You are on page 1of 23

PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)

KEJANG DEMAM
1. PENGERTIAN  Kejang demam adalah bangkitan
kejang yang terjadi pada kenakan suhu
tubuh (diatas 38 C Rektal) tanpa
adanya infeksi susunan saraf pusat,
gangguan elektrolit atau metabolik
lainnya. Kejang yang terjadi pada bayi
dibawah umur 1 bulan tidak termasuk
dalam kejang demam.
 Kejang demam sederhana adalah
kejang yang berlangsung singkat
kurang dari 15 menit bersifat kejang
umum dan tidak berulang dalam 24
jam.
 Kejang demam kompleks adalah
kejang berlangsung lebih 15 menit
bersifat fokal atau parsial satu sisi atau
kejang umum yang didahulu kejang
fokal dan berulang dalam 24 jam.
2. ANAMNESIS  Adanya kejang, jenis kejang, lama
kejang dan kesadaran, interval kejang
dan keadaan anak pasca kejang
 Suhu tubuh saat kejang, sebelum
kejang
 Adanya infeksi diluar SSP seperti
ISPA, ISK, OMA
 Riwayat tumbuh kembang, riwayat
kejang demam dan epilepsy dalam
keluarga
 Singkirkan sebab kejang yang lain
misal diare dan muntah yang
menyebabkan gangguan elektrolit,
sesak nafas yang dapat menimbulkan
hipoksemia, asupan makanan dan susu
kurang yang dapat menimbulkan
hipoglikemia
3. PEMERIKSAAN FISIK  Suhu tubuh (rectal)
 Kesadaran (Glasgow Coma Scale)
 Tanda rangsang meningeal : kaku
kuduk, Brudzinsky I dan II, Kernig
sign, Laseque sign
 Pemeriksaan nervus cranial
 Tanda peningkatan tekanan
intracranial, UUB menonjol, papil
edema
 Tanda infeksi diluar SSP : ISPA, SK,
OMA
 Pemeriksaan neurologi lain : tonus,
motorik, reflex fisiologis dan
patologis
 Pemeriksaan Darah lengkap,
elektrolit, gula darah sewaktu,
urinalisis, kultur darah , urin dan feses
bila dibutuhkan
4. KRITERIA DIAGNOSIS Kriteria Klinis Sesuai definisi Kejang Demam
5. DIAGNOSIS KERJA Kejang demam sederhana atau kejang demam
kompleks
6. DIAGNOSIS BANDING 1. Meningitis
2. Ensefalitis
3. Gangguan keseimbangan elektrolit
4. Generalized Epilepsy with Febrile
Seizure +
5. Severe Myoclonic Epilepsy in Infancy
6. Febrile status epilepticus
7. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan Darah lengkap,elektrolit darah,
gula darah sewaktu, urinalisis, kultur darah ,
urin dan feses tidak diperlukan pada kejang
demam sederhana .
Peringkat bukti ilmiah B
Lumbal pungsi: tidak perlu dilakukan pada
kejang demam sederhana jika tidak ada tanda
meningitis atau riwayat meningitis atau
tanda infeksi intracranial.
Peringkat bukti ilmiah B
EEG: tidak dianjurkan pada kejang demam
sederhana tetapi perlu pada kejang demam
kompleks.
8. TATALAKSANA Medikamentosa :
 Antipiretik: Parasetamol 10-15 mg
/kgBB oral atau drip diberikan setiap 4
jam maksimal 5 kali sehari. Ibuprofen
5 -10 mg/kgBB diberikan 3-4 kali
sehari.
 Anti kejang: diazepam oral 0.3
mg/kgBB setiap 8 jam atau diazepam
rectal 0.5 mg/kgBB setiap 8 jam pada
saat suhu > 38.5 C.
 Pengobatan rumatan jangka
panjang diberikan dengan fenobarbital
3-4 mg/kgBB/hari dibagi 1-2 dosis
atau asam valproat 15-20 mg/kg
BB/hari dibagi 2-3 dosis diberikan
selama satu tahun bebas kejang
kemudian dihentikan bertahap 1-2
bulan.
Pengobatan rumatan diberikan jika kejang
menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut:
 Kejang lama >15 menit
 Kelainan neurologis nyata
sebelum/sesudah kejang seperti
paresis, palsi serebral, retardasi
mental, hidrosefalus
 Kejang fokal
Pengobatan jangka panjang
dipertimbangkan jika:
 Kejang berulang lebih dari 2 kali dlm
24 jam
 Kejang demam pada usia < 12 bulan
 Kejang demam berulang > 4 kali
setahun
9. EDUKASI  Edukasi kemungkinan berulangnya
kejang demam
 Edukasi faktor risiko terjadinya
epilepsi
 Edukasi tanda dini kejang demam
10. PROGNOSIS  Kejang demam sederhana
prognosisnya baik. Pada 482 anak
kejang demam sederhana yang
dipantau selama 1–5 th tidak
ditemukan kematian, disabilitas
intelektual maupun kecacatan. Risiko
epilepsi pada kejang demam sederhana
hanya 1-2%. Sebanyak 30-35% akan
mengalami kejang demam kembali.
Risiko meningkat jika kejang pertama
terjadi pada umur kurang dari 1
tahun, ada riwayat kejang demam pada
saudara kandung, kejang demam
terjadi pada demam yang tidak
begitu tinggi , interval waktu antara
demam dan kejang pendek dan adanya
perkembangan yang abnormal
sebelum kejang.
 Kejang demam kompleks : Risiko
terjadinya epilepsy dikemudian hari
adalah 5 – 10% terutama jika kejang
demam fokal, lama dan ada riwayat
epilepsi dalam keluarga.
11. KEPUSTAKAAN 1. Pudjiadi, AH dkk: Pedoman Pelayanan
Medis. Jilid1, Ikatan Dokter Anak
Indonesia. Jakarta 2010: 150-153
2. Widodo DP: Konsensus Tata Laksana
Kejang Demam dalam Gunardi, H dkk
(Eds) Kumpulan Tips Pediatri. Badan
Penerbit Ikatan Dokter Anak
Indonesia, Jakarta 2010 : 193-203
3. Pusponegoro H: Kejang Demam.
Dalam Current Evidences in Pediatric
Emergencies Management.
Departemen Ilmu Kesehatan Anak.
FKUI/RSCM, Jakarta, 12 – 13 April
2015 ; 92-97
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
PNEUMONIA
1. PENGERTIAN  Infeksi akut parenkim paru yang meliputi
alveolus dan jaringan interstitial.
 Insiden pneumonia pada anak < 5 tahun di
Negara maju adalah 2-4 kasus/100
anak/tahun sedangkan dinegara
berkembang 10-20 kausu /100
anak/tahun.pneumonia menyebabkan lebih
dari 5 juta kematian pertahun pada anak
balita di Negara berkembang.
 Berbagai mikroorganisme dapat
menyebabkan pneumonia, antara lain virus
(RSV / Respiratory syncytial virus, adeno
virus, para influenza virus, influenza
virus), jamur (Mycoplasma pneumonia,
chlamydia pneumonia), dan Bakteri
(Streptococcus pneumonia dan
Staphylococcus epidermidis)
 Faktor lain yg meningkatkan risiko
pneumonia : defek anatomi bawaan, deficit
imunologi, polusi, Gastroesophageal
refluks, aspirasi, gizi buruk, BBLR, tidk
mendapat ASI, imunisasi tidak lengkap,
anggota keluarga yg tinggal serumah
menderita batuk, rumah dengan padat
penghuni.
 Klasifikasi pneumonia berdasarkan
WHO (World Health Organization)
1. Bayi kurang dari 2 bulan :
o Pneumonia berat : napas cepatatau
retraksi yang berat
o Pneumonia sangat berat : tidak mau
menetek/minum, kejang, letargis,
demam atau hipotermia, bradipnea
atau pernapasan ireguler.
2. Anak umur 2-5 tahun :
o Pneumonia ringan : napas cepat
o Pneumonia berat : retraksi
o Pneumonia sangat berat : tidak dpat
minum/makan, kejang, letargis,
malnutrisi
2. ANAMNESIS 1. Batuk awalnya kering menjadi
produktif dengan dahak purulen –
berdarah
2. Sesak nafas
3. Demam
4. Kesulitan makan/minum
5. Tampak lemah
6. Serangan pertama atau berulang,
untuk dapat membedakan dengan
konsidi imunokompromais, kelainan
anatomi bronkus atau asma
3. PEMERIKSAAN FISIK Penilaian keadaan umum anak, frekuensi
nafas, nadi harus dilakukan pd awal
pemeriksaan sebelum pemeriksaan lain yang
dpt menyebabkan anak gelisah atau rewel
Penilaian keadaan umum antara lain meliputi
kesadaran dan kemampuan makan-minum
Gejala distress pernapasan seperti takipnea,
retraksi subcostal, batuk, krepitasi dan
penurunan suara paru
Demam dan sianosis
Anak dibawah 5 tahun mungkin tidak
menunjukkan gejala pneumonia klasik. Pada
anak yang demam dan sakit akut terdapat
gejala nyeri yang diproyeksikan ke abdomen.
Pada bayi muda terdapat gejala pernapasan
tidak teratur dan hypopnea.
4. KRITERIA DIAGNOSIS Kriteria rawat inap :
1. Bayi :
a. Saturasi Oksigen ≤ 92%
b. Frekuensi naoas >60 x/mnt
c. Distress pernapasan, apneu
intermiten, grunting
d. Tidak mau minum/menetek
e. Keluarga tidak dapat merawat
dirumah
2. Anak :
a. Saturasi oksigen <92% ,
sianosis
b. Frekuensi napas >50 x/mnt
c. Distress pernapasan
d. Grunting
e. Terdapat tanda dehidrasi
f. Keluarga tidak dapat merawat
dirumah
5. DIAGNOSIS KERJA Pneumonia
6. DIAGNOSIS BANDING  Bronkiolitis
 Aspirasi benda asing
 Tuberculosis paru
 Asma bronkhiale
7. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan radiologi
 Foto dada tidak direkomendasikan
secara rutin pada anak dengan infeksi
saluran napas bawah ringan tanpa
komplikasi.
 Pemeriksaan foto dada
direkomendasikan pada penderita
pneumonia yang dirawat inap atau bila
tanda klinis yang ditemukan
membingungkan.
 Pemeriksaan foto dada follow up hanya
dilakukan bila didapat adanya kolaps
lobus, kecurigaan terjadi komplikasi,
pneumoni berat, gejala yg menetap
atau memburuk atau tidak respon
terhadap antibiotic
pemeriksaan laboratorium
 pemeriksaan jumlah leukosit dan
hitung jenis leukosit perlu dilakukan
untuk membantu menentukan
pemberian antibiotic
 pemeriksaan kultur dan pewarnaan
gram sputum dengan kualitas yang
baik direkomendasikan dalam
tatalaksana anak dengan pneumonia
berat.
 Kultur darah tidak direkomendasikan
secara rutin pada pasien rawat jalan,
tetapi direkomendasikan untuk pasien
rawat inap dengan kondisi berat dan
pada setiap anak yang dicurigai
menderita pneumonia bacterial.
 Pada anak kurang dari 18 bulan
dilakukan pemeriksaan untuk deteksi
antigen virus dengan atau tanpa kultur
virus jika fasilitas tersedia.
 Jika ada efusi pleura dilakukan pungsi
cairan pleura dan pemeriksaan
mikroskopis, kultur, serta deteksi
antigen bakteri untuk penegakan
diagnosis untuk menentukan mulainya
pemberian antibiotic
 Pemeriksaan CRP,LED dan
pemeriksaan fase akut lain tidak
dapatmembedakan infeksi viral dan
bacterial dan tidak direkomendasikan
sebagai pemeriksaan rutin.
 pemeriksaan uji tuberculin selalu
dipertimbangkan pada anak dengan
riwayat kontak dengan penderita TBC
dewasa
8. TATALAKSANA  Pasien dengan saturasi oksigen ≤ 92% pada
saat bernapas dengan udara kamar harus
diberikan terapi oksigen dengan nasal
kanul, head box atau sungkup untuk
mempertahankan saturasi > 92%
 Pada pneumonia berat atau asupan peroral
kurang diberikan cairan inravena dan
dilakukan balans cairan ketat.
 Fisioterapi dada tidak bermanfaat dan tidak
direkomendasikan untuk anak dengan
pneumonia.
 Antipiretik dan analgetik dapat diberikan
untuk menjaga kenyamanan pasien dan
mengontrol batuk.
 Nebulasi dengan ᵦ2-agonis dan/atau NaCL
memperbaiki transport mukosiliar.
 Pasien dengan terpi oksigen harus
diobservasi setidaknya setiap 4 jam sekali
termasuk pemeriksaan saturasi oksigen
 Pemberian antibiotic :
 Amoksilin merupakan pilihan pertama
untuk antibiotic oral pada anak < 5 tahun
karena efektif melawan sebagian besar
pathogen yang menyebabkan pneumonia
pada anak, ditoleransi dengan baik dan
murah. Alternative lain : coamoxiclav,
ceflacor, eritromisin, claritromisin dan
azitromisin.
 M.pneumoniae lebih sering terjadi pada
anak yang lebih tua maka antibiotic
golongan makrolid diberikan sebagai
pilihan pertama secara empiris pada anak
>5 tahun.
 Makrolid diberikan jika M.pneumoniae
atau C.pneumoniae diduga sebagai
penyebab
 Amoksilin diberikan sebagai pilihan utama
juka S.pneumoniae diduga sebagai
pnyebab
 Jika S.aureus dicurigai sebagai penyebab,
diberikan macrolid atau kombinasi
flucloxacillin dengan amoksisilin.
 Antibiotic intravena diberikan pada pasien
pneumonia berat yang tidak dapat
menerima obat peroral.
 Antibiotic intravena yang dianjurkan :
ampicillin dan kloramfenikol,
coamoxiclav, ceftriaxone, cefuroxime dan
cefotaxime.
 Pemberian antibiotic oral harus
dipertimbangkan jika terdapat perbaikan
setelah mendapat antibiotic intravena.
9. EDUKASI Imunisasi sesuai dengan yang dianjurkan dapat
mencegah pneumonia akibat mikroorganisme
terkait.
Perbaikan hiegine umum, hindari kontak
dengan orang dewasa/anak yang menderita
infeksi saluran napas.
10. PROGNOSIS Prognosis dapat diamati berdasarkan derajat
keparahan pneumonia, kondisi klinis
penderita, jenis organisme penyebab, kondisi
kronis pneumonia serta keadaan gizi penderita.
Pemberian antibiotic yang tepat dan adekuat
dapat menurunkan mortaitas pneumonia
sampai kurang dari 1 %
11. KEPUSTAKAAN Pudjiadi AH dkk (Eds) : Pedoman Pelayanan
Medis. Jilid 1 , Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Jakarta 2010 : 250-255
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
DENGUE HEMORAGIC FEVER
1. PENGERTIAN Suatu penyakit infeksi akut yang disebabkan
oleh virus Dengue yang mempunyai 4
serotipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3,
DEN-4, di Indonesia DEN-3 merupakan
serotipe dominan dan berhubungan dengan
kasus berat.
2. ANAMNESIS 1. Demam mendadak tinggi 2 – 7 hari
2. Lesu tidak mau makan dan muntah
3. Pada anak besar mengeluh sakit kepala,
nyeri otot dan nyeri sendi
4. Perdarahan yang sering ditemukan
adalah perdarahan kulit dan epistaksis

5. Dijumpai adanya kasus DHF di


sekolah, lingkungan sekitar rumah

3. PEMERIKSAAN FISIK 1. Demam mendadak tinggi terus


menerus (kontinyu) disertai facial
flush. Muntah, nyeri kepala, nyeri otot
dan sendi, nyeri retroorbital
Hepatomegali
2. Perembesan plasma pada rongga pleura
dan peritoneal
3. Perdarahan dapat berupa petekiae,
ekimosis, purpura, epistaksis,
hematemesis, melena maupun
hematuria
4. Fase kritis sekitar hari ke 3 hingga
ke 5 perjalanan penyakit. Penurunan
suhu tubuh dapat merupakan tanda
awal penyembuhan tetapi dapat pula
merupakan awal syok pada DBD

4. KRITERIA DIAGNOSIS Kriteria Klinis:


1. Demam 2-7 hari, mendadak tanpa
sebab yang jelas
2. Manifestasi perdarahan : uji
tourniquet (tidak selalu positif) ,
petekie, ekimosis, purpura, perdarahan
mukosa, gusi dan epistaksis,
hematemesis dan atau melena
3. Pembesaran hati
4. Perembesan plasma ditandai dengan
hipoalbuminemia,
5. Peningkatan Ht > 20% dibanding
pemeriksaan awal atau data Ht sesuai
umur, efusi pleura atau asites
6. Tanda-tanda syok : gelisah, nadi cepat
lemah tekanan nadi turun, hipotensi,
akral dingin, kulit lembab, Capillary
Refill Time > 2 detik
Kriteria Laboratorium
1. Trombositopenia < atau = 100.000/dl
2. Hemokonsentrasi, peningkatan
hematokrit > 20% dibandingkan data
awal atau sesuai dengan umur

Demam disertai dengan dua atau lebih


manifestasi klinis, ditambah bukti perembesan
plasma dan trombositopenia cukup untuk
menegakkan diagnosis DHF

5. DIAGNOSIS KERJA Dengue Haemoragic Fever dibagi 4 kelompok


 DHF derajat 1
 DHF derajat 2
 DHF derajat 3
 DHF derajat 4

6. DIAGNOSIS BANDING  Dengue Fever


 Chikungunya Fever
 Typhoid fever
7. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Darah rutin : Hb, Ht, Leukosit,
Trombosit
2. Serologi : IgG dan IgM Anti Dengue
(setelah hari keempat demam, IgM
muncul lebih cepat IgG muncul lebih
lambat tetapi pada infeksi dengue
sekunder IgG muncul lebih cepat )
3. NS1 (terutama hari pertama sampai
ketiga dan umumnya menghilang pada
hari kelima demam)
4. WIDAL atau Ig M Salmonella typhi
5. SGOT/SGPT
6. Albumin darah
7. foto Thorax (sesuai indikasi)
8. TATALAKSANA DHF tanpa syok (derajat I & 2)
 Medikamentosa :
a. Antipiretik dapat diberikan,
dianjurkan paracetamol bukan
aspirin
b. Diusahakan tidak memberikan
obat-obatan yg tidak diperlukan
(misal, antacid,antiemetic) untuk
mengurangi beban detoksifikasi
obat dalam hati.
c. Kortikosteroid diberikan pada DHF
ensefalopati, apabila terdapat
perdarahan saluran cerna
kortikosteroid diberikan
d. Antibiotic diberikan pada DHF
ensefalopati
 Suportif:
a. Mengatasi kehilangan cairan
plasma sebagai akibat
peningkatan permeabilitas
kapiler dan perdarahan
b. Kunci keberhasilan terletak
pada kemampuan mengatasi
masalah peralihan dari fase
demam ke fase syok disebut
dengan time of fever
differvesence dengan baik
c. Cairan intravena diperlukan
apabila :
 Anak terus menerus
muntah, tidak mau minum,
demam tinggi, dehidrasi
yang dpat mempercepat
terjadinya syok
 Nilai hematocrit cenderung
meningkat pada
pemeriksaan berkala
DHF Disertai Syok (Dengue Syok Syndrome,
Derajat 3 dan 4)
Penggantian volume plasma segera, cairan
intravena larutan RL 10-20 ml/kgbb secara
bolus diberikan dalam waktu 30 menit.
Apabila syok belum teratasi etap berikan RL
20 ml/kgbb ditambah koloid 20-30
ml/kgbb/jam maksimal 1500ml/hr.
Pemberian cairan 10 ml/kgbb/jam tetap
diberikan 1-4 jam pasca syok. Volume cairan
diturunkan menjadi 7 ml/kgbb/jam,
selanjutnya 5 ml dan 3 ml apabila tanda vital
dan diuresis baik.
Jumlah urine 1 ml/kgbb/jam merupakan
indikasi bahwa sirkulasi membaik
Pada umumnya cairan tidak perlu diberikan
lagi pada 48 jam setelah syok teratasi
Oksigen 2-4 ml/menit pada DHF Syok
Koreksi asidosis metabolic dan elektrolit pada
DHF Syok
Indikasi pemberian darah :
“Terdapat perdarahan secara klinis”
 setelah pemberian cairan kristaloid dan
koloid, syok menetap, hematocrit
turun, diduga telah terjadi perdarahan,
berikan darah segar 10 ml/kgbb.
 Apabila kadar hematocrit tetap >40 vol
% maka diberikan darah volume kecil
 Plasma segar beku dan suspense
trombosit berguna untuk koreksi
gangguan koagulopati atau koagulasi
intravaskula diseminata pada syok
berat yang menimbulkan perdarahan
massif
 Pemberian tranfusi suspense trombosit
pada koagulasi intravascular
diseminata harus disertai plasma segar
untuk mencegah perdarahan hebat.

DHF Ensefalopati
Pada ensefalopati cenderung terjadi edema
otak dan alkalosis, maka bila syok telah
teratasi , cairan diganti dengan cairan yang
tidak mengandung HCO3 dan jumlah cairan
segera dikurangi. Larutan RL segera ditukar
dengan NaCl (0.9%) : glukosa (5%) = 3:1

9. EDUKASI 1. Edukasi ttg dasar diagnosis terapi dan


perjalanan penyakit
2. Higiene lingkungan, mencegah
berkembang biaknya Aedes aegypti
dalam genangan air dilingkungan
rumah, sekolah dan tempat berkumpul
manusia lainnya
3. Edukasi mengenali tanda dini dan
komplikasi DemamDengue/DHF dan
kapan merujuk ke fasilitas kesehatan
10. PROGNOSIS  Baik pada Demam Dengue dan DHF
derajat 1 dan 2
 Buruk pada DHF derajat 3 dan 4
apabila terlambat ditangani. Angka
kematian th. 2008-2013 di 6 RS
Pendidikan di Indonesia Demam
Dengue 0.08%, DHF 0.36%, DSS 7.81.
Keseluruhan 1.39%
11. KEPUSTAKAAN 1. Hadinegoro, SR, Moedjito, I, Chairulfatah
A : Pedoman Diagnosis dan Tatalaksana
Infeksi Virus Dengue pada Anak. UKK
Infeksi dan Penyakit Tropis IDAI.
Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak
Indonesia . Jakarta 2014
2. Pudjiadi AH dkk(Eds) : Pedoman
Pelayanan Medis. Jilid 1 ,Badan Penerbit
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta
2010: 141 – 149
3. Satari, HI: Petunjuk Praktis Terapi
Cairan Demam Berdarah Dengue.
Dalam Kumpulan Tips Pediatri.
Gunardi, H (Eds) Badan Penerbit
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta.
2011 : 81-93
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
DEMAM TIFOID
1. PENGERTIAN Demam Tifoid merupakan penyakit sistemik
akut yang disebabkan oleh infeksi kuman
Salmonella typhi atauSalmonella paratyphi.
2. ANAMNESIS 1. Prolonged fever (38,8°-40,5°C)
2. Sakit kepala
3. Menggigil
4. Batuk
5. Berkeringat
6. Myalgia
7. Malaise
8. Arthralgia
9. Gejala gastrointestinal: anoreksia, nyeri
abdomen, mual, muntah, diare, konstipasi.
3. PEMERIKSAAN FISIK 1. Suhu badan meningkat.
2. Bradikardi relative (peningkatan suhu 1°C
tidak diikuti peningkatan denyut nadi
8x/menit)
3. Lidah yang berselaput (kotor di tengah,
tepi dan ujung merah serta tremor)
4. Hepatomegali
5. Splenomegaly
6. Meteorismus
7. Gangguan mental: somnolen, stupor,
koma, delirium atau psikosis.
 KRITERIA DIAGNOSIS 1. Suhu badan meningkat.
2. Gejala gastrointestinal: anoreksia, nyeri
abdomen, mual, muntah, diare, konstipasi.
3. Bradikardi relative
4. Lidah yang berselaput
5. Uji Widal

Kriteria rawat inap:


 Pasien dengan muntah persisten
 Diare hebat hingga muncul tanda
dehidrasi
 Distensi abdomen
4. DIAGNOSIS KERJA Demam Tifoid
5. DIAGNOSIS BANDING  Demam dengue
 Malaria
 Enteritis bacterial
6. PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium
1. Darah perifer lengkap sering:
leukopenia, anemia dan
trombositopenia.
2. Uji Widal: bila kenaikan 4 kali titer
antibody O dan H pada specimen yang
diambil pada jarak 2 minggu
3. Kultur darah, feses dan urin
4. Uji TUBEX
5. Typhidot
6. Dipstick
7. Enzyme linked immunosorbent assay
(ELISA)

7. TATALAKSANA Trilogi penatalaksanaan Demam Tifoid, yaitu:


Diet (pemberian makanan
padat dini, Menghindari sementara
sayuran yang berserat)
Terapi penunjang (simptomatik)
Pemberian antimikroba
Pemberian antimikroba pilihan utama:
Kloramfenikol 4x500 mg (50-70 mg/KgBB)
14-21 hari atau sampai dengan 7 hari bebas
demam.
Alternatif lain:
Tiamfenikol 4x500 mg
Kotrimoksazol 2x960 mg selama 2 minggu
Ampisilin dan amoksisillin 50-150 mg/Kg BB
selama 2 minggu
Sefalosporin generasi III: seftriakson 3-4
gram dalam dekstrosa 100 cc selama ½ jam
per-infus sekali sehari, selama 3-5 hari

Sefotaksim 2-3x1 gram, Sefoperazon 2x1


gram
Fluorokuinolon
• Norfloksasin 2x400 mg/hari selama 14 hari
• Siprofloksasin 2x500 mg/hari
(15mg/KgBB) selama 5-7 hari
• Ofloksasin 2x400 mg/hari (15 mg/KgBB)
selama 5-7 hari
• Perfloksasin 400 mg/hari selama 7 hari
• Fleroksasin 400 mg/hari selama 7 hari
8. EDUKASI  Edukasi mengenai kebersihan air,
makanan, dan
 sanitasi
 Vaksinasi
9. PROGNOSIS Jika tidak diobati, angka kematian pada
demam tifoid
10-20%, sedangkan pada kasus yang
diobati angka
mortalitas tifoid sekitar 2%. Kebanyakan
kasus kematian
berhubungan dengan malnutrisi, balita, dan
lansia. Pasien
usia lanjut atau pasien debil prognosisnya
lebih buruk.
Bila terjadi komplikasi, maka prognosis
semakin buruk.
Relaps terjadi pada 25% kasus.
10. KEPUSTAKAAN 1. Peters CJ. Infections Caused by Arthopod
and Rodent Borne viruses, In: Longo
Fauci Kasper, Harrison‟s Principles of
Internal Medicine 17th edition. United
States of America. McGrow Hill. 2008
2. Widodo D. demam Tifoid. Buku Ajar
penyakit Dalam.Edisi 5. Jakarta. Pusat
Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam; 2797-
2805.
3. Parry Christopher M, Hien Trans tinh.
Thyphoid fever.N Engl J Med 2002; 347:
1770-1782
4. Herath. Early Diagnosis of Typhoid
Fever by the detection on Salivary IgA.
J Clin Pathol 2003: 56: 694-698
5. Alwi I, Salim S, Hidayat R, Kurniawan
J,Tahapary D,editors. Panduan Praktik
Klinis Penatalaksanaan di Bidang ilmu
Penyakit Dalam. Indonesia. Interna
Publishing. 2015.P892-898.
6. Background document: The diagnosis, and
prevention of typhoid fever.
Communicable Disease Surveillance and
Response vaccines and Biologicals. World
Health Organization. 2003
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
DIARE AKUT
1. PENGERTIAN Diare akut adalah buang air besar lebih dari 3
kali dalam 24 jam dengan konsistensi cair dan
berlangsung kurang dari 1 minggu. Menurut
Riset kesehatan Dasar 2007, diare merupakan
penyebab kematian pada 42% bayi dan
25,2%
anak usia 1 – 4 tahun
2. ANAMNESIS 1. Lama berlangsungnya diare, frekuensi
diare sehari, warna feses, adakah lendir
atau lendir darah dalam feses
2. Adakah muntah, rasa haus, rewel, anak
lemah, kesadaran menurun, kapan buang
air kecil terakhir, demam, sesak nafas,
kejang, perut kembung
3. Jumlah cairan yang masuk selama diare
4. Jenis makanan dan minuman yang
dimakan/minum selama diare
5. Apakah mengkonsumsi makanan
minuman yang tidak biasa
6. Apakah terdapat penderita diare
disekitarnya
7. Bagaimana dengan sumber air minum
3. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum, kesadaran dan tanda vital
Tanda Utama :
 gelisah, rewel, lemah/ letargi/ coma, rasa
haus, turgor kurang atau buruk
Tanda tambahan :
 ubun-ubun besar,kelopak mata, air mata,
mukosa bibir, mulut dan lidah
 Nafas cepat dan dalam (nafas Kuszmaull)
tanda asidosis metabolic
 Kejang karena gangguan keseimbangan
elektrolit (hipo atau hipernatremia),
kembung (hipokalemia)
 Berat Badan
 Penilaian derajat dehidrasi
4. KRITERIA DIAGNOSIS  Diare akut tanpa dehidrasi (kehilangan
cairan <5% berat badan.
a. Tidak ditemukan tanda utama dan
tanda tambahan
b. Keadaan umum baik,sadar
c. Ubun-ubun besar tidak cekung,
mata tidak cekung, air mata ada,
mukosa mulut dan bibir basah
d. Turgor bdomen baik, bising usus
normal
e. Akral hangat
 Diare akut dengan dehidrasi ringan
sedang/tidak berat (kehilangan cairan
5-10% berat badan)
a. Apabila didapatkan 2 tanda utama
ditambah 2 atau lebih tanda
tambahan
b. Keadaan umum gelisah atau
cengeng
c. Ubun-ubun besar sedikit cekung,
mata sedikit cekung, air mata
kurang, mukosa mulut dan bibir
sedikit kering
d. Turgor kurang, akral hangat
 Dehidrasi berat (kehilangan cairan
>10% Berat badan)
a. Apabila didapatkan dua tanda
utama dan 2 atau lebih tanda
tambahan
b. Keadan umum lemah,letargi,atau
koma
c. Ubun-ubun cekung,mata sangat
cekung, air mata tidak ada,
mukosa mulut dan bibir sangat
kering
d. Turgor sangat kurang dan akral
dingin
e. Pasien harus rawat inap
5. DIAGNOSIS KERJA Diare akut dengan atau tanpa dehidrasi
6. DIAGNOSIS BANDING  Keracunan makanan
 Disentri baksiler
 Disentri amuba
7. PEMERIKSAAN PENUNJANG  Pemeriksaan feses lengkap
 Analisis elektrolit
 Analisis gas darah bila perlu pada
dehidrasi berat dengan asidosis
8. TATALAKSANA Lintas diare :
1. Cairan
2. Zinc
3. Nutrisi
4. Antibiotic yang tepat
5. Edukasi
Tanpa dehidrasi
 Cairan rehidrasi ORALIT dengan
menggunakan NEW ORALIT
diberikan 5-10 ml/kg BB setiap diare
cair atau berdasarkan usia, umur <1
tahun sebanyak 5-100 ml, umur 1-5
tahun sebanyak 100-200 ml dan umur
di atas 5 tahun semaunya. Dapat
diberikan cairan rumah tangga sesuai
kemauan anak. ASI harus terus
diberikan.
 Pasien dapat dirawat dirumah, kecuali
apabila terdapat komplikasi lain (tidak
mau minum,muntah teru menerus,diare
frekuen dan profus).
Dehidradi ringan-sedang
 Cairan rehidrasi oral (CRO)
hipoosmolar diberikan sebanyak 75
ml/kgBB dalam 3 jam untuk mengganti
kehilangan cairan yang telah terjadi
dan sebanyak 5-10 ml/kgBB setiap
diare cair.
 Rehidrasi parenteral (intravena)
diberikan bila anak muntah setiap
diberikan minum walaupun telah
diberikan dengan cara sedikit demi
sedikit atau melalui pipa nasogastric.
Cairan intravena yang diberikan adalah
Ringer Laktat atau KaEN 3B atau NaCl
dengan jumlah cairan dihitung
berdasarkan Berat Badan . status
hidrasi dievaluasi secara berkala.
o Berat badan 3-10 kg : 200
ml/kgBB/hari
o Berat badan 10-15 kg : 175
ml/kgBB/hari
o Berat badan >15 kg : 135
ml/kgBB/hari
 Pasien dipantau di puskesmas atau RS
selama proses rehidrasi sambil
memberi edukasi tentang melakukan
rehidrasi kepada ortu
Dehidrasi berat
 Diberikan cairan rehidrasi parenteral
dengan ringer laktat atau ringer asetat
100 mL/kgBB dengan cara pemberian
:
 Umur <12 bulan : 30 ml/kgBB dalam 1
jam pertama dilanjutkan 70 ml/kgBB
dalam 5 jam berikutnya
 Umur >12 bulan : 30 ml/kgBB dalam
½ jam pertama dilanjutkan 70 ml/kgBB
dalam 2,5 jam berikutnya
 Masukan cairan peroral diberikan bila
pasien sudah mau dan dapat minum,
dimulai dengan 5 mL /kgBB selama
proses rehidrasi
Medikamentosa :
 Tidak boleh diberikan obat anti diare
 Antibiotic diberikan bila ada indikasi
misalkan disentri atau kolera.
Pemberian antibiotic tidak rasional
dapat mengganggu keseimbangan flora
usus sehingga memperpanjang lama
diare dan clostridium difficile akan
tumbuh sehingga diare sulit
disembuhkan. Untuk disentri basiler
antibiotic dapat diberikan sesuai data
sensitivitas setempat, bila tidak
memungkinkan dapat mengacu pada
data publikasi yang dipakai saat ini,
yaitu kotrimoksazol sebagai lini
pertama.
 Antiparasit metronidazole 50
mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis
merupakan obat pilihan untuk amoeba
vegetative.
9. EDUKASI Langkah promotif /preventif :
 ASI tetap diberikan
 Kebersihan perorangan,cuci tangan
sebelum makan
 Kebersihan lingkungan,buang air
besar di jamban
 Immunisasi campak
 Memberikan makanan penyapihan
yang benar
 Penyediaan air minum yg bersih
 Selalu memasak makanan
Orangtua diminta untuk membawa kembali
anaknya ke pusat pelayanan kesehatan bila
ditemukan : demam, tinja berdarah, makan
atau minum sedikit, sangat haus,diare makin
sering atau belum membaik dalam 3 hari.
Orangtua atau pengasuh diajarkan cara
menyiapkan oralit secara benar.
10. PROGNOSIS Baik jika tidak dalam dehidrasi berat dan
buruk jika terlambat mendapat pengobatan di
fasilitas kesehatan
11. KEPUSTAKAAN Pudjiadi AH dkk (Eds) : Pedoman Pelayanan
Medis. Jilid 1 , Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Jakarta 2010 : 58 - 62
Hegar, B dalam Gunardi ,H dkk (Eds) :
Kumpulan Tips Pediatri. Badan Penerbit
Ikatan Dokter Anak Indonesia,Jakarta 2010 :
64-69
PANDUAN PRAKTEK KLINIK
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK

RUMAH SAKIT ISLAM BONTANG


2019