You are on page 1of 79

PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT BANYUMANIK SEMARANG

NOMOR : 063/PER/RSB/II/2017

TENTANG

PEMBERLAKUAN PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK


DI RUMAH SAKIT BANYUMANIK SEMARANG

DIREKTUR RUMAH SAKIT BANYUMANIK SEMARANG

Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan mutu pelayanan pasien di Rumah Sakit


Banyumanik Semarang disusun Panduan Praktik Klinis SMF Anak;

b. bahwa pemberlakuan dimaksud perlu ditetapkan dengan Keputusan


Direktur Rumah Sakit Banyumanik Semarang.

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 36 Tahun 2009 tentang


Kesehatan (Lembaran Negara Republik Nomor 144 Tahun 2004,
tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);

2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang


Rumah Sakit;

3. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


129/MENKES/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah
Sakit;

4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah
Sakit;

5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


290/MENKES/PER/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan
Kedokteran;

6. Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Nomor : 445/2456


Maret tahun 2015 tentang Izin Operasional dan Penetapan Klasifikasi
Rumah Sakit Banyumanik;

7. Keputusan Badan Pengurus Yayasan Al Manshurin Nomor : KEP-


004/BP-YAM/II/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit
Banyumanik Semarang;

8. Keputusan Badan Pengurus Yayasan Al Manshurin Semarang Nomor :


Kep-060/BP-YAM/XII/2012 tentang Peraturan Perusahaan Rumah
Sakit Banyumanik;
9. Keputusan Badan Pengurus Yayasan Al Manshurin Nomor : KEP-
011/BP-YAM/V/2013 tentang Pengangkatan Direktur Rumah Sakit
Banyumanik.

MEMUTUSKAN
Menetapkan :
Kesatu : MEMBERLAKUKAN PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK
RUMAH SAKIT BANYUMANIK SEMARANG TAHUN 2017.

Kedua : Panduan Praktik Klinis SMF Anak sebagaimana yang dimaksud dalam
diktum pertama sebagai acuan staf medis Rumah Sakit Banyumanik
Semarang.

Ketiga : Dengan berlaku kebijakan ini maka akan menghapus Keputusan Direktur
Rumah Sakit Banyumanik Semarang Nomor : 001/KEP/RSB/I/2015
tentang Pemberlakuan Pedoman Praktik Klinis Di Rumah Sakit
Banyumanik Semarang

Keempat : Keputusan ini berlaku 2 tahun sejak tanggal ditetapkan, apabila dikemudian
hari terdapat kekeliruan dalam keputusan ini akan diadakan perbaikan
sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Semarang
Pada tanggal : 09 Februari 2017
Rumah Sakit Banyumanik Semarang
Direktur,

dr. Akbar Kurniawan


NIK. 11.137
KATA PENGANTAR

Segala puji dan rasa syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, pada akhirnya Panduan
Praktik Klinis SMF Anak Rumah Sakit Banyumanik Semarang dapat menyusun Panduan Praktik
Klinis (PPK) Bagian Anak sebagai acuan pelaksanaan tugas dalam memberikan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat.
Panduan Praktik Klinis (PPK) SMF Anak ini disusun untuk menyamakan mutu pelayanan
profesi bagi masyarakat, dan dengan tujuan lain adalah untuk terus-menerus disempurnakan.
Dengan demikian dapat dimaklumi bahwa Panduan Praktik Klinis (PPK) SMF Anak ini masih
jauh dari apa yang diharapkan. Kami berharap segenap tenaga medis dan paramedis khususnya
di Bagian Anak Rumah Sakit Banyumanik bersedia memberikan masukan untuk penyempurnaan
lebih lanjut.
Akhir kata, kami berharap Panduan Praktik Klinis (PPK) SMF Anak ini bermanfaat dan
bisa dipergunakan sebagai acuan di bagian Anak, khususnya di lingkugan Rumah Sakit
Banyumanik Semarang.

Semarang, 09 Februari 2017

SMF Anak Rumah Sakit Banyumanik Semarang

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK i


SAMBUTAN DIREKTUR

Angka kematian di Indonesia masih cukup tinggi dibandingkan Negara ASEAN lainnya.
Hal ini merupakan tantangan bagi profesi medis khususnya bagian Anak untuk melaksanakan
upaya penurunan angka kematian tersebut. Demikian pula Rumah Sakit Banyumanik selalu
dituntut untuk memberikan pelayanan terbaik dan berkualitas serta berorientasi pada kepuasan
klien, sehingga pada gilirannya dapat menurunkan angka kematian dan angka kesakitan
khususnya di Wilayah Kota Semarang.
Kami menyambut baik hasil pembuatan Panduan Praktik Klinis (PPK) SMF Anak Rumah
Sakit Banyumanik Semarang sebagai upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang
efektif. Dengan harapan buku ini dapat dipakai sebagai acuan dalam pelaksanaan tugas tenaga
medis dan paramedis di lingkungan Rumah Sakit Banyumanik khususnya di bagian Anak.
Terimakasih atas upaya baik dari kita semua untuk selalu meningkatkan mutu pelayanan
medis sehingga lebih bermanfaat bagi masyarakat.

Direktur
Rumah Sakit Banyumanik Semarang

dr. Akbar Kurniawan


NIK. 11. 137

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK ii


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................................... i


SAMBUTAN DIREKTUR ............................................................................................... ii
DAFTAR ISI ..................................................................................................................... iii
1. PNEUMONIA .......................................................................................................... 1
2. TUBERKULOSIS .................................................................................................... 4
3. DEMAM TIFOID ..................................................................................................... 8
4. DENGUE FEVER .................................................................................................... 11
5. DENGUE HAEMORHAGIC FEVER ..................................................................... 15
6. MALARIA ................................................................................................................ 20
7. CAMPAK ................................................................................................................. 24
8. GLOMERULONEFRITIS AKUT PASKA STREPTOKOKUS ............................. 27
9. HIPERTENSI ........................................................................................................... 30
10. INFEKSI SALURAN KEMIH ................................................................................. 33
11. SINDROMA NEFROTIK ........................................................................................ 35
12. BRONKITIS ............................................................................................................. 37
13. ASMA ....................................................................................................................... 39
14. ALERGI OBAT ........................................................................................................ 42
15. RHINITIS ALERGIKA ............................................................................................ 44
16. DIABETES MELITUS TIPE I ................................................................................. 46
17. KETOASIDOSIS DIABETIK .................................................................................. 49
18. DIARE ...................................................................................................................... 51
19. KONSTIPASI ........................................................................................................... 56
20. MUNTAH ................................................................................................................. 58
21. PENYAKIT HIRSCHPRUNG ................................................................................. 61
22. RENJATAN HIPOVOLEMI PADA ANAK ........................................................... 63
23. RENJATAN ANAFILAKSIS .................................................................................. 65
24. ANEMIA DEFISIENSI BESI .................................................................................. 68
25. HEMOFILIA ............................................................................................................ 71
PENUTUP ................................................................................................................................. 74

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK iii


B PANDUAN PRAKTIK KLINIS
SMF ANAK
RS BANYUMANIK
Jl. Bina Remaja 61
Semarang

PNEUMONIA
1 PENGERTIAN Pneumonia adalah penyakit peradangan parenkim paru yang
disebabkan oleh bermacam etiologi seperti bakteri, virus,
mikoplasma, jamur atau bahan kimia/benda asing yang teraspirasi
dengan akibat timbulnya ketidakseimbangan ventilasi dengan
perfusi (ventilation perfusion mismatch).
2 ANAMNESIS Gejala yang timbul biasanya mendadak tetapi dapat didahului
dengan infeksi saluran nafas akut bagian atas. Gejalanya antara
lain batuk, demam tinggi terus menerus, sesak, kebiruan disekitar
mulut, menggigil (pada anak), kejang (pada bayi) dan nyeri dada.
Biasanya anak lebih suka berbaring pada sisi yang sakit. Pada bayi
muda sering menunjukkan gejala non spesifik seperti hipotermi,
penurunanan kesadaran, kejang atau kembung sehingga sulit
dibedakan dengan meningitis, sepsis atau ileus.
3 PEMERIKSAAN Suhu ≥ 390C, dispnea: inspiratory effort ditandai dengan takipnea,
FISIK retraksi (chest indrawing), nafas cuping hidung dan sianosis.
Gerakan dinding toraks dapat berkurang pada daerah yang
terkena, perkusi normal atau redup. Pada pemeriksaan auskultasi
paru dapat terdengar suara nafas utama melemah atau mengeras,
suara nafas tambahan berupa ronki basah halus di lapangan paru
yang terkena.
4 KRITERIA Anamnesa
DIAGNOSIS Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan penunjang
5 DIAGNOSIS KERJA Pneumonia
6 DIAGNOSIS  Bronkiolitis
BANDING  Payah jantung
 Aspirasi benda asing
 Abses paru

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 1


7 PEMERIKSAAN  Darah Tepi: leukositosis dengan hitung jenis bergeser ke kiri.
PENUNJANG  Bila fasilitas memungkinkan pemeriksaan analisis gas darah
menunjukkan keadaan hipoksemia (karena ventilation
perfusion mismatch). Kadar PaCO2 dapat rendah, normal
atau meningkat tergantung kelainannya. Dapat terjadi
asidosis respiratorik, asidosis metabolik, dan gagal nafas.
 Kultur Darah
 Pada foto dada terlihat infiltrat alveolar yang dapat
ditemukan di seluruh lapangan paru. Luasnya kelainan pada
gambaran radiologis biasanya sebanding dengan derajat
klinis penyakitnya, kecuali pada infeksi mikoplasma yang
gambaran radiologisnya lebih berat daripada keadaan
klinisnya. Gambaran lain yang dapat dijumpai :
o Konsolidasi pada satu lobus atau lebih pada pneumonia
lobaris
o Penebalan pleura pada pleuritis
o Komplikasi pneumonia seperti atelektasis, efusi pleura,
pneumomediastinum, pneumotoraks, abses, pneumatokel
8 TERAPI 1. Indikasi MRS :
a. Ada kesukaran nafas, toksis
b. Sianosis
c. Umur kurang 6 bulan
d. Ada penyulit, misalnya :muntah-muntah, dehidrasi,
empiema
e. Diduga infeksi oleh Stafilokokus
f. Imunokompromais
g. Perawatan di rumah kurang baik
h. Tidak respon dengan pemberian antibiotika oral
2. Pemberian oksigenasi : dapat diberikan oksigen nasal atau
masker, monitor dengan pulse oxymetry. Bila ada tanda gagal
nafas diberikan bantuan ventilasi mekanik.
3. Pemberian cairan dan kalori yang cukup (bila perlu cairan
parenteral). Jumlah cairan sesuai berat badan, kenaikan suhu
dan status hidrasi.
4. Bila sesak tidak terlalu hebat dapat dimulai diet enteral
bertahap melalui selang nasogastrik.
5. Jika sekresi lendir berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan
salin normal

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 2


6. Koreksi kelainan asam basa atau elektrolit yang terjadi.
7. Pemilihan antibiotik berdasarkan umur, keadaan umum
penderita dan dugaan penyebabEvaluasi pengobatan dilakukan
setiap 48-72 jam. Bila tidak ada perbaikan klinis dilakukan
perubahan pemberian antibiotik sampai anak dinyatakan
sembuh. Lama pemberian antibiotik tergantung : kemajuan
klinis penderita, hasil laboratoris, foto toraks dan jenis kuman
penyebab :
 Stafilokokus : perlu 6 minggu parenteral
 Haemophylus influenzae/Streptokokus pneumonia :
cukup 10-14 hari
Pada keadaan imunokompromais (gizi buruk, penyakit jantung
bawaan, gangguan neuromuskular, keganasan, pengobatan
kortikosteroid jangka panjang, fibrosis kistik, infeksi HIV),
pemberian antibiotik harus segera dimulai saat tanda awal
pneumonia didapatkan dengan pilihan antibiotik : sefalosporin
generasi 3.
Dapat dipertimbangkan juga pemberian :
 Kotrimoksasol pada Pneumonia Pneumokistik Karinii
 Anti viral (Aziclovir , ganciclovir) pada pneumonia
karena CMV
 Anti jamur (amphotericin B, ketokenazol, flukonazol)
pada pneumonia karena jamur
 Imunoglobulin
9 EDUKASI Sanitasi, imunisasi, makanan bergizi
10 PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam/malam
Ad sanationam : dubia ad bonam/malam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam/malam
11 KEPUSTAKAAN 1. Andriano G, Arguedas, Stutman HR, Marks MI. Bacterial
pneumonias. Dalam : Kendig EL, Chernick V, penyunting.
Kendig’s Disorders of the Respiratory Tract in Children. Edisi
ke-5. Philadelphia : WB Saunders, 1990 : 371-80.
2. Lichenstein R, Suggs AH, Campbell J. Pediatric pneumonia.
Emerg Med Clin N Am 2003; 21 : 437-51.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 3


B PANDUAN PRAKTIK KLINIS
SMF ANAK
RS BANYUMANIK
Jl. Bina Remaja 61
Semarang

TUBERKULOSIS
1 PENGERTIAN Tuberkulosis adalah penyakit akibat infeksi kuman
Mikobakterium tuberkulosis yang bersifat sistemik sehingga dapat
mengenai hampir semua organ tubuh dengan lokasi terbanyak di
paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer.
2 ANAMNESIS 1. Gejala umum/tidak spesifik
a. Berat badan turun atau malnutrisi tanpa sebab yang jelas
atau tidak naik dalam 1 bulan dengan penanganan gizi.
b. Nafsu makan tidak ada (anoreksia) dengan gagal tumbuh
dan berat badan tidak naik (failure to thrive) dengan
adekuat.
c. Demam lama/berulang tanpa sebab yang jelas (bukan
tifus, malaria atau infeksi saluran nafas akut), dapat
disertai keringat malam.
d. Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang tidak sakit,
biasanya multiple, paling sering di daerah leher, axilla
dan inguinal.
e. Gejala-gejala respiratorik :
 batuk lama lebih dari 3 minggu
 tanda cairan di dada, nyeri dada
f. Gejala gastrointestinal
 diare persisten yang tidak sembuh dengan
pengobatan diare
 benjolan/massa di abdomen
 tanda-tanda cairan dalam abdomen
2. Gejala Spesifik
Tb kulit/skrofuloderma
Tb tulang dan sendi
 Tulang punggung (spondilitis)
 Tulang panggul (koksitis) : pincang

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 4


 Tulang lutut :pincang dan/atau bengkak
 Tulang kaki dan tangan
Tb Otak dan Saraf
 Meningitis dengan gejala iritabel, kaku kuduk, muntah-
muntah dan kesadaran menurun
Gejala mata : Conjungtivitis phlyctenularis, Tuberkel
koroid (hanya terlihat dengan funduskopi)
3 PEMERIKSAAN  Febris
FISIK  Malaise
 Rhonki
 Benjolan KGB (spondilitis)
 Gibbus
4 KRITERIA Demam
DIAGNOSIS Berat Badan tidak naik
Gejala-gejala lain sesuai jenis TB
5 DIAGNOSIS KERJA TB Paru Pulomonal
TB Ekstrapulmonal
6 DIAGNOSIS  Pneumonia
BANDING  Infeksi kronis lainnya
 Keganasan
7 PEMERIKSAAN  Uji tuberculin (Mantoux)
PENUNJANG Uji tuberkulin dilakukan dengan cara Mantoux (penyuntikan
intrakutan). Tuberkulin yang dipakai adalah tuberkulin PPD
RT 23 kekuatan 2 TU atau PPD-S kekuatan 5 TU. Pembacaan
dilakukan 48-72 jam setelah penyuntikan. Diukur diameter
tranversal dari indurasi yang terjadi. Ukuran dinyatakan dalam
mm, dikatakan positif bila indurasi : > 10 mm.
 Reaksi cepat BCG
Bila dalam penyuntikan BCG terjadi reaksi cepat berupa
kemerahan dan indurasi > 5 mm (dalam 3-7 hari) maka
dicurigai telah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis.
 Foto Rontgen Paru : seringkali tidak khas
Pembacaan sulit, hati-hati kemungkinan overdiagnosis atau
underdiagnosis. Paling mungkin kalau ditemukan infiltrat
dengan pembesaran kelenjar hilus atau kelenjar paratrakeal.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 5


Gambaran rontgen paru pada Tb dapat berupa :
Milier, Atelektasis, Infiltrat , pembesaran kelenjar hilus atau
paratrakeal, konsolidasi (lobus), reaksi pleura dan/atau efusi
pleura, kalsifikasi, bronkiektasis, kavitas, destroyed lung.
Catatan : diskongkruensi antara gambaran klinis dan
gambaran radiologis, harus dicurigai Tb. Foto Rontgen paru
sebaiknya dilakukan PA dan lateral serta dibaca oleh ahlinya.
 Pemeriksaan mikrobiologi : pemeriksaan langsung BTA
(mikroskopis) dan kultur dari sputum (pada anak bilasan
lambung karena sputum sulit didapat ).
8 TERAPI Pada TBC paru yang tidak berat cukup diberikan 3 jenis obat anti
tuberkulosis (OAT) dengan jangka waktu terapi 6 bulan. Tahap
intensif terdiri dari isoniazid (H), Rifampisin (R) dan Pyraninamid
(Z) selama 2 bulan diberikan setiap hari (2HRZ). Tahap lanjutan
terdiri dari Isoniazid (H) dan Rifampisin (R) selama 4 bulan
diberikan setiap hari (4HR).
Pada TBC berat (TBC milier, meningitis, dan TBC tulang) maka
juga diberikan Streptomisin atau Etambutol pada permulaan
pengobatan. Jadi pada TBC berat biasanya pengobatan dimulai
dengan kombinasi 4-5 obat selama 2 bulan, kemudian dilanjutkan
dengan Isoniazid dan Rifampisin selama 10 bulan lagi atau lebih,
sesuai dengan perkembangan klinisnya. Kalau ada kegagalan
karena resistensi obat, maka obat diganti sesuai dengan hasil uji
resistensi, atau tambah dan ubah kombinasi OAT.
Obat anti tuberkulosis yang digunakan adalah :
1. Isoniazid (INH) : selama 6-12 bulan
a. Dosis terapi : 5-10 mg/kgBB/hari diberikan
sekali sehari
b. Dosis profilaksis : 5-10 mg/kgBB/hari diberikan
sekali sehari
c. Dosis maksimum : 300 mg/hari
2. Rifampisin ( R ) : selama 6-12 bulan
a. Dosis : 10-20 mg/kgBB/hari sekali
sehari
b. Dosis maksimum : 600 mg/hari

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 6


3. Pirazinamid (Z) : selama 2-3 bulan pertama
a. Dosis : 25-35 mg/kgBB/hari
diberikan 2 kali sehari
b. Dosis maksimum : 2 gram/hari
4. Etambutol (E) : selama 2-3 bulan pertama
a. Dosis : 15-20 mg/kgBB/hari
diberikan sekali atau 2 kali sehari
b. Dosis maksimum : 1250 mg/hari
5. Streptomisin (S) : selama 1-2 bulan pertama
a. Dosis : 15-40 mg/kg/hari
diberikan sekali sehari intra muskular
b. Dosis maksimum : 1 gram/hari
Kortikosteroid diberikan pada keadaan khusus seperti : Tb milier,
meningitis Tb, endobronkial Tb, pleuritis Tb, perikarditis Tb,
peritonitis Tb.
Boleh diberikan prednison 1-2 mg/kg BB/hari selama 1-2 bulan
9 EDUKASI Sanitasi, imunisasi, makanan bergizi
10 PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam/malam
Ad sanationam : dubia ad bonam/malam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam/malam
11 KEPUSTAKAAN 1. Munoz FM, Starke JR. Tuberculosis. Dalam :Behrman RE,
Kleigman RM, Jenson HB, penyunting. NelsonTextbook of
Pediatrics. Edisi ke-17. Philadelphia : WB Saunders, 2003 :
958-71.
2. Crofton SJ, Horne N, Miller F. Clinical Tuberculosis. Edisi
ke-1. London: The Mac Millan Press, 1992.
3. Rahajoe N, Basir D, Makmuri MS, Kartasasmita CB.
Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak. UKK Pulmonologi :
PP IDAI, 2005.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 7


B PANDUAN PRAKTIK KLINIS
SMF ANAK
RS BANYUMANIK
Jl. Bina Remaja 61
Semarang

DEMAM TIFOID
1 PENGERTIAN Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut disebabkan oleh
kuman gram negatif Salmonella typhi. Selama terjadi infeksi,
kuman tersebut bermultiplikasi dalam sel fagositik mononuklear
dan secara berkelanjutan dilepaskan ke aliran darah.
2 ANAMNESIS Keluhan dan gejala Demam Tifoid tidak khas, dan bervariasi dari
gejala seperti flu ringan sampai tampilan sakit berat dan fatal yang
mengenai banyak sistem organ. Secara klinis gambaran penyakit
Demam Tifoid berupa demam berkepanjangan, gangguan fungsi
usus, dan keluhan susunan saraf pusat.
1. Panas lebih dari 7 hari, biasanya mulai dengan sumer yang
makin hari makin meninggi, sehingga pada minggu ke 2 panas
tinggi terus menerus terutama pada malam hari.
2. Gejala gstrointestinal dapat berupa obstipasi, diare, mual,
muntah, dan kembung, hepatomegali, splenomegali dan lidah
kotor tepi hiperemi.
3. Gejalah saraf sentral berupa delirium, apatis, somnolen, sopor,
bahkan sampai koma
3 PEMERIKSAAN Febris
FISIK Malaise
Lidah kotor
Meteorismua
Obstipasi/ diare
Splenomegali/ hepatomegali
4 KRITERIA Anamnesa
DIAGNOSIS Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan penunjang
5 DIAGNOSIS KERJA Demam Thypoid
6 DIAGNOSIS 1. Influenza
BANDING 2. Malaria
3. Bronchitis

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 8


4. Sepsis
5. Broncho Pneumonia
6. I.S.K
7. Gastroenteritis
8. Keganasan
9. Tuberculosa
7 PEMERIKSAAN 1. Laboratorik
PENUNJANG a. Leukopenia, anesonofilia
b. Kultur empedu (+): darah pada minggu I ( pada minggu II
mungkin sudah negatif); tinja minggu II, air kemih minggu
III
c. Reaksi widal (+) : titer > 1/200. Biasanya baru positif pada
minggu II, pada stadium rekonvalescen titer makin
meninggi
d. Identifikasi antigen : Elisa, PCR. IgM S typphi dengan
Tubex TF cukup akurat dengan
e. Identifikasi antibodi : Elisa, typhi dot dan typhi dot M
8 TERAPI Obat-obat pilihan pertama adalah kloramfenikol,
ampisilin/amoksisilin dan kotrimoksasol. Obat pilihan kedua
adalah sefalosporin generasi III. Obat-obat pilihan ketiga adalah
meropenem, azithromisin dan fluorokuinolon.
 Kloramfenikol diberikan dengan dosis 50 mg/kg BB/hari,
terbagi dalam 3-4 kali pemberian, oral atau intravena, selama
14 hari. Bilamana terdapat indikasi kontra pemberian
kloramfenikol , diberi
 ampisilin dengan dosis 200 mg/kgBB/hari, terbagi dalam 3-4
kali. Pemberian, intravena saat belum dapat minum obat,
selama 21 hari, atau
 amoksisilin dengan dosis 100 mg/kgBB/hari, terbagi dalam
3-4 kali. Pemberian, oral/intravena selama 21 hari
 kotrimoksasol dengan dosis (tmp) 8 mg/kbBB/hari terbagi
dalam 2-3 kali pemberian, oral, selama 14 hari.
Pada kasus berat, dapat diberi seftriakson dengan dosis 50
mg/kg BB/kali dan diberikan 2 kali sehari atau 80 mg/kg
BB/hari, sekali sehari, intravena, selama 5-7 hari. Pada kasus
yang diduga mengalami MDR, maka pilihan antibiotika
adalah meropenem, azithromisin dan fluoroquinolon

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 9


9 EDUKASI Sanitasi, imunisasi, makanan bergizi
10 PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam/malam
Ad sanationam : dubia ad bonam/malam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam/malam
11 KEPUSTAKAAN 1. Christie AB. Typhoid and Paratyphoid Fevers in : Infectious
Disease Vol. 1, 4th ed. Churchill Livingstone : Medical
Division of Longman Group UK Limited, 1987 : 100.
2. Hoffman S. : Typhoid fever in Warren KS dan Mahmpud
AAF (eds) : Tropical and Geographical ed ke 2, New York,
Mc Graw-Hill Information Services Co. (1990).
3. Pang T, Koh KL, PuthuchearySD (eds) : Typhoid fever :
Strategies for the 90’s, Singapore, World Scientific, (1992).
4. Krugman S, Katz SL, Gershon AA, Wilfred CM (eds)
Infectious disease in children, ed ke 9, St. Louis, Mosby
Yerabook Inc. (1992).
5. Cleary Th G. Salmonella species in longess, Pickerling LK,
Praber CG. Principles and Practice of Pediatric Infectious
Disease Churchill Livingstone, New York 1nd ed, 2003 : hal.
830.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 10


B PANDUAN PRAKTIK KLINIS
SMF ANAK
RS BANYUMANIK
Jl. Bina Remaja 61
Semarang

DENGUE FEVER
1 PENGERTIAN Salah satu varian klinik infeksi virus dengue, yang ditandai oleh
gejala panas 2-7 hari
2 ANAMNESIS  Demam
 Timbul mendadak, berlangsung 2-7 hari
 Disertai dengan tidak mau bermain (”not doing well”),
nafsu makan menghilang, mual, dan tidak jarang disertai
muntah.
 Kadang kurva suhu berbentuk pelana (sadle-back fever)
 Suhu turun mendadak, kemudian penderita merasa/tampak
membaik dan muncul nafsu makan.
 Nyeri
 Nyeri kepala
 Nyeri belakang mata (retro orbital)
 Nyeri otot (myalgia)
 Nyeri sendi (arthralgia)
 Ruam
 Pada awal sakit dapat timbul kemerahan (flushing) pada
kulit penderita
 Pada periode penyembuhan dapat muncul ”confalescence
rash”, berupa morbilli like rash yang lokasinya di
ekstremitas bawah (shoe like appearance) dan di
ekstremitas atas (handglove like appearance).
 Manifestasi perdarahan
 tidak selalu ada
 Dapat berupa tourniquet test yang positip, petekiae,
epistaksis, perdarahan gusi dan dapat terjadi perdarahan
masif berupa hematemesis/melena yang sampai
membutuhkan transfusi darah.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 11


 Dapat dijumpai gejala gastro intestinal, berupa diare dan gejala
saluran napas atas berupa batuk serta pilek yang ringan.
3 PEMERIKSAAN Febris
FISIK Malaise
Hepatomegali
Splenomegali
Epistaksis
Ptekiae
Hematemesis/ Melena
4 KRITERIA 1. Demam < 7 hari
DIAGNOSIS 2. Nyeri
3. Bleeding
5 DIAGNOSIS KERJA Dengue Fever
6 DIAGNOSIS 1. Exanthema subitum
BANDING 2. German Measles
3. Chikungunya
4. Demam berdarah dengue grade I dan II
7 PEMERIKSAAN  Laboratorium rutin sering dijumpai adanya leukopenia, dan
PENUNJANG dapat disertai penurunan trombosit, walaupun seringkali
masih > 100.000
 Diagnosis etiologis :
1. Serologis eliza, memeriksa IgM dan IgG dengue,
lakukan pada hari sakit ≥ 5, untuk lebih memperoleh
hasil positip
2. Serologis hemaglutinasi inhibisi, dengan mengambil
serum sepasang, dimana serum pertama saat masuk
rumah sakit dan serum kedua usahakan ≥ 7 hari
kemudian (sering kali susah dipenuhi).
3. Virologi, isolasi virus dari spesimen darah, usahakan
pengambilan serum saat periode febris, kemudian
dengan dry ice dikirim ke pusat-pusat pemeriksaan
virologi (dilakukan saat riset)
8 TERAPI Apabila penderita infeksi Virus Dengue datang pada periode
febris, dimana belum/tidak dapat dibedakan apakah Dengue
Fever/Dengue Hemorrhagic Fever, maka pengobatan yang dapat
diberikan adalah sebagai berikut :

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 12


 Antipiretik
Parasetamol sebagai pilihan, dengan dosis 10 mg/BB/kali tidak
lebih dari 4 kali sehari. Jangan memberikan aspirin dan
brufen/ibuprofen, sebab dapat menimbulkan gastritis dan atau
perdarahan.
 Antibiotika tidak diperlukan
 Makan disesuaikan dengan kondisi napsu makannya
 Apabila penderita ditetapkan rawat jalan, maka kalau dalam
perjalanan didapat keluhan dan tanda klinis seperti dibawah ini
dianjurkan untuk segera datang ke rumah sakit untuk
pengobatan selanjutnya.
Gejala dan tanda yang dimaksud adalah :
▲ Nyeri abdomen
▲ Tanda perdarahan dikulit, petekiae dan ekimosis
▲ Perdarahan lain seperti epistaksis & perdarahan gusi
▲Penderita tampak loyo& pada perabaan terasa dingin
 Kebutuhan cairan harus dipenuhi. Pemberian cairan dapat
diberikan per oral, akan tetapi apabila penderita tidak mau
minum, muntah terus, atau panas yang terlalu tinggi maka
pemberian cairan intravena menjadi pilihannya.
Apabila cairan intravena dijadikan pilihan terapi, maka dikenal
formula untuk memenuhi cairan rumatan yaitu formula
Halliday Segar dengan rincian sebagai berikut :
Berat Badan ( Kg ) Cairan Rumatan (Vol)/ 24 jam
10 100 CC/Kg BB
10-20 1000 CC + 50 CC/Kg BB diatas 10 Kg
> 20 1500 CC + 20 CC/Kg BB diatas 20 Kg
 Setiap derajat C kenaikan temperatur, cairan dinaikkan 12 %
dari kebutuhan rumatan.
Jumlah tersebut diatas untuk seluruh kebutuhan cairan sehari,
termasuk cairan oral. Untuk cairan rumatan ini dapat dipakai
solutio D 5½ Saline untuk anak usia > 3 tahun atau D 5¼
Saline untuk penderita berumur ≤ 3 tahun.
 Lakukan observasi secara cermat setiap 6 jam atas tanda
vitalnya, dengan tujuan untuk mendeteksi adakah tanda-tanda
kebocoran plasma (plasma leakage), yang mengarah ke
dengue haemorhagic fever.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 13


9 EDUKASI Jaga kebersihan
Perbanyak asupan cairan
Makanan bergizi
10 PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam/malam
Ad sanationam : dubia ad bonam/malam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam/malam
11 KEPUSTAKAAN WHO. 2009. Dengue Hemmorhagic Fever

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 14


B PANDUAN PRAKTIK KLINIS
SMF ANAK
RS BANYUMANIK
Jl. Bina Remaja 61
Semarang

DENGUE HAEMORHAGIC FEVER


1 PENGERTIAN Salah satu varian klinik infeksi virus dengue, yang ditandai oleh
gejala panas 2-7 hari
2 ANAMNESIS  Demam
 Timbul mendadak, berlangsung 2-7 hari
 Disertai dengan tidak mau bermain (”not doing well”),
nafsu makan menghilang, mual, dan tidak jarang disertai
muntah.
 Kadang kurva suhu berbentuk pelana (sadle-back fever)
 Suhu turun mendadak, kemudian penderita merasa/tampak
membaik dan muncul nafsu makan.
 Nyeri
 Nyeri kepala
 Nyeri belakang mata (retro orbital)
 Nyeri otot (myalgia)
 Nyeri sendi (arthralgia)
 Ruam
 Pada awal sakit dapat timbul kemerahan (flushing) pada
kulit penderita
 Pada periode penyembuhan dapat muncul ”confalescence
rash”, berupa morbilli like rash yang lokasinya di
ekstremitas bawah (shoe like appearance) dan di
ekstremitas atas (handglove like appearance).
 Manifestasi perdarahan
 Tidak selalu ada
 Dapat berupa tourniquet test yang positip, petekiae,
epistaksis, perdarahan gusi dan dapat terjadi perdarahan
masif berupa hematemesis/melena yang sampai
membutuhkan transfusi darah.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 15


 Dapat dijumpai gejala gastro intestinal, berupa diare dan gejala
saluran napas atas berupa batuk serta pilek yang ringan.
3 PEMERIKSAAN Febris
FISIK Malaise
Hepatomegali
Splenomegali
Epistaksis
Ptekiae
Hematemesis/ Melena
4 KRITERIA  DHF Grade I : semua gejala umum, peningkatan HCT
DIAGNOSIS >20%, satu-satunya tanda perdarahan ialah uji bendung yang
positif
 DHF Grade II : semua gejala umum, peningkatan HCT
>20%, dengan tanda perdarahan lain
 DHF Grade III : semua gejala umum, peningkatan HCT
>20%, dengan penyempitan nadi <20 mmHg
 DHF Grade IV : syok. Nadi tidak teraba, tekanan darah
tidak terukur.
5 DIAGNOSIS KERJA Dengue Haemorhagic Fever Grade I, II, III, IV
6 DIAGNOSIS  Exanthema subitum
BANDING  German Measles
 Chikungunya
 Demam berdarah dengue grade I dan II
7 PEMERIKSAAN  Laboratorium rutin sering dijumpai adanya leukopenia, dan
PENUNJANG dapat disertai penurunan trombosit, walaupun seringkali masih
> 100.000
 Diagnosis etiologis :
1. Serologis eliza, memeriksa IgM dan IgG dengue, lakukan
pada hari sakit ≥ 5, untuk lebih memperoleh hasil positip
2. Serologis hemaglutinasi inhibisi, dengan mengambil
serum sepasang, dimana serum pertama saat masuk rumah
sakit dan serum kedua usahakan ≥ 7 hari kemudian
(sering kali susah dipenuhi).
3. Virologi, isolasi virus dari spesimen darah, usahakan
pengambilan serum saat periode febris, kemudian dengan
dry ice dikirim ke pusat-pusat pemeriksaan virologi
(dilakukan saat riset)

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 16


8 TERAPI
DHF Grade I-II

RL 7 cc/kgBB/1 JAM

PCV, VS

MEMBAI TETAP BURUK/RESPON (-)


K

PCV ↓, T/N STABIL PCV ↑, N ↑, PP ≤20 mmHg


DIURESIS (+) DIURESIS (-)

RL 5 cc/kgBB/1 JAM MEMBAIK RL 10 cc/kgBB/1 JAM

TETAP BURUK/RESPON (-)

RL 3 cc/kgBB/1 JAM

RL 15 cc/kgBB/1 JAM

MEMBAIK TETAP BURUK/RESPON (-)


24-48 JAM

PCV ↓
PCV ↓, T/N STABIL PCV ↑
DIURESIS (+)

STOP TRANSFUS
KOLOID / IWHOLE
PLASMA BLOOD

MEMBAIK

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 17


DHF Grade III

KRISTALOID 20 cc/kgBB dalam waktu kurang 30 menit

MEMBAI TETAP BURUK / RESPON (-)


K

KRISTALOID 10 KOLOID 20 cc/kgBB


cc/kgBB/1 JAM CEPAT

MEMBAI MEMBAI TETAP BURUK / RESPON (-)


K K

KOLOID 10
KRISTALOID 7 KRISTALOID 10 cc/kgBB/1 JAM
cc/kgBB/1 JAM cc/kgBB/1 JAM

KRISTALOID 5 KRISTALOID 7 MEMBAI TETAP BURUK/


cc/kgBB/1 JAM cc/kgBB/1 JAM K RESPON (-)

KRISTALOID 3 KRISTALOID 5 KRISTALOID


PERDARAH PERDARA
cc/kgBB/1 JAM cc/kgBB/1 JAM 10 cc/kgBB/1
AN (+) HAN (-)
JAM

KRISTALOID 3 KRISTALOID 7
cc/kgBB/1 JAM cc/kgBB/1 JAM
TRANSFUSI
WBC INOTRO
PIK

KRISTALOID 5
cc/kgBB/1 JAM

KRISTALOID
3 cc/kgBB/1
JAM

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 18


DHF Grade IV

Kristaloid 20 cc/kgBB dalam waktu kurang dari 30 menit

MEMBAI TETAP BURUK/RESPON (-)


K

KOLOID 10 KOLOID 20 cc/kgBB /30


cc/kgBB 1 JAM menit

MEMBAI MEMBAIK MEMBAIK TETAP


K ± (+) BURUK/RESPON (-)

KRISTALOID KRISTALOID KRISTALOID KRISTALOID 10


10 cc/kgBB/1 10 cc/kgBB/1 7 cc/kgBB/1 cc/kgBB/30
JAM JAM JAM menit

KRISTALOID 7 KRISTALOI KRISTALOID MEMBAIK TETAP


cc/kgBB/1 JAM D7 5 cc/kgBB/1 BURUK/
cc/kgBB/1 JAM RESPON (-)
JAM

KRISTALOID 5 KRISTALOID KRISTALOID KRISTALOID PERDA PERDA


cc/kgBB/1 JAM 5 cc/kgBB/1 3 cc/kgBB/1 7 cc/kgBB/1 RAHAN RAHAN
JAM JAM JAM (+) (-)

KRISTALOID3 KRISTALOID KRISTALOID TRAN INOTR


cc/kgBB/1 JAM 3 cc/kgBB/1 5 cc/kgBB/1 SFUSI OPIK
JAM JAM WBC

KRISTALOID
3 cc/kgBB/1
JAM

9 EDUKASI  Jaga kebersihan


 Perbanyak asupan cairan
 Makanan bergizi
10 PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam/malam
Ad sanationam : dubia ad bonam/malam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam/malam
11 KEPUSTAKAAN 1. WHO. 2009. Dengue Hemorragic fever Diagnosis &
Treatment
2. Pedoman Diagnosis & Terapi Ilmu Kesehatan Anak RSUD
Soetomo. 2010

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 19


B PANDUAN PRAKTIK KLINIS
SMF ANAK
RS BANYUMANIK
Jl. Bina Remaja 61
Semarang

MALARIA
1 PENGERTIAN Malaria merupakan penyakit infeksi akut hingga kronik yang
disebabkan oleh satu atau lebih spesies Plasmodium, ditandai
dengan panas tinggi bersifat intermiten, anemia, dan hepato-
splenomegali. Plasmodium falciparum menyebabkan malaria
tropikana, Plasmodium vivax menyebabkan malaria tertiana,
Plasmodium ovale menyebabkan malaria ovale, Plasmodium
malariae menyebabkan malaria kuartana.
2 ANAMNESIS  Demam Pasien berasal dari daerah endemis malaria, atau
riwayat bepergian ke daerah endemis malaria.
 Demam tinggi (intermiten) disertai menggigil, berkeringat,
dan nyeri kepala. Serangan demam dapat terus-menerus terjadi
pada infeksi campuran ( > 1 jenis Plasmodium atau oleh 1
jenis Plasmodium tetapi infeksi berulang dalam waktu
berbeda).
 Lemah, nausea, muntah, tidak ada nafsu makan, nyeri
punggung, nyeri daerah perut, pucat, mialgia, dan atralgia
3 PEMERIKSAAN  Pada malaria ringan dijumpai anemia, muntah atau diare,
FISIK ikterus, dan hepato-splenomegali.
 Malaria berat adalah malaria yang disebabkan oleh
P.falciparum, disertai satu atau lebih kelainan sebagai berikut :
- Hiperparasitemia, bila > 5% eritrosit dihinggapi parasit
- Malaria serebral dengan kesadaran menurun
- Anemia berat, kadar hemoglobin < 7,1g/dl
- Perdarahan atau koagulasi intravaskular diseminata
- Ikterus, kadar bilirubin serum > 50 mmol/l
- Hipoglikemia, kadang-kadang akibat terapi kuinin
- Gagal ginjal, kadar kreatinin serum > 3 g/dl dan
diuresis < 400 ml/24jam

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 20


- Hiperpireksia
- Edem paru
- Syok, hipotensi, gangguan asam basa
4 KRITERIA demam tinggi intermitten
DIAGNOSIS riwayat berpergian ke daerah endemis
apusan darah memgkonfirmasi malaria
5 DIAGNOSIS KERJA Malaria
6 DIAGNOSIS  Dengue Fever
BANDING  Dengue Haemorhagic fever
 Chikungunya
 Exanthema subitum
 Thypoid fever
7 PEMERIKSAAN Apus darah tepi
PENUNJANG  Tebal : ada tidaknya Plasmodium
 Tipis : identifikasi spesies Plasmodium/tingkat parasitemia
8 TERAPI A. Medikamentosa
1. Untuk semua spesies Plasmodium, kecuali P.falciparum
yang resisten terhadap klorokuin
 Klorokuin sulfat oral, 25 mg/kg bb terbagi dalam 3
hari yaitu 10 mg/kg bb pada hari ke-1 dan 2, serta 5
mg/kg bb pada hari ke-3.
 Kina dihidroklorid intravena 1mg garam/kg
bb/dosis dalam 10 cc/kg bb larutan dekstrosa 5%
atau larutan NaCl 0,9%, diberikan per infus dalam 4
jam, diulangi tiap 8 jam dengan dosis yang sama
sampai terapi oral dapat dimulai. Keseluruhan
pemberian obat adalah 7 hari dengan dosis total 21
kali.
2. Plasmodium falciparum yang resisten terhadap
klorokuin :
 Kuinin sulfat oral 10 mg/kg bb/dosis, 3 kali sehari,
selama 7 hari.
Dosis untuk bayi adalah 10 mg/umur dalam bulan
dibagi 3 bagian selama 7 hari.
 Ditambah Tetrasiklin oral 5 mg/kg bb/kali, 4 kali
sehari selama 7 hari (maksimum 4 x 250 mg/hari)

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 21


3. Regimen alternatif :
 Kuinin sulfat oral
 Kuinin dihidroklorid intravena ditambah
Pirimetamin sulfadoksin (fansidar) oral

Tabel 1. : Dosis Pirimetamin sulfadoksin (fansidar) menurut


umur
Umur Pirimetamin
(tahun) sulfadoksin (tablet)
<1 1/4
1-3 1/2
4-8 1
9-14 2
> 14 3

4. Pencegahan relaps
Primakuin fosfat oral
 Malaria falciparum : 0,5-0,75 mg basa/kg bb, dosis
tunggal, pada hari pertama pengobatan
 Malaria vivax, malariae, dan ovale : 0,25 mg/kg bb,
dosis tunggal selama 5-14 hari.
B. Bedah

C. Suportif
Pemberian cairan, nutrisi, transfusi darah :
 Penuhi kebutuhan volume cairan intravaskular dan
jaringan dengan pemberian oral atau parenteral.
 Pelihara keadaan nutrisi.
 Transfusi darah pack red cell 10 ml/kg bb atau whole
blood 20 ml/kg bb apabila anemia dengan Hb < 7,1g/dl.
 Bila terjadi perdarahan, diberikan komponen darah yang
sesuai.
 Pengobatan gangguan asam basa dan elektrolit.
 Pertahankan fungsi sirkulasi dengan baik, bila perlu
pasang CVP. Dialisis peritoneal dilakukan pada gagal
ginjal.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 22


 Pertahankan oksigenasi jaringan, bila perlu berikan
oksigen. Apabila terjadi gagal nafas perlu pemasangan
ventilator mekanik (bila mungkin).
 Pertahankan kadar gula darah normal.
Antipiretik
Diberikan apabila demam > 39 C, kecuali pada riwayat
kejang demam dapat diberikan lebih awal.
9 EDUKASI  Hindari gigitan nyamuk, membunuh nyamuk/jentik dengan
insektisida, memakai kelambu anti-nyamuk.
 Pencegahan dengan obat anti malaria yang diminum 2 minggu
sebelum, selama tinggal dan 8 minggu sesudah meninggalkan
daerah endemis. Obat yang dapat dipergunakan ialah :
- Klorokuin basa 5 mg/kgbb, maksimal 300 mg, sekali
seminggu atau
- Sulfadoksin-pirimetamin (fansidar) dengan dosis
pirimetamin 0,5-0,75 mg/kgbb, atau
- Sulfadoksin 10-15 mg/kgbb sekali seminggu (untuk usia
> 6 bulan).
10 PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam/malam
Ad sanationam : dubia ad bonam/malam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam/malam
11 KEPUSTAKAAN 1. Warren KS dan Mahmoud AAF (1990). Tropical and
Geographical ed ke 2, New York, Mc Graw-Hill Information
Services Co.
2. Manson-Bahr PEC dan Bell DR (1987), Manson’s Tropical
Disease ed. ke-19, London, English Language PEC dan Bell
DR (1987). Manson tropical disease ed. ke-19, London,
English language book society/Balliere Tyndall.
3. Strickland GTh (1991). Hunter’s tropical medicine ed ke 7,
Philadelphia, WB Saunders Co.
4. Henrickse RG, Barr DGD, Mathew’s TS (1991). Paediatrics in
the tropics London, Blackwell scientific publication.
5. Yaffe, Arunda. Pediatric Pharmacology : Therapeutics
principles on practice 1st ed, Philadelphia, WB Saunders, 1992.
6. Pedoman tatalaksana malaria di Indonesia, Depkes RI, 2003.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 23


B PANDUAN PRAKTIK KLINIS
SMF ANAK
RS BANYUMANIK
Jl. Bina Remaja 61
Semarang

CAMPAK
1 PENGERTIAN Campak, measles atau rubeola adalah penyakit virus akut yang
disebabkan oleh virus campak. Penyakit ini sangat infeksius,
menular sejak awal masa prodromal sampai lebih kurang 4 hari
setelah munculnya ruam. Infeksi disebarkan lewat udara
(airborne).
2 ANAMNESIS Adanya demam tinggi terus menerus 38,50 C atau lebih disertai
batuk, pilek, nyeri menelan, mata merah dan silau bila kena
cahaya (fotofobia), seringkali diikuti diare. Pada hari ke 4-5
demam, timbul ruam kulit, didahului oleh suhu yang meningkat
lebih tinggi dari semula. Pada saat ini anak dapat mengalami
kejang demam. Saat ruam timbul, batuk dan diare bertambah
parah sehingga anak mengalami sesak nafas atau dehidrasi.
3 PEMERIKSAAN Gejala klinis terjadi setelah masa tunas 10-12 hari, terdiri dari tiga
FISIK stadium
 Stadium prodromal, berlangsung 2-4 hari, ditandai dengan
demam yang diikuti dengan batuk, pilek, farings merah, nyeri
menelan, stomatitis, dan konjungtivitis. Tanda patognomonik
timbulnya enantema mukosa pipi di depan molar tiga disebut
bercak Koplik.
 Stadium erupsi, ditandai dengan timbulnya ruam makulo-
papular yang bertahan selama 5-6 hari. Timbulnya ruam
dimulai dari batas rambut di belakang telinga, kemudian
menyebar ke wajah, leher, dan akhirnya ke ekstrimitas.
 Stadium penyembuhan (konvalesens), setelah 3 hari ruam
berangsur-angsur menghilang sesuai urutan timbulnya. Ruam
kulit menjadi kehitaman dan mengelupas yang akan
menghilang setelah 1-2 minggu.
 Sangat penting untuk menentukan status gizi penderita, untuk
mewaspadai timbulnya komplikasi. Gizi buruk merupakan
risiko komplikai berat.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 24


4 KRITERIA Ditegakkan berdasarkan adanya :
DIAGNOSIS  Anamnesis, tanda klinik dan tanda yang patognomonik
 pemeriksaan serologik atau virologik yang positif
5 DIAGNOSIS KERJA Campak
6 DIAGNOSIS Ruam kulit eksantema akut yang lain seperti :
BANDING  rubela,
 roseola infantum (eksantema subitum),
 infeksi mononukleosus,
 erupsi obat.
7 PEMERIKSAAN  Darah tepi : jumlah leukosit normal atau meningkat apabila
PENUNJANG ada komplikasi infeksi bakteri
 Pemeriksaan antibodi IgM anti campak
 Pemeriksaan untuk komplikasi :
1. Ensefalopati/ensefalitis : dilakukan pemeriksaan cairan
serebrospinalis, kadar elektrolit darah dan analisis gas
darah
2. Enteritis : feses lengkap
3. Bronkopneumonia: dilakukan pemeriksaan foto dada dan
analisis gas darah.
8 TERAPI  Pengobatan bersifat suportif, terdiri dari :
1. pemberian cairan yang cukup
2. kalori yang sesuai dan jenis makanan yang disesuaikan
dengan tingkat kesadaran dan adanya komplikasi
3. suplemen nutrisi
4. antibiotik diberikan apabila terjadi infeksi sekunder
5. anti konvulsi apabila terjadi kejang
6. pemberian vitamin A.
 Indikasi rawat inap : hiperpireksia (suhu > 39,00 C), dehidrasi,
kejang, asupan oral sulit, atau adanya komplikasi.
 Campak tanpa komplikasi :
1. Hindari penularan
2. Tirah baring di tempat tidur
3. Vitamin A 100.000 IU, apabila disetai malnutrisi
dilanjutkan 1500 IU tiap hari
4. Diet makanan cukup cairan, kalori yang memadai. Jenis
makanan disesuaikan dengan tingkat kesadaran pasien dan
ada tidaknya komplikasi.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 25


 Campak dengan komplikasi :
1. Ensefalopati/ensefalitis
 Antibiotika bila diperlukan, antivirus dan lainya sesuai
dengan PDT ensefalitis
 Kortikosteroid, bila diperlukan sesuai dengan PDT
ensefalitis
 Kebutuhan jumlah cairan disesuaikan dengan
kebutuhan serta koreksi terhadap gangguan elektrolit
2. Bronkopneumonia :
 Antibiotika sesuai dengan PDT pneumonia
 Oksigen nasal atau dengan masker
 Koreksi gangguan keseimbangan asam-basa , gas
darah dn elektrolit
Enteritis : koreksi dehidrasi sesuai derajat dehidrasi (lihat Bab
enteritis dehidrasi).
9 EDUKASI Jaga kebersihan, Perbanyak asupan cairan, Makanan bergizi
10 PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam/malam
Ad sanationam : dubia ad bonam/malam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam/malam
11 KEPUSTAKAAN 1. Parwati SB. Campak dalam perspektif perkembangan
imunisasi dan diagnosis. Pediatri pencegahan mutakhir I, CE
IKA Unair, 2000 : 73-92.
2. Katz SL. Measles in Katz SL, Gershon AA, Hotez PJ (eds).
Krugman’s Infectious Diseases of Children, 8th ed, St. Louis,
Mosby, 1998 : 247-264.
3. Kristensen I, Aaby P, Jensen H, Routine vaccination and child
survival : Follow up study in Guinea-Bissou, West Africa. Br
Med J. 2000; 321 : 1-8.
4. Joklik WK. Paramyxovirus in Joklik WK, Virology, 3rd ed.
London, Prentice-Hall International Inc., 1988; hal. 204-219.
5. Redd SC, Markowitz LE, Katz SL, Measles vaccine in
Plotkin and Orenstein (eds), Vaccines, 3rd ed, Philadelphia,
WB Saunders, 1999 : 222-266.
6. Toit DR, Ward KN, Brown DWG, Mirev E. Measles and
rubella misdiagnosed as exanthema subitum (roseola
infantum) Br Med J, 1996; 312 : 101-2.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 26


B PANDUAN PRAKTIK KLINIS
SMF ANAK
RS BANYUMANIK
Jl. Bina Remaja 61
Semarang

GLOMERULONEFRITIS AKUT PASKA STREPTOKOKUS


1 PENGERTIAN Suatu proses radang non-supuratif yang mengenai glomeruli,
sebagai akibat infeksi kuman streptokokus beta hemolitikus grup
A, tipe nefritogenik di tempat lain..
2 ANAMNESIS Bengkak seluruh tubuh, air kemih merah, badan lemas
3 PEMERIKSAAN  Sembab preorbita pada pagi hari (75%)
FISIK  Malaise, sakit kepala, muntah, panas dan anoreksia
 Asites (kadang-kadang)
 Takikardia, takipnea, rales pada paru, dan cairan dalam rongga
pleura
 Hipertensi (tekanan darah > 95 persentil menurut umur) pada
> 50% penderita
 Air kemih merah seperti air daging, oliguria, kadang-kadang
anuria
 Pada pemeriksaan radiologik didapatkan tanda bendungan
pembuluh darah paru, cairan dalam rongga pleura, dan
kardiomegali
4 KRITERIA 1. edema
DIAGNOSIS 2. hematuri
3. ASTO Test
5 DIAGNOSIS KERJA Glomerulonefritis Akut Paska Streptokokus
6 DIAGNOSIS  Hematuria berulang dengan glomerulonefritis fokal (IgA
BANDING nefropati)
 Hematuria berulang yang asimtomatis, tanpa penurunan fungsi
ginjal
 Timbunan IgA di glomeruli
 Hematuria berulang ringan
 Purpura Henoch-Schonlein
 Glomerulonefritis progresif

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 27


7 PEMERIKSAAN Air kemih :
PENUNJANG  Proteinuria ringan (pemeriksaan urine rebus)
 Hematuria makroskopis/mikroskopis
 Torak granular, torak eritrosit
Darah
 BUN naik pada fase akut, lalu normal kembali
 ASTO >100 Kesatuan Todd
 Komplemen C3 < 50 mg/dl pada 4 minggu pertama
 Hipergamaglobulinemia, terutama IgG
 Anti DNA-ase beta dan properdin meningkat
8 TERAPI Medikamentosa
Golongan penisilin dapat diberikan untuk eradikasi kuman,
dengan amoksisilin 50 mg/kg BB dibagi 3 dosis selama 10 hari.
Jika alergi terhadap golongan penisilin, diganti dengan
eritromisin 30 mg/kg BB/hari dibagi 3 dosis.
Diuretik diberikan untuk mengatasi retensi cairan dan hipertensi.
Jika terdapat hipertensi, berikan obat antihipertensi, tergantung
pada berat ringannya hipertensi.

Bedah
Tidak diperlukan tindakan bedah.
Suportif
Pengobaan GNAPS umumnya bersifat suportif. Tirah baring
umumnya diperlukan jika pasien tampak sakit misalnya
kesadaran menurun, hipertensi, edema. Diet nefritis diberikan
terutama pada keadaan dengan retensi cairan dan penurunan
fungsi ginjal. Jika terdapat komplikasi seperti gagal ginjal,
hipertensi ensefalopati, gagal jantung, edema paru, maka
tatalaksananya disesuaikan dengan komplikasi yang terjadi.
Lain-lain (rujukan subspesialis, rujukan spesialisasi lainnya
dll)
Rujuk ke dokter nefrologi anak bila terdapat komplikasi gagal
ginjal, ensefalopati hipertensi, gagal jantung.
9 EDUKASI 1. Jaga kebersihan
2. Makanan bergizi
10 PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam/malam
Ad sanationam : dubia ad bonam/malam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam/malam

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 28


11 KEPUSTAKAAN  Arant Jr BS, Roy III S, Stapleton BF, 1983. Poststreptococal
acute glomerulonephritis. In : Kelley VC, ed. Practice of
Pediatrics. Volume VIII. New York : harper and Row Publ.,
7 : 1.
 Cole BR, Madrigal LS, 1999. Acute Proliferative
Glomerulonephritis. In Barratt TM, Avner ED, Harmon WE.
4thED. Baltimor, Maryland USA : Lippincott William &
Wilkins, 669-689.
 Jordan CS, Lemire MJ, 1982. Acute Glomerulonephritis :
Diagnosis and Treatment. Pediatr Clin N Am , 29 : 857.
 Kempe CH, Silver HK, O’Brien D, 1980. Current Pediatric
Diagnosis and Treatment. 6th ed. Singapore : Maruzen
Co./Lange Medical Publ., 508.
 Noer MS . Glomerulonefritis, 2002. In Alatas H, Tambunan
T, Trihono PP, Pardede SO. Buku Ajar Nefrologi Anak. 2nd
.Ed. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
323-361.
 Smith JM, Faizan MK, Eddy AA, 2003. The child with acute
nephritic syndrome. In Webb NJA, Postlethwaite RJ ed,
Clinical Paediatric Nephrology 3rd ED. Great Britain :
Oxford University Press, 197-225.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 29


B PANDUAN PRAKTIK KLINIS
SMF ANAK
RS BANYUMANIK
Jl. Bina Remaja 61
Semarang

HIPERTENSI
1 PENGERTIAN suatu keadaan tekanan darah sistolik dan atau diastolik > persentil
ke 95 untuk umur dan jenis kelamin pada pengukuran 3 kali
berturut-turut.
2 ANAMNESIS Selain adanya gejala-gejala yang dikeluhkan penderita,
anamnesis yang teliti dan terarah sangat diperlukan untuk
evaluasi hipertensi pada anak. Riwayat pemakaian obat-obatan
seperti kortkosteroid, atau obat-obat golongan simpatomimetik
(misal efedrin). Riwayat penyakit dalam keluarga, misalnya
hipertensi, stroke, gagal ginjal, dan lain-lain.
3 PEMERIKSAAN Dilakukan pengukuran tekanan darah pada ke empat ekstremitas
FISIK untuk mencari koarktasio aorta. Kesadaran dapat menurun sampai
koma, tekanan sistolik dan diastolik meningkat, denyut jantung
meningkat. Dapat ditemukan bunyi murmur dan bruit, tanda
gagal jantung, dan tanda ensefalopati.
Pada pemeriksaan funduskopi dapat ditemukan kelainan retina
berupa perdarahan, eksudat, edema papil atau penyempitan
pembuluh darah arteriol retina.
4 KRITERIA Tekanan darah
DIAGNOSIS
5 DIAGNOSIS KERJA Hipertensi
6 DIAGNOSIS Hipertensi akut
BANDING Hipertensi akut dapat disebabkan oleh glomerulonefritis akut
pasca streptokokus, sindrom hemolitik uremik, lupus eritematosus
sistemik, dan purpura Henoch-Schonlein.
Pemeriksaan air kemih, kadar elektrolit, IgG, IgM, IgA, C3,
ASSTO, ANA, sel LE, BUN, kreatinin serum, dan hematologi,
dapat membedakan penyebab hipertensi tersebut.
Hipertensi kronik
Hipertensi kronik dapat disebabkan oleh glomerulonefritis kronik,
pielonefritis kronik, uropati obstruktif, penyempitan pembuluh

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 30


darah ginjal, dan gagal ginjal tahap akhir.
Hipertensi sekunder pada anak dapat pula disebabkan oleh
hiperaldosteronisme primer, sindrom Cushin, feokromositoma,
hipertiroid, hiperparatiroid, pengobatan steroid jangka panjang,
neurofibromatosis, sindrom Guillain-Barre, dan luka bakar.
7 PEMERIKSAAN -
PENUNJANG
8 TERAPI Medikamentosa
Penggunaan obat antihipertensi pada anak dimulai bila tekanan
darah berada 10 mmHg di atas persentil ke-95 untuk umur dan
jenis kelamin. Langkah pengobatan dan dosis obat antihipertensi
dapat dilihat pada lampiran.
Pengobatan hipertensi non krisis :
1. tekanan diastolik 90-100 mmHg : diuretik furosemid
2. tekanan diastolik 100-120 mmHg: furosemid ditambah
kaptopril, jika belum turun, ditambah antihipertensi golongan
beta bloker atau golongan lain.
Pengobatan krisis hipertensi :
1. Nifedipin oral diberikan dengan dosis 0,1 mg/kgBB/kali.
Dinaikkan 0,1 mg/kgBB/kali setiap 30 menit (dosis maksimal
10 mg/kali). Ditambah furosemid 1 mg/kgBB/kali, 2 kali
sehari , bila tidak turun diberi kaptopril 0,3 mg/kg/kali
diberikan 2-3 kali pehari.
2. Klonidin drip 0,002 mg/kgBB/8 jam + 100 ml dektrose 5%.
Tetesan awal 12 mikrodrip/menit, bila tekanan darah belum
turun, tetesan dinaikkan 6 mikrodrip/m setiap 30 menit
(maksimum 36 mikrodrip/m), bila tekanan darah belum turun
ditambahkan kaptopril 0,3 mg/kgBB/kali, diberikan 2-3 kali
sehari (maksimal 2 mg/kg/kali). Diberikan bersama furosemid
1 mg/kgBB/kali, 2 kali sehari.
II. Bedah
Sesuai dengan kelainan yang ditemukan.

III. Suportif
Pemberian nutrisi yang rendah garam dapat dilakukan. Pada anak
yang obesitas diperlukan usaha untuk menurunkan berat badan.
Olahraga dapat merupakan terapi pada hipertensi ringan.
Restriksi cairan.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 31


IV. Lain-lain (rujukan subspesialis, rujukan spesialisasi
lainnya dll)
Rujukan ke Bagian Mata untuk melihat keterlibatan retina. Rujuk
ke dokter nefrologi anak bila tidak berhasil dengan pengobatan
atau terjadi komplikasi
9 EDUKASI Jaga kebersihan
Makanan bergizi
10 PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam/malam
Ad sanationam : dubia ad bonam/malam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam/malam
11 KEPUSTAKAAN  Report of the Second Task Force on Blood Control in
Children, 1987. Pediatrics 79 : 1.
 Bahrun D, 2002. Hipertensi sistemik. In : Alatas H, Tambunan
T, Trihono PP, Pardede, SO, editors. Buku Ajar Nefrologi
Anak. 2nd edition. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, pp 242-290.
 Goonasekera CDA, Dillon MJ, 2003. The child with
hypertension. In : Webb NJA, Postlethwaite RJ, editors.
Clinical Paediatric Nephrology. 3rd edition. Oxford :
OxfordUniversity Press, pp 151-161.
 Goonasekera CDA, Dillon MJ, 2000. Measurement and
interpretation of blood pressure. Arch Dis Child 82 : 261-265.
 Arafat M, Mattoo TK, 1999. Measurement of blood pressure in
children : recommendation and prescriptions on cuff selection.
Pediatrics 104 : e30.
 Beevers G, Lip GYH, O’Brien E, 2001. Blood pressure
measurement Part-1 Sphygmomanometry : factors common to
all techniques. BMJ 322 : 981-985.
 Beevers G, Lip GYH, O’Brien E, 2001. Blood pressure
measurement Part-2 Conventional sphygmomanometry :
technique of auscultatory blood pressure measurment. BMJ
322 : 1043-1047.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 32


B PANDUAN PRAKTIK KLINIS
SMF ANAK
RS BANYUMANIK
Jl. Bina Remaja 61
Semarang

INFEKSI SALURAN KEMIH


1 PENGERTIAN infeksi yang terjadi pada saluran air kemih, mulai dari uretra, buli-
buli, ureter, piala ginjal sampai jaringan ginjal.
2 ANAMNESIS nyeri bila buang air kecil (dysuria), sering buang air kecil
(frequency), dan ngompol. Gejala infeksi saluran kemih bagian
bawah biasanya panas tinggi, gejala gejala sistemik, nyeri di
daerah pinggang belakang.
3 PEMERIKSAAN demam
FISIK keluhan saat berkemih
nyeri pinggang
1. gangguan anatomi saluran kencing (epispadi, hipospadi, fimosis)
4 KRITERIA keluhan saluran kemih
DIAGNOSIS Lab urine lengkap
5 DIAGNOSIS KERJA Infeksi Saluran Kemih
6 DIAGNOSIS Yang penting adalah membedakan antara pielonefritis dan sistitis.
BANDING Ingat akan pielonefritis apabila didapatkan infeksi dengan
hipertensi, disertai gejala-gejala umum, adanya faktor
predisposisi, fungsi konsentrasi ginjal menurun, respons terhadap
antibiotik kurang baik.
7 PEMERIKSAAN  Darah Lengkap
PENUNJANG  Urine Lengkap
 BUN-SK
 Foto polos abdomen
8 TERAPI Medikamentosa
Penyebab tersering ISK ialah Escherichia coli. Sebelum ada hasil
biakan urin dan uji kepekaan, untuk eradikasi infeksi akut
diberikan antibiotik secara empirik selama 7-10 hari. Jenis
antibiotik dan dosis dapat dilihat pada lampiran.
Bedah
Koreksi bedah sesuai dengan kelainan saluran kemih yang
ditemukan untuk menghilangkan faktor predisposisi..

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 33


Suportif
Selain pemberian antibiotik, penderita ISK perlu mendapat asupan
cairan cukup, perawatan higiene daerah perineum dan periuretra,
pencegahan konstipasi.
Lain-lain (rujukan subspesialis, rujukan spesialisasi lainnya
dll) Rujukan ke Bedah Urologi sesuai dengan kelainan yang
ditemukan. Rujukan ke Unit Rehabilitasi Medik untuk buli-buli
neurogenik. Rujukan kepada SpA(K) bila ada faktor risiko.
9 EDUKASI 1. Jaga kebersihan
2. Perbanyak asupan cairan
3. Makanan bergizi
10 PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam/malam
Ad sanationam : dubia ad bonam/malam
Ad fungsionam : dubia ad bonam/malam
11 KEPUSTAKAAN  Kempe CH, Silver HK, O,Brien D, 1980. Current Pediatric
Diagnosis and Treatment. 6th ed. Singapore : Maruzen
Co./Lange Medical Publ., 514.
 Lambert H, Coulthard M, 2003. The child with urinary tract
infection. In : Webb NJ.A, Postlethwaite RJ ed. Clinical
Paediatric Nephrology.3rd ED. Great Britain: Oxford
Universsity Press., 197-225.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 34


B PANDUAN PRAKTIK KLINIS
SMF ANAK
RS BANYUMANIK
Jl. Bina Remaja 61
Semarang

SINDROMA NEFROTIK
1 PENGERTIAN salah satu penyakit ginjal yang sering dijumpai pada anak,
merupakan suatu kumpulan gejala-gejala klinis yang terdiri dari
proteinuria masif, hipoalbuminemia, hiperkholesterolemia serta
sembab.
2 ANAMNESIS Keluhan yang sering ditemukan adalah bengkak di ke dua kelopak
mata, perut, tungkai, atau seluruh tubuh dan dapat disertai jumlah
urin yang berkurang. Keluhan lain juga dapat ditemukan seperti
urin berwarna kemerahan.
3 PEMERIKSAAN Pada pemeriksaan fisik sindrom nefrotik dapat ditemukan edema
FISIK di kedua kelopak mata, tungkai, atau adanya asites dan edema
skrotum/labia. Kadang-kadang ditemukan hipertensi.
4 KRITERIA edema
DIAGNOSIS hematuria
proteinuria
5 DIAGNOSIS KERJA Sindroma Nefrotik
6 DIAGNOSIS 1. Sembab non-renal : gagal jantung kongestif, gangguan nutrisi,
BANDING edema hepatal, edema Quincke.
2. Glomerulonefritis akut
3. Lupus sistemik eritematosus.
7 PEMERIKSAAN Pada urinalisis ditemukan proteinuria masif (3+ sampai 4+), dapat
PENUNJANG disertai hematuria. Pada pemeriksaan darah didapatkan
hipoalbuminemia (< 2,5 g/dl), hiperkolesterolemia, dan laju endap
darah yang meningkat, rasio albumin/globulin terbalik. Kadar
ureum dan kreatinin umumnya normal kecuali ada penurunan
fungsi ginjal.
8 TERAPI Bila diagnosis sindrom nefrotik telah ditegakkan, sebaiknya
janganlah tergesa-gesa memulai terapi kortikosteroid, karena
remisi spontan dapat terjadi pada 5-10% kasus. Steroid dimulai
apabila gejala menetap atau memburuk dalam waktu 10-14 hari.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 35


Bila diagnosis sindrom nefrotik telah ditegakkan, sebaiknya
janganlah tergesa-gesa memulai terapi kortikosteroid, karena
remisi spontan dapat terjadi pada 5-10% kasus. Steroid dimulai
apabila gejala menetap atau memburuk dalam waktu 10-14 hari.
Bila diagnosis sindrom nefrotik telah ditegakkan, sebaiknya
janganlah tergesa-gesa memulai terapi kortikosteroid, karena
remisi spontan dapat terjadi pada 5-10% kasus. Steroid dimulai
apabila gejala menetap atau memburuk dalam waktu 10-14 hari.
9 EDUKASI Jaga kebersihan
Makanan bergizi
10 PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam/malam
Ad sanationam : dubia ad bonam/malam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam/malam
11 KEPUSTAKAAN 1. Chesney RW, 1999. The idiopathic nephrotic syndrome.
Curr Opin Pediatr 11 : 158-61.
2. International Study of Kidney Disease in Children, 1978.
Nephrotic syndrome in children. Prediction of
histopathology from clinical and laboratory chracteristics at
time of diagnosis. Kidney Int 13 : 159.
3. Wila Wirya IG, 2002. Sindrom nefrotik. In: Alatas H,
Tambunan T, Trihono PP, Pardede SO, editors. Buku Ajar
Nefrologi Anak. Edisi-2. Jakarta : Balai Penerbit FKUI pp.
381-426.
4. Kaysen GA, 1992. Proteinuria and the nephrotic syndrome.
In : Schrier RW, editor. Renal and electrolyte disorders. 4th
edition. Boston : Little, Brown and Company pp. 681-726.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 36


B PANDUAN PRAKTIK KLINIS
SMF ANAK
RS BANYUMANIK
Jl. Bina Remaja 61
Semarang

BRONKITIS
1 PENGERTIAN proses keradangan pada bronkus dengan manifestasi utama berupa
batuk, yang dapat berlangsung secara akut maupun kronis
2 ANAMNESIS batuk, pilek yang berlangsung beberapa hari, sesak, demam
3 PEMERIKSAAN • Keadaan umum baik, anak tidak tampak sakit
FISIK • Panas sub febris seringkali terjadi
• Tidak didapatkan adanya sesak, pada pemeriksaan paru
didaptkan ronki basah kasar, dapat terdengar ronki kering
(coarse moist rales) yang tidak tetap
• Dapat ditemukan nasofaringitis, kadang conjunctivitis
4 KRITERIA gejala klinis : batuk, pilek
DIAGNOSIS foto Xray
5 DIAGNOSIS KERJA Bronkitis
6 DIAGNOSIS  Tuberkulosis
BANDING  Alergi
 Sinusitis
 Tonsilitis adenoid
 Bronkiektasis
 Benda asing/corpus alienum
 Kelainan kongenital
 Defisiensi imun
 Fibrosis kistik
7 PEMERIKSAAN  foto toraks dapat normal atau peningkatan corak
PENUNJANG bronkovaskuler.
 pada pemeriksaan laboratorium lekosit dapat normal atau
meningkat
8 TERAPI  Mengontrol batuk agar sekret menjadi lebih encer/lebih mudah
dikeluarkan :
 Anak dianjurkan untuk minum lebih banyak

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 37


 Pemberian uap atau mukolitik, bila perlu diikuti
fisioterapi dada.
 Hati-hati dalam pemberian antitusif dan antihistamin
karena akan mengakibatkan sekret menjadi lebih kental
sehingga dapat menimbulkan atelektasis atau pneumonia
 Antibiotika diberikan apabila didapatkan adanya kecurigaan
infeksi sekunder, dengan pilihan antibiotika : ampisilin,
kloksasilin, kloramfenikol, eritromisin
9 EDUKASI Jaga kebersihan
Perbanyak asupan cairan
Makanan bergizi
Imunisasi
10 PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam/malam
Ad sanationam : dubia ad bonam/malam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam/malam
11 KEPUSTAKAAN 1. Loughlin GM. Bronchitis. Dalam : Kendig EL, Chernick V,
penyunting. Kendig’s Disorders of the Respiratory Tract in
Children. Edisi ke-5. Philadelphia : WB Saunders 1990 : 349-
59.
2. Goodman D. Bronchitis. Dalam : Behrman RE, Kleigman
RM, Jenson HB, penyunting. NelsonTextbook of Pediatrics.
Edisi ke-17. Philadelphia : WB Saunders, 2003 : 1414-5.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 38


B PANDUAN PRAKTIK KLINIS
SMF ANAK
RS BANYUMANIK
Jl. Bina Remaja 61
Semarang

ASMA
1 PENGERTIAN adanya gejala batuk dan/atau mengi berulang, terutama pada
malam hari (nocturnal), reversible (dapat sembuh spontan atau
dengan pengobatan) dan biasanya terdapat atopi pada pasien dan
atau keluarganya
2 ANAMNESIS batuk, mengi, riwayat alergi
3 PEMERIKSAAN Pernafasan cuping hidung, retraksi sela iga, wheezing seluruh
FISIK lapang paru
4 KRITERIA Anamnesa
DIAGNOSIS Pemeriksaan fisik
5 DIAGNOSIS KERJA Asma
6 DIAGNOSIS  Bronkiolitis
BANDING  Bronkitis
 Pneumonia
 Tuberkulosis
7 PEMERIKSAAN  Uji fungsi paru dengan spirometri atau peak flow meter.
PENUNJANG Diagnosis asma dapat ditegakkan bila didapatkan :
o Variasi pada PFR (peak flow meter = arus puncak
ekspirasi) atau FEV1 (forced expiratory volume 1
second = volume ekspirasi paksa pada detik pertama) ≥
15%
o Kenaikan ≥ 15% pada PFR atau FEV1 setelah
pemberian inhalasi bronkodilator
o Penurunan ≥ 20% pada PFR atau FEV1 setelah
provokasi bronkus.
 Pemeriksaan Ig E dan eosinofil total. Bila terjadi
peningkatan dari nilai normal akan menunjang diagnosis

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 39


Foto toraks untuk melihat adanya gambaran emfisematous
atau adanya komplikasi pada saat serangan. Foto sinus para
nasal perlu dipertimbangkan pada anak > 5 tahun dengan
asma persisten atau sulit diatasi
8 TERAPI  Berikan oksigen
 Nebulasi dengan -agonis ± antikolinergik dengan oksigen
dengan 4-6 kali pemberian.
 Koreksi asidosis, dehidrasi dan gangguan elektrolit bila ada
 Berikan steroid intra vena secara bolus, tiap 6-8 jam
 Berikan aminofilin intra vena :
o Bila pasien belum mendapatkan amonifilin sebelumnya,
berikan aminofilin dosis awal 6 mg/kgBB dalam
dekstrosa atau NaCl sebanyak 20 ml dalam 20-30 menit
o Bila pasien telah mendapatkan aminofilin (kurang dari 4
jam), dosis diberikan separuhnya.
o Bila mungkin kadar aminofilin diukur dan
dipertahankan 10-20 mcg/ml
o Selanjutnya berikan aminofilin dosis rumatan 0,5-1
mg/kgBB/jam
 Bila terjadi perbaikan klinis, nebulasi diteruskan tiap 6 jam
hingga 24 jam, dan pemberian steroid dan aminofilin dapat
per oral
 Bila dalam 24 jam pasien tetap stabil, pasien dapat
dipulangkan dengan dibekali obat -agonis (hirupan
atau oral) yang diberikan tiap 4-6 jam selama 24-48 jam.
Selain itu steroid oral dilanjutkan hingga pasien kontrol ke
klinik rawat jalan dalam 24-48 jam untuk reevaluasi
tatalaksana.
9 EDUKASI Jaga kebersihan
Perbanyak asupan cairan
Makanan bergizi
10 PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam/malam
Ad sanationam : dubia ad bonam/malam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam/malam
11 KEPUSTAKAAN 1. UKK Pulmonologi PP Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Pedoman Nasional Asma Anak, Bali 2002, hal : 1-9.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 40


2. Rahajoe N, Supriyatno B, Setyanto DB. Pedoman Nasional
Asma Anak. UKK Pulmonologi : PP IDAI, 2004.
3. Michael Sly. AsthmaDalam : Behrman RE, Kliegman RM,
Arvin AM, penyunting. Nelson Textbook of Pediatric. Edisi
ke-16. Philadelphia : WB Saunders, 2000 : 664-80.
4. Larsen Garyl, Colasurdo GN. Assesment and treatment of
Acute Asthma in Children and aldolecens Dalam: Naspitz
CK, penyunting. Text Book of Pediatric Asthma an
International Perspective. Edisi ke-1. United Kingdom :
Martin Dunitz, 2001 : 189-209.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 41


B PANDUAN PRAKTIK KLINIS
SMF ANAK
RS BANYUMANIK
Jl. Bina Remaja 61
Semarang

ALERGI OBAT
1 PENGERTIAN respon abnormal seseorang terhadap bahan obat atau metabolitnya
melalui reaksi imunologi yang dikenal sebagai reaksi
hipersensitivitas yang terjadi selama atau setelah pemakaian obat.
2 ANAMNESIS gejala alergi seperti ruam kemerahan, bibir atau kelopak mata
bengkak, gatal seluruh tubuh segera setelah meminum obat
tertentu
3 PEMERIKSAAN urtikaria
FISIK edema palpebra, edema labial
wheezing
4 KRITERIA gejala alergi
DIAGNOSIS riwayat penggunaan obat tertentu
5 DIAGNOSIS KERJA Alergi Obat
6 DIAGNOSIS  Reaksi alergi lainnya
BANDING  Gatal karena infeksi
7 PEMERIKSAAN uji in vivo dan in vitro terdapat obat atau metabolitnya. Uji in vivo
PENUNJANG berupa uji kulit dan uji provokasi. Uji in vitro terbata sebagai
sarana penelitian dan bukan merupakan prosedur rutin.
8 TERAPI Penghentian obat
Kalau mungkin semua obat dihentikan dulu,kecuali obat yang
memang perlu dan tidak dicurigai sebagai penyebab reaksi alergi
atau menggantikan dengan obat lain.
Pengobatan
Manifestasi klinis ringan umumnya tidak memerlukan
pengobatan khusus. Untuk pruritus, urtikaria atau edema
angionerotik dapat diberikan antihistamin misalnya,
diphenhidramin, loratadin atau cetirizine dan kalau kelainan cukup
luas diberikan pula adrenalinsubkutan dengan dosis 0,01
mg/kg/dosis maksimum 0,3 mg/dosis. Difenhidramin diberikan
dengan dosis 0,5 mg/kg/dosis, 3 kali/24 jam. CTM diberikan
dengan dosis 0,09 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam. Setirizin, dosis

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 42


pemberian sesuai usia anak adalah : 2-5 tahun: 2.5 mg/dosis, 1
kali/hari; > 6 tahun : 5-10 mg/dosis, 1 kali/hari. Loratadin, dosis
pemberian sesuai usia anak adalah : 2-5 tahun: 2.5 mg/dosis,1
kali/hari; > 6 tahun : 10 mg/dosis, 1 kali/hari. Feksofenadin,
dosis pemberian sesuai usia anak adalah: 6-11 tahun : 30 mg/hari,
2 kali/hari; > 12 tahun : 60 mg/hari, 2 kali/hari atau 180mg/hari,
4kali/hari.
Bila gejala klinis sangat berat misalnya dermatitois eksfoliatif,
ekrosis epidermal toksik, sindroma Steven Johnson, vaskulitis,
kelainan paru, kelainan hematologi harus diberikan kortikosteroid
serta pengobatan suportif dengan menjaga kebutuhan cairan dan
elektrolit, tranfusi, antibiotik profilaksis dan perawatan kulit
sebagaimana pada luka bakar untuk kelainan-kelainan dermatitis
eksfoliatif, nekrosis epidermal toksik dan Sindroma Steven
Johnson.
9 EDUKASI Kenali gejala alergi
Jaga kebersihan
Makanan bergizi
10 PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam/malam
Ad sanationam : dubia ad bonam/malam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam/malam
11 KEPUSTAKAAN Boguniewicz M. Adverse reaction to drugs. In: Behrman RE,
Kliegman RM, Jenson HB (eds) : Textbook of Pediatrics. 17th Ed
Philadelphia, WB Saunders 2004. pp. 783-785.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 43


B PANDUAN PRAKTIK KLINIS
SMF ANAK
RS BANYUMANIK
Jl. Bina Remaja 61
Semarang

RHINITIS ALERGIKA
1 PENGERTIAN gangguan fungsi hidung, terjadi setelah paparan alergen melalui
peradangan mukosa hidung yang diperantarai IgE.
2 ANAMNESIS rinorea, gatal hidung, bersin-bersin dan sumbatan hidung yang
membaik bila paparan alergi menghilang
3 PEMERIKSAAN edema konka nasal
FISIK konka pucat
4 KRITERIA gejala tersebut di atas terutama bila terpapar alergen
DIAGNOSIS
5 DIAGNOSIS KERJA Rhinitis alergika
6 DIAGNOSIS 1. Rinitis vasomotorik
BANDING 2. Rinitis bakterial
3. Rinitis virus
7 PEMERIKSAAN Uji laboratorium yang penting adalah pemeriksaan in vivo dengan
PENUNJANG uji kulit goresan, IgE total, IgE spesifik, dan pemeriksaan
eosinofil pada hapusan mukosa hidung.
8 TERAPI edukasi, penghindaran alergen, farmakoterapi dan imunoterapi.
9 EDUKASI Jaga kebersihan
Makanan bergizi
10 PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam/malam
Ad sanationam : dubia ad bonam/malam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam/malam
11 KEPUSTAKAAN 1. Christodoupoulos P, Cameron L, Durham S, Hamid Q.
Molecular pathology of allergic rhinitis. J Allergy Clin
Immunol 2000; 105 : 211-23.
2. Meltzer EO. Quality of life in adults and children with allergic
rhinitis. J Allergy Clin Immunol 2001; 108 : S45-53.
3. Cauwenberge P. Consensus statement on the treatment of
allergic rhinitis. Eur Acad Allergology Clin Immunol Allergy
2000; 55 : 116-34.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 44


4. Dibildox J. Safety and efficacy of mometasone furoate
aqueous nasal spray in children with allergic rhinitis : Results
of recent clinical trials. J Allergy Clin Immunol 2001; 108 :
S54-8.
5. Pullerits T,Prack L, Ristioja V, Lotvail J. Comparison of a
nasal glucocorticoid, antileukotriene, and a combination of
antileukotriene and antihistamine in the treatment of seasonal
allergic rhinitis. J Allergy Clin Immunol 2002; 109 : 949-55.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 45


B PANDUAN PRAKTIK KLINIS
SMF ANAK
RS BANYUMANIK
Jl. Bina Remaja 61
Semarang

DIABETES MELITUS TIPE I


1 PENGERTIAN gangguan metabolisme yang dapat disebabkan berbagai macam
etiologi, disertai dengan adanya hiperglikemia kronis akibat
gangguan sekresi insulinakibat kerusakan sel β-pankreas yang
didasari proses autoimun
2 ANAMNESIS Polidipsi, poliuria, polifagia, badan lemas, berat badan turun
Kondisi tidak sadar ke UGD
3 PEMERIKSAAN -
FISIK
4 KRITERIA Anamnesa
DIAGNOSIS Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan penunjang
5 DIAGNOSIS KERJA Diabetes Mellitus tipe 1
6 DIAGNOSIS  Produksi berlebihan glukokortikoid atau katekolamin pada :
BANDING o Tumor hipotalamus atau hipofisis
o Tumor atau hiperplasia adrenal
o Feokromositoma
Pada keadaan ini didapatkan uji toleransi glukosa yang
abnormal dan glukosuria tanpa ketosis, yang disebabkan oleh
peningkatan glikogenolisis dan glukoneogenesis.
 Renal glukosuria.
Pada keadaan ini didapatkan glukosuria tanpa hiperglikemia
maupun ketosis
7 PEMERIKSAAN  Kadar glukosa darah puasa dan 2 jam setelah makan > 200
PENUNJANG mg/dl.
 Ketonemia, ketonuria.
 Glukosuria.
 Bila hasil meragukan atau asimtomatis, perlu dilakukan uji
toleransi glukosa oral (oral glucosa tolerance test).
 Kadar C-peptide.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 46


 Marker imunologis : ICA (Islet Cell auto-antibody), IAA
(Insulin auto-antibody), Anti GAD (Glutamic decarboxylase
auto-antibody).
8 TERAPI  Pada dugaan DM tipe-1 penderita harus segera rawat inap.
 Insulin
Dosis total insulin adalah 0,5 - 1 UI/kg BB/hari.
Selama pemberian perlu dilakukan pemantauan glukosa darah
atau reduksi air kemih. Gejala hipoglikemia dapat timbul
karena kebutuhan insulin menurun selama fase ”honeymoon”.
Pada keadaan ini, dosis insulin harus diturunkan bahkan
sampai kurang dari 0,5 UI/kg BB/hari, tetapi sebaiknya tidak
dihentikan sama sekali.
 Diet
Jumlah kebutuhan kalori untuk anak usia 1 tahun sampai
dengan usia pubertas dapat juga ditentukan dengan rumus
sebagai berikut :
1000 + (usia dalam tahun x 100) = ....... Kalori/hari
o Komposisi sumber kalori per hari sebaiknya terdiri atas :
50-55% karbohidrat, 10-15% protein (semakin menurun
dengan bertambahnya umur), dan 30-35% lemak.
o Pembagian kalori per 24 jam diberikan 3 kali makanan
utama dan 3 kali makanan kecil sebagai berikut :
 20% berupa makan pagi.
 10% berupa makanan kecil.
 25% berupa makan siang.
 10% berupa makanan kecil.
 25% berupa makan malam.
 10% berupa makanan kecil.
Pengobatan penyakit penyerta seperti infeksi dan lain-lain
9 EDUKASI Jaga pola makan
Kontrol gula darah berkala
10 PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam/malam
Ad sanationam : dubia ad bonam/malam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam/malam
11 KEPUSTAKAAN 1. APEG. Clinical Practice Guidelines : Type-1 Diabetes in
Children and Adolescents. 2005.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 47


2. Drash AL. Management of the Child with Diabetes Mellitus-
Clinical Course, Therapeutic Stategies, and Monitoring
Techniques. In : Lifshitz F, ed. Pediatric Endocrinology. New
York: Marcel Dekker ; 1996 : 617-29.
3. International Society for Pediatric and Adolescent Diabetes.
Consensus Guidelines 2000-ISPAD Consensus
Guidelines for Management of Type 1 Diabetes Mellitus in
Children and Adolescents. Zeist, Netherlands : ISPAD, 2000.
4. Netty EP, Faizi M. Diabetes Mellitus pada Anak dan Remaja.
In : Continuing Education Ilmu Kesehatan Anak No 32.
Surabaya : Oktober 2002; 11-22.
5. Netty EP. Diabetes Mellitus Tipe I dan Penerapan Terapi
Insulin Flexibel pada Anak dan Remaja. Diajukan pada Forum
Komunikasi Ilmiah (FKI) Lab./SMF Ilmu Kesehatan Anak FK
UNAIR/RSUD Dr. Soetomo Surabaya. February 13, 2002.
6. UKK Endokrinologi. Konsensus Nasional Pengelolaan
Diabetes Mellitus Tipe-1 Di Indonesia. Jakarta : PP IDAI,
2000.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 48


B PANDUAN PRAKTIK KLINIS
SMF ANAK
RS BANYUMANIK
Jl. Bina Remaja 61
Semarang

KETOASIDOSIS DIABETIK
1 PENGERTIAN Kondisi yang mengancam jiwa yang disebabkan penurunan kadar
insulin efektif didalam tubuh, atau berkaitan dengan resistensi
insulin, dan disertai peningkatan produksi hormon-hormon kontra
regulator yakni : glukagon, katekolamin, kortisol dan growth
hormon.
2 ANAMNESIS Poliuri, polidipsi dan penurunan berat badan yang nyata biasanya
terjadi beberapa hari menjelang KAD, dan sering disertai mual-
muntah dan nyeri perut.
3 PEMERIKSAAN kesadaran menurun
FISIK sesak
syok
nafas bau keton
4 KRITERIA  Anamnesis
DIAGNOSIS  Pemeriksaan Fisik
 Hiperglikemia, bila kadar glukosa darah > 11 mmol/L (> 200
mg/dL).
 Asidosis, bila pH darah < 7,3.
 kadar bikarbonat < 15 mmol/L.
5 DIAGNOSIS KERJA Ketoasidosis Diabetik
6 DIAGNOSIS hipoglikemia, uremia, gastroenteritis dengan asidosis metabolik,
BANDING asidosis laktat, intoksikasi salisilat, bronkopneumonia, ensefalitis,
dan lesi intrakranial
7 PEMERIKSAAN 1. Kadar glukosa darah.
PENUNJANG 2. Elektrolit darah (tentukan corrected Na) dan osmolalitas
serum.
3. Analisis gas darah, BUN dan kreatinin.
4. Darah lengkap (pada KAD sering dijumpai gambaran
lekositosis), HbA1c, urinalisis (dan kultur urine bila ada
indikasi).

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 49


5. Foto polos dada.
6. Keton urine (dan atau keton darah).
8 TERAPI Memperbaiki sirkulasi dan perfusi jaringan (resusitasi dan
rehidrasi), 2) Menghentikan ketogenesis (insulin), 3) Koreksi
gangguan elektrolit, 4) Mencegah komplikasi, 5) Mengenali dan
menghilangkan faktor pencetus.
9 EDUKASI Kontrol gula darah teratur
10 PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam/malam
Ad sanationam : dubia ad bonam/malam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam/malam
11 KEPUSTAKAAN 1. Kitabchi AE, et al. Management of Hyperglycemic Crises in
Patients With Diabetes. Diabetes Care 2001; 24 (1) : 131-53.
2. Dunger DB, et al. European Society for Paediatric
Endocrinology/Lawson Wilkins Pediatric Endocrine Society
Consensus Statement on Diabetic Ketoacidosis in Children
and Adolescents. Pediatrics 2004; 113 : e133-40.
3. APEG. Clinical Practice Guidelines : Type-1 Diabetes in
Children and Adolescents. 2005.
4. ISPAD. Consensus Guidelines. ISPAD Consensus
Guidelines for The Management of Type I Diabetes Mellitus
in Childhood and Adolescents. 2000.
5. Wallace TM, Matthews DR. Recent Advance in The
Monitoring and management of Diabetic Ketoacidosis. QJ
Med 2004; 97 : 773-80.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 50


B PANDUAN PRAKTIK KLINIS
SMF ANAK
RS BANYUMANIK
Jl. Bina Remaja 61
Semarang

DIARE
1 PENGERTIAN Keluarnya tinja cair lebih dari tiga kali/24 jam
 Diare Akut :
Terjadi akut dan berlangsung paling lama 3-5 hari
 Diare berkepanjangan :
Berlangsung lebih dari 7 hari
 Diare kronik :
Berlangsung lebih dari 14 hari
2 ANAMNESIS Frekuensi buang air besar bertambah dengan bentuk dan konsistensi yang
lain dari biasanya dapat cair, berlendir, atau berdarah, dapat juga disertai
gejala lain, anoreksia panas, muntah atau kembung. Dapat disertai gejala
komplikasi, gangguan elektrolit, dehidrasi, gangguan gas darah/asidosis.
3 PEMERIKSAAN bising usus mningkat
FISIK tanda dehidrasi : letargi, ubun-ubun besar cekung, mata cowong, turgor
kulit menurun
4 KRITERIA frekuensi & konsistensi buang air besar bertambah sering & cair
DIAGNOSIS
5 DIAGNOSIS Diare
KERJA
6 DIAGNOSIS  Intoleransi
BANDING  Intoksikasi
 Diare karena infeksi virus, bakteri
7 PEMERIKSAAN Darah lengkap
PENUNJANG Faeces lengkap
8 TERAPI Resusitasi Cairan dan Elektrolit sesuai derajat dehidrasi dan kehilangan
elektrolitnya

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 51


Upaya Rehidrasi Oral (U.R.O.)
Usia Dehidrasi Ringan Tanpa Dehidrasi - jam
– 3 jam pertama selanjutnya
(50ml/kg) (10-20 ml/kg/setiap
diare)
Bayi sp 1 tahun 1,5 gelas * 0,5 gelas*
Bayi sp 5 tahun 3 gelas ** 1 gelas **
Bayi > 5 tahun 6 gelas 2 gelas

* Berat badan + 6 kg :
6 kg x 50 ml = 300 mI = + 1,5 gelas
6 kg x 10-20 ml = 60-120 ml/setiap diare = 0,5 gelas/setiap diare
** Berat badan + 13 kg :
13 kg x 50 mi = 650 mi = 3 gelas
13 kg x 10-20 mi = 150-250 ml/setiap diare = 1 gelas setiap diare
Terapi Cairan Standar (Iso Hiponatremia) Untuk Segala Usia Kecuali
Neonatus
PLAN DERAJAT KEBUTUHAN JENIS CARA/LAMA
DEHIDRASI CAIRAN CAIRAN PEMBERIAN
C BERAT +30 ml/kg/1 RL T.I.V/ 3 Jam
jam atau lebih
= 10 tts/kg/mnt cepat
*) SEDANG +70 ml/kg/1 HSD T.I.V/ 3 Jam
B 6-9 % jam Atau Atau
= 5 tts/kg/mnt Oralit T.I.G/ 3 Jam
+50 ml/kg//3 Atau
RINGAN jam HSD Oral 3 jam
= 3- 4 atau T.I.V/ 3 Jam
tts/kg/mnt oralit Atau
T.I.G/ 3 Jam

A TANPA +10-20 ml/kg/ Larutan Oral sampai


DEHIDRASI setiap kali diare RT atau diare berhenti
oralit
Keterangan : T.I.V : tetes intra venus
T.I.G : tetes intra gastrik
Jenis-jenis cairan :
 Larutan Baku Yang Tersedia
 Ringir Laktat (RL)
 Cairan Garam Faali (NS = NaCl 0,9%)

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 52


 Dekstrosa 5% , 10% (D5 , D10)
 Dekstrosa 5% dalam 0,225% NaCL (D5 – ¼ NS)
 Bikarbonas – natrikus (NaBik) 2% - 3,75% -7,5%)
 KCl 15%
 NaCl15%
 Larutan Khusus
 R.L. (Ringer Lactate)
 D5 : NS = 4 : 1 + NaBik (15 mEq/l) + KCl ( 10 mEq/l)
 D5 – ¼ NS + NaBik + KCl
 D5 : RL = 4 : 1 + KCl
 D5 + 6 ml NaCl 15% + NaBik + KCl
 Khusus untuk neonatus, kurang dari 3 bulan, kurang dari 4 kg.
 D10 : NS = 4 : 1 + NaBik (7mEq/l) + KCL (5mEq/l)
Penambahan NaBik / KCl untuk 500 ml cairan :
 Bila NaBik 2% : 60 ml
NaBik 3,75% : 30 ml
NaBik 7,5% : 15 ml
Untuk neonatus ½ dosis
 Bila KCl 15% : 5 ml
Untuk neonatus ½ dosis
(1 liter 7,79% NaBik = 90 mEq Na+ dan HCO3-)
(1 liter 14,9% KCl = 2000 mEq K+)
Perkecualian :
A. Neonatus ( < 3 bulan )
D10%/0,18NaCl 30 ml/kg.BB 2 jam
D10%/0,18NaCl 70 ml/kg.BB 6 jam
B. Penyakit Penyerta (Broncopneumonia., Malnutrisi berat, dsb)
HSD 30 ml/kg.BB 2 jam
HSD 70 ml/kg.BB 6 jam
*)
C. Hipernatremia :
HSD 320 ml/kg.BB 48 jam
Setelah melewati resusitasi cepat (1-2 jam) diberikan cairan HSD
secara lambat
Defisit (70 ml) + rumatan (100 ml) + 2 hari ongoing losses :± 320
mi/kg dalam waktu 48 jam (2-3 tetes/kg/menit)

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 53


 Dietetik
Makanan tetap diberikan, ASI diteruskan, formula diencerkan dalam
waktu singkat. Makanan tambahan sesuai umur dengan konsistensi
yang mudah dicerna
 Vitamin A 100.000 IU (untuk anak di atas 1 tahun); 50.000 IU (untuk
anak di bawah 1 Tahun)
 Probiotik : 1 kapsul/1 bungkus per hari
 Pada umumnya tidak diperlukan antimikrobial
Penggunaan antimikrobial hanya pada kasus-kasus tertentu dan kasus-
kasus resiko tinggi, misalnya bayi sangat muda, gizi kurang dan adal
penyakit penyerta
Obat antimikroba yang digunakan pada pengobatan diare akut
oleh penyebab khusus pada anak.
(1) (2)
Penyebab
Antibiotika Terpilih Pilihan Lain
Kolera Tetraksiklin Furasolidon
 Anak diatas 7 thn 50  Anak 5 mg/kg/hr
mg/kg/hr dibagi 4 dosis dibagi 4 dosis untuk
untuk 2 hari. 3 hari
Shigella2 Trimetoprim (TMP) Trimetoprim (TMP)
 Sulfametoksasol (SMX) Sulfametoksasol
 Anak –TMP 10 mg/kg/hr (SMX) 4
dan SMX 50 mg/kg/hr Semua umur – TMP 8
Dibagi 2 dosis selama 5 mg/kg/hr
hari. Dibagi 2 dosis selama
3 hari.
Asam nalikdisat Bila dianggap perlu
 Anak –55 mg/kg/hr dapat diberikan
dibagi 4 dosis selama 5 antibiotik yang lain
hari lebih murah tetapi
cukup sensitif

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 54


Amebiasis Metronidasol Pada kasus yang berat
Usus akut - Anak – 30 mg/kg/hr : injeksi intra
selama 5 – 10 hari muskuler, dalam
dehidro emetin
hidrokhlorida
1 – 1,5 mg/kg (maks
90 mg) s.d. 5 hari
tergantung reaksi
(untuk semua umur)

Giardiasis Metronidasol Kuinakrin


- Anak –15 mg/kg/hr - Anak – 7 mg/hr
selama 5 hari dosis terbagi dalam
dosis terbagi – 5
hari
 Pengobatan problem penyerta
 Obat-obat diare tidak dianjurkan
9 EDUKASI Jaga kebersihan
Perbanyak asupan cairan
Makanan bergizi
10 PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam/malam
Ad sanationam : dubia ad bonam/malam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam/malam
11 KEPUSTAKAAN  Fitzegerald, J.F., MD.; Joseph H. Clark, MD. Chronic diarrhea Manual
of Pediatric Gastro Enterology. Churchil Livingstone : Edisi I 1988; p
43-57.
 Lehenthal Emanuel. Chronic Diarrhea in Children. New York
Nestle/Vevey Raven Press, 1984.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 55


B PANDUAN PRAKTIK KLINIS
SMF ANAK
RS BANYUMANIK
Jl. Bina Remaja 61
Semarang

KONSTIPASI
1 PENGERTIAN Keluarnya tinja yang sulit, keras, tidak basah dengan ukuran yang
lebih besar dari biasanya atau frekwensi buang air besar kurang
dari 3 kali seminggu atau.
2 ANAMNESIS Selain konstipasi sendiri, juga dapat ditemukan gejala klinis lain :
 Anoreksia ringan
 Tenesmus
 Flatus berlebihan
 Nyeri perut
 Bercak garis darah yang menempel pada tinja sebagai akibat
fisura ani
 Prolaps rekti
 Masa tinja pada abdomen bagian bawah
 Rembesan tinja pada celana dalam (soiling)
3 PEMERIKSAAN bising usus menurun
FISIK meteorismus
tenesmus
4 KRITERIA  Anamnesis
DIAGNOSIS  Pemeriksaam Fisik
5 DIAGNOSIS KERJA Konstipasi
6 DIAGNOSIS  Penyakit Hirschprung
BANDING  Hipotiroid
 Ileus
7 PEMERIKSAAN Klinis
PENUNJANG Foto polos abdomen
8 TERAPI Penanganan umum :
 Manipulasi diet
Dengan menambahkan cairan dan banyak memberikan
makanan berseratt, serta dicari apakah makanan/minuman yang
tlah diterima anak mengandung bahan yang dapat menimbulkan
konstipasi

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 56


 Pemberian obatan-obatan yang meliputi 3 tahapan yaitu :
 Tahap Pertama untuk meniadakan pemampatan tinja
(disimpaction)
 Laktulosa 5-15 ml sekali sehari atau dengan enema fosfat
hipertonik 3 ml/kg, diberikan 4-6 minggu.
 Tahap kedua untuk mencegah penumpukan tinja kembali,
dengan diberikan laksan yang bersifat stimulan atau
osmotik seperti laktulosa. Tahap kedua ini dilakukan
selama 3 bulan.
 Tahap ketiga untuk menciptakan pergerakan intestinal
yang teratur, dengan toilet training. Refleks
gastrokolikdiharapkan timbul bila anak didudukkan di atas
jamban (toilet) selama 5-15 menit sesudah anak mendapat
makanan (biasanya makanan pagi).
9 EDUKASI Jaga kebersihan
Perbanyak asupan cairan
Makanan banyak serat
10 PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam/malam
Ad sanationam : dubia ad bonam/malam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam/malam
11 KEPUSTAKAAN  Borowitz SM, Cox DJ, Tam A, Ritter band LM Sutphem JL,
Penberthy JK. Precipitant of constipation during early
childhood. The Journal of the American Board of Family
Practice, 2003; 16 : 213-218.
 Buller HA, Heymans HSA. Diagnosis and treatment of
constipation. Nutricia Scientific Workshop, Surabaya 1997.
 Cleghorn G. How to investigate the child with constipation.
Medical progress 1999; 26 (7) : 33-35

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 57


B PANDUAN PRAKTIK KLINIS
SMF ANAK
RS BANYUMANIK
Jl. Bina Remaja 61
Semarang

MUNTAH
1 PENGERTIAN Muntah pada bayi dan anak dapat terjadi secara regurgitasi dari isi
lambung sebagai akibat refluks gastroesofageal atau dengan
menimbulkan refleks emetik yang menyebabkan mual, kontraksi
dari diafragma, interkostal, dan otot abdomen anterior serta
ekspulsi dengan kekuatan isi lambung. Terdapat dua tipe muntah
yaitu yang akut dan kronis.Batasan muntah kronis apabila muntah
lebih dari 2 minggu.
2 ANAMNESIS Usia Anak
 Minggu I
 Obstruksi usus
 Inborn metabolic error
 Hiperplasia adrenal kongenital (CAH)
 Sesudah minggu I
 Stenosis pilorik
 Hernia hiatur
 Sesudah bulan I
 Infeksi (ISK, meningitis dan sebagainya)
 Gangguan metabolik
 Intoleransi makanan
 Hematoma sundural
 Aerofagia
 Anak besar
 Muntah siklik (migren abdominal)
 Apendisitis
 Torsi testis
 Gastritis
 Keracunan makanan
 Henoch schonlein
 Ketoasidosis diabetik
 Uremi

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 58


 tukak peptik
 Peningkatan tekanan intra kranial
 Iritasi faring
 Psikogenik
 Sifat muntah
 Proyektil : stenosis pilorik hipertrofi
 Muntah nokturnal : hernia hiatal
 Muntah disertai nyeri : esofagitis
3 PEMERIKSAAN Ikterus
FISIK Ubun-ubun tegang
Hipertensi arterial
Tumor abdomen
4 KRITERIA Anamnesis
DIAGNOSIS Pemeriksaan Fisik
5 DIAGNOSIS KERJA Vomiting
6 DIAGNOSIS  Infeksi saluran cerna
BANDING  Intoksikasi makanan
 Dyspepsia
7 PEMERIKSAAN  Urine
PENUNJANG  Protein, darah, uro/bilirubin, bahan yang mereduksi (DM)
 Analisa asam amino (penyebab metabolik)
 Kultur (ISK)
 Darah
 BUN, kreatinin (kelainan ginjal)
 Elektrolit (komplikasi muntah)
 Status asam basa (komplikasi muntah)
 Uji fungsi hati (penyakit hepar)
 Radiologis/Endoskopi
 Foto abdomen (terlentang dan tegak) : obstruksi
 Foto abdomen kontras : stenosis pilorik hipertrofi,
invaginasi
 USG : stenosis pilorik hipertrofi, invaginasi
 IVP : kelainan ginjal/saluran kemih
 CT/MRI
 Endoskopi atas : tukak, duodenitis, gastritis
 Monitor pH esofagus : refluks gastroesofageal

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 59


8 TERAPI Penanganan penderita dengan muntah ditujukan untuk
 Mengatasi akibat/penyulit muntah
 Simtomatik untuk mengurangi/menghilangkan gejala muntah
Kontraindikasi untuk : gastroenteritis, anomali usus atau
kedaruratan bedah.
Metoklopramid: 0,1-0,2 mg/kg/dosis 3 kali sehari
Domperidone: 0,3 mg/kg/dosis 3 kali sehari
Ondasentron: 4 mg/8 jam selama 5 hari
Sumatriptan: 0,1-1,2 mg/kg/hari
Simetidin : 5-10 mg/kg/dosis 3 kali sehari
Ranitidin : 1-2 mg/kg/dosis 2-3 kali sehari
 Secara spesifik menghilangkan penyakit penyebab
9 EDUKASI Jaga kebersihan
Perbanyak asupan cairan
Makanan bergizi
10 PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam/malam
Ad sanationam : dubia ad bonam/malam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam/malam
11 KEPUSTAKAAN  Cotto, S. and R. Ranuh (2003). "Abdominal migraine and
cyclical vomiting." Seminars in Pediatric Surgery 12 : 254-258.
 Dignan, F., D. N. K. Symon, et al. (2003). "The prognosis of
cyclical vomiting syndrome." Arch Dis Child 84 : 55-57.
 Murray, K. F. and D. L. Christie (1998). "Vomiting." Pediatric
19 : 337-341.
 Judith, M. S. (2004). Vomiting. Pediatric Gastrointestinal
Disease. Walker., Goulet., Kleinman.et al. Ontario, BC. Decker
Inc. 1 : 203-209.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 60


B PANDUAN PRAKTIK KLINIS
SMF ANAK
RS BANYUMANIK
Jl. Bina Remaja 61
Semarang

PENYAKIT HIRSCHPRUNG
1 PENGERTIAN Penyakit hirschprung ditandai dengan tidak adanya secara
kongenital sel ganglion di dalam pleksus mienterikus dan
submukosa. Panjang segmen aganglionik bervariasi mulai dari
segmen yang pendek yang hanya mengenai daerah sfingter anal
sampai daerah yang meliputi seluruh kolon bahkan usus kecil.
2 ANAMNESIS  Terlambatnya pengeluaran mekonium pada bayi baru lahir (>
48 jam), dan didapatkan gejala obstruksi intestinal setelah hari
ke 2 (distensi abdominal, muntah, minum yang berkurang).
 Pada anak : konstipasi dengan distensi perut, kegagalan
pertumbuhan, muntah, dan diare intermiten. Konstipasi yang
terjadi sering disusul dengan diare yang eksplosif. Dapat pula
didapatkan enterokolitis.
3 PEMERIKSAAN  Pemeriksaan rektal
FISIK  Saluran anal dan ampula rekti yang kecil
4 KRITERIA - Anamnesis
DIAGNOSIS - Pemeriksaan Fisik
5 DIAGNOSIS KERJA Hirschprung Disease
6 DIAGNOSIS Konstipasi idiopatik
BANDING
7 PEMERIKSAAN  Pemeriksaan radiologis
PENUNJANG  Foto polos abdomen :Usus yang mengalami distensi,
sedikit udara dalam rektum
 Pemeriksaan colon in loop : Tampak zona transisi
 Biopsi rektal
8 TERAPI  Penanganan umum
 Stabilisasi penderita, mencakup keseimbangan cairan dan
elektrolit, antibiotika jika terjadi enterokolitis, serta
evakuasi kolon dengan enema

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 61


 Penanganan khusus
 Tindakan bedah
 Dilakukan kolostomi, dan kemudian dilanjutkan dengan
pembedahan definitif
9 EDUKASI Skrining saat hamil
10 PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam/malam
Ad sanationam : dubia ad bonam/malam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam/malam
11 KEPUSTAKAAN 1. Imseis, E. and C. E. Gariepy (2004). Hirschsprung Disease.
Pediatric Gastrointestinal Disease. Walker., Goulet.,
Kleinman.et al. Ontario, BC Decker Inc. 1 : 1031-1043.
2. O'Neill. (2004). "Hirschsprung's Disease", 2006, from
www.APSA Resources for Parents Hirschsprung's Disease
Pt_ 1.htm.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 62


B PANDUAN PRAKTIK KLINIS
SMF ANAK
RS BANYUMANIK
Jl. Bina Remaja 61
Semarang

RENJATAN HIPOVOLEMI PADA ANAK


1 PENGERTIAN Sindroma klinis akibat kegagalan sirkulasi dalam memenuhi
kebutuhan oksigen dan nutrisi jaringan baik pasokan maupun
penggunaannya dalam metabolisme seluler. Renjatan hipovolemik
terjadi karena berkurangnya volume intravaskular.
Penyebabnya bisa karena kehilangan cairan dan elektrolit (diare,
muntah, diabetes mellitus, luka bakar), perdarahan, kehilangan
plasma (luka bakar, sindroma nefrotik, dan demam berdarah
dengue).
2 ANAMNESIS Tergantung pada : penyakit primer penyebab renjatan, kecepatan
dan jumlah cairan yang hilang, lama renjatan serta kerusakan
jaringan yang terjadi, tipe dan stadium renjatan.
Secara klinis perjalanan renjatan dapat dibagi dalam 3 fase yaitu
fase kompensasi, dekompensasi, dan ireversibel.
Tanda
Kompensasi Dekompensasi Ireversibel
klinis
Blood loss Sampai 25 25 - 40 > 40
(%)
Heart rate Takikardia + Takikardia ++ Taki/
bradikardia
Tekanan Normal Normal/ Tidak terukur
sistolik menurun
Nadi Normal/ Menurun + Menurun ++
(volume) menurun
Capillary Normal/ Meningkat > Meningkat ++
refill meningkat 3-5 5detik
detik
Kulit Dingin, pucat Dingin/mottled Dingin+/
deadly pale
Pernafasan Takipneu Takipneu + Sighing
respiration
Kesadaran Gelisah Lethargi Reaksi – /
hanya
bereaksi
terhadap nyeri

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 63


3 PEMERIKSAAN Kesadaran menurun
FISIK Takikardi
Hipotensi
Akral Dingin
4 KRITERIA - Anamnesis
DIAGNOSIS - Pemeriksaan fisik
5 DIAGNOSIS KERJA Syok Hipovolemik
6 DIAGNOSIS - Syok kadiogenik
BANDING - Syok septik
- Syok perdarahan
7 PEMERIKSAAN  Hb dan hematokrit : Meningkat pada hipovolumi karena
PENUNJANG kehilangan cairan atau plasma
 Urin : Produksi urin menurun, lebih gelap dan pekat, BJ
meningkat >1,020
 Pemeriksaan gas darah
 Pemeriksaan elektrolit serum
 Pemeriksaan fungsi ginjal
 Pemeriksaan mikrobiologi dilakukan hanya pada penderita yang
dicurigai
 Pemeriksaan faal hemostasis
 Pemeriksaan-pemeriksaan lain untuk menentukanpenyakit
penyebab
8 TERAPI  Bebaskan jalan nafas, oksigen 100%.
 Infus RL atau koloid 20 ml/kg BB dalam 10-15 menit, dapat
diulang 2-3 kali. Bila akses vena sulit pada anak balita bisa
dilakukan akses intraosseous di pretibia. Pada renjatan berat
pemberian cairan bisa mencapai > 60 ml/kg BB dalam 1 jam.
Bila resusitasi cairan sudah mencapai 2-3 kali tapi respon belum
adekuat, maka dipertimbangkan untuk intubasi dan bantuan
ventilasi. Bila tetap hipotensi sebaiknya dipasang kateter
tekanan vena sentral (CVP).
 Inotropik
Indikasi : Renjatan refrakter terhadap pemberian cairan, renjatan
kardiogenik.
 Dopamin : 2-5 µg/kgBB/ menit
 Epinephrine: 0,1 µg/kgBB/menit IV, dosis bisa ditingkatkan
bertahap sampai efek yang diharapkan, pada kasus-kasus
berat bisa sampai 2-3 µg/kgBB/menit

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 64


 Dobutamin : 5 µg/kgBB/menit IV, ditingkatkan bertahap
sampai 20 µg/kgBB/menit
 Norepinephrine: 0,1 µg/kgBB/menit IV, dapat ditingkatkan
sampai efek yang diharapkan
 Kortikosteroid : Kortikosteroid yang diberikan adalah
hidrokortison dosis 50 mg/kg BB IV bolus dilanjutkan
dengan dosis yang sama dalam 24 jam secara continous
infusion.
9 EDUKASI Jaga kebersihan
Perbanyak asupan cairan
Makanan bergizi
10 PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam/malam
Ad sanationam : dubia ad bonam/malam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam/malam
11 KEPUSTAKAAN  Kline JA. Shock. In: Marx JA, Hockberger RS, Wall RM eds.
Rosen’s Emergency Medicine : Concepts and clinical practice
5th ed.St Louis : Mosby, 2002; 34-47.
 Wetzel R C . Shock. In : Rogers MC, ed. Textbook of Pediatric
Intensive Care. Baltimore : William & Wilkins, 1996 : 555-605.
 Advance pediatric life support, the practical approach : shock
(chapter 10) 2nd ed. Advance life support group, BMG
Publisher, London, 1997.
 Sendel J, Scherung A, Salzberg D. Shock. In : Crain EF,
Gershel JC. Clinical Manual of Emergency Pediatrics, 4th ed.
NewYork : McGraw-Hill, 2003; 18-22.
 Gould SA, Sehgal LR, Sehgal HL, Moss GS. Hypovolemic
shock. Crit Care Clin 1993; 9 (2) : 239-49.
 Carcillo JA. Management of pediatric septic shock. In :
Holbrook PR.ed. Textbook of pediatric critical care.
Philadelphia : WB Saunders, 1993; 114-42.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 65


B PANDUAN PRAKTIK KLINIS
SMF ANAK
RS BANYUMANIK
Jl. Bina Remaja 61
Semarang

RENJATAN ANAFILAKSIS
1 PENGERTIAN Suatu reaksi anafilaksis berat yang disertai dengan insuffisiensi
sirkulasi.
2 ANAMNESIS  Gejala kardiovaskular : hipotensi/renjatan
 Gejala saluran nafas : sekret hidung encer, hidung gatal, udema
hipopharing/laring,gejala asma
 Kulit : pruritus, erithema, urtikaria dan angioedema
 Gejala intestinal : kolik abdomen, kadang-kadang disertai
muntah dan diarrhea
 Gejala sistem saraf pusat : pusing, sincope, gangguan kesadaran
sampai koma
3 PEMERIKSAAN Kesadaran menurun
FISIK Takikardi
Hipotensi
Akral Dingin
4 KRITERIA - Anamnesis
DIAGNOSIS - Pemeriksaan fisik
5 DIAGNOSIS KERJA Syok Anafilaktik
6 DIAGNOSIS - Syok hipovolemik
BANDING - Syok kadiogenik
- Syok septik
- Syok perdarahan
7 PEMERIKSAAN Darah Lengkap
PENUNJANG
8 TERAPI  Resusitasi (A B C)
 Adrenalin 1% : 0,01ml/kg BB diberikan intramuskular.
Bila tidak ada perbaikan, diulang 10-15 menit kemudian
(maksimal 3 kali).
 Infus RL/PZ atau cairan kolloid 20 ml/kgBB/10 menit bila
dengan adrenalin belum menunjukkan perbaikan perfusi
jaringan.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 66


 Bronkhodilator pada penderita yang menunjukkan gejala seperti
asma.
Aminophylline intravena atau β adrenergic bronkhodilator
(albuterol, terbutalin) parenteral atau nebulizer.
 Antihistamin :
 Diphenhidranin 2 mg/kgBB i.m atau i.v atau 5 ing/kgBB
per oral.
 Chlortrimeton untuk gejala-gejala kulit seperti urtikaria,
angioedema pruritus.
 Kortikosteroid : Hidrokortison 6-8 mg/kgBB/6-8 jam
Kortikosteroid hanya diberikan pada renjatan refrakter, urticaria
persisten, atau angioedema yang masih menetap setelah fase
akut teratasi.
9 EDUKASI Kenali gejala alergi
10 PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam/malam
Ad sanationam : dubia ad bonam/malam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam/malam
11 KEPUSTAKAAN  Abraham D, Grammer L. Idiophathic anaphylaxis. Immunol
Allergy Clin North Am 2001; 21 (4) : 783-94.
 Ownby DR. Pediatric anaphylaxis, insect stings and bite.
Immunol Allergy Clin North Am 1999; 19 (2) : 347-61.
 Burk AW, Jones SM, Wheeler JG, Sampson HA. Anaphylaxis
and food hypersensitivity. Immunol Allergy Clin North Am
1999; 19 (3): 533-53.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 67


B PANDUAN PRAKTIK KLINIS
SMF ANAK
RS BANYUMANIK
Jl. Bina Remaja 61
Semarang

ANEMIA DEFISIENSI BESI


1 PENGERTIAN Anemia yang disebabkan kurangnya zat besi untuk sintesis
hemoglobin. Diperkirakan 30% penduduk dunia menderita anemia
dan lebih dari 50% penderita ini adalah anemia defisiensi besi dan
terutama mengenai bayi,anak sekolah, ibu hamil dan menyusui.
Anemia defisiensi besi mempunyai dampak yang merugikan bagi
kesehatan anak berupa gangguan tumbuh kembang, penurunan
daya tahan tubuh dan daya konsentrasi serta kemampuan belajar
sehingga menurunkan prestasi belajar di sekolah.
2 ANAMNESIS  Riwayat faktor predisposisi dan etiologi :
 Kebutuhan meningkat secara fisiologis
 Masa pertumbuhan yang cepat
 Menstruasi
 Infeksi kronis
 Kurangnya besi yang diserap
 Asupan besi dari makanan tidak adekuat
 Malabsorpsi besi
 Perdarahan
 Perdarahan saluran cerna (tukak lambung, penyakit
Crohn, colitis ulserativa)
 Pucat
 Lemah
 Lesu
 Gejala pika
3 PEMERIKSAAN  Anemis, tidak disertai ikterus, organomegali dan
FISIK limphadenopati
 Stomatitis angularis
 Atrofi papil lidah
 Takikardi
 Murmur sistolik dengan atau tanpa pembesaran jantung

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 68


4 KRITERIA - Anamnesis
DIAGNOSIS - Pemeriksaan Fisik
- Darah Lengkap
- Indeks eritrosit
- Hapusan Darah Tepi
5 DIAGNOSIS KERJA Anemia Defesiensi Besi
6 DIAGNOSIS  Anemia hipokromik mikrositik :
BANDING  Thalasemia (khususnya thallasemia minor)
 Anemia karena infeksi menahun
 Keracunan timah hitam (Pb)
 Anemia sideroblastik
7 PEMERIKSAAN  Hemoglobin, Hct dan indeks eritrosit (MCV, MCH, MCHC)
PENUNJANG menurun
 Hapus darah tepi menunjukkan hipokromik mikrositik
 Kadar besi serum (SI) menurun dan TIBC meningkat, saturasi
menurun
 Kadar feritin menurun dan kadar Free Erythrocyte Porphyrin
(FEP) meningkat
 Sumsum tulang : aktifitas eritropoitik meningkat
8 TERAPI  Medikamentosa
 Pemberian preparat besi
(ferosulfat/ferofumarat/feroglukonat) dosis 4-6 mg besi
elemental/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis, diberikan di
antara waktu makan. Preparat besi ini diberikan sampai 2-
3 bulan setelah kadar hemoglobin normal
 Asam askorbat 100 mg/15mg besi elemental (untuk
meningkatkan absorbsi besi)
 Bedah
Untuk penyebab yang memerlukan intervensi bedah seperti
perdarahan karena diverticulum Meckel
 Suportif
Makanan gizi seimbang terutama yang mengandung kadar besi
tinggi yang bersumber dari hewani (limfa, hati, daging) dan
nabati (bayam, kacang-kacangan)
 Lain-lain (rujukan sub spesialis, rujukan spesialisasi
lainnya)
Ke sub bagian terkait dengan etiologi dan komplikasi (Gizi,
Infeksi, Pulmonologi, Gastro-Hepatologi, Kardiologi)

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 69


9 EDUKASI Jaga kebersihan
Makanan bergizi
10 PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam/malam
Ad sanationam : dubia ad bonam/malam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam/malam
11 KEPUSTAKAAN  Hillman RS, Ault KA. Iron Deficiency Anemia. Hematology in
Clinical Practice. A Guide to Diagnosis and Management. New
York; McGraw Hill, 1995 : 72-85.
 Lanzkowsky P. Iron Deficiency Anemia. Pediatric Hematology
and Oncology. Edisi ke-2. New York; Churchill Livingstone
Inc, 1995 : 35-50.
 Nathan DG, Oski FA. Iron Deficiency Anemia. Hematology of
Infancy and Childhood. Edisi ke-1. Philadelphia; Saunders,
1974 : 103-25.
 Recht M, Pearson HA. Iron Deficiency Anemia. Dalam :
McMillan JA, DeAngelis CD, Feigin RD, Warshaw JB,
penyunting. Oski’s Pediatrics : Principles and Practice. Edisi
ke-3. Philadelphia; Lippincott William & Wilkins, 1999 : 1447-
8.
 Schwart E. Iron Deficiency Anemia. Dalam : Behrman RE,
Kliegman RM, Jenson HB, Penyunting. Nelson Textbook of
Pediatrics. Edisi ke-16. Philadelphia; Saunders, 2000 : 1469-
71.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 70


B PANDUAN PRAKTIK KLINIS
SMF ANAK
RS BANYUMANIK
Jl. Bina Remaja 61
Semarang

HEMOFILIA
1 PENGERTIAN Penyakit kongenital herediter yang disebabkan karena gangguan sintesis
faktor pembekuan darah.
Ada 3 jenis hemofilia :
 Hemofilia A : defek faktor VIII (AHF)
 Hemofilia B : defek faktor IX (prevalensi hemofilia A : B = (5-8) : 1)
 Hemofilia C : defek faktor XI (jarang)
2 ANAMNESIS Keluhan penyakit ini dapat timbul saat :
 Lahir : perdarahan lewat tali pusat
 Anak yang lebih besar : perdarahan sendi sebagai akibat jatuh pada saat
belajar berjalan
 Ada riwayat timbulnya ”biru-biru” bila terbentur (perdarahan
abnormal)
3 PEMERIKSAAN Adanya perdarahan yang dapat berupa :
FISIK  Hematom di kepala atau tungkai atas/bawah
 Hemarthrosis
 Sering dijumpai perdarahan interstitial yang akan menyebabkan atrofi
dari otot, pergerakan terganggu dan terjadi kontraktur sendi. Sendi yang
sering terkena adalah siku, lutut, pergelangan kaki, paha dan sendi bahu
4 KRITERIA Anamnesis
DIAGNOSIS Pemerikaaan Fisik
Test faktor pembekuan
5 DIAGNOSIS Hemofilia
KERJA
6 DIAGNOSIS  Von Willebrand’s disease
BANDING  Defisiensi vitamin K
7 PEMERIKSAAN  APTT/masa pembekuan memanjang
PENUNJANG  PPT (Plasma Prothrombin Time) normal
 SPT (Serum Prothrombin Time) pendek
 Kadar fibrinogen normal
 Retraksi bekuan baik

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 71


8 TERAPI Hemofilia A
 Transfusi faktor VIII : preparat berupa fresh pooled plasma, fresh
frozen plasma, cryoprecipitate atau AHF concentrate.
Patokan terapi (bila tersedia fasilitas) kurang lebih sebagai berikut:
Macam Kadar Dosis Terapi pelengkap
perdarahan F.VIII unit/kg bb
sampai (%) per 12 jam
Spontan 40-50 20-25 (2-3 Prednison
dalam sendi, hari) 2 mg/kgBB/hari (1x)
otot 1 mg/kgBB/hari (x2)
Immobilisasi
Hematuria 40-50 20-25 Prednison
(sp gross 2 mg/kgBB/hari (1x)
hematuri 1 mg/kgBB/hari (x2)
menghilang) (EACA
kontraindikasi)
Hematoma di 60-80 30-40 Fisioterapi jika ada
tempat (5-7 hari) gangguan saraf oleh
berbahaya karena tekanan
Tindakan 20-30 10-15 (1 Perawatan gigi
gigi: hari) profilaktik EACA
ekstraksi 1 100 mg/kg bb/hari/6
gigi jam (7 hari)
Kumur antiseptik
40-50 20-25 (1-3
Ekstraksi hari) Skrining inhibitor,
multiple 100-150 50-75 assay F.VIII tiap jam
Operasi besar, (ideal)
trauma
kepala,
kecelakaan
berat Siklofosfamid iv atau
Pasien dengan Human AHF oral, plasmapheresis
inhibitor concentrate
F.VIII dosis tinggi,
proplex
(faktor II,
VIII, IX, X)
AHF
sapi/babi
Keterangan :
EACA = aminocaproic acid
 Transfusi darah/plasma segar efek preparat AHF kurang memuaskan.
 Kortikosteroid : mengurangi kebutuhan faktor VIII, meningkatkan
resistensi kapiler dan mengurangi reaksi radang. Dapat diberikan pada
hematuria.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 72


 Pencegahan perdarahan : pasien hemofilia klasik seharusnya selalu
mendapat AHF sebagai profilaksis. Dosis AHF 20 unit/kg bb/tiap 48
jam akan mempertahankan kadar faktor VIII diatas 1% sehingga
perdarahan spontan terhindarkan.
Hemofilia B
 Transfusi preparat PPSB (mengandung protrombin/F.II,
proconvertin/F.VIII, Stuart faktor/F.X dan antihemofilia B/F.IX)
 Dosis : patokan dosis untuk faktor VIII dapat digunakan untuk
hemofilia B (defisiensi faktor IX)
 Dosis profilasis 10 unit/kg BB (2 kali seminggu)
9 EDUKASI Hindari trauma
Istirahat cukup
10 PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam/malam
Ad sanationam : dubia ad bonam/malam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam/malam
11 KEPUSTAKAAN  Higartner MW, Corrigan JJ. Coagulation disorders. Dalam : Miller DR.
Baehner RL, Miller LP, penyunting Blood diseases of inflancy and
childhood; edisi ke-7. St. Louis : Mosby; 1995 : 924-86.
 Lanzkowsky P. Manual of Pediatric Hematology and Oncology; edisi
ke-2. New York : Churchill Livingstone Inc. 1995 : 254-62.
 Montgomery RR, Gill JC, Scott JP. Hereditary Clotting Factor
Deficiencies (Bleeding Disorders). Dalam : Nelson WE, Behrman RE,
Kliegman RM, Arvin AM, penyunting Nelson Text Book of Pediatric
cs ; edisi ke-16. Philadelphia : WB Saunders Co. 2000 : 1508-11.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 73


PENUTUP

Dengan telah tersusunnya Panduan Praktik Klinis ini diharapkan dapat menjadi
Standar Prosedur Operasional bagi Staf Medis Fungsional (SMF) Anak yang sesuai dengan
kebutuhan dan kemampuan SMF dan fasilitas pelayanan kesehatan di Rumah Sakit
Banyumanik Semarang.
Melalui panduan ini diharapkan terselenggara pelayanan medis yang efektif, efisien,
bermutu dan merata sesuai sumber daya, fasilitas, pra fasilitas, dana dan prosedur serta metode
yang memadai.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF ANAK 74