You are on page 1of 2

FISIOLOGI KANDUNG EMPEDU

1. Absorpsi kandung empedu


Fungsi primer dari kandung empedu adalah memekatkan empedu dengan absorpsi air dan
natrium. Kandung empedu mampu memekatkan zat terlarut yang kedap, yang terkandung
dalam empedu hepatik sampai 5-10 kali dan mengurangi volumenya 80%-90%. Meskipun
secara primer merupakan suatu organ pengarbsorpsi, terjadi sekresi mukus selama keadaan
patologis seperti misalnya pembentukan batu empedu dan kadang-kadang dengan obstruksi
duktus kistikus.
2. Aktivitas motoris kandung empedu dan traktus biliaris
Aliran empedu terjadi dalam bentuk yang kontinu, dengan pengosongan kandung empedu
terjadi secara konstan. Faktor-faktor yang bertanggung jawab untuk pengisian kandung
empedu dan pengosongannya adalah hormonal, neural, dan mekanikal. Memakan makanan
akan menimbulkan pelepasan hormon duodenum, yaitu kolesistokinin (CCK), yang
merupakan stimulus utama bagi pengosongan kandung empedu; lemak merupakan
stimulus yamg lebih kuat. Reseptor CCK telah dikenal terletak dalam otot polos dari
dinding kandung empedu. Pengosongan maksimum terjadi dalam waktu 90-120 menit
setelah konsumsi makanan. Motilin, sekretin, histamin, dan prostaglandin semuanya
terlihat mempunyai pengaruh yang berbeda pada proses kontraksi. Faktor neural yang
predominan dalam menagtur aktivitas motoris kandung empedu adalah stimulasi kolinergik
yang menimbulkan kontraksi kandung empedu. Pengisisan kandung empedu terjadi saat
tekanan dalam duktus biliaris (berkaitan dengan aliran dan tekanan sfingter) lebih besar
daripada tekanan di dalam kandung empedu. Sejumlah peptida usus, telah terlibat sebagai
faktor endogen yang dapat mempengaruhi proses ini.
3. Aktivitas motoris traktus biliaris dan sfingter Oddi
Aliran empedu ke dalam duodenum tergantung pada koordinasi kontraksi kandung empedu
dan relaksasi sfingter Oddi. Makanan merangsang dilepaskannya CCK, sehingga
mengurangi fase aktivitas dari sfingter Oddi yang berkontraksi, menginduksi relaksasi, oleh
karena itu memungkinkan masuknya empedu ke dalam duodenum.
4. Pembentukan empedu
Empedu secara primer terdiri dari air, lemak organik, dan elektrolit, yang normalnya
disekresi oleh hepatosit. Komposisi elektrolit dari empedu sebanding dengan cairan
ekstraseluler. Kandungan protein relatif rendah. Zat terlarut organik yang predominan
adalah garam empedu, kolesterol dan fosfolipid. Asam empedu primer, asam
xenodeoksikolat dan asam kolat, disintesis dalam hati dari kolesterol. Konjugasi dengan
taurin atau glisis terjadi di dalam hati. Kebanyakan kolesterol yang ditemukan dalam
empedu disintesis de novo dalam hati. Asam empedu merupakan pengatur endogen penting
untuk metabolisme kolesterol. Pemberian asam empedu menghambat sintesis kolesterol
hepatik tetapi meningkatkan absorpsi kolesterol. Lesitin merupakan lenih dari 90%
fosfolipid dalam empedu manusia.
5. Sirkulasi enterohepatik dari asam empedu
Lebih dari 80% asam empedu terkonjugasi secara aktif diabsorpsi dalam ileum terminalis.
Akhirnya, kurang lebih separuh dari semua asam empedu yang diabsorpsi dalam usus
dibawa kembali melalui sirkulasi porta ke hati. Sistem ini memungkinkan kumpulan garam
empedu yang relatif sedikit untuk bersikulasi ulang 6-12 kali perhari dengan hanya sedikit
yang hilang selama tiap perjalanan. Hanya sekitar 5% dari asam empedu yang
diekskresikan dalam feses.