You are on page 1of 12

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN KEGAWATDARURATAN PADA NY. M DENGAN


HIPOGLIKEMIA DI RUANG INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD)
RSUD dr. LOEKMONO HADI KUDUS

DISUSUN OLEH:

Dwi Mifta Nur Janah

P1337420116024

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN SEMARANG


JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN SEMARANG
2018
I. Hipoglikemia
A. Pengertian
Hipoglikemia merupakan salah satu komplikasi akut yang dialami oleh
penderita diabetes mellitus. Hipoglikemia disebut juga sebagai penurunan kadar gula
darah yang merupakan keadaan dimana kadar glukosa darah berada di bawah normal,
yang dapat terjadi karena ketidakseimbangan antara makanan yang dimakan, aktivitas
fisik dan obat-obatan yang digunakan. Sindrom hipoglikemia ditandai dengan gejala
klinis antara lain penderita merasa pusing, lemas, gemetar, pandangan menjadi kabur
dan gelap, berkeringat dingin, detak jantung meningkat dan terkadang sampai hilang
kesadaran (syok hipoglikemia) (Nabyl, 2009).
Hipoglikemia merupakan penyakit yang disebabkan oleh kadar gula darah
(glukosa) yang rendah. Dalam keadaan normal, tubuh mempertahankan kadar gula
darah antara 70-110 mg/dl ( Aina Abata, 2014).

B. Etiologi
Terdapat beberapa pencetus hipoglicemia, yang paling sering adalah karena
pengobatan diabetus melitus sebagai berikut :
1. Dosis insulin atau oral hipoglikemia berlebihan.
2. Kelambatan makan atau kandungan glukosa.
3. Kelambatan absorbsi glukosa dari saluran cerna.
4. Olah raga atau aktivitas yang berlebihan.
5. Gagal ginjal

C. Patofisiologi
Normal tubuh mempertahankan kadar gula darah antara 70-110 mg/dl. agar
dapat memberi sumber energi bagi metabolisme sel. Pemasukan glukosa dari berbagai
sumber seperti : pemasukan makanan, pemecahan glikogen, glukoneogenesis memacu
terjadinya respon insulin. Orang sehat akan segera memproduksi Hormon insulin
untuk menurunkan kembali kadar gula darah ke level yang normal.
Pada orang Diabetes Melitus, terjadi defisiensi Insulin, sehingga Glukosa tidak
bisa dimanfaatkan oleh sel dan hanya beredar di pembuluh darah sehingga
menimbulkan Hiperglikemia. Untuk menurunkan kadar gula darah biasanya diberikan
Insulin, namun karena dosis yang kurang tepat bisa menimbulkan penurunan glukosa
darah yang cepat.
Efek dari penurunan glukosa darah , bisa timbul Hipoglikemia, dengan gejala
yang ringan sampai berat. Gejala Hipoglikemia Ringan, ketika kadar glukosa darah
menurun, sistem syaraf simpatis akan terangsang. Terjadi pelimpahan adrenalin ke
dalam darah menyebabkan gejala : perspirasi, tremor, takhikardia, palpitasi, gelisah
dan rasa lapar.
Pada Hipoglikemia Sedang, penurunan kadar glukosa darah menyebabkan sel-
sel otak tidak memperoleh cukup bahan bakar dengan baik. Tanda-tanda gangguan
fungsi pada sistem syaraf pusat mencakup ketidakmampuan berkonsentrasi, sakit
kepala, vertigo, konfusio, penurunan daya ingat, patirasa di daerah bibir serta lidah,
bicara pelo, gerakan tidak terkoordinasi, perubahan emosional, penglihatan ganda dan
perasaan ingin pingsan.
Pada Hipoglikemia Berat, fungsi sistem syaraf pusat mengalami gangguan
yang sangat berat sehingga pasien memerlukan pertolongan orang lain untuk
mengatasi Hipoglikemia yang diderita, gejalnya : Disorientasi, serangan kejang, sulit
dibangunkan dari tidur, kehilangan kesadaran.
Terjadi hipoglikemia bila serum glukosa tidak cukup untuk memenuhi
kebutuhan jaringan. Sistem saraf sangat sensitif terhadap penurunan kadar glukosa
serum, karena glukosa merupakan sumber energi utama. Otak tidak dapat
menggunakan sumber energi lain (ketone, lemak) kecuali glukosa. Sebagai
konsekwensi penurunan kadar glukosa, maka akan mempengaruhi aktivitas sistem
saraf.
Dalam keadaan normal, penurunan glukosa serum oleh karena aktivitas
hormon insulin secara akut, akan merangsang sekresi hormon glukagon dan
epinephrin yang dapat meningkatkan kadar glukosa darah.
Sekresi hormon glukagon pada penderita IDDM mengalami gangguan,
sehingga tidak dapat menaikkan kadar gula darah. Peran hormon glukagon
diasumsikan akan digantikan oleh hormon ephinephrine untuk menaikan gula darah,
dengan cara meningkatkan produksi glukosa hepar dan menghambat sekresi hormon
insulin. Akan tetapi pada penderita IDDM sekresi hormon ephinephrine juga
menurun, sebagai akibat adanya gangguan saraf outonom.
Respon terhadap penurunan kadar gula darah (hipoglikemia) dapat dibedakan
menjadi 2 kategori yaitu :
1. Gejala adrenergik  sebagai akibat dari stimulasi sistem saraf outonom dengan
gejala palpitasi, iritabile, kelemahan umum, dilatasi pupil, pucart, keringat dingin.
2. Gejala neuroglycopenia  sebagai akibat dari tidak adekwatnya suplay gula darah
ke jaringan saraf, yaitu sakit kepala, gelisah, tidak mampu konsentrasi, bicara
tidak jelas, gangguan penglihatan, kejang, coma. Hal ini sering tampak pada kadar
glukosa darah dibawah 45 – 50 mg/dl.

D. Manifestasi Klinik
Hipoglikemi terjadi karena adanya kelebihan insulin dalam darah sehingga
menyebabkan rendahnya kadar gula dalam darah. Kadar gula darah yang dapat
menimbulkan gejala-gejala hipoglikemi, bervariasi antara satu dengan yang lain.
Pada awalnya tubuh memberikan respon terhadap rendahnya kadar gula darah
dengan melepasakan epinefrin (adrenalin) dari kelenjar adrenal dan beberapa ujung
saraf. Epinefrin merangsang pelepasan gula dari cadangan tubuh tetapi
jugamenyebabkan gejala yang menyerupai serangan kecemasan (berkeringat,
kegelisahan, gemetaran, pingsan, jantung berdebar-debar dan kadang rasa lapar).
Hipoglikemia yang lebih berat menyebabkan berkurangnya glukosa ke otak dan
menyebabkan pusing, bingung, lelah, lemah, sakit kepala, perilaku yang tidak biasa,
tidak mampu berkonsentrasi, gangguan penglihatan, kejang dan koma. Hipoglikemia
yang berlangsung lama bisa menyebabkan kerusakan otak yang permanen. Gejala
yang menyerupai kecemasan maupun gangguan fungsi otak bisa terjadi secara
perlahan maupun secara tiba-tiba. Hal ini paling sering terjadi pada orang yang
memakai insulin atau obat hipoglikemik per-oral. Pada penderita tumor pankreas
penghasil insulin, gejalanya terjadi pada pagi hari setelah puasa semalaman, terutama
jika cadangan gula darah habis karena melakukan olah raga sebelum sarapan pagi.
Pada mulanya hanya terjadi serangan hipoglikemia sewaktu-waktu, tetapi lama-lama
serangan lebih sering terjadi dan lebih berat.
Tanda dan gejala dari hipoglikemi terdiri dari dua fase antara lain:
1. Fase pertama yaitu gejala- gejala yang timbul akibat aktivasi pusat
autonom di hipotalamus sehingga dilepaskannya hormone epinefrin.
Gejalanya berupa palpitasi, keluar banyak keringat, tremor, ketakutan, rasa
lapar dan mual (glukosa turun 50 mg%.
2. Fase kedua yaitu gejala- gejala yang terjadi akibat mulai
terjadinya gangguan fungsi otak, gejalanya berupa pusing, pandangan
kabur, ketajaman mental menurun, hilangnya ketrampilan motorik yang
halus, penurunan kesadaran, kejang- kejang dan koma (glukosa darah 20
mg%).

E. Pemeriksaan Diagnostik
1. Gula darah puasa : diperiksa untuk mengetahui kadar gula darah puasa (sebelum
diberi terapi glukosa) dan nilai normalnya antara 70- 110 mg/dl.
2. Gula darah 2 jam post prandial : diperiksa 2 jam setelah diberi glukosa dengan
nilai normal < 140 mg/dl/2 jam

3. HBA1c : Pemeriksaan dengan menggunakan bahan darah untuk memperoleh


kadar gula darah yang sesungguhnya karena pasien tidak dapat mengontrol hasil
tes dalam waktu 2- 3 bulan. HBA1c menunjukkan kadar hemoglobin terglikosilasi
yang pada orang normal antara 4- 6%. Semakin tinggi maka akan menunjukkan
bahwa orang tersebut menderita DM dan beresiko terjadinya komplikasi.
4. Elektrolit, tejadi peningkatan creatinin jika fungsi ginjalnya telah terganggu
5. Leukosit, terjadi peningkatan jika sampai terjadi infeksi.

F. Penatalaksanaan
Penanganan menurut Smeltzer (2010), harus segera diberikan bila terjadi
hipoglikemia. Rekomendasi biasanya berupa pemberian 10-15 gram gula yang
bekerja cepat peroral:
1. 2-4 tablet glukosa yang dapat dibeli di rumah obat/ apotik.
2. 4-6 ons sari buah atau the yang manis
3. 6-10 butir permen khusus atau permen manis lainnya.
4. 2-3 sirup atau madu.

Apabila gejala bertahan selama lebih dari 10 hingga 15 menit sesudah terapi
pendahuluan, ulangi terapi tersebut. Setelah gejalanya berkurang, berikan makanan
cemilan yang mengandung protein dan pati (seperti cracker dengan keju atau susu)
kecuali jika pasien berencana untuk makan atau makan cemilan dalam waktu 30
hingga 60 menit menurut jadwal makannya.
Pasien-pasien diabetes (khususnya yang mendapatkan insulin) harus selalu
membawa gula sederhana dalam bentuk tertentu. Ada beberapa jenis tablet glukosa
dan jelly yang tersedia di pasaran sehingga memudahkan pasien untuk membawanya.
Jika seorang pasien mengalami reaksi hipoglikemia sementara ia sama sekali tidak
membawa makanan darurat seperti yang dianjurkan , maka setiap makanan yang
tersedia (khususnya yang menganduang karbohidrat sederhana) harus dikomsumsi.

Penanganan hipoglikemia berat :


Bagi pasien yang tidak sadarkan diri, tidak mampu menelan atau menolak
terapi, preparat glukagon 1 mg dapat disuntikan secara subkutan atau intramuscular.
Glukagon adalah hormone yang diproduksi oleh sel-sel alfa pangkreas yang
menstimulasi hati untuk melepaskan glukosa(malalui glikogen, yaitu simpanan
glukosa). Preparat glukagn di kemas sebagai serbuk dalam botol suntik (vial)
berukuran 1 mg dan harus di campur dahulu dengan pelarutnya sebelum disuntikkan.
Setelah penyuntikan glukagon pasien kembali sadar dalam waktu 20 menit. Gula
sederhana yang diikuti oleh makanan cemilan harus di berikan kepada pasien yang
sadar untuk mencegah kembali timbulnya hipoglikemia, mengigat kerja 1 mg
glukagon yang singkat ( awitannya 8 hingga 10 menit dengan kerja yang berlangsung
selama 12 hingga 27 menit). Tindakan ini juga akan menggantikan simpanan glukosa
dalam hati. Sebagian pasien akan mengalami maul setelah penyuntikan glukagon.
Pasien harus diingatkan untuk memberitahukan dokter setelah hipoglikemia berat.
II. Pathway Hipoglikemia

Dosis insulin Makan terlalu Kelambatan absorpsi Gagal ginjal Aktivitas atau olahraga
berlebihan sedikit/puasa glukosa pada saluran cerna berlebihan

HIPOGLIKEMIA

Glukagon Epinefrin

Glikogenolisis

Defisit glikogen
pada hepar

Gula darah menurun


<60 mg/dL

Penurunan Nutrisi
pada otak
Respon SSP

Respon Otak Respon


Vegetatif

Kortek serebri kurang Pelepasan


suplai energi( < 60mg/dl) norepinefrin &
adrenalin

Kekaburan yang dirasa Takikardia,


dikepala, sulit pucat, gemetar,
konsentrasi / berfikir, berkeringat
Gemetar Kepala
terasa melayang

Timbul sekret di jalan


napas, lidah jatuh di Tidak sadar, Risiko
pangkal tenggorokan Stupor, kejang,
cedera
koma

Refleks batuk Gangguan perfusi


menurun jaringan Sumber : http/id.scribd.com/doc/201000470/Pathway-Hipoglikemia

Sesak napas Pola napas


Bersihan jalan napas
tidak efektif
tidak efektif
III. Diagnosa Keperawatan
Pada kasus kegawatdaruratan pada klien dengan hipoglikemia, diagnose yang sering
muncul yaitu
1. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d adanya benda asing, penumpukan sekret
2. Pola napas tidak efektif b.d jalan napas tersumbat
3. Gangguan perfusi jaringan cerebral b.d hipoksia jaringan
4. Resiko cedera b.d penurunan kesadaran, kejang

IV. Intervensi Keperawatan

No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria hasil Intervensi


1 Bersihan jalan napas Setelah dilakukan tindakan NIC :
tidak efektif b.d adanya keperawatan selama 1x30  Kaji adanya sumbatan jalan
benda asing, menit pasien bernapas napas (lidah jatuh ke
penumpukan sekret dengan adekuat, dengan belakang, sputum)
kriteria hasil: sehubungan dengan
 Menunjukkan jalan
penurunan kesadaran
napas yang paten (klien
tidak merasa tercekik,  Kaji frekuensi, kedalaman
irama nafas dalam pernapasan, TTV
rentang normal, tidak  Kaji atau awasi secara rutin
ada suara napas kulit dan warna membrane
abnormal) mukosa.
 Tidak ada sianosis  Lakukan pembebasan jalan
 Tanda-tanda vital dalam napas bila perlu
rentang normal  Auskultasi bunyi napas, catat
area penurunan aliran udara
dan atau bunyi tambahan.
 Awasi tingkat kesadaran atau
status mental dan Selidiki
adanya perubahan.
 Pasang tongue spatel bila
perlu
2 Pola napas tidak efektif Setelah dilakukan tindakan NIC:
b.d jalan napas keperawatan selama 1x60  Kaji frekuensi, irama,
tersumbat menit pola napas menjadi kedalaman pernapasan.
efektif dengan kriteria hasil:  Auskultasi bunyi napas.
 RR 16-24 x permenit
 Pantau penurunan bunyi napas
 Ekspansi dada normal
 Sesak nafas hilang /  Pertahankan posisi semi fowler.
berkurang  Catat kemajuan yang ada pada
 Tidak ada suara nafas klien tentang pernapasan
abnormal  Berikan oksigen sesuai advis
Dokter

3 Gangguan perfusi Setelah dilakukan tindakan NIC :


jaringan cerebral b.d keperawatan selama 1x60  Catat status neurologi secara
hipoksia jaringan menit, gangguan perfusi teratur, bandingkan dengan nilai
jaringan dapat standart.
berkurang/hilang dengan  Catat ada atau tidaknya refleks-
kriteria hasil: refleks tertentu seperti refleks
 tidak ada tanda – tanda menelan, batuk dan Babinski.
peningkatan TIK  Monitor TTV
 Tanda – tanda vital  Perhatikan adanya gelisah
dalam batas normal meningkat, tingkah laku yang
 Tidak adanya penurunan tidak sesuai.
kesadaran  Tinggikan kepala tempat tidur
sekitar 15-45 derajat sesuai
toleransi atau indikasi. Jaga
kepala pasien tetap berada pada
posis netral.
 Berikan oksigen sesuai indikasi

4 Resiko cedera b.d Setelah dilakukan tindakan NIC :


penurunan kesadaran, keperawatan selama 1x15  Berikan posisi dengan kepala
kejang menit, klien tidak lebih tinggi
mengalami cedera .  Kaji tanda-tanda penurunan
kesadaran.
 Observasi TTV
 Atur posisi pasien untuk
menghindari kerusakan karena
tekanan.
 Beri bantuan untuk melakukan
latihan gerak.
 Pasang pengaman tempat tidur
 Berikan lingkungan yang aman
dan nyaman
V. Buku Sumber
Abata, Aina. 2014. Ilmu Penyakit Dalam (Edisi Lengkap). Madiun : Al-Furqon

Herdman dan Kamitsuru. 2014. Nursing Diagnoses : Definitions&Classification 2015-2017,


Tenth Edition

Nabyl. 2009. Cara Mudah Mencegah dan Mengobati Diabetes Melitus. Aula Publishing :
Yogyakarta

Nurarif A, H, dkk. 2015. Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan diagnosa medis dan
Nanda NIC- NOC, edisi revisi jilid 1. Jogjakarta: Medication Jogja

Potter & Perry. 2006. Fundamental Keperawatan. EGC: Jakarta

Smeltzers. S.S, Bare B.G. (2010). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Volume
2.Kuncara et., all(penerjemah). Jakarta: EGC