sedang berjalan sebagai dasar penerbitan. Sharia Securities (SBSN) using a current government
Sedangkan project financing adalah penerbitan SBSN project as an issuance base, and the project
secara khusus digunakan untuk membiayai proyek- financing, the issuance of the Sovereign Sharia
proyek baru yang akan berjalan. Securities (SBSN) particularly used to finance new
projects which were about to run.

Pada tahun 2012, telah diterbitkan empat seri SBSN In 2012, four series of project based sukuk were
proyek dengan skema project underlying dengan issued with the project underlying scheme with a
total penerbitan sebesar Rp15 triliun dan tenor total amount of IDR15 trillion and tenor of 6 – 25
6 hingga 25 tahun. Sedangkan penerbitan SBSN years. Project based sukuk with the project financing
proyek dengan skema project financing diperkirakan scheme is predicted to be issued in 2013.
akan dilakukan pada tahun 2013.

Untuk mendukung penerbitan SBSN – project To support the project based sukuk issuance, the
underlying, pemerintah menetapkan indikasi government has indicated an ability of providing
kemampuan penyediaan pembiayaan proyek the project financing through the issuance of the
melalui penerbitan SBSN yang dituangkan Sovereign Sharia Securities (SBSN) as contained in
dalam Batas Maksimal Penerbitan SBSN untuk the Maximum Limit of Sovereign Sharia Securities
Pembiayaan Proyek. Penetapan besaran tersebut Issuance (SBSN) and Project Financing. The amount
mempertimbangkan kebutuhan riil pembiayaan, considered the real need of the financing, the ability
kemampuan membayar kembali, batas maksimal of refinancing, and the maximum limit of debt
kumulatif utang, dan risiko utang. commulative, as well as the debt risk.

BMP SBSN Proyek pada tahun 2013 ditetapkan The Maximum Limit of the Project based sukuk
sebesar Rp1 triliun yang antara lain direncanakan in 2013 was determined to total IDR1 trillion,
untuk membiayai pembangunan Jalur Ganda Kereta planned among others to finance the construction
Api Cirebon – Kroya segmen I dengan indikasi of Cirebon – Kroya segment I double railway with
kebutuhan sebesar Rp800 miliar. Dalam perspektif a need indication of IDR800 billion. In the portfolio
portofolio pembiayaan SBSN untuk tahun 2013, perspective of financing the Sovereign Sharia
seharusnya masih dimungkinkan lebih besar, tetapi Securities (SBSN) in 2013, it could be possibly
ketersediaan proyek yang memenuhi persyaratan larger, however there were limited projects that
syariah untuk dibiayai dari SBSN tahun 2013 masih fulfilled sharia requirements to be financed from the
terbatas, sehingga besaran BMP ditetapkan hanya Sovereign Sharia Securities (SBSN) in 2013, so that
sebesar Rp1 triliun. the total amount of the Maximum Limit was only
IDR1 trillion.

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
207
BMP SBSN disusun untuk periode satu tahun The Maximum Limit of Sovereign Sharia Securities
anggaran dengan mempertimbangkan dinamika (SBSN) was prepared for a period of one fiscal year
pasar SBN, kebutuhan fleksibilitas penerbitan SBN, considering the dynamic of Government Securities
dan memberikan keleluasaan dalam menilai dan (SBN) market, the need of Government Securities
menentukan proyek yang akan dibiayai pada tahun (SBN) issuance flexibility, and flexibility to assess
anggaran berikutnya. Pemenuhan dan kesesuaian and determine the projects to be financed in the
dengan prinsip-prinsip syariah merupakan salah following fiscal year. The fulfillment and suitability of
satu kriteria proyek yang akan dibiayai dengan Sharia principles are one of the projects criteria to be
SBSN. Selain itu, proyek yang dibiayai harus financed by the Sovereign Sharia Securities (SBSN).
memenuhi readiness criteria sesuai ketentuan yang In addition, projects to be financed should fulfill
berlaku dengan tetap memperhatikan kualitas the readiness criteria according to the prevailing
penyiapannya. Keberhasilan penerbitan SBSN provision by adhering to the preparation quality. The
dengan skema project financing mensyaratkan success of the State Sharia Securities (SBSN) issuance
koordinasi intensif dalam penyediaan pembiayaan, with project financing scheme required an intensive
serta disiplin dalam pelaksanaan proyek secara tepat coordination in providing the financing and
waktu. discipline in the project implementation on time.

Terkait penyelesaian kegiatan yang dibiayai In the event completion of an activity financed by
dari SBSN – project underlying melebihi tahun the project underlying Sovereign Sharia Securities
anggaran berjalan, maka kegiatan tersebut menjadi (SBSN) exceeds the current fiscal year, the activity will
prioritas pada tahun anggaran berikutnya. Dalam be a priority in the following fiscal year. In stipulating
penetapan batas maksimal penerbitan tahun the maximum limit of issuance in the following fiscal
anggaran berikutnya, proyek-proyek multiyears akan year, multiyears projects will be calculated. Through
diperhitungkan. Selain bertujuan untuk mendukung the issuance of Sovereign Sharia Securities (SBSN) to
upaya percepatan pembangunan infrastruktur, finance the projects, apart from supporting efforts
pemerintah juga mengharapkan beberapa of infrastructure development acceleration, the
manfaat penerbitan SBSN, antara lain mendukung government also expected some other advantages,
pengembangan pasar keuangan (khususnya pasar among others to support the development of
keuangan syariah), mendorong peningkatan Sharia market (particularly Sharia financial market),
pelayanan umum, pemberdayaan industri to encourage public service increase, to empower
dalam negeri, serta meningkatkan transparansi domestic industry, and to increase transparency
pelaksanaan kegiatan oleh kementerian/lembaga, of the activities implementation by ministries/
karena perkembangan pelaksanaan proyek akan institutions, as the projects implementation were
dipantau oleh investor dan publik. monitored by the investors and the public.

Kewajiban Kontinjensi Contingency Liability

Untuk mendukung percepatan pembangunan To support acceleration of the infrastructure


infrastruktur dan mempertimbangkan besarnya development and considering the large amount of
kebutuhan dana investasi, pemerintah memberikan the investment fund, the government had supported
dukungan berupa penjaminan atas pembiayaan a guarantee of the infrastructure projects financing.
proyek-proyek infrastruktur. Pemberian penjaminan The guarantee provided by the government until
pemerintah sampai dengan Desember 2012 December 2012 included the following programs/
mencakup berbagai program/proyek berikut ini: projects:

1. Program percepatan pembangunan pembangkit 1. Fast track program thase 1 and 2


tenaga listrik Tahap I dan II, 2. Clean water avaliability program provided by the
2. Program percepatan penyediaan air minum Regional Water Utility Company (PDAM);
yang dilaksanakan oleh PDAM, 3. Cooperation program between the government
3. Program Kerjasama Pemerintah dengan Badan and private business entities (KPS / Public Privat
Usaha Swasta (KPS). Partnership).

Sampai dengan Desember 2012, alokasi APBN Until December 2012, the State Budget allocation for
untuk penjaminan pemerintah tidak dicairkan. Hal the government’s guarantee was not disbursed. This

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


208 Annual Report of Ministry of Finance 2012
ini menunjukkan bahwa pengelolaan kewajiban showed that the contingency liability management
kontinjensi telah dilakukan dengan baik sehingga was well performed that no payment failure
tidak terjadi gagal bayar oleh pihak yang dijamin. happened by the guaranteed party.

Tabel 4.31. Nilai Penjaminan Pemerintah dan Alokasi APBN per 31 Desember 2012
Table 4.31. Government’s Guarantee Value and State Budget Allocation per December 31st, 2012

Alokasi Dana Penjamin APBN (Miliar Rupiah)


Jumlah Surat Nilai Jaminan
No Program Penjaminan Jaminan Miliar Rupiah 2012 2012 2012 2012 2012 2012

1 Fast Track Program Fhase 1 (FTP1) 34 74.386,80 283,0 1.000,0 1.000,0 889,0 623,3 611.2
2 Program Percepatan Penyediaan Air Minum 4 95,16 - - 50,0 15,0 10,0 35,0
Clean Water avaliability program
3 Penjaminan Proyek Kerjasama Pemerintah dan 1 30,944,00 - - - - - 59,8
Swasta Public Private Partnership project
4 Fast Track Program Fhase 2 (FTP2) 4 20.347,76 - - - - - -

Jumlah Total 125.773,72 283,0 1.000,0 1.050,0 904,0 633,3 706,0

Catatan: asumsi kurs Rp 9670 perdolar AS Note: Exchange rate assumption IDR9,670

PERIMBANGAN KEUANGAN FISCAL BALANCE

Kebijakan dan Pengelolaan Anggaran Transfer ke Policies and Management of Block Grant
Daerah

Pendanaan pembangunan melalui dana transfer The development financing through block grant
ke daerah merupakan bagian dari pendanaan is a part of the national development financing
pembangunan nasional yang bersumber dari APBN. having its source from the State Budget. The block
Dana transfer daerah ditujukan untuk mendukung grant is aimed at supporting the implementation of
pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah decentralization and regional authonomy through
melalui pembangunan daerah dalam bingkai NKRI. regional development in the Republic of Indonesia.
Dana transfer ke daerah merupakan manifestasi The block grant is a manifestation of the central
dukungan pemerintah pusat terhadap kegiatan government’s support to development in the
pembangunan di daerah. Alokasi dana transfer regions. The transfer fund allocation increases every
mengalami peningkatan setiap tahun seiring makin year in line with the increasingly dynamic needs of
dinamisnya kebutuhan pembangunan di daerah. development in the regions. Transfer fund consists of
Dana transfer terdiri atas (i) Dana Perimbangan dan (i) Balancing Fund and (ii) Special Authonomy Fund
(ii) Dana Otonomi Khusus dan Dana Penyesuaian. and Adjustment Fund.

Berdasarkan peraturan perundang-undangan serta Pursuant to the legislation and with reference
mengacu pada hasil pembahasan antara DPR-RI dan to the discussion result between the House of
pemerintah dalam penyusunan APBN tahun 2012, Representatives and the government in preparing
kebijakan Anggaran Transfer ke Daerah pada tahun the State Budget 2012, the policies of Block Grant in
2012 diarahkan untuk: 2012 were aimed at:

(1) Meningkatkan kapasitas fiskal daerah dan (1) increasing the regional fiscal capacity and
mengurangi kesenjangan fiskal antara pusat dan decreasing fiscal imbalance between the
daerah (vertical fiscal imbalance) dan antardaerah central and regional governments (vertical fiscal
(horizontal fiscal imbalance); imbalance) and among regions (horizontal fiscal
imbalance);

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
209
(2) Menyelaraskan kebutuhan pendanaan di daerah (2) harmonizing the regional needs of fund along
sejalan dengan pembagian urusan pemerintahan with the division between the central, regional,
antara pusat, provinsi, dan kabupaten/kota; and regency/city affairs;
(3) Meningkatkan kualitas pelayanan publik di (3) increasing the quality of public service in the
daerah dan mengurangi kesenjangan pelayanan regions and at decreasing imbalance of the
publik antardaerah; public service among regions;
(4) Mendukung kesinambungan fiskal nasional (4) supporting national fiscal sustainability in the
(fiscal sustainability) dalam rangka kebijakan framework of macroeconomic policies;
ekonomi makro;
(5) Meningkatkan kemampuan daerah dalam (5) increasing the regional capacity in exploring
menggali potensi ekonomi daerah; regional potentials;
(6) Meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber (6) increasing efficiency of the national resources
daya nasional; advantages;
(7) Meningkatkan sinkronisasi antara rencana (7) increasing synchronization between the
pembangunan nasional dengan rencana national development plan and the regional
pembangunan daerah; serta development plan, and
(8) Meningkatkan perhatian terhadap (8) increasing attention to development in isolated,
pembangunan di daerah tertinggal, terluar, outermost, foremost regions post-conflict.
terdepan dan pascakonflik.

Grafik 4.13. Perkembangan Anggaran Transfer ke Daerah Tahun 2007-2012


Graphic 4.13. Development of Block Grant in 2007-2012

Perkembangan Anggaran Transfer Ke Daerah (Miliar Rp.),2007-2012

500,000.0
450,000.0
400,000.0
350,000.0

300,000.0
250,000.0

200,000.0
150,000.0
100,000.0
50,000.0
0.0
2007 2008 2009 2010 2011 2012

DBH DAU DAK Dana Otsus Dana Penyesuaian

Sumber: DJPK Source: Directorate General of Fiscal Balance

Mekanisme penyaluran anggaran transfer ke daerah Mechanism of the block grant distribution continues
terus disempurnakan dengan memutakhirkan to be perfected by updating it according to the policy
mekanisme penyaluran sesuai dengan dinamika of the central and regional government’s financial
kebijakan pengelolaan keuangan pemerintah management. The mechanism is also perfected by
pusat dan daerah. Penyempurnaan itu dilakukan issuing Regulation of the Minister of Finance Number

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


210 Annual Report of Ministry of Finance 2012
dengan menerbitkan PMK 06/PMK.07/2012 tentang PMK 06/PMK.07/2012 on the Implementation and
Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Responsibility of Block Grant. Meanwhile, to increase
Transfer ke Daerah. Sementara untuk meningkatkan transparence, accountability, and legal certainty
transparansi, akuntabilitas, dan kepastian hukum in allocating block grant, as well as planning and
dalam pengalokasian anggaran transfer ke daerah, determining allocation of transfer fund to regions,
serta perencanaan dan penetapan alokasi anggaran which are synergic among the parties involved in the
transfer ke daerah yang sinergis antara pihak-pihak process of determining the allocation of block grant,
yang terlibat dalam proses penetapan alokasi Regulation of the Minister of Finance Number PMK
transfer ke daerah, telah diterbitkan PMK 165/ 165/PMK.07/2012 on Allocation of Block Grant, has
PMK.07/2012 tentang Pengalokasian Anggaran been issued.
Transfer ke Daerah.

Kebijakan Dana Bagi Hasil (DBH) Policy of Revenue-Sharing (DBH)

Perhitungan dan penetapan alokasi Dana Bagi Hasil Calculation and stipulation of Revenue-Sharing
(DBH) kepada daerah diatur dalam UU No. 33 Tahun (DBH) allocation to the regions are regulated in
2004 dan PP No. 55 Tahun 2005. Kebijakan alokasi Law No. 33/2004 and Government Regulation No.
dari tahun ke tahun telah menyempurnakan proses 55.2005. The allocation policy has been perfecting
perhitungan, penetapan alokasi, dan ketepatan the process of calculation, allocation, and time
waktu penyaluran. Kebijakan Dana Bagi Hasil Tahun accuracy for the distribution from year to year. The
2012, yaitu: policy of Revenue-Sharing 2012 included:

1. Meningkatkan akurasi data melalui koordinasi 1. To increase data accuracy through coordination
dengan institusi pengelola PNBP seperti with Non-Tax Revenues (PNBP) managing
Kementerian Kehutanan, Kementerian Kelautan institutions, such as the Ministry of Forestry, the
dan Perikanan, Kementerian ESDM, serta dengan Ministry of Marine and Fisheries, the Ministry of
melibatkan unit-unit Eselon I di lingkungan Energy and Natural Resources, involving Echelon
Kementerian Keuangan (DJA, DJP, dan Ditjen I units at the Ministry of Finance (the Directorate
Perbendaharaan) untuk menyediakan data yang General of Budget, the Directorate General of
lebih akurat; Tax, and the Directorate General of Treasury) to
provide more accurate data.
2. Menyempurnakan proses perhitungan dan 2. To perfect the calculation and stipulation process
penetapan alokasi DBH secara lebih transparan of the Revenue-Sharing allocation in a more
dan terpercaya; transparent and trustworthy way.
3. Menyempurnakan sistem penyaluran DBH lebih 3. To perfect the system of the Revenue-Sharing
tepat waktu; distribution to be more timely.
4. Penyelesaian kurang bayar DBH Sumber Daya 4. To settle a lack of payment of the Natural
Alam (SDA) dan DBH Pajak. Resources Revenue-Sharing and Tax Revenue-
Sharing.

New design transfer dalam pengelolaan DBH telah A new design of transfer in the Revenue-Sharing
dilaksanakan sejak tahun 2008 dan terus dilakukan management was set up in 2008, and it will continue
pengembangan dan perbaikan. Mekanismenya to be developed and improved. The mechanism
antara lain dengan mengubah pola penyaluran DBH includes among others a change in the Revenue-
yang semula murni berdasarkan realisasi penyetoran Sharing distribution pattern from previously purely
PNBP dari hasil rekonsiliasi triwulanan menjadi based on the realization of Non-Tax Revenues
penyaluran dengan pola penggabungan antara (PNBP) deposit from a quarterly reconciliation
penetapan persentase dengan realisasi penyetoran to the distribution based on the incorporating
PNBP melalui rekonsiliasi. pattern between the percentage stipulation and the
realization of Non-Tax Revenues deposit through
reconciliation.

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
211
DBH telah mencapai sasaran sesuai dengan The Revenue-Sharing has achieved its target
Renstra 2010-2014. Pelaksanaannya mengacu pada according to Renstra 2010-2014. The implementation
kebijakan dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 yang refers to Law Number 33/2004 that regulates both the
mengatur bagian pemerintah pusat dan bagian central government’s and the regional government’s
pemda dengan persentase tertentu dari realisasi part with a certain percentage from the deposit
penyetoran ke kas negara dari Penerimaan Negara realization to the state cash from the Tax Revenues
Pajak (PNP) dan PNBP. Jenis DBH dalam UU tersebut and Non-Tax Revenues (PNBP). Under Law Number
ada delapan jenis. Dalam tahun 2005 hingga 2008 33.2004, there are eight types of Revenue-Sharing,
telah dilaksanakan tujuh jenis. Sedangkan satu jenis of which seven types were implemented from 2005
DBH, yaitu panas bumi dilaksanakan mulai tahun to 2008. The remaining one type, Revenue-Sharing
2009. Untuk pertama kalinya, DBH panas bumi pada from geothermal, started to be implemented in
tahun 2009 dibagikan kepada daerah di wilayah 2009. For the first time, Revenue-Sharing from
Provinsi Jawa Barat, yaitu DBH dari PNBP tahun 2006 geothermal in 2009 was distributed to regions in
hingga 2009. West Java province, that was Revenue-Sharing from
Non-Tax Revenues (PNBP) from 2006 to 2009.

Tabel 4.32.Perkembangan Alokasi DBH per Komponen Tahun 2007- 2012 (dalam triliun rupiah)
Table 4.32. Development of Revenue-Sharing Allocation per Component 2007- 2012 (in trillion of rupiahs)

No Komponen Component 2007 2008 2009 2010 2011 2012

A Pajak Tax
1 PBB Property Tax 21,79 22,37 22,8 27,12 27,59 26,03

2 BPHTB BPHTB 4,29 7,35 7,65 7,69 - -


3 PPh Income Tax 7,94 9,98 10,09 10,93 13,16 19,37
4 Cukai HT Tobacco Result Excise - 0,2 0,96 1,2 1,16 1,73
Sub Jumlah (A) Sub total (A) 34,02 39,9 41,5 46,94 42,10 47,13
% Kenaikan % Increase 22,02% 17,28% 4,01% 13,11% -10,31% 11,95%
B Sumber daya Manusia Natural Resources

1 Pertambangan Umum General Mining 2,85 4,24 6,98 7,79 15,14 12,86

2 Kehutanan Ministry 1,52 1,71 1,51 1,75 1,75 1,53

3 Minyak & Gas Oil & Gas 24,46 23,44 17,6 35,196 37,306 47,39
4 Perikanan Fishery 0,20 0,16 0,12 0,12 0,12 0,179
5 Panas Bumi Geothermal - - 0,26 0,305 0,351 0,626
Sub Jumlah (B) Sub total (B) 29,03 29,55 26,82 45,165 54,673 62,60
% Kenaikan % Increase -6,39% 1,79% -9,24% 68,4% 21,05% 14,5%
Total (A+B) Total (A+B) 63,05 69,45 68,32 92,1 96,77 109,98
C
% Kenaikan % Increase 7,06% 10,15% -1,63% 34,81% 4,98% 13,65%
Sumber : DJPK, data diolah Sumber: Directorate General of Fiscal Balance, data processed

Catatan : Note:
• DBH SDA TA 2010 mengacu pada APBN • Revenue-Sharing from Natural Resources
Perubahan 2010 Fiscal Year 2010 referred to State Budget
Review 2010
• DBH SDA TA 2011 mengacu pada APBN • Revenue-Sharing from Natural Resources
Perubahan 2011 Fiscal Year 2011 referred to State Budget
Review 2011

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


212 Annual Report of Ministry of Finance 2012
• DBH SDA TA 2011 mengacu pada APBN • Revenue-Sharing from Natural Resources
Perubahan 2012 Fiscal Year 2012 referred to State Budget
Review 2012

• DBH Pajak TA 2008, 2009 dan 2010 belum • Revenue-Sharing from Tax Fiscal Year 2008,
termasuk Biaya Pemungutan PBB bagian 2009, and 2010 excluded Property Tax
daerah. collection fee for regions.

Pada tahun 2008 dikenal DBH Cukai Hasil Tembakau In 2008, Revenue-Sharing from Tobacco Result
(DBH CHT) berdasarkan UU No 39 Tahun 2007 tentang Excise was introduced pursuant to Law No. 39/2007
Perubahan Atas UU No 11 Tahun 1999 tentang Cukai. on Amendement of Law No. 11/1999 on Excise. In
Pada Tahun 2008 dan 2009 DBH-CHT diberikan 2008 and 2009, Revenue-Sharing from Tobacco
kepada lima daerah di wilayah provinsi penghasil Result Excise was granted to five tobacco-producing
CHT, yaitu Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, regions, including North Sumatra, West Java, Central
D.I. Yogyakarta, dan Jawa Timur. Berbeda dengan Java, D.I, Yogyakarta, and East Java. Unlike Revenue-
DBH SDA pada umumnya yang sifatnya sebagai Sharing from Natural Resources in block grant,
block grant, DBH CHT bersifat specific grant. Revenue-Sharing from Tobacco Result Excise is in
specific grant

Sebagai pelaksanaan ketentuan Pasal 35 UU No 33 As an implementation of the provision Article 35 of


Tahun 2004, DBH SDA minyak dan gas dibagikan Law No. 33/2004, Revenue-Sharing from oil and gas
kepada daerah. Pembagian itu dengan porsi 15,5 is distributed to regions. The portion is 15.5 percent
persen dari PNBP minyak bumi dan 30,5 persen dari from Non-Tax Revenues (PNBP) from oil and 30.5
PNBP gas bumi. Porsi tambahan 0,5 persen yang percent from Non-Tax Revenues (PNBP) from natural
merupakan specific grant, harus dimanfaatkan untuk gas. An additional portion of 0.5 percent is specific
menambah anggaran pendidikan dasar di daerah. grant which must be used as an additional budget
Pembagiannya untuk provinsi/daerah penghasil/ for basic education in the regions. The allocation is
daerah lainnya masing-masing sebesar 0,1 persen, as follows, for provinces/producing regions/other
0,2 persen dan 0,2 persen. regions respectively 0.1 percent, 0.2 percent, and 0.2
percent.

Kebijakan Dana Alokasi Umum (DAU) Policy of General Allocation Fund (DAU)

Kebijakan Dana Alokasi Umum (DAU) tahun 2012 The policies of General Allocation Fund (DAU) in
diarahkan untuk mewujudkan fungsi DAU sebagai 2012 were aimed at realising the fund’s function as
equalization grant, antara lain sebagai berikut. an equalization grant. The policies included:

1. Menerapkan besaran pagu DAU Nasional 1. Stipulating ceiling of the national General
sekurang-kurangnya 26 persen dari Pendapatan Allocation Fund at least 26 percent from the Net
Dalam Negeri Neto (PDNN) ; Domestic Revenues (PDNN);
2. Melanjutkan prinsip non hold harmless, yaitu 2. Following a non hold harmless principle which
prinsip pengalokasian yang memungkinkan enabled a region to obtain a General Allocation
suatu daerah mendapat alokasi DAU yang lebih Fund portion lower than the previous fiscal year;
rendah dari tahun anggaran sebelumnya;
3. Meningkatkan pemerataan kemampuan 3. Increasing the equity of inter-regional financial
keuangan antardaerah, dengan parameter yang capacity, with parameter used to measure the
digunakan untuk mengukur tingkat pemerataan equity of inter-regional financial capacity was
kemampuan keuangan antardaerah adalah Willioamson Index (WI);
Williamson Index (WI);
4. Meningkatkan akurasi data tentang dasar 4. Increasing the accuracy of calculation base data
perhitungan DAU yang bersumber dari lembaga/ of the General Allocation Fund (DAU) from the
instansi yang berwenang. authorized institutions.

Bab 04 | Analisis Kinerja


Chapter 04 | Performance Analysis
213
Guna mendukung pelaksanaan perhitungan DAU To support calculation of the General Allocation
tahun 2012, formula perhitungan tetap diarahkan Fund (DAU) 2012, the calculation formula was still
untuk (i) mendukung fungsi DAU sebagai alat directed (i) to support the General Allocation Fund’s
pemerataan kemampuan keuangan antardaerah; (DAU) function as an equity tool of the inter-regional
(ii) meningkatkan akurasi tentang data dasar financial capacity; (ii) to increase accuracy of the
perhitungan DAU yang bersumber dari lembaga/ calculation base data of the General Allocation
instansi yang berwenang; (iii) alokasi dasar Fund (DAU) from the authorized institutions; (iii) to
memperhitungkan kebijakan-kebijakan yang terkait consider policies related to the raise of basic salary,
dengan kenaikan gaji pokok, formasi CPNS Daerah, formation of regional Civil Servant Candidates,
dan kebijakan-kebijakan lainnya yang terkait and other policies related to remuneration; (iv) to
dengan penggajian; (iv) proporsi DAU sebesar 10 allocate 10 percent of the national General Allocation
persen untuk semua provinsi dan 90 persen untuk Fund (DAU) for all provinces and 90 percent for all
semua kabupaten/kota dari besaran DAU nasional; regencies/municipalities; (v) to still apply the non
(v) tetap melanjutkan penerapan kebijakan non hold hold harmless policy.
harmless.

Sejak tahun 2007, upaya mempercepat perhitungan Since 2007, efforts to accelerate calculation of the
DAU per daerah dengan WI yang terbaik telah General Allocation Fund (DAU) per region with the
dilakukan dengan menggunakan aplikasi berbasis best WI have been made by using an information
teknologi informasi, yaitu dynamic model. Melalui technology-based application, namely dynamic
dynamic model, perilaku dan pengaruh setiap model. Through the dynamic model, the behaviour
variabel dalam formula DAU dapat langsung and impact of each variable in the General Allocation
terlihat dan terkontrol. Sehingga memudahkan Fund (DAU) formula could be directly seen and
operator dan pejabat pengambil keputusan untuk controlled. This facilitated the operator and decision-
mengintegrasikan kebijakan pemerataan antara making officials to integrate the policy of inter-
daerah berdasarkan WI atau Weighted Coeficien of regional equity based on the academic-based WI
Variation yang berbasis akademik. Di samping itu, or Weighted Coeficien of Variation. In addition, the
proses penghitungan dilakukan oleh beberapa calculation was made by some officials and staff as
orang pejabat dan staf sebagai bentuk pengendalian a form of internal control aimed at minimizing any
internal yang bertujuan meminimalisasi kesalahan miscalculation.
penghitungan.

Nilai dan persentase DAU meningkat dari tahun The value and percentage of the General Allocation
ke tahun. Besaran DAU sangat dipengaruhi oleh Fund increases from year to year. The total amount
PDNN yang ditetapkan dalam APBN. PDNN adalah was much affected by the Net Domestic Revenues
penerimaan negara yang berasal dari pajak dan (PDNN) stipulated in the State Budget. The Net
PNBP setelah dikurangi penerimaan negara yang Domestic Revenues is the government revenues
dibagihasilkan kepada daerah. Sesuai pasal 107 UU from tax and non-tax after having been substracted
No. 33 Tahun 2004, sampai dengan tahun 2007 Pagu by the government revenues which have been
DAU Nasional ditetapkan sekurang-kurangnya 25,5 shared with the regions. Pursuant to Article 107 of
persen dari PDNN. Adapun sejak Tahun 2008, sesuai Law No. 33/2004, until 2007, ceiling of the national
Pasal 27, besaran DAU menjadi sekurang-kurangnya General Allocation Fund was stipulated at least 25.5
26 persen dari PDN. Pada APBN 2012 besaran Alokasi percent from the Net Domestic Revenues. Since 2008,
DAU (murni) untuk provinsi, kabupaten, dan kota pursuant to Article 27, the ceiling was stipulated 26
ditetapkan sebesar Rp273.814.438.203.000,00. percent from the Net Domestic Revenues. In the State
Perkembangan DAU dari tahun 2007 hingga 2012 Budget 2012, the (pure) General Allocation Fund for
dapat dilihat dalam Tabel 4.33 dan Grafik 4.33. provinces, regencies, and municipalities amounted
to IDR273,814,438,203,000.00. Development of the
General Allocation Fund from 2007 to 2012 can be
seen in Table 4.33 and Graphic 4.33.

Laporan Tahunan Kementerian Keuangan Tahun 2012


214 Annual Report of Ministry of Finance 2012
Tabel 4.33. Perpres Alokasi DAU Yang Diterbitkan Tahun Anggaran 2007 – 2012
Table 4.33. Presidential Regulation on General Allocation Fund (DAU) Issued for Fiscal Year 2007 – 2012

Perpres (Miliar Rupiah)


Alokasi Tahun Allocation year Jumlah Daerah Number of regions
Presidential Regulation (in billion Rupiah)