You are on page 1of 10

DETAIL ENGINEERING DESAIN (DED) SISTEM

PENYALURAN AIR LIMBAH DAN INSTALASI PENGOLAHAN


AIR LIMBAH KAWASAN INDUSTRI BSB CITY, MIJEN KOTA SEMARANG

Fazalaili Rahmawati A*); Wiharyanto Oktiawan, ST, MT **) ; Ir. Winardi Dwi Nugraha, Msi **)

ABSTRACT

BSB City Industrial Estate is an industrial area which activities and centrally located in the district
Mijen Semarang city, industrial area contains manufacturing and warehousing industries. this area
will be constructed wastewater distribution system planning and Wastewater Treatment Plants.
Widely held at the industrial park with an area of ± 110 ha area for existing or for future
development. The distance between one industry to another with regular road network large enough
to transport passing, the contours of which are in the industrial area has a contour in the form of hills
and down into the river, this allows gravity flow drainage system. Distribution system which was
selected to be applied in the industrial BSB City is a conventional system, since BSB City industrial
area has a large area of land with a greater load distribution, so that the required pipe diameter is
relatively large with no dependence on the availability of clean water. In addressing pollution would
happen then to system off site, which means that the distribution of industrial waste water through a
closed pipeline (sewerage system). Furthermore, for industrial wastewater treatment plant used wells
equipped with pumps collector, barscreen, equalization basin, primary clarifier, activated sludge
basin, and sludge drying bed. It hopefully will be able to overcome the environmental problems in the
industrial area BSB City, Mijen Semarang City. In addition, off-site system and its wastewater
treatment plant is expected to create the industry's healthy and environmentally friendly

Keyword : BSB City Industrial Estate, Mijen Semarang city, sewerage system, conventional system,
wastewater distribution system planning, wastewater treatment plant.
Data pencemaran yang diperolah pada tahun
2012 yang didapat dengan uji laboratorium
PENDAHULUAN
dengan pengambilan sampel di lima titik
1. Latar Belakang pencemar pada saluran drainase menunjukkan
Kawasan industri adalah kawasan tempat pencemaran pada parameter utama TSS
pemusatan kegiatan industri yang dilengkapi (Total Suspended Solids) 1130,2 mg/ l, BOD
dengan prasarana dan sarana penunjang yang (Biological Oxygen Demand) 180,27 mg/l,
dikembangkan dan usaha dikelola oleh COD (Chemical Oxygen Demand) 392,23
perusahaan kawasan industri yang telah mg/l. sedangkan pada Peraturan Menteri
memiliki izin usaha kawasan industri Lingkungan Hidup No. 3 Tahun 2010 baku
(Keppres No.41 Tahun 1996). Dipilhnya mutu parameter yang diperlukan effluent
kawasan ini karena nantinya sistem menuju badan air yaitu TSS 150 mg/l, BOD
penyaluran ini sangat dibutuhkan begitu juga 50 mg/l, COD 100 mg/l. Nilai TSS, BOD,
dengan IPAL untuk menekan angka COD pada laboratorium tentunya diatas
kontaminasi pada lingkungan sekitar. ambang bak mutu air limbah kawasan industri,
Industrial Park BSB City, Mijen- Semarang maka dari itu dibutuhkan pengolahan terlebih
dahulu.

*) Mahasiswa Teknik Lingkungan UNDIP


**) Dosen Pembimbing Tugas Akhir Teknik Lingkungan UNDIP
2. Tujuan Tugas Akhir A. Perhitungan Diameter atau Dimensi
Sistem Penyaluran Air Buangan
Adapun tujuan dari tugas akhir ini yang
berjudul “Detail Engineering Desain (DED) Dalam menentukan dimensi SPAL dilihat
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Instalasi berdasarkan debit total yang masuk ke dalam
Pengolahan Air Limbah Kawasan Industri saluran air limbah. Besarnya debit total
BSB City, Mijen Kota Semarang” adalah tergantung pada besarnya debit air buangan
sebagai berikut: dan debit infiltrasi pada waktu puncak.
Langkah-langkah dalam perhitungan debit
1. Merencanakan sistem penyaluran air
total sebagai berikut :
limbah sehingga mampu melindungi
1. Menentukan luas area pelayanan
lingkungan agar terhindar dari air limbah
2. Berdasarkan kebutuhan total air
yang dapat mencemari lingkungan dan
bersih, ditentukan besarnya debit air
meresap ke tanah.
bersih pada waktu jam puncak.
2. Merencanakan unit pengolahan yang
3. Menentukan debit air limbah rata-rata
dibutuhkan untuk mengurangi cemaran
dari kebutuhan air bersih pada waktu
yang diterima lingkungan dan dibuang ke
jam puncak
lingkungan.
4. Menentukan debit minimum air
3. Menghitung besarnya biaya yang
limbah
dibutuhkan dalam sistem penyaluran air
5. Menentukan debit puncak air limbah
limbah dan Instalasi Pengolahan Air
6. Menentukan debit infiltrasi dalam
Limbah kawasan industri BSB City,
kondisi puncak
Mijen- Semarang.
7. Menentukan debit total yang masuk ke
METODOLOGI PERANCANGAN dalam saluran air limbah
Metodologi Perancanganini terdiri dari B. Perhitungan Self Cleaning Velocity
semua tahapan menjelaskan tentang tahap- Langkah-langkah dalam perhitungan Self
tahap pengerjaan Perancangansecara Cleaning Velocity adalah sebagai berikut :
sistematis. Metodologi diawali dengan 1. Menentukan panjang pipa
pengumpulan data primer dan data sekunder 2. Menentukan nilai d/D untuk perkiraan
setalah dilakukan kajian pustaka dan awal berdasarkan debit total
persiapan. 3. Menentukan besarnya Qpeak/Qfull
dari d/D tersebut
1. Identifikasi Wilayah Perancangan 4. Menghitung nilai Qfull
Identifikasi wilayah Perancanganberupa 5. Menentukan nilai koefisien manning
data-data yang meliputi luas wilayah, (n) berdasarkan jenis pipa yang
topografi wilayah, hidrologi, dan kualitas air digunakan
limbah 6. Menghitung besarnya nilai
2. Perancangan Sistem Penyaluran Air slope/kemiringan pipa yang digunakan
buangan industri berdasarkan trial and error (coba-
Perancangansistem penyaluran air coba)
buangan industri didasarkan atas komponen 7. Menghitung diameter pipa yang
komponen yang ada di dasar perencanaan. digunakan
Langkah-langkah pengerjaan desain jaringan 8. Menentukan diameter
perpipaan akan dijelaskan lebih lanjut : pendekatan/dipilih
9. Menentukan kontrol kecepatan aliran 3. Perancangan Instalasi Pengolahan Air
pada diameter pendekatan/dipilih buangan industri (IPAL)
10. Menghitung nilai Qfull berdasarkan
diameter pendekatan/dipilih A. Identifikasi Sumber Limbah
11. Menghitung luas penampang saluran
12. Menghitung nilai Vfull berdasarkan Identifikasi buangan dilakukan
diameter pendekatan/dipilih berdasarkan hasil uji laboratorium yang
13. Menghitung nilai Qpeak/Qfull diambil samplenya setiap titik pengamatan di
14. Menentukan nilai d/D berdasarkan lokasi sumber pengeluaran buangan cair
diameter pendekatan/ dipilih tersebut. Selain itu dilakukan dengan mencari
15. Menentukan nilai Vpeak/Vfull informasi dari literatur tentang proses
berdasarkan nilai d/D tersebut produksi setiap industri yang industri sejenis,
16. Menentukan nilai Vpeak dengan serta jika memungkinkan melakukan
diameter pendekatan pada saat Qpeak. wawancara dengan orang sekitar atau pemilik
Nilai kecepatan pada saat kondisi industri.
puncak (Vpeak) harus berada dalam
B. Perancangan dan anggaran biaya IPAL
rentang 0,6 – 3 m/s
dan SPAL
C. Perhitungan Tinggi Galian Pipa
Biaya yang direncanakan meliputi biaya
peminstalasi fisik dari perpipaan, bangunan
Dalam perhitungan tinggi galian pipa, pelengkap dan semua unit pengolahan
harus diketahui beda tinggi/elevasi tanah dari buangan cair. Perhitungan anggaran biaya
tiap-tiap node pipa. Langkah-langkah dalam didasarkan pada daftar Analisa Harga Satuan
penentuan tinggi galian pipa sebagai berikut : Kota Semarang per Januari 2013.
1. Menentukan panjang pipa
2. Menentukan slope saluran
3. Menghitung slope tanah ANALISIS DAN PERHITUNGAN
4. Menentukan elevasi pipa awal dari 1. Analisis Wilayah Perencanaan
tiap node Dalam analisis wilayah desain meliputi
5. Menghitung perbedaaan ketinggian topografi, dan keadaan geologi yang
dari masing-masing node merupakan komponen-komponen penting
6. Menghitung elevasi pipa akhir dari dalam Perancangansistem penyaluran dan
tiap node pengolahan air buangan.
7. Menghitung tinggi galian pipa Kawasan industri kota BSB mempunyai
lokasi yang berdekatan dengan badan air
D. Bangunan Pelengkap Yang Akan penerima ini, hal ini menjadi sarana penunjang
Dibutuhkan bagi pembangunan PerancanganIPAL untuk
membuang effluentnya ke badan air.
Jenis dan jumlah bangunan pelengkap
yang akan dibangun didasarkan atas
kebutuhan sistem. Bangunan pelengkap yang
umumnya dibangun meliputi :
a. Manhole
b. Pompa.
Permen
No. Parameter Influent LH
IPAL No.3/2010
11 Krom total 0,210 0,5
12 Cr+6 0,215 1
tembaga
13 (Cu) 0,236 2
(Sumber: Hasil Analisis, 2012)
Parameter yang melebihi baku mutu permen
LH No. 3 Tahun 2010 adalah TSS, BOD,
Gambar 1.1 Site Plan Kawasan industri
COD, Fenol, MBAS, cadmium. Sehingga
Kota BSB
kualitas ini yang akan menjadi acuan dalam
2. Kuantitas Air Limbah unit pengolahan (treatment) yang akan
digunakan untuk di IPAL komunal.
Dari hasil analisis data masterplan
kawasan industri diatas hanya 23 industri yang 4. PerancanganSistem Penyaluran Air
menghasilkan limbah cair yaitu yang terdapat Limbah Industri
pada area eksisting dan area future
development, dan debit rencana penyaluran air Perhitungan debit rencana air limbah yang
limbah yang akan disalurkan menuju Instalasi akan dialirkan menuju Sistem Penyaluran Air
pengolahan Air Limbah adalah 775,58 Limbah Industri adalah sebagai berikut :
m3/hari. Debit ini yang akan digunakkan
sebagai Perancangansistem penyaluran air a. Debit rata-rata (Qab) = 775,58 m3/hari
limbah dan insatalasi pengolahan air limbah. b. Debit Infiltrasi= 77,56 m3/hari
c. Debit hari maksimum (Qmd) = 2714,53
3. Kualitas Air Limbah Industri m3/hari
Tabel 1.1Perbandingan Kualitas Influent d. Debit Puncak = 2792,09 m3/hari
Air Limbah dengan Permen LH No.3/2010 e. Debit Minimum = 290,403 m3/hari
Permen
5. Penentuan Alternatif Sistem
No. Parameter Influent LH
Penyaluran Air Limbah Kawasan
IPAL No.3/2010
Industri
1 pH / suhu 7,443 6–9
BSB City, Mijen-Semarang
2 TSS 665,217 150
Sistem Penyaluran Konvensional. Sistem
3 BOD 270,743 50
ini cocok untuk diterapkan pada kawasan
4 COD 750,694 100
industri BSB City, Mijen-Semarang. Kawasan
5 sulfida 0,491 1 industri memiliki area yang luas sebesar 110
amonia Ha dengan beban penyaluran air limbah yang
6 (NH3-N) 1,082 20 besar, yaitu 775,58 m3/hari. Area dan beban
7 fenol 1,413 1 penyaluran yang besar ini membutuhkan
minyak dan diameter pipa saluran air limbah yang besar
8 lemak 6,609 15 pula.
9 MBAS 6,385 10 Alternatif 1 ini direncanakan memiliki 1
pipa lateral dari masing-masing blok yang
10 kadmium 0,119 0,1 menuju ke 1 pipa induk untuk disalurkan
menuju IPAL komunal. Penyaluran didesain kemiringan saluran (slope), sehingga semakin
mengikuti garis kontur agar dapat dialirkan besar slope semakin besar volume galian tanah
secara gravitasi. dan hal ini akan menyebabkan biaya investasi
semakin besar. Selain itu, dalam penentuan
Perancangan Jenis/ Bahan dan Diameter tinggi galian pipa harus diketahui beda tinggi
Perpipaan atau elevasi tanah dari tiap – tiap node pipa.
Jenis pipa yang digunakan adalah PVC khusus Berdasarkan hasil perhitungan didapat
air limbah atau pipa AW. Pipa PVC ini besarnya tinggi galian akhir pipa yang masuk
memilki beberapa keunggulan yaitu berat ke IPAB I adalah sebesar 0,931 m
relative ringan, kualitas sambungan yang baik Bangunan Pelengkap (Manhole)
dan ketahanan korosi yang tinggi. Pada sistem penyaluran air limbah
kawasan industri BSB City , Mijen –
Perancangan Sambungan Industri
Semarang ini hanya digunakan 3 tipe
Perancangansambungan industri
manhole, yaitu Tipe manhole awal ( 1 outlet ),
direncanakan terdiri dari pipa – pipa persil
Tipe manhole lurus ( 1 inlet, 1 outlet) ,Tipe
yang akan menyalurkan air limbah menuju
manhole belokan (bend), Tipe manhole tee ( 2
SPAB/ pipa servis dan pipa lateral. Pipa persil
inlet, 1 outlet ).
ini yang akan mengalirkan air limbah dari air
Tabel 1.2 Jumlah Masing – Masing Tiap
bekas produksi ini keluar menuju SPAB.
Manhole yang Digunakan
Sebelum air limbah dari setiap industri ini
Tipe BLOK
keluar menuju SPAB, air ini akan melewati
Manhole 1 2 3 Jumlah
bak kontrol. Dalam hal ini bak kontrol dapat
Tee 5 7 9 21
diartikan sebagai manhole yaitu ruang / lubang
pemeriksaan sebelum air limbah menuju pipa Lurus 7 6 6 19
servis dan sebagai pengecekan apabila terjadi Awal 3 4 4 11
pemampatan, manhole ini diletakkan di Belokan 5 5 2 12
belokan antara pipa persil dan pipa servis. TOTAL 63
Sumber : Analisis Penulis, 2013
Perletakan Pipa Air Limbah 6. Perancangan Sistem Instalasi
Pada sistem penyaluran air limbah di Pengolahan Air Limbah
kawasam industri BSB City, Mijen- Semarang Pemilihan Alternatif Pengolahan IPAL
ini pipa diletakan di bagian pinggir jalan (di Berikut adalah alternatif pengolahan yang
bawah trotoar). Hal ini dilakukan karena diajukan agar dapat menghapus kontaminan
pertimbangan banyaknya kendaraan yang yang terdapat dalam limbah cair :
bermuatan besar yang akan lalu lalang Tabel 1.3 Alternatif Unit Pengolahan
melewati jalan utama di kawasan tersebut.
Selain itu, perletakkan pipa air limbah
dipertimbangkan dari segi beban penerimaan
air limbah dari industri – industri yang berada
di kiri dan kanan jaladan badan jalan cukup
lebar.

Perhitungan Tinggi Galian


Dalam pelaksanaan pekerjaan, besarnya
tinggi galian pipa dipengaruhi oleh faktor ( Sumber Penulis, 2013)
Tabel 1.4 Perbandingan Effluent Setelah 7. Operasional dan Pemeliharaan
Pengolahan Sistem Penyaluran Air Limbah dan
BM Instalasi Pengolahan Air Limbah
Alternatif Permen A. Sistem Penyaluran Air Limbah
Paramet 2 3 LH (SPAB)
er 1 No.3/10
44,90 50,88 74,84 150 Tabel 1.5 Kegiatan Pemeriksaan Pipa
TSS 2 9 7 mg/L
26,39 29,91 52,79
BOD 7 7 5 50 mg/L
82,95 82,95 146,3 100
COD 2 2 85 mg/L
(Sumber: Hasil Analisis, 2013)
Pada tabel perhitungan efisiensi
removal, dapat dilihat bahwa alternatif
pengolahan pertama dengan Activated Sludge
mampu menurunkan parameter BOD, COD,
TSS hingga mememnuhi baku mutu PErMen
LH No. 3 Tahun 2010. Alternatif pengolahan
keduadengan RBC (Rotating Batch
Contractor) mampu menurunkan parameter
BOD, COD, TSS hingga memenuhi baku
mutu PerMen LH No.3 Tahun 2010. Alternatif
pengolahan ketiga dengan Trickling Filter
tidak mampu meremoval parameter COD
Cara Penggelontoran
hingga memenuhi baku mutu PerMen LH No.
Untuk proses penggelontoran itu sendiri
3 Tahun 2010. Maka yang terpilih adalah
dilakukan dengan menggunakan truk tangki
alternative 1 dengan lumpur aktif.
air. Penggelontoran dengan truk tangki air
dilakukan melalui manhole pada pipa servis
Sumur pengumpul dan bak ekualisasi
paling hulu. Penggelontoran dilakukan pada
menggunakan pompa , Sedangkan Spesifikasi
waktu siang hari, misalnya sekitar pukul 11-12
pompa yang digunakan sebagai berikut :
siang selama 5-15 menit. Air yang akan
Spesifikasi pompa submersible yang
digelontorkan disalurkan lewat pipa besar
digunakan:
yang lentur dari truk tangki, melalui manhole
Model : FEKA 1400 - 1800
dari pipa hulu. Pipa besar dari truk tangki akan
Daya : 1.5 HP
disambungkan dengan pipa yang berada di
Head Maks : 10 m
manhole dan akan ditutup rapat pada
Tegangan : 50/220-240 V
sambungannya dengan sebuah klep sehingga
Kapasitas : 500 l/min
air yang akan digelontorkan tidak akan
Suhu Cairan : 0 - 55°C
tercecer ke sisi jalan, sehingga menghindarkan
Diameter padatan yang terlewati : 38 mm
dari bahaya bau.
Outlet : 200 mm
B. Sistem Instalasi Pengolahan Air
Limbah (IPAL)
A. Sumur Pengumpul h. Serok dan buang juga scum yang terkumpul
1) Pengambilan dan pembersihan busa yang pada bagian atas air.
mengapung di dalam sumur pengumpul i. Penyedotan bisa memakai pompa lumpur,
setiap 2-3 kali sehari agar tidak masuk pompa vacuum, pompa angkat dengan
pompa udara, atau bisa memakai jasa mobil sedot
2) Harus diperhatikan jangan sampai ada tinja.
gangguan/halangan terhadap sistem dan j. Masukan lumpur dan scum tersebut pada
peralatan pemompaan kolam pengering lumpur.
3) Dilakukan perawatan pada pompa secara k. Serok lumpur yang telah kering dari kolam
periodik karena air limbah yang dipompa pengering tersebut secara periodik, buang ke
mengandung senyawa-senyawa asam pembuangan lumpur, atau gunakan sebagai
yang dapat mempersingkat umur pompa pupuk
yang pada akhirnya akan mengurangi D. Bak Pengolahan Biologis (CMAS)
efisiensi pompa. a. Lakukan seeding dan masukan air limbah
B. Equalisasi kemudian diamkan selama ± 2 hari. Cek
Bak ekualisasi berfungsi sebagai pipa inlet dan outlet serta elemen – elemen
pengumpul air limbah selama 24 jam dari pada kolam, setelah dipastikan dalam
cakupan wilayah kerja IPAL yang ada, juga kondisi baik, baru dilakukan pengaliran air
sebagai kolam pengumpul sebelum limbah ke dalam bak untuk selanjutnya
dipompakan ke unit pengolahan berikutnya. pengolahan selanjutnya.
Dari bak ekualisasi ini, air limbah dipompa b. Gunakan rasio resirkulasi tinggi dari final
masuk ke unit pengolahan selama 24 jam. settling tank, bahkan bila perlu ditambah
Tidak ada operasi khusus pada bak ekualisasi dengan bypassing sludge dari primary
ini. Harus diperhatikan jangan sampai ada settling tank (untuk membentuk padatan)
gangguan/halangan terhadap sistem dan c. Waktu pembentukan lumpur aktif sekitar
peralatan pemompaan. 1,5-3 bulan dan pada masa tersebut
C. Bak Pengendapan awal kemungkinan diperlukan desinfeksi efluen
guna mencegah pencemaran badan air
a. Jika memakai tangki pengendapan dengan
mengingat efisiensi sistem belum optimal.
peralatan mekanik (mechanical clarifier).
Pemeliharaan Rutin
b. Hidupkan listrik pada clarifier 1 pada kontrol
Kegiatan perawatan rutin yang utama adalah :
panel.
a. Membuang grit atau bahan yang tersaring
c. Periksa apakah mekanik scapper dan scoop
dari unit pengolahan awal
pada tangki clarifier sudah berjalan normal.
b. Memotong rumput di tanggul kolam
d. Hidupkan pompa lumpur sekali atau dua kali
c. Membuang setiap kerusakan pada kolam
setiap harinya.
yang disebabkan oleh hewan pengerat atau
e. Periksa apakah lumpur tersalurkan dengan
hewan penggali lainnya
baik kekolam pengering lumpur.
d. Memeriksa bakteri yang aktif dan
f. Jika memakai kolam pengendapan
kondisinya pada saat beroperasi.
natural, misal dengan konstruksi tangki
septik, maka operasionalnya adalah sebagai E. Bak Pengering Lumpur (Sludge
berikut: Drying Bed)
g. Sedot dan buang lumpur pada periode
tertentu menurut desain, misal setiap 6 a. Sludge drying bed dibagi jadi 3 (tiga)
(enam) bulan atau setiap tahun. bagian jalur operasi, artinya secara
bergantian sludge drying bed akan 3. Total rencana anggaran biaya
dioperasikan untuk isi, pengeringan, kuras pembangunan dan operasional mencapai
dan rawat ± Rp. 2.945.300. 000.
b. Lumpur yang terkumpul di kolam biologis
disalurkan ke sludge drying bed lewat b. Saran
sludge discharge unit atau secara manual 1. Keamanan lingkungan menjadi tanggung
setahun sekali. jawab bersama dalam kawasan tersebut
c. Lumpur yang sudah berada dalam drying walaupun akan dibangun sistem
bed akan terpisah menjadi lapisan atas penyaluran dan IPAL kawasan terpusat
yang bening dan lapisan bawahnya yang akan tetapi semua industri yang terdapat
kental. Atur pintu air/stop log supaya disekitar kawasan harus tetap
lapisan bening bagian atas dapat dibuang bertanggung jawab dalam menjaga
keluar dan masuk ke kolam pengolahan lingkungan dan tetap dilakukan kontrol
lagi. Atur pintu tersebut berulang ulang bagi setiap limbah yang dilakukan masing
sehingga konsentrasi lumpur semakin – masing.
kental dan tidak mau memisah lagi 2. Limbah yang dihasilkan pada masing –
beningannya. masing industri merupakan tanggung
d. Setelah itu lumpur dikeringkan dengan jawab masing – masing industri selain
sinar matahari selama 2 (dua) atau 3 (tiga) TSS, BOD, COD. Instalasi Pengolahan
minggu sampai bisa diambil dengan sekop. Air limbah hanya mengolah tiga
Lumpur yang sudah kering bisa diangkut parameter tersebut, selain dari paramter
dengan truk dan dibuang ke tempat diatas diharapkan setiap industri
pembuangan sludge atau dibuat pupuk. mengolah secara individu.

b. Analisis Rencana Anggaran Biaya DAFTAR PUSTAKA


Perancangan SPAL dan IPAL
_______. 2010. Peraturan Menteri
Biaya yang dibutuhkan untuk Lingkungan Hidup No. 03 Tahun
pembangunan SPAL dan IPAL di kawasan 2010 tentang Kawasan Industri.
industri Kota BSB adalah Rp. 2. 569.100,00 _______.1995. Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup No.51 Tahun
1995 tentang Baku Mutu Limbah
PENUTUP Cair Bagian Industri
a. Kesimpulan 2013. Master Plan Sistem Penyaluran Air
1. Jenis pipa yang digunakan adalah pipa Limbah Kawasan Industri BSB City,
PVC AW diameter 6’’ – 14’’ sampai pipa Mijen – Semarang. Semarang
induk. Alaerts, G, dan Santika, Sri Simestri. 1984.
2. IPAL yang dibutuhkan berurutan dari Metode Penelitian Air. Usaha
Sumur pengumpul dengan pompa , bar Nasional : Surabaya
screen, bak ekualisasi dengan pompa, bak Angga, Dwijayanto . 2010. Laporan Akhir
2 tangki bak pengendap, 2 tangki aerasi Detail Engineering Desain Sistem
CMAS dan bak pengering lumpur dengan Penyaluran Air Limbah & Instalasi
media filter pasir maupun kerikil. Pengolah Air Limbah Perumahan
Sehat Hunian (RSH) Shangrila Sango
Kec. Tugu, Semarang. Teknik Operation). CBS College Publishing.
Lingkungan UNDIP. Semarang. USA
Badan Pusat Statistik. 2011. Kecamatan Mijen Reynolds, Tom. D. 1982. Unit Operations and
Dalam Angka. Kota Semarang. Process in Environmental
Badan Pusat Statistik. 2012. Kota Semarang Engineering. Wadsworth, Inc :
Dalam Angka. Kota Semarang. Belmont, California
Dar lin, Shun. 2007. Water and Wastewater Said, Nusa Idaman. 2002. Teknologi
Calculations Manual 2nd Ed. Pengolahan Limbah Cair Industri.
McGraw-Hill Company, Inc. New Jakarta : BPPT.
York Sugiharto, 1987. Dasar-dasar Pengelolaan
Dickey, John W and Miller, Leon H. 1984. Air Limbah. UI: Jakarta
Road Project Appraisal for Developing Turovsky, Izrail. 2006. Wastewater Sludge
Countries. hal 228-232. Processing. John Willey & Sons, Inc
Dirjen Cipta Karya. 2003. Pengelolaan Air ; U.S.A
Limbah Perkotaan. Departemen
Permukiman dan Prasaran Wilayah.
Jakarta
Hardjosuprapto,. 2000. Penyaluran Air
Limbah (PAB) Volume II. ITB:
Bandung
Hindarko. 2003. Mengolah Air Limbah
Supaya Tidak Mencemari Orang
Lain. PT Esha. Jakarta
Metcalf & Eddy; Tchobanoglous, George.
1981.Wastewater Engineering:
Collection and Pumping Wastewater.
Mc.Graw – Hill Book Company.
U.S.A
Metcalf & Eddy; Tchobanoglous, George.
1991.Wastewater Engineering:
Treatment, Disposal, Reuse, Third
Edition . Mc.Graw – Hill Book
Company. U.S.A
Metcalf & Eddy; Tchobanoglous, George.
2003.Wastewater Engineering:
Treatment and Reuse, Fourth
Edition. Mc.Graw – Hill Book
Company; U.S.A
Mulyono, Sri. 2002. Riset Operasi. Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi Univesitas
Indonesia. Jakarta.
Qasim, Syed R. 1985. Wastewater Treatment
Plant (Planning, Design, and