You are on page 1of 3

Asal Usul dan Perkembangan Pengobatan Cina

Dalam catatan sejarah cina kuno, Shennong (神) dipercaya sebagai dewa petani. Dia
mengajarkan masyarakat bagaimana cara bercocok tanam dan melakukan sistem barter. Selain
itu, Shennong juga dijuluki sebagai dewa ahli pengobatan cina. Menurut legenda, Shennong
pergi ke gunung untuk mencoba mencicipi seluruh jenis tanaman herbal dan mengalami
keracunan tumbuhan sebanyak 70 kali. Ususnya yang membusuk menyebabkan Shennong
akhirnya meninggal dunia. Hal ini ia lakukan agar orang-orang dapat belajar cara menggunakan
obat-obatan herbal untuk mengobati berbagai jenis penyakit yang ada.

Dari cerita di atas, tercermin adanya proses yang tidak mudah yang dialami rakyat
pekerja pada zaman dahulu kala dalam menemukan obat dan mengumpulkan pengalaman
sebagai proses perjuangan terhadap alam dan penyakit. Hal ini juga merupakan gambaran
sebenarnya asal usul pengobatan tradisional cina.

Pada jaman dahulu, TCM dikembangkan untuk kesembuhan kaisar dan keluarganya.
Pada saat kaisar sakit, para tabib akan mengumpulkan penduduk yang sakit dengan gejala yang
sama, kemudian diujicobakan secara langsung dengan berbagai alternatif obat hasil racikan
tabib tersebut. Hasil percobaan obat yang manjur akan diberikan kepada kaisar.

Pada zaman dinasti-dinasti Xia, Shang dan Zhou (sekitar akhir abad ke-22 sebelum
Masehi sampai tahun 256 sebelum Masehi), sudah muncul arak obat dan cairan untuk obat di
Cina. Penemuan obat-obat tersebut kemudian diujicobakan dan dicatat oleh ahli kedokteran
sejak awal dinasti Qin, sehingga muncul karya khusus farmakologi yang paling tua, yaitu Kitab
Klasik Ramuan Obat Shennong pada zaman dinasti Qin dan dinasti Han (221 sebelum
Masehi—220 Masehi). Lahirnya karya tersebut menandakan munculnya farmakologi
tradisional cina yang pertama.

Kemakmuran ekonomi pada zaman Dinasti Tang (618—907 Masehi) juga telah
mendorong perkembangan farmakologi tradisional cina. Pemerintah Dinasti Tang telah
menyelesaikan penyusunan Kitab Klasik Ramuan Obat Dinasti Tang. Selanjutnya, pada
Dinasti Ming (1368— 1644 Masehi), ahli farmakologi tradisional Li Shizhen telah
menyelesaikan penulisan karya besar farmakologi tradisional cina— Compendium of Materia
Medica. Buku ini merupakan karya terbesar dalam sejarah kitab klasik ramuan obat di Cina.

Setelah berdirinya Republik Rakyat Cina pada tahun 1949, sejumlah penelitian yang
luas mengenai botani, kimia, farmakologi, kedokteran klinis mengenai obat tradisional cina
telah dilakukan oleh para ahli. Penelitian ini juga memberikan dasar ilmiah untuk menerangkan
bahan dasar obat, pengidentifikasian keaslian obat dan mekanisme
kerjanya. Atas dasar penelitian tersebut, tahun 1961 telah disusun Catatan Obat Tradisional
Cina. Catatan ini merupakan cikal bakal terbitnya Kamus Besar Obat Tradisional Cina di tahun
1977. Dalam kamus tersebut tercantum 5.767 jenis obat tradisinal Cina. Besamaan dengan itu,
berbagai macam kamus, artikel, surat kabar dan majalah tentang obat tradisional
Cina bermunculan susul menyusul. Selain itu, berbagai macam lembaga riset ilmiah,
pengajaran dan produksi berturut-turut didirikan. Obat tradisional yang diproduksi Cina selain
untuk memenuhi kebutuhan pengobatan dalam negeri, juga telah diekspor ke berbagai negara
di dunia.

Meluasnya pengaruh TCM turut mempengaruhi teknik pengobatan di dunia, salah


satunya di Jerman. Sudah banyak dokter Jerman yang telah menerima dan menggunakan TCM,
terutama dalam menangani penyakit kronis. Tidak hanya dalam pengobatan, di beberapa
fakultas kedokteran, TCM telah menjadi mata pelajaran pelengkap. Beberapa klinik TCM juga
telah dibuka di sana.

Selain di Jerman, TCM juga tersebar sampai ke negara-negara Asia, seperti Indonesia.
TCM masuk ke Indonesia seiring berkembangnya komunitas Tionghoa di Nusantara. Berbagai
bentuk pengobatan seperti akupuntur, pijat, refleksi dan sebagainya juga semakin memarak di
Indonesia. TCM yang semakin menjamur pun seringkali dapat kita lihat pada iklan-iklan di
beberapa stasiun televisi.

Dasar pemikiran dari TCM adalah teori YinYang dan teori Wu-Xing. Kedua teori
tersebut mennyebutkan bahwa ada hubungan antara tubuh manusia dengan alam dan
lingkungan. Manusia adalah bagian dari alam, sedangkan alam memiliki kaidah dan hukum-
hukumnya. Jadi, kaidah dan hukum alam pasti berlaku bagi alam (makrokosmos), dan akan
berlaku pula bagi manusia (mikrokosmos), atau kaidah alam akan diproyeksikan kepada
manusia.

Teori Yin-Yang ( 阴 - 阳 ) merupakan suatu konsepsi pandangan hidup Taoisme yang


bersifat universal. Teori ini menyatakan bahwa segala fenomena di alam semesta mempunyai
dua aspek yang berpasangan dan berlawanan, yakni Yin (阴) yang dalam Kamus Bahasa Cina
bermakna gelap, Yang ( 阳 ) yang dalam Kamus Bahasa Cina bermakna terang. Yin-Yang yang
saling berpasangan dan berlawanan meliputi fenomena seperti dingin-panas, gelap-terang,
lemah-kuat, dalam-luar, pasif-aktif, statisdinamis, turun-naik, dan lain-lain.7 Aspek-aspek
tersebut selalu berada dalam keadaan perubahan dinamis untuk menjamin keseimbangannya.
Adanya keseimbangan antara Yin dan Yang dalam tubuh bertujuan untuk mempertahankan
hubungan yang harmonis dalam tubuh sehingga mencapai kesehatan fisik dan umur panjang.

Teori Wu-Xing (五行) yang sudah dikenal sejak zaman dahulu, merupakan teori

berdasarkan lima unsur di bumi yaitu kayu, api, tanah, logam, dan air. Teori Wu-Xing
menyatakan, lima unsur yang merupakan bahan dasar dalam pembentukan alam semesta,
berhubungan erat dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Manusia hidup di lingkungan alam
sehingga fenomena yang terjadi di alam berlaku juga bagi tubuh manusia. Hal ini dianggap
sebagai satu kesatuan dalam kosmos. Dasar dari penggolongan tersebut adalah sifat-sifat nyata
dan imajiner yang khusus dari lima unsur itu, misalnya: logam mempunyai sifat keras,
membunuh; air memiliki pengertian basah, licin, dan mengalir ke bawah; kayu (pohon) dalam
arti lurus, berkembang; api bersifat panas, membubung ke atas; tanah memiliki pengertian
penghasil, pengkukuh, ketenangan.